• Tidak ada hasil yang ditemukan

Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur)."

Copied!
233
0
0

Teks penuh

(1)

(Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur)

YOGAPRASTA ADI NUGRAHA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Hubungan Orang Tua, Media Massa,

dan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus

Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani,” adalah karya saya dengan arahan dari

komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi

mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan

maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan

dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2012

(3)

and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur). Supervised by SARWITITI S. AGUNG (Chairperson) and DJOKO SUSANTO (Members).

The study about youth attitude was conducted in order to identify about kinds of behavior that would be performed by the youth towards agricultural livelihood. By identifying their attitude, people could be able to estimate response from youth about agricultural livelihood. The objectives of this study were: 1). To identify youth attitude towards agricultural activities. 2). To identify internal characteristics of youth, socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers. 3). To analyze the correlations between internal factors and youth attitude towards agricultural livelihood. 4). To analyze the correlations between socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers with youth attitude towards agricultural livelihood. 5). To analyze the correlations between perception toward rural condition and youth attitude towards agricultural livelihood. A number of 65 respondents were taken as sample. This study resulted several important outputs namely, 1). Majority of youth supported and agreed to work at agricultural setting 2). Majority of the youth were categorized late adolescence, low level of education, their parents were owner of their own farmland, low level in farmland mastery, low level in cosmopolite, low frequency from parents on telling about agriculture, average level on youth involvement in helping parents in farming activities, low frequency on mass media exposure, less than 20 minutes in every opportunity of watching television and also listening radio, low interaction with peers on agricultural sector, and good perception toward rural condition 3). There were several variables correlated to youth attitude towards agricultural livelihood i.e. age, gender, youth involvement in helping parents in farming activities, intensity on watching television, closeness with peers, and perception towards further condition of agricultural development.

(4)

Teman dengan Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda Tani di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur. Dibimbing Oleh Sarwititi S. Agung dan Djoko Susanto.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, (2) Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian. (3) Menganalisis hubungan karakteristik pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura, (4) Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, dan (5) Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif – Korelasional, dengan metode pengambilan sampel secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa di Kecamatan Pacet. 65 orang pemuda yang berumur 13 – 24 tahun, belum menikah, dan orang tuanya merupakan petani dijadikan responden dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan analisis data, Rank Spearman, dan Koefisien Kontingensi.

(5)

©

Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012

Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penyusunan kritik atau tujuan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(6)

(Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur)

YOGAPRASTA ADI NUGRAHA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)
(8)

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS Prof. (Ris). Dr. Djoko Susanto, SKM.

Ketua Anggota

Diketahui

Koordinator Mayor

Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian: 27 Desember 2011 Tanggal Lulus :

Bidang Pertanian (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur)

Nama Mahasiswa

: Yogaprasta Adi Nugraha

(9)

Puji dan Syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Lindungan,

dan Kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul

”Hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian” disusun sebagai salah satu syarat bagi mahasiswa

Sekolah Pascasarjana pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan

Pedesaan (KMP) untuk memperoleh gelar Magister Sains.

Penelitian dan Penyusunan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dari semua

pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih

kepada:

1. Komisi Pembimbing yaitu Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, M.S (Ketua) dan Prof. (Ris).

Dr. Djoko Susanto, SKM (anggota) atas bimbingan, masukan dan sarannya mulai

dari penyususan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan tesis ini.

2. Komisi Penguji, Bapak Dr. Ir. Djuara P. Lubis, M.S yang telah memberikan saran

dan kritik berkaitan dengan penyempurnaan tesis ini.

3. Seluruh staf pengajar yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada

penulis, serta staf administrasi di Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian.

4. Kepala Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Pengelola Gapoktan Multi Tani Jaya

Giri Bapak Suhendar, Kang Iliyudin, Kang Didin, Kang Dilla, dan Pak Abdul

Sidik (PPL) yang telah memberikan masukan – masukan dan membantu

menemani mencari pemuda di Desa Cipendawa dan Sukatani.

5. Orang tua penulis Ibu Ir. Nina Ratna Dewi dan Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si,

kakak dan adik Aditya Pandu Nugraha S.P dan Isya Trihusada Nugraha, S.Pd,

yang senantiasa memberikan kasih sayang dan dukungan atas pengerjaan tesis ini. 6. Cita Septiviani, S.P sebagai orang yang senantiasa memberikan motivasi dan

dukungan dalam pengerjaan tesis ini

7. Teman seperjuangan satu bimbingan (Dini Valdiani, S.Sos, Leonard Dharmawan,

S.P, Rofiah. S.Ag, Dwi Retno Hapsari, S.P, dan Rahmah Awaliah S.P)

8. Teman-teman KMP S2 2009 (Mas Sardi, Mba Cindo, Bu Susy, Bu Asma, Mas

Sigit, Mas Denta, Mba Imani Satriani) atas diskusinya, dukungan, persahabatan

dan persaudaraan serta kebersamaannya. Serta KMP S3 2008, 2009, 2010 (Ibu

(10)

9. Teman – teman yang sampai saat ini masih memberikan motivasi dan dukungan:

Agi Rihardian, Faith Ahmad, S.E., Fani A. Putra, S.Krim., Putra Fajar Pratama, S.P. M.M.

10.Tim Sahabat Peneliti (Ivan Triharto, Imam Heriyo, Sonny, Ucok, dan Reisya

Mulyadi).

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan

laporan ini. Oleh karena itu dengan segala keterbukaan saran dan kritik tetap diharapkan

guna kesempurnaan laporan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi

kita semua. Amin.

Bogor, Januari 2012

(11)

Jawa Tengah pada tanggal 7 Desember 1985, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara,

putra dari Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si., dan Ibu Ir. Nina Ratna Dewi.

Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Sempur pada tahun 1992, kemudian

melanjutkan ke SDN Sempur Kaler dan tamat pada tahun 1998, penulis menamatkan

pendidikan di SLTPN 3 Bogor pada tahun 2001 dan untuk jenjang Sekolah Menengah

Atas penulis selesaikan di SMUN 2 Bogor pada tahun 2004.

Penulis berhasil masuk ke Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004 melalui

jalur Undangan Seleksi Masuk IPB atau yang lebih dikenal dengan sebutan USMI, dan

diterima pada pilihan pertama Program Studi Sosial Ekonomi Industri Peternakan,

Departemen Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan. Selama menduduki

bangku kuliah penulis pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ilmu Penyuluhan

selama satu semester, penulis juga aktif mengikuti beberapa kegiatan kepanitiaan dan

ikut serta dalam organisasi kemahasiswaan. Penulis pada tahun 2005/2006 sempat

menjabat sebagai Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi Badan Eksekutif

Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM-D), di tahun yang sama penulis juga menjadi anggota Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASEIP, pada tahun berikutnya

yaitu pada tahun 2006/2007 penulis menjabat sebagai Kepala Departemen Informasi

dan Komunikasi HIMASEIP. Besarnya hobi dalam Olahraga Basket membuat penulis

bergabung dengan Tim Basket SEIP dan sempat meraih gelar juara ketiga pada tahun

2004/2005 dan berhasil meraih gelar juara pertama pada tahun 2005/2006.

Pada tahun 2008 – 2009 penulis pernah bekerja di Universitas Terbuka Sebagai

Associate Researcher Wakil Rektor 4, semenjak tahun 2009 sampai sekarang penulis bekerja sebagai pendiri usaha Sahabat Peneliti. Penulis pada tahun 2009 diterima menjadi mahasiswa pascasarjana Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan

(12)

DAFTAR TABEL ... ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ... viii

\DAFTAR LAMPIRAN... ... ix

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang... 1

Perumusan Masalah... 6

Tujuan Penelitian... ... 7

Manfaat Penelitian... ... 8

TINJAUAN PUSTAKA... ... 9

Sikap... 9

Sistem Ekologi Manusia... 15

Keluarga... 17

Sosialisasi... ... 18

Nilai dan Pandangan terhadap Pertanian ... 25

Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian ... 26

Pemuda... 28

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS... ... 33

Kerangka Berpikir ... 33

Hipotesis... ... 38

METODE PENELITIAN... ... 39

Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39

Desain Penelitian ... 39

Populasi dan Sampel ... 40

Data dan Instrumentasi ... 42

Validitas dan Reliabilitas ... 42

Analisis Data ... ... 45

Definisi Operasional ... 46

HASIL DAN PEMBAHASAN... 53

Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 53

Karakteristik Internal Pemuda ... 63

Peran Agen Sosialisasi ... 67

Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 75

Hubungan antara Karakteristik Internal pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 79

(13)

Hubungan antara Jenis Kelamin dengan

Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 81

Hubungan antara Status Kepemilikan Lahan Orang tua Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 83

Hubungan antara Luas Lahan Pertanian dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 83

Hubungan antara Tingkat Kekosmopolitan Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 84

Hubungan Sosialisasi oleh Orang Tua, Keterdedahan Media dan Interaksi dengan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian... 84

Hubungan Persepsi Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 89

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ... 91

Ketertarikan Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Hortikultura ... 93

KESIMPULAN DAN SARAN ... 97

Kesimpulan... ... 97

Saran... ... 97

DAFTAR PUSTAKA... ... . 97

(14)

1. Tahapan dalam rentang kehidupan... 30

2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia... 31

3. Batas wilayah Desa Cipendawa dan Desa Sukatani... 53

4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan... . 54

5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani... . 55

6. Pemilikan lahan pertanian... . 57

7. Sebaran umur pemuda... . 63

8. Sebaran tingkat pendidikan pemuda... . 64

9. Sebaran jenis kelamin pemuda... . 64

10.Sebaran status kepemilikan lahan orang tua... . 65

11.Sebaranluas lahan pertanian sayuran yang di garap orang tua... . 65

12.Sebaran tingkat kekosmopolitan pemuda... . 66

13.Frekuensi orang tua membicarakan pertanian... . 67

14.Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua... 68

15.Frekuensi pemuda menonton acara pertanian... .. 69

16.Intensitas menonton acara pertanian... . 70

17.Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio... 70

18.Intensitas mendengarkan acara pertanian………... 71

19.Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian... . 72

20.Persepsi terhadap kesempatan kerja di desa... . 73

21.Persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di desa... . 74

22.Persepsi terhadap pertanian di masa yang akan datang... . 75

23.Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian... . 76

24.Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian (per indikator)... . 78

25.Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap terhadap pekerjaan di Bidang Pertanian... . 79

26.Hubungan antara sosialisasi oleh orang tua, teman, dan keterdedahan terhadap media dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian... . 85

27.Hubungan antara persepsi pemuda terhadap faktor pendorong di pedesaan dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian ... ... 90

(15)

1. Model sistem ekologi dalam proses sosialisasi... 34

2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian ... 37

(16)

1. Kuesioner Penelitian ... ... ... 103

2. Foto – foto ... ... ... 111

(17)

Latar Belakang

Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan yang berkontribusi sebesar 15,3

persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2009. Pertimbangan lain yang menguatkan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan di Indonesia

ketika ekspor produk non-pertanian mengalami penurunan, ekspor produk pertanian

justru mengalami peningkatan tajam. Berangkat dari pertimbangan–pertimbangan itulah

sektor pertanian patut dipertimbangkan sebagai alternatif andalan pembangunan

ekonomi nasional menggantikan sektor industri (high tech industry) yang telah terbukti tidak sesuai untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan (Syam dan Dermoredjo, 2000).

Daryanto (2009) juga mengatakan bahwa sektor pertanian telah terbukti

memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini

didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam

pembentukan PDB, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan

perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih

komprehensif, antara lain: (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu

berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, politik dan ketahanan nasional (nasional security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa; (c) sektor pertanian dapat

menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk substitusi

impor; (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk sektor industri;

(e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah

satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor–sektor lain; (g) peran pertanian dalam penyediaan

jasa – jasa lingkungan.

Dalam rangka menjadikan dan mendukung sektor pertanian sebagai sektor

unggulan yang menjadi dasar pembangunan ekonomi negara Indonesia maka pertanian

sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) aspek atau faktor penting yang tidak dapat dipisahkan

dari sektor pertanian, yaitu sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM)

yang menunjang sektor pertanian secara komprehensif dan berkelanjutan. Sumberdaya

(18)

manusia merupakan subyek atau pelaku pertanian bumi ini yang dapat menjalankan

kegiatan pertanian atau dengan kata lain manusia merupakan motor dari berhasil atau

tidaknya suatu kegiatan pertanian. Sumberdaya manusia diharapkan bisa sebagai

fasilitator, motor, motivator dan dinamisator pembangunan pertanian agar terjadi gerakan pembangunan pertanian. Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor

penentu dalam program pembangunan dari segala bidang. Kondisi SDM pertanian

Indonesia saat ini termasuk rendah, khususnya petani yang antara lain bercirikan tingkat

pendidikan yang tergolong relatif rendah. Menurut data BPS 2010 terdapat tenaga

kerja petani sebanyak 41,49 juta orang orang atau 40 persen dari jumlah tenaga kerja

nasional (Deptan, 2005).

Fakta mengkhawatirkan yang tidak bisa dilepaskan juga dari SDM petani di

Indonesia adalah sebanyak 35,5 persen tenaga kerja petani memiliki pendidikan tidak

tamat SD, sedangkan yang tamat SD sebanyak 46,2 persen, sementara itu untuk petani

yang memiliki pendidikan terakhir SLTP terdapat sebesar 12,8 persen dan SLTA

sebesar 5,2 persen. Ironisnya orang yang berkerja di bidang pertanian yang berasal dari

lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 0,3 persen. Kondisi ini diperparah lagi dengan

rendahnya minat generasi muda untuk memasuki jalur pendidikan formal di bidang

pertanian yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendaftaran pada Sekolah Pertanian

Tingkat Menengah maupun Tingkat Perguruan Tinggi pertanian (Deptan, 2005).

Persoalan ini akan menjadi masalah serius di masa yang akan datang apabila tidak

diantisipasi dengan baik oleh pemerintah. Secara tidak langsung jika dilihat dari tingkat

pendidikan yang dimiliki petani di Indonesia, menunjukan bahwa banyak petani yang

bekerja tidak well-educated sehingga akan berperan terhadap keterbatasan daya pikir, wawasan, dan kreativitas para petani dalam menghadapi persoalan–persoalan di bidang pertanian.

Kondisi sebagian besar petani berpendidikan tidak tamat SD dan tamat SD

sebanyak 81,7 persen, hal ini menjadi masalah yang patut dicermati secara mendalam

dan serius. Masalah tidak selesai pada itu saja, hasil survei Badan Pengembangan SDM

Pertanian Kementrian Pertanian dalam Deptan (2005) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun. Melalui data tersebut dapat

dilihat bahwa minat pemuda bekerja di sektor pertanian memiliki tendensi menurun.

(19)

sangat mendasar yang dapat berakibat pada hilangnya generasi (lost of generation)

penerus di bidang pertanian pada masa yang akan datang. Banyak pemuda yang berasal

dari keluarga petani yang justru tidak bekerja di bidang pertanian, mereka lebih memilih

sektor lain selain bidang pertanian (non-pertanian), dan yang lebih ironis banyak pemuda yang berasal dari wilayah sentra pertanian justru memilih keluar bidang

pertanian. Terdapat pula citra pertanian yang lebih diidentikkan sebagai pekerjaan kotor

dan tidak mendatangkan keuntungan atau benefit secara cepat.

Pertanian yang berkualitas, maju dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan

sumberdaya manusia yang berkualitas. Peranan agen–agen pembangunan dalam

mencitrakan pertanian secara baik kepada pemuda sangat penting dalam rangkat

menjaga agar pemuda tetap bertahan di bidang pertanian. Perilaku pemuda pedesaan

yang bertahan maupun yang keluar dari bidang pertanian tidak terlepas dari adanya

pengaruh dari kebijakan–kebijakan pemerintah yang sifatnya membangun (generating knowledge) dan memberikan harapan yang positif kepada para pemuda. Akan tetapi ketidaktertarikan maupun ketertarikan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian tidak

semata–mata menjadi tanggung jawab pemerintah, karena pembentukkan perilaku tidak

dapat dilepaskan dari pengaruh sistem–sistem terdekat yang berada di sekitar pemuda

yang terbentuk melalui suatu proses sosialisasi dari agen–agen terdekat dengan pemuda

(mikro level), karena bagaimana pun gencarnya komunikasi yang dilakukan oleh agen– agen pembangunan dalam rangka merubah perilaku pemuda, selama lingkungan sekitar

pemuda tidak sejalan maka akan sulit merubah sikap ataupun perilaku pemuda tersebut.

Tinggi rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian diawali dari sikap

pemuda terhadap pertanian itu sendiri, sementara itu salah satu faktor yang sangat

penting dalam membentuk sikap adalah sosialisasi, seperti yang dikatakan oleh Mar’at (1981) sikap merupakan buah atau hasil dari sosialisasi. Berangkat dari pemahaman

yang disebutkan oleh Mar’at (1981), maka sikap pemuda yang berada di wilayah

pertanian sebenarnya terbentuk melalui sosialisasi yang berasal dari dalam (mikro)

orang tua, teman (peers), dan media massa (mass media). Sosialisasi tersebut dilakukan dalam proses komunikasi yang terjadi sehari–hari yang dijalani oleh pemuda tersebut.

Orang tua, teman, dan media massa (radio, televisi) merupakan komponen atau unit

terkecil dalam suatu sistem sosial yang berhubungan langsung dengan pembentukkan

(20)

sangat berperan penting dalam menentukan kualitas pembentukkan kepribadian

pemuda. Sosialisasi oleh orang tua merupakan aspek penting karena setiap anggota

keluarga terikat satu sama lain melalui proses komunikasi. Keluarga mengembangkan

serangkaian pesan, perilaku dan harapan tertentu melalui proses komunikasi (Suleeman, 1990). Ketika berbicara mengenai keluarga, maka akan berbicara mengenai keluarga

sebagai sebuah sistem yang terdiri dari subsistem–subsistem yang saling mempengaruhi

dan dipengaruhi.

Penelitian mengenai pemuda dan pertanian telah dilakukan sebelumnya oleh

Lubis dan Sutarto (1991), Pranadji (1999), Rozany (1999), Herlina (2002). Pada

penelitian yang dilakukan oleh Pranadji, Rozany, dan Herlina ditemukan fakta bahwa

pemuda kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian dikarena beberapa hal yaitu:

pekerjaan di bidang pertanian kurang menjanjikan dari segi ekonomi,

kurang”terhormat”, merupakan pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak bergengsi.

Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991) menghasilkan

temuan yang berbeda dari penelitian–penelitian lainnya, ada konsistensi yang kuat

antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa

faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja

dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa nilai

pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda. Selain pengaruh sosialisasi dalam

keluarga ketertarikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental

pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor pertanian.

Penelitian yang dilakukan oleh Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto dilakukan di

wilayah pertanian tanaman pangan, sementara penelitian Herlina dilakukan di wilayah

perkebunan, sementara pada penelitian ini dilakukan di wilayah pertanian hortikultura (sayuran). Pertimbangan pemilihan komoditas hortikultura karena hortikultura memiliki

perbedaan dengan komoditas pertanian lainnya seperti tanaman pangan dan tanaman

perkebunan. Komoditas hortikultura merupakan komoditas komersial (high value commodity) yang memiliki nilai ekonomi yang cenderung masih tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan maupun perkebunan (Saptana et al., 2006), selain hal itu produksi tanaman hortikultura (sayur dan buah-buahan) masih belum mampu memenuhi

permintaan masyarakat akan kebutuhan sayuran dan buah–buahan masyarakat.

(21)

pertanian hortikultura kemungkinan akan berbeda dengan minat pemuda dari bidang

pertanian pangan maupun perkebunan.

Penelitian yang dilakukan Herlina, Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto tidak

melihat bagaimana ekologi membentuk sikap seorang pemuda, tetapi melihat faktor– faktor yang menyebabkan migrasinya pemuda dari bidang pertanian ke bidang

non-pertanian, sementara penelitian mengenai sosialisasi yang dilakukan oleh agen–agen

sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda

terhadap pekerjaan di bidang pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran

mengenai bagaimana sosialisasi terkait dengan bidang pertanian dalam keluarga,

sosialisasi pertanian dengan sesama teman dan media massa ini dapat memberikan

pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Rendahnya

partisipasi pemuda di bidang pertanian bisa jadi mungkin karena terdapat rendahnya

penerusan nilai-nilai pertanian dari orang tua, teman dan media massa yang semakin

tidak mendukung pemuda di wilayah pertanian untuk bekerja di sektor pertanian.

Interaksi dengan orang tua, teman dan media massa (konteks mikro) sangat memegang

peranan penting dalam mempengaruhi proses sosialisasi nilai–nilai dalam suatu

keluarga termasuk dalam menentukan pekerjaan mereka. Tidak dapat dipungkiri pada

tataran mikro pergeseran nilai kerja pemuda di pedesaan tidak terlepas dari peranan

keluarga dan masyarakat. Budaya pedesaan kerap membuat proses pengambilan

keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi,

konteks ini menyoroti otonomi pribadi atau nilai subyektivitas sebagai faktor paling

dominan dalam proses pengambilan keputusan seseorang Herlina (2002).

Perumusan Masalah

Pertanian menjadi salah satu sektor unggulan di Indonesia, tetapi akhir–

akhir ini sektor pertanian mengalami berbagai permasalahan. Dewasa ini terdapat

indikasi bahwa pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan kotor yang tidak

menjanjikan (Muksin, 2007), tetapi terdapat pula orang yang beranggapan petani

sebagai pekerjaan yang menjanjikan, perbedaan sikap tersebut yang kemudian

berdampak kepada cara pandang petani terhadap pertanian itu sediri sehingga

ditenggarai mempengaruhi pertisipasi pemuda di bidang pertanian. Menurut data dari

Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan dalam Renstra (2005-2009) menunjukkan

(22)

Hal tersebut mengindikasikan pertanian di Indonesia mulai ditinggalkan pemuda. Tidak

sedikit pemuda yang berasal dari keluarga petani mulai meninggalkan pertanian dan

lebih memilih sektor non-pertanian, tetapi bukan berarti tidak ada pemuda yang berasal

dari keluarga petani yang terus bekerja di bidang pertanian. Kurangnya minat angkatan kerja muda untuk bekerja dan berusaha di sektor pertanian menjadi salah satu

kekhwatiran dalam pembangunan sektor ini.

Sebagai negara agraris yang meletakan pembangunan perekonomian

pada pertanian, dalam jangka pendek maupun jangka panjang fenomena rendahnya

minat pemuda akan membawa konsekuensi tersendiri. Kelangkaan sumberdaya

manusia di sektor pertanian atau keterlibatan sebagian besar tenaga kerja pertanian yang

setengah terpaksa akibat tidak terbukanya alternatif lain, mengakibatkan proses

produksi tidak optimal. Produktivitas tenaga kerja mengalami hal yang sama. Hal ini

akan menghambat perkembangan pembangunan itu sendiri, tetapi masih terdapat pula

pemuda yang berasal dari keluarga pertanian yang tetap bekerja di bidang pertanian dan

tidak memilih bidang di luar sektor pertanian. Artinya terdapat perbedaan sikap pemuda

dalam memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan masa depan. Pengaruh dari orang

tua. teman, dan media massa akan sangat menentukan cara berpikir, bersikap, dan

berperilaku seorang. Sikap pemuda terhadap pertanian akan dipengaruhi melalui tiga

aspek besar yaitu aspek mikro (orang tua, teman dan media massa), aspek meso

(lingkungan sekitar), dan aspek makro (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2006). Penelitian ini hanya melihat aspek mikro (orang tua, teman, dan media massa) dalam

memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian .

Penelitian mengenai hubungan orang tua, teman, dan media massa

terhadap sikap pemuda terhadap pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana orang tua, media massa, dan teman dalam menyosialisasikan

pertanian, dan apakah sosialisasi pada tataran keluarga, teman dan media massa secara

nyata dapat mempengaruhi sikap pemuda terhadap pertanian. Berangkat dari uraian

tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura?

2. Bagaimanakah karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua,

keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan

(23)

3. Apakah terdapat hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda

terhadap pekerjaan di bidang pertanian pertanian hortikultura?

4. Apakah terdapat hubungan sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap

media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap

pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura?

5. Apakah terdapat hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan

dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji hubungan antara

karakteristik pemuda, dan sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam

membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Secara spesifik

penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian

hortikultura.

2. Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua,

keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian.

3. Menganalisis hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda

terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura.

4. Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media

massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda

terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura.

5. Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan

sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura.

Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:

1. Pemerintah, dalam rangka meningkatkan minat pemuda diharapkan melalui

(24)

primer (orang tua, teman), karena tanpa ada dukungan sosialisasi dari orang tua,

teman, maka kebijakan pemerintah tidak akan berpengaruh pada pemuda.

2. Peneliti, dapat memahami secara komprehensif bagaimana proses sosialisasi

yang dilakukan oleh orang tua, teman, dan media massa dalam membentuk sikap pemuda terutama pemuda di bidang pertanian

3. Bidang komunikasi pembangunan, memberikan sumbangan pemikiran bahwa

komunikasi pembangunan tidak akan berjalan secara optimal tanpa dibarengi

(25)

Sikap

Definisi Sikap

Thurstone dalam Walgito (2003), memandang sikap sebagai suatu tindakan afeksi

baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek–obyek

psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi yang negatif adalah

afeksi yang tidak menyenangkan. Menurut Mar’at (1981), sikap merupakan suatu kondisi

psikologis yang didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan pada obyek tertentu,

menggugah motif untuk bertingkah laku. Mara’at (1981) juga menyebutkan bahwa bahwa

sikap merupakan produk dari sosialisasi di mana seseorang bereaksi sesuai dengan

rangsang yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada obyek tertentu berarti penyesuaian

diri terhadap obyek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk

bereaksi dari orang tersebut kepada obyek.

Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek atau

situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar

kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang

dipilihnya (Walgito, 2003).

Menurut Rakhmat (2005), ada lima hal yang bisa disimpulkan dari berbagai definisi

mengenai sikap. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan

merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap merupakan kecenderungan

untuk berperilaku dengan cara–cara tertentu menghadapi obyek sikap. Obyek sikap boleh

berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok. Jadi pada kenyataannya tidak

ada sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap’’, atau pada obyek

sikap. Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukanlah sekedar

rekaman masa lalu, tetapi menentukan juga apakah orang harus pro dan kontra terhadap

sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan; meyampingkan apa

yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari. Ketiga sikap relatif lebih menetap.

Berbagai studi menunjukan bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan

(26)

mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kelima, sikap timbul dari

pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap

dapat diperteguh atau diubah.

Struktur Sikap

Menurut Walgito (2003), sikap mengandung tiga komponen yang membentuk

struktur sikap, yaitu komponen kognitif (komponen perseptual), komponen afektif

(Komponen emosional), dan komponen konatif (komponen perilaku). Komponen kognitif

merupakan komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu

hal yang berhubungan dengan bagaimana orang berpersepsi terhadap obyek sikap.

Komponen afektif yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau rasa tidak

senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak

senang merupakan hal yang negatif. Komponen konatif merupakan komponen yang

berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini

menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau

berperilaku seseorang terhadap obyek sikap.

Ciri–Ciri Sikap

Menurut Walgito (2003), sikap memiliki ciri–ciri di antaranya adalah sikap tidak

dibawa sejak lahir, sikap itu berhubungan dengan obyek sikap, sikap dapat tertuju pada satu

obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek–obyek, sikap bisa berlangsung

lama atau sebentar, sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi.

1. Sikap tidak dibawa sejak lahir

ini berarti manusia pada saat dilahirkan belum membawa sikap–sikap tertentu pada

suatu obyek. Karena sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa

sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu

sikap terbentuk dan dibentuk, maka sikap dapat dipelajari, dan karena itu sikap dapat

berubah.

(27)

Sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek-obyek tertentu,

yaitu melalui proses persepsi terhadap obyek tersebut. Hubungan yang positif atau

negatif antara individu dengan obyek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula

dari individu terhadap obyek tertentu.

3. Sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi dapat tertuju pada sekumpulan obyek–

obyek

Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada orang lain maka orang tersebut akan

mempunyai kecenderungan untuk menunjukan sikap negatif pula kepada kelompok di

mana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan

untuk menggeneralisasikan obyek sikap.

4. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar

Kalau sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang,

secara relatif sikap itu akan bertahan lama pada diri orang yang bersangkutan.Sikap

tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang

relatif lama. Tetapi sebaliknya bila sikap belum mendalam ada dalam diri seseorang,

maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah

berubah.

5. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi

Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh

perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat

bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap obyek tersebut. Di samping itu

sikap juga mengandung motivasi, ini berarti sikap itu mempunyai daya dorong bagi

individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap obyek yang dihadapinya.

Mar’at (1981) juga telah merumuskan dan merangkum perumusan sikap secara umum

maka dapat dikatakan:

1. Attitude are learned, hal ini berarti sikap tidaklah merupakan sistem fisiologis ataupun

diturunkan. Tetapi diungkapkan bahwa sikap dipandang sebagai hasil belajar dan

(28)

2. Attitudes are referent, Sikap selalu dihubungkan dengan obyek sikap seperti manusia,

wawasan, pristiwa, ataupun ide.

3. Attitudes are social learning, yang berarti bahwa sikap diperoleh dalam berinteraksi

dengan manusia lain, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya

melalui nasihat, teladan, atau percakapan

4. Attitudes have readiness to respond, yang berarti adanya kesiapan untuk bertindak

dengan cara – cara tertentu terhadap obyek

5. Attitude are affective, yang berarti bahwa perasaan dan afeksi merupakan bagian dari

sikap, akan tampak pada pilihan yang bersangkutan, apakah positif, negatif, ataukah

ragu – ragu

6. Attitudes are very intensive, yang berarti bahwa tingkat intensitas sikap terhadap suatu

obyek bisa kuat ataupun bisa lemah.

Pembentukan Sikap

Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang

dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari

faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, yaitu:

1. Faktor-faktor genetik dan fisiologik: Sebagaimana dikemukakan bahwa sikap

dipelajari, namun demikian individu membawa ciri sifat tertentu yang menentukan arah

perkembangan sikap ini. Di lain pihak, faktor fisiologik ini memainkan peranan

penting dalam pembentukan sikap

2. Pengalaman Personal: Faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah

pengalaman personal atau orang yang berkaitan dengan sikap tertentu. Pengalaman

personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada

pengalaman yang tidak langsung. Terdapat dua aspek yang secara khusus memberi

sumbangan dalam membentuk sikap, pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan

kuat pada individu (salientincident), yaitu peristiwa traumatik yang mengubah secara

drastis kehidupan individu, misalnya kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan.

(29)

3. Pengaruh orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan

anak-anaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anak-anaknya. Contoh

peristiwa yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah orang tua pemusik,

akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang musik.

4. Kelompok sebaya atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada

kecenderungan bahwa seorang individu berusaha untuk sama dengan teman

sekelompoknya (Ajzen menyebutnya dengan normative belief).

5. Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Berbagai riset

menunjukkan bahwa foto model yang tampil di media masa membangun sikap

masyarakat bahwa tubuh langsing tinggi adalah yang terbaik bagi seorang wanita.

Perubahan Sikap

Sikap bisa diubah dengan berbagai cara. Seseorang bisa menerima informasi baru

dari manusia maupun melalui media massa yang mampu mengubah komponen

pengetahuan dari sikap seseorang itu. Semenjak adanya kecenderungan untuk konsisten di

antara komponen–komponen sikap, perubahan komponen kognitif akan direfleksikan

kepada perubahan komponen afektif dan juga perubahan pada komponen konatif. Sikap

juga bisa berubah melalui pengalaman langsung terhadap suatu obyek sikap (Triandis,

1971).

Suranto (1999), ada empat faktor yang menentukan sikap yaitu faktor fisiologis,

faktor pengalaman, faktor kerangka acuan dan faktor komunikasi sosial.

1. Faktor fisiologis mencakup umur

Pada umumnya anak muda memiliki sikap yang lebih radikal, orang dewasa bersikap

lebih moderat.

2. Faktor pengalaman turut mempengaruhi sikap seseorang. Mereka yang pernah

mengalami peperangan yang mengerikan akan memberikan sikap negatif terhadap

peperangan.

3. Faktor kerangka acuan sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang. Sesuai tidaknya

obyek sikap terhadap kerangka acuan akan berhubungan dengan sikap positif ataupun

(30)

4. Faktor komunikasi sosial yang berbentuk informasi dari seseorang kepada orang lain

dapat mengakibatkan perubahan sikap terhadap orang tersebut.

Menurut Suranto (1999), perubahan sikap yang mengarah kepada pengambilan

keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi,

karakteristik sosial, kebutuhan akan inovasi dan sistem sosial yang berlaku. Dalam kaitan

ini yang dimaksud karakteristik pribadi mencakup aspek seperti umur, tingkat pendidikan,

dan status seseorang dalam bidangnya.

Menurut Mar’at (1981), teori stimulus respon menitikberatkan pada perubahan

sikap yang dapat dipengaruhi “kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan

organisme”. Karakteristik dari komunikator (sumber) menentukan keberhasilan tentang

perubahan sikap seperti kredibilitasnya, kepemimpinannya dan gaya komunikasi. Hosland,

Janis dan Kelly dalam Mar’at (1981) beranggapan bahwa proses dari perubahan sikap

adalah serupa dengan proses belajar. Dalam mempelajari sikap yang baru, ada tiga peubah

penting yang menunjang proses belajar tersebut, yaitu perhatian, pengertian dan

penerimaan. Menurut Mar’at (1981), terdapat beberapa faktor yang dapat menunjang dan

menghambat perubahan sikap. Faktor-faktor yang menghambat antara lain, stimulus

bersifat indeferent sehingga faktor perhatian kurang berperan terhadap stimulus yang

diberikan, tidak memberikan harapan untuk masa depan, adanya penolakan terhadap

stimulus tersebut, sehingga tidak ada pengertian terhadap stimulus tersebut. Faktor-faktor

yang menunjang antara lain, dasar utama terjadinya perubahan sikap adalah adanya imbalan

dan hukuman di mana individu mengasosiasikan reaksinya yang disertai dengan imbalan

dan hukuman, stimulus mengandung harapan bagi individu sehingga dapat terjadi

perubahan sikap, stimulus mengandung prasangka bagi individu yang mengubah sikap

semula.

Pengukuran Sikap

Dalam pengukuran sikap ada beberapa macam cara, yang pada garis besarnya dapat

dibedakan secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung, yaitu subyek

dimintai pendapat bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah yang dihadapkan

(31)

berstruktur. Secara langsung tidak berstruktur misalnya mengukur sikap dengan

wawancara bebas (free Interview), dengan pengamatan langsung atau dengan survey misal

public opinion survey, sedangkan cara langsung yang berstruktur, yaitu pengukuran sikap

dengan menggunakan pertanyaan–pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam

suatu alat yang telah ditentukan, dan langsung diberikan kepada subyek yang diteliti

(Walgito, 2003), sedangkan pengukuran sikap dengan secara tidak langsung ialah

pengukuran sikap dengan menggunakan tes.

Sistem Ekologi Manusia

Konsep Ekologi manusia menyangkut saling ketergantungan antara manusia dengan

lingkungannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Pendekatan ekologi

atau ekosistem menyangkut hubungan interdependensi antara manusia dan lingkungan di

sekitarnya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Konsep ekologi manusia juga

dikaitkan dengan pembangunan. Keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan sangat

bergantung pada faktor manusianya, yaitu seluruh penduduk dan sumberdaya alam yang

dimiliki serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah ekologi menetapkan

adanya ketahanan atau ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan

yang serasi dari seluruh subsistem (Soerjani dalam Puspitawati 2009).

Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang menyangkut hubungan antar pribadi

dan hubungan antar manusia dengan lingkungannya di sekitarnya, maka manusia tidak

dapat berdiri sendiri. Manusia akan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya (baik

lingkungan mikro meso, dan makro). Brofenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2009)

menyajikan model ekologi manusia untuk mengerti proses sosialisasi yang diterima oleh

anak. Pada model tersebut dijelaskan bahwa lingkungan Mikrosistem merupakan

lingkungan terdekat dengan seorang individu, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya,

dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas lagi disebut lingkungan mesosistem, dan

akhirnya lingkungan yang paling jauh dari individu disebut dengan makrosistem

Pemikiran mengenai sistem merupakan satu konsep yang kompleks, terdiri dari

berbagai antar hubungan dan dipisahkan dari lingkungan sekitarnya oleh batasan tertentu.

(32)

dan galaksi. Pemikiran umum sepert ini dapat pula diterapkan pada manusia dengan

berbagai tingkat kompleksitasnya. Pada tingkat makro keseluruhan masyarakat dunia

(kemanusiaan) yang dapat dibayangkan sebagai sebuah sistem. Pada tingkat mikro, yang

dipandang sebagai sebuah sistem, komunitas lokal, asosiasi, perusahaan dan keluarga.

Sementara ini teori sistem juga didefinisikan sebagai suatu kerangka yang terdiri

dari beberapa elemen/sub elemen/sub sistem yang saling berinteraksi dan berpengaruh.

Konsep sistem digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial dengan berbagai

sistem yang lebih luas maupun dengan sub sistem yang tercakup di dalamnya. Contohnya

adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai sistem, anak merupakan subsistem dan

masyarakat merupakan supra sistem, selain kaitannya secara vertikal juga dapat dilihat

hubungannya secara horizontal suatu sistem dengan berbagai sistem yang sederajat. Dalam

pandangan Talcott Parsons dalam Puspitawati (2006), masyarakat dan suatu organisme

hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan

lingkungannya. Sistem kehidupan ini dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu : interaksi

antar bagian-bagian/elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi/pertukaran antar

sistem itu dengan lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori sistem umum

atau teori besar yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem

kehidupan, yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern

Maintenance.

Sistem terdiri dari empat unsur penting yaitu: (1) Obyek, bagian, elemen, atau

peubah dalam sebuah sistem, Obyek ini dapat berupa fisik, abstrak ataupun keduanya,

tergantung pada sistem yang hendak dikaji; (2) Sebuah sistem terdiri dari Atribut – atribut,

Sifat – sifat yang melekat dalam obyek – obyek tersebut: (3) Di dalam sebuah sistem

terdapat hubungan antar obyek – obyek tersebut; dan (4) sebuah sistem hidup dalam sebuah

lingkungan. Sebuah sistem merupakan suatu rangkaian yang mempengaruhi satu dengan

yang lainnya dalam sebuah lingkungan dan membentuk pola yang lebih besar dan berbeda

dengan sistem yang lain. Sebuah sistem memiliki karakteristik masing-masing, biasanya

karakteristik tersebut adalah interdependensi, korelasi, sebab–akibat, rantai pengaruh,

hirarki, hubungan dengan lingkungan sekitar. Pada perspektif sistem, komunikasi dapat

(33)

Keluarga

Keluarga adalah wahana untuk dan pertama bagi anggota–anggotanya untuk

mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian

cinta-kasih-sayang antar anggota keluarga. Pengertian keluarga menurut sejumlah ahli

adalah sebagai unit sosial–ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan

dasar dari semua institusi masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi

masyarakat, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang

memiliki jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah hubungan perkawinan, adopsi.

(Puspitawati, 2006)

Menurut Soelaeman dalam Puspitawati (2006) keluarga adalah sekumpulan orang

yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan

adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi dan saling memperhatikan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian intensitas

komunikasi keluarga adalah tingkatan/ukuran seberapa sering komunikasi/interaksi terjadi

di antara orang tua dengan anak dalam rangka memberikan kesan, keinginan, sikap,

pendapat, dan pengertian,yang dilandasi rasa kasih sayang, kerja sama, penghargaan,

kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan di antara mereka.

Secara tradisional keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang

dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki

tempat tinggal bersama. Galvin dan Brommel dalam Tubbs dan Moss (1996) menyatakan

bahwa keluarga adalah jaringan orang–orang yang berbagi kehidupan mereka dalam jangka

waktu yang lama, yang terikat oleh perkawinan, darah atau komitmen, legal atau tidak,

yang menganggap diri mereka sebagai keluarga dan yang berbagi pengharapan–

pengharapan masa depan mengenai hubungan yang berkaitan.

Orang tua dan anak adalah jaringan yang terikat oleh hubungan darah. Orang tua

mempunyai harapan–harapan tertentu pada anak-anaknya. Mussen et al. dalam

Puspitawati (2006) mengemukakan bahwa orang tua mempunyai tujuan khusus dan umum

untuk anak–anak mereka yang meliputi nilai moral, pengetahuan dan standar perilaku yang

harus dimiliki anak ketika sudah dewasa. Orang tua mencoba berbagai cara untuk

(34)

memberi hukuman, menjelaskan harapan dan kepercayaan kepada anak–anak untuk dapat

memiliki lingkungan yang baik.

Sosialisasi

Menurut Ihromi (1999), sosialisasi merupakan suatu proses transmisi kebudayaan

antargenerasi, karena tanpa sosialisasi masyarakat tidak dapat bertahan melebihi satu

generasi. Syarat penting berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi, karena tanpa

adanya interaksi tidak mungkin adanya proses sosialisasi. Sementara itu menurut Zende

dalam Ihromi (1999), sosialisasi adalah proses interaksi sosial melalui mana seseorang

mengenal cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku sehingga dapat berperan secara aktif

dalam masyarakat. Sementara itu menurut Goslin dalam Ihromi (1999) sosialisasi adalah

proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai

–nilai dan norma–norma. Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknai sebagai

sebuah proses di mana seseorang belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara

berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana semua itu merupakan hal-hal yang sangat

penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses

yang terus terjadi selama hidup. Individu yang baru dilahirkan hanya sebagai mahluk

biologis yang memerlukan kebutuhan biologis seperti minum bila haus, makan bila lapar

dan bereaksi terhadap suatu rangsang tertentu seperti panas, dingin, dan lain sebagainya.

Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada pada lingkungan sekitarnya.

Individu dapat menjadi mahluk sosial dipengaruhi oleh faktor keturunan (heredity)

atau alam (nature) dan faktor lingkungan (environment) atau asuhan (nurture). Faktor

keturunan adalah faktor–faktor yang di bawa lahir dan merupakan transmisi unsur–unsur

dari orang tuanya melalui proses genetika, jadi sudah ada sejak awal kehidupan. Misalnya

jenis kelamin, suku bangsa warna kulit, yang kesemuanya tidak bisa diubah lagi. Faktor

lingkungan adalah faktor luar yang mempengaruhi organisme, yang membuat kehidupan

bertahan. Misalnya pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya yang dapat berubah–ubah

dalam kehidupan individu serta tergantung pada usahanya. Kedua faktor ini sama

pentingnya dan saling berinteraksi serta melengkapi dalam membentuk perilaku tertentu

dari individu. Jadi perilaku tertentu itu tergantung pada faktor keturunan dan pada apa

(35)

karena faktor keturunan saja tanpa adanya pengaruh dari lingkungannya ataupun

sebaliknya. Hanya saja setiap inidividu berbeda–beda dalam perkembangannya mana yang

lebih dominan, apakah faktor keturunannya ataukah pengaruh lingkungannya.

Sosialisasi dialami individu sebagai mahluk sosial sepanjang hidupnya dari mulai

individu dilahirkan sampai dengan meninggal dunia. Karena interaksi merupakan kunci

sukses berlangsungnya sosialisasi maka diperlukan agen sosialisasi yakni orang–orang di

sekitar individu tersebut yang mentransmisikan nilai–nilai atau norma tertentu baik secara

langsung maupun tidak langsung. Agen sosialisasi ini bersifat significant others (orang

yang paling dekat dengan individu) seperti orang tua, teman sebaya, dan guru (Ihromi,

1999).

Ihromi (1999) mengatakan bahwa menurut tahapannya sosialisasi dibedakan

menjadi dua tahap, yakni:

1. Sosialisasi primer, sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil,

melalui mana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahapan ini proses sosialisasi

primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum, dan keluarga berperan

sebagai agen sosialisasi.

2. Sosialisasi sekunder, didefinisikan sebagai proses yang memperkenalkan individu yang

telah disosialisasi ke dalam sektor baru di dunia obyektif masyarakatnya; dalam tahapan

ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalime pada dunia

khusus; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan,

peer group, lembaga pekerjaan, dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga (Berger

dan Luckman dalam Ihromi 1999).

Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka, bisa juga dalam jarak tertentu

melalui sarana media atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun

infromal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi

kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi. Dalam

masyarakat yang homogen proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang

sama karena nilai–nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam

(36)

sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti

dalam masyarakat yang homogen. Pada masyarakat yang heterogen terdapat banyak agen

sosialisasi di luar keluarga yang menanamkan nilai yang berbeda dengan apa yang ada

dalam keluarga, bahkan kadang–kadang bertentangan. Dalam situasi demikian seseorang

dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi yaitu proses ”pencabutan” nilai yang

telah tertanam yang kemudian disusul dengan resosialisasi.

Sosialisasi dalam Keluarga

Individu yang baru dilahirkan sejak awal sudah bukan sekedar makhluk biologis

yang hanya membutuhkan makan, minum dan sebagainya, melainkan sekaligus juga

makhluk sosial. Sosialisasi akan dialami individu sebagai makhluk sosial sepanjang

kehidupannya sejak dilahirkan hingga meninggal. Tempat sosialisasi paling awal bagi

individu adalah keluarga. Jadi dapat dikatakan keluarga sebagai sebuah mekanisme sosial

agar seseorang individu dapat mengetahui posisi dan kedudukannya sehingga ia akan

mendapatkan tempat dalam masyarakat kelak setelah dewasa. Peran sosialisasi yang

dialami seorang anak akan menentukan kepribadiannya di masa mendatang karena agen

sosialisasi pada masa anak-anak adalah orang tua dan anggota keluarga lainnya yang

merupakan significantothers bagi anak dan orang tualah yang menjadi role mode bagi anak

dalam membentuk perilakunya (Ihromi, 1999)

Setiap anggota keluarga akan berinteraksi dan berkomunikasi. Interaksi dan

komunikasi di dalam keluarga membutuhkan unsur kedekatan. Hal ini merujuk pada

pernyataan bahwa keluarga sebagai sebuah sistem manakala komunikasi dapat berperan

untuk mengatur kedekatan dan penyesuaian di antara anggota, melalui pola aliran pesan di

dalam jaringan yang melibatkan hubungan saling ketergantungan. Selain itu, faktor

kesetaraan dan keterbukaan dalam situasi keluarga memungkinkan bagi orang tua untuk

mengembangkan pendekatan dua arah, atau pendekatan yang bersifat dialogis menuju

kearah pembelajaran, sehingga kedekatan dan proses adaptasi dalam keluarga dapat

dilakukan dengan melibatkan hubungan saling ketergantungan di antara anggota keluarga

melalui situasi komunikasi yang bersifat setara dan dialogis, baik langsung atau tidak

(37)

dengan kapasitas pemahamannya, informasi yang diberikan secara terus-menerus akan

menjadi proses penanaman nilai-nilai.

Tidak dapat dipungkiri, hubungan atau interaksi menjadi kepedulian kebanyakan

orang adalah hubungan dalam keluarga: keluarga mewakili suatu konstelasi hubungan yang

sangat khusus. Peran komunikasi orang tua sebagai pengasuh dan pendidik utama anak

dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu sebagai pelindung dan

penguasa dalam menegakan peraturan; pemandu dan pembina dalam meningkatkan

keterampilan dan konselor dalam mengarahkan moral. Pada praktek pengasuhan antara

orang tua dan anak yang kemudian dikelompokan menjadi tiga gaya pengasuhan yang

meliputi gaya pengasuhan demokratis, permisif, dan otoriter.

Fungsi Sosialisasi dalam Keluarga

Puspitawati (2006) menjelaskan apabila antara anggota keluarga saling menanggapi

pesan dan menerima pesan tersebut maka sebenarnya telah terjadi komunikasi antar pribadi

dalam keluarga yang dialogis. Umpan balik dari komunikasi dalam keluarga berfungsi

sebagai unsur pemerkaya dan pemerkuat komunikasi antara anggota keluarga sehingga

harapan dan keinginan anggota keluarga dapat dicapai.

Cangara (2002) menjelaskan fungsi komunikasi dalam keluarga ialah meningkatkan

hubungan insani (human relation), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi

dalam keluarga, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan

pengalaman dengan orang lain. Komunikasi dalam keluarga dapat meningkatkan hubungan

kemanusiaan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam hidup berkeluarga dan

bermasyarakat seseorang bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya

karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi dalam keluarga, juga dapat dibina

hubungan yang baik, sehungga dapat menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik

di antara anggota keluarga.

Komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu bentuk komunikasi antar pribadi

yang khas. Adapun ciri khas komunikasi antar pribadi yang membedakan dengan

komunikasi massa adalah : (1) terjadi secara spontan, (2) tidak mempunyai struktur yang

(38)

telah direncanakan terlebih dahulu, (5) dilakukan oleh orang-orang yang identitas

keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas, (6) bisa terjadi sambil lalu

Cangara (2002) mengemukakan adanya komunikasi kelompok kecil sebagai bentuk

nyata dari komunikasi dalam keluarga. Proses komunikasi berlangsung antara dua orang

atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggota keluarga saling berinteraksi satu

sama lainnya, Ciri-cirinya yaitu : (a) anggota-anggota keluarga terlibat dalam suatu proses

komunikasi yang berlangsung secara tatap muka, (b) pembicaraan berlangsung secara

terpotong-potong di mana semua anggota bisa berbicara dalam kedudukan yang sama,

dengan kata lain tidak ada pembicaraan tunggal yang mendominasi situasi, (c) sumber dan

penerima sulit diidentifikasi, artinya dalam situasi ini semua anggota keluarga bisa berperan

sebagai sumber sekaligus sebagai penerima. Karena itu pengaruhnya bisa

bermacam-macam. Tubbs and Moss (1996) mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi yang

terjadi dalam komunikasi keluarga mempunyai enam ciri: (1) dilaksanakan atas dorongan

berbagai faktor, (2) mengakibatkan dampak yang disengaja, (3) seringkali berbalas-balasan,

(4) mengisyaratkan hubungan antar pribadi paling sedikit pada dua orang, (5) berlangsung

dalam suasana bebas, bervariasi dan berpengaruh, (6) menggunakan berbagai simbol yang

bermakna. Komunikasi di dalam keluarga memiliki ciri-ciri minimal adanya keterbukaan

empati dukungan, perasaan positif, dan kesamaan. Jika ciri-ciri tersebut ada dalam

komunikasi keluarga, maka akan terjadi komunikasi yang sehat.

Sosialisasi Keluarga Efektif

Pada dasarnya sosialisasi merupakan proses interaksi di mana interaksi sangat

membutuhkan suatu kegiatan komunikasi, maka komunikasi keluarga efektif tidak bisa

lepas dari karakter dan fungsi dari hubungan antara orang tua dengan anaknya. Komunikasi

keluarga merupakan unsur yang berperan dalam pembentukan kepribadian anggota

keluarga khususnya anak. Kegiatan komunikasi keluarga yang efektif yaitu jelas, singkat,

lengkap, mudah dimengerti, tepat dan saling memperhatikan, dapat membentuk gaya hidup

dalam keluarga yang sehat. Dampak situasi hubungan yang sehat antara orang tua dengan

anak, yaitu komunikasi yang penuh kasih sayang, persahabatan, kerjasama, penghargaan,

(39)

komunikasi yang demikian merupakan suasana yang menggairahkan bagi pertumbuhan

anak komunikasi akan efektif karena orang tua dapat membaca dunia anaknya (selera,

keinginan, hasrat, pikiran, dan kebutuhan).

Ritual sebagai Suatu Proses Sosialisasi dalam Keluarga

Para peneliti menggunakan istilah ritual dalam definisi yang berbeda–beda.

Beberapa ahli komunikasi berargumentasi bahwa semua bentuk komunikasi adalah ritual.

Menurut pandangan ini, komunikasi sebagai ritual mampu menyediakan alternatif dasar

pemikiran (rational) bahwa selain komunikasi sebagai transmisi, komunikasi juga bisa

sebagai ritual. Komunikasi sebagai suatu transmisi menekankan dan bertujuan pada proses

transmisi untuk menghasilkan dampak yang diinginkan, pemahaman, dan perubahan sikap.

Sementara ini komunikasi sebagai ritual menekankan komunikasi sebagai suatu perbuatan

yang dilakukan bersama–sama, menghargai ”kemagisan (magical), keaslian realitas,

keefektivan suatu simbol. Dari dasar pemikiran tersebut maka peneliti yang meneliti

mengenai komunikasi keluarga akan mempelajari ritual secara bersamaan. Menurut Wolin

dan Bennet dalam Turner dan West (2006), terdapat 3 (tiga) bentuk ritual yang sangat

mempengaruhi peneliti, yaitu: Selebrasi, Tradisi, dan Interaksi yang terpola. Selebrasi

merupakan ritual yang dilakukan secara luas diseluruh budaya, contohnya liburan

Thanksgiving, Hari kemerdekaan, upacara seremonial seperti pernikahan, dan pemakaman.

Meskipun acara–acara tersebut merupakan suatu acara yang dilakukan oleh seluruh orang,

tetapi setiap keluarga memiliki cara–cara unik dalam menyelenggarakan acara tersebut.

Tradisi merupakan ritual yang lebih aneh lagi untuk setiap keluarganya dan tidak dilakukan

oleh masyarakat luas, artinya hanya spesifik dalam suatu keluarga, contoh dari tradisi

adalah liburan keluarga, reuni (arisan) keluarga, ulang tahun. Sementara itu interaksi

keluarga yang terpolakan (patterned family interaction) merupakan ritual yang biasa yang

tidak direncanakan, dan paling sering dilakukan oleh keluarga, contohnya seperti makan

malam, dongeng tengah malam, dan biasanya interaksi keluarga yang terpola merupakan

aktivitas yang dilakukan bersama–sama yang membangun dan menjaga identitas suatu

keluarga. Turner dan West (2006) mengatakan interaksi keluarga yang terpola sering sulit

Gambar

Gambar 1. Model  Sistem Ekologi dalam Proses Sosialisasi (Brofenbrenner
Gambar 2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan
Gambar 3. Kerangka penarikan sampel
Tabel 5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani
+7

Referensi

Dokumen terkait