• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN SENSOR UREA DENGAN IMOBILISASI UREASE PADA MATRIKS PVA (POLYVINIL ALCOHOL.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMBUATAN SENSOR UREA DENGAN IMOBILISASI UREASE PADA MATRIKS PVA (POLYVINIL ALCOHOL."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PE MB UAT AN SENSOR URE A DENGAN IMMOBILISASI ENZIM UREASE PADA MATRIKS PVA (POLYVINIL ALCOHOL)

Oleh:

Krystin Tarihoran NIM. 4122210007 Program Studi Kimia

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sain

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

iii

PEMBUATAN SENSOR UREA DENGAN IMOBILISASI UREASE PADA MATRIKS PVA (POLYVINIL ALCOHOL)

Krystin Tarihoran (4122210007)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk membuat elektroda kerja urea sebagai biosensor dimana elektroda ini dibuat dengan mengimobilisasi enzim urease pada kawat wolfram sehingga dapat digunakan berulangkali untuk deteksi urea. Imobilisasi urease ini dibantu dengan matriks polyvinil alkohol (PVA) menjadi membran yang terlapis pada kawat wolfram yang digunakan untuk mendeteksi urea secara potensiometri dengan elektroda pembanding Ag/AgCl. Membran elektroda dibuat dari 0,0504 gram PVA dan 6 mg enzim urease dan dilekatkan pada kawat wolfram. Kemudian dicoating pada pada campuran 0,5044 gram PVC, 0,0120 gram KTpClPB dan 10 mL tetrahidrofuran (THF). Penelitian ini didahului dengan uji respon elektroda kerja yaitu pada 1x hingga 5x pencelupan. Hasil pengukuran menunjukkan, elektroda dengan variasi 1x pencelupaan. Kemudian melakukan optimasi terhadap larutan buffer yaitu pada Trisma HCl dan Posfat meliputi pH dan konsentrasi larutan buffer. Optimasi pada larutan elktrolit juga dilakukan pada KCl dimana KCl berfungsi sebagai elektrolit pendukung. Buffer yang memberikan respon terbaik dalam analisis urea yaitu buffer Posfat pada pH 7,5 dan konsentrasi 0,001 M. Pada pembuatan biosensor urea ini diperoleh sensitivitas biosensor 22,34 mV/dekade, jangkauan pengukuran 10-5 hingga 10-3 M, dan rata-rata waktu respon biosensor selama 380 sekon.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas

berkat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini

dengan baik dan tepat waktu. Penyelesaian skripsi dengan judul “Pembuatan Sensor Urea dengan Immobilisasi Enzim Urease pada Matriks PVA (Polyvinil Alcohol)” ini dipertahankan penulis dihadapan penguji dalam sidang meja hijau dan mengantarkan penulis memperoleh gelar Sarjana Sain Kimia.

Banyak pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, dari

awal pembuatan proposal penelitian, melaksanakan penelitian dan penyususan

laporan dalam bentuk skripsi. oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Drs. Marudut Sinaga, M.Si

selaku dosen pembimbing skripsi, Bapak Prof. Drs. Manihar Situmorang, M.Sc,

Ph.D , Bapak Drs. Kawan Sihombing, M.Si , dan Ibu Dr. Ida Duma Riris, M,Si,

selaku dosen penguji skripsi, yang telah mereview, memberikan arahan dan

saran-saran kepada penulis sehingga penulis lebih terarah dalam pembuatan proposal

penelitian, melaksanakan penelitian hingga penyelesaian laporan dalam bentuk

skripsi ini. Penulis juga berterimakasih kepada Bapak Drs. Bajoka Nainggolan,

M.S selaku dosen pembimbing akademik penulis, Bapak Agus Kembaren selaku

Ketua Jurusan Kimia dan seluruh Dosen Jurusan Kimia yang telah mendidik

penulis, dan seluruh staf/laboran Jurusan Kimia terkhusus Bang Nizam dan Bang

Eriadi yang sudah membantu selama penelitian.

Terimakasih yang sangat istimewa penulis sampaikan kepada orang tua

yang luar biasa, bapak Jamudin Tarihoran, S.Pd dan Ibu Dameria Simatupang atas

segala cinta kasih, doa, dan dukungan baik moral maupun material sehingga studi

dan skripsi ini dapat selesai. Terimakasih juga buat abangku Erin Tarihoran, Eda

Yanti Simatupang, Am.Kep ,Kedua adik tercinta Ranita Febriyanti Tarihoran dan

Dewi Chrystiani Tarihoran serta sahabat terkasih penulis Karto Yudhi Nadeak

(5)

v

Terimakasi kepada Debby tamba, Beril Sardina Ginting dan Ira Dwi Yana

rekan sepenelitian teman bertukar pikiran dan berdiskusi. Ucapan terimakasih

juga kepada rekan-rekan seperjuangan Kimia Nondik 2012 yang menjadi teman

baik dan seperjuangan penulis selama kuliah hingga lulus. Terimakasih sudah

menjadi teman suka duka selam kurang lebih empat tahun kuliah di Kimia

Unimed. Terimakasih juga buat sahabat penulis selama kuliah Lia Febrina yang

selalu setia mendengar cerita penulis. Terima kasih juga kepada teman satu kost

penulis selama 3 tahun Desi Sagala, Noci Randa Sembiring dan Nia

Perangin-angin terimakasih sudah mejadi saudara bagi penulis selama ini yang selalu

memberi semangat. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Umilia

Sitompul dan Helfrita Simamora atas doa dan dukungan, mereka sahabat penulis

sejak SMA yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsinya. Terimakasih

juga buat Krisno Nadeak, Erta Primadoli Tarihoran dan Penro Tambunan yang

selalu memberi hiburan, doa serta dukungan kepada penulis.

Penulis telah berupaya dengan maksimal untuk menyelesaikan penelitian

hingga skripsi ini, dan menyadari masih banyak kekurangan penulis

mengharapkan masukan untuk menyempurnakan skripsi ini, semoga penelitian ini

bermanfaat dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan

menambah wawasan bagi pembaca.

Medan, Agustus 2016

Penulis,

Krystin Tarihoran

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan i

Riwayat Hidup ii

Abstrak iii

Kata Pengantar iv

Daftar Isi vi

Daftar Gambar ix

Daftar Tabel xi

Daftar Lampiran xii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah 1

1.2. Batasan Masalah 6

1.3. Rumusan Masalah 6

1.4. Tujuan Penelitian 6

1.5. Manfaat Penelitian 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Urea 8

2.2. Enzim 10

2.2.1. Enzim Urease 12

2.3. Biosensor 13

2.4. Metode Potensiometri 14

2.4.1. Elektroda Pembanding 16

2.4.2. Elektroda Indikator 18

2.5. PVA (Polyvinil Alcohol) 21

2.6. Metode Immobilisasi Enzim 22

(7)

vii

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 27

3.2. Alat dan Bahan 27

3.3. Prosedur Penelitian 27

3.3.1. Pembuatan Larutan 28

3.3.2. Pembuatan Elektroda Urea dengan Immobilisasi Urease

pada Kawat Wolfram 29

3.3.3. Uji Respon Elektroda Kerja Terhadap Urea 29

3.3.4. Optimasi Elektroda Kerja Urea 30

3.3.4.1. Optimasi Larutan Buffer untuk Analisis Urea 30

3.3.4.2. Optimasi Larutan Elektrolit 31

3.3.4.3. Penentuan Jenis Larutan Buffer 31

3.3.4.4. Pengaruh Senyawa Penganggu (Interferen) 32

3.3.4.5. Penentuan Sensitivitas, Jangkauan Pengukuran dan Waktu

Respon Biosensor 32

3.4. Diagram Alir Penelitian 33

3.4.1. Diagram Alir Pembuatan Elektroda dengan Imobilisasi Enzim

Urease pada Kawat Wolfram 33

3.4.2. Diagram Alir Uji Respon Elektroda Kerja

Terhadap Urea 34

3.4.3. Diagram Alir Optimasi Elektroda Kerja 34

3.4.3.1. Pengaruh Larutan Buffer (Buffer Posfat 0,001 M dan Buffer

Trisma HCl 0,001 M) 34

3.4.3.2. Pengaruh Elektrolit (Larutan KCl) 35

3.4.3.3. Penentuan Jenis Larutan Buffer 36

3.4.3.4. Pengaruh Senyawa Penganggu 36

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pembuatan Elektroda Urea dengan Immobilisasi Urease pada Kawat

Wolfram 37

(8)

viii

4.3. Optimasi Elektroda Kerja Urea 40

4.3.1. Optimasi Larutan Buffer untuk Penentuan Urea 40

4.3.1.1 Penentuan pH Optimum Larutan Buffer 40

4.3.1.2. Penentuan Konsentrasi Optimum Larutan Buffer 42

4.3.2. Optimasi Larutan Elektrolit 44

4.3.3. Penentuan Jenis Larutan Buffer 45

4.4. Respon Biosensor Urea Terhadap Senyawa Pengganggu 46

4.5. Uji Kinerja Elektroda 47

4.5.1. Sensitivitas Biosensor 47

4.5.2. Jangkauan Pengukuran 48

4.5.3. Waktu Respon 48

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 50

5.2. Saran 50

DAFTAR PUSATAKA 51

LAMPIRAN 54

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Struktur Urea 8

Gambar 2.2. Siklus Urea 9

Gambar 2.3. Elektroda Kalomel 17

Gambar 2.4. Elektroda Perak/Perak Klorida 17

Gambar 2.5. Alur E sebagai fungsi –log a padametode potensiometri 20

Gambar 2.6. Penentuan limit deteksi berdasarkan ekstrapolasi titik temu 20

Gambar 2.7. Struktur Monomer PVA 22

Gambar 2.8. Immobilisasi Enzim dengan Tehnik carrier-binding 23

Gambar 2.9. Immobilisasi Enzim secara cross-linking 25

Gambar 2.10. Immobilisasi enzim dengan tehnik penjebakan 26

Gambar 3.1. Desain Elektroda Urea 29

Gambar 3.2. Desain Pengukuran Potensial 30

Gambar 3.3. Diagram Alir Pembuatan Elektroda dengan Imobilisasi

Enzim Urease pada Kawat Wolfram 33

Gambar 3.4. Diagram Alir Uji Respon Elektroda Kerja Terhadap Urea 34

Gambar 3.5. Diagram Alir Penentuan pH Optimum Larutan Buffer 34

Gambar 3.6. Diagram Alir Penentuan Konsentrasi Optimum Larutan

Buffer 35

Gambar 3.7. Diagram Alir Pengaruh Elektrolit 35

Gambar 3.8. Diagram Alir Penentuan Jenis Larutan Buffer 36

Gambar 3.9. Diagram Alir Pengaruh Senyawa Penganggu 36

Gambar 4.1. Kurva Standar Hubungan Log Konsentrasi Urea dengan

Potensial Pada Lima Elektroda Kerja Urea 39

Gambar 4.2. Kurva Hubungan Variasi pH Trisma HCl dengan Nilai

Potensial 41

(10)

x

Gambar 4.4. Kurva Hubungan Log Konsentrasi Trisma HCl Terhadap Nilai

Potensial 43

Gambar 4.5. Kurva Hubungan Log Konsentrasi Posfat Terhadap

Nilai Potensial 43

Gambar 4.6. Kurva Hubungan Log Konsentrasi Elektrolit Terhadap Nilai

Potensial 44

Gambar 4.7. Kurva Standar Hubungan Log Konsentrasi Urea dengan

Trisma HCl Terhadap Nilai Potensial 45

Gambar 4.8. Kurva Standar Hubungan Log Konsentrasi Urea dengan

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1. Data Hasil Pengukuran Pengaruh Senyawa Penganggu 47

(12)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Data Hasil Uji Respon pada Elektroda Kerja Urea 1x

Pencelupan Hingga 5x Pencelupan 54

Lampiran 2. Perhitungan Persamaan Regresi Linier dan Koefisien Korelasi

pada Kurva Uji Respon 1x Pencelupan (Elektroda Kerja

dengan Respon Terbaik) 57

Lampiran 3. Data Hasil Pengukuran Potensial Larutan Buffer Trisma

HCl dan Buffer Posfat pada pH yang Berbeda 59

Lampiran 4. Data Hasil Pengukuran Potensial Larutan Buffer Trisma

HCl dan Buffer Posfat pada Konsentrasi yang Berbeda 60

Lampiran 5. Data Hasil Pengukuran Potensial Optimasi Larutan

Elektrolit KCl 61

Lampiran 6. Data Hasil Pengukuran Standar Urea dengan Buffer Trisma

HCl dan Perhitungan Persamaan Regresi Linier, Koefisien

Korelasi pada Kurva Hubungan Log Konsentrasi Urea dengan

Trisma HCl 62

Lampiran 7.Data Hasil Pengukuran Standar Urea dengan Buffer Posfat dan

Perhitungan Persamaan Regresi Linier, Koefisien Korelasi pada

Kurva Hubungan Log Konsentrasi Urea dengan Posfat 65

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Urea merupakan molekul dari amonia yang dibentuk pada proses deaminasi

asam amino dalam hati (Khairi, 2005). Urea juga dikenal dalam istilah carbamide.

Pada dasarnya urea merupakan limbah yang dihasilkan oleh metabolisme didalam

tubuh manusia (metabolisme protein). Dari uraian metabolisme asam amino

diketahui bahwa NH3 dapat dilepaskan dari asam amino melalui reaksi

transaminasi, deaminasi, dan dekarboksilasi. Pada reaksi transaminasi gugus NH₂

yang dilepaskan diterima oleh asam keto, sehingga terbentuk asam amino baru

dan asam keto lain. Sedangkan pada reaksi deaminasi, gugus NH₂ dilepaskan

dalam bentuk ammonia yang kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh dalam

bentuk urea dalam urine. Hans Krebs dan Kurt Henseleit pada tahun 1932

mengemukakan serangkaian reaksi kimia tentang pembentukan urea, yang mereka

namakan siklus urea. Urea ditemukan pertama kali oleh Rooelle pada tahun 1773

dalam urin. Menurut Dahliani (1995), kadar urea dalam darah orang dewasa

adalah 1,8 – 4,0 mg/L. Selain dalam darah urea dapat ditentukan dalam serum dan

urin (Cik, dkk. 2007). Kadar urea yang berlebihan dapat mengganggu proses kerja

ginjal, atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan “gagal ginjal”. Oleh karena

itu analisis kandungan urea dalam tubuh sangat diperlukan (Khairi, 2003).

Dahliani (1995), mengemukakan bahwa penentuan urea dapat dilakukan

dengan menggunakan metode spektrofotometri dan potensiometri. Hasil hidrolisis

urea dengan urease menghasilkan amonia dan karbondioksida. Ion amonium yang

terbentuk bereaksi dengan hipoklorit dan salisilat membentuk larutan kuning

kehijau-hijauan yang dapat diukur secara spektrofotometri. Menurut Situmorang,

dkk (2010) dalam penelitiannya analisis secara spektrofotometri kurang sensitif

karena sulit memilih senyawa kimia pengabsorbsi yang tepat. Zat atau senyawa

kimia pengabsorbsi kebanyakan bersifat karsinogenik sehingga tidak aman bagi

(14)

2

selektif karena pengukuran spektrofotometri akan memberikan respon terhadap

senyawa berwarna dan senyawa organik yang mengakibatkan hasil analisis

cenderung kurang akurat. Tehnik analisis secara spektrofotometri pada umumnya

sangat lambat dan proses pelaksanaannya juga sangat kompleks. Cara lain untuk

mengetahui kadar urea adalah dengan metode potensiometri secara elektroda

selektif ion (ESI). Metoda ESI yang dikembangkan untuk penentuan kadar urea

adalah dengan menggunakan biosensor urea dan polimer konduktif, yang biasa

digunakan pada metode ini adalah polipirol dan polianilin karena mudah disintesis

dan kestabilan sifat-sifatnya (Colin dan Petit, 2002). Potensiometri merupakan

salah satu cara pemeriksaan fisikokimia yang menggunakan peralatan listrik untuk

mengukur potensial elektroda indikator. Besarnya potensial elektroda indikator ini

bergantung pada kepekatan ion-ion tertentu dalam larutan (Day dan Underwood,

2002). Menurut penelitian Khairi (2005) mengenai perbandingan metode

potensiometri menggunakan biosensor urea dengan metode spektrofotometri

untuk penentuan urea diperoleh bahwa kadar urea yang terukur dengan metode

potensiometri adalah 4,28 ppm, lebih tinggi dibandingkan metode

spektrofotometri. Namun metode ini memiliki kelemahan yaitu enzim urease

hanya dapat digunakan sekali dan selanjutnya akan dibuang bersama sampel

setelah selesai proses analisis (Eggins, 1999). Untuk mengatasi permasalahan di

atas, maka dilakukan rekayasa enzim melalui teknik imobilisasi.

Enzim adalah suatu senyawa protein yang dapat mempercepat atau

mengkatalisis reaksi kimia. Enzim dapat mengubah laju reaksi, sehingga

kecepatan reaksi yang dihasilkan dapat dijadikan ukuran keaktifan enzim. Enzim

yang terimobilisasi adalah enzim yang secara fisik dan kimia tidak bebas bergerak

sehingga dapat dikendalikan kapan enzim tersebut kontak dengan substrat. Enzim

dilekatkan pada permukaan suatu bahan yang tidak larut dengan menggunakan

suatu matriks atau membran. Enzim yang terimobilisasi dapat dipakai berulang

karena stabilitasnya lebih terjaga. Selain itu enzim menjadi lebih mudah

dipisahkan dari larutan pereaksi karena enzim tidak larut (Eggins, 1999). Enzim

(15)

3

dilekatkan, sistem imobilisasi ini akan membuat enzim tetap berada pada tempat

tertentu.

Urease merupakan enzim yang spesifik mengkatalisis reaksi hidrolisis urea

yang menghasilkan ammonia dan karbon dioksida. Karena itu enzim urease sering

dimanfaatkan sebagai pembuatan biosensor. Dalam pengembangan biosensor

urea, enzim urease dapat diimobilisasi dalam suatu matriks dengan berbagai

teknik seperti adsorrpsi fisik, entrapment, ikatan kovalen, cross linking, dan

enkapsulasi (Fauziyah, 2012). Metode-metode tersebut adalah metode terbaik

yang sudah digunakan dalam pengembangan biosensor saat ini (Koyun, dkk.

2012). Teknik imobilisasi yang paling baik untuk dipilih adalah yang memenuhi

kriteria utama yakni tidak terjadi perubahan konformasi enzim dan tidak

mengganggu gugus fungsi di pusat aktif enzim sehingga enzim tetap dapat

berfungsi. Metode penjebakan enzim lebih banyak digunakan karena enzim ada

dalam keadaan bebas dan tidak terikat pada bahan pendukung sehinga secara

relatif fungsi katalitik dan struktur alami molekul enzim tidak mengalami

gangguan goncangan. Imobilisasi enzim urease yang relevan pada suatu

permukaan elektroda merupakan salah satu langkah penting. Kualitas ataupun

kemampuan biosensor yang dibuat dengan imobilisasi enzim ini sangat

dipengaruhi oleh teknik imobilisasi dan pemilihan matriks yang digunakan

(Fauziyah, 2012).

Penentuan urea melalui immobilisasi enzim urease dengan metode

potensiometri sering dikenal dengan nama biosensor urea. Biosensor didefinisikan

sebagai suatu perangkat sensor yang menggabungkan senyawa biologi dengan

transduser. Elektroda adalah komponen potensiometri sebagai detektor analit yang

menghasilkan beda potensial. Sensitivitas dan selektivitas metode ini ditentukan

oleh jenis elektroda kerja yang digunakan. Elektroda kerja berfungsi untuk

merespon analit sehingga sinyal yang terukur akan dipengaruhi oleh aktivitas atau

konsentrasi analit. Dalam peralatan biosensor kawat logam berfungsi sebagai

transduser (konduktor). Ditinjau dari pemakaian elektrodanya penentuan urea

secara potensiometri adalah penentuan potensial elektroda kerja relatif, terhadap

(16)

4

dengan konsentrasi urea. Dengan demikian di dalam sistem pengukuran tersebut

diperlukan suatu sel volta atau sel galvanik dengan elektroda kerja yang mampu

merespon spesi hasil penguraian urea, yaitu ammonium dan karbondioksida (Cik,

dkk. 2007).

Penentuan urea secara potensiometri menggunakan prinsip kerja biosensor

telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Khairi pada tahun 2003, telah

berhasil mengembangkan Pembuatan Biosensor Urea dengan Transduser

Tembaga menggunakan matriks PVC dengan 5 kali pencelupan, sensitivitasnya

47,8 mV/decade, waktu respon terbaik 135 detik, dan stabil selama 14 hari. Pada

penelitian Cik pada tahun 2007, mengenai Pengaruh Komposisi Membran

Elektroda dalam Penentuan Urea, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

elektroda kerja dengan komposisi kawat platina, selulosa asetat, glutaraldehid dan

urease dengan kinerja elektroda sensitivitas 46,4 mV/dekade, batas deteksi 10-6 M,

waktu tanggap < 2 menit, dan usia elektroda 45 hari. Mulyasuryani, A dkk (2010)

menggunakan membran kitosan sebagai matriks untuk mengimobilisasi urease

dan dengan menggunakan H3O+ sebagai elektroda tranduser. Dalam penelitian itu

diperoleh faktor nernst pada uji respon biosensor secara potensiometri 28,47

mV/dekade, waktu respon 280 sekon (4 menit 40 sekon) dan range konsentrasi

sekitar 0,1 hingga 6,0 ppm. Urease tersebut diimobilisasi pada membran kitosan

yang telah dilarutkan dengan asam asetat dengan pH 4. Pengembangan biosensor

urea saat ini sedang intens dengan tipe kawat terlapis disebabkan bentuknya

kokoh, simpel pembuatannya, waktu respons cepat, ekonomis, sampel tanpa

pemisahan dan miniatur tetapi waktu hidupnya (stabilitasnya) terbatas (Alexander,

1981). Jha, dkk (2007) telah menggunakan PVA dan polyacrylamide (PAA)

sebagai matriks untuk imobilisasi urease untuk menentukan kadar urea darah

blood urea nitogen (BUN). Sensor tersebut bekerja pada 1-1000 mM urea dan

waktu respon 120 sekon. Biosensor tersebut menunjukkan korelasi yang baik

dengan reagen metode BUN komersial yang menggunakan analiser kimiawi

klinis. Begun Fauziyah (2012) dalam penelitiannya Optimasi Biosensor Urea

dengan mengimobilisasi urease menggunakan membran Polianilin (PAn).

(17)

5

menit dengan stabilitasnya sampai 7 hari. Sensitivitas yang dihasilkan yaitu

0,0445. Jha, dkk (2007) melakukan iradiasi dengan ᵧ-rays (sinar gamma). Iradiasi

PVA ini juga dapat dilakukan dengan microwave dengan daya 8-15 W.

Dalam pembuatan sensor urea, polimer atau membran yang digunakan sangat

berpengaruh terhadap kinerja elektroda. Keunggulan dari polimer adalah tidak

memerlukan pemeliharaan pada suhu tinggi secara periodik, sedikit ketergantugan

terhadap suhu, proses pembuatannya sederhana sehingga biaya produktif lebih

murah (Simanjuntak, 2008). PVA adalah salah satu polimer yang berfungsi

sebagai perekat yang baik tetapi masih jarang digunakan/diteliti sebagai matriks

untuk imobilisasi urease pada pengembangan biosensor urea. PVA larut dalam air

(hidrofilik), sehingga harus dilakukan iradiasi pada proses imobilisasi. Polimer ini

tidak berwarna, tidak toksik, non karsinogenik, mempunyai ketercampuran hayati

yang baik dan memiliki sifat fisik yang elastis. Adapun kelemahan dari polimer

PVA adalah impedansinya terlalu tinggi, namun hal ini dapat diatasi dengan

melakukan penambahan elektrolit sehingga dapat menurunkan impedansi dan

menambah sensitivitas (Simanjuntak, 2008). PVA dapat digunakan sebagai

lapisan tipis yang sensitif khususnya dalam matrik immobilisasi untuk berbagai

aplikasi seperti biosensor (Pourciel, dkk. 2003). Selain hal diatas, PVA

mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan bahan lain yang dapat

digunakan sebagai membran penumbuhan enzim.

Sensitivitas biosensor ditentukan berdasarkan faktor nerst. Persamaan Nerst

adalah persamaan yang menghubungkan antara nilai potensial dari suatu elektroda

tunggal atau sebuah sel dan aktivitas reaktan-reaktannya. Harga faktor Nerst

diperoleh dari kemiringan (slope) grafik potensial (E) terhadap log konsentrasi

analit. Analisis regresi ini merupakan hubungan kausal (sebab akibat) antara dua

variabel sedangkan untuk mengukur hubungan antara dua variabel disebut analisis

korelasi ( r ).

Berdasarkan uraian tersebut diatas peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut

biosensor urea melalui imobilisasi urease dengan matriks polimer PVA (polyvinil

alcohol), dan elektroda Wolfram dipilih sebagai transduser. Imobilisasi urease

(18)

6

buffer. Dengan penggunaan matriks dan elektroda tersebut diharapkan dapat

mengembangkan biosensor urea yang lebih baik untuk penentuan urea. Oleh

karena itu peneliti mengangkat judul “Pembuatan S ensor Urea Dengan I mmobilis asi Ureas e Pada Matriks PVA ( Pol yvinil Alcohol ).

1.2. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada:

1. Pengembangan biosensor urea dalam deteksi potensiometri dengan

mengimobilisasi urease pada elektroda wolfram menggunakan matriks

polimer Polyvinil Alkohol (PVA) dengan menggunakan buffer Trisma

HCl dan buffer Posfat.

2. Kondisi optimum biosensor urea untuk penentuan urea standar.

3. Penentuan kinerja biosensor meliputi sensitivitas biosensor, jangkauan

pengukuran dan waktu respon.

1.3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana strategi yang baik untuk membuat biosensor urea dalam

deteksi potensiometri dan bagaimana teknik untuk mengimobilisasi enzim

di dalam matriks polimer polyvinil alcohol (PVA) pada kawat wolfram

agar kompatibel sebagai biosensor?

2. Bagaimana kondisi optimum biosensor urea untuk penentuan urea standar?

3. Bagaimana menentukan kinerja biosensor urea meliputi sensitivitas

biosensor, jangkauan pengukuran dan waktu respon?

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Membuat biosensor urea dengan deteksi potensiometri menggunakan

tehnik imobilisasi enzim urease pada matriks polimer PVA agar

(19)

7

2. Menentukan kondisi optimum biosensor urea untuk penentuan urea

standar.

3. Menentukan jangkauan pengukuran dan waktu respon biosensor urea.

4. Menghasilkan elektroda kerja dengan matriks PVA yang memiliki

sensitivitas yang tinggi pada metode potensiometri.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui strategi yang baik dalam pembuatan biosensor urea dengan

deteksi potensiometri dan mengetahui kondisi optimum biosensor urea

untuk penentuan urea standar.

2. Menghasilkan penelitian dibidang sensor kimia berupa publikasi ilmiah

(20)

50 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan yang

telah diuraikan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Immobilisasi urease dalam penelitian ini menggunakan matriks Polyvinil

Alcohol (PVA) yang dilekatkan kembali dengan larutan Polyvinil Clorida

(PVC), plastisiser KTPCLPB dan Tetrahidrofuran agar enzim tidak larut

sewaktu pengukuran dan dapat digunakan berulang kali. Tehnik ini

termasuk tehnik terbaik dalam mengimmobilisasi enzim yaitu teknik

entrapment.

2. Kondisi optimum biosensor urea pada pengukuran urea standar yaitu pada

kondisi larutan Buffer Posfat pH 7,5 dengan konsentrasi 0,001 M.

3. Jangkauan pengukuran pada biosensor urea ini yaitu pada 10-5 M hingga

10-3 M dan waktu respon 380 sekon.

4. Biosensor urea terbaik yang diperoleh memiliki sensitivitas 22,34

mV/dekade .

5.2. Saran

Dari hasil penelitian, peneliti menyarankan:

1. Pada pengukuran urea standar secara potensiometri, sebaiknya konsentrasi

urea yang diukur memiliki rentang yang luas agar dapat diperoleh batas

deteksi elektroda urea yang diperoleh.

2. Perlu dilakukan penentuan stabilitas biosensor dan aplikasi biosensor urea

pada sampel klinis terkontrol, agar diketahui kualitas biosensor urea

3. Sebaiknya dapat diteliti lagi tentang pembuatan elektroda enzim

menggunakan membrane PVA untuk dapat mencapai nilai Nerst yang

(21)

51

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M., (1977), Introduction of Soil Microbiology, John Wiley and Sons, Inc. New York and London

Alexander, P.W. dan Joseph, J.P., (1981), A coated Metal Enzyme Electrode for Urea Determinnation Analytica, Chimica Acta 131: 103-109

Beebe, K., Uerz, D., James Sandifer, J., dan Kowalski, B., (1988), Sparingly Selective Ion-Selective Electrode Arrays for Multicomponent Analysis, J. Anal. Che 60: 66-71

Biochrom, (2004), Determination of urea in clinical samples, Biochrom ltd. Melalui <www.biochrom.co.uk>[2/1/05]

Cik, M., A, H,. R., Hadiman., S., P, dan W., S, (2007), Pengaruh Komposisi Membran Elektroda Terhadap Kinerja Elektroda Penentu Urea, J. Sains., 13: 114-118

Colin, C., M. A. Petit, (2002), J. Electrochemical Society 149: 394-401

Dahliani, R.A., (1995), Pengaruh Hemodialisis terhadap Kadar Ureum Pada Penderita Gagal Ginjal di Bagian Instalasi Patologi Klinik Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung

Eggins, B.R, (1999), Biosensor: an Introduction, Jhon Wiley and Sons, New York.

Fauziyah,B., (2012), Optimasi Parameter Analitik Biosensor Urea Berbasis Immobilisasi Urease Dalam Membran Polianalin, 1(1) :65-75

Huang, C. P, Li, Y. K., Chen, T. M., (2007), A highly sensitive system for urea detection by using CdSe/ZnS core-shell quantum dots, Biosensors and Bioelectronics 22: 1835-1838

Jha, K., Topkar, A., dan D’Souza, S F., (2007), Dvelopment of Potentiometric Urea Biosensor based on Urease Ommobilized in PVA-PAA Composite Matrix for Estimation of Blood Urea Nitrogen (BUN), Journal of Biochem and Biophys Methods, 70: 1145-1150

(22)

52

Khairi., (2005), Perbandingan Metode Potensiometri Menggunakan Biosensor Urea Dengan Metode Spektrofotometri Untuk Penentuan Urea, Jurnal Sains Kimia 9(2): 68-72

Koyun, A., Esma, A., Yeliz, K.I., (2012), Biosensors and Their Principles,A Roadmap of Biomedical Engineers and Milistone, in Tech,Turkey

Manurung, R.V., (2012), Desain dan Fabrikasi Elektroda Biosensor : Metode Teknologi Film Tebal, Jurnal Ilmiah Elite Elektro 3(1): 65-70

Mikkelsen, D.S.G. R.J and D.E.Rolston., (1995), Nitrogen Fertilization Practices of Lowland Rice Culture. In P. E. Bacon (ed). Nitrogen Fertilization in the Environment, Marcel Dekker, Inc. New York

Mulyasuryani, A., Anna, R., Arie, S., (2010), The Potentiometric Urea Biosensor Using Chitosan Membrane, Indo. J. Che, 10(2): 162-166

Murray R, K., Granner D, K., Mayes P,A., Rodwel V,W., (1999), Biokimia Harper, 24th edition, EGC, Jakarta

Nazaruddin, (2007), Biosensor Urea Berbasis Biopolimer Khitin Sebagai Matriks Immobilisasi, Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan 6(1): 41-44

Pourciel, M. L., Launay J., Sant W., conedera V., Martinez. A., temple_Boyer P., (2003), Development of photo-polymerisable polyvinyl alcohol for Botechnological applications, J. Sensors and Actuators B94: 330-336

Rahim, A F., (2013), Modifikasi Elektroda Amonia dengan Ekstrak Enzim Urease dari Kedelai Hitam sebagai Biosensor Urea secara Potensiometri., Skripsi, FST, Unair, Surabaya

Rivai, H., (1995), Asas Pemeriksaan Kimia, Universitas Indonesia, Jakarta

Ryan deMares, (1997), Departement of Chemistry – UWEC, www.chem.uwec.edu/chem406/webpages97/ryandemares (diakses: 18 Februari 2016)

Silitonga, P., M., (2013), Biokimia, FMIPA UNIMED, Medan

Simanjuntak, M.J., (2008), Studi Film Polivinyl Alcohol (PVA) Dimodifikasi dengan Acrylamide (AAm) sebagai Material Sensitif Terhadap Kelembaban, Skripsi, FMIPA UI, Depok

(23)

53

Kualitas Makanan dan Minuman, Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, Universitas Negeri Medan.

Situmorang, M., (2010), Kimia Analitik Lanjut dan Instrumentasi, FMIPA UNIMED, Medan

Situmorang, M., (2010), Pengembangan Biosensor untuk Menguji Kualitas Makanan dan Minuman, FMIPA UNIMED, Medan

Tsao-Jen Lin et al., (2006), Determination of organophosphorous pesticides by a novel biosensor based on localized surface plasmon resonance, Biosensors and Bioelectronics 22 : 513-518

Tisdale, S.L, W.R.N and J. D. Beaton., (1985), Soil Fertility and Fertilizer. Fourth Edition, Macmillan, Inc. New York

Wahab, W A, dan Nafie, L N., (2014), Metode Pemisahan dan Pengukuran 2 (Elektrometri dan Spektrofotometri), FMIPA UNHAS, Makasar

Gambar

Gambar 4.4. Kurva Hubungan Log Konsentrasi Trisma HCl Terhadap Nilai
Tabel 4.1.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk menemukan formula optimum dalam membuat granul effervescent ekstrak teh hijau, dimana digunakan asam sitrat sebagai sumber asam, dan

Pengguna aplikasi ini adalah pengguna handphone itu sendiri dimana pengguna handphone bisa melakukan proses-proses seperti membuat direktori baru, mengubah nama direktori atau