• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia (Arsitektur Simbolisme)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia (Arsitektur Simbolisme)"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

OASIS BODHICITTA MANDALA INDONESIA

ARSITEKTUR SIMBOLISME

LAPORAN PERANCANGAN

TKA - 490 - STUDIO TUGAS AKHIR

SEMESTER B TAHUN AJARAN 2007/2008

Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Oleh :

DEWI LESTARI

040406057

DEPARTEMEN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

(2)

OASIS BODHICITTA MANDALA INDONESIA

(ARSITEKTUR SIMBOLISME)

O l e h

DEWI LESTARI 04 0406 057

Medan, Juni 2008 Disetujui oleh,

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Rudolf Sitorus, MLA. Imam Faisal Pane ST, MT.

(NIP: 131 572 867) (NIP: 132 299 801)

(Ketua Departemen Arsitektur FT- USU)

(3)

SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK AKHIR ( SHP2A )

Nama : Dewi Lestari

NIM : 040406057

Judul Proyek Akhir : Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia Tema Proyek Akhir : Arsitektur Simbolisme

Rekapitulasi Nilai :

Nilai akhir A B+ B C+ C D E

Dengan ini mahasiswa bersangkutan dinyatakan :

No Status Waktu

Pengumpulan Laporan

Paraf Pembimbing

I

Paraf Pembimbing

II

Koordinator TKA-490

1 LULUS

LANGSUNG

2 LULUS

MELENGKAPI 3 PERBAIKAN

TANPA SIDANG 4 PERBAIKAN

DENGAN SIDANG 5 TIDAK LULUS

Medan, Juni 2008

Ketua Departemen Arsitektur FT – USU Koordinator TKA-490 Studio Tugas Akhir

(4)

KATA PENGANTAR

Namo Sanghyang Adi Buddhaya, Namo Buddhaya.

Dengan rasa sangat berbahagia, penulis mengucapkan puji syukur kepada Sanghyang Adi Buddhaya, Sang Tathagata, karena berkat rahmat cinta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Perancangan Studio Tugas Akhir ini yang berjudul :

“OASIS BODHICITTA MANDALA INDONESIA”

dengan tema ARSITEKTUR SIMBOLISME dengan baik.

Penyusunan laporan Tugas Akhir Teknik Arsitektur ini untuk memenuhi persyaratan akademis agar memperoleh Sarjana Arsitektur pada Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Departemen Arsitektur, Universitas Sumatera Utara.

Proses yang panjang ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk kedua orang tua serta saudara – saudara saya yang selalu memberikan doa dan semangat dalam proses tugas akhir ini.

Saya juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

- Bapak Ir. Rudolf Sitorus, MLA. sebagai Dosen Pembimbing I atas arahan dan

bimbingan serta nasehat - nasehat yang membuka pikiran dalam penyelesaian tugas akhir ini.

- Bapak Imam Faisal Pane, ST, MT. sebagai Dosen Pembimbing II atas saran dan

masukan serta kesabarannya dalam membimbing proses tugas akhir ini.

- Bapak Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc., Bapak Ir. N. Vinky R. MT., dan Ibu Amy

Marisa, ST., M.Sc. sebagai dosen penguji atas saran dan kritikan yang sangat berguna.

- Koordinator tugas akhir, Bapak Ir. Nelson M. Siahaan, M. Arch., Bapak Imam

Faisal Pane ST, MT., dan Bapak Ir. Dwi Lindarto MT. atas bimbingannya.

- Bapak Drs, Pdt. Tommy Tantowi, S. Ag, M. Ag. yang telah membantu dalam

pengumpulan data.

- Khususnya untuk keluarga yang telah memberikan dukungan baik dari segi moril

(5)

- Sahabat-sahabatku, Mili dan Ruth yang telah memberikan semangat dan bantuan yang sangat berarti.

- Firman, Dedi, dan Rangga yang telah memberikan ide, saran dan bantuan yang

bermanfaat.

- Kawan - kawan satu kelompok sidang, bang Salman, Cory, Richie dan Dira serta

semua penghuni Studio Tugas Akhir Angkatan XXV.

- Seluruh teman Archi Nol Empat.

- Senior dan Alumni USU, Denny, Rayendra, Taufik yang telah memberikan

motivasi dan menceritakan pengalaman TA.

- Junior-junior tercinta, Iva, Yenfenni, Sugiono, Vera, Suwanti, Ivana, Putrisia, Dian yang telah memberikan dukungan doanya.

- Para staf Pengajar dan Pegawai Tata Usaha di lingkungan Fakultas Teknik

Departemen Arsitektur USU.

- Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas ide, saran dan masukannya.

Penyusunan makalah Tugas Akhir ini masih terdapat kekurangan-kekurangan yang tidak disadari oleh penulis. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penulisan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan khususnya di lingkungan Departemen Arsitektur USU.

Sabhe Satta Bhavantu Sukhitatta (Semoga Semua Makhluk berbahagia) Sadhu, sadhu, sadhu

Medan, Juni 2008

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...iii

DAFTAR GAMBAR...vii

DAFTAR TABEL...ix

DAFTAR DIAGRAM...x

BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang...1

I.2. Maksud dan Tujuan...4

I.3. Masalah Perancangan...5

I.4. Sasaran...5

I.5. Lingkup/Batasan...5

I.6. Kerangka Berpikir...7

I.7. Sistematika Laporan...8

BAB II. TINJAUAN UMUM II.1. Vihara sebagai tempat ibadah Agama Buddha...9

II.1.1. Pengertian Vihara...9

II.1.2. Fungsi dan Tujuan Vihara...9

II.1.3. Data-Data Umum Vihara...10

II.1.4. Dasar-Dasar Peletakan Vihara...10

II.2. Agama Buddha...11

II.2.1. Riwayat Hidup Buddha Gautama...12

II. 2.2.1. Perkembangan Agama Buddha di Dunia...13

II.2.2. Perkembangan Agama Buddha di Indonesia...18

II.2.3. Hari-Hari Suci...20

II.3. Agama Konghucu...21

II.3.1. Sejarah Agama Konghucu...21

II.3.2. Ajaran Konfusius...23

II.3.3. Inti Sari Ajaran Konfusius...24

II.3.4. Kitab Suci...25

(7)

II.4.1. Riwayat Hidup Laozi...26

II.4.2. Ajaran Taoisme...27

II.5. Kepercayaan Tradisional Tionghua...28

II.6. Kriteria Pemilihan Tapak dan Lokasi...29

II.6.1. Kriteria Pemilihan Lokasi...29

II.6.2. Alternatif Lokasi...32

II.6.3. Penilaian Lokasi Tapak...33

BAB III. TINJAUAN KHUSUS III.1. Deskripsi Proyek...35

III.1.1. Umum...35

III.1.2. Arti Kata...35

III.1.3. Pengertian...36

III.1.4. Persamuhan Bodhicitta Mandala Indonesia...36

III.1.5. Fasilitas...39

III.1.6. Deskripsi Kegiatan...40

III.1.7. Studi Banding Proyek Sejenis...40

III.2. Elaborasi Tema...48

III.2.1. Definisi Simbolisme...48

III.2.2. Jenis-Jenis Simbol...48

III.2.3. Simbol Religius...50

III.2.4. Latar Belakang Pemilihan Tema...51

III.2.5. Interpretasi Tema...51

III.2.6. Simbol-Simbol Agama Buddha...52

III.2.7. Studi Banding Tema Sejenis...56

BAB IV. ANALISA IV.1. Analisa Eksisting...60

IV.1.1. Analisa Lokasi...60

IV.1.2. Analisa Kondisi Eksisting Lahan...61

IV.1.3. Analisa Tata Guna Lahan...62

IV.1.4. Batas-Batas Site...65

IV.1.5. Sarana dan Prasarana...66

(8)

IV.2. Analisa Potensi dan Kondisi Site...68

IV.2.1. Analisa Sirkulasi...68

IV.2.2. Analisa Pencapaian...70

IV.2.3. Analisa View...74

IV.2.4. Analisa Vegetasi Matahari...76

IV.2.5. Analisa Kebisingan...77

IV.3. Analisa Bangunan...79

IV.3.1. Analisa Bentuk...79

IV.3.2. Analisa Orientasi dan View...80

IV.3.3. Analisa Sirkulasi dan Penzoningan...81

IV.3.4. Analisa Ruang Luar...82

IV.3.5. Analisa Struktur...84

IV.3.6. Analisa Utilitas...87

IV.4. Analisa Fungsional...94

IV.4.1. Pelaku, Kegiatan, Kebutuhan Ruang...94

IV.4.2. Pola Sirkulasi dan Kebutuhan Ruang...99

IV.4.3. Hierarki dan Filosofi Ruang...99

IV.4.4. Kebutuhan Ruang...100

BAB V. KONSEP PERANCANGAN V.1. Konsep Fisik...106

V.1.1. Konsep Dasar...106

V.1.2. Konsep Sirkulasi dan Pencapaian...106

V.1.3. Peletakan Massa Bangunan...109

V.1.4. Konsep Ruang Luar...109

V.1.5. Konsep View dan Orientasi...111

V.2. Konsep Non Fisik...112

V.2.1. Konsep Ruang Dalam...112

V.2.2. Penzoningan Aktivitas...117

V.2.3. Organisasi Ruang...118

V.2.4. Konsep Bentukan Massa...118

V.2.5. Konsep Lansekap...119

V.3. Konsep Struktur dan Material...120

(9)

V.4.1. Sistem Distribusi Listrik...122

V.4.2. Sistem Jaringan Air Bersih dan Kotor...122

V.4.3. Sistem Penghawaan...123

V.4.4. Sistem Pencahayaan...123

BAB VI. HASIL PERANCANGAN VI.1. Site Plan...124

VI.2. Ground Plan...125

VI.3. Denah Lt 1...126

VI.4. Denah Lt 2 dan Lt. Dasar...127

VI.5. Denah Kolumbarium dan Krematorium...128

VI.6. Tampak A...129

VI.7. Tampak B...130

VI.8. Tampak C...131

VI.9. Tampak D...132

VI.10. Potongan A-A...133

VI.11. Potongan B-B...134

VI.12. Potongan C-C...135

VI.13. Detail...136

VI.14. Rencana Pondasi...137

VI.15. Rencana Pembalokan...138

VI.16. Rencana Atap...139

VI.17. Rencana Plumbing...140

VI.18. Rencana Elektrikal...141

VI.19. Perspektif Eksterior...142

VI.20. Sketsa Suasana...143

VI.21. Sketsa Interior dan Perspektif Interior...144

DAFTAR PUSTAKA...145

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Latar belakang perkembangan Agama Buddha dan Kebudayaan...3

Gambar 2.1. Penyebaran Agama Buddha semasa pemerintahan Raja Asoka...14

Gambar 2.2. Koin masa Raja Alexander Yaneus...14

Gambar 2.3. Damma Perak Menander I...15

Gambar 2.4. Penggambaran Suku Mon mengenai Dharma Cakra...15

Gambar 2.5. Koin emas masa Kushan memperlihatkan Raja Kanishka I...17

Gambar 2.6. Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama – abad ke 10 M...17

Gambar 2.7. Penyebaran aliran Theravada dari abad ke -11...17

Gambar 2.8. Gambar peruntukan lahan...30

Gambar 3.1. Vihara Buddha Murni Indonesia...41

Gambar 3.2. Tempat persembahyangan dewa-dewa...41

Gambar 3.3. Tungku penyimpanan abu jenazah...41

Gambar 3.4. Tungku pembakaran kertas-kertas sembahyang...41

Gambar 3.5. Tempat penghormatan kepada Sang Buddha...42

Gambar 3.6. Kuti Sangha...42

Gambar 3.7. Krematorium Di Zang Dian...43

Gambar 3.8. Oasis Lestari...43

Gambar 3.9. Proses kremasi dengan oven...43

Gambar 3.10. Aula Krematorium...43

Gambar 3.11. Aula Semayam...44

Gambar 3.12. Tempat transit jenazah...44

Gambar 3.13. R. Pemandian...45

Gambar 3.14. R. Keluarga...45

Gambar 3.15. R. Rias Jenazah ...45

Gambar 3.16. R. Kolumbarium...45

Gambar 3.17. Dinding Memorial...46

Gambar 3.18. Vihara di Penang...46

Gambar 3.19. Rupang Buddha...46

Gambar 3.20. KE LOK SI...47

Gambar 3.21. Ornamen Buddha...47

(11)

Gambar 3.23. Pagoda...47

Gambar 3.24. Patung Sang Buddha...53

Gambar 3.25. Stupa...53

Gambar 3.26. Pagoda...54

Gambar 3.27. Teratai...54

Gambar 3.28. Bendera Buddhis...55

Gambar 3.29. Swatika...55

Gambar 3.30. Air...56

Gambar 3.31. Candi Borobudur...57

Gambar 3.32. TWA Kennedy Airport...58

Gambar 6.1. Site Plan...124

Gambar 6.2. Ground Plan...125

Gambar 6. 3. Denah Lt. 1...126

Gambar 6. 4. Denah Lt. 2 dan Denah Lt Dasar...127

Gambar 6. 5. Denah Kolumbarium dan Krematorium...128

Gambar 6. 6. Tampak A...129

Gambar 6. 7. Tampak B...130

Gambar 6. 8. Tampak C...131

Gambar 6. 9. Tampak D...132

Gambar 6. 10. Potongan A-A...133

Gambar 6. 11. Potongan B-B...134

Gambar 6. 12. Potongan C-C...135

Gambar 6. 13. Detail...136

Gambar 6. 14. Rencana Pondasi...137

Gambar 6. 15. Rencana Pembalokan...138

Gambar 6. 16. Rencana Atap...139

Gambar 6. 17. Rencana Plumbing...140

Gambar 6. 18. Rencana Elektrikal...141

Gambar 6. 19. Perspektif Eksterior...142

Gambar 6. 20. Sketsa Suasana...143

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel Peruntukan Lahan...31

Tabel 2.2. Penilaian Pemilihan Lokasi...34

Tabel 4.1. Analisa Jenis Sirkulasi...82

Tabel 4.2. Analisa Struktur Atas...84

Tabel 4.3. Analisa Struktur Bawah...85

Tabel 4.4. Analisa Bahan Struktur...86

Tabel 4.5. Analisa Bahan Bangunan...86

Tabel 4.6. Penangkal petir...93

Tabel 4.7. Kegiatan Anggota Sangha...95

Tabel 4.8. Kegiatan pengunjung yang sembahyang...95

Tabel 4.9. Kegiatan pengunjung yang mengkremasi...96

Tabel 4.10.Kegiatan pengunjung yang berziarah...96

Tabel 4.11.Kegiatan Pengelola...98

(13)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1.1. Kerangka Berpikir...7

Diagram 3.1. Simbol Agama Buddha...52

Diagram 4.1. Skema Operasional Pemadaman Otomatis...90

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang

Salah satu kebebasan yang paling utama dimiliki tiap manusia adalah kebebasan beragama. Melalui agama, manusia mengerti arti dan tujuan hidup yang sebenarnya. Agama membimbing umatnya agar selalu dalam jalur benar dan menanamkan hal kebajikan dalam tatanan kehidupan keluarga, masyarakat hingga berbangsa dan bernegara.

Agama sangat berperan dalam pembentukan karakter dan menyatukan semua keanekaragaman suatu bangsa. Sebagai tatanan tertinggi suatu bangsa, pemerintah turut berperan dalam agama melalui konstitusinya UUD’45 pasal 29 yang memberikan kebebasan beragama di Indonesia. Melihat ini, Agama Buddha bersama dengan agama lainnya juga turut mengemban tugas dalam menjaga kedamaian serta tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Setelah 61 tahun kemerdekaan, jumlah penganut Buddhis meningkat dengan cepat di Indonesia dan sebagian besar berada di Sumut. Sejalan ini Agama Buddha menempatkan dua hal, yaitu dari luar, Agama Buddha telah berkembang bersama-sama dengan tradisi budaya Indonesia sehingga hal inilah yang menjadikan ciri khas Buddhis Indonesia. Sedangkan dari dalam, Agama Buddha memiliki 3 aliran yaitu Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Ketiga aliran tersebut telah berkembang terlebih dulu di negara-negara Buddhis sejak jaman sebelum masehi.

Di kehidupan modern saat ini dunia semakin terpuruk dalam hal-hal negatif. Agama Buddha sangat prihatin atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi seperti penurunan kualitas keimanan dan moral manusia, masalah narkoba, prostitusi, merebaknya minuman keras, perjudian, perbuatan asusila yang menyalahgunakan arti kebebasan yang sebenarnya, perampokan dan pembunuhan tanpa memikirkan penderitaan makhluk hidup lain. Semua ini merupakan penyimpangan atas Pancasila Buddhis.

(15)

melakukan kebajikan dan kesabaran dalam menjalankan kehidupan ini. Masih banyak pembelajaran yang bisa dilakukan bukan pembodohan tanpa arah yang hanya menyesatkan hati dan pikiran umat manusia. Perkembangan Agama Buddha di kota Medan sangatlah dipengaruhi oleh tradisi setempat yang berakar pada Konfusianisme dan Taoisme. Hal itu terkait dengan tradisi, tata upacara dan ritual.

Ajaran utama konfusianisme menekankan cara menjalin kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas. Seseorang dilahirkan untuk menjalin hubungan tertentu, sehingga setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Sebagai contoh kewajiban terhadap negara, sehingga setiap orang mempunyai kewajiban terhadap orang tua, kewajiban untuk menolong teman dan suatu kewajiban umum terhadap kehidupan manusia. Kewajiban-kewajiban tersebut tidaklah sama, dimana kewajiban terhadap negara dan orang tua lebih diutamakan daripada kewajiban terhadap teman dan kehidupan manusia. Sifat-sifat yang mulia diajarkan oleh konfusius adalah bertujuan untuk menciptakan manusia yang berbudi pekerti luhur yang disebut budiman. (Sutradharma, 1998 : 111).

(16)

LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT UMAT BUDDHA DI KOTA MEDAN

DAN SEKITARNYA

DIAGRAM 1.1. Latar belakang perkembangan agama buddha dan kebudayaan masyarakat umat Buddha di kota Medan dan sekitarnya.

Sumber : Menjalani Kehidupan Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme. BUDDHISME

TAOISME KONFUSIANISME

Kehidupan harmonis dengan mengutamakan moralitas, setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Kewajiban terhadap orang tua lebih diutamakan.

JALAN TENGAH (8 jalan utama)

- Pandangan benar

- Pikiran Benar

- Ucapan Benar

- Perbuatan Benar

- Mata Pencaharian Benar

- Usaha Benar

- Kesadaran Benar

- Konsentrasi Benar

• Erat kaitannya tentang dunia dan alam semesta

• Terkesan tidak logis dan melampaui batas-batas logika

(17)

Pandangan Taoisme erat kaitannya tentang dunia dan alam semesta serta hubungannya dengan kehidupan manusia dan pemerintah. Taoisme terkesan tidak logis, dan Tao memang melampaui batas-batas logika. Dalam perkembangannya Taoisme diidentikkan sebagai sesuatu yang bersifat gaib dan mistik (Sutradharma, 1998 : 164).

Pengaruh terbesar Taoisme sehubungan dengan upacara kematian terlihat pada upacara dan ritual. Pengaruh Konfusianisme dan Taoisme dalam Buddha dapat dijelaskan sebagai : Ajaran Taoisme yang menekankan jalan Ke-Alamsemesta-an (TAO) yang mengatur hubungan antar manusia dengan alam semesta atau gejala-gejala alam di luar sifat manusia dan Konfusianisme melengkapinya dengan jalan Kemanusiaan (JEN), yang menekankan hubungan antar manusia dengan lingkungannya dalam kehidupan bermasyarakat, kemudian Buddhisme dengan ajaran Jalan Tengah pada dasarnya dapat melengkapi Taoisme dan Konfusianisme dengan menghubungkan TAO dan JEN, dalam suatu perwujudan yang merupakan satu perwujudan yang merupakan perluasan Jalan Tengah (Sutradharma, 1998 : 162).

Sampai saat ini penganut agama Buddha khususnya di Medan belum memiliki tempat peribadatan yang sekaligus memiliki fasilitas tambahan yang menunjang upacara ritual pernikahan, pembhaktisan, kematian serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bidang sosial, lingkungan hidup, pendidikan dan spiritual.

Dengan latar belakang di atas dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota Medan dan sekitarnya, maka akan dibangun sebuah tempat peribadatan Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia yang dapat memberi pelayanan kepada masyarakat pada umumnya dan umat Buddha khususnya, bukan hanya sekedar fungsional, tetapi juga secara budaya menurut perkembangan agama buddha dan kebudayaan masyarakat umat buddha di kota Medan.

I. 2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari proyek ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sebuah kompleks peribadatan yang bukan saja fungsional tetapi juga sebagai kompleks yang dapat memberi makna religius agama Buddha.

Tujuan dari proyek ini adalah sebagai berikut :

(18)

2. Menyediakan tempat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kita akan ajaran Agama Buddha.

3. Menyediakan asrama sebagai tempat peristirahatan bagi umat dan bhikkhu.

4. Menyediakan tempat bagi umat Buddha untuk melaksanakan upacara-upacara

tradisi, dan ritual-ritual seperti pernikahan, pembhaktisan, dan kematian.

5. Menyediakan tempat pengkremasian jenazah.

6. Menyediakan tempat penyimpanan abu jenazah dengan segala fasilitas

pendukungnya.

7. Menjadikan tempat ini tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan rohani

umat Buddha, tetapi juga menjadi objek wisata di kota Medan.

I. 3. Masalah Perancangan

Rumusan perancangan dalam kasus ini adalah :

1. Bagaimana membentuk suatu kompleks bangunan yang dapat menampung

segala aktivitas keagamaan berupa tempat bhaktisala, vihara, kuti, tempat kremasi, tempat penyimpanan abu?

2. Bagaimana membentuk suatu bangunan yang secara visual mampu

memberikan simbol sebagai bangunan religius umat Buddha?

3. Bagaimana memadukan konsep ruang, baik ruang dalam maupun ruang

luar, yang dikaitkan dengan kegiatan keagamaan untuk menciptakan kesan ruang yang mendukung kegiatan ibadah?

I. 4. Sasaran

Dengan adanya Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia ini akan membuat umat Buddha di Medan dan sekitarnya memperoleh kenyamanan dalam melakukan aktivitas keagamaan dan menerima edukasi Buddhis serta dapat menjadi objek wisata di kota Medan.

I. 5. Lingkup /Batasan

a. Perancangan kompleks peribadatan yang memberikan kenyamanan bagi

umatnya.

b. Perancanangan sarana pendukung lainnya untuk kegiatan-kegiatan lain di

luar kegiatan peribadatan.

(19)

1. Fasilitas utama :

Balai Dhamma (Dharmasala), tempat untuk pembacaan paritta, pembabaran Dhamma, diskusi Dhamma, meditasi unuk melakukan Vesakpuja (puja bakti waisak), Asathapuja (puja bakti Asadha), dan Maghapuja. Selain itu, juga berfungsi sebagai tempat untuk melangsungkan upacara pernikahan, ulang tahun atau upacara kematian.

Kuti, tempat tinggal untuk Bhikkhu/Bhikkhuni.

Perpustakaan, merupakan sarana untuk menambah wawasan melalui koleksi buku-buku Buddhist maupun buku-buku pengetahuan umum.

Aula krematorium, yang berfungsi untuk melakukan proses kremasi.

Ruang kremator, tempat kremasi dilaksanakan. Jenis ruang kremator tergantung pada bahan bakar dan cara kremasi.

Ruang penyimpanan guci abu jenazah, sebagai tempat untuk menyimpan guci penyimpan abu jenazah, dan juga tempat melakukan ziara dan sembahyang kepada yang meninggal.

2. Fasilitas Pendukung :

Ruang pengelola administrasi, tempat kegiatan administrasi, pembukuan, penjualan serta konsultasi.

Ruang-ruang utilitas, tempat pengoperasian proses kremasi, perawatan, dan serta elektrikal & mekanikal gedung.

Ruang-ruang servis, seperti tempat parkir, ruang sekuriti, dapur, ruang makan, kamar mandi, locker/ruang ganti staff, dan gudang. 3. Fasilitas Penunjang :

Aula serba guna, yang berfungsi untuk mengakomodasi upacara-upacara lain setelah kremasi, seperti upacara-upacara :

1. Peringatan 1000 hari

2. Peringatan hari Ulambhana

3. Kegiatan sosial dan seminar keagamaan

I. 6. Kerangka Berpikir

(20)

DIAGRAM 1.2. Latar belakang perkembangan agama buddha dan kebudayaan masyarakat umat Buddha di kota Medan dan sekitarnya.

Sumber : Pribadi

(21)

BAB I : PENDAHULUAN, meliputi latar belakang, maksud dan tujuan, permasalahan, sasaran dan batasan masalah, kerangka berpikir dan sistematika laporan.

BAB II : TINJAUAN UMUM, menjelaskan tentang pengertian, sejarah

perkembangan, riwayat hidup Buddha Gautama, kitab suci serta hari besar agama Buddha, interpretasi judul dan studi banding proyek sejenis.

BAB III : TINJAUAN KHUSUS, menjelaskan tentang peninjauan lokasi,

deskripsi proyek secara umum, struktur organisasi, fasilitas-fasilitas pendukung, elaborasi tema yang menguraikan pengertian tema dan interpretasinya, serta keterkaitannya dengan judul dan studi banding tema sejenis.

BAB IV : ANALISA, menganalisa lingkungan, tapak dan bangunan serta

fungsional ruangan.

BAB V : KONSEP, menggambarkan sketsa-sketsa ide dasar rancangan,

tapak, bangunan, dan ruangan.

BAB VI : HASIL PERANCANGAN, meliputi gambar kerja berupa denah,

(22)

BAB II

TINJAUAN UMUM

II. 1. Vihara sebagai tempat ibadah Agama Buddha II. 1.1. Pengertian Vihara

• Vihara adalah pondok, tempat tinggal, tempat penginapan

bhikkhu/bhikkhuni. Vihara merupakan milik umum (umat Buddha) dan tidak boleh dijadikan miliki perseorangan, biasanya dibentuk suatu yayasan untuk mengatur kepentingan tersebut (Giriputra, 1994 : 2).

• Vihara merupakan tempat umum bagi umat Buddha untuk melaksanakan

segala macam bentuk upacara atau kebaktian keagamaan menurut keyakinan dan kepercayaan agama Buddha (Peraturan Departemen Agama RI nomor H III/BA.01.1/03/1/1992, Bab II).

II. 1.2. Fungsi dan Tujuan Vihara

Adapun fungsi dari Vihara adalah :

• Tempat untuk melakukan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui

Sang Tri Ratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha).

• Tempat pembabaran, pendidikan, penghayatan dan pengamalan Dhamma.

• Tempat latihan meditasi dalam usaha untuk melenyapkan kekotoran batin

dan merealisasikan cita-cita kehidupan suci.

• Tempat tinggal Bhikkhu/ni dan Samanera/i.

• Tempat tinggal Pabbajja/Upasaka/Pandita yang ingin melaksanakan sila

agama Buddha.

• Tempat yang menunjukkan jalan kebebasan.

• Tempat untuk memasyarakatkan dan menyebarkan agama Buddha.

(23)

II. 1.3. Data-Data Umum Vihara

Suatu bangunan dapat dikatakan sebagai vihara apabila terdiri dari : (Peraturan Departemen Agama RI nomor H III/BA.01.1/03/1/1992, Bab II).

1. Uposathagara atau Sima

Gedung tempat pentahbisan Bhikkhu atau Bhikkhuni, merupakan suatu area yang memiliki batas-batas tertentu yang dibuat menurut aturan keagamaan. Dalam ruangan ini terdapat altar yang merupakan tempat perletakan Pratima Sang Buddha, Boddhisatva, Dewa, Guru atau Orang Suci Buddhis, Lambang Buddhis dan Relik Suci. Selain itu terdapat alat perlengkapan kebaktian.

2. Dhammasala/Dhammasabha (Balai Dhamma)

Gedung atau ruang khotbah, mengajar dan diskusi ajaran Buddha atau tempat pertemuan keagamaan. Dalam ruangan ini terdapat juga altar yang isinya sama atau kurang lebih sama dengan di Uposathagara. Jika tidak memungkinkan Dhammasala digabungkan dengan Uposathagara.

3. Kuti

Adalah bangunan untuk tempat tinggal para Viharawan yaitu para bhikkhu/ni, Samanera/i, Upasaka/sika yang melaksanakan Atthasila. Banyak kuti tergantung pada jumlah para Viharawan di Vihara tersebut.

4. Sarana pendidikan

5. Tempat meditasi

6. Ruang-ruang lain

II. 1.4. Dasar-dasar Peletakan Vihara

Dasar-dasar Pengaturan Vihara sebagai Objek Puja antara lain( Bhikkhu Subalaratono dan Samanera Uttamo, Puja : 29-31) :

a. Tata Meletakkan Lampu

Penyinaran altar yang lebih terang dari bagian lain dalam ruangan ini akan menarik perhatian maksimal kepada Altar. Pemilihan warna yang teduh misalnya merah, hijau dan biru.

b. Tata Suara

Dalam kebaktian umat biasanya tersedia pengeras suara. Gunanya dalam pembacaan paritta sering suara umat tidak sama tinggi rendahnya.

(24)

Yang dimaksud disini adalah tempat duduk bhikkhu Sangha, pimpinan kebaktian dan umat. Untuk bhikkhu Sangha dapat disediakan temapt yang lebih tinggi dari umat. Maksudnya sebagai penghormatan sila (latihan) yang dilaksanakan.

d. Tata Taman

Ruangan kebaktian yang ideal memiliki taman juga. Taman ini berguna untuk memberikan suasana teduh dan nyaman, sehingga dapat menjernihkan pikiran dan kekotorannya sewaktu umat mempersiapkan diri dalam kebaktian. Lingkungan yang segar dan bersih memupuk pikiran positif serta menarik perhatian bagi pengunjung tempat kebaktian yang menjadi sumber penghormatan utama.

e. Tata Bangunan

Bangunan utama dimana altar berada, ditempatkan sebagai pusat dari bangunan lain yang ada di sekelilingnya. Peninggian pada bagian tengah bangunan akan membantu pertukaran udara yang lebih baik sehingga ruang kebaktian tidak terasa panas demikian juga dengan resonansi suara yang lebih sempurna dalam pembacaan paritta. Secara psikologis, bentuk atap yang menjulang tinggi akan membantu menumbuhkan kesan kecil untuk orang yang berada di bawahnya.

II. 2. Agama Buddha

Agama Buddha ialah

Śākyamuni (Siddhārtha Gautama) yang mungkin lahir pada kurun ke-5 sebelum masehi. Agama Buddha menyebar ke benua India dalam 5 kurun selepas Baginda meninggal dunia. Dalam dua ribu tahun yang seterusnya, agama Buddha telah menyebar ke tengah,

tenggara dan timur

utama, yaitu

Agama Buddha terus menarik orang ramai menganutnya di seluruh dunia dan mempunyai lebih kurang 350 juta penganut. Agama Budddha dikenali sebagai salah satu agama yang paling besar di dunia.

Seorang Buddha ialah seorang yang mendapati alam semula jadi yang benar melalui pelajarannya yang bertahun-tahun, penyiasatan dengan pengamalan agama pada

masanya dan pertapaan. Penemuannya dikenali sebagai

(25)

semula jadi nyata yang sebenar dikenali sebagai Buddha. Śākyamuni dikatakan sebagai Buddha yang terkini daripada banyak Buddha. Terdapat banyak Buddha akan dilahirkan selepas Śākyamuni dan banyak Buddha dilahirkan sebelum Śākyamuni. Mengikut ajaran Buddha, sesiapa dapat mempelajarinya dan juga memahami alam semula jadi nyata yang sebenar seperti Buddha dengan menurut kata-kata Buddha yang dikenali sebagai "Dharma" dan mempraktikkannya dengan mengamalkan kehidupan yang bermoral dan pemikiran yang bersih. Secara keseluruhan, tujuan seorang menganut agama Buddha adalah untuk menamati segala kesusahan dalam kehidupan. Bagi mencapai matlamat ini, penganut Buddha harus membersihkan dan melatih minda sendiri dengan mengikut "Lapan Jalan Tepat", atau "Jalan Tengah" supaya memahami kenyataan yang sebenar lalu mencapai kebebasan dari segala kesusahan, iaitu nirodha atau nirvāna(Pāli nibbāna) (www. wikipedia.org).

II. 2.1. Riwayat Hidup Buddha Gautama

Ayah dari Pangeran Siddharta Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Sri Ratu Maha Maya Dewi. Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 sebelum Masehi di Taman Lumbini. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Sejak itu Pangeran Siddharta dirawat oleh Maha Pajapati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Pertapa Asita Kaladewala meramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi seorang pewaris tahta kerajaan atau akan menjadi seorang Buddha. Mendengar ramalan tersebut, Sri Baginda menjadi cemas. Oleh pertanyaan Sang Raja, pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat ke empat peristiwa, atau ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah : 1. Orang tua, 2. Orang sakit, 3. Orang mati, 4. Orang pertapa.

Sejak kecil Sang Pangeran selalu dilayani oleh dayang-dayang yang muda dan cantik rupawan. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan sayembara dan dihadiahkan

tiga istana dengan tiga musim serta kemewahan yang melimpah.

(26)

Ketika Beliau berusia 29 tahun, puteranya lahir dan diberi nama Rahula. Setelah itu Pangeran Siddharta meninggalkan keluarga dan istana untuk mencari kebijaksanaan yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan. Beliau bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan menghadap ke timur. Selama pertapaan, pertapa Siddharta berjuang dalam batin melawan nafsunya dan gangguan dari Mara. Setelah berhasil melewatinya, pertapa Siddharta melewati beberapa tahapan kebijaksanaan yautu kebijaksanaan untuk mengetahui kelahiran-kelahiran terdahulu, kebijaksanaan melihat kematian dan lahir kembalinya semua makhluk sesuai dengan karma mereka, dan kebijaksanaan semua Asava atau kekotoran batin. Dengan pencapaian ini Beliau telah mengerti arti kehidupan dan penderitaan serta cara mengakhirinya.

Setelah bertapa selama enam tahun, dalam usia 35 tahun pertapa Siddharta memperoleh Penerangan Sempurna (Nibbana), menjadi Buddha (budh + ta = ia yang sadar) di bawah pohon Bodhi di hutan Uruvela. Untuk pertama kalinya Beliau mengajarkan Dhamma kepada lima orang pertapa yaitu Kondanna, Bodhiya, Vappa, Mahanama dan Assaji. Khotbah pertama ini kemudian dikenal sebagai Khotbah Pemutaran Roda Dhamma (Dhamma Cakka Pavattana Sutta).

Selanjutnya selama 45 tahun, Sang Buddha bersama dengan murid-murid tunggalNya sangat giat mengajarkan Dhamma di sepanjang daratan aliran Sungai Gangga. Beliau Pari-Nibbana (meninggal) di Kusinara dalam usia 80 tahun. Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama. Buddha-Buddha sebelumnya adalah Buddah Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa. Buddha yang akan datang adalah Buddha Mettaya (Maitreya).

II. 2.2.1. Perkembangan Agama Buddha di Dunia

Beberapa prasasti Dunia Helenistik dan Baktria

(27)

Gambar 2.1. Penyebaran Agama Buddha semasa pemerintahan Raja Asoka (260-218 SM) Sumber : www.wikipedia.org

Kemudian, menurut beberapa sumber dala Asoka adalah bhiksu-bhiksu Yunani, yang menunjukkan eratnya pertukaran agama antara kedua budaya ini. Mulai dari tahun juga secara alternatif disebut "cakra berruji delapan" dan kemungkinan dipengaruhi desain

Gambar 2.2 Koin masa Raja Alexander Yaneus (103-76 SM) dengan cakra berisikan delapan ruji

Sumber : www.wikipedia.org

Di wilayah-wilayah bara

bertetangga sudah ada di

ole

kurang lebih tahu

yang akan lestari di India bagian utara sampai akhir

Agama Buddha berkembang di bawah naungan raja-raja Yunani-India, dan pernah diutarakan bahwa maksud mereka menginvasi India adalah untuk menunjukkan

dukungan mereka terhada

dari penindasan kaum Sungga

(28)

Gambar 2.3 Damma Perak Menander I (160-135 SM) Sumber : www.wikipedia.org

Di daerah-daerah sebelah timur anak benua Hindia (sekara Ekspansi ke Asia

Budaya India banyak mempengaruhi sukubangsa masuk agama Buddha sekitar tahun sebelum perpecahan antara aliran

Gambar 2.4. Penggambaran Suku Mon mengenai Dharma Cakra sekitar abad ke-8 Sumber : www.wikipedia.org

Agama Buddha konon dibawa ke

enam kawannya semas

Tissa dan banyak anggota bangsawan masuk agama Buddha. Inilah waktunya kapan

wihara

ditulis di Sri Lanka semasa kekuasaan Raja Vittagamani (memerintah

tradisi Theravada berkembang di sana. Beberapa komentator agama Buddha juga

bermukim di sana sepert

berjaya dan Sri Lanka akhirnya menjadi benteng terakhir aliran Theravada, dari mana

aliran ini akan disebarkan lagi ke

(29)

tahun setelah mangkatnya maharaj terakhir seoran terhadap kaum-kaum Buddha. Dicatat ia telah "merusak wihara dan membunuh para bhiksu" (Divyavadana, pp. 429–434): 84. dirusak (R. Thaper), dan 100 keping koin emas ditawarkan untuk setiap kepala bhiksu Buddha (Indian Historical Quarterly Vol. XXII, halaman 81 dst. dikutip di Hars.407). Sejumlah besar

Kerajaan-kerajaan Yunani-India ini secara bertahap dikalahkan dan diasimilasi oleh kaum noma

Berkembangnya aliran Mahayana (Abad Pertama SM Abad ke-2)

dan lalu kaum

Kaum Kushan menunjang agama Buddha dan konsili keempat Buddha kemudian

dibuka oleh maharaja

secara resmi dan pecahnya aliran ini dengan alira

mengakui keabsahan konsili ini dan seringkali menyebutnya "konsili rahib bidaah".

Konon Kanishka mengumpulkan

Vasumitra, untuk menyuntin

konsili ini telah dihasilkan 300.000 bait dan lebih dari 9 juta dalil-dalil. Karya ini memerlukan waktu 12 tahun untuk diselesaikan.

Konsili ini tidak berdasarkan kano

sekelompok teks-teks suci diabsahkan dan juga prinsip-prinsip dasar doktrin Mahayana

disusun. Teks-teks suci yang baru ini, biasanya dalam bahas

(30)
[image:30.595.226.453.71.176.2]

Gambar 2.5. Koin emas masa Kushan memperlihatkan Raja Kanishka I (100-126 M) dengan lukisan Boddo (Buddha)

[image:30.595.227.453.233.392.2]

Sumber : www.wikipedia.org

Gambar 2.6. Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama – abad ke 10 M Sumber : www.wikipedia.org

Dari saat itu dan dalam kurun waktu beberapa abad, Mahayana berkembang

dan menyebar ke arah timur. Dari India ke

Kelahiran kembali Theravada (abad ke-11 sampai sekarang)

[image:30.595.229.454.540.696.2]
(31)

Mula Islam menyebabkan kemunduran aliran Mahayana di Asia Tenggara. Rute daratan lewat anak benua India menjadi bahaya, maka arah perjalanan laut langsung di antar

Raja

mempersatukan negara dan memeluk aliran Theravada. Ini memulai membangun ribuan candi Budh antaranya masih berdiri. Kekuasaan orang Birma surut dengan kenaikan orang Thai, dan dengan ditaklukannya ibu kota Pagan ole Buddha Theravada masih merupakan kepercayaan utama rakyat Myanmar sampai hari ini.

Kepercayaan Theravada juga dipeluk oleh kerajaan etni sekitar sampai Tenggara, Theravada terus menyebar ke

Tetapi, mulai Tenggara, pengaruh

II. 2.2.2. Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Indonesia

Cerita rakyat Aji Saka melawan Dewoto Cengar, menceritakan bahwa perang dasyat Dharma melawan kejahatan. Dalam bahasa Kawi, Aji Sakya berarti ilmu kitab suci Sakya dan Dewoto Cengar berarti Dewa Jahat. Cerita rakyat ini telah merakyat di Jawa Tengah.

Awal Mulanya

Penanggalan tahun Saka (tahun Jawa) dimulai tanggal 0001 (Nir Wuk Tanpa Jalu : Kosong-tidak jadi-tanpa-1) di mana penanggalan ini sama dengan tanggal 14 Maret 78 masehi. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa kedatangan Aji Saka merupakan awal masuknya Agama Buddha di Indonesia yaitu abad I jauh sebelum candi Borobudur didirikan.

(32)

Sriwijaya berada di pulau Sumatera didirikan pada kira-kira abad ke-7 dan dapat bertahan terus hingga tahun 1377. Sriwijaya bukan saja termashyur karena kekuatan angkatan perangnya, melainkan juga karena pusat ilmu dan kebudayaan Buddha. Di sana terdapat banyak vihara yang dihuni oleh ribuan bhikkhu. Pada perguruan tinggi Agama Buddha di Sriwijaya orang dapat mengikuti selain kuliah-kuliah tentang Agama Buddha juga kuliah-kuliah-kuliah-kuliah tentang bahasa Sansekerta dan bahasa Indonesia kuno. Pada waktu itu Sriwijaya merupakan mercusuar Agama Buddha di Asia Tenggara. Tentang Agama Buddha di Sriwijaya juga banyak diceritakan oleh I-Tshing, seorang sarjana asal Tiongkok. Tahun 672 ia bertolak untuk berziarah ke tempat-tempat suci Agama Buddha di India. Waktu pulang dalam tahun 685 ia singgah di Sriwijaya dan tinggal di sana sampai 10 tahun lamanya untuk mempelajari dan menyalin buku-buku suci Agama Buddha dlama bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Tionghua.

Pada tahun 775 hingga tahun 850 di Yogyakarta berkuasalah raja-raja dari wangsa Sailendra yang memeluk Agama Buddha. Jaman ini adalah jaman ilmu pengetahuan dan keseniannya mencapai taraf mutu yang sangat tinggi terutama seni pahat. Ini terbukti dari catatan-catatan Fa-Hien asal Tiongkok yang datang ke Jawa. Pada waktu itu seniman-seniman bangsa Indonesia menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Hingga sekarang pun masih dapat kita saksikan betapa indahnya candi-candi yang mereka buat misalnya candi-candi Kalasan, Sewu, Borobudur, Pawon, dan Mendut.

Jaman Mataram

Di dalam masa pemerintahan raja-raja Majapahit (tahun 1292 s/d 1476), Agama Buddha berkembang dengan baik bersama-sama dengan Agama Hindu. Toleransi (saling menghargai) di bidang keagamaan dijaga dengan baik, sehingga pertentangan agama tidak pernah terjadi. Di waktu pemerintahan Hayam Wuruk, seorang pujangga terkenal, Mpu Tantular, telah menulis sebuah buku yang berjudul Sutasoma, di mana terdapat kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang kini dijadikan slogan

Negara Republik Indonesia yang mengartikan meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu persatuan. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1478, maka berangsur-angsur Agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh Agama Islam.

Jaman Majapahit

(33)

pulau Jawa, Bhikkhu Narada Thera memberikan khotbah-khotbah dan Dhamma di beberapa tempat yang ditandai pemberkahan penanaman pohon Bodhi di pekarangan candi Borobudur sekaligus membantu pendirian Java Buddhist Association (Perhimpunan agama Buddha yang pertama) di Bogor dan Jakarta dengan menjalin kerja sama yang erat dengan bhiksu-bhiksu dari kelenteng-kelenteng dan Perkumpulan Theosofi Indonesia di Jakarta, Bogor, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Beliau kemudian melantik upasaka-upasaka dan upasika-upasika di tempat-tempat yang beliau kunjungi. Salah satunya adalah bapak Maha Upasaka S. Mangunkowotjo di Yogyakarta, seorang tokoh umat Buddhis dan anggota MPR di Jawa Tengah.

Pada tanggal 22 Mei 1953 (Waisak 2497), umat Buddhis bersama Perkumpulan Theosofi Indonesia merayakan upacara Waisak yang dipimpin oleh Anagarika Tee Boan An di Candi Borobudur. Dengan demikian api Buddha Dharma

menyala kembali di Indonesia. Beliau memasuki kehidupan samanera dengan menerima diksa secara Mahayana dari Mahabhiksu Pen Ching sebelum berangkat ke Burma untuk memperdalam pengetahuannya tentang Agama Buddha. Pada bulan April 1954, beliau menerima upasampada dari Mahathera Mahasi Sayadaw dan diberi gelar nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sekaligus adalah putra Indonesia pertama yang menjadi bhikkhu

sesudah runtuhnya kerajaan Majapahit. Pada tanggal 17 Januari 1955, beliau kembali ke Indonesia dan tanggal 14 Juli 1955, beliau mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) sebagai organisasi umat awam yang membantuk Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dalam mengembangkan Agama Buddha di Indonesia.

Tahun 1972, PUUI diganti menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) yang kemudian disempurnakan lagi menjadi Majelis Upasaka Pandita Agama Buddha Indonesia dengan singkatan yang tetap yaitu MUABI. Akhir tahun 1979, nama MUABI diubah menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Lambang PUUI dipakai hingga sekarang.

II. 2.3. Hari-Hari Suci

1. Hari Uposatha, hari puasa dan kebaktian umum yang jatuh pada tanggal 1, 8, 15, dan 23 menurut penanggalan bulan lunar.

(34)

bersamaan yaitu bulan purnama di bulan Waisak sehingga dikenal hari Sang Buddha yang jatuh pada bulan Mei.

3. Hari Asadha, memperingati khotbah pertama Sang Buddha di Isipatana (Taman Rusa) sehingga dikenal dari Dhamma yang jatuh pada bulan Juli.

4. Hari Kathina, memperingati selesainya musim hujan di India. Bhikkhu-Bhikkhuni tidak boleh mengembara di musim hujan karena banyak binatang-binatang kecil yang berkembang biak bisa terinjak maupun tergiring roda-roda kendaraan selama perjalanan. Maka Bhikkhu-Bhikkhuni menetap untuk bermeditasi (Vassa) sehingga dikenal hari Sangha yang biasanya dirayakan tiga empat bulan setelah Hari Asadha. 5. Hari Magha Puja, memperingati hari pertemuan para Arahat di bulan Magha yaitu

bulan Februari atau Maret, di mana pertemuan ini adalah tanpa diundang ataupun direncanakan lebih dulu dan semua Bhikkhu yang memiliki enam kemampuan gaib ini adalah Ehi Bhikkhu yaitu bhikkhu yang ditabiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri.

6. Hari Ulambana, hari berdana kepada Sangha berupa jubah, obat-obatan, dan makanan di saat selesainya Vassa Bhikkhu-Bhikkhuni di bulan 7 tanggal 15. Kemudian berkembang menjadi berdana kepada fakir miskin. Bakti ini dulunya diajarkan Sang Buddha kepada Bhikkhu Mogallana yang ingin menolong ibunya yang terlahir di alam Setan Kelaparan namun gagal karena karma buruk tidak dapat diubah kecuali melakukan kebajikan dan berdana kepada Sangha.

7. Hari Metta, ditandai dengan melakukan kegiatan yang bersifat cintakasih seperti tidak melakuka n kejahatan, memberikan dana, dan membebaskan binatang ke alam bebas. Dicetuskan saat berdirinya rumah sakit Buddhis di Hongkong yang dihadiri umat Buddhis dari berbagai negara.

II. 3. Agama Khonghucu

Agama Khonghucu adalah istilah yang muncul sebagai akibat dari keadaan

politik di

denga

II. 3.1. Sejarah Agama Khonghucu

Konfusianisme muncul dalam bentuk agama di beberapa negara seperti Konfusianisme sebagai agama dan filsafat

(35)

seringkali disebut sebagai Kongjiao (孔教) atau Rujiao (儒教). Namun, secara hakikat sebenarnya isi agama Khonghucu berbeda dengan Kongjiao atau Rujiao di

negara-negara tersebut. Agama Khonghucu di Indonesia merujuk kepada pemel

sebenarnya pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa tidak dapat digolongkan ke salah satu agama yang diakui di Indonesia, maka muncullah agama Khonghucu sebagai penaung pemeluk kepercayaan tadi.

Di zaman Orde Baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas berbau kebudayaaan dan tradisi

Agama Khonghucu di zaman

pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari 5 agama yang diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh

sebagai

memeluk salah satu agama yang diakui, mayoritas menjadi pemeluk agam

juga terpaksa merubah nama dan menaungkan diri menjadi

tempat ibadah agama Buddha.

Seusai Orde Baru, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai mencari kembali pengakuan atas identitas mereka. Untuk memenuhi syarat sebagai agama yang diakui menurut hukum Indonesia, maka beberapa lokalisasi dilancarkan menimbulkan perbedaan pengertian agama Khonghucu di Indonesia dengan Konfusianisme di luar negeri.

Agama Khonghucu di zaman

Agama Khonghucu di Indonesia:

Perbedaan definisi agama Khonghucu di Indonesia dan luar negeri

• Mengangkat先知).

Menetapkan Litang (Gerbang Kebajikan) sebagai

dikarenakan tidak banyak akses ke litang, masyarakat umumnya menganggap

• Menetapkan四書五經) sebagai

(36)

• Hari-hari raya keagamaan lainnya; Hari lahir Khonghucu (28-8 Imlek), Hari Wafat Khonghucu (18-2-Imlek), Hari Genta Rohani (Tangce) 22 Desember, Chingming (5 April), Qing Di Gong (8/9-1 Imlek) dsb.

• Rohaniawan; Jiao Sheng (Penebar Agama), Wenshi (Guru Agama), Xueshi

(Pendeta), Zhang Lao (Tokoh/Sesepuh). Konfusianisme di luar negeri :

• Konfusius hanya sebagai orang bijak (聖人).

• Kelenteng sebagai tempat ibadah pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa,

tempat ibadah Konfusianis adalah litang (禮堂).

• Jumlah kitab mengulas tentang Konfusianisme tak terhitung banyaknya, tidak

ada yang khusus disucikan.

• Tahun baru Imlek tidak ada hubungannya dengan Konfusius, hari lahir

Konfusius jatuh pada tanggal

sebagai hari raya penganut Konfusianisme.

II. 3.2. Ajaran Konfusius

Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius)

dala儒教) yang berarti agama dari

orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: "Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut". Meskipun orang

kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran

meningkatkan

memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".

Ajaran falsafah ini diasaskan ole

(37)

banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak

diikuti oleh penganut ajaran ini. Beliau meninggal dunia pada tahun

Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.

Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.

Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya

beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seora

menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah

yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.

II. 3.3. Inti Sari Ajaran Konfusius

a. Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:

1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)

2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)

3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)

4. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)

5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)

6. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu

Duo)

7. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing

Shu)

8. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)

b. Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):

1. Ren - Cintakasih

2. Yi - Kebenaran/Keadilan/Kewajiban

(38)

5. Xin - Dapat dipercaya

c. Lima Hubungan Sosial(Wu Lun):

1. Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan

2. Hubungan antara Suami dan Isteri

3. Hubungan antara Orang tua dan anak

4. Hubungan antara Kakak dan Adik

5. Hubungan antara Kawan dan Sahabat

d. Delapan Kebajikan(Ba De):

1. Xiao - Laku Bakti 2. Ti - Rendah Hati 3. Zhong - Satya

4. Xin - Dapat Dipercaya 5. Li - Susila

6. Yi - Bijaksana 7. Lian - Suci Hati

8. Chi - Tahu Malu

e. Zhong Shu = Satya dan Tepa selira/Tahu Menimbang:

"Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan terhadap orang lain" (Lunyu)

II. 3.4. Kitab Suci

Kitab sucinya ada 2 kelompok, yakni:

• 5 Kitab Suci 五經 Wu Jing (Kitab Suci yang Lima) yang terdiri atas:

1. Kitab Sanjak Suc

2. Kitab Dokumen Sejarah

3. Kitab Wahyu Perubaha

4. Kitab Suci Kesusilaan

5. Kitab Chun-q

1. Kitab Ajaran Besar -

2. Kitab Tengah Sempurna -

(39)

4. Kitab Mengzi -

Selain itu masih ada satu kitab lagi: Xiao Jing (Kitab Bhakti).

II. 4. Taoisme

Taoisme 道教 atau 道家 ) juga diejakan Daoisme, diprakarsai oleh

老子ǎozǐ) sejak akhir

道德經īng). Pengikut Laozi yang

terkenal adalah庄子) yang merupakan tokoh penulis kitab yang judul

II. 4.1. Riwayat Hidup Laozi

Menurut kitab史記ĭjì), nama as

(李耳ĭĚr), nama sapanya Boyang (伯阳) dan nama almarhum kehormatannya

Dan (聃). Terdapat segolongan sarjana mengatakan Boyang dan Dan adalah nama

sopan beliau. Laozi (SM570~SM470), dilahirkan di provinsi Ku(苦县), Chuguo (楚国),

sekarang dikenali Provinsi Henan. Beliau merupakan ketua pustakawan Chuguo,

kitab-kitab serta catatan-catatan historis, sehingga beliau mencapai keinsafan wawasan.

Kemasyhuran beliau luas tersebar sehingga kenala

catatan

kesopanan. Terdapat lukisan-lukisan berdasarkan kisah ini. Dengan ini, terdapat

persangkaan

Menurut rujukan Zhuangzi, kali pertama

17 kemudiannya pada usia 34, perjumpaan ketiga berada di Xiangyi (相邑) serta semasa berusia 51 dan 66.

Pada waktu keruntuhan

meninggalkan negerinya. Ketika beliau tiba di Kastam Hangu (函谷关), Guan Yixi

(关尹喜) meminta beliau meninggalkan filsafat dalam bentuk tulisan. Atas permintaan

Guan Yixi, Laozi meninggalkan dua karya yang berjudul De dan Dao (Judul pertama adalah "De" dan kedua adalah "Dao" ) sebelum meninggalkan Chuguo. Kedua-dua kitab

digabungkan dan diperkenalan sebagai

(40)

Terdapat banyak legenda mengenai Laozi yang masih terlibat dalam argumen orang ramai. Argumen dan Legenda yang berkenalan adalah seperti berikut:

Argumen dan Legenda

1. Laozi berada dalam perut ibundanya selama 82 tahun dan dilahirkan dalam keadaan

tua. Oleh itu digelarkan sebagai Laozi yang berarti Budak Tua.

2. Laozi berusia 200 tahun.

3. Perjumpaan

II. 4.2. Ajaran Taoisme

Taoisme adalah berasalkan "Dao" (道) yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia. Dao yang wujud dalam kesemua benda hidup dan

kebendaan adalah De (德). Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme

merupakan asasi alamiah. Taoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan berabadi. Keabadian manusia adalah apabila seseorang mencapai kesedaran Dao dan akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekan Dao untuk mencapai kesedaran Dao dan juga mendewakan.

Taoisme juga memperkenalkan teori Yinyang (阴阳), dalam

42:

“道生 一,一生 二,二生 三,三生 万物。万 物负阴而抱阳,冲气以为和

"

Berarti: Dao melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan Yin dan Yang, Yinyang saling bertindak balas menghasilkan tenaga atau kuasa, dengan adalah tenaga ini, hasil jutaan benda di dunia. Setiap benda dalam alam, samada hidup atau tidak, mengandungi Yinyang yang saling bertindak untuk mencapai keseimbangan.

Yin dan Yang dengan saintifiknya diterjemahkan sebagai negatif dan positif.

Setiap benda adalah dualisme, terdapat positif mesti adanya negatif; tidak bernegatif dan tidak berpositif jadinya kosong, tidak ada apa-apa. Bahkan magnet, magnet kepunyaan positif dan negatif, kedua-dua sifat tidak bisa diasingkan; tanpa positif, tidak wujudnya negatif, tidak jadinya magnet.

Lambang Lambang Yinyang

(41)

1525~1604). Sejarah kajian dan perkembangan Lambang Yinyang boleh dikatakan

sejak awal

(陳摶) dan Chou Dunyi (周敦頤). Lambang asli adalah Lambang Wuji(無極圖) oleh

Chentuan pada awal Dinasti Song, kemudiannya dimajukan oleh Chou Dunyi dan

memperkenalkan Lambang Taiji (太極圖).

Bidang-bidang yang dikembangkan berasakan Taoisme termasuk Taiji, Qigong, bidang medis, kesehatan, ilmu kimia, muzik dan sebagainya. Salah satu Kesatuan Taoisme Tiongkok kepunyaan kumpulan kitab-kitab hasil kajian Taoisme. Kitab-kitab tersebut merangkumi ajaran asli Taoisme, peraturan Taoisme, Qigong serta kajian-kajian medis, kesehatan, ilmu kimia, musik dan lain-lain.

Perkembangan berasaskan Taoisme

II. 5. Kepercayaan tradisional Tionghua

Kepercayaan tradisional Tionghoa ialah tradisi kepercayaan rakyat yang

dipercayai oleh kebanyaka

mempunyai

kepercayaan atau filsafat antara lain

Kepercayaan tradisional Tionghoa ini juga mengutamakan lokalisme seperti dapat dilihat pada penghormatan pada datuk di kalangan Tionghoa di Sumatera sebagai pengaruh dari kebudayaan Melayu.

Secara umum, kepercayaan tradisional Tionghoa mementingkan ritual penghormatan yaitu:

Penghormatan leluhur: Penghormatan kepada nenek moyang merupakan intisari dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Ini dikarenakan pengaruh ajaran Konfusianisme yang mengutamakan bakti kepada orang tua termasuk leluhur jauh.

(42)

II. 6. Pendekatan Pemilihan Tapak dan Lokasi II. 6.1. Kriteria Pemilihan Lokasi

Untuk memilih lokasi yang akan dijadikan tempat pelaksanaan pembangunan proyek ini, maka penting terlebih dahulu dibuat kriteria-kriteria pemilihan lokasi. Langkah ini ditempuh kemudian dievaluasi sehingga mendapatkan lokasi yang benar-benar cocok untuk proyek ini.

Kriteria ini dibuat berdasarkan analisa tata ruang kota, analisa sasaran proyek, analisa program aktifitas, analisa pencapaian, dan analisa penerapan tema.

Ada pun kriteria dalam pemilihan lokasi untuk proyek ini adalah:

Kesesuaian dengan RUTRK

(43)

Gambar 2.8. Gambar Peruntukan Lahan

Daerah WPP A

Merupakan Kawasan Pelabuhan dan industri

Daerah WPP B

Merupakan kawasan perkantoran dan perdagangan

Daerah WPP C

Merupakan kawasan pemukiman dan perdagangan Daerah WPP D

Merupakan kawasan perkantoran

Daerah WPP E

(44)

WPP Cakupan Kecamatan

Pusat Pengembangan

Peruntukan Lahan Program Pembangunan A M. Belawan

M. Marelan M. Labuhan

BELAWAN Pelabuhan, Industri, Permukiman, Rekreasi, Maritim

Jalan baru, jaringan

air minum, septic

tank, sarana

pendidikan dan permukiman.

B M. Deli TJ. MULIA Perkantoran, Perdagangan, Rekreasi, Indoor, Permukiman

Jalan baru, jaringan

air minum,

pembuangan sampah,

sarana pendidikan.

C M. Timur M. Perjuangan M. Tembung M. Area M. Denai M. Amplas

AKSARA Permukiman, Perdagangan, Rekreasi

Sambungan air

minum, septic tank,

jalan baru, rumah

permanen, sarana

pendidikan dan kesehatan.

D M. Johor M. Baru M. Kota M. Maimoon M Polonia

INTI KOTA CBD, Pusat Pemerintahan, Hutan Kota, Pusat Pendidikan, Perkantoran, Rekreasi Indoor, Permukiman Perumahan permanen, pembuangan sampah,

sarana pendidikan.

E M. Barat

M. Helvetia

M. Petisah

M. Sunggal

M. Selayang

M. Tuntungan

SEI SEKAMBING Permukiman,

Perkantoran,

Perdagangan,

Konservasi,

Rekreasi, Lapangan

Golf, Hutan Kota

Sambungan air

minum, septic tank,

jalan baru, rumah

permanen, sarana

[image:44.595.93.533.62.686.2]

pendidikan dan kesehatan.

Tabel 2.1 Tabel Peruntukan Lahan

(45)

Tinjauan Terhadap Struktur Kota

Proyek berkaitan dengan peribadatan sehingga lokasi perencanaan harus memiliki tingkat ketenangan yang cukup tinggi, tidak berdekatan dengan pusat keramaian. Lokasi perencanaan diharapkan jauh dari pemukiman penduduk

Pencapaian

Site harus dapat dicapai dengan mudah, baik bagi kendaraan maupun bagi pejalan kaki. Site juga harus sudah memiliki jaringan jalan dengan kondisi yang baik, cukup lebar, nyaman, dan dilalui oleh angkutan umum.

Area Pelayanan

Berdasarkan RUTRK tentang Konsep Pola Hierarki Fasilitas Pelayanan Kota adalah antara 2-3 km.

II. 6.2. Alternatif Lokasi

Jl. Jamin Ginting, Kelurahan Lau Cih, Kecamatan Medan Tuntungan Alternatif A

Potensi site antara lain :

 Berada di pinggiran kota

 Pencapaian mudah

 Daerah cukup tenang

 Dekat dengan area sungai

Lokasi berada di Jl. Jamin Ginting, Pancur Batu Alternatif B

Potensi site antara lain :

 Berada di pinggiran perkotaan

 Sudah tersedia jaringan jalan yang cukup baik

 Suasana tenang

 Jauh dari daerah pemukiman penduduk

Padang Golf International Alternatif C

Lokasi berada di Jl. Jamin Ginting, Pancur Batu Potensi site antara lain :

(46)

 Tersedia jaringan jalan yang cukup baik

 Suasana tenang dan jauh dari sumber kebisingan

 Jauh dari daerah pemukiman penduduk

II. 6.3. Penilaian Lokasi Tapak

Kriteria Alternatif A Alternatif B Alternatif C

Tingkatan jalan Jalur Primer

(5) Jalur Sekunder (3) Jalur Primer (5) Pencapaian ke Lokasi Transportasi mudah didapat (5) Transportasi cukup mudah didapat (4) Transportasi cukup mudah didapat (4) Jangkauan terhadap struktur kota

Cukup jauh dari Pemukiman Penduduk (4) Jauh dari Pemukiman Penduduk (5) Jauh dari Pemukiman Penduduk (5) Fungsi Pendukung Sekitar Lokasi Terdapat sungai di sekitar site

(5)

Terdapat sungai kecil di sekitar

site (4)

Tidak terdapat sungai di sekitar

site (2) RUTRK (Pengembangan Perdagangan dan Rekreasi) Diperuntukkan untuk Permukiman, Perkantoran, Perdagangan, Konservasi, Rekreasi, Lapangan Golf, Hutan Kota (5) Diperuntukkan untuk Permukiman, Perkantoran, Perdagangan, Konservasi, Rekreasi, Lapangan Golf, Hutan Kota (5) Diperuntukkan untuk Permukiman, Perkantoran, Perdagangan, Konservasi, Rekreasi, Lapangan Golf, Hutan Kota (5)

Fungsi Eksisting Restoran

(47)

Kontur Berkontur (5)

Berkontur (5)

Berkontur (5)

Ketenangan Tenang

(4)

Tenang (4)

Sangat Tenang (5)

Total Nilai 37 35 36

[image:47.595.130.530.70.234.2]

Peringkat 1 3 2

Tabel 2.2. Penilaian Pemilihan Lokasi Keterangan :

5 : Baik Sekali 3 : Cukup 1 : Kurang Sekali

4 : Baik 2 : Kurang

(48)

BAB III

TINJAUAN KHUSUS

III. 1. Deskripsi Proyek III. 1.1. Umum

Nama Proyek : Oasis Boddhicitta Mandala Indonesia

Status Proyek : Fiktif

Pemilik : Persamuhan Bodhicitta Mandala Indonesia

(PBMI)

Pendanaan : Swasta

Lokasi : Jalan : Jamin Ginting

Kelurahan : Lau Cih

Kecamatan : Medan Tuntungan

Kotamadya : Medan

Luas Tapak : ±2,5 ha

Batas Tapak : Utara : Restoran Kenanga Indonesia

Timur : Hotel Seri Buena Indah

Selatan : Pemukiman Penduduk

Barat : Pemukiman Penduduk

Existing Tapak : Fungsi : Lahan Kosong

Prasarana : Ada

Lansekap : Tanah cukup berkontur,

pepohonan dan rumput liar

KDB : 60 %

GSB : Min 8 meter dari Jalan Jamin Ginting

III. 1.2. Arti Kata

JUDUL : OASIS BODHICITTA MANDALA INDONESIA

Oasis : suatu tempat yang menyenangkan di tengah-tengah suasana yang serba kalut dan tidak menyenangkan.

Bodhicitta : suatu pikiran dan hati yang luhur.

(49)

Bodhicitta Mandala : sebuah kehidupan yang mengaktualisasikan kondisi Bodhicitta. Bodhicitta Mandala itu sendiri diambil dari PBMI (Persamuhan Bodhicitta Mandala Indonesia) yang merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang sosial, lingkungan hidup, pendidikan, dan spiritual.

Indonesia : nama negara kepulauan di Asia Tenggara yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia.

III. 1.3. Pengertian

Jadi yang dimaksud dengan Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia ialah suatu lingkungan kompleks peribadatan yang dibentuk oleh suatu organisasi sosial yaitu PBMI (Persamuhan Bodhicitta Mandala Indonesia) yang dimaksudkan agar umat Buddha memperoleh kesejukan rohani di tengah-tengah suasana yang serba kalut dengan skala kota, daerah, nasional. Walaupun Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia memiliki fungsi tambahan berupa krematorium dan kolumbarium, namun tetap dapat menciptakan kesan religius dan nyaman, tanpa ada perasaan angker.

III. 1.4. Persamuhan Bodhicitta Mandala Indonesia (PBMI)

PBMI (Persamuhan Bodhicitta Mandala Indonesia) adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial, lingkungan hidup, pendidikan dan spiritual. Tujuan dari didirikannya PBMI adalah membantu masyarakat dalam bidang sosial, pendidikan, lingkungan hidup serta dalam bidang spiritual.

Kegiatan yang telah dilakukan PBMI antara lain : A. Sosial

• Program Anak Asuh Metta Jaya

Yang bertujuan membantu anak-anak yang keluarganya bermasalah agar mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih layak.

• Pendirian Poliklinik umum

Bertempat di Jln. Selam no.23 Medan Yang bertujuan mengobati masyarakat yang mempunyai penyakit umum dengan biaya yang terjangkau.

(50)

Bertempat di Jln. Industri no.70i Medan Yang bertujuan membantu masyarakat yang kurang mampu dengan masalah gigi dan mulut.

• Program kartu donasi Bodhicitta

Yang bertujuan bagi masyarakat yang ingin beramal rutin setiap bulan. Dana donasi yang terkumpul digunakan untuk pelayanan kesehatan (poliklinik), pelayanan sosial (tempat berkumpulnya orang tua, pentipan anak, rumah kedamaian, tempat rehabilitasi penyandang masalah sosial), menumbuh suburkan Buddha Dharma, perpustakaan buddhis, pengembangan Dharma Duta, pengadaan dan pengembangan SDM.

B. Pendidikan

• Program beasiswa ke Taiwan

Yang bertujuan bagi pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta memperdalam bahasa mandarin dan bahasa inggris.

• Pendirian Gedung Pusat Pelatihan dan Bimbingan Belajar

Bodhicitta

Yang bertujuan sebagai fasilitas pelayanan masyarakat di bidang pendidikan dan pengembangan diri.

• Program Summer Camp dari Bamboo Community

University, Hsin Chu Taiwan

Yang bertujuan agar peserta Summer Camp dapat memperoleh berbagai skill dalam aspek teknologi terutama komputerisasi serta dalam pembuatan barang kerajinan tangan (handy-craft).

C. Lingkungan Hidup

• Pemberian tong sampah kepada masyarakat

(51)

• Pembibitan di Pancur Batu.

Yang bertujuan sebagai tempat pelatihan pembudidayaan dan pembuatan tanaman unggul serta menjadi tempat pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih memahami tumbuhan hutan dan pengembangannya.

• Pusat studi lingkungan hidup Bodhicitta Panopuan Tapsel

Yang bertujuan memperkenalkan dan mempertahankan konsep kesatuan antara manusia dan alam, melakukan pengelolaan dan pemanfaatan lahan kritis menjadi lahan yang bermanfaat secara ekonomis dan ekologis, sebagai kawasan penyangga sistem kehidupan dan pengawetan keanekaragaman hayati, pemanfaatan lestari yang berdayaguna dan agar masyarakat ikut serta dalam menjaga kelestarian kawasan.

• Gerakan 1.111.111 pohon

Yang bertujuan menanam dan melestarikan pohon serta berusaha menyelamatkan kawasan hutan alam yang masih tersisa dengan menggali potensi dan kearifan masyarakat Indonesia dalam menjaga alamnya.

• Program barang bekas Bodhicitta

Yang bertujuan agar barang-barang bekas yang diberikan masyarakat dapat didayagunakan kembali.

D. Spiritual

• Dharma class kepada anak asuh dan murid-murid

Perguruan Buddhis Bodhicitta

Yang bertujuan memberikan siraman rohani untuk perkembangan anak asuh ke arah yang lebih baik.

• Pelatihan diri di Padang Sidempuan

(52)

III. 1.5. Fasilitas

Fasilitas yang akan dibangun pada proyek Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia adalah sebagai berikut :

• Balai Dhamma (Dharmasala),

Merupakan tempat untuk pembacaan paritta, pembabaran Dhamma, diskusi Dhamma, meditasi unuk melakukan Vesakpuja (puja bakti waisak), Asathapuja (puja bakti Asadha), dan Maghapuja. Selain itu, juga berfungsi sebagai tempat untuk melangsungkan upacara pernikahan, ulang tahun atau upacara kematian.

• Kuti

Merupakan tempat tinggal untuk Bhikkhu/Bhikkhuni dan Samanera-Samaneri.

• R. Administrasi

Merupakan sarana tempat tempat kegiatan administrasi, pembukuan, penjualan serta konsultasi.

• Ruang kremator,

Merupakan tempat kremasi dilaksanakan. Jenis ruang kremator tergantung pada bahan bakar dan cara kremasi.

• Ruang penyimpanan guci abu jenazah (kolumbarium)

Merupakan tempat untuk menyimpan guci penyimpan abu jenazah, dan juga tempat melakukan ziara dan sembahyang kepada yang meninggal.

• Aula serba guna, yang berfungsi untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan

sosial maupun upacara-upacara seperti: 4. Peringatan 1000 hari

5. Peringatan hari Ulambhana

6. Upacara pembakaran rumah kertas

• Perpustakaan,

(53)

III. 1.6. Deskripsi Kegiatan

Secara garis besar kegiatan yang dilaksanakan dalam Oasis Bodhicitta Mandala Indonesia adalah :

a. Kebaktian

Merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan setiap hari, kebaktian hari Minggu dan kebaktian hari-hari besar Agama Buddha.

b. Seminar dan sarasehan

Dilaksanakan secara berkala dan merupakan kegiatan yang berskala kota, daerah, nasional, maupun internasional.

c. Kegiatan sosial

Merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara berkala untuk membantu terhadap sesama manusia yang membutuhkan bantuan maupun kegiatan yang diadakan pada saat hari besar agama seperti hari Cinta Kasih, di mana umat Buddhis melakukan kegiatan pelepasan makhluk hidup ke alam bebas seperti pelepasan burung, ikan, dan kura-kura.

d. Kegiatan penghormatan kepada leluhur

Merupakan kegiatan yang dilaksanakan sebagai kewajiban terhadap keluarga yang diwujudkan dalam bakti, seperti : memuja orang tua dan leluhur, kewajiban anggota keluarga terhadap yang meninggal, lama berkabung, pakaian berkabung, ziara pada bulan 3 penanggalan Imlek, membersihkan altar.

III. 1.7. Studi Banding Proyek Sejenis

A. VIHARA BUDDHA MURNI, TANJUNG MORAWA, SUMATERA

UTARA

(54)
[image:54.595.192.406.85.231.2]

Gambar 3.1. Vihara Buddha Murni Indonesia Sumber : pribadi

Bangunan pertama yang terletak paling depan merupakan tempat persembahyangan dewa-dewa serta tempat penyimpanan abu jenazah. Di luar vihara terdapat tungku pembakaran kertas-kertas sembahyang. Bangunan kedua merupakan tempat peribadatan, tempat kebaktian, tempat penghormatan kepada Sang Buddha

Gambar 3.1. Tempat persembahyangan dewa-dewa Sumber : pribadi

Gambar 3.4. Tungku Pembakaran Kertas-Kertas Sembahyang Sumber : pribadi

(55)

Bangunan ini dari luar tidak terlihat karena bersifat lebih sakral. Pencapaian menuju bangunan ini melalui tangga yang memberi kesan hierarki yang lebih tinggi. Bangunan ini hanya bisa diakses setelah melewati bangunan pertama.

Gambar 3.5. Tempat penghormatan kepada Sang Buddha Sumber : pribadi

Bangunan ketiga merupakan tempat peristirahatan bagi bhikhu-bhikkhuni. Bangunan ini bisa diakses dari luar langsung karena berada di sisi luar membentuk huruf U.

Gambar 3.6. Kuti Sangha

Sumber : pribadi

(56)

Gambar 3.7. Krematorium Di Zang Dian Sumber : pribadi

B. OASIS LESTARI

Krematorium Oasis Lestari merupakan salah satu tempat kremasi

paling modern pada masa ini khususnya di daerah Jabotabek. Dengan latar

depan telaga yang sejuk dan dikelilingi oleh danau dengan bunga lotus.

Krematorium Oasis Lestari memberikan fasilitas yang paling modern dan

r

a

m

a

h

Sumber :

Gambar 3.9. Proses kremasi dengan oven Sumber :

(57)

Gambar 3.11. Aula Semayam Sumber :

lingkungan. Gedungnya didesain dengan gaya Eropa yang menggunakan

tehnik minimalis. Komposisi warna putih yang mendominasi hampir seluruh

bagian gedung memberikan kesan bersih dan indah. Dua alua Krematorium

yang masing-masing beberrukuran 10 x 10 meter, dirancang dengan tata

cahaya, tata artistik dan tata suara sehingga tercipta ruang yang khidmat,

tenang dan nyaman. Tiap aula Krematorium dapat menampung 100 orang

yang dilengkapi dengan ruang kel

Gambar

Gambar 2.2 Koin masa Raja Alexander Yaneus (103-76 SM) dengan cakra berisikan delapan ruji
Gambar 2.3 Damma Perak Menander I (160-135 SM)
Gambar 2.5. Koin emas masa Kushan memperlihatkan Raja Kanishka I (100-126 M) dengan lukisan Boddo (Buddha)
Tabel 2.1 Tabel Peruntukan Lahan
+7

Referensi

Dokumen terkait