• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN KELUARGA MUSLIM MINORITAS DI YOGYAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDIDIKAN KELUARGA MUSLIM MINORITAS DI YOGYAKARTA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

['et g,ttr tr:]Il 'i'il-i1Il..i 1.1i IIr;:rr:trrrrr.lr'. lri-r

PROSIDING

KONFERENSI

NASIONAL

KE-

4

Volume

1

(2)

PENDIDIKAN

KELUARGA MUSLIM

MINORITAS

DI

YOGYAKARTA,

(sTUDr

KASUS Dr

DESA

BANJARASRI KALTBAWANG

KULON pROCO)

Yusron Masduki, M.

Nurul

Yamin

Program

Doktor

Psikologi Pendidikan lslam Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarca

Yogyakarta, lndonesia Email: yusronmasduki @gmail.com

Abstroct-Pendidikon

keluorgo Muslim

rninoritos bertanggungiawob uatuk menciPtokon llngkungon kondusif don islomrl, sehingga

da|ot

menyiapkon anak yong sftolefi

di

dalom hotinya tertondm iman dan ldom. Penciptoon lingkungon

ini

membowo kenikmotan dan kesejukon bagi keluarga, tidok teqpengorufi oleh budayo yoagdotang dari

non

/Vlnslim. Nomun peloksonaon pendidikon keluarga, selalu bersinggungon dengan kelompok mayoritas non /Vluslim yong lebih dominon.

Key word: Pendidikan Keluarga, Muslim, Minorftos.

l.

Pendahuluan

Jumlah umat lslam

di

dunia sesungguhnya mencapai hampir seperempat jumlah penduduk dunia seluruhnya.

Mereka

dnggal menyebar

di

beberapa Negara, baik sebagai kelompok Mayoritas maupun minoritas. Sebagai

mayoritas, umat

lslam

berada

di

44

negara seperti di Negara-negara

Timur

Tengah dan beberapa Negara di

Asia.

Walaupun

90 %

masyarakat

Timur

Tengah beragama lslam, mereka bukanlah negara defigan iumlah penduduk yang paling banyak beragama lslam. Ada empac ne8ara yang penduduknya paling banyak beragama lslam adalah lndonesia. Pakistan, Bangladesh,

lndia

Sedangkan oranS-orang

lslam yang

menetap

di

kawasan Eropa, Amerika, Rusia, Cina, Jepang dan negara-negara lain yang disebutkan di atas disebut dengan Muslim Minorias.r

Menurut Tai al-Sirr Ahmad Harran, mendefinisikan minoritas Muslim dengan sekelompok orang Muslim yang

hidup

di

bawah kekuasaan pemerintah non-Muslim di tengah mayoritas masyarakat yang tidak beragama lslam, 2 Mereka hidup

di

negara di mana lslam merupakan agama

yang bukan meniadi ruiukan aturan atau dan iuga bukan menjadi budaya mayoritas penduduknfa. Jumhh Muslim minoritas

ini

sangat signifikan. Ketika diestimasi iumlah

total

penduduk

Muslim

se-dunia

diperkirakan 1.160.095.000

iiwa

sekitar

336.420.000

iiwa

hidup sebagai minoritas.3 Unruk kawasan Eropa dan Amerika, umat lslam

png

hidup di daerah berpenduduk minoritas

Muslim

merupakan

hal

yang jamak ditemui, Menurut

ketua

Union

of

lslomic Otgonizotion

in

Europe (UIOE),

terdapa(

sekiar

15,84

iuta

umat lslam

;arg

hidup di

Eropa

Barat.

Mereka

merupakan

4,45

% dari

tocal

populasi. Sedangkan

di

Amerika

Serikaq berdrarkan

takiran

The Council

on

Americon lslomic Relotion (CIIR),

iumlah mereka berkisar 6 sampai 7 juta iiwa.{

Merel<a pada umumnya kaum imigran, yang dari generasi

ke

generasi

telah

berkewarga-negaraan di Negara

tempat

mereka

hidup dan

bertempat ringal-Jumlah

itu

tampaknya akan

terus

membesar, sehingga

diperkirakan pada tahun 2050 satu dari lima orangEropa akan menjadi Muslim,

dan

pada

tahun zlffi,

U

%

populasi masyarakat Eropa adalah Muslim.s

Di

Amsika Serikat, lslam iuga akan mengarah menladi agama rcrbesar ketiga setelah Kristen dan Yahudi.

M.

Ali

Kectani menulis

buku

yang secara khusus

membahas asal usul istilah minoritas Muslim p€r1+hb dan iumlahnya.6 Kettani berhasil dengan baik rnernoet minoritas berikuc

ini:

minoritas Muslim

di

Eropa thri Soviet,

Cina,

lndia"

Afrika,

Amerika, Asia Pasifilq

&n

lainnya.

Kettani

memahami

minoritas

Muslim sdagai "bagian

penduduk

yang

berbeda karena

anggm:1a beragama lslam

dan

seringkali diperlakukan berbeda", karena eksistensinya seb.gai bagian yang sedikit di arrrra kebanyakan penduduk. T

Khusus

umat lslam

di

negara lslam dan

nqra

mayoritas

penduduknya beragama lslam, relatif tidak menemukan kendala dalam hubungannya dengan at'ilesi pendidikan lslam dalam kehidupan sehari-hari, permrc, di Negara tersebut pendidikan keluarga Muslim muncrd dan

berkembang, sehingga

bisa

diasumsikan, permasahtran

pendidikan

keluarga Muslim

berkembang

rnarrng merupakan respon atas kondisi

riil

yang dihadapi:

tdt4

kaum Muslim di Negara tersebut memiliki wodd viewyang relative sama terhadap pentingnya pendidikan ldrraryr Muslim, sehingga konflik sosio-ethic cenderung

minirds;

ket(o,

kemungkinan

adanya yertical closh

rntrra pemerintah dan kaum Muslim, serta horizontdl clos$

uwa

kaum Muslim dan masyarakat non-Muslim sangat lcf,il. Kenyataan

di

atas

berbeda

iika

pendidikan le&ra-ga Muslim berkembang di kalangan kaum Muslim

minoritas

di

Negara sekuler, yang mana malsias

penduduknya adalah non-Muslim.

Begitu halryra keberadaan Muslim minoritas

d

Desa Banjarasri

Kec.

Kalibawang, Yogyakarta, penrldcar keluarga Muslim minoritas disesuaikan dengan ketxradur,

Prosiding Kon{erensi Nasioml Ke-,(

(3)

diperlukan rerobosan unruk mencari format model dalam pendidikan keluarga bagi Muslim minoriras agar punya "idencitas

diri"

bagi anak dan

keluarga,

agar

ddak terpengaruh

oleh

godaan,

rayuan

dan

desakan dari kalangan mayoricas non-Muslim, lantas bagaimana model

pendidikan keluarga

Muslim dalam

menerapkan pendidikan keluarga.

Kawasan

Sendangsono Kalibawang, merupakan

segitiga emas

3

M,

Merapi,

Merbabu

dan

Menoreh. Sendangsono sebagai pusar ibadah Katolik di yogyakarra dan Jawa Tengah. Selain

di

tempar tersebug terdapar tempat

tidak

kalah banyaknya warga

non

Muslim, yakni Desa Banjarasri yang berada di pinggir Sungai progo dan

Perbukitan Menoreh

jumlah

penduduk

Banlarasri berjumlah 4.642 iiwz, warga yang non Muslim 2.860 iiwa atau 687", Muslim 1.957 jiwa atau32%.8

Dalam kondisi Muslim minoritas, masih

bisa

berperan dalam

kegiatan

sosial

l<emasyarakaan, dan budaya. Komuniras Muslim Banjarasri memiliki semangar cukup tinggi dalam menyelengarakan pendidikan TpA dan

majlis ra'lim di

Masiid

dan

Mushala

unruk mempertahankan aqidah. Namun pendidikan formal tidak ada satupun yang didirikan oleh umat lslam di sini. Lain halnya lembaga pendidil<an

non

Muslim

berdiri

TK,SD, SMP SMK serta Rumah Sakit, karena agama Karolik sudah masuk

di

kawasan Mendut, Kalibawang dan Menoreh

sudah sejak rahun

I

920

M

diprakarsai

oleh

J.B.

Prannthaler,

SJ.

seorang misionaris

berkebangsaan Jerman ditugaskan Kolonial Belanda

ke

yogyakaru dan Jawa Tengah, sehingga keberadaan non Muslim ini besar pengaruhnya dengan membangun Patung Bunda perawan

Maria

di

Sendangsono

ahun

1927 hingga diresmikan tahun 1929 M.

ll.

Permasalahan

Dalam penulisan ini ada tiga permasalahan pertoma, bagaimana relasi sosial dalam bentuk dan pola pendidikan keluarga Muslim minoritas; kedua, bagaimana moti\rasi

beragama

dalam melihat peluang

dan

antangan pendidikan keluarga Muslim

minorias; ket(o,

mengapa

tidal< terjadi suatu konflik,

bahkan

tercipa

suatu kehidupan yang harmonis

di

Desa Banjarasri Kalibawang Kulon Progo Yogyakarta.

lll.

Metodologi penelitian

Penelitian ini merupakan penelirian kualitatif dengan

pendekatan fenomenologi,

yang

bertuiuan

unulk mengetahui secara

lebih

mendalam rentang pendidikan Keluarga Muslim Minorias di Desa Banjarasri Kalibawang Kulonprogo Yogyakarta.

,

lY.

Pembahasan

Menurur

Ensiklopedi O><forddalam

Dunia

lslam Modern, mendefinisikan Pendidikan lslam, yang

&lam

al-Qur'an

(Q.S.

Ali

1mran

[3]:

I

l0)

disebut pen6entukan karakter dalam pandangan Dunia lslam, menurw keluarga

Muslim

untuk

memperkenalkan anak-anaknya denga,l semua peneguhuan sebagai sarana

untuk

memahami paramerer-parameter dalam

al-Qur'an bagi

hubungan konsrruksi dengan

Allah,

sesama manusia,

&n

alam. Berdasarkan

diktum

al-Qur'an, ,,Bacalah dengon nomo

Tuhonmu yang telah menciptakonmu,...ydng teloh

raalulr

(manusia) dengon pena" (QS

al

'Alaq

[96]:

l-4)

-

png

berarti

bahwa membaca adalah

belaiar

dan beramal

dengan petunjuk

kitab suci

-

pendidibn

klam berkembang dari pelatihan komprehensif seperti *rhm komunitas lslam pertama (sekitar 623

M)

ke studi4ama atau penanamannya dalam adat istiadat sosial.e

An-Nahlawi mendefinisikan pendidikan dari hfalol

Tarbiyy ah. Secara etimologis lafalotlorbt'yyoh

bersl

dari kata, pertomo,roba yorbu yang

berarti:

bertambdr dan

tumbuh.keduo, rabya yorbo dengan wozn (benruk) tlrofyo yakhfo, berzrti: menjadi besar, dan ketigo, rabba

rrrffil

dengan

wozn

(bentuk)

moddoyomuddu, berani: memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, meni?Ea dan

memelihara.ro

l''lenurut an-Nahlawi ketika akar kaca di aras dapat

dipahami

terdiri

4

unsur,

pertamo, meniaga dan

memelihara

fitrah

anak

menielang baligh;

*edla, mengembangkan

seluruh

potensi dan

kesiapan yang

bermacam macam; ketrgo, mengarahkan seluruh

fir.fi

dan

potensi menuju kepada kebaikan, kesempurraan Tang

layak

baginya;

keempot,

proses

dilaksanakan secara

bertahap, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Baidh*i dan

ar-Raghib dengan sedikit demi sedikic". rr

Ramayulis mendefinisikan keluarga dalam

balcs

arab disebur ohlun"

Di

samping kata ohlun bisa mernr:liki pengertian keluarga adalah oli dan osyir. Kata ofilun berasal

dari kata

ahila yang

berarti

senang, suka, atau

nlnrah-Menurut pendapat lain,

kaa

ohlun berasal dari kaa drdo yang

berarri

menikah. Secara

lebih

luas, ahlun adahh

sekelompok

orang yang

disatukan

oleh

huhrgrn-hubungan

tertenru,

seperti hubungan darah

(kdsga),

agama, pekeriaan, rumah atau negara.,,

Dalam al-Qur'an, kata ahlun disebutkan 227

kdl

menurut Mufidah, dari penyebuan sebanyak 227 igr l(rra ofilun memiliki riga pengerrian, yairu:

(l)

yang menufrrk

pada

manusia

).ang memiliki

perralian

darah

au

perkawinan,

seperti

ungkapan ohlu

olboit

atau seperti dalam ayat yang dibahas ini. Pengercian ini dalam

lfu

lndonesia disebut keluarga;

(2)

menuniuk pada

smr

penduduk fang mempunyai wilayah-geografis atau

tcrpat

tinggal, seperti ucapan ohlu olnur'an. ahti yatsrib,

d*r

d

bolod.

Dalam

bahasa sehari-hari

disebut

warga

eru

penduduk;(3) menunjukkan pada status manusia serzra teologis seperri dhlu ol-dzikr, ahlu ot*itob, ohlu al-nr.,

d*t

aljannah dan sebagainya- 13

Menurut konsep lslam,

keluarga

adalah

gsr

kesatuan hubungan

antara laki-laki dan

pe{-e{np.Ert

melalui akad nikah menurut ajaran lslam. Dengan

&rp

ikatan akad pernikahan rersebut dimaksudl,an anak

&n

keturunan yang dihasilkan menjadi sah secara

lulorn

agama,l' keluarga merupakan miilieu pertama dan

rme

setiap individu dimanapun berinteraksi, mulai

tinghtard

dalam kehidupan sampai dewasa

unruk

mendzpd@r ketenangan dan kebahagiaan.

Hai

orang-orang

fang

beriman, peliharalah

&trru

dan keluargamu

dari

api

neraka )rang bahan

bdaqa

adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat<r&Cet

Prosiding Konferensi Nasional Ke. 4

(4)

ri-

.ae'.

(e!.?s. den ddak mendurhakai Allah rerhadap

;+a

yeng diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa

yang

diperinrahkan. (Q.S. at-Tahrim [66]: 6).

Orang cua arau

ibu

dan ayah memegang peranan penting dan berpengaruh atas sukses tidaknya pendidikan anak-anaknya. Sejak anak lahir, ibunya yang selalu ada di sampingnya.

Oleh

karena

itu

ia meniru perangai ibunya

dan

biasanya seorang anak

lebih cinta

kepada ibunya.

Apabila

ibu

itu

menialankan Eugasnya dengan baik pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula.

Di

mata anaknya ia seorang fang tertinggi gengsinya dan terpandai

di

antara orang-orang yang dikenalnya.

Cara

ayah iru melakukan pekerjaan sehari-hari berpengaruh pada cara pekeriaan anaknya.rs

Abdul Majid yang mengaakan:

.i

{.)h-:

"

Fir

4srL

.i

;-r*i la4!li:-e <_2*

-

I

..s:.pe

g}ijJi3 '"\r}l Seorang anak itu bergantung pada agama keluar6anya dan mengikutinfa.

Orang

tua

harus dapat memberikan pengalaman yang

baik dan

bermanfaat bagi anak-anaknya.

Hal

ini sebagaimana sabda Rasulullah:

Tiada seorang manusia dilahirkan kecuali dilahirkan

atas

dasar

fitrah,

maka

kedua

orang

tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Muslim).

Keberadaan keluarga Muslim perlu dipahami secara komprehensif, sehingga pendidikan keluarga belum tentu sama

di

satu tempat dengan tempat lain, karena dibatasi oleh latar belakang, sosial, budaya, berteda, begiru juga di kawasan mayoritas atau minoritas keluarga Muslirn tinggal dan rnenetap, sehingga perlu diketahui keberadaan umat lslam di berbagai kawasan atau atau teritorial terrentu.

AIi

Kettani mengelompokkan berdasarkan asal usul

hixoris

dan situasi sekarang, yakni:

Pertama, yaitu mereka yang

dulu

:"nayoriks, tetapi belakangan kehilangan kekuasaan dan prestise, lalu melalui

erosi dan

penyerapan menjadi minori(as,

seperri

di Palestina, Etiopia, Boznia-Herregovina; keduo, mereka dahulunya minoritas sebagai penguasa, retapi kekuasaan mereka berakhir, dan mereka

tetap

sebzgai minoritas agama, contohnya

di

lndia dan

negara-negara Balkan; ketr'go, mereka adalah non Muslirn yang pindah ke apma

lslam

dalam lingkungan yang

noh

muslim,

seperti

di Srilangka.r6

Pada Piagam Madinah, yang diadopsi

oleh

Negara lslam

penama

didirikan Nabi Muhammad SAW: Orang-orang beriman dan kaum Muslirn Quraisy dan Yatsrib, serta orang-orang yang mengikuri dan bememu dengan

merekq dan

beriuang dengan

mereka,

adalah satu komunitas yang padu (ummoh wohdahl.

Pendidikan keluarga Muslim minoritas dimaksudkan

untuk

merespon fenomena

konfiik

etnis, sosial-budaya yang kerap muncul

di

tengah masyarakat. Masyarakat di lndonesia hingga

kini

ibarat api dalam sekam, suatu saat bisa muncul akibat suhu politik, agarna, sosial-budaya

png

memanas,

memungkinkan

konflik

tersebut

muncul

kembali, penyebab konflil<

tersebut

banyak tea$

kebanyakan disebabkan oleh perbedaan suku, agama, rasr

etnis dan budaya,lT Dalam

tataran

mikrokorrnos, perbedaan agama

sudah

merupakan

kodrat

Tahan (sunotulloh)

yang

tidak

bisa

dinafikkan keberadaanqra Secara implisit Tuhan sudah memberikan pesan

dcn

ard

Pentingnya keberagaman

(plurolime)

ini

d€ngan

menciptakan berbagai macam

suku, ras,

budala dan

agama untuk saling kenal satu dengan lainnya.rs

Gambaran

dunia saat

ini

terasa

sempiq kaca Fururolog John Naisbit dan Alvin Tofler menggambarion dunia seperti itu.Dunia merupakan suatu karnpung besar

@lobol village) sebagaimana yang dikemukakan o{eh ahli komunikasi Kanada, McLuhan.Di era globalisasi dervas ini kita tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan global-rt

Samuel P. Huntington dalam the Aash

o@aim

seperci

dikutip oleh Choirul

Mah{ud meramalkan rlan terjadinya benturan antar peradabah. Benturan aot tisa disebabkan oleh

faktor politilg

sosial, budaya, ekslonri

ras,

bahkan agama.'o Periuangan

hak

minoritas

ahn

berhasil jika komponen masyarakat mau merubah meniadi

masyarakat yang berperadaban. Karena dalam mas)"ardot

itulah,

hak-hak

untuk

berbeda diakui

dan

dihar5ai.

Masyarakac lndonesia yang maiemuk, seringkali golorgan minoritas sering dipertentangkan dengan golongan Tzlrg

dominan acau

mayorias.

Kasus yang terjadi

di

Earat misalnya

kaum

Muslim

di

Barat,2r sering diperhladon secara tidak adil.

Beragam persoalan dihadapi kaum Muslim minsins terus dilakukan untuk masa depan kaum Muslim minorias agar lebih baik Lebih lanjuc Tarig Ramadanz2

menpnlor

pentingnya melakukan pembacaan

baru

acas td<sd<s

klasik,

menafsirkannya

dalam

kontek

Barag

dan

memperlihatkan penafsiran segar atas prinsip uniwrsd lslam berpotensi mendorong kaum Muslim mdalcJan integrasi secara

otentik

Dirasa perlu dalam praktek pendidikan ldan\

kik

formal, non formal dan

in

formal,

termasr.ft

tarr

pendidikan (masjid

dan

mushola) seperti rnailis

tatn,

kuliah subuh, tadarus al-Qur'an, khuthbah ium'ar, TPd serta kegiatan pengaiian

rutin

memberikan andil

olcp

besar dalam peningkatan kualias umat lslam, narnuo ?erlu

diformulasikan kembali agar pendidikan keluarga

Mu*n

minoritas dapat dipahami secara komprehensif, hrena akan berhadapan dengan komuniras yrang

berbeda-Menurut Jamal al-Din 'Athiyyah Muhammad, sracr kelompok dikacakan minoritas, pertomd, dari sisi

irlr&h

memang lebih sedikit

dari

keseluruhan pendudr.rk ymg mayoritas;

keduq

tidak

memiliki

daya

dan

kdo@rt sehingga

perlu

diproteksi

hak-hak

dan

kevaiiu"ga-ketigo,

memiliki

ciri

khas

keminoriusnnF

,ryg

membedakan

dari

mayoritas, apakah aras dasar

€rq+,

etnis, budaya, bahasa atau ap.ma.'3

Menurut Salah Sultan, seorang pemerhati minorias Muslim dan pendukung hadirnya fiqh 'oqalliyy&

{*nip

oleh

Mawardi2a mengatakan,

terma

minorias

Hu*n

tidak hanya dilihat dari sisi jumlah, tetapi iuga dari

hak&k

hukum yang mereka miliki. Menurutnya, ada dua

bem*

Prosiding Konferensi Nasioml Ke- 4

(5)

-rr:rc5

lt--sir-- Fr:s=s,

mrnorkas aCas dasar lurnlah

J:w? sebat"irnana ;ang ada

di

Erop4 Amerika, lndia, dan Cina; dan kedu4 minoriras a&$ dasar hak-hak hukum. Dalam kasus kedua

ini,

walaupun dalam posisi sebagai

mayoricas,

kaum Muslim

mengalami

nasib

seperti kebanyakan

minoritas,

yakni

senantiasa mendapatkan pelecehan dan diskriminasi, Seperri di Kasmir, Chechnya Uzbel<istan, dan Azarbaijan.

Landasan

teori

dalam pendidikan keluarga Muslim, Pertomo, pendapac Abdullah Seed,

sepeti dikutip

oleh Mawardi, bahwa:

Ada hambatan psikologis, sosial, politilq dan budaya yang cidak memungkinkan

umat

lslam melaksanakan aiaran agamanfa secara komprehensif, persis sama format dan bentuknya dengan apa yang dijalankan

di

Negara-negara

muslim

atau

di

Negara

fang

mayoritas

warganya beragama lslam.

Menurut

Abdullah Seed sebagaimana

dikurip

oleh

Mawardi, dikarakan

bahwa

rerdapat persoalan "odjusting traditionol lslamic norm

to

wester contexts" (menyesuaikan norma-norrna

lslam

tradisional dengan konteks Barat) yang dialami

oleh

kebanyakan minoritas Muslim di Negara Barat.E

Kedu4 menurut sosiolog Belanda Van Niewenhuijze yang dikucip oleh A4rumardi:

Salah satu benrul< psikologi mayoritas Muslim tndonesia bahwa pada tahun 1980-an masyarakar mayoritas, rerapi dengan

sikap mental

minoriras. psikologi

seperti

ini muncul karena pengalaman historis

-

politis sejak zaman Belanda, ketika kaum muslimin mengalami marjinalisasi sosial dan polirik.26

Berdasarkan dari kedua

teori

ini, bila diterapkan di Desa Banjarasri, dimungkinkan reori yang di aras sebagai

landasan

untuk

mengkaji dalam

p.nuraprn

pendidikan keluarga Muslim n{noritas 32%, sedangkan

non

Muslim

68 % di

Desa

Baniarasri,

mengingat

masyarakat penduduknya ma),orias

Non

Muslim, sehingga apa yang dilakukan Muslim ini tidak seperti dilakukan dikebanyakan yang mayoritas Fluslim, ada kecenderungan mengikuti pola tradisi masyarakar

auu

lingkungannya. Selain itu iuga imbas atau pengaruh psikologi mayoritas Muslim, namun mentalnya minoritas,

hal

ini

karena masya.rakat dari rekam sejarah pada zaman Belanda

umar

lslam yang selalu termarjinalkan.

Menurut Azyumardi, di kalangan minoritas terdapat psikologi minoriros

-

yang dapat

meningkar meniadi exoggeroted fear - di dalam

diri

kaum muslimin mayoritas lndonesia terdapar semacam psikologr mdyoritds. Lagr-lagi

psikologi semacam

itu

tumbuh dan berkembang karena

fakor

his_toris, sosiologis,

dan politis yang

sangar komplek,2T yang menjadikan semua waspada.

Salah saru bentuk psikologi mayoritas Muslim di lndonesiadisebut

oleh

sosiolog

Belanda,

CAO

van Niewenhuijze, pada 1980-an sebagai mojanty with minority complex, masyaraka mayorkas tetapi dengan sikap menal sebagai minoritas. Psikologi seperti

ini

muncul karena pengalaman historis

-

politis sejak zarnan Belanda kedka kaum muslimin mcrgalami mariinalisasi sosial, ekonomi, dan politik.

l.

Relasi

Sosial

dalam l.lelihat Bentuk

fui

pola

Pendidikan

Keluarga

Muslim

Minoritas-Relasi sosial dalam

bentuk dan pola

penddikan keluarga Muslim

minoriras

Baniarasri dapat beriahn dengan baik, dapar diketahui aktif dalam penyeler6garaan pendidikan dalam benruk TPA" Majelis Ta.lim

d

masjid

dan mushala, Majelis Ta'lim Ranting Muhammadifah dan

'Aisyiyah,

Majelis

Ta'lim

khusus

lvlu'ollaf, dengan

menerapkan

pola

pembinaan keluarga yang dikern-as melalui program Qoryoh Toyyiboh.

Pembinaan keluarga Muslim menerapkan program Qaryah Toyyiboh besar pengaruhnya terhadap kduargz,

meliputi:

pembinaan

keluarga

bahagia,

pembinaan

keutuhan berkeluarga, pemenuhan

hak

dan keuaiiban

keluarga.

serra

pembinaan

generasi muda

unt!& berkeluarga secara islami. Dalam program, tidak tranya pemberdayaan sumber daya manusia lewat pengajian aau

ta'lim

dalam penanaman aqidah, ibadah,

akfihk

*an mu'amalah, namun

juga

ditekankan 6";gagai pelatihan

bidang ekonomi,

keterampilan,

pendampingan dan

pemodalan sena pemberdafaan sumber daya

alam-Program Qoryoh Tayyiboh

ini

sebagai identius diri

bagi

keluarga

Muslim

di

Banjarasri, diperlukan agar

keberadaan

Muslim

minoriks retap

ekis

dan dapar

bertahan

dari

keterancaman aqidah, budaya, dan beban

psikologis

dari

komunicas

mayoriran

non-Muslim di Banjarasri. Pendidikan keluarga

Muslim

harus pun;,a

identitas jelas, agar pendidikan keluarga Muslim minoriras punya nyali sebagai seorirng Muslim yang membe&kan dengan masyarakac non Muslim. Keberadaan perdidilan keluarga Muslim minoritas menjadi daya tarik terssrdili

ketika

berhadapan dengan

komunitas

mayoius non Muslim

di

Desa Ban.iarasri.

Di

sini dilakukan keria yang

ektra

dari

komunias

Muslim,

sehingga

apa

FoC

dilakukan dalam pendidikan keluarga selalu nren&fet rintanganlkererancaman secara

aqidah,

lbadalr

sial

budaya

dalam

membangun

dan

memtangldrhn pendidikan keluarga Muslim.

Hasil penelirian

di

Banjarasri dicemubn poh pendidikan yang cocok untuk menganarkan pendifihn keluarga, yakni program Qaryah Tayyibah,2s walhasd drhm komunitas Muslim minoritas dapat memicu serrranga dan

memperkuat

resiliensi/daya

lenting

rmruk mempenahankan identicas bagi seorang Muslim.

Kuatnya

kohesi kelompok Muslim minorias

fni, memberi nuansa kekompakan dalam proses p€rqqg:H-an

dan

pencerahan bagi

warga

Muslim melalui Fqgrrm

pembinaan Qaryoh Toyyiboh,

program

ini

direrudo

semangat kelompok dalam rangka membentengi aqi&fr dari pengaruh non Muslim

di

Banjarasri. Adanyz

kotui

kelompok Muslim minoriras

ini

digeraldon

*h

kelompok kecil-

Kelompok

inilah

dapat

memerardan begitu banyak kegiaan atzu event{yent cerrens, &&m mempertahankan aqidah islamiyah.

2.

Hotivasi

Beragama

dalam

Melihat

pdilzg

dan

Hambatan

dalam

Pendidikan

Ke|irga

Huslim

Minoritas

Pmsidirg Konferensi Nasional Ke 4

(6)

hi::!:{E :.e-€a-e

re.a-Ez

!tt_s.

-

--.ctr_-=l

!..=a:?

:e-=.,:-<

pe Ez-,-n dan pendorong_ pertoma,

3e6gzi

penggerak

untuk

memberikan

energi

kepada mas)?rakar Banjarasri

dalam

penyelenggarakan

Tp,\

Majelis

Ta'lim,

Majelis

Ta'lim

Muhammadiyah-Aisyiyah, Maielis

Ta'lim

khusus

Mu'ollof serta

aktifitas

sosial lainnya; keduo, sebagai penentu arah dalam mewujudkan tujuan keluarga Muslim sakinah, mampu menggerakkan

roda

komunitas keluarga

Muslim minoritas

untuk berkiprah secara aktif melalui program eoryoh Toyyibah, mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua; ketrga,

mendorong segenap keluarga dan komponen masf?rakat

Muslim

minoritas

Baniarasri

unruk

melakukan aktifitasomor mo'ruf nahi mungkor

Keberadaan keluarga Muslim

minorias

Banjarasri mempunyai

kohesi cukup kuar,

mampu memberikan motivasi beragama, memberikan nilai tawar cukup tinggi, dalam posisi minorius-pun mampu menggerakkan potensi dalam berbagai aktifitas, begiru iuga mempunyai daya

lenting

(resiliensi)

yang

cul<up

kuag seperri

semangar membangun, memakmurkan masjid, mushala, majelis

a'lim,

dan TPA. Aktifitas

ini

untuk membenrengi aqidah sejak dini, sebagai

identitas

seorang Muslim

di

tengah mayoricas non Muslim.

Pendidikan keluarga Muslim minoritas, berpeluang

uncuk dapat

hidupberdampingan dengan

non

Muslim dalam kegiaran sosial kemasyarakatan. Dalam peran sosial

non

Muslim

sebagai pemeluk agama mayoritas tidak dipermasalahkan

oleh

komunitas

Muslim

minoritas, namun

peran

sosial

itu

justru

dipermasalahkan oleh kalangan yang berada di luar komunitas penerima dengan argumenq bahwa peran sosial itu hanya sebagai entry point

untuk

peran-peran

lain

di

luar kontek

peran

sosial. Walaupun demikian

ada

kecurigaan bahwa penetrasi keagamaan, cepar atau lambat akan reriadi dibalik peran sosial tersebuc Walhasil, relasi sosial anrara Muslim dan non Muslim tidak bisa steril dari adanya kecurigarrn atau seddaknya waspada.

Tantangan secara ekstem, pertomq pengaruh sosial,

ekonomi

dan

budaya

dari non

Muslim

cukup mendominasi masyarakat Desa Banjarasri,

di

antaranya

pihak

non

muslim

lebih siap

menjemput

bola

dalam mengadakan Pela).anan sosial, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, Sedangkan bidang budaya, sengaia membuat

tandingan

shalawatan,

sepemi

shalaka

(Shalawaan Katolik) lebih mendominasi masyarakac Desa Banjarasri;

kedua, pengaruh

dari

teknologimodem,

menjadikan keengganan/kemalasan dalam mengikuci pengajian, lebih senang rnemanfaarkan hand phone seienisnya

dari

pada menghadiri pengajian.

Tantangan secara intern, pertoma, masih rendahnya pendidikan sebagian masyarakat Muslinr sehingga akan mempengaruhi kesadaran

untuk

alctif

dalam berbagai kegiatan pengajian

belum optimal; kedto, belum

bisa

menerima

perbedaan dikarenakan rendahnya ringkat pemahaman terhadap lslam yang masih parsial atau masih tekstual. Sedangkan tanangan dari ekstern, yakni pihak non Muslim jauh lebih siap untuk menjemput bola dalam

Utca-,9 perayan-an

pendidilan, sosial,

kesefiar, dn

budayz- Bahlan dalam budaya dari non Muslim sengaia

dibuatkan tandingan

Shalawaran,

yakni

Sluhka (Shalawatan Karolik).

3.

Tidak Teriadi

Suatu Kon{lik,

bahkan

Trret ta

Suatu

Kehidupan Harmonis.

Relasi sosial anmra Muslim sebagai minoritasdengan pihak non Muslim sebagai pihak mayorins fidak per-nah

teriadi suatu konflik. Dalam hal ini ada keseuaian dengan

teori yang dikemukakan oleh Baron dan Byrne, bahrra:

Kelompok

mempunyai

dua

tanda

psil<ologis, yakni perloma, anggo(a-anggota

kelompol<

merasa

teriht

dengan kelompok

-

ada sense

o{

betonging

-

yang ridak dimiliki orang yang bukan anggota; kedua, nasib

agota-anggota l<elompok saling bergantung sehingga hasil

siap

orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yanghin2e

juga

ada kesesuaian dengan pendapat Collin dan Raven sebagaimana

dikutip

Jalaluddin Rahmag bahna

kohesi kelompok

sebagai kekuatan

yang men&org

anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam

dan

mencegahnya meninggalkan

kelompokx

Dan

menurut Mc. David dan

Hahari

sebagaimana &uu-p Jalaluddin Rahmat,rr bahwa Kohesi

diukur dan

tlr,tuma, ketercarikan anggota secara personal pada satu sarn lain;

kedu4 keterarikan

anggota pada kegiatan dan fifigsi kelompok;

ket(o,

sejauh mana anggota rertarik pada

kelompok

sebagai

alat untuk

memuaskan kebutfian

personalnya-Berdasarkan pada hasil penelitian ada kesegaian dengan pendapat

Alo

Uliweri,

bahwa inreraksi sosial

merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh

semzrg

untuk menyatakan identitas dirinya kepada orang

hir

&n

menerima pengakuan

atas

identias

dirinya,

sdnga

terbentuk-perbedaan idendtas antara seseorang {deagm

orang lain.32

Dengan demikian, identitas

tidak

sefiEilarrrErca dicunjukkan oleh apa yang dimiliki,

teapi

diceno.dan prla

oleh

pengakuan semua

orang

atau

sekelornpoft hin terhadap kica dalam situasi terrentu, yang pada

davnp,

interaksi sosial merupakan perwujudan dari sikap

trrLfu

untuk bergaul, bertetangga, dan mau menerima dari pirak lain.

Dalam interal.si sosial, tidak ada batasan pa&

orik

dan agama teffentu.Karena yang terpendng adalah

dop

sikap yang baik

dan

ridak benentangan dengan

{ran

agama. Adan;,a hubungan antar manusiaatau relasi.rchsi sosial menentukan struktur dari suatu masyarakall

Menurut McDavid dan Hahari sebagaimana

durip

Jalaluddin Rahmar,y bahwa :

Kohesi

diukur

dari

petomo, ketertarikan .qgora secam personal pada saru sama lain; kedoo,

keteruilqr

anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; dan

kftr,

sejauh mana anggota tenarik pada kelompok sebagei:ht untuk memuaslqn kebutuhan personalnya.

Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi

Hrna

relasi sosial anara Muslim sebagai minoritas denganpilck non Muslim sebagai pihak mayoritas cidak pernah

rriadi

Prosiding Konferensi Nasional Ke- 4

(7)

suatu

konflik,

ada

keseuaian

dengan

teori

yan1 dikemukakan oleh Baron dan Byrne.

Namun peneliti menemukan ada

faktor

emosional, yakni antara Muslim dengan non Muslim, masih saudara dekat, tetangga dekar satu kampung, saru kecurunan, satu desa, satu etnis, dan lebih menonjolkan .lawa-nya dari pada agamanya, silaturahmi antara

tokoh

agama sering

dilakukan dalam rangka

memajukan

desa,

mata pencaharian sebagian besar masyarakat Banjarasri relatif sama, yakni petani sawah dan ladang, menjadikan dalam l<ebudayaan, tradisi dan kebiasaan-pun tidak jauh berbeda, menjadikan suasana patembayan

cukup baik,

sehingga masyarakar Desa Banjarasri tercermin dalam kehidupan yang harmonis antara Muslim dengan non Muslim.

Y.

Simpulan

Berdasarl<an penelitian dicarik simpulan:

Pertomo,

relasi

sosial dalam

bentuk

dan

pola pendidikan keluarga Muslim minoriras Desa Baniarasri dapat berjalan dengan baik, hal

ini

dapat diketahui dari aktifnya pendidikan dalam bentuk TPA" Majelis Ta'lim, Majelis

Ta'lim

Ranting Muhammadiyah

dan

.Aisyiyah,

Maielis Ta'lim khusus Mu'ollaf! dengan menerapkan pola pembinaan keluarga melalui

program

earyoh Tayyiboh, Program

ini

besar pengaruhnya dalam pola pembihaan

keluarga,

meliputi:

pembinaan keluarga

bahagia, pernbinaan keutuhan berkeluarga, pemenuhan

hak

dan kewajiban keluarga, serra pembinaan generasi muda untuk berkeluarga secara islami. Qoryah Toyyibafr ini, tidak hanya pemberdayaan SDM

lewat

pengaiian dalam penanaman aqidah, ibadah, akhlak dan mu'amalah, namun dicekankan

berbagai pelatihan bidang ekonomi,

keterampilan, pendampingan

dan

pemodalan

serta

pemberdayaan sumberdaya alamnya.

Keduo, modvasi beragama keluarga Muslim minoritas yang dilakukan, yakni: sebagai penggerak, pengarah dan pendorong. pertamo, sebagai penggerak sebagai energi kepada masyarakat dalam penyelenggarakan TpA, Maielis Ta'lim, Majlis Ta'lim khusus Mu'allof, serta aktifitas sosial keagamaan lainnfa; kedu4 sebagai penentu arah /cuiuan

atau

cita-cita keluarga

Muslim

sakinah,

dengan menggerakkan roda komunitas keluarga Muslim minoritas berkiprah secara

akrif

lewat program earyoh Tayyibah, mulai dari anal<-anak, rema,a. sampai orang tua di tengah lingkungan

non

Muslim; kettgo, mendorong segenap keluarga

dan

komponen masyarakat Muslim minoritas melakukan aktifitas bermanfaar, unruk meningkatkan iman dan taqwa dengan ber-ornor mo'ruf nohi mungkar melalui pendidikan keluarga dan kemasyarakatan.

Keluarga Muslim minoritas Banjarasri mempunyai

kohesi cukup

kua!

mampu

memberikan

motivasi beragama, memberikan

nihi

tawar

cukup tinggi, dalam

posisi Muslim

minoritas-pun

mampu

menggerakkan

potensinya

dalam berbagai

aktificas,

begiru

iuga mempunyai daya lenting (resiliensr) cukup kuag seperri

dengan

semangat membangun

serra

memakmurkan masjid dan mushala dengan segenap aktificas majelis ta'lim dan TPA-nya untuk membentengi aqidah islamiyah sejak

dini,

sebagai identitas

diri

seorang Muslim

di

wrgah mayorias non Muslim.

Dalam

pendidikan keluarga

Muslim

mirbdras, berpeluang dapat hidupberdampingan dengan non t*rslim dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan-

&hm

peran sosial

non

Muslim

sebagai pemeluk agama mayoritas tidak dipermasalahkan oleh komunitas

Hdim

minoritas, namun peran sosial itu iustru dipermasahhkan

oleh

kalangan yang berada

di

luar

komuniras penerima dengan argumenq bahwa peran sosial

itu

hanya sebagai entry point untuk peran-peran lain

di

luar kontela peran

sosial- Walaupun demikian

ada

kecurigaan bafivra

penetrasi keagamaan,

cepat

arau lambat akan eriadi

dibalik peran sosial tersebut. Walhasil,

relasi sosial

ancaraMuslim dan non Muslim tidak bisa steril dari adanya

kecurigaan atau setidaknfa waspada.

Tantangan

ekstern,

pertamo, pengaruh ssial,

ekonomi

dan

budaya

dari non

Muslim

adcrp mendominasi masyarakat Desa

Banjarasri,

pihak non

muslim

lebih

memberi

pelayanan

sosial,

kesehan,

pendidikan,

dan

ekonomi.

Untuk

budaya

ssrgaia

membuat

tandingan

shalawatan(Shalawatan Kaolik) mendominasi masyarakat Banjarasri; keduo, pengaruh

teknologi

modern,

meniadikan

kemalasan dalam

mengikuti ta'lim, lebih senang memanfaatkan hand ptrone seienisnya dari pada menghadiri pengaiian.

Tantangan inrern, pertomo, masih rendah pendidikaa sebagian masyarakat

Muslim,

berpengaruh rerfie&p kesadaran

dalam

berbagai

kegiaan,

sehingga brkm optimal; keduo, belum siap menerima perbedaa& l<er€ria rendahnya pemahamanlslam masih parsial atau tekstrEl;

Ketigo, Warga Banjarasri antara komunitas

ltrfim

dengan

non

Muslim tidak

terjadi

suatu konflik,

ffin

tercipta suaru

kehidupan

yang

harmonis-

l-ld

ini disebabkan oleh

fakor

emosional,

yakni

masih sanfua dekat" bemetangga satu kampung, satu desa, saBJ Gmis,

dan lebih

menoniolkan Jawa-nya

dari

pada agararra, silaturahmi antara

tokoh

agama sering dilakukan dCnn rangka memajukan Desa Baniarasri, mata pencrlwiilt sebagian besar masyarakat Baniarasri relatif sann, ydc* petani sawah dan ladang, menjadikan dalam kebuda

*.

tradisi

dan kebiasaan-pun ddak

jauh

berbedq sefterga

masyarakat

Desa

Baniarasri

mempunyai

srlE{ur patembayan cukup baik dalam kehidupan secara harmonis

antara

Muslim dengan

non

Muslim.

Untuk iru

pedu diberikan pemahaman kepada keluarga dan masfard<at, bahwa perbedaan agama jangan dijadikan sebagai

pe*r*l

konflik antar

keluarga

dan

masyarakat,

jusrru

adaqra perbedaan

untuk

saling menghormati

dan

mgrerima perbedaan, sehingga

akan rercipra

kehidupan

p.g

harmonis di masyarakac

Daftar

Pustaka

L.

Carl

Brown

dalam Ahmad

lmam

Marvard Fdl

Minoritas Fiqh alAqalliyat dan Evolusi fioqadr&l

d

Syarfah dori Konsep ke Pendekotsn

ffogydda:

LKIS, 20 r0)

Taj Al-sirr Ahmad Harran, Hodhir ol-Alom ol-lslorni (Riyzd: Makabah Rusyd, 2007)

Prosiding Konfermsi Nrional Ke- 4

(8)

rcr.

l

"a-

'?rgE:--c(|-Err

i4r

,vr,:,'r:s-

Rep.rEsfirEs ba:?i

Ff t|,c-ff.&,

ciajam Ahmad lmam Mawardi,

Fah Minoritos:

fiqh

al-Aqalliyot

dan

Evolusi

Moqoshid olSyori'oh dori Konsep

ke

Pendekoran (Yogyakarta: LKIS, 20 I 0)

Jamal

al-Din

'Athiyyah

Muhammad,

Nofiwo

Tofil Maghashid al-Syari' ah ('Aman: al-Ma'had al-'Alami li al-Fikr al-lslami, 2001)

Ahmad lmam Mawardi, Figh Minoritos: Fiqh al Aqalliyat dan Evolusi Maqoshid al-Syori'ah

dari

Konsep ke Pendekoton (Yogyakarta: LKiS, 20 I 0)

Azyr.rmardi Azra, Mukadimoh (akarca: Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis Sepetember 2008)

Baron, R.A dan

D.

Byme, Social PsycologyUnderstond Human lnteraction (Boston: Allyn and Bacon, lnc, te79)

Alo

Liliweri,

Prasangka

dan

Konflik: Komunikasi Lintos

Budoyo Masyorokot Muftikultur (Yogyakarta: LKiS, 2oos)

I

L. Carl

Brown

dalam Ahmad lmam Mawardi,

Fiqh lvlinoritos Fiqh al-Aqotliyot dan Evolusi Maqashid al-Syari'oh

dori

Konsep

ke

Pendekoton fYogyakarca: LKIS, 201 0), hal- 4 I .

2

Tal

Al-sir

Ahmad Harran,

Hadhk

al-Atam

ol-Islonri (Riyad: Maktabah Rusyd, 2007), hal. 142.

'

Ta;

al-Sirr Ahmad Harran, Hadhira al-Alam

ol-lslomi

(Riyad: Maktabah Rusyd,

2007),

hal.

143-147. Menurut perkiraan Ahmad Harran, jumlah umat lslam terus bertambah, demikian pula jumlah minorim< Muslim. Menurutnya, jumlah umat lslam se-dunia addah 23,2 %

dari jumlah

total

penduduk bumi yang mencapai

5

milyar iiwa.

* Abd. A'la,

Pengembongon

frqfi

Minoritas, Represntcsi lslam yong menyejaroh, dalam Ahrnad lmam

Mawardi,

Fiqh

llinoritos; tiqh

al-Aqalliyat

don

Evolusi

lvlaqoshid

al-Syari'oh

dori

Konsep

ke

Pendekoton (Yogyakarta: LKIS,

2010),

hal.

vii,

lihar

juga

Shamai Fishman,

Fiqh

olAqalliyat

A

Legal Theori

{or

lvluslim tvlinority, (Penelitian tentang Dunia Muslim, Seri

No.

l,

Makalah

No.

2,

Oktober 2006),

Center

on

lslom, Democraq, and the Future of the r\4uslim World (Hudson Institut), hal. l

-s Abd. A'la,

Pengembongon

Figh

&linoritog Representosi lslorn yong menyejorah, dalam AhEEd lmam

Mawardi Fiqh

Minoritos:

Fiqh ctlAqallryot

dw

Evolusi

Maqoshid alSyori'ah

dori

Konsep

ke

Peadekotan (Yogyakarca: LKiS, 2010), hal.

Mi,

lihat

Oous Uras, A Greot Chollenge for European lntegrotion: rlluslim irlinorides", dalam Jumal Persception, (Autumn, 2008), hal.

?0-5

M.

Ali

Kerani,

Muslim rtlinorities

in

the World

Ioday, diteriemahkan oleh

Zarkowi

Suyuti dengan iudul

A{rnoritcs

l4ustrn

d

Dunia Dewoso

ini

(Jakare

Raia

Grafindo Persada,2005), hal. l-3.

'

tbid.,...M. Ati Keaoni, hal. l-3.

B

Sumber: Monografi Deso Bonjorosri Ka&orrong

20t5

'

lohn L

Esposito, Ensiklopedi dolom Duntu lslam Modern, Cec Ke-2 Terj. (Bandung: Mizan,

2002),lrrL?.g4-r0

Abdurrahman an-Nahlawi,

Prinsipfrimp

Don

Metode Pendirtikon lslom, (teri.) Herry Noer Ali, dari ludul asli Ushulut Torbiyyotil lslamiyoh

Wa

Asolibuha $ahrra: Logos Wacana llmu, 200

l),

hal. 42.

"

lbid., hal. 42.

''

lohn

L. Esposito, Ensiktopedi Oxford dotantunio lslam Modern, Terj. Cetakan ke 2 (Bandung: Miza&,XX)2), hal. 154.

t3

lbid.,hal. l54.

't

Mufidah

Ch,

Psikologi Keluarga lslorn {t{alang UIN Malang Press, 2008), hal.40.

tt

lbid., hal. 40.

'6

Aunur

Rahim Faqih, Bimbingon don (orseliog dalom lslam (Yograkarta: Ull Press, 2001 ), hal. 70.

t1

Zak|vt;h Daradjat, llmu Pendidikon lslam, (tahrta:

Bumi Aksara, 1996), hal. 38.

It

Abdul

Maiid,

Awomit ol-Torbryah dalam Shahih

Abdul

Aziz

dan Abdul Majid,

at

Torbiyah wa

Tknrq

ol-Todris, Juz

l,

(Mesir: Dar al-Ma'arif, tr.), hal. 87.

''

John L. Esposito, Ensik/opedi Axford dolom Dunia

lslam Modern, Jilid 4, Terlemah, (Bandung Penerbir l.lizan, 2002), Cet. 2, hal. 64.

20

Choirul

Ahmad,

Pendidikan

,lulds&rdl

(Yogyakanar Pustaka Pelalar, 20 I 3), hal. 4.

2r

Ahmad

Syaf

i

Ma'arif,

Moso Depan

dan

Kerukunon Berogama (Yogyakara: Kanisius, 201 0), IEI-

l.

" Sfufiq A.

Mughni,

Pendidikon

Ber0csis

liultkukural, dalam

pengantar Pendidikan Muldrlfural

ditulis Choirul

Mahfud

(Yogyakarta: Pustaka Bebiar, 2013), hal. vii.

"

Ibrd", hal. vii.

"

lbid., hal. viii.

25 Thariq Ramadan, Western ftluslims ond the frrnre

of

lslam,

Oxford

University, reriemah, (Kaum Minairas Muslim

di

Barat

Tantangan

dan

Masa Depan),

&hrn

Jurnol Analisis

Vol.

12,

No.

l,

Juni

20 12, Danadruri (Lampung IAIN Raden lntan,2004), hal. 230.

26

,br'd, hal- 23

l.

27

Jamal al-Din 'Athiyyah Muhammad, Nafins

I4{

Maqhoshid alSyari'oh ('Aman: al-Ma'had al-'Alami li

*Ekr

al-lslami, 2001), hal. 7-8.

Prosiding Konferensi Nasional Ke 4

(9)

LKiS, 2010), hal. 43-44.

12

Baron, R.A dan D. Byrng

Sodsl

-

Ahmad lmam Mawardi, Fiqh

Minoritos:

Fiqh

al

Aqolliyot dan Evolusi Maqashid ol-Syari'ah dori Konsep ke Pendekaton (Yogyakarta:

LKiS,

2010), hal.

4.

Lihat, Abdullah Seed, Muslim Austro/ians, Their Belief, Practices in

institutions (Cambera: Commonwealch of Ausrralia, 2004), hal. I

l.

r0

Azyumardi

Azra,

Mukodimah (al<arca: Gatra

Edisi Khusus Beredar Kamis Sepetember 2008), hal. 5.

3r

Azyumardi

Azr4

Mukaddimah

(akarra:

Gatra Edisi Khusus beredar Kamis, 25 September 2008), hal. 5.

37

Qaryah Toyyibahmerupakan suatu perkampungan

atau

desa

di

mana masyarakatnya menialankan ajaran Islam secara kaffah batk dalam hoblun minolloh maupun hablun minannos dalam segala aspek kehidupannya yang

Psycology:U nderctand Hu man Interoction (Boston: Altyn and

Bacon, lnc, 1979), hal- 558.

31

lbid.,hal. 162.

)t

lbid., hal. I 62.

16

Alo

Liliweri,

Prosongko

dan

Konflik Kornunikosi

Untos Budoya Mosyorakot llultikuhur (Yogyakara: LKiS,

2005), hal. 127.

"

lbid.,hal.l7T.

38

Baron,

R.A dan D.

Byrne,

Sodol

Psycology:U nderstond Hu man lnteraction (Boston: Altyn and

Bacon, lnc, 1979), hal.558.

3e

lbid., hal. 162.

Prosiding Konferensi Nasional Ke-

{

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku keluarga petani dalam penganekaragaman konsumsi pangan berdasarkan karakteristik keluarga di Kelurahan Baru Ladang

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku keluarga petani dalam penganekaragaman konsumsi pangan berdasarkan karakteristik keluarga di Kelurahan Baru Ladang

referensi yakni buku (Buku LKS dan Buku Paket) sebagai media dalam proses pembelajarannya. Banyaknya prevalensi siswa berkebutuhan khusus menjadikan proses

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku mengkonsumsi makanan berserat siswa SD Negeri Sawah Girisekar Panggang Gunungkidul dalam kategori cukup dengan frekuensi relatif

Akan tetapi, sebagian besar petani tingkat ketidakefisienan relatif positif menunjuk- belum berani mengusahakan bawang putih kan bahwa gross margin actual lebih kecil dari

Maka sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai petani dan beternak hewan, dalam masalah beternak, mereka menyukai kegiatan sewa menyewa sapi untuk

Pertanian merupakan sektor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani dan

sebagian besar dari penduduk Desa Rantau Sakti adalah bermata pencaharian petani sawit dan karet yakni sebanyak 1244 orang bekerja sebagai pegawai sebanyak 28 orang sebagai pedagang 10