• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kraniofasial Antropometri pada Penderita Down Syndrome Usia 5-25 Tahun di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Kraniofasial Antropometri pada Penderita Down Syndrome Usia 5-25 Tahun di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS KRANIOFASIAL ANTROPOMETRI

PADA PENDERITA DOWN SYNDROME USIA

5-25 TAHUN DI UPT SLB-E NEGERI

PEMBINA SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi Syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

Ellin Faradina

NIM. 100600180

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ii

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Biologi Oral

Tahun 2015 Ellin Faradina

Analisis Kraniofasial Antropometri pada Penderita Down Syndrome Usia 5-25 Tahun di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara

x+44 halaman

Down syndrome merupakan abnormalitas kromosom (trisomi 21) yang paling

sering terjadi dalam kelahiran hidup. Perbedaan yang paling khas pada Down Syndrome adalah manifestasi kraniofasial. Pengukuran antropometri dilakukan untuk melihat pertumbuhan anak Down syndrome agar dapat menentukan perawatan yang dibutuhkan. Tujuan penelitian adalah mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan panjang kepala, lebar kepala, tinggi wajah dan lingkar kepala pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara. Jenis Penelitian adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Sampel penelitian 23 orang yang sudah ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran dilakukan dengan menghitung panjang kepala, lebar kepala, tinggi wajah dengan menggunakan kaliper dan penggaris sedangkan lingkar kepala diukur menggunakan pita meteran. Data dianalisis menggunakan uji Oneway Anova. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada panjang kepala (p=0,029) dan lingkar kepala (p=0,02) antara kelompok usia. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada lebar kepala (p=0,056) dan tinggi wajah (p=0,572) antara kelompok usia. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya penambahan ukuran panjang kepala, lebar kepala, tinggi wajah dan lingkar kepala pada penderita Down syndrome seiring dengan bertambahnya usia.

Daftar Rujukan : 42 (2002-2013)

(3)

iii

ANALISIS KRANIOFASIAL ANTROPOMETRI

PADA PENDERITA DOWN SYNDROME USIA

5-25 TAHUN DI UPT SLB-E NEGERI

PEMBINA SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi Syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

Ellin Faradina

NIM. 100600180

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 5 Februari 2015

Pembimbing: Tanda Tangan

1. Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., M. Kes

(5)

v

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Pada tanggal 5 Februari 2015

TIM PENGUJI

KETUA : Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., M.Kes

ANGGOTA : 1. Lisna Unita R, drg., M.Kes

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan, pengarahan dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Ameta Primasari, drg., MDsc., M.Kes selaku dosen pembimbing skripsi yang telah begitu banyak menyumbangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membimbing penulis serta memberikan dorongan dan semangat hingga penulisan skripsi ini selesai.

2. Prof. Nazruddin, drg., Sp. Ort, Ph.D selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Rehulina Ginting, drg., Msi selaku Ketua Departemen Biologi Oral yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Seluruh staf pengajar Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokeran Gigi USU yaitu Yendriwati, drg., M.Kes, Minasari, drg., M.M, Lisna Unita, drg., M.Kes dan drg. Yumi Lindawati., MDSc yang telah memberikan saran, masukan dan semangat dalam penyelesaian skripsi. Staf Departemen Biologi Oral, khususnya Kak Ngaisah dan Kak Dani yang telah membantu dalam hal administrasi penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

5. Kholidina Imanda Harahap, drg., MDSc selaku Dosen Pembimbing Akademis yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi USU.

6. Seluruh Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi USU atas bimbingan yang telah diberikan selama penulis menjalankan kuliah.

(7)

7. Kepala Sekolah, Guru dan Murid-murid di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara yang telah mengizinkan dan membantu penulis selama melakukan penelitian di Sekolah.

8. Maya Fitria, SKM., M.Kes sebagai staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan waktu dan bimbingan dalam rancangan penelitian dan pengolahan data.

9. Teristimewa kepada kedua Orang Tua penulis tercinta yaitu Ayahanda Hariadi dan Ibunda Afriani yang telah membesarkan serta memberikan kasih sayang, doa, semangat dan dukungan baik secara moral maupun materil kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan pendidikan ini, begitu juga kepada saudara penulis yaitu Alwi Ahda Pujasa atas doa, cinta kasih dan dukungan kepada penulis.

10. Affan Ali Al-Harits atas bantuan, motivasi serta semangat yang diberikan kepada penulis.

11. Sahabat-sahabat terbaik penulis, yaitu Khairun’ Nisa, Awanda Nauli Siregar, Rezeky dan Khairina Atyqa yang telah meluangkan waktu dalam membantu menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan bermanfaat bagi masyarakat. Akhirnya tiada lagi yang dapat penulis ucapkan selain ucapan syukur sedalam-dalamnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR GRAFIK ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1.1 ... Latar Belakang ... 1

1.2 ... Rumusan Masalah ... 3

1.3 ... Tujuan Penelitian ... 3

1.4 ... Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 ... Manfaat Praktis ... 4

(9)
(10)

DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1 Pemeriksaan Antropometri ... 20 2 Karakteristik Responden Murid Down Syndrome di Sekolah UPT.

SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara ... 31 3 Hasil Pengukuran Kraniofasial Responden Murid Down Syndrome

Di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara ... 32

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Kelainan Kromosom yang terjadi pada Down Syndrome ... 14

2 Karakteristik Down Syndrome ... 16

3 Kraniofasial ... 18

4 Sefalometri ... 19

5 Pengukuran panjang kepala dari glabella ke inion ... 26

6 Pengkuran lebar kepala dari eurion ke eurion ... 27

7 Pengukuran tinggi wajah dari nation ke gnation... 27

8 Pengukuran lingkar kepala mengelilingi kepala tepat di bagian tulang yang paling menonjol dan di atas supraobital ... 28

(13)

DAFTAR GRAFIK

Grafik Halaman

1 Rata-rata panjang kepala murid Down Syndrome di UPT. SLB-E

Negeri Pembina Sumatera Utara ... 35 2 Rata-rata lingkar kepala murid Down Syndrome di UPT. SLB-E

Negeri Pembina Sumatera Utara ... 37

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Narasi landasan Teori 2. Kerangka landasan Teori 3. Skema Alur Pikir

4. Lembar Pengisian Data

5. Lembar Penjelasan Kepada Subjek Penelitian 6. Surat Persetujuan Komite Etik Penelitian 7. Surat Keterangan Selesai Penelitian 8. Lembar Hasil Penelitian

9. Lembar Pengolahan Data

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Down syndrome merupakan abnormalitas kromosom (trisomi 21) yang paling

sering terjadi pada kelahiran hidup.1 Dalam kurun waktu empat tahun dari 2007 sampai 2010 di RSUD Serang ditemukan 2 sampai 4 kasus setiap tahunnya. Di Indonesia ditemukan 15 % dari jumlah kasus Down syndrome di dunia yaitu kurang lebih ditemukan 8 juta anak Down syndrome di dunia. Di Indonesia mencapai lebih dari 300.000 orang. Down syndrome dengan frekuensi 1 dari 700 kelahiran bayi lebih sering terjadi pada ibu hamil pada usia di atas 35 tahun.2 Down syndrome tidak bisa diprediksi sebelum anak tersebut dilahirkan.3

Down syndrome adalah kelainan genetik, dimana anak yang mengalami

keterbelakangan mental dan penyimpangan fisik.3 Jumlah kromosom 21 yang berlebih menjadi tiga tersebut, diperkirakan terletak pada bagian lengan bawah dari kromosom 21 dan interaksinya dengan fungsi gen lainnya menghasilkan suatu perubahan homeostasis yang memungkinkan terjadinya penyimpangan perkembangan fisik dan susunan saraf pusat.4

Dalam kemampuan motorik, anak Down syndrome tidak secepat anak normal, ada keyakinan bahwa semakin rendah intelek seorang anak maka akan semakin rendah pula kemapuan motoriknya, demikian pula sebaliknya.3 Anak Down syndrome memiliki IQ antara 50-70.5

(16)

Penelitian yang dilakukan di Saudi Arabia oleh Dr. Reema (2010) mengungkapkan bahwa pada 30 penderita Down syndrome, brakisefali dijumpai lebih dari setengah kelompok Down syndrome yaitu 53,3%. Pengamatan ini lebih rendah dari yang dilaporkan oleh Levinson dkk (1955) yang mempelajari keragaman fitur klinis pada 50 penderita Down Syndrome hingga usia 17 tahun dan menemukan bahwa 82% penderita Down Syndrome mengalami brakisefali.6

Begitu juga dengan pemeriksaan klinis lidah, pada penelitian Dr. Reema (2010) pada 30 penderita Down Syndrome ditemukan makroglosia yang cukup tinggi yaitu 60%. Ini hampir sama dengan temuan yang dilaporkan oleh Asokan dkk (2008), Gullikson (1973), Smith (2001). Namun, makroglosia ditemukan hingga 30% dalam studi Levinson dkk (1955) pada 50 penderita Down Syndrome. Cohen dan Winer (1965) mempelajari karakteristik gigi pada 123 penderita Down Syndrome dengan rentang usia 3-30 tahun, mereka menemukan bahwa makroglosia ditemukan pada 11,3%, lebih rendah dari prevalensi yang dilaporkan dalam penelitian Dr. Reema.6

Antropometri berasal dari Yunani, yaitu 'anthropos' yang berarti manusia dan 'metry' yang berarti untuk mengukur, sehingga antropmetri adalah ilmu yang berhubungan dengan pengukuran ukuran, berat dan proporsi dari tubuh manusia.9 Kraniofasial antropometri adalah metode sederhana dan non invasive dari penilaian kuantitatif dari perubahan pada anatomi permukaan kepala dan wajah seorang penderita Down syndrome. Antropometri dapat digunakan untuk mendapatkan nilai diagnosa yang potensial dan berfungsi dalam mengidentifikasikan sebagian nilai deviasi (penyimpangan) dari bagian-bagian kraniofasial.10

(17)

perkembangan dibedakan atas anak-anak 5-11 tahun, remaja awal 12-16 tahun dan remaja akhir 17-25 tahun.12

Berdasarkan pada uraian di atas maka penulis merasa perlu dilakukan penelitian ini untuk mendapatkan ukuran kraniofasial pada anak Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara. Pengukuran ini meliputi panjang kepala, lebar kepala, tinggi wajah dan lingkar kepala. Keempat pengukuran ini dipilih karena sudah dapat mewakili pertumbuhan kepala.

1.2Rumusan Masalah

1. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan panjang kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

2. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan lebar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

3. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan tinggi wajah pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

4. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan lingkar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

1.3Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk:

1. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan panjang kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

(18)

3. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan tinggi wajah pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

4. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan lingkar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

1.4Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan informasi lebih dalam tentang perbandingan ukuran kraniofasial anak Down syndrome dengan anak normal.

2. Memberikan informasi tentang perbedaan ukuran kraniofasial terkait tumbuh kembang kraniofasial pada penderita Down syndrome.

1.4.2 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis yang diperoleh dari penelitian ini adalah:

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuh Kembang

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pertumbuhan berasal dari kata tumbuh, yang berarti tambah besar atau sempurna. Perkembangan berasal dari kata kembang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kembang berarti maju, menjadi lebih baik.9 Pertumbuhan dan perkembangan memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Misalnya pada manusia, dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya.13

Proses tumbuh kembang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/keturunan adalah faktor yang berhubungan dengan gen yang berasal dari ayah dan ibu, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis dan sosial. 14

Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel dan bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram,kilogram), satuan panjang (cm,m), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen dalam tubuh).14 Perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa.11 Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel, jaringan, organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya.14

(20)

umur dan masing-masing organ juga mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda-beda.14

Proses perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan, sehingga setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya. Perkembangan fase awal melewati beberapa aspek kemampuan fungsional, yaitu kognitif, motorik, emosi, sosial dan bahasa. Perkembangan pada fase awal ini akan mempengaruhi perkembangan fase selanjutnya. Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan saling berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa.14

Perkembangan menurut Santrok Yussen adalah pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi. Menurut E.B Harlock perkembangan adalah serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman, terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.11

2.2 Tulang Kraniofasial

Tulang kepala terdiri dari 2 kesatuan tulang yaitu neurokranium atau tulang kranial yang berisi otak dan viserokranium atau tulang-tulang yang membentuk wajah. Neurokranium dibentuk oleh tulang frontal, sepasang tulang parietal, sepasang tulang temporal, tulang spenoidal, tulang ossipital, dan tulang ethmoidal. Viserokranium terbentuk dari rahang atas, sepasang tulang palatinum, sepasang tulang nasal, sepasang tulang lakrimal, sepasang tulang zigomatikum, sepasang tulang konka nasalis inferior, vomer, tulang hyoideum dan rahang bawah.15,16

(21)

2.2.1 Bagian-bagian tulang kraniofasial

Tulang-tulang yang membentuk bagian tengkorak adalah tulang kranial dan tulang wajah. Tulang-tulang kranial yaitu tulang ossipital, tulang temporal, tulang sphenoidal, tulang ethmoidal, tulang frontal, dan tulang parietal. Lokasi tulang ossipital terletak pada basis dan region posterior bagian kranial tengkorak di fossa krania posterior. Tulang temporal berada di samping dan basis bagian kranial kranium. Berperan membentuk fossa temporalis, fossa krania media dan fossa kranii posterior. Tulang spenoidal terletak pada basis krania dari tengkorak, bagian atas rangka wajah, fosssa temporalis, orbita dan fossa kranii anterior dan media. Tulang Ethmoidal berada pada dasar fossa kranii anterior, dinding lateral kavum nasi, septum nasi, dinding medial kavum nasi atau orbita. Tulang frontal berada pada bagian anterior kranium, dasar fossa kranii anterior, atap orbita dan kavum nasi. Tulang parietal teretak pada sisi-sisi kranial tengkorak.16

Tulang wajah tersusun atas tulang maksila, tulang mandibula, tulang palatinum, tulang zigomatikum, tulang nasal, vomer, konka nasalis inferior, tulang lakrimal dan tulang hyoideum. Tulang maksila terletak di bagian samping dan depan sisi atas wajah, atap kavum oris, bagian samping dan dasar kavum nasi, dasar orbita. Tulang mandibula berada pada rangka wajah bagian bawah. Tulang palatinum terletak di belakang palatum durum, dinding samping kavum nasi, orbita, fossa pterygopalatina. Tulang zigomatikum berada pada bagian atas wajah, orbita, fossa temporalis dan arkus zigomatikus. Tulang nasal berada pada wajah dan kavum nasi. Vomer terletak pada septum nasi. Konka nasalis inferior berada pada dinding lateral kavum nasi. Tulang lakrimal berada pada orbita, kavum nasi, kanalis nasolakrimalis. Tulang hyoideum terletak pada bagian atas leher.16

2.2.2. Tumbuh Kembang Kraniofasial 2.2.2.1 Pertumbuhan Kranium

(22)

kemudian laju pertumbuhan akan menurun hingga mencapai 90% ukuran dewasa pada usia 7 tahun. Kranium akan membesar dengan perlahan sampai maturasi atau pematangan.17

Tulang kranium mengalami 3 mekanisme pertumbuhan yaitu pertumbuhan periosteal dan endosteal, pertumbuhan sutura, serta pertumbuhan kartilago. Tulang-tulang yang saat dewasa merupakan satu Tulang-tulang, pada waktu lahir terdiri dari beberapa tulang yang saling terlepas satu sama lain. Pertumbuhan sutura yang sangat aktif pada awal kelahiran mengakibatkan tulang-tulang kranial menyatu dan tumbuh bersama. Pertumbuhan sutura juga memungkinkan terjadinya pertumbuhan kranium ke lateral, yang berlangsung aktif sampai usia 6-7 tahun. Sutura pada garis tengah kranium akan mengalami penulangan pada usia 8 tahun, dan proses tersebut mengakibatkan pertumbuhan sutura pada kranium tidak aktif lagi.15

Pertumbuhan kartilago dapat memperbesar dimensi anteroposterior dasar kranium. Pada pertumbuhan periosteal dan endosteal mengakibatkan terjadinya aposisi pada permukaan periosteum yang menghasilkan pertambahan ukuran kepala dalam segala dimensi. Pertumbuhan ini mengakibatkan tulang-tulang menjadi sangat tebal. Resorpsi tulang dibutuhkan untuk mendapatkan ketebalan dan kekuatan yang cukup. Pertumbuhan periosteal tidak hanya bersifat aposisi pada permukaan luar tulang namun resorpsi tulang pada permukaan dalam.17

2.2.2.2Pertumbuhan Wajah

(23)

Pertumbuhan kranium ke anterior, tulang wajah juga tumbuh ke anterior dan inferior. Pertumbuhan ini erat kaitannya dengan pertumbuhan maksila, mandibula dan nasofaring.17 Enlow (1990) menyatakan bahwa hubungan antara maksila dan mandibula sangat menentukan keharmonisan wajah. Rahang atas merupakan bagian dari tulang wajah.15

Maksila berhubungan dengan beberapa bagian kranium melalui sutura frontomaksilaris, sutura zigomatikomaksilaris, sutura zigomatikotemporalis, dan sutura palatinus. Pertumbuhan pada sutura yang terjadi, menyebabkan maksila bergerak ke depan dan ke bawah, sehingga kranium bergeser ke belakang dan ke atas.17

Daerah tuberositas merupakan salah satu pusat pertumbuhan rahang maksila. Pertambahan panjang ke arah posterior terjadi karena proses aposisi pada permukaan luar tuberositas. Proses aposisi pada permukaan bukal tuberositas menyebabkan bagian posterior lengkung gigi rahang atas menjadi lebar. Pertumbuhan rahang atas dalam arah vertikal (ke bawah) terjadi karena proses aposisi tulang pada sisi lateral tuberositas dan sepanjang tulang alveolar.15

Rahang bawah memiliki daerah kartilago sebagai pusat pertumbuhan, yaitu pada simfisis dan kondilus. Pertumbuhan kondilus bersamaan dengan pertumbuhan alveolus, menyebabkan rahang bawah bertambah tinggi. Proses resorpsi pada sisi anterior dan aposisi pada tepi posterior ramus, menghasilkan pertambahan panjang korpus. Secara normal arah pertumbuhan rahang bawah adalah ke posterior dan superior, serta mengalami transposisi ke anterior dan inferior.15

Pertumbuhan mandibula ke anterior lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan maksila pada arah yang sama. Sehingga pada waktu bayi dilahirkan, posisi dagu lebih posterior dari maksila, dengan bertambahnya umur maka hubungannya akan menjadi harmonis. Pertumbuhan wajah ke arah transversal dan sagital adalah untuk menyediakan tempat bagi erupsi gigi geligi.15,17

(24)

bawah. Perkembangan sinus maksilaris, erupsi gigi geligi, aktivitas otot wajah dan otot mastikasi, memungkinkan wajah tumbuh ke arah vertikal.15

Otot sebagai salah satu komponen jaringan lunak tubuh memiliki peranan penting dalam menuntun proses tumbuh kembang. Fungsi otot adalah salah satu penentu stabilitas oklusi gigi geligi. Aksi otot ini juga berpengaruh pada perkembangan tulang rahang.17

2.3. Down Syndrome

John Langdon adalah seorang dokter dari inggris yang pertama kali menggambarkan kumpulan gejala dari Down syndrome pada tahun 1866. Tetapi sebelumnya Esquirol pada tahun 1838 dan Seguin pada tahun 1846 telah melaporkan seorang anak yang mempunyai tanda-tanda mirip Down syndrome, lalu pada awal tahun 60-an ditemukan diagnosis secara pasti yaitu dengan pemeriksaan kromosom.4,5 Dahulu penyakit ini diberi nama Mongoloid atau Mongolism karena penderita penyakit ini mempunyai gejala klinik yang khas yaitu wajah seperti bangsa Mongol dengan mata yang sipit membujur keatas. Tetapi setelah diketahui bahwa penyakit ini terdapat pada seluruh bangsa di dunia, pemerintah Republik Mongolia mengajukan keberatan kepada World Health Organization (WHO) yang menganggap nama tersebut kurang etis, maka WHO menganjurkan untuk mengganti nama tersebut dengan Down syndrome.5 Terdapat dua tipe Down Syndrome yaitu:

1. Down Syndrome trisomi 21

Penderita memiliki 47 kromosom. Penderita laki-laki 47,XY,+21 sedangkan penderita perempuan 47,XX,+21. Kira-kira 92,5 % dari semua Down Syndrome tergolong dalam tipe ini. Tipe ini perubahan kromosomnya adalah pada jumlah kromosom. Jumlah kromosom normal pada manusia adalah 46 buah atau 22 pasang autosom dan 1 pasang kromosom kelamin. Pada Down Syndrome trisomi 21 jumlahnya menjadi 47 buah, kelebihan satu kromosom pada kromosom nomor 21.1

2. Down Syndrome translokasi

(25)

kromosom lainnya yang bukan homolognya. Pada Down syndrome translokasi, lengan panjang dari autosom nomor 21 melekat pada autosom lain yaitu pada kromosom autosom nomor 14 atau nomor 15, sehingga jumlah kromosom pada Down Syndrome tipe ini adalah 46 kromosom dengan perubahan struktur kromosom.1

2.3.1 Tanda Klinis Secara Umum

Tanda Klinis yang dapat kita lihat pada Down syndrome yaitu wajah yang khas dengan mata sipit yang membujur keatas, kedua mata yang berjauhan dengan jembatan hidung yang rata, hidung yang kecil, mulut kecil dengan lidah yang besar sehingga cenderung dijulurkan, letak telinga rendah, tangan dengan telapak tangan yang pendek dan mempunyai rajah telapak tangan yang melintang lurus (horizontal/ tidak membentuk huruf M), jari pendek-pendek, jari kelingking sangat pendek hanya mempunyai 2 ruas dan cenderung melengkung (clinodactilly), tubuh umumnya pendek dan cenderung gemuk, terjadi pada laki-laki maupun perempuan karena kelainan terdapat pada kromosom autosom bukan pada kromosom kelamin, kepala lebar dan wajah membulat, jarak antara kedua mata dan pada kelopak mata atas mempunyai lipatan epikantus sehingga mirip orang oriental, iris mata terkadang berbintik-bintik yang disebut bintik-bintik Brushfield, ibu jari kaki dan jari kedua dari kaki (salah satu kaki atau keduanya) tidak rapat, dan kemampuan anak Down syndrome hanya seperempat atau setengah dari anak normal. Diketahui hanya 1

diantara 50 anak Down Syndrome yang dapat membaca dan menulis1,5

2.3.2 Kraniofasial pada Down Syndrome

(26)

Pada Down syndrome ditemukan sejumlah karakteristik temuan fisik. Diantaranya adalah temuan karakteristik pada kraniofasial. Analisis data antropometrik menggambarkan tiga poin dasar tentang sindrom ini. Yang pertama adalah banyaknya anomali. Kedua, dengan hanya tiga pengecualian, semua pengukuran linier yang abnormal secara signifikan lebih kecil dari normal. Titik ketiga adalah bahwa pengurangan yang tidak proporsional, menghasilkan kelainan pada bentuk serta ukuran.15

Gambaran wajah yang ditemukan pada Down syndrome yaitu jembatan hidung yang rata, mata miring dengan lipatan epikantus dan strabismus. Penyimpangan oral misalnya bibir yang tidak kompeten, makroglosia, lidah berfisur dan juga lengkung palatum yang tinggi dan sempit.6

Temuan radiografi kraniofasial pada Down syndrome misalnya brakisefali, penjarangan atap tengkorak, kelainan ossifikasi sepanjang sutura, keterlambatan penutupan sutura, ketiadaan atau sinus udara yang tidak berkembang dengan baik, penurunan jarak intraorbital dan juga ukuran tulang hidung kecil tidak berkembang.6

2.3.3 Mekanisme Terjadinya Gangguan Kromosom pada Down Syndrome Kromosom adalah pembawa bahan keturunan yang terdapat pada inti sel tubuh manusia. Jumlahnya ada 46 buah atau 23 pasang (22 pasang kromosom autosom dan 1 pasang kromosom kelamin), dan diberi nomor kromosom yaitu nomor 1-22 (kromosom autosom) serta 1 pasang kromosom kelamin.

Kromosom manusia dibedakan atas 2 tipe: 1. Autosom

Yaitu kromosom tubuh yang tidak menentukan jenis kelamin. Terdapat pada inti sel tubuh manusia dan berjumlah 44 buah atau 22 pasang adalah kromosom autosom.

2. Kromosom Kelamin

(27)

buah kromosom kelamin. Kromosom kelamin dibedakan atas dua macam yaitu kromosom X dan kromosom Y.1

Kelainan kromosom yang terjadi pada Down syndrome terdiri dari:

1. Kelainan jumlah, yaitu kromosom nomor 21 yang secara normal berjumlah 2 buah mengalami penambahan menjadi 3 buah. Hal ini terjadi karena peristiwa nondisjunction yaitu tidak dapat berpisah pasangan kromosom nomor 21 pada saat

pembentukan sel gamet orangtuanya terutama pada ibu. Kelainan akibat nondisjunction inilah yang kemudian dihubungkan dengan usia ibu saat hamil. Down

syndrome yang disebabkan karena peristiwa nondisjunction tidak diturunkan.1

2. Kelainan pada struktur kromosom. Perubahan yang terjadi adalah perubahan struktur kromosom yang diperoleh dari orangtua. Apabila orangtua menderita kromosom translokasi, sehingga menghasilkan gamet yang menyebabkan terjadinya Down syndrome. Translokasi adalah peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom, disebabkan suatu potongan kromosom bersambung dengan potongan kromosom lainnya yang bukan homolognya. Pada Down syndrome translokasi, lengan panjang dari autosom nomor 21 melekat pada autosom lain, yaitu pada kromosom autosom nomor 14 atau nomor 15, sehingga jumlah kromosom pada Down syndrome tipe ini adalah 46 kromosom dengan perubahan struktur kromosom.

(28)

Gambar 1. Kelainan kromosom yang terjadi pada Down syndrome20 Gangguan kesehatan lain yang sering terdapat pada Down syndrome 1. Penyakit jantung kongenital

Beberapa kasus yang banyak dilaporkan yaitu atrioventricular canal defects, atrial septal defect, ventricular septal defect dan tetralogi fallot

2. Defisiensi Growth Hormone dan penyakit tiroid

3. Leukemia dan tumor solid seperti retinoblastoma, limfoma, tumor pankreas, tumor gonad, tumor tulang

4. Masalah ortopedi

Pada Down Syndrome terdapat hipotonus otot sehingga rentan untuk terjadinya disolokasi dan atlantoaxial sublukasi

5. Gangguan pendengaran 6. Tonsillitis kronik

(29)

2.3.4 Gambaran Klinis Wajah Down Syndrome

Kepala pada anak Down syndrome mengalami brakisefali terlihat dari dimensi anteroposterior yang berkurang dengan peningkatan pada lebar tengkorak.6 Temuan antropometri rinci pada Down syndrome memperlihatkan ukuran tengkorak berkurang pada segala arah. Namun, penurunan panjang lebih besar dari lebar sehingga relatif brakisefali. Ukuran lebar minimum frotal (ft-ft) berkurang, garis rambut secara signifikan lebih tinggi dari normal, seperti yang terlihat pada tinggi dahi (tr-g, tr-n), dan tidak sebanding dengan rendah tinggi kranial anterior (v-n) yang relatif menonjol.8

Wajah bagian atas berkurang pada segala arah, dengan kekurangan yang paling luas pada dimensi sagital (n-t dan sn-t).8 Hidung datar atau jembatan hidung yang tertekan. Terlihat ketika tulang bagian atas atau hidung lebih rendah dari rata-rata. Hidung terlihat rata, lebar dan pesek. Ujung hidung cenderung bulat dan tidak terdefinisi dengan baik. Terlihat proyeksi kurang dari yang diharapkan.6

Di sisi lain, mandibula berkurang pada kedalaman (gn-t) dan lebar (go-go) tetapi tidak secara vertikal (sto-gn). Secara sagital, ada peningkatan progresif pada tingkat kekurangan dari mandibula (gn-t) ke rmaksila (sn-t) ke wajah bagian atas di nasion (n-t). Hasil menunjukkan seluruh profil wajah yang menonjol, dengan kedua wajah bagian atas (g-sn) dan wajah bagian bawah (sn-pg) cenderung menonjol.8

(30)

Gambar 2 . Karakteristik Down syndrome21

Karakteristik mulut anak Down syndrome terdapat bibir yang tidak kompeten terlihat ketika bibir atas dan bawah tidak bersentuhan pada saat ditutup. Mulut terbuka karena nasopharing yang relatif pipih dan biasanya tonsil membesar dan kelenjar adenoid juga membesar. Kelainan lainnya juga terdapat lidah makroglosia yang terlihat pada lidah yang membesar secara tidak normal yang tidak muat di dalam rongga mulut dan juga mengalami pinggiran lateral. Hal ini juga dikarenakan nasoparing yang relatif pipih dan adenoid yang besar. Kondisi ini tentu dapat menyebabkan pernafasan mulut, drooling, bibir bawah yang memiliki celah dan angular chelitis. Pernafasan mulut dapat mengarah pada periodontitis kronis dan juga

dapat menyebabkan berkurangnya air liur dan kekeringan mulut. Ini dapat mengurangi kebersihan pada rongga mulut dan memberikan kontribusi untuk berkembangnya karies. Pada anak Down syndrome juga mengalami lidah berfisur. Dilihat dari adanya satu fisur atau lebih pada permukaan dorsum lidah. Hal ini

Kepala kecil

Pembukaan mata kecil

Hidung pesek

Bibir atas tipis

Rahang kurang maju Philtrum halus

Jembatan hidung rata

(31)

berkaitan dengan bukti bahwa kondisi ini merupakan sifat pooligenik atau dominan autosomal. Fisur juga dapat diperburuk oleh makanan dan dapat menyebabkan halitosis. Ini dapat dikontrol secara teratur dengan menyikat bagian permukaan dorsal dari lidah.6

Palatum terlihat tinggi dan sempit, ditetapkan secara klinis ketika bentuk palatum sempit dan memiliki kubah yang tinggi. Celah palatum terkadang juga dialami oleh anak Down syndrome.Melalui pemeriksaan radiografi juga ditemukan beberapa kelainan seperti penjarangan atap tengkorak. Keterlambatan penutupan sutura, terlihat secara subjektif ketika sutura kranial terlihat melebar. Ketiadaan atau hipoplastik sinus, kedua sinus frontal dan maxillary dianggap tidak ada ketika bayangan sinus tidak teridentifikasi pada radiografi dan hipoplastik terlihat lebih kecil dari biasanya.6

2.4 Antropometri

Menurut Wignjosoebroto istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Sedangkan menurut Stevenson antropometri adalah suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan tubuh manusia, yaitu ukuran, bentuk dan kekuatannya.22 Antropometri adalah cabang ilmu dari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh, baik ukuran, bentuk, dan komposisi tubuh.23

Hal-hal yang berkaitan dengan dimensi tubuh manusia meliputi keadaan, frekuensi dan kesulitan, sikap badan, syarat-syarat untuk memudahkan bergerak. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb), dan berat-berat lain yang berbeda satu dengan lainnya.22 Pengukuran fisik tubuh diperlukan untuk menguraikan dan membedakan karakteristik dari ras, jenis kelamin, umur dan bentuk tubuh.24

(32)

bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahiran sampai dengan umur sekitar awal 20 tahunan. Setelah itu faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh yaitu jenis kelamin.22

Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali pada beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul dan sebagainya. Suku bangsa juga dapat mempengaruhi ukuran tubuh manusia. Setiap suku bangsa akan memiliki karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan lainnya. Posisi tubuh (posture) juga akan mempengaruhi ukuran tubuh, oleh sebab itu, posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survey pengukuran.22

Pengukuran antropometrik secara langsung dilakukan untuk mendapatkan data mengenai deformitas, dislokasi serta keparahan defek jaringan lunak wajah.25

Gambar 3. Kraniofasial (n=nation, gn=gnation, eu=eurion, i=inion, g=glabella, op= opistokranion)26

i

n op

gn eu

(33)

Gambar 4. Sefalometri (n=nation, gn= gnation, eu= eurion, i= inion, g= glabella, op= opistokranion)27

Keterangan :

1. Nation (n) : titik pada sutura nasofrontalis dibidang medio-sagital

2. Gnation (gn) : titik pada sisi bawah mandibula yang paling bawah dibidang medio-sagital

3. Eurion (eu) : titik paling lateral dari dinding kranium 4. Inion (i) : titik pada protuberantia occipitalis externa

5. Glabella (g) : titik di atas sutura nasofrontalis pada sisi bawah tulang frontal dalam bidang medio-sagital diantara kedua arcus superciliaris

(34)

Tabel 1. Pemeriksaan Antropometri10

Kategori Pengukuran

Lebar kepala Eurion-eurion(eu-eu) Lebar dasar tengkorak Tragion-tragion(t-t)

lebar minimum frontal Frontotemporale-frontotemporale (ft-ft) Lebar wajah atas Zygion-zygion (zy-zy)

lebar wajah bawah Gonion-gonion (go-go)

Panjang kepala Glabella-opisthocranion (g-op) Atas-dalam-wajah-dex Right tragion-nasion (n-t-dex) Bawah-dalam-wajah-dex Right tragion-subnasion (sn-t-dex) Tengah-dalam-wajah-dex Right tragion-gnation (gn-t-dex) Atas -dalam-wajah-sin Left tragion-nasion (n-t-sin) Bawah-dalam-wajah-sin Left tragion-subnasion (sn-t-sin) Tengah-dalam-wajah-sin Left tragion-gnation (gn-t-sin) Tingggi total wajah Nasion-gnation (n-gn)

Tinggi atas wajah Nasion-subnation (n-sn) Lebar hidung Alare-alare (al-al)

Lebar mulut Cheilion-cheilion (ch-ch)

(35)

Panjang telinga-dex Superaurale-subaurale right (sa-sba-d)

Kategori Pengukuran

Lebar telinga-sin Preaurale-postaurale left (pra-pa-s) Panjang telinga-sin Superaurale-subaurale left (sa-sba-s) Lengkung rahang atas Tragion-subnasion-tragion (t-sn-t) Lengkung rahang bawah

Tragion-gnation-tragion (t-gn-t) Lingkar kepala

(36)

2.5 Kerangka Konsep

Kraniofasial Normal Kraniofasial

Down Syndrome

Pengukuran antropometri :

1. Panjang kepala : glabella-inion

2. Lebar kepala : eurion-eurion

3. Tinggi wajah : nation-gnation

4. Lingkar kepala : mengelilingi

kepala tepat dibagian tulang yang paling menonjol dan di atas supraorbital

Klasifikasi DEPKES RI12 5-11 Tahun 12-16 Tahun 17-25 Tahun

Simetri / Non Simetri Ukuran Normal / Tidak Normal

Tumbuh Kembang

(37)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional study untuk mengetahui berapakah perbedaan ukuran kraniofasial anak

Down syndrome pada rentang usia 5-25 tahun dilihat dari antropometri.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di UPT. SLB-E NEGERI PEMBINA SUMATERA UTARA di Kecamatan Medan Timur. Dipilihnya sekolah ini karena kelompok umur yang diperlukan telah lengkap untuk penelitian ini serta lebih terjangkau dan mudah diakses.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa dari SLB yang terdiri dari Down syndrome 23 siswa, tuna rungu 121 siswa, tuna grahita 192 siswa, tuna ganda

18 siswa dan autis 15 siswa.

3.3.2 Sampel

Menurut Arikunto (2009), jika populasi kurang dari 100 orang maka diambil total sampling. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik total sampling dengan mengambil 23 murid Down syndrome sebagai sampel penelitian.

(38)

Variabel bebas penelitian ini adalah penderita Down syndrome usia 5-25 tahun di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

3.4.2 Variabel Terikat

Variabel terikat penelitian ini adalah ukuran kraniofasial. Pengukuran meliputi panjang kepala (glabella-inion), lebar kepala (eurion-eurion), tinggi wajah (nation-gnation) dan lingkar kepala (mengelilingi kepala tepat dibagian tulang yang paling menonjol dan di atas supraorbital).

3.4.3 Variabel Terkendali

Variabel terkendali penelitian ini adalah keterampilan operator yang mengukur murid Down syndrome dan alat yang digunakan untuk mengukur murid Down Syndrome pada penelitian ini.

3.4.4 Variable Tidak Terkendali

Variabel tidak terkendali penelitian ini adalah status gizi, status ekonomi, penyakit sistemik, RAS, tipe Down syndrome, usia orang tua, urutan anak dalam keluarga, pekerjaan orang tua dan anak yang direncanakan atau tidak.

3.4.5 Kriteria Inklusi

1. Anak yang didiagnosa Down syndrome di Yayasan UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

2. Bersedia untuk diperiksa.

3. Mendapat persetujuan orang tua/guru.

3.4.6 Kriteria Ekslusi

(39)

3.4.7 Variabel Penelitian

3.4.8 Definisi Operasional

1. Down syndrome adalah kelainan yang terjadi pada anak yang mengalami keterbelakangan mental yang disebabkan oleh adanya kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari dua kromosom sebagaimana mestinya, melainkan tiga kromosom (trisomi 21), yang mengakibatkan anak mengalami penyimpangan fisik dan keterbelakangan mental.

2. Kraniofasial adalah tulang pada kepala dan wajah. Pengukurannya dengan menggunakan antropometri yang meliputi nasion-gnation, glabella-inion, eurion-eurion dan OFC (lingkar kepala).

3. Nasion ke gnation untuk mengukur tinggi wajah. Nasion merupakan titik pada sutura nasofrontalis di bidang medio-sagital sedangkan gnation merupakan titik pada sisi bawah mandibula yang paling bawah dibidang medio-sagital.

Variabel Terkendali Keterampilan Operator

Alat: kaliper, pita meteran dan penggaris

Variabel Terikat Ukuran Kraniofasial Panjang kepala : glabella-inion Lebar kepala : eurion-eurion Tinggi wajah : nation-gnation Lingkar kepala : mengelilingi kepala tepat dibagian tulang yang paling menonjol dan di atas supraorbital Variabel Bebas

Down Syndrome

Variabel Tidak Terkendali

Status gizi, status ekonomi, penyakit sistemik, RAS,

tipe Down syndrome, usia orangtua, urutan anak dalam

(40)

4. Glabella ke inion untuk mengukur panjang kepala. Glabella merupakan titik yang berada di atas sutura nasofrontalis pada sisi bawah tulang frontal dalam bidang medio-sagital diantara kedua arcus superciliaris sedangkan inion merupakan titik pada protuberantia oksipitalis eksterna.

5. Eurion ke eurion untuk mengukur lebar kepala. Eurion merupakan titik paling lateral dari dinding kranium, dicari dengan meletakkan penggaris pada daerah tulang parietal kepala (atas telinga) secara tegak lurus lalu ujung kaliper ditempatkan pada kedua titik eurion kiri dan kanan.

6. OFC untuk mengukur lingkar kepala. Pengukuran didapat dengan menentukan tulang yang paling menonjol pada bagian kepala belakang menggunakan mistar. Setelah itu diukur menggunakan pita meteran dengan cara mengelilingi kepala tepat dibagian tulang yang paling menonjol dan di atas supraorbital.

Ada beberapa cara pengukuran dari literatur yang ada :

(41)

Gambar 6. Pengukuran lebar kepala dari eurion ke eurion30

(42)

Gambar 8. Pengukuran lingkar kepala mengelilingi kepala tepat di bagian tulang yang paling menonjol dan diatas supraorbital32

3.5 Cara Pengumpulan Data

Tekhnik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dan dibantu empat orang mahasiswa Kedokteran Gigi USU. Agar tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran, para pengumpul data dilakukan kalibrasi sehingga diperoleh persepsi dan interpretasi yang sama dan konsisten. Cara pengumpulan data diantaranya:

1. Pengambilan data siswa dilakukan di sekolah pada ruang yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

2. Setiap sepuluh siswa sesuai dengan absensi dipanggil dari kelasnya dan dikumpulkan di ruang sekolah.

(43)

3.6Pengolahan Analisis Data

(44)

3.7Kerangka Penelitian

Siswa Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara

• Didiagnosa mengalami Down syndrome

• Usia 5-25 tahun Pengukuran berat badan menggunakan

timbangan berat badan

Pengukuran tinggi badan menggunakan pita meteran

Pengukuran Kraniofasial

Menggunakan kaliper dan penggaris Menggunakan pita meteran

(45)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik Responden

Penelitian ini telah dilakukan pada murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara dengan jumlah sampel 23 orang. Diketahui pada kelompok usia 5-11 tahun persentase responden laki-laki lebih banyak daripada perempuan (26,09% dan 17,39%). Kelompok usia 12-16 tahun terlihat persentase responden laki-laki lebih banyak daripada perempuan (21,74% dan 13,04%). Kelompok usia 17-25 tahun persentase responden laki-laki juga lebih banyak dari pada perempuan (13,04% dan 8,69%). Terjadi penambahan ukuran tinggi badan dan berat badan pada responden seiring dengan bertambahnya usia.

Tabel 2. Karakteristik Responden murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara (n=23).

Usia Jenis Kelamin Tinggi Badan Berat Badan

Laki-laki ( %) Perempuan (%) 5-11 6 (26,09) 4 (17,39) 123,30 ± 4,78 26,05 ± 5,77 12-16 5 (21,74) 3 (13,04) 142,37 ± 8,80 40,69 ± 8,14 17-25 3 (13,04) 2 (8,69) 149,20 ± 6,099 58,80 ± 20,10

4.2 Analisis Kraniofasial

(46)

Tabel 3. Hasil pengukuran kraniofasial responden murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara (n=23).

Pengukuran X ± SD (cm) Uji Statistik *Uji Oneway Anova, signifikan p<0,05

Berdasarkan tabel 3 maka dapat dideskripsikan rata-rata panjang kepala murid Down syndrome adalah 15,96 ± 1,24 cm. Hasil pengukuran panjang kepala yang

(47)

Pada hasil pengukuran rata-rata lebar kepala murid Down syndrome adalah 13,64 ± 1,05 cm. Hasil pengukuran lebar kepala yang terendah adalah kelompok usia 12-16 tahun dengan rata-rata 13,06 ± 1,14 cm dan pengukuran lebar kepala yang tertinggi adalah kelompok usia 17-25 tahun dengan rata-rata 14,46 ± 1,02 cm. Terjadi perubahan ukuran lebar kepala dari kelompok usia 5–11 tahun terhadap kelompok usia 12-16 tahun yaitu 0,65 cm dan perubahan ukuran lebar kepala dari kelompok usia 12-16 tahun terhadap kelompok usia 17-25 tahun adalah 1,4 cm. Berdasarkan hasil uji Oneway Anova didapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada lebar kepala antar kelompok usia.

Pada hasil pengukuran rata-rata tinggi wajah murid Down syndrome adalah 9,38 ± 0,99 cm. Hasil pengukuran tinggi wajah yang terendah adalah kelompok usia 5-11 tahun dengan rata-rata 9,13 ± 1,26 cm dan pengukuran tinggi wajah yang tertinggi adalah kelompok usia 17-25 tahun dengan rata-rata 9,68 ± 0,55 cm. Terjadi perubahan ukuran tinggi wajah dari kelompok usia 5–11 tahun terhadap kelompok usia 12-16 tahun yaitu 0,37 cm dan perubahan ukuran tinggi wajah dari kelompok usia 12-16 tahun terhadap kelompok usia 17-25 tahun adalah 0,18 cm. Berdasarkan hasil uji Oneway Anova didapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada tinggi wajah antar kelompok usia.

(48)

BAB 5 PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada 23 penderita Down syndrome di sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara. Pengukuran dilakukan dengan mengukur panjang kepala, lebar kepala, tinggi wajah dan lingkar kepala. Pengukuran dilakukan untuk melihat perbedaan fasial juga proporsi dari wajah dan kepala. Pengukuran panjang kepala, lebar kepala dan tinggi wajah menggunakan kaliper dan penggaris, sedangkan pengukuran lingkar kepala menggunakan pita meteran.

5.1 Analisis Kraniofasial

Hasil penelitian pada murid Down syndrome usia 12-16 tahun di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara, rata-rata panjang kepala responden adalah 16,02 ± 0,82 cm. Hasil ini lebih kecil dibandingkan penelitian oleh Nuraini Nunik dkk (2011) pada murid normal usia 12-18 tahun di Surabaya yaitu 16,80. Hal ini mungkin disebabkan karena abnormalitas perkembangan kromosom anak Down syndrome pada masa embrio sehingga menyebabkan gangguan kematangan,

(49)

dan indeks massa tubuh. Peningkatan volume tengkorak juga dihubungkan dengan peningkatan pada tinggi, berat dan indeks massa tubuh. Pengukuran tubuh digunakan untuk menghitung indeks massa tubuh dan juga pengukuran kepala seperti panjang, lebar dan lingkar kepala dapat digunakan untuk mengukur tengkorak kepala. Pada penelitian Rushton (1995) yang menghitung ukuran tengkorak dan ukuran otak ditemukan bahwa tinggi badan dan berat badan mempengaruhi ukuran tengkorak kepala.35 Pada grafik dapat dilihat terjadinya penambahan ukuran panjang kepala dari kelompok usia 5-11 tahun ke 12-16 tahun lalu ke 17-25 tahun pada penderita Down syndrome.

Grafik 1. Rata-rata panjang kepala murid Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara

Pada hasil penelitian rata-rata lebar kepala murid Down syndrome usia 12-16 tahun di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara adalah 13,06 ± 1,14 cm. Hasil ini lebih kecil dibandingkan penelitian oleh Nuraini Nunik dkk (2011) pada murid normal usia 12-18 tahun di Surabaya yaitu 13,90. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya gangguan growth hormone (GH) pada anak Down syndrome, karena growth hormone berfungsi untuk mengendalikan pertumbuhan sel tubuh termasuk

pertumbuhan tulang dan massa otot rangka.33 Terjadi penurunan ukuran lebar kepala pada kelompok usia 5-11 tahun ke kelompok usia 12-16 tahun pada penderita Down syndrome, hal ini dikarenakan terdapat beberapa karakterisitik variasi pada penderita

(50)

dan faktor yang diturunkan dari orang tua. Pertumbuhan tulang, termasuk kranium yang menentukan ukuran kepala individu terjadi lewat aposisi pada periosteum. Pada penderita Down syndrome, sinus spenoidalis dan sinus frontalis tidak berkembang sehingga dapat mempengaruhi bentuk kepala dan wajah.33 Penurunan ukuran juga terjadi dikarenakan perbedaan hasil yang didapat dari individu yang berbeda, dimana tiap individu memiliki pola pertumbuhan yang berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya genetik dan lingkungan seperti nutrisi, penyakit dan lain sebagainya. Hingga dewasa, interaksi antara faktor genetik dan lingkungan membimbing dan mengontrol proses pertumbuhan dan perkembangan dan menentukan morfologi dan sifat-sifat fisiologis masing-masing individu. 36

Pada hasil penelitian rata-rata tinggi wajah murid Down syndrome usia 12-16 tahun di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara adalah 9,50 ± 0,86 cm. Hasil ini lebih kecil dibandingkan penelitian oleh Nuraini Nunik dkk (2011) pada murid normal usia 12-18 tahun di Surabaya yaitu 13,00.33 Hal ini mungkin disebabkan karena anak Down syndrome mempunyai ukuran tinggi hidung yang pendek dan juga diketahui pada anak Down syndrome mengalami dismorfologi kraniofasial, termasuk pada ukuran mandibula berkurang. Ukuran mandibula yang kecil pada Down syndrome disebabkan karena perpindahan dan penyebaran kerusakan pada sel-sel puncak saraf mandibula saat pembentukan embrio, sehingga mandibula tidak dapat terbentuk dengan baik. Kedua hal ini diperkirakan menyebabkan tinggi wajah pada anak Down syndrome menjadi lebih rendah daripada anak normal.37,38 Akibat mandibula yang kecil, gigi geligi tumbuh berjejal dan terjadi impaksi debris makanan dan mempermudah terjadinya karies dan gingivitis.39

(51)

kepala lebih kecil daripada kepala anak normal.41 Ukuran lingkar kepala dipengaruhi oleh tinggi badan dan berat badan.Pada penelitian yang dilakukan oleh Ese Anibor dkk di Nigeria (2011) memperlihatkan bahwa tinggi badan mempengaruhi ukuran lingkar kepala. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa ukuran lingkar kepala menurun seiring dengan meningkatnya ukuran tinggi badan.34 Pada penelitian yang dilakukan Erica dkk (2010) mengatakan bahwa korelasi antara lingkar kepala dan berat badan leih besar dari pada korelasi antara lingkar kepala dan tinggi badan. Korelasi tertinggi antara lingkar kepala dan berat badan terjadi pada saat lahir. Korelasi antara lingkar kepala dan berat badan menurun dengan cepat lalu ke tingkat yang stabil dan berhenti pada puncak remaja.42 Pada grafik dapat dilihat terjadinya penambahan ukuran lingkar kepala dari kelompok usia 5-11 tahun ke 12-16 tahun lalu ke 17-25 tahun pada penderita Down syndrome.

Grafik 2. Rata-rata lingkar kepala murid Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara

(52)

Images) suatu alat yang ideal untuk menganalisis struktur kraniofasial pada individu

(53)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Rerata panjang kepala murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara adalah 15,96 ± 1,24 cm. Hasil uji statistik Oneway Anova terdapat perbedaan yang signifikan pada panjang kepala antar kelompok usia

(p<0,05).

2. Rerata lebar kepala murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara adalah 13,64 ± 1,05 cm. Hasil uji statistik Oneway Anova tidak ada perbedaan yang signifikan pada lebar kepala antar kelompok usia (p>0,05).

3. Rerata tinggi wajah murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara adalah 9,38 ± 0,99 cm. Hasil uji statistik Oneway Anova tidak ada perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah antar kelompok usia (p>0,05).

4. Rerata lingkar kepala murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara adalah 51,02 ± 2,70 cm. Hasil uji statistik Oneway Anova terdapat perbedaan yang signifikan pada lingkar kepala antar kelompok usia

(p<0,05).

6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:

(54)

2. Perlu dilakukan penelitian mengenai efek tumbuh kembang kraniofasial pada Down syndrome terhadap rentang usia yang lebih tinggi.

3. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan metode yang lebih rinci dan teliti.

(55)

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahmawati A. Hubungan antara usia ibu hamil dengan resiko terjadinya kelahiran sindroma down. Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender 2011; 6: 155-64.

2. Laksono S, Qomariyah, Purwaningih E. Persentase distribusi penyakit genetik dan penyakit yang dapat disebabkan oleh faktor genetik di RSUD Serang. Majalah Kesehatan PharmaMedika 2011. Jun 2: 155-61.

3. Budiman, Juhaeriah J, Teresia A. Pengaruh penggunaan alat permainan edukatif terhadap kemampuan motorik anak down syndrome di SLB B&C Pambudi Dharma 2 Cimahi. E- Journal Kopertis IV 2011; 19: 1-4.

4. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. 1 th ed., Jakarta: EGC, 1995: 211-5. 5. Faradz SMH. Retardasi mental. In: Universitas Dipenogoro Semarang.

Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro Semarang. Semarang, 2004: 8-11.

6. Al-Shawaf R, Al-Faleh W. Craniofacial characteristic in Saudi down’s syndrome. Journal of Dental Sciences 2011; 2: 17-22.

7. M.E.L de Moraes et al. Dental anomalies in patients with down syndrome. Braz Dent J 2007; 18(4): 346-50.

8. Al-Hussuna A. Statistical variation of three dimensional face models. Tesis. Copenhagen: Multimedia Technologies Master Thesis Project IT- University of Copenhagen, 2003: 33-5.

9. Kurnia C, Susiana, Husin W. Facial indices in Chinese etnic students aged 20-22. J Dent In 2012; 19: 1-4.

10.Bagic I, Verzak Z. Craniofacial anthropometric analysis in down’s syndrome patients. Coll. Antropol. 2003; 27 Suppl 2: 23-30.

(56)

12.Hardiwinoto. Kategori umur 2012/05/kategori-umur.html. (14 November 2013).

13.Ikalor A. Pertumbuhan dan perkembangan. Jurnal Pertumbuhan dan Perkembangan 2013; 7: 1-6.

14.Chamidah A. Deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Jurnal Pendidikan Khusus 2009; 5: 83-8.

15.Kusuma ARP. Bernafas lewat mulut sebagai faktor ekstrinsik etiologi maloklusi. Jurnal unissula 2010; 48: 4-6.

16.Dixon AD. Anatomi untuk kedokteran gigi. Alih Bahasa. Yuwono L. Jakarta:Hipokrates, 1993: 139-74.

17.Koesoemahardja HD, Indrawati A, Jenie I. Tumbuh kembang kraniodentofasial. 1 th ed., Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti., 2004: 27-33.

18.Afriadi Y. Makalah masa remaja (prapubertas, pubertas dan adolesen). http:// gudangmakalahku.blogspot.com/2013/05/makalah-masa-remaja-masa-pra-pubertas.html (21 September 2013).

19.Adi A. Makalah teori perkembangan manusia

m/2013/10/makalah-teori-perkembangan-manusia.html (21 September 2013). 20.Hutt ML. Gibby RG. The mentally retarded child. United States of America:

Allyn and Bacon, Inc, 1979.98.

21. Imronyz. Ciri-ciri daun sindrom anak bayi

om/2014/07/ciri-ciri-daun-sindrom-anak-bayi.html?=1 (18 Januari 2015). 22.Haslindah. Analisis ergonomis dalam perancangan fasilitas kerja untuk proses

perontok padi ( thresher) dengan pendekatan biomekanika. Jurnal Ilmu Teknik 2007; 2: 237-9.

(57)

24.Suprapto, Komariah A. Antropometri, volume dan massa segmen tubuh laki-laki etnik jawa. In: LPPM Univet Bantara Sukoharjo, ed. Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Sukoharjo, 2011: 37-9.

25.Arumsari A, Mangundjaja S, Kasim A. Ukuran antropometri wajah dan kepala sebagai acuan nilai normal untuk evaluasi penderita celah bibir dan langit-langit. In: Kongres Nasional PABMI IX-2004. Bandung, 2004: 132-4.

26.Storage W. Augustus Once And For All

/Augustus/IsItRecarved/ (27 Desember 2013).

27.Mohammad S, Dwivedi CD, Singh RK, Singh P, Pal US. Medpore versus os- seous augmentation in genioplasty procedure: A comparison. Natl J Maxillof- ac Surg. 2010; 1: 3.

28.Alimsardjono H. Cranium

2014).

29.Gargett HR. The subversive archaeologist. http://www.the subversivearchaeo- logist.com/2013_05_01_archive.html. (15 Januari 2014).

30.Hamilah K, Nasution FH, Trenggono BS. Antropologi untuk mahasiswa kedokteran gigi. Jakarta: Universitas Trisakti. 2005 : 7.

31.Bolzan G, Souza JA, Boton LM, etc. Facial type and head posture of nasal and mouthbreathing children. J. Soc. Bras. Fonoaudiol 2011; 23(4): 317.

32.Dani. Measuring head circumferenc

om/2010/11/measuring-head-circumference.html. (16 Januari 2014)

33. Nuraini N, Chusida A, Soegeng B. Perbandingan tinggi, panjang dan lebar kepala antara penderita sindroma down dan anak normal usia 12-18 tahun. Oral Biology Dental Journal 2011; 3: 27-9.

34.Anibor E, Eboh D, Etetafia M. A study of craniofacial parameters and total body height. Adv. Appl. Sci. Res., 2011; 2: 400-05.

(58)

36.Reddy YM, Sreekanth CAB, Reddy BV, Kumar LB. The effect of genetic and environmental factors on craniofacial complex: A twin study. The jounal of Indian Orthodontic Society 2011; 45: 109.

37.Wright M. Down syndrome.

38.Wiseman F, Alford K, Tybulewicz V, Fisher E. Down Syndrome-recent progress and future prospects. Human Molecular Genetics 2009; 18: 77. 39.Sasea A, Lampus B, Supit A. Gambaran status kebersihan rongga mulut dan

status gingiva pada mahasiswa dengan gigi berjejal. Jurnal e-GiGi(eG) 2013; 1: 52-3.

40.Gabriel O, Leyira Y, Peter O. Measurements of head circumference, interchantal distances, chantal index and circumference interorbital index of ikwerre school children in Nigeria. Journal of Natural Sciences Research 2013; 3: 16.

41.Davis CP. Microcephaly.

\what-causes-microcephaly (1 Oktober 2014).

(59)

Landasan Teori

Proses tumbuh kembang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot dan jumlah sel dan bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Perkembangan adalah pertambahan kemampuan sturktur dan fungsi tubuh yang lebih kempleks. Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi dan hilangnya ciri-ciri lama dan munculnya ciri-ciri baru. Perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan, sehingga setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi.

Tulang kraniofasial terdiri dari 2 kesatuan yaitu neurokranium dan viserokranium. Neurokranium dibentuk oleh tulang ossipital, tulang temporal, tulang spheinoidal, tulang ethmoidal, tulang frontal dan tulang parietal. Viserokranium dibentuk oleh tulang maksila, tulang mandibula, tulang palatinum, tulang zigomatikum, tulang nasal, vomer, tulang konka nasalis inferior, tulang lakrimal dan tulang hyoideum.

Down syndrome adalah kelainan yang terjadi pada anak yang mengalami

keterbelakangan mental dan penyimpangan fisik yang disebabkan oleh adanya kelainan pada kromosom 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya, melainkan 3 kromosom (trisomi 21). Mekanisme terjadinya Down syndrome disebabkan oleh 2 kelainan yaitu kelanian jumlah kromosom dan kelainan

(60)

bukan homolognya sehingga menghasilkan gamet yang menyebabkan terjadinya Down syndrome.

Tanda klinis umum yang terjadi pada anak Down syndrome yaitu wajah yang khas dengan mata sipit membujur ke atas, kedua mata berjauhan dengan jembatan hidung yang rata, mulut kecil dengan lidah yang besar sehingga cenderung dijulurkan, tubuh umumnya pendek dan cenderung gemuk, tangan dan telapak tangan yang pendek dan mempunyai rajah telapak tangan yang melintang lurus dan ibu jari kaki dan jari kedua dari kaki biasanya tidak rapat. Pada gambaran oral terdapat beberapa kelainan yaitu bibir yang tidak kompeten terlihat ketika bibir atas dan bawah tidak bersentuhan pada saat ditutup, lidah makroglosia, nasofaring pipih, bentuk palatum tinggi dan sempit dan kelenjar adenoid membesar.

(61)

LandasanTeori

Kraniofasial Pada Down Syndrome

Gambaran Klinis Mata sipit membujur ke atas Kedua mata berjauhan

(62)

AlurPikir

Down syndrome merupakan abnormalitas kromosom (trisomi 21) yang paling sering

terjadi pada kelahiran hidup.

• Kasus Down syndrome di dunia yaitu kurang lebih ditemukan 8 juta anak Down syndrome.

• Di Indonesia mencapai lebih dari 300.000 penderita. Di Serang ditemukan 2 sampai 4 kasus setiap tahunnya.

Down syndrome dengan frekuensi 1 dari 700 kelahiran bayi lebih sering terjadi pada Ibu hamil pada usia di atas 35 tahun.

• Jumlah kromosom 21 yang berlebih menjadi tiga tersebut, diperkirakan terletak pada bagian lengan bawah kromosom 21 dan interkasinya dengan fungsi gen lain meyebabkan terjadinya penyimpangan perkembangan fisik dan susunan saraf pusat. • Perbedaan yang paling khas pada Down syndrome ditemukan penyimpangan di kedua struktur kraniofasial.

• Manifestasi kraniofasial pada Down syndrome meliputi brakisefali, ukuran wajah bagian atas kecil, ukuran mandibula berkurang pada kedalaman dan lebar, secara sagital terjadi kekurangan pada jarak mandibula ke maksila dan ke wajah bagian atas dan wajah bagian atas dan bawah cenderung menonjol.

• Penelitian Dr. Reema (2010) menunjukkan bahwa pada 30 penderita Down syndrome, brakisefali dijumpai lebih dari setengah kelompok Down syndrome yaitu 53,3%.

• Penelitian Levinson dkk (1955) mengungkapkan pada 50 penderita Down syndrome brakisefali dijumpai pada 82% penderita Down syndrome.

• Antropometri adalah ilmu yang berhubungan dengan pengukuran ukuran, berat dan proporsi dari tubuh manusia.

(63)

RumusanMasalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan panjang kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

2. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan lebar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

3. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan tinggi wajah pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

4. Berapakah ukuran kraniofasial berdasarkan lingkar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

TujuanPenelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan panjang kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

2. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan lebar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

3. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan tinggi wajah pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

4. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan lingkar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

TujuanPenelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan panjang kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

2. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan lebar kepala pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

3. Mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan tinggi wajah pada usia 5-11 tahun, 12-16 tahun dan 17-25 tahun pada penderita Down syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara di Medan.

(64)

ManfaatPenelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Manfaat Praktis

1. Sebagai bahan informasi lebih dalam tentang perbandingan ukuran kraniofasial anak Down syndrome dengan anak normal.

2. Memberikan informasi tentang perbedaan ukuran kraniofasial terkait tumbuh kembang kraniofasial pada penderita Down syndrome.

Manfaat Teoritis

(65)

BAGIAN ILMU BIOLOGI ORAL FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ANALISIS KRANIOFASIAL ANTROPOMETRI PADA PENDERITA DOWN SYNDROME USIA 5-25 TAHUN DI UPT. SLB-E

NEGERI PEMBINA SUMATERA UTARA

PENGISIAN DATA

IDENTITAS SAMPEL:

Nama : ………...

Umur : ………...

Jenis kelamin : ………...

Berat Badan Tinggi Badan

Apakah anak didik bapak/ibu mengalami kelainan sistemik dibawah ini

1. Penyakit jantung kongenital Ya Tidak 2. Defisiensi Growth Hormon dan penyakit tiroid Ya Tidak

3. Leukimia Ya Tidak

4. Tumor solid seperti retinoblastoma, limfoma, Ya Tidak tumor pankreas, tumor gonad, tumor tulang

5. Masalah ortopedi Ya Tidak

(66)

7. Tonsilitis kronik Ya Tidak 8. Gangguan perkembangan bicara dan bahasa Ya Tidak

9. Demensia Ya Tidak

10.Kelainnan lainnya Ya Tidak

Jika Ya, sebutkan …………..

Tanda Tangan Orang Tua/Wali

………

(67)

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA SUBJEK PENELITIAN

Kepada Yth : Orang Tua/Wali ………

Bersama ini saya, Ellin Faradina (umur 22 tahun), yang sedang menjalani program pendidikan sarjana pada Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara, memohon kesediaan anak dari Bapak/Ibu untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian saya yang berjudul :

ANALISIS KRANIOFASIAL ANTROPOMETRI PADA PENDERITA DOWN SYNDROME USIA 5-25 TAHUN DI UPT. SLB-E NEGERI PEMBINA SUMATERA UTARA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran rata-rata kraniofasial berdasarkan ukuran tinggi wajah, panjang kepala, lebar kepala dan lingkar kepala pada penderita Down Syndrome di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara.

Penelitian ini bersifat deskriptif dimana akan dilakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Setelah itu dilakukan pengukuran panjang dan lebar kepala menggunakan kaliper, tinggi wajah menggunakan kaliper dan lingkar kepala menggunakan pita meteran. Untuk mengetahui data dari subjek yang lebih rinci maka Bapak/Ibu akan diminta menjawab pertanyaan kuesioner sebanyak 10 (sepuluh) pertanyaan yang akan dijawab oleh Bapak/Ibu sebagai Orang Tua/ Wali dari subjek penelitian dan diberi waktu ± 10 menit. Identitas anak sebagai subjek penelitian akan dirahasiakan oleh peneliti.

(68)

Demikian lembar penjelasan ini saya perbuat, semoga keterangan ini dapat dimengerti dan atas kesediaan Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini saya ucapkan terima kasih.

Medan, ……….. 2014

(69)

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN SUBJEK PENELITIAN

(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Jenis kelamin : L / P

Alamat :

Menyatakan telah membaca lembar penjelasan kepada subjek penelitian dan sudah mengerti serta bersedia untuk turut serta sebagai subjek penelitian, dalam penelitian atas nama Ellin Faradina yang berjudul “Analisis Kraniofasial Antropometri pada Penderita Down Syndrome Usia 5-25 Tahun di UPT. SLB-E Negeri Pembina Sumatera Utara’’ dan menyatakan tidak keberatan maupun melakukan tuntutan di kemudian hari.

Demikian pernyataan ini saya perbuat dalam keadaan sehat, penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak manapun.

Medan, Agustus 2014 Pembuat Pernyataan

(70)
(71)
(72)
(73)

Umur 5-11 Tahun

No Nama Umur BB TB Panjang Kepala

Lebar Kepala

Tinggi Wajah

Lingkar Kepala

1 FA 11 Tahun 40 kg 124 cm 15,1 cm 14 cm 10,2 cm 49 cm

2 SU 11 Tahun 26 kg 122 cm 15,1 cm 12,7 cm 7,5 cm 46,3 cm

3 RH 11 Tahun 30 kg 130 cm 15,5 cm 14,5 cm 10,3 cm 48,8 cm

4 I 7 Tahun 28 kg 122 cm 15 cm 14,2 cm 8,6 cm 49 cm

5 R 8 Tahun 21 kg 117 cm 15,5 cm 15 cm 8,2 cm 50,1 cm

6 A 10 Tahun 25 kg 132 cm 15,1 cm 13,2 cm 11,1 cm 53 cm

7 MR 10 Tahun

22,5

kg 123 cm 15,3 cm 13,4 cm 8,4 cm 48,4 cm

8 D 9 Tahun 25 kg 120 cm 16,2 cm 13,1 cm 7,5 cm 51,1 cm

9 S 8 Tahun 20 kg 118 cm 17 cm 13 cm 10 cm 47 cm

(74)

Gambar

Gambar 3. Kraniofasial (n=nation, gn=gnation, eu=eurion, i=inion, g=glabella, op=
Gambar 4. Sefalometri (n=nation, gn= gnation, eu= eurion, i= inion, g= glabella, op=          opistokranion)27
Tabel 1. Pemeriksaan Antropometri10
Tabel 2. Karakteristik Responden murid Down syndrome di Sekolah UPT. SLB-E                   Negeri Pembina Sumatera Utara (n=23)
+4

Referensi

Dokumen terkait