• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kinerja Waktu dan Penerapan Building Information Modeling (BIM) Proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Kinerja Waktu dan Penerapan Building Information Modeling (BIM) Proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur."

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KINERJA WAKTU DAN PENERAPAN BUILDING

INFORMATION MODELING (BIM) PROYEK PENGEMBANGAN

GEDUNG RSUD BUDHI ASIH, JAKARTA TIMUR

ANUGRAH SUSILOWATI

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Kinerja Waktu dan Penerapan Building Information Modeling (BIM) Proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2015

Anugrah Susilowati

(4)

ABSTRAK

ANUGRAH SUSILOWATI. Analisis Kinerja Waktu dan Penerapan Building Information Modeling (BIM) Proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur. Dibimbing oleh MACHMUD ARIFIN RAIMADOYA.

Manajemen konstruksi diterapkan untuk melaksanakan proyek secara lebih efisien dan efektif. Manajemen tersebut memiliki tujuan salah satunya adalah untuk mengoordinasikan waktu agar proyek berjalan sesuai rencana. Pengendalian waktu dalam pelaksanaan proyek dapat dilakukan dengan Critical Path Method (CPM). CPM dapat mengetahui kegiatan pelaksanaan proyek yang harus tepat waktu. Tahap-tahapan terhadap kinerja waktu suatu proyek akan terlihat lebih mudah bila diintegrasikan melalui Bulding Information Modeling (BIM). Tujuan dari penelitian ini yaitu pemodelan 4 Dimensi menggunakan Tekla Structure, mengetahui kegiatan kritis, dan membandingkan kinerja waktu proyek berupa deviasi dari bobot rencana dan bobot realisasi kegiatan pada proyek Gedung RSUD Budhi Asih. Penerapan BIM menggunakan Tekla Structure dilakukan pada bagian struktur saja. Pemodelan pada Tekla dilakukan sampai tahap scheduling atau 4 Dimensi (4D) menggunakan

task manager. Analisis kinerja waktu proyek dilakukan dengan membandingkan bobot rencana dengan bobot realisasi pekerjaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa proyek mengalami keterlambatan di bulan ke-3 hingga ke-11 dengan deviasi terbesar -8.370%. Pelaksanaan proyek selesai tepat pada waktu yang direncanakan pada bulan ke-12.

Kata kunci: Building Information Modeling (BIM), kinerja waktu, manajemen konstruksi, manajemen waktu proyek, Tekla structure.

ABSTRACT

ANUGRAH SUSILOWATI. Time Schedule Analysis and Building Information Modeling (BIM) Application in RSUD Budhi Asih Building Development Project, East Jakarta. Supervised by MACHMUD ARIFIN RAIMADOYA.

(5)

delayed in the 3rd month until the 11th with the greatest deviation was -8.370%. The project has completed on time according to the plan which finished for 12 months. Key words: Building Information Modeling (BIM), construction management,

(6)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik

pada

Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

ANALISIS KINERJA WAKTU DAN PENERAPAN

BUILDING

INFORMATION MODELING

(BIM) PROYEK

PENGEMBANGAN GEDUNG RSUD BUDHI ASIH, JAKARTA

TIMUR

ANUGRAH SUSILOWATI

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(7)
(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena hanya dengan karunia dan rahmat-Nya skripsi yang berjudul “Analisis Kinerja Waktu dan Penerapan Building Information Modeling (BIM) Proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur” ini dapat diselesaikan. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Maret hingga Juni 2015.

Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada:

1. Ir. Machmud Arifin Raimadoya, M.Sc selaku dosen pembimbing atas bantuannya serta waktu dan kesempatan yang telah diluangkan dalam memberikan bimbingan, ilmu, arahan, motivasi, dan masukan selama penulis mengikuti pendidikan, penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, pembuatan makalah, hingga penyusunan skripsi.

2. Dr. Ir. Moh. Yanuar J. Purwanto, MS dan Dr. Ir Meiske Widyarti, M.Eng selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan bermanfaat dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Kedua orang tua Bapak Tumiran dan Ibu Listri Mulyaningsih atas doa, dukungan, perhatian dan kasih sayang yang telah diberikan.

4. Rekan-rekan satu bimbingan (Risda, Fachru, Hasfan, dan Raudhotul) atas bantuan, semangat dan dukungannya dalam menyusun laporan akhir ini. 5. Masrun Aditya T.M, ST dan Choliq Komarudin Kohar, ST yang telah

mengayomi, memberikan nasihat dan arahan kepada penulis.

6. Sahabat-sahabat (Rayi Rahmannissa, Yustikawati, Annissa Meutia, dan Fatmawati Ferdiani) atas semangat dan perhatiannya serta seluruh teman-teman SIL 48 (khususnya untuk Gita, Deviana, Citra, Eva, Benna, Almasul Auzan, Hafiz A, Alfi, Dhanu, Fachrie, dan Ahong) yang telah bersama-sama selama 3 tahun perkuliahan memberikan semangat, bantuan dan motivasi kepada penulis.

7. Teman-teman Tingkat Persiapan Bersama (TPB) Butiran Jasjus (Nay, Robby, Cepi, Veti, dan Hanif) dan teman-teman asrama rusunawa (Desna, Rahma, Naya, Niki, dan Fitriana) atas kebersamaan, perhatian, dan dukungannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.

Bogor, Juni 2015

(10)
(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Building Information Modeling (BIM) pada Tekla Structures 3

Manajemen Waktu pada Proyek Konstruksi 4

Kinerja Waktu Proyek dan Metode Jalur Kritis 5

METODE 6

Waktu dan Tempat 6

Bahan 6

Alat 7

Prosedur Analisis Data 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 16

Penerapan BIM Gedung RSUD Budhi Asih dengan Tekla Structures 16 Penjadwalan Proyek serta Metode Jalur Kritis (Critical Path Method) 20

Kinerja Waktu Pekerjaan Proyek 22

Pemodelan 4 Dimensi dan Intepretasi dengan TeklaBIM Sight 38

SIMPULAN DAN SARAN 41

Simpulan 41

Saran 41

DAFTAR PUSTAKA 42

LAMPIRAN 45

(12)
(13)

DAFTAR TABEL

1 Detail pemodelan pondasi Gedung RSUD Budhi Asih 17 2 Detail pemodelan slab/pelat beton Gedung RSUD Budhi Asih 18 3 Bobot kinerja waktu proyek RSUD Budhi Asih selama 12 Bulan 24 4 SNI AHSP (Analisis Harga Satuan Pekerjaan) Tahun 2013

pekerjaan 1 m2 pembersihan lapangan dan striping/korsekan 25 5 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembersihan lapangan 25 6 Berdasarkan SNI Analisis Harga Satuan Pekerjan (AHSP) tahun 2013

untuk 1 m2 pembuatan direksi keet 26

7 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembuatan direeksi keet 26 8 Koefisien untuk membuat 1 m3 pondasi beton bertulang 27 9 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembuatan pondasi beton bertulang 27 10 Kebutuhan tenaga kerja untuk pekerjaan galian tanah basement 2 28 11 Koefisien untuk membuat 1 m3 balok beton bertulang

(200 kg besi + bekisting) 28

12 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembuatan caping beam 29 13 Koefisien untuk membuat 1 m3 dinding beton bertulang 30 14 Kebutuhan tenaga kerja untuk pekerjaan dinding beton bertulang 30 15 Koefisien pekerja untuk memasang dinding HB dengan tebal 10 cm

campuran spesi 1PC: 3PP 32

16 Kebutuhan tenaga kerja untuk memasang dinding 32 17 Koefisien membuat 1 m2 Plesteran 1 PC: 3 PP tebal 15 mm 33 18 Kebutuhan pekerja untuk pekerjaan plesteran dinding 33 19 Koefisien pekerja untuk memasang dinding HB dengan tebal 10 cm

campuran spesi 1PC: 3PP 34

20 Kebutuhan tenaga kerja untuk pemasangan dinding 34 21 Koefisien memasang 1 m2gypsum board dengan tebal 9 mm 36 22 Kebutuhan tenaga kerja untuk memasang gypsum board 36

DAFTAR GAMBAR

1 Integrasi pekerjaan dalam Tekla 3

2 Hubungan Triple Constrain 4

3 Lokasi proyek pembangunan Pengembangan Gedung RSUD Budhi

Asih, Jakarta Timur 6

4 Diagram alir tahapan penelitian 7

5 Tahap Pemodelan Grid pada Tekla 9

6 Tahapan pemodelan podasi bangunan 9

7 Pemodelan kolom pada software Tekla Strucutres 10

8 Pemodelan balok beton pada Tekla Structures 10

9 Pemodelan Slab atau Pelat pada Tekla Structures 11 10 Pemodelan Shear wall atau dinding geser pada Tekla Structures 11 11 Pemodelan tangga beton pada Tekla Structures 12 12 Pengelompokan objek dengan model organizer pada Tekla Structures 12 13 Pemodelan task manager pada Tekla Structures 13

(14)

15 Konfigurasi objek grup started 14

16 Konfigurasi objek grup notstarted 14

17 Konfigurasi objek grup group all 14

18 Konfigurasi objek representasi 15

19 Visualisasi menggunakan object representation 15 20 Pembagian zona pengerjaan bangunan RSUD Budhi Asih 19 21 Hasil representasi gambar Gedung RSUD Budhi Asih dengan project

visualization 39

22 Intepretasi pemodelan pada Tekla BIM Sight 40

DAFTAR LAMPIRAN

1 Tampilan model organizer di Tekla Structure pada proyek

pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih 45

2 Tampilan task manager di Tekla Structure pada proyek

pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih 46

3 Hasil pemodelan Tekla Structure pada Gedung RSUD Budhi Asih 49 4 Kurva S kinerja proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih 51 5 Detail dan klasifikasi kolom pemodelan Gedung RSUD Budhi Asih 52 6 Jalur kritis di Microsoft Project Manager pada proyek pengembangan

Gedung RSUD Budhi Asih 53

7 Hasil intrepretasi dengan Tekla BIM Sight pada proyek pengembangan

(15)
(16)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Proyek adalah suatu kegiatan sementara yang memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu. Hal tersebut mendasari adanya manajemen konstruksi proyek yang diterapkan untuk melaksanakan proyek secara lebih efisien dan efektif. Manajemen konstruksi mengacu pada bagaimana sumber daya tersedia bagi manajer sehingga dapat diaplikasikan dengan baik pada suatu proyek konstruksi. Sumber daya untuk konstruksi berupa lima M, yaitu Manpower (tenaga kerja), Machiners (alat dan peralatan), Material (bahan bangunan), Money (uang), Method (metode) (Widiasanti dan Lenggogeni 2013).

Manajemen proyek merupakan suatu usaha merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, mengoordinasi dan mengawasi kegiatan dalam proyek sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jadwal waktu dan anggaran yang telah ditetapkan (Kurzner 1982). Pada pelaksanaan suatu proyek sangat jarang ditemui suatu proyek yang berjalan tepat sesuai dengan yang direncanakan. Umumnya mengalami keterlambatan yang direncanakan, baik waktu maupun kemajuan pekerjaan, tetapi ada juga proyek yang mengalami percepatan dari jadwal awal yang direncanakan (Prastyono 2010).

Apabila terjadi keterlambatan dan dengan mengetahui letak keterlambatan, maka dalam pelaksanannya dapat dilakukan tindakan antisipasi atas ketidakefisienan waktu yang terjadi sebelumnya, sehingga keterlambatan di satu bagian tidak merambat ke pekerjaan lainnya. Salah satu cara yang dilakukan untuk mengefektifkan waktu adalah menerapkan Critical Path Method (CPM) karena metode tersebut dapat mengetahui kegiatan-kegiatan pelaksanaan proyek yang harus tepat waktu. Selain itu, keterlambatan kegiatan proyek yang telah terjadi dapat pula diketahui dan dipantau dengan menghitung bobot pekerjaan menggunakan kurva S.

Saat proses pelaksanaan proyek konstruksi konsep mengenai Building Information Modeling (BIM) akan memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap kinerja manajemen proyek yang terintegrasi dengan model bangunan secara keseluruhan. Pada pelaksanaan proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih di Cawang, Jakarta Timur masih menerapkan sistem kerja yang terpisah antara pelaksanaan dengan manajemen yang dijalankan. Koordinasi tim akan berjalan lebih lambat sehingga mempengaruhi peforma kinerjanya.

(17)

2

Perumusan Masalah

Permasalahan yang dapat diambil berdasarkan latar belakang yang ada sehingga menjadi objek penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana penerapan Building Information Modeling (BIM) dengan menggunakan software Tekla Structures pada Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih?

2. Kegiatan apa saja yang termasuk dalam metode jalur kritis (Critical Path Method) pada pelaksanaan proyek konstruksi Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih?

3. Bagaimana realisasi kinerja waktu proyek pada pelaksanaan proyek Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih?

Tujuan Penelitian

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini di antaranya:

1. Mengaplikasikan Building Information Modeling sampai pemodelan 4 Dimensi (4D) pada proyek pembangunan Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih menggunakan software Tekla Structures.

2. Mengetahui kegiatan kritis pada proyek pembangunan Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih berdasarkan metode jalur kritis (Critical Path Method).

3. Membandingkan hasil analisis kinerja waktu proyek berupa deviasi dari bobot realisasi kegiatan terhadap bobot rencana kegiatan berdasarkan hasil laporan kerja pada kurva S.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk melihat pengaruh kinerja waktu terhadap pelaksanaan proyek konstruksi gedung. Pemodelan dengan menggunakan software Tekla Structure diharapkan mampu memudahkan analisis manajemen waktu sehingga dapat menjadi acuan untuk evaluasi kinerja proyek. Selain itu tahap pengerjaan pemodelan pada softwareTekla Structure dapat menjadi referensi tambahan dalam mengelola manajemen proyek serta menjadi panduan untuk mempelajari tahap penggunaan software Tekla Structure dalam proyek konstruksi.

Ruang Lingkup Penelitian

(18)

3

path method (CPM) atau metode jalur kritis menggunakan software Microsoft Project. Analisis kinerja waktu proyek dengan membandingkan bobot rencana pekerjaan dan bobot realisasi pekerjaan pada kurva S berdasarkan laporan mingguan atau bulanan pada pelaksanaan pembangunan.

TINJAUAN PUSTAKA

Building Information Modeling (BIM) pada Tekla Structures

BIM adalah simulasi tidak nyata dari keseluruhan siklus proyek konstruksi melalui sebuah orientasi digital dari database objek. Sebagai contoh dari BIM adalah pemakaian program komputer yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi satu sama lain melalui Application Programing Interface (API) atau melalui format dokumen yang sesuai. BIM adalah sebuah penggambaran informasi karakteristik bangunan dalam bentuk 3D secara digital yang mencakup seluruh proses tahapan proyek (Allan 2012). Informasi karakteristik bangunan yang dimaksud meliputi dimensi, jenis material, jadwal proyek, tingkat beban (load), bahkan sampai kepada tingkat energy savings bangunan sendiri.

Tekla Structures BIM merupakan software yang dapat membantu kontraktor untuk mengelola resiko dari biaya-biaya yang tidak terduga dan hilangnya waktu, terutama pada fase pelaksanaan proyek (Saputri 2012). TeklaStructures juga dapat digunakan oleh berbagai pihak diantara kontraktor, sub-kontraktor, dan para profesional manajemen proyek untuk mengelola perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian proyek seperti yang terlihat pada Gambar 1 kelebihan dari program ini antara lain yaitu dapat digunakan dalam menganalisis permasalahan-permasalahan model struktur serta dapat memperbaiki secara akurat semua pekerjaan struktur. Semua perubahan dapat diperbarui secara otomatis jika sewaktu-waktu dilakukan revisi (Erlina 2011).

Sumber: Tekla (2011).

Gambar 1 Integrasi pekerjaan dalam Tekla

(19)

4

Structure menerapkan jadwal BIM yang terintegrasi dikenal dengan BIM 4 Dimensi (4D), dapat digunakan untuk pemodelan, analisis, keamanan dan untuk menyiapkan rencana logistik. Pemodelan 4D memberikan cara yang lebih cepat dan lebih efektif menyampaikan informasi antar pihak proyek yang berkepentingan. Salah satu informasi yang disampaikan adalah scheduling (jadwal pelaksanaan) konstruksi, sehingga informasi bagaimana bangunan akan dibangun hari demi hari dapat terlihat.

Manajemen Waktu pada Proyek Konstruksi

Manajemen konstruksi adalah suatu proses pekerjaan pelaksanaan pembangunan fisik yang ditangani secara multi disiplin professional dimana tahapan persiapan, perencanaan, perancangan, pelelangan pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan, dan penyerahan/pengoperasiannya, diperlukan sebagai suatu sistem menyeluruh dan terpadu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang optimal dalam aspek memperkecil biaya, memanfaatkan waktu, dan mempertahankan kualitas (Tarore 2010). Penentuan perencanaan manajemen konstruksi tidak akan pernah lepas dari hubungan tiga batasan utama berupa biaya, mutu dan waktu atau biasa disebut sebagai triple constrain.

Triple constrain dalam batasan pada proyek konstruksi dapat dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu planning (perencanaan), actuating (pelaksanaan) dan

controlling (pengendalian). Ketiga batasan tersebut, bersifat tarik-menarik artinya, jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu dan jadwal kondisi tersebut seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.

Sumber: Soeharto (1999).

Gambar 2 Hubungan Triple Constrain

Menurut Clough and Sears (1991), sistem manajemen waktu berpusat pada berjalan atau tidaknya perencanaan dan penjadwalan proyek. Dimana dalam perencanaan dan penjadwalan tersebut telah disediakan pedoman yang spesifik untuk menyelesaikan aktivitas proyek dengan lebih cepat dan efisien. Menurut Mingus (2004), manajemen waktu mencakup penyusunan atau perbaikan struktur perincian kerja, yang menentukan hubungan saling ketergantungan di antara tugas-tugas proyek, memperkirakan usaha dan durasi aktivitas, dan menyusun jadwal proyek. Perencanaan ini memberikan masukan kepada perencana sumber daya agar sumber daya tersebut siap pada waktu diperlukan (Widiasanti dan Lenggogeni 2013).

Kinerja - Mutu

(20)

5 Penjadwalan proyek menurut Husen (2009), diperlukan teknik dan metode tertentu yaitu Program Evaluation and Review Technique (PERT), Critical Path Method (CPM), Presedent Diagram Method (PDM) dan Bar Chart atau yang sering disebut dengan Gantt Chart. Penjadwalan proyek akan berguna untuk mengetahui hubungan tiap aktivitas pada seluruh proyek sehingga terlihat pemanfaatan sumber daya yang digunakan serta sinkronisasinya terhadap biaya. Penjadwalan yang efektif adalah menjadwal kegiatan dengan urutan kerja yang logis sehingga membentuk jadwal normal dan meminimalisasi peluang keterlambatan suatu proyek (Wartinah et al. 2013).

Kinerja Waktu Proyek dan Metode Jalur Kritis

Menurut Smith (2000), menganalisa atau mengevaluasi tidak hanya dapat dilakukan pada akhir proyek saja, tetapi bisa juga dilakukan sewaktu-waktu apabila proyek telah terlihat ketinggalan dari jadwalnya. Evaluasi kemajuan proyek tergantung pada akurasi pengukuran dan pembuatan laporan di lapangan (Brandon and Gray 1970). Laporan-laporan yang diperlukan meliputi presentase kemajuan penyelesaian proyek pada tiap-tiap aktivitasnya. Laporan kemajuan di lapangan kemudian dibandingkan dengan penjadwalan proyek sehingga dari perbandingan tersebut dapat dilihat aktivitas yang mengalami keterlambatan. Setiap aktivitas yang mengalami keterlambatan harus dianalisa penyebabnya sehingga keterlambatan pada aktivitas yang sama tidak akan terulang lagi (Clough and Sears 1991).

Pengendalian waktu (jadwal) meliputi proses-proses yang diperlukan untuk memastikan penyelesaian pembangunan proyek tepat waktu. Beberapa metode pengendalian jadwal pada konstruksi adalah jadwal milestone, jadwal rekayasa, konstruksi dan start up, program analisis tenaga kerja, critical path method (CPM), jadwal konstruksi tiga bulanan, jadwal kegiatan mingguan dan harian, jadwal sub kontrak, jadwal start up, dan daftar punch konstruksi. Kunci pokok dalam hal ini adalah saat membuat kurva S karena melalui kurva S ini kegiatan dipantau setiap saat. Pemakaian diagram kurva menitikberatkan pada analisa kemajuan proyek secara keseluruhan, dari segi waktu, biaya, dan prestasi kerja. Bila kurva S dari rencana progress dan pelaksanaan (aktual) dibandingkan maka dapat diketahui secara visual besarnya dan kecenderungan dari penyimpangan (progress) yang terjadi, apakah pelaksanaan, lebih cepat atau lebih lambat dari rencana yang telah disepakati (Trisnowardono 2002).

Metode jalur kritis atau (Critical Path Method) merupakan jalur yang memiliki rangkaian komponen-komponen kegiatan dengan total jumlah waktu terlama dan menunjukan kurun waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jadi, jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis, dimulai dari kegiatan pertama sampai kegiatan terakhir proyek (Soeharto 1999). Perbedaan mendasar dari Critical Path Method (CPM) adalah dalam hal waktu. Seorang manajer proyek harus mampu mengidentifikasi jalur kritis dengan baik, sebab pada jalur ini terdapat kegiatan yang jika pelaksanaannya terlambat maka akan mengakibatkan keterlambatan seluruh proyek.

(21)

6

hitungan maju dan hitungan mundur. Penyajian jalur kritis ditandai dengan garis tebal atau garis warna berbeda atau garis ganda, terkadang akan dijumpai lebih dari satu jalur kritis dalam jaringan kerja. Beberapa istilah dalam metode ini yaitu early start (ES), late start (LS), early finish (EF), late finish (LF), total float (TF) dan

free float (FF). Istilah float yaitu suatu perhitungan yang menunjukan fleksibilitas suatu kegiatan untuk dapat mulai dan selesai lebih lambat walaupun tetap dalam waktu yang diizinkan tanpa mengubah durasi atau kurun waktu proyek (Callahan

et al. 1992).

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu empat bulan, selama bulan Maret - Juni 2015 dengan lokasi penelitian yaitu di proyek Pembangunan Pengembangan Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Budhi Asih, Cawang, Jakarta Timur seperti yang terlihat pada Gambar 3. Pengolahan dan analisis data dilakukan di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor, Dramaga Bogor, Jawa Barat.

Sumber: Google Earth (2014).

Gambar 3 Lokasi proyek pembangunan Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur

Bahan

(22)

7 konsultan perencana PT Gita Rencana Multiplan dan konsultan pengawas PT Galih Karsa Utama. Bahan yang dibutuhkan untuk penelitian berupa softcopy dokumen proyek yaitu master schedule berisikan kegiatan-kegiatan utama dari proyek, laporan mingguan dan bulanan pelaksanaan proyek pembangunan serta data Detail Engineering Design komponen struktur dalam format .dwg dan .pdf yang diperoleh dari kontraktor pelaksana.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian berupa seperangkat laptop HP seri 14-n001TX dengan spesifikasi: Windows 8, 64 Byte OS (Operational System), 4

Gigabyte DDR3-Pc 10600 RAM (Read Access Memory), Intel Core i5—4200U 1.6-2.6 GHz, 500 GigabyteHardisk, AMD Radeon VGA (Video Graphics Array) dan mouse. Kemudian software yang digunakan yaitu TeklaStructures versi 17.0 sebagai aplikasi utama, Tekla BIM Sight dan Microsoft Project Manager untuk aplikasi pembantu. Software AutoCAD versi 2010 untuk mengakses softcopy DED (Detailed Engineering Design) dengan format .dwg, dan Adobe Reader versi XI untuk membaca data dengan format pdf.

Prosedur Analisis Data

Diagram alir tahapan analisis penelitian adalah sebagai berikut:

(23)

8

1. Studi pustaka

Studi pustaka digunakan untuk mempelajari tahap-tahapan pemodelan bangunan pada software Tekla Structure 17.0. Tahapan penggunaan task manager pada program Tekla Structure 17.0. Tata cara analisis jalur kritis serta kinerja waktu proyek. Prosedur atau tahapan dalam memproses jadwal perencanaan dengan menggunakan Microsoft Office Project Manager

sehingga dapat diketahui kegiatan kritis proyek. 2. Persiapan penelitian

Pada tahap ini dilakukan penentuan lokasi penelitian dan data-data yang dibutuhkan agar mempermudah dalam pelaksanaan penelitian. Selain itu dilakukan pula pemasangan aplikasi program Tekla Structure serta Tekla BIM Sight dan Microsoft Office Project Manager pada laptop yang akan digunakan. 3. Pengumpulan Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa

softcopy dokumen proyek yaitu kurva S, data jadwal perencanaan dan jadwal realisasi kegiatan proyek pembangunan serta data Detail Engineering Design

(DED)dalam format dwg dan pdf hasil rancangan software AutoCAD. 4. Pengolahan Metode Jalur Kritis

Pada tahap ini dilakukan pengolahan data kegiatan struktur proyek dengan program Microsoft Project sehingga terlihat aktivitas yang termasuk kegiatan kritis. Kegiatan kritis tersebut akan terlihat berdasarkan tampilan jalur kegiatan yang berwarna merah.

5. Pemodelan 4 Dimensi (4D) Komponen Struktur dengan Tekla Structures Pada tahap ini dilakukan pemodelan gambar yang hanya berupa komponen struktur menggunakan Program Tekla Structures. Pemodelan yang telah dilakukan dalam bentuk 2D dengan AutoCAD diolah kembali dengan menjadikan model 4D di Tekla Structures. Adapun tahap pemodelan yang dilakukan sebagai berikut:

a. Pembuatan Grid

Grid digunakan sebagai acuan koordinat untuk melakukan pemodelan. Hal ini berguna untuk memudahkan dalam menempatakan komponen struktur seperti kolom, balok, pelat, shear wall, dan lain-lain. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:

1. Pada software Tekla structures dilakukan login dengan memilih

environment dan role sesuai kebutuhan, sedangkan license dipilih full. Jenis

environment harus dipilih sesuai dengan lokasi pembangunan namun masih belum ada pilihan negara Indonesia sehingga dipilih UK.

2. Create new model dipilih kemudian dapat dibuat file baru yang akan digunakan untuk membuat pemodelan.

3. Grid pada Tekla dibuat dengan memilih tab modeling lalu create grid, kemudian dimasukkan jarak antara grid dan label pada setiap grid seperti pada Gambar 5.

(24)

9

Gambar 5 Tahap Pemodelan Grid pada Tekla

b. Pemodelan Pondasi

Tahapan menampilkan model pondasi pada Tekla, yaitu:

1. Pada Tekla structure dibuka library pemodelan berbagai macam komponen bangunan yang tersedia.

2. Pada tab detailing dipilih component kemudian component catalog. 3. Jendela baru yang terbuka menunjukan beberapa jenis pemodelan

kemudian foundation dipilih sesuai dengan kebutuhan gambar.

4. Concrete Foundation umumnya digunakan untuk pemodelan tiang pancang pondasi. Pemilihan dan pemodelan pondasi terlihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Tahapan pemodelan podasi bangunan c. Pemodelan Kolom

Tahapan pemodelan kolom beton adalah sebagai berikut:

1. Pada tab modeling dipilih create concrete colomn, kemudian colomn

diletakan pada posisi grid sesuai dengan gambar DED.

(25)

10

3. Contoh pemodelan kolom dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Pemodelan kolom pada software Tekla Strucutres

4. Variasi warna menunjukan dimensi dan tulangan kolom yang berbeda. Adapun pada Lampiran 5 menjelaskan jenis dan warna kolom yang digunakan pada pemodelan.

d. Pemodelan Balok

Tahapan pemodelan balok beton adalah sebagai berikut:

1. Pada tab modeling dipilih create concrete beam, kemudian beam diletakan pada posisi grid dengan menarik garis dari ujung kolom dengan kolom berikutnya sesuai seperti gambar rencana DED.

2. Karakteristik seperti ukuran dan warna beam tersebut dapat diubah-ubah dengan melakukan klik dua kali pada gambar balok sehingga muncul kotak properties. Pada pemodelan balok berwarna kuning menunjukan balok utama sedangkan balok berwarna merah menunjukan balok anakan. Contoh pemodelan balok dapat dilihat pada Gambar 8.

(26)

11 e. Pemodoelan Slab

Pemodelan slab atau pelat beton, yaitu:

1. Pada tab modeling dipilih create concrete slab kemudian dipilih titik awal menggambar slab diikuti dengan titik-titik pojok slab yang lain. 2. Titik awal penggambaran slab dipilih kembali kemudian tombol tengah

mouse dipilih untuk menyelesaikan gambar.

3. Karakteristik seperti ukuran dan warna slab tersebut dapat diubah-ubah dengan melakukan klik dua kali pada gambar balok sehingga muncul kotak properties. Contoh pemodelan slab seperti pada Gambar 9.

Gambar 9 Pemodelan slab atau pelat pada Tekla Structures

f. Pemodelan Shear Wall

Tahapan pemodelan shear wall sebagai berikut:

1. Pada tab modeling dipilih create concrete panel kemudian dipilih titik awal dan titik akhir gambar shear wall.

2. Karakteristik seperti ukuran dan warna shear wall tersebut dapat diubah-ubah dengan melakukan klik dua kali pada gambar balok sehingga muncul kotak properties. Contoh pemodelan shear wall

seperti pada Gambar 10.

(27)

12

g. Pemodelan Tangga

Tangga yang dipakai pada pembangunan gedung RSUD Budhi Asih adalah tangga beton sehingga dilakukan pemodelan tangga beton sebagai berikut:

1. Slab atau pelat beton antara dua lantai dibuat terlebih dahulu untuk menghubungkan slab tangga.

2. Pada keyboard ditekan Ctrl+F, kemudian dipilih concrete stairs (7). 3. View pada Tekla diubah menjadi yz atau xz terlebih dahulu untuk

memudahkan pemodelan. Titik yang mengindikasikan level dari pijakan terendah dari tangga dipilih dan dihubungkan dengan titik yang mengindikasikan level dari pijakan teratas tangga, lalu tombol tengah mouse dipilih. Pemodelan tangga dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Pemodelan tangga beton pada Tekla Structures

h. Pengklasifikasian Model Organizer

Tahapan klasifikasi komponen bangunan dilakukan sebagai berikut: 1. Pada tab tools dipilih model organizer.

2. Object types dipilih dan dibuat new object types sehingga dapat dikategorikan setiap objek bangunan sesuai dengan kebutuhan.

3. Pada pembangunan Gedung RSUD Budhi Asih dilakukan pengelompokan seperti Gambar 12.

(28)

13 i. Penjadwalan Task Manager dan View Representation

Langkah-langkah penjadwalan yang terhubung dengan pemodelan pada task manager dilakukan sebagai berikut:

1. Pada model organizer yang telah ada dipilih salah satu objek seperti beam pada tahap 1 lalu tampilan objek diubah dengan menekan tombol Ctrl+5.

2. Pada objek tersebut diklik kanan dan shift kemudian dipilih show only selected kemudian pada tab tools klik task manager sehingga muncul tampilan kotak task manager.

3. Pada tahapan yang ada di task manager diklik kanan dan dipilih add selected object. Jadwal kegiatan pada task akan langsung terhubung dengan model gambar.

Gambar 13 Pemodelan task manager pada Tekla Structures

4. Objek gambar yang telah terhubung semua pada task manager

kemudian dapat dilihat tahapan pelaksanaannya dengan memilih tab view representation dan diklik object representation.

5. Object grup dipilih kemudian dibuat grup baru dengan beberapa konfigurasi sebagai berikut:

(29)

14

Gambar 14 Konfigurasi objek grup completed

b) Objek grup started dilakukan dengan pengaturan seperti Gambar 15. Lalu nama grup diubah menjadi started dan tombol

save as ditekan.

Gambar 15 Konfigurasi objek grup started

c) Objek grup not started dilakukan dengan konfigurasi seperti pada Gambar 16, lalu diberi nama not started dan tombol save as dipilih.

Gambar 16 Konfigurasi objek grup notstarted

d) Objek grup all dilakukan dengan konfigurasi seperti pada Gambar 17 kemudian diberi nama grup all dan dipilih tombol

save as.

Gambar 17 Konfigurasi objek grup group all

6. Semua konfigurasi yang telah dibuat kemudian dimasukan dalam

obejct representation. Pada kotak dialog object representation, diklik add row untuk menambahkan baris baru.

7. Pada kolom object group, dipilih grup objek “Completed” dari daftar.

Pada color column, dipilih warna untuk grup objek. Pada kolom

transparency, dipilih konfigurasi transparansi untuk berbagai grup objek (Started, Not Started, All).

8. Sebagai contoh konfigurasi, disajikan pada Gambar 18 Lalu konfigurasi representasi tersebut diberi nama task 3 dan di klik tombol save as.

9. Tampilan status pekerjaan proyek dapat dilihat dengan memilih tab

tools lalu project status visualization. Pilihan project status visualization tersebut merupakan konsep 4D yang digunakan pada

(30)

15

Gambar 18 Konfigurasi objek representasi

10.Pada kotak object representation dipilih file task kemudian diklik tombol

step untuk merubah tanggal review sehingga terlihat perubahan pada model seperti pada Gambar 19.

(31)

16

6. Menganalisis Bobot Kinerja

Pada tahapan ini, penelitian difokuskan untuk membandingkan bobot kinerja rencana proyek dengan bobot realisasi proyek. Berdasarkan deviasi yang dihitung kemudian dianalisis proyek pembangunan Gedung RSUD Budhi Asih mengalami keterlambatan atau percepatan.

7. Penyusunan Laporan Akhir

Pada tahap ini dilakukan penyusunan laporan akhir yang berisi keseluruhan proses yang sudah dikerjakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penerapan BIM Gedung RSUD Budhi Asih dengan Tekla Structures

Building Information Modeling atau Integrated Project Delivery adalah suatu sistem pemodelan berintelegensi yang memperlihatkan gedung, infrasturktur maupun sarana dan prasana terintegrasi dengan perencanaan, desain, serta sistem manajemennya. Menurut Roginski (2011), BIM merupakan proses inovatif dan efisien pengembangan informasi bangunan yang menggunakan model bangunan digital dan teknologi informasi. Model struktur bangunan yang dibuat pada penelitian ini adalah Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih, di daerah Cawang Jakarta Timur yang memiliki luas 13760.08 m2. Gedung tersebut merupakan perluasan bangunan dari gedung lama (gedung existing) RSUD Budhi Asih yang berlokasi di samping bangunan baru.

Pemodelan dilakukan dengan menggunakan software berbasis BIM yaitu

Tekla Structures serta dengan bantuan Tekla BIM Sight. Menurut Nurrafidin (2014),

Tekla dapat digunakan untuk menyimpan dan memanfaatkan semua analisa 4D, serta untuk mendeteksi jumlah dan penempatan tulangan secara cepat dan akurat. Pada dasarnya pengerjaan pada Tekla Structures meliputi 2 hal yaitu modeling dan

drawing. Modeling adalah proses pembuatan suatu project di dalam tiga dimensi, sedangkan drawing adalah proses persiapan gambar dari tiga dimensi (3D) menjadi dua dimensi (2D) yang siap di print out. Software Tekla structure menggunakan grid sebagai layout utama dalam proses pengerjaan model bangunan dengan 3 garis sumbu yaitu x, y, dan z. sumbu x dan y merepresentasikan tampilan 2D dengan sumbu x garis horizontal dan sumbu y garis vertikal sedangkan z adalah elevasi yang menggambarkan ketinggian bangunan.

Proses penggambaran model bangunan Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih berdasarkan gambar Detail Engineering Design (DED) struktur dari pondasi, lantai basement hingga lantai 8 dan lantai atap gedung. Gedung RSUD Budhi Asih terdiri dari 9 lantai, 2 lantai basement dan 1 lantai mezzanine serta terhubung dengan gedung existing dari lantai 2 hingga lantai atap menggunakan jembatan connecting, dan zona RAMP dengan struktur bangunan menggunakan material beton. Adapun spesifikasi pelaksanaan proyek Gedung RSUD Budhi Asih menggunakan standar

American Concrete Institute (ACI) sebagai acuan perancangan struktur beton. Pekerjaan struktur untuk fisik bangunan pada proyek terdiri dari beberapa komponen yaitu pekerjaan pondasi, slab atau pelat, kolom, balok, shear wall dan

(32)

17 Pada komponen pondasi digunakan tiang pancang bored pile (Ø1000mm dan Ø800 mm) dengan kedalaman 24600 mm dan soldier pile (Ø800 mm) dengan kedalaman 20000 mm seperti pada Tabel 1. Pondasi soldier pile digunakan pada sisi luar bangunan untuk menahan tanah sekitar kemudian diikat dengan capping beam pada sepanjang soldier pile. Pondasi bored pile pada bagian atas diikat oleh

poor (pile cap) dengan dimensi yang berbeda-beda sesuai dengan gambar DED proyek. Struktur utama pondasi memiliki spesifikasi mutu beton slump 16-18 cm dan K300 sehingga pada properties diubah jenis material beton menjadi K300. Pemilihan environment pada Tekla akan berpengaruh terhadap spesifikasi komponen tersebut sehingga harus disesuaikan standar perancangan struktur dengan jenis environment yang dipakai.

Tabel 1 Detail pemodelan pondasi Gedung RSUD Budhi Asih Jenis Pondasi Diameter Tulangan Sengkang

Soldier Pile 800 mm 16D25 Ø 10-150 beton jenis K350, lalu pada as 10B-C dan E7-8 menggunakan dinding geser (shear wall) dengan spesifikasi yang sama berada pada lantai basement 2 hingga lantai 8 gedung baru. Dinding geser adalah dinding beton bertulang dengan kekakuan bidang datar yang sangat besar, yang ditempatkan pada lokasi tertentu (ruang lift

atau tangga) untuk menyediakan tahanan gaya/beban horizontal (Pranata dan Yosafat 2011).

Kolom utama terdiri dari beberapa dimensi yang berbeda sesuai dengan titik koordinatnya yang ada pada gambar DED. Kolom tersebut memiliki beberapa kelompok yaitu K1, K2, K3, K4, K5, K6, K7, dan K1A. Saat tahap pemodelan kolom perubahan dimensi terjadi sehingga ukuran kolom yang sama yaitu pada lantai 2 – lantai 4, kemudian lantai 5 – lantai 7 dan lantai 8 – atap seperti pada Lampiran 5. Spesifikasi mutu beton kolom sebesar K350 dengan slump 10-12 cm dan tidak berubah pada setiap kolom di seluruh lantai gedung. Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total seluruh struktur (Lukkunaprasit 2003).

(33)

18

Tabel 2 Detail pemodelan slab/pelat beton Gedung RSUD Budhi Asih

Slab Tebal (mm) Tulangan (mm) Lantai Mezzanine - Lantai

atap 120

D10-200 D10 -200

Balok utama dan balok anak digambarkan mulai dari lantai basement 1 hingga lantai 9 atap gedung dengan klasifikasi dimensi berbeda. Balok merupakan elemen struktur yang menyalurkan beban-beban tambahan (tributary) dari lantai (slab) ke kolom penyangga yang vertikal. Balok adalah suatu anggota struktur yang berfungsi memikul beban transversal dan menyalurkan beban ke kolom, selain itu untuk mengikat struktur bangunan (Nawy 1998). Balok pada gedung baru RSUD Budhi Asih dibagi berdasarkan jenis penulangan dan fungsinya yaitu menjadi balok utama (B1 sampai B25) dan balok anak (S1 sampai S10).

Secara garis besar hasil pemodelan gambar dapat dilihat spesifikasinya pada pilihan model organizer di Tekla Structures seperti yang terlihat pada Lampiran 1. Fitur model organizer memudahkan berbagai pihak untuk mengetahui informasi tiap komponen seperti spesifikasi beton, volume, level, profil atau ukuran, lokasi pada grid, dan properties lainnya. Komponen struktur pada model akan lebih mudah terlihat bila dikelompokan terebih dahulu pada model organizer sesuai kategori yang diinginkan seperti yang terlihat pada Lampiran 1. Pengelompokan gedung baru RSUD Budhi Asih diatur seperti tahapan pelaksanaan di jadwal rencana. Model organizer adalah salah satu kelebihan dari Tekla karena dengan menggunakannya pekerjaan menjadi lebih terklasifikasi dengan informasi jelas. Proses tersebut merupakan awal dari tujuan penerapan BIM pada pelaksanaan konstruksi.

Kelebihan yang ada pada sistem Building Information Modeling di Tekla Structures adalah penyampaian hingga 4 Dimensi berupa tampilan jadwal serta realisasi pelaksanaan proyek terhubung langsung dengan pemodelan. Tahap ini memanfaatkan task manager yang ada pada pilihan tools Tekla kemudian data jadwal perencanaan serta realisasi proyek dimasukan dalam program seperti yang terlihat pada Lampiran 2. Hal ini akan memudahkan proses penyampaian informasi kepada seluruh tim pelaksanaan serta memudahkan dalam membuat laporan kepada pihak pemilik proyek dan pengawas proyek. Pada proyek pembangunan gedung pengembangan RSUD Budhi Asih pelaksanaan pekerjaan dibagi menjadi beberapa

zoning seperti yang terlihat pada Gambar 20.

(34)

19 dilakukan secara bertahap pada zona 1, lalu zona 2, kemudian zona 3, dilanjutkan zona 4 dan pekerjaan terakhir pada lantai sama adalah RAMP kemudian pekerjaan baru akan naik ke lantai atas berikutnya.

Gambar 20 Pembagian zona pengerjaan bangunan RSUD Budhi Asih Adanya zoning memudahkan dalam tahap pelaksanaan seperti untuk proses pengecoran, pembesian, serta penginstalan mekanikal dan elektrikal. Zoning

(35)

20

Penjadwalan Proyek serta Metode Jalur Kritis (Critical Path Method)

Sistem penjadwalan dibuat memiliki tujuan untuk dapat mengatur dan mengendalikan waktu pelaksanaan kegiatan saat merealisasikan rencana. CPM akan memudahkan proses analisis kinerja waktu konstruksi dengan membagi setiap komponen kecil bersifat kritis menjadi milestone. Kritis artinya apabila proses pelaksanaan kegiatan tersebut terhambat maka akan berdampak besar bagi penyelesaian kegiatan suatu proyek sehingga akan terjadi keterlambatan secara menyeluruh. Analisis CPM pada penelitian ini menggunakan bantuan software Microsoft Project dengan hanya menggunakan jadwal perencanaan pekerjaan persiapan dan pekerjaan struktur pada Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih. Menurut Soeharto (1999), bila jaringan kerja hanya mempunyai satu titik awal (initial node) dan satu titik akhir (terminal node), maka jalur kritis juga berarti jalur yang memiliki jumlah waktu penyelesaian terbesar (terlama), dan jumlah waktu tersebut merupakan waktu proyek yang tercepat. Menurut Wowor et al. (2013), hubungan antar pekerjaan dalam proyek ini tidak semua sama. Ada pekerjaan yang mulai atau selesai bersamaan dan ada pula pekerjaan yang dimlai setelah beberapa hari pekerjaan lainnya selesai sehingga hubungan ketergantungan antar pekerjaan pada proyek ini adalah hubungan predecessor, yaitu hubungan terhadap aktivitas sebelumnya. Hubungan setelahnya terjadi setelah selesainya suatu aktivitas. Contohnya, pekerjaan interior dapat dimulai seterah pekerjaan atap selesai (Widiasanti dan Lenggogeni 2013).

Penjadwalan proyek pada tahap pelaksanakan bisa terlihat secara bertahap pada software Tekla menggunakan task manager. Data yang digunakan berupa jadwal rencana awal suatu kegiatan mulai berjalan dengan waktu akhir kegiatan tersebut selesai. Pembangunan gedung baru RSUD Budhi Asih dijadwalkan mulai sejak 9 Desember 2013 hingga awal Desember 2014 atau selama 52 minggu. Pada proyek gedung baru RSUD Budhi Asih pekerjaan struktur dilakukan selama 190 hari yang dimulai pada bulan Desember 2013. Adapun yang termasuk kedalam pekerjaan struktur yaitu:

1. Pekerjaan Pondasi: Bored pile, soldier pile, loading test, capping beam

2. Lantai Basement 2: Galian tanah basement, pile cap dan slab/pelat, kolom,

shear wall, tangga, urugan tanah kembali di luar dinding basement

3. Lantai Basement 1: Balok dan pelat, kolom, dinding geser/shear wall, tangga,

4. Lantai dasar / lantai 1: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 5. Lantai Mezzanine: balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 6. Lantai 2: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga

7. Lantai 3: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 8. Lantai 4: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 9. Lantai 5: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 10.Lantai 6: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 11.Lantai 7: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 12.Lantai 8: Balok dan pelat, kolom, shear wall, RAMP, tangga 13.Lantai Atap : Balok dan pelat, kolom

14.Lantai Atap Lift dan Tangga: Balok dan pelat 15.Separator Beam: Baja

(36)

21 17.Ground Tank: Galian tanah + buang, pasir urug, lantai kerja, pelat bawah,

dinding, pelat atas, pondasi genset 18.Sewage Pit.

Pengolahan jalur kritis pada kegiatan struktur memerlukan jadwal rencana pekerjaan persiapan. Hal tersebut disebabkan pekerjaan persiapan merupakan

predecessor pekerjaan struktur bawah seperti pondasi dan lantai basement. Salah satu contoh adalah pembersihan lahan yang merupakan predecessor pekerjaan pondasi bored pile. Adapun pekerjaan persiapan dimulai sejak awal Desember 2013 dengan selang waktu selama 346 hari. Kegiatan yang termasuk jalur kritis tidak dapat diketahui dengan hanya menggunakan Tekla Structure oleh karena itu dibutuhkan bantuan program Microsoft Office Project Manager. Pekerjaan yang termasuk kedalam tahap persiapan yaitu:

11.Mobilisasi peralatan dan alat berat 12.Demobilisasi peralatan dan alat berat 13.Pondasi TC

14.Dewatering 5 ttk 8 bln

15.Cleaning pit untuk pembersihan roda 16.Anti rayap.

Data yang telah dimasukkan ke dalam Microsoft Project berdasarkan jadwal rencana kerja proyek menunjukan kegiatan kritis ditandai dengan bagan yang berwarna merah sedangkan yang berwarna biru adalah kegiatan bukan kritis seperti. Secara garis besar pekerjaan struktur merupakan kegiatan yang termasuk ke dalam jalur kritis seperti yang terlihat pada Lampiran 7. Hal tersebut artinya pekerjan struktur seperti proses pengecoran, pembesian, maupun pasang bekisting pada komponen balok, kolom, pelat, shear wall, pondasi dan tangga tidak boleh mengalami keterlambatan. Pekerjaan struktur menjadi tahapan yang dikategorikan penting untuk diawasi. Adapun pekerjaan fisik bangunan pada persiapan dan struktur yang termasuk jalur kritis, yaitu:

1. Pekerjaan Persiapan: Pembersihan lapangan, air kerja, listrik kerja , demobilisasi peralatan dan alat berat

2. Pekerjaan Pondasi: Bored pile, soldier pile, loading test, capping beam

3. Basement 2: Galian tanah basement, pile cap dan pelat, kolom, shear wall

(tahap 4), tangga 2, urugan tanah kembali di luar dinding basement

4. Basement 1: Balok dan pelat (tahap 4), kolom, dinding geser/Shear wall

(tahap 4), tangga 2

5. Lantai Dasar: Balok dan pelat (tahap 4), kolom, shear wall (tahap 4), RAMP, tangga 2

(37)

22

7. Lantai 2: Balok dan pelat (tahap 1-4), kolom, shear wall (tahap 4), RAMP, tangga 2

8. Lantai 3: Balok dan pelat (tahap 1-4): kolom, shear wall (tahap 1-3), RAMP, tangga 2

9. Lantai 4: Balok dan pelat (tahap 1-3), kolom, shear wall (tahap 1-3), RAMP, tangga 2

10.Lantai 5: Balok dan pelat (tahap 1-3), kolom, shear wall (tahap 1-3), RAMP, tangga 2

11.Lantai 6: Balok dan pelat (tahap 1-3), kolom, shear wall (tahap 1-3), RAMP, tangga 2

12.Lantai 7: Balok dan pelat (tahap 1-3), kolom, shear wall (tahap 1-3), RAMP, tangga 2

13.Lantai 8: Balok dan pelat (tahap 1-3), kolom, shear wall (tahap 1-3), RAMP, tangga 2

14.Lantai Atap: Balok dan pelat (tahap 1-3), kolom (tahap 3) 15.Lantai Atap Lift dan Tangga: Balok dan pelat

16.Pekerjaan STP: Galian tanah + buang, pasir urug, lantai kerja, pelat bawah, dinding, pelat atas

17.Ground Tank: Galian tanah + buang, pasir urug, lantai kerja, pelat bawah, dinding, pelat atas, pondasi genset

18.Sewage Pit.

Hal selanjutnya yang dilakukan setelah diketahui pekerjaan kritis pada proyek dengan menggunakan Microsoft Project kemudian dibuat pemodelan 4 dimensi pada Tekla Structure. Kegiatan yang termasuk dalam pekerjaan persiapan dan pekerjaan struktur dimasukkan ke data task manager. Pada setiap lantai pekerjaan terbagi berdasarkan zona pelaksanaan seperti yang sudah dimodelkan pada model organizer seperti pada Lampiran 6.

Kinerja Waktu Pekerjaan Proyek

Menurut Abrar (2008), Standar kinerja waktu ditentukan dengan merujuk seluruh tahapan kegiatan proyek beserta durasi dan penggunaan sumber daya, dari semua informasi dan data yang diperoleh dilakukan proses penjadwalan sehingga akan ada output berupa format-format laporan lengkap mengenai progress waktu seperti Barchart, Network Planning, Kurva S dan kurva Earned Value. Data hasil di lapangan harus terus diperbaharui pada laporan kerja sehingga kemudian pada term yang telah ditentukan dapat diperoleh progres pekerjaan. Kurva S adalah gambaran yang menjelaskan tentang seluruh jenis pekerjaan, volume pekerjaan dalam satuan waktu dan ordinatnya adalah jumlah persentase (%) kegiatan pada garis waktu (Messah 2008).

Adapun pada suatu proyek umumnya akan terdapat berbagai kendala yang bisa menyebabkan keterlambatan proyek seperti cuaca, kelengkapan gambar yang kurang, komunikasi tim yang kurang baik, kesalahan pada tahap pelaksanaan. Menurut Muhtadi (2009), untuk dapat menghitung progress kita perlu mengetahui biaya yang diperlukan tiap kegiatan kemudian persentase setiap kegiatan dihitung dengan cara membagi harga tiap kegiatan dengan jumlah total.

(38)

23 disebabkan data biaya proyek tidak dapat diperoleh karena bersifat rahasia sehingga hanya diperolah data laporan kerja mingguan. Rencana awal yang dibandingkan dengan laporan mingguan atau bulanan yang telah dikerjakan sehingga terlihat nilai bobot rencana dan realisasi. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai upaya pengendalian kegiatan konstruksi di lapangan agar berjalan seperti yang direncanakan.

Kinerja waktu dianalisis secara keseluruhan pada tahapan pelaksanaan proyek. Kegiatan yang terdapat dalam kurva S untuk proses pembangunan gedung baru RSUD Budhi Asih terbagi menjadi beberapa pekerjaan, yaitu:

1. Pekerjaan persiapan

2. Pekerjaan struktur: Pondasi bored pile dan soldier pile, lantai basement 2, lantai

basement 1, lantai 1/lantai dasar, lantai mezzanine, lantai 2, lantai 3, lantai 4, lantai 5, lantai 6, lantai 7, lantai 8, lantai atap lift dan tangga, separator beam, STP, ground tank, sewage pit

3. Pekerjaan arsitektur: Pekerjaan dinding dan plesteran, pekerjaan waterproofing, pekerjaan pelapis lantai, pekerjaan pelapis dinding, pekerjaan plafond, pekerjaan kusen, daun pintu, dan jendela, pekerjaan sanitair, pekerjaan pengecatan, pekerjaaan fasada, pekerjaan lain-lain

4. Pekerjaan interior melekat: Pekerjaan kayu halus, pekerjaan dinding partisi, pekerjaan gawangan pintu utama

5. Pekerjaan sarana dan prasarana: Pekerjaan finishing kanopi drop off, finishing

tangga trap halaman, pekerjaan pagar, finishing dinding ground water tank, pekerjaan perkerasan jalan dan parkir, finishing pekerjaan luar, bangunan pos jaga parkir, pekerjaan penghijauan

6. Pekerjaan rehabilitasi gedung: Pekerjaan bongkaran, pekerjaan pasangan dinding, pekerjaan pasangan lantai, pekerjaan pengecatan, pekerjaan perbaikan instalasi listrik, pekerjaan kamar mayat, pekerjaan perbaikan ruang OK

7. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal: Sistem plumbing, sistem fire fighting, sistem fire suppression, sistem gas medis, sistem pneumatic tube, sistem tata udara dan ventilasi mekanis, sistem transportasi dalam gedung, gondola, sistem listrik dan penangkal petir, sistem diesel generating set, sistem penginderaan api, sistem tata suara, sistem teknologi informasi, sistem circuit close television

(CCTV), sistem nurse call, sistem antrian poly

8. Pekerjaan non konstruksi: Instalasi air PAM, pemasangan line telepon, dan penambahan daya listrik.

Menurut Nurrafidin (2014), deviasi pada kurva S memiliki arti perbandingan antara jadwal rencana dengan jadwal realisasi, ciri suatu pekerjaan mengalami keterlambatan, apabila garis kurva realisasi pekerjaan berada di bawah garis rencana pekerjaan atau apabila dalam satuan angka memiliki nilai angka yang negatif (-). Sebaliknya, suatu pekerjaan mendahului atau mengalami kemajuan pekerjaan lebih cepat apabila garis realisasi pekerjaan berada di atas kurva S rencana pekerjaan atau apabila dalam satuan angka memiliki nilai angka positif (+).

(39)

24

Desember 2013 hingga awal Desember 2014 atau selama 52 minggu. Berikut analisis kinerja waktu pelaksanaan proyek:

Kinerja Proyek selama 12 Bulan

Tabel 3 Bobot kinerja waktu proyek RSUD Budhi Asih selama 12 Bulan

Keterangan Total Bobot (%) Deviasi (%)

Rencana Bulan Realisasi Bulan

Waktu pelaksanaan proyek pembangunan bulan pertama adalah Desember 2013 menghasilkan deviasi bobot cukup besar yaitu 0.972%. Nilai deviasi diperoleh berdasarkan pengurangan total realisasi bobot mingguan dengan total rencana bobot mingguan. Nilai deviasi yang cukup besar dan positif menggambarkan bahwa proyek terlaksana dengan baik dan pekerjaan dilakukan lebih cepat atau lebih awal dari jadwal yang direncanakan. Adapun pekerjaan pada bulan pertama adalah: 1. Persiapan lahan seperti pembersihan lapangan

2. Pemasangan pagar proyek dan bouwplank

3. pembuatan direksi keet

4. Instalasi air kerja dan listrik kerja 5. Mobilisasi peralatan

6. Pembuatan barak pekerja

7. Gudang dan kantor kontraktor penyimpanan bahan 8. Dewatering 5 titik

9. Cleaning pit pembersihan roda, serta

10.Pekerjaan pemancangan tiang pondasi bored pile dan soldier pile.

(40)

25 yang bersamaan selama 14 hari. Menurut Wijaya et al. (2012), dalam menentukan durasi aktivitas pertama – tama penting untuk menetapkan jumlah pekerjanya, perhitungan durasi pekerjaan dapat diperoleh berdasarkan koefisien tenaga kerja pada SNI dengan rumus seperti persamaan (1).

�� � = � � � ���ℎ � � � � � ………(1)

aSumber: Wijaya et al. (2012).

Berdasarkan persamaan tersebut dengan mengetahui durasi pekerjaan pada jadwal rencana proyek RSUD Budhi Asih maka dapat diketahui jumlah pekerja yang dioperasikan pada pelaksanaan pembangunan. Jumlah pekerja yang digunakan dapat dihitung seperti pada persamaan (2). Apabila mengacu pada SNI mengenai Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2013 pada pekerjaan pembersihan lapangan nilai koefisien pekerja SNI (OH) diperoleh seperti Tabel 4.

�� �ℎ �� � � = � � � ��� � � ………(2)

Tabel 4 SNI AHSP (Analisis Harga Satuan Pekerjaan) Tahun 2013 pekerjaan 1 m2 pembersihan lapangan dan striping/korsekan

aSumber: SNI AHSP PU Tahun 2013.

Luas lahan yang dibersihkan pada proyek RSUD Budhi Asih adalah 7111.66 m2. Durasi penyelesaian selama 12 hari maka diperoleh jumlah pekerja serta alat yang digunakan seperti pada Tabel 5.

(41)

26

Sesuai dengan SNI Analisis Harga Satuan Pekerjaan Tahun 2013 diperoleh jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk membersihkan lapangan dengan luas 7111.66 m2 selama 12 hari adalah sebanyak 8 orang sedangkan alat yang dibutuhkan berupa 2 alat chainsaw. Kemudian terdapat pekerjaan yang selesai lebih awal seperti pekerjaan pembuatan barak pekerja yang seharusnya berlangsung selama 14 hari namun selesai dalam 12 hari. Waktu pelaksanaan yang lebih cepat tersebut dapat disebabkan oleh sumber daya yang dioperasikan lebih banyak dari rencana awal. Berdasarkan SNI Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2013 nilai koefisien (OH) untuk membuat barak pekerja adalah seperti Tabel 6.

Tabel 6 Berdasarkan SNI Analisis Harga Satuan Pekerjan (AHSP) tahun 2013 untuk 1 m2 pembuatan direksi keet

Uraian Satuan Koefisien

Pekerja OH 1.20

Tukang Tembok/batu OH 0.40

Kepala tukang batu OH 0.04

Mandor OH 0.05

aSumber: SNI AHSP PU Tahun 2013.

Luas barak pekerja yang digunakan adalah 70 m2 dengan durasi rencana awal selama 14 hari sedangkan pada realisasi terlaksana 12 hari. Apabila berdasarkan perhitungan SNI AHSP Tahun 2013 terhadap jumlah sumber daya yang digunakan diperoleh perbedaan seperti Tabel 7.

Tabel 7 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembuatan direeksi keet Uraian Satuan Koefisien Kuantitas Durasi

14 hari 12 hari

Percepatan pelaksanaan pekerjaan tersebut terjadi dengan menambahkan jumlah pekerja yang ada. Jumlah pekerja pada awal waktu perencanaan adalah sebanyak 10 orang sedangkan pada realisasi dioperasikan dengan total jumlah sumber daya manusia sebanyak 12 orang. Lalu pekerjaan pondasi bored pile

(42)

27 Tabel 8 Koefisien untuk membuat 1 m3 pondasi beton bertulang

Uraian Satuan Koefisien

Besar volume beton yang akan dicor pada pondasi bored pile adalah 223.98 m3 dengan durasi rencana 22 hari dan realisasi telah selesai selama 15 hari. Apabila ditinjau dari sumber daya tenaga kerja yang digunakan maka diperoleh perbedaan seperti pada Tabel 9.

Tabel 9 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembuatan pondasi beton bertulang Uraian Satuan Koefisien Kuantitas Durasi

22 hari 15 hari

Adanya penambahan sumber daya manusia dalam penyelesaikan pekerjaan podasi bored pile memungkinkan kegiatan tersebut selesai lebih cepat dari rencana awal. Sesuai dengan SNI 7394:2008 terhadap koefisien tenaga kerja untuk pekerjaan pondasi beton menghasilkan jumlah pekerja untuk durasi 22 hari sebanyak 88 orang sedangkan bila waktu dipercepat dibutuhkan hingga 128 orang. Kebutuhan sumber daya yang lebih banyak untuk melakukan percepatan durasi pengerjaan akan berdampak terhadap nilai bobot serta total biaya pengeluaran pada bulan pertama oleh karena itu biaya proyek pada awal waktu berjumlah lebih banyak. Pekerjaan pondasi gedung menurut Mulatama (2012), dengan spesifikasi beton K300 dapat terselesaikan dalam waktu 20 hari. Oleh karena itu pada bulan awal tidak terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan sehingga bobot realisasi bernilai lebih besar dibandingkan bobot rencana.

Pada bulan kedua pelaksanaan kegiatan deviasi bernilai lebih besar dibandingkan bulan pertama artinya pekerjaan proyek mengalami peningkatan. Grafik kurva S pada Lampiran 4 menunjukan perubahan titik setiap minggu yang terus meningkat. Jumlah bobot pekerjaan rencana pada bulan kedua yaitu 2.903 % lebih kecil dari bobot realisasi sebesar 5.175 %. Adapun pekerjaan yang dilakukan pada bulan kedua, yaitu:

1. Pondasi capping beam

(43)

28

3. Galian tanah lantai basement 2 4. Pondasi Tower Crane.

Pekerjaan pada bulan kedua mengalami keterlambatan selama satu hari pada galian tanah basement 2 yang seharusnya dikerjaan selama 22 hari menjadi 23 hari. Galian tanah mengalami keterlambatan dikarenakan adanya pipa PDAM yang tertanam di bawah tanah konstruksi sehingga dibutuhkan waktu untuk pemindahan jaringan pipa oleh pihak instansi PDAM. Penyebab galian yang terlambat tersebut merupakan faktor eksternal diluar kinerja sumber daya yang dioperasikan oleh pihak kontraktor pelaksana. Berdasarkan SNI AHSP (Analisis Harga Satuan Pekerjaan) Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2013 nilai koefisien pekerjaan untuk galian tanah berupa sumber daya manusia yaitu tukang gali sebesar 0.675 OH dan mandor sebesar 0.023 OH sehingga dari nilai tersebut diperoleh jumlah tenaga kerja seperti pada Tabel 10.

Tabel 10 Kebutuhan tenaga kerja untuk pekerjaan galian tanah basement 2 Uraian Satuan Koefisien Kuantitas Durasi Jumlah Pekerja Tukang gali OH 0.675 2054.8 m3 22 hari 63 orang

Mandor OH 0.023 2054.8 m3 22 hari 2 orang Berdasarkan SNI AHSP (Analisis Harga Satuan Pekerjaan) Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2013 dibutuhkan pekerja untuk galian tanah sebanyak 65 orang dalam 22 hari waktu pelaksanaan. Menurut Adianto et al. (2006), pekerjaan galian tanah dalam proyek gedung 3 lantai dapat selesai selama 21 hari sedangkan pada proyek RSUD Budhi Asih pekerjaan galian tanah selesai selama 23 hari. Adapun besar volume galian tanah pada proyek RSUD Budhi Asih adalah 2054.88 m3.

Selanjutnya pekerjaan caping beam dengan mutu K300 mengalami percepatan penyelesaian selama 4 hari yang seharusnya selesai dalam 22 hari menjadi 18 hari. Caping beam adalah balok yang digunakan untuk mengikat pondasi soldier pile di sekeliling dinding luar pondasi proyek. Berdasarkan SNI 7394:2008 mengenai Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton untuk Konstruksi Gedung dan Perumahan nilai koefisien untuk sumber daya pekerja balok beton bertulang adalah seperti pada Tabel 11.

Tabel 11 Koefisien untuk membuat 1 m3 balok beton bertulang (200 kg besi +

(44)

29

Tabel 12 Kebutuhan tenaga kerja untuk pembuatan caping beam

Uraian Satuan Koefisien Kuantitas Durasi 22 hari 18 hari

Berdasarkan perhitungan dapat terlihat akibat adanya penambahan sumber daya manusia, pelaksanaan kegiatan balok caping beam berjalan lebih cepat. Adapun jumlah pekerja yang digunakan saat durasi 22 hari adalah 46 orang sedangkan pada durasi realisasi selama 18 hari jumlah pekerja sebanyak 56 orang. Menurut Adianto et al. (2006), pekerjaan caping beam dalam gedung bertingkat tiga lantai dapat dilaksanakan selama 18 hari pengerjaan. Proses pengerjaan bagian

substructure atau pondasi harus diperhatikan ketepatan pelaksanaannya karena akan berdampak pada waktu awal pengerjaan berikutnya. Pekerjaan pondasi juga termasuk ke dalam pekerjaan kritis pada proyek ini sehingga sangat dibutuhkan perhatian lebih agar pengerjaannya sesuai rencana. Penundaan pekerjaan pada lintasan kritis akan langsung menyebabkan penyelesaian seluruh pekerjaan terlambat (Wartinah et al. 2013).

Pada bulan ketiga terlihat total realisasi bobot mingguan sebesar 2.148% lebih kecil dibandingkan dengan rencana bobot mingguan sebesar 3.390%. Hal ini menyebabkan nilai deviasi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, akan tetapi deviasi belum mengalami nilai negatif (-) sehingga kondisi realisasi proyek masih dalam keadaan baik. Adapun pekerjaan yang baru dimulai pada bulan ketiga:

1. Pemasangan pile cap

2. Slab lantai basement 2 3. Kolom lantai basement 2,

4. Shear wall tahap 1 lantai basement 2

5. Pekerjaan balok dan pelat tahap 1 pada lantai basement 1 6. Pekerjaan persiapan sewa tower crane dan genset.

Besar bobot realisasi yang lebih kecil dari bobot rencana pada bulan ini salah satunya diakibatkan adanya pekerjaan kritis predecessor yaitu galian tanah

basement yang pada bulan sebelumnya mengalami keterlambatan. Proses pengerjaan pile cap untuk pondasi bored pile direncakan selama 42 hari lalu pada pelaksanaannya selesai selama 43 hari sehingga terlambat 1 hari. Menurut Saputri (2013), pekerjaan konstruksi pile cap mutu K300 dengan 5 jenis bentuk yang berbeda dikerjakan selama 40 hari sedangkan pada proyek RSUD Budhi Asih terdapat 5 jenis pile cap mutu K300 telah selesai selama 43 hari.

Pekerjaan pengecoran shear wall mengalami keterlambatan penyelesaian selama tujuh hari sehingga pekerjaan baru selesai setelah 14 hari. Hal ini disebabkan truk pengangkut concrete mixer mengalami keterlambatan datang.

(45)

30

gedung bertingkat. Berdasarkan SNI 7394:2008 mengenai Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton untuk Konstruksi Gedung dan Perumahan untuk mengerjakan dinding beton koefisien pekerja yang digunakan bernilai seperti pada Tabel 13.

Tabel 13 Koefisien untuk membuat 1 m3 dinding beton bertulang

Uraian Satuan Koefisien

Berdasarkan nilai koefisien tersebut dapat dihitung jumlah SDM yang digunakan pada pelaksanaan kegiatan pengecoran shear wall. Besar volume dinding beton yang dicor adalah 7.28 m3 dengan durasi awal selama 7 hari maka diperoleh banyaknya SDM seperti pada Tabel 14.

Tabel 14 Kebutuhan tenaga kerja untuk pekerjaan dinding beton bertulang Uraian Satuan Koefisien Jumlah Pekerja

Pekerja OH 5.300 6 orang

Hasil yang diperoleh menunjukan untuk pengecoran satu titik shear wall

dengan volume 7.28 m3 dibutuhkan 12 pekerja selama 7 hari sedangkan pada proses pelaksanaannya pekerjaan terlambat 7 hari. Kondisi tersebut menyebabkan secara tidak langsung tenaga kerja yang ada menganggur selama 7 hari sedangkan upah dibayar berdasarkan waktu kerja dalam satu hari. Hal tersebut lah yang salah satunya menyebabkan bobot kinerja realisasi lebih kecil dibandingkan bobot rencana sehingga pelaksana proyek mengalami kerugian. Pekerjaan shear wall pada lantai basement 2 terdapat di empat titik (SW-1, SW-2, SW-3, dan SW-4). Proses pengecoran beton dilakukan selama satu hari kemudian bekisting tetap didiamkan hingga 7 hari agar mengeras (Matondang dan Mulyana 2012), oleh karena itu pekerjaan pengecoran struktur utama yang terlambat sulit untuk dilakukan percepatan kecuali dengan menambahkan bahan kimia tertentu pada campuran material beton.

Gambar

Gambar 1 Integrasi pekerjaan dalam Tekla
Gambar 2 Hubungan Triple Constrain
Gambar 3 Lokasi proyek pembangunan Pengembangan Gedung RSUD Budhi Asih,
Gambar 4 Diagram alir tahapan penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait