PENELUSURAN MAKNA DAN PENAFSIRAN JIHAD
DARI MASA KE MASA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I.)
Oleh
Rizky Ediputratama
NIM: 106034001256
PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PENELUSURAN MAKNA DAN PENAFSIRAN JIHAD
DARI MASA KE MASA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I.)
Oleh
Rizky Ediputratama
NIM: 106034001256
Pembimbing
Dr. Ahsin Sakho Muhammad, M.A
NIP: 19560221 199603 1 001
PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA NIP: 19560221 199603 1 001 Ketua Merangkap Anggota,
Dr. M. Suryadinata, MA NIP: 19600908 198903 1 005
Sekretaris Merangkap Anggota,
Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA NIP: 19711003 199903 2 001
Penguji I
Hasanuddin Sinaga, MA NIP: 19701115 199703 1 002
Penguji II
Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA NIP: 19711003 199903 2 001
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skrip yang berjudul “PENELUSURAN MAKNA DAN PENAFSIRAN JIHAD DARI MASA KE MASA”, telah diajukan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 22 Juni 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I.) pada Program Studi Tafsir-Hadis.
Jakarta, 22 Juni 2011
Sidang Munaqasyah
Anggota,
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir akademis (skripsi) ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi SAW beserta keluarga dan sahabatnya, dan semoga kita semua mendapat syafaatnya di kemudian hari nanti.
Atas pertolongan Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang sangat sederhana ini, walaupun tidak sedikit rintangan dan hambatan hingga batas waktu yang diberikan oleh pihak Fakultas. Di samping itu, rampungnya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin memberikan apresiasi yang tinggi serta ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan kontribusinya dalam penyusunan skripsi ini:
1. Prof. Dr. Zainul Kamaluddin F. M.Ag selaku dekan dan Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si selaku pudek., dan Dr. Bustamin SE, M.Si selaku ketua jurusan Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Ahsin Sakho Muhammad, M.A selaku pembimbing, yang dengan sabar telah membimbing dan mengarahkan penulisan skripsi ini sampai rampung, dengan kesabaran beliau sungguh sangat berarti bagi kelancaran penulisan skripsi ini, penulis hanya bisa berdoa “Jazakumullah ahsana al-jaza”.
4. Segenap dosen dan civitas akademik UIN Syarif Hidayatullah, khususnya Jurusan Tafsir Hadis, yang dengam ikhlas dan tulus mencurahkan dan mentransfer wawasan serta pengetahuannya selama penulis menempuh studi di kampus tercinta ini.
5. Segenap pimpinan dan stap Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah, perpustakaan Ushuluddin dan juga tak lupa kepada seluruh staf perpustakaan Iman Jama‟ Lebak bulus yang telah memberikan fasilitas sumber rujukan/referensi.
6. Ibunda tecinta, ibu Wirdaniwati Koto yang telah mengasuh, mendidik, mendo‟akan, dan memberikan kasih saying serta dukungan, baik moril ataupun materil selama penulis menjalani studi. Dan juga kepada kakak-kakak, om, serta seluruh keluarga penulis yang kesemuanya selalu memberikan semangat kepada penulis selama menempuh studi di kampus ini. 7. Kepada teman-teman penulis yang satu nasib, satu perjuangan, yang tangguh
dan gagah berani di kelas Tafsir Hadis A dan B. Terutama sahabat penulis Soimuddin, Zainal Muttaqin, Syafiqul Subuh, Muhtar Hafifi, Rahmat Hidayatullah, Tomi Sutrisno, Sulaiman, Sugeng Sugiarto, Mujiburrahman, Ramfalak Siregar, Kokom, Lia. Serta teman-teman penulis yang telah sukses, Fauziah Hasni, Nur Jannah, Monel, Nur Hidayah, Sahla, Riri, Taufik (petong), dan bung Surna.
8. Dan teman-teman penulis satu kamar, Mahfud, Umam, Zein, Dayat, Muslih (syeikh) yang selalu mendukung dan memberi semangat serta penuh pengertian.
Dengan rampung dan selesainya karya tulis ini, penulis sangat menyadari bahwa masih terdapat kekurangan disana-sini dan jauh dari kesempurnaan, baik berkaitan dari segi penulisan, susunan kalimat ataupun yang lainnya. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga tulisan yang sangat sederhana ini ada manfaatnya bagi nusa, bangsa dan agama, lebih khusus bagi penulis sendiri, Amin amin ya robbal „alamin.
PEDOMAN TRANSLITERASI1
Konsonan
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambangkan
ب b be
ت t te
ث ts te dan es
ج j je
ح h h dengan garis bawah
خ kh ka dan ha
د d da
ذ dz de dan zet
ر r er
ز z zet
س s es
ش sy es dan ye
ص s es dengan garis bawah
ض d de dengan garis bawah
ط t te dengan garis bawah
ظ z zet dengan garis bawah
ع „ koma terbalik keatas, menghadap ke kanan
غ gh ge dan ha
1
ف f ef
ق q ki
ك k ka
ل l el
م m em
ن n en
و w we
ـه h ha
ء „ apostrof
ي y ye
Vokal
Vokal dalam bahasa Arab sama seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal alih aksaranya adalah sebai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
___
___ a fathah
___
___ i kasrah
___
___ u dammah
Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
__
__ ai a dan i
__
Vokal Panjang
Ketentuan alih aksara vokal panjang (Madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, adalah sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ــ â a dengan topi di atas
ــ î i dengan topi di atas
ـــ û u dengan topi di atas
Kata Sandang
Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu alif dan lam, dialih aksarakan menjadi huruf /l/, baik diikuti oleh huruf syamsyyiah maupun qamariyyah. Contoh: al-rijâl bukan ar-rijâl, al-dîwân bukan ad-dîwân.
Syaddah (Tasydîd)
Syaddah atau tasydîd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda (– ), dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya yang secaraa lisan berbunyi ad-darûrah tidak ditulis “ad-darûrah”, melainkan “al-darûrah”, demikian seterusnya.
Ta Marbûtah
diikuti oleh kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/ (lihat contoh 3).
Contoh
no Kata Arab Alih aksara
1
ط
tarîqah2
ماسإا عم ج ا
al-jâmî‟ah al-islâmiyyah3
ج ا ح
wahdat al-wujûdHuruf Kapital
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQOSAH
KATA PENGANTAR ……… i
PEDOMAN TRANSLITERASI ……… iv
DAFTAR ISI ……… viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .………... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………. 6
C. Tujuan Penelitian ……… 7
D. Tinjauan Pustaka ……… 7
E. Metodologi Penelitian ……… 9
F. Sistematika Penulisan ………. 10
BAB II PEMAHAMAN DASAR SEPUTAR JIHAD A. Definisi Jihad dan Makna Fî Sabîlillah……… 12
B. Jihad di dalam Dustur Islam………... 18
b) Jihad di dalam Hadis Nabi SAW………... 22 C. Status Hukum Jihad………. 24
BAB III JIHAD DALAM AL-QURAN
A. Perintah Jihad ………... 29 B. Sasaran (objek), Sarana (media) dan Macam-macam Jihad ……... 34
a) Berjihad Melawan Orang-orang Kafir dengan Menggunakan Argumen (Hujjah) dan Peperangan….……….. 38 b) Jihad Melawan Hawa Nafsu dan Setan………. 41
C. Tujuan Diperintahkannya Jihad ……….. 45
BAB IV PENAFSIRAN JIHAD DARI MASA KE MASA
A. Sejarah Singkat Perjalanan Tafsir ……… 51
B. Penafsiran Ayat Jihad dari Periode Mutaqaddimîn Hingga Modern. 54
a) Penafsiran Ayat Jihad oleh Ulama Mutaqaddimîn
(abad 1-4 Hijrah) ……… 54 b) Penafsiran Ayat Jihad oleh Ulama Muta‟akhkhirîn
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ……… 61 B. Saran-saran .……… 62
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Allah SWT menganugrahkan alam semesta serta menundukkannya bagi
manusia sebagai fasilitas penunjang yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. Dia tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak mampu dicerna oleh akal, berbicara sesuatu yang tidak diketahui, dan berjalan tanpa petunjuk,
melainkan Allah menurunkan risalah-Nya yang bisa menuntun manusia kepada tujuan hidup. Serta memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana menata
rincian-rincian kehidupan dan interaksi sosial di antara mereka. Demikianlah Allah menjamin bagi manusia tiang-tiang pokok eksistensi yang bersifat materil. Allah juga menjamin eksistensi manusia secara rohani dan sosial yang tergambar
dalam petunjuk dan aturan yang diturunkan kepada mereka.
Risalah Allah selalu turun bagi manusia berturut-turut melalui perantara
seorang nabi dan rasul yang diutus kepada setiap kaum secara khusus dan temporer, sebagaimana firman-Nya “Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus
sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya…”.2 Kemudian Allah menyempurnakan agama-Nya dengan mengutus Muhammad SAW sebagai rasul terakhir bagi seluruh umat manusia dan dengannya Allah menghapus setiap
risalah yang pernah datang sebelumnya. Keterangan ini senada dengan firman-Nya yang berbunyi:
2
“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.”
(Q.s. Saba‟ [34]: 28)
Allah SWT menurunkan kepada Muhammad SAW kitab-Nya yang kekal
yaitu Al-Quran. Di dalamnya terangkum seluruh risalah secara sempurna yang
meliputi tanda-tanda kenabian dan petunjuk bagi kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Risalah yang sempurna ini kemudian diberi nama “Islam” dan menjadi satu-satunya agama yang mendapat pengakuan serta keridhaan di sisi Allah, sebagaimana firmannya “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah
hanyalah Islam…”.3 Selanjutnya Allah menjadikan umat Islam sebagai umat panutan yang memimpin seluruh umat kepada agama yang benar serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kemenangan, dan untuk
terwujudnya hal tersebut diperlukan sebuah perjuangan.
Istilah Al-Quran untuk menunjukkan perjuangan adalah kata “jihâd”, suatu keharusan bagi umat yang telah Allah pilih untuk peran ini dan telah dipercayakan tugas penting agar menjadi umat yang berjuang. Karena itu datang perintah Allah kepada umat Islam untuk berjihad sebagai konsekuensi pengemban tanggung
jawab menyiarkan Islam keseluruh penjuru dunia. Jihad di dalam Islam merupakan unsur fundamental dan pokok karena merupakan sarana efektif untuk
mencegah kejahatan, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi dan
mencegah kejahatan yang tumbuh dari dalam jiwa atau datang dari yang lain.
Islam datang membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan manusia agar menghiasi diri dengannya serta memerintahkan manusia agar memperjuangkan Islam hingga mengalahkan kebatilan.4 Menurut Sayyid Qutb inti
agama Islam itu adalah suatu gerakan pembebasan, mulai dari hati nurani setiap individu dan berakhir di samudera kelompok manusia. Islam tidak pernah
menghidupkan sebuah hati lalu dipasrahkan menyerah tunduk kepada suatu kekuasaan di atas permukaan bumi selain dari keuasaan Tuhan Yang Satu dan
Maha Perkasa. Islam tidak pernah membangkitkan sebuah hati kemudian melepaskannya terbelenggu oleh keaniayaan dalam segala macam bentuk.5 Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa berjuang melalui jihad untuk
menegakkan kebebasan menganut serta menjalankan agama.
Jihad yang merupakan bagian integral wacana Islam sejak masa-masa awal
kedatangannya hingga sekarang telah melahirkan pendapat dan pandangan yang bervariasi. Ketika mengkaji tentang jihad akan muncul berbagai pandangan dari
para ulama dan cendikiawan Islam, baik yang bersifat keras (mereka yang selalu
mengidentikkan antara jihad dan perang) serta yang besifat lunak (mereka yang ingin mendistorsi makna jihad sehingga Islam tenggelam dalam kelemahan).
4
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an, Tafsir Maudhu‟I Atas Pelbagai Persoalan Ummat, (Bandung: Mizan, 1996), Cet. ke-3, h. 501.
5
Di sisi lain, secara sosiologis ada kegelisahan di kalangan umat Islam terhadap adanya kesenjangan realitas dengan ajaran ideal Islam. Satu sisi, Islam
diyakini sebagai agama yang cinta perdamaian, kasih sayang, toleran, dan menghargai terhadap setiap perbedaan termasuk perbedaan agama dan keyakinan.
Bentuk-bentuk pemaksaan dan kekerasan bertentangan dengan ajaran Islam. Tetapi pada sisi lain, sulit dibantah bahwa dalam Islam ada ajaran “jihad” yang bisa dipahami dan diartikan dengan perang (dalam pengertian khusus).6 Hal ini
kemudian mendorong banyak aksi-aksi kekerasan akibat dari pengkajian yang tidak menyeluruh terhadap ajaran Islam.
Bermula dari hancurnya sebuah pusat perbelanjaan yang terdapat di Amerika berjuluk World Trade Center (WTC), sebuah tragedi dahsyat yang mengantarkan tudingan miring terhadap eksistensi agama dan umat Islam di
seluruh dunia. Sejak saat itu berbergai dunia Islam, khususnya di Indonesia stigmatisasi baru muncul, konsep jihad yang ada di dalam ajaran Islam
diidentikkan dengan kekerasan, radikalisme dan terorisme. Sehingga di Barat konsep “jihad Islam” diartikan dengan peperangan yang bermotifkan agama (perang suci). Seolah-olah mereka menganggap bahwa perang merupakan
kewajiban bagi umat Islam dalam mengukuhkan eksistensi agama, sedangkan pedang dianggap sebagai instrumen yang beperan penting untuk menumpas
musuh-musuh Tuhan.
6
Secara literatur istilah perang suci (the holy war) sebenarnya tidak dikenal dalam perbendaharaan Islam. Menurut Drs. Muhammad Chirzin istilah the holy
war berasal dari sejarah Eropa dan dimengerti sebagai perang karena
alasan-alasan keagamaan. Pandangan Barat tersebut memberi corak kepada Islam sebagai
agama yang meyakini cara-cara kekerasan.7
Meskipun sebagian pelaku terorisme mengklaim dan diklaim sebagai aktivis Islam, namun menjastis agama Islam sebagai pemicu yang bertanggung
jawab dibalik serangkaian aktivitas terorisme adalah sebuah tidakan yang sangat terburu-buru dan terlalu dini. Sebab seluruh tindakan yang pada prinsifnya
mengandung kekerasan dilarang dan bertolak belakang dengan ajaran Islam. Di dalam Islam haram hukumnya menghilangkan nyawa dan darah seseorang tanpa alasan syar‟i, hal ini dapat dirujuk di dalam Al-Quran:
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.”
(Q.s. al-Baqarah [2]: 84)
Dibutuhkan klarifikasi terhadap persoalan ini untuk menemukan
kebenaran tentang signifikansi spiritual jihad agar tidak ada kesalahan terhadap aplikasi dalam menjalankannya. Serta terhindar dari spekulasi negatif khususnya
7
dari kalangan umat Islam itu sendiri. Menjadi amat penting bagi setiap muslim untuk memperolah jawaban tuntas atas pertanyaan mendasar tentang jihad dan
batasan-batasannya. Kenyataaan di atas mendorong penulis mengadakan penelitian seputar perkembangan yang terjadi terhadap konsep jihad, yang
tertuang kedalam sebuah skripsi yang berjudul PENELUSURAN MAKNA DAN PENAFSIRAN JIHAD DARI MASA KE MASA.
Perbedaan pendapat dikalangan ulama dan cendikiawan Islam dalam
mengkaji seputar konsep jihad seyogianya menjadi sebuah batu-loncatan dalam menemukan solusi terhadap problematika kehidupan umat Islam dengan cara
mencari titik temu. Kita seharusnya menghormati setiap perbedaan pandangan yang terjadi di kalangan ulama agar perbedaan tersebut menjadi sebuah rahmat yang dapat mempersatukan umat Islam bukan sebaliknya, perbedaan tersebut
menjadi bencana yang mengantarkan kepada pertikaian di antara sesama muslim.
B. Pembatasan dan Perumasan Masalah
Untuk menghindari melebarnya pembahasan dalam tulisan ini, maka
penulis merasa perlu memberikan batasan dan rumusan permasalahan. Pertama, penulis membatasi pembahasan seputar pengkajian terhadap ayat-ayat Al-Quran
tentang jihad, tidak seluruhnya akan tetapi sebagian yang menyangkut pembahasan. Kedua, agar skripsi ini terarah dan lebih komprehensif, maka penulis akan merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, yaitu
C. Tujuan Penelitian
Pada dasarnya seluruh usaha yang terkait dengan kajian keislaman bertujuan untuk menemukan solusi terhadap problematika-problematika yang
terjadi di tubuh umat Islam. Demikian pula dengan skripsi ini, diharapkan dapat menemukan jalan keluar terhadap perbedaan pendapat menganai pemahaman
jihad. Di samping itu, tujuan penulisan skripsi ini di antaranya:
1. Guna melengkapi salah satu persyaratan kelulusan pada akhir program S1 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Tafsir Hadis dalam meraih gelar
S.Th.I (Sarjana Theologi Islam).
2. Sumbangan ilmiah untuk kepustakaan Islam, khususnya dalam kajian
Al-Quran.
3. Penulis mencoba menghadirkan bagaimana perkembangan konsep jihad dari masa-kemasa, sehingga dapat dikomparasikan agar dapat diaktualisasikan
pada masa sekarang.
D. Tinjauan Pustaka
Kajian tentang jihad ini cukup menarik dan banyak dikaji oleh kalangan
akademis Muslim maupun non-Muslim. Begitu juga dengan buku-buku atau karya tulis yang bertemakan tentang jihad sudah banyak sekali yang ditulis oleh
tokoh-tokoh Islam maupun non-Muslim. Di antaranya: FIQIH JIHAD karya Yusuf Qardhawi, Jihad di Dalam Al-Qur‟an; Telaah Normatif, Historis, dan Prospektif karya Drs. Muhammad Chirzin, M. Ag, Krisis Islam; Antara Jihad dan Teror
Al-Bana; RUKUN JIHAD karya Ali Abdul Halim Mahmud (Penerj. Khozin Abu
Faqih, dkk).
Sementara itu karya-karya dalam bentuk skripsi yang betemakan jihad di antaranya:
1. Perintah Berjihad (Pendekatan Ilmu Rijal Al-Hadits), karya Robinson Rahmat Kuroso.8
2. Telaah Hadis Argumentasi Pelaku Bom Bunuh Diri Dalam Buku “Meluruskan
Makna Jihad”: Takhrij Hadis dan Analisa Sanad dan Matan, karya Ahmad
Nur Kholid.9
3. Dekonstruksi Tafsir Menuju Jihad Intelektual dan Moral (Studi Penafsiran
Terhadap QS Al-Ankabut : 69), karya Sulaiman Afifuddin yang berjudul10
4. Jihad Dalam Al-Qur‟an Menenurut Perspektif Abdul Hadi Awang, karya
Mohd Hilman Bin Hasim yang berjudul.11
8 Robinson Rahmat Kuroso, Perintah Berjihad (Pendekatan Ilmu Rijal Al-Hadits), (Sripsi S1 fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Universitas Islam Negri Jakarta, 2004). Dalam skripsi ini yang dibahas adalah kualitas sanad hadis yang membicarakan perintah berjihad. Pendekatan yang digunakan penulis dalam membahas kualitas sanad hadis adalah Ilmu Rijal Al-Hadits.
9
Ahmad Nur Kholid, Telaah Hadis Argumentasi Pelaku Bom Bunuh Diri Dalam Buku “Meluruskan Makna Jihad”: Takhrij Hadis dan Analisa Sanad dan Matan, (Sripsi S1 fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Universitas Islam Negri Jakarta, 2009). Dalam karyanya penulis menghadirkan argumentasi Imam Samudra berupa hadis tentang pelaku bom bunuh diri. Kemudian si penulis mentakhrij hadis tersebut dan melakukan penelitian terhadap sanad dan matannya.
10 Sulaiman Afifuddin, Dekonstruksi Tafsir Menuju Jihad Intelektual dan Moral (Studi Penafsiran Terhadap QS Al-Ankabut : 69), (Sripsi S1 fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Universitas Islam Negri Jakarta, 2009). Pembahasan di dalam skripsi ini adalah seputar jihad yang ditransformasikan kedalam jihad yang bermakna luas mencakup di dalamnya jihad intelektual.
11
5. Gerakan Haji Wasyid Serta Relevansinya Terhadap Konsep Jihad Dalam
Islam, karya Sa‟atu Adhia.12
6. Konsep Jihad Ahmadiyah: Sebuah Kajian Teologis, karya Ahmad Yani.13
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Pengumpulan dan Sumber Data
Untuk mengumpulkan dan meneliti data dalam penulisan skripsi ini
penulis menggunakan penelitian kepustakaan (library riserch). Dalam hal ini penulis merujuk kepada dua sumber, yakni sumber utama (primary resource) dan
sumber pendukung (secondary resource). Sumber pertama berasal dari kitab Al-Quran dan kitab-kitab tafsir dari masa klasik hingga modern, sedangkan sumber pendukungnya adalah buku-buku yang bertemakan jihad, media cetak dan web
yang memuat isu-isu tentang jihad dan sumber-sumber informasi lainnya.
2. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah
deskriptif-analitis. Pendekatan dengan metode deskriptif ini diharapkan dapat memaparkan dengan jelas serta terperinci mengenai makna dan batasan jihad. Kemudian dengan menganalisa data-data yang sudah ada penulis berharap dapat
terbangun sebuah konsep jihad yang sesuai untuk diterpkan pada masa sekarang.
12 Sa‟atu Adhia, Gerakan Haji Wasyid Serta Relevansinya Terhadap Konsep Jihad Dalam Islam, (Skripsi S1 fakultas Ushuluddin dan Filsafat, jurusan Tafsir Hadis, Universitas Islam Negri Jakarta, 2007). Skripsi ini membahas realitas sosial dan perjuangan masyarakat Banten dalam menghadapi penjajah Belanda. Peran ulama‟ sangat signifikan di dalam memimpin perlawanan tersebut. Penulis memaparkan sejarah perlawanan para ulama‟ di Banten (yang dipimpin oleh Haji Wasyid) dan mengkomparasikannya dengan jihad dalam Islam.
3. Metode Penulisan
Sebagai pedoman penulisan skripsi ini penulis menggunakan buku “Pedoman Akademk”, yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008/ 2009.
F. Sitematika Penulisan
Untuk keserasian pembahasan dan mempermudah analisis materi dalam
penulisan skripsi ini, maka berikut ini penulis jelaskan dalam sistematika penulisan. Secara garis besar skripsi ini terdiri dari lima bab, setiap bab dibagi menjadi sub bab, dan setiap sub bab mempunyai pembahasan masing-masing
yang antara satu dan lainnya saling berkaitan.
Bab I :Berisikan pendahuluan yang menguraikan argumentasi signifikansi studi ini. Bagian ini terdiri dari latar belakang masalah, tinjauan pustaka, pembatasan dan perumusan masalah, metode
penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II :Bab ini membahas tentang pemahaman dasar seputar jihad dan batasan-batasannya dengan sub-pembahasan sebagai berikut; A.
Definisi jihad dan makna fî sabîlillah. B. Jihad di dalam dustur Islam; a) lafaz-lafaz jihâd dalam Al-Quran, b) jihad di dalam hadis Nabi SAW. C. Status hukum jihad.
Bab III :Pada bab ini penulis membahas sebagian ayat jihad dalam Al-Quran, diantaranya mengenai: perintah jihad, sasaran (objek),
melawan hawa nafsu dan setan, dan yang terakhir adalah tujuan diperintahkannya jihad.
Bab IV :Pada bab ini menelusuri penafsiran jihad dari periode
mutaqaddimîn hinggga modern. Terdiri dari; sejarah singkat
perjalanan tafsir, penafsiran ayat jihad dari periode mutaqaddimîn hingga modern. a) penafsiran ayat jihad oleh ulama mutaqaddimîn (abad 1-4 Hijrah), b) penafsiran ayat jihad oleh ulama
muta‟akhkhirîn (abad 4-12 Hijrah), c) penafsiran ayat jihad oleh
ulama modern (abad 12 Hijrah-Modern).
BAB II
PEMAHAMAN DASAR SEPUTAR JIHAD
A. Definisi Jihad dan Makna Fî Sabîlillah
Dalam kurun waktu terakhir, pasca runtuhnya WTC dan meletusnya aksi terorisme istilah jihad mulai mencuat kepermukaan. Bukan hanya itu saja, kalangan Islam sendiri menaruh perhatian besar terhadap konsep jihad
sebagaimana pemahaman Barat terhadap jihad yang hanya sebatas peperangan (holy war). Di dalam Al-Quran memang terdapat kata perang dan anjuran untuk
melakukannya, namun kita harus menkaji terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian yang bersifat mengidentikkan antara jihad dengan peperangan.
Kitab-kitab bahasa Arab menyatakan bahwa kata jihâd dan mujâhadah
berarti “menguras kemampuan”. Secara bahasa, jihād berasal dari kata jahada, artinya tenaga, usaha, atau kekuatan.14 Di dalam bahasa Arab kata benda
ج
(jihâd) adalah bentuk mashdar dari kata kerja
ج
(jâhada), yang selanjutnyamerupakan turunan dari kata kerja
ج
(jahada) dengan jalan penambahan satuhuruf alif. Dengan perubahan berupa penambahan huruf alif itu menyebabkan artinya berubah menjadi lebih intensif, yaitu “kesungguhan melaksakan pekerjaan” meningkat menjadi maksimal “dengan jalan mencurahkan seluruh potensi yang ada”.15
Menurut Yusuf Qardhawi jihâd adalah isim mashdar dari kata
jâhada-yujâhidu-jihâdân-mujâhadah. Kata jihad merupakan derivasi dari kata
14 Ahsin W. al-Hafidz, M.A., Kamus Ilmu AL-QUR‟AN, (Jakarta: AMZAH, 2006), cet. 2, h.138.
yajhadu-jahdân. Dalam sebuah ungkapan diterangkan “Seorang laki-laki berjihâd dalam sebuah hal”, itu berarti ia bersungguh-sungguh dalam hal tersebut. Selanjutnya Ibn Mandzur dalam Lisan al-„Arab menulis, jihad ialah memerangi musuh, mencurahkan segala kemampuan dan tenaga berupa kata-kata, perbuatan,
atau segala sesuatu yang di sanggupi.16 Jadi makna dari kata
ج
(jâhada)ditinjau dari segi kebahasaan adalah kesungguhan dalam melaksanakan sebuah pekerjaan dengan jalan mencurahkan segenap potensi yang ada.
Sementara itu menurut istilah, jihad adalah suatu kewajiban bagi umat Islam yang sifatnya berkelanjutan hingga hari kiamat. Tingkat terendahnya berupa penolakan hati atas keburukan dan kemungkaran, sedangkan tingkatan
tertingginya berupa perang di jalan Allah. Di antara keduanya adalah perjuangan dengan lisan, pena, tangan berupa pernyataan tentang kebenaran di hadapan
penguasa yang zalim.17 M. Quraisy Shihab dalam memakmanai kata jihad dengan mengutip pendapat Ibnu Faris (w. 395 H) dalam bukunya Mu‟jam al-Maqayîs fi
al-Lughah, “Semua kata yang terdiri dari huruf j-h-d, pada awalnya mengandung arti kesulitan atau kesukaran dan yang mirip dengannya”.18
Menurut Fairuz Abadi dalam kitabnya yang berjudul Basha-ir Dzawit Tamyiz, sebagaimana yang dikutip
oleh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud beliau berkata:
“Jihad dan mujâhadah adalah menguras kemampuan dalam memerangi musuh. al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Fudhalah bin „Ubaid, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Mujahid adalah
16
Imam al-Allamah abi al-Fdhl Jamaluddin Muhammad bin Mukrim Ibn al-Mandzur, Lisan al-„Arab al-Muhith, (t.t.: Dar Lisan al-„Arab, t.th), h. 100.
17
Yusuf Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Bana, Terj. Bustami A. Gani dan Zaenal Abidin Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 74.
18
orang yang berjihad melawan jiwanya (hawa nafsunya) dalam rangka menaati Allah”.19
Adapun menurut ulama fiqih, jihad berarti membunuh orang-orang kafir. Sebagian ulama fiqih berpendapat bahwa jihad adalah mengerahkan kemampuan
untuk membunuh orang-orang kafir atau pemberontak (bughât). Ada juga yang berpendapat bahwa jihad adalah mengajak kepada agama yang benar dan
memerangi orang-orang yang menolaknya. Ada juga yang mendefinisikan jihad sebagai pengerahan usaha dan kemampuan di jalan Allah dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan yang lainnya.20
Berpijak pada pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa jihad adalah sebuah aktivitas dalam menjalakan ibadah kepada Allah SWT yang
didasarkan pada kesungguhan dengan cara mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan lainnya. Defenisi
ini lebih relevan dalam memaknai jihad, karena mencakup seluruh jenis jihad yang diterangkan oleh Al-Quran dan Sunnah. Selain itu, defenisi ini juga juga tidak membatasi jihad sebagai bentuk peperangan terhadap orang-orang kafir saja.
Orientasinya adalah agar istilah jihad bisa mencakup seluruh usaha umat Muslim dalam mencurahkan segenap kemampuan melawan keburukan dan
kebatilan. Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalam diri individual Muslim, berupa godaan setan, dilanjutkan dengan melawan keburukan
19 Ali Abdul Halim Mahmud, Fiqh Rekonsiliasi dan Reformasi Menurut Hasan al-Bana; RUKUN JIHAD, Penerj. Khozin Abu Faqih, dkk., (Jakarta: Al-I‟tishom Cahaya Umat, 2001), cet. 1, h. 31.
di sekitar masyarakat (Muslim). Hingga berakhir pada perlawan terhadap keburukan di manapun, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kata jihâd di dalam Al-Quran sering di sandingkan dengan lafaz fi
sabîlillah (pada jalan Allah), misalnya dalam Q.s. al-Maidah [5]: 54, al-Anfal [8]:
72, al-Taubah [9]: 41 dan 81. Hal ini mengisyaratkan bahwa seluruh yang di korban, baik jiwa dan harta dalam rangka mengamalkan jihad akan bernilai jika di dasarkan „pada jalan Allah‟ (fi sabîlillah) serta mengharapkan keridhaan-Nya.
Ayat-ayat Al-Quran mengidentifikasikan sabîlillah sebagai jalan Allah, seruan agama, dan ajaran-ajaran-Nya yang berdimensi keimanan, akhlak, sosial,
“Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh
Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”
(Q.s. al-An‟âm [6]: 151-153). Nabi Muhammad SAW menafsirkan lafaz sabîlillah dengan kalimat Allah, seruan-Nya, prinsip-prinsip dan manhaj-Nya. Imam Bukhari meriwayatkan
sebuah hadis yang artinya sebagai berikut:
“Seseorang berperang untuk memperoleh rampasan, yang lain berperang untuk memperoleh sebutan dan seseorang berperang supaya dilihat kedudukannya. Siapakah di antara mereka yang fi sabilillah? Nabi SAW menjawab, Siapa berperang agar kalimat Allah unggul, maka ia fi sabilillah.”21
Muhammad Rasyid Ridha mengemukakan dalam tafsirnya, bahwa sabilillah adalah jalan yang mengantarkan kepada keridhaan Allah yang dengannya agama
dipelihara dan keadaan umat membaik.22
Selain dirangkaikan dengan kata sabîlillah, kata jihâd juga sering
disandingkan dengan lafaz qitâl, hijrah, dan infaq, seperti dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 154, 190, 246, 261, Q.s. al-Nisâ [4]: 89, 100, al-Hajj [22]: 58, dan al-Nûr [24]: 22. Jadi, ketika Al-Quran di suatu tempat merangkai lafaz jihâd dan fi
sabîlillah kemudian di tempat lain menyebutkan lafaz qitâl dan fi sabîlillah,
menurut penulis kedua lafaz tersebut (jihâd dan qitâl) berbeda makna meskipun
memiliki orientasi dan hasil yang sama ketika dirangkaikan dengan lafaz fi
sabîlillah, karena kandungan makna dari kata jihâd lebih luas dari pada istilah
qitâl. Oleh sebab itu penulis berpendapat bahwa qitâl adalah suatu bentuk dari
jihad.
Meskipun demikian, jihâd yang dijumpai di dalam Al-Quran tidak
semuanya memiliki arti berjuang di jalan Allah karena ada juga ayat yang menggunakan kata jihâd untuk pengertian “berjuang dan berusaha seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan, walaupun tujuan tersebut condong kearah yang negatif”. Kasus seperti ini dapat dijumpai di dalam Q.s. al-Ankabût [29]: 8 dan Q.s. Luqmân [31]: 15. Kedua ayat tersebut berbicara di dalam konteks hubungan
antara anak yang beriman dan orang tua yang kafir.
B. Jihad di dalam Dustur Islam
a) Lafaz-lafaz Jihâd dalam Al-Quran
Sebelum mengkaji ayat-ayat tentang jihad, terlebih dahulu penulis akan mengeksplor kata “jihâd” dan berbagai bentuk perubahan katanya (tashrif) di dalam Al-Quran. Kata jihâd dan berbagai bentuknya terulang sebanyak empat puluh satu kali di dalam Al-Quran. Kata jihâd yang mengandung pengertian „berjuang di jalan Allah‟, ditemukan pada 33 ayat: 13 kali di dalam bentuk fi‟il
mâdhi (
ض م عف
/kata kerja bentuk lampau), lima kali di dalam bentuk fi‟ilmudhâri‟ (
ع ضم عف
/kata kerja bentuk sekarang dan yang akan datang), tujuhkali di dalam bentuk fi‟il amr (
مأ عف
/kata kerja perintah), empat kali di dalambentuk mashdar, dan empat kali di dalam bentuk isim fâ‟il (
ع ف مسإ
/kata bendayang menunjukkan pelaku).23
M. Dawam Rahardjo24 mendeteksi kata-kata jihâd dan derivasi katanya di
dalam Al-Quran, berasal dari kata jahd (
ـْ ـج
), kata ini terulang sebanyak limakali yaitu terdapat pada; Q.s. al-Mâidah [5]: 53, al-An‟âm [6]: 109, al-Nahl [16]: 38, al-Nûr [24]: 53, Fâthir [35]: 42. Dan berasal dari kata juhd (
ـْ ـج
) yang hanyaditemukan pada satu tempat saja di dalam Al-Quran, yaitu pada surat Al-Taubah,
ayat 79.
Muhammad Fuad Abdul Baqi merangkum kata jihâd dan berbagai bentuk perubahan di dalam Al-Quran dalam kitabnya yang berjudul al-Mu‟jam Al
23
M. Quraish Shihab, et.al, ENSIKLOPEDIA AL-QURAN: Kajian Kosakata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), cet. 1, h. 396.
Mufahras li al-Fadzhi al-Qur‟an al-Karim denganberbagai bentuk, lebih jelasnya
penulis tuangkan dalam bentuk tabel di bawah ini.
Terma Jihâd Beserta Perubahan Bentuk Katanya di Dalam Al-Quran25
No Bentuk Kata Q.S Ayat Lafadz
1. al-Taubah [9] 19
2. al-„Ankabût [29] 6
3. al-„Ankabût [29] 8
4. Luqmân [31] 15
5. al-Baqarah [2] 218
6. Ali Imran [3] 142
7. al-Anfâl [8] 72
8. al-Anfâl [8] 74
9. al-Anfâl [8] 75
10. al-Nahl [16] 110
11. al-Ankabût [29] 69
12. al-Taubah [9] 16
13. al-Taubah [9] 20
14. al-Taubah [9] 88
15. al-Hujurât [49] 15
16. al-Shaff [61] 11
17. al-Ankabût [29] 6
18. al-Taubah [9] 44
19. al-Taubah [9] 81
20. al-Mâ‟idah [5] 54
21. al-Taubah [9] 73
22. al-Tahrîm [66] 9
23. al-Furqân [25] 52
24. al-Mâ‟idah [5] 35
25. al-Taubah [9] 41
26. al-Taubah [9] 86
27. al-Hajj [22] 78
28. al-Mâ‟idah [5] 53
29. al-An‟âm [6] 109
30. An-Nahl [16] 38
31. An-Nûr [24] 53
32. Fâthir [35] 42
33. At-Taubah [9] 79
34. At-Taubah [9] 24
35. Al-Furqân [25] 52
36. Al-Mumtahanah [60] 1
37. Al-Hajj [22] 78
38. An-Nisâ‟ [4] 95
40. An-Nisâ‟ [4] 95
41. Muhammad [47] 31
Jika ditinjau dari tempat turunnya ayat (al-asbâb al-nuzûl), ayat-ayat tersebut (ayat-ayat tentang jihad) di atas sebagian turun pada saat Nabi
Muhammad SAW berada di Makkah, sedangkan ayat yang lain turun pada saat Nabi telah hijrah ke Madinah atau biasa dikategorikan sebagai ayat madaniyah.26
Terdapat perbedaan antara ayat-ayat jihad periode Makkah dan ayat-ayat jihad periode Madinah. Ayat-ayat jihad periode Makkah pada umumnya menyeru untuk bersabar terhadap tindakan-tindakan musuh dan memang tidak ada pilihan lain
bagi mereka selain itu, di samping terus berdakwah secara lisan di tengah-tengah umat manusia. Sedangkan ayat-ayat jihad periode Madinah cenderung menyeru
untuk menghadapi musuh secara konfrontatif dan membolehkan umat Islam membalas ketika diserang musuh, ini sesuai dengan kondisi umat Islam pada saat itu yang telah siap untuk membalas perlawanan musuh.
Demikianlah terma jihad beserta derivasinya di dalam Al-Quran yang berhasil penulis kumpulkan dari sumber-sumber buku, eknsiklopedi, dan kamus
Al-Quran. Untuk mengantar penulis lebih dalam membahas seputar jihad, penulis sudah memiliki modal awal dengan mengetahui tempat-tempat surat dan ayat yang berbicara seputar jihad serta mengenal bentuk-bentuk kata yang digunakan
Al-Quran ketika berbicara tentang jihad.
26
b) Jihad di dalam Hadis Nabi SAW
Bagaimanapun hukum jihad di dalam Islam, kedudukannya tidak dapat digantikan oleh sesuatu yang lain. Sebab melalui jihad umat dapat terlindungi dan
kehormatan negara-negara Islam dapat terjaga, serta kebebasan umat Muslim dalam menyampaikan dakwah Islam terpelihara. Jihad merupakan benteng dan
pilar pertahanan umat, dengan jihad lahir para pahlawan Islam, pasukan-pasukan Muslim yang tangguh, serta rela mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk kepentingan agama Allah. Banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang
memotivasi kita untuk berjihad di jalan Allah, menerangkan keutamaanya, dan mejelaskan kedudukan para pelakunya di sisi Allah SWT. Mereka memiliki
derajat yang sama dengan orang berpuasa serta orang yang mengerjakan shalat malam dan tidak bosan melakukannya.
Di samping Al-Quran, di dalam hadis juga terrekam pesan-pesan tentang jihad yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Di antaranya adalah hadis yang terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari, yang matan hadisnya sebagai
berikut:
ا س ْع تْأس ضْفأ معْا أ عْسم نْا اج ّأ
ها ص
م س ع
ف
ذ
ت ا م ع اّ ا
د
.
ا س ا م تْ
ذ
نْ ا ْا
د
.
ا س ا م تْ
ذ
ا س ف جْا
د
.
Seorang laki-laki berkata kepada ibn Mas‟ud, „amal apa yang paling
baik?‟, lalu ibn Mas‟ud berkata, “aku menanyakan hal yang serupa
kepada Rasulullah shalallahu „alaihi wa sallam, maka beliau menjawab,
"Shalat pada waktunya", aku berkata apa lagi ya Rasulallah, beliau menjawab"Berbuat baik kepada kedua orang tua", aku berkata apa lagi ya Rasulullah, beliau menjawab "Dan jihad di jalan Allah".27
(H.R. Bukhari) Ibnu Hajar al-„Asqalani menerangkan bahwa penyebutan tiga macam amal kebajikan yang utama itu adalah karena ketiganya merupakan lambang ketaatan-ketaatan lainnya. Artinya, siapa yang mengabaikan shalat fardu hingga melampaui
waktunya tanpa uzur, padahal shalat itu demikian besar keutamaannya, maka orang itu akan lebih mengabaikan ibadah yang lainnya. Siapa yang tidak berbuat kebajikan kepada kedua orang tuanya, padahal demikian banyak hak mereka atas
diri anaknya maka ia akan lebih sedikit berbuat kebajikan kepada selain keduanya. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad menghadapi orang-orang kafir, setelah
sedemikian jelas-jelas perlawanan mereka terhadap agama Allah SWT, maka terhadap berbagai jenis kefasikan ia akan lebih tidak perduli.28
Hadis lainnya yang berbicara seputar jihad adalah sebagai berikut:
ْنع حْط تْ شئ ع ْنع ْمع أ نْ ح ث ح خ ث ح سم ث ح
شئ ع
ع ها ض
، معْا ضْفأ جْا ت ا س ْت ّأ
جّ افأ
ذ
ْم ٌّح جْا ضْفأ ن
د
.
Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Rasulullah, telah ditunjukkan kepada kami bahwa jihad adalah amal yangpaling utama, apakah kami (kaum wanita) tidak berjihad?”, Rasulullah saw menjawab, “Bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur”.
(H.R. Bukhari)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa jihad memiliki cakupan makna yang luas di dalam wawasan Islam, jihad bukanlah semata-mata berjuang di medan
perang. Di dalam hadis di atas diidentifikasikan oleh Nabi bahwa berhaji juga termasuk jihad. Walaupun dalam konteksnya hadis ini berbicara tentang jihad bagi
28 Ahmad Ibn „Ali Hajar al-„Atsqalani, Kitab al-jihad was Siyar min Fathil Bari (Beirut: Dar al-Balaghah, 1985), h. 11-12.
wanita, namun pemakaian kata jihad di dalam hadis ini memberikan indikasi bahwa kata jihad memiliki makna yang luas. Dari hadis di atas dapat juga ditarik
kesimpulan bahwa jihad adalah setiap usaha sungguh-sungguh yang memerlukan pencurahan tenaga untuk melakukannya dalam rangka memperoleh ridha Allah
SWT. Allah berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, yang artinya sebagai berikut: “Siapapun di antara hamba-hamba-Ku yang menunaikan jihad pada jalan-Ku karena mengharap dan mencari keridhaan-Ku, Aku jamin untuk mengembalikannya, jika ia Ku kembalikan, dengan segala apa yang didapatnya berupa pahala atau harta rampasan. Dan jika ia Kuwafatkan dalam jihad maka ia Kuampuni, Kuberi rahmat dan akan Kumasukkan ke dalam surga”.30
Hadis-hadis tentang jihad secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama, hadis-hadis yang menyebutkan jihad dalam konteks perang di jalan Allah. Hal itu ditunjukkan dengan penyebutan kematian di medan jihad
serta perolehan ghanimah. Kedua, hadis-hadis yang menyebutkan jihad dalam arti luas, yakni segala usaha yang memerlukan pencurahan tenaga dalam rangka
memperoleh ridha Allah, baik berupa ibadah khusus yang bersifat individual maupun ibadah umum yang bersifat kolektif, berupa amar ma‟ruf nahi munkar.
C. Status Hukum Jihad
Ulama fiqih membagi fiqih Islam kedalam dua bagian besar, yaitu ibadah dan muamalah. Yang dimaksud dengan ibadah adalah segala amalan yang diwajibkan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran dan diterangkan di dalam hadis
Nabi Muhammad SAW, dipahami oleh umat Islam sebagai rukun-rukun dan
30
dasar-dasar agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan muamalah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan kehidupan, baik berkaitan dengan
individu (seperti halal dan haram), keluarga (seperti nikah, talak, waris, wasiat), masyarakat dalam bentuk aktivitas sipil, perdagangan dan negara (seperti
tanggung-jawab, syarat, hak, kewajiban pemimpin), umat (seperti persatuan, negeri, aturan hukum syariat, serta hubungan dengan negara lain).31 Jika demikian, dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa jihad dipandang dari
perspektif fiqih memasuki ranah muamalah.
Jihad merupakan warisan penting di dalam ajaran Islam karena ia adalah
media efektif untuk menjaga serta menyebar-luaskan agama tauhid ke seluruh penjuru bumi. Islam bukanlah sebuah agama ekspoliatasi yang mengharus umat manusia untuk takut dan memaksa mereka untuk memeluknya. Al-Quran sebagai
sumber ajaran Islam sejak empat belas abad yang lalu sudah mengajarkan pluralisme, reformasi, dan fleksibelitas dalam beragama. Oleh karena itu, Islam
hanya datang menawarkan sebuah jalan lurus dalam menapaki kehidupan, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Itu artinya tidak mungkin di dalam Al-Quran ada syariat yang mewajibkan umatnya untuk menyulut api
peperangan dengan tujuan teror. Orientasi jihad adalah untuk mempertahankan dan menyebarkannya agama Islam dengan menganut asas pluralisme bukan
bertujuan menghancur umat dengan jalan terorisme.
Berbicara masalah hukum, ulama fiqih sepakat bahwa hukum jihad adalah wajib (fardhun), akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang kapasitas hukum
kefardhun-annya (fardhu „ain atau fardhu kifayah). Di dalam kitab Bidayatul
Mujtahid karangan Ibnu Rusyd di terangkan bahwa jumhur ulama sepakat hukum
jihad adalah fardhu kifayah. Argumentasi yang menjadi pegangan terhadap pendapat para jumhur ulama dalam menetapkan hukum jihad fardhu kifayah
adalah firman Allah:
...
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu
yang kamu benci… dan Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahui.”
(Q.s. al-Baqarah [2]: 216).
Mengenai fardhu kifayah jihad, yakni apabila sebagian atau sekelompok orang telah melaksanakan jihad maka yang demikian itu sudah bisa mengcover
dan menggugurkan kewajiban jihad bagi seluruh orang yang ada. Alasan ini disandarkan pada firman Allah swt dalam surat al-Taubah ayat 122, sebagai
berikut:
"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."
"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar."
(Q.s. al-Nisâ‟ [4]: 95) Rasulullah SAW tidak pernah keluar berperang melainkan ditinggalkannya
sebagian orang. Jika ayat-ayat ini digabungkan, maka penggabungan ini menghendaki bahwa tugas berperang itu adalah fardhu kifayah.32 Di dalam
al-Mughnî, Ibn Quddamah menjelaskan makna kifâyah di dalam jihad yaitu jika ada
suatu kaum yang mumpuni untuk melakukan peperangan, bisa berupa tentara yang telah disiapkan untuk perang atau orang yang memiliki kesiapan jiwa untuk
melakukannya secara sukarela. Dengan demikian, jika ada serangan dari musuh yang datang dari luar atau dari musuh yang berada di negara Islam dapat
dihadapi.33
Beberapa ulama fiqih menyebutkan batasan tentang kewajiban perang dengan fardhu kifâyah, yaitu jika pemimpin merasa yakin ia memiliki kekuatan
32Berbeda dengan ulama yang lain, syeikh Abdu „I
-Lah bin Hasan menyatakan bahwa hukum jihad adalah “sukarela” (tathawwu‟), selengkapnya tentang penjelasan masalah jihad ini lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, (Semarang: Asy-Syifa‟, 1990), jilid II, cet. 1, h. 139-140.
yang bisa menyamai musuh. Jika tidak, mereka (musuh) tidak boleh diperangi karena hal tersebut bisa membahayakan orang-orang Islam. Para ulama fiqih juga
menerangkan hal lain yang sangat penting seputar fardhu kifâyah, yaitu kewajiban jihad akan gugur jika sebagian orang dari suatu negara itu sendiri yang
melakukannya.34 Ibnu al-Qayyim berkomentar seputar hukum jihad, menurut beliau jihad adalah fardhu „ain, baik dilakukan dengan hati, lisan harta atau
tangan.35
34 Yusuf Qardhawi, FIQIH JIHAD, h. 24.
35 Muhammad Ibn Abu Bakr ibn Ayuyub ibn Sa‟ad al-Zar‟I ibn
BAB III
JIHAD DALAM AL-QURAN
A. Perintah Jihad
Telah terpatri dalam pandangan mayoritas ulama Islam bahwa jihad yang merupakan bagian penting di dalam agama Islam diperintahkan setelah hijrahnya
Nabi ke kota Madinah. Pendapat ini lahir dari pandangan bahwa jihad hanya sekedar peperangan yang dilakukan dalam membela agama Islam. Jika ditinjau
dari tempat turunnya ayat (al-asbâb al-nuzûl), ayat-ayat tentang jihad sebagian turun pada saat Nabi Muhammad SAW berada di Makkah.36 Setelah Rasulullah
hijrah ke Madinah dan menetap di sana, barulah ushul jihadiyah (dalil pokok diperintahkannya berperang) ini muncul dan diwajibkan.
Kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam di
Makkah merupakan manifestasi jihad yang besar, meskipun beliau mengalami banyak hambatan dan rintangan berupa cemoohan dan siksaan. Dan satu lagi yang
termasuk jihad pada masa Rasulullah SAW menyebarkan Islam di Makkah yaitu kesungguhan mereka (Nabi dan para sahabatnya) dalam mempelajari kitab suci Al-Quran. Hal tersebut dikatakan jihad sesuai dengan penjelasan Al-Quran dalam
surat al-Furqân dan al-Nahl, sebagai berikut:
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.”
(Q.s .al-Furân [25]: 52)
“Dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, Kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.s .al-Nahl [16]: 110) Mengenai kedua ayat tersebut di atas para ulama (Ibnu Zubair, Hasan
al-Basri, Ikrimah dan Jabir) sepakat bahwa kedua ayat tersebut turun di Makkah. Ibnu Abbas berkata
“surah ini (an-Nahl) adalah Makkiyah, kecuali tiga ayat yaitu ayat ke 95-97 yang dimulai dari firman Allah, „dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan haraga yang sedikit…‟ sampai pada firman Allah, „…dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.37
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Amar bin Yasir disiksa hingga
tidak tahu apa yang mesti dikatakannya. Demikian juga Shuhaib, Abu Fukaikah, Bilal, Amir bin Fuhairah, dan kaum Muslimin lainnya. Ayat ini (Q.s. al-Nahl [16]:
110) turun berkenaan dengan mereka yang telah diselamatkan oleh Allah SWT.38 Demikianlah sebab turunnya (asbâb an-nuzûl) ayat yang kedua.
37 Muhammad Sa‟id Ramadhan al
-Buthy, Menjadi Mujahid Sejati, terj. Saiful Hadi, S.Ag., (Jakarta: PT. INTIMEDIA CIPTANUSANTARA, t.th.), cet. 1, h. 18.
Firman Allah ”Kemudian mereka berjihad dan sabar” mengindikasikan bahwa makna jihad yang terdapat di dalam ayat tersebut adalah berdakwah dan
bersabar, serta jihad dalam menanggung penderitaan dan kepayahan. Inilah yang dilakukan umat Islam di Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Dalam Islam antara
jihad, dakwah, dan sabar adalah ibadah yang memiliki perbedaan, akan tetapi dakwah dan sabar masuk kedalam bagian dari jihad jika dilakukan dengan cara sungguh-sungguh dengan seluruh kemampuan yang ada di dalam diri. Karena
prinsif dasar dari jihad itu sendiri adalah menuntut adanya kesungguhan dari si pelaku dalam menjalankan ibadah, baik berupa dakwah dan sabar dalam kesulitan.
Sehingga nyata bagi Allah SWT kesungguhan yang dilakukan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya.
Jihad dalam bentuk fi‟il amr adakalanya ditujukan kepada mukhatab
mufrad (orang kedua tunggal) dan adakalanya ditujukan kepada mukhatab jama‟ (orang kedua jamak). Amar jihad yang ditujukan kepada mukhatab mufrad dapat
dipahami bahwa pesan jihad tersebut ditujukan kepada perseorangan dan dapat dilaksanakan secara perseorangan, sebagaimana pesan untuk menyeru manusia ke jalan Allah (Q.s. al-Nahl [16]: 125) dan perintah untuk menyeru kepada kebajikan
(Q.s. al-A‟raf [7]: 199).
Amr jihad untuk mukhatab jama‟ mengandung pengertian bahwa perintah
tersebut ditujukan kepada khalayak agar dilaksanakan secara berjamaah. Hal tersebut mengandung kemungkinan bahwa jihad tidak dapat dilaksanakan kecuali secara bersama-sama atau melalui kerjasama yang satu dengan lainnya, seperti
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.”
(Q.s. al-Taubah [9]: 41)
(
ا ث ف خ
) Khifâfan wa tsiqâlan: Khifâf adalah bentuk plural dari katakhafîf, yaitu pemuda yang memiliki fisik yang kuat, mempunyai kesungguhan
berupa pembekalan dan kendaraan. Tsiqâlan adalah bentuk plural dari kata tsaqîl yang memiliki arti seseorang yang sudah berumur tua, sakit dan fakir yang tidak
mempunyai kesungguhan dan persiapan. (
ْم
) Dzâlikum mengandung maksudbahwa berjihad dengan harta dan jiwa lebih baik daripada berdiam diri di rumah. Ayat di atas berbicara tentang ajuran Hal itu memiliki nilai plus di hadapan Allah
SWT, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat di atas masih berbicara tentang anjuran untuk pergi berjihad, dalam hal ini umat Islam akan melawan bangsa Romawi yang berada di Syam.39
Kembali pada permasalahan sebelumnya bahwa ayat di atas merupakan contoh amr jihad kepada mukhatab jama‟ yang mengandung arti undangan untuk
berjihad adalah bagi seluruh umat Islam dengan segala persiapan yang dapat mereka bawa. Bahkan mereka yang sudah tua sekalipun harus ikut serta dalam berjihad, orang-orang yang sudah berpengalaman untuk ditempatkan di
tempat-tempat berbahaya. Sedangkan yang belum berpengalaman, mereka ditempat-tempatkan
39 Ayat ini termasuk ayat yang tidak dinasaskh
untuk tugas-tugas yang sesuai dengan keahlian masing-masing.40 Dari sini kita dapat melihat bahwa setiap lapisan masyarakat Islam, baik tua maupun muda, kuat
maupun lemah, miskin maupun kaya bisa berpartisipasi dan memiliki kesempatan untuk melaksanakan jihad.
Perintah jihad kepada kelompok tidak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan oleh sebagian umat Islam, tampa melibatkan seluruh kaum Muslimin. Jika keadaan demikian, maka bagi yang tidak terlibat aktivitas tersebut,
seyogyanya mengambil alternatif kegiatan yang relatif sama nilainya dengan kegiatan yang ia tinggalkan. Hal itu dapat disandarkan pada firman Allah swt:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(Q.s. al-Taubah [9]: 122) Sehubungan dengan ayat ini, Abdullah Yusuf Ali mengindikasikan bahwa ayat di atas mengungkapkan sebuah amalan yang dapat dilakukan bagi mereka
yang tidak berangkat ke barisan depan. Amalan tersebut adalah liyatafaqqahû fi
dîn (memperdalam ilmu agama). Perang mungkin tidak dapat dihindari, namun
perang bukunlah hal yang diungul-ungulkan dengan mengabaikan amalan yang lain. Memperdalam ilmu agama untuk mengetahui rincian dari syariat Islam akan melahirkan sebuah