PENGAWAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI LAMPUNG TERHADAP KENAIKAN TARIF ANGKUTAN PERUSAHAAN OTOBUS (PO)

61 

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

THE SUPERVISION DEPARTMENT TRANSPORTATION OF LAMPUNG PROVINCE ABOUT THE RATES OF OTOBUS COMPANY

BY

ELYASIP S SEMBIRING

Seeing the number of intercity bus transportation in Lampung Province operating in the province of Lampung sought to make the government to continue to provide oversight specifically for this transport. Lampung Provincial Government policy in controlling the rates transport violations committed by the company or crew Otobus bus transportation by raising tariffs unilaterally, especially during the Eid al-Fitr is one of the efforts to control public transport services. Policies issued by the Minister of Transportation through the Transportation Minister Decree No. 35 of 2003 on the Implementation of Transportation Road With People in Public Transport, the government is obliged to provide for the transport of highway decent, safe and convenient for the people of Lampung Province, the government set for Inter-City Transportation In Province as a mode of transportation that can be used by all levels of society.

(2)

The research method is quite descriptive with normative approach and empirical juridical approach. Data was collected through in-depth interviews, literature studies, and field studies. Suggestions in this study: (1) the Department of Transportation Lampung more intense in giving an appeal in writing to all owners / entrepreneurs for the orderly transport in determining freight rates and Lampung Transportation Agency should do more often mobile and static operation to crack down on bus driver AKDP / companies who violate the freight rates (2) Lampung transportation Agency in cooperation with the police over the Lampung Police in the field to determine the inspection schedule in order to create good cooperation in creating the transportation and comfort in order to control the bus crews who often raise freight rates unilaterally.

(3)
(4)

Metode penelitian ini tergolong tipe deskriptif dengan pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi lapangan. Saran dalam penelitian ini : (1) Dinas Perhubungan Provinsi Lampung lebih intens lagi dalam memberi himbauan secara tertulis kepada seluruh pemilik/pengusaha angkutan untuk tertib dalam penentuan tarif angkutan dan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung sebaiknya lebih sering lagi melakukan operasi mobile dan statis untuk menindak pengemudi bus AKDP/perusahaan yang melakukan pelanggaran tarif angkutan (2) Dinas Perhubungan Provinsi Lampung lebih bekerjasama dengan pihak kepolisian yaitu Polisi daerah Lampung dalam menentukan jadwal sidak ke lapangan guna terciptanya kerjasama yang baik dalam menciptakan kenyamanan dalam bertransportasi dan agar dapat mengontrol para awak bus yang sering menaikkan tarif angkutan secara sepihak.

(5)
(6)

PENGAWASAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI LAMPUNG TERHADAP KENAIKKAN TARIF ANGKUTAN PERUSAHAAN

OTOBUS (PO)

(Skripsi)

Oleh

Elyasip S Sembiring

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)

MOTO

Masa depan itu dibeli oleh masa sekarang (Samuel Johnson)

Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi, jika orang sudah mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan

(13)

PERSEMBAHAN

Dengan rasa penuh puji dan syukur atas kasih yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa dengan penuh kerendahan hati ku persembahkan kepada : Kepada Kedua Orang Tuaku Tercinta yang selalu memberikan dukungan,

motivasi, dan berdoa untuk kesuksesanku Kakak-kakakku yang telah menjadi inspirasi

Keluarga besarku yang membuat aku termotivasi untuk menjadi anak yang sukses

(14)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, Bandar Lampung pada tanggal 17 September 1992, sebagai putra ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Darti Sembiring dan Ibu Iriana Ginting.

Latar belakang pendidikan yang telah dijalankan yaitu penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Eka Dharma Candimas, Natar Tahun 1998, Sekolah Dasar (SD) di SD Fransisikus 1 Tanjung Karang, Bandar Lampung Tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Fransiskus 1 Tanjung Karang, Bandar Lampung Tahun 2007, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAN 15 Bandar Lampung diselesaikan Tahun 2010.

(15)

SANWACANA

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia-Nya

skripsi ini dapat diselesaikan.Skripsi dengan judul “Pengawasan Dinas

Perhubungan Provinsi Lampung Terhadap Kenaikan Tarif Angkutan Perusahaan

Otobus” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Hukum (S.H) di Universitas Lampung.

Selesainya penulisan skripsi ini, adalah juga berkat motivasi dan pengarahan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih banyak kepada :

1. Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung;

2. Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung;

(16)

4. Bapak Satria Prayoga, S.H., M.H., Selaku Pembimbing II yang telah bersedia untuk meluangkan waktunya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;

5. Bapak Elman Eddy Patra, S.H., M.H., selaku Pembahas I yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini;

6. Ibu Marlia Eka Putri, S.H., M.H., selaku Pembahas II yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini;

7. Bapak Syamsir Syamsu, S.H., M.H., selaku Pembimbing Akademik, yang telah membantu dalam menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Lampung;

8. Seluruh Dosen dan Karyawan/i Fakultas Hukum Universitas Lampung yang penuh dedikasi dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis, serta segala bantuan yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Univeritas Lampung;

(17)

10. Kakak-kakak dan abang-abangku Ika Verayanti Sembiring, Rizki Yuliani Sembiring, Gelora Sinuhaji dan Herwin Alex Pinem terima kasih telah menjadi motifasi bagiku dan memberi dukungan moril, kegembiraan, dan semangat;

11. Keponakan-keponakanku Laura Audryane Pinem dan Corrine Salsalina Pinem telah memberikan dukungan dan semangat;

12. Teman Fakultas Hukum dan teman-teman Hukum Administrasi Negara ’10 Sanggam, Yoga, Cio, Seto, Willi, Kamal, Ridho, Rusjana dan yang tidak dapat disebutkan satu persatu terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya. Semoga kita semua dapat sukses;

13. Jusuf, Wetson, Ivo, Edo, Rizal, Ricko, Yuri, Saut dan yang tidak bisa disebutkan satu persatu terima kasih telah menjadi pendukung kuliah sampai penulis dapat menyelesaikan kuliah;

14. Seluruh Teman-teman Permata dan IMKA Yudha S, Destra S, Bryan S, Daniel P, Cokro S, Jimmy B, Imanuel KPA, Rio S, Hans S, Rio SBY, Eko S, Menta, Efendi, Aldo G, Batinta, Erisa S, Arthalia, Oktanina, Emia S, Cirem J K, dan teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu terima kasih atas doa dan dukungannya;

15. Teman-teman Villa selmon Robert, Ayu, Leni,Yuanita, Nevia, Alpina, Anggun terima kasih atas doa dan dukungannya;

(18)

17. Kepada teman-teman KKN desa Tanjung Inten Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur tercinta Aldi, Gea, Pebri, Aji, Ica, Yobel, Meta, Dini, Rose, Tati terima kasih atas dukungan, doa, semangatnya dan terima kasih telah menjadi keluarga baruku. Semoga kita semua sukses;

18. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

Semoga Tuhan memberikan balasan atas jasa dan budi baik yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi penulis dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan.

Bandar Lampung, Agustus 2014 Penulis,

(19)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan makin pesatnya pertumbuhan perekonomian penduduk,tuntutan akan tersedianya fasilitas alat transportasi yang memadai juga telah mengalami peningkatan. Hal tersebut mendorong pemerintah maupun pihak swasta untuk melaksanakan pembangunan di bidang transportasi.

Transpotasi merupakan salah satu kebutuhan mobilitas manusia saat ini. Media transportasi menjadi sarana mobilitas manusia guna melakukuan berbagai aktifitas sehari-hari dan sarana untuk memberi kemudahan bagi manusia untuk menjangkau tempat beraktifitasnya sehari-hari maupun menghantarkan ke kota tujuan. Transportasi yang baik haruslah merupakan suatu sistem yang dapat memberikan pelayanan yang cukup, baik kepada masyarakat secara umum maupun secara pribadi.1

Dalam mendukung seseorang menuju tempat aktifitas sehari-hari dan bepergian keluar kota ada beberapa pilihan salah satunya menggunakan alat angkut transportasi massal,pengangkutan memang peranan vital dalam segala aspek baik secara langsung maupun tidak langsung, terlebih dalam dunia ekonomi tidak mungkin terlepas dari kegiatan pengangkutan.Kegiatan pengangkutan telah lama

(20)

2

dikenal sejak zaman dahulu,yaitu sejak masih digunakannya sarana angkutan yang sederhana hingga sekarang telah menggunakan sarana angkutan yang serba modern,hal tersebut berkembang secara wajar seirama dengan perkembangan zaman.

Perkembangan sarana angkutan akan mengakibatkan mobilitas masyarakat semakin tinggi,demikian juga dalam dunia perekonomian yang semakin maju,fungsi pengangkutan untuk memindahkan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat lain,dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai barang.2

Pengangkutan di darat dalam melaksanakan fungsi dan tujuannya beraneka macam,ada yang berfungsi sebagai angkutan barang,angkutan penumpang seperti angkutan kota, bus AC (Air Conditioner) yang dilengkapi dengan penyejuk ruangan, bus Non AC yang tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan dan ada yang sebagai angkutan penumpang sekaligus barang,baik yang menurut fisik sarana pengangkutan dilakukan oleh kendaraan yang dapat berupa kendaraan bermotor maupun mobil atau kendaraan darat lain.Pelaksanaan usaha pengangkutan dapat dikelola pemilikan usahanya mulai yang sederhana,yaitu individu atau perseorangan maupun sampai pada pengaturan usaha yang profesional yaitu oleh suatu bentuk usaha Perseroan Terbatas.

Perbedaan didalam pengaturan usaha dibedakan dari segi tanggung jawab dalam usaha itu sendiri,sebuah sarana pengangkutan yang dikelola oleh Perseroan Terbatas secara langsung tunduk pada aturan-aturan di dalam Undang – Undang

2

(21)

3

Nomor : 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, namun pada umumnya dalam penyelengaraan usaha pengelolaan sarana pengangkutan terdaftar pada Departemen Perindustrian dan Perdagangan dengan nama Perusahaan Oto Bus.

Hubungan antara suatu Perusahaan Oto Bus dan konsumen terikat pada suatu persetujuan berupa perjanjian pengangkutan,berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor : 653 K/Sip/1980 tanggal 11 juni disebutkan,bahwa hak dan kewajiban dari para pihak dalam tiap-tiap perjanjian harus ada dan ini ditentukan dalam isi perjanjian yang bersangkutan.

Terikatnya Perusahaan Oto Bus dan konsumen dalam suatu perjanjian pengangkutan memaksakan masing-masing pihak untuk mematuhi penyelengaraan dari isi perjanjian tersebut,dengan konsekuensi hukum yang ada. Pengelolaan suatu sarana pengangkutan khususnya pengangkutan penumpang yang berorientasi pada pelayanan umum memiliki beberapa aturan tersendiri yang khusus diterapkan pada sarana angkutan umum, misalkan dari segi perizinan,keseragamantarif angkutan dan trayek yang telah ditetapkan oeh Dinas Perhubungan,namun dalam pelaksanaannya Perusahaan Otobus meminta berbeda- beda.

(22)

4

Beberapa survei yang dilakukan penulis terhadap beberapa penumpang bus jurusan Rajabasa-Bakauheni, para peumpang yang menggunakan yang menggunakan jasa bus jurusan Rajabasa-Bakauheni begitupun sebaliknya jurusan Bakauheni Rajabasa mereka menuturkan bahwa kerap kali diminta ongkos yang melebihi standar yang telah ditetapkan Pemerintah (Dinas Perhubungan Provinsi Lampung) oleh awak bus dengan alasan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah naik,sementara pada saat itu Pemerintah sudah menentukan tarif sebesar Rp.17.000,-. Namun awak bus tersebut meminta tarif ongkos sebesar Rp.22.000,-.

Tarif angkutan yang melebihi dari yang telah ditetakan tentu saja sangat merugikan para konsumen yang menggunakan jasa tersebut,maka dari itu penulis untuk mengkaji lebih mendalam hal – hal yang berkaitan dengan tarif angkutan perusahaan oto bus yang melebihi dari yang telah ditentukan dalam judul skripsi : “PENGAWASAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI LAMPUNG TERHADAP TARIF ANGKUTAN PERUSAHAAN OTO BUS .”

1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup 1.2.1 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah diatas yang telah diuraikan sebelumnya maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut ?

1. Bagaimana pengawasan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung terhadap tarif angkutan Perusahaan Oto bus ?

(23)

5

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahun bagaimana pengawasan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung terhadap tarif angkutan Perusahaan Otobus.

2. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor penghambat Dinas Perhubungan Provinsi Lampung terhadap tarif angkutan Perusahaan Otobus.

1.4 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan hal – hal diatas, maka manfaat penelitian ini adalah :

1. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan sebagai buah pikiran dan salah satu referensi,khususnya untuk masyarakat agar tidak mudah dibohongi oleh perusahaan oto bus yang menaikkan tarif angkutan yang melebihi dari yang telah ditetapkan.

(24)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kewenangan Daerah Otonom

Dalam susunan pemerintahan di Negara Indonesia ada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, dan Pemerintah Desa. Masing-masing Pemerintahan tersebut memiliki hubungan yang bersifat hierarkis. Dalam UUD Negara Indonesia Tahun 1945 ditegaskan, bahwa hubungan wewenang antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota, atau antara Provinsi dan Kabupaten/Kota, diatur oleh Undang-Undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah [Pasal 18A (1)].Hubungan Keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan Undang-Undang [Pasal 18A (2)]. Kewenangan Provinsi diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang No.32 Tahun 2004 dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Perencanaan dan pengendalian bangunan

2. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang

3. Penyelengaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat 4. Penyediaan sarana dan prasarana umum

(25)

7

6. Penyelengaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. 7. Penanggulangan masalah sosial lintas Kabupaten/Kota

8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas Kabupaten/Kota

9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah termasuk lintas Kabupaten/Kota

10. Pengendalian lingkungan hidup

11. Pelayanan pertanahan termasuk lintas Kabupaten/Kota 12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil

13. Pelayanan administrasi umum Pemerintah

14. Pelayanan administrasi penanaman modal,termasuk lintas Kabupaten/Kota 15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan

oleh Kabupaten/Kota

16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan Perundang-Undangan.

Urusan Pemerintah Provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan Pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan kewenangan Kabupaten/Kota diatur dalam pasal 14 yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan

2. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang

3. Penyelengaraan ketertiban umum dan ketentraman maasyarakat 4. Penyediaan sarana dan prasarana umum

(26)

8

6. Penyelenggaraan pendidikan 7. Penanggulangan masalah sosial 8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan

9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah 10. Pengendalian lingkungan hidup

11. Pelayanan pertanahan

12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil 13. Pelayanan administrasi umum Pemerintahan 14. Pelayanan administrasi penanaman modal 15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya

16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan Perundang-Undangan.

2.2 Pengertian Pengawasan

Terkait dengan Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa dalam setiap organisasi, terutama dalam organisasi Pemerintahan, fungsi pengawasan sangat penting karena pengawasan itu adalah suatu usaha untuk menjamin adanya keserasian antara penyelengaraan tugas pemerintahan oleh daerah dan pemerintah, serta untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna.1

1

(27)

9

Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired result.Menurut Wahyu Sasongko

S.H., M.H. “ Pengawasan secara sederhana dapat dirumuskan segala usaha atau

kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai sasaran dan obyek yang diperksa”.

Dalam kamus bahasa Indonesia istilah “pengawasan berasal dari kata awas yang

artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat dan seksama,tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang diawasi”.2

Dalam Hukum Administrasi Negara pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki,direncanakan atau diperhatikan.3

Menurut Winardi “pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan. Sedangkan menurut Basu Swasta pengawasan merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil sepertiyang diinginkan”. Sedangkan menurut Komaruddin” pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana,dan awal untuk langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana yang berarti”.

2

Sujanto,Beberapa Pengertian di Bidang Pengawasan,Ghalia Indonesia,1968,hal 2. 3

(28)

10

Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standarpada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan atau pemerintahan. Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan suatu perencanaan. Dengan adanya pengawasan maka perencanaan yang diharapkan oleh pemerintah dapat terpenuhi dan berjalan dengan baik.

(29)

11

Sementara itu, dari segi hukum administrasi negara, pengawasan dimaknai sebagai :

Proses kegiatan yang membandingkan apa yang dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan, atau diperintahkan.

Hasil pengawasan ini harus dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan dan ketidakcocokan dan menemukan penyebab ketidakcocokan yang muncul. Dalam konteks membangun manajemen pemerintahan publik yang bercirikan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik), pengawasan merupakan aspek penting untuk menjaga fungsi pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam konteks ini, pengawasan menjadi sama pentingnya dengan penerapan good governance itu sendiri.

Pada dasarnya ada beberapa jenis pengawasan yang dapat dilakukan, yaitu: 1. Pengawasan Intern dan Ekstern

Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.

2. Pengawasan Preventif dan Represif

Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai, “pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan.

3. Pengawasan Aktif dan Pasif

(30)

12

2.2.1 Konsep Pengawasan

Pengawasan merupakan proses pengukuran kinerja dan pengambilan tindakan untuk menjamin hasil yang diinginkan yang merupakan peran penting dan positif dalam proses manajemen untuk menjamin segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai waktunya. Pengawasan yang efektif akan memperlihatkan kemampuan untuk memilih sasaran yang tepat. Dengan demikian, pengawasan yang efektif berarti pengawasan yang tepat sesuai dengan proses yang harus dilalui tanpa menyimpang dari sistem yang dianut sehingga tahapan yang dilalui benar.

Pengawasan sebagai suatu sistem, seperti halnya sistem-sistem yang lain memiliki karakteristik tertentu. Namun demikian, arti penting karakteristik tersebut berlaku relatif, artinya pada kondisi yang berbeda, karakteristik itu pun berbeda pula. Pada kondisi yang sama, karakteristik tersebut berlaku sama. Secara umum pengendalian yang efektif mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. Akurat (Accurate)

(31)

13

Tingkat akurasi yang baik dari sebuah pelaksanaan pengawasan akan menghasilkan suatu data atau informasi yang tepat yang dapat diolah menjadi suatu bahan rujukan dalam pengambilan keputusan atau untuk mengambil tindakan yang sifatnya korektif apabila terjadi kesalahan atau penyimpangan serta menghindarkan organisasi dari permasalahan yang berlarut-larut bahkan terciptanya persoalan baru yang dapat mempersulit kegiatan organisasi.

2. Tepat Waktu (Timely)

(32)

14

3. Objektif dan Komperhensif (Objective and Comprehensible)

Informasi dalam suatu sistem pengawasan harus mudah dipahami dan dianggap objektif oleh individu yang menggunakannya. Maka objektif sistem pengawasan, makin besar kemungkinannya bahwa individu dengan sadar dan efektif akan merespon informasi yang diterima, demikian pula sebaliknya. Sistem informasi yang sulit dipahami akan mengakibatkan bias yang tidak perlu dan kebingungan atau frustasi diantara para aparat. Tindakan-tindakan yang korektif sebelumnya harus dikuasai oleh mereka yang bertugas untuk mengawasi dan mendistribusikan informasi pengawasan tersebut.

4. Dipusatkan pada Tempat Pengendalian Strategis (Focused on Strategic control Points)

Sistem pengawasan strategis sebaiknya dipusatkan pada bidang yang paling banyak kemungkinan akan terjadi penyimpangan dari standar, atau yang akan menimbulkan kerugian yang paling besar. Selain itu, sistem pengendalian strategis sebaiknya dipusatkan pada tempat dimana tindakan perbaikan dapat dilaksanakan seefektif mungkin.

5. Secara Ekonomi realistik (Economically Realistic)

(33)

15

6. Secara Organisasi realistik (Organizationally Realistic)

Sistem pengawasan harus dapat digabungkan dengan realitas organisasi. Misalnya, individu harus dapat melihat hubungan antara tingkat kinerja yang harus dicapainya dan imbalan yang akan menyusul kemudian. Selain itu, semua standar untuk kinerja harus realistik. Perbedaan status diantara individu harus dihargai juga.

7. Dikoordinasikan dengan Arus Pekerjaan Organisasi (Coordinated with the Organization’s Work Flow)

Informasi pengawasan perlu untuk dikoordinasikan dengan arus pekerjaan diseluruh organisasi karena dua alasan. Pertama, setiap langkah dalam proses pekerjaan dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seluruh operasi. Kedua, informasi pengawasan harus sampai pada semua orang yang perlu untuk menerimanya.

8. Fleksibel (Flexible)

(34)

16

9. Preskriptif dan Operasional (Prescriptive and Operational)

Pengawasan yang efektif dapat mengidentifikasi tindakan perbaikan apa saja yang perlu diambil setelah terjadi penyimpangan dari standar. Informasi harus sampai dalam bentuk yang dapat digunakan ketika informasi itu tiba pada pihak yang bertanggung jawab mengambil tindakan perbaikan.

10. Diterima Para Anggota Organisasi (Accepted by Organization Members).

Agar sistem pengawasan dapat diterima oleh para anggota organisasi, pengawasan tersebut harus bertalian dengan tujuan yang berarti dan diterima. Tujuan tersebut harus mencerminkan bahasa dan aktivitas individu kepada situasi tujuan tersebut dipertautkan. Selain kesepuluh karakteristik pengawasan yang efektif seperti dideskripsikan di atas, perlu diperhatikan bahwa standar yang ditetapkan harus diterima oleh para anggota organisasi sebagai bagian integral dan hasil dari pekerjaan mereka. Demikian pula bahwa sistem pengawasan harus konsisten dengan kultur organisasi yang bersangkutan. Karena apabila hal ini terjadi sebaliknya, sistem pengawasan tidak akan efektif sebagaimana diharapkan.

(35)

17

1. Memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai mandat, visi, misi, tujuan serta target-target organisasi.

2. Mengetahui tingkat akuntabilitas kinerja tiap instansi yang akan dijadikan parameter penilaian keberhasilan dan kegagalan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam renstra instansi.

3. Dua tujuan utama yaitu akuntabilitas dan proses belajar :

a. Dari sisi akuntabilitas, sistem pengawasan akan memastikan bahwa dana pembangunan digunakan sesuai dengan etika dan aturan hukum dalam rangka memenuhi rasa keadilan.

b. Dari sisi proses belajar, sistem pengawasan akan memberikan informasi tentang dampak dari program atau intervensi yang dilakukan, sehingga pengambil keputusan dapat belajar tentang bagaimana menciptakan program yang lebih efektif.

2.2.2 Tujuan Pengawasan

(36)

18

Sementara berkaitan dengan tujuan pengawasan :

1. Mensuplai pegawai-pegawai manajemen dengan informasi-informasi yang tepat,teliti dan lengkap tentang apa yang akan dilaksanakan.

2. Memberi kesempatan pada pegawai dalam meramalkan rintangan-rintangan yang akan mengganggu produktivitas kerja secara teliti dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghapuskan atau mengurangi gangguan-gangguan yang terjadi.

3. Setelah kedua hal diatas telah dilaksanakan, kemudian para pegawai dapat membawa kepada langkah terkhir dalam mencapai produktivitas kerja yang maksimum dan pencapaian yang memuaskan dari pada hasil-hasil yang diharapkan.

Tujuan pengawasan adalah :

1. Agar terciptanya aparat yang bersih dan berwibawa yang didukung oleh suatu sistem manajemen pemerintah yang berdaya guna dan berhasil guna serta ditunjang oleh partisipasi masyarakat yang konstruksi dan terkendali dalam wujud pengawasan masyarakat (kontrol sosial) yang obyektif, sehat dan bertanggung jawab.

2. Agar terselenggaranya tertib administrasi di lingkungan aparat pemerintah,tumbuhnya disiplin kerja yang sehat.

(37)

19

Dapat diketahui bahwa pada pokoknya tujuan pengawasan adalah :

1. Membandingkan antara pelaksanaan dengan rencana serta instruksi-instruksi yang telah dibuat.

2. Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan-kesulitan,kelemahan-kelemahan atau kegagalan-kegagalan serta efisiensi dan efektivitas kerja.

3. Untuk mencari jalan keluar apabila ada kesulitan,kelemahan dan kegagalan,atau dengan kata lain disebut tindakan korektif.

2.2.3 Prinsip-Prinsip Pengawasan

Agar fungsi pengawasan mencapai hasil yang diharapkan, maka subjek dari pengawasan yang melaksanakan fungsi ini harus mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip pengawasan. Agar pengawasan dapat berjalan dengan efisien dan efektif perlu adanya sistem pengawasan yang efektif maka perlu dipenuhi beberapa prinsip pengawasan yaitu :

1. Pengawasan harus bersifat fact finding, artinya pengawasan harus menentukan fakta-fakta tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan dalam organisasi.

2. Pengawasan harus bersifat preventif, artinya harus dapat mencegah timbulnya penyimpangan dan penyelewengan dari rencana semula.

3. Pengawasan diarahkan kepada masa sekarang.

(38)

20

5. Pengawasan bersifat harus membimbing agar supaya para pelaksana meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan tugas yang telah ditetapkan.

2.3 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pehubungan .

Terselenggaranya Good Governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintah untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara. Dalam rangka itu diperlukan pengembangan dan penerapan sistem yang tepat, jelas, teratur dan legitimate sehingga penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna,bersih dan bertanggung jawab.

2.3.1 Kedudukan

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika merupakan unsur pelaksanaan otonomi daerah di bidang perhubungan, Komunikasi dan Informatika yang dipimpin oleh seorang kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah.4

4

(39)

21

2.3.2 Tugas Pokok

Dinas Perhubungan mempunyai tugas pokok melaksanakan kewenangan otonomi daerah dibidang perhubungan yang meliputi lalu lintas dan angkutan, pengujian dan keselamatan, sarana/prasarana lalu lintas jalan, perparkiran, terminal, dan sub terminal dalam rangka pelaksanaan tugas desentralisasi. Dalam melaksanakan tugas pokok fungsi uraian tugas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika meliputi :

1. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah daerah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan dibidang perhubungan dan informatika.

2. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis dibidang perhubungan komunikasi dan informatika.

b. Pelaksanaan teknis pada bidang perhubungan darat. c. Pelaksanaan teknis pada bidang perhubungan laut. d. Pelaksanaan teknis pada bidang perhubungan udara.

(40)

22

2.3.3 Bagian Sekretariat

Sekretariat mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan administrasi yang meliputi pembinaan penyusunan program perencanaan kerja keuangan umum dan kepegawaian, evaluasi, dokumentasi, pelaporan dan memberikan pelayanan teknis administratif pada semua unsur organisasi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika.

Sekretariat mempunyai fungsi :

1. Pengumpul dan pengelolaan data serta penyusunan program dan rencana kerja dinas.

2. Pengelolaan urusan keuangan . 3. Pengelolaan urusan kepegawaian.

4. Pengelolaan urusan rumah tangga dan perlengkapan. 5. Pengelolaan surat menyurat, kehumasan dan kpotokoleran.

6. Pengumpul dan pengelolaan kegiatan evaluasi dokumentasi dan pelaporan. 7. Sekretariat mempunyai uraian tugas sebagai berikut :

a. Melaksanakan kegiatan surat menyurat penataan dokumentasi arsip dan pengadaan.

b. Menyiapkan bahan dan menyusun rencana kebutuhan barang unit dan rencana tahunan barang unit (RKBU dan RTBU).

c. Menyiapkan bahan dan melaksanakan pengelolaan, pengadaan, penyimpanan, inventarisasi, pemeliharaan, distribusi bahan dan penghapusan barang unit.

(41)

23

e. Menyiapkan bahan usulan mutasi kepegawaian, meliputi usulan kepangkatan dalam jabatan, kenaikan gaji berkala pemindahan, pemberhentian dan pension pegawai.

f. Menyiapkan bahan pembinaan pegawai meliputi pembinaan disiplin, pengawasan melekat, kesejahteraan, pemberian tanda jasa/penghargaan dan kedudukan hokum pegawai.

g. Menyiapkan bahan dan mengelola tata usaha kepegawaian dan apsensi. h. Menyiapkan bahan penyusunan program kegiatan evaluasi, dokumentasi

dan pelaporan.

i. Menyiapkan bahan penyusunan petunjuk teknis kegiatan evaluasi dokumentasi dan pelaporan serta unsur organisasi dinas.

j. Menghimpun dan menyiapkan bahan penyusunan pelaksanaan evaluasi kegiatan dinas.

k. Menghimpun dan menyiapkan bahan penyusunan pelaksanaan dokumen kegiatan dinas.

l. Menghimpun dan menyiapkan bahan penyusunan pelaksanaan pelaporan kegiatan dinas.

m. Menyiapkan bahan koordinasi dengan unit kerja/instansi terkait dalam rangka pelaksanaan kegiatan evaluasi dokumentasi dan pelaporan dinas. n. Menyiapkan bahan evaluasi dan laporan pelaksanaan tugas.

(42)

24

Sekretariat terdiri dari :

1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian. 2. Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan.

3. Sub Bagian Evaluasi, Dokumentasi dan Pelaporan.

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengelolaan urusan surat menyurat, pengadaan, rumah tangga, perlengkapan, pendistribusian, pemeliharaan, penghapusan barang unit, keprotokolan dan kehumasan serta melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawaian.

Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan mempunyai tugas melakukan pengumpulan dan pengelolaan data penyusunan program dan rencana kerja dinas dan menyelenggarakan kegiatan pengelolaan keuangan dinas.

Sub Bagian Evaluasi, Dokumentasi dan Pelaporan mempunyai tugas pokok melaksanakan pengumpulan pengelolaan data dalam rangka pelaksanaan kegiatan evaluasi pendokumentasian dan pelaporan kegiatan unsure-unsur organisasi di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika.

2.3.4 Bidang Perhubungan Darat

Bidang Perhubungan darat mempunyai tugas melaksanakan pembinaan teknis operasional dan pengendalian manajemen dan rekayasa, manajemen angkutan, prasarana dan teknis sarana serta pengendalian operasional terhadap kegiatan perhubungan darat.5

5

(43)

25

Bidang perhubungan darat memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Pengumpulan dan pengelolan data serta penyusunan program dan rencana kerja bidang perhubungan darat.

2. Pengelolaan manajemen dan rekayasa lalu lintas. 3. Pengelolaan urusan angkutan.

4. Pengumpulan laporan kegiatan pada sekretaris dinas.

Bidang Perhubungan Darat terdiri dari :

1. Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas. 2. Seksi Angkutan.

3. Seksi Pengendalian dan Operasional.

Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas mempunyai tugas melakukan pemantauan dan analisis kinerja operasional penetapan standar batas maksimim muatan dan kecepatan kendaraan angkutan barang dalam kabupaten.

Seksi Angkutan mempunyai tugas melaksanakan pembinaan teknis operasional, pengawasan dan pengendalian manajemen angkutan darat menetapkan jaringan trayek angkutan dalam kabupaten, melakukan pemberian ijin angkutan umum atau ijin trayek dan insidentil, menyiapkan usulan tarif angkutan penumpang dalam kabupaten, melakukan pembinaan pada usaha angkutan umum, analisis kinerja operasional pelayanan angkutan umum, penetapan lokasi terminal tipe C dan pembinaan operasional terminal.

(44)

26

Seksi Pengendalian dan Operasional mempunyai tugas melaksanakan pembinaan teknis operasional pengawasan dan pengendalian manajemen angkutan darat, pembinaan dan pengelolaan pengendalian operasional kegiatan angkutan orang dan barang.

2.3.5 Bidang Perhubungan Laut

Mempunyai tugas melaksanakan pengendalian dan pengawasan serta koordinasi kegiatan lalu lintas angkutan laut dan keselamatan pelayaran, penyiapan, penetapan lokasi, pemasangan dan pemeliharaan alat pengawasan dan pengamanan lalu lintas angkutan laut dalam wilayah kabupaten, pengendalian dan pengawasan pengelolaan pelabuhan kabupaten serta pembinaan terhadap asosiasi sub sector pelabuhan laut.

Bidang perhubungan laut memiliki fungsi :

1. Pengumpulan dan pengelolaan data serta penyusunan program dan rencana kerja bidang perhubungan darat.

2. Pengelolaan manajemen dan rakayasa lalu lintas. 3. Pengelolaan urusan angkutan.

4. Pengelolaan urusan pengendalian dan operasional. 5. Pengumpulan laporan kegiatan pada sekretaris dinas.

Bidang perhubungan laut terdiri dari : 1. Seksi Kepelabuhanan dan Pengerukan. 2. Seksi Navigasi, Kaspel dan SAR.

(45)

27

2.3.6 Bidang Perhubungan Udara

Bidang Perhubungan Udara mempunyai tugas melaksanakan pengendalian dan pengawasan serta koordinasi kegiatan lalu lintas angkutan udara, pemasangan dan pemeliharaan alat pengawasan dan pengamanan lalu lintas angkutan udara dalam wilayah kabupaten, pengendalian dan pengawasan pengelolaan pelabuhan udara kabupaten serta pembinaan terhadap asosiasi sub sector pelabuhan udara.

Bidang Perhubungan udara memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Pengumpulan dan pengelolaan data serta penyusunan program dan rencana kerja bidang perhubungan udara.

2. Pengelolaan manajemen kebandarudaraan. 3. Pengelolaan urusan keselamatan penerbangan. 4. Pengelolaan urusan angkutan udara.

5. Pengumpulan laporan kegiatan pada sekretaris dinas.

Bidang Perhubungan Udara terdiri dari : 1. Seksi Kebandar Udaraan.

2. Seksi Keselamatan Penerbangan. 3. Seksi Angkutan Udara.

2.3.7 Fungsi.

(46)

28

perhubungan berdasarkan asas otonomi daerah dan tugas pembantu. Untuk melaksanakan tugasnya, dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika mempunyai fungsi:

1. Perumusan kebijakan teknis di bidang Perhubungan, Komunikasi dan Informatika.

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang Perhubungan, Komunikasi dan Informatika.

3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pelayanan perhubungan, komunikasi dan informatika lingkup.

4. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang Perhubungan, Komunikasi dan Informatika.

5. Pelaksanaan tugas kesekretariatan.

6. Pelaksanaan tugas lain di bidang Perhubungan, Komunikasi dan Informatika yang diserahkan oleh bupati sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.6

2.4. Tujuan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung

Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi visi dan misi dalam bentuk yang lebih terarah dan operasional untuk kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) Tahun kedepan. Oleh karena itu berdasarkan visi dan misi Dinas Perhubungan Provinsi Lampung tujuan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Peningkatan keselamatan dan keamanan pelayanan transportasi darat.

6

(47)

29

2. Pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana transportasi darat yang menjangkau masyarakat.

3. Peningkatan kualitas operator/penyedia jasa transportasi darat yang memiliki kualitas prima di dalam manajemen produksi.

4. Peningkatan daya saing pelayanan transportasi sehingga mampu berkompetisi dengan moda lainnya dan memberikan nilai tambah.

5. Pertumbuhan pembangunan transportasi darat yang merata dan berkelanjutan. 6. Peningkatan perkembangan industri transportasi darat yang transparan dan

akuntabel.

7. Penciptaan pembangunan transportasi darat yang terintegrasi dengan moda lainnya

2.5. Tarif

2.5.1 Pengertian Tarif

Pengertiantarifterbagikedalamduasudutpandangyaitudarisudutpandangpenumpang dansudutpandang operator penyediajasa. Tarifbagi operator penyediajasaadalahhargadarijasaangkutan yang diproduksinya, danbesarnyatarifiniakanmenentukanbesarnyapenerimaan yang dapatdiperolehdaripenjualannya.

(48)

30

engangkutansecara optimum denganmempertimbangkanjaraklintasan yang bersangkutan.

2.5.2 Tarif Angkutan

Tarif angkutan adalah suatu daftar yang memuat harga-harga untuk para pemakai jasa angkutan yang disusun secara teratur. Pembebanan dalam harga dihitung menurut kemampuan transportasi. Kebijakan tarif angkutan dibagi menjadi tiga, yaitu :

1. Cost Of Service Pricing

Tarif didasarkan pada besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan jasa ditambah dengan tingkat keuntungan yang wajar.

2. Value Of Service Pricing

Tarif didasarkan pada besarnya nilai jasa angkutan yang diberikan oleh pemakai jasa angkutan.

3. Charging What The Traffic Will Bear

Tarif angkutan didasarkan pada penentuan sedemikian rupa sehingga dengan volume angkutan tertentu akan dapat menghasilkan penerimaan bersih yang paling menguntungkan.

2.5.3 Sistem Tarif

(49)

31

1. Tarif Datar

Dalam sistem tarif datar tarif ditarik berdasarkan jauhnya jarak yang dapat dicover. Tarif datar menawarkan berbagai jenis keuntungan khususnya dalam hubungan antara pengumpulan ongkos dalam kendaraan. Hal ini memperbolehkan transaksi tunai terutama sangat penting kepada kendaraan besar.

Semakin besar perbedaan antara panjang jarak perjalanan rata-rata dan frekuensi terbanyak, akan semakin besar dampak yang merugikan pada penumpang jarak dekat, sedangkan penumpang jarak jauh menikmati biaya perjalanan yang menguntungkan secara sesuai.

2. Tarif Berdasarkan Jarak

Dalam hal ini, besarnya tarif secara mendasar ditentukan oleh jarak yang tercakup. Sebuah pembedaan ditarik antara biaya kilometer, biaya bertingkat dan biaya zona.

a. Biaya Kilometer

(50)

32

b. Susunan biaya/biaya bertingkat

Susunan biaya adalah penghitungan yang berdasarkan pada jarak yang ditempuh oleh penumpang ke dalam suatu formula yang disebut tingkat. Tingkat adalah bagian dari susunan rute yang salah satunya jarak antara tempat-tempat henti dan pelayanan untuk perhitungan biaya.

c. Biaya Zona

Biaya zona adalah penyederhanaan di dalam hubungan pada tingkat biaya sejenak ini membagi angkutan daerah ke dalam zona-zona untuk pusat kota pada umumnya memformulakan sekitar zona dalam dimana zona luar mungkin tersusun seperti sabuk. Daerah transportasi juga dibagi kedalam zona-zona yang berdekatan. Jika terdapat rute/jaringan melintang dan melingkar, panjangnya harus dibatasi oleh pembagian zona dalam sektor-sektor.

3. Sistem Kombinasi

(51)

33

2.6 Pengertian Retribusi Daerah

Sumber pendapatan daerah yang terpenting salah satunya adalah retribusi daerah. Pengertian retribusi adalah pembayaran wajib dari penduduk kepada negara karena adanya jasa tertentu yang diberikan oleh negara bagi penduduknya secara perorangan. Jasa tersebut dapat dikatakan bersifat langsung yaitu hanya yang membayar retribusi yang menikmati balas jasa dari negara.

Jadi retribusi daerah yakni suatu pemungutan daerah sebagai pembayaran atas pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan usaha atau milik daerah yang berkepentingan, atau karena jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung, adapun ciri-ciri dari retribusi pada umumnya adalah : 1. Retribusi dipungut oleh negara

2. Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomis 3. Adanya kontra prestasi yang secara langsung dapat ditunjuk

4. Retribusi dikenakan pada setiap orang/badan yang menggunakan/mengenyam jasa-jasa yang disiapkan negara.

(52)

34

Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

2.7 Perusahaan Otobus

(53)

35

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Masalah

Untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin,maka peneliti perlu mengadakan pendekatan masalah.Adapun yang dimaksud dengan pendekatan masalah yaitu langkah-langkah pendekatan untuk meneliti, melihat, menyatakan dan mengkaji yang ada pada obyek penelitian, untuk itu penulis menggunakan 2 cara, yaitu:

3.1.1 Pendekatan Yuridis Normatif

Pendekatan normatif yaitu pendekatan dengan cara studi kepustakaan dengan menelaah kaidah-kaidah hukum, undang-undang, peraturan dan berbagai literatur yang kemudian dibaca, dikutip dan dianalisis selanjutnya disimpulkan.Menurut Prof.Abdulkadir Muhammad “Penelitian hukum normatif adalah penelitian

(54)

36

3.1.2 Pendekatan Yuridis Empiris

Pendekatan empiris yaitu meneliti serta mengumpulkan data primer yang telah diperoleh secara langsung pada obyek penelitian melalui wawancara atau interview dengan responden atau narasumber di tempat obyek penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas selama penelitian ini.

3.2 Sumber dan Jenis Data

Sumber dan jenis data pada penulisan ini menggunakan dua sumber data yaitu data primer dan data sekunder.

3.2.1 Data Primer

Data primer adalah data yang didapat secara langsung dari sumber pertama.1Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan secara langsung pada obyek penelitian yang di tuju yaitu Dinas Perhubunga Provinsi Lampung yang dilakukan dengan cara wawancara terhadap Staff Bidang Perhubungan Darat Seksi Angkutan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, dua Perusahaan Otobus, dan tiga orang masyarakat.

3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh orang lain. Pada waktu penelitian dimulai data telah tersedia.data ini merupakan data pendukung yang bersifat memperkuat dan memperjelas data primer dan diperoleh dari studi pustaka, penelusuran literatur yang diperoleh dari studi pustaka, penelusuran

1

(55)

37

literatur yang diperoleh di luar penelitian selama penelitian berlangsung. Kegunaan data sekunder adalah untuk mencari data awal/informasi, mendapatkan landasan teori/landasan hukum, mendapatkan batasan/definisi/arti suatu istilah.2

Data sekunder adalah yang digunakan dalam menjawab permasalahan pada penelitian ini melalui studi kepustakaan. Data tersebut terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat peraturan perundang-undangan.

Adapun dalam penelitian ini bahan hukum yang peneliti pergunakan, yaitu: 1. Undang-Undang No.22 Tahun 2009 tentang lalu lintas anguktan jalan. 2. Keputusan Menteri Perhubungan No.35 Tahun 2003 tentang

penyelenggaraan angkutan orang di jalan dengan angkutan umum. 3. PP No.41 Tahun 1993 tentang angkutan jalan.

b. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk ataupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, terdiri dari literatur-literatur, kamus dan lain-lain yang sesuai dengan obyek permasalahan yang diangkat.

2

(56)

38

3.3 Prosedur Pengumpulan dan Pengelolaan Data

Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam penelitian di dalam sebuah penelitian sangat tergantung dari teknik pengumpulan data dan pengolahan data. Peneliti untuk maksud tersebut maka dalam menulis penelitian itu menggunakan teknik pengumpulan dan pengolahan data sebagai berikut:

3.3.1 Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Studi Kepustakaan

Untuk pengumpulan data sekunder peneliti menggunakan studi kepustakaan (library research) dengan cara membaca, mempelajari, mengutip serta menelaah literatur-literatur yang menunjang peraturan perundang-undangan dan bacaan yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas.

b. Studi Lapangan

Pengumpulan data primer dilakukan melalui studi lapangan (field research) dengan cara menggunakan metode wawancara terhadap responden dalam penelitian ini. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.3

3

(57)

39

3.3.2 Prosedur Pengolahan Data

Pengolahan data penelitian ini dilakukan dengan cara:

a. Editing, yaitu data yang diperoleh kemudian diperiksa untuk diketahui apakah masih terdapat kekurangan ataupun apakah data tersebut sesuai dengan penulisan yang akan dibahas.

b. Sistematisasi, yaitu data yang diperoleh dan telah diediting kemudian dilakukan penyusunan dan penempatan data pada tiap pokok bahasan secara sistematis.

c. Klasifikasi data, yaitu penyusunan data dilakukan dengan cara mengklasifikasi, menggolongkan dan mengelompokan masing-masing data pada tiap-tiap pokok bahasan secara sistematis sehingga memperoleh pembahasan.

3.4 Analisis Data

(58)

60

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap Kebijakan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung dalam Pengawasan Terhadap Tarif Angkutan Perusahaan Otobus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dinas Perhubungan Provinsi Lampung sebagai pelaksana teknis di bidang angkutan berperan aktif dalam penertiban dan pengawasan tarif angkutan bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi. Pengawasan Dinas Perhubungan Provinsi Lampung dalam pengawasan tarif angkutan yaitu :

a. Memberi himbauan secara tertulis kepada seluruh pemilik/pengusaha angkutan untuk tertib dalam penentuan tarif angkutan.

b. Memberikan surat teguran kepada Perusahaan Otobus yang tidak menjalankan angkutannya dengan ketentuan yang berlaku.

(59)

61

d. Dinas Perhubungan Provinsi Lampung menugaskan anggota Dinas Provinsi Lampung untuk melakukan penyamaran menjadi penumpang bus AKDP tersebut sebagai bentuk pengawasan dan jika terdapat pelanggaran yang dilakukan oleh awak bus maka anggota Dinas Perhubungan Provinsi Lampung langsung memberikan sanksi tilang.

2. Faktor-faktor penghambat pengawaasan dijalan raya Dinas Perhubungan Provinsi Lampung adalah sulitnya koordinasi dengan pihak kepolisian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan disebutkan bahwa Dinas Perhubungan tidak diperbolehkan untuk turun langsung ke lapangan tanpa berkoordinasi dengan pihak kepolisian, dan awak bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi yang menaikkan tarif angkutan secara sepihak dengan cara mengelabui para pengguna jasanya pada saat suasana ramai baik di terminal maupun di bus AKDP juga merupakan salah satu faktor penghambat Dinas Perhubungan Provinsi Lampung dalam melakukan pengawasan diterminal.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut :

(60)

62

meminimalisir pelanggaran yang dilakukan oleh bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi yang beroperasi dalam trayek. Dinas Perhubungan Provinsi Lampung juga sebaiknya lebih sering lagi melakukan operasi mobile dan statis untuk menindak pengemudi bus atau perusahaan yang melakukan pelanggaran tarif angkutan, dansebaiknyapemerintahmengambilsubsidi gratis terhadaptarifangkutankarenajikahanyadenganmelakukanpenyamarantampaknya kurangefektifdanhanyaakanmerugikanmasyarakatpenggunajasaangkutan yang selalu di tarikongkoslebiholehawak bus.

(61)

DAFTAR PUSTAKA

Ashshofa, Burhan. 1996. Metode Penelitian Hukum. Penerbit PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Hajar, Ibnu. 1999. Dasar-dasar Metodologi Penelitian kuantitatif Dalam Pendidikan. Grafindo Persada. Jakarta.

Prayudi. 1981. Hukum Administrasi Negara. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta. Muhammad, Abdulkadir. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. Penerbit PT.Citra

Aditya Bakti. Bandung.

Simbolon, Marigan Masry. 2003. Ekonomi Transportasi. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.

Singarimbun, Masri. 1987. Metode Penelitian Survei. Penerbit LP3ES. Jakarta. Soekanto, Soejono. 1984. Penelitian Hukum Normatif. Penerbit Rajawali Press.

Jakarta.

Sujanto, 1981. Beberapa Pengertian di Bidang Pengawasan. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.

Sugiyono, 2012. Metode PenelitianKuantitatif Kualitatif dan R&D. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Sunarno, Siswanto, 2009. Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia. Penerbit Sinar Grafika. Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...