MAKALAH HUKUM ADAT
PETASAN
DALAM HUKUM ADAT
BETAWI DAN HUKUM POSITIF di
INDONESIA
DOSEN :
WAHYU TRI WINARKO, SH, MM
Nama
:
Arif hidayatullah
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Makalah: Analisa Terhadap Pertentangan Antara Hukum Adat Suku Betawi Terhadap Hukum Positif Negara”. Penulisan makalah ini ditujukan intuk memenuhi salah satu kriteria penilaian dalam mata kuliah Hukum Adat di Universitas Timbul Nusantara Jakarta (UTIRA).
Makalah ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan moril dan materiil dari berbagai pihak. Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua, yang telah memberi dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah ini.
2. Bapak Wahyu Tri Winarko, SH, MM , selaku dosen Hukum Adat.
3. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini, yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang mungkin ada didalam makalah ini.
Jakarta, 17 Oktober 2015
DAFTAR ISI
COVER 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
BAB II ASAL MULA PENGGUNAAN PETASAN DALAM UPACARA ADAT SUKU BETAWI 5
BAB III HUKUM POSITIF INDONESIA MENGENAI PENGGUNAAN PETASAN 7
BAB IV KESIMPULAN 8
PENUTUP 9
BAB I
PENDAHULUAN
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dari adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai budaya merupaka konsep-konsep mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup. Sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan para warga masyarakat itu sendiri.
Dalam perjalanan waktu, tradisi menyalakan petasan ini ditiru oleh orang-orang betawi hingga kini, teristimewa menjelang pesta perkawinan atau khitanan. Arti simbolis petasan adalah sebagai alat untuk berkomunikasi, pada jaman dahulu jarak antara rumah satu dengan rumah yang lain saling berjauhan. Untuk memberitahu bahwa ada pesta pernikahan atau khitanan, orang-orang menyalakan petasan.
Selain itu, petasan juga dipakai sebagai sarana untuk memberitahu para undangan dan khalayak ramai bahwa pesta segera dimulai, dan juga banyaknya petasan yang dibunyikan pada saat mengadakan sebuah pesta menandakan status sosial orang tersebut. Kebudayan Betawi tidak statis, tetapi dinamis dan berkembang sepanjang waktu.
BAB III
HUKUM POSITIF INDONESIA TERHADAP PENGGUNAAN PETASAN
BAB IV juga memberi tahu masyarakat banyak bahwa ada sebuah pesta perkawinan atau khitanan yang diadakan oleh sebuah keluarga betawi. Pada masa lalu jarak antar rumah satu dengan rumah yang lain berjauhan. Sehingga masyarakat betawi menggunakan petasan sebagai alat komunikasi yang cepat. Banyaknya petasan yang dibunyikan dalam sebuah pesta juga menunjukkan status sosial seseorang didalam masyarakat betawi.
Menurut analisa saya, penggunaan petasan dalam upacara adat masyarakat betawi dapat diperbolehkan. Selama penggunaannya sesuai dengan aturan yang berlaku dalam hukum adat betawi dan tidak disalahgunakan sehingga membahayakan orang lain. Apabila penggunaannya disalahgunakan, maka pelaku dapat dijerat hukum yang berlaku di negara Republik Indonesia.
budaya itu harus dirubah. Kebudayaan merupakan kekayaan dan Bangsa Indonesia yang kaya akan kebudayaan.
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Betawi
https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Undang-undang_Hukum_Pidana