MAKALAH
KONSERVASI GENETIK DAN PERUBAHAN
IKLIM
Oleh :
Galuh Gustina
4122.2.15.11.0010
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS WINAYA MUKTI
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Yang mana atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan sebuah makalah tentang Konservasi Genetik dan Perubahan Iklim. Makalah ini disusun sebagai salah satu tuntutan tugas dari mata kuliah Ilmu Iklim.
Dalam makalah ini memuat pembahsan mengenai konservasi genetic dan perubahan iklim yang diharapkan dapat bermanfaat untuk kedepannya bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah ikut berkostribusi membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya masih jauh dari kata kesempurnaan, maka dari itu penulis harapkan kritik dan saran yang membangun mengenai makalah ini untuk kedepannya agar dapat lebih baik lagi.
Bandung, Januari 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
DAFATAR TABEL...iv
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang...1
I.2. Tujuan... 2
BAB II PEMBAHASAN II.1. Konservasi Genetik...3
II.1.1.Keragaman Genetik...3
II.1.2.Pengertian Konservasi Genetik...4
II.1.3.Pendekatan Konsevasi Genetik...4
II.1.4.Tujuan Konservasi Genetik...6
II.2. Perubahan Iklim...7
II.2.1.Pengertian...7
II.2.2.Penyebab Perubahan Iklim...7
II.2.2.1. Kehutanan...7
II.2.2.2. Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil...8
II.2.2.3. Pertanian dan Peternakan...8
II.2.2.4. Sampah...8
II.2.3.Dampak Perubahn Iklim...8
II.2.3.1. Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian...8
II.2.3.2. Dampak Perubahan Iklim terhadap Kenaikan Muka Air Laut 9 II.2.3.3. Dampak Perubahan iklim terhadap Ekosistem...9
II.2.3.4. Dampak Perubahan iklim terhadap Sumber Daya Air...9
II.2.3.5. Dampak Perubahan iklim terhadap Kesehatan...9
II.2.3.6. Dampak Perubahan iklim terhadap Sektor Lingkungan.10 II.2.4.Solusi terhadap Perubahan Iklim...10
II.2.5.Strategi dalam menanggulangi perubahan iklim...11
II.2.5.1. Antisipasi...11
II.2.5.3. Adaptasi...11
BAB III PENUTUP
III.1. Kesimpulan...13 III.2. Saran... 13
DAFATAR TABEL
Table 1. Tiga dekade konservasi ex-situ sumber daya genetik di Indonesia 5 Table 2. Ukuran populasi (jumlah individu) yang direkomendasikan untuk
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Kenakeragaman hayati di alam ini sangatlah melimpah, terdapat berbagai jenis binatang dan tumbuhan yang mampu bertahan hidup hingga saat ini. Jenis binatang dan tumbuhan ini tersebar di seluruh bagian dunia dan harus dilestarikan agar mampu mengatasi perubahan lingkungan di masa depan. Pelestarian spesies tersebut dapat dilakukan dengan konservasi genetik.
tersebut. Disamping itu berdasarkan data dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan (2000) kapasitas industri kayu diperkirakan sebesar 58,24 juta m3 per tahun, sementara itu potensi hutan alam dalam menyediakan bahan baku secara lestari terus menurun mulai sekiatr 25,36 juta m3 menjadi 6,89 juta m3. Berdasarkan perhitungan, pada tahun 2010 diperlukan 1 Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 4.279.212,9 hektar dengan rata-rata produksi 200 m3 per hektar (Dirjen Bina Produksi Kehutanan, 2005). Menghadapi tantangan yang berat berupa tuntutan ekolabel, pasar bebas, ancaman kondisi hutan alam yang semakin terancam kelestariannya dan tuntutan produktivitas yang tinggi, maka tidak ada pilihan lain untuk membangun hutan tanaman yang produktif, efisien, kompetitif dan lestari. Untuk membangun hutan tanaman anatara lain suhu, tekanan, angin, kelembaban yang terjadi di suatu daerah selama kurun waktu yang panjang.
Perubahan iklim bisa terjadi karena proses alam internal maupun kekuatan dan tingkah laku aktivitas manusia yang terus menerus mengubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan.
Perubahan iklim ini merupakan ancaman bagi bumi, karena dapat memengaruhi semua aspek kehidupan. Dan tentu saja akan merusak keseimbangan kehidupan bumi.
I.2. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
II.1. Konservasi Genetik
II.1.1. Keragaman Genetik
Keragaman genetik dapat diartikan sebagai variasi gen dan genotipe antar dan dalam species (Melchias, 2001). Keragaman genetik dalam species memberikan kemampuan untuk beradaptasi atau melawan perubahan lingkungan dan iklim atau hama dan penyakit baru. Oleh karenanya, keragaman genetik merupakan modal dasar bagi suatu jenis tanaman untuk tumbuh, berkembang dan bertahan hidup dari generasi ke genarasi. Kemampuan tanaman untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tumbuh ditentukan oleh potensi keragaman genetik yang dimilikinya. Semakin tinggi keragaman genetiknya semakin besar peluang tanaman untuk beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan beradaptasi tersebut dapat diamati dari dua parameter, yaitu secara fenotip (pertumbuhan, kesehatan, reproduksi) dan parameter genetik yang tidak secara langsung teramati secara visual. Untuk mengetahui adaptabilitas tanaman, 2dilakukan uji provenansi di berbagai lokasi. Jenis yang tumbuh baik di berbagai kondisi lingkungan adalah jenis yang tingkat adaptabilitasnya tinggi.
species ataupun antar populasi yang lebih besar dibanding dengan species yang sebarannya endemic dan populasi alaminya lebih sempit (Hamrich et al.,1992). Lebih lanjut disampaikan bahwa species dengan sebaran endemic dan populasi sempit akan menunjang terjadinya proses genetic drift yang berakibat langsung terhadap turunnya keragaman genetik.
Kemajuan program pemuliaan pohon akan sangat ditentukan oleh materi genetik yang tersedia, dimana semakin luas basis genetik yang dilibatkan dalam program pemuliaan suatu jenis, semakin besar peluang untuk mendapatkan peningkatan perolehan genetik (genetic gain) dari sifat yang diinginkan. Keberadaan sumberdaya genetik suatu jenis dengan basis yang luas menjadi suatu keharusan dan memiliki arti yang sangat penting agar program pemuliaan dari generasi ke generasi berikutnya tetap terjamin kelangsungannya.
II.1.2. Pengertian Konservasi Genetik
Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris)Conservation
yang artinya pelestarian atau perlindungan.
Konservasi genetik adalah salah satu cara aplikasi genetik untuk melestarikan berbagai jenis binatang dan tumbuhan sebagai mahkluk hidup yang dinamis yang mampu mengatasi perubahan lingkungan. Seperti yang ditulis oleh Bonde dkk., (2008) dalam jurnal marine animals and their ecology, konservasi genetik merupakan metode genetik yang berhubungan dengan keanekaragaman hayati. Konservasi genetik ini membantu pengelola satwa liar dalam mengidentifikasi serangkaian unit konservasi binatang.
complexes tidak dapat disamakan dengan genotipe suatu jenis individu, 3 karena justru merupakan kombinasi perilaku gen yang menentukan sifat-sifat yang spesifik.
II.1.3. Pendekatan Konsevasi Genetik
Secara umum konservasi genetik dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu secara in-situ dan ex-situ. In-situ berarti melestarikan pohon dan tegakan pada sebaran alamnya, sedangkan ex-situ adalah melindungi gene atau gene complexes di kondisi buatan atau setidaknya di luar kondisi alaminya.
konservasi ex-situ adalah konservasi dari komponen-komponen keanekaragaman hayati di luar habitat alaminya . Sering kali digunakan juga istilah gene bank sebagai pengganti istilah ex-situ, bilamana materi konservasi genetik yang dibangun berbentuk koleksi klon yang ada di lapangan, kebun benih maupun pertanaman (Chomchalow, 1985). Soekotjo (2001) menggolongkan konservasi ex-situ dalam tiga dekade, secara rinci disajikan dalam Tabel 1.
Table 1. Tiga dekade konservasi ex-situ sumber daya genetik di Indonesia
Era konservasi ex-situ Periode Aktivitas Utama
dipilih menggunakan berbagai pendekatan, misalnya pendekatan frekuensi allel unik yang cukup populer (Zulkarnaen, 2006). Lebih lanjut disampaikan, beberapa ahli genetika teoritikal merekomendasikan ukuran minimum populasi untuk dikonservasi seperti disajikan pada Tabel 2.
Table 2. Ukuran populasi (jumlah individu) yang direkomendasikan untuk mempertahan-kan tingkat keragaman genetik pada suatu populasi.
Frekuensi
allel (1979)Kang Gregorius(1980) Namkong(1981) Frankelet al. (1995)
II.1.4. Tujuan Konservasi Genetik
Secara singkat tujuan dari konservasi sumber daya genetik sangat tergantung dari goal yang ingin dicapai (Soekotjo, 2004) : 1) Bagi breeders dan/atau biotechnologists, kegiatan ini
bertujuan untuk menyediakan sumber daya genetik sehingga dapat digunakan saat diperlukan.
2) Bagi ahli biologi evolusioner, konservasi sumber daya genetik bertujuan untuk menjamin dan memelihara kemampuan adaptasi, evolusi dan seleksi dari jenis dalam populasinya agar mampu menyesuaiakan diri dengan perubahan yang akan terjadi 5 khususnya dari persyaratan ekologi, ekonomi serta viabilitas yang mendukung ekosistem.
3) Bagi ahli kehutanan, konservasi bertujuan agar jenis-jenis target dan habitatnya lestari.
II.2. Perubahan Iklim
II.2.1. Pengertian
Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti suhu, san cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan ini sangat berdampak luas bagi kehidupan manusia dalam berbagai sektor .
Perubahan iklim juga dapat dikatakan sebagai, keadaan dimana temperatur di bumi mengalami kenaikan dan pergeseran musim. Kenaikan temperatur ini akan menyebabkan terjadinya pemuaian massa air dan permukaan air laut.
Menurut IPCC (2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Selain itu juga diperjelas bahwa perubahan iklim meungki terjadi karena proses alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer atau tata guna lahan.
II.2.2. Penyebab Perubahan Iklim
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Selain itu pertambahan populasi penduduk dan pesatnya pertumbuhan teknologi dan industri ternyata juga memberikan kontribusi besar pada pertambahan GRK (Gas Rumah Kaca). Akibat jenis aktivitas yang berbedabeda, maka GRK yang dikontribusikan oleh setiap negara ke atmosfer pun porsinya berbedabeda.
Ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Penyebab-penyebab tersebut adalah :
II.2.2.1. Kehutanan
hutan lindung, sementara sisanya adalah hutan produksi (FWI/GFW, 2001).
Namun dari tahun ke tahun luas hutan berkurang. Hal ini disebabkan oleh penebangan liar atau juga kebakaran hutan (disengaja ataupun tidak disengaja). Padahal hutan sangat berperan sebagai penyerap CO2 dan penghasil O2. Dengan kemampuan hutan tersebut dapat mengurangi kadar GRK di udara.
II.2.2.2. Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil
Saat ini kehidupan manusia sangat tergantung pada energi listrik dan bahan bakar fosil. Ketergantungan tersebut sangat berdampak buruk bagi kehidupan umat manusia. Penggunaan energi fosil seperti, minyak bumi, batu bara, dan gas alam dalam berbagai kegiatan akan memicu bertambahnya emisi GRK di atmosfer.
II.2.2.3. Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian juga berperan banyak terhadap meningkatnya emisi GRK, khususnya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari sawah yang tergenang. Berdasarkan penelitian sektor pertanian menghasilkan emisi gas metana tertinggi di banding sektor-sektor lainnya.
Sektor peternakan juga tidak kalah dalam mengemisikan GRK, hal tersebut dikarenakan kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana ke atmosfer.
II.2.2.4. Sampah
Sampah turut mengasilkan emisi GRK berupa gas metana walaupun dalam jumlah yang cukup kecil. Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan sekitar 50 kg gas metana.
0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000.
II.2.3. Dampak Perubahn Iklim
Perubahan iklim akan memberikan dampak yang sangat besar pada berbagai sektor, diantaranya:
II.2.3.1. Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian
Perubahan iklim akan menyebabkan pergeseran musim, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang. Hal ini akan menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Sehingga Indonesia harus mengimpor beras dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhannya. Secara otomatis, produktivitas di bidang pertanian juga akan menurun.
II.2.3.2. Dampak Perubahan Iklim terhadap Kenaikan Muka Air Laut
Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan di bawah laut, seperti pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis ikan. Sehingga akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.
Kenaikan muka air laut akan menyebabkan hancurnya tambak-tambak ikan di beberapa daerah, juga dapat merusak terumbu karang yang ada di laut Indonesia.
II.2.3.3. Dampak Perubahan iklim terhadap Ekosistem
II.2.3.4. Dampak Perubahan iklim terhadap Sumber Daya Air
Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan kelestarian air di daerah sub polar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.
II.2.3.5. Dampak Perubahan iklim terhadap Kesehatan
Frekuensi timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan meningkat. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.
II.2.3.6. Dampak Perubahan iklim terhadap Sektor Lingkungan
Dengan lingkungan yang rusak, alam akan lebih rapuh terhadap perubahan iklim. Apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi akan berpotensi menimbulkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
II.2.4. Solusi terhadap Perubahan Iklim
Mengingat perubahan iklim sangat besar dampaknya bagi kehidupan manusia dan bumi, maka kita harus mengadakan solusi untuk mengatasinya. Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan, diantaranya:
1) Melakukan perbaikan dari sektor kehutanan. Seperti mengadakan reboisasi, menanamkan prinsip tebang pilih dan tebang tanam pada generasi penerus, juga terhadap pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan hutan.
dari 2 menit. Selain itu kita juga dapat mengganti lampu di rumah, dikantor dan tempat lainnya dengan lampu hemat energi, dan mematikan lampu pada malam hari.
3) Produksi daging membutuhkan air, biji-bijian, tanah, dan lainnya dalam jumlah besar termasuk hormon dan antibiotik, serta menyebabkan polusi tanah, udara, dan air. Untuk menghasilkan satu pon daging sapi membutuhkan sekitar 12.000 galon air, bandingkan dengan 60 galon air untuk satu pon kentang. Jika Anda seorang pemakan daging, untuk pemula, cobalah tidak makan daging sekali dalam seminggu. Menjadi vegetarian atau vegan merupakan pilihan yang sangat berarti bagi lingkungan.
4) Perlakuan terhadap sampah adalah dengan jalan mendaur ulangnya. Membakar sampah sama artinya dengan memindahlan sampah tersebut ke udara.
II.2.5. Strategi dalam menanggulangi perubahan iklim
II.2.5.1. Antisipasi
Antisipasi dilakukan untuk menyiapkan tindakan mitigasi dan adaptasi berdasarkan kajian dari dampak perubahan iklim terhadap :
1) Sumberdaya pertanian seperti pola curah hujan dan musim, sistem hidrologi dan sumberdaya air,
2) Sarana dan prasarana pertanian, terutama sistem irigasi, dan waduk,
3) Sistem usahatani dan agribisnis, pola tanam, produktivitas, pergeseran jenis dan varietas dominan.
II.2.5.2. Mitigasi
dengan Kiyoto Protocol) untuk senantiasa berupaya mengurangi (mitigasi) GRK, antara lain melalui; (a) CDM (Clean Development Mechanism), (b) perdagangan karbon (carbon trading) melalui pengembangan teknologi budidaya yang mampu menekan emisi GRK, dan (c) penerapan teknologi budidaya seperti penanaman varietas dan pengelolaan lahan dan air dengan tingkat emisi GRK yang lebih rendah (Sinar Tani, 2010).
II.2.5.3. Adaptasi karakterisasi sumberdaya lahan dan air, (b) penyesuaian dan pengembangan sarana prasarana pertanian, terutama irigasi sesuai dengan perubahan sistem hidrologi dan potensi sumberdaya air, (c) penyesuaian sistem usahatani dan agribisnis, terutama pola tanam, jenis tanaman dan varietas, dan sistem pengolahan tanah (Las, 2007). Proses adaptasi merupakan rangkaian usaha manusia untuk menyesuaiakan diri atau memberi respon terhadap perubahan lingkungan fisik maupun sosial yang terjadi pada waktu tertentu. Perubahan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap adaptasi manusia adalah perubahan lingkungan yang berupa bencana, yaitu kejadian yang mengancam kelangsungan hidup organisme termasuk manusia, sehingga dalam menghadapi perubahan-perubahan lingkungan akibat bencana tersebut, manusia mengembangkan pola adaptasi yang berbentuk pola tingkah laku yang mengikuti perubahan iklim.
BAB III PENUTUP
III.1.
Kesimpulan
Konservasi genetik adalah salah satu cara aplikasi genetik untuk melestarikan berbagai jenis binatang dan tumbuhan sebagai mahkluk hidup yang dinamis yang mampu mengatasi perubahan lingkungan.
Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi atmosfer, seperti suhu, cuaca yang menyebabkan suatu kondisi yang tidak menentu. Perubahan iklim juga dapat dikatakan sebagai, keadaan dimana temperatur di bumi mengalami kenaikan dan pergeseran musim. Aktivitas manusia merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim.
Ada banyak kejadian yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Penyebab-penyebab tersebut adalah :
5) Kehutanan.
Dari tahun ke tahun luas hutan berkurang. 6) Pemanfaatan Energi Bahan Bakar Fosil.
Penggunaan energi fosil seperti, minyak bumi, batu bara, dan gas alam dalam berbagai kegiatan akan memicu bertambahnya emisi GRK di atmosfer.
7) Pertanian dan Peternakan.
Sektor peternakan berperan mengemisikan GRK, hal tersebut dikarenakan kotoran ternak yang membusuk akan melepaskan gas metana ke atmosfer. Sektor pertanian juga terhadap meningkatnya emisi GRK, khususnya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari sawah yang tergenang.
8) Sampah.
III.2.
Saran
Dalam penyusunan makalah ini tentunya masih jauh dari kata kesempurnaan, maka dari itu penulis harapkan kritik dan saran yang membangun mengenai makalah ini untuk kedepannya agar dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://blogs.uajy.ac.id/renitanurhayati/2015/08/29/konservasi-genetik/ (13 Januari 2016)
2. http://ibcraja4.org/assets/file/Buletin04September2013.pdf (13 Januari 2016)
3. http://forda-mof.org/files/Mashudi.pdf (13 Januari 2016)
4. http://seeevil13.blogspot.com/2015/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html (13 Januari 2016)
5.
http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpambon/berita-332-perubahan-iklim-dampak-dan-pengaruhnya.html (13 Januari 2016) 6. Las, Irsal. 2007. Srategi dan Inovasi Antisipasi Perubahan Iklim.
Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian. Jakarta.
7. Intergovernmental Panel on Climate Change,1995. Climate Change 1994. IPCC. Cambridge University Press. London.
8. Budianto, AI. 2001. Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Negara Kepulauan Indonesia, dalam Rajagukguk, E dan Ridwan K, Jakarta.