KERJASAMA WORLD AGROFORESTRY CENTRE DENGAN PEMERINTAH SUMATERA SELATAN DALAM UPAYA PENANGANAN PERUBAHAN IKLIM
MELALUI PROGRAM LAMA - I
SKRIPSI
DISUSUN OLEH
EGA ULFIA ULFAH
20120510445
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
KERJASAMA WORLD AGROFORESTRY CENTRE (ICRAF) DENGAN PEMERINTAH SUMATERA SELATAN DALAM UPAYA PENANGANAN
PERUBAHAN IKLIM MELALUI PROGRAM LAMA-I SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 (S1)
Pada Program Studi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
DISUSUN OLEH : EGA ULFIA ULFAH
20120510445
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi saya ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik sarjana baik di Universitas Muhammadiyah
ataupun di Perguruan Tinggi lain.
Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat orang lain yang telah dituliskan atau dipublikasikan
orang lain---kecuali secara tertulis jelas dengan dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan
disebutkan nama dan dicantumkan di daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila ada ketidakbenaran dalam skripsi ini, maka
saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
Yogyakarta, 27 Desember 2016
UCAPAN TERIMAKASIH
Saya sampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang terlibat serta membantu dalam proses pembuatan skripsi ini yang akhirnya dapat diselesaikan dengan lancar.
Terutama kepada :
1. Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah serta ridho-Nya sehingga skripsi ini dapat
selesai dengan baik
2. Bapak Adde Marup Wirasenjaya, S.IP, M.Si selaku dosen pembimbing yang selalu
bersedia memberikan waktu dan arahan dalam proses penulisan skripsi ini sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan arahan dan bimbingan beliau
3. Kedua orangtua, Bapak Muhammad Fajar Nugroho yang selalu bisa memberikan bantuan
disaat penulis membutuhkan dan Almarhumah Ibu Isdariyah yang selalu memberikan
semangat serta do`a. Meskipun saat skripsi ini selesai beliau tidak dapat dapat
menyaksikan tetapi ucapan terimakasih tak pernah cukup untuk penulis berikan kepada
beliau. Tidak lupa untuk kedua adik penulis yang memberikan dukungan untuk
menyelesaikan skripsi ini
4. Bapak Sugito, S.IP, M.Si sebagai dosen penguji 1 yang telah memberikan saran untuk
memperbaiki skripsi ini
5. Ibu Wahyuni Kartikasari, S.T, S.IP, M.Si sebagai dosen penguji 2 yang telah
memberikan sumbangsih dalam hal saran demi memperbaiki skripsi ini
6. Seluruh dosen jurusan Ilmu Hubungan Internasional Univesitas Muhammadiyah
Yogyakarta yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat selama penulis berkuliah
7. Seluruh karyawan Tata Usaha jurusan Hubungan Internasional terutama pak Djumari dan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah membantu dan memberikan
pelayanan fasilitas dalam proses pembuatan skripsi ini
8. Teman-teman HI UMY 2012 atas dukungannya untuk menyelesaikan skripsi ini
terutama, Puput Harti Wulandari, Irfina Damawanti yang menjadi teman seperjuangan
dalam penulisan skripsi, pendadaran dan juga revisi. Untuk teman-teman HI UMY yang
lainnya yang juga amat membantu serta memberikan motivasi dan dorongan sehingga
skripsi ini bisa terselesaikan. Meskipun tidak dapat penulis uraikan satu persatu tetapi
teman-teman memiliki tempat tersendiri tanpa mengurangi keistimewaan mereka
meskipun tidak tertulis dilembar ini
9. Teman-teman Nguya-nguyu yang jarang bertemu serta saudara dan kerabat penulis yang
memberikan banyak dukungan sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini
Serta kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam proses penulisan skripsi yang tidak
dapat disebutkan satu persatu yakinlah bahwa kalian tetap istimewa meskipun tidak disebutkan
didalam lampiran ini tanpa ada maksud mendiskriminasi. Terimakasih
Yogyakarta, 27 Desember 2016
MOTTO
Selalu bersyukur, karena ada banyak orang yang jauh lebih
menderita ketimbang kita
Selalu berdo`a dan bergantung pada Allah SWT tanpa berharap
selain kepada-NYA
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ... 1
LEMBAR PENGESAHAN ... Ш ! .
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... 2
UCAPAN TERIMAKASIH ... 3
MOTTO ... 5
ABSTRAK ... Ш ! .
DAFTAR TABEL ... 8 DAFTAR GAMBAR ... 8
BAB I ... Ш ! .
PENDAHULUAN ... Ш ! .
A. Latar Belakang Masalah ... Оши ! З . B. Rumusan Masalah ... Оши ! З . C. Kerangka Pemikiran ... Оши ! З . D. Hipotesa ... Оши ! З . E. Metode penelitian ... Оши ! З . F. Jangkauan Penulisan ... Оши ! З . G. Sistematika Penulisan... Оши ! З .
AWAL MULA KETERLIBATAN WORLD AGROFORESTRY CENTRE (ICRAF) DI
INDONESIA ... Ш ! .
A. Latar Belakang Berdirinya World Agroforestry Centre (ICRAF) Оши ! З .
B. Profil World Agroforestry Centre (ICRAF) ... Оши ! З . C. Cakupan Kerja World Agroforestry Centre (ICRAF) ... Оши ! З
.
D. Keterlibatan World Agroforestry Centre (ICRAF) di Sumatera Selatan ... Оши !
З .
BAB III ... Ш ! .
PROBLEM LINGKUNGAN DI SUMATERA SELATAN ... Ш !
.
A. Hutan Sebagai Kekayaan Alam Sumatera Selatan ... Оши ! З . B. Krisis Lahan yang terjadi di Sumatera Selatan ... Оши ! З . C. Krisis Lingkungan yang Terjadi di Sumatera Selatan ... Оши ! З
.
BAB IV ... Ш ! .
UPAYA BERSAMA ANTARA WORLD AGROFORESTRY CENTRE (ICRAF) DAN PROVINSI
SUMATERA SELATAN MELALUI PROGRAM LAMA-I ... Ш !
.
A. Mitigasi Bencana di Provinsi Sumatera Selatan ... Оши ! З . B. Upaya Bersama Penanganan Perubahan Iklim Antara World Agroforestry Centre (ICRAF) dan Pemerintah Sumatera Selatan Melalui Program LAMA-I .. Оши ! З
.
BAB V ... Ш ! .
DAFTAR PUSTAKA ... Ш ! .
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 ... Оши к ! З кл дк не определен . Tabel 1.2 ... Оши к ! З кл дк не определен . Tabel 1.3 ... Оши к ! З кл дк не определен .
DAFTAR GAMBAR
ABSTRAK
Emisi telah banyak mempengaruhi atmosfer sehingga menimbulkan perubahan iklim yang berdampak
pada semua elemen kehidupan. Pembangunan berkelanjutan disebut sebagai upaya yang harus dilakukan
akan tetapi banyak rencana upaya pembangunan berkelanjutan yang hanya sekadar dalam bingkai
normatif dan bukan dalam ranah operasional. Upaya World Agroforestry Centre dan Pemerintah
Sumatera Selatan dalam penanganan perubahan iklim bukan hanya dalam ranah normatif tetapi sudah
mencapai tahap operasional yang dapat dicontoh daerah lain untuk menekan laju perubahan iklim. Upaya
bersama ini dilakukan untuk berkontrbusi menahan laju perubahan iklim bagi wilayah Sumatera pada
khususnya dan dunia pada umumnya dan mitigasi bencara bagi wilayah Sumatera Selatan. Penelitian
spesifik ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang paling kecil akan tetapi memiliki pengaruh
besar karena tidak hanya mengenai hal-hal dalam tataran normatif saja tetapi sudah merambah hingga
tataran operasional sehingga terdapat kontribusi nyata untuk menekan laju perubahan iklim yang
mengancam kehidupan manusia.
1
BAB I PENDAHULUAN
Bab I ini merupakan bab awal yang menjelaskan mengenai latar belakang masalah hingga
tujuan penulisan. Penjabaran mengenai bab-bab lain setelah bab pertama ini juga akan
dicantumkan kedalam bab I ini. Selain itu, bab ini juga berfungsi sebagai pengantar dari skripsi
ini. Penjabaran mengenai latarbelakang masalah hingga tujuan penulisan diharapkan dapat
membantu untuk lebih memahami alasan dari penulisan skripsi ini.
A. Latar Belakang Masalah
Krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini telah membawa bencana bagi kehidupan
manusia. Banjir, tanah longsor serta kekeringan begitu buruk melanda kehidupan diberbagai
negara. Semua ini tidak terjadi begitu saja. Banyak ilmuan berasumsi tentang perilaku manusia
dari individu, korporasi hingga kelompok negara menyumbang faktor-faktor yang menyebabkan
bencana terjadi. Krisis lingkungan ini melahirkan banyak fenomena alam yang tidak biasa terjadi
akan tetapi bukan fenomena luar biasa yang langka dan indah dipandang mata tetapi fenomena
yang dapat mengancam kehidupan manusia. Serangkaian bencana alam yang dahsyat terjadi
diberbagai negara yang menyebabkan banyak kerugian dan kehilangan.
Perilaku manusia yang kerap kali abai dalam hal lingkungan mulai menuai akibat.
Membuang sampah di sungai menyebabkan banjir. Penggundulan hutan menyebabkan tanah
longsor, serta penggunaan bahan bakar fosil dan batubara menyebabkan penipisan lapisan ozon
hingga berlubangnya lapisan ozon. Banyak perilaku menyebabkan rangkaian bencana yang
mengancam, hingga menyebabkan pola iklim dunia berubah. Iklim sebenarnya dipengaruhi oleh
Aspek-2
aspek ini dapat menyebabkan perubahan iklim pula, hanya saja perubahan yang terjadi adalah
perubahan yang lambat serta alami dan perubahan ini tidak mengancam kehidupan manusia.
Perubahan ini terjadi untuk menyesuaikan kebutuhan bumi yang terus berubah.
Perubahan iklim yang terjadi dewasa ini bukanlah perubahan yang wajar. Perubahan pola
iklim ini sering disebut perubahan iklim dimana disuatu daerah dapat mengalami pendinginan
yang berlebihan dan didaerah lain mengalami pemanasan yang tidak wajar. Perubahan ini juga
dapat menyebabkan semakin ganasnya angin dan badai, serta curah hujan yang tidak menentu.
Aspek-aspek perubahan iklim tidak lagi disebabkan oleh alam tetapi manusia bertindak sebagai
kontributor. Manusia menyumbang banyak gas buang melalui bahan bakar fosil serta batubara,
serta penggunaan Chloro Fluoro Carbon (CFC) pada pendingin ruang serta lemari pendingin.
Perubahan iklim ini begitu drastis terjadi sehingga menyebabkan kekacauan. Misalnya,
kekacauan masa tanam, serta kegagalan panen. Masa tanam yang sebelumnya dapat ditentukan
kini tidak bisa lagi dilakukan. Bahkan dimusim kemarau tanaman palawijapun tidak dapat
bertahan karena suhu terlalu panas, serta tanaman yang membutuhkan banyak air justru
membusuk karena curah hujan yang berlebih ketika musim penghujan. Kemudian bencana
kelaparan juga akan mengancam manusia.
Permasalahan lingkungan yang melanda dunia dewasa ini telah berdampak besar kepada
kehidupan manusia. Dampak yang begitu besar bagi umat manusia ini menyebabkan lingkungan
sebagai salah satu perkara yang harus dibahas secara luas bahkan hingga ketingkat politik
internasional. Jika keamanan internasional dan ekonomi global adalah dua issue area utama
tradisional dalam politik dunia, sebagian penstudi sekarang menyatakan bahwa lingkungan hidup
3
Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan telah mendapat perhatian khusus dalam politik
global. Tentu saja, tempat untuk lingkungan dalam politik global dimaksudkan untuk
menghindari krisis lingkungan yang lebih buruk. Isu lingkungan telah melahirkan banyak
perubahan, khususnya dalam politik internasional. Hal ini terjadi karena permasalahan
lingkungan telah melahirkan sejenis ‘ancaman’ khususnya bukan pada negara tetapi pada
manusia secara keseluruhan. (Sorensen R. J., 2009)
Krisis lingkungan yang membawa dampak buruk kepada kehidupan manusia membuat
manusia sadar bahwa perhatian terhadap lingkungan sangatlah penting. Manusia tidak dapat
hidup tanpa lingkungan yang sehat, karena itu upaya manusia dari tingkat paling rendah hingga
tingkat paling tinggi perlu dilakukan untuk menjaga lingkungan yang sehat ini. Indonesia
termasuk salah satu negara yang merasakan dampak buruknya lingkungan. Karena itu, perlu
adanya peningkatan kesadaran perilaku yang tidak merusak lingkungan yang dibarengi dengan
kebijakan berwawasan lingkungan yang nantinya dapat menjaga kelestarian lingkungan.
Indonesia telah meratifikasi Protokol Kyoto yang dituangkan kedalam undang-undang nomor
17 tahun 2004. Ratifikasi ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama untuk menurunkan
emisi karbon. Protokol Kyoto ditujukan untuk mengendalikan konsentrasi gas rumah kaca sesuai
dengan tanggung jawab bersama yang dibedakan (common but differentiated responsibilities)
dengan memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi tiap-tiap negara. (Undang-undang nomor 17
tentang pengesahan protokol Kyoto atas konvensi kerangka kerja perserikatan bangsa-bangsa
tentang perubahan iklim, 2004) Emisi dipandang sebagai akar dari masalah perubahan iklim
sehingga diharapkan dengan menurunnya emisi dan kestabilan emisi di atmosfer dapat
4
Perubahan iklim juga melanda Indonesia dengan parah. Curah hujan begitu tinggi
menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air sehingga banjir, kekeringan
menyebabkan gagal panen dan bencana kelaparan menghadang didepan mata. Permasalahan
lingkungan yang terjadi di Indonesia menyebabkan pemerintah mengambil langkah untuk
memperhatikan serta melindungi lingkungan Indonesia melalui undang-undang nomor 32 tahun
2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Undang-undang tersebut
ditujukan untuk mengelola lingkungan dan menjaga lingkungan dari bencana yang sering
melanda Indonesia. Undang-undang ini juga melarang tindakan serta perilaku individu yang
kiranya dapat mengancam kelestarian lingkungan seperti pembakaran lahan dan pembuangan
limbah ke media lingkungan. (Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup, 2009)
Langkah lain yang diambil pemerintah Indonesia adalah dengan adanya kebijakan
pengurangan emisi. Komitmen ini didasari oleh posisi Indonesia yang dipandang cukup rentan
terhadap dampak dari perubahan iklim.Selain itu, komitmen ini adalah tindak lanjut dari Bali
Action Plan pada COP ke 13 yang kemudian melahirkan komitmen pemerintah untuk
menurunkan emisi. Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk Peraturan Presiden nomor 61 tahun
2011 mengenai Rencana Aksi Naasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).
Dimana rencana ini dimaksudkan untuk menurunkan emisi sebesar 26% dengan usaha sendiri
dan 41% dengan bantuan internasional. (Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 Tentang
Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, 2011) Rencana ini merupakan
rencana aksi yang dibuat dalam kurun waktu 10 tahun terhitung dari tahun 2010 hingga 2020.
(Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2013) Emisi gas rumah kaca dirasa sangat perlu
5
yang terus menerus dan menyebabkan perubahan pada sistem iklim global. (United Nations
Framework Convention On Climate Change)
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keunikan geografis. Seperti sungai-sungai
yang panjang dan dalam, hutan hijau yang luas serta lahan gambut yang tersebar luas. Hutan
hijau yang lebat merupakan paru-paru dunia. Dimana hutan tersebut menyediakan oksigen yang
selalu dibutuhkan makhluk hidup dan menyerap karbon yang dibuang oleh makhluk hidup.
Indonesia memiliki berbagai jenis hutan, diantaranya adalah hutan hujan daratan rendah, hutan
bakau, hutan alami bercampur dengan area lainnya seperti padang rumput, dan hutan sebagai
kawasan yang dilindungi. (Indonesia Forest And Climate Support) Namun dimata manusia,
hutan merupakan sumber penghasilan. Dimana kayu adalah komoditas yang menguntungkan.
Selain untuk menjual kayu, manusia juga membuka hutan untuk lahan pertanian. Dengan begitu,
hutan menjadi semakin sempit dari waktu ke waktu. Padahal hutan tidak hanya tegak berdiri dan
diam. Hutan memiliki kesibukan untuk memberikan jasa kepada ekosistem seperti menjaga
kualitas dan kuantitas air serta menjaga kesuburan tanah. (Indonesia Forest And Climate
Support)
Indonesia memiliki lahan gambut yang begitu luas. Tanah gambut merupakan tanah yang
istimewa. Tanah ini mengandung banyak serasah (sisa-sisa tanaman mati) dan mengandung
begitu banyak air. Tanah gambut dapat menyerap begitu banyak air ketimbang tanah yang lain,
sehingga tanah ini dapat menanggulangi terjadinya banjir disaat curah hujan yang tinggi.
Sedangkan pada saat musim kemarau lahan gambut mengeluarkan cadangan airnya dan
menyediakan pasokan air sehingga kemarau tidak kekurangan air. Luas lahan rawa gambut di
Indonesia diperkirakan 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8 persen dari luas daratan Indonesia. Dari
6
Forest And Climate Support) Akan tetapi terdapat rencana untuk mengubah sebagian besar hutan
gambut menjadi perkebunan kelapa sawit. Ketika lahan gambut digunakan untuk perkebunan
kelapa sawit, maka air akan dikeringkan, pohon ditebang, dan tanah gambut pun digali.
(Wetlands International ) Perilaku inilah yang menyebabkan bencana. Lahan gambut yang
seharusnya basah dan menjadi cadangan air ketika kemarau justru menjadi sangat kering karena
air yang dikeringkan. Selain itu, banyak korporasi memilih jalan pintas untuk membakar lahan
gambut ketimbang menggalinya dengan alasan penghematan biaya. Kemudian hal ini
menyebabkan kebakaran hutan gambut dan kabut asap yang berbahaya.
Pulau Sumatera adalah pulau dengan lahan gambut yang luas. Akan tetapi setiap musim
kemarau, kekeringan melanda pulau Sumatera. Ini dikarenakan lahan gambut disana mulai
dikeringkan airnya dan dimaksudkan untuk menjadi kebun kelapa sawit. Lahan-lahan gambut
dibakar dan menyebabkan kabut asap yang meluas dan berbahaya bagi kesehatan. Selain itu,
pohon-pohon ditebang untuk membuka lahan pertanian atau pemukiman penduduk ketika musim
penghujan. Hal ini justru menyebabkan tanah longsor. Bencana-bencana ini sering kali melanda
daerah Sumatera padahal pada dasarnya Sumatera bukanlah daerah rawan bencana akan tetapi
karena perilaku penduduknya yang tidak memperhatikan alam, justru membuat daerah Sumatera
sering dilanda bencana.
Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi yang memiliki lahan gambut di Sumatera. Akan
tetapi provinsi ini tidak terkenal akan kekayaan lahan gambutnya. Sumatera Selatan akhir-akhir
ini sering mengalami bencana karena kabut asap yang menyelimutinya. Hal ini karena
pembakaran lahan gambut yang dimilikinya telah beralih fungsi. Sumatera Selatan selalu
memiliki titik api terbanyak dan menyumbang polutan asap yang luas dan berbahaya. Setiap
7
musim penghujan, Pulau Sumatera hampir selalu mengalami tanah longsor. Karena itu,
pemerintah Indonesia menyelenggarakan program penanganan perubahan iklim untuk
menghindari risiko bencana. Dengan otonomi daerah, pemerintah pusat memberikan
kewenangan bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan upaya penanganan perubahan iklim
berbasis lokal yang dikelola sendiri oleh pemerintah daerah Sumatera Selatan yang bekerja sama
dengan NGO internasional yakni World Agroforestry Centre (Dulunya ICRAF).
B. Rumusan Masalah
Dengan pemaparan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana upaya World Agroforestry Centre dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam menangani perubahan iklim di Sumatera Selatan?
C. Kerangka Pemikiran
Untuk membantu mendeskripsikan dan memahami Program LAMA – I sebagai bentuk
kerjasama dalam upaya mitigasi bencana dikawasan Sumatera Selatan diperlukan suatu alat
analisa berupa kerangka pemikiran sebagai landasan teori yang relevan dengan permasalahan
yang ada yaitu Pembangunan Berkelanjutan dalam tiga aspek yakni ekonomi, lingkungan dan sosial serta Kerjasama.
1. Konsep Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan merupakan upaya suatu negara untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan adalah proses untuk mencapai keadaan yang lebih baik sehingga tercapai
tujuan-tujuan pembangunan itu sendiri. Karenanya, pembangunan sering kali diupayakan agar berhasil
sehingga tujuan pembangunan tercapai. Sering kali, pembangunan tidak disertai dengan analisa
8
memang tidak akan banyak berpengaruh, sehingga yang dipentingkan adalah tercapainya tujuan
tanpa melihat dampak buruk dari proses tercapainya tujuan tersebut.
Kondisi lingkungan yang terkena dampak buruk karena pembangunan ini kemudian
memberikan bencana bagi manusia dikemudian hari. Selain bencana, ada pula ancaman lain dari
pembangunan yang mengesampingkan lingkungan. Yakni, terancamnya kebutuhan generasi
yang akan datang karena pembangunan masa sekarang. Apabila kebutuhan manusia tidak
terpenuhi maka kelangsungan hidupnya akan terancam. Disisi lain, manusia juga diancam oleh
bencana dari rusaknya alam sekitar. Pada akhirnya, yang akan diwariskan kepada generasi yang
akan datang adalah kerusakan dan bencana belaka.
Pembangunan tanpa mempedulikan lingkungan yang memprihatinkan membuat banyak
pihak berupaya mencari jalan. Salah satunya adalah lembaga dibawah naungan PBB, United
Nations Environment Programme (UNEP). Sekitar tahun 1980-an, istilah pembangunan
berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation Strategy yang diterbitkan oleh UNEP,
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan World Wide
Fund (WWF). (Dewan Redaksi Dinas Pekerjaan Umum, 2009)
Definisi Pembangunan Berkelanjutan menurut Harlem Brundtland yang kemudian diadopsi
kedalam laporan World Commission on Environment and Development adalah proses
pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan
sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” (World
9
Konsep pembangunan berkelanjutan dapat diperenci menjadi tiga aspek pemahaman,
Pertama, keberlanjutan ekonomi yang diartikan sebagai pembangunan yang mampu
menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara keberlanjutan pemerintahan dan
menghindari terjadinya ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian dan
industry. Kedua, Keberlanjutan lingkungan yang mampu memelihara sumber daya uang stabil,
mengindari sumber daya alam dan fungsi penyerapan lingkungan. Hal ini juga menyangkut
pemeliharaan keanekaragaman hayati, stabilitas ruang udara dan fungsi ekosistem lainnya yang
tidak termasuk katagori sumber-sumber ekonomi. Ketiga, Keberlanjutan sosial, secara sosial
diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan, penyediaan layanan sosial termasuk
kesehatan, pendidikan, kesadaran kesetaraan gender dan akuntabilitas politik. (World
Commission on Environment and Development, 1982)
Kebutuhan manusia merupakan hal yang tidak dapat dibatasi. Ini membuat manusia berusaha
untuk terus memenuhi kebutuhannya, akan tetapi jika tidak dibatasi maka kelangsungan generasi
yang akan datang akan terancam. Karena itu, diperlukan pemenuhan kebutuhan manusia tanpa
mengorbankan kelangsungan kebutuhan generasi yang akan datang. Ini merupakan sebuah
tantangan besar bagi upaya pembangunan berkelanjutan. Pembangunan Berkelanjutan harus
digalakkan karena sejatinya bumi ini adalah dihuni anak cucu kita dan kita seharusnya
mewariskan bumi ini dalam keadaan baik dan bukannya rusak serta tercemar.
Pembangunan nasional Indonesia selalu mengupayakan konsep pembangunan berkelanjutan
sebagai salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan tidak mengurangi
kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka nantinya. Dalam hal ini,
Indonesia berusaha menyeimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidup dalam
10
pembangunan yang menyentuh beberapa pilar pembangunan. Dalam pilar lingkungan hidup,
Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) untuk ikut berkontribusi
dalam upaya bersama pengurangan emisi. (Tim Kerja Nationally Appropriate Mitigation
Actions, 2013)
Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah yang dinilai dapat memaksimalkan upaya
pengurangan emisi dengan lahan gambut yang dimilikinya. Mempertahankan lahan gambut
merupakan salah satu cara untuk mengurangi emisi karena lahan gambut memiliki kemampuan
menyerap emisi yang jauh lebih besar ketimbang hutan. Selain untuk mengurangi emisi, lahan
gambut juga memiliki jasa lingkungan yang berguna seperti menyediakan air untuk irigasi
ladang dan perkebunan serta mengurangi resiko tanah longsor serta banjir karena kemampuan
menyerap air dalam jumlah besar. Karbon tersimpan tidak hanya pada tumbuhan-tumbuhan yang
tumbuh di atas tanah gambut tetapi juga tertimbun dan tertahan didalam tanah.
Karena itu, upaya pengurangan emisi harus dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan karena
potensi yang dimilikinya. Selain untuk mengurangi emisi, manfaat lain juga akan didapatkan
oleh masyarakat Sumatera Selatan. Dengan upaya ini, diharapkan Sumatera Selatan dapat
menjadi daerah yang memiliki rencana pembangunan yang mengaplikasikan pembangunan
berkelanjutan.
2. Konsep Kerjasama
Dewasa ini, banyak pihak saling menjalin kerjasama. Pihak tersebut tidak hanya individu
dengan individu tetapi dapat pula pemerintah dengan organisasi. Hubungan tersebut tidak hanya
dimaksudkan untuk hal yang menguntungkan tetapi juga dapat dilakukan untuk mencapai tujuan.
11
dilakukan sekurang-kurangnya oleh dua pihak. Kerjasama kini telah berkembang berbagai
bentuk kerjasama dalam berbagai bidang. Selain untuk mencapai tujuan sering kali kerjasama
juga dilakukan dengan maksud menangani masalah yang terjadi.
Definisi kerjasama menurut Dougherty & Pfaltzgraff berarti serangkaian hubungan yang
tidak didasari oleh kekerasan atau paksaan dan disahkan secara hukum. (Pfaltzgraff, 1997)
Kerjasama juga dapat timbul sebagai efek dari interaksi antar pihak. Dengan adanya
interaksi, maka peluang kerjasama akan lebih besar. Hal ini dikarenakan, interaksi
memunculkan pertukaran ide-ide dari berbagai pihak yang terkait sehingga membuat pikiran
pihak-pihak terkait lebih terbuka. Sehingga peluang untuk menangani masalah dapat terjadi
dengan lebih baik karena terdapat beberapa pihak yang terkait dalam kerjasama. Usaha
kerjasama lain juga dijalankan dalam berbagai naungan organisasi serta lembaga internasional.
Beberapa organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, didasarkan oleh
kedaulatan tiap-tiap anggotanya, mereka tidak dapat bertindak tanpa izin pihak-pihak yang
terlibat dalam suatu permasalahan.
Pelaksaan kerjasama memerlukan pendekatan dan metode serta identifikasi masalah serta
sasaran yang dapat menghalangi upaya mencapai tujuan. Kerjasama dilakukan sebagai upaya
berkelompok untuk saling mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil.
Selain untuk memperoleh tujuan, bekerjasama dilakukan untuk bekerja demi mencapai tujuan
dan menghindarkan persaingan. Bekerjasama akan memungkinkan tercapainya kepentingan
khalayak umum dengan tujuan dan metode yang setujui pihak-pihak yang terkait dan hal itu
12
Perubahan iklim yang mulai terasa serta mengancam kehidupan telah melanda dunia.
Perubahan iklim ini telah menyebabkan dampak buruk bagi berbagai sektor di Indonesia. Untuk
menghindari dampak yang lebih buruk, perlu dilakukan upaya-upaya penanganan. Salah satunya
ialah upaya penanganan perubahan iklim dilakukan oleh pemerintah provinsi Sumatera Selatan
yang bekerjasama dengan NGO lingkungan World Agroforestry Centre (ICRAF). Kerjasama ini
dimaksudkan untuk menangani perubahan iklim dan menghindarkan dampak perubahan yang
melanda provinsi Sumatera Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya.
D. Hipotesa
Berdasarkan asumsi yang ada diatas, Penulis sementara menduga bahwa:
Provinsi Sumatera Selatan memiliki kekayaan alam yang kaya namun kondisinya justru
membahayakan penduduknya. Kerjasama antara World Agroforestry Centre dengan Pemerintah
Provinsi Sumatera Selatan dimaksudkan Pertama, untuk bersama-sama melakukan upaya
mitigasi sehingga wilayah Sumatera Selatan terhindar dari bencana yang mengancamnya. Kedua,
World Agrofsorestry Centre memberikan advokasi kepada Pemerintah Sumatera Selatan
mengenai pengelolaan lingkungan serta konsep pembangunan berkelanjutan sehingga tidak
mengancam kelestarian alam dan menghindarkan dari resiko bencana.
E. Metode penelitian
13
Tipe penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif, dimana metode deskriptif
bertujuan untuk menjelaskan dan menggambarkan upaya kerjasama dalam menangani perubahan
iklim yang terjadi khususnya di kawasan Sumatera Selatan.
2. Teknik pengumpulan data
Dalam penulisan skripsi ini penulis mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara
tertulis serta menggunakan metode telaah pustaka (Library Search) yaitu dengan mengumpulkan
data dari literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas, dan kemudian
menganalisanya. Literatur ini berupa buku-buku, dokumen, jurnal-jurnal, majalah, surat kabar,
ataupun laporan-laporan yang memiliki kaitan dengan permasalahan yang akan penulis teliti.
3. Jenis data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah sekunder dan wawancara dengan coordinator
program LAMA – I di Sumatera Selatan. Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui
berbagai literatur yang menyangkut dan sesuai dengan objek penelitian. Wawancara dengan
coordinator LAMA – I dilakukan melalui e-mail. Data sekunder yang dibutuhkan adalah data
yang diperoleh dari beberapa sumber sumber, baik berupa buku, jurnal, surat kabar, dan
dokumen-dokumen yang terkait dengan objek yang diteliti.
4. Analisa data
Dalam mengkaji masalah ini penulis menggunakan analisa data kualitatif karena data yang
diperoleh tidak bisa diukur secara statistik-matematis. Data kualitatif hanya bersifat
14
penelaahan secara sistematis. Dalam penulisan skripsi ini, data sekunder yang dipakai mayoritas
berupa pendapat orang dan data pendukung kualitatif lain yang mencerminkan sikap, perilaku,
pandangan dan ideologi seseorang yang tercermin dalam berbagai bentuk publikasi, baik cetak
maupun elektronik.
F. Jangkauan Penulisan
Untuk memudahkan penulis di dalam menganalisis bahan, maka penelitian ini memerlukan
batasan. Penelitian ini memfokuskan upaya penanganan perubahan iklim yang dilakukan World
Agroforestry Centre dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan antara 2013 sampai 2015.
Namun tidak menutup kemungkinan penulis akan menyinggung masalah di luar jangka waktu
serta masalah tersebut, jika dianggap perlu serta relevan dengan penelitian ini.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan hasil karya tulis yang teratur dan sistematis, maka secara keseluruhan
penulis membagi karya tulis ini ke dalam 5 (lima) bab sebagai berikut :
BAB I. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan bab yang memuat alasan pemilihan judul, menjelaskan latar
belakang masalah, rumusan permasalahan, kerangka dasar pemikiran, hipotesa, tujuan penelitian,
15
BAB II. Awal Mula Keterlibatan World Agroforestry Centre di Indonesia
Bab ini akan memaparkan profil serta cakupan kerja dari World Agroforestry Centre sebagai
rekan kerja Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta fasilitator Program LAMA-I.
BAB III. Problem Lingkungan yang di Sumatera Selatan.
Bab ini akan menguraikan profil Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta memaparkan tentang masalah-masalah yang dihadapi Sumatera Selatan khususnya problem mengenai lingkungan.
BAB IV. Kerjasama Antara World Agroforestry Centre dan Provinsi Sumatera Selatan Melalui Program LAMA-I
Bab ini akan menjabarkan tentang kegiatan-kegiatan serta upaya bersama World
Agroforestry Centre dengan Provinsi Sumatera Selatan terkait isu lingkungan dan mitigasi untuk
kemajuan program LAMA – I.
Bab V. Penutup
Bab ini merupakan bab akhir yang akan menutup karya tulis ini, berisikan kesimpulan yang
lebih ringkas dan tegas daripada bab sebelumnya, dan juga penilaian dari penulis secara pribadi
mengenai antara kerjasama World Agroforestry Centre dengan Pemerintah Sumatera Selatan
16 BAB II
AWAL MULA KETERLIBATAN WORLD AGROFORESTRY CENTRE (ICRAF) DI INDONESIA
Bab ini akan menjelaskan mengenai World Agroforestry Centre (ICRAF) sebagai INGO
yang memiliki program yang banyak dilakukan di Indonesia. Selain itu, penjabaran juga akan
menyinggung mengenai latar belakang berdirinya INGO ini serta fokus kegiatan dan penelitian
INGO ini di Indonesia terlebih di Sumatera Selatan. Sedikit peran World Agroforestry Centre ini
juga akan diulas dalam bab II yang merupakan kelanjutan dari bab sebelumnya.
A. Latar Belakang Berdirinya World Agroforestry Centre (ICRAF)
Pada pertengahan abad ke-20 terjadi peningkatan populasi manusia yang menyebabkan
kelaparan yang luas.Jutaan warga dunia mengalami kelaparan. Panen di sejumlah tempat
dilaporkan sangat tidak memuaskan. Kondisi ini diakibatkan situasi stok pangan dunia yang
sangat rendah. Disisi lain, negara produsen juga menutup ekspor dan bantuan ke negara lain
karena produksi sangat buruk. Misalnya, bantuan pangan Amerika Serikat anjlok 50 %.Amerika
Serikat juga mengetatkan penjualan pangan sekitar 10 juta ton pada Uni Soviet kala itu. (Kompas
Bisnis Keuangan, 2011) Kelaparan ini menyebabkan organisasi internasional berupaya untuk
menanganinya dengan upaya ketahanan pangan. Istilah ketahanan pangan ini pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1971 oleh PBB. Ketahanan pangan dimaksudkan untuk membebaskan
dunia dari krisis produksi dan suplai makanan pokok terutama dinegara-negara berkembang.
Ketahanan pangan pada masa itu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pokok dan
membebaskan daerah dari krisis pangan.
Pada tahun 1970, yayasan Rockefeller mengusulkan suatu jaringan pusat pertanian diseluruh
17
penelitian tentang pertanian internasional yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan
mencapai ketahanan pangan dinegara berkembang. Kemudian usulan ini didukung oleh Bank
Dunia, FAO, UNDP yang kemudian dibentuk Consultative Group for International Agricurtural
Research ( Selanjutnya CGIAR) pada tahun 19 Mei 1970. World Agroforestry Centre (ICRAF)
merupakan organisasi non profit yang bergerak dalam bidang pertanian dan lingkungan. World
Agroforestry Centre merupakan satu dari 15 cabang Consultative Group for International
Agricurtural Research (CGIAR). Awal berdirinya World Agroforestry Centre tidak dapat
dilepaskan dari INGO CGIAR.
Pada awalnya, pada awal abad 20-an terjadi peningkatan populasi manusia yang
dikhawatirkan menyebabkan bencana kelaparan. Karenanya banyak yayasan internasional
mendesak masyarakat internasional untuk melakukan upaya internasional untuk mendukung
penelitian mengenai pangan dan pertanian tropis. Pada tahun 1971 CGIAR didirikan untuk
mengkoordinasikan upaya-upaya penelitian tentang pertanian yang bertujuan mengurangi
kemiskinan dan mencapai ketahanan pangan dinegara-negara berkembang.
Karenanya visi dari CGIAR adalah mengurangi kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan
kesehatan dan ekosistem melalui kemitraan penelitian pertanian. CGIAR merupakan organisasi
nirlaba yang menerima dana dari anggotanya. Keanggotaan CGIAR meliputi pemerintah,
lembaga dan yayasan filantropi. Beberapa anggotanya antara lain adalah Ford Foundation, Food
and Agriulture Organization, United Nations Development Programme, World Bank, European
Commission, Asian Development Bank, African Development Bank. Akan tetapi CGIAR tidak
dapat mengemban visinya itu sendiri mengingat permasalahan yang dihadapi begitu pelik.
CGIAR membentuk 15 badan yang masing-masing memiliki tugas untuk mendukung visi
18
Kenya. Meskipun bermarkas pusat di Kenya, tetapi World Agroforestry Centre juga memiliki
kantor-kantor cabang dinegara lain terutama negara berkembang khususnya negara Asia
Tenggara. (Consultative Group for International Agricultural Research)
Gambar 1.1
Tujuan didirikannya CGIAR dan 15 Cabangnya
sumber (Consultative Group for International Agricultural Research)
Dengan adanya tujuan strategis diatas, CGIAR berupaya untuk membebaskan dunia dari
permasalahan kemiskinan, kelaparan dan degradasi lingkungan. CGIAR berupaya melakukannya
dengan pendekatan penelitian untuk memajukan inovasi terutama bidang pertanian dan
19
lingkungan sehingga masyarakat dan pemerintah dapat meningkatkan produktivitas dan
ketahanan serta dapat mengelola sumber daya alam serta mampu menghadapi tantangan yang
sudah tidak dapat terhindarkan yakni perubahan iklim.
Tabel 1.1
Daftar Cabang Keanggotaan INGO CGIAR
Center Board Chair Director
General
Africa Rice Center (AfricaRice)
www.africarice.org Eric Tollens
International Center for Tropical Agriculture (known by its Spanish acronym CIAT for Centro Internacional de Agricultura Tropical) www.ciat.cgiar.org
Geoff Hawtin Ruben Echeverría
Center for International Forestry Research (CIFOR)
www.cifor.org
John Hudson Peter Holmgren
International Maize and Wheat Improvement Center (known by its Spanish acronym CIMMYT for Centro Internacional de Mejoramiento de
Maíz y Trigo)
www.cimmyt.org
John Snape Martin Kropff
International Potato Center (known by its Spanish acronym CIP for Centro Internacional
de la Papa)
International Center for Agricultural Research
20
International Crops Research Institute for the
Semi-Arid Tropics (ICRISAT)
International Food Policy Research Institute (IFPRI)
www.ifpri.org
Kym Anderson Shenggen Fan
International Institute of Tropical Agriculture (IITA)
International Rice Research Institute (IRRI)
www.irri.org Jim Godfrey
Matthew Morell
International Water Management Institute (IWMI)
www.iwmi.cgiar.org
Donald
Blackmore Jeremy Bird
World Agroforestry Centre (previously known as
World Agroforestry Centre (ICRAF) merupakan
lembaga yang mengkhususkan diri dalam pengelolaan
pembangunan berkelanjutan, perlindungan, dan
21
tahun 2002 ICRAF mengubah namanya menjadi World Agroforestry Centre (ICRAF) dan tetap
mempertahankan ICRAF sebagai akronim dari World Agroforestry Centre. World Agroforestry
Centre merupakan organisasi nirlaba yang melakukan penelitian dibidang agroforestri atau
agro-silvikultur atau sistem manajemen lahan yang mengkombinasikan antara pertanian dan
kehutanan. Metode agro-silvikultur ini lebih dikenal masyarakat dengan sebutan kebun campur
atau semacam tumpang sari dipersawahan. Organisasi ini memegang tugas untuk melakukan
penelitian terhadap pertanian, dan membantu negara-negara berkembang mencapai ketahanan
pangan.
Salah satu upaya yang gencar dilakukan ICRAF adalah penanaman metode kebun campur
karena pohon memainkan peran penting di semua ekosistem darat dan menyediakan berbagai
produk serta layanan bagi lingkungan. Sebagai tumbuhan alami, Pohon justru dibersihkan untuk
pertanian dan pembangunan lainnya. Padahal pohon memiliki manfaat. Kombinasi antara
tumbuhan pertanian dan pepohonan yang kemudian disebut dengan agroforestri. (World
Agroforestry Centre) Karenanya pentingnya mengimplementasikan agroforestri pada lahan-lahan
pertanian untuk menjaga kelestarian lingkungan.
World Agroforestry Centre juga melakukan kegiatan penelitian dan penyuluhan kepada
petani, masyarakat serta pemerintah mengenai aplikasi agroforestri dalam pertanian, pentingnya
kesehatan tanah, pentingnya jasa lingkungan serta perubahan iklim. Penyuluhan yang diberikan
dimaksudkan untuk memberikan informasi sehingga kegiatan pertanian dan pembangunan serta
aktivitas sehari-hari dapat berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan sesuai dengan
konsep pembangunan berkelanjutan serta tidak merusak ekosistem dan kondisi lingkungan.
Selain isu-isu diatas, ICRAF juga menangani beberapa isu lain yang ditangani oleh tujuan
22
kemiskinan, menyediakan energi yang terjangkau dan bersih, melindungi kehidupan didarat dan
memerangi perubahan iklim. (World Agroforestry Centre) Dengan metode kebun campur,
dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat bagi lingkungan sekaligus bagi masyarakat yang
menerapkannya. Metode kebun campur memiliki manfaat untuk melindungi kehidupan didarat
dengan menjaga kualitas tanah dan air serta udara. Disisi lain, metode ini juga dapat
berkontribusi untuk memerangi dampak perubahan iklim.
C. Cakupan Kerja World Agroforestry Centre (ICRAF)
Sebagai anggota dari CGIAR, World Agroforestry Centre memiliki peran dan cakupan kerja
yang dimaksudkan untuk mendukung tugas CGIAR. Seperti pada awal pembentukannya,
CGIAR dimaksudkan untuk mempertahankan lahan pertanian dan mengurangi bencana
kelaparan. Seiring berjalannya waktu, kelaparan tidak hanya menjadi ancaman bagi kehidupan
tetapi bencana alam yang kini menjadi mimpi buruk bagi dunia. Bencana alam menjadi salah
satu hal yang tidak diinginkan akan tetapi dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, upaya
mitigasi dirasa perlu untuk menghindari bencana dan kerusakan. Tiap-tiap anggota CGIAR
memegang peranan untuk mencegah terjadinya bencana terutama perubahan iklim dan
pemanasan global yang sesuai dengan cakupan kerjanya masing-masing. Seperti World
Agroforestry Centre yang melakukan berupaya melakukan mitigasi dengan menjaga kelestarian
pohon dan hutan serta tetap berupaya untuk menjalankan upaya memerangi kelaparan dengan
adanya ketersediaan lahan pertanian.
Karena tugas yang diemban World Agroforestry Centre ini, maka World Agroforestry Centre
23
a. Meningkatkan inovasi ilmu pertanian sebagai upaya peningkatan kesejahteraan petani
karena kaum miskin didunia didominasi oleh petani. Maka jalur utama untuk memerangi
kemiskinan ialah meningkatkan kesejahteraan petani melalui beragam inovasi pertanian.
b. Mereduksi kemiskinan tidak dapat dilakukan dengan cara tunggal saja, karenanya penting
untuk meningkatkan produktivitas petani dan kualitas pangan yang dihasilkan sehingga
memiliki nilai jual yang tinggi. Kualitas pangan yang baik juga dapat meningkatkan
kualitas individu.
c. Menjaga kelestarian alam dan menjaga ketersediaan bahan pangan dilakukan dengan
upaya agro-silvikultur atau kebun campur dengan mempertahankan pohon alami (yang
tumbuh dengan sendirinya tanpa ditanam dengan bibit) yang ada dilahan pertanian atau
perkebunan.
d. Menjaga kelestarian lingkungan dan memerangi kemiskinan dilakukan dengan
memberikan edukasi mengenai upaya menanam pohon yang kiranya bernilai jual tinggi
dan memberikan pelatihan penanaman dan perawatan pohon dengan efek pruning
(memotong dahan pohon dengan teknik tertentu) sehingga nilai jual batang kayu menjadi
lebih tinggi.
e. Menjaga ketersediaan air bersih dan mengurangi dampak pemanasan global dilakukan
dengan upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan didaerah hulu dan hilir
sungai sehingga akan terjamin ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk
kebutuhan irigasi.
f. ICRAF memberikan alternatif untuk tetap menjaga lingkungan sembari tetap
mendapatkan pemasukan dari terjaganya kelestarian lingkungan dengan menanam pohon
24
g. Mengurangi dampak perubahan iklim dan memerangi kerusakan lingkungan dilakukan
upaya dengan mempertahankan lahan gambut terutama di pulau Sumatera, Kalimantan
serta Papua. Lahan gambut memiliki banyak manfaat dan kiranya dapat menjadi jawaban
atas masalah-masalah lingkungan seperti kerusakan lingkungan, perubahan iklim,
kekurangan air bersih. Karenanya mempertahankan lahan gambut akan menjadi satu
langkah yang menjadi solusi bagi berbagai masalah yang menimbulkan bencana
dikemudian hari.
Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, bahwa tugas-tugas ICRAF selalu dibarengi
dengan tugas menjaga kelestarian lingkungan demi terjaganya ekosistem dan demi memerangi
dampak pemanasan global serta perubahan iklim. Artinya disetiap tugasnya, ICRAF juga
memiliki tugas mitigasi yang dilakukannya sebagai upaya memerangi dampak perubahan iklim
dan pemanasan global. Selain itu, ICRAF juga berupaya untuk tetap menjalankan tugas lainnya
yakni menjaga ketersediaan pangan lewat pertanian dan perkebunan sehingga terhindar dari
bencana kelaparan dan diharapkan juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan
negara berkembang.
Maka tugas utama dari ICRAF sendiri ialah mencari alternatif untuk menjaga kelestarian
alam, mitigasi bencana, berupaya mewujudkan ketahanan pangan dari sektor pertanian dan
perkebunan hingga dapat meningkatkan perekonomian baik dari level masyarakat hingga negara
dan memerangi dampak perubahan iklim serta pemanasan global yang akan mengancam
kehidupan dibumi. Karena itu, ICRAF mengkombinasikan upaya mitigasi dengan menjaga
kelestarian lingkungan dan upaya meningkatkan kesejahteraan dan upaya pencapaian ketahanan
pangan dengan berbagai cara seperti yang dijabarkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa
25
dengan menjaga kelestarian alam seperti tidak menebang pohon alami dan tidak melakukan
proses tebas bakar akan meningkatkan ekonomi dan menjaga ketersediaan pangan.
Ketiga hal ini saling berkaitan, berdampingan dan dapat diupayakan bersama-sama sesuai
dengan misi Pemerintah Indonesia yang dituangkan dalam peraturan Presiden nomor 61 yakni
RAN – GRK (Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca). Rencana ini
dimaksudkan untuk menurunkan emisi sebanyak 26% dengan upaya sendiri dan 41% dengan
bantuan internasional. Penurunan emisi ini juga harus dilakukan tanpa mengorbankan
peningkatan ekonomi sehingga perlu langkah seperti upaya yang dilakukan ICRAF sehingga
perekonomian tetap baik dan emisi dapat dikendalikan.
D. Keterlibatan World Agroforestry Centre (ICRAF) di Sumatera Selatan
Selama lebih dari 30 tahun, Agroforestry secara aktif dipromosikan sebagai sistem
penggunaan lahan praktis dan menguntungkan petani. World Agroforestry Centre (ICRAF)
secara hukum ditetapkan sebagai pusat internasional untuk penelitian dibidang Agroforestry. Di
Asia Tenggara, ICRAF memiliki program regional Asia Tenggara dimana Agroforestry
diharapkan dapat diterapkan dikawasan ini mengingat kawasan ini memiliki banyak kawasan
hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian. ICRAF memiliki markas utama di Indonesia
sebagai pusat regional kawasan Asia Tenggara.
Akan tetapi, program ICRAF ini menemui tantangan. Karena Agroforestry tidak serta-merta
dapat selajan dengan kebijakan publik. Selain itu, presepsi yang ada selama ini melihat bahwa
kehutanan dan pertanian adalah dua hal yang berbeda antara satu dengan yang lain. Karena itu,
26
menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus meningkatkan ketahanan pertanian masyarakat
dan meningkatkan produktivitas petani. (World Agroforestry Centre)
Keberadaan penerapan Agroforestry ini pada awalnya memang dinilai berbeda karena
presepsi masyarakat mengenai kehutanan dan pertanian yang bertolak belakang. Akan tetapi, di
lahan-lahan pertanian yang ditemukan di Asia Tenggara, terdapat banyak pohon diantara lahan
pertanian tersebut yang menimbulkan pertanyaan apakah pohon tersebut sengaja ditanam atau
sisa-sisa vegetasi alami?
Di Indonesia, selain pentingnya Agroforestri, emisi sedang menjadi fokus pemerintah untuk
mengurangi dampak perubahan iklim. Emisi yang ada di Indonesia, kebanyakan terjadi karena
konversi lahan gambut dan hutan yang beralih fungsi. Mayoritas lahan gambut yang beralih
fungsi ialah lahan gambut yang ada di Pulau Sumatera. Banyaknya lahan gambut disana tidak
menjamin kesejahteraan dan ketahanan lingkungan di Sumatera seperti yang seharusnya, justru
Sumatera menjadi tempat yang cenderung tidak aman secara lingkungan akibat dari konversi
lahan gambut ini.
Inilah yang awal dari keterlibatan ICRAF di Sumatera, khususnya Sumatera Selatan.
Konversi lahan gambut dan hutan yang ada disana menyebabkan wilayah Sumatera Selatan
dirundung banjir saat musim penghujan dan kabut asap saat musim kemarau. Padahal
seharusnya, Sumatera Selatan dapat terhindar dari banjir saat musim penghujan dan kekeringan
di musim kemarau karena memiliki lahan gambut yang luas. Akan tetapi, kenyataannya, hal ini
tidaklah terjadi.
ICRAF berupaya meningkatkan kapasitas pemerintah Sumatera Selatan dalam hal
27
menghindari bencana di musim penghujan dan musim kemarau. Tanpa konversi lahan gambut
dan hutanpun, pertumbuhan ekonomi tetap dapat dicapai tanpa mengorbankan lahan gambut dan
hutan yang biasanya dirubah menjadi kebun kelapa sawit. Selain untuk kepentingan warga
Sumatera Selatan sendiri, manfaat lahan gambut dapat membantu Indonesia dalam menghadapi
dampak perubahan iklim.
ICRAF memberikan advokasi kepada pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengenai
pentingnya menjaga kelestarian lahan gambut beserta manfaat besar lahan gambut. Selain itu,
kepemilikan lahan gambut adalah harta berharga bagi provinsi yang memilikinya karena lahan
gambut terbentuk dalam jangka waktu yang panjang. apisan-lapisan tanah gambut terbentuk
dalam jangka waktu yang panjang yaitu sekitar 5.000 -10.000tahun yang lalu. Hutan gambut di
Indonesia diduga terbentuk sejak 4.200-6.800 tahun. Semakin dalam tanah gambut semakin tua
umurnya. Laju pembentukan tanah gambut berkisar 0-3 mm per tahun. (Subiksa, 2008)
Akan tetapi, perlu ditekankan pula bahwa menjaga kelestarian lahan gambut dapat dilakukan
bersamaan dengan pembangunan. ICRAF menawarkan solusi pembangunan hijau yang sejalan
dengan program pemerintah pusat yang dapat diimplementasikan ke provinsi yang memiliki
lahan gambut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian ekosistem tanpa mengorbankan
pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi berbasis lingkungan amat diperlukan oleh
Provinsi Sumatera Selatan mengingat provinsi ini memiliki lahan gambut dalam jumlah besar.
Karenanya, penting bagi Sumatera Selatan untuk memiliki jalan pemikiran dalam hal
pembangunan berbasis lingkungan demi mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dan tanpa
28 BAB III
PROBLEM LINGKUNGAN DI SUMATERA SELATAN
Provinsi Sumatera Selatan memiliki masalah terkait dengan lingkungannya yang disebabkan
dan menyebabkan banyak masalah lain yang melanda Sumatera Selatan sendiri. Setelah
penjelasan mengenai keterlibatan INGO World Agroforestry Centre (ICRAF) di Indonesia
khususnya di Sumatera Selatan. Bab III akan menjabarkan masalah lingkungan apa saja yang
dihadapi Sumatera Selatan, apa yang menyebabkan masalah lingkungan itu terjadi dan akibat
yang ditimbulkan dari perkara lingkungan yang bermasalah.
A. Hutan Sebagai Kekayaan Alam Sumatera Selatan
Sumatera Selatan sering dijuluki sebagai bumi Sriwijaya yang artinya kaya akan kekayaan
alam. Kekayaan alam yang dimiliki Sumatera Selatan antara lain adalah hutan dan lahan gambut.
Karena kekayaan alam ini Sumatera Selatan menjadi Provinsi yang subur untuk ditanami
berbagai macam tumbuhan. Mulai dari kelapa sawit, kelapa, akasia, kopi, karet dan lain
sebagainya. Hutan dan lahan gambut sendiri memiliki manfaat dan fungsi yang dapat menjaga
Sumatera Selatan terhindar dari bencana. Bahkan lebih dari itu, kedua kekayaan alam yang
dimiliki Sumatera Selatan ini juga dapat menghindarkan bumi dari dampak pemanasan global
dan perubahan iklim.
Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan. (Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 , 2013) Hutan amat
penting untuk dijaga kelestariannya mengingat perannya yang penting bagi kehidupan manusia.
Hal ini disebabkan hutan memiliki peran dalam siklus karbon global. Pertumbuhan pohon
29
atmosfer kedalam vegetasi, tanah dan hasil hutan. Ekosistem ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan karbon sementara sampai karbon ini dilepaskan lagi ke atmosfer saat tanaman
mati. (Slamet, 2015)
Singkatnya, Hutan merupakan tempat penyimpanan karbon dalam jangka waktu tertentu.
Semakin luas hutan tersebut, semakin lebatnya hutan maka semakin banyak karbon yang
terserap. Akan tetapi, saat tanaman didalam hutan mati atau saat kawasan hutan semakin
menyempit maka karbon yang sebelumnya disimpan akan dilepaskan kembali ke atmosfer.
Hutan sendiri memiliki hubungan yang erat permasalahan dengan perubahan iklim global.
Perubahan iklim global dapat memberikan resiko dan dampak buruk bagi hutan dengan tidak
menentunya cuaca dan iklim yang terjadi dapat membuat hutan mengalami perubahan hingga
mengakibatkan hutan terdegradasi. Selanjutnya, hutan juga dapat memberikan kontribusi
terhadap permasalahan perubahan iklim global saat hutan yang mengalami degradasi maka
karbon akan dilepaskan ke atmosfer. Disisi lain hutan juga dapat menjadi solusi dari
permasalahan iklim global melalui konservasi dan restorasi hutan. (Slamet, 2015)
Tabel 1.2
Hubungan Perubahan Iklim Global dan Hutan yang Saling Mempengaruhi Satu Sama Lain
Hu
Hutan berdasarkan fungsi dan peruntukannya dibedakan sebagai berikut, a.) Hutan Lindung,
hutan yang keberadaannya dilindungi untuk memelihara fungsinya sebagai penyangga sistem
kehidupan seperti mencegah bencana ekologis dan memelihara fungsi daerah aliran sungai. b.)
PERUBAHAN
IKLIM
GLOBAL
Memberikan Resiko dan Dampak HUTAN
30
Hutan konservasi, hutan yang dicadangkan untuk keperluan pengawetan atau melindungi
keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. c.) Hutan produksi, hutan yang bisa dimanfaatkan
untuk keperluan eksploitasi produksinya seperti hutan tanaman industri kelapa sawit yang
banyak tersebar di Provinsi Sumatera Selatan. (Risnandar, 2015)
Sebelumnya, banyak hutan yang belum terjamah diwilayah Sumatera Selatan. Akan tetapi
setelah tahun 1997 terjadi penurunan penutupan luas lahan dikarenakan berbagai aktivitas
manusia. Penurunan paling tinggi terjadi di Pulau Sumatera yang banyak terjadi karena aktivitas
pembukaan lahan serupa. Aktivitas tersebut diantaranya adalah konversi lahan untuk penggunaan
lain seperti pengembangan kabupaten baru, pertanian, perkebunan, pengembangan pemukiman
dan prasarana wilayah. Selain itu, terdapat pula aktivitas lain seperti perambahan hutan illegal,
illegal logging, serta kebakaran hutan yang menyebabkan tutupan hutan semakin berkurang dari
waktu ke waktu. (Slamet, 2015)
Selain hutan, Sumatera Selatan juga memiliki lahan gambut yang luas. Keberadaan lahan
gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan
gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga
memiliki kekhasan dan bahkan beberapa jenis tidak ditemukan pada habitat yang lain. Lahan
gambut Indonesia adalah hutan kering dataran rendah yang dekat dengan kawasan pesisir.
Dibawah tanah hutan ini tersimpan jutaan ton karbon akibat akumulasi pembusukan vegetasi
selama ribuan tahun. Wilayah dengan kondisi agak berawa akibat pembusukan yang tidak
sempurna bisa mencapai kedalaman hingga 10 meter atau lebih selama ribuan tahun berlalu.
(Wihardandi, 2013)
Lahan gambut bagi Indonesia memiliki nilai yang sangat penting karena mampu menyimpan
31
bermineral, dan 90% diantaranya disimpan di dalam tanah. Lahan gambut bisa melepaskan
karbon selama bertahun-tahun jika pepohonan di atasnya ditebang, dan mengakibatkan
perubahan tatanan tanah gambut atau jika dibakar. Indonesia saat ini memiliki kawasan lahan
gambut tropis terluas di dunia dengan 22 juta hektar yang tersebar di Kalimantan, Papua.
Sedangkan sepertiganya berada di Sumatera.
Lahan gambut Indonesia memiliki nilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 57
miliar ton karbon, membuat kawasan ini sebagai salah satu kawasan utama penyimpan karbon
dunia. Surga karbon lahan gambut Indonesia, hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di
Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon. (Wihardandi, 2013) Peran Penting Karbon
Indonesia, salah satunya adalah mencegah emisi lebih lanjut agar suhu Bumi tidak naik hingga 2
derajat Celcius. Untuk mencegah kenaikan suhu ini, manusia di Bumi tidak bisa melepas emisi
lebih dari 600 miliar ton karbon dioksida antara saat ini hingga 2050 mendatang. Lahan gambut
Indonesia sendiri, jika lepas secara keseluruhan ke atmosfer, maka akan melepas sepertiga
cadangan karbon yang ada didunia. (Wihardandi, 2013)
Banyak lahan gambut yang kini telah berubah menjadi hutan tanaman industry (HTI) yang
ditanami kelapa sawit dan akasia. Lahan gambut yang berubah fungsi ini berubah dengan
perubahan yang mengundang bencana. Pembakaran lahan gambut masih menjadi pilihan yang
banyak diambil sebelum mengolah lahan gambut menjadi lahan pertanian atau perkebunan
dengan alasan biaya yang lebih murah dan waktu yang diperlukan relatif cepat terlebih dimusim
kemarau. Pembakaran dilakukan secara masif oleh perusahaan-perusahaan yang bermaksud
membuka lahan gambut dan menyebabkan bencana kabut asap serta kebakaran hutan gambut.
Salah satu bencana kebakaran terbesar terjadi pada tahun 2013 dibulan Juni dimana api
32
yang ada kala itu kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit dan perkebunan akasia untuk
industri kertas. Lahan gambut di Indonesia khususnya di Sumatera Selatan mengalami degradasi
ke titik yang paling rendah. Pada tahun 2006 saja tercatat 40.000 titik api yang muncul di
Indonesia. Maka tidak heran apabila perubahan iklim terjadi begitu dahsyat akhir-akhir ini
karena hilangnya lahan gambut ikut berkontribusi terhadap permasalahan perubahan iklim
global. (Wihardandi, 2013)
B. Krisis Lahan yang terjadi di Sumatera Selatan
Sumatera Selatan merupakan provinsi yang memiliki posisi strategis dan juga kaya akan
sumber daya alam. Hal ini dibuktikan dimasa lalu, bahwa kerajaan Sriwijaya merupakan
kerajaan maritim yang besar dan berjaya dimasanya. Kini, Sumatera Selatan berubah menjadi
Provinsi yang menggalakkan pembangunan dan juga terbuka terhadap adanya perubahan.
Masyarakat Sumatera Selatan kini tidak lagi menjadi nelayan dan pelaut seperti nenek moyang
mereka. Masrayakat banyak yang bekerja sebagai petani di kebun kelapa sawit yang banyak
tersebar di Sumatera Selatan. Banyak perusahaan kelapa sawit yang berdatangan ke Sumatera
Selatan dan membuka lahan kelapa sawit disini karena mempertimbangkan aspek lingkungan
yang cocok untuk pertumbuhan kelapa sawit.
Sebelumnya, Sumatera Selatan memiliki banyak kawasan hutan. Selain itu, penduduknya
juga belum banyak, karena itu pemerintah mengadakan program transmigrasi untuk meratakan
jumlah penduduk dan memaksimalkan lahan yang ada di Indonesia agar menjadi lahan yang
produktif. Pada tahun 1991, dilakukan kegiatan transmigrasi dari pulau Jawa ke pulau Sumatera.
Salah satunya dari Jawa Timur ke Sumatera Selatan. Para transmigran ini mendapatkan lahan
garapan di Sumatera Selatan seluas dua ha. Lahan garapan yang diberikan kepada para
33
(Walhi Sumatera Selatan, 2016) Sejak itu, masyarakat Sumatera Selatan dan para transmigran
mulai banyak yang menjadi petani yang mengolah lahan tak produktif tersebut.
Hutan yang dapat diperuntukkan hal lain yang diberikan kepada para transmigran untuk
digarap, tidak serta merta dapat menjadi lahan produktif. Para transmigran harus berusaha untuk
mengolah lahan dan mencari tanaman yang cocok untuk lahan tersebut dengan percobaan
berulangkali. Memerlukan waktu bertahun-tahun untuk merubah lahan tak produktif tersebut
menjadi lahan yang dapat menghasilkan komoditas. Namun saat lahan garapan mereka telah
menjadi lahan poduktif karena kerja keras mereka, justru kini lahan tersebut berubah menjadi
lahan sengketa.
Saat ini, 600 petani di Desa Nusantara (desa para eks transmigran) berusaha
mempertahankan lahan garapan mereka dari kepungan kebun sawit. Kini, banyak perusahaan
yang telah mendapatkan Hak Guna Usaha (selanjutnya HGU) tepat di lahan yang telah diberikan
pemerintah dahulu untuk para transmigran yang telah digarap mereka sejak tahun 1991. Hal ini
menimbulkan sengketa karena tiba-tiba para transmigran diberitahu bahwa lahan yang mereka
olah selama ini telah di HGU oleh perusahaan kelapa sawit. Padahal saat transmigran datang ke
tanah Sriwijaya, hutan yang dijadikan lahan mereka tidak serta-merta dapat ditanami. Butuh
waktu dan perjuangan hingga lahan mereka bisa menghasilkan panen yang baik. Saat lahan
sudah baik karena terus diolah dengan rajin justru lahan ini berada dibawah HGU oleh
perusahaan Selatan Agro Makmur Lestari.
Para mantan transmigran berupaya untuk tetap menjaga lahan yang telah mereka perjuangkan
sejak tahun 1991 dan melakukan mediasi bahkan hingga 15 kali. Lahan mereka sudah dibahas 13
kali di tingkat kabupaten dan tingkat pemerintah provinsi. Serta telah dibahas 2 kali di Badan
34
bagaimana bisa HGU perusahaan berada ditanah mereka, dan bagaimana kepastian selanjutnya.
Hal ini semakin mengkhawatirkan saat banyak lahan disekitar desa transmigran mulai ditanami
kelapa sawit sehingga sawah mereka mulai dikepung kelapa sawit. Tidak hanya sampai disitu,
lahan milik para eks transmigran kini tidak mendapatkan bantuan pemerintah karena status lahan
mereka yang masih berstatus sengketa.
Sengketa lahan ini tidak hanya terjadi di desa Nusantara di kabupaten Ogan Komering Ilir
yang dihuni mantan transmigran. Ada banyak kasus sengketa serupa yang terjadi di Sumatera
Selatan sendiri. Banyaknya perusahaan yang mendadak memiliki HGU diatas lahan garapan
masyarakat yang sebelumnya bertani semakin menambah panjang daftar lahan sengketa antara
masyarakat dengan perusahaan. Konflik sengketa ini terjadi berkepanjangan sehingga
menyulitkan petani dan juga menghambat produktivitas perusahaan sehingga dari pihak petani
maupun perusahaan sama-sama merugi.
Padahal petani di desa Nusantara ini seharusnya diberi gelar pahlawan pangan karena dapat
mengolah lahan yang tidak produktif menjadi lahan yang subur, selain itu mereka tetap bertani
meskipun lahan mereka telah dikepung kelapa sawit, mereka juga tetap bertani meskipun
pemerintah tidak memberikan bantuan pupuk. Disaat banyak lahan telah berubah menjadi kebun
sawit mereka tetap menanam padi. Hidup mereka jauh dari kesibukan kota, akan tetapi
kehidupan mereka selalu diusik oleh pembuat kebijakan di kota dan juga orang-orang kota
dengan kepetingannya di perusahaan.
Selain itu, Desa Nusantara ini telah membuktikan bahwa mereka dapat hidup dengan damai
dengan cara hidup berdampingan dengan mengolah lahan gambut dengan bijaksana. Disaat
pemerintah sedang sibuk berdiskusi mengenai upaya untuk menjaga kelestarian lahan gambut,