• Tidak ada hasil yang ditemukan

Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Terkait dengan Sustainable Development

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Terkait dengan Sustainable Development"

Copied!
188
0
0

Teks penuh

(1)

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) SEBAGAI PENERAPAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE

(GCG) TERKAIT DENGAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT

TESIS

OLEH :

LESLY SAVIERA 107005039/HK

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Corporate Social Responsibility (Csr) Sebagai Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (Gcg) Terkait Dengan Sustainable Development

Lesly Saviera1 Syamsul Arifin2

Tan Kamello3 Jelly Leviza4

ABSTRAK

Krisis ekonomi yang melanda Asia khususnya Indonesia pada pertengahan tahun 1997 diyakini karena lemahnya penerapan Good Corporate Governance

(GCG) di dalam korporasi. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) memiliki tujuan atau manfaat untuk membantu pemulihan ekonkmi bagi negara-negara yang sebelumnya dilanda krisis. Salah satu prinsipo dalam GCG yaitu

Responsibility melahirkan gagasan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud tanggung jawab perusahaan terhadap sosial dan lingkungan. Dalam gagasan CSR, tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line (profit, people, planet). Hal ini berkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), bahwa perusahaan tidak hanya mementingkan keuntungan perusahaan tetapi juga pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan hidup.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normative. Penelitian hokum ini akan mengkaji terhadap sistem hokum yang bertujuan untuk menemukan aturan-aturan hokum yang bertujuan memberikan penjelasan terhadap

Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Sumber data yang digunakan adalah data sekunder meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier.

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah tentang penerapan prinsip GCG dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), konsep CSR sebagai wujud prinsip GCG dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan mengenai prinsip sustainable development yang mendasari konsep CSR di tingkat internasional dan

Undang-1

Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

2

Dosen Pembimbing Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

3

Dosen Pembimbing Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

4

(3)

Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa atas dasar prinsip GCG, maka terdapat keputusan Menteri Negara BUMN No. KEP-23/M.PM.BUMN/ 2000 yang menegaskan bahwa GCG adalah prinsip perusahaan yang sehat yang perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan, yang kemudian prinsip GCG ini tertuang dalam UUPT. Penerapan prinsip GCG dalam konsep CSR yaitu bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab berupa kewajiban terhadap sosial dan lingkungan, yang dituangkan dalam pasal 74 UUPT. CSR di tingkat internasional maupun yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) berdasarkan prinsip sustainable development bertujuan untuk memperkuat kemampuan peruashaan untuk mengintegrasikan dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial.

Penerapan salah satu prinsip GCG yaitu Responsibility dalam CSR sebagaimana diatur dalam pasal 74 UUPT sebaiknya diatur lebih khusus dalam Peraturan Pemerintah demi kepastian hukum agar tidak terjadi benturan kepentingan antara perusahaan dengan stakeholders. Serta perlu adanya interaksi yang saling mendukung antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat agar pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dapat terwujud.

Kata kunci : - Good Corporate Governance

- Corporate Social Responsibility

(4)

Corporate Social Responsibility (CSR) as an application of Principles of Good Corporate Governance (GCG) Related to Sustainable Development

Lesly Saviera5 Syamsul Arifin6

Tan Kamello7 Jelly Leviza8

ABSTRACT

Economic crisis in Asia, especially Indonesia in mid-1997 is believed to be due to weak implementation of Good Corporate Governance (GCG) in the corporation. Principles of Good Corporate Governace (GCG) has the purpose or benefit to help the economic recovery to countries previously hit by the crisis. One of the principles in the GCG that gave birth to the idea of Corporate Social Responsibility Responsibility (CSR) as a form of corporate social responsibility and the environment. The idea of CSR, corporate responsibility must rest on the triple bottom line (profit, people, planet). It is closely related to sustainable development (sustainable development), that the company is not only concerned with corporate profits but also social development, and environmental protection.

The method used in this study is the juridical normative. This study will examine the law on the legal system which aims to discover the rules of law that aims to provide an explanation for the Corporate Social Responsibility (CSR) as an application of the Principles of Good Corporate Governance (GCG). Data sources used were secondary data included the primary legal materials, legal materials secondary, tertiary and legal materials.

Problems discussed in this research is about applying the principles of good corporate governance in Law Number 40 Year 2007 regarding Limited Liability Company (Company Law), the concept of CSR as a form of good corporate governance principles in Law Number 40 Year 2007 regarding Limited Liability Company, and the principles of sustainable development underlying concept of CSR at the international level, and Law Number 32 Year 2009 on the Protection and Environmental Management.

Based on the results showed that on the basis of the principle of good corporate governance, then there is no decision of the Minister of State Enterprises. KEP-23/M.PM.BUMN/2000 who affirm that the GCG is the principle of healthy companies that need to be applied in the management of the company, which later

5

College Student of Magister of Law, Faculty of Law, North Sumatera University

6

Lecturer of Magister of Law, Faculty of Law, North Sumatera University

7

Lecturer of Magister of Law, Faculty of Law, North Sumatera University

8

(5)

this GCG principles set out in the Company Law. The application of the principle of good corporate governance in the concept of CSR is that corporations have a responsibility towards the social and environmental obligations, as outlined in section 74 Company Law. CSR at the international level as well as regulated in Law Number 32 Year 2009 on the Protection and Environmental Management based on the principles of sustainable development aims to strengthen the company's ability to integrate the economic dimension, ecological, and social.

Application of the principle of good corporate governance is one of Responsibility in the CSR as provided in section 74 Company Law should set more specific in government regulation of legal certainty in order to avoid conflicts of interest between the company and stakeholders. And the need for mutually supportive interaction between governments, businesses and communities to sustainable development (sustainable development) can be realized.

(6)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya

dengan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan

tesis ini dengan judul “Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Terkait dengan Sustainable Development”. Tidak lupa Shawalat beriring salam penulis kepada Rasulullah SAW yang selalu menjadi suri tauladan dan yang syafa’atnya selalu diharapkan seluruh

umatnya.

Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk

memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Hukum (M.H) Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa tesis dapat diselesaikan karena dukungan dan bantuan

berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H,M.Sc (CTM), Sp.A(K), atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Studi

Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(7)

Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan atas

dukungan yang telah diberikan;

3. Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara, Prof. Dr. Suhaidi, S.H.,M.H.

4. Bapak Prof. Syamsul Arifin, SH, M.H., selaku ketua dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan, dukungan, dan ilmu yang telah diajarkan.

5. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS, selalu dosen pembimbing yang telah dengan sangat baik hati selalu memberikan dukungan kepada penulis demi

tercapainya hasil yang terbaik dalam penulisan tesis ini.

6. Bapak Dr. Jelly Leviza, SH, H.Hum., selaku dosen pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis. Penulis

sangat berterima kasih atas segala dukungan yang telah diberikan.

7. Kemudian juga, kepada Dosen Penguji Bapak Prof. Dr. Suhaidi, S.H.,M.H., dan Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H.,M.H., yang telah berkenan memberi masukan dan arahan sehingga penulisan tesis ini lebih sempurna dan terarah.

8. Selanjutnya ucapan terima kasih penulis yang sebesar-besarnya kepada kedua orangtua yang sangat penulis sayangi, kepada Ntu Capt. H.A. Utoyo Hadi, S.H.,M.Si.,M.Mar., dan Mami Hj. Hafizah atas segala dukungan baik moril dan materiil, do’a kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis sehingga penullis

(8)

Ynnia,S.H.,M.Kn., Noni Winniea, S.E., Inggrid Hestia,S.S. terima kasih atas dukungan dan do’anya selama ini.

9. Sahabat-sahabat tersayang, Faradila Yulistri Sitepu, S.H., M.H., Khairuna Malik Hasibuan, S.H., M.H., yang selalu ada memberikan semangat dan setia mendukung penulis dalam keadaan apapun Alhamdulillah, We did it girls, dan

kepada teman-teman seperjuangan Khairunnisa Ginting, Riko Nugraha, Herlinawaty Harahap, Dwi Marpaung, Kristy Aditya, Friska Siregar, Arief Rezana Dislan, Mas Riau, Bang Edi, Cakra Arbas, Bang Ikhwan semoga walaupun denagn selesainya studi ini persahabatan kita dapat tetap terjalin dengan

baik.

10.Untuk yang terkasih Farouq Mohammed yang telah dengan sangat baik hati

memberikan perhatian, dukungan, semangat, do’a dan atas segala pengertian dan

perhatian yang telah diberikan.

11.Seluruh staf pegawai di Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas

Sumatera Utara, selaku manajemen administrasi yang telah membantu dalam

proses penyelesaian tesis ini. Kak Vika, Kak Juli, Kak Fitri, Bu Ganti, dan Bang

Hendra.

Penulis berharap semoga semua do’a, bantuan dan kebaikan yang telah

diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar

(9)

semua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna,

berharap kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.

Medan, Juli 2012

Penulis,

(10)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama Lengkap : Lesly Saviera

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 16 Maret 1987

Status : Belum Menikah

Alamat : Jl. Gunung Seulawah No. 16 Medan

II. KELUARGA

Nama Ayah : Capt. H. A. Utoyo Hadi, S.H., M.Si., M.Mar

Nama Ibu : Hj. Hafizah

III. KEPENDIDIKAN

- SD : SD Negeri Polisi IV Bogor

- SMP : SMP Negeri 7 Medan

- SMA : SMA Negeri 4 Medan

- Perguruan Tinggi/S1 : Tahun 2006 s/d 2009

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara - Perguruan Tinggi/S2 : Tahun 2010 s/d 2012

(11)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... iii

KATA PENGATAR ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xi

DAFTAR ISI ... x

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 20

C. Tujuan Penelitian ... 20

D. Manfaat Penelitian ... 21

E. Keaslian Penelitian ... 23

F. Kerangka Teori dan Konsep 1. Kerangka Teori ... 23

2. Konsep ... 33

G. Metode Penelitian 1. Spesifikasi Penelitian ... 36

2. Sumber Data ... 37

3. Analisis Data ... 38

BAB II PENERAPAN PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS A. Perkembangan Konsep Corporate Governance dan Good Corporate Governance (GCG) 1. Perkembangan Konsep Corporate Governance Sebagai Tonggak Awal Good Corporate Governance (GCG) ... 40

2. Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance (GCG) ... 54

3. Perkembangan Konsep Corporate Governance (GCG) di Indonesia ... 57

B. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ... 72

(12)

A. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam Pelaksanaan CSR ... 100 B. Perkembangan Konsep CSR ... 103

1. Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Etika Bisnis Perusahaan

... 106

2. Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Community Development (CD) ... 111 C. Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Undang-Undang Nomor 40

Tahun 2009 ... 121

BAB IV CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) SEBAGAI SUSTAINABLE DEVELOPMENT

A. Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Kerangka Hukum Internasional

1. Prinsip Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)... 139 2. Prinsip Sustainable Development Dalam Konsep CSR Menurut

Perspektif Hukum Internasional

a. Prinsip Sustainable Development Dalam Kerangka Hukum Internasional ... 146 b. Perspektif Global Tentang CSR ... 150 B. CSR Sebagai Sustainable Development Dalam Undang-Undang Nomor

32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ... 157

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 166 B. Saran ... 168

(13)

Corporate Social Responsibility (Csr) Sebagai Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (Gcg) Terkait Dengan Sustainable Development

Lesly Saviera1 Syamsul Arifin2

Tan Kamello3 Jelly Leviza4

ABSTRAK

Krisis ekonomi yang melanda Asia khususnya Indonesia pada pertengahan tahun 1997 diyakini karena lemahnya penerapan Good Corporate Governance

(GCG) di dalam korporasi. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) memiliki tujuan atau manfaat untuk membantu pemulihan ekonkmi bagi negara-negara yang sebelumnya dilanda krisis. Salah satu prinsipo dalam GCG yaitu

Responsibility melahirkan gagasan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud tanggung jawab perusahaan terhadap sosial dan lingkungan. Dalam gagasan CSR, tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line (profit, people, planet). Hal ini berkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), bahwa perusahaan tidak hanya mementingkan keuntungan perusahaan tetapi juga pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan hidup.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normative. Penelitian hokum ini akan mengkaji terhadap sistem hokum yang bertujuan untuk menemukan aturan-aturan hokum yang bertujuan memberikan penjelasan terhadap

Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Sumber data yang digunakan adalah data sekunder meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum tersier.

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah tentang penerapan prinsip GCG dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), konsep CSR sebagai wujud prinsip GCG dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan mengenai prinsip sustainable development yang mendasari konsep CSR di tingkat internasional dan

Undang-1

Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

2

Dosen Pembimbing Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

3

Dosen Pembimbing Program Studi Magister Ilmu Hukum, Universitas Sumatera Utara

4

(14)

Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa atas dasar prinsip GCG, maka terdapat keputusan Menteri Negara BUMN No. KEP-23/M.PM.BUMN/ 2000 yang menegaskan bahwa GCG adalah prinsip perusahaan yang sehat yang perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan, yang kemudian prinsip GCG ini tertuang dalam UUPT. Penerapan prinsip GCG dalam konsep CSR yaitu bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab berupa kewajiban terhadap sosial dan lingkungan, yang dituangkan dalam pasal 74 UUPT. CSR di tingkat internasional maupun yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) berdasarkan prinsip sustainable development bertujuan untuk memperkuat kemampuan peruashaan untuk mengintegrasikan dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial.

Penerapan salah satu prinsip GCG yaitu Responsibility dalam CSR sebagaimana diatur dalam pasal 74 UUPT sebaiknya diatur lebih khusus dalam Peraturan Pemerintah demi kepastian hukum agar tidak terjadi benturan kepentingan antara perusahaan dengan stakeholders. Serta perlu adanya interaksi yang saling mendukung antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat agar pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dapat terwujud.

Kata kunci : - Good Corporate Governance

- Corporate Social Responsibility

(15)

Corporate Social Responsibility (CSR) as an application of Principles of Good Corporate Governance (GCG) Related to Sustainable Development

Lesly Saviera5 Syamsul Arifin6

Tan Kamello7 Jelly Leviza8

ABSTRACT

Economic crisis in Asia, especially Indonesia in mid-1997 is believed to be due to weak implementation of Good Corporate Governance (GCG) in the corporation. Principles of Good Corporate Governace (GCG) has the purpose or benefit to help the economic recovery to countries previously hit by the crisis. One of the principles in the GCG that gave birth to the idea of Corporate Social Responsibility Responsibility (CSR) as a form of corporate social responsibility and the environment. The idea of CSR, corporate responsibility must rest on the triple bottom line (profit, people, planet). It is closely related to sustainable development (sustainable development), that the company is not only concerned with corporate profits but also social development, and environmental protection.

The method used in this study is the juridical normative. This study will examine the law on the legal system which aims to discover the rules of law that aims to provide an explanation for the Corporate Social Responsibility (CSR) as an application of the Principles of Good Corporate Governance (GCG). Data sources used were secondary data included the primary legal materials, legal materials secondary, tertiary and legal materials.

Problems discussed in this research is about applying the principles of good corporate governance in Law Number 40 Year 2007 regarding Limited Liability Company (Company Law), the concept of CSR as a form of good corporate governance principles in Law Number 40 Year 2007 regarding Limited Liability Company, and the principles of sustainable development underlying concept of CSR at the international level, and Law Number 32 Year 2009 on the Protection and Environmental Management.

Based on the results showed that on the basis of the principle of good corporate governance, then there is no decision of the Minister of State Enterprises. KEP-23/M.PM.BUMN/2000 who affirm that the GCG is the principle of healthy companies that need to be applied in the management of the company, which later

5

College Student of Magister of Law, Faculty of Law, North Sumatera University

6

Lecturer of Magister of Law, Faculty of Law, North Sumatera University

7

Lecturer of Magister of Law, Faculty of Law, North Sumatera University

8

(16)

this GCG principles set out in the Company Law. The application of the principle of good corporate governance in the concept of CSR is that corporations have a responsibility towards the social and environmental obligations, as outlined in section 74 Company Law. CSR at the international level as well as regulated in Law Number 32 Year 2009 on the Protection and Environmental Management based on the principles of sustainable development aims to strengthen the company's ability to integrate the economic dimension, ecological, and social.

Application of the principle of good corporate governance is one of Responsibility in the CSR as provided in section 74 Company Law should set more specific in government regulation of legal certainty in order to avoid conflicts of interest between the company and stakeholders. And the need for mutually supportive interaction between governments, businesses and communities to sustainable development (sustainable development) can be realized.

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Isu corporate governance menarik perhatian setelah berbagai lembaga keuangan multilateral, seperti World Bank dan Asian Development Bank (ADB) mengungkapkan bahwa penyebab krisis keuangan yang melanda di berbagai negara,

terutama di Asia adalah karena buruknya pelaksanaan praktik-praktik corporate governance. Dalam hal ini Indonesia merupakan negara yang paling menderita serta paling lambat bangkit dari dampak krisis tersebut.9

Konsepsi governance mulai menguat di Indonesia pasca krisis ekonomi di akhir tahun 1997 ditandai dengan ditandatanganinya Letter of Intens (LOI)

10 antar

Pemerintah Indonesia dengan lembaga pemberi dana International Monetary Fund

(IMF) yang mengsyaratkan governance (publik maupun korporasi) sebagai syarat bantuan yang diberikan.11

9

Hasil Studi Asian Development Bank (ADB) Tahun 2000 “Corporate Governance and Finance in East Asia” dikutip dari: Akhmad Syahroza, Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap FE UI Corporate Governance : Sejarah dan Perkembangannya, Teori, Model, dan Sistem Governance serta Aplikasinya pada Perusahaan BUMN, (Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI 2005), hlm. 3.

10

Letter of Intent (LOI) adalah sebuah dokumen hukum sebagai awal perjanjian antara dua pihak atau lebih, sebagai bentuk awal ketertarikan untuk kemudian dilanjutkan dalam bentuk perjanjian. Pada umumnya berisi hal-hal penting dalam negosiasi. Perbedaan spesifik antara LOI dan Memorandum of Understanding (MOU), sebuah LOI menguraikan maksud dari satu pihak terhadap yang lain sehubungan dengan kesepakatan, dan hanya dapat ditandatangani oleh pihak yang mengungkapkan niat itu, sedangkan MOU harus ditandatangani oleh semua pihak menjadi garis valid kesepakatan. Dikutip dari Wikipedia, diakses pada tangal 29 Maret 2012.

11

(18)

Krisis ekonomi di Indonesia telah berkembang dan bersifat multidimensi,

karena diikuti krisis politik serta berbagai masalah dalam negeri lainnya. Hal ini

diperparah oleh lemahnya mekanisme berbagai institusi penyelenggara sistem

perekonomian negara dan rendahnya penegakan hukum sebagai benteng terakhir

yang diharapkan dapat menjamin tegaknya aturan dan berjalannya sistem yang ada.

Serta larinya modal dalam negeri ke negara lain (capital fights) sangat besar jumlahnya, sehingga secara teknis menyebabkan Indonesia dianggap bangkrut.12

Terpuruknya perekonomian Indonesia akibat krisis moneter telah mendorong

penggunaan sistem tata kelola perusahaan yang baik atau GCG pada

perusahaan-perusahaan. Sebagai bagian dari komunitas bisnis dunia, sudah selayaknya

perusahaan-perusahaan di Indonesia terutama perusahaan publik menerapkan GCG

untuk dapat bekerja secara efisien sehingga menghasilkan produk-produk yang

mampu bersaing di pasar internasional dan akan meningkatkan investasi serta

pertumbuhan ekonomi nasional.13

Melihat besarnya biaya krisis dan buruknya dampak krisis tersebut bagi

perekonomian dan terganggunya kestabilan sistem keuangan suatu negara maka

untuk menghindari terulangnya krisis di masa datang, maka GCG menjadi isu sentral

di sejumlah negara termasuk Indonesia dan di tahun 1998 berdasarkan mandate

G-12

Niki Lukviarman, Etika Bisnis Tak Berjalan Di Indonesia: Ada Apa Dalam Corporate Governance? Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang diakses pada 24 Februari 2012

13

Yudistina Eka Kumala,

(19)

714

Konsep GCG ini diperkenalkan oleh IMF pada saat melakukan “economic recovery” pascakrisis, khususnya dalam upaya melindungi pemegang saham (shareholders) dan kreditor untuk dapat memperoleh kembali investasinya.

kepada Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan World Bank, OECD mengorganisasikan lima pertemuan yang disebut The Asian Roundtable on Corporate and Development untuk mendiskusikan peningkatan

Corporate Governance di negara-negara yang bukan anggota OECD di kawasan Asia.

15

Berkaitan dengan Letter of Intent (LOI) yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia dan International Monetary Fund (IMF), yang mencantumkan jadwal perbaikan pengelolaan perusahaan-perusahaan di Indonesia, Komite Nasional

Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan standard

GCG yang telah ditetapkan di tingkat internasional.16

Pada bulan Juni 2006, Political and Economic Risk Consultancy (PERC) merilis persepsi standar corporate governance. Dari 12 negara yang disurvei, Indonesia menduduki posisi ke -10. Peringkat pertama diduduki oleh Singapura,

kedua Jepang, dan ketiga Hongkong. Hal ini menunjukkan, meskipun prinsip GCG

14

G7 (Group of Seven) adalah kelompok negara industri maju yang terdiri dari Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada.Terbentuknya dilatarbelakangi oleh motif ekonomi politik, yaitu pada tahun 1978 saat terjadi resesi global dan krisis minyak. Pada tahun 1998 Rusia bergabung dan kemudian berubah menjadi G8 (Group of Eight), sumber: Wikipedia. Diakses pada 21 Maret 2012.

15

Busyra Azheri, op.cit. hlm. 179

16

(20)

diperkenalkan sejak 1999 dan terbentuknya Komite Nasional Corporate Governance

yang kemudian berhasil melahirkan Code for Good Corporate Governance, ternyata belum membawakan perubahan yang signifikan bagi perkembangan perusahaan di

Indonesia. Padahal dalam GCG banyak isu-isu terkait, seperti insider trading,

transparansi, akuntabilitas, independensi, etika bisnis, tanggung jawab sosial

perusahaan Coporate Social Responsibility (CSR), dan perlindungan terhadap investor.17

Pada tahun 1999 OECD menuangkan dalam OECD Principle of Corporate Governance (Prinsip Corporate Governance) yaitu:

1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (The Rights of Shareholders)

2. Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham (The Equitable Treatment of Shareholders)

3. Peranan stakeholders yang terkait dengan perseroan corporate governance

(The Role of Stakeholders in CG)

4. Keterbukaan dan transparansi (Disclosure and Transparency )

5. Tanggung jawab direksi dan dewan komisaris (The Responsibility of The Board).

Lahirnya konsep GCG sejalan dengan berkembangnya pola pemisahan

kekuasaan atau kewenangan antara pemilik Perseroan (Pemegang saham) yang

diwakili oleh Dewan Komisaris dan pengelola Perseroan (Direksi) yang bertanggung

jawab pada operasional perseroan. Pemilik atau pemegang saham mendelegasikan

kepada pengurus yang professional agar memperoleh keuntungan yang optimal dari

investasinya di perseroan. Terdapat potensi masalah (principle-agent problem) jika

17

(21)

timbul moral hazard dari pengurus perseroan untuk memanfaatkan perseroan (shareholeder) serta stakeholder maka diperlukan mekanisme GCG yang didukung oleh infrastruktur hukum yang jelas dan tegas, struktur kepemilikan, peran dewan

komisaris dan mekanisme pendukung lainnya.18

Secara umum, GCG berkaitan dengan upaya menarik minat investor untuk

berinvestasi pada suatu negara, baik dalam bentuk investasi langsung (direct investment) maupun investasi tidak langsung (indirect invest). Implementasinya berkaitan langsung dengan corporate governance yang sampai pada tingkat manajemen perusahaan dalam hal penghormatan dan mematuhi hak-hak hukum para

shareholders. Melalui mekanisme GCG, akan mendorong tumbuhnya check and balance di lingkungan manajemen, khususnya dalam memberikan perhatiannya kepada kepentingan shareholders dan stakeholders.19

GCG merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan guna

menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder. Konsep ini menekankan pada dua hal yakni, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk

memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya dan, kedua, kewajiban

perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan

stakeholder.

18

Viraguna Bagoes Oka, “Good Corporate Governance pada Perbankan” dalam Prosiding: Perseroan Terbatas dan Good Corporate Governance, cet.IV, (Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum, 2006), hlm.74.

19

(22)

Terdapat empat komponen utama yang diperlukan dalam konsep GCG, yaitu

fairness, transparency, accountability, dan responsibility. Keempat komponen tersebut penting karena penerapan prinsip GCG secara konsisten terbukti dapat

meningkatkan kualitas laporan keuangan dan juga dapat menjadi penghambat

aktivitas rekayasa kinerja yang mengakibatkan laporan keuangan tidak

menggambarkan nilai fundamental perusahaan. Dari berbagai hasil penelitian

lembaga independen menunjukkan bahwa pelaksanan Corporate Governance di Indonesia masih sangat rendah, hal ini terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa

perusahaan-perusahaan di Indonesia belum sepenuhnya memiliki Corporate Culture

sebagai inti dari Corporate Governance. Pemahaman tersebut membuka wawasan bahwa korporat kita belum dikelola secara benar, atau dengan kata lain, korporat kita

belum menjalankan governansi.20

GCGmerupakan salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar. Ia berkaitan erat

dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun

terhadap iklim usaha di suatu negara. Penerapan GCG mendorong terciptanya

persaingan yang sehat dan iklim usaha yang kondusif. Oleh karena itu diterapkannya

GCG oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat penting untuk menunjang

pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan. Penerapan GCG juga

diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah dalam menegakkan good governance

pada umumnya di Indonesia. Saat ini Pemerintah sedang berupaya untuk menerapkan

20

Thomas S. Kaihatu, Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia,

(23)

good governance dalam birokrasinya dalam rangka menciptakan Pemerintah yang bersih dan berwibawa.21

Berpijak dari persepsi GCG, pemerintah Indonesia melakukan perubahan

terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (PT)

dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 (UUPT). Pada saat pemerintah

memberikan rancangan undang-undang tersebut kepada DPR, salah satu tujuan

pembaruan undang-undang perseroan terbatas adalah untuk mendukung implementasi

GCG. Alasan pemerintah ini sangat berdasar, karena dari beberapa hasil riset, seperti

laporan Credit Luonnais Securitas Asia (CLSA) tentang corporate governance tahun 2003, posisi Indonesia berada paling bawah kawasan Asia dengan memberikan skor

1,5 untuk masalah penegakan hukum, 2,5 untuk mekanisme institusional, dan 3,2

untuk budaya corporate governance. Hasil riset menunjukkan bahwa dunia usaha

Indonesia paling lemah dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG.22

Keberadaan perusahaan sangat berperan dalam memajukan kehidupan

masyarakat suatu bangsa. Dalam menjalankan usahanya suatu perusahaan tidak hanya

mempunyai kewajiban secara ekonomis saja tetapi mempunyai kewajiban yang

bersifat etis atau disebut sebagai etika bisnis. Etika bisnis merupakan tuntunan

perilaku bagi dunia usaha untuk bisa membedakan mana yang boleh dilakukan dan

mana yang tidak boleh dilakukan. Oleh sebab itu, maka dalam pemenuhan etika

21

Kata sambutan Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian Republik Indonesia DR. Boediono “ pada Pedoman umum Good Corporate Governance di Indonesia (Jakarta: Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006)

22

(24)

bisnis tidak hanya keuntungan (profit) yang menjadi tujuan utama, akan tetapi pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan, juga harus menjadi prioritas

perusahaan. Hal tersebut dilakukan karena etika bisnis merupakan salah satu

perwujudan dari GCG oleh perusahaan terhadap para pemangku kepentingan

(stakeholder).23

Prinsip responsibility dalam GCG melahirkan gagasan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan dalam kehidupan masyarakat. Dalam gagasan CSR, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada

tanggung jawab yang berpijak pasa single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial), tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line (profit, people, planet) yaitu yang meliputi aspek finansial, sosial, dan lingkungan.24

Pelaksanaan CSR sebenarnya bertujuan untuk memperkuat perusahaan

dengan jalan membangun kerjasama antara stakeholders yang difasilitasi oleh perusahaan yang bersangkutan dengan jalan menyusun program-program

pengembangan mayarakat sekitarnya, untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya,

komunitas dan stakeholders terkait dengan perusahaan, baik lokal, nasional maupun global, karena pengembangan CSR ke depan mengacu pada konsep pembangunan

yang berkelanjutan (sustainable development).25

23

Erni R. Ernawan, Business Ethics : Etika Bisnis, (Bandung: CV. Alfabeta, 2007),hlm. 12.

24

Busyra Azheri,op.cit., hlm. 200

25

(25)

Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari

lapangan usahanya melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi

positif terhadap lingkungan sosialnya. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 47

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup sebagai berikut: 26

(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan manusia wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup.

a. Analisis risiko lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

1. pengkajian risiko; 2. pengelolaan risiko 3. komunikasi risiko

(2) ketentuan lebih lanjut mengenai analisis risiko lingkungan hidup diatur dalam peraturan pemerintah.

Sebagaimana diamanatkan di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia 1945 Pasal 28H Ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut: “Setiap orang

berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan

hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.27

Hak yang sama juga diatur di dalam Pasal 9 Ayat (2) Undang-Undang No.39

Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia “Setiap orang berhak hidup tentram, aman,

damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin.”.28

26

Pasal 47 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

27

Pasal 28 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

28

(26)

Dari aturan-aturan hukum tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa

masyarakat memiliki hak akan kehidupan sosial yang baik atas lingkungan hidup

yang sehat. Hak yang dimiliki masyarakat ini haruslah dipenuhi oleh

perusahaan-perusahaan dan pelaku usaha dalam menjalankan roda perekonomian perusahaan-perusahaannya.

Selanjutnya kewajiban untuk melakukan pelestarian lingkungan hidup juga

diatur di dalam Pasal 65 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai berikut:

(1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia

(2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

(3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.

(4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara sebagimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan peraturan menteri.29

Penerapan CSR di perusahaan semakin penting dengan munculnya konsep

sustainable development yang dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) , sebagai “development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.30

29

Pasal 65 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan HIdup

30

Nurdizal M.Rachman, Asep Efendi, Emir Wicaksana, Panduan Lengkap Perencanaan CSR

(27)

CSR sangat erat hubungannya dengan pembangunan berkelanjutan

(sustainable development), yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” (Brutland Report dari

PBB, 1987). Pembangunan berkelanjutan telah menjadi isu global yang harus

dipahami dan diimplementasikan pada tingkat lokal. Pembangunan berkelanjutan

tidak hanya terbatas pada isu lingkungan tetapi mencakup tiga hal kebijakan, yaitu

pembangunan ekonomi, pembangunan social, dan perlindungan lingkungan seperti

yang digambarkan John Elkington dalam triple bottom line (profit, people, planet).31 Pembangunan berkelanjutan adalah inti dari CSR yang tidak boleh dipahami

secara parsial sekadar dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, ataupun dilihat

dari lokasinya, yakni market place, workplace, environment, dan community saja, tetapi lebih dari itu. Suatu keharusan untuk melihat keterkaitan diantara semua

elemen yang membentuk sebuah sistem CSR. Hal ini karena kondisi dan perubahan

satu elemen akan mempengaruhi sistem secara menyeluruh. Dengan pemahaman ini,

sebuah intervensi yang efektif dan efisien akan lebih mudah diperoleh untuk

mencapai sustainability.32

Menurut World Business Council for Sustainable Development, CSR bukan sekedar discretionary (sesuatu yang harus dilakukan), tetapi suatu komitmen yang merupakan kebutuhan bagi perusahaan yang baik sebagai perbaikan kualitas hidup.

31

Ibid. 32

(28)

Secara filosofis, jika perusahaan berusaha untuk berguna bagi umat manusia maka

dalam jangka panjang akan tetap bertahan.

Hal yang sama juga terjadi pada aspek lingkungan hidup yang menuntut

perusahaan untuk lebih peduli pada lingkungan hidup tempatnya beroperasi.

Sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil pada tahun 1992 yang selanjutnya lebih dikenal dengan KTT Rio.

Dalam KTT Rio ini memuat berbagai hasil diantaranya yaitu:33

1. deklarasi Rio (terdiri dari 27 prinsip) 2. agenda 21

3. konvensi tentang Perubahan Iklim

4. konvensi tentang Keanekaragaman Hayati; dan 5. Prinsip-Prinsip tentang Hutan

Di dalam Agenda 21 merekomendasikan sebagai berikut:34

1. Dibentuk prosedur secara hukum dan administrasi di tingkat nasional

2. Dibentuk prosedur secara hukum dan administrasi untuk kompensasi,

pemulihan lingkungan dan lain-lain

3. Adanya akses bagi individu, kelompok, dan organisasi

Indonesia setelah selang lama berselang KTT Rio baru membuat Agenda 21

secara nasional yang disebut Agenda 21 Indonesia yang disusun berdasarkan

perkembangan, perubahan kebijakan dan program-program mengenai lingkngan.

33

N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2004), hlm. 145

34

(29)

Agenda 21 Indonesia bertujuan mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan

mengintegrasikan konsep-konsep pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan.35

Selain Agenda 21, isu penting lainnya yang dibicarakan dalam KTT Rio yakni

Prinsip Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Pengertian dari Pembangunan Berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan

generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam

memenuhi kebutuhannya. Definisi ini diberikan oleh Komisi Dunia untuk

Lingkungan dan Pembangunan (World Comission on Environment and Development) sebagaimana tersaji dalam laporan komisi yang terkenal dengan Komisi Brutland.

Komisi ini merupakan sejarah lahirnya prinsip Pembangunan Berkelanjutan yang

ditandai dengan terbentuknya Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan

(World Comission on Environment and Development) pada tahun 1984 yang merumuskan berupa:

If it meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”36

Istilah pembangunan berkelanjutan kini telah menjadi konsep yang bersifat

Subtle Infiltration, mulai dari perjanjian-perjanjian internasional, dalam implementasi nasional dan peraturan perundang-undangan. Susan Smith mengartikan Sustainable Development sebagai meningkatkan mutu hidup generasi kini dengan mencadangkan

35

Ibid 36

(30)

modal atau sumber alam bagi generasi mendatang. Menurutnya dengan cara ini dapat

dicapai empat hal:37

a. Pemeliharaan hasil-hasil yang dicapai secara berkelanjutan atas sumber

daya yang dapat diperbaharui

b. Melestarikan dan menggantikan sumber alam yang bersifat jenuh

c. Pemeliharaan sistem-sistem pendukung ekologis; dan

d. Pemeliharaan atas keanekaragaman hayati.

Dalam konteks triple bottom line, selain untuk meminimumkan dampak negatif operasional perusahaan pada lingkungan biofisik, konteks ini harus juga

dilihat sebagai upaya menjaga daya dukung lingkungan, sosial, dan ekonomi pada

perusahaan dan masyarakat bagi pembangunan yang berkelanjutan. Dengan

demikian, program perusahaan di lingkungan harus mempunyai kaitan yang kuat dan

kontekstual dengan pengembangan sosial dan ekonomi.38

Kajian yang menarik dalam konteks hubungan CSR dengan GCG terletak

pada kemungkinan pengurangan laba perusahaan demi kepentingan stakeholders. Kajian ini telah dilakukan oleh Einer Elhauge dari Harvard Law School yang menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekedar berdiri untuk mencari keuntungan

maksimal belaka, dan secara normative perusahaan tetap bertanggung jawab kepada

publik. Dalam arti, perusahaan tidaka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang

37

Paul Stein dan Susan Smith, Incoporating Sustainability Principles in Legislation, dalam Environmental Outlook, Law and Policy, No.3, The Federation Press, 1999, sebagaimana dikutip dari N.H.T Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, Op.cit., hlm. 154

38

(31)

menimbulkan kerugian bagi kepentingan umum. Apabila manajemen perusahaan

mengurangi keuntungan demi memenuhi kepentingan umum, maka pihak manajemen

perusahaan tidak berarti melanggar tugasnya dalam upaya memberikan keuntungan

yang maksimal pada shareholders. Sebaliknya jika pihak manajemen justru melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum, maka yang terjadi adalah

maksimalisasi keuntungan secara illegal.39

Peraturan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan (Corporate Social Responsibility) perusahaan diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal dalama Pasal 15 huruf b yaitu : “Setiap penanam modal

berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan”.40 Jika tidak, maka

dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha,

pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.41

Di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman

Modal, Pasal 16 tercantum sebagai berikut: 42

Setiap penanam modal bertanggung jawab:

a. menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan

b. menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghetikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara sepihak sesuai dengan peraturan perundang-undangan:

c. menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, dan hal lain yang merugikan negara:

39

Einer Elhauge, Sacrificing Corporate Profits in the Public Interest,

40

Pasal 15 huruf b Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

41

Pasal 34 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

42

(32)

d. menjaga kelestarian lingkungan hidup:

e. menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja; dan

f. mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan (Corporate Social Responsibility) juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (yang selanjutnya disebut dengan UU PT). Dalam pasal 74 Ayat 1

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dirumuskan

bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan ini merupakan suatu kewajiban yang

harus dilaksanakan perseroan yang kaitan usahanya berkaitan dengan sumber daya

alam.43

Globalisasi ekonomi ditandai dengan lahirnya beberapa bentuk multinational agrrement yang berskala internasional yaitu GATT (General Agreement of Tariffs and Trade) Putaran Uruguay, dan berskala regional seperti NAFTA (North America Free Trade Association), AFTA (ASEAN Free Trade Association), EEC (European Economic Community), APEC (Asia Pasific Economic Cooperation), dan WTO (World Trade Organization). Bagi negara-negara yang telah menandatangani kesepakatan tersebut berkewajiban untuk menyesuaikan hukum nasionalnya dengan

ketentuan-ketentuan hukum internasional. Indonesia perlu melakukan penyesuaian

dengan perkembangan hukum internasional. Menurut Muladi, hukum nasional dlam

era globalisasi disamping mengandung local characteristics, seperti ideologi bangsa, kondisi-kondisi manusia, alam dan tradisi bangsa, juga harus mengandung

43

(33)

kecenderungan-kecenderungan internasional internasional (international trend) yang diakui oleh masyarakat internasional yang beradab.44

Beberapa trend internasional berkenaan dengan globalisasi ekonomi selain

kesepakatan GATT Putaran Uruguay yang mempengaruhi perkembangan hukum

ekonomi di Indonesia antara lain adalah KTT Bumi mengenai “Lingkungan Hidup

dan Pembangunan” (United Nations Conference on Environment and Development) tahun 1992 di Rio de Janeiro. Konferensi Rio ini menghasilkan beberapa kesepakatan

diantaranya “Deklarasi Rio” dan “Agenda 21” yang berisi prinsip-prinsip

menyangkut pengelolaan lingkungan dan pembangunan, telah melahirkan suatu

konsep “Pembangunan Berkelanjutan” (Sustainable Development). Pembangunan berkelanjutan berdasarkan atas perlindungan lingkungan hidup, pembangunan

ekonomi, dan social yang dituangkan dalam 3 (tiga) dokumen yang secara hukum

mengikat (legally binding) dan 3 (tiga) dokumen yang secara hukum tidak mengikat (non-legally binding). Deklarasi Johannnesburg menggarisbawahi bahwa pembangunan berkelanjutan mempunyai tiga pilar yaitu ekonomi, lingkungan hidup,

dan sosial. Intinya pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan ekonomi yang

harus berwawasan lingkungan sekaligus mengusahakan pemerataan seadil-adilnya.45

CSR pada awalnya merupakan instrumen dalam etika bisnis yang bersifat

sukarela, namun sekarang telah menjadi instrumen hukum yang bersifat wajib.

44

Adi Sulistiyono, Reformasi Hukum Ekonomi Indonesia, (Surakarta: Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press), 2007), hlm. 3

45

(34)

Penerapan CSR sebagai instrumen hukum ekonomi, dapat menjadi media penerapan

konsep pembangunan berkelanjutan dalam kegiatan ekonomi. Pengaturan CSR dalam

Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal dan

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas merupakan implementasi

asas-asas utama hukum ekonomi dan pencerminan asas campur tangan pemerintah,

asas keseimbangan kepentingan, pengawasan publik, dalam kegiatan ekonomi.

Dalam hal ini CSR sebagai instrumen hukum ekonomi bersifat wajib yang ditujukan

khusus kepada kegiatan usaha yang terkait langsung dengan sumber daya alam dan

lingkungan oleh pelaku ekonomi dalam bentuk perseroan.

Berdasarkan uraian di atas serta skema 1 tentang kerangka berpikir hubungan

antara GCG, CSR, dan Sustainable Development terlihat adanya hubungan antara prinsip GCG dengan konsep CSR serta kaitannya dengan sustainable yang di atur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia serta di tingkat internasional. Oleh

(35)

Skema no.1

Kerangka Berpikir Hubungan antara GCG, CSR, dan Sustainable Development

Dari skema kerangka berpikir di atas terlihat adanya hubungan antara GCG,

CSR, dan sustainable development. Prinsip responsibility dalam GCG melahirkan gagasan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan dalam kehidupan masyarakat. Dalam gagasan CSR, perusahaan tidak lagi

dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pasa single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial), tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line

(profit, people, planet) yaitu yang meliputi aspek finansial, sosial, dan lingkungan. Pelaksanaan CSR sebenarnya bertujuan untuk memperkuat perusahaan

dengan jalan membangun kerjasama antara stakeholders yang difasilitasi oleh GCG Transparency

Accountability

Responsibility

Indenpendency

Fairness

CSR

lingkungan sosial finansial

UUPT

(36)

perusahaan yang bersangkutan dengan jalan menyusun program-program

pengembangan mayarakat sekitarnya, untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya,

komunitas dan stakeholders terkait dengan perusahaan, baik lokal, nasional maupun global, karena pengembangan CSR ke depan mengacu pada konsep pembangunan

yang berkelanjutan (sustainable development).

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, permasalahan di dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas?

2. Bagaimana konsep Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas?

3. Bagaimana prinsip sustainable development mendasari konsep CSR di tingkat internasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup?

(37)

Terkait dengan judul dan permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian

ini yang menitikberatkan antara ketentuan penerapan prinsip GCG dalam kebijakan

Corporate Social Responsibility, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui tentang penerapan prinsip Good Corporate Governance

(GCG) dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan

Terbatas.

2. Untuk mengetahui penerapan prinsip GCG dalam konsep Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

3. Untuk mengetahui penerapan hukum prinsip sustainable development yang terdapat dalam konsep Corporate Sosial Responsibility (CSR) dalam perspektif hukum internasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

D. Manfaat Penelitian

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara

teoritis maupun praktis.

1. Dari segi teoretis, hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan

kontribusi pemikiran serta pemahaman dan pandangan baru serta dapat

menjadi bahan kajian lebih lanjut untuk melahirkan konsep-konsep ilmiah

(38)

pemahaman akademisi di bidang ilmu hukum, khususnya hukum bisnis dan

hukum internasional, serta menambah khasanah kajian di bidang lingkungan

hidup.

2. Manfaat dari segi praktis, diharapkan penelitian :

a. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembuat kebijakan dalam

menentukan kebijakan ataupun regulasi dalam upaya pengembangan

hukum nasional ke arah pengaturan Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab social dan lingkungan perusahaan dalam

bentuk Undang-Undang.

b. Sebagai informasi dan inspirasi bagi pelaku bisnis (direktur, pemegang

saham, dan komisaris) bahkan investor mampu memahami ruang lingkup

pengaturan mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan serta dapat

melaksanakannya sebagai perwujudan prinsip-prinsip GCG.

c. Sebagai penambah pengetahuan mengenai peraturan-peraturan

insternasional yang mengatur tentang Corporate Social Responsibility

(CSR) sehingga bisa diterapkan dalam peraturan nasional.

d. Sebagai bahan informasi dan rujukan bagi aktivis LembagaSwadya

Masyarakat termasuk stakeholders lainnya sehingga bersikap sebagai informan, promoter, sekaligus pengontrol perkembangan dalam

(39)

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan di perpustakaan

Universitas Sumatera Utara, bahwa penelitian mengenai “Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai Penerapan Prinsip Good Corporate Governance (GCG) Terkait dengan Sustainable Development” belum pernah dilakukan. Walaupun telah ada beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan berkaitan dengan GCG dan

Corporate Social Responsibility (CSR), namun yang dibahas aspek yang berbeda. Maka penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian yang baru dan keasliannya

dapa dipertanggungjawabkan, karena dilakukan dengan nuansa keilmuwan,

kejujuran, rasional, objektif, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan secara

keilmuan akademis.

F. Kerangka Teori dan Konsep 1. Kerangka Teori

Dalam dunia ilmu, teori menempati kedudukan yang penting sebagai sarana

untuk merangkum serta memahami masalah secara lebih baik. Hal-hal yang semula

(40)

sama lain secara bermakna. Teori memberikan penjelasan melalui cara

mengorganisasikan dan mensistematisasikan masalah yang dibicarakan.46

Kerangka teori tesis ini menggunakan teori utilitas (utilitarisme) yang dipelopori Jeremy Bentham dalam karya tulisnya “An Introduction to Principles of Morals and Legislation”.47 yang kemudian selanjutnya dikembangkan oleh John Stuart Mill. Betham menjelaskan lebih jauh bahwa asas manfaat melandasi segala

kegiatan berdasarkan sejauh mana tindakan itu meningkatkan atau mengurangi

kebahagiaan kelompok itu atau dengan kata lain meningkatkan atau melawan

kebahagiaan itu.48

Utilitarisme disebut lagi suatu teologis (dari kata Yunani telos = tujuan), sebab menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan diperoleh dengan dicapainya

tujuan perbuatan. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak menghasilkan

apa-apa menurut utilitarisme tidak pantas disebut baik.49

Teori utilitas merupakan pengambilan keputusan etika dengan mempertimbangkan manfaat terbesar bagi banyak pihak sebagai hasil akhirnya (The greatest good for the greatest number) artinya bahwa hal yang benar didefinisikan sebagai hal yang memaksimalisasikan apa yang baik atau meminimalisir apa yang

46

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 253

47

Ian Saphiro, Asas dan Moral Dalam Politik, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta dan Freedom Institute, 2006), hlm. 13

Jeremy Bentham (1748-1832) karayanya Introduction to The Principles of Morals and Legislation, pertama kali diterbitkan pada tahun 1789 adalah karya klasik yang menjadi rujukan (locus classicus) tradisi utilitarian. Utilitarisme berasal dari kata latin utilities yang berarti “manfaat”. Dictum Bentham yang selalu dikenang, yakni bahwa mereka diharapkan mampu memaksimalkan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang.

48

Ibid.,hlm. 14

49

(41)

berbahaya bagi kebanyakan orang. Semakin bermanfaat pada semakin banyak orang

perbuatan itu semakin etis. Dasar moral dari perbuatan hukum ini bertahan paling

lama dan relative paling banyak digunakan. Utilitarianism (dari kata utilis berarti manfaat) sering juga aliran konsekuensialisme karena sangat berorientasi pada hasil

perbuatan.50

Perlu dipahami kalau utilitarisme sangat menekankan pentingnya konsekuensi perbuatan dalam menilai baik buruknya. Kualitas moral suatu perbuatan, baik

buruknya, tergantung pada konsekuensi atau akibat yang dibawakan olehnya. Jika

suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar artinya paling memajukan

kemakmkuran, kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat maka perbuatan itu adalah

baik. Sebaliknya jika perbuatan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat

perbuatan itu harus dinilai buruk. Konsekuensi perbuatan disini memang menentukan

seluruh kualitas moralnya.51

Menurut teori ini suatu adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu

harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai

keseluruhan. Jadi utilitarisme ini tidak boleh dimengerti dengan egoistis. Dalam rangka pemikiran utilitarisme (utilitarianism) kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar.

Perbuatan yang mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah

perbuatan yang terbaik. Mengapa melestarikan hidup misalnya merupakan tanggung

50

Erni R Ernawan,Bussiness Ethics : Etika Bisnis (Bandung : CV. Alfabeta, 2007), hlm.93

51

(42)

jawab moral individu atau korporasi? Utilitarianisme menjawab karena hal itu membawa manfaat paling besar bagi umat manusia sebagai keseluruhan. Korporasi

atau perusahaan tentu bias meraih banyak manfaat dengan menguras kekayaan alam

melalui teknologi dan industri hingga sumber daya alam rusak atau habis sama sekali.

Karena itu menurut utilitarisme upaya pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) menjadi tanggung jawab moral individu atau perusahaan.52

Ada suatu pola pikir masyarakat yang membuatnya mudah untuk dipahami

adalah bahwa konsep yang paling masuk akal dan adil bagi masyarakat adalah konsep

utilitas (manfaat). Suatu masyarakat dapat diatur dengan baik apabila perusahaan mampu memaksimalkan saldo bersih dari kepuasan. Prinsip ini merupakan pilihan

yang diperuntukkan bagi banyak orang. Mudah dipahami bahwa utilitarisme sebagai teori etika sesuai dengan pemikiran ekonomis. Misalnya teori ini cukup dekat dengan

Cost-benefit analysis (Analisis biaya manfaat) yang banyak dipakai dalam konteks ekonomi. Manfaat yang dimaksudkan utilitarisme bisa dihitung juga sama seperti menghitung untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis. Keputusan

diambil pada manfaat terbesar dibanding biayanya.53

52

K.Bertens, Op.cit., hlm. 66

Prinsip utilitarian dianggap mengasumsikan bahwa kita bias mengukur dan menambahkan kuantitas keuntungan

yang dihasilkan oleh suatu tindakan dan menguranginya dengan jumlah kerugian dari

(43)

tindakan tersebut dan selanjutnya menentukan tindakan mana yang menghasilkan

keuntungan paling besar atau biaya yang paling kecil.54

Kemudian John Stuart Mill melakukan revisi dan mengembangkan lebih

lanjut teori ini dalam bukunya utilitarianism yang diterbitkan pada tahun 1861. John Stuart Mill mengasumsikan bahwa pengejaran utilitas masyarakat adalah sasaran

aktivis moral individual, John Stuart Mill mempostulatkan suatu nilai tertinggi

kebahagiaan yang mengijinkan kesenangan heterogen dalam berbagai bidang

kehidupan. Ia menyatakan bahwa semua pilihan dapat dievaluasi dengan mereduksi

kepentingan yang dipertaruhkan sehubungan dengan kontribusinya bagi kebahagiaan

individual yang tahan lama. Teori ini dikenal dengan utilitarianisme eudaemonistik. Kriteria utilitas yang menurutnya harus mampu menunjukkan keadaan sejahtera

individual yang lebih awet sebagai hasil yang diinginkan, yaitu kebahagiaan.55

Gustav Radbruch seorang filosof asal Jerman yang mengemukakan tiga tujuan

hukum yaitu Justice (Keadilan), Certainty (Kepastian), dan Expediency

(Kemaanfaatan). Teori manfaat (utilitarisme) ini sesuai dengan tujuan hukum yang dikemukakan oleh Radbruch bahwa tujuan hukum salah satunya adalah kemanfaatan.

Prinsip-prinsip GCG yang sebelumnya telah dijabarkan seperti akuntabilitas

(accountability), keterbukaan (transparency), kewajaran (fairness), dan pertanggungjawaban (responsibility) berkaitan dengan CSR, terutama prinsip

54

Ibid., hlm. 67

55

(44)

responsibility karena artinya perusahaan tersebut tidak hanya mementingkan kelangsungan perusahaan pada kepentingan pemegang saham (shareholders) tetapi dengan penerapan prinsip GCG yaitu responsibility, perusahaan juga harus memperhatikan kepentingan stakeholders. Kebijakan CSR sebagai salah memberikan manfaat kepada tidak hanya perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat dan

lingkungan.

Teori manfaat (utilitarisme) ini juga sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Khususnya sila ke-2 yaitu “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”,

karena menurut teori ini menekankan pada pentingnya kualitas moral suatu

perbuatan. Serta sila ke-4 yaitu “Kesejahteraan Yang Dipimpin Oleh Hikmat

Kebijaksanaan Permusyawaratan” dalam arti bahwa suatu perbuatan baik buruk

tergantung kepada konsekuensi atau akibat yang disebabkan oleh perbuatan tersebut,

dalam teori manfaat ini manfaat paling besar yaitu memajukan kemakmuran,

kesejahteraan, dan kebahagiaan masyarakat.56

Berdasarkan teori manfaat (utilitarisme) yang telah dipaparkan di atas, jelas sekali hubungan dari pengaturan dan pelaksanaan CSR untuk kepentingan

stakeholders dan kepentingan perusahaan yang terjadi secara sustainable development yang tidak hanya memberikan manfaat secara internal perusahaan tetapi juga secara eksternal yaitu masyarakat dan lingkungan hidup sehingga perusahaan

dimungkinkan dapat bertahan lama.

56

(45)

Salah satu hal yang terpenting bagi perusahaan yang menerapkan kebijakan

Corporate Social Responsibility (CSR) adalah stakeholders. Tanpa stakeholders

perusahaan tidak akan bisa menerapkan CSR dan tentunya tidak mampu untuk

beroperasi. Untuk lebih jelasnya, maka berikut ini dipaparkan teori-teori yang

berkenaan dengan stakeholders tersebut.

Kata stake dapat diartikan sebagai kepentingan. Selanjutnya, stakeholders

diartikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang memiliki satu atau lebih

kepentingan (stake) yang berbeda dalam sebuah perusahaan. Stakeholders dapat diartikan juga sebagai setiap orang atau sekelompok orang yang dapat mempengaruhi

atau dipengaruhi oleh tindakan, keputusan, kebijakan, praktik atau tujuan dari sebuah

perusahaan.57

Stakeholders yang jamaknya diterjemahkan dengan para pihak, Yusuf Wibisono meminjam istilah yang dipergunakan oleh Wheelen dan Hunger adalah,

“pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang berkepentingan, baik langsung maupun

tidak langsung, terhadap eksistensi atau aktivitas perusahaan, dan karenanya

kelompok-kelompok tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan”.

Defenisi lain dilontarkan Rhenald Kasali yang menyatakan bahwa yang dimaksud

para pihak adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun di luar perusahaan

yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Stakeholders

bisa diartikan pula setiap orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan,

57

(46)

ibarat sebuah jagad yang dikelilingi planet-planet, maka perusahaan juga dikelilingi

dengan stakeholders-nya.58

Antara stakeholders dengan perusahaan terjadi hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga perubahan pada salah satu pihak akan memicu dan

mendorong terjadinya perubahan pada pihak yang lainnya. Perusahaan selera publik,

misalnya akan mendorong kebijakan yang akan diambil oleh perusahaan. Jadi,

Stakeholders dapat terpengaruhi dan juga dapat mempengaruhi tindakan, keputusan, kebijakan, atau praktik-praktik yang dilakukan oleh perusahaan.

Dalam dunia usaha yang global dan sangat kompetitif sekarang ini, banyak

pihak yang dapat menjadi stakeholders perusahaan. Dari sudut pandang perusahaan ada beberapa orang atau sekelompok orang yang secara pasti dapat digolongkan

sebagai stakeholders perusahaan, yaitu mereka yang memiliki legitimasi, kepentingan langsung, atau hak dalam kegiatan perusahaan. Mereka dalam golongan ini di

antaranya adalah pemegang saham, karyawan dan pelanggan. Tetapi dalam sudut

pandang masyarakat yang lebih plural, para stakeholders tidak hanya mereka yang disebutkan di atas, tetapi juga termasuk pesaing usaha, komunitas sekitar, LSM, pers,

dan masyarakat pada umumnya, yang sebenarnya tidak secara langsung terlibat

dalam kegiatan inti dalam perusahaan.

Kepentingan (stake) seseorang atau sekelompok orang atas suatu perusahaan dapat timbul karena dua macam hak, yaitu hak hukum (legal right) dan hak moral (moral right), seperti kutipan berikut ini:59

58

(47)

1) Seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hak hukum (legal right) adalah orang yang memiliki kepentingan berdasarkan aturan yang berlaku bahwa mereka harus diperlakukan sebagaimana aturan yang berlaku tersebut; 2) Sedangkan mereka yang memiliki hak moral (moral right) adalah seseorang

atau sekelompok orang yang kepentingannya timbul secara moral atau etika dimana perlakuan yang mereka terima adalah semata-mata berdasarkan moral dan etika dari perusahaan tersebut, yang sebenarnya tidak wajib.

David Wheeler dan Maria Sillanpaa dalam bukunya ”The Stakeholders Corporation: A Blueprint for Maximizing Stakeholders Value”, menggolongkan

stakeholders berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholders

terhadap suatu issue yang dapat diketegorikan ke dalam beberapa kelompok

stakeholders yaitu stakeholders primer, sekunder dan stakeholders kunci. Sebagai gambaran pengelompokan tersebut pada berbagai kebijakan, program, dan proyek

pemerintah (publik) dapat dikemukakan kelompok stakeholders tersebut sebagai berikut:60

1) Stakeholders primer meliputi pemegang saham, investor, karyawan, pelanggan, komunitas lokal, pemasok dan rekanan bisnis. Stakeholders primer atau utama merupakan stakeholders yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan, program, dan proyek. Mereka harus ditempatkan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan:

a. Masyarakat dan tokoh masyarakat; b. Pihak Manajer publik.

2) Stakeholders sekunder meliputi pemerintah, institusi sipil, LSM, pers, pesaing usaha, asosiasi pengusaha dan masyarakat pada umumnya. Stakeholders

pendukung (sekunder) adalah stakeholders yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah:

a. Lembaga pemerintah (aparat) dalam suatu wilayah tetapi tidak memiliki tanggung jawab langsung.

59

Gunawan Widjaja., dan Yeremia Ardi Pratama., Op, cit, hal. 48.

60

(48)

b. Lembaga pemerintah yang terkait dengan issu tetapi tidak memiliki kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan.

c. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat yaitu: LSM yang bergerak di bidang yang bersesuai dengan rencana, manfaat, dampak yang muncul yang memiliki concern (termasuk organisasi massa yang terkait).

d. Perguruan Tinggi yaitu: Kelompok akad

Referensi

Dokumen terkait

Formulasi Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak pidana Lingkungan Hidup Menurut Undang-undang No 32 tahun 2009 tenrang perlindungan dan pengelolaan. Lingkungan

[r]

32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) No. 05 Tahun 2007 tentang Program Kemitraan

Sementara dalam bidang pertambangan CSR diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dimana CSR dikaitkan dengan hak

Penegakan hukum lingkungan pidana diatur dalam pasal 41 – 48 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam pasal

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara Peraturan Pemerintah Nomor 27

1 LITERATURE REVIEW: ANALISIS DAMPAK GOOD CORPORATE GOVERNANCE GCG SERTA PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY CSR TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DI INDONESIA Dyah Handayani

Akan tetapi dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup PPLH memberikan pengecualian penerapan prinsip tanggungjawab mutlak bilamana