• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Memecahkan Problem Siswa Kelas X dengan Metode Islami di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo Bantul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Memecahkan Problem Siswa Kelas X dengan Metode Islami di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo Bantul"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Memecahkan Problem Siswa Kelas X dengan Metode Islami

di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo Bantul

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) strata satu pada Prodi Komunikasi Penyiaran Islam

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh:

Hema Syariatillah NPM : 20120710037

FAKULTAS AGAMA ISLAM

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

THE ROLE OF GUIDANCE AND COUNSELING TEACHER TO SOLVE THE PROBLEMS OF STUDENTS GRADE X WITH ISLAMIC METHOD AT

MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) II YOGYAKARTA AND MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) WONOKROMO BANTUL

ABSTRACT

This research was related to the role of guidance and counseling teacher to solve the problems of students grade X with Islamic methods at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta and Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo Bantul. It aimed to: (1) Find out the role of guidance and counseling teacher at MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul, (2) Find out how the guidance and counseling practices were conducted at MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul, (3) Find out the approach used in the practice guidance and counseling by the teachers, and (4) Find out the problems of students grade X at MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul. This research was a qualitative research and was conducted at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul. The research subjects included: (a) Guidance and counseling teacher of MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul and (b) the students grade X at MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul. The data were collected through in-depth analysis, documentation, and observation .The data were then analyzed and described, therefore the research was a descriptive analysis research. The result found out that the role of guidance and counseling teachers at MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul was in accordance with comprehensive pattern. The practices of guiding and counseling by the teachers were conducted incidentally and as planned. The methods implemented both by MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo were General Principles of Guidance and Counseling (GPGC) and Islamic Guidance and Counseling (IGC). The problems occurred at MAN II Yogyakarta and MAN Wonokromo Bantul were totally different. The problems were mal adaptive, homesick, and recreation.

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia memiliki hakikat diciptakan dalam keadaan yang terbaik, termulia, tersempurna, dibandingkan makhluk lainnya, tetapi sekaligus memiliki hawa nafsu dan perangai atau sifat tabiat buruk, misalnya suka menuruti hawa nafsu, lemah, aniaya, terburu nafsu, membantah dan lain-lain, karena manusia dapat terjerumus ke dalam lembah kenistaan, kesengsaraan, dan kehinaan. Dengan kata lain, manusia bisa bahagia hidupnya di dunia maupun di akhirat, dan bisa pula sengsara atau tersiksa.

Mengingat berbagai macam sifat yang dimiliki manusia, maka diperlukan adanya upaya untuk menjaga agar manusia tetap menuju kearah bahagia, menuju kepada citranya yang terbaik (ahsani taqwiim) dan tidak terjerumus dalam keadaan yang hina (asfala saafiliin) sebagaimana telah Allah SWT lukiskan dalam QS At Tin : 4-6 yang berbunyi :

لا اإ نيلفاس لفسأ ان مث ميوقت نسحأ يف اسناا ا قلخ قل

او مآ ني

. نيتلا( . و م ريغ رجأ م لف احلاصلا اول ع

59

4

2

)

(6)

Selain memiliki sifat baik dan buruk, manusia juga memiliki beberapa unsur yang akan menentukan diri manusia sehingga menjadi insan yang baik atau buruk. Berikut beberapa unsur yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut ;

1. Unsur Jasmaniah (biologis)

Manusia memiliki unsur jasmaniah (biologis) yang mana manusia memiliki berbagai kebutuhan biologis yang harus dipenuhinya seperti makan, minum, menghirup udara, berpakaian, bertempat tinggal, dan sebagainya. Sebagaimana dalam Al Quran dijelaskan :

سفنأا اومأا نم صقن وجلا فو لا نم ئشب م نولب ل

بيصم م تباصأ ا إ ني لا نيرباصلا رشب ار ثلا

نإ اولاق

ه ا

. رقبلا( . وعجا هيلإ انإ

1

.

199

192

)

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ’innaa lillaahi wa

innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). (QS Al Baqarah, 2 : 155-156)

(7)

situasi dan kondisi lingkungan, yang bisa juga terjadi karena ulah tangan manusia.

2. Unsur Ruhaniah (psikologis/mental)

Sesuai dengan hakikatnya, manusia juga memerlukan pemenuhan kebutuhan rohaniah dalam arti psikologis. Seperti telah diketahui, manusia dianugerahi kemampuan rohaniah (psikologis) pendengaran, penglihatan dan kalbu, atau dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan kemampuan cipta, rasa dan karsa. Secara luas untuk bisa hidup bahagia, manusia memerlukan keadaan mental psikologis yang baik (selaras serta seimbang).

Dalam kehidupan nyata, baik karena faktor internal maupun eksternal, apa yang diperlukan manusia bagi psikologisnya itu bisa tidak terpenuhi atau dicari dengan cara yang tidak selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah. Di sisi lain, kondisi psikologis manusia pun (sifat serta sikap) ada juga yang lemah atau memiliki kekurangan. Sebagaimana dalam Al Quran disebutkan :

سفن ربأ ام

إ يب مح ام اإ ءوسلاب امآ سف لا إ ي

وفغ يب

ميح

.

(

فسوي

11

.

95

)

(8)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS Yusuf,12 : 53)1

Selain dua unsur yang dimiliki manusia seperti yang telah dijelaskan diatas, manusia juga memiliki 4 fungsi, antara lain sebagai makhluk Allah, sebagai makhluk individu, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk berbudaya.

1) Sebagai Makhluk Allah

Manusia merupakan makhluk Allah, ciptaan Allah dan secara kodrati merupakan makhluk religius atau pengabdi Allah, seperti tercermin dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :

هنا و ي عب اوبأف رطفلا ىلع همأ لت اسنإ لك

سم ا ( .ملس ف ني لسم اناك ف هناسج ي هنارص ي

مل

)

Tiap-tiap orang itu dilahirkan dari Rahim ibunya atas dasar fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, Majusi, apabila kedua orang tuanya itu Muslim, jadilah ia Muslim. (H.R. Muslim)

Dalam Al Quran juga disebutkan :

. اي ا لا ( بعيل اإ سناا نجلا تقلخ ام

91

.

92

)

(9)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS Adz Dzariyat, 51 : 56)

2) Sebagai Makhluk Individu

Secara kodrati setiap manusia merupakan wujud yang khas, yang memiliki pribadi (individu) sendiri, atau memiliki eksistensinya sendiri. Sebagaimana Al Quran menyebutkan :

إ

ر قلا ( قب ا قلخ ئش لك

94

.

45

)

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS Al Qamar, 54 : 49)

Segala sesuatu yang diciptakan Allah itu mempunyai kadar atau ukuran, dalam arti ukuran atau kadar masing-masing. Maksudnya, selain dalam penciptaan Allah menciptakannya dengan ukuran yang baik (harmonis), tetapi dengan juga kadar kemampuan masing-masing yang berbeda-beda. Berarti setiap sesuatu sebenarnya memiliki perbedaan dengan yang lain, bersifat khas, atau memiliki, “individual

differences.”2 Hal ini sejalan dengan hadist dibawah ini:

ح اموق ح ب تنأ ام

ضعبل اك اإ م لوقع هغلبتا اثي

م

) ملسم ا ( . تف

(10)

Tidaklah engkau berbicara dengan satu kaum tentang suatu pembicaraan yang diluar kemampuan akal mereka, kecuali hal tersebut akan menimbulkan fitnah. (H.R.Muslim)3

Sebagai individu, berarti pula setiap manusia bertugas memperhatikan dirinya sendiri, segala kepentingannya sendiri, bukan hanya kepentingan orang lain. Sebagaimana dijelaskan firman Allah :

ل تلا ىلإ م ي يأب اوقلت ا ه ليبس يف اوقفنأ

ني سح لا بحي ه إ او سحأ

.

رقبلا (

1

.

159

)

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Baqarah, 2 : 195)

3) Sebagai Makhluk Sosial

Manusia secara kodrati juga hidup memerlukan

bantuan orang lain. Bahkan manusia baru akan ‘menjadi

manusia’ manakala berada di dalam lingkungan dan

berhubungan dengan manusia (makhluk sosial). Hal ini dijelaskan dalam Al Quran di bawah ini :

(11)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

(QS Al Hujurat, 49 : 13) 4) Sebagai Makhluk Berbudaya

Manusia menciptakan kebudayaan dengan segala unsurnya (ilmu, teknologi, seni, dan sebagainya) untuk mengelola alam itu dengan sebaik-baiknya. Manusia

menurut Islam, merupakan ‘khalifah di muka bumi’,

artinya manusia berfungsi sebagai pengelola alam dan memakmurkannya. Berikut firman Allah yang menjelaskan tentang makhluk ini :

. ه م اعي ج

أا يف ام او سلا يف ام م ل ر س

يثاجلا (

49

..

5

.)

Dan Dia menundukkan untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya.

(QS Al Jastiyah, 45 : 3)4

Allah mengkaruniai akal dan hati selain beberapa unsur yang telah disebutkan diatas. Keduanya akan digunakan oleh manusia untuk menentukan dirinya menjadi insan yang berperangai baik atau buruk. Maka dari itu, perlunya peran bimbingan dan konseling untuk memberi

(12)

arahan kepada makhluk yang bernama manusia tersebut. Hal ini dijelaskan

sabda Rasul oleh Nu’man bin Basyir yang dimuat dalam hadist Arba’in

pada urutan keenam ;

...

سف سف ا إ هلك سجلا حلص تحلص ا إ غضم سجلا يف إ اأ

) ملسم ا ( .بلقلا يه اأ هلك سجلا

…..Ingatlah sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati. (HR Muslim)

B. Pokok dan Rumusan Masalah 1. Pokok Masalah

Penelitian ini akan difokuskan kepada peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam memecahkan problema siswa kelas X dengan metode Islami di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut ;

a. Apa saja peran guru BK di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul?

b. Bagaimanakah pelaksanaan kegiatan BK di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul?

(13)
(14)

BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui peran guru BK di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

b. Mengetahui bagaimana pelaksanaan kegiatan BK di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

c. Mengetahui pendekatan yang digunakan dalam praktek konseling guru BK.

d. Mengetahui problem apa saja yang terjadi di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul khususnya di kelas X.

B. Manfaat Penelitian

a. Secara praktis, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi para bimbingan konseling dan pengelola MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

(15)

BAB III

KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

A.Kerangka Teori 1. Peran

a. Definisi peran (role)

Kata peranan menurut kajian sosiologis, merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran.1

Istilah “peran” menunjukkan bahwa masyarakat

‘mempunyai lakon’, bahkan masyarakat adalah lakon itu

sendiri. Masyarakat adalah suatu lakon yang masih actual, lakon yang besar, yang terdiri dari bagian-bagian dan pementasannya diserahkan kepada anggota-anggita masyarakat.2

Linton membedakan dua aspek peran sosial, yakni aspek “posisional” yang statis (yang secara menyesatkan disebutnya

sebagai “status”) dan aspek dinamis perilaku peran itu sendiri.

Dalam teori sosial Parsons, peran didefinisikan sebagai harapan-harapan yang diorganisasi terkait dengan konteks

1 Soerjono soekanto. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Press. Cet VIII. Hlm. 220

(16)

interaksi tertentu yang membentuk orientasi motivasional individu terhadap yang lain. Melalui pola-pola kultural, cetak biru, atau contoh perilaku ini orang belajar mengenai siapa

mereka di depan orang lain dan bagaimana mereka harus bertindak terhadap orang lain.3

b. Unsur-unsur peran

Peran merupakan pola perilaku yang dikaitkan dengan status atau kedudukan. Peran ini dapat diibaratkan dengan peran yang ada dalam suatu sandiwara yang pemainnya mendapatkan tugas untuk memainkan sebagian atau seluruh bagian cerita yang menjadi tema sandiwara tersebut. Sebagai pola perikelakuan, peran mempunyai beberapa unsur, antara lain;4

1) Peran ideal, sebagaimana dirumuskan atau diharapkan oleh masyarakat terhadap status-status tertentu. Peran ideal tersebut merumuskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang terkait pada status-status tertentu. 2) Peran yang dianggap oleh diri sendiri. Peran ini

merupakan suatu hal yang harus dilakukan individu pada situasi tertentu. Artinya, seorang individu menganggap, bahwa dalam situasi-situasi tertentu (yang

3

Iman Santosa. 2013. Sosiologi The Key Concepts. Jakarta : Rajawali Press. Cet 2. Hlm. 228

4

(17)

dirumuskan sendiri), dia harus melaksanakan peran tertentu.

3) Peran yang dilaksanakan atau dikerjakan. Ini merupakan peran yang sesungguhnya dilaksanakan oleh individu di dalam kenyataannya yang terwujud dalam perikelakuan yang nyata. Peran yang dilaksanakan secara actual senantiasa di pengaruhi oleh system kepercayaan, harapan-harapan, persepsi, dan juga kepribadian individu yang bersangkutan.

c. Hambatan peran

Setiap warga masyarakat senantiasa mempunyai beberapa peran sekaligus. Peran tersebut mencakup juga peran ideal, peran yang dianggap oleh diri sendiri dan peran yang dilaksanakan. Tidak jarang situasi semacam ini mendatangkan kesulitan-kesulitan bagi pemegang peran.5

Penyebab adanya kesulitan bagi pemegang peran antara lain;

1) Sebagai pemegang beberapa peran sekaligus seseorang berhubungan dengan berbagai pihak yang juga mempunyai berbagai peran sekaligus.

2) Suatu peran tertentu menghendaki perilaku-perilaku yang berbeda.

(18)

3) Pemegang peran merupakan penghubung antara pihak yang memegang kekuasaan dengan pihak yang menjadi pengikut. Di satu pihak dia harus memenuhi keinginan pihak yang berada diatas dan pihak yang lain harus pula memenuhi kebutuhan pihak yang berada di bawah. Kalau dalam masyarakat sederhana-tradisional status yang dipentingkan (karena merupakan unsur yang dapat mempertahankan stabilitas sosial), maka pada masyarakat-masyarakat madya dan modern, peranlah yang cenderung lebih diutamakan. Peran inilah yang dapat dijadikan cermin identitas sosial seseorang dalam masyarakat maupun interaksi sosial.6

d. Jenis-jenis peran

Ada 4 jenis peran yang perlu kita fahami :

1) Basic role yakni peran dasar, yang menetukan hamper seluruh cara hidup seseorang. Peran ini didasarkan atas kenyataan dasar dan tidak dapat diubah. Misalnya, peran sebagai pria dewasa, wanita dewasa, dan sebagainya. 2) General role atau peran umum, yakni peran yang secara

luas mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam kebanyakan situasi sosial. Misalnya, peran sebagai ibu, ayah, pegawai dan sebagainya.

6

(19)

3) Independent role yakni peran yang dipilih secara bebas oleh seseorang dan tidak banyak mempengaruhi peran-peran lain.

4) Transient role yakni peran sementara. 7

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa konselor termasuk kategori general role karena konselor berperan dalam memberi nasihat, mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam kebanyakan situasi sosial, dan lain sebagainya.

2. Bimbingan Konseling (BK) a. Pengertian Bimbingan

Menurut Arifin secara etimologi kata bimbingan merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “guidence”. Kata

guidence” adalah kata dalam bentuk mashdar (kata benda)

yang berasal dari kata kerja “to guide” artinya menunjukkan,

membimbing, atau menuntun orang lain ke jalan yang benar. Jadi, kata “guidence” berarti memberi petunjuk, pemberian

bimbingan atau tuntunan kepada orang lain yang membutuhkan.

7

(20)

Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan. Namun, walaupun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan. Misalnya, ada seorang mahasiswi datang kepada dosen wali sebagai pembimbing akademiknya menyampaikan bahwa sampai saat ini terakhir pembayaran uang SPP hari ini, uang kirimannya belum datang, kemudian deosen pembimbing akademiknya meminjamkan mahasiswi tersebut uang untuk pembayaran SPP, tentu bantuan ini bukan termasuk bentuk yang dimaksudkan dengan pengertian bimbingan (guidence).8

Menurut DR Rachman Natawidjaja pengertian bimbingan secara terminology, adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta kehidupan umumnya. Dengan demikian, ia dapat mengecap kebahagiaan hidup dan dapat memberikannya sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya. Bimbingan membantu individu

8

(21)

mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial. 9

b. Pengertian Konseling

Istilah konseling berasal dari kata “counseling” adalah kata dalam bentuk mashdar dari “to counsel” secara etimologi berarti “to give advice” atau memberikan nasihat dan saran. Konseling juga memiliki arti memberikan nasihat; atau memberi anjuran kepada orang lain secara tatap muka (face to face). Jadi, counseling berarti pemberian nasihat atau penasihatan kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan tatap muka (face to face). Pengertian konseling dalam bahasa Indonesia juga dikenal dengan istilah penyuluhan.

Menurut Hallen, istilah bimbingan selalu dirangkaikan dengan istilah konseling. Hal ini disebabkan bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan yang integral. Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan diantara beberapa teknik lainnya, namun konseling juga bermakna “the heart of guidance program” (hati dari program

bimbingan). Menurut Ruth Strang, bahwa “guidance is

breader, counseling is most importance tool of guidance.

9

(22)

(Bimbingan itu lebih luas, sedangkan konseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan). 10

Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru pembimbing/ konselor dengan klien, dengan tujuan agar klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya, dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kea rah perkembangan yang optimis, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial. 11

c. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Secara lebih khusus, sebagaimana diuraikan Minalka (1971). Program bimbingan dilaksanakan dengan tujuan agar anak bimbing dapat melaksanakan hal-hal berikut;

1) Memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuan dirinya.

2) Memperkembangkan pengetahuan tentang dunia kerja, kesempatan kerja, serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu.

(23)

3) Memperkembangkan kemampuan untuk memilih, mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang ada secara bertanggung jawab.

4) Mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri orang lain. 12

d. Fungsi Bimbingan dan Konseling

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa bimbingan dan konseling bertujuan agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya, dan mampu merencanakan masa depannya. Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada peserta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Oleh karena itu, pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling.

Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, fungsi pemeliharaan dan pengembangan dan fungsi advokasi.

1) Fungsi Pemahaman

(24)

Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik. Fungsi pemahaman ini meliputi:

a) Pemahaman tentang diri peserta didik sendiri, terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya, dan guru pembimbing.

b) Pemahaman tentang lingkungan peserta didik, termasuk didalamnya lingkungan keluarga dan sekolah terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya, dan guru pembimbing. c) Pemahaman tentang lingkungan yang

lebih luas (termasuk didalamnya informasi pendidikan, informasi jabatan / pekerjaan, dan informasi sosial dan budaya / nilai-nilai), terutama oleh peserta didik.

2) Fungsi Pencegahan

(25)

terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat menganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan, kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya. Beberapa kegiatan bimbingan yang dapat berfungsi pencegahan antara lain: program orientasi, program bimbingan karier, program pengumpulan data, dan program kegiatan kelompok.

3) Fungsi Pengentasan

Istilah ini digunakan sebagai pengganti istilah fungsi kuratif atau fungsi terpeutik dengan arti pengobatan atau penyembuhan. Tidak digunakannya kedua istilah tersebut karena istilah itu berorientasi bahwa peserta didik yang dibimbing (klien) adalah orang “sakit” serta

untuk mengganti istilah “fungsi perbaikan” yang

mempunyai konotasi bahwa peserta didik yang dibimbing (klien) adalah orang yang “tidak

baik” atau “rusak”. Dalam pelayanan bimbingan

(26)

“sakit” atau “rusak” sama sekali tidak boleh

dilakukan. Melalui fungsi pengentasan ini pelayanan bimbingan dan konseling akan tertuntaskan atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik, baik dalam sifatnya, jenisnya, maupun bentuknya. Pelayanan dan pendekatan yang dipakai dalam pemberian bantuan ini dapat bersifat konseling perorangan ataupun konseling kelompok.

4) Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan

(27)

5) Fungsi Advokasi

Yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pembelaan (advokasi) terhadap peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana yang terkandung di dalam masing-masing fungsi tersebut. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil yang hendak dicapai dapat diidentifikasi dan dievaluasi dengan jelas.

Secara keseluruhan, jika semua fungsi tersebut telah terlaksana dengan baik, dapatlah dikatakan bahwa peserta didik akan mampu berkembang secara wajar dan mantap menuju aktualisasi diri secara optimal pula. Keterpaduan semua fungsi tersebut akan sangat membantu perkembangan peserta didik secara terpadu pula.13

e. Bentuk – Bentuk Bimbingan dan Konseling

Pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia yang semakin kompleks,

(28)

maka bimbingan dan konseling pun berkembang sesuai kehidupan masyarakat.

Jika dilihat dari segi bidangnya, bimbingan dan konseling dapat dibedakan menjadi beberapa macam;

1) Vocational Guidance (VG)

Menurut Winkle, yaitu bimbingan dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan / profesi, dalam mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan tersebut dan dalam menyesuaikan diri dengan tuntunan-tuntunan dalam bidang pekerjaan tertentu. Dewasa ini kerap digunakan “bimbingan

jabatan” atau “bimbingan karier”.

(29)

mengakibatkan frustasi serta kegagalan dalam pelaksanaan tugas hidupnya.

2) Educational Guidance (EG)

Yaitu bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, mengatasi kesukaran dalam belajar, dan juga memilih jenis / jurursan sekolah lanjutan yang sesuai.

Dalam bimbingan dan konseling edukasional tersebut, si pembimbing perlu mendapatkan informasi-informasi dari para guru dan kepala sekolah mengenai berbagai hal yang menyangkut minat, bakat, tingkat kemampuan, serta kegiatan anak dalam belajar di dalam kelas maupun diluar kelas (kampus) dan sebagainya.

Menurut Glenn E. Smith, data informasi mengenai terbimbing sekurang-kurangnya meliputi ;

a) Background data, yaitu yang berhubungan dengan latar belakang kehidupan terbimbing sampai dengan kehidupan keluarga.

(30)

berhubungan dengan kondisi kesehatan serta jasmaninya.

c) Psychological data, yaitu yang menggambarkan kehidupan ruhaniah, termasuk data kecerdasan dan sebagainya.

d) Social environmental data, yaitu yang berhubungan dengan lingkungan dimana ia hidup.

e) Activity and achievement data, yaitu menggambarkan tentang kegiatan serta kemajuan belajar anak bimbing. f) Educational vocational data, yaitu

yang berhubungan dengan pendidikan serta kemajuan belajar anak bimbing selama ini.

3) Personal – Social Guidance (PSG)

(31)

kesukaran yang timbul dalam pergaulan dengan orang lain (pergaulan sosial), karena kesukaran semacam ini biasanya dirasakan dan dihayati sebagai kesulitan pribadi.

Dalam memberikan personal-social guidance, seorang pembimbing membutuhkan fleksibilitas yang tinggi dan kesabaran yang besar. Di satu pihak ia harus menunjukkan pengertian terhadap situasi konkret dari klien (anak bimbing), dan di pihak lain ia harus membantu klien untuk mengambil suatu manfaat dari berbagai pengalaman yang lampau dan melihat ke depan, ke masa yang akan datang. “Bimbingan pribadi” termasuk dalam

usaha-usaha berikut ini ;

a) Memberikan informasi kepada klien mengenai beberapa fase perkembangan dan berbagai hal yang lazim dialami oleh anak-anak remaja putri.

(32)

c) Membuka kesempatan yang luas untuk berwawancara dengan konselor. Lajur pelayanan ini sangat bermanfaat.

d) Mengumpulkan data mengenai sifat-sifat kepribadian klien dan mengenai pergaulan sosialnya di lingkungannya.

4) Mental Health Guidance (MHG)

Yaitu suatu bimbingan yang bertujuan untuk menghilangkan faktor-faktor yang menimbulkan gangguan jiwa klien. Sehingga ia akan memperoleh ketenangan hidup ruhaniah yang sewajarnya seperti yang diharapkan.

Di dalam usaha memperoleh “klarifikasi”

ruhaniah, konselor kadang-kadang memerlukan pendekatan psikoterapis (penyembuhan jiwa), psikoanalitis (penganalisaan jiwa), klinis dan juga pendekatan yang berpusat pada keadaan pribadi klien (client centered approach) yang mana pendekatan ini mula-mula dikenalkan oleh Carl Rogers pada tahun 1942.

5) Religious Guidance (Bimbingan Keagamaan)

(33)

dengan masalah keagamaan, melalui keimanan menurut agamanya. Dengan menggunakan pendekatan keagamaan dalam konseling tersebut, klien dapat diberi insight (kesadaran terhadap adanya hubungan sebab akibat dalam rangkaian problem yang dialaminya) dalam pribadinya yang dihubungkan dengan nilai keimanannya yang mungkin pada saat itu telah lenyap dari dalam jiwa klien.14

3. Problem

Menurut KBBI, problem adalah masalah. Dalam hidup manusia pasti akan ada problem karena dengan problem, manusia akan menjadi dewasa namun dengan problem manusia juga akan menjadi stress karena tidak mampu menghadapinya. Ada beberapa jenis problematika individu, diantaranya;

a. Problematika individu dengan Tuhannya, ialah kegagalan seseorang melakukan hubungan interaksi vertical dengan Tuhannya, seperti sangat sulit untuk menghadirkan rasa takut, rasa taat dan rasa bahwa Dia selalu mengawasi perbuatan dan perilaku setiap individu, sehingga berdampak kepada rasa malas dan enggan melakukan ibadah dan kesulitan untuk

(34)

meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang dan dimurkai Tuhannya.

b. Problematika individu dengan dirinya sendiri, ialah kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nuraninya sendiri, yakni hati nurani yang selalu mengajak, menyeru, dan membimbing kepada kebaikan dan kebenaran Tuhannya, sehingga muncul sikap was-was, peragu, berprasangka buruk, lemah motivasi dan tidak mampu bersikap mandiri dalam melakukan segala hal.

c. Problematika individu dengan lingkungan keluarga, ialah kesulitan mewujudkan hubungan yang harmonis antara anggota keluarga, suami dan istri, orang tua dan putra-putrinya serta antar bersaudara, sehingga dari kondisi itu sering terjadinya pertengkaran antar pasangan suami dan istri, puncaknya terjadilah perceraian. Anak merasa tertekan dengan karakter dan system pendidikan dari kedua orang tuanya yang sangat keras, kaku dan otoriter, atau kedua orang tua yang selalu sibuk di luar rumah sehingga jarang terjadi komunikasi dan sang anak merasakan haus akan kelembutan, kasih saying dan ketauladanan dari kedua orang tuanya.

(35)

dan tanggung jawab, sedangkan problematika individu dengan lingkungan sosialnya adalah kesulitan melakukan adaptasi dengan lingkungan tetangga atau pergaulan yang sangat beraneka ragam watak, sifat dan perilaku.

Dari problem-problem itulah muncul keadaan stress dan depresi apabila seseorang tidak memiliki daya tahan mental dan spiritual yang tangguh. Keimanan yang lemah sangat rentan dan mudah tertimpa kedua keadaan itu. Utamanya adalah kekuatan iman dan ketakwaan pasti akan mengahasilkan daya tahan mental yang kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai problem hidup dan kehidupan.15

B. Tinjauan Pustaka

Adapun skripsi yang berkaitan dengan peran Bimbingan dan Konseling telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Listiana Indawati (2010) dari Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga dengan judul “Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling

Islam di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta”. Tujuan dari penelitian

ini adalah menjabarkan dan menganalisis mengenai efektifitas dari program pemberian layanan bimbingan dan konseling Islam di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Melihat dari keselarasan antara

15

(36)

pemahaman, sikap, dan perilaku pada diri siswa serta peran guru bimbingan dan konseling Islam, maka hasil penelitiannya adalah efektifitas layanan bimbingan dan konseling Islam di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta telah berjalan dan berhasil dengan baik.16

Penelitian lainnya juga dilakukan oleh Sudirman, dkk (2012) dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNP dengan judul “Peran Guru Bimbingan dan Konseling serta Peran Guru Mata Pelajaran Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran guru

bimbingan dan konseling serta peran guru mata pelajaran dalam mengatasi kesulitan belajar siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri se-Kota Pekanbaru. Adapun hasil penelitian ini disimpulkan sebagai berikut; 1) peran guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi kesulitan belajar siswa di sekolah menengah atas (SMA) negeri se-Kota Pekanbaru secara umum termasuk dalam kategori baik. 2) peran guru mata pelajaran dalam mengatasi kesulitan belajar siswa di sekolah menengah atas (SMA) Negeri se- Kota Pekanbaru secara umum termasuk dalam kategori baik. 3) kerjasama guru bimbingan dan konseling dengan guru mata pelajaran dalam mengatasi kesulitan

(37)

belajar siswa di sekolah menengah atas (SMA) negeri se-Kota Pekanbaru secara umum termasuk dalam kategori baik.17

Penelitian ini berbeda dengan penelitian Listiana Indawati (2010), dan Sudirman dkk (2012), karena penelitian ini fokus peran guru bimbingan dan konseling dalam memecahkan problem siswa kelas X di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

(38)

BAB IV

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran guru Bimbingan Konseling (BK) dalam memecahkan problem siswa kelas X dengan metode Islami di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul. Maka pendekatan yang peneliti anggap sesuai dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif.

Menurut Husaini, metode kualitatif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan (verstehen)1. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.

B.Lokasi dan Subyek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini memilih 2 lokasi, yaitu MAN II Yogyakarta yang beralamat jln KH. Ahmad Dahlan no. 130, Ngampilan, kota Yogyakarta, DIY serta MAN Wonokromo Bantul yang beralamat jln Imogiri Timur

1Usman Husaini dan Purnomo Setiadi Akbar. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara.

(39)

Km.10, Wonokromo, Pleret, Kec. Bantul, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

2. Subyek Penelitian

Adapun subyek / informan adalah guru BK MAN II Yogyakarta dan MAN Wonokromo Bantul, siswa kelas X MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

Teknik penentuan sample ditentukan dengan cara

snaw ball yang berarti berantai atau sesuai efek bola salju yang memungkinkan berkembang seiring penelitian berlangsung sesuai untuk menjawab permasalahan penelitian. Subyek penelitian diambil dari mereka guru Bimbingan Konseling (BK) dan siswa kelas X MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

C.Teknik Pengumpul Data

Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka diperlukan metode–metode yang relevan. Maka metode–metode tersebut sebagai berikut :

1. Wawancara Mendalam

(40)

yaitu peneliti mengajukan berbagai macam pertanyaan secara lisan kepada guru BK, siswa dan lain sebagainya.

Metode wawancara dipakai guna mencari dan memperoleh data tentang bagaimana proses peran guru BK dalam memecahkan problem siswa kelas X dengan metode Islami di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

2. Observasi

Dalam proses penelitian ini selain wawancara, peneliti juga menggunakan observasi yaitu peneliti mengamati langsung untuk memperoleh data yang lebih valid.

Tujuan observasi atau pengamatan yakni mengerti ciri–ciri dan luasnya signifikan dari interelasi elemen–elemen tingkah laku manusia pada fenomena sosial yang serba kompleks dalam pola–pola kultural tertentu.

Dengan metode observasi ini peneliti berusaha langsung mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik pada pihak sekolah MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul. Metode observasi ini sangat penting untuk melihat masalah – masalah tertentu yang sekiranya tidak dapat dilakukan dengan menggunakan metode seperti wawancara dan dokumentasi.

(41)

data tentang strategi yang digunakan oleh guru BK di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul. Metode ini dilakukan dengan teknik partisipan, dimana peneliti terjun langsung dalam kegiatan yang dilakukan. Observasi ini juga dilakukan untuk mengamati pelaksanaan peran guru BK dalam memecahkan problem siswa kelas X dengan metode Islami di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

3. Dokumentasi

Dokumentasi juga merupakan salah satu metode yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data berupa catatan, arsip, peta atau gambar sehingga diperoleh data yang valid mengenai peran guru BK di MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul.

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan berbagai macam data yang berkaitan dengan sekolah MAN II Yogyakarta & MAN Wonokromo Bantul berupa sejarah berdirinya kedua sekolah tersebut dan lain sebagainya.

D. Keabsahan Penelitian

(42)

mengubah, mamperluas informasi dari pelaku satu ke pelaku lain atau dari satu pelaku sampai jenuh. Hal ini akan dilakukan dengan beberapa cara yaitu menggunakan multimetode untuk saling mendukung dalam memperoleh data, melakukan snow ball dari sumber informasi satu ke informasi yang lain. (3) pengecekan oleh sejawat atau orang yang dianggap ahli dalam bidang atau fokus yang sedang diteliti. (4) pembuktian yaitu cara yang ditempuh oleh peneliti untuk memberikan bukti atau dukungan terhadap data yang diperoleh. Hal ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan daya ingat - lihat – dengar peneliti. Untuk itu dapat digunakan instrument bantu berupa catatan lapangan (fieldnots), perekam suara, dan alat foto. E. Analisis Data

Analisis data proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan – bahan lain, sehingga dapat mudah difahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit – unit, melakukan sintesa, menyusun dan memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. 2

(43)

Metode ini peneliti gunakan untuk menganalisa dan menginterpretasikan data yang berupa fakta – fakta dari hasil penelitian yang tidak berwujud angka. Setelah memperoleh data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi, maka dalam menganalisis data menggunakan uji analisis non statistic. Langkah selanjutnya adalah mengklarifikasikannya sesuai dengan permasalahan yang diteliti, kemudian data – data tersebut disusun dan dianalisa dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif.

Data yang terkumpul kemudian akan dianalisis. Dalam hal ini analisis akan dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu analisis ketika di lapangan dan analisis pasca lapangan.

1. Analisis ketika di lapangan akan dilakukan dengan teknik induksi, yaitu analisis terhadap data yang diperoleh pada penulisan laporan sementara yang ada di fieldnote.

2. Analisis pasca lapangan diantaranya ; a. Menggunakan fieldnote.

b. Mengklarifikasi data dari fieldnote sesuai dengan focus peneliti.

(44)
(45)

1

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Gambaran Umum MAN II Yogyakarta

a. Sejarah MAN II Yogyakarta

Tahun 1950 Sekolah Guru Agama Islam Putri (SGAIP) berdiri dan bertempat di Gedung SD Netral, jalan Malioboro yang dipimpin oleh Ibu Sri Atinah (almh). Melalui SK Menteri Agama No. 162/A/C9, tanggal 25 Agustus 1950 SGAIP resmi menjadi sekolah Negeri. Tahun 1954 SGAIP berubah menjadi Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA) bertempat di Jalan K.H.Ahmad Dahlan No. 130, Ngampilan, Yogyakarta. Pada tahun 1971, PGAA berubah menjadi PGAN Putri 6 tahun. Pada tahun 1978, PGAN 6 tahun berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN). MTsN menepati gedung sendiri di daerah Giwangan, Umbulharjo yang kini menjadi MTsN Yogyakarta II, dan MAN sendiri kini disebut MAN II Yogyakarta, masih menepati gedung lama. Gedung lama tersebut merupakan gedung yang bersejarah karena pada masa pemerintahan Indonesia pindah di Yogyakarta gedung tersebut menjadi Kantor Menteri Agama.1

(46)

2

b. Letak Geografis MAN II Yogyakarta

MAN II Yogyakarta berlokasi di jln. KH. Ahmad Dahlan no. 130, Nagampilan, kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak MAN II Yogyakarta ini sangat strategis, karena madrasah ini terletak di pusat keramaian kota dan juga dekat dengan Lampu Isyarat Lalu Lintas atau traffic light. Untuk sampai di MAN II Yogyakarta sangatlah mudah karena banyak transportasi yang mendukung, mudah dijangkau oleh kendaraan besar ataupun kecil, kendaraan beroda dua atau lebih. Adapun batas wilayah MAN II Yogyakarta adalah sebagai berikut :

1. Sebelah Barat : kurang lebih 25m ke barat terletak

traffic light yang berdampingan dengan terminal bis pariwisata. 2. Sebelah Timur : kurang lebih 50m ke arah timur

terletak PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Sebelah Utara : kurang lebih 200m ke utara terletak pelayan SAMSAT Yogyakarta. 4. Sebelah Selatan : kurang lebih 150m ke selatan terletak

Pondok Pesantren Mu’allimat

Muhammadiyah Yogyakarta.

(47)

3

seperti ; Taman Pintar, Taman Budaya, Mall Malioboro, museum batik, benteng Veredeburg, Istana Presiden, masjid kauman dan alun-alun utara. Selain itu, dekat dengan hotel-hotel yang biasanya ditempati oleh para wisatawan ketika berkunjung ke Yogyakarta.2 c. Visi dan Misi Madrasah

1) Visi dan Misi Madrasah a) Visi

Taqwa, Islam, Unggul Dalam Prestasi dan Berwawasan Lingkungan.

b) Misi

(1) Mewujudkan MAN II Yogyakarta “The Real Islamic

Social”.

(2) Membekali peserta didik menjadi manusia berilmu, bertaqwa dan berakhlaqul karimah.

(3) Mewujudkan pelayanan prima dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan.

(4) Mewujudkan lingkungan madrasah yang bersih, sehat, aman dan nyaman.

d. Jumlah siswa

Jumlah siswa keseluruhan di MAN II Yogyakarta adalah 582 orang. Terdiri dari kelas X berjumlah 194 orang, kelas XI

(48)

4

(49)

5

(50)

6

2. Gambaran Umum Guru BK di MAN II Yogyakarta

a. Visi dan Misi Bimbingan dan Konseling MAN II Yogyakarta 1) Visi

Visi Layanan Bimbingan & Konseling di MAN II Yogyakarta adalah Taqwa, berbudaya, mandiri dan bahagia. 2) Misi

a) Misi Pendidikan, yaitu menfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian secara Islami dan masa depan.

b) Misi pengembangan, yaitu menfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan madrasah, keluarga dan masyarakat.

c) Misi pengentasan masalah, yaitu menfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari secara Islami.

b. Sarana prasarana BK a) Sarana dan Prasarana

(51)

7

digunakan untuk pelaksanaan berbagai jenis kegiatan layanan bimbingan dan konseling baik individu maupun kelompok sesuai dengan azas-azas dan kode etik bimbingan dan konseling.

b) Sedangkan sarana dan prasarana berisi fasilitas dan perlengkapan yang mendukung terhadap keterlaksanaan program bimbingan dan konseling. Sarana yang akan digunakan dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling meliputi ;

a) Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes, yaitu : (1) Instrumen/Aplikasi DCM

(2) IKMS (Identifikasi Kebutuhan dan Masalah Siswa) (3) Sosiometri

(4) Inventori Motivasi Belajar

(5) Alat Penelusuran Minat Peserta Didik MAN II Yogyakarta

(6) Inventori Tugas Perkembangan (ITP) (7) Dokumen Hasil Tes Psikologi (8) Catatan Anekdot

(9) Rekapan data piket

(10) Non-tes Kecerdasan Emosional

(52)

8

(1) Cummulative Record

(2) Basis Data Prestasi Akademik (3) Daftar Peserta Didik Asuh

c) Kelengkapan penunjang teknis yaitu ;

(1) Data informasi meliputi : Peta Peserta Didik (2) Paket bimbingan meliputi : Paket Materi Klasikal (3) Alat bantu bimbingan meliputi : PPT, Poster d) Perlengkapan administrasi, yaitu ;

(1) Alat tulis

(2) Format rencana kegiatan (3) Blanko laporan kegiatan c. Jumlah guru BK

Jumlah guru BK di MAN II Yogyakarta sebanyak 3 orang diantaranya; ibu Umi Solikatun, S. Pd yang mengampu kelas X, ibu Dyah Estuti Tri Hartini, S. Pd mengampu kelas XII, Muhammad Feni, S. Psi mengampu kelas XI.

d. Pendidikan Para Guru

Adapun pendidikan para guru BK di MAN II Yogyakarta adalah sebagai berikut ;

a. Ibu Umi Solikatun, S. Pd => Sarjana Pendidikan (S1) b. Ibu Dyah Estuti Tri Hartini, S. Pd => Sarjana Pendidikan

(S1)

(53)

9

Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dalam tabel sebagai berikut ;

No Nama Guru BK Pendidikan Tugas Guru BK

1 Ibu Umi Solikatun, S. Pd

Sarjana Pendidikan (S1)

Mengampu kelas X

2 Ibu Dyah Estuti Tri Hartini, S. Pd

Sarjana Pendidikan (S1)

Mengampu kelas XII

3 Bapak Muhammad Feni, S. Psi

Sarjana Psikologi (S1)

Mengampu XI

e. Syarat Menjadi Guru BK

Sejalan dengan Al Quran dan Hadist, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pembimbing bimbingan dan konseling Islami adalah sebagai berikut ;

(54)

10

Terdapat dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, yang berbunyi ;

. عاسلا ر تناف هلهأ ريغ ىلإ رمأا س ا إ

. ا بلا ا

Artinya:

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya ”. (HR. Bukhori)3

b) Sifat kepribadian yang baik (al Akhlaqul al Karimah)

Hal ini juga dijelaskan dalam QS An Nisa : 105, yang berbunyi ;

حتل قحلاب ات لا كيلإ ا ل نأ انإ

م

ه ا أ ا ب سا لا نيب

ن ت ا

.ا يصخ ني ئا لل

ءاس لا

105

Artinya :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab

kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang-orang yang tidak bersalah karena membela orang-orang yang khianat”. (An Nisa : 105)

(55)

11

c) Kemampuan kemasyarakatan (berukhuwah Islamiyah).

Hal ini terdapat dalam QS Al Imran : 112 yang berbunyi;

نم لبح ه نم لبحب اإ اوفقث ا يأ ل لا م يلع تبرض

: ار ع ا .سا لا

111

Artinya:

“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada,

kecuali jika mereka berpegang kepada tali agama Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (Ali Imran : 112)

d) Ketaqwaan pada Allah4

Hal ini terdapat dalam QS Al A’raf : 26 yang berbunyi ;

سابل اشي م تآوس اوي اسابل م يلع ا ل نأ ق آ ي ب اي

ريخ كل وقتلا

: فارعأا . رك ي م لعل ه ايآ نم كل

12

Artinya:

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah

menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang lebih baik. Yang demikian itu adalah

4Prof. DR. H. Thohari Musnamar, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan & Konseling Islami,

(56)

12

sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah

mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al A’raf : 26)

Syarat-syarat diatas adalah syarat mutlak bagi guru-guru BK di MAN II Yogyakarta. Selain syarat diatas para guru BK diharuskan mengikuti pelatihan-pelatihan sebagai upaya pengembangan potensi dan keahlian yang ada pada dirinya dalam menjalankan fungsinya disamping juga menjadi pegawai negeri sebagai ikatan formal struktural dalam sistim pendidikan nasional. Untuk bisa mengikuti berbagai macam pelatihan, guru BK MAN II Yogyakarta bergabung dengan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) dan Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). Dengan mengikuti forum tersebut, guru BK diwajibkan untuk mengikuti pelatihan selama 15 kali yang dilakukan secara insidental.

f. Tugas Pokok Guru BK di MAN II Yogyakarta

Adapun tugas pokok guru BK di MAN II Yogyakarta adalah memberikan berbagai macam layanan tarbawi sesuai kebutuhan siswa. Guru BK harus mampu berperan sebagai teman, sebagai problem solving, sebagai orang tua, dan lain sebagainya.

1. Gambaran Umum MAN Wonokromo Bantul a. Sejarah MAN Wonokromo Bantul5

(57)

13

Pada tahun 1962 di desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul telah mendirikan Lembaga Pendidikan dengan

nama “PGA Bapendan” (Pendidikan Guru Agama Badan

Pendidikan An-Nahdloh) atas prakarsa para sesepuh/tokoh/ulama, antara lain :

a. Bpk. Raden H. Irsyad (almarhum), waktu itu dia menjabat sebagai Lurah Desa Wonokromo.

b. Bpk. Kyai Ja’far Salim (alm). c. Bpk. Raden Muhdi (alm).

d. Bpk. Badawi Abdul Rohman (alm).

e. Bpk. Bakhiroh Mahfudz (alm). Bpk. Zainuri Ismail.

(58)

14

NU. Dalam proses lebih lanjut PGA Bapendan Wonokromo mengalami perubahan dan pergantian nama dan Kepala Madrasah sebagai berikut ;

No Nama Sekolah Tahun Nama Kepala Sekolah

Ket

1 PGA Bapendan Wonokromo

1962-1968

Basuni, SH

2 PGA Lat Tarb Wonokromo

1968-1970

KH. Muh Syifa

Bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

3 PGAN 6

Tahun Wonokromo

1970-1978

Ahmad Arwan Bauis, BA

4 MAN Wonokromo Bantul

1978-1980

Ahmad Arwan Bauis, BA

5 MAN Wonokromo Bantul

1980-1989

Drs. Wahnan Br Seda

6 MAN Wonokromo

1989-1991

(59)

15

Bantul

7 MAN Wonokromo Bantul

1991-1996

Drs. Fadhil

8 MAN Wonokromo Bantul

1996-2004

Drs. Komari Zaman

9 MAN Wonokromo Bantul

2004-2008

Drs. Imam Sujai Fadly, M. Pd. I 10 MAN

Wonokromo Bantul

2008-2013

Drs. Mawardi, M.Pd. I

11 MAN Wonokromo Bantul

2013-2015

Drs. Rahmat Mizan, M.A.

12 MAN Wonokromo Bantul

2015-sekarang

Ali Asmu’I

S.Ag, M. Pd.

b. Letak Geografis MAN Wonokromo Bantul

(60)

16

dan juga dekat dengan lampu merah atau traffic light. Untuk sampai di MAN Wonokromo Bantul sangatlah mudah karena banyak transportasi yang mendukung karena mudah dijangkau oleh kendaraan besar ataupun kecil, kendaraan beroda dua atau lebih. Adapun batas wilayah MAN Wonokromo Bantul adalah sebagai berikut:

1.Sebelah Barat : Jalan Imogiri Timur 2.Sebelah Timur : SD Negeri Jejeran 3.Sebelah Utara : SMP Negeri 1 Pleret

4.Sebelah Selatan : Jalan Menuju Kecamatan Pleret Di samping itu, MAN Wonokromo Bantul juga letaknya dikelilingi oleh beberapa pondok pesantren yang mana pondok tersebut menjadi tempat tinggal sebagian besar siswa MAN Wonokromo Bantul. Adapun beberapa pondok tersebut antara lain : Al-Wahbi, Al-Imam, Al-Fitroh, Miftahul Ulum, Al-Mahali, Baiqunniyah, Al-Futuh, dan lain-lain.6

c. Visi, Misi dan Tujuan MAN Wonokromo Bantul a)Visi Madrasah

Terwujudnya MATRA UTAMA, yaitu Siswa yang BeriMAn, TRAmpil, Unggul, berbasis Teknologi, berAkhlak mulia, Mandiri dan Asri.

b) Misi Madrasah

(61)

17

a) Mewujudkan generasi yang berkualitas tinggi dalam keimanan, sehat jasmani, dan rohani, peduli lingkungan dan berjiwa sosial

b) Menyelengggarakan program pendidikan yang berorientasi pada life skill

c) Membekali dan mendidik siswa sehingga mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif

d) Memberikan pelayanan pendidikan yang inovatif berbasis teknologi informasi

e) Membekali siswa berjiwa enterpreuner

f) Mewujudkan lingkungan madrasah yang aman, sehat, rindang dan indah

c) Tujuan

Sejalan dengan dinamika yang berkembang MAN Wonokromo Bantul merumuskan tujuan sebagai berikut ;

(62)

18

b) Membekali siswa dengan keterampilan (life skill) agar dapat menembus dunia kerja, mandiri dan tidak menjadi beban bagi masyarakat.

c) Meningkatkan sarana prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar sesuai perkembangan zaman. d) Meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan. e) Meningkatkan koordinasi semua stakeholder dan pihak

lain yang terkait. d. Struktur Organisasi Sekolah

Struktur organisasi MAN Wonokromo Bantul dipimpin

oleh Ali Asmu’I, S.Ag, M.Pd. kemandirian untuk memperlancar

tugasnya dibantu oleh bagian TU, sebuah lembaga semi otonom yang dikepalai oleh Yuni Kriswati, S.H., sebagai wakil Madrasah Urusan Kurikulim dijabat oleh Mulyantara, S.Pd, Urusan Kesiswaan oleh H. Syaefulani, S.Ag.M.Pd. Urusan Saranaa Prasarana oleh H.M.Hadiyudin, S.Ag., dan Urusan Hubungan Masyarakat oleh Drs. H. Syamsul Huda.

(63)

19

Untuk keberhasilan dalam menjalankan tugas MAN Wonokromo Bantul dalam mengambil keputusan diambil melalui jalan musyawarah. Oleh karena itu penyelenggara rapat di sekolah merupakan suatu hal yang penting untuk saling komunikasi dalam hubungannya dengan fungsi-fungsi organisasi sekolah pada umumnya. Setiap kegiatan yang akan dilakukan, baik secara kelompok maupun perorangan dalam rangka kegiatan sekolah, sebelumnya merupakan hasil permusyawaratan atau yang telah diputuskan dalam rapat atau musyawarah.

e. Sasaran Madrasah

Adapun sasaran MAN Wonokromo Bantul, antara lain; 1) Meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar. 2) Meningkatkan kegiatan kesiswaan.

3) Meningkatkan tersedianya sarana prasarana yang menunjang kegiatan belajar.

4) Meningkatkan kinerja dan prestasi guru dan pegawai.

5) Meningkatkan hubungan dan kerjasama yang baik dengan pihak-pihak yang terkait.

f. Strategi Pengembangan

(64)

20

1) Penambahan jam, pengayaan intensif dan pengembangan kompetensi pada mata pelajaran yang terkait dengan Ujian Nasional masuk perguruan tinggi.

2) Intensifikasi program remedial.

3) Latihan dasar metodologi ilmiah dan penyusunan karya tulis siswa.

4) Praktek laboratorium dengan jam khusus IPA. 5) Kegiatan ekstrakulikuler.

6) Field study (studi lapangan)

7) Outbond atau pengembangan kepribadian.

8) Mengefektifkan kegiatan belajar mengajar dengan metode dan media yang variatif melalui kegiatan lesson study.

g. Jumlah siswa

Jumlah siswa keseluruhan di MAN Wonokromo Bantul berjumlah 631 orang. Terdiri dari kelas X berjumlah 249, kelas XI berjumlah 187, kelas XII berjumlah 195 orang.

2. Gambaran Umum Guru BK di MAN Wonokromo Bantul a.Visi dan Misi Bimbingan dan Konseling

1) Visi Bimbingan dan Konseling

(65)

21

memiliki wawasan kewirausahaan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT

2) Misi Bimbingan dan Konseling

a) Memberikan layanan BK yang optimal untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan melalui bimbingan dan kegiatan keagamaan

b) Memberikan layanan pembelajaran untuk meningkatkan prestasi akademik dan non akademik melalui kegiatan peningkatan mutu pembelajaran dan sarana pembelajaran

c) Memberikan layanan BK yang produktif untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik melalui kegiatan pengembangan potensi diri

d) Memberikan layanan melalui Construktivisme Learning untuk meningkatkan keterampilan dan apresiasi peserta didik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, budaya dan seni

e) Memberikan layanan bimbinga keolahragaan dan keagamaan untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani

(66)

22

g) Memberikan layanan yang bersifat pengembangan pendidikan melalui informasi dan teknologi

b. Jumlah Guru BK

Jumlah guru BK di MAN Wonokromo Bantul adalah sebanyak 3 orang yang mana setiap orangnya mengampu setiap kelas, di antaranya ; Budi Raharjo, S. Pd mengampu kelas X, Dra. Himmah Hidayatun, S. Pd mengampu kelas XI, Arief R. Anzaruddin, S. Pd mengampu kelas XII.

c. Struktur Organisasi Unit Layanan Bimbingan Konseling MAN Wonokromo Bantul

d. Pendidikan Para Guru

Komite Madrasah

H. Hidayatu Rohman, S. Pd

Konselor Kelas X (Sekretaris UPBK)

Budi Raharjo, S. Pd

Guru & Karyawan

Siswa Madrasah Drs. H. Rahmat Mizan, MA

Waka Bidang Kesiswaan

Mulyantara, S. Pd

Ketua UPBK

Konselor Kelas XI (Bendahara UPBK)

Konselor Kelas XII (Operasional UPBK)

Dra. Himmah Hidayatun, S. Pd Arief R. Anzaruddin, S. Pd

(67)

23

Adapun pendidikan para guru BK di MAN Wonokromo Bantul adalah sebagai berikut ;

1) Bapak Budi Raharjo, S. Pd => Sarjana Pendidikan (S1) 2) Dra. Himmah Hidayatun, S. Pd => Sarjana Pendidikan

(S1)

3) Arief R. Anzaruddin, S. Pd => Sarjana Pendidikan (S1) Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dalam tabel sebagai berikut ;

No Nama Guru BK Pendidikan Tugas Guru BK

1 Bapak Budi Raharjo, S. Pd

Sarjana Pendidikan (S1)

Mengampu kelas X

2 Dra. Himmah Hidayatun, S. Pd

Sarjana Pendidikan (S1)

Mengampu kelas XI

3 Arief R.

Anzaruddin, S. Pd

Sarjana Pendidikan (S1)

(68)

24

e. Syarat Menjadi Guru BK

Sejalan dengan Al Quran dan Hadist, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pembimbing bimbingan dan konseling Islami adalah sebagai berikut ;

1) Kemampuan profersional (keahlian)

Terdapat dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, yang berbunyi ;

. عاسلا ر تناف هلهأ ريغ ىلإ رمأا س ا إ

. ا بلا ا

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan

ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya ”. (HR. Bukhori)7

2) Sifat kepribadian yang baik (al Akhlaqul al Karimah)

Hal ini juga dijelaskan dalam QS An Nisa : 105, yang berbunyi ;

حتل قحلاب ات لا كيلإ ا ل نأ انإ

ا أ ا ب سا لا نيب م

ه

.ا يصخ ني ئا لل ن ت ا

ءاس لا

05

1

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab

kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu

(69)

25

mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang-orang yang tidak bersalah karena membela orang-orang yang khianat”.

(An Nisa : 105)

3) Kemampuan kemasyarakatan (berukhuwah Islamiyah).

Hal ini terdapat dalam QS Al Imran : 112 yang berbunyi ;

نم لبح ه نم لبحب اإ اوفقث ا يأ ل لا م يلع تبرض

.سا لا

: ار ع ا

111

“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka

berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali agama Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (Ali Imran : 112)

4) Ketaqwaan pada Allah8

Hal ini terdapat dalam QS Al A’raf : 26 yang

berbunyi ;

8Prof. DR. H. Thohari Musnamar, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan & Konseling Islami,

(70)

26

سابل اشي م تآوس اوي اسابل م يلع ا ل نأ ق آ ي ب اي

وقتلا

ريخ كل

. رك ي م لعل ه ايآ نم كل

: فارعأا

12

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah

menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang lebih baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

(Al A’raf : 26)

Syarat-syarat diatas adalah syarat mutlak bagi guru-guru BK di MAN II Yogyakarta. Selain syarat diatas para guru BK diharuskan mengikuti pelatihan-pelatihan sebagai upaya pengembangan potensi dan keahlian yang ada pada dirinya dalam menjalankan fungsinya disamping juga menjadi pegawai negeri sebagai ikatan formal structural dalam sistim pendidikan nasional. Agar para guru BK bisa mengikuti berbagai pelatihandi setiap bulannya, mereka ikut program PGMP. Selain itu, guru BK di MAN Wonokromo ini mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Kecamatan, Kabupaten, Departemen Agama (Depag), Profinsi.

(71)

27

Adapun tugas pokok guru BK di MAN II Yogyakarta adalah memberikan berbagai macam layanan tarbawi sesuai kebutuhan siswa. Guru BK harus mampu berperan sebagai teman, sebagai problem solving, sebagai orang tua, dan lain sebagainya.

3. Gambaran Umum Problem di MAN

a. Gambaran Umum Problem di MAN II Yogyakarta

(72)

28

rekreasi dimana siswa tersebut menuntut kebebasan. Sedangkan problematika yang terjadi sebagian besar adalah masalah belajar dalam kelas.9

b. Gambaran Umum Problem di MAN Wonokromo Bantul

Menurut Bapak Budi, problem yang terjadi di MAN Wonokromo Bantul khususnya di kelas X seperti masalah kepribadian (kurang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang bisa memenej waktu dengan baik), kemudian masalah sosial (bergaul dengan teman sebaya), kedisiplinan. Selain itu, problematika yang terjadi adalah motivasi belajar namun hal ini terjadi hanya pada beberapa siswa saja (kira-kira 10% jika diprosentasekan). 10

B. Peran Guru Bimbingan Konseling (BK) 1.Peran Ideal Guru BK

Peran guru BK menjadi salah satu hal penting dan prinsip dalam memecahkan problem siswa di sekolah. Selain menjadi hal penting, peran ideal guru BK juga menjadi sebuah kemutlakan. Peran ideal guru BK baik

9 Wawancara dengan Ibu Umi Solikatun

,

S. Pd pada tanggal 24 Juni & 10 Agustus 2016

10 Wawancara dengan Bapak Budi .,(Guru BK pengampu kelas X) di MAN Wonokromo Bantul

(73)

29

di MAN II Yogyakarta dan MAN Wonokromo Bantul berpijak pada basis kerangka layanan bimbingan konseling komprehensif yang meliputi perangkat tugas perkembangan komprehensif, kecakapan hidup, nilai dan moral peserta didik dalam rangka mencapai tataran tujuan bimbingan dan konseling, seperti ; penyadaran, akomodasi dan tindakan.

Dalam perjalanan proses di atas, guru BK tidak mungkin terlepas dari permasalahan yang kemungkinan muncul dari impact (efek) assesment

lingkungan dimana peserta didik hidup (konseli). Maka sangat diharapkan sekali kondisi ideal lingkungan konseli mampu memberikan assesment perkembangan pada pembentukan konseli yang ideal seutuhnya.

Dalam rangka merealisasikan tujuan ideal diatas, diperlukan beberapa komponen program yang berorientasi jangka panjang meliputi program pelayanan dasar dan konseling, pelayanan responsif dalam pemecahan masalah dan remediasi, pelayanan perencanaan individual berorientasi kedepan, seperti ; perencanaan pendidikan, karir, personal, sosial yang didukung oleh sistem mumpuni dalam aspek menejemen dan pengembangan.

(74)

30

informasi dan teknologi, sistem menejemen, evaluasi dan akuntabilitas serta pengembangan profesi.

Panduan peran ideal guru BK di MAN II Yogyakarta dan MAN Wonokromo Bantul diatas dapat dilihat melalui bagan dibawah ini :

2.Peran Aktual Guru BK

(75)

31

aktual guru BK yang sesuai dengan peran ideal, maka peneliti menguraikan beberapa fungsi bimbingan dan konseling sebaga

Gambar

Tabel 1

Referensi

Dokumen terkait

nilai Budaya untuk Meningkatkan Kemampuan Penyesuaian Diri Peserta Didik (Studi Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling Berbasis Nilai-nilai Budaya di SMA