i
EFEKTIVITAS MODEL
PROJECT BASED LEARNING
PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN
TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS VII SMP N 2 WELAHAN
Skripsi
disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
oleh Nur Khoiriyah
4401409058
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya menyatakan sebenar-benarnya bahwa skripsi saya berjudul “Efektivitas
Model Project Based Learning pada Materi Pencemaran Lingkungan terhadap
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 2 Welahan” disusun
berdasarkan hasil penelitian saya dengan arahan dosen pembimbing, bebas
plagiat, dan apabila di kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam skripsi ini,
maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Semarang, 27 Januari 2016
iii
PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul
Efektivitas Model Project Based Learning pada Materi Pencemaran Lingkungan terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 2 Welahan
disusun oleh
nama : Nur Khoiriyah NIM : 4401409058
telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA UNNES pada tanggal 27 Januari 2016.
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Prof. Dr. Zaenuri, S.E., M.Si., Akt. Drs. Endah Peniati, M.Si.
NIP 196412231988031001 NIP 196511161991032001
Ketua Penguji
Ir. Nana Kariada Tri M., M.Si. NIP196603161993102001
Anggota Penguji/ Anggota Penguji/
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si. Andin Irsadi, S.Pd., M.Si.
iv
ABSTRAK
Khoiriyah, N. 2015. Efektivitas Model Project Based Learning pada Materi Pencemaran Lingkungan terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 2 Welahan. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si. dan Andin Irsadi, S.Pd., M.Si.
Kata kunci: hasil belajar,pencemaran lingkungan, project based learning
Pendidikan perlu dikembangkan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa ke masa. Hal yang dapat dilakukan ialah melakukan perbaikan mutu pendidikan yaitu membuat inovasi pada pembelajaran dengan berlandaskan kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menekankan pada pembelajaran berpusat pada siswa (student
centered learning) namun observasi lapangan menunjukkan bahwa
pembelajaran belum berpusat pada siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan tujuan untuk mengidentifikasi efektivitas penerapan model
project based learning (PBL) terhadap peningkatan hasil belajar pada materi pencemaran lingkungan sebagai wujud suatu inovasi pembelajaran.
Keefektifan model PBL ditentukan oleh peningkatan hasil belajar yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Penelitian dikatakan efektif apabila siswa mengalami peningkatan pemahaman secara kognitif (ditunjukkan dengan analisis gain normalized dan ketuntasan belajar), menunjukkan sikap (afektif) yang positif dan memiliki keterampilan (psikomotor) yang baik setelah menerima pembelajaran dengan model PBL. Penelitian dilaksanakan di SMP N 2 Welahan Kabupaten Jepara pada semester genap tahun ajaran 2014/2015. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII sebanyak 6 kelas yaitu kelas VII A – VII F. Sampel penelitian adalah kelas VII E dan VII F yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
dengan judul “Efektivitas Model Project Based Learning pada Materi Pencemaran Lingkungan terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 2 Welahan”.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat disusun dengan baik karena adanya bantuan dari berbagai pihak yang dengan ikhlas telah merelakan sebagian waktu, tenaga, dan pikiran demi membantu penulis dalam menyusun skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi di UNNES.
2. Dekan Fakultas MIPA UNNES yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penyusunan skripsi.
3. Ketua Jurusan Biologi yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penyusunan skripsi.
4. Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si. dan Andin Irsadi, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing yang penuh kesabaran dalam membimbing, memberi arahan, motivasi, dan nasihat kepada penulis.
5. Ir. Nana Kariada, M.Si. dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran dalam menyusun skripsi ini.
6. Dra. Lina Herlina, M.Si. selaku dosen wali yang telah memberi motivasi kepada penulis.
7. Bapak/Ibu Dosen Jurusan Biologi yang telah banyak memberikan ilmu dan arahan kepada penulis.
vi
9. Guru Biologi SMP Negeri 2 Welahan, Hadi Subeno, S.Pd. yang memberikan arahan dan bimbingan saat penelitian.
10. Peserta didik kelas VII E dan VII F SMP Negeri 2 Welahan yang telah memberikan bantuan dalam pengambilan data penelitian.
11. Ayah tercinta Baslan, Ibu tersayang Sumiah dan Adik terkasih Amir yang selalu memberikan dukungan dan doa tanpa henti.
12. Teman-teman angkatan 2009 Biologi FMIPA UNNES terutama Ida Yuniati, Mardina, dan Sulis serta teman-teman kos An-Najma terima kasih untuk dukungan dan semangatnya.
13. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Semarang, 27 Januari 2016
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penellitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
1.5 Penegasan Istilah ... 4
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Belajar Menurut Konstruktivisme ... 6
2.2 Hasil Belajar ... 7
2.3 Model PBL ... 8
2.4 Kerangka Berpikir ... 11
2.5 Hipotesis Penelitian ... 12
3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 13
3.2 Populasi dan Sampel ... 13
3.3 Variabel Penelitian ... 13
3.4 Rancangan Penelitian ... 13
viii
3.6 Data, Metode dan Teknik Analisis Data ... 15
3.7 Analisis Data ... 16
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 26
4.2 Pembahasan ... 30
5. PENUTUP 5.1 Simpulan ... 39
5.2 Saran ... 39
DAFTAR PUSTAKA ... 40
ix
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Desain Penelitian One-group Pretest-postest ... 14
3.2 Jenis Data, Metode dan Teknik analisis ... 15
3.3 Hasil Uji Normalitas Populasi ... 16
3.4 Hasil Uji Homogenitas Populasi ... 17
3.5 Hasil Analisis Validitas Butir Soal Uji Coba ... 18
3.6 Kriteria Indeks Kesukaran Soal ... 20
3.7 Hasil Analisis Indeks Kesukaran Soal ... 20
3.8 Rekapitulasi Hasil Analisis Soal Uji Coba ... 21
3.9 Kriteria Skor Gain ... 23
3.10 Kriteria Ranah Afektif Siswa ... 24
3.11 Kriteria Ranah Psikomotor Siswa ... 24
3.12 Kriteria Tanggapan Siswa ... 25
4.1 Rekapitulasi Hasil Belajar Ranah Kognitif dan Ketuntasan Klasikal Kelas VII E dan VII F ... 26
4.2 Hasil Uji Normalitas Nilai Post-test Kelas VII E dan VII F ... 27
4.3 Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Kelas VII E dan VII F ... 27
4.4 Hasil Uji Gain Kelas VII E dan VII F ... 27
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Efektivitas Model Project Based
Learning pada Materi Pencemaran Lingkungan terhadap
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Data Nilai Mid Semester Genap ... 43
2. Uji Normalitas Populasi ... 45
3. Uji Homogenitas Populasi ... 51
4. Daftar Siswa Kelas Sampel Penelitian ... 52
5. Silabus ... 53
6. RPP ... 55
7. Kisi-kisi Soal Uji Coba ... 69
8. Soal Evaluasi (Soal Uji Coba) ... 70
9. Analisis Soal Uji Coba ... 79
10. Perhitungan Validitas Soal ... 81
11. Perhitungan Reliabilitas Soal ... 82
12. Perhitugan Indeks Kesukaran Soal ... 83
13. Kisi-kisi Soal Evaluasi (Pretest-posttest) ... 84
14. Soal Evaluasi ... 85
15. Kunci Jawaban Soal Evaluasi ... 91
16. Daftar Nilai Pretest ... 92
17. Lembar Diskusi Siswa ... 94
18. Kunci Jawaban LDS ... 98
19. Data Nilai Kegiatan Diskusi ... 100
20. Instruksi Tugas Proyek Daur Ulang ... 102
21. Rubrik Penilaian Proyek ... 103
22. Data Nilai Tugas Proyek ... 104
23. Rekapitulasi Nilai Proyek ... 105
24. Data Nilai Post-test ... 107
25. Ketuntasan Belajar ... 109
26. Uji Normalitas Nilai Post-test Kelas VII E dan VII F ... 113
27. Uji Kesamaan Dua Varians Kelas VII E dan VII F ... 115
xii
29. Kisi-Kisi Penilaian Afektif ... 120
30. Hasil Penilaian ranah Afektif ... 121
31. Lembar Penilaian Psikomotor ... 125
32. Penilaian Ranah Psikomotor ... 126
33. Kisi-kisi Angket Tanggapan Siswa ... 127
34. Hasil Tanggapan Siswa ... 128
35. Rekapitulasi Tanggapan Siswa ... 131
36. Dokumentasi Pekerjaan Siswa ... 132
37. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran ... 141
38. Dokumentasi Surat Ijin Penelitian ... 142
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu wadah yang berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, bermartabat, unggul dan berdaya saing. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat pada era modern ini dapat berpengaruh pada dunia pendidikan. Sistem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global (Mulyasa 2004). Sistem pendidikan harus didesain secara nyata untuk mempersiapkan generasi penerus yang mampu menghadapi tantangan masa depan. Salah satu upaya tersebut adalah dilakukannya perubahan atau perbaikan mutu pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan berarti pula peningkatan kualitas sumber daya manusia, oleh karena itu perlu dilakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan dari waktu ke waktu tanpa henti. Tiga hal yang perlu dilakukan dalam upaya perubahan dan pembaharuan guna meningkatkan kualitas pendidikan adalah pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektivitas model pembelajaran (Nuraeni et al. 2011). Pendidik dapat melakukan inovasi kegiatan belajar mengajar dengan tetap berlandaskan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
2
Hasil penelitian awal yang dilakukan di SMP N 2 Welahan melalui metode observasi menunjukkan bahwa pembelajaran IPA biologi masih berpusat pada guru. Penyampaian materi dilakukan dengan metode ceramah sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Hal ini mengakibatkan nilai hasil belajar siswa kelas VII SMP N 2 Welahan pada mid semester genap mata pelajaran IPA Biologi menunjukkan hanya 62% yang lulus kriteria ketuntasan minimal (KKM = 70). Keadaan semacam ini tidak sesuai dengan yang dikehendaki dalam tujuan pembelajaran KTSP dimana siswa dituntut peran aktifnya dalam membangun sendiri pengetahuan yang dipelajari. Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu adanya suatu upaya agar pembelajaran di dalam kelas berlangsung secara efektif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai yaitu dengan menerapkan model project based learning (PBL).
Model PBL merupakan salah satu pendekatan yang sesuai dengan paham konstruktivisme dimana siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk menginvestigasi dan merespon pertanyaan, permasalahan kompleks atau sebuah tantangan (Buck Institute for Education). Pada PBL siswa belajar aktif melalui aktivitas yang direncanakan pada pembelajaran. Siswa belajar secara kooperatif dengan siswa lain sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran menjadi tinggi. Siswa mencari tahu topik atau materi dengan mengajukan pertanyaan dan mengembangkan jawaban mereka sendiri.
Masalah pencemaran lingkungan dekat dengan rutinitas sehari-hari manusia. Beragam aktivitas manusia tidak bisa dipisahkan dengan produksi sampah dan limbah, misal bungkus makanan dihasilkan dari membeli sarapan, asap kendaraan bermotor dan sisa buangan industri masyarakat. Pemahaman tentang pencemaran lingkungan dan cara penanganannya diperlukan bagi siswa, sehingga penerapan model PBL dapat menjadi sarana tepat untuk memberikan pelajaran mengenai materi tersebut. Siswa dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman kongkrit tentang cara mengurangi sampah dan limbah melalui aktivitas proyek yang terdapat pada PBL.
Hasil penelitian penerapan model PBL oleh Bas (2011) menyatakan bahwa pelaksanaan kegiatan berbasis proyek dapat memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dilakukan penelitian dengan menerapkan model PBL dalam pembelajaran materi pencemaran lingkungan untuk mengetahui dan mengidentifikasi efektivitasnya terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah penelitian adalah bagaimana efektivitas penerapan model PBL pada materi pencemaran lingkungan terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Welahan?
1.3
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas penerapan model PBL pada materi pencemaran lingkungan terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor kelas VII SMP N 2 Welahan.
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Siswa
(1) Mendorong siswa untuk belajar biologi secara aktif, kreatif dan menyenangkan.
(2) Memudahkan siswa dalam memahami materi pencemaran lingkungan melalui kegiatan pembelajaran yang kontekstual sehingga hasil belajar siswa meningkat.
1.4.2 Bagi Guru
4
(2) Memberikan motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi dan model mengajar yang lebih bervariasi sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran.
1.5
Penegasan Istilah
1.5.1 Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang bermakna berhasil guna. Efektivitas model PBL pada penelitian ini didefinisikan sebagai keberhasilan penerapan model PBL dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang meliputi tiga ranah belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Penelitian dikatakan berhasil apabila siswa mengalami peningkatan pemahaman secara kognitif (ditunjukkan dengan analisis gain normalized dan ketuntasan belajar), menunjukkan sikap (afektif) yang positif dan memiliki keterampilan (psikomotor) yang baik setelah menerima pembelajaran dengan model PBL. 1.5.2 Model PBL
Model PBL pada penelitian ini ialah model pembelajaran dengan mengutamakan kegiatan belajar siswa melalui kerja proyek secara berkelompok pada materi pencemaran lingkungan. Model PBL yang diterapkan mengikuti langkah-langkah pembelajaran PBL yang terdiri atas enam tahap yaitu: (1) memberikan pertanyaan esensial (start with essential questions); (2) mendesain rancangan objek (design a plan for the object); (3) membuat jadwal (create a schedule); (4) memantau siswa dan kemajuan proyek (monitor the students and progress of the project); (5) menguji hasil karya (assess the outcome); (6) menilai pengalaman (evaluating the experience).
1.5.3 Peningkatan Hasil Belajar
Peningkatan hasil belajar pada penelitian ini dirumuskan sebagai hasil belajar akibat penerapan model PBL yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar kognitif terdiri atas hasil analisis gain normalized
proyek. Hasil belajar afektif merupakan pengukuran terhadap sikap atau perilaku siswa setelah pembelajaran dengan model PBL. Hasil belajar psikomotor merupakan keterampilan siswa yang dicapai setelah pembelajaran dengan model PBL.
1.5.4 Materi Pencemaran Lingkungan
Materi pencemaran lingkungan diajarkan untuk SMP kelas VII semester genap dalam KTSP 2006. Materi ini dipilih karena masalah pencemaran lingkungan dekat dengan kehidupan siswa baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar. Kondisi lokasi sekitar sekolah tergolong dalam daerah industri batu bata dimana hampir setiap hari dilakukan aktivitas pembakaran. Lokasi sekolah yang terletak di kecamatan Welahan juga rawan terhadap banjir setiap tahunnya. Kedua contoh tersebut dapat menjadi contoh salah satu masalah pencemaran lingkungan dalam penyampaian pembelajaran dengan model PBL. Upaya untuk memberikan pembelajaran bagi siswa mengenai masalah pencemaran dan penanganannya dilakukan melalui kegiatan proyek pada PBL, sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan sekaligus pengalaman yang berhubungan dengan proyek yang dikerjakan.
6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Belajar Menurut Konstruktivisme
Belajar dalam pandangan teori konstruktivisme didefinisikan sebagai proses aktif siswa dalam mengkonstruksi arti, wacana, dialog, dan pengalaman fisik yang di dalamnya terjadi proses asimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang sudah dipelajari (Rifa’i & Anni 2011). Berdasarkan definisi tersebut maka belajar adalah lebih dari sekedar mengingat dan menghafalkan materi. Siswa diharapkan dapat mengkonstruksi makna atas informasi yang diterima oleh otak. Informasi pengetahuan atau gagasan pemikiran guru tidak semata-mata langsung dipindahkan kepada siswa, melainkan siswa harus aktif membentuk pemikiran atau gagasan secara mandiri. Siswa merupakan individu yang harus terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2.2
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami kegiatan belajar (Rifa’i & Anni 2011). Perubahan sebagai hasil dari proses belajar ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, penalaran, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain pada diri individu pembelajar. Hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga ranah yang dikenal sebagai ranah belajar taksonomi Bloom (Sudjana 2009). Tiga ranah hasil belajar tersebut sebagai berikut.
(1) Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual, terdiri atas kemampuan mengingat/ C1 (rememberring), memahami/ C2 (understanding), menerapkan/ C3 (applying), menganalisis/ C4 (analyzing), menilai/ C5 (evaluating), dan mencipta/ C6 (creating).
(2) Ranah afektif, berkenaan dengan sikap atau perilaku, terdiri atas lima aspek penting yaitu sebagai berikut: (a) Sikap, merupakan suatu kencenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek; (b) Minat, merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; (c) Konsep diri, adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimilikinya; (d) Nilai diri, merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan buruk; dan (e) Moral, berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri, dan berkaitan perasaan dengan orang lain.
8
hasil penyelidikan, membuat laporan, strategi presentasi dan keterampilan berbicara (Shadaika et al. 2015).
2.3
Model PBL
PBL merupakan sebuah metode atau model mengajar dimana siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam masa yang diperpanjang untuk menginvestigasi dan merespon pertanyaan, permasalahan kompleks, atau sebuah tantangan (Buck Institute for Education). Pada proses pembelajaran dengan model PBL, siswa didorong dengan pertanyaan bermakna untuk dieksplor, dihadapkan dengan sebuah masalah nyata untuk dipecahkan atau sebuah tantangan untuk merancang atau membuat suatu hasil karya. Siswa perlu mencari tahu topik, informasi atau materi terkait dengan mengajukan pertanyaan dan mengembangkan jawaban mereka sendiri. Siswa diberikan kebebasan untuk merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kooperatif, dan akhirnya menghasilkan produk hasil kerja yang dapat dipresentasikan kepada orang lain.
Menurut Touimi et al. (2013) PBL adalah sebuah pendekatan belajar yang menghadirkan aspek-aspek yang dapat mengembangkan keterampilan belajar, seperti kerja kelompok, komunikasi dan berpikir kritis. Pembelajaran dengan model PBL memiliki kelebihan karena siswa dapat mengembangkan keterampilan diri tanpa mengorbankan pentingnya ilmu pengetahuan. Metode proyek berkelompok memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam kelompok pada periode yang ditentukan dengan tidak mengabaikan individu. Siswa dapat memperluas pandangan tentang bagaimana siswa dapat belajar atau mendapat informasi dan melengkapi tugas mereka dengan benar. Kemampuan interpersonal seperti komunikasi, perencanaan dan manajemen waktu dapat dilatihkan pada siswa melalui pendekatan PBL.
permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada siswa; (3) siswa mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan; (4) siswa secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; (5) proses evaluasi dijalankan secara kontinyu; (6) siswa secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan; (7) produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; (8) situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Model PBL secara efektif dapat meningkatkan perkembangan perilaku positif dan tingkat prestasi akademik siswa. Siswa yang mengalami pembelajaran dengan penerapan model PBL lebih sukses dan memiliki tingkat perilaku yang lebih baik terhadap pelajaran daripada siswa yang menerima pelajaran dengan metode mengajar yang berpusat pada buku pelajaran (Bas 2011). PBL juga memberikan keuntungan dalam pembelajaran, diantaranya yaitu (1) siswa dapat memperkaya dan memperluas pengetahuan melalui kerja tim; (2) peningkatan sikap yang positif dalam pembelajaran melalui kerja kelompok; dan (3) siswa terlibat aktif dalam proses belajar (Filippataou & Kaldi 2010). Pada pelaksanaan pembelajaran dengan model PBL, siswa saling berinteraksi dan membantu siswa lain yang mengalami kesulitan memahami materi. Interaksi siswa mengakibatkan siswa terlibat secara langsung dalam proses belajar, sehingga secara signifikan terjadi perubahan pada siswa setelah mendapat pengalaman belajar pada penerapan model PBL.
Langkah-langkah pembelajaran dalam PBL yang dikembangkan dari
The teacher’s guide to PBL (Patton 2012) sebagai berikut.
(1) Start with the essential question
10
(2) Design a plan for the project
Proses merencanakan proyek dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Keterlibatan siswa dalam proses perencanaan membuat siswa terikat dan merasa memiliki atas proyek tersebut. Perencanaan meliputi kegiatan menyusun langkah kerja, menentukan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial dengan mengintegrasikan berbagai subjek atau materi lain yang berhubungan, serta memilih alat dan bahan yang digunakan dalam pengerjaan proyek.
(3) Create a schedule
Guru dan siswa berkolaborasi menyusun jadwal aktivitas pengerjaan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: 1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek; 2) membuat deadline penyelesaian proyek; 3) membimbing siswa agar merencanakan metode baru; 4) membimbing siswa ketika mereka membuat metode yang tidak berhubungan dengan proyek; dan 5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu metode.
(4) Monitor the students and the progress of the project
Guru bertanggungjawab melakukan pemantauan terhadap aktivitas siswa selama pengerjaan proyek. Pemantauan dilakukan dengan menfasilitasi siswa pada setiap proses yang dilakukan, sehingga dapat dikatakan guru berperan menjadi mentor terhadap aktivitas siswa.
(5) Assess the outcome
Penilaian berperan untuk mengevaluasi kemajuan setiap siswa, membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, dan membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
(6) Evaluate the experience
proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
Penilaian (evaluation) dalam pembelajaran dengan penerapan model PBL harus menyesuaikan kebutuhan dan aspek yang ditargetkan. Pembelajaran dengan model PBL perlu membandingkan antara tujuan proyek dengan hasil belajar sehingga dibutuhkan sebuah penilaian untuk proyek (dari pekerjaan yang telah dilakukan) baik dilakukan selama proyek dikerjakan atau sesudah pembelajaran (Touimi et al. 2013). Penilaian perlu dilakukan secara otentik agar dapat mengukur keterampilan siswa secara tepat. Teknik penilaian dapat dilakukan dengan self assessment, peer assessment maupun assessment by tutor asalkan dapat mengevaluasi penampilan dan hasil karya siswa.
2.4
Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir pada penelitian dirumuskan pada Gambar 2.1
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Efektivitas Model Project Based
Learning pada Materi Pencemaran Lingkungan terhadap
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP N 2 Welahan Tujuan pembelajaran
KTSP
Siswa sebagai pembelajar aktif
Teori konstruktivisme
Model PBL
Fakta yang ditemui: 1. Pembelajaran berpusat pada
guru
2. Metode ceramah
3. Nilai mid semester genap IPA Biologi siswa hanya 62 %
yang lulus KKM (nilai ≥ 70)
12
2.5
Hipotesis Penelitian
13
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Welahan yang terletak di Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. Penelitian dilaksanakan pada semester genap Tahun Ajaran 2014/2015. Pengambilan data dilaksanakan mulai tanggal 21 April - 31 Mei 2015.
3.2
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII semester genap tahun ajaran 2014/2015 dengan jumlah 6 kelas, yaitu kelas VII A sampai dengan VII F. Anggota populasi penelitian bersifat normal dan homogen, sehingga sampel dalam penelitian dapat diambil dengan teknik purposive
sampling. Sampel ditentukan berdasarkan pertimbangan guru meliputi
ketersediaan ijin guru dan efektivitas jam pelajaran, sehingga sampel yang diperoleh yaitu kelas VII E dan VII F.
3.3
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini sebagai berikut. 1. Variabel bebas yaitu penerapan model PBL.
2. Variabel terikat yaitu peningkatan hasil belajar siswa yang meliputi ranah belajar kognitif, afektif dan psikomotor.
3.4
Rancangan Penelitian
14
Tabel 3.1 Desain Penelitian One-Group Pretest-posttest
Pretest Perlakuan Post-test
O1 X O2
Keterangan: O1 = pre-test
X = perlakuan yaitu penerapan model PBL O2 = post-test atau akibat perlakuan
3.5
Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian melalui tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan analisis. Masing-masing tahap tersebut sebagai berikut.
3.5.1 Tahap Persiapan
1. Melakukan penelitian awal melalui observasi lapangan dan wawancara dengan guru mata pelajaran biologi untuk mengetahui kemampuan awal siswa (data nilai mid semester genap mata pelajaran IPA Biologi kelas VII) dan memperoleh data tentang nama siswa.
2. Menyusun perangkat pembelajaran dan perangkat tes yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan penelitian yang berupa silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Diskusi Siswa (LDS).
3. Menganalisis nilai mid semester genap mata pelajaran IPA Biologi dengan melakukan uji normalitas dan homogenitas.
4. Menentukan sampel penelitian yaitu kelas VII E dan VII F.
5. Melakukan uji coba soal di kelas yang telah menempuh materi pencemaran lingkungan. Uji coba soal dilaksanakan di kelas VIII A SMP Islam Mafatihul Huda Pecangaan.
6. Menganalisis hasil uji coba soal. 3.5.2 Tahap Pelaksanaan
mengetahui peningkatan hasil belajar. Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan sebagai berikut.
1. Pelaksanaan pembelajaran materi pencemaran lingkungan sesuai dengan RPP yang telah disusun.
2. Kedua kelas sampel diberi perlakuan pembelajaran dengan model PBL. Aktivitas belajar siswa antara lain diskusi kelompok, pengerjaan proyek dan presentasi produk.
3. Penilaian terhadap hasil belajar siswa meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Penilaian ranah kognitif meliputi nilai post-test, LDS, dan proyek. Penilaian ranah afektif dilakukan dengan pengisian angket penilaian afektif oleh siswa, sedangkan penilaian ranah psikomotor dilakukan dengan teknik observasi sesuai dengan lembar observasi psikomotor.
3.5.3 Tahap Analisis
Pada tahap analisis dilakukan analisis data hasil penelitian yaitu peningkatan hasil belajar pada kedua kelas sampel. Pada tahap analisis diperoleh data yang dapat menjawab hipotesis penelitian yang telah ditentukan.
3.6
Data, Metode dan Teknik Analisis Data
Data, metode dan teknik analisis data disajikan pada Tabel 3.2 Tabel 3.2 Jenis Data, Metode dan Teknik Analisis Data
Jenis data Metode pengumpulan data Teknik analisis Data awal
Nilai mid semester genap IPA Biologi
Dokumentasi Uji normalitas
Uji homogenitas Data akhir
Hasil belajar
Kognitif Tes tertulis Gain normalized
Ketuntasan belajar
Afektif Angket Deskriptif persentase
Psikomotor Observasi Deskriptif persentase
16
3.7
Analisis Data
3.7.1 Analisis Data Awal
Analisis data awal digunakan untuk mengetahui kondisi kelas sampel berasal dari titik nol yang sama. Data yang digunakan untuk analisis tahap awal adalah nilai mid semester genap mata pelajaran IPA Biologi kelas VII SMP N 2 Welahan Tahun Ajaran 2014/2015.
3.7.1.1Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data awal penelitian berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-kuadrat sebagai berikut.
∑ }
Keterangan:
x2 : Chi Khuadrat
Ei : frekuensi yang diharapkan
Oi : frekuensi pengamatan k : banyaknya interval kelas
Nilai hitung dibandingkan dengan nilai tabel pada taraf signifikansi α = 5%. Data berdistribusi normal jika harga hitung < tabel (Sudjana 2009). Hasil uji normalitas disajikan pada Tabel 3.3 (Lampiran 2).
Tabel 3.3 Hasil Uji Normalitas Populasi
Kelas hitung tabel Α dk (k-3) Kriteria
VII A 6,84 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
VII B 6,86 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
VII C 2,69 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
VII D 5,37 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
VII E 6,49 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
VII F 0,97 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
3.7.1.2Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian berangkat dari kondisi yang sama atau homogen. Uji homogenitas dilakukan menggunakan rumus uji Bartlet sebagai berikut.
1. Menghitung varians masing-masing kelas (Si2).
2. Menghitung semua varians gabungan (S2) dari semua kelas dengan rumus: ∑
∑
3. Menghitung harga satuan B dengan rumus: ∑ }
4. Menghitung nilai stastik Chi-Kuadrat dengan rumus: ∑ }
Kriteria pengujian adalah jika hitung < tabel dengan dk = k-1 dan taraf signifikan α = 5%, maka sampel dalam keadaan homogen (Sudjana 2009). Hasil perhitungan uji homogenitas populasi disajikan pada Tabel 3.4 (Lampiran 3).
Tabel 3.4 Hasil Uji Homogenitas Populasi
Data hitung tabel α dk (k-1) Kriteria
Nilai mid semester genap mata pelajaran IPA Biologi kelas VII SMP N 2 welahan
2,18 11,07 5% 5 Homogen
Hasil perhitungan menunjukkan hitung < tabel maka populasi dapat dikatakan homogen. Hasil analisis menunjukkan sampel populasi bersifat homogen, maka dalam pemilihan sampel dapat dilakukan dengan teknik
purposive sampling. Berdasarkan teknik puposive sampling kelas yang digunakan sebagai sampel adalah kelas VII E dan VII F.
3.7.2 Analisis Uji Coba Soal
18
validitas, reliabilitas dan indeks kesukaran soal. Uji coba soal dilaksanakan pada siswa yang telah menerima materi pencemaran lingkungan yaitu di kelas VIII A SMP Islam Mafatihul Huda Pecangaan.
3.7.2.1Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Arikunto 2006). Teknik uji validitas yang digunakan adalah uji validitas instrumen dengan rumus korelasi Product Moment. Rumus korelasi Product Moment sebagai berikut.
rxy ∑ ∑ ∑ √ ∑ ∑ ∑ ∑
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara skor item dengan skor total X = skor tiap butir soal
Y = skor total yang benar dari setiap subyek N = jumlah subyek
Hasil rxy dibandingkan dengan rtabel Product Moment pada pada taraf signifikansi α = 5%. Butir soal dikatakan valid jika rxy < rtabel. Hasil analisis validitas butir soal uji coba disajikan pada Tabel 3.5 (Lampiran 9).
Tabel 3.5 Hasil Analisis Validitas Butir Soal Uji Coba
No. Kriteria Jumlah Nomor soal
1 Valid 25 1, 3, 4, 5, 6, 7, 9, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 25, 27, 28, 32, 33, 36, 37, 38
2 Tidak valid 13 2, 8, 10, 12, 13, 22, 24, 26, 29, 30, 31, 34, 35
[image:30.595.110.498.495.581.2]3.7.2.2Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Instrumen yang dapat dipercaya (reliabel) akan menghasilkan data yang dapat dipercaya (Arikunto 2006). Reliabititas diukur dengan rumus K-R 21 sebagai berikut.
r11 = Keterangan :
r11 = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir soal atau butir pertanyaan M = skor rata-rata
Vt = varians total
Hasil r11 dibandingkan dengan rtabel pada pada taraf signifikansi α = 5%. Soal dikatakan reliabel jika harga r11 lebih besar dari rtabel (Arikunto 2006). Hasil analisis realibilitas soal uji coba menunjukkan bahwa r11 sebesar 0,868 dan rtabel adalah 0,404 maka rhitung lebih besar dari rtabel sehingga soal tersebut reliabel (Lampiran 11).
3.7.2.3Indeks Kesukaran
Soal dikatakan berkualitas apabila memiliki proporsi indeks kesukaran yang seimbang, yaitu terdapat soal kategori mudah, sedang, dan sukar. Indeks kesukaran merupakan persentase jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar (Arikunto 2006). Indeks kesukaran dihitung dengan rumus indeks kesukaran atau Proporsi (P) sebagai berikut.
Keterangan:
P : indeks kesukaran
B : banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar JS : jumlah seluruh siswa peserta tes
20
Tabel 3.6 Kriteria Indeks Kesukaran Soal
Indeks Kesukaran Soal Kriteria
0,00 < P ≤ 0,30 Sukar
0,31 < P ≤ 0,70 Sedang
0,71 < P ≤ 1,00 Mudah
Hasil analisis indeks kesukaran soal uji coba disajikan pada Tabel 3.7 Tabel 3.7 Hasil Analisis Indeks Kesukaran Soal
Kriteria Jumlah Nomor soal
Sukar 7 7, 8, 14, 15, 23, 27, 28
Sedang 18 1, 2, 4, 5, 9, 11, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 29, 33, 37, 38
Mudah 13 3, 6, 10, 12, 13, 22, 26, 30, 31, 32, 34, 35, 36
Tabel 3.8 Rekapitulasi Hasil Analisis Soal Uji Coba
Butir soal
Validitas Reliabilitas Tingkat
Kesukaran Keterangan rxy Kriteria r11 Kriteria P Kriteria
1 0,73 Valid 0,87 Reliabel 0,46 Sedang Dipakai 3 0,44 Valid 0,87 Reliabel 0,83 Mudah Dipakai 4 0,80 Valid 0,87 Reliabel 0,50 Sedang Dipakai 5 0,63 Valid 0,87 Reliabel 0,50 Sedang Dipakai 6 0,43 Valid 0,87 Reliabel 0,83 Mudah Dipakai 7 0,76 Valid 0,87 Reliabel 0,25 Sukar Dipakai 9 0,59 Valid 0,87 Reliabel 0,63 Sedang Dipakai 11 0,55 Valid 0,87 Reliabel 0,38 Sedang Dipakai 14 0,76 Valid 0,87 Reliabel 0,25 Sukar Dipakai 15 0,84 Valid 0,87 Reliabel 0,29 Sukar Dipakai 16 0,59 Valid 0,87 Reliabel 0,63 Sedang Dipakai 17 0,66 Valid 0,87 Reliabel 0,42 Sedang Dipakai 18 0,66 Valid 0,87 Reliabel 0,67 Sedang Dipakai 19 0,55 Valid 0,87 Reliabel 0,38 Sedang Dipakai 20 0,66 Valid 0,87 Reliabel 0,67 Sedang Dipakai 21 0,60 Valid 0,87 Reliabel 0,58 Sedang Dipakai 23 0,78 Valid 0,87 Reliabel 0,29 Sukar Dipakai 25 0,51 Valid 0,87 Reliabel 0,33 Sedang Dipakai 27 0,47 Valid 0,87 Reliabel 0,13 Sukar Dipakai 28 0,62 Valid 0,87 Reliabel 0,17 Sukar Dipakai 32 0,43 Valid 0,87 Reliabel 0,88 Mudah Dipakai 33 0,73 Valid 0,87 Reliabel 0,58 Sedang Dipakai 36 0,43 Valid 0,87 Reliabel 0,88 Mudah Dipakai 37 0,67 Valid 0,87 Reliabel 0,67 Sedang Dipakai 38 0,50 Valid 0,87 Reliabel 0,63 Sedang Dipakai
3.7.3 Analisis Data Akhir
22
3.7.3.1Hasil Belajar Kognitif
3.7.3.1.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data nilai post-test
pada kelas sampel bersifat normal atau tidak. Hipotesis yang diajukan sebagai berikut.
H0 : data berdistribusi normal Ha : data tidak berdistribusi normal
Rumus yang digunakan adalah rumus Chi-Kuadrat seperti yang digunakan pada analisis data awal populasi. Data berdistribusi normal jika hitung < tabel dengan taraf signifikansi α = 5% dan dk = k–3 (Sudjana 2009).
3.7.3.1.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui kedua kelompok sampel mempunyai varians data hasil belajar yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan dalam uji homogenitas sebagai berikut.
H0 : data nilai post-test homogen (S12 = S22). Ha : data nilai post-test tidak homogen (S12≠ S22). Untuk menguji kesamaan dua varians digunakan rumus: F =
Kedua sampel dikatakan mempunyai varians yang sama atau homogen apabila H0 diterima dengan kriteria pengujian jika Fhitung < F0,5α(v1,v2) dimana v1= n1–1 dan v2= n2–1, dimana n1= banyaknya data terbesar dan n2= banyaknya data terkecil (Sudjana 2009).
3.7.3.1.3 Uji Gain Normalized
Peningkatan hasil belajar didefinisikan sebagai selisih antara nilai
post-test dan pretest. Peningkatan hasil belajar diperoleh melalui penghitungan skor gain normalized dengan rumus Hake sebagai berikut (Stewart & Stewart 2010).
Keterangan:
Spost = skor rata-rata post-test
Spre = skor rata-rata pretest Smaks = skor maksimum ideal
Hasil penghitungan skor gain selanjutnya dibandingkan dengan kriteria skor
gain pada Tabel 3.9
Tabel 3.9 Kriteria Skor Gain
Rentang skor Kriteria
g > 0,7 Tinggi
0,3 ≤ g ≤ 0,7 Sedang
g < 0,3 Rendah
3.7.3.1.4 Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar terdiri atas ketuntasan secara individu dan klasikal.
Kriteria ketuntasan individu adalah nilai kognitif ≥ 70 (KKM). Nilai kognitif
pada model PBL diperoleh dari nilai post-test, nilai jawaban LDS dan nilai tugas proyek daur ulang limbah. Ketuntasan belajar siswa dalam satu kelas diperoleh dengan rumus yang diadopsi dari Sudijono (2009) sebagai berikut. P = ∑
∑ x 100 % Keterangan :
P = ketuntasan belajar siswa secara klasikal ni = jumlah siswa tuntas belajar individual n = jumlah total siswa
Pembelajaran dengan model PBL efektif jika ketuntasan klasikal mencapai sekurang-kurangnya 75%.
3.7.3.2Hasil Belajar Afektif
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui persentase jawaban mengenai ranah afektif siswa melalui lembar angket penilaian afektif. Lembar angket penilaian afektif terdiri atas pernyataan-pernyataan yang mengandung lima aspek ranah afektif yaitu aspek sikap, minat, konsep diri, nilai diri dan moral. Rumus yang digunakan sebagai berikut (Sugiyono 2009).
Nilai aspek afektif (%) = umlah skor yang diperoleh
24
[image:36.595.114.497.141.213.2]Kriteria penilaian ranah afektif disajikan pada Tabel 3.10 Tabel 3.10 Kriteria Ranah Afektif Siswa
Persentase Kriteria
81,26 % ≤ P ≤ 100 % Sangat bagus
62,51 % ≤ P ≤ 81,25 % Bagus
43,76 % ≤ P ≤ 62,50% Cukup
25 % ≤ P ≤ 43,75% Tidak bagus
3.7.3.3Hasil Belajar Psikomotor
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui persentase tingkat keterampilan yang dicapai siswa dalam pembelajaran dengan model PBL. Penilaian terhadap psikomotor siswa dilaksanakan melalui observasi oleh observer. Lembar penilaian psikomotor terdiri atas lima aspek kriteria yang berhubungan dengan keterampilan dalam PBL, yaitu (1) kemampuan melakukan penyelidikan; (2) membuat laporan (poster); (3) teknik presentasi; (4) keterampilan berbicara; dan (5) hasil produk daur ulang limbah. Rumus yang digunakan sebagai berikut (Sugiyono 2009).
Nilai aspek psikomotor (%) = umlah skor yang diperoleh
umlah skor maksimal x 100 % Kriteria penilaian ranah psikomotor disajikan pada Tabel 3.11 Tabel 3.11 Kriteria Ranah Psikomotor Siswa
Persentase Kriteria
83,37 % ≤ P ≤ 100 % Sangat bagus
66,69 % ≤ P ≤ 83,36 % Bagus
50,01 % ≤ P ≤ 66,68% Cukup
33,33 % ≤ P ≤ 50,00% Tidak bagus
3.7.3.4Analisis Tanggapan terhadap PBL
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penerapan model PBL.Tanggapan siswa ditunjukkan dalam bentuk persentase. Rumus yang digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa sebagai berikut.
Nilai tanggapan (%) = umlah skor yang diperoleh
[image:36.595.115.498.490.562.2]Tabel 3.12 Kriteria Tanggapan Siswa
Persentase Kriteria
81,26 % ≤ P ≤ 100 % Sangat bagus
62,51 % ≤ P ≤ 81,25 % Bagus
43,76 % ≤ P ≤ 62,50% Cukup
26
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Penelitian
Penelitian ini mengidentifikasi efektivitas penerapan model PBL terhadap peningkatan hasil belajar pada materi pencemaran lingkungan. Data penelitian yang diambil terdiri atas hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor serta tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran model PBL pada materi pencemaran lingkungan di SMP N 2 Welahan.
4.1.1 Hasil Penilaian Ranah Kognitif Siswa 4.1.1.1 Ketuntasan Belajar
Penilaian terhadap hasil belajar ranah kognitif pada pembelajaran model PBL dilaksanakan ketika proses pembelajaran maupun setelah pembelajaran. Hasil belajar ranah kognitif terdiri atas nilai post-test, jawaban LDS dan tugas proyek yang kemudian dihitung persentase ketuntasan belajar secara klasikal. Ketuntasan belajar klasikal dicapai ketika persentase siswa tuntas mencapai paling sedikit 75% dengan syarat lulus batas KKM yaitu 70. Hasil rekapitulasi hasil belajar ranah kognitif dan ketuntasan belajar klasikal pada kelas VII E dan VII F disajikan pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Belajar Ranah Kognitif dan Ketuntasan Klasikal Kelas VII E dan VII F
Kelas
Nilai ∑
siswa ∑ siswa tuntas
Ketuntasan belajar
Post-test LDS Proyek
Rata-rata Tertinggi Terendah
VII E 75,38 89,23 79,85 79,94 90,7 68,4 39 38 97,44% VII F 75,59 85,38 80,41 79,48 89,8 68,5 39 37 94,87%
Hasil penghitungan menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal kedua kelas sampel telah mencapai ≥75% (Lampiran 25).
4.1.1.2 Hasil Uji Gain
Peningkatan hasil belajar ditentukan berdasarkan selisih nilai post-test
dan uji kesamaan dua varians terlebih dahulu sebelum melakukan uji gain. Uji normalitas data nilai post-test menggunakan rumus Chi-Kuadrat. Hasil perhitungan uji normalitas data nilai post-test kelas VII E dan VII F disajikan pada Tabel 4.2 (Lampiran 26).
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Nilai Post-test Kelas VII E dan VII F Kelas hitung tabel Α dk (k-3) Kriteria
VII E 7,76 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
VII F 2,11 7,81 5% 3 Berdistribusi normal
[image:39.595.109.499.341.384.2]Hasil perhitungan menunjukkan kedua kelas berdistribusi normal. Hasil uji kesamaan dua varians berdasarkan nilai post-test kelas VII E dan VII F disajikan pada Tabel 4.3 (Lampiran 27).
Tabel 4.3 Hasil Uji Kesamaan Dua Varian Kelas VII E dan VII F
Data Fhitung Ftabel Kriteria
Nilai post-test kelas VII
E dan VII F 1,08 1,17 Homogen
[image:39.595.114.498.503.559.2]Hasil analisis menunjukkan nilai Fhitung < Ftabel, oleh karena itu Ho diterima, sehingga data nilai post-test kelas VII E dan VII F dikatakan memiliki varians yang homogen. Hasil uji gain secara klasikal kelas VII E dan VII F disajikan pada Tabel 4.4
Tabel 4.4 Hasil Uji Gain Kelas VII E dan VII F
Kelas Rata-rata pretest
Rata-rata post-test
Selisih awal
dan akhir Skor gain Kriteria
VII E 46,05 75,38 29,33 0,54 Sedang
VII F 46,92 75,59 28,67 0,53 Sedang
Hasil analisis menunjukkan bahwa gain kedua kelas sampel termasuk dalam kategori sedang (Lampiran 28).
4.1.2 Hasil Penilian Ranah Afektif Siswa
28
Gambar 4.1 Hasil Penilaian Ranah Afektif Siswa Kelas VII E dan VII F Hasil penilaian menunjukkan bahwa persentase aspek sikap, minat dan konsep diri menunjukkan kriteria sangat baik, sedangkan aspek moral dan nilai diri menunjukkan kriteria baik (Lampiran 30).
4.1.3 Hasil Penilaian Ranah Psikomotor Siswa
Penilaian hasil belajar ranah psikomotor siswa dilakukan berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaran PBL. Hasil observasi ranah psikomotor siswa secara klasikal pada kelas VII E dan VII F disajikan pada Gambar 4.2
Gambar 4.2 Hasil Penilaian Ranah Psikomotor Siswa Kelas VII E dan VII F Hasil penilaian menunjukkan bahwa keterampilan kemampuan melakukan penyelidikan, produk dan membuat laporan termasuk dalam kategori sangat baik, sedangkan keterampilan berbicara dan menentukan strategi presentasi tergolong baik (Lampiran 32).
83.0%
81.6%
84.5%
79.1%
80.8% 85.8%
83.1%
82.1%
78.7%
80.1%
70.0% 75.0% 80.0% 85.0% 90.0%
Sikap Minat Konsep Diri Nilai diri Moral
VII-E VII-F
VII-E VII-F
A: kemampuan melakukan penyelidikan
[image:40.595.117.502.445.609.2]4.1.4 Tanggapan terhadap Penerapan PBL
Tanggapan siswa terhadap penerapan model PBL diperoleh dari hasil jawaban siswa pada angket kuesioner tanggapan. Hasil analisis tanggapan siswa terhadap model PBL secara klasikal disajikan pada Tabel 4.5
Tabel 4.5 Hasil Tanggapan Siswa terhadap Penerapan PBL pada Materi Pencemaran Lingkungan
No.
Butir Angket % Kriteria
1 Pelaksanaan pembelajaran menerapkan model PBL menarik
79% Baik
2 Pembelajaran dengan model PBL membuat saya lebih mudah memahami materi
81% Sangat Baik 3 Pembelajaran dengan menerapkan model PBL
mendorong rasa ingin tahu saya
79% Baik
4 Pembelajaran dengan model PBL memacu saya lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran
84% Sangat Baik 5 Pelaksanaan pembelajaran menerapkan model
PBL membuat saya bersemangat dan bersungguh-sungguh mengikuti pembelajaran
80% Baik
6 Pembelajaran dengan menerapkan model PBL menjadi lebih menyenangkan
85% Sangat Baik 7 Kegiatan pembelajaran dengan model PBL
pada materi pencemaran lingkungan dapat diikuti dengan baik
78% Baik
8 Pembelajaran dengan model PBL memberikan motivasi untuk mendalami materi dan mengaitkan pengetahuan dengan fenomena lingkungan sekitar
82% Sangat Baik
9 Pelaksanaan pembelajaran model PBL menguntungkan saya dalam menganalisis masalah dan mengerjakan soal
79% Baik
10 Model PBL perlu diaplikasikan untuk materi yang lain
77% Baik
Rata-Rata 80% Baik
[image:41.595.127.494.215.661.2]30
4.2
Pembahasan
Peningkatan hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perubahan atau peningkatan yang dicapai siswa sebagai hasil dari proses pembelajaran dengan model PBL, yaitu meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
4.2.1 Ranah Kognitif dalam Pembelajaran PBL 4.2.1.1 Analisis Gain
Berdasarkan hasil analisis data nilai post-test diketahui bahwa hasil
post-test kelas VII E dan VII F berdistribusi normal dan homogen, sehingga dapat dilanjutkan untuk dilakukan analisis gain. Analisis gain menunjukkan besar perubahan pemahaman siswa terhadap materi pencemaran lingkungan sebelum dan setelah mendapat perlakuan yaitu pembelajaran dengan model PBL. Pemahaman materi dapat diartikan sebagai kemampuan siswam enangkap makna atau konsep (materi yang dipelajari) yang diukur dengan tes evaluasi.
Hasil analisis gain menunjukkan bahwa skor rata-rata gain secara klasikal pada kelas VII E dan VII F menunjukkan peningkatan hasil belajar pada kategori sedang. Hal tersebut menandakan bahwa pemahaman siswa menjadi lebih baik setelah mengalami pembelajaran dengan model PBL. Skor
gain yang tidak tergolong pada kategori tinggi tidak berarti bahwa kemampuan siswa rendah, tetapi lebih disebabkan kurangnya pemahaman siswa pada soal dan tidak mengingat konsep yang telah dipelajari sehingga siswa lambat dalam mengerjakan soal tersebut (Anwar 2007).
permasalahan. Siswa yang telah menguasai konsep suatu objek akan lebih mudah menerapkan dalam pemecahan permasalahan (Mahanal et al. 2007).
Soal dengan unsur pemecahan masalah yang dimaksud diwujudkan dalam bentuk soal kategori analisis (C4) dan aplikasi (C3). Kategori soal dan kemampuan siswa dalam memahami soal berpengaruh pada hasil evaluasi. Sebagai contoh, soal nomor 2 yaitu soal kategori C4. Soal tersebut menanyakan tentang syarat suatu zat dikatakan sebagai polutan dengan menganalisis pilihan jawaban yang disajikan. Soal tersebut banyak dijawab salah oleh siswa karena pilihan jawaban yang ditampilkan mengecoh konsep pemahaman siswa, sehingga jawaban yang dipilih siswa tidak tepat. Contoh soal yang lain adalah soal kategori C3 yaitu soal nomor 22. Soal nomor 22 berisi pertanyaan tentang memilih tindakan reuse yang tepat dari pilihan jawaban yang tersedia. Siswa memilih jawaban tidak tepat karena tidak ingat dengan konsep reuse dan terkecoh dengan pilihan jawaban yang salah.
4.2.1.2 Ketuntasan Belajar
Hasil analisis nilai ranah kognitif pada kelas VII E dan VII F, diperoleh persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 97,44% pada kelas VII E dan 94,87% pada kelas VII F. Pada kelas VII E terdapat satu siswa yang tidak tuntas, sedangkan pada kelas VII F terdapat dua siswa yang tidak tuntas. Hal ini menandakan pelaksanaan pembelajaran dengan model PBL mampu mencapai ketuntasan belajar yang telah ditentukan.
32
dilaksanakan sesuai jadwal yang didiskusikan untuk menghasilkan suatu produk daur ulang limbah dan dipresentasikan pada akhir pertemuan.
Aktivitas belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran PBL dapat berpengaruh pada kemampuan siswa memahami konsep atau materi. Nurhadi (2004) menjelaskan bahwa melalui pendekatan konstruktivisme seperti PBL,
siswa diajak berfikir dan memahami “mengalami” materi pelajaran, bukan
sekedar mendengar, menerima, dan mengingat. Siswa memahami materi pelajaran melalui proses penyelidikan, eksplorasi, eksperimen dan proyek. Apa yang siswa temui atau pelajari yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan kegiatan siswa sehari-hari dapat mempengaruhi siswa agar lebih mudah mengingat dan memahami fakta ataupun konsep yang ada dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan Purworini (2009) bahwa strategi PBL melibatkan berbagai tahapan yang mampu meningkatkan kognitif siswa, melalui proyek siswa mampu melibatkan seluruh mental dan fisik, syaraf, indera termasuk kecakapan sosial dengan melakukan banyak hal sekaligus.
Selain aktivitas belajar, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran juga berperan dalam pemahaman siswa. Aktivitas yang direncanakan guru dalam pembelajaran PBL tidak lain agar siswa dapat belajar secara aktif dalam penyerapan ilmu pengetahuan. Model PBL merupakan model pembelajaran yang fokus pada kegiatan siswa atau student centered learning (SCL) dengan prinsip belajar secara kooperatif. Pembelajaran kooperatif memberikan keuntungan kepada siswa dengan membuat siswa menjadi pembelajar aktif melalui aktivitas diskusi dan proyek.
berpengaruh terhadap hasil belajar. Temuan ini menguatkan penelitian Fortuna
et al. (2014) bahwa interaksi siswa dalam pelaksanaan strategi pembelajaran dan aktivitas belajar yang digunakan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa.
Aktivitas diskusi, proyek dan presentasi yang dilakukan siswa dalam PBL memberikan pengaruh terhadap pemahaman materi pencemaran lingkungan karena siswa aktif berperan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian pemahaman konsep yang tinggi maka ketuntasan belajarnya juga tinggi. Aktivitas belajar yang tinggi menghasilkan siswa dengan prestasi belajar yang lebih baik (Sabatina 2014). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL efektif dalam pembelajaran.
4.2.2 Afektif Siswa dalam Pembelajaran PBL
Pelaksanaan pembelajaran yang memusatkan aktivitas pada siswa dapat berpengaruh pada sikap atau perilaku siswa terhadap pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Rybczynski & Schussler (2013), bahwa prestasi akademik (ranah kognitif) yang baik akan turut membawa perilaku yang baik pula. Prestasi akademik adalah faktor umum yang mempengaruhi perilaku siswa terhadap ilmu pengetahuan dan sebaliknya perilaku mempengaruhi pencapaian prestasi. Penilaian terhadap lima aspek ranah afektif siswa kelas VII E dan VII F diperoleh hasil bahwa siswa menunjukkan perilaku yang sangat baik pada aspek sikap, minat dan mampu menegaskan konsep dirinya terhadap pembelajaran PBL, serta menunjukkan perilaku yang baik pada aspek penilaian diri dan moral dalam pembelajaran.
34
pembelajaran. Perilaku siswa yang demikian disebabkan kesadaran siswa akan pentingnya bekerja sama dan keuntungan yang diperoleh ketika dapat belajar bersama yaitu mendapatkan ilmu yang lebih banyak. Siswa mengikuti instruksi pembelajaran dengan baik sehingga pembelajaran berjalan lancar. Siswa mempunyai keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukan. Sikap tersebut yang mendasari dan mendorong ke arah perbuatan belajar. Sikap yang positif menjadikan siswa lebih mudah diberi motivasi dan menyerap materi pembelajaran (Ramadhani 2009; Sukanti 2011).
Aspek minat berhubungan dengan perasaan suka atau tidak suka terhadap suatu objek yang ditandai dengan munculnya perhatian. Analisis menunjukkan minat siswa sangat baik terhadap aktivitas dan materi pembelajaran. Hal iniditunjukkan dengan adanya perhatian dan muncul ketertarikan siswa terhadap materi dan kegiatan pembelajaran. Minat siswa yang sangat baik disebabkan karena model PBL yang diterapkan mengundang keingintahuan siswa terhadap kerja proyek yang akan dilakukan. Siswa memperhatikan dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Proses atau kegiatan yang dilakukan siswa di dalam kelas menjadi dasar motivasi bagi siswa sehingga akan menentukan sikap siswa untuk belajar. Minat siswa akan memperlancar jalannya pelajaran baik bagi siswa yang malas, tidak mau belajar maupun siswa yang gagal dalam belajar karena tidak adanya minat (Ramadhani 2009).
Aspek moral dan nilai diri merupakan aspek yang berhubungan dengan perasaan dan keyakinan tentang perilaku dianggap baik atau buruk, baik yang dilakukan diri sendiri maupun yang berkaitan dengan orang lain. Pelaksanaan pembelajaran PBL pada penelitian ini berhubungan dengan materi pencemaran lingkungan sehingga penilaian aspek moral dan nilai diri dikaitkan dengan pengetahuan tentang pencemaran lingkungan yang telah dipelajari.
Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek nilai dan moral siswa adalah baik. Hasil tersebut berhubungan dengan persepsi, keyakinan dan hasil yang ditunjukkan siswa terhadap masalah lingkungan setelah mendapatkan pembelajaran PBL. Pada dasarnya siswa mengetahui bahwa tindakan membuang bungkus jajan di dalam kelas merupakan perbuatan yang salah, akan tetapi tidak jarang siswa masih melakukannya dan tidak berani menegur siswa lain yang melakukan hal yang sama. Demikian halnya ketika siswa mengerjakan post-test siswa masih ada yang bertanya pada siswa lain. Hal ini menunjukkan bahwa aspek moral dan nilai diri siswa setelah mempelajari materi pencemaran lingkungan dengan PBL masih perlu ditingkatkan agar siswa bisa berperilaku lebih baik.
36
4.2.3 Keterampilan Siswa dalam PBL
Penerapan model PBL memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan keterampilan siswa seperti keterampilan berkolaborasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah (Despoina & Aikaterini 2015). Hasil analisis ranah psikomotor diketahui bahwa model PBL dapat mengembangkan keterampilan psikomotor siswa dengan baik. Penilaian terhadap ranah psikomotor pada penelitian ini diuraikan ke dalam lima aspek keterampilan yang berkenaan dengan pembelajaran berbasis proyek, yaitu kemampuan melakukan penyelidikan, membuat laporan (poster), produk, keterampilan berbicara dan strategi presentasi. Penilaian terhadap lima aspek ranah psikomotor siswa kelas VII E dan VII F diperoleh hasil bahwa aspek melakukan penyelidikan, membuat laporan dan produk dapat dicapai dengan sangat baik, sedangkan aspek keterampilan berbicara dan memilih strategi presentasi dicapai baik oleh siswa.
Aspek kemampuan melakukan penyelidikan menunjukkan keterampilan siswa bekerja secara kelompok dalam melakukan penyelidikan, seperti mengelola ide dari tiap anggota kelompok, pembagian tugas dan proses pengerjaan proyek. Hasil akhir kerja proyek siswa adalah laporan yang berupa poster dan produk daur ulang. Produk dan poster yang dibuat siswa menggunakan barang bekas dan limbah yang umum dijumpai di lingkungan tempat tinggal mereka. Setiap kelompok dapat menunjukkan kerjasama yang baik dalam pelaksanaan pembuatan produk. Pembuatan produk proyek melibatkan berbagai keterampilan berpikir kritis seperti memberikan argumen yang logis dan utuh, kemampuan berpikir deduksi dan induksi, kemampuan melakukan evaluasi serta melibatkan keterampilan mengambil keputusan dalam kelompok. Kegiatan pembuatan proyek tidak hanya terbatas pada pengembangan keterampilan berpikir kritis saja, akan tetapi juga kreativitas siswa dalam menciptakan sebuah produk yang original dan siswa harus mampu bekerja secara kolaboratif (Gultekin 2005).
keterampilan mengatur volume suara, intonasi dan dinamika agar presentasi menarik. Siswa secara umum belum terbiasa dengan kegiatan presentasi, terkesan malu-malu dan kurang percaya diri untuk tampil berbicara di depan siswa lain. Pada saat mempresentasikan produk siswa terlihat enggan dan canggung untuk menjadi juru bicara (presenter) kelompoknya, akibatnya alokasi waktu presentasi cenderung dihabiskan untuk memutuskan siapa yang menjadi presenter kelompoknya. Sikap canggung yang ditunjukkan tersebut disebabkan oleh belum adanya pembiasaan dalam pembelajaran kelas untuk melakukan presentasi atau menyampaikan laporan secara lisan, sehingga diharapkan siswa dapat melatih kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan umum.
4.2.4 Tanggapan Siswa terhadap Pelaksanaan Pembelajaran PBL
Hasil analisis data tanggapan siswa terhadap model PBL menunjukkan bahwa siswa memberikan tanggapan yang baik terhadap model PBL dengan rata-rata persentase 80%. Hal ini diketahui dari persentase setiap indikator pada angket tanggapan. Model PBL mampu menarik perhatian dan menambah semangat siswa untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu siswa memperoleh beberapa keuntungan dari pembelajaran model PBL, yaitu lebih mudah memahami materi sehingga termotivasi untuk mendalami materi.
38
39
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1
Simpulan
Berdasarkan kajian tinjauan pustaka, hasil temuan dan analisis data penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penelitian dengan penerapan model PBL pada materi pencemaran lingkungan efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif ditunjukkan dengan skor gain sedang sebesar 0,54 pada kelas VII E dan 0,53 pada kelas VII F serta tercapai ketuntasan belajar >75%. Siswa menunjukkan perilaku yang lebih baik dan mampu mencapai aspek-aspek keterampilan PBL setelah diterapkannya pembelajaran model PBL pada materi pencemaran lingkungan. Siswa juga memberikan tanggapan yang baik terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan model PBL.
5.2
Saran
(1) Pelaksanaan pembelajaran model PBL hendaknya dipersiapkan dengan matang dan mempertimbangkan karakteristik siswa serta materi pembelajaran agar peningkatan hasil belajar siswa dapat dicapai lebih baik. (2) Pelaksanaan kegiatan proyek yang dilakukan siswa perlu mendapatkan
40
DAFTAR PUSTAKA
Annas K. 2010. Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap keterampilan berpikir kritis dan sikap terkait sains siswa SMP (studi eksperimen di SMP Negeri 4 Singaraja). e-Journal Pendidikan dan Pengajaran Universitas Pendidikan Ganesha (2): 1-15.
Anwar Y. 2007. Pengaruh pendekatan konstruktivisme terhadap hasil belajar biologi siswa kelas I SMA Srijaya Negara Palembang. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kajian Pengajaran Universitas PGRI Palembang 3 (2): 1-6.
Arikunto S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bas G. 2011. Investigating the effects of project-based learning on students’ academic achievement and attitudes towards english lesson. Tojned: The Online Journal of New Horizons in Education 1 (4): 1-15.
Buck Institute of Education. What is Project Based Learning. Online at http://bie.org/about/what_pbl pada 5 Desember 2014.
Despoina S & M Aikaterini. 2015. Project based learning: effects on knowledge and skills acquisition. International Journal of Research (IJR) Volume 2 Issue 06: 148-158 http://internationaljournal-ofresearch.org
Filippatou D & S Kaldi. 2010. The effectiveness of project-based learning on pupils with learning difficulties regarding academic performance, group work and motivation. International Journal of Special Education 25 (1) University of Thessaly: 17-26.
Fortuna IKAD, N Dantes & Sariyasa. 2014. Pengaruh strategi react terhadap hasil belajar matematika ditinjau dari aktivitas belajar siswa kelas V SD. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar (4): 1-12.
Global SchoolNet. Introduction to Networked Project-Based Learning. Online at http://www.gsn.org/web/pbl/whatis.htm pada 19 Maret 2015.
Gultekin M. 2005. The effect of project based learning on learning outcomes in the 5th grade social studies coursein primary education. Journal of Educational Sciences: Theory & Practice 5 (2): 548–560.
Mahanal S, E Darmawan, AD Corebima & S Zubaidah. 2007. Pengaruh pembelajaran project based learning (PjBL) pada materi ekosistem terhadap sikap dan hasil belajar siswa SMAN 2 Malang. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Lingkungan Hidup dan Interkonferensi BKPSL. Universitas Negeri Malang.
Mulyasa. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nuraeni N, E Fitrajaya & W Setiawan. 2011. Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Generatif untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa dalam Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Artikel Ilmiah FMIPA UPI.
Nurhadi & AG Senduk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Patton A. 2012. The Teacher’s Guide to Project Based Learning. Hamly Foundation Brighouse London School: London.
Purworini SE. 2009. Pembelajaran berbasis proyek sebagai upaya mengembangkan habit of mind studi kasus di SMP Nasional KPS Balikpapan. Online at http://www.lubisgrafura.wordpress.com pada 19 Oktober 2015.
Ramadhani T. 2009. Komponen Pembentukan Sikap Belajar Siswa. Online at https://tarmizi.wordpress.com/2009/03/08/komponen-pembentukan-sikap-belajar-siswa/ pada 5 Januari 2016.
Rifa’i A & CT Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press.
Rybczynski SM & EE Schussler. 2013. Effects of instructional model on student attitude in an introductory biology laboratory. International Journal for the Scholarship of Teaching and Learning: Vol. 7 (2): 1-21.
Sabatina D. 2014. Pengaruh aktivitas belajar terhadap prestasi belajar ditinjau dari kemampuan komunikasi matematika pada siswa kelas VIII semester genap SMP Negeri 2 Banyudono. Jurnal Publikasi Seminar Nasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Shadaika M, M Ramli & Nurmiyati. 2015. Pengaruh model PBL berbasis potensi makroalga daerah pesisir terhadap kemampuan berpikir kritis siswa di SMA N 1 Tanjungsari Gunungkidul DIY. Jurnal Publikasi Seminar
Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam. FKIP
42
Stewart John & G S