DINAMIKA SUKSESI POPULASI SERANGGA SEBAGAI INDIKATOR
DALAM KEGIATAN FORENSIK
SUPRIYONO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK
CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Dinamika Suksesi Populasi Serangga Sebagai Indikator Dalam Kegiatan Forensik adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
SUPRIYONO. Dinamika Suksesi Populasi Serangga Sebagai Indikator Dalam Kegiatan Forensik. Dibimbing oleh SUSI SOVIANA dan UPIK KESUMAWATI HADI.
Tahap dekomposisi bangkai menarik serangga yang berbeda untuk datang. Beberapa jenis serangga menyukai bangkai baru, tetapi ada juga serangga yang menyukai bangkai yang sudah membusuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis ciri khusus gelombang suksesi serangga dari awal kematian sampai fase akhir dekomposisi pada bangkai. Dua bangkai kelinci diletakkan di dalam ruangan dan di luar ruangan. Koleksi dan pengamatan serangga di lakukan tiga kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore. Serangga dewasa terbang dikoleksi dengan menggunakan sweeping net sedangkan serangga pradewasa dengan cara manual menggunakan tangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap dekomposisi bangkai di dalam ruangan lebih cepat dibandingkan di luar ruangan. Total waktu yang diperlukan mulai dari tahap awal kematian sampai fase tulang pada bangkai di luar ruangan adalah 10 hari sedangkan di dalam ruangan selama 8 hari. Di luar ruangan ditemukan ordo serangga Diptera (Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, Tachinidae), Coleoptera (Chrysomelidae, Staphylinidae, Scarabeidae, Silphidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera, Blataria dan Orthoptera (Grillidae). Sedangkan di dalam ruangan di temukan ordo Diptera (Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, Tachinidae), Coleoptera (Chrysomelidae, Staphylinidae, Scarabeidae, Silphidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera, Lepidoptera, and Aranea. Serangga pradewasa yang ditemukan di luar ruangan dan di dalam ruangan terdiri atas 3 famili yaitu Calliphoridae, Muscidae, dan Sarcophagidae. Keberadaan larva diptera pada bangkai ditemukan dari tahap awal kematian sampai dengan pasca pembusukan. Serangga tanah yang datang ke bangkai di luar ruangan terdiri atas Protura, Collembola, Thysanura dan tungau tanah. Keberadaan serangga tanah di mulai sejak awal kematian sampai pada akhir dekomposisi.
SUMMARY
SUPRIYONO.The Dynamic of Population Succession Insect as an Indicator Forensic Activities. Supervised by SUSI SOVIANA and UPIK KESUMAWATI HADI.
The decomposition stage of carrion will attract various species of insects to come. Some species of insect will attract the carrion in the early stage of decomposition, but some of them in the late stage of death. The purpose of this research were to observe and analyze the distinctive features of insect succession on carrion. Two carrions were placed in indoor and outdoor. Insect collection and observation was done three times a day i.e, morning, afternoon and evening. Adult flying insects were collected by sweeping net, whereareas the immature insect manualy.
The result showed that decomposition of the carrion indoor were faster than the corrion outdoor. Total time an early stage until skeletonization stage on carrion outdoors was 10 days and indoors for eight days. In outdoor there were found orders of Diptera (i.e Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, Tachinidae), Coleoptera (Chrysomelidae, Staphylinidae, Scarabeidae, Silphidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera, Blataria and Orthoptera (Grillidae). However, in indoors there were found the order of Diptera (Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, Tachinidae), Coleoptera (Chrysomelidae, Staphylinidae, Scarabeidae, Silphidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera, Lepidoptera, and Aranea. Immature insects that are found outdoors and indoors consist of three family of Diptera i.e Calliphoridae, Muscidae, and Sarcophagidae. The presence of Diptera larvae in carcasses have been found from the early stage of the death until post decay stage. The soil insects that come to the carrion outdoors consist of Protura, Collembola, Thysanura and oribatid mites. The presence of soil insects from early stage until skeletonization stage.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan
DINAMIKA SUKSESI POPULASI SERANGGA SEBAGAI
INDIKATOR DALAM KEGIATAN FORENSIK
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
Judul Tesis : Dinamika Suksesi Populasi Serangga Sebagai Indikator Dalam Kegiatan Forensik
Nama : Supriyono NIM : B252110021
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr drh. Susi Soviana, MS.i Ketua
Dr drh. Upik Kesumawati Hadi, MS Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Parasitologi dan Entomologi Kesehatan
Dr drh. Upik Kesumawati Hadi, MS
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 ini ialah Forensik Entomologi, dengan judul Dinamika Suksesi Populasi Serangga Sebagai Indikator Dalam Kegiatan Forensik.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr drh. Susi Soviana, MS.i dan Ibu Dr drh. Upik Kesumawati Hadi, MS selaku pembimbing. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr.drh. Srihadi Agung Priyono, PhD, PA Vet (K). MS selaku pembimbing luar komisi pada ujian tesis. Di samping itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Singgih H Sigit, Dr.drh. Dwi Jayanti Gunandini, dan seluruh staf pengajar program studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan (PEK) atas ilmu, bimbingan, dan nasehatnya. Ucapan terima kasih untuk teman-teman PEK angkatan 2011-2013 atas persahabatan, keceriaan dan semangatnya selama ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada istri, ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR TABEL
1 Tahap dekomposisi bangkai yang diletakkan di luar ruangan 7
2 Tahap dekomposisi pada bangkai yang diletakkan di dalam ruangan 8
3 Serangga dewasa yang ditemukan pada bangkai 9
4 Persentase serangga pradewasa yang ditemukan pada bangkai 10
5 Persentase serangga tanah yang ditemukan pada bangkai di luar ruangan 11
DAFTAR GAMBAR
1 Kemunculan dan jumlah serangga dewasa pada bangkai 92 Keberadaan serangga pradewasa pada bangkai 11
3 Keberadaan serangga tanah pada bangkai di luar ruangan 12
4 Suhu bangkai di dalam dan di luar ruangan 13
5 Nilai derajat keasaman (pH) dan ammonia (NH3) pada bangkai di dalam dan di luar ruangan 15
DAFTAR LAMPIRAN
1 Tahap dekomposisi bangkai di luar ruangan 182 Tahap dekomposisi bangkai di luar ruangan 19
3 Jenis lalat yang ditemukan pada bangkai 21
4 Jenis semut yang ditemukan pada bangkai 23
1
PENDAHULUAN
Serangga merupakan makhluk hidup yang memiliki jumlah spesies yang beragam serta kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Peran serangga di alam yaitu sebagai penghasil sumber makanan, pengurai, predator dan penjaga keseimbangan ekologi. Serangga yang tertarik kepada bangkai juga bermanfaat dalam membantu pengungkapan kasus kematian karena dapat menjadi indikator dalam penentuan waktu kematian (Benecke 2004). Pemanfaatan serangga sebagai indikator forensik dalam upaya menentukan saat kematian dilaporkan oleh Leccese (2004) di Parma, Italia. Klotzbach et al. (2004) juga melaporkan bahwa larva lalat famili Calliphoridae dapat digunakan sebagai bahan dalam mempelajari entomologi forensik di Jerman.
Adanya kasus kematian (bangkai) sangat mendukung terbentuknya sebuah ekosistem baru. Selama proses dekomposisi terjadi perubahan fisik, biologi dan kimia yang sangat cepat yang akan menarik berbagai spesies serangga untuk datang. Beberapa jenis serangga menyukai bangkai baru, tetapi ada juga serangga yang menyukai bangkai yang sudah membusuk.
Dinamika suksesi populasi dari berbagai spesies serangga berbeda secara ekologi pada tubuh bangkai. Serangga tersebut akan saling berinteraksi baik bersifat netral, kompetisi, maupun predasi dalam proses dekomposisi bangkai. Serangga akan melakukan reaksi enzimatis pada bangkai dan apabila sudah selesai, maka gelombang serangga yang berikutnya akan datang, untuk melakukan reaksi enzimatis yang lain, begitu seterusnya. Serangga yang datang pada bangkai mempunyai urutan sesuai dengan tahap dekomposisi. Tuzun et al, (2010) menemukan lima ordo serangga yaitu Diptera, Coleoptera, Dermaptera, Blattaria dan Hymenoptera pada studi awal forensik di negara Iran dan Wolff et al, (2001) di Colombia menemukan suksesi dua ordo serangga yaitu ordo Diptera dan Coleoptera pada mayat.
Di Indonesia, pemanfaatan serangga sebagai indikator penentuan kematian belum banyak dilakukan. Sejauh ini hanya Yudi (2011) yang melaporkan tentang peran daur hidup lalat hijau (Chrysomyia megacephala) dalam estimasi kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati dan menganalisis ciri khusus gelombang suksesi serangga dari awal kematian sampai fase akhir dekomposisi pada bangkai.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Dekomposisi Bangkai
2
Pembusukan merupakan proses degradasi jaringan akibat autolisis dan kerja bakteri pembusuk terutama Clostridium welchii. Bakteri yang lain seperti Streptococcus, Staphylococcus, B. proteus, jamur dan enzim-enzim seluler juga memberikan kontribusi sebagai penghancur jaringan pada fase akhir pembusukan. Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak sehingga menyebabkan hemolisa dan mewarnai dinding pembuluh darah serta jaringan sekitarnya. Bakteri ini menghasilkan asam lemak dan gas pembusukan berupa H2S, HCN dan NH4. Gas H2S akan bereaksi dengan
hemoglobin (Hb) menghasilkan HbS yang berwarna hijau kehitaman. Gas-gas pembusukan akan mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial tanpa merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh darah beserta cabang-cabangnya tampak lebih jelas (marbling). Proses pembusukan terjadi setelah kematian seluler dan terlihat setelah 24 jam kematian. Tanda yang terlihat adalah warna kehijauan (HbS) pada abdomen bagian bawah yaitu di awali dengan organ pencernaan sekum kemudian menyebar ke seluruh abdomen dan torak dengan disertai bau busuk (Statheropoulus 2005).
Peristiwa dekomposisi dipengaruhi oleh berbagai aspek selain faktor biotik juga faktor abiotik yang meliputi parameter fisik seperti temperatur, kelembaban, dan hujan. Proses dekomposisi akan timbul lebih cepat pada suhu atas lima tahap yaitu fresh stage, bloated stage, decay stage, postdecay stage dan skeletal stage. Tahapan fresh stage dimulai pada saat kematian dan ditandai adanya tanda penggembungan tubuh.
Tahap penggembungan (bloated stage) merupakan tahap awal terjadinya pembusukan. Gas yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme bakteri anaerob menyebabkan penggembungan abdomen. Naiknya suhu internal selama tahapan ini merupakan akibat dari aktivitas bakteri pembusuk. Selama tahap penggembungan cairan dalam tubuh terdorong keluar dari lubang-lubang tubuh dan meresap ke dalam tanah. Cairan tersebut berupa senyawa amonia yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme larva lalat sehingga akan menyebabkan tanah di bawah bangkai menjadi bersifat alkali (basa) dan yang menarik fauna tanah untuk mendatangi ke bangkai (Amendt 2010).
3
Jenis Serangga yang Datang pada Bangkai
Proses dekomposisi bangkai mampu menarik berbagai jenis serangga untuk datang. Serangga tersebut mempunyai berbagai peranan dan tujuan diantaranya mencari makan, sebagai predator, dekomposer, dan meletakkan telur. Kelompok serangga nekrophagus yang sering datang ke bangkai adalah Diptera dan Coleoptera (Turchetto dan Vanin 2004) . Lalat biasanya merupakan serangga yang datang pertama kali dan menggunakan bangkai segar sebagai sumber pakan atau media bertelur.
Pada umumnya bangkai mengeluarkan bau busuk terutama ketika terpapar udara, maka lalat, semut dan kumbang sebagai makhluk yang tertarik dengan bau busuk akan mendekat dan kemudian meletakkan telurnya pada bagian tubuh bangkai. Serangga yang datang pada tahap awal kematian adalah lalat dari famili Calliphoridae dan Sarcophagidae. Lalat betina akan meletakkan telurnya di daerah yang terbuka di daerah kepala seperti mata, hidung, mulut, dan telinga. Serangga famili Phiophillidae atau Cheese skipper hanya tertarik pada saat terjadi dekomposisi protein.
Lalat dari famili Calliphoridae juga tertarik pada mayat selama tahap penggembungan. Beberapa serangga predator, seperti kumbang, tawon, semut, serangga nekrophagus dan predator dapat diamati dalam jumlah besar menjelang akhir tahap ini. Pada tahap ini mayat mengalami penggembungan akibat adanya gas, cairan dalam tubuh terdorong keluar dari lubang-lubang tubuh dan meresap ke dalam tanah. Pada tahap pasca pembusukan, kumbang dari famili Nitidulidae terkadang ditemukan (Gennard 2007) sedangkan Carvalho et al. (2004) menemukan serangga dari famili Formicidae pada tahap akhir dekomposisi.
Lalat dari Muscidae biasanya datang mulai dari tahap awal kematian. Lalat ini mempunyai ciri berukuran tubuh- 5,5-9 mm, toraks abu-abu dan ditutupi dengan rambut. Lalat dari famili Caliphoridae memiliki ukuran 9,5-12 mm, berwarna hijau metalik (Spradbery 2010). Lalat ini biasanya yang pertama mendatangi bangkai karena mencium bau yang dikeluarkan. Lalat dari famili Sarcophagidae (fleshflies) dapat berkembang biak pada bangkai dan bersifat larvipara yaitu langsung mengeluarkan larva.
Coleoptera (kumbang) merupakan jenis serangga yang mendatangi bangkai pada tahap dekomposisi akhir. Selain makan pada bangkai secara langsung, larva beberapa spesies kumbang mengkonsumsi larva serangga lain. Kumbang pengembara (Silphidae) kadang memakan larva lalat pada bangkai yang membusuk. Serangga adventive species seperti Colembola, dan spiders juga memanfaatkan bangkai sebagai sumber makanan. Di akhir dekomposisi Tuzun et al. (2010) menemukan kumbang Dermestes maculates dan Necrophorus sp. Pada penelitian tersebut juga ditemukan serangga dari famili Blattidae yaitu Blatta orientalis, serangga dari ordo Hymenoptera yaitu dari famili Vespidae, Formicidae dan serangga dari ordo Dermaptera yaitu famili Forticulidae.
4
tertarik mendatangi ke karkas pada hari ke sebelas. Campobasso et al. (2004) juga menemukan serangga famili Phoridae pada bangkai.
Tuzun et al. (2010) menemukan berbagai jenis serangga diptera yaitu dari famili Physicodidae, Calliphoridae, Muscidae, Fannidae, dan Sarcophagidae. Serangga famili Physicodidae adalah Pshychoda sp, sedangkan yang termasuk famili Calliphoridae adalah Calliphora vicina, Calliphora vomitoria, Lucilia sericata dan Chrysomyia albiceps. Famili Musidae yang ditemukan adalah Musca domestica dan Muscina stabulans. Fannia canicularis merupakan serangga dari famili Fannidae dan famili Sarcophagidae yang ditemukan adalah Sarcophaga haemorrhoidalis, Sarcophaga sp, dan Wohlfartia magnifica.
5
3
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan dari bulan Februari sampai dengan April 2013 di kampus IPB Darmaga. Tahap preservasi dan identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Entomologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan adalah kelinci (Orictolagus cuniculus) yang berasal dari Unit Pengelolaan Hewan Laboratorium (UPHL) Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Sebanyak 4 ekor kelinci dimatikan dengan disembelih pada bagian leher. Dua bangkai diletakkan di dalam ruangan dan di luar ruangan. Ruangan yang digunakan berupa kamar berukuran 2 m x 4 m x 2 m, beralas lantai dan berventilasi sedangkan di luar ruangan menggunakan tanah terbuka dan terdapat beberapa vegetasi. Masing-masing bangkai di luar ruangan ditutup dengan sungkup kawat berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm untuk menghindari gangguan dari hewan karnivora. Lubang kawat (mesh) berukuran 1x1 cm2 sehingga memungkinkan serangga untuk dapat masuk. Bangkai tersebut dibiarkan sampai tersisa rambut, kulit dan tulang.
Koleksi dan Pengamatan Serangga
Koleksi dan pengamatan serangga dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Serangga dewasa yang terbang dikoleksi dengan menggunakan sweeping net sedangkan serangga pradewasa (telur, larva, pupa, nimfa) dan serangga tidak terbang dengan cara manual menggunakan tangan. Serangga tanah berukuran kecil (tungau, Colembola, Protura) dikoleksi dengan menggunakan Corong Berlese tiga hari sekali.
Presevasi Serangga
6
Identifikasi Serangga
Identifikasi serangga dilakukan dengan menggunakan kunci identifikasi Amendt et al. (2010), Spradbery (2002), Holldobler dan Wilson (1990) serta dengan mencocokkan spesimen yang sudah ada di Laboratorium Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Pengukuran Suhu, pH dan NH3 Bangkai
Pengukuran suhu, derajat keasaman (pH) dan amonia (NH3) digunakan untuk
mengetahui terjadinya proses pembusukan. Suhu bangkai diukur menggunakan termometer infrared sedangkan pH dan NH3 bangkai diukur
menggunakan pH meter dan amoniameter. Pengukuran suhu, derajat keasaman (pH) dan amonia (NH3) dilakukan setiap hari pada pagi, siang, dan sore.
Analisis Data
Data karakteristik suhu, kelembaban, pH dan NH3 bangkai, serta pH tanah
dilakukan uji analisis regresi linear. Adapun data jumlah dan jenis serangga dideskripsikan dan ditampilkan dalam bentuk tabel serta grafik.
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tahap Dekomposisi Bangkai
7
Tabel 1 Tahap dekomposisi bangkai yang diletakkan di luar ruangan
Tahap dekomposisi Awal
kematian Penggembungan Pembusukan Pasca pembusukan Fase
tulang
1-2 hari 2-3 hari 3-5 hari 6-9 hari 10-30 hari
Rigor mortis Penggembungan Tubuh pecah/rusak Tubuh kering Sisa kulit,
Awal mulai terjadi penggembungan tubuh. Tahap penggembungan terjadi pada hari ke 2-3 setelah kematian yang ditandai adanya penggembungan seluruh tubuh, mulai timbul bau, rambut rontok, dan keluar cairan. Tahap pembusukan terjadi pada 3-4 hari setelah kematian yang ditandai dengan rusaknya tubuh, keluar cairan, bau menyengat, larva yang terdapat dalam bangkai mulai menyebar dan kerontokan seluruh rambut. Tahap pasca pembusukan terjadi pada hari ke 5-7 setelah kematian yang ditandai dengan bangkai mulai mengering sedangkan fase tulang terjadi hari ke 8 ditandai adanya sisa rambut, kulit dan tulang (Tabel 2).
Tabel 2 Tahap dekomposisi pada bangkai yang diletakkan di dalam ruangan
Tahap Dekomposisi
Awal kematian Penggembungan Pembusukan
Pasca pembusukan
Fase tulang
1-2 hari 2-3 hari 3-4 hari 5-7 hari 8-30 hari
Rigor mortis Penggembungan Tubuh pecah/rusak Tubuh kering
Awal
penggembungan Keluar cairan Keluar cairan Sisa kulit, rambut
Sisa kulit rambut tulang
Kebiruan Bau Larva menyebar tulang
Rambut mulai
rontok Seluruh rambut rontok
Sisa kulit Mengeras
8
perubahan ATP menjadi ADP dan asam laktat yang dihasilkan akibat penurunan pH seluler dan aktivitas aktin-myosin otot (Amendt et al. 2010).
Tahap penggembungan timbul akibat gabungan proses putrefaksi (penggembungan akibat gas) dan aktivitas larva pada bangkai sehingga suhu bangkai meningkat. Aktivitas bakteri anaerobik pada saluran pencernaan mengakibatkan timbulnya gas sehingga tubuh akan menggembung. Menurut Statheropoulus et al. (2005) gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi adalah CO2, H2S, CH4, NH3, dan SO2. Gas H2S akan bereaksi dengan hemoglobin
membentuk sulfhemoglobin yang menghasilkan warna kebiruan. Pada tahap pembusukan gas ini akan keluar sehingga menimbulkan bau. Tahap selanjutnya bangkai akan pecah dan kemudian mengempes.
Kecepatan dekomposisi bangkai yang diletakkan di dalam ruangan lebih cepat di bandingkan terhadap bangkai di luar ruangan. Proses kecepatan dekomposisi di dalam ruangan sangat di pengaruhi oleh kondisi lingkungan yaitu suhu dan kelembaban lingkungan aktivitas larva Diptera yang memakan jaringan tanpa terganggu oleh faktor-faktor di luar (hujan, sinar matahari, angin). Aktivitas larva Diptera pada bangkai yang diletakkan di luar ruangan sangat di pengaruhi oleh hujan, suhu, kelembaban, dan pH tanah.
Jenis Serangga Dewasa yang Datang pada Bangkai
Berdasarkan hasil koleksi menggunakan tangguk serangga didapatkan sebanyak 601 serangga dewasa pada bangkai di luar ruangan. Serangga tersebut terdiri atas 6 ordo yaitu Diptera (Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, Tachinidae), Coleoptera (Chrysomelidae, Staphylinidae, Scarabeidae, Silphidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera, Blataria dan Orthoptera (Grillidae). Jenis serangga yang ditemukan pada bangkai di luar ruangan lebih bervariasi. Pada bangkai kelinci yang diletakkan di dalam ruangan di dapatkan sebanyak 426 serangga dewasa. Jenis serangga yang di dapatkan terdiri atas ordo Diptera (Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, Tachinidae), Coleoptera (Chrysomelidae, Staphylinidae, Scarabeidae, Silphidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera, Lepidoptera, dan Aranea (Tabel 3).
Setiap tahap dekomposisi bangkai menarik serangga yang berbeda untuk datang. Keberadaan serangga dewasa pada tahap awal kematian sampai tahap pembusukan di dominansi oleh serangga lalat Diptera (Calliphoridae, Muscidae, Tachinidae, Sarcophagidae ) dan Formicidae (semut) (Gambar 1). Bangkai merupakan sumber makanan bagi serangga dan mikroorganisme lain. Beberapa serangga datang untuk makan, meletakkan telur atau memakan kumpulan serangga yang terdapat pada bangkai.
9 kering (mumifikasi). Bau akibat gas yang ditimbulkan pada tahap penggembungan dan pembusukan sangat menarik serangga untuk datang terutama lalat dari famili Calliphoridae. Selain bau, warna, amonia, gas pembusukan, juga serangga yang datang ke bangkai merupakan hal yang menarik bagi serangga (Amendt et al. 2004; Hall 1995; Wall dan Fisher 2001).
Serangga Calliphoridae lebih mendominasi bangkai yang diletakkan di dalam ruangan dari pada bangkai di luar ruangan. Namun demikian jenis serangga Calliphoridae yang ditemukan di luar ruangan lebih bervariasi dari pada di dalam ruangan. Lalat dari famili Calliphoridae yang didapatkan di luar ruangan terdiri atas Chrysomyia bezziana, Chrysomyia megacephala, Lucilia spp, Chrysomyia rufifacies dan Chrysomya saffranea sedangkan di dalam ruangan tidak didapatkan lalat C. bezziana. Lalat C. bezziana merupakan lalat penyebab miasis obligat, lalat ini menyukai luka pada jaringan yang masih hidup atau baru, sehingga ketika bangkai terletak di dalam ruangan akan menghambat kedatangan lalat ini pada awal tahap kematian. Spradbery (2002) menyatakan bahwa lalat C. bezziana merupakan penyebab miasis obligat di daerah tropis.
Tahap pasca pembusukan dan fase tulang didominansi oleh serangga dari ordo Coleoptera (Silphidae, Chrysomelidae, Scarabaeidae, Staphylinidae) dan Formicidae. Semut (Formicidae) mendatangi ke bangkai sejak awal kematian sampai pada fase tulang. Jenis semut yang ditemukan di luar ruangan lebih bervariasi dari pada di dalam ruangan. Jenis semut yang di temukan di luar ruangan yaitu Apomyrma sp, Acromyrmex sp, Odontoponera tranversa, Anoplolepis gracilipes, Pheidole spp, Monomorium sp, Dolichoderus sp, Polyrachis sp, dan Diacamma sp. Sedangkan jenis semut yang ditemukan di dalam ruangan terdiri atas Apomyrma sp, Acromyrmex sp, Odontoponera tranversa, Anoplolepis gracilipes dan Paratrecina longicornis.
Tabel 3 Persentase serangga dewasa yang muncul pada bangkai hingga akhir
Diptera Calliphoridae 20.13 61.97
Muscidae 5.99 4.69
Tachinidae 3.49 3.76
Sarcophagidae 0.33 0.47
Coleoptera Silphidae 3.33 3.05
Staphylinidae 1.83 0.47
Chrysomelidae 1.16 1.17
Scarabaeidae 1.00 0.00
Hymenoptera Formicidae 57.74 22.77
Hemiptera - 3.83 0.47
Blataria Blattelidae 0.83 0.00
Araneae - 0 0.23
Lepidoptera - 0 0.94
10
Gambar 1 Kemunculan dan jumlah serangga dewasa pada bangkai sesuai hari pengamatan, A (di luar ruangan), B (di dalam ruangan)
Semut ini mempunyai peran yang berbeda-beda yaitu sebagai predator, pemakan bangkai, cairan, dan pemakan segala (omnivora). Wolff et al. (2001) menemukan semut sejak awal kematian sampai fase dekomposisi akhir.
Serangga dari ordo Coleoptera mendatangi bangkai sejak tahap pasca pembusukan. Serangga ini berperan sebagai predator, omnivora, dan dekomposer. Coleoptera dapat memperbaiki kesuburan, aerasi tanah dan meningkatkan laju siklus nutrisi (dekomposer). Serangga ordo Coleoptera mengandalkan antenna sebagai organ sensoris dalam menemukan makanan. Famili Scarabaeidae di temukan dalam persentase yang kecil (1%) di luar ruangan sedangkan di dalam ruangan tidak ditemukan. Famili Staphylinidae dan Silphidae merupakan serangga yang berperan sebagai predator. Serangga ini memangsa serangga lain yang ukurannya relatif lebih kecil (Borror et al 1989).
Ordo Lepidoptera dan Aranea ditemukan pada bangkai di dalam ruangan tetapi tidak ditemukan di luar ruangan. Lepidoptera (ngengat) merupakan serangga yang aktif pada malam hari dan tertarik cahaya sehingga serangga ini tidak sengaja masuk di dalam ruangan tempat penelitian. Serangga ordo Aranaea (laba-laba) merupakan serangga yang berperan sebagai predator yang ukurannya lebih kecil. Serangga ini biasanya menunggu mangsa di dekatnya dan bersembunyi di celah tembok, celah bebatuan, atau lubang di tanah yang tertutup Beberapa serangga dari ordo Diptera (Calliphoridae, Muscidae), Lepidoptera, dan Coleoptera juga di temukan oleh Arnaldos et al. (2004) pada penyelidikan mayat di Peninsula.
11
Jenis Serangga Pradewasa yang Ditemukan pada Bangkai
Hasil koleksi serangga pradewasa pada bangkai di luar ruangan didapatkan sebanyak 487 serangga. Jenis serangga pradewasa yang berhasil dikoleksi adalah lalat Diptera tahap larva dan pupa yang terdiri atas 3 famili yaitu Calliphoridae, Muscidae, dan Sarcophagidae. Serangga pradewasa yang termasuk famili Calliphoridae adalah C.saffranea, Lucilia spp, C. bezziana , C.megacephala, dan C.rufifacies. Serangga pradewasa dari famili Muscidae hanya terdiri atas Musca domestica sedangkan famili Sarcophagidae yaitu Sarcophaga sp.
Tabel 4 Persentase serangga pradewasa yang ditemukan pada bangkai
Jenis serangga pradewasa
Larva L1 Calliphoridae 19.51 15.74
Larva L1 Muscidae 13.35 7.26
Larva C.rufifacies 18.28 24.94
Larva C.megacephala 8.01 0.00
Larva C. bezziana 2.67 0.00
Larva Musca domestica 2.26 4.60
Larva Lucilia spp 1.03 0.00
larva C.saffranea 0.82 0.00
Larva Sarcophagidae 0.21 0.73
Pupa Calliphoridae 30.39 43.34
Pupa Musca domestica 3.49 3.39
Pada bangkai yang diletakkan di dalam ruangan didapatkan sebanyak 413 lalat Diptera tahap larva dan pupa yang terdiri atas 3 famili yaitu Calliphoridae, Muscidae, dan Sarcophagidae. Larva Calliphoridae yaitu Lucilia spp, C. bezziana, C.megacephala, dan C. saffranea tidak ditemukan pada bangkai yang di letakkan di dalam ruangan (Tabel 2). Hal ini disebabkan C. bezziana merupakan lalat penyebab miasis obligat yang menyukai luka maupun bangkai yang masih segar. Larva Lucilia spp, C.megacephala, dan C. saffranea tidak ditemukan kemungkinan tidak terambil ketika melakukan koleksi karena masih pada tahap awal stadium. Larva lalat C.rufifacies merupakan jenis larva paling banyak ditemukan pada bangkai di luar dan di dalam ruangan (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa C.rufifacies merupakan lalat pada kelompok Calliphoridae yang pertama datang ke bangkai. Lalat ini merupakan penyebab miasis fakultatif seperti yang dilaporkan oleh Spradbery (2002) di Australia. Larva lalat ini berperan juga sebagai dekomposer bangkai.
Larva lalat ditemukan sejak awal kematian sampai tahap pasca pembusukan. Pada tahap pembusukan larva lalat membentuk koloni yang sangat banyak dan mulai menyebar. Stadium akhir larva (L3) pada tahap ini mulai
12
Gambar 2 Keberadaan serangga pradewasa pada bangkai, A (di luar ruangan), B (di dalam ruangan)
C.megacephala memerlukan waktu 9- 10 jam. Stadium larva menjadi pupa memerlukan waktu 91-100 jam dan lama stadium pupa adalah 96-100 jam. Byrd dan Castner (2010) menyatakan bahwa keberadaan sisa stadium pradewasa yaitu kulit larva, kulit pupa, dan membran peritropik sangat penting untuk mengetahui jenis koloni serangga yang datang pada bangkai jika tidak ditemukan serangga pradewasanya.
Keberadaan Serangga Tanah pada Bangkai di Luar Ruangan
Serangga tanah yang datang ke bangkai di luar ruangan terdiri dari Protura, Collembola, Thysanura dan tungau tanah. Tungau tanah merupakan serangga yang paling banyak ditemukan (Tabel 5). Serangga tanah ini bukan merupakan indikator utama dalam penentuan waktu kematian. Serangga ini tertarik ke bangkai karena perubahan pH tanah disekitar bangkai dan sebagai sumber makanan. Serangga tanah merupakan flora normal yang banyak ditemukan di tanah atau serasah. Keberadaan serangga tanah di mulai sejak awal kematian sampai pada akhir dekomposisi (Gambar 3).
Peran serangga ini adalah menghancurkan zat-zat organik dan mendorong kesuburan tanah. Fauna tanah berperan dalam memperbaiki struktur tanah melalui penurunan berat jenis, peningkatan ruang pori, aerasi, drainase, kapasitas penyimpanan air, dekomposisi bahan organik, pencampuran partikel tanah, penyebaran mikroba dan perbaikan struktur agregat tanah. Aktivitas fauna tanah pada umumnya dipengaruhi oleh pH, kelembaban dan suhu tanah, reproduksi dan metabolisme, kandungan bahan organik serta kehadiran kompetitor, predator dan struktur tanah. Suhu tanah merupakan faktor fisika tanah yang sangat menentukan kehadiran dan kepadatan organisme tanah, serta menentukan tingkat dekomposisi material organik tanah. Sumber makanan serangga tanah sangat bervariasi, yaitu bakteri, jamur, hifa dan spora, kotoran, tanaman serta hewan. Serangga tanah
13
Tabel 5 Persentase serangga tanah yang ditemukan pada bangkai di luar ruangan
Jenis Serangga
Gambar 3 Keberadaan serangga tanah pada bangkai di luar ruangan
hidup pada habitat yang tersembunyi, seperti reruntuhan daun, di bawah kulit kayu, kulit kayu yang membusuk dan jamur. Fauna tanah ada yang dapat hidup pada tanah dengan pH asam dan pH basa (Borror et al. 1989).
Suhu, Amonia (NH3), dan Derajat Keasaman (pH) Bangkai
Suhu bangkai kelinci yang diletakkan di luar ruangan berkisar antara 26.85
– 37.23 0C sedangkan suhu bangkai di dalam ruangan berkisar antara 26.77 – 33.43 0C (Gambar 4). Smith (1986) menjelaskan bahwa suhu tubuh akan mengalami penurunan setelah kematian. Penurunan suhu bangkai akan berlangsung lambat pada saat mendekati suhu lingkungan. Semakin besar beda antara suhu bangkai dengan suhu lingkungan, maka penurunan suhu akan berlangsung lebih cepat. Selain itu, intensitas aliran udara dan berat tubuh juga berpengaruh terhadap kecepatan penurunan suhu bangkai. Semakin tebal jaringan lemak kecepatan penurunan suhu akan semakin lambat.
14
pH pada bangkai sangat dipengaruhi oleh faktor intrinsik (jenis hewan, tipe otot) dan ekstrinsik (suhu, pakan, proses pemotongan). Lalat lebih cenderung menyukai daging bususk yang bersifat basa. Semakin tinggi nilai pH daging maka jumlah lalat yang datang semakin banyak.
Kadar amonia meningkat sejak awal kematian sampai pada tahap pembusukan. Kadar NH3 bangkai di dalam ruangan mempunyai kisaran antara
0-3.67 ppm sedangkan di luar ruangan 0-1.67 ppm. Kadar amonia pada bangkai di dalam ruangan mempunyai kisaran yang lebih tinggi di banding pada bangkai di luar ruangan (Gambar 5). Hal ini disebabkan selain oleh faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban, hujan, dan aktivitas larva pada bangkai. Keberadaan amonia mulai meningkat sejak tahap awal kematian dan menurun pada tahap pasca pembusukan. Amonia merupakan hasil dari proses putrefaksi dan autolisis jaringan sehingga amonia mulai menurun pada tahap pasca pembusukan.
Berdasarkan uji regresi menunjukkan kehadiran serangga ordo Diptera di luar dan di dalam ruangan memiliki hubungan yang tidak erat dengan suhu bangkai, pH dan NH3 (r < 0.5). Hal ini karena pH dan amonia pada bangkai di
luar ruangan berkurang oleh faktor lingkungan (hujan, suhu lingkungan) sehingga serangga tidak dapat mendeteksi. Pada bangkai di dalam ruangan pH dan amonia tidak dapat menyebar keluar akibat kuranganya ventilasi udara sehingga serangga tidak mampu mendeteksi keberadaannya. Serangga ordo Coleoptera (Staphylinidae) dan Formicidae di dalam dan di luar ruangan memiliki hubungan yang sedang dengan NH3 (r 0.5). Serangga tersebut akan cenderung meningkat
jumlahnya jika kadar amonia semakin tinggi..
15
Gambar 5 Nilai derajat keasaman (pH) dan ammonia (NH3) pada bangkai di
dalam dan di luar ruangan
Suhu dan Kelembaban Lingkungan
Suhu lingkungan pada bangkai yang diletakkan di luar ruangan berkisar antara 28.75-42.35 0C sedangkan kelembaban berkisar antara 57.79-86.10 %. Suhu pada bangkai di dalam ruangan berkisar antara 27.54-31.52 0C sedangkan kelembaban berkisar antara 71.50-85.37% (Gambar 6). Kisaran suhu ini merupakan kisaran suhu optimum aktivitas pembusukan yaitu antara 21.1 – 37.8
0
C (Amendt et al. 2010).
16
Suhu dan kelembaban lingkungan sangat berpengaruh terhadap aktivitas mikroba bangkai dan serangga sehingga akan mempengaruhi kecepatan dekomposisi bangkai. Keberadaan serangga Diptera dewasa pada bangkai di dalam ruangan dan di luar ruangan memiliki hubungan yang sedang dengan suhu lingkungan (r 0.5) dan tidak memiliki hubungan yang erat dengan kelembaban (r < 0.5). Semakin tinggi suhu maka panjang periode pada setiap stadium perkembangan lalat Diptera semakin singkat dan sebaliknya. Hal ini dibuktikan dengan didapatkannya pupa dengan jumlah yang banyak mulai pada hari ke 7 setelah kematian. Ismail et al. (2007) menyatakan bahwa perkembangan larva lalat C. megacephala optimum pada suhu 33 0C. Semakin tinggi suhu semakin mempercepat perubahan stadium pradewasa serangga lalat C. megacephala (Soviana 1996).
5
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Dekomposisi bangkai di dalam ruangan berlangsung selama 8 hari sedangkan di luar ruangan 10 hari.
2. Tahap awal kematian sampai pembusukan serangga yang datang pada bangkai di luar dan di dalam ruangan adalah ordo Diptera (Calliphoridae, Tachinidae, Muscidae, dan Sarcophagidae).
3. Pasca pembusukan dan fase tulang serangga yang datang pada bangkai di dalam dan di luar ruangan adalah ordo Coleoptera (Staphylinidae, Chrysomelidae, Scarabeidae, dan Silphidae).
4. Serangga Hymenoptera (Formicidae) datang sejak awal kematian sampai fase tulang
Saran
Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kedatangan serangga ke bangkai, perlu dilakukan pengukuran terhadap produk dekomposisi bangkai selain NH3, pH dan
17
DAFTAR PUSTAKA
Amendt J, Krettek R, Zehner R. 2004. Forensic Entomology. Naturwissenschten 91:51-65
Amendt J, Campobasso C P. Goff M L, Grassberger M. 2010. Current Concept in Forensic Entomology. Springer Dordrecth Heidelberg London New York. Arnaldos MI, Sanchez F, Alfares P, Garcia MD. 2004. A Forensic Entomology
Case From The Southeasthern Iberian Peninsula. J Forensic Med Toxicol 5(1). 22-25 Legal Investigation. Taylor dan Francis Group.
Campobasso CP, Disney RHL, Introna F. 2004. A Case of Megaselia Scalaris (Loew) (Dipt. Phoridae) Breeding in a Human Corpse. J Forensic Med Toxicol 5(1). 3-5
Genard D. 2007. Forensic Entomology. University of Lincoln.
Hadi UK, Gunandini DJ, Soviana S,Sigit SH. 2011. Panduan Identifikasi Ektoparasit : Bidang Medis dan Veteriner Ed. 2. IPB Press. Bogor
Hall MJR. 1995. Trapping the Flies that Cause Myasis: Their responses to Host Stimuli. Ann Trop Med Parasitol 89: 333-357.
Holldobler B, Wilson EO. 1990. Ants. Harvard University Press.
Ismail MW, Osman K, King OH, Hassan N, Elias E, Kaswandi MD, Ghazali AR. 2007. Accelerating Chrysomya megacephala Maggot Growth for Forensic Entomology Cases. J Malaysian Health Sci 5(1) 2007: 17-26
Klotzbach H, Schroeder H, Augustin C, Pueschel K. 2004. Informatian is Everything-A Case Report Demonstrating Necessity of Entomologycal Knowledge at the Crime Scene. J Med Toxicol (5) 1 : 19- 21
Leccese A. 2010. Insect as Forensic Indicator : Methodological Aspects. J Med Toxicol 5 : 26-32.
Smith K G V. 1986. A Manual of Forensic Entomology. British Museum. Cornell University Press. Ithaca, New York.
Soviana S. 1996. Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Lalat Hijau (C.megacephala). Tesis. Program Pascasarjana. IPB
Spradbery JP. 2002. A Manual for the Diagnosis of Screw Worm Fly.Department of Agriculture, Fisheries and Forestry. Australia.
Statheropoulus M, Spiliopulou C, Agapiou A. (2005). Study of Volatile Organic Compounds evolved from decaying human body. J Forensic Sci Int 153 (2): 147-155
Turchetto M, Vanin S. 2004. Forensic Evaluation on a Crime With Monospecific Necrophagous Fly Population Infected by Two Parasitoid Species. J Forensic Med Toxicol 5(1). 12-18
Tuzun A, Dabiri F, Yuksel S. 2010. Preliminary Study and Identification of
18
Wall R, Fisher P. 2001. Visual and Olfactory Interaction in Resources location by Blowfly, Lucilia sericata. J Physiol Entomol 26: 212-218.
Wolff M, Uribe A, Ortiz A, Duque P. 2001. A Prelimenary Study of Forensic Entomology in Medellin Colombia. Forensic Sci Int 120 : 53-59.
20
8 Lampiran 1 Tahap dekomposisi bangkai di luar ruangan
Keterangan :
A : Tahap awal kematian (Fresh stage) B : Tahap penggembungan (Bloated stage) C : Tahap pembusukan (Decay stage)
21 Lampiran 2 Tahap dekomposisi bangkai di dalam ruangan
Keterangan :
A-B: Tahap awal kematian (Fresh stage) C : Tahap penggembungan (Bloated stage) D : Tahap pembusukan (Decay stage)
22 Lampiran 3 Jenis lalat yang ditemukan pada bangkai
D
A B
C
23
Keterangan :
A : Chrysomya saffranea B : Chrysomya rufifacies C : Chrysomya megacephala D : Lucillia sp
E : Chrysomya bezziana
F : Musca domestica (Muscidae) G : Tachinidae
H : Sarcophaga sp
24 Lampiran 4 Jenis semut yang ditemukan pada bangkai
A B
F E
25
Keterangan : A : Apomyrma sp B : Pheidole sp
C : Anoplolepis gracilipes D : Diacamma sp
E : Paratrechina longicornis F : Odontoponera transversa G : Acromyrmex sp
H : Polyrachis sp I : Monomorium sp J : Dolicoderus thoracicus
G
J H
26 Lampiran 5 Jenis kumbang dan lipas yang ditemukan pada bangkai
Keterangan :
A,B,C : Coleoptera (Scarabeidae) D : Blattelidae
E : Coleoptera (Staphylinidae) F : Hymenoptera
A B
C D
19
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 27 April 1984 di Klaten Jawa Tengah. Lahir sebagai anak terakhir dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Dirjo Suyatno dan Ibu Paikem.