• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna sembahyang kepada leluhur dalam konsep agama khonghucu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Makna sembahyang kepada leluhur dalam konsep agama khonghucu"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM KONSEP AGAMA KHONGHUCU

Skripsi

Diajuka11 Kepaila Fakultas U11Ju[ui\i)i11

U11tufz

Meme11ubi

Pers;garata11 Mencapai

Gelar Sarja!1tl (Sr) usbuluoili11

Oleh:

NAJIBAH

NIM: 1973213557

Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin

IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(2)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ushuludin Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana (S 1) Ushuludin

akhtiar MA . 150 240 483

Oleh:

Najibah

NIM • 1973213557

Di Bawah Bimbingan :

Drs. Ikhsan Tanggok, M.Si NIP. 150 273 478

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SYARIF HIDA YA TULLAH JAKARTA

(3)

Skripsi yang berjudul MAKNA SEMBAHYANG KEPADA LELllHUR OALAM KONSEP AGAMA KHONGHUCU telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jaka11a pada tanggal 6 Februari 2002. Skripsi ini telah diterirna sebagai salah satu syarat untuk rnernperoleh gelar Sarjana Program Strata I ( S I ) pada Jurusan Perbandingan Agan1a.

Ketua Merangkap Anggota,

セ@

Ors. H.M.Ammin Nurdin, MA NIP. 150 232 919

!.-- •

Ors. H. Ros\ n Dja'far NIP. 150 022 782

Pernbirnbing I

Or.Amsal Bakhtiar, MA NIP. 150 240 483

Jakarta. 6 Februari 2002

Sidang Munaqasyah

Anggota:

(4)

Segala pt\ii dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat Iman, Islam dan melimpahkan rahmat-Nya dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana.

Shalawat serta salam ditujukan kepada Ba;,rinda Nabi Besar Muliammad SAW, sebagai suri tauladnn yang baik serta manusia paling sempurna yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk memberikanjalan yang !urns kepada mnatnya.

Al-Hamdulillah penulisan skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, meskipun banyak kendala dan rintang:in yang dihadapi dalan1 proses penyelesaian penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa selama masa penyelesaian skripsi banyak mendapat bimbingan, bantuan serta motivasi dari berbagai pihak baik moril maupun maieril.

Dengan demikian sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar kepada :

(5)

Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Amsal Bakhtiar, MA dan Bapak Drs. M. lkhsan Tanggok, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah bariyak memberikan arahan dan bimbingan serta motivasi untuk menyesaikan skripsi ini

3. Bapak pimpinan dan Staf karyawan perpustakaan IAJN Syarif Hidayatullah dan perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Depok yang telah melayani penulis dengan baik didalam peminjamah literatur yartg diinginkan. 4. Bapak Setianda Tirtarasa, Bapak Tjandra. R Muljadi, serta Bapak

H.T.Saptltra sebagai rohaniawan yang telah banyak memberikan bhnbingan dan infonnasi serta bantuan dalam penulisan skripsi ini.

5. Ayahanda H. Mudasir dan Ibunda Hj. Muanih orang tua yang saya cintai dan honnati yang teh\h mengasuh, membimbing dan mendidik penulis dengan penuh kasih sayarig serta j:i()ngorbanan yang tak terhingga selama penulis menuntut Ilmu. Seluruh jasa beliau yang tak mungkin terbalaskan dengan apapun, semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan kebaikan kepada keduanya. Serta kakanda Mukhlis, adinda Robiatul Adawiyah dan Ahmad Said serta keluarga yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.

6. Untuk Kakanda tercinta Ojih S. Ag yang telah memberikan motivasi da.n dorongan kepada penulis dengan sabar dan ikhlas.

(6)

menyelesaikan skripsi ini.

Semoga amal dari berbagai pihak dalam pemtlisan skripsi ini mendapatkan balasan dari Allal1 SWT dengan balasan yang berlipat ganda. Akhimya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi orang yang ingin membacanya.

Jakarta, 1 Februari 2002

(7)

KATA PENGANTAR ...... i

DAFTAR ISi ...... iv

BAB I PENDAHULUAN ... I A. Latar Belakang Masalah... .. . . .. . . . .. ... ... ... .. .. ... .. .. ... .. . . . .. ... l B. Pembatasan, dan Perumusan Masalah... ... .. . ... ... ... 5

C. Metodologi Penelitian... . . ... ... ... 5

D. Sistematika Penulisan... ... 7

BAB ll KON SEP AGAMA KHONGHUCU TENT ANG SEMBAHY ANG KEPADA LELUHUR ... ... 9

A. Pengertian Penghonnatan Kepada Lel11hur.. 9

B. Selayang Pandang Agama Khonghucu... .. l l C. Macam-macam Sembahyang dalam Agama Khonghucu... 19

BAB Ill SEMBAHY ANG KEPADA LELUHUR DAN MAKNANY A DALAM AGAMA KHONGHUCU ... 25

A. Upacara Penghonnatan Kepada Leluhur... 25

B. Momentum MeWttjudkan Laku Bakti... 49

C. Makna Penghonnatan Kepada Leluhur... .. . ... .. . . . .. .. . . . .. . .. .. 54

(8)

A. Kesimpulan ... . ... . . ··· 62

B. Saran-saran... .. .. . .. . . .. 63

DAFTARPUSTAKA ... 64

(9)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Cina merupakan suatu bangsa yang memiliki kebudayaan yang sangat tinggi.

Mereka telah mengenal peradaban sejak beberapa ribu tahun sebelum masehi.

Kebudayaan, kepercayaan, dan tradisi tetap mereka pelihara. Hal-hal tersebut bahkan

dapat kita lihat pada orang-orang Cina yang telah menetap di Indonesia pada saat ini.

Salah satu aspek dari kebudayaan orang Cina di Indonesia yang masih

bertahan dan merupakan suatu ciri yang memmjukkan ketionghoan mereka ialah

dalam agama Cina tradisional, yaitu tentang menghormati leluhur atau nenek

moyang.1

Jika kita mengunjungi rumah sebual1 keluarga Cina tradisional, di ruang tamu

akan terlihat sebuah meja khusus yang diatasnya terletak berbagai jenis peralatan

sembahyang serta potret-potret anggota keluarga yang telah meninggal. Dengan

menyaksikan benda-benda tesebut akan langsung terpikir bahwa betapa orang tua

serta leluhur yang telah meninggal sangat dihormati dan dihargai oleh keluarga yang

masih hidup. Agama tradisional yang merupakan salah satu unsur kebudayaan orang

Cina tetap dipegang hingga saat ini adalah semba11yang kepada leluhur.

Penghormatan leluhur merupakan suatu bentuk agama yang menekankan pada

1 I'vfariana Makrnur, l'i111gsi J?uu1ah

.1"1bu Dala111 Kehidupan Orang Tioughoa, skripsi Fak.L1ltas

(10)

pengaruh roh leluhur terhadap kehidupan nyata. Suatu bentuk agama yang merupakan perkembangan dari animisme dimana manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Makhluk-makhluk tersebut bertubuh halus sehingga tidak dapat tertangkap panca indra manusia, dan makhluk tersebut mampu berbuat hal-hal yang tidak dapat diperbuat manusia, dan mendapatkan suatu tempat yang amat penting di dalam kehidupan manusia sehingga menjadi obyek daripada penghonnatan dan penyembaliannya, dengan berbagai upacara berupa doa, sajian atau korban. 2

Penghonnatan leluhur dilakukan berdasarkan beberapa tujuan yaitu : Kelestarian dengan masa lampau.

Penghonnatan terhadap kebijaksanaan orang-orang tua.

Harapan akan berkah yang diberikan oleh orang-orang yang telah meninggal.

Meredakan kesedihan, dengan cara merawat dan memelihara roh leluhur dengan memberikan sesajian dan doa bagi kebahagiaan mereka.

Ketakutan akan kutukan roh-roh jab.at. Prinsip dasar dari hal-hal tersebut di atas ialah :

221.

1. Roh atau Jiwa dari orang yang telah meninggal tetap memperhatikan dan tetap mengasihi orang-orang yang masih hidup.

2. Adan ya rasa ketidaktenteraman dan ketakutan akan orang yang tel ah meninggal, oleh karena itu mereka berusaha menenteramkan roh-roh

(11)

219-tersebut.3

Praktek penghonnatan leluhur (nenek moyang) sudah dilakukan bangsa Cina sebelum Khongbucu dilahirkan4, clan terns mengalami perkembangan sampai

sekarang.

Penghormatan leluhur dilakukan dengan kepercayaan akan kelangsungan hidup keluarga clan penghormatan terhadap orang tua yang sudah meninggal. Penghonnatan leluhur ini merupakan salah satu kewajiban keluarga yang tidak dapat dipisahkan dari berbagai praktek pemberian sesaji, tata ibadal1 upacara, clan doa yang dilakukan dihadapan papan tempat arwal1 leluhur (shen wei) di ruma!Hun1al1, kelenteng, clan di makam.

Dilihat dari segi tata kehidupan moral dalam masyarakat Cina, penghormatan leluhur merupakan manifestasi dari 'bakti' atau Xiao, pengbormatan bagi orang tua

Xiao Jing Fu Mu sebagai ajaran yang ditananlkan Konfusius.

Menurut Konfusius, kewajiban bagi seorang anak adalah menghormati orang tua, ketika orang tua masih hidup layani mereka menurut tata cara kesopanan, ketika meninggal kuburkan mereka menurut tata cara kesopanan, clan berikan mereka upacara kurban menurut tata cara kesopanan5. Dengan demikian menurut Konfusius laku bakti anak terhadap orang tua seharusnya secara terns menerus walaupun orang tua meninggal.

3 AncestorWorship, Encylopedia Americana, ( New York: Glorier Incoporated 1829) Vol.I,

hS00-801

4 Nio Joe Len, Peradaban Tionghoa Se!ayang Pandang, (Jakarta: Keng PO, 196 l ), h. 89. 5 Legge, The Four Books,

(12)

Kepercayaan orang Cina terhadap kehidupan setelah meninggal sangat kuat.

Mereka percaya bahwa roh-roh ini membutuhkan hal-hal yang sama sebagaimana

manusia di dunia. Segala kebutuhan tersebut hanya bisa diperoleh dari sanak keluarga

yang masih hidup.

Menurut masyarakat Cina, keharmonisan antara yang hidup dan yang telah

mati haruslah dijaga, karena jika keharmonisan ini terganggu maka akan timbul

hal-hal yang tidak diinginkan, seperti: kemiskinan, timbul penyakit, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk menjaga keharmonisan antara yang hidup den[,>an yang mati

diperlukan kelapangan hati dari yang hidup untuk memberikan penghormatan pada

·6 yang mall .

Sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni selama ini, penulis tertarik untuk

mengetengahkan tentang kebudayaan Cina khususnya agama tradisional. Penulis

mencoba untuk memaparkan apa dan bagaimana sembahyang kepada leluhur dalam

masyarakat Cina, khususnya pelaksanaan upacara sembahyang kepada leluhur di

Indonesia. Disamping itu, penulis berusaha untuk menjelaskannya semaksimal

mtmgk-in agar bisa dipahami oleh orang yang ingin mengetahui tentang agama

tradisional orang Cina khususnya tentang sembahyang kepada lelulmr. Oleh sebab itu

penulis mencoba untuk mengambil judul pada skripsi ini "Makna Sembahyang

Kepada Leluhur dalam Konsep Agama Khonghucu".

6 M. lkhsan Tanggok,

(13)

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Sembahyang kepada leluhur merupakan suatu tradisi yang sudah cukup tua bagi masyarakat Cina, bahkan sudah ada sebelmn Khonghucu lahir ke dunia. Namun, meskipun zaman sudah berubah, pengetahuan bertarnbah, pendidikan orang Cina semakin maju, agama-agarna yang dianutpun berbeda-beda, namun tradisi upacara tersebut masih tetap dipertahankan. Karena sembahyang kepada leluhur tidak hanya berfungsi mempersatukan keluarga, tetapi berfungsi juga sebagai rasa bakti seorang anak terhadap orang tua yang telah meninggal dunia, khususnya anak tertua yang memimpin upacara kepada orang tua yang telah meninggal.

Dalarn pembahasan skripsi ini penulis memberikan batasan yang akan dibahas.

1. Upacara sembahyang kepada leluhur dalarn masyarakat Cina yang menganut agama Khonghucu.

2. Ajaran Khonghucu tentang penghormatan kepada leluhur (nenek moyang).

Sedangkan dalam perumusan masalah ini, agar tidak melebar terlebih dalmlu akan dikemukakan pokok-pokok permasalal1an yang sangat penting dalam pembal1asan skripsi ini yaitu:

Bagaimanakah bentuk penghonnatan kepada leluhur

dan maknanya bagi kehidupan mmyarakat Cina yang beragama Khonghucu.

C. Metodologi Penelitian

(14)

I. Penulis melakukan penelitian perpustakaan (Library Research), yaitu membaca dan menelaah buku-buku dan majalah-majalah yang ada relevansinya dengan slaipsi ini.

2. Penelitian lapangan (Field Research), tujuannya adalah mencari data-data yang ada kaitannya dengan pembal1asan slaipsi.

3. Metode dan alat pengumpulan data.

a. Teknik Observasi.

Dengan mendatangi tempat - tempat ibadal1 umat Khonghucu (Lithang) guna memperoleh secara jelas dan nyata tentang cara-cara sembal1yang umat Khonglmcu.

b. Teknik Komunikasi.

Dalam telurik ini penulis menggunakan komnnikasi langsung (interview) atan wawancara. Wawancara ini dilakukan secara mendalam (lndepth Interview) dengan para informan tentang data-data yang diperlukan dan sesuai dengan judul slaipsi. Dalam wawancara penulis telah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang ada kaitannya dengan out line slaipsi. Di samping itu, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak tertulis.

4. Metode Pengolahan Data.

(15)

Adapun pendekatan yang digunakan dalarn pengurnpulan data. Ada dua pendekatan untuk rnenganalisa agarna dalarn kehidnpan beragarna :

1 . Pendekatan dengan rnenggtrnakan ihnu-ilrnu agarna, yaitu rnelihat agarna dan kehidupan beragarna berdasarkan teks kitab suci yang diyakini.

2. Pendekatan dengan rnelihat dan rnenganalisa agarna dari sudut pandang ilrnu-ilmu sosial terutarna Sosiologi dan Antropologi yaitu rnelihat agarna dan

kehidupan beragarna, rnaupun upacara-upacara ritual yang rnereka lakukan sebagai bagian dari suatu sistern sosial dan kebudayaan.

Untuk rnenulis skripsi ini, penulis berpedornan pada ketentuan-ketentuan dan petunjuk-petunjuk yang telah ditentukan oleh IAIN Syarif Hidayatuflal1 Jakarta, yaitu buku: "Pedoman Penu/isan Skripsi, Tesis dan Disertasi IAIN Syari( Hidayatullah Jakarta", yang diterbitkan oleh IAIN Jakarta Press Tal1un 2000.

E. Sistematika Penulisan

Sisternatika skripsi ini disusun melalui beberapa bab dan sub bab agar mernudallkan dalam memal1ami dan mengikutinya. Secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut :

BAB I

BAB II

Pendahuluan yang terdiri atas Latar Belakang Masalah., Pembatasan dan Perumusan Masalah, Metode penulisan, serta Sisternatika

Penulisan.

(16)

BAB Ill

BAB IV

Pandaug Agama Khonghucu, dan Macam-macam sembahyang dalam Agama Khongl1ucu.

Sembahyang Kepada Leluhur dan Maknanya Dalam Agama Khonghucu, yang terdiri atas: Upacara Penghormatan Kepada Leluhur, Momentum Mewujudkan Laku Bakti, Makna Upacara Penghormatan Kepada Leluhur, dan Catatan Penulis (Analisa)

(17)

KON SEP AGAMA KHONGHUCU TENT ANG SEMBAHY ANG KEPADA LUHUR

A. Pengertian Sembahyang Kepada Leluhur

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, roh adalah sesuatu yang hidup tidak berbadan/jasmani, yang berakal budi dan berperasaan. Sedangkan leluhur adalah nenek moyang.7

Jadi roh Jeluhur adalah orang yang telah meningggal dunia tetapi rolmya dianggap masih berada di sekeliling manusia, dan masih mempunyai hubungan sosial dengan orang-orang yang hidup, yang dihonnati dan disegani oleh keluarganya.

Konsep sembahyang kepada leluhur dalam agama Khonghucu tmtuk mengenang dan menghormati pada leluhumya, tak Jain dan tak bukan adalah untuk menyatakan terima kasihnya yang berkesinambungan. Hubungan darah yang tak terputuskan ini membekas dalam hati sanubari setiap umat Khonghucu sehingga menjalin kesinambungan sejara11 dan keterikatan antar manusia yang non materi yang tulus dan mumi.

Umat Khonghucu, tak perduli kaya atau miskin, pintar atau bodoh, bahkan berpangkat atau jelata mereka menghonnati satu sama lain seperti pendahulu mereka yang telah tiada.

7 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan

(18)

Sembahyang kepada Jeluhur biasanya dilaksanakan tiap: I. Tanggal 1 dan 15 Imlek malam hari

2. Tanggal 5 April (hari Ching Bing)

3. Tanggal 15 bulan VI! Imlek (sembahyang lelul1ur) 4. Malam menjelang tahun baru Imlek

5. Setiap tanggal wafat para lelul1ur.

Dalam Setiap keluarga Khonghucu altar lelul1ur mempunyai arti yang sangat penting karena altar lelul1ur berfungsi sebagai sarana berhidmat dan mengenang, sekaligus berjanji agar generasi pelanjut mampu hidup didalam kebajikan dan tidak memalukan serta mengecewakan almarhum orang tuanya yang telah tiada. 8

Namun walau tidak ada media yaitu altar untuk sarana sembahyang kepada lelulmr, penghormatan kepada leluliur masih tetap bisa diwujudkan dalam hati sanubari.9

Penghormatan kepada leluliur merupakan suatu faktor yang paling penting didalam masyarakat Cina. Penghormatan lelul1ur itu memegang posisi knnci tertinggi didalam kehidupan agama Khonghucu. 10 Di Cina orang yang mati akan menjadi lelulmr (nenek moyang) ketika periode ratapan tertentu (masa berkabung) telah usai. Periode ratapan dianggap sebagai masa transisi bagi orang yang mati. Pada titik

8 Makin,

Bersujud Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan 111enghorn1ati Para Leluhur atau Orang

yang Te/ah Mendahu/11 (Jakarta: Sala, 1993), Cet ke-L h. 10

9 Tjandra R Mulyadi, Rohaniawan Khonghucu,

Wawanwra Pribadi, Cibinong, 17 Nopember

2001

'0 Suh Sung Min, Injil dan Penyembahan Nenek Moyang (Y ogyakarta: Media Presindo, 2001 ),

(19)

terakhir dari periode ratapan, sesajian untuk orang yang meninggal tersebut barn akan diberikan, clan barn setelah itu manjadi seorang nenek moyang. Sejak saat itu nenek moyang yang barn itu mendapat kuasa yang khusus bagi perlindungan keluarganya, setelah itu pemberi sajian mengikntinya.

Kuasa nenek moyang barn berkurang pada generasi-generasi berikutnya. Penghonnatan nenek moyang bagi pribadi di laksanakan sampai pada generasi kelirna bagi raja-raja, generasi ketiga bagi para pangeran, tetapi bagi seorang bangsawan biasa hanya satu generasi. Pada akhir periode, tablet (papan arwah) yang sama di titipkan di kuil dan tidak lagi rnenerirna sajian.

Sikap dan penghonnatan terhadap orang nra adalah sikap yang baik. Tata kelakuan ini rnernperluas budi kebijaksanaan yang dapat rnenjamin ketentraman dan kesejahteraan keluarga. 11

B. Selayang Pandang Agama Khonghucu

Animisrne (pernujaan terhadap dewa-dewa alam) clan upacara untuk kesuburan, khususnya pernujaan nenek rnoyang adalah bukan hanya praktek keagarnaan bangsa cina yang paling awal tercatat, tetapi ada pada setiap agama-agarna berikutnya rnasih tetap rnernpercayai ha! tersebut.

Pada saat dinasti Shang digantikan oleh Chou pada tahun 1027 SM hingga

771 SM, kerajaan Chou rnernerintal1 sebagai "Pangeran raja-raja" dalam kekuasaan

(20)

tak perlu dipersoalkan laf,>i atas dunia Cina 12 _ Dan bukti berpusatnya cara rnemuja

keluarga sejauh kita kembali kemasa dinasti Shang atau Yin I 000 SM. 13

Pada waktu dinasti Shang dan Chou berkuasa, hampir setiap segi kehidupan dikuasai oleh kaum ningrat secara turun-ternurun. Diantara penguasa Shang dan Chou banyak terdapat orang terkenaL Orang-orang terkenal dari kalangan keluarga ningrat ini telal1 lama rneninggal dunia dan mereka dihonnati oleh sebagian besar rakyat Shang dan Chou. Para pembesar dari kalangan ningrat ini tidak hanya dihonnati, tetapi juga dirnasukkan dalam mitologi orang Cina, atau dapat dikatakan sebagai Dewa.

Dapat dikatakan bal1wa penguasa pada masa itu hidup dalarn binibingan para lelttlmr rnereka, yang dapat diketalmi dari berbagai macam dokumen yang ada pada waktu itu. Dalam suatu inskripsi dari bejana Perunggu dapat dibaca ba!Jwa ada seorang bangsawan dengan bangga rnengatakan ba!Jwa para lelttliur rnereka di surga tela!J berbesar hati rnembukakan jalan bagi keturunanya di dunia.

Menurut pandangan rnasyarkat Cina pada rnasa itu kekuasaan yang rnereka peroleh di dunia ini tidak lain anugerah

dari

para lelttliur rnereka yang ada di surga. Surga ini rnenurut rnereka adala!J ternpat para pemimpin rnereka yang pema!J berkuasa sebelunmya. Dinasti Chou adalal1 sala!J satu dinasti yang ditunjuk oleh para leluhur di surga untuk rnemimpin Cina pada rnasa itu. Dalam pandangan rnasyarakat

266

12

Man and His Gods. Encyclopedia of the World's Religions (London: the Hamlyn, 1971 ), h.

13

(21)

Cina pada masa itu, rakyat jelata, budak, dan orang-orang miskin, tidaklah dapat

merijadi penguasa di dunia, karena mereka tidak memiliki leluhur yang berkuasa di

surga. Jadi penguasa pada masa itu mempakan pewarisan dari penguasa masa lalu

yang masih dalam hubungan keluarga, dan tidak di raih melalui prestasi seseorang. 14

Pembenaran mengenai penganugerahan kekuasaan dari para leluhur ini tidak

saja di yakini oleh para penguasa Chou, namun mitologi semacam itu sudah ada sejak

zaman dinasti Shang. Mereka mengakui bahwa berdirinya dinasti Shang tidak

terlepas dari pemberian Tuhan kepada mereka untuk memimpin rakyatnya.

Pembenaran atas mitologi ini sangat sulit diterima oleh aka! sehat, namun agar dapat

diterima oleh sebagian besar masyarakat pada masa itu, mitologi tersebut disebarkan

melalui cerita-cerita rakyat. Menumt Creel, penguasa Chou menyebutkan ajaran

mereka ini sebagai ajaran mengenai

"Keputusan

Ti

atau Tuhan

".

Ti atau Thian adalah

sebutan untuk dewa tertinggi.

Kepercayaan semacam ini tidak hanya terdapat pada masyarakat Cina di masa

dinasti Shang dan Chou (sebehun Khonghucu lahir), namun juga dalam masyarakat

Cina dewasa itu. Akan tetapi dapat kita katakan bahwa masyarakat Cina sebelum

Khonghucu lahir sudah menamh keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan para leluhur

yang telah lama meninggal dunia dipandang hidup dalam surga. Meskipun para

leluhur ini sudal1 lama meninggalkan dunia, namun mereka tetap memperhatikan

sanak keluarga mereka yang ada di dunia. Untuk membalas kebaikan yang telah

14

(22)

diberikan para leluhur ini, mereka dengan senang hati memberikan sesembahan yang dikemas dalam bentuk makanan untuk para leluhur mereka. 15

Agama Khonglmcu telal1 dirintis oleh para nabi sebelum nabi Khonglmcu lal1ir, antara lain Raja Suci Tong Giao (2357-2255 SM) dan Gi Sun (2255-2205 SM) yang semula dinamai agama Jikau, agama orang-orang yang lembut hati, terbimbing dan terpelajar, yang kemudian disempurnakan oleh nabi Khonghucu (551-479 SM) dan akhirnya ditegal(kan oleh Bingcu (372-289 SM).

Kitab suci agama Khonghucu

l. Yang pokok : Kitab Su Si (kitab yang Empat), terdiri dari :

a. Thay Hak I Kitab ajaran besar berisi tuntutan pembinaan diri ditulis oleh Cingcu, murid nalli Khonglmcu.

b. Tiong Yong I Kitab tengah sempurna berisi ajaran keinlanan ditulis oleh Cusu, cucu nabi Khonghucu.

c. Lun Gi I K.itab Sabda Suci berisi kunlpulan berbagai aJaran nabi, percakapan nabi dengan murud-muridnya dan penghidupan sehari-hari nalli.

d. Bing Cu I Kitab Bing Cu berisi ajaran Bing Cu yang menjelaskan ajaran nabi Khonglmcu ditulis Oleh. Bingkho.

2. Yang melandasi: Ngoking (kitab yang linla), terdiri dari :

15

(23)

a. Si King I Kitab Sanjak berisi kumpulan sanjak atau puji-ptciian purba

(abad 16 s/d 7 SM).

b. Su King I Kitab Hikayat I Dokumentasi Sejarah Suci berisi teks sabda-sabda, peraturan-peraturan, nasehat-nasehat, maklumat para nabi dan Raja Snci purba (abad 24 s/d 7 SM), dari zaman Raja Suci Giow sarnpai Raja mnda Chien Bok Kong.

c. Ya King I Kitab Perubahan atau kejadian alarn semesta, wahyu yang turun kepada Raja Suci Bun (abad 12 SM).

d. Lee King I Kitab berbagai peraturan tentang kesusilaan, peribadahan, di!.

e. Chun Chiu King I kitab catatan sejarah zaman Chun Chiu (722-481 SM), yang ditulis oleh nabi Khonghucu untuk menilai peristiwa pada zaman itu.16

Pengertian Agarna dijelaskan dalarn K.itab Tiong Yong (Tengah Sempuma) Bab Utarna: "rlrman Tuhan itulah dinamai watak sejati, berbuat mengikuti watak sejati dinamai menempuh jalan suci. Bimbingan untuk menempuh jalan suci dinamai

agan1a".17

Menurut BS. Setianda bahwa agarna K.honghucu adalah tuntutan hid up yang telah diturunkan melalui para nabinya. Nabi dalarn agarna Khonghucu berasal dari berbagai suku bangsa, bukan hanya dari Tiongkok, Barat dan Timur yang dirintis

16 Bs. Setianda Tirtarasa, Rohaniawan Khonghucu, Wawancara Pribadi, Jakarta,. l 7

Nopember 200 l.

17

(24)

s<:<iak Giou dan Stm (abad 24 SM) disempurnakan oleh nabi Khonghucu dan ditegakkan oleh Bingcu, itulah yang menjadikan agama Khonghucu.

Dalam agama Khonghucu sendiri semua agama adalah milik Tul1an yang menuntut manusia kembali kepada Tuhan. Karena manusia sebagai makhluk termulia yang ditakdirkan mempunyai Sing (watak sejati).

Tuhan menuntut jalan manusia yaitu jalan kembali kepada jalan suci jalan yang di1idhoi dan diralunati. Ada ayat-ayat yang menerangkan tentang Pengakuan Iman agama Khonghucu antara lain :

''Adapun jalan suci dalam ajaran besar ilu ialah: Menggemilangkan kebajikan

yang bercahaya; mengasihi rakyat dan berhenti pada puncak kebaikan ". (Thay hak I k't. Ajaran Besar Utama : I)

"Hanya kebajikan berkenan kepada Tuhan YME. sungguh hanya ada satu yaitu

kebajikan". (Wi Tik Tong Thian, Hom yu it tik)" (Su King).

Karena itulal1 wajib untuk mempelajari. Tidak hanya cukup diketalmi, tapi hams dipelajari. Dalam kitab Tiong Yong (Tengah Sempurna) 24:2 : "Tanpa iman tanpa kesungguhan hati segala sesuatu tidak akan teljadi. Semua dasamya iman".

Dan untuk meyakini sesuatu harus berdasarkan pengertian sesuai dengan ayat: "Be/ajar tanpa belfikir akan sia-sia, belfikir tanpa be/ajar akan berbahaya ".

Apabila sudah melaksanakannya, berarti sudah mengembangkan watak sejati manusia. Watak sejati itu merniliki lin1a pokok kebajikan :

1. Cinta kasih (Jien)

(25)

3. Susila (Lee)

4. Bijaksana (Ti)

5. Dapat dipercaya (Sien)

Lima sifat baik ini hendaknya selalu menghias diri setiap orang. Dengan

mengembangkan dan melaksanakan sifat kebaikan, manusia akan mendapat jalinan

yang indah terhadap Tuhan maupun terhadap sesamanya.18

Manusia dalam pandangan agama Khonghucu adalah makhluk yang tediri dari

jasmani dan rohani. Bila manusia mati maka rohaninya akan kembali kepada Tuhan

untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia. Hal ini membuktikan akan kepercayaan agama Khonghncn mengenru adanya kehidnpan setelah mati.

Sebagairnana yang disabdakan nabi Khonghucn didalrun kitab Lee Ki XXIV ayat 13

berbunyi:

Semangat (Khi), itulah perwlliudan tentang adanya roh; kehidupan jasad (Phik) itulah perwujudan tentang adanya nyawa, bersatu harmonisnya nyawa dan roh, itulah tujuan pengajaran agruna Semua yang dilahirkan pasti mengalami kematian; yang mati itu mesti pulang kepada tanah, inilah yang berkaitan dengan nyawa. Semangat itu mengembang naik ke atas, memancar cemerlang diantara semerbaknya ban dupa, itulal1 sari beratus benda dan makhluk., inilah pemyataan dari pada roh.19

Sebagaimana telal1 disebutkan di atas, bahwa manusia adalah makhluk yang

tidak hanya memiliki rohani saja, tapi juga jasmani. Untuk kehidupan jasmaninya itu

manusia memerlukan berbagai uafsu, naluri dan dorongan untuk memenuhi

kebutuhan lahimya, maka manusia wajib mrunpu mengendalikan nafsu-nafsunya

18 Smyo Hutomo, Tara ibadah dan Dasar Agama Khonghucu, (Jakarta : MATAK.IN 1983),,

h. 19.

(26)

C. Macam-macam Sembahyang Dalam Agama Khonghncu.

Sebelum masuk pada uraian tentang sembahyang kepada leluhur pada

pembahasan selanjutnya, maka terlebih dahulu kita mengenal jenis sembahyang

lainnya, kiranya pada agama Khonghucu banyak sekali macam dan ragam

sembahyang selain sembahyang yang kepada leluhur. Ada sembahyang terhadap

Thian Tul1an Yang Maha Esa, terhadap nabi dan para arwal1 suci dengan berbagai

nama, waktu, dan aturannya.

Di bawah ini akan diuraikan tentang macam-macam sembahyang dan saat-saat waktunya, tetapi tidak dengan tata cara pelaksanaan ibadatnya.

a. Sembahyang kepada Thian Tuhan Yang Maha Esa

1 ). Tiam Hio/Sembahyang Ucapan Syukur

Dilakukan tiap hari, pagi/sore atau tiap bulan barn dan bulan

pumama, Cet let dan Cap Go; yaitu sore menjelang Ce let, Cet let

pagi dan Cet let sore demikian pula untuk Cap Go.

2). Sembahyang Syukur Malam Penutupan Tahun (Gwan Than)

Dilaksanakan dalam keluarga pada saat Cu Si (jam 23.00-01.00),

cukup dengan Tiam Hio; kecuali bila telah melakukan nazar

(janji/kaul) wajib dilakukan dengan altar lengkap.

3). King Thi Kong (Sembahyang Besar Kepada Tuhan Yang Maha Esa) pada tanggal 8/9 Cia Gwee

Dilaksanakan seminggu sesudah Tahun barn Khonghucu-lik, yakni

(27)

pada saat Cu Si (jam antara pukul 23.00-01.00)

4). Sembahyang Syukur Saat Siang Gwan/Gwan Sian

Dilaksanakan pada Cap Go Meh/tanggal 15 bulan Cia Gwee, antara

saat Shien Si sampai saat Cn Si (15.00-01.00)

5). Sembahyang Besar Twan Yang

Dilaksanakan pada tanggal 5 Go Gwee (tanggal 5 bulan V Imlek) di

rumah masing-masing, di Lithang atau di tanah lapang dekat tepi

dungai atan laut.

Dilaksanakan pada saat Ngo Si (jam 11.00-13.00)

6). Sembahyang Besar Tangcik

Dilaksanaka..'1. pada tanggal 22 Desember pagi dini hari saat len Si

(jam 03.00 s.d. 05.00) di rumah masing-masing atau di Lithang.

b. Upacara Sembahyang untuk nabi

1). Upacara Sembal1yang Besar Cing Sing Tan I Peringatan Hari lahir

nabi Khonghncu

Dilaksanakan pada petang hari menjelang Pik Gwee Ji Chiet (27

bulan VII Khonghucu Lik), oleh para rokhaniawan, pengurus dan

panitia penyelenggara. Waktu saat Bau Si (antarajam 05.00-07.00).

2). Sembahyang hari genta Rokhani (Tang Cik)

Dilaksanakan pada tanggal 22 Desember pagi dini hari saat Ien Si

(28)

3). Sernbahyang Peringatan hari Wafat nabi

Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 18 Ji Gweejarn 09.00.

c. Upacara Sernbahyang Untuk para Suci

1). Hari Twan Yang

Dilaksanakan pada tanggal 5 Go Gwee (tanggal 5 bulan V hnlek) di rurnah rnasing-rnasing, di Lithang atau di tanah lapang dekat tepi

sungai atau laut.

Dilaksanakan pada saat Ngo Si Garn 11. 00-13. 00)

Surat do'a ditulis pada kertas rnerah.

2). Bari Sernbahyang Tiong Chiu

Diselenggarakan pad tanggal 15 bulan VIII hnlek (Pik Gwee Cap

Go)

3). Hari Sernbahyang He Gwan

Diselenggarakan pada tanggal 15 Cap Gwee/bulan 10 Irnlek, cukup

dengan Tiarn Hio.

d. Upacara Sernbahyang Untuk Leluhur

I). Tlriarn Hio

Dilaksanakan pada tanggal I dan 15 hnlek; dilaksanakan pada petang

hari sebelumnya, dan pada tanggal tersebut pagi dan sore hari,

( sernuanya tiga kali).

(29)

Dilaksanakan pada saat bau Si (antara jam 05.00-07.00). Sajian (bila memungkinkan) lengkap,jangan dilupakan sayur sawi dan nasi putih. 3). Pada Tutup Tahun lama (Ti Sik)

Dilaksanakn pada tanggal 29-VII Imlek, dilaksanakan pada siang hari saat Bi Si (antarajam 13.00-15.00) sajian lengkap.

4). Ching Bing (Sadranan)

Dilaksanakan di makam atau di Thiong Ting (mnum). Waktu bebas, sekitar 10 hari sebelum/sesudah 5 April. Sajian boleh lengkap.

5). Tiong Gwan atau Tiong Yang

Dilaksanakan pada tanggal 15 bulan VII Imlek, di altar keluarga. Pada saat Ngo Si (antarajam 11.00-13.00) sajian boleh lengkap.

e. Kebaktian Kemayarakatan

1 ). King Hoo Ping atau Sembahyang bagi Arwal1 Umum

Dilaksanakan tanggal 29 bulan VIl Imlek, untuk sembahyang ini dibuatkan altar khusus, di halaman kelenteng atau di ruang khusus di rumah abu umum atau Tiong Ting. Sajian lengkap.

2). Sembahyang hari Persaudaraan (Sosial) atau Hari kenaikan Cookun Diselenggarakan pada tanggal 24 bulan 12 Imlek (Cap-Ji-Gwee-Ji-Si) dan dilaksaknakan pula pada tanggal 4 bulan 1 Imlek (Ci Gwee Chee

(30)

kegiatan-kegiatan prikemanusiaan, kegiatan dana dan amal untuk fakir miskin.

JADWAL WAKTU SEMBAHWANG

1. Saat Cu Si antara pukul 23.00-01.00 2. Saat Thio Si antara pukul 01.00-03.00 3. Saat Ien Si antara pukul 03.00-05.00 4. SaatBau Si antara pukul 05.00-07.00 5. Saat Sien Si antara pukul 07.00-09.00 6. Saat Ci Si antara pukul 09.00-11.00 7. SaatNgo Si antara pukul 11.00-13.00 8. Saat Bi Si antara pukul 13.00-15.00 9. Saat Shien Si antara pukul 15.00-17.00 10. Saat Yu Si antara pukul 17.00-19.00 11. Saat Sut Si antara pukul 19.00-21.00 12. SaatHai Si antara pukul 21.00-13.00

RUMAH IBADAHffEMPAT KEBAKTIAN

I.

Thian Than Tempat ibadah untuk bersujud kepada Thian Tuhan Yang MaliaEsa

2. Khonghucu Bio 3. BunBio

4. Lithang

Komplek bangunan kuil untuk kebaktian bagi nabi

Sejenis no.2, hanya saja segala lambang-lambang Altar dengan Sienci (berwajud tulisan, tanpa gambar atau patung)

(31)

5. Cong Bio I

Co Bio

6. HioHwee

7. Kau

Kuil Jeluhur

Altar leluhur didalam keluarga

Altar sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa

8. Bio/Kelenteng/Kuil Para Suci

9. Sia : Altar sembahyang bagi Malaikat Bumi.21

21 Sumber seluruhnya diperoleh dari: Majelis Tinggi Agama Khonghucu fudonesia

(MATAKJN), Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu, h. 35, 39-42 dan B.S.

Suryono Hutomo, Modul Tata Agama penyeragaman Tata Ibadah. Diktat Penataran Agama

(32)

SEMBAHY ANG KEPADA LELUHUR DAN MAKNANY A

DALAM AGAMA KHONGHUCU

A. Upacara Penghormatan Kepada Leluhur

Semua aktifitas manusia yang bersangkutan dengan agama didasarkan atas suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan. Emosi keagamaan ini biasanya pemah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mungkiu hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang kembali. Emosi keagamaan itulal1 mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang be rs if at agama. 22

Sistem agama dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri khusns untuk sedapat mungkiu memehbara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Dengan demikian emosi keaganlaan merupakan unsur penting dalam Stratu agama bersama dengan tiga unsur yang lain yaitu sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan, dan suatu umat yang menganut agama itu. 23

Penghormatan leluhur dalam masyarakat Cina merupakan suatu sistem agama oleh karena selain memiliki emosi keagamaan, juga memiliki unsur-unsur yang lain sistem keyakinan dimarra perhatian ditujukan pada konsep tentang roh-roh leluhur, sistem upacara keagamaan, dan suatu nmat yang menganut agama tersebut.

22

Koentjoroningrat, Penganlar I/mu Antropologi, (Jakarta : Aksara Baru 1986), h. 3 76-377.

23

(33)

Sistem upacara keagamaan mengandung empat aspek yang menjadi perhatian khusus yaitu: (1) tempat upacara keagamaan, (2) saat-saat upacara keagamaan dijalankan, (3) benda-benda dan alat upacara, ( 4) pelak:u upacara.24

Penghormatan leluhur dilakukan pada tempat tertentu, yaitu di rumah abu, di rumah tempat tinggal keluarga serta kuburan-kuburan. Rumah abu orang-orang Cina khususnya di Indonesia merupakan perkumpulan klen dimana anggotanya セ。ィ@ orang-orang Cina yang baerasal dari sub suku bangsa mana saja asalkan mempunyai nama keluarga yang sarna.25 Yang dimaksud dengan sub suku bangsa

di

sini adalah orang-orang Cina yang berasal dari propinsi-propinsi yang berbeda, membawa serta ciri kebudayaan yang khas dari kampung halamannya dan memiliki perbedaan dialek bal1asa sepertinya Hokkian, Hakka, Kanton. 26

Pada saat-saat tertentu seluruh anggota Klen tersebut berlrumpul, selain untuk melakukan upacara sembahyang leluliur bersama, rumah abu ini juga bertujuan memperat persaudaraan serta solidaritas keluarga.

Upacara-upacara penghormatan kepada leluliur yang dilak:ukan oleh orang Cina biasanya berkenaan dengan suatu peristiwa atau perayaan tertentu. Dalam kebudayaan Cina banyak terdapat perayaan-perayaan tradisional yang berkaitan dengan agama yang dianut. Di antara perayaan-perayaan tersebut, ibadah yang khusus di tujukan kepada leluliur adalah :

24

Ibid, h .. 378.

25 Makmur, Fungsi R11mah Abu dalam Kehidupan Orang Tionghoa, Skripsi Sarjana Fakultas

Sastra (Jakarta :perpustakaan UI 1983) h_ 6.

26 Skinner, Golongan Minari/as, Golongan Etnis Tionghoa Di Indonesia

(34)

1. Setiap tanggal 1 dan 15 bulan lmlek yang disebut

Ce It Cap Go.

2. Hari wafat lelubur I orang

tua/

3. Sembahyang Tahun Baru.

4. Sembahyang Ceng Beng- Qing Ming.

5. Sembaliyang arwah umum - Cioko (sembahyang rebutan). Cioko dilakukan

pada tanggal 15 bualan 7 Imlek ditujukan bagi arwah atau roh yang tidak memiliki keluarga lagi atau roh-roh yang terlantar, yang tidak disembahyangi

oleh sanak keluarga lagi.27

Semua upacara tersebut pada umumnya dilakukan di !1lIIlah-rumah keluarga

terutama yang memelihara abu. Waiau demikian, banyak keluarga yang tidak

memelil1ara abu juga melakukan upacara sembal1yang dengan meletakkan meJa

menghadap pintu muka rumahnya. Semua upacara yang dilakukan tersebut bertepatan

dengan suatu perayaan tertentu yang erat kaitannya dengan peredaran alam.

Dalam upacara agama biasanya dipergunakan benda-benda sebagai alat

upacara seperti patung-patung, al at bunyi-bunyian dan sebagainya. 28 Peralatan ritus

upacara lelubur di rumah tempat tinggal lebili sederhana daripada di rumah abu.

Dalam upacara diperlukan dupa atau Hio, lilin, papan lelubur atau papan arwah yang

disebut Sien Ci atau Shen Wei, tempat menancapkan dupa atau hiolo yang banyaknya

tergantung dari jumlah lelubur yang disembahyangi, kotak panjang-bundar tempat

berisikan batang dupa, dan lain-lainnya. Segala peralatan ritus upacara seperti

2:1 Suara Agama Konghucu, (Solo: MATAKIN, 1969), h. 4

(35)

khusus diperuntukkan bagi leluhur.29 Meja abu umumnya terdiri atas dua atau tiga

buah meja berwama merah Lou. Meja yang tinggi berukuran panjang 6 1/2 kaki dan

lebar 2 1/2 kaki, dan meja yang rendah berukuran panjang/lebar 3 kaki. 30

Jika tidak ada Shen Wei, pada dinding di belakang meja abu biasanya

digantung potret leluhur atau orang tua. Bersama dengan potret-potret tersebut biasanya juga terdapat gambar pemandangan alam., diapit oleh dua buah panji yang

bertuliskan huruf-huruf Cina. Keseluruhan gambar dengan panji-panji tersebut

dinamakan Shen-Shui, maksud dari gambar itu adalah pelambang tempat tinggal

leluhur dimana "abu" nya diletakkan di hadapan lukisan tersebut. Pada keluarga yang

cukup mampu, meja abu dihiasi dengan sebuah jambangan yang berisi bunga-bunga

segar. Bagi orang-orang yang kurang mampu biasanya altar dihias dengan

bunga-bunga yang terbuat

dari

kertas yang kemudian akan diganti dengan yang barn pada

hari-hari menjelang Tahtm Barn Imlek.31

Persembahan yang ditujukan bagi leluhur dapat dikelompokkan menjadi dua

bagian yaitu persembahan yang dibakar dan yang tidak dibakar. Persembahan

tersebut berbentuk sajian makanan, minuman serta benda yang terbuat

dari

kertas.

Persembalian yang tidak dibakar, berupa berbagai jenis makanan dan minurnan akan tetap utuh selama upacara berlangsung dan pada

akhir

upacara akan menjadi santapan

29

Yang dimaksud dengan abu leluhur di sini bukanlah merupakan abu dari pembakaran jenazah (kremasi) leluhur melainkan sebagai pelarnbang saja. Biasanya abu ini berasal dari kelenteng ada juga yang diarnbil dari abu dapur atau sisa-sisa pembakaran llio.

30 Mely G. tan. Op. cit. h, 162.

(36)

bagi seluruh keluarga. Persembahan yang dibakar terdiri dari sebagian kecil saJ1an

yang tersedia serta uang-uang kertas tiruan32.

Kedua bentuk persembahan ini memiliki

arti

simbolis. Jika ditelusuri menurut

dasar pemikiran orang Cina seperti yang telah diterangkan sebelumnya, persembahan

saj ian-saj ian makanan dan minuman tersebut merupakan tindakan pengucapan syukur

yang ditujukan bagi PO (material soul) oleh karena jenis persembahan ini tidak

dibakar. Sedangkan jenis persembahan yang menggunakan api (dibakar) ditujukan

bagi Qi (immaterial soul).

Pelaku atau orang-orang yang melakukan upacara sembahyang lelul!ur adalah

orang-orang yang masih terikat dalarn suatu keluarga atau marga. Sembahyang

kepada lelul!ur yang dilakukan keluarga, dipimpin laki-laki tertua dalarn keluarga,

jika ia sudal! terlalu lemal! dan sudah tidak sanggup lagi memimpin upacara maka

tugas tersebut diseral!kan pada anak laki-laki yang sulung; upacara ini ditujukan

terbatas pada lelul!ur yang terdekat saja dan pelaku upacara juga terbatas pada

anggota keluarga yaitu isteri, anak serta cucu-cucu. Pemujaan di rumah abu dihadiri

oleh anggota keluarga besar atau atau Iden, dan yang dipttja adalah lelul!ur yang lebih

jaul!. Pimpinan upacara ditunjuk seorang yang dianggap paling tua dan paling

dihormati.

1. Tata Cara Sembahyang Kepada Lelul!ur

Sembahyang kepada lelul!ur dilaksanakan di rurnal! masing-masing, yakni

32

(37)

pada altar keluarga (Hio Hwee) atau Bio leluhur atau Co Bio. Dan upacara sembahyang ini dapat dilakukan bersama atau perseorangan33.

Upacara sembahyang kepada Jeluhur menggunakan media yaitu Ciak tuk yaitu meja sembahyang yang berbentuk empat persegi panjang bentuknya dan lebih tinggi dari meja di depannya. Sedangkan Ki tuk yaitu meja sembahyang berbentuk bujur sangkar dan Jebih rendah dari pada Ciok-tuk. Apabila altar di rumal1 memakai satu meja saja, yaitu Ki-tuk saja, yang tingginya dibuat Jebih tinggi sedikit dari pada meja makan biasa, maka penyusunan altar disesuaikan.

Altar I meJa sembahyang leluhur sebaiknya diletakkan di bagian tengah rumah (tempat yang menghadap pintu keluar), kalau tidak memungkinkan meja sembahyang tersebut diletakkan di ruang tengah maka tempat sembayang leluhur ini bisa ditempatkan di ruang khusus seperti kamar.. Hendaknya dirawat sebagainiana mestinya suatu tempat suci, jangan diletakkan di atasnya benda-benda yang tidak ada hubungannya dengan peralatan upacara.

Perlengkapan sembahyang dapat ditambah sesuai kebiasaan setempat, asalkan tidak bertentangan dengan maksud pemghormatan kepada leluhur, sebaiknya di altar leluhur juga di leta ·kkan kitab Su sセ@ dekat Sien-Ci I foto Jeluhur.

Tempat kebaktian keluarga kepada leluhur ini ada duajenis yaitu:

a. Rumah abu leluhur atau kelenteng leluhur (Co Bio), umunmya di tempat ini pada altarnya di letakkan Sien-Ci leluhur kaum.

33 MATAKIN, Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Klwnghucu, (Solo:

(38)

b. Hio Hwee yaitu tempat abu leluhur keluarga/rumah tangga, pada umumnya pada altar selain menggunakan Sien-Ci, kini banyak digunakan foto leluhur yang dihormati34•

Rnmah abu leluhur ini sekarang ada dua macam : 1) Rnmah abu dari satu marga/satu kaurn. 2) Rumah abu untuk leluhur umum.35

Tata cara pelaksanaan sembahyang kepada Tuhan maupun leluhur ada beberapa ha! yang hams di ketahui, yaitu sebelnm sembahyang ke altar leluhur, hams terlebih dahulu sembahyang dengan menghadap keluar pintu rumah, maksudnya adalah sembahyang kepada Thian, Tuhan YME, karena orang tua hanya merupakan sebagai wakil dari Tulllll1, sedangkan Tuhan adalah yang maha roh (sing ti kwi sien) yang dengan sepenuh hati menyadari adanya nyawa dan roh, sebagai anak memohon berkah kepada Tuhan. Setelah itu nyalakan tiga atau sembilan batang dupa kemudian naikkan tiga kali sambil mengucap dalam hati :

Pertama : Ke hadirat Thian Yang Maha Besar di tempat Yang Maha Tinggi. Kedua : Kehadapan nabi Khonghucu, penuntun dan penyadar hidup .. Ketiga : Kehadapan segenap leluhur yang

karni

hormat dan cintai,

34 Ibid., h. 91 35 Ibid., h 22.

siancay.36

36 MAKIN, Membentuk Sikap Bakti; Bersi!ftld Kepada Tuhan YME dan Menghormati Para

(39)

Sesudah itu dupa dinaikkan secara Ting Lee37 (tangan kanan dikepal ditntnp telapak tangan kiri, dari ulu hati diturunkan sedikit laln dinaikkan sampai ke atas dahi) dan ditancapkam dupa pada tempat yang disediakan, lain bersikap Pau Sim Pat tik ( telapak tangan kanan ditntnp telapak tangan kiri, kedua ibn jari dipertemukan dan diletakkan di uln hati) dan mengucapkan doa, sebagai berikut :

"Ke hadiral Thian Yang Maha Besar, di lempat Yang Maha Tinggi, dengan

bimbingan Nabi Khonghucu, dipem1u/iakanlah.

Diperkenankan kiranya kami melakukan sujud sebagai pernyataan kepada

leluhur kami. Kami berdoa semoga Tuhan berkenan bagi para arwah beliau itu

selalu di da/am cahaya kemuliaan kebajikan Thian, sehingga damai dan tenteram

yang abadi boleh selalu padanya.

Siancay. (diakhiri dengan sekali Ting Lee).38

Selesai bersembahyang kepada Thian kemndian mennjn ke altar leluhur. Dupa dinyalakan dua atan empat batang dan dinaikkan 2 kali sambil mengucap :

Pertama : Ke hadirat Thian Yang Maha Besar, di tempat Yang Maha Tinggi.

Kedna : Kehadapan ... yang kami hoimat dan kasihi, siancay.39

Setelah itn batang itn ditancapkan, kemndian bersikap Pan Sim Pat Tik memanjatkan doa:

"Kehadapan leluhur (namalpanggi/an kepada beliau yang dihormati) yang kami

cinta dan hormati, terimalah hormat dan bakti kami.

37

71ng Lee barmakna menyampaikan hormat setinggi-nnggmya waktu sembahyang dihadapan altar, sedangkan Pau Sim Pat adalah sikap yang bennakna delapan kebenaran, yaitu: bakti, rendah hati, setia, dapat dipercaya, susila, kebenaran, suci hati, dan tahu rnalu.

38 MAT AKIN, Op. Cit, h. 19-20. 39 MAKIN,

(40)

Segenap kasih dan teladan mu/ia yang telah kami terima, akan tetap kami

junjung dan /anjutkan serta kembangkan, sebagaimana Nabi Khonghucu telah

menyadarkam dan membimbing diri kami.

Kami akan selalu berusaha menjaga keharuman serta keluhuran nama keluarga

dan leluhur kami, tidak menodai dan memalukan.

Terimalah homwt dan bakti kami.

Siancay.40

2. Macam-macam Perayaan Penghormatan Kepada Leluhur. a. Sembahyang Ce It Cap Go

Sembahyang Ce It Cap Go dilakukan pada setiap tanggal I dan I 5 Imlek. Di Indonesia upacara ini disebut juga sembahym1g tuang teh.41 Tradisi penghormatan leluhur pada setiap tanggal tersebut bermula sebelum masuknya penanggalan Tarikh Masehi di Cina.

Sebelum orang Cina mengenal hari minggu dalam penanggalan Tarikh Masehi, memakai tanggal I

clan

15 dalam penganggalan Cina/Imlek sebagai hari untuk beristirahat. Pada tanggal-tanggal tersebut, keluarga-keluarga yang 'memelihara abu' membakar batang hio di hadapan 'abu lelu11ur' atau Shen Wei dan juga di hadapan patung dewa yang dipuja di dalam rumalmya pada waktu pagi dan sore hari.42 Upacara ini biasanya dilakukan pada sore hari, 1 hari sebelum tanggal 1 dan 15 Inilek kemudian dipagi dan sore hari pada tanggal tersebut. Sembahyang pagi biasanya dilakukan pada pukul 6 atau 6.30, sore hari dilakukan pada pukul 18.00.

40

MAT AKIN, Op. Cit., h. 92. 41

Tan, The Chinese Of Sukabumi (New York: tpl963), h. 165.

42 Nio,

(41)

Tata ibadah yang diJakukan pada setiap tanggal 1 dan 15 Imlek ini merupakan bentuk dasar dari upacara pada setiap sembahyang.43

1) Tempat Upacara

Sembahyang ini diJakukan pada setiap tempat tinggal keJuarga Cina yang masih memiliki meja abu, upacara berlangsung dihadapan abu

JeJubur. Meja abu biasan: 'ya diletakkan di ruang tengah, ruangan tempat

berkumpul seJurub keluarga.

2) PeraJatan Upacara

Di atas meja abu diJetakkan potret orang tua atau kakek-nenek yang teJah meninggaJ, 2 batang Jilin, Jampu listrik berbentuk

lilin,

kotak tempat

penyimpanan lrio, hio Jou, geJas-geJas berisi teh, serta sajian sederhana

berupa kue dan buah-buahan. 3) Jalannya Upacara

Pada ibadah ini, sembahyang biasanya dilaknJ kan oleh isteri dan anak-anaknya dalam keJuarga. Ketika upacara akan dimulai, segala

keperJuan sembahyang disiapkan. Sajian berupa teh serta kue

dan

buah-buahan diletakkan di atas meja abu, kemudian dua batang

lilin

dinyalakan.

Pada mulanya pintu depan dibuka lebar,

lalu

tiga batang lrio

dinyalakan. Dengan ketiga batang hio tersebut, diJakukan

persembahyangan di depan pintu menghadap keluar sambil memanjatkan

(42)

do'a kepada Tuhan meminta izin untuk mengm1dang leluhur agar datang ke rumah tersebut dan mencicipi hidangan yang di sediakan. Ketiga hio tersebut ditaruh pada sebuah tempat kecil khusus yang ditempelkan pada dinding di muka pintu luar.44

Selanjutnya dilakukan hio untuk leluhur. Hio yang ditujukan bagi leluhur berjUilllah dua batang. Di hadapan meja ahu, dilakukan saja dengan hio sambil memanjatkan doa bagi leluhur berisi puji syukur dan hormat serta harapan agar para leluhur berkenan menerima persembahan yang diberikan. Kemudian hio tancapkan pada hio/o . Selanjutnya upacara selesai.

Persembahan yang diberikan seperti teh dan kue setiap kali diganti pada waktu sernbahyang dilakukan, kecuali buah-buahan. Lilin dan hio yang telah habis juga diganti dengan yang baru pada saat sernbahyang. Persernbahan yang diletakkan pada sore hari tanggal 15 Imlek diangkat pagi-pagi pada keesokan harinya.

b. Sembahyang Tahun Boru

Perayaan Tahun Baru Cina rnerupakan suatu perayaan yang diadakan sehubungan dengan kedatangan rnusinl semi di daratan Cina, dihitung sesuai dengan pehitungan Lunar yang dianut rnasyarakat Cina, yang jatuh tepat pada tanggal

1

bulan

44

Dalam tradisi masyarakat Cina, sebelum kita melakukan di depan meja abu leluhur orang tuanya, terlebih dahulu memberikan penghonnatan kepada Dewa Langit Dewa Langit ini

(43)

1 Imlek. Dalam penanggalan Masehi, Talnm Baru Imlek biasanya dirayakan setiap tanggal 28 atau 29 Januari.

Menjelang T ahun Barn, setiap keluarga sibuk mengatnr persediaan untuk menyambut pergantian tahun. Satu hari sebelum Tahun Barn, yaitu pada tanggal 29 bulan 12 Imlek dilakukan upacara sembahyang khusus ditujukan bagi leluhur. Sembahyang ini biasanya disebut juga Sembahyang Tahun Baru. Tidak semua keluarga Cina melakukan sembahyang leluhur atau Sembahyang Tahun Baru itu pada hari sembahyang atau oleh orang Cina disebut hari 'Ji Kao Kao',45 tersebut. Ada juga yang menyelenggarakannya beberapa hari dimuka Tahun Barn dengan maksud agar segala sesuatu yang bertalian dengan Tahun Barn cepat selesai. Lagipula harga barang-barang keperluan untuk itu belum meningkat setinggi harga-harga pada waktu satu hari dimuka T ahun Barn. 46

I) Tempat Upacara

Sembahyang Tahun Barn, dilakukan disetiap tempat tinggal keluarga dan upacara ini berlangsung di hadapan abu leluhur. Biasanya diletakkan di ruang tengah, ruangan yang agak luas tempat berkumpulnya seluruh keluarga. Bagi keluarga yang tidak memiliki meja abu, sajian persembahan biasanya diletakkan di atas meja makan bersama-sama dengan po tr et leluhur.

2) Peralatan Upacara.

(44)

Keluarga yang tidak memiliki meJa abu, bisa mengguuakan meJa makan. Di atas meja makan kita meletakkan sajian. Selain sesajian, di atas meja diletakkan potret orang tua yang meninggal,

Jilin

berwarna merah yang melambangkan kebahagiaan, gelas berisi beras untuk menancapkan hio, poci-poci teh. Selain itu juga digunakan hio berwarna merah, tempat pembakaran kemenyan berkaki empat, dua bual1 uang logam kuno, uang-uang kertas emas dan perak tiruan, serta kertas-kertas bergambarkan kebutuhan rumah tangga, seperti baju, celana, teko dan sebagainya, ini dimaksudkan agar para arwah leluhur dapat merasakan kehidupan sebagainiana ketika ia hidup di dunia. Dan semua itu merupakan simbol-simbol belaka.

Sajian ini dihidangkan lebih istimewa daripada hari-hari biasa. Sajian berupa buah-buahan, kue-kue kecil, kue keranjang, minUillan serta makanan kesukaan leluhur. Ada jenis makanan yang harus selalu disajikan berupa: binatang berkaki empat, misalnya babi yang mewakili tanah, burnng atau ayani yang mewakili udara, dan ikan yang mewakili air. Ketiganya disebut Sam Seng- San Xing.47

Keluarga-keluarga tertentu mempunyai kebiasaan bersantap bersama dengan arwah atau roh leluhur, ketika upacara sembahyang selesai,

47 Sam Seng memililki arti simbolis yaitu melambangkan kebijaksanaan, cinta dan

(45)

mereka Jangsung mengambil makanan yang telah disembahyangi. 3) Jalannya Upacara

Pada tanggal 28 bulan 12 Imlek malam, dilakukan upacara sembahyang kepada Tuhan (Thian) oleh kepala keluarga, meminta izin

untuk mengundang arwah Jeluhur agar dapat datang ke tempat tinggal kita dan dapat bersama-sama merayakan kedatangan hari raya T ahun Baru.

Pada tanggal 29 bulan 12 Imlek, segala persiapan dilakukan pada pagi hari. Setelah makanan selesai dimasak, diletakkan di atas meja bersama-sama dengan segala peralatan sembahyang oleh ibu rurnah tangga dihantu anak-anak perempuannya. Setelah semua dianggap Jengkap, ia memanggil suaminya lU1tuk memulai upacara.

Upacara dimulai pada pukul 1 LOO. pada mulanya kepala keluarga melakukan pemasangan dua batang Jilin berwama merah. Kemenyan dibakar pada suatu tempat kemudian dibawa berkeliling meja sesaji serta seluruh rurnah sebanyak dua kali. Menurut kepercayaan mereka, asap dari kemenyan ini dianggap penting lU1tuk memanggil rob agar cepat datang. Sebelum sembahyang kepada lelubur terlebih dahulu bersembahyang kepada Tuban menghadap keluar. 3 batang hio bewarna merah dlbakar. Dengan ketiga batang hio di tangan dilakukan Soja Pai - Bai,48 kemudian hio di tancapkan di muka pintu.

48

(46)

oocou.

Selanjutnya kembali dilakukan Soja sambil mengucap doa agar diperkenankan melakukan sujud kepada leluhur. Setelah selesai pengucapan doa, bersoja kemudian masuk menuju meja abu. Dua batang hio kembali dibakar. Setelah bersoja, hio ditancapkan pada tempat hio lou mengucapkan doa kepada leluhur yang berisi rasa hormat, cinta serta puji-pujian akan teladan yang telah diberikan dan berjanji akan menjunjung serta melanjutkan bakti mereka. Setelah berdoa, sikap ini dilanjutkan dengan bersujud

Kui Pai

dimuka meja abu.

Sikap doa yang dilakukan oleh ayah sebagai kepala keluarga diikuti oleh anggotar.;.. keluarga lainnya yaitu anak laki-laki, isteri, anak perempuan, cucu menyusul kemudian, namun urutan ini tidak diperhatikan lagi pada saat sekarang. Wanita tidak diharuskan bersujud, hanya betsembahyang dengan hio. Setelah semua mendapat gilii-annya, segala macam santapan makanan dibiarkan selama 1-2 jam, tindakan ini memiliki maksud tertentu yaitu membiarkan para roh leluhur bersantap sejenak. Sementara itu, seorang anggota keluarga menyalakan rokok kesukaan leluhur.

Untuk mengetahui kapan para roh selesai menyantap hidangan dilakukan

Popoi.

49 Yaitu melemparkan dua buah uang logam, jika kedua muka uang logam tersebut menampakkan gambar yang sama berarti roh
(47)

belum selesai bersantap, maka hams menunggu lagi sejenak barn diulangi

popoi sampai kedua muka uang logam menampakkan dua sisi yang

berbeda.

c. Sembahyang Ceng Beng

Hari Raya Ceng Beng merupakan suatu hari besar bagi masyarakat Cina yang dirayakan bersama seluruh keluarga. Menurut kepercayaan, pada saat itu keluarga yang telah meninggal juga ikut berpartisipasi. Hari raya ini berhubungan dengan keadaan perubahan alam di daratan Cina yaitu hari dimana telah terjadi pergantian musim, dari musim salju kemusim semi dimana cuacanya bersih dan terang, oleh karena itu dinamakan

Qing Ming

atau

Ceng Beng

dalam logat Hokkian yang berarti segar dan terang.50 Percayaan ini jatuh pada tanggal 1 bulan 3 Imlek, di Indonesia dirayakan pada tanggal 5 April dan biasajuga disebut

Sembahyang Sadranan.

51

Pada hari yang cerah ini, setiap keluarga Cina membersihkan kuburan, ada yang memperjelas kembali nama-nama yang tertulis di atas batu nisan. Setiap keluarga membawa saji-sajian yang diletakkan di atas pelataran kuburan leluhur, serta bersembahyang bagi keluarga yang telah tiada. Keluarga yang berhalangan hadir atau datang ke kuburan biasanya melakukan upacara sembahyang di rumah.

Berhubung dengan kebiasaan umat Khonghucu pada zaman kuno memakamkan jenazah di makam yang biasanya jauh dari kediamannya, maka hari

50 Nio, Op. Cit., h. 152 51

(48)

bail< untuk berziarah ke makam leluhur.

Kebiasaan beIZiarah ke makam leluhur pada hari Cheng Beng telah mempunyai sejarah yang panjang, yakni: sudah dilakukan umat Ji Kaul umat Khonghucu jauh sebelum kelahiran Nabi Khonghucu yang dihubungkan dengan saat-saat Cheng Beng yang diperingati sebagai Hari Raya Makan Dingin

I Han Siet Ciat.

Pada hari menjelang Cheng Beng pada zaman dahulu orang biasa makan makanan yang dingin, karena seharian penuh tidak menyalakan api I menghangatkan makanan.

1. TempatUpacara

Sembahyang Ceng Beng ini dilakukan disetiap tempat tinggal masing-masing, yakni di altar keluarga (hio hwee), atau di bio leluhur (co bio), dilaksanakan pada pagi hari, kemudian dilanjutkan

ziarah

ke makam leluhur.

Ziarah ke makam dapat dilaksanakan sepuluh hari sebelum atau sesudah hari Cheng Beng tanggal 5 April. Meskipun demikian, adalah lebih bail< apabila umat Khonghucu dapat mengusahakan beIZiarah tepat pada saat Hari raya Cheng Beng tersebut.

2. Peralatan Upacara

Perlengkapan sembahyang dan sesajian di depan altar leluhur terdiri atas : a) Sienci atau Foto leluhur

b)

Hio Lou

(49)

d) Tee Jiau, terdiri atas teh, arak, dan manisan masing masing disediakan

sejumlah dua

e) Nasi, sayur, dan lain-lain diletakkan didepan tee Jiau, boleh lengkap ataupun sederhana sesuai dengan kemampuan.

f) Jeruk, diletakkan di depan nasi dan sayuran di sebelah kiri g) Pisang, diletakkan di depan jeruk dan disebelah kanan h) Kue Ku (kura), diletakkan disamping kananjeruk

i) Kue mangkok (hwat kwee) diletakkan disebelah kiri pi sang j) Wajik, diletakkan ditengah-tengah

k) Lilin satu pasang, masing-masing diletakkan di kiri dan kanan di deretan sajian paling depan.

Perlengkapan sembahyang dapat ditarnbah sesuai dengan kebiasaan setempat, dengan catatan

tidak

bertentangan dengan maksud penghormatan terhadap leluhuhur.

3. Jalannya Upacara

Pada saat upacara di makam leluhur, dilengkapi dengan peralatan sembahyang

(50)

pendorong bagi mereka untuk selalu berprilaku yang luhur dan mulia, sebagaimana yang Thian firmankan52.

4. Sarana Upacara dan Simbolisasinya

Di sebuah altar sembahyang kepada orang tualleluhur, dapat dilihat beraneka macam peralatan sembahyang antara lain :

I. Hio : Melambangkan semangat kehidupan, keharumannya

menyebar ke segenap penjurn walau tidak diketahui dimana hio itu diletakkan.

Demikian hendaknya kebajikan yang dilakukan terasakan oleh banyak orang tanpa orang-orang itu mengetahui siapa yang melakukannya.

Dalam kitab Si King tertulis : Thian, T uhan Yang Maha Esa, berfirman, Aku berkahi kebajikan yang becahaya, yang tidak besar suara dan rupa. (Tiong Yong XXXII : 6)

2. Hio Lou : adalah tempat abu leluhur, gunanya untuk menancapkan batang hio/dupa sembahyang. Khnsns upacara duka/kematian

digunakan Hio bergagang hijau.

3. Batang Hio : Melambangkan jalan suci dari tiga kutub ( sam keu I sam cai I

hakikat Thian, Tee, Jien)

(Ya King Bagian He Su Babaran Agung A Bab II : 12) serta

52 Hendrik Agus Winarso,

(51)

melambangkan Tiga Pusaka, yakni bijaksana, cinta kasih clan

berani (Tiong Yong XIX : 8)

4. Menyulut Hio : Mengandung makna : Jalan suci itu dari kesatuan ha ti, Ha ti

dibina melalui keharuman hio.

5. Sepasang Lilin : Melambangkan Penerangan Lahir batin, melambangkan

unsur Im (Perempuan/Ibu) dan unsur Yang (Laki-laki I ayah).

Thu dan ayah dengan penuh kasih sayang selalu memberi

nasihat dan petunjuk supaya anak-anaknya tidak tersesat

dalam "kegelapan". W alaupun untuk itu orang tua hams

berkorban seperti api pada Jilin yang melumerkan Jilin itu

sendiri.

Dalam kitab Bingcu III B : 3,6 ''Begitu seorang anak laki-laki

laltir, orang tuanya berharap kelak ia memperoleh seorang

isteri. Dan begitu seorang anak perempuan laltir, orang tuanya

berharap kelak ia memperoleh suami. Hati orang tua seperti

nn, semua orang mempunyainya. Akan tetapi kalau tanpa

menanti perkenan orang tuanya, tanpa perantara, melainkan

secara diam-diam saling mengintip celah-celah dinding lalu

melompati pagar dan lari, niscaya orang tuanya, bahwa

(52)

6. Sin Ting : Pelita yang menyala terns-menerus. Melambangkan semangat keimanan yang wajib selalu dibina.

7. Sam Poo

8. TeeLiau

Dalam Kitab Tiong Yong XXIV : 3 :

"Iman itu dimaksudkan selesai dengan menyempurnakan diri

sendiri, melainkan menyempurnakan segenap wujud juga.

Cinta kasih itu menyempumakan diri dan Bijaksana

menyempurnakan segenap wujud. lnilah kebajikan watak

sejati dan inilah Keesaan luar dalam dari jalan suci. Maka

setiap saat jangan dilalaikan".

Tiga Mustika air teh. Bunga dan air putih melambangkan Thay kek. Air teh

=

Im. Bunga

=

garis dan titik yang membentuk sifat Im dan sifat Yang. Air putih Yang.

Manisan. Lambang harmonisasi kehidupan keluarga.

(53)

9. Ngo Koo : Lima jenis buah-buahan. Melambangkan lima hubungan, yakui hubungan raja dengan menteri, ayah dan anak, suami dengan isteri., kakak dengan adik, kawan dengan sahabat. Lima perkara inilah jalan suci yang ditempuh di dunia (Tiong Yong XIX: 8).

10. Sien-Ci : Adalal1 sebuah papan monument!prasasti yang terletak dimeja altar di belakang Hio-Lou. Berisi tulisan memuat nama-nama leluhur sejak awal mula yang menjadi cikal bakal generasi penems. Lelulmr ini datang dari negeri Mona dan telah menetap di bumi Nusantara lalu beranak-cucu, berbuyut dan setelah almarhum kemudian dicantumkan di papan Sien-Ci, sekaligns adalah satu silsilah pendek semarga.

Sebagaimana yang dikemukakan Eb. erhard mengenai asal-usul papan arwah (Sien-Ci) ada suatu legenda sebagai benlrut :

(54)

terhadap ibunya. Ketika ibllllya datang memabawa makanan lllltuk analmya, begitu si anak melihat ibunya dia langsllllg berlari menyongsong ibunya lllltuk mengambil alih makanan tersebut dengan maksud agar ibllllya tidak perlu berjalan terlalu jauh. Namun si ibu yang tidak mengetahui perubahan pada analmya dengan segera meletakkan makanan yang dipegangnya dan segera lari, karena dia mengira analmya akan berbuat seperti biasanya dan akan menyakiti dia. Ketika itu si ibu terjatuh dan langsung meninggal. Sebagai peringatan untuk ibunya si anak kemudian memotong pohon dan membuat sebuah papan kecil yang kemudian dipelihara. Itulah asal mula dari papan arwah tersebut".

11. Arak : Bahwa arak itu mengandung falsafah, bahwa sebagai seseorang yang hidup di bumi Thian hendalmya bisa jadi manusia serba

guna, yang mempllllyai kecerdasan dan kepandaian serta

keterampilannya, guna dapat dimanfaatkan oleh sesamanya.

Selain itu seseorang dalam kelebihannya tidak boleh bertindak

over, mabuk puji-pujian

clan

sanj1lngan. Hal ini bisa merusak watak sejatinya (sing) sehingga tidak asli, bersih, lrlumi dan

suci lagi dikarenakan lupa

diri

dan pengaruh lihgkungan

menyesatkan. Maka orang tidak boleh mabuk kepayang

terhadap segala sesuatu ha!.

Manusia lahir dari seorang ibu, dari air kemudian berubah

bentuk di dalam rahim ibu setelah dilahirkan menjadi makhluk

manusia. Sifat arak adalah hangat, manusia itu pun hangat

karena punya semangat sebagai bukti watak sejati yang

bersifat terns maju atau dinamis dalam kedinamikannnya.

(55)

Dengan watak sejati yang dimilikinya hams bisa menghapus

kebusukannya dan mengubah orang lainjadi baik.

Manusia adalah pejuang didalam menegakkan irnan di dalarn

diri, berjuang memerangi nafsu, pejuang dalam melanjutkan

jalan suci yang firman Thian. Maka dengan falsafal1

dimaksudkan sebagai tanda untuk mengucapkan selamat jalan

menempunjalan suci amanat lelulmr.

Arak di atas altar dihidangkan 3-12 cawan kecil. Persembahan kepada lelulmr sebagai ucapan selamat jalan/pergi menyatu ke

hadirat Thian di alam Sian-Thian.

12. PWee Ci : Adalah dua keping uahg log.iin kuno yang digunakan sebagai piranti untuk bertanya kepada alinarhum para lelulmr apakah

upacara sembahyang tersebut sudah dapat diakhiri. Bila kedua

keping uang logam tadi ketika dilempar ke lantai jatuhnya

terungkup dan telentang, itu rnenandakan upacara telah usai.

Kalau telentang atau tengkurap kedua-duanya, maka upacara

belum usai. Hal ini yang mungkin dituduli sebagai takhayul,

(56)

Sembahyang pada saat akhir tahun dan saat memasuki tahun ba

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mencoba mengajukan variabel baru dalam mengukur ketahanan pangan agar masalah pangan yang bersifat kompleks dapat dipandang dengan lingkup makro dan

Sedimen dasar di perairan Kecamatan Bukit Bestari Kota Tanjungpinang rata-rata terpilah sedang dan terpilah buruk dan condong kearah butiran kasar dan butiran

Maka dari itu, pada penelitian ini penulis mencoba menganalisa tingkat kepuasan konsumen khususnya penumpang KA Lokal Penataran relasi Sidoarjo – Malang Kota

Growth Parameter and Fecundity of Fringe Scale Sardine (Sardinella fimbriata Cuvier Valenciennes) in Alas Strait, East Lombok, West

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Berdasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh, disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menentukan kinetika inhibisi dari fraksi etil

Sedangkan untuk kota metropolitan dan kota besar, Ketua Tim pemantau wajib menyerahkan salinan Aplikasi Penilaian Fisik yang sudah diisi, Formulir Isian Nilai Fisik, serta

Keempat ungkapan dengan nomor tabel di atas termasuk ke dalam ayat uslub al-hakim yang berbentuk pertanyaan yang dijawab pertanyaan, karena pada keempat ungkapan tersebut terdapat