• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Paket Wisata dalam Pemasaran Kepariwisataan Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Paket Wisata dalam Pemasaran Kepariwisataan Sumatera Utara"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

KERTAS KARYA

OLEH

RATNA PERTIWI

092204037

PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(2)

PERANAN PAKET WISATA DALAM PEMASARAN

KEPARIWISATAAN SUMATERA UTARA

OLEH

RATNA PERTIWI

092204037

Dosen Pembimbing,

Dosen Pembaca,

Drs. Marzaini Manday, MSPD

(3)

Judul Kertas Karya : PERANAN PAKET WISATA DALAM

PEMASARAN KEPARIWISATAAN

SUMATERA UTARA

Oleh

: RATNA PERTIWI

NIM

: 092204037

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dekan,

NIP. 19511013 197603 1 001

Dr. Syahron Lubis, M.A.

PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA

Ketua,

(4)

Kepariwisataan di Indonesia sulit terjamah oleh wisatawan tanpa adanya promosi. Kepariwisataan juga memerlukan fasilitas yang memadai untuk berwisata. Dalam dunia pariwisata upaya promosi dilaksanakan oleh pihak Tour and Travel yang secara tidak langsung telah memasarkan kepariwisataan suatu daerah tujuan wisata yang umumnya dikemas dalam paket wisata. Kertas karya yang berjudul Peranan Paket Wisata Dalam Pemasaran Kepariwisataan Sumatera Utara menguraikan peranan paket wisata dalam memasarkan kepariwisataan yang menjadikan tempat tersebut menjadi tujuan wisata yang dikunjungi oleh wisatawan. Perkembangan suatu daerah tujuan wisata tentunya akan menjadikan kebanggaan sekaligus akan meningkatkan pendapatan daerah tersebut.

(5)

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan berkat dan karunia-Nya kepada penulis akhirnya kertas karya ini dapat

selesai. Kertas karya ini merupakan salah satu syarat akademis untuk mendapatkan

gelar Diploma D-III Pariwisata Bidang Keahlian Usaha Wisata Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa kertas karya ini masih banyak kekurangan yang

disebabkan masih minimnya pengetahuan penulis serta kurangya diktat dan

buku-buku tentang usaha wisata yang menjadi acuan penulis. Tidak ada yang sempurna di

dunia ini, demikian juga penulis yang membuat kertas karya ini tidak luput dari

kekhilafan dan kesalahan. Berdasarkan pemikiran tersebut berdasarkan kerendahan

hati, penulis mengharapkan kritik dan saran ke arah perbaikan yang diperlukan dari

pembaca guna kesempurnaan kertas karya ini.

Dalam menyelesaikan kertas karya ini, penulis telah banyak menerima

bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Oleh sebab itu sudah

selayaknya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas

(6)

3. Drs. Marzaini Manday, MSPD. Selaku dosen pembimbing yang dengan

susah payah mendidik dan membimbing serta meluangkan waktu untuk

penulis dalam menyelesaikan karya ini.

4. Dra. Nur Cahaya Bangun, M.Si. sebagai Dosen Pembaca yang telah

banyak membantu dan memberikan arahan kepada penulis dalam

menyelesaikan kertas karya ini.

5. Seluruh Staf Pengajar pada Program Studi D III Pariwisata Fakultas Ilmu

Budaya Universitas Sumatera Utara.

6. Kepada kedua orang tuaku Sumitro dan Sastriana, yang telah banyak

membantu penulis dari segi doa, moril dan materi dari awal perkuliahan

sampai selesainya kertas karya ini.

7. Saudara-saudara penulis, Agung Pratama dan Gempur Pranata serta

Syamsir yang sudah di anggap abang sendiri oleh penulis yang telah

banyak membantu dan mendukung penulis dari segi doa, moril dan materi

selama penulis menyelesaikan kertas karya ini.

8. Teman-teman Pariwisata Usaha Wisata stambuk 2009 yang telah memberi

dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan kertas karya ini.

9. Buat sahabatku,Vivi, Indah, Puspa, Lila, Fitri, dan yang palin special Oji

dan kemal yang telah membantu penulis dalam penyelesaian karya tulis

(7)

Medan 20 Desember 2012

Penulis,

(8)

ABSTRAKSI ... i

2.2 Komponen Yang Terdapat Dalam Paket Wisata ... 11

2.3 Kedudukan Tour Operator Sebagai Perencana Paket Wisata 14 BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG PROVINSI SUMATERA UTARA ………. 19

3.1 Sejarah Sumatera Utara ... 19

3.2 Letak Geografis dan Kependudukan Wilayah Sumatera Utara ... 25

3.3 Sarana dan Prasarana Kepariwisataan di Sumatera Utara . 29

3.4 Objek Wisata Yang Ada Di Sumatera Utara ... 29

3.5 Perekonomian Masyarakat Sumatera Utara ... 31

BAB IV : PERANAN PAKET WISATA DALAM PEMASARAN KEPARIWISATAAN DI SUMATERA UTARA ……….. 38

4.1 Potensi Produk Wisata Sumatera Utara ... 38

4.2 Pemasaran Terpadu ... 42

4.3 Kebijaksanaan Harga Paket Wisata ... 49

(9)

5.2 Saran ... 54

(10)

Kepariwisataan di Indonesia sulit terjamah oleh wisatawan tanpa adanya promosi. Kepariwisataan juga memerlukan fasilitas yang memadai untuk berwisata. Dalam dunia pariwisata upaya promosi dilaksanakan oleh pihak Tour and Travel yang secara tidak langsung telah memasarkan kepariwisataan suatu daerah tujuan wisata yang umumnya dikemas dalam paket wisata. Kertas karya yang berjudul Peranan Paket Wisata Dalam Pemasaran Kepariwisataan Sumatera Utara menguraikan peranan paket wisata dalam memasarkan kepariwisataan yang menjadikan tempat tersebut menjadi tujuan wisata yang dikunjungi oleh wisatawan. Perkembangan suatu daerah tujuan wisata tentunya akan menjadikan kebanggaan sekaligus akan meningkatkan pendapatan daerah tersebut.

(11)

PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Dewasa ini banyak negara yang sedang berusaha mengembangkan industri

pariwisata di negaranya. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan devisa negara.

Apabila komoditi ekspor tidak memadai untuk memperoleh devisa negara, maka

sektor pariwisata merupakan salah satu jalan untuk mendapatkannya, yaitu dengan

cara menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara sebanyak mungkin.

Di Indonesia sendiri, telah mencapai suatu keadaan dimana pariwisata sangat

diharapkan untuk turut menyelamatkan kelangsungan Pembanguna Nasional. Oleh

karena itu, pemerintah berusaha keras untuk mendorong majunya kepariwisataan di

Indonesia. Dimana sarana dan prasarana yang berhubungan dengan lajunya

kepariwisataan semakin ditingkatkan baik itu hubungan interlokal, perhotelan,

restoran serta fasilitas lain yang dapat membuat wisatawan tertarik untuk tinggal lebih

lama di objek wisata yang dikunjunginya. Pengembangan objek wisata semakin

diperluas ke daerah-daerah yang memiliki potensi sebagai Daerah Tujuan Wisata

(DTW).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu diambil langkah-langkah dan pengaturan yang lebih terarah berdasarkan kebijaksanaan yang terpadu antara lain

(12)

prasarana serta meningkatkan mutu dalam kelancaran pelayanan, memperluas

pemasaran paket wisata ke negara-negara tetangga seperti di Eropa, Amerika Utara,

Australia, Jepang. Namun pada masa kini, paket wisata masih belum begitu gencar

atau dipromosikan. Hal ini disebabkan koordinasi dalam pembuatan paket wisata

belum terorganisir secara memadai, mungkin karena paket wisata kita yang belum

mampu bersaing dengan paket wisata dari negara-negara lain.

Kertas karya ini akan membahas tentang upaya peningkatan promosi yang

dilakukan oleh pemerintah khususnya di Sumatera Utara, dengan kertas karya yang

berjudul “Peranan Paket Wisata Dalam Pemasaran Kepariwisataan Sumatera

Utara”.

1.2 Batasan Masalah

Sebelum mengkaji topik tulisan ini secara terperinci, terlebih dahulu penulis

membuat batasan atau ruang lingkup permasalahan. Batasan masalah ini bertujuan

untuk spesifikasi topik, agar pembahasan tidak telalu luas serta menyimpang dari

judul, namun tetap dalam lingkup yang relevan dengan pokok bahasan.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka batasan masalah yang akan diteliti

dalam kertas karya ini adalah : aktifitas kegiatan paket wisata di Sumatera Utara.

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

(13)

1.3.1 Tujuan Umum

1. Sebagai salah satu syarat akademis untuk menyelesaikan pendidikan dan

memperoleh gelar Ahli Madya Pariwisata pada program studi pariwisata

bidang keahlian Usaha Wisata di Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Sumatera Utara.

2. Kertas karya ini diharapkan dapat menambahkan ilmu bagi pembaca.

3. Kertas karya ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk pengembangan

objek wisata.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui upaya-upaya yang harus dilakukan dalam

peningkatan peranan paket wisata di Sumatera Utara

2. Menambah wawasan penulis dan pembaca khususnya mengenai cara

peningkatan sistem terbaru dalam pembuatan paket wisata yang lebih

efektif dan efisien.

3. Agar dapat membandingkan antara teori yang diperoleh penulis selama

duduk di bangku perkuliahan dengan kenyataan yang penulis alami

pada saat observasi di daerah tersebut.

4. Melatih penulis untuk mengembangkan kreatifitas dalam membuat

(14)

1.4Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.4.1 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah

daerah setempat sebagai salah satu instansi yang berwenang dalam

pengambilan kebijakan dalam pembuatan paket wisata di daerah tersebut, dan

diharapkan juga memberi manfaat bagi masyarakat setempat.

1.4.2 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan

ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan upaya-upaya peningkatan pemasaran

paket wisata khususnya di Sumatera Utara.

1.5 Metode Penulisan

Penulisan kertas karya ini berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian

terhadap objek yang diteliti sehingga diperoleh data-data yang aktual dan objektif.

Adapun metode dan teknik yang digunakan dalam menyelesaikan kertas karya ini

adalah :

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Data yang diperoleh merupakan hasil pengamatan secara langsung di lapangan.

Dalam hal ini, penulis melaksanakan observasi secara berkala selama sebulan di

(15)

2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Teknik pengumpulan data berupa teori-teori, pendapat dan peraturan-peraturan yang

ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Selain itu penulis juga

mengumpulkan data dari buku-buku, majalah yang berhubungan dengan hal yang

diteliti penulis.

1.6 Sistematika Penulisan

Agar penulisan kertas karya ini tersusun secara sistemtis maka penulis

membaginya ke dalam 5 bab berikut ini :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan tentang alasan pemilihan judul, batasan masalah,

tujuan penulisan, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika

penulisan.

BAB II : URAIAN TEORITIS

Bab ini menguraikan tentang pengertian paket wisata,

komponen-komponen yang terdapat dalam paket wisata, dan kedudukan tour

operator sebagai perencana paket wisata.

BAB III : TINJAUAN UMUM PROVINSI SUMATERA UTARA

Menguraikan tentang sejarah Sumatera Utara, letak geografis dan

kependudukan wilayah Sumatera Utara, sarana dan prasarana

kepariwisataan di Sumatera Utara, objek-objek wisata yang terdapat di

(16)

BAB IV : PERANAN PAKET WISATA DALAM PEMASARAN KEPARIWISATAAN SUMATERA UTARA

Merupakan bab utama yang menguraikan potensi produk wisata di

Sumatera Utara, pemasaran terpadu, kebijaksanaan harga paket, dan

kelebihan dan kelemahan paket wisata di Indonseia.

(17)

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1 Pengertian Paket Wisata

Mengingat keberhasilan daerah Sumatera Utara dalam meraih jumlah

wisatawan yang datang pada setiap tahunnya memperlihatkan kecendrungan yang

terus meningkat. Keberhasilan ini adalah berkat adanya peran aktif dari tiap-tiap

perusahaan yang bergerak dalam insdustri pariwisata baik oleh tiap resort atau daerah

tujuan wisata denga masing-masing objeknya sendiri-sendiri dan kemudian

meningkat oleh sebuah badan atau perhimpunan atau instansi pemerintahan.

Dapat dibayangkan betapa banyaknya jasa yang diperlukan oleh wisatawan

jika hendak melakukan perjalanan wisata, semenjak ia berangkat sampai ia kembali

kerumahnya. Jasa yang dibutuhkannya tidak hanya dihasilkan oleh suatu perusahaan

saja, tetapi dihasilkan oleh banyak perusahaan yang berbeda fungsi dan proses

pemberian pelayanannya. Jadi ada serangkaian perusahaan yang menghasilkan jasa

yang diperlukan wisatawan. Oleh karena itu produk industri pariwisata merupakan

suatu “paket wisata” baik perjalanan itu di urus sendiri (independent tour) atau diurus

oleh Tour Operator dalam suatu “paket wisata” dengan “itinerary” yang telah

dipersiapkan terlebih dahulu.

Dari keterangan diatas dapat diketahui sekedar menjadi bahan perbandingan

bagi kita tentang pengertian dari paket wisata. Paket wisata dapat diartikan sebagai

(18)

kunjungan yang disusun dari berbagai fasilitas perjalanan tertentu mencakup biaya

pengangkutan, akomodasi, transfortasi dalam suatu acara perjalanan yang tetap, serta

dijual dengan harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen dari perjalan

wisata.

Paket wisata menurut Desky (2003 : 23) adalah : “ paket wisata merupakan perpaduan beberapa produk wisata minimal dua produk, yang dikemas menjadi satu kesatuan harga yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sementara itu produk wisata mempunyai pengertian totalitas pengalaman seorang wisatawan sejak ia meninggalkan suatu tempat ke tempat ia berangkat”.

Menurut Bojamic dan Calantone, (1990 dalam Oppewal dan

Rewtrakunphaibon, 2004:183) “Paket wisata adalah suatu kombinasi dari banyak komponen-komponen dari suatu produk wisata yang saling bergabung terdiri dari transportasi, pemondokan, atraksi wisata dan makanan yang dijual kepada wisatawan pada suatu harga. Menurut Sheldon dan Mark, (1987 dalam Oppewal dan Rewtrakunphaibon, 2004:183), jenis paket wisata menurut penggunaannya dibedakan menjadi dua yaitu paket wisata yang sederhana adalah paket wisata dasar yang umumnya hanya terdiri dari transportasi dan pemondokan saja dan paket wisata yang ekslusif yaitu paket wisata yang menawarkan berbagai kegiatan dan program liburan

yang terdiri dari atraksi wisata, makanan dan juga didampingi oleh guide dalam

kegiatannya

Oka A. Yoeti (2001;112) mendefenisikan paket wisata adalah: “suatu perjalanan wisata yang direncanakan dan diselenggarakan oleh suatu travel agent atau biro perjalanan atas resiko atas resiko dan tanggung jawab sendiri, yang acara lamanya waktu wisata, tempat-tmpat yang akan dikunjungi, akomodasi, transportasi, makanan dan minuman telah ditentukan oleh biro perjalanan dan telah ditentukan jumlahnya”.

Menyadari akan pentingnya kepuasan wisatawan, maka perlu dilakukan

inovasi dalam usaha pengembangan produk, hal ini dikarenakan pengembangan

kepariwisataan senantiasa diikuti oleh perubahan pola perjalanan wisatawan dan

perubahan minat wisatawan terhadap produk wisata yang diharapkan. Tujuan dari

paket wisata itu sendiri memberikan kemudahan bagi wisatawan dalampelaksanaan

(19)

terlebih dahulu apa yang akan dilakukan, apa saja yang akan dia dapatkan, berapa

biaya yang harus dikeluarkan, dan hal-hal yang berkaitan dalam paket wisata yang

ditawarkan.

Menurut Morrison (2002 : 326) paket wisata dibagi menjadi empat bagian yang terdiri dari :

1. Unsur-unsur paket

2. Target pasar

3. Jangka waktu dan penggunaan

4. Susunan perjalanan

1. Klasifikasi unsur-unsur paket wisata :

a. All-Inclusive Packages. Merupakan istilah umum untuk paket wisata

dimana meliputi semua kebutuhan yang diperlukan oleh wisatawan untuk perjalanan mereka dari tiket pesawat, penginapan, transportasi darat dan laut, makanan, atraksi wisata dan hiburan, pajak dan uang tips.

b. Escorted Tours. Yaitu merupakan paket wisata dimana wisatawan

mengikuti susunan kegiatan yang sudah direncanakan dan dalam

perjalanan mereka didampingi oleh travel guide. Paket wisata ini

sudah mencakup semua kebutuhan perjalanan, dan juga ada beberapa pilihan bagi wisatawan yang ingin mengatur jadwalnya sendiri seperti aktivitas kegiatan & menu makanan.

c. Fly-Drive Package. Merupakan paket wisata yang menyediakan jasa

perjalanan menggunakan pesawat terbang dan menyiapkan mobil sewaan bagi wisatawan di daerah tujuan.

d. Fly-Cruise Packages. Merupakan paket wisata yang menyediakan jasa

pelayanan penerbangan dan melakukan pelayaran di daerah tujuan.

e. Fly-Rail Packages. Merupakan kombinasi paket antara perjalanan

udara dan kereta api.

f. Rail-Drive Packages. Merupakan gabungan dari layanan kereta api

dan penyewaan mobil di daerah tujuan.

g. Accommodation and Meal Packages. Sebagian besar resort dan hotel

menawarkan paket wisata dengan memasukan jasa akomodasi lengkap dengan makanan yang ditawarkan.

h. Event Packages. Paket yang menawarkan berbagaikegiatan special

seperti festival, hiburan dan pagelaran kebudayaan sebagai atraksi wisata yang ditawarkan.

i. Packages With Programming for Special Interests. Paket ini

(20)

j. Local attraction or Entertainment Packages. Paket ini menawarkan atraksi wisata dan hiburan di daerah setempat (lokal) kepada wisatawan tanpa memasukan usaha jasa pondokan di dalamnya

2. Klasifikasi target pasar. Paket dibuat untuk memenuhi kebutuhan target pasar tertentu. Meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Incentive Packages or Tours. Dibuat oleh berbagai kelompok dan

individu, mencakup para perantara biro perjalanan (full-service incentive companies, perusahaan khusus membuat perjalanan

incentive, travel agents, corporate travel manager, perencanan

kegiatan meeting & convention, pemasok (perusahaan akomodasi, cruise lines dan berbagai taman bermain, airlines, dan organisasi pemasaran daya tarik wisata).

b. Convention/meeting Packages. Hampir semua resort, hotel dan pusat

konvensi menjual paket convention dan meeting. Secara normal paket convention & meeting meliputi akomodasi dan makanan, tetapi juga ada yang termasuk local tours mengunjungi daya tarik wisata setempat dan program khusus.

c. Affinity Group Packages or Tours. Merupakan jenis paket yang

menyediakan berbagai kegiatan untuk perkumpulan, biasanya kegiatan agama, sosial dan etnis.

d. Family Vacation Packages. Merupakan jenis paket yang menyediakan

berbagai kegiatan untuk keluarga (anak dan orang tua) dan menambahkan kegiatan untuk anak-anak.

e. Packages for Secial-Interest Groups. Paket ini dibuat untuk

menyediakan kegiatan bagi para grup peminat wisata minat khusus. 3. Klasifikasi paket menurut jangka waktu dan penggunaan. Sepertiga cara untuk

menggolongkan paket menurut jangka waktu dan penggunaan, berikut adalah contohnya:

a. Weekend & Minivation Packages (paket wisata untuk akhir pecan yang

waktunya kurang dari enam malam)

b. Holiday Packages (paket wisata yang digunakan pada waktu hari liburan

dan hari raya atau hari besar lainnya).

c. Seasonal Packages (paket wisata yang digunakan pada musim cuaca

tertentu seperti paket musim dingin, semi, panas dan gugur)

d. Pre-and Post Convention Packages and Tours (paket wisata yang

digunakan sebelum atau sesudah kegiatan convention dan meeting.

e. Other Specific Length Packages or Tours (paket wisata yang digunakan

dalam jangka waktu ang lama, 1-2 minggu)

f. Off-peak Special (paket wisata yang digunakan ketika waktu week-day

atau hari biasa

(21)

a. Foreign Independent Tour (FIT) merupakan sebuah paket wisata dibuat oleh travel agents atau dibuat oleh biro perjalanan luar negeri yang membuat susunan perjalanan sesuai dengan keinginan wisatawan dari luar negeri yang ingin berwisata.

b. Group Inclusive Tour (GIT) Inclusive Packages kebanyakan menetapkan

ukuran minimum kepada satu atau lebih grup dalam melakukan perjalanan (wisata) dan perjalanan udara yang mereka sewa/gunakan.

c. Charter Tour, merupakan sebuah perjalanan yang menggunakan paket

dimana pesawat dan peralatan akomodasi lainnya telah disewa oleh biro perjalanan wisata, agen perjalanan, individual atau kelompok.

d. Destination Packages, merupakan sebuah paket dapat dikategorikan oleh

ciri-ciri daerah tujuan tersebut. Paket wisata dibuat dengan melihat keadaan daerah tujuan wisata.

2.2 Komponen – Komponen yang Terdapat dalam Paket Wisata

Sehubungan dengan komponen-komponen paket wisata yang bersifat fragmented supply versus composite demand, Yoeti (2002:8) menjelaskan bahwa “produk industri pariwisata itu merupakan kumpulan dari beberapa produk perusahaan-perusahaan sebagai penyedia jasa yang satu dengan lain berpisah (fragmented supply) dan berbeda dalam hal lokasi, fungsi, pemilik, manajemen dan produk seperti hotel, sarana transportasi, restoran, obyek dan atraksi wisata dan sejenisnya. Pada kenyataannya, permintaan suatu paket wisata selalu dalam bentuk kombinasi atau campuran (composite demand) dari beberapa produk”.

Paket wisata ditinjau dari perspektif ekonomi dapat dianggap sebagai suatu

produk. Bentuk atau produk dari paket wisata merupakan penggabungan atau

pengemasan dari obyek dan atraksi wisata, akomodasi, transportasi, makanan dan

lain-lain. Biro Perjalanan Wisata (BPW) atau istilah tour operator merencanakan

komponen-komponen mana yang akan dipilih dan dikemas untuk memenuhi

kepuasan wisatawan. Pemilihan , pengemasan dan penyusunan komponen-komponen

wisata yang dilakukan oleh tour operator ditujukan untuk memenuhi kebutuhan

(22)

Secara keseluruhan proses produksi wisata mencakup komponen masukan,

proses, dan keluaran yang dapat dijelaskan bahwa komponen yang dikandung pada

setiap tahapan terdiri dari masukan, berintikan kegiatan perencanaan yaitu kegiatan

merencanakan produk dan perlakuan terhadap produk tersebut. Proses, berintikan

kegiatan pengorganisasian dan penggerakan, yaitu mengkonsolidasikan, membagi

tugas, dan tanggung jawab kepada tiap-tiap komponen dan factor yang direncanakan

terlibat dalam wisata. Bentuk kegiatannya dapat berupa pemesanan tempat untuk

transportasi, kamar hotel, makanan di restoran, penerbitan guide order, kepada

pramuwisata yang akan melaksanakan tugasnya dan sebagainya. Selanjutnya

mewujudkan rencana tersebut dalam kegiatan nyata berupa penyelenggaraan wisata.

Dalam penyelenggaraan wisata inilah semua aspek yang terlibat dalam wisata akan

difungsikan. Kendaraan yang telah dipesan diberangkatkan, pramuwisata yang telah

diberi tugas melaksanakan tugasnya, restoran menyiapkan makanan, hiburan

dipertunjukkan dan seterusnya: keluaran yang tak lain adalah produk (wisata) itu

sendiri, berintikan kegiatan pengawasan atau evaluasi atas penyelenggaraan wisata.

Evaluasi dapat bermakna ganda. Pertama, bahwa wisatawan diperkenankan untuk

mengisi tanggapan atas wisata yang telah diikuti dalam senuah blangko yang berisi

daftar pertanyaan yang biasa disebut kuisioner. Evaluasi secara tersurat juga dapat

dilakukan oleh penanggung jawab penyelenggaraan wisata yang dilakukan dengan

membuat laporan wisata atau biasa disebut tour report. Kedua, makna tersirat, yakni

kesan dan tingkat pengalaman yang diraskan oleh wisatawan yang dapat dibaca

(23)

berlangsung: dan evaluasi yang telah dilakukan dapat dipakai sebagai umpan balik

bagi perencanaan berikutnya.

Keberhasilan paket wisata dalam industri pariwisata harus didukung oleh

berbagai faktor yang mendukungnya sehingga kemasan jasa dapat memberikan

manfaat sebagai program pemasaran yang baik kepada wisatawan dan organisasi

pariwisata yang membuatnya. Komponen di dalam packaging saling bergabung dan

berhubungan satu sama lain dan menjadi salah satu acuan bagi perusahaan dalam

membuat paket wisata. Packaging merupakan salah satu cara dalam pemasaran untuk

mendekati pelanggan potensial, yaitu para wisatawan yang ingin melakukan

perjalanan wisata tetapi tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk mengatur dan

merencanakan waktu liburannya.

Komponen-komponen yang ada dalam packaging akan menentukan kualitas

dari sebuah paket wisata untuk itu paket wisata dibuat dengan sebaik mungkin agar

dapat mempengaruhi wisatawan untuk menggunakannya. Komponen yang ada dalam

paket wisata harus saling mendukung dan melengkapi karena menjadi syarat mutlak

dalam membuat paket perjalanan wisata. Paket wisata terdiri dari berbagai komponen

yang saling bergabung seperti atraksi wisata, daya tarik wisata, akomodasi,

transportasi, makanan dan minuman,susunan perjalanan, program perjalanan, dan

berbagai macam produk pariwisata yang mendukung kegiatan perjalanan wisata

(24)

2.3 Kedudukan Tour Operator Sebagai Perencana Paket Wisata

Hingga saat ini pengertian tentang Travel Agent dan Tour Operator masih

belum dipahami benar oleh kebanyakan orang. Karena itu terjadi kekaburan dalam

pengertian kedua istilah tersebut. Kekaburan itu semakin bertambah lagi karena

masih banyak istilah lain yang digunakan sebagai pengganti kata Travel Agent,

misalnya ; Travel Service, Travel Bureau, Tourist Bureau atau Tours and Travel

Services.

Sepintas kelihatannya kegiatan perusahaan tersebut adalah sama atau hamper

sama, yaitu memberikan informasi dan pelayanan bagi orang-orang yang akan

melakukan perjalanan pada umumnya dan perjalanan wisata pada khususnya.

Surat Keputusan Direktur Jenderal Pariwisata No.Kep.16/U/II/88 Tgl. 25

Februari 1988 tentang pelaksanaan Ketentuan Usaha Perjalanan, pada Bab I

Penelitian Umum Pasal I, member pengertian dengan batasan sebagai berikut:

a. Usaha Perjalanan adalah kegiatan usaha yang bersifat komersial yang

mengatur, menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan bagi seseorang, sekelompok orang, untuk melakukan perjalanan dengan tujuan utama untuk berwisata.

b. Biro Perjalanan Umum adalah badan usaha yang menyelenggarakan kegiatan

kegiatan usaha perjalanan ke dalam negeri dan atau di dalam negeri dan atau ke luar negeri.

c. Cabang Biro Perjalanan Umum adalah salah satu unit usaha Biro Perjalanan

Umum, yang berkedudukan di wilayah yang sama dengan kantor pusatnya atau di wilayah lain, yang melakukan kegiatan kantor pusatnya

d. Agen Perjalanan, adalah badan usaha yang menyelenggarakan usaha

(25)

e. Perwakilan, adalah Biro Perjalanan Umum, Agen Perjalanan, badan usaha lainnya atau perorangan, yang ditunjuk oleh suatu Biro Perjalanan Umum yang berkedudukan di wilayah lainuntuk melakukan kegiatan yang diwakilkan, baik secara tetap, maupun tidak tetap.

Jika kita perhatikan batasan tersebut di atas maka kita memperoleh dua

pengertian, bahwa di samping Agen Perjalanan (Travel Agent) dijumpai juga Biro

Perjalanan (Travel Bureau) yang mempunyai kegiatan berbeda satu dengan yang lain.

Sesuai dengan isi Pasal 4 Bab II Surat Keputusan tersebut di atas, Biro

Perjalanan Umum, ruang lingkup kegiatan usahanya terdiri dari:

1. Membuat, menjual dan menyelenggarakan paket wisata.

2. Mengurus dan melayani kebutuhan jasa angkutan bagi perorangan dan atau

kelompok orang yang diurusnya.

3. Melayani pemesanan akomodasi, restoran dan sarana wisata lainnya.

4. Mengurus dokumen perjalanan

5. Menyelenggarakan panduan perjalanan wisata.

6. Melayani penyelenggaraan konvensi.

Sedangkan ruang lingkup Agen Perjalanan mencakup kegiatan usaha sebagai berikut:

1. Menjadi perantara di dalam pemesanan tiket angkutan udara, laut dan darat.

2. Mengurus dokumen perjalanan.

3. Menjadi perantara di dalam pemesanan akomodasi, restoran dan saranan

wisata lainnya.

4. Menjual paket-paket wisata yang dibuat oleh Biro Perjalanan Umum.

Pendit (1999 : 26) memberikan pengertian tentang perusahaan perjalanan atau

Travel Agent atau Travel Bureau sebagai berikut: “Travel Bureau atau Travel Agency

adalah perusahaan yang mempunyai tujuan untuk menyiapkan suatu perjalanan

(dalam bahasa asingnya: trip atau tour) bagi seseorang yang merencanakan untuk

(26)

Sedangkan Darmadjati (2001 : 28) memberikan batasan yang sama tentang

Travel Agency dan Tour Operator maupun Travel Bureau. Menurutnya yang

dimaksud dengan Travel Agency adalah,” … perusahaan yang khusus mengatur dan

menyelenggarakan perjalanan dan persinggahan orang-orang, termasuk kelengkapan

perjalanannya, dari suatu tempat ke tempat lain, baik di dalam negeri, ke luar negeri

atau dalam negeri itu sendiri.

Dari uraian dan pengertian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Bila suatu perusahaan perjalanan itu kegiatannya hanya melakukan:

a. Sebagai perantara dalam pemesanan tiket, angkutan udara, laut dan darat

b. Mengurus dokumen perjalanan

c. Menjadi perantara dalam pemesanan akomodasi, restoran dan sarana

wisata lainnya.

d. Menjual paket-paket wisata yang dibuat oleh Biro Perjalanan Umum.

Maka perusahaan perjalanan semacam ini dapat disebut sebagai Agen

Perjalanan (Travel Agent) atau Travel Services.

2. Bila suatu perusahaan perjalanan itu kegiatannya hanya melakukan kegiatan:

apa yang dilakukan oleh Agen Perjalanan, seperti tersebut diatas, melakukan

(27)

a. Mengatur, menyediakan dan menyelenggarakan perjalanan bagi

seseorang, sekelompok orang, untuk melakukan perjalanan dengan tujuan

utama untuk pariwisata.

b. Usaha perjalanan ke dalam negeri dan atau di dalam negeri dan atau ke

luar negeri.

c. Melayani pemesanan akomodasi, restoran dan sarana wisata lainnya.

d. Mengurus dokumen perjalanan.

e. Menyelenggarakan panduan perjalanan wisata

f. Melayani penyelenggaraan konvensi

Maka perusahaan perjalanan semacam ini dapat dikategorikan sebagai Biro

Perjalanan Umum atau dapatpula disebut Tours and Travel Services dan dapat pula

disamakan dengan Tour Operator.

Suatu perusahaan dapat disebut sebagai Tour Operator bila kegiatan utama

perusahaan tersebut ditekankan pada perencanaan (planning) dan penyelenggaraan

(arrangement) perjalanan wisata (tours) atas inisiatf sendiri dan tanggung jawab

sendiri dengan tujuan untuk mengambil keuntungan dari penyelenggaraan perjalanan

tersebut. Sedangkan kegiatan lain dapat dikatakan sebagai melengkapi saja untuk

melancarkan kegiatan utamanya. Atas dasar pemikiran tersebut, batasan tentang Tour

Operator adalah sebagai berikut, ‘’Tour Operator adalah suatu perusahaan yang

usaha kegiatannya merencanakan dan menyelenggarakan perjalanan orang-orang

(28)

mengambil keuntungan dari penyelenggaraan perjalanan tersebut”. Perlu dicatat ,

bahwa yang menjadi suatu Tour Operator tidak selalu suatu perusahaan perjalanan,

tetapi dapat pula suatu maskapai penerbangan dalam rangka menjual tempat duduk

pesawatnya dan dapat pula suatu hotel yang terletak pada suatu “tourist resort” dalam

(29)

BAB III

TINJAUAN UMUM PROVINSI SUMATERA UTARA

3.1 Sejarah Sumatera Utara

Sumatera Utara lahir tanggal 15 April 1948 dengan wilayah mencakup tiga

keresidenan, yaitu Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Ibu kotanya waktu itu belum

di Medan, melainkan di Kutaraja, sekarang Banda Aceh. Gubernur Sumatera Utara

yang pertama dijabat oleh Mr. S.M. Amin. Berdasarkan penemuan arkeologi,

Sumatera Utara diketahui dihuni sejak zaman Mesolitikum. Penghuninya disebut

sebagai orang Austro Melanesoid, banyak mendiami daerah muara sungai. Pada

tahun 2000 SM, Sumatera Utara mulai dihuni oleh orang Proto Melayu dan kemudian

dihuni pula oleh orang Deutro Melayu yang berasal dari daerah bagian selatan Cina.

Pada awal Masehi, penghuni Sumatera Utara sudah menjalin hubungan

dagang dengan orang-orang dari India dan Cina. Sekitar tahun 775 Masehi, Sumatera

Utara termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Pemerintahan dengan

sistem Kerajaan di Sumatera Utara muncul pada abad 15, yaitu dengan munculnya

Kerajaan Nagur, Aru, Panai, dan Batangiou. Pada suatu ketika, terjadi peperangan

antara Kerajaan Nagur dan Kerajaa Batangiou yang dimenangkan oleh Kerajaan

Nagur. Karena kemenangan dalam peperangan tersebut, Kerajaan Nagur menjadi

(30)

didirikan oleh keturunan Sisingamangaraja, yaitu Kerajaan Batak. Kerajaan ini

kemudian mencakup seluruh Tapanuli, sampai ke Angloka, Mandailing, dan Dairi.

Sementara itu, di daerah pesisir timur Sumatera Utara terdapat sebuah kerajaan besar

bernama Kerajaan Aru. Wilayahnya meliputi daerah yang sangat luas, dari perbatasan

Aceh sampai ke muara sungai Barumun, meliputi daerah Langkat, Deli Serdang,

Asahan, dan Labuhan Batu.

Ketiga kerajaan di atas, yaitu, Nagur, Batak, dan Aru terus menerus terlibat

persaingan memperebutkan hegemoni di wilayah Sumatera Utara. Kekuasaan

Kerajaan Nagur semakin luas, meliputi daerah pedalaman Asahan, Serdang Hulu,

Tanah Karo sampai ke daerah Gayo atas, meliputi seluruh daerah pedalaman bagian

utara Sumatera Utara. Sementara itu Kerajaan Batak (Sisingamangaraja) memperluas

pengaruhnya ke seluruh Tapanuli, beberapa daerah di tanah Karo, bahkan kemudian

merebut wilayah Simalungun yang sebelumnya di bawah kekuasaan Kerajaan Nagur.

Sedangkan Kerajaan Aru, ketika itu mendapat ancaman dari tiga kekuasaan besar di

Selat Malaka, yaitu, Aceh, Portugis, dan Johor. Untuk menghindari ancaman itu,

pusat Kerajaan Aru dipindah ke daerah pedalaman, yaitu di Deli Tua, sekarang

wilayahnya sekitar sepuluh kilometer dari Medan.

Pengaruh Aceh ke Sumatera Utara masuk pada abad 17. Seorang Panglima

Aceh bernama Gocah Pahlawan dating ke Deli Tua dan menikah dengan putrid Wan

Baluan dari Sunggal. Gocah Pahlawan inilah yang menurunkan raja-raja Deli dan

(31)

direbut oleh Siak. Siak kemudian menyusun pemerintahan berdasarkan aturan

Minangkabau. Pada abad 19, pengaruh Belanda mulai masuk. pada tanggal 1 Februari

1859, Siak menandatangani penjanjian penting dengan Belanda. Isinya adalah

pengakuan dari penguasa Siak bahwa daerahnya termasuk dalam kekuasaan Belanda.

Belanda juga diizinkan membangun pangkalan di Bengkalis dan daerah yang dirasa

perlu. Belanda juga diizinkan bila perlu, mengutip pajak di daerah-daerah kekuasaan

Siak. Belanda kemudian mengangkat seorang Asisten Residen di Siak. Kekuasaan

Belanda ketika itu meliputi seluruh daerah jajahan Siak, yaitu daerah pesisir timur

Sumatera. Sementara itu, di wilayah pesisir barat Sumatera Utara, kekuasaan Belanda

mulai masuk sejak berakhirnya perang Paderi di Sumatera Barat. Untuk wilayah

tanah batak pedalaman, cengkraman kekuasaan Belanda ditandai dengan adanya

"perjanjian tembaga". Penjanjian tersebut berisi permintaan bantuan raja Gedombang

dari Mandailing terhadap Belanda untuk menghadapi Paderi. Dengan adanya

perjanjian tersebut, Belanda mulai menancapkan pengaruhnya di pedalaman

Sumatera Utara. Selain itu, Belanda juga menyerang dan memduduki Pulau Nias pada

tahun 1863.

Pada tahun 1834, Belanda mendirikan Keresidenan Tapanuli. Pusat

keresidenan berada di Sibolga dan menguasai empat daerah afdeling, yaitu, Sibolga

en Omstreken, Angkola en Sipirok, Batakladen, dan Nias. Pada tanggal 1 Maret

1887, Belanda membentuk keresidenan di daerah Sumatera Timur. Keresidenan

(32)

Serdang, Simalungun dan Karolanden, Langkat, dan Asahan. Perluasan kekuasaan

Belanda itu, banyak menimbulkan perlawanan rakyat. Namun, semua perlawanan

tersebut tidak diorganisir dengan baik dan selalu dalam kekuatan yang kecil sehingga

Belanda dapat meredam semua perlawanan tersebut. Perlawanan sengit baru terlihat

ketika Belanda memperluas kekuasaannya ke daerah pedalaman, yaitu, tanah Batak.

Perlawanan dipimpin oleh Sisingamangaraja XII. Perlawanan tersebut tersebar luas,

selain di Toba, juga mencapai daerah kekuasaan Sisingamangaraja lainnya seperti

Aceh Tenggara, Dairi, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Toba sebelah selatan.

Perlawanan Sisingamangaraja berlangsung 30 tahun, yaitu dari tahun 1877 sampai

1907. Setelah mematahkan perlawanan Sisingamangaraja ini, berarti Belanda sudah

menguasai Sumatera Utara secara penuh. Perlawanan terhadap Belanda mulai

muncul kembali pada awal abad 20. Kali ini pergerakan lebih secara politik dan

digerakan oleh tokoh-tokoh yang berpendidikan seperti Tan Malaka, Dr. Pirngadi dan

Adenan Nur Lubis. Pada saat itu, banyak bermunculan organisasi-organisasi politik

yang sebagian diantaranya merupakan cabang dari organisai yang berpusat di Jakarta.

Mereka adalah Syarikat Ilam, PNI, Gerindo, Partindo, Al Jami'atul Washliyah, NU,

Muhammadiyah, dan organiasi-organiasi pergerakan lain. Di Tapanuli terdapat pula

organisasi keagamaan, khususnya gereja yang masuk ke daerah ini sejak abad 19.

Pengaruh nasionalisme mulai terasa dalam gereja sekitar tahun 1930. Sejumlah orang

Batak yang tergabung dalam perkumpulan Hatopan Kristen Batak mengkritik gereja

(33)

Pada tanggal 13 Maret 1942, Tentara Jepang memasuki Medan. Mereka

kemudian menduduki Mesjid Raya untuk dijadikan benteng. Dalam waktu ingkat,

pasukan Jepang dapat menduduki kota-kota penting di Sumatera Utara. Raja-raja di

Sumatera Utara kemudian diperintah untuk membantu pelaksanaan berbagai

kebijakan pemerintah Jepang. Jepang memerintah di Sumatera Utara secara

sewenang-wenang, dan menyengsarakan rakyat. Diantara kebijakan yang

menyengsarakan rakyat adalah Romusha. Romusha bertujuan memobilisasi seluruh

rakyat untuk membantu Jepang dalam pembangunan pertahanan di kawasan Asia

Tenggara. Banyak diantara para romusha ini dikirim ke luar negeri seperti Birma,

Thailand dan tempat lain untuk dipekerjakan secara paksa dan tidak manusiawi. Dua

hari setelah Jepang menyerah kepada sekutu, yaitu pada17 Agustus 1945, bangsa

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Di awal kemerdekaan ini, Sumatera

Utara termasuk dalam wilayah provinsi Sumatera. Seperti diuraikan di atas, pada

tanggal 15 April 1948, Sumatera Utara terbentuk dengan wilayah mencakup tiga

keresidenan, yaitu, Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.

Pada tanggal 3 Oktober 1945, Dr. F. Lumbantobing diangkat sebagai residen

Tapanuli. Selanjutnya dilakukan pembentukan KNI di seluruh wilayah yang disertai

dengan pembentukan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Dalam memperingati tiga

bulan proklamasi kemerdekaan, tapatnya tanggal 17 Oktober 1945, di Tarutung

dilakukan rapat umum yang dihariri oleh seluruh rakyat setempat. Dalam kesempatan

(34)

RIS, identitas Sumatera Utara hilang karena wilayahnya masuk dalam Negara

Sumatera Timur. Pada tanggal 15 Agustus 1950, pasca kembalinya RI dari bentuk

RIS ke NKRI, provinsi Sumatera Utara kembali terbentuk dengan wilayah mencakup

tiga keresidenan, yaitu, Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli dengan Medan

ditetapkan sebagai Ibukotanya. Gubernur definitif pertamanya adalah A. Hakim yang

kemudian pada tahun 1953 diganti oleh Mr. S.M. Amin. Pada tahun 1956, Aceh

berdiri sendiri sebagai provinsi, dengan demikian wilayah Sumatera Utara hanya

mencakup wilayah Sumatera Timur dan Tapanuli. Kondisi wilayah ini tetap sampai

sekarang. Pada tahun 1956 ini SM. Amin diganti oleh St. Kumala Pontas yang

menjabat gubernur sampai tahun 1960. Sampai awal terbentuknya rezim Orde Baru,

Sumatera Utara masih disibukan dengan konflik-konflik baik vertikal ataupun

horizontal. Akibat konflik tersebut, empat gubernur berikutnya tidak bisa melakukan

pembangunan. Mereka adalah Raja Junjungan Lubis (1960-1963), Eny Karim

(1963-1963), Ulung Sitepu (1963-1965), dan P.R. Telaumbanua (1965-1967). Pembangunan

daerah baru bisa dilakukan di era Orde Baru. Gubernur yang menjabat pertama di era

Orde Baru adalah Brigjen Marah Halim Harahap (1967-1978). Gubernur berikutnya

adalah Mayjen E.W.P. Tambunan (1978-1983), Mayjen Kaharuddin Nasution

(1983-1988), Mayjen Raja Inal Siregar (1988-1998), Mayjen Teungku Rizal Nurdin

(1998-2005), Rudolf Pardede (2005-2008), dan Syamsul Arifin (2008-2013). sumber(

Diktat, Bahan Informasi Objek Dan Atraksi Wisata Populer 2004 dan Travelicious

(35)

3.2 Letak Geografis dan Kependudukan Wilayah Sumatera Utara 3.2.1 Letak Geografis Wilayah Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau

Sumatera. Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100°

Bujur Timur. Batas-batas wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut:

o Sebelah Utara : Aceh

o Sebelah Barat : Samudera Hindia

o Sebelah Selatan : Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat

o Sebelah Timur : Selat Malaka

Sumatera Utara memiliki luas total sebesar 181.860,65 km² yang terdiri dari luas

daratan sebesar 71.680,68 km² atau 3.73 % dari luas wilayah Republik Indonesia dan

luas lautan sebesar 110.000,65 km² yang sebagian besar berada di daratan Pulau

Sumatera dan sebagian kecil berada di Pulau Nias, Pulau-pulau Batu serta beberapa

pulau kecil, baik di perairan bagian barat maupun di bagian timur Pulau Sumatera dan

memiliki perairan laut seluas 110.000 km² Provinsi Sumatera Utara memiliki 213

pulau yang telah memiliki nama, dengan 6 pulau di wilayah Pantai Timur termasuk

Pulau Berhala sebagai pulau terluar yang berbatasan sengan selat Malaka dan sisanya

207 pulau di wilayah Pantai Barat dengan Pulau Wunga dan Pulau Simuk sebagai

pulau terluar di wilayah Pantai Barat. Secara regional pada posisi geografisnya,

(36)

Malaka yang dekat dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. ( Bahan Informasi

Objek Dan Atraksi Wisata Populer, 2004)

3.2.2 Kependudukan Wilayah Sumatera Utara 3.2.2.1 Suku Bangsa

Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias dan

Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada

umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal,

banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak

dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada

di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera

Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang

dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa

dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku di Sumatera Utara, sebagai berikut :

1. Suku Melayu : Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang

Bedagai, dan Langkat

2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo

3. Suku Batak Toba : Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang

Hasundutan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir

(37)

5. Suku Batak Angkola: Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Padang

Lawas

6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun

7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat

8. Suku Nias : Pulau Nias

9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Kabupaten Batubara, Pesisir barat

10.Suku Aceh : Kota Medan

11.Suku Jawa : Pesisir timur

12.Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir timur & barat. ( Bahan Informasi Dan

Atraksi Wisata Populer 2004)

3.2.2.2 Bahasa dan Agama

Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah Bahasa

Indonesia. Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan Bahasa Indonesia karena

kedekatannya dengan Bahasa Melayu yang menjadi bahasa ibu masyarakat Deli.

Pesisir timur seperi wilayah Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan,

dan Tanjung Balai, memakai Bahasa Melayu dialek "o" begitu juga di Labuhan Batu

dengan sedikit perbedaan ragam. Di Kabupaten Langkat masih menggunakan bahasa

Melayu dialek "e" yang sering juga disebut bahasa Maya-maya. Mayarakat Jawa di

daerah perkebunan, menuturkan Bahasa Jawa sebagai pengantar sehari-hari. Di

(38)

Indonesia. Di pegunungan, masyarakat Batak menuturkan Bahasa Batak yang terbagi

atas empat logat (Silindung-Samosir-Humbang-Toba). Bahasa Nias dituturkan di

Kepulauan Nias oleh suku Nias. Sedangkan orang-orang di pesisir barat, seperti Kota

Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Mandailing Natal menggunakan Bahasa

Minangkabau.

Selain bahasa yang beranekaragam, di Sumatera Utara juga memiliki beragam

agama yang dianut oleh penduduk sekitarnya.Dan agama utama yang dianut di

Sumatera Utara adalah:

• Islam : terutama dipeluk oleh suku Melayu, Pesisir, Minangkabau,Jawa, Aceh,

suku Batak Mandailing, sebagian Batak Karo, Simalungun dan Pakpak

• Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak Karo,

Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Nias

• Hindu : terutama dipeluk oleh suku Tamil di perkotaan

• Budha : terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan

• Konghucu : terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan

• Parmalim : dipeluk oleh sebagian suku Batak yang berpusat di Huta Tinggi

• Animism : masih ada dipeluk oleh suku Batak, yaitu Pelebegu Parhabonaron

dan kepercayaan sejenisnya. ( Bahan Informasi Dan Atraksi Wisata Populer

(39)

3.3 Sarana dan Prasarana Kepariwisataan di Sumatera Utara

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara juga sudah membangun

berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antar

kabupaten maupun antar provinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan

berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja

sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan

telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut

dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, maka Sumatera Utara

dibagi ke dalam empat wilayah pembangunan. ( Bahan Informasi Dan Atraksi Wisata

Populer 2004)

3.4 Objek Wisata di Sumatera Utara

Di Sumatera Utara terdapat beberapa objek wisata yang dapat dkunjungi oleh

wisatawan, pemandangan alam nya yang memukau akan memanjakan wisatawan

yang berkunjung. Di sini juga terdapat satwa liar yang langka dan eksotis di

Indonesia. Kita juga dapat menyaksikan kesenian budaya yang unik, kuno, dan

mempesona. Penduduknya dikenal dengan suku Batak. Beberapa objek wisata yang

(40)

a. Kabupaten Langkat

Di Kabupaten Langkat terdapat objek wisata dengan pesona alam dan satwa

liarnya seperti:

• Bukit Lawang

• Tangkahan

b. Kota Medan

Di kota Medan terdapat beberapa objek wisata kota yang dapat dikunjungi

wisatawan seperti:

• Istana Maimun

• Mesjid Raya Medan

• Rumah Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani

• Gedung Balai Kota lama

• Menara Air (yang merupakan ikon kota Medan)

• Titi Gantung

• Gedung London Sumatera

• Kantor Pos Medan

c. Kabupaten Deli Serdang

Di Kabupaten Deli Serdang terdapat objek wisata :

• Green Hill City

• Sungai Sembahe

(41)

d. Kabupaten Karo

Di Kabupaten Karo terdapat objek wisata alam yang memukau seperti :

• Gundaling

• Mikie Holiday

• Gunung Sibayak

• Gunung Sinabung

• Taman Simalem resort

• Air Terjun Si Piso-piso

• Desa Tongging.

e. Kabupaten Samosir

Terdapat daerah wisata yang terkenal di Kabupaten ini, dan merupakan tujuan

wisata yang banyak dituju oleh wisatawan seperti :

• Danau Toba

• Pulau Samosir

( Bahan Informasi Dan Atraksi Wisata Populer 2004)

3.5Perekonomian Masyarakat Sumatera Utara 3.5.1 Energi

Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam berupa gas alam di daerah

Tandam, Binjai dan minyak bumi di Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat yang

(42)

Kabupaten Asahan juga terdapat PT Inalum yang bergerak di bidang penambangan

bijih dan peleburan alumunium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.

Sungai-sungai yang berhulu di pegunungan sekitar Danau Toba juga merupakan

sumber daya alam yang cukup berpotensi untuk dieksplotasi menjadi sumber daya

pembangkit listrik tenaga air. PLTA Asahan yang merupakan PLTA terbesar di

Sumatera terdapat di Kabupaten Toba Smosir. Selain itu, kawasan pegunungan

terdapat banyak sekali titik-titik panas geothermal yang sangat berpotensi

dikembangkan sebagai sumber energy panas maupun uap yang selanjutnya dapat

ditransformasikan menjadi energi listrik.

3.5.2 Pertanian dan Perkebunan

Provinsi ini tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan

tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh

perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan yang arealnya terdapat di

Sumatera Utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan

PTPN IV. Selain itu Sumatera Utara juga tersohor karena luas perkebunannya.

Hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi.

Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara

menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan

tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun,

(43)

• Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas areal panen tinggal 807.302

hektare, atau turun sekitar 16.906 hektare dibanding luas tahun 2004 yang

mencapai 824.208 hektare. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa

ditingkatkan menjadi berkisar 43,49 kwintal perhektar dari tahun 2004 yang

masih 43,13 kwintal per hektare, dan tanaman padi ladang menjadi 26,26

kwintal dari 24,73 kwintal per hektare. Tahun 2005, surplus beras di Sumatera

Utara mencapai 429 ton dari sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras di

daerah ini.

• Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas areal tanaman karet di Sumut

489.491 hektare dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas

areal karet menurun atau tinggal 477.000 hektare dengan produksi yang juga

anjlok menjadi hanya 392.000 ton.

• Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya di Sumatera Utara seluas 132.254 ha

meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi

mengalami kerusakan sangat kritis.

• Produk Pertanian. Sumatera Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa

sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut

tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan

Tapanuli Selatan. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan

memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain

komoditas perkebunan, Sumatera Utara juga dikenal sebagai penghasil

(44)

Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan

oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura

tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

3.5.3 Perbankan

Selain bank umum nasional, bank pemerintah serta bank internasional, saat ini

di Sumut terdapat 61 unit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 7 Bank Perkreditan

Rakyat Syariah (BPRS). Data dari Bank Indonesia menunjukkan, pada Januari 2006,

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diserap BPR mencapai Rp 253.366.627.000 dan

kredit mencapai Rp 260.152.445.000. Sedangkan aktiva mencapai Rp

340.880.837.000.

3.5.4 Sarana dan Prasarana

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara juga sudah membangun

berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antar

kabupaten maupun antar provinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan

berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja

sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan

telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut

dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, maka Sumatera Utara

(45)

3.5.5

Pertambangan

Ada tiga perusahaan tambang terkemuka di Sumatera Utara:

• Sorikmas Mining (SMM)

• Newmont Horas Nauli (PTNHN).

• Dairi Prima Mineral

3.5.6

Transportasi

Di Sumatera Utara terdapat 2.098,05 kilometer jalan negara, yang tergolong

mantap hanya 1.095,70 kilometer atau 52,22 persen dan 418,60 kilometer atau 19,95

persen dalam keadaan sedang, selebihnya dalam keadaan rusak. Sementara dari

2.752,41 kilometer jalan propinsi, yang dalam keadaan mantap panjangnya 1.237,60

kilometer atau 44,96 persen, sementara yang dalam keadaan sedang 558,46 kilometer

atau 20,29 persen. Halnya jalan rusak panjangnya 410,40 kilometer atau 14,91 persen

dan yang rusak berat panjangnya 545,95 kilometer atau 19,84 persen. Dari sisi

kendaraan, terdapat lebih 1,38 juta kendaraan roda dua dan empat di Sumatera Utara.

Dari jumlah itu, sebanyak 873 ribu lebih berada di Kota Medan.

3.5.7 Bandar Udara

Di Sumatera Utara terdapat 7 bandar udara, terdiri dari 1 bandar udara

(46)

1. Bandar Udara Aek Godang

2. Bandar Udara Binaka

3. Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing

4. Bandar Udara Lasondre

5. Bandar Udara Internasional Polonia

6. Bandar Udara Sibisa

7. Bandar Udara Silangit

3.5.8

Ekspor & Impor

Kinerja ekspor Sumatera Utara cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2004 tercatat perolehan devisa mencapai US$4,24 milyar atau naik

57,72% dari tahun sebelumnya dari sektor ini. Ekspor kopi dari Sumatera Utara

mencapai rekor tertinggi 46.290 ton dengan negara tujuan ekspor utama Jepang

selama lima tahun terakhir. Ekspor kopi Sumut juga tercatat sebagai 10 besar produk

ekspor tertinggi dengan nilai US$3,25 juta atau 47.200,8 ton periode Januari hingga

Oktober 2005.

Dari sektor garmen, ekspor garmen cenderung turun pada Januari 2006. Hasil

industri khusus pakaian jadi turun 42,59 persen dari US$ 1.066.124 pada tahun 2005,

menjadi US$ 2.053 pada tahun 2006 pada bulan yang sama. Kinerja ekspor impor

beberapa hasil industri menunjukkan penurunan. Yakni furniture turun 22,83 persen

(47)

dari US$ 19.771 menjadi US$ 8.237, misteric acid turun 27,89 persen yakni dari US$

115.362 menjadi US$ 291.201, stearic acid turun 27,04 persen dari US$ 792.910

menjadi US$ 308.020, dan sabun noodles turun 26 persen dari AS.689.025 menjadi

US$ 248.053.

Kinerja ekspor impor hasil pertanian juga mengalami penurunan yakni

minyak atsiri turun 18 persen dari US$ 162.234 menjadi US$ 773.023, hasil

laut/udang, minyak kelapa dan kopi robusta juga mengalami penurunan cukup drastis

hingga mencapai 97 persen. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan (nilai di

atas US$ Juta) adalah biji kakao, hortikultura, kopi arabica, CPO, karet alam, hasil

laut (non udang). Untuk hasil industri yakni moulding, ban kendaraan dan sarung

tangan karet.

(48)

BAB IV

PERANAN PAKET WISATA DALAM PEMASARAN KEPARIWISATAAN DI SUMATERA UTARA

4.1Potensi Produk Wisata Sumatera Utara

1. Batasan Lengkap Produk Wisata

Menurut Doswell dalam bukunya How Effective Management Makes

The Difference 1990, Produk Wisata merupakan Total Experience of a

tourist from the moment of Leaving one’s habitat to the moment of

return to it.

2. Hakekat komponen Produk wisata

a. Komplomenter antara satu dengan yang lain, antara lain:

• Faktor-faktor input atau unsur produksi dalam masing-masing

perusahaan / enterprise.

Tourist enterprise yang berbeda-beda

Tourist services enterprise dan tourist attraction.

b. Collective production

c. Kelemahan salah satu mengurangi citra baik keseluruhan

d. Bagaimana sempurnanya fasilitas masih tergantung sepenuhnya pada

unsur manusia pelaksana.

(49)

3. Tourist Attraction

Tourist attractions terdiri dari:

Cultural

Natural

Man – made

Human

4. Cirri-ciri produk Wisata

a. Hasil atau produk industry pariwisata itu tidak dapat dipindahkan.

Karena itu dalam penjualannya tidak mungkin pelayanan itu sendiri

dibawa kepada konsumen, sebaiknya dalam hal ini konsumen

(wisatawan) yang harus datang ke tempat produk tersebut dihasilkan.

b. Pada umumnya peranan perantara tidak diperlukan, karena proses

produksi terjadi pada saat yang bersamaan dengan konsumsi.

Satu-satunya perantara dalam penjualan jasa-jasa industri pariwisata

hanyalah Travel Agent atau Tour Operator saja.

c. Hasil Produksi Wisata tidak dapat ditimbun seperti pada industri

barang lainnya, dimana penimbunan hanya merupakan kebiasaan

untuk meningkatkan permintaan. Pemandangan yang bagus pada

cuaca yang baik, tidak dapat disajikan pada waktu cuaca jelek atau

(50)

d. Hasil atau produk imdustri pariwisata itu tidak mempunyai standart

atau ukuran yang objektif, seperti halnya industri barang lainnya yang

mempunyai ukuran, isi, panjang dan lain-lain. Disini hanya

menggunakan patokan bagus, jelek atau puas tidaknya orang yang

diberi pelayanan.

e. Permintaan terhadap hasil produk industri pariwisata tidak tetap dan

sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non ekonomis. Terjadinya

kekacauan atau peperangan atau bencana alam, akan mengakibatkan

permintaan akan berkurang. Sebaliknya bilamana musim liburan

dengan kondisi normal maka permintaan akan meningkat, sehingga

terjadi kekurangan dalam supply.

f. Calon konsumen (dalam hal ini wisatawan) tidak dapat mencoba atau

mencicipi produk yang dibelinya. Dia hanya dapat melihat dari

brochure, paket tour yang ditawarkan, melalui slides, TV, dan

lain-lain.

g. Hasil atau produk industri pariwisata itu banyak tergantung dari tenaga

manusia dan sedikit sekali yang dapat digantikan dengan mesin.

5. Komponen utama dari produk wisata

a. Atraksi dari suatu daerah tujuan wisata termasuk citra yang

diciptakannya.

b. Fasilitas di daerah tujuan wisata yang terdiri dari akomodasi, catering,

(51)

c. Assesibilitas destinasi tersebut.

Dari uraian di atas dapat dikatakan Sumatera Utara memiliki potensi sebagai

Daerah Tujuan Wisata. Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke

Sumatera Utara disebabkan oleh potensinya yang cukup besar, khususnya dalam hal

objek wisata dan atraksi wisata yang beraneka ragam.

Nilai potensi produk wisata Sumatera Utara terutama disebabkan banyaknya

kekayaan alam dan budaya yang dimiliki daearah wisata ini antara lain keindahan

Danau Toba dengan panoramanya yang menawan, serta iklim yang sejuk dan tetap

terutama disekitar dataran tinggi Karo ; keunikan kebudayaan yang dapat diraba

seperti Nias, Karo, Batak, Melayu, Dairi ; peninggalan purbakala, desa tradisional,

seni suara, upacara adat, serta potensi rekreasi yang kesemuanya merupakan asset

kepariwisataan yang dimiliki daerah Sumatera Utara. Dengan potensi yang cukup

besar itu berarti Sumatera Utara mempunyai resources pariwisata yang kaya. Yang

dimaksud dengan resources pariwisata adalah daya tarik alam, daya tarik budaya dan

daya tarik rekreasi. Disamping resources pariwisata tersebut, masih terdapat resources

pariwisata lainnya seperti kesenian daerah, upacara adat daerah yang dimiliki

masing-masing suku di daerah Sumatera Utara seperti Deli, Simalungun, Karo, Toba, Nias,

Tapanuli Selatan, Pakpak dan sebagainya. Demikian juga folk song dan cerita

dongeng rakyat, hanya belum dikembangkan dan penyajiannya terbatas di daerah

(52)

4.2 Pemasaran Terpadu

Dalam bidang pemasaran banyak usaha yang harus dilakukan oleh manager

perusahaan untuk dapat mempengaruhi calon pembeli, agar pembeli terhadap hasil

produk perusahaan meningkat terus. Pengalaman membuktikan bahwa suatu

perusahaan yang selalu berorientasi dengan pasar, sukses yang diperolehnya banyak

sekali ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan sebagai berikut :

1. Mereka selalu mencoba secara terus menerus dan sistematis melakukan

pandangan jauh kedepan bagi masa depan perusahaanya.

2. Mereka selalu secara teratur mengadakan penelitian pasar untuk dapat untuk

dapat memperoleh data yang terbaru tentang langganannyadan struktur pasar

yang akan dimasukinya.

3. Mereka merencanakan secara sistematis pertumbuhan perusahaannya untuk

jangka pendek, jangka sedang dan jangka panjang, yang sejalan dengan

strategi pemasaran yang dilakukannya.

4. Mereka selalu mencari, mencitakan dan menjual produk-produk baru baru

secara teratur dalam periode tertentu.

5. Mereka menyadari baik perusahaan secara keseluruhannya maupun

(53)

6. Hidup dan matinya perusahaan secara keseluruhan tergantung dari kantong

pembeli, hal yang demikian sangat dihayati oleh pengusaha yang

bersangkutan.

Oleh karena itu banyak atau sedikitnya permintaan terhadap barang dan jasa

yang dihasilkan perusahaan itu, merupakan barometer bagi perusahaan berhasil atau

tidaknya usaha atau tindakan yang dijalankan tersebut.

Dalam pengertian pemasaran, segala faktor yang dapat dikuasai dan dipegang

oleh manager pemasaran untuk mempengaruhi permintaan akan barang-barang dan

jasa hasil produksi suatu perusahaan, disebut pemasaran terpadu (Marketing Mix).

Pengertian mix dapat diartikan sebagai terpadu atau campuran

bermacam-macam unsur, dimana unsur yang satu saling menunjang dan saling mempengaruhi

dalam mencapai suatu tujuan, yang kadang-kadang juga terjadi pertentangan.

Jenis-jenis campuran itu dapat berbentuk kerja sama atau pertukaran tempat atau sebagai

bagian yang dapat saling mengganti.

Suatu contoh yang baik untuk menjelaskan pengertian marketing mix yang

sifatnya lebih merupakan collective marketing adalah inclusive tour, atau dikenal pula

dengan paket wisata. Seperti kita ketahui, paket wisata adalah perjalanan wisata

(54)

• Transportasi ke dan dari daerah tujuan wisata.

• Transfer dari dan ke lapangan udara atau terminal.

• Akomodasi di tempat yang dikunjungi.

• Makan dan minum selama perjalanan

• Lokal transportasi di daerah tujuan wisata

• Sightseeing dan excursion di kota-kota yang dilalui

• Menyaksikan objek dan atraksi wisata di tempat-tempat yang dikunjungi

Dengan perkataan lain suatu paket tour yang penyelenggaraannya bersifat

all-include. Kelihatan bahwa menjual paket tour ini merupakan kombinasi dari penjualan

bermacam-macam produk dari bermacam-macam perusahaan yang satu dengan yang

lainnya berbeda dalam proses produksinya dan dengan harga yang telah ditentukan.

Penjualan paket wisata berupa paket tour ini sangata meguntungkan bagi para

wisatawan karena;

 Menghemat waktu

 Harga relative rendah dibandingkan kalau mengurus sendiri.

 Perjalanan dapat dilakukan tanpa ada keraguan dalam hati

 Tour itinerary sudah pasti

 Pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian menjadi lebih

(55)

Seorang PATA Consultant, H.F Stanley member unsure pemasaran terpadu

dengan unsur-unsur sebagai berikut:

i. Paduan pengolahan produk

Konsumen atau wisatawan memerlukan jenis-jenis jasa objek wisata dan

sarana wisata tertentu. Sarana wisata adalah sarana social ekonomi yang untuk

seluruhnya atau sebagian menghasilkan jasa atau barang untuk dipergunakan

wisatawan, seperti hotel-hotel, rumah makan, resort-resort (daerah wisata),

bentuk-bentuk kesantaian tertentu, sarana olah raga, saranan untuk keperluan studi,

kesempatan untuk menikmati hiburan atau atraksi seni budaya, untuk berbelanja dan

pembelian hasil kerajinan tangan, dan lain sebagainya. Semua dikembangkan

sehingga memenuhi persyaratan-persyaratan organisasi dan agen-agen atau biro-biro

yang bergerak di dalam bidang kepariwisataan. Mereka semua berusaha memenuhi

tuntutan keinginan konsumen atau langganan. Perpaduan jasa dan sarana wisata

tersebut akan berbeda atau berubah sesuai selera permintaan. Hal yang terpenting

yang perlu diingat mengenai paduan pengolahan produk adalah masalah

pemeliharaan. Pemeliharaan warisan budaya dan pemeliharaan lingkungan dan

peninggalan sejarah.

ii. Paduan Proses Penyebaran

Hal ini mengenai proses pengangkutan. Pengangkutan melalui udara, laut, dan

darat. Proses ini akan melibatkan perusahaan penerbangan, perusahaan perkapalan,

(56)

merupakan operasi yang besar untuk membawa konsumen pada produknya. Kunci

berhasilnya pelaksanaan pemasaran dari segi distributotion mix ini ialah pelayanan.

iii. Paduan Komunikasi dan Penerangan

Walaupun telah tersedia Paduan Pengolahan Produk yang tepat ataupun

paduan prosespenyebaran yang tepat memenuhi tuntutan pengunjung tetapi tanpa

komunikasi konsumen tidak akan tahu tentang tersedianya produk yang menarik itu.

Konsumen harus diberiyahu, diperkenalkan, ditarik dan didorong untuk mau

mengunjungi ke suatu daerah tujuan wisata. Paduan yang tepat melaksanakan hal ini

digunakan beberapa jenis pendekatan yang sebenarnya mempunyai peranan parallel,

yaitu masing-masing berfungsi sebagai penunjang lainnya untuk memperkuat bobot

hasilnya, yaitu;

a. Pendekatan dengan cara “sales promotion”

Ini meliputi berbagai kegiatan komunikasi yang diarahkan pada wisatawan

baik melalui media umum, seperti surat kabar, TV, radio dan sebagainya atau

melalui saluran-saluran perantara biro-biro perjalanan, “public relation

agency” atau melalui pendekatan langsung. Sarana-sarana yang bisa

digunakan ialah; kunjungan perkenalan oleh biro perjalanan, siaran iklan,

pameran, kiriman surat, hubungan pribadi langsung, film, slide,

ceramah-ceramah, news letter, Proses release. Partisipasi dalam konferensi Pariwisata

(57)

b. Pendekatan yang bersifat “image promotion”

Pendekatan ini merupakan kegiatan yang bersifat pembujuk secara halus,

secara tidak langsung. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesan

gambaran suatu daerah tujuan wisata melalui cara-cara yang mampu

menumbuhkan suasana yang tepat yaitu suasana yang menumbuhkan rasa

simpati, rasa ingin tahu, rasa ingin mencoba dan rasa ingin mengenal.

Cara-cara yang biasa digunakan misalnya melalui : kunjungan perkenalan oleh juru

foto specialis, kunjungan perkenalan oleh penulis perjalanan atau wartawan,

feature khusus di surat kabar atau majalah, ceramah khusus, siaran iklan

khusus, pengiriman misi-misi kesenian. “Sales promotion” dan “Image

Promotion” terkadang sukar dibedakan, kedua-duanya bisa atau sering

dilaksanakan baik oleh industri atau pemerintah. Sarana yang biasa digunakan

biasanya sama, yang berbeda hanya cara pendekatan. Industri bisa

mempergunakan gaya sales promotion maupun gaya image promotion dalam

usaha menarik kunjungan wisatawan. Sarana sales promotion biasanya untuk

mencapai target penjualan tertentu sedang pada image promotion tidak ada

target penjualan langsung. Selain itu dalam sales promotion konsumen yang

dituju lebih sudah dikenal atau diketahui.

c. Pendekatan melalui pendidikan, latihan, atau penyuluhan.

Kepada para staff organisasi yang merupakan mata rantai antara pengunjung

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian objek dan daya tarik wisata menurut Marpaung (2002: 78) adalah suatu bentukan dari aktifitas dan fasilitas yang berhubungan, yang dapat menarik minat

Prioritas strategi kebijakan pengembangan wisata bahari yang diperoleh dari hasil analisis Matriks SWOT dan Matriks QSPM menunjukkan bahwa strategi mengembangkan