• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi dan pengamatan status parasitoid pada Cecidochares connexa(Diptera:Tephritidae)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Identifikasi dan pengamatan status parasitoid pada Cecidochares connexa(Diptera:Tephritidae)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI DAN PENGAMATAN STATUS PARASITOID PADA

Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae)

Oleh :

Ruly Pahlevi

G34101064

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

ABSTRAK

RULY PAHLEVI. Identifikasi dan Pengamatan Status Parasitoid Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae). Dibimbing oleh RIKA RAFFIUDIN dan SOEKISMAN TJITROSEMITO.

Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae) merupakan agen biokontrol gulma

Chromolaena odorata (kirinyu). Keberhasilan C. connexa sebagai agen biokontrol dapat terganggu oleh adanya parasitoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parasitoid, mengetahui persebaran dan status parasitoid pada C. connexa dari Cigudeg (Bogor) dan Cagar Alam Pangandaran (Ciamis), Jawa Barat. Puru kirinyu yang telah berjendela dan berwarna kecokelatan dikoleksi dari Cigudeg dan Cagar Alam Pangandaran. Pupa dan atau larva C. connexa yang terdapat di dalam puru diletakkan dalam cawan Petri yang diberi alas kapas basah. Parasitoid yang keluar diawetkan dalam alkohol 70% untuk selanjutnya diidentifikasi. Sepasang imago parasitoid diinfestasikan ke dalam tiap kurungan kayu (50x50x100 cm) yang berisi satu tahap siklus hidup C. connexa. Parasitoid pada C. connexa berhasil ditemukan, yaitu Ormyrus dan

Eupelmus. Ormyrus betina berwarna merah metalik dan kecokelatan pada bagian toraks dan abdomen, panjang tubuh 3.45 ± 0.14 mm, dan ovipositor termodifikasi dalam bentuk sengat.

Ormyrus jantan berwarna hijau metalik dengan panjang tubuh 2.68 ± 0.02 mm.. Eupelmus

berwarna hitan dengan panjang tubuh 1.24 ± 0.02 mm, kepala pipih dorsoventral, bagian dorsal abdomen rata, bagian posterior abdomen meruncing, dan ovipositor panjang. Ormyrus ditemukan di kedua lokasi. Eupelmus hanya ditemukan di Pangandaran. Persentase perolehan Ormyrus di kedua lokasi lebih besar dibandingkan persentase perolehan Eupelmus di Pangandaran. Penelitian ini belum dapat menunjukkan status parasitoid pada tahap hidup C. connexa.

ABSTRACT

RULY PAHLEVI. Identification and Life Stage Observation of Parasitoid of Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae). Supervised by RIKA RAFFIUDIN and SOEKISMAN TJITROSEMITO.

(3)

IDENTIFIKASI DAN PENGAMATAN STATUS PARASITOID PADA

Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae)

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Pertanian Bogor

Oleh :

Ruly Pahlevi

G34101064

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)

Judul

: Identifikasi Dan Pengamatan Status Parasitoid Pada

Cecidochares

connexa

(Diptera: Tephritidae)

Nama

: Ruly Pahlevi

NRP :

G34101064

Menyetujui:

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Dr. Ir. Rika Raffiudin, M. Si

Dr. Soekisman Tjitrosemito, M. Sc

NIP 131999583

NIP 130873226

Mengetahui:

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS

NIP. 131473999

(5)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilh dalam penelitian sejak bulan April 2005 ini ialah Parasitoid, dengan judul Identifikasi dan Pengamatan Status Parasitois pada Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae).

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Soekisman Tjitrosemito, M. Sc. dan Ibu Dr. Rika Raffiudin, M. Si. selaku pembimbing atas segala arahan dan bimbingannya selama penyusunan karya ilmiah ini. Ungkapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Dr. Iman Rusmana, M. Sc. atas segala masukan dan saran. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Rusichon dan Ibu Puji Aswari dari Laboratorium Entomologi LIPI Cibinong yang telah membantu selama penelitian berlangsung. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada keluarga, hewan-hewan kesayangan: Boncel, Pinky, Brain, Pesek, Brownie, Brad, dan dua hamster miniku di Jakarta; Budi, Kiki, Erna, Chia, Fitri, Mami Anne, drh. Jamie, A’ Denis, Ocean, Dina, Ina, dan abiola 38, serta para dosen dan staf laboratorium Zoologi FMIPA IPB atas segala doa dan kasih sayang.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, May 2006

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 April 1984 dari pasangan Rustam Effendi dan Yuliani. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Pada tahun 2001 penulis lulus dari SMU Negeri 26 Jakarta Penulis melanjutkan pendidikan di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL... vii

PENDAHULUAN... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 1

Waktu dan Tempat ... 1

BAHAN DAN METODE Alat dan Bahan ... 1

Metode ... 2

Penyiapan Tanaman Inang (kirinyu) ... 2

Koleksi C. connexa dan Parasitoid dari Lapang... 2

Pengamatan Perilaku Kawin C. connexa... 2

Identifikasi Parasitoid... 2

Koleksi Puru Steril C. connexa... 2

Status Parasitoid ... 2

HASIL Parasitoid pada C. connexa... 2

Perolehan Parasitoid dari Lapang... 4

Status Parasitoid ... 5

PEMBAHASAN Klasifikasi dan Deskripsi Parasitoid... 6

Parasitoid C. connexa... 7

Status Parasitoid Ormyrus... 8

SIMPULAN ... 9

SARAN ... 9

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Parasitoid pada C. connexa yang ditemukan di Cigudeg dan Pangandaran... 3

2 Antena Ormyrus, funikula bersegmen tujuh... 3

3 Tungkai jantan dan betina Ormyrus... 3

4 Sayap betina Ormyrus... 4

5 Antena Eupelmus... 4

6 Tungkai betina Eupelmus ... 4

7 Sayap Eupelmus... 4

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Jumlah dan jenis parasitoid dari pupa dan larva C. connexa dari Cigudeg... 5

2 Jumlah dan jenis parasitoid dari pupa dan larva C. connexa dari Cagar Alam Pangandaran ... 5

3 Persentase kelimpahan parasitoid C. connexa di Cigudeg dan Cagar Alam Pangandaran... 6

(9)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cecidochares connexa (Diptera: Tephritidae) merupakan serangga yang digunakan sebagai agen biokontrol gulma

Chromolaena odorata (kirinyu) (Tjitrosemito 1998). Sebagian siklus hidup C. connexa

terdapat di dalam tubuh tumbuhan kirinyu. Dengan demikian, C. connexa bertindak sebagai parasit terhadap kirinyu.

Efek C. connexa terhadap kirinyu ialah penurunan jumlah cabang dan daun yang mengakibatkan pertumbuhan kirinyu menjadi terhambat. Serangga ini juga mengakibatkan penurunan produksi bunga dan biji sehingga menurunkan jumlah kirinyu di alam (Orapa & Bofeng 2004). Telur diletakkan oleh C. connexa pada pucuk daun yang belum membuka. Larva C. connexa akan masuk ke dalam ranting. Ranting tersebut akan membentuk puru (gall) yang berisi larva serangga tersebut. Larva instar akhir akan membentuk jendela puru (windowed gall). Jendela puru adalah calon lubang keluar imago yang masih tertutup oleh lapisan epidermis puru. Perkembangan telur hingga menjadi imago membutuhkan waktu selama tujuh minggu (Orapa & Bofeng 2004). Lama perkembangan telur-larva, larva-pupa, dan pupa-imago C. connexa secara berturut-turut ialah 7, 23, dan 19 hari (Tjitrosemito 1998). Penyebaran populasi C. connexa telah mencapai pulau-pulau besar di Indonesia. Di Jawa Barat, penyebaran C. connexa

dilaporkan berhasil di daerah Parung Panjang, Jawa Barat hingga akhir tahun 1998 (Tjitrosemito 1998). Dan kemungkinan akan menyebar ke daerah lainnya yang memiliki situs tumbuhan kirinyu.

Keberhasilan C. connexa sebagai agen biokontrol dapat terganggu oleh musuh alami serangga tersebut. Serangga dengan larva yang berkembang pada tubuh organisme lain sebagai inang dan umumnya menyebabkan kematian inang disebut parasitoid (Gulan & Cranston 2000). Berdasarkan cara hidupnya, parasitoid dapat bersifat soliter (satu inang dengan satu individu parasitoid) dan gregarius (satu inang dengan dua hingga beberapa ratus parasitoid).

Parasitoid dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan strategi menyerang, yaitu idiobion dan koinobion. Parasitoid idiobion adalah parasitoid yang tidak membiarkan inang berkembang setelah diparasit. Dengan demikian parasitoid idiobion selalu menyebabkan kerusakkan permanen atau

bahkan kematian inang. Umumnya, parasitoid idiobion adalah endoparasit. Sedangkan, parasitoid koinobion adalah parasitoid yang mengikuti perkembangan inang hingga tahap tertentu. Umumnya, parasitoid koinobion adalah ektoparasit (Gulan & Cranston 2000). Menurut Quicke (1997), parasitoid umumnya merupakan anggota ordo Hymenoptera, Diptera, Coleoptera, Lepidoptera, Trichoptera, Neuroptera, dan Stersiptera. Lebih dari 90% anggota ordo Hymenoptera merupakan parasitoid, yaitu super famili Brachonidea, Ichneunomoidea, Chalcidoidea, Proctotrupoidea, Sphecoidea, Vespoidea, Formicoidea, Pompiloidea, serta famili Scelionidae dan Trichogrammatidae (Gulan & Cranston 2000).

Di Indonesia, dua parasitoid pada C. connexa telah ditemukan. Kedua parasitoid tersebut merupakan anggota famili Eulophidae dan Chalcididae. Status parasitoid Eulophidae ialah parasitoid pada larva C. connexa di Jawa Barat. Eulophidae merupakan parasitoid endoparasit soliter. Status parasitoid Chalcididae ialah parasitoid pada larva dan pupa C. connexa di Sumatera dan Jawa. Chalcididae merupakan parasitoid ektoparasit soliter (McFadyen et al. 2003). Walaupun demikian, lokasi tepatnya penemuan parasitoid pada C. connexa belum pernah dilaporkan secara lengkap.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parasitoid, dan mengetahui status parasitoid pada C. connexa (Diptera: Tephritidae) dari Cigudeg dan Cagar Alam Pangandaran, Jawa Barat.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga September 2005 di Laboratorium Biologi Gulma SEAMEO-BIOTROP, Tajur-Bogor. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Zoologi Depertemen Biologi Kampus Gunung Gede, FMIPA IPB, dan Laboratorium Entomologi Bidang Zoologi LIPI, Cibinong.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

(10)

2

ukuran 50x50x100 cm dengan dinding kain trikot, cawan petri, benang, kertas label, dan kapas. Alat-alat yang digunakan untuk mengidentifikasi parasitoid yaitu jarum serangga, pinset, serta mikroskop stereo.

Metode

Penyiapan Tanaman Inang (kirinyu).

Dua puluh stek batang kirinyu ditanam dalam pot berdiamter 30 cm. Tiap pot berisi dua stek batang kirinyu. Media yang digunakan ialah campuran tanah dan kascing dengan perbandingan 2:1. Penanaman dilakukan sebanyak 20 pot. Kirinyu diletakkan pada tempat yang mendapat sinar matahari dan penyiraman dilakukan setiap hari sampai keluar tunas.

Koleksi C. connexa dan Parasitoid dari Lapang. Puru yang telah berjendela dan berwarna kecokelatan dikoleksi dari Cigudeg (06°27’33.3’’LS - 106°30’30.1’’BT), kabupaten Bogor dan Cagar Alam Pangandaran (07°42’34.4’’LS - 108°39’23’’BT) kabupaten Ciamis. Puru yang diambil merupakan puru yang telah berisi pupa C. connexa dengan ciri sudah terdapat jendela puru (windowed gall) pada puru kirinyu. Tangkai kirinyu yang berpuru dipotong dan dibawa ke laboratorium. Selanjutnya, puru dibedah. Pupa dan atau larva C. connexa yang terdapat didalam puru diletakkan dalam cawan petri. Kapas basah diletakkan di dalam cawan petri untuk menjaga kelembaban (Tjitrosemito 1998). Imago C. connexa dan parasitoid yang keluar dari puru kemudian dipisahkan.

Pengamatan Kawin C. connexa. Imago

C. connexa yang keluar dari puru ditempatkan di dalam tabung reaksi dengan rasio jantan dan betina adalah 1:1. Dicatat tanggal kawin

C. connexa. Pengamatan tingkah laku kawin ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa C. connexa akan melakukan oviposisi.

Identifikasi Parasitoid. Parasitoid yang keluar dari puru diawetkan dalam alkohol 70%. Parasitoid diidentifikasi berdasarkan Borror et al. (1981) hingga super famili dan Baucek (1988) hingga genus. Foto mikroskop stereo dilakukan dengan menggunakan kamera Nixon FDX-35.

Koleksi Puru Steril C. connexa. Kirinyu yang telah memiliki lebih dari lima pucuk diinfestasikan dua pasang C. connexa yang telah kawin dalam kurung kayu (50x50x100 cm). Pucuk-pucuk tersebut merupakan representasi ulangan puru yang akan diinfestasi oleh parasitoid. Selanjutnya madu konsentrasi 10% digantung pada bagian atas kurungan sebagai pakan C. connexa.

Status Parasitoid. Penginfestasian C. connexa dilakukan secara bertahap, yaitu pada minggu ke I, IV, VII, dan VIII. Hal tersebut sesuai dengan siklus hidup C. connexa, yaitu telur-larva, larva-pupa, dan pupa-imago C. connexa secara berturut-turut ialah 7, 23, dan 19 hari (Tjitrosemito 1998). Perlakuan tersebut bertujuan untuk mendapatkan seri tahap siklus hidup C. connexa untuk pengamatan status parasitoid, yaitu telur, larva awal (pucuk kecil), larva akhir (puru baru berjendela), dan pupa (puru setelah empat hari berjendela). Pucuk dan batang kirinyu yang terdapat puru diberi label dengan kertas label.

Sepasang imago parasitoid diinfestasikan ke dalam tiap kurungan kayu (50x50x100 cm) yang berisi satu tahap siklus hidup C. connexa

pada kirinyu. Madu konsentrasi 10% digan-tung di bagian atas kurungan sebagai makanan parasitoid. Pengamatan dilakukan enam kali ulangan berupa pucuk kirinyu yang terdapat telur atau batang kirinyu dengan puru. Status parasitoid dapat diketahui dari kurungan yang menghasilkan imago parasitoid.

HASIL Parasitoid pada C. connexa

Dua parasitoid berhasil ditemukan pada dua lokasi pengambilan sampel puru, yaitu

Ormyrus (Gambar 1a, b) dan Eupelmus

(Gambar 1c). Parasitoid tersebut ditemukan dalam pupa C. connexa. Parasitoid keluar dengan cara merobek bagian anterior pupa C. connexa.

Imago betina Ormyrus berukuran lebih besar dari pada imago jantan. Pengukuran tubuh dilakukan terhadap enam individu parasitoid. Tubuh imago betina Ormyrus

(11)

3

0.96 ± 0.05 mm (Gambar 4a), Sayap belakang dengan panjang dan lebar secara berturut-turut adalah 0.76 ± 0.02 mm dan 0.19 ± 0.03 mm (Gambar 4b).

Gambar 2 Antena Ormyrus, funikula bersegmen tujuh.

Imago jantan Ormyrus berwarna hijau metalik pada bagian toraks dan abdomen, dengan mata berwarna agak gelap (Gambar 1b). Pengukuran tubuh dilakukan terhadap tiga individu parasitoid. Imago jantan memiliki panjang tubuh 2.68 ± 0.02 mm. Kepala berbentuk oval, dengan panjang dan lebar kepala secara berturut-turut adalah 0.64 ± mm dan 0.35 ± 0.02 mm. Toraks dengan panjang dan lebar toraks secara berturut-turut adalah 0.94 mm dan 0.72 mm. Abdomen dengan panjang dan lebar secara berturut-turut adalah 0.58 ± 0.04 mm 1.28 ± 0.02 mm. Antena berbentuk benang (filiform), funikula bersegmen tujuh, panjang antena 0.62 ± 0.03 mm (Gambar 2). Femur dan tibia berwarna hitam, taji tibia belakang lurus, tarsi bersegmen lima, panjang tungkai 1.30 ± 0.01 mm (Gambar 3a, b, c). Sayap depan dengan panjang dan lebar secara berturut-turut adalah 2.09 ± 0.01 mm dan 0.82 ± 0.01 mm, Sayap belakang dengan panjang dan lebar secara berturut-turut adalah 0.65 ± 0.01 mm dan lebar 0.14 ± 0.03 mm.

(a)

(b)

Eupelmus yang berhasil dikoleksi pada penelitian ini hanya imago betina. Pengukuran tubuh dilakukan terhadap tiga individu parasitoid. Imago betina Eupelmus berwarna hitam pada bagian toraks dan abdomen, dengan mata hitam (Gambar 1c), Panjang tubuh 1.24 ± 0.02 mm. Kepala pipih (dorsoventral), dengan panjang dan lebar kepala secara berturut-turut adalah 0.21 ± 0.01 mm dan 0.79 ± 0.02 mm. Toraks dengan panjang dan lebar toraks secara berturut-turut adalah 0.68 ± 0.04 mm dan 0.72 ± 0.02 mm. Bagian dorsal abdomen rata. Bagian posterior abdomen meruncing (Gambar 1c), panjang dan lebar abdomen secara berturut-turut adalah 0.82 ± 0.04 mm dan 0.68 ± 0.01 mm. Antena bentuk benang (filiform), funikula bersegmen tujuh, gada bersegmen tiga (Gambar 5), panjang antena 0.38 ± 0.02 mm. Femur, tibia, dan tarsi berwarna kuning, taji tibia belakang lurus dan besar, panjang tungkai 0.94 ± 0.04 mm (Gambar 6a, b, c). Sayap depan dengan panjang dan lebar secara berturut-turut adalah 2.26 ± 0.04 mm dan 0.83 ± 0.01 mm (Gambar 7a), Sayap belakang dengan panjang dan lebar secara berturut-turut adalah 1.87 ± 0.01 mm dan 0.48 ± 0.02 mm (Gambar 7b).

(c)

Gambar 1 Parasitoid pada C. connexa yang ditemukan di Cigudeg dan Pangandaran: a. Ormyrus betina, b. Ormyrus jantan, dan c.

(12)

4

Gambar 6 Tungkai Eupelmus betina: a. Tungkai depan, b. Tungkai tengah, dan c. Tungkai belakang. Gambar 3 Tungkai Ormyrus jantan dan

betina: a. Tungkai depan, b. Tungkai tengah, c. Tungkai belakang, Ks: Koksa, Tc: Trokanter, Fm: Femur, Tb: Tibia, Tj: Taji, Tr: Tarsi.

Perolehan Parasitoid dari Lapang

Eksplorasi parasitoid berhasil ditemukan di dua tempat, yaitu Cigudeg dan Pangandaran. Jumlah spesies parasitoid yang ditemukan di Cigudeg ialah satu spesies, yaitu

Ormyrus. Parasitoid tersebut dikoleksi dari 106 puru kirinyu. Jumlah pupa dan larva C. connexa dalam puru secara berturut-turut ialah 52 dan 54. Ormyrus yang ditemukan berjumlah tujuh parasitoid dengan rincian enam parasitoid didapat dari lima puluh dua pupa C. connexa dan satu parasitoid didapat dari lima puluh empat larva C. connexa (Tabel 1). Jumlah spesies parasitoid yang ditemukan di Cagar Alam Pangandaran ialah dua spesies, yaitu Ormyrus dan Eupelmus. Parasitoid tersebut dikoleksi dari 367 puru kirinyu. Gambar 4 Sayap betina Ormyrus: a. Depan,

dan b. Belakang. (b) (a)

(a)

(b)

Gambar 7 Sayap Eupelmus: a, Depan, dan b. Belakang.

(13)

5

Jumlah pupa dan larva C. connexa dalam puru secara berturut-turut ialah 186 dan 181.

Ormyrus dan Eupelmus yang ditemukan secara berturut-turut berjumlah delapan dan tujuh parasitoid (Tabel 2).

Persentase kelimpahan Orymrus secara berturut-turut di Cigudeg dan Cagar Alam Pangandaran ialah 6.73% dan 2.18%. Kelimpahan Ormyrus lebih besar dibanding kelimpahan Eupelmus di Cagar Alam Pangandaran, yaitu 1.63% (Tabel 3).

Status Parasitoid

Dari kedua parasitoid yang ditemukan, parasitoid yang digunakan untuk pengamatan status parasitoid ini ialah Ormyrus. Ormyrus

digunakan dalam pengamatan dikarenakan persentase kelimpahan di lapang cukup banyak (Tabel 3).

Tanaman C1 merupakan tumbuhan kirinyu hasil infestasi parasitoid pada hari ke tiga

(minggu I) C. connexa menginfeksi. Tumbuhan tersebut telah mengandung telur C. connexa yang cukup banyak di setiap pucuk kirinyu. Tumbuhan C1 digunakan sebagai bahan pengamatan status parasitoid pada telur

C. connexa. Tumbuhan C2 merupakan C. odorata hasil infestasi C. connexa pada hari ke dua puluh sembilan (minggu V) C. connexa menginfeksi. Tumbuhan tersebut telah mengandung larva awal C. connexa di dalam puru. Tumbuhan C2 tersebut digunakan sebagai bahan pengamatan status parasitoid pada larva tahap awal C. connexa.

Total jumlah parasitoid yang dihasilkan oleh tumbuhan C1 dan C2 ialah nol, yaitu tidak terdapat parasitoid yang keluar dari puru tumbuhan C1 dan C2. Total jumlah C. connexa yang dihasilkan oleh tumbuhan C1 dan C2 secara berturut-turut ialah empat belas dan tiga belas C. connexa (Tabel 4).

Tabel 1 Jumlah dan jenis parasitoid dari pupa dan larva C. connexa dari Cigudeg

No. Cawan Jumlah Pupa Jumlah Larva Jumlah Parasitoid Jenis Parasitoid

1 26 0 3 Ormyrus

2 26 0 3 Ormyrus

3 0 27 1 Ormyrus 4 0 27 0 Ormyrus

Jumlah 52 54 7

Tabel 2 Jumlah dan jenis parasitoid dari pupa dan larva C. connexa dari Cagar Alam Pangandaran

No. No. Jumlah Jumlah Jumlah Jenis Cawan Pupa Larva Parasitoid Parasitoid 1 7 1 0 1 Ormyrus

2 10 2 2 2 Ormyrus & Eupelmus 3 15 4 0 1 Ormyrus 4 28 1 2 1 Ormyrus

5 33 2 1 1 Ormyrus

6 40 2 0 2 Ormyrus & Eupelmus

7 61 3 4 1 Ormyrus

8 68 1 0 1 Eupelmus

9 79 1 0 1 Eupelmus

10 84 1 1 1 Ormyrus

11 93 0 7 1 Eupelmus

12 110 3 1 2 Eupelmus

Jumlah 24 18 15

(14)

6

Tabel 3 Persentase kelimpahan parasitoid C. connexa di Cigudeg dan Cagar Alam Pangandaran

C. connexa Pesentase (%)

Cigudeg Pangandaran Cigudeg Pengandaran Larva Pupa Parasitoid Larva Pupa Parasitoid

54 52 186 181

Ormyrus 7 8 6.73 2.18 Eupelmus 0 6 0 1.63 Tabel 4 Jumlah Ormyrus dan C. connexa yang keluar dari puru kirinyu hasil infestasi parasitoid pada dua perkembangan puru yang berbeda Kode Tanggal Tanggal Tangal Σ Parasitoid Σ C. connexa Tanaman kawin infestasi pengamatan C. connexa parasitoid parasitoid keluar (Juli 2005) 17 0 2

18 0 1

19 0 1

20 0 0

21 0 2

22 0 2

23 0 1

C1 29/04/2005 01/05/2005 24 0 2

25 0 2

26 0 1

27 0 0

28 0 0

29 0 0

17 0 0

18 0 1

19 0 2

20 0 2

21 0 1

22 0 2

23 0 1

C2 25/06/2005 28/06/2005 24 0 2

25 0 0

26 0 1

27 0 1

28 0 0

29 0 0

Keterangan: C1: Kirinyu berisi telur C. connexa (minggu I) yang diinfestasi parasitoid, C2: Kirinyu berisi larva dalam puru (minggu V) yang diinfestasi parasitoid.

PEMBAHASAN

Klasifikasi dan Deskripsi Parasitoid.

Klasifikasi Ormyrus Dan Eupelmus secara berturut-turut berdasarkan Borror et al. (1981) dan Baucek (1988) ialah sebagai berikut:

Kelas : Heksapoda

Ordo : Hymenoptera

Sub ordo : Apocrita

Super famili : Chalcidoidea

Famili : Ormyridae

Genus : Ormyrus

Kelas : Heksapoda

Ordo : Hymenoptera

Sub ordo : Apocrita Super famili : Chalcidoidea

Famili : Eupelmidae

(15)

7

Kelas Heksapoda. Tubuh terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Kepala terdiri atas sepasang antena, sepasang maksila, sepasang mandibula, hipofaring, dan labium. Toraks terdapat tiga pasang tungkai pada tiap segmen serta satu hingga dua pasang sayap. Abdomen terdapat lubang kelamin (gonophore) pada bagian ujung posterior serangga betina (Borror et al. 1981).

Ordo Hymenoptera. Sayap dua pasang, tipis seperti membran. Sayap belakang lebih kecil dari pada sayap depan, terdapat kait untuk mengkaitkan sayap belakang dengan sayap depan (hamuli), venasi relatif sedikit. Mulut terdapat maksila, mandibula, dan labium. Antena biasanya sepuluh segmen atau lebih. Tarsi umumnya lima segmen. Ovipositor berkembang sempurna, pada beberapa jenis termodifikasi dalam bentuk sengat. Metamorfosis sempurna. Larva

eruciform (seperti belatung), memiliki sepasang oceli atau mata tunggal. Pupa tidak diselubungi oleh kokon (exarate) dan beberapa terbentuk di dalam kokon, inang, atau sel khusus (obtect) (Borror et.al. 1981).

Sub ordo Apocrita. Toraks empat segmen. Bagian anterior abdomen menyempit pada sambungan antara toraks dengan abdomen. Antena berbentuk benang (filiform) atau menyiku (elbowed), lima sampai enam belas segmen. Sayap belakang tidak lebih dengan dua basal sel. Larva seperti ulat (Borror et.al. 1981).

Super famili Chalcidoidea. Antena menyiku (elbowed), tidak lebih dari tiga belas segmen. Pronotum bentuk bujur sangkar atau tidak mencapai tegulae, biasanya terdapat prespectus di sisi toraks (Borror et.al. 1981).

Famili Ormyridae. Ukuran dua hingga empat milimeter. Abdomen betina berbentuk kerucut dan memanjang sedangkan abdomen jantan berbentuk oblong (Gambar 1a, b). mandibula tebal dengan satu hingga dua gigi. Ovipositor pendek. Parapsidal suture (lipatan tubuh pada abdomen) tereduksi. Koksa belakang besar. Tibia dengan dua taji. Tibia tengah dengan taji kecil. Tarsi lima segmen (Baucek 1988).

Genus Ormyrus. Ukuran dua hingga tiga milimeter. Betina berwarna merah metalik dan kecoklatan pada bagian toraks dan abdomen, dengan mata berwarna merah. Jantan berwarna metalik hijau dengan mata berwarna hitam (Gambar 1a, b). Funikula pada antena bersegmen tujuh (Gambar 2). kepala oval (Gambar 1a, b). Koksa dan femur berwarna hitam. Taji tibia belakang lurus dan besar (Gambar 3) (Baucek 1988). Tarsi bersegmen

lima. Vena stigma lebih pendek dari pada vena marginal (Gambar 4). Ovipositor termodifikasi dalam bentuk sengat (Baucek 1988).

Famili Eupelmidae. Pronotum berbentuk bujur sangkar. Mesonotum betina pipih dan

parapsidal suture umumnya tidak sempurna, tidak melengkung jika dilihat dari samping.. Mesopleura besar dan cembung. Axila tidak mencapai tegulae. Tarsi lima segmen. Antena

elbowed, trokanter umumnya dua segmen (Baucek 1988).

Sub famili Eupelminae. Mesopleuron lebar dan datar. Mesoscutum hampir selalu dengan garis seperti notauli yang mencapai garis transcutal (Baucek 1988).

Genus Eupelmus. Ukuran satu hingga dua milimeter. Betina berwarna hitam (Gambar 1c). Funikula antena bersegmen tujuh (Gambar 5). Kepala pipih (Gambar 1c). Toraks menonjol lebih tinggi dari pada abdomen. Separuh dorsal abdomen meruncing rata. Posterior abdomen meruncing ke ujung (Gambar 1c). Femur berwarna hitam. Tibia belakang dengan taji besar dan lurus. Tarsi bersegmen lima (Gambar 6). Vena stigma lebih pendek daripada vena marginal (Gambar 7). Ovipositor panjang (Gambar 1c) (Baucek 1988).

Parasitoid C. connexa

Keberadaan parasitoid pada C. connexa

sebelumnya telah dilaporkan oleh Cruttwell (1974, diacu dalam McFadyen et al. 2003). Di Meksiko, parasitoid Hymenoptera Torymus embilicatum (Tormyridae), Eupelmus

(Eupelmidae), dan Neocatolaccus sp. (Pteromalidae) didapat dari larva C. connexa

di dalam puru. Di Brazil utara, Heterospilus paltidipes dan Heterospilus humeralis

(Braconidae) didapat dari larva, dan di Bolivia, Heterospilus, Eupelmus,

Dimeromicrus cecidomyidae (Tormyridae), dan Syntomosphyrum (Eulophidae) didapat dari larva (Cruttwell 1974, diacu dalam McFadyen et al. 2003).

Hasil perolehan parasitoid di dua tempat, Cigudeg dan Pangandaran, didapat dua parasitoid pada C. connexa, yaitu Ormyrus

(Ormyridae) dan Eupelmus (Eupelmidae) yang didapat dari larva dan pupa C. connexa

di dalam puru C. odorata (Tabel 1 dan 2). Kedua parasitoid tersebut merupakan parasitoid soliter karena imago masing-masing parasitoid yang keluar dari dari pupa

C. connexa berjumlah satu parasitoid.

(16)

8

sebelumnya dalam penelitian McFadyen et al.

(2003) dan de Chenon et al. (2000) di Balai Penelitian Marihat, Sumatera Utara. Ormyrus

ditemukan sebagai parasitoid soliter endoparasit yang didapat dari larva dan pupa

C. connexa di Sumatera dan Jawa. Sedangkan,

Eupelmus belum ditemukan adanya publikasi di Indonesia. Berdasarkan penelitian terhadap

Eupelmus orientalis dengan inang

Callosobruchus maculatus (Coleoptera: Bruchidae), Eupelmus merupakan parasitoid soliter ektoparasit pada larva dan pupa (Doury

et al. 1994) serta dapat juga bertindak sebagai hyperparasitoid (parasitoid pada parasitoid) pada Dinarmus basalis (Chalcidoidea: Pteromalidae) (Rojas-Rousse et al. 1999).

Ormyrus dan Eupelmus berdasarkan

Natural History Museum: Chalcidoidea Database telah tersebar di seluruh benua (Pitkin 2003). Berdasarkan penelitian de Chenon et al. (2000) persentase puru C. connexa yang terinfeksi Ormyrus berkisar antara 2-5% dan tidak pernah mencapai diatas 15% (McFadyen et al. 2003). Persentase ini dinilai rendah dan tidak akan mengganggu populasi C. connexa.

Status Parasitoid Ormyrus

Pengamatan status parasitoid dilakukan pada tahap telur, larva awal, larva akhir, dan pupa. Pengamatan status parasitoid Ormyrus

pada telur dan larva awal C. connexa tidak menunjukkan adanya parasitoid yang dihasilkan oleh puru C. connexa pada kirinyu yang telah diinfestasi oleh Ormyrus (Tabel 4). Pada tumbuhan C1, kirinyu yang telah berisi telur C. connexa,Ormyrus tidak menunjukkan ketertarikkan terhadap pucuk-pucuk yang telah berisi telur C. connexa. Ormyrus hanya hinggap di dinding kurungan. Ketertarikan parasitoid terhadap inang disebabkan oleh senyawa kimia yang ditangkap oleh parasitoid. Menurut Gulan dan Cranston (2000), senyawa kimia tersebut termasuk ke dalam synomones dan bersifat volatile (mudah menguap). Synomones merupakan senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tumbuhan akibat luka yang disebabkan oleh suatu organisme sehingga dapat ditangkap oleh serangga. Parasitoid menggunakan synomones tersebut dan atau yang telah bercampur dengan senyawa kimia (allelochemical) dari serangga inang parasitoid untuk menemukan lokasi inang.

Pada tumbuhan C2, kirinyu yang telah membentuk puru kecil berisi larva awal C. connexa, Ormyrus terlihat hinggap di puru dan melakukan pemilihan inang dengan

menggunakan antena. Perilaku tersebut berlangsung kurang lebih selama setengah jam dalam satu hari. Menurut Gullan dan Cranston (2000), parasitoid Hymenopteran menggunakan dan menggerak-gerakkan antena untuk mencari lokasi inang. Beberapa parasitoid menemukan lokasi inang dengan menggunakan bau dari feses larva inang (synomones). Synomones tersebut sangat berharga bagi parasitoid untuk menemukan inang, terlebih jika inang terhindar dari pengamatan visual, seperti tersembunyi di dalam jaringan tanaman. Lebih lanjut, Duan

et.al. (1997) melaporkan bahwa morfologi puru tidak berpengaruh terhadap parasitoid dalam melakukan oviposisi tetapi larva yang tersembunyi di dalamnya yang menentukan parasitoid melakukan oviposisi. Gullan dan Cranston (2000) menjelaskan, parasitoid sering kali mengetuk dan melakukan gerakan menendang pada telur dan puru untuk menemukan inang yang dicari.

Berdasarkan penelitian Esprito-Santo et.al

(2004) pada parasitoid Psyllaephagus baccharidis (Hymenoptera: Encyrtidae) terhadap inang, Baccharopelma drancunculifoliae (Hemiptera: Psylidae) parasitoid tersebut menyerang pada tahap perkembangan puru muda. Penyerangan pada tahap puru muda tersebut dimaksudkan untuk memudahkan masuknya ovipositor parasitoid ke dalam puru. Hal tersebut juga berhubungan dengan morfologi ovipositor parasitoid.

Ormyrus memiliki ovipositor kecil dengan panjang 0.02 ± 0.005 mm. Ovipositor tersebut akan sulit menembus jaringan puru tua yang sudah mengalami penebalan.

Namun dalam penelitian ini tidak ada parasitoid yang keluar dari puru. Hal ini menunjukkan belum terjadi oviposisi pada puru muda oleh Ormyrus. Oviposisi tidak terjadi karena imago parasitoid tidak kawin. Selama penelitian berlangsung, perilaku kawin Ormyrus tidak diamati.

(17)

9

berlangsung, parasitoid jarang terlihat hinggap di kapas tersebut.

Penelitian ini telah mengamati status parasitoid, Ormyrus, pada telur dan larva awal

C. connexa. Pengamatan status pada tahap larva akhir dan pupa tidak dapat dilakukan karena keterbatasan waktu berhubungan dengan musim tumbuh kirinyu. Keterbatasan musim disebabkan karena kirinyu merupakan tumbuhan semusim. Pembungaan kirinyu yang terjadi selama musim kering mengurangi keberadaan C. connexa di alam. Berdasarkan penelitian Tjitrosemito (2000), pucuk yang menjadi tempat peletakkan telur C. connexa berkurang dari bulan Maret (120.3 pucuk/4m2) hingga bulan Mei (62.8 pucuk/4m2). Pada bulan November, pertumbuhan pucuk hanya mencapai 30.6 pucuk/4m2. Pucuk-pucuk tersebut berkembang menjadi kuncup bunga dan kemudian akan menjadi buah.

Predator puru C. connexa juga ditemukan selama penelitian berlangsung. Di lapang, predator yang umumnya ditemukan yaitu semut, sedangkan predator yang umumnya ditemukan di laboratorium yaitu belalang dan semut. Belalang mengambil larva dengan cara menggigit batang yang berpuru, sedangkan semut dengan cara membuat lubang pada batang yang berpuru.

SIMPULAN

Dua parasitoid pada C. connexa berhasil ditemukan di dua lokasi pengambilan contoh puru, Cigudeg dan Pangandaran. Parasitoid tersebut ialah Ormyrus dan Eupelmus.

Ormyrus ditemukan di kedua lokasi, Ormyrus

betina berwarna merah metalik dan kecoklatan pada bagian toraks dan abdomen, panjang tubuh 3.45 ± 0.14 mm, dan ovipositor termodifikasi dalam bentuk sengat. Ormyrus

jantan berwarna hijau metalik dengan panjang tubuh 2.68 ± 0.02 mm. Eupelmus hanya ditemukan di Pangandaran. Eupelmus

berwarna hitam dengan panjang tubuh 1.24 ± 0.02 mm, kepala pipih (dorsoventral), separuh bagian dorsal abdomen rata dan posterior abdomen meruncing, dan ovipositor yang panjang,

Persentase perolehan Ormyrus di kedua lokasi lebih besar dibandingkan persentase perolehan Eupelmus di lapang. Persentase tersebut masih rendah sehingga mengindikasikan tidak akan menganggu jumlah populasi C. connexa.

Penelitian ini belum dapat menunjukkan status parasitoid yang sebenarnya pada tahap hidup C. connexa.

SARAN

Penelitian status parasitoid perlu dilakukan dengan menggunakan metode Duan dan Messing, yaitu dengan menggunakan pakan buatan untuk larva inang sehingga inang dapat hidup di luar puru dan perilaku oviposisi dapat diamati dengan jelas. Selain itu, untuk mendukung pengamatan di laboratorium sebaiknya diikuti dengan pengamatan perilaku kawin dan pengamatan langsung parasitoid di lapang.

DAFTAR PUSTAKA

Baucek Z. 1988. Australian Chalcidoidea (Hymenoptera): A Eurosystematic Revi-sion of Genera of fourteen families, with a Reclassification of Species. Willingfort: C.B.A Intl.

Borror PJ, Triplehorn CA, De Long DM. 1981. An Introduction to Study Insect. New York: Sanders.

Duan JJ, Purcell MF, Messing RH. 1997. Ovipositional responses of three Opiine fruit fle parasitoids (Hymenoptera: Braconidae) to gall-forming Tephritids (Diptera: Tephritidae). Biol Contrl 9: 81-88.

de Chenon RD, Sipayung A, Sidharto P. 2000. A Decade of Biological Control Againt

Chromolaena odorata at Indonesian Oil Palm Research Institute Iin Marihat. Di dalam: Zachariades C, Muniappan R, Strathie LW, editor. Proc of the 5th International workshop on Biological control an Management of Chromolaena odorata. Durban, 23-25 Oktober 2000. Pretoria: ARC-PPRI. Hlm 46-52.

Doury G, Rojas-Rousse D, Periquet G. 1994. Ability of Eupelmus orientalis

ectoparasitoid larvae to develop on an unparalysed host in the absence of female stinging behaviour. J Ins Physiol 41: 287-296.

(18)

10

Gullan PJ, Cranston PS. 2000. The Insects: An Outline of Entomology. London: Chapman & Hall.

McFadyen REC, De Chenon RD, Sipayung A. 2003. Biology an host specificity of the chromolaena stem gall fly, Cecidochares connexa (Maquart) (Diptera: Tephritidae).

Aus J Entomol 42: 294-297.

Orapa W, Bofeng I. 2004. Mass production, establishment dan impact of Cecidochares connexa on chromolaena on Papua New Guinea. Di dalam: Day MD, McFadyen REC, editor. Chromolaena in Asia-Pasific Region. Proceeding of the 6th Workshop Chromolaena. Cairns, 6-9 May 2003. Canbera: ACIAR. Hlm 30-35.

Pitkin B R. 2003. Universal Chalcidoidea Database.http://internt.nhm.ac.uk/jdsml/p erth/chalcidoids/indexValidName.dsml. [2 Feb 2006].

Rojas-Rousse D, Ndoutoume A, Kalmes R. 1999. Hyperparasitisme facultatif de parasitoides en cours de development par les femelles des ectoparasitoides Eupelmus vuiletti et Eupelmus orientalis Craw.

Parasitology 5: 393-399.

Takasu K, Lewis WJ. 1995. Importance of adult food sources to host searching of the larval parasitoid Microplitis croceipes.

Biol Contrl 5: 25-30.

Tjitrosemito S. 1998. Integrated management of Chromolaena odorata emphasizing biolo-gical control. Biotropia 11: 9-12.

. 2000. Introduction an Establishment of the Gall Fly

Cecidochares connexa to Control Siam Weed, Chromolaena odorata, in Java, Indonesia. Di dalam: Zachariades C, Muniappan R, Strathie LW, editor. Proc of the 5th International workshop on Biological control an Management of Chromolaena odorata. Durban, 23-25 Oktober 2000. Pretoria: ARC-PPRI. Hlm 140-147.

Gambar

Gambar 1 Parasitoid pada C. connexa yang
Gambar 3   Tungkai Ormyrus jantan dan
Tabel 1 Jumlah dan jenis parasitoid dari pupa dan larva C. connexa dari Cigudeg
Tabel 3 Persentase kelimpahan parasitoid C. connexa di Cigudeg dan Cagar Alam Pangandaran

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan karena responden juga terpapar oleh pengaruh dari teman-teman sebaya dan faktor status ekonomi, sehingga meskipun responden memiliki pengetahuan

Hal ini disebabkan karena responden juga terpapar oleh pengaruh dari teman-teman sebaya dan faktor status ekonomi, sehingga meskipun responden memiliki pengetahuan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,