• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosiologi Pendidikan 001

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sosiologi Pendidikan 001"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

STRATIFIKASI PENDIDIKAN PADA PENERAPAN

UANG KULIAH TUNGGAL MENGGUNAKAN

ANALISIS MICHEL FOUCAULT DAN EMILE

DURKHEIM

Makalah

Di tujukan untuk tugas mata kuliah Academic Writing

Oleh: Tri Muryani

Nim: 15720018

Program Studi Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

(2)

STRATIFIKASI PENDIDIKAN PADA PENERAPAN UANG

KULIAH TUNGGAL MENGGUNAKAN ANALISIS

MICHEL FOUCAULT DAN EMILE DURKHEIM

1. Pendahuluan

Pendidikan di era globalisasi sudah barang tentu menjadi penentu bagi kemajuan sebuah bangsa. Sumber daya manusia yang dilahirkan dari kaum terdidik (baca: Sekolah) diharapkan mampu menjadi penopang kehidupan. Tidak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia, fungsi serta tujuan pendidikan di atur dalam undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam bab II pasal 3 tentang dasar, fungsi, dan tujuan yang berbunyi bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Memang seharusnya pendidikan bertujuan untuk membangun sebuah bangsa menjadi lebih baik. Namun, hal ini dilhat berbeda oleh salah satu tokoh sosiologi pendidikan michel Foucault. Menurutnya, pendidikan tidak lain adalah sebuah kekuasaan. Pendidikan menerapkan kurikulum dan mengatur sedemikian rupa sistem supaya output dari kurikulum tersebut sesuai dengan keinginan sang penguasan. Inilah yang menurutnya bahwa pendidikan tidak lain sama dengan tangan kanan dari sebuah kekuasaan.

(3)

Sedangkan menurut Emile Durkheim, pendidikan sangatlah penting dimiliki oleh para pemuda. Ia menggambaarkan betapa generasi muda memerlukan bantuan pendidikan untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan ditengah masyarakat yang memiliki tata nilai tertentu. Persiapan itu perlu, karena pemuda pada dasarnya belum siap memasuki kehidupan masyarakat. Sasaran pendidikan lalu adalah mengembangkan kekuatan fisik, intelektual dan moral yang dibutuhkan oleh lingkungan masyarakat politik maupun keseluruhan lingkungan dimana mereka berada (zainuddin maliki, 2008).

Sesuai dengan pendapat dari Faocault dan Durkheim, bahwa pendidikan merupakan sebuah kekuasaan baru di era glibalisasi demi terciptanya bangsa dengan sumber daya manusia yang memadai. Kekuasaan dalam pendidikan akan melahirkan realitas sosial sesuai dengan kurikulum yang ada. Baik dalam bentuk fisik, intelektual, moral bahkan stratifikasi dikalangan masyarakat.

Masyarakat yang sekolah atau mengenyam pendidikan akan merasa lebih tinggi dari pada mereka yang tidak sekolah. Tidak hanya dikalangan masyarakat saja, penerapan uang kuliah tunggal (UKT) juga memiliki dampak tersendiri bagi masyarakat terutama dikalangan mahasiswa. dampak dari penerapan UKT ini salah satunya adalah stratifikasi atau kastanisasi sosial yang semakin jelas dan transparan.

2. Kerangka Dasar Analisis

2.1) Konsep Pendidikan

Di Indoensia pendidikan telah dikonsep sedemikian rupa dengan tujuan untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Mampu bersaing dengang dunia internasional serta mampu melahirkan sumber daya manusia yang memadai. Sesuai dengan undang-undang no 20 tahun 2003 tentang pendidikan Nasional bahwa pendidikan di Indonesai bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

(4)

serta pemerintah yang berhak menentukan kurikulum mana yang akan diterapkan di semua institusi pendidikan.

Standardisasi sebagai wujud bekerjanya kekuasaan dalam pendidikan dapat dilihat melalui mekanisme ujian nasional (UN). Di Indonesia, kebijakan UN menuai banyak kritik. Banyak masyarakat dan praktisi pendidikan menolak kebijakan UN karena dianggap telah menyuburkan praktik kecurangan dalam proses ujian.

Selain UN, sistem UKT yang diterapkan oleh juga telah membuat realitas baru dikalangan masyarakat terutama mahasiswa. kebijakan UKT membuat stratifikasi terhadap mahasiswa. kelas-kelas sosial mahasiswa ini semakin tajam ketika kebijakan UKT ini diterapkan. Dengan dalih subsidi silang, kebijakan ini akan mudah melahirkan kesenjangan antara si miskin dan si kaya.

Di area global, pendidikan berada ditangan para penguasa dunia. Terutama organisasi-organisasi yang mengklaim dirinya sebagai pejuang pemdidikam. Ada lima bidang pendidikan yang menjadi fokus dunia secara global. Antara lain: tujuan pendidikan, struktur sistem, pendidik, penilaian hasil dan peran pemerintah dalam mengatur sistem pendidikan (Hallak, 1998).

Perubahan praktik pendidikan secara global ini berada di bawah kendali organisasi Internasional, di antaranya: World Bank (Bank Dunia), OECD (Organitation for Economic Coorperation and Development), WTO (World Trade Organitation), GATE (General Agreement on Trade in service), UN (United Nation), UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization) dan organisasi internasional lainnya (Dale, 1999;Henry, et.al., 2011;Rinne and Ozga,2011; Spring, 2009). Lembaga-lembaga tersebut sekarang telah menjadi penentukebijakan utama yang mempengaruhi kebijakan pendidikan di tingkat nasional dan regional, terutama dalam masalah sistem evaluasi (Carnoy and Rhoten, 2008; Rizvi and Lingrad, 2010; Nanang, 2014)1.

(5)

2.2) Analisis Michel Foucault Terhadap Pendidikan

Menurut Foucault, pendidikan sebagai kekuasaan baru di era globalisasi.

Sekolah sebagai sarana penanaman nilai-nilai moral yang berada di bawah kendali

gereja. Kemudian, sampai periode awal, belum ada kepastian bahwa sekolah akan

menjadi perantara utama antara keluarga dan dunia kerja. Seolah ia masih menjadi

lembaga yang berdiri sendiri di samping institusi keluarga. Sekolah bukan

satu-satunya lembaga yang menawarkan pendidikan (Nanang Martono: 2014)

Dalam pendidikan yang kompetitif, sekolah secara langsung muncul sebagai

lembaga pelatihan. Penyelamat, tempat rehabilitasi, penyembuhan, dan pengajaran

moral. Kemudian, dalam kurun waktu yang cukup lama, sebagian sekolah bersifat

membatasi dan berdampak negatif. Ia lebih banyak menuai masalah sosial dari pada

mempromosikan isu pembangunan sosial. Hanya sedikit sekali sekolah yang

menunjukan penguasaan mereka yang khas mengenai teknik disiplin tertentu untuk

mengelola individu. Sekolah kemudian muncul sebagai salah satu sarana berkompetisi

(Deacon, 2006).

Namun pada akhirnya, pendidikan melalui sekolah justru menjadi subjek

kekuasaan baru dalam masyarakat modern. Pendidikan melakukan hegemoni

kekuasaan dalam proses produksi pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini

seluruh mekanisme produksi pengetahuan akan dikontrol dan dikendalikan institusi

pendidikan. Ada beberapa wujud kekuasaan didalam pendidikan. Faocault

mencontohkan bahwa pendidikan telah menetapkan berbagai bentuk standardisasi

dalam proses pendidikan.

Standardisasi merupakan instrumen yang digunakan sekolah untuk

(6)

standardisasi ini, sekolah mempunyai hak untuk menentukan apakah seseorang

(siswa) dapat memasuki kelas atau tingkat tertentu atau tidak. Apakah ia termasuk

kategori siswa “bodoh” atau “cerdas”; apakah mereka layak masuk kebidang ilmu

tertentu atau tidak; dan akhirmya, sekolah akan memiliki hak untuk menentukan

“nasib” dan “masa depan” seorang individu. Foucault menjelaskan bahwa sekolah

dalam masyarakat modern telah mengotak-kotakan pengetahuan dalam beberapa

kategori yang “saling terpisah”. Mereka memisahkan subjek, mata pelajaran, jurusan

atau program studi yang kemudian berdampak pada masa depan individu (nanang

martono, 2014).

2.3) Analisis Emile Durkheim terhadap pendidikan

Dalam perspektif Durkheimian, yang juga dikenal sebagai perspektif

struktural fungsional, konsensus, harmoni dan juga teori ekuilibrium ini, memandang

masyarakat dan institusi yang ada di dalamnya, seperi pendidikan, kesehatan, agama,

politik dan lain-lain, merupakan bagian yang saling bergantung. Masing-masing

menjalankan fungsinya, dan memberikan sumbangan bagi terwujudnya masyarakat

yang harmoni. Pendidikan adalah bagian penting untuk menjaga keberlangsungan

masyarakat.

Sebagai guru besar pedagody di Sorbone di Paris, Durkheim, sebelum

sosiologi menjadi bidang studi yang mengedepan, dialah yang pertama mengajukan

agar sosiologi dijadikan sebagai pendekatan dalam studi tentang pendidikan. bahkan

sosiologi masuk perancis, bermula dari pendidikan. Durkheim membekali mahasiswa

pendidikan dengan kajian sosiologis (Zainudin maliki, 2008).

Menurutnya, anak-anak muda sebagai generasi penerus akan menjadi seperti

(7)

menentukan kesadaran seperti apa yang akan dimiliki siswa-siswinya. Kesadaran

yang ditanamkan oleh seorang guru kepada muridnya tidak lain adalah kesadaran

kolektif yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Posisi seorang guru hanyalah sebagai

peng hipnotis muridnya. Mereka menghipnotis nilai-nilai kolektif yang terkandung

didalam masyarakat. Pendidikan dengan demikian tiada lain merupakan sebuah proses

otoritas guru atas muridnya.

Dalam konsep Durkheim, perubahan solidaritas mekanik di sekolah menjafi

mode solidaritas organik, tidak lain merupakan hasil dorongan dari praktek mode

solidaritas organik yang terjadi di masyrakat. Masalahnya, masyarakat terintegrasi

karena adanya kesepakatan diantara anggota masyarakat terhadap nilai-nilai

masyarkat tertentu. Nilai-nilai kemasyarakatan ini oleh Durkheim disebut dengan

kesadaran kolektif. (collective conciousness). Keasadaran kolektif ini berada di luar

individu (exterior), namun memiliki daya pemaksa terhadap individu-individu sebagai

anggota masyarakat.

Sumbangan Durkheim sangat besar dalam memperbaiki metode berpikir

sosiologis berdasarkan pemikiran-pemikiran filosofis menjadi ilmu pengetahuan

yamg benar berdasarkan fakta-fakta yang dapat diobservasi. Dia menganjurkan agar

ilmuwan sosial menghindari sikap reduksionis sehingga gejala sosial, termasuk dalam

menjelaskan tentang pendidikan, diperlakukan sebagai gejala psikologis individual

semata. Dia menganjurkan untuk lebih memperlakukan fenomena sosial secara sui

generis. Dengan semangatnya yang sui generis, ia kemudian merekomendasikan studi

sosial, termasuk studi tentang pendidikan dilakukan menurut standar-standar empirik,

(8)

3) Stratifikasi Pendidikan pada Penerapan Uang Kuliah

Tunggal

Standardisasi didalam pendidikan menciptakan kelas sosial baru dalam sistem

pendidikan. Termasuk didalamnya adanya penerapan uang kuliah tunggal (UKT).

Penerapan UKT melahirkan stratifikasi sosial ditengah masyarakat. Penyekatan antara

si miskin dan si kaya terlihat jelas dengan adanya sistem subsidi silang di dalam

penerapan UKT.

Di beberapa Universitas, UKT di bagi menjadi beberapa golongan dengan

biaya yang berbeda di setiap fakultas dan setiap program studi. Pembagian dalam

UKT sering disebut dengan golongan-golongan. Golongan ini terdiri dari golongan

satu, dua serta tiga. Banyaknya biaya yang harus dibayarkan pada masing-masing

golongan tergantung pada seberapa bagus fasilitas serta keperluan di masing-masing

program studi.

Semisal di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ilmu

Sosial dan Humaniora sesuai dengan keputusan Menteri Agama No. 124 tahun 2015

bahwa bagi mahasiswa angkatan 2015 telah diberlakukan sistem UKT dengan 3

golongan, satu, dua dan tiga. Dengan biaya per masing-masing program studi berbeda

seuai dengan kebutuhan dan keperluan program studi tersebut.

Di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, program studi Psikologi di bagi

menjadi 3 golongan. Golongan satu sebesar Rp. 400.000, kemudian golongan dua Rp.

1.600.000, golongan tiga Rp. 1.750.000. Sedangkan untuk program studi Sosiologi

berdasarkan keputusan Menteri Agama No. 124 tahun 2015 ditetapkan biaya sebesar

(9)

1.170.000 untuk UKT golongan tiga. Kemudian untuk program studi Ilmu

Komunikasi UKT golongan satu sebesar Rp. 400.000, UKT dua Rp. 1.100.000, UKT

tiga Rp. 1.120.000. ini meliputi seluruh biaya satu semester termasuk perpustakaan,

Sosialisasi pembelajaran, OPAK dan lain-lainnya.

Tidak hanya di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora saja, UKT juga berlaku di

semua Fakultas Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. selain itu,

beberapa Universitas Negeri juga menerapkan sistem UKT dengan dalli subsidi silang

untuk mereka yang kurang mampu.

Penerapan UKT kemudian menimbulkan stratifikasi dikalangan mahasiswa.

tentu ini berdampak pada elemen-elemen pendidikan yang ada, terutama realitas

dikalangan mahasiswa. semakin jelas sekat antara siapa yang miskin dan siapa yang

kaya. Stratifikasi pun terjadi, walaupun sejauh ini belum terlihat jelas siapakah yang

lebih merasa berkuasa di dalam realitas pendidikan. apakah si kaya yang memberi

subsidi kepada si miskin yang golongan UKT nya satu, akan merasa ia menempati

kelas sosial yang lebih tinggi?. Atau sebaliknya, mereka yang mendapatkan UKT satu

akan merasa dirinya lebih rendah kelas sosialnya di banding yang UKT dua atau tiga?.

Yang jelas bahwa stratifikasi telah diciptakan melalui sistem UKT. Stratifikasi ini

yang kemudian memperjelas kelas-kelas sosial di dalam pendidikan, terutama di

kalangan mahasiswa.

4) KESIMPULAN

Praktik-praktik kekuasaan dapat dijumpai dalam dunia pendidikan.

Standardisasi pengentahuan dan kemampuan individu adalah wujud nyata. Melalui

(10)

pengetahuan yang diterima individu. Melalui standardisasi ini, sekolah menjadi

subjek yang memiliki kekuasaan untuk mengelompokkan individu menurut kriteria

tertentu. Sekolah adalah lembaga yang berkuasa mengelompokan individu dalam

beberapa kelompok; “cerdas-tidak cerdas”, “pandai-bodoh”, “normal-abnormal”, dan

berbagai pengelompokan lainnya.

Standardisasi juga d peruntukan bagi institusi sekolah. Setiap sekolah harus

melalui masa pengujian melalui mekanisme evaluasi atau akreditasi. Melalui

mekanisme ini, sekolah juga akan di kelompokan menurut “kualitasnya”. Sekolah

yang berkualitas berhak menyandang predikat sebagai “sekolah terakreditasi”.

Standarsisasi juga diberlakukan di level internasional., ketika kualitas pendidikan

seluruh negara dibandingkan dan diurutkan satu dengan yang lainnya. Standardisasi

ini pun telah mengakibatkan ketimpangan sosial di masyarakat ketika sekolah-sekolah

berkualitas hanya dapat dinikmati segelintir orang di dunia

Termasuk dalam hal ini penerapan UKT dengan malahirkan beberapa

golongan kelas mahasiswa. pengelompokan kelas yang terjadi lambat laun akan

menambah kesenjangan dikalangan masyarakat. Karena dengan penerapan UKT

semakin jelaslah siapa yang miskin dan siapa yang kaya. Siapa yang mampu memberi

subsidi dan siapa yang menerima subsidi.

Sistem subsidi silang yang diterapkan menjadi salah satu sitem pendidikan

seperti UKT memang menjadi solusi baru untuk menarik anak bangsa yang kurang

mampu dalam bentuk ekonomi untuk mengenyam pendidikan. namun, ia juga

melahirkan fenomena baru atas realitas yang ada. Sistem yang diterapkan semakin

(11)

secara tidak langsung, kelas-kelas sosial yang tercpta dari sistem ini telah

menciptakan kastanisasi di dalam dunia pendidikan.

Daftar Pustaka:

 Hidayat,Rahmat. 2014. “Sosiologi pendidikan Emile Durkheim”. Jakarta. PT

RajaGrafindo persada

 Martono,Nanang. 2014. “Sosiologi Pendidikan Michel Foucault”. Jakarta. PT

RajaGrafindo persada

 Maliki,Zainuddin. 2008. “Sosiologi pendidikan”. Yogyakarta. Gadjah Mada

Referensi

Dokumen terkait

Belt (sabuk) atau rope (tali) digunakan untuk mentransmisikan daya dari poros yang satu ke poros yang lain dengan memakai pulley yang berputar pada kecepatan yang sama atau

Dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul ”Pengaruh Perasan Bawang Putih ( Allium Sativum L. ) terhadap pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ”, Karya Tulis Ilmiah

Litter (alas lantai) Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10

a) Periksa semua slang dan pipa yang menghubungkan bejana utama yang berisi air, pemberi tekanan sel, alat ukur tekanan dan ke atas triaksial terisi dengan air yang bebas udara. b)

Banyak sekali faktor – faktor yang harus dipertimbangkan perusahaan dalam menjalankan kegiatan pemasaran salah satunya adalah memberikan kepuasan kepada konsumen di

Tanggung jawab sosial perusahaan seharusnya melampaui tindakan memaksimalkan laba untuk kepentingan pemegang saham ( stakeholder ), namun lebih luas lagi bahwa kesejahteraan

According to Anthony if the mastery of words or vocabulary much, they can help students in increasing their speaking, listening, writing, and reading ability.. 21 Writing

Hasil koefisien determinasi (R 2 ) yang diperoleh dari kolom Adjusted R Square dengan nilai sebesar 0,720 yang dapat dinyatakan bahwa variabel karakteristik