UJI PERFORMANSI TURBIN ANGIN TIPE DARRIEUS-H DENGAN PROFIL SUDU NACA 0012 DAN ANALISA
PERBANDINGAN EFISIENSI MENGGUNAKAN VARIASI JUMLAH SUDU DAN SUDUT PITCH
SKRIPSI
Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
EKAWIRA K NAPITUPULU NIM. 080401061
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
ABSTRAK
Objek dalam penelitian ini adalah turbin angin Darrieus-H dengan profil sudu NACA 0012 dengan panjang chord 0.3 m. Dimensi turbin ini yaitu dengan diameter (D) 1.5 m dan tinggi (H) 1.5 m. Adapun variasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah variasi jumlah sudu (3, 4 dan 5 buah) dan variasi sudut pitch sudu (00, 20, 40, 60, 80, 100, 120). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu dan pengaruh sudut pitch terhadap performansi turbin angin Darrieus-H.
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan serangkaian pengujian turbin angin pada kecepatan angin 3,85 m/s. Angin ini dibangkitkan oleh sebuah kipas yang ditempatkan pada jarak 5 m dari turbin. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3 buah lebih efektif dalam mengekstrak energi angin, untuk jumlah sudu 3, 4 dan 5 buah dengan efisiensi masing-masing 15,91%; 12,14% dan 11,49%. Sedangkan dari variasi sudut pitch sudu diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3, 4 dan 5 buah lebih efektif dalam
mengekstrak energi angin pada sudut pitch φ = 60
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan karunia-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan judul “UJI PERFORMANSI TURBIN ANGIN TIPE DARRIEUS-H DENGAN PROFIL SUDU NACA 0012 DAN ANALISA PERBANDINGAN EFISIENSI MENGGUNAKAN VARIASI JUMLAH SUDU DAN SUDUT PITCH”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat menyelesaikan pendidikan
Strata-1 (S1) pada Departemen Teknik Mesin Sub Bidang Konversi Energi,
Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
Proses pembuatan objek penelitian dan kegiatan penelitian yang dilakukan
penulis terlaksana dan terwujud berkat doa dan dukungan semua pihak. Untuk itu,
dengan setulus hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Farel H. Napitupulu, DEA selaku dosen pembimbing,
yang dengan penuh kesabaran telah memberikan bimbingan dan motivasi
kepada penulis.
2. Bapak Dr. Ing Ikhwansyah Isranuri selaku Ketua Departemen Teknik Mesin
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Ir. Tekad Sitepu dan Tulus B Sitorus ST, MT selaku dosen penguji
yang memberikan masukan kepada penulis.
4. Seluruh staf pengajar dan staf tata usaha Departemen Teknik Mesin yang
telah berjasa membimbing serta membantu segala keperluan penulis selama
penulis kuliah.
5. Bapak Sarjana, ST sebagai Laboran Proses Produksi yang memberikan
bimbingan dan arahan selama proses pabrikasi objek penelitian.
6. Kedua orang tua penulis, J. Napitupulu dan R. br Purba yang sangat berjasa
memberikan bantuan dan dorongan dalam bentuk apapun dan tidak pernah
putus-putusnya memberikan dukungan, doa serta kasih sayangnya yang tak
7. Rekan-rekan satu tim kerja, Andinata Sitepu dan Libert Sijabat yang telah
bersama-sama untuk menyelesaikan skripsi ini.
8. Rekan-rekan mahasiswa stambuk 2008 yang telah mendukung dan memberi
semangat kepada penulis.
Mungkin masih ada beberapa kesalahan dan kekeliruan dalam penulisan
skripsi ini. Oleh karena itu penulis akan sangat berterima kasih dan dengan senang
hati menerima kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki skripsi ini.
Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat kepada pembaca dan akhir kata
Penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Medan, 6 September 2013
DAFTAR ISI
ABSTRAK
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR SIMBOL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 1
1.3 Rumusan dan Batasan Masalah ... 2
1.3.1 Rumusan Masalah ... 2
1.3.2 Batasan Masalah ... 2
1.4 Manfaat Penelitian ... 2
1.5 Sistematika Penulisan ... 3
1.6 Metode Pengumpulan Data ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Energi Angin ………... 4
2.1.1 Kondisi angin….. ... 4
2.1.2 Energi kinetik angin sebagai fungsi dari kecepatan…... 5
2.1.3 Energi kinetik angin berdasarkan ketinggiannya dari permukaan tanah…... 6
2.2 Potensi Angin di Indonesia…... 6
2.3 Turbin Angin ... 8
2.3.1 Jenis-jenis turbin angin... 9
2.3.2 Teori elemen momentum Betz... 10
2.4 Turbin Angin Darrieus... 14
2.4.1 Airfoil………... 14
2.4.2 Turbin angin Darrieus-H... 16
2.4.3 Sudut serang dan sudut pitch... 18
2.5.1 Generator…..……... 22
2.5.2 Sistem penyimpanan energi listrik... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
3.1Tempat Penelitian ... 25
3.2 Objek Penelitian dan Alat Penelitian ... 25
3.2.1 Objek penelitian……... 25
3.2.2 Alat penelitian……... 29
3.3 Pelaksanaan Penelitian ... 33
3.3.1 Tahap persiapan ... 33
3.3.2 Tahap pengujian dan pengambilan data ... 33
3.4 Diagram Alir Penelitian ... 35
BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISIS DATA ... 36
4.1Hasil Pengujian ... 36
4.1.1 Pengukuaran kecepatan angin………... 36
4.1.2 Data pengujian tanpa beban………... 37
4.1.3 Data pengujian beban 3 Watt ………... 38
4.1.4 Data pengujian beban 5 Watt …………... 38
4.1.5 Data pengujian beban 10 Watt …………... 38
4.2 Analisis Data ... 39
4.2.1 Perhitungan daya Aangin ... 39
4.2.2 Perhitungan Tip Speed Ratio ... 39
4.2.3 Perhitungan efisiensi turbin ... 40
4.3 Perbandingan turbin angin Savonius dengan Darrieus-H... 49
4.4 Mengapa prototipe turbin Darrieus-H ini kurang efisien?... 50
4.5 Usaha dan tantangan untuk meningkatkan efisiensi turbin angin Darrieus-H... 51
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 53
5.1 Kesimpulan ... 53
5.2 Saran……... 53
DAFTAR PUSTAKA... 55
L2. Skema pengujian ………... 72
L3. Sifat-sifat udara pada tekanan atmosfir... 73
L4. Data kecepatan angin di Indonesia…... 74
L5. Data kecepatan angin Sumut tahun 2011... 75
L6. Koordinat airfoil NACA 0012…. ... 76
L7. Nilai ekonomis berbagai sumber daya... 77
L8. Taksasi biaya………... 78
DAFTAR SIMBOL
AoA angle of attack, (0)
TSR tip speed ratio
VAWT vertical axis wind turbine
HAWT horizontal axis wind turbine
NACA National Advisory Committee for Aeronautics
rpm revolution per minute
a interference factor
A luas sapuan rotor, m2
c panjang chord sudu, m
C kecepatan absolut elemen sudu
CD koefisien drag
CL koefisien lift
Cp koefisien daya
Cp,max koefisien daya maksimum
d diameter turbin, m
D gaya drag, N
F gaya, N
Fmax gaya maksimum, N
Ek energi kinetik angin, J
H tinggi turbin, m
I kuat arus, A
L gaya lift, N
m massa, kg
aliran massa, kg/s putaran, 1/s
n koefisien kekasaran permukaan tanah
N jumlah sudu
daya angin, J/s
Pa daya angin, J/s
radius turbin, m
Re bilangan Reynold
waktu, s
V∞ kecepatan angin, m/s
V’ kecepatan angin tepat pada turbin, m/s tegangan, Volt
tegangan rata – rata, Volt
U’ kecepatan tangensial elemen sudu, m/s
Z ketinggian, m
kecepatan sudut rotor, rad/s
kerapatan angin, kg/m3
sudut serang (angle of attack), (0)
sudut azimuthal sudu, (0)
tip speed ratio
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Aliran angin di Indonesia………... 7
Gambar 2.2 Pengelompokan turbin angin... 9
Gambar 2.3 Pemodelan aliran Betz………... 10
Gambar 2.4 Koefisien performansi vs rasio kecepatan... 13
Gambar 2.5 Profil kecepatan dan tekanan pada pemodelan Betz…... 13
Gambar 2.6 Turbin angin Darrieus-H lima sudu………... 14
Gambar 2.7 Nomenklatur airfoil………. ... 15
Gambar 2.8 Contoh airfoil……… ... 16
Gambar 2.9 Gaya-gaya aeodinamik pada sudu turbin... 17
Gambar 2.10 Sudu turbin pada beberapa kondisi sudut…... 18
Gambar 2.11 Arah sudut pitch………... 19
Gambar 2.12 Perubahan sudut serang sebagai fungsi TSR, sudut azimuth dan sudut pitch.………... 20
Gambar 2.13 Perubahan sudut serang………... 21
Gambar 2.14 Skema turbin angin untuk mengisi baterai………... 24
Gambar 3.1 Koefisien daya untuk berbagai jenis turbin... 26
Gambar 3.2 Prototipe turbin angin Darrieus-H, 3 sudu dan 5 sudu... 28
Gambar 3.3 Sudu turbin angin Darrieus-H dengan profil NACA 0012... 29
Gambar 3.4 Anemometer dan Tachometer….….... 30
Gambar 3.5 Multimeter…….... 31
Gambar 3.6 Busur derajat………... 31
Gambar 3.7 Motor penggerak fan………... 32
Gambar 3.8 Permanent magnet generator (PMG)………... 32
Gambar 3.9 Prosedur pengujian………... 34
Gambar 3.10 Diagram alir penelitian………... 35
Gambar 4.1 Pengukuran kecepatan angin………... 36
Gambar 4.2 Grafik sudut pitch terhadap efisiensi turbin untuk jumlah sudu tiga buah……….…………... 44
Gambar 4.4 Grafik tip speed ratio terhadap efisiensi turbin untuk jumlah sudu
tiga buah………...………... 45 Gambar 4.5 Grafik sudut pitch terhadap efisiensi turbin untuk jumlah sudu
empat buah……….………... 45 Gambar 4.6 Grafik sudut pitch terhadap tip speed ratio untuk jumlah sudu
empat buah……….………... 46 Gambar 4.7 Grafik tip speed ratio terhadap efisiensi turbin untuk jumlah sudu
empat buah………..………... 46 Gambar 4.8 Grafik sudut pitch terhadap efisiensi turbin untuk jumlah sudu lima
buah………... 47 Gambar 4.9 Grafik sudut pitch terhadap tip speed ratio untuk jumlah sudu lima
buah……….………... 47 Gambar 4.10 Grafik tip speed ratio terhadap efisiensi turbin untuk jumlah sudu
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kondisi angin………... 4
Tabel 2.2 Tingkat kecepatan angin 10 meter diatas permukaan tanah………….5
Tabel 2.3 Nilai n berdasarkan jenis permukaan tanah... 6
Tabel 2.4 Potensi energi terbarukan di Indonesia... 7
Tabel 2.5 Sepuluh negara dengan kapasitas turbin angin terpasang... 8
Tabel 3.1 Spesifikasi prototipe turbin angin Darrieus-H... 28
Tabel 3.2 Spesifikasi sudu………... 28
Tabel 3.3 Spesifikasi anemometer……. ... 29
Tabel 3.4 Spesifikasi multimeter……….. ... 30
Tabel 4.1 Data kecepatan angin pada berbagai titik... 37
Tabel 4.2 Data pengujian 3, 4, dan 5 sudu…... 37
Tabel 4.3 Data pengujian beban3 Watt……... 38
Tabel 4.4 Data pengujian beban 5 Watt..…... 38
Tabel 4.5 Data pengujian beban 10 Watt..…... 38
Tabel 4.6 Data pengujian 3 sudu beban 3 Watt... 41
Tabel 4.7 Data pengujian 4 sudu beban 3 Watt... 41
Tabel 4.8 Data pengujian 5 sudu beban 3 Watt... 41
Tabel 4.9 Data pengujian 3 sudu beban 5 Watt... 42
Tabel 4.10 Data pengujian 4 sudu beban 5 Watt... 42
Tabel 4.11 Data pengujian 5 sudu beban 5 Watt... 42
Tabel 4.12 Data pengujian 3 sudu beban 10 Watt... 42
Tabel 4.13 Data pengujian 4 sudu beban 10 Watt... 43
Tabel 4.14 Data pengujian 5 sudu beban 10 Watt... 43
Tabel 4.15 Perhitungan turbin angin Savonius…... 49
Tabel 4.16 Perhitungan turbin angin Darrieus-H... 49
Tabel 4.17 Perbedaan konstruksi turbin angin Savonius dan Darrieus... 50
Tabel L.1 Data pengujian 3 sudu tanpa beban... 60
Tabel L.2 Data pengujian 3 sudu beban 10 Watt... 61
Tabel L.4 Data pengujian 3 sudu beban 3 Watt... 63
Tabel L.5 Data pengujian 4 sudu tanpa beban... 64
Tabel L.6 Data pengujian 4 sudu beban 10 Watt... 65
Tabel L.7 Data pengujian 4 sudu beban 5 Watt... 66
Tabel L.8 Data pengujian 4 sudu beban 3 Watt... 67
Tabel L.9 Data pengujian 5 sudu tanpa beban... 68
Tabel L.10 Data pengujian 5 sudu beban 10 Watt... 69
Tabel L.11 Data pengujian 5 sudu beban 5 Watt... 70
Tabel L.12 Data pengujian 5 sudu beban 3 Watt... 71
Tabel L.13 Sifat-sifat udara pada tekanan atmosfir... 73
Tabel L.14 Relatif rata-rata Kec.Angin Sumut... 75
Tabel L.15 Koordinat airfoil NACA 0012……... 76
Tabel L.16 Nilai ekonomis berbagai sumber energi... 77
ABSTRAK
Objek dalam penelitian ini adalah turbin angin Darrieus-H dengan profil sudu NACA 0012 dengan panjang chord 0.3 m. Dimensi turbin ini yaitu dengan diameter (D) 1.5 m dan tinggi (H) 1.5 m. Adapun variasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah variasi jumlah sudu (3, 4 dan 5 buah) dan variasi sudut pitch sudu (00, 20, 40, 60, 80, 100, 120). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu dan pengaruh sudut pitch terhadap performansi turbin angin Darrieus-H.
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan serangkaian pengujian turbin angin pada kecepatan angin 3,85 m/s. Angin ini dibangkitkan oleh sebuah kipas yang ditempatkan pada jarak 5 m dari turbin. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3 buah lebih efektif dalam mengekstrak energi angin, untuk jumlah sudu 3, 4 dan 5 buah dengan efisiensi masing-masing 15,91%; 12,14% dan 11,49%. Sedangkan dari variasi sudut pitch sudu diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3, 4 dan 5 buah lebih efektif dalam
mengekstrak energi angin pada sudut pitch φ = 60
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Di Indonesia terdapat beberapa sumber energi terbarukan seperti energi air,
matahari, angin, dan geothermal. Khususnya energi angin masih sangat sedikit
pemanfaatanya yaitu dengan kapasitas terpasang 0.5 MW dari jumlah yang
tersedia 9.29 GW di seluruh Indoesia (DESDM,2005). Dilihat dari data angin
untuk daerah tertentu khusunya daerah – daerah pesisir di Indonesia, bahwa
daerah tersebut memiliki kapasitas angin yang cukup besar dan memungkinkan
untuk dikembangkan pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB).
Dari data kecepatan angin pada Lampiran IV, dapat dilihat bahwa potensi
angin di Indonesia dapat dikembangkan khususnya untuk Indonesia bagian Timur
yang memiliki potensi angin yang lebih besar. Ini menunjukkan bahwa
pemanfaatan energi angin di daerah timur Indonesia sangat mungkin untuk
dikembangkan untuk skala mikro dan skala mini. Hal ini mendorong penulis
untuk membuat turbin angin skala kecil serta melakukan serangkaian pengujian
performansi turbin angin tersebut.
Prototipe turbin angin yang dibuat akan diuji performansinya pada
kecepatan angin 3,85 m/s. Hal yang mendasari pemilihan kecepatan angin ini
adalah karena penulis mengharapkan turbin angin ini nantinya dapat diaplikasikan
di daerah Kamanggih, Kab. Sumba Timur NTT dengan kecepatan angin rata-rata
tahunan 3,80 m/s seperti pada Lampiran IV.
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian tentang turbin angin Darrieus tipe-H ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu terhadap performansi turbin
angin.
1.3 Rumusan dan Batasan Masalah
1.3.1 Rumusan masalah
Sebelum penulis melakukan penelitian ini, terlebih dahulu penulis
merumuskan permasalahan tersebut dalam bentuk pernyataan berikut :
1. Pengaruh jumlah sudu terhadap performansi turbin angin.
Tip speed ratio optimal bergantung pada jumlah sudu turbin. Biasanya
turbin yang mempunyai sudu yang lebih sedikit akan berputar lebih cepat
dan mengekstrak energi angin dengan lebih maksimal (M.Ragheb, 2011)
2. Pengaruh sudut pitch terhadap performansi turbin angin.
Gaya liftyang dihasilkan sudu merupakan fungsi dari sudut serang (α) dan
sudut serang tergantung pada sudut pitch(φ), sudut azimuthsudu (θ) dan
tip speed ratio(λ).
1.3.2 Batasan masalah
Ruang lingkup penelitian turbin angin tipe Darrieus-H ini adalah sebagai
berikut:
1. Spesifikasi prototipe turbin angin Darrieus-H:
Diameter rotor : 1,5 m
Tinggi rotor : 1,5 m
Profil sudu : NACA 0012
Chord : 0.3 m
2. Variasi dalam pengujian adalah:
Jumlah sudu : 3, 4, 5
Sudut pitch(φ) : 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12
3. Kecepatan angin : 3.85 m/s
Tempat : Lt. IV Departemen Teknik Mesin USU
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari:
1. Aspek akademis, penelitian ini berhubungan dengan mata kuliah
Mekanika Fluida, Mesin Konversi Energi, sehingga dengan dilakukannya
mengembangkan pola pikir tentang pemanfaatan energi angin dengan
menggunakan turbin angin sehingga timbul gagasan yang lebih baik.
2. Aspek praktik atau implementasi
Penelitian ini difokuskan pada pembuatan turbin angin Darrieus tipe-H
skala kecil. Energi listrik yang dihasilkan turbin ini akan disimpan di
dalam baterai, kemudian digunakan untu keperluan tertentu seperti,
kebutuhan rumah tangga, menghidupkan lampu jalan, penggerak pompa
air untuk daerah pertanian, dan sebagainya.
1.5 Sistematika Penulisan
Penulis menyusun hasil penelitian ini dengan sistematika penulisan
sebagai berikut:
BAB I. PENDAHULUAN
Berisi tentang hal – hal yang melatarbelakangi dan awal sudut pandang penulis
sehingga melakukan suatu penelitian.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tentang teori – teori pendukung untuk melakukan pendekatan – pendekatan
teoritis dalam menganalisis data hasil pengujian.
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
Berisi tentang metode penelitian, alat-alat yang digunakan dan spesifikasi
prototipe turbin angin Darrieus-H
BAB IV. HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA DATA
Berisikan data hasil pengukuran daya dan putaran yang dihasilkan turbin angin.
Kemudian dilakukan analisa data pengukuran untuk memperoleh efisiensi.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan jawaban dari tujuan penelitian.
1.6 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan penulis untuk mendukung
keberhasilan penelitian ini adalah:
1. Studi literatur dan studi lapangan
2. Survei alat dan bahan yang akan digunakan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Energi Angin
Energi angin berasal dari matahari melalui reaksi fusi nuklir hidrogen (H)
menjadi helium (He) pada inti matahari. Reaksi ini menimbulkan panas dan
radiasi elektromagnetik yang dipancarkan ke segala arah. Meskipun hanya
sebagian kecil dari radiasi ini yang diterima oleh bumi, tetapi hampir
menyediakan seluruh kebutuhan energi di bumi. Total energi matahari yang
diterima oleh bumi diperkirakan sekitar 1,8 x 1011 MW. Hanya 2% (3,9 x 109 MW)
yang dikonversikan menjadi energi angin. Dan sekitar 35% energi angin ini
dihamburkan pada ketinggian 1000m dari permukaan bumi. Oleh karena itu,
energi angin yang tersedia hanya sekitar 1,26 x 109 MW. (Wei Tong, 2010)
Angin timbul akibat sirkulasi di atmosfer yang dipengaruhi oleh aktivitas
matahari dalam menyinari bumi yang berotasi. Dengan demikian, daerah
khatulistiwa akan menerima energi radiasi matahari lebih banyak daripada di
daerah kutub, atau dengan kata lain, suhu udara di daerah khatulistiwa akan lebih
tinggi dibandingkan dengan suhu udara di daerah kutub. Perbedaan suhu dan
tekanan udara inilah yang akan menimbulkan adanya pergerakan udara.
Pergerakan udara inilah yang didefinisikan sebagai angin.
2.1.1 Kondisi angin
Dahulu sebelum ada alat pengukur kecepatan angin, angin ditaksir dengan
skala kekuatan angin yang dikemukakan oleh Beaufort dan disebut menjadi skala
Beaufort. Kondisi kecepatan angin dibagi menurut kelas angin seperti pada tabel
berikut.
Tabel.2.1 Kondisi angin
Kelas Angin
V (m/s) V (km/jam) V (knot/jam)
4 5,5 - 7,9 19,6 - 28,5 10,7 - 15,4 5 8,0 - 10,7 28,6 - 38,5 15,6 - 20,8 6 10,8 - 13,8 38,6 - 49,7 21 - 26,8 7 13,9 - 17,1 49,8 - 61,5 27 - 33,3 8 17,2 - 20,7 61,6 - 74,5 33,5 - 40,3 9 20,8 - 24,4 74,6 - 87,9 40,5 - 47,5 10 24,5 - 28,4 88,0 -102,3 47,7 - 55,3 11 28,5 - 32,6 102,3 - 117,0 55,4 -63,4 12 > 32,6 > 118 > 63,4
Sumber: nugrohoadi.wordpress.com
Tabel.2.2 Tingkat kecepatan angin 10 meter diatas permukaan tanah
Kelas angin
V (m/s) Kondisi alam di daratan
1 0,00 - 0,02 ---
2 0,3 - 1,5 angin tenang, asap lurus ke atas 3 1,6 - 3,3 asap bergerak mengikuti angin
4 3,4 - 5,4 wajah terasa dingin, daun-daun bergoyang pelan,
petunjuk arah angin bergerak
5 5,5 - 7,8 debu jalan, kertas beterbangan,
ranting pohon bergoyang
6 8,0 - 10,7 ranting pohon bergoyang, bendera berkibar 7 10,8 - 13,8 ranting pohon besar bergoyang,
air plumpang berombak kecil
8 13,9 - 17,1 ujung pohon melengkung, hembusan angin terasa di telinga 9 17,2 - 20,7 jalan berat melawan arah angin
10 20,8 - 24,4 dapat mematahkan ranting pohon, rumah rubuh 11 24,5 - 28,4 dapat merubuhkan rumah, menimbulkan kerusakan 12 28,5 - 32,6 menimbulkan kerusakan parah
13 > 32,6 tornado
Sumber: nugrohoadi.wordpress.com
2.1.2 Energi kinetik angin sebagai fungsi dari kecepatan
Energi kinetik yang terkandung dalam udara yang bergerak dengan
kecepatan v dapat dihitung dari persaman berikut,
Ek = ½ mv2
dimana m adalah massa udara. Daya angin dapat diperoleh dengan
P = dEk / dt
P = ½ v2= ½ ρAv3 (W) (2.1)
dimana pada persamaan diatas dapat kita lihat bahwa energi angin (P ; Watt)
bergantung terhadap faktor-faktor seperti aliran massa udara ( ; kg/s), kecepatan
angin (v ; m/s), densitas udara (ρ ; kg/m3), dan luas permukaan area efektif turbin
(A ; m2 ).
2.1.3 Energi kinetik angin berdasarkan ketinggiannya dari permukaan tanah
Kecepatan angin sangat dipengaruhi oleh ketinggiannya dari permukaan
tanah. Semakin mendekati permukaan tanah, kecepatan angin semakin rendah
karena adanya gesekan antara permukaan tanah dengan angin. Berikut adalah
rumus menghitung kecepatan angin berdasarkan ketinggiannya dan jenis
permukaan tanah di sekitarnya.
V = V1 (Z/Z1)1/n (2.2)
V = kecepatan angin pada ketinggian Z
V1 = kecepatan angin pada ketinggian Z1
n = nilai n dipengaruhi oleh permukaan tanah
Tabel.2.3 Nilai n berdasarkan jenis permukaan tanah
Jenis pemukaan tanah n 1/n
padang rumput datar 7,0 - 10,0 0,10 - 0,14 pesisir pantai 7,0 - 10,0 0,10 - 0,14 sawah dan perkebunan 4,0 - 6,0 0,17 - 0,25 daerah perkotaan 2,0 - 4,0 0,25 - 0,50
Sumber: indone5ia.wordpress.com
2.2 Potensi Angin di Indonesia
Sumberdaya energi angin suatu lokasi sangat ditentukan oleh besarnya
rata-rata kecepatan angin di lokasi tersebut karena daya yang dapat dibangkitkan
energi angin merupakan kelipatan pangkat tiga (kubik) dari kecepatan angin.
Sumberdaya energi angin dikategorikan mulai dari kelas 1 (kecepatan angin
dari 7 m/s pada ketinggian 10 m). Berdasarkan data kecepatan angin di berbagai
wilayah, sumberdaya energi angin Indonesia berkisar antara 2,5 – 5,5 m/s pada
ketinggian 24 meter di atas permukaan tanah. Dengan kecepatan tersebut
sumberdaya energi angin Indonesia termasuk dalam kategori kecepatan angin
kelas rendah hingga menengah. Secara keseluruhan, potensi energi angin
Indonesia diperkirakan mencapai 9.290 MW. Wilayah yang mempunyai potensi
angin cukup besar adalah Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Jambi dan Riau. Saat
ini pemanfaatan energi angin untuk pembangkit listrik masih terbatas pada pilot
projects dengan kapasitas terpasang sekitar 500 kW. Berdasarkan data kecepatan
angin Indonesia yang relatif rendah, aplikasi tenaga angin Indonesia sesuai untuk
pengembangan dengan skema Pembangkit Skala Kecil tersebar dengan kapasitas
maksimum sekitar 100 kW per turbin (Indonesia Energy Outlook, 2010).
Tabel.2.4 Potensi energi terbarukan di Indonesia
Jenis energi Sumber daya Setara Kapasitas terpasang
Air 845 x 106 BOE 75,7 GW 4200 MW
Panas bumi 219 x 106 BOE 27,0 GW 800 MW
Mini/Mikrohidro 458 MW 458 MW 84 MW
Biomassa 49,81 GW 49,8 GW 302,4 MW
Surya 4,8 kWh/m2/hari --- 8,0 MW
Angin 9,29 GW 9,3 GW 0,5 MW
Keterangan: BOE = Barrel Oil Equivalent Sumber: DESDM, 2005
Angin di wilayah Indonesia secara umum di sebelah utara khatulistiwa
bertiup dari arah Barat Laut menuju Timur Laut. Sedangkan di sebelah selatan
khatulistiwa bertiup dari arah Barat Daya menuju Barat Laut. Kecuali di Sumatera
bagian selatan dan Jawa angin bertiup dari arah Timur menuju Tenggara.
Kecepatan angin umumnya berkisar antara 5 – 15 knots (9 – 27 km/jam).
Kecepatan angin ≥15 knot (≥27 km/jam):
- Samudera Hindia sebelah barat Sumatera
- Samudera Pasifik Timur Filippina
- Samudera Hindia Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara
Dikutip dari majalahenergi.com diperoleh data kecepatan angin rata-rata
tahunan pada beberapa daerah di kawasan Indonesia. Pengukuran kecepatan angin
ini dilakukan pada ketinggian 50 m yang dapat dilihat pada Lampiran IV. Dari
data kecepatan angin ini memungkinkan untuk mengembangkan pembangkit
listrik tenaga angin berskala kecil di Indonesia. Berikut ini merupakan data
potensi energi terbarukan di Indonesia.
Tabel.2.5 Sepuluh negara dengan kapasitas turbin angin terpasang
No Negara Kapasitas total (MW) (akhir tahun 2012)
1 China 75,564
2 United States 60,007
3 Germany 31,332
4 Spain 22,796
5 India 19,051
6 United Kingdom 8,445
7 Italy 8,144
8 France 7,196
9 Canada 6,200
10 Portugal 4,525
Lainnya 39,852
Total 282,482
Sumber: Global Wind Statistic, 2012
2.3 Turbin Angin
Turbin angin merupakan mesin dengan sudu yang berputar untuk
mengkonversikan energi kinetik angin menjadi energi mekanik. Jika energi
mekanik digunakan langsung secara permesinan seperti menggerakkan pompa
menggerakkan generator yang menghasilkan energi listrik, maka turbin ini disebut
wind generator atau wind energy converter (WEC).
2.3.1 Jenis-jenis turbin angin
Turbin angin dapat digolongkan berdasarkan prinsip aerodinamika yang
bekerja pada rotornya, yaitu:
- Jenis drag, memanfaatkan selisih koefisien drag pada sudu
- Jenis lift, memanfaatkan gaya lift yang terjadi pada sudu akibat aliran
udara
Berdasarkan letak sumbu porosnya, turbin angin dapat dibedakan menjadi dua kelompok.
- Turbin angin sumbu horizontal (TASH) - Turbin angin sumbu vertikal (TASV)
TASH
Turbin angin satu sudu (single bladed)
Turbin angin dua sudu (double bladed)
Turbin angin tiga sudu (three bladed)
Turbin angin bersudu banyak (multi bladed)
Berdasarkan jumlah sudu
Berdasarkan letak rotor terhadap arah angin
Upwind : rotor menghadap arah datangnya angin
Downwind : rotor membelakangi arah datangnya angin
TASV
Turbin angin Savonius
Turbin angin Darrieus
Sudu lurus
Sudu lengkung
Darrieus (Eggbeater)
Darrieus-H (giromill)
2.3.2 Teori elemen momentum Betz
Energi kinetik udara dengan massa m yang bergerak dengan kecepatan v
dirumuskan dengan:
E = ½ m v2 (N.m) (2.3)
Dengan menganggap bahwa udara ini melewati suatu saluran dengan luas
penampang A dengan kecepatan v, maka volume udara yang melewati saluran
dalam satu satuan waktu dinyatakan dengan:
Q = vA (m3/s) (2.4)
dan laju aliran massa udara dengan kerapatan ρ:
= ρAv (kg/s) (2.5)
Energi yang terkandung di dalam massa udara yang bergerak ini dinyatakan dengan:
P = ½ ρAv3
(W) (2.6)
Pertanyaannya adalah berapa banyak energi yang dapat diekstrak dari
energi udara yang bergerak ini oleh turbin. Energi kinetik udara ini akan diubah
menjadi energi mekanis, dengan catatan laju aliran massa udara yang melewati
turbin ini tidak berubah. Artinya, variabel yang berubah adalah kecepatan udara
saat meninggalkan turbin ini.
Gambar.2.3 Pemodelan aliran Betz (Erich Hau,2006)
ρv1A1= ρv2A2 (2.7)
Selisih energi angin di titik (1) dengan titik (2) dapat dituliskan dengan:
P = ½ ρ A1 v13–½ ρ A2 v23= ½ ρ (A1 v13– A2 v23) (2.8)
Dengan memasukkan persamaan (2.3)
P = ½ ρ A1 v1 (v12– v22) atau
P = ½ (v12– v22) (W) (2.9)
Dari persamaan diatas disimpulkan bahwa energi yang di ekstrak akan
maksimum jika v2 = 0 ,artinya udara di belakang turbin tidak bergerak. Jika
kecepatan udara di belakang turbin tidak bergerak maka udara di depan turbin
juga tidak akan bergerak dan tidak ada aliran.
Dari hukum konservasi momentum, besarya gaya udara yang mendesak
turbin dituliskan dengan:
F = ma
F = m dV/dt = m Δv F = ρAv (v1– v2)
F = (v1– v2) (N) (2.10)
Berdasarkan hukum Newton ketiga bahwa gaya aksi sama dengan gaya
reaksi, gaya F ini mendapat reaksi dari turbin dengan besar yang sama dan
meneruskannya ke aliran udara sehingga mengurangi kecepatan aliran. Akibat
gaya reaksi ini, kecepatan aliran turun menjadi v’. Daya yang dibutuhkan untuk ini
adalah:
P = F v’ = (v1– v2) v’ (W)
Dengan demikian, daya mekanis yang diekstrak dari udara dapat diperoleh dari
perubahan energi udara sebelum dan setelah melewati turbin.
½ (v12– v22) = (v1– v2) v’
v’ = ½ (v1 + v2) (m/s) (2.11)
v’ = (v1 + v2) /2 (m/s) (2.12)
laju aliran udara menjadi:
= ρAv’= ½ ρA (v
1 + v2) (kg/s) (2.13)
sehingga daya mekanis turbin dinyatakan dengan:
P = ¼ ρA (v12– v22) (v1 + v2) (W) (2.14)
Daya udara sebelum melewati turbin atau daya yang tersedia di dalam udara,
Po= ½ ρAv3 (W)
maka diperoleh koefisien performansi turbin:
Cp = P/Po =
(2.15)
Cp = (2.16)
Koefisien performansi ini merupakan rasio antara energi yang terkandung
di dalam udara dengan energi yang dapat diekstrak dari udara tersebut. Oleh
karena itu, Cp bergantung pada rasio kecepatan udara sebelum dan sesudah
melewati turbin.
Gambar dibawah merupakan plot hasil iterasi Cp dengan memvariasikan
rasio kecepatan udara sebelum dan sesudah meninggalkan turbin (v2/v1). Dari hasil
plot tersebut diperoleh bahwa nilai koefisien performansi maksimum pada v2/v1 =
1/3 sehingga diperoleh:
Gambar.2.4 Koefisien performansi vs rasio kecepatan (Erich Hau, 2006)
Gambar.2.5 Profil kecepatan dan tekanan pada pemodelan Betz (Erich Hau, 2006)
Gambar diatas menunjukan variasi kecepatan aliran dan tekanan statik.
Saat udara mendekati turbin, udara terhambat sehingga kecepatannya berkurang
Betz merupakan orang pertama yang merumuskan ini, sehingga nilai ini
disebut dengan Betz limit.
Dengan mengetahui bahwa koefisien performansi ideal diperoleh pada
rasio kecepatan v2/v1 = 1/3 maka kecepatan aliran tepat di depan turbin,
v’ = 2/3 v1 (2.17)
dan kecepatan udara setelah melewati turbin,
v2 = 1/3 v1 (2.18)
2.4 Turbin angin Darrieus
Turbin angin Darrieus pada umumnya dikenal sebagai turbin sumbu
horizontal dengan bentuk melengkung (troposkien: tali yang berputar, bahasa
Yunani). Turbin angin Darrieus pertama kali ditemukan oleh Georges J.M
Darrieus pada tahun 1931. Turbin angin Darrieus merupakan turbin angin yang
menggunakan prinsip aerodinamik dengan memanfaatkan gaya lift pada
penampang sudu rotornya dalam mengekstrak energi angin. Sudu turbin ini
berbentuk airfoil.
Gambar. 2.6 Turbin angin Darrieus-H lima sudu (www.wintufel.net)
2.4.1 Airfoil
Airfoil adalah bentuk aerodinamik yang dianggap sangat efektif untuk
menghasilkan gaya angkat (lift). Sebagai contoh sebuah airfoil adalah penampang
untuk menghasilkan gaya angkat. Gaya angkat yang dihasilkan itu akan terjadi
karena gaya tekanan dibawah lebih besar daripada gaya tekanan diatas airfoil.
Sayap juga dinamai penguat gaya dorong (thrust amplifier), karena gaya angkat
yang dihasilkan dapat beberapa kali lebih besar daripada gaya tahan (drag) yang
harus diatasi oleh gaya dorong motor propulsi. Nomenklatur dan cara
menggambar airfoil dapat dilihat pada gambar dibawah.
Gambar.2.7 Nomenklatur airfoil (Arismunandar, 2000)
Garis kamber rata-rata (mean camber line) adalah tempat kedudukan dari
titik-titik tengah antara permukaan atas dan permukaan bawah airfoil; yaitu
tempat kedudukan titik tengah dari garis tegak lurus, pada garis kamber rata-rata
itu sendiri, yang menghubungkan permukaan atas dan permukaan bawah. Garis
kamber rata-rata menjadi ciri utama sebuah airfoil. Titik terdepan dan titik
terbelakang dari garis kamber rata-rata, berturut-turut dinamai tepi depan (leading
edge) dan tepi belakang (trailing edge). Garis korda (chord line) adalah garis lurus
yang menghubungkan tepi depan dan tepi belakang, korda (chord) adalah
panjangnya garis korda antara tepi depan dan tepi belakang. Ukuran airfoil
biasanya dinyatakan sebagai fungsi dari korda c. kamber (maksimum) adalah
jarak maksimum antara garis kamber dengan garis korda, diukur pada garis tegak
lurus dari korda. Letak kamber maksimum dari tepi depan sangat penting dalam
menentukan karakteristik aerodinamika sebuah airfoil. Banyak usaha dilakukan
untuk menggeser letak kamber maksimum ke depan untuk menaikkan gaya angkat
sangat menentukan karakteristik gaya angkat dan momen airfoil. Tebal
maksimum sebuah airfoil adalah jarak maksimum antara permukaan atas dan
[image:30.595.117.507.161.371.2]permukaan bawah (Arismunandar, 2000).
Gambar.2.8 Contoh airfoil NACA 4 digit (Sumber: Dokumen Penulis)
Radius lingkaran yang melalui tepi depan merupakan ukuran ketajaman
tepi depan; biasanya 0-2% korda. Titik pusat lingkaran tersebut berada pada garis
singgung garis kamber rata-rata yang melalui tepi depan. Berdasarkan
pertimbangan tersebut maka ukuran dan bentuk airfoil dinyatakan dengan nomor
seri seperti contoh diatas.
2.4.2 Turbin angin Darrieus-H
Turbin angin Darrieus memiliki torsi rotor yang relatif rendah tetapi
putarannya lebih tinggi dibanding dengan turbin angin Savonius sehingga lebih
diutamakan untuk menghasilkan energi listrik. Namun turbin ini membutuhkan
energi awal yang lebih besar untuk mulai berputar. Turbin angin Darrieus
biasanya akan mulai berputar pada kecepatan angin 2,5 m/s dan dapat
menghasilkan daya pada kecepatan angin 3 m/s. Turbin angin Darrieus memiliki
sudu dengan penampang berbentuk airfoil. Efisiensi maksimum turbin angin tipe
Darrieus-H untuk saat ini masih berada pada 42 %, sedangkan turbin angin tipe
turbin angin tipe Darrieus-H jarang dipakai untuk pembangkit listrik dengan
[image:31.595.226.439.135.437.2]kapasitas yang besar.
Gambar.2.9 Gaya-gaya aerodinamik pada sudu turbin
(Sumber: Dokumen Penulis)
Keterangan gambar:
L = gaya lift sudu (N)
D = gaya drag sudu (N)
ω = kecepatan sudut elemen sudu (rad/s)
r = radius turbin (m)
α = sudut serang sudu (0),
c = kecepatan absolut elemen sudu (resultan vektor v’ dengan u’)
c = v’{(λ + cos )2+ (sin )2
}1/2 (2.19)
v’ = kecepatan angin (m/s)
u’ = kecepatan tangensial elemen sudu (m/s)
Catatan: - gaya lift L tegak lurus terhadap komponen kecepatan c
- gaya drag D paralel terhadap komponen kecepatan c
Turbin angin Darrieus-H menggunakan sudu berbentuk airfoil. Sudu ini
diatur sedemikian rupa dengan sudut tertentu yang disebut dengan sudut serang
(angle of attack). Sudut serang merupakan sudut antara garis referensi (garis
korda c) dengan arah aliran, sudut ini merupakan sudut serang lokal. Pada saat
turbin berputar, sudut serang sudu berubah terhadap posisi sudut ( ) sudu dan
merupakan fungsi dari tip speed ratio λ.
α = arc tan [sin / (λ + cos )] dimana, α = sudut serang (2.21)
Gambar.2.10 Sudu turbin pada kondisi sudut serang rendah, medium, dan
tinggi (Sumber: Dokumen Penulis)
Besarnya sudut serang tidak boleh melebihi sudut serang kritis sudu
karena pada saat sudut serang melebihi sudut serang kritis akan terjadi stall. Stall
merupakan kondisi dimana terjadi pemisahan aliran udara diatas sudu dan timbul
gelombang (wake) udara yang tidak beraturan. Pada kondisi stall, sudu hanya
mempunyai koefisien lift yang sangat kecil.
2.4.3 Sudut serang (angle of attack) dan sudut pitch
Sudut serang pada turbin Darrieus-H merupakan sudut antara garis chord
sudu dengan garis komponen kecepatan relatif. Pada turbin angin Darrieus-H ini,
besarnya sudut serang dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, tip speed ratio, sudut
azimuth sudu, dan sudut pitch sudu. Semakin besar tip speed ratio maka sudut
serang akan semakin kecil, hal ini dapat dilihat dari persamaan di bawah ini.
dimana: λ = tip speed ratio
θ = sudut azimuth sudu
R
Menuju pusat rotasi
Menjauhi pusat rotasi (-) φ (+) φ
[image:33.595.147.471.134.518.2]Garis Chord ω
Gambar. 2.11 Arah sudut pitch (Sumber: Dokumen Penulis)
Untuk sudut pitchφ = 0, maka nilai sudut serang tidak berubah, tetapi jika
sudut pitch φ > 0, maka sudut serang akan berubah sesuai dengan besarnya
perubahan sudut pitch.
α = {arc tan [sin / (λ + cos )]} - φ 00> θ < 1800
α = {arc tan [sin / (λ + cos )]} + φ 1800 > θ < 3600
φ
α
Garis korda (chord)
θ = 45 θ = 135
θ = 225
θ = 315 Angin
α
α
α
φ
φ
φ φ
Komponen kecepatan angin dan kecepatan tangensial
α
[image:34.595.118.510.83.579.2]Komponen kecepatan relatif
Gambar. 2.12 Perubahan sudut serang sebagai fungsi tip speed ratio, sudut
Berikut ini merupakan contoh perubahan sudut serang sebagai fungsi sudut
azimuth sudu.
[image:35.595.153.499.172.633.2]v’ c u’ c c c c c c c v’ v’ v’ v’ v’ v’ v’ u’ u’ u’ u’ u’ u’ u’ ω θ 1 2 3 4 5 6 7 8 Angin α
Gambar.2.13 Perubahan sudut serang (Sumber: Dokumen Penulis)
Kecepatan angin V = 3.85 m/s
Radius Turbin r = 0.75 m
Kcepatan Sudut ω = 2πn/θ0= 2π.50/60 = 5.666 rad/s
Kecepatan Tangensial u’ = ω.r = (5.666)(0.75) = 4.24 m/s
Tip speed ratio λ = ω.r/v = (5.666)(0.75)/3.85 = 1.103
Untuk tiap titik diperoleh:
1. θ = 00 α = 00 c = 8.09 m/s
2. θ = 450 α = 21.370 c = 7.48 m/s
3. θ = 900 α = 42.190 c = 5.72 m/s
4. θ = 1350 α = 60.750 c = 3.17 m/s
5. θ = 1800 α = 00 c = 0.39 m/s
6. θ = 2250 α = -60.750 c = 3.17 m/s
7. θ = 2700 α = -42.190 c = 5.72 m/s
8. θ = 3150 α = -21.370 c = 7.48 m/s
2.5 Sistem Kelistrikan
2.5.1 Generator
Turbin angin yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik tentu
memerlukan generator yang berguna mengubah energi mekanik gerak rotasi rotor
menjadi energi listrik. Terdapat beberapa jenis generator yang digunakan.
Berdasarkan arah arus yang dikeluarkan, generator dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Generator arus searah (Direct Current - DC)
2. Generator arus bolak – balik (Alternating Current - AC)
Generator arus searah (DC) menghasilkan tegangan yang arahnya tetap dan
jika dihubungkan dengan beban akan menghasilkan arus searah pula. Pada
umumnya generator arus searah dapat menghasilkan energi listrik pada putaran
tinggi. Untuk digunakan pada turbin angin, jenis generator ini memerlukan sistem
transmisi untuk menaikkan putaran (speed increasing).
Generator arus bolak – balik (AC) menghasilkan tegangan yang arahnya
bolak – balik dan jika dihubungkan dengan beban akan menimbulkan arus bolak –
balik pula. Generator AC dapat menghasilkan daya pada putaran yang bervariasi
Besar putaran minimal yang diperlukan generator AC untuk dapat
menghasilkan energi listrik dan besar putaran kerja bergantung pada jumlah kutub
dan kumparan dalam generator.
n = (2.22)
dimana: n : putaran (rpm)
p : jumlah kutub
f : frekuensi (Hz)
Semakin banyak jumlah kumparannya maka semakin kecil putaran minimal
dan putaran kerjanya. Jumlah kumparan merupakan kelipatan dari jumlah kutub
yang dimiliki generator.
Untuk putaran turbin yang memiliki putaran yang relatif rendah, digunakan
jenis generator magnet permanen dengan variasi jumlah kutub, semakin banyak
jumlah kutub generator maka putaran yang dibutuhkan semakin kecil untuk
membangkitkan listrik dan sebaliknya. Untuk generator yang menggunakan
magnet permanen sebagai penginduksi kumparannya disebut generator magnet
permanen.
2.5.2 Penyimpanan energi listrik
Penyimpanan energi listrik pada turbin angin skala kecil biasanya
digunakan baterai penyimpan. Sistem penyimpanan baterai ini terdapat pada
turbin angin yang relatif sederhana dan ditempatkan secara tersendiri. Penggunaan
baterai ini diperuntukkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemakaian
energi karena sumber daya yang dihasilkan tidak tetap setiap saat atau tidak cukup
untuk melayani permintaan beban pada saat itu. Sebagai contoh, untuk
penerangan dan peralatan lainnya sering memerlukan daya pada saat angin tidak
berhembus.
Pada dasarnya sistem penyimpanan baterai merupakan pembangkit
pengisian baterai. Generator mengisi suatu baterai dengan daya DC melalui
pengatur tegangan (voltage regulator). Pengatur tegangan berfungsi untuk
menjaga baterai dari kelebihan pengisian (over charger) yang dapat merusak
baterai. Disamping itu pengatur tegangan juga membatasi tegangan pengisian dan
Inverter 12 Volt DC ke
AC
Baterai 12V Turbin
Angin
Circuit Breaker
Voltmeter DC Ground
Charger Controller
Sekring
Dump Load Digunakan untuk keperluan tertentu
[image:38.595.130.541.87.449.2]Konverter AC ke DC
Gambar.2.14 Skema turbin angin untuk mengisi baterai
(Sumber: Dokumen Penulis)
Jenis baterai penyimpanan biasanya menggunakan jenis baterai asam
timbal (tipe industri). Mengingat kecepatan angin berfluktuasi maka produksi
energi turbin angin bisa melebihi atau kurang dari kebutuhan. Untuk menghindari
keadaan tersebut, penggunaan baterai penyimpan tambahan dapat berguna untuk
menghindari kelebihan daya yang dibangkitkan oleh turbin angin. Dimana baterai
akan mensupplai sistem pada saat energi angin rendah dan mengisi baterai
tambahan saat energi angin melebihi kebutuhan. Jika tidak ada baterai penyimpan
tambahan, kadang kala pada sistem pembangkit tenaga angin ini dilengkapi
dengan dump load berupa resistansi pemanas yang berfungsi sebagai proteksi
terhadap beban lebih pada saat daya yang dibangkitkan turbin melebihi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat Penelitian
Proses pembuatan komponen - komponen turbin angin Darrieus-H
dilakukan di Laboratorium Teknologi Mekanik Departemen Teknik Mesin.
Sementara proses penelitian dilakukan di Lantai 4 gedung Departemen Teknik
Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
3.2 Objek Penelitian dan Alat Penelitian
3.2.1 Objek Penelitian
Sebelum penulis membuat komponen-komponen turbin angin Darrieus,
penulis terlebih dahulu menentukan dimensi bagian utama turbin.
1. Menentukan kecepatan angin pengujian
Sebelum menentukan dimensi utama turbin, penulis terlebih dahulu
mempertimbangkan kondisi kecepatan angin pengujian. Potensi sumber daya
angin di Indonesia berkisar antara 2,5 – 5,5 m/s pada ketinggian 24 m diatas
permukaan tanah (Indonesia Energy Outlook, 2010). Sementara turbin angin
Darrieus akan menghasilkan daya pada kecepatan angin (v ≥ 3 m/s). Dari data
kecepatan angin di berbagai wilayah di Indonesia, penulis mengharapkan turbin
angin ini nantinya dapat diaplikasikan di daerah Kamanggih, Kab. Sumba Timur
NTT dengan kecepatan angin rata-rata tahunan sebesar v = 3,85 m/s (lihat
Lampiran IV). Sehingga kecepatan angin dalam pengujian turbin angin ini
disesuaikan dengan kondisi kecepatan angin di lapangan. Maka penulis
menyimpulkan bahwa pengujian turbin angin Darrieus akan dilakukan pada
kecepatan angin v = 3,85 m/s.
2. Menentukan geometri turbin dan perhitungan daya maksimum rotor
Menurut aturan Betz, turbin angin hanya mampu mengekstrak energi angin
asumsi aliran tidak viskos, arah aliran angin tegak lurus terhadap turbin dan tidak
ada turbulensi. Sementara untuk kondisi aktual hal ini tidak bisa tercapai dan
[image:40.595.144.477.160.419.2]untuk turbin angin Darrieus berkisar antara 25 – 40 %.
Gambar.3.1 Koefisien daya untuk berbagai jenis turbin (Erich Hau, 2006)
Diameter rotor ditentukan berdasarkan pemenuhan kebutuhan energi oleh
energi angin yang tersedia, baik untuk kegunaan elektrikal maupun mekanikal.
Perkiraan diameter rotor ini tidak terlalu eksak. Kompromi dapat dilakukan dalam
rangka optimisasi dengan kekuatan struktur sudu dan juga biaya pembuatan.
Dengan efisiensi rotor dan kondisi angin yang sama, semakin besar diameter rotor
semakin besar pula energi angin yang dapat diekstrak. Oleh karena itu ukuran
rotor menggambarkan berapa besar kapasitas suatu sistem konversi energi angin
(Daryanto, 2007).
Untuk turbin angin Darrieus dengan diameter rotor 1.5 m dan tinggi rotor
1.5 m, daya maksimum yang dapat diekstrak dari angin dengan temperatur udara
320 C adalah sebagai berikut.
ρ = 1.1594 kg/m3
v = 3.85 m/s
Pa = ½ ρAv3
Pa = ½ (1.1594)(2.25)(3.85)3
= 74.43 W
PT = (0.25 s/d 0.4) Pa
= (18.60 s/d 29.77) W
3. Menentukan tipe airfoil sudu
Tipe airfoil berhubungan dengan karakteristik koefisien liftCL dan koefisien
drag CD terhadap besarnya sudut serang (α). Sudu yang dirancang dengan
pertimbangan aerodinamik yang sangat baik biasanya menghasilkan geometri
sudu yang kompleks. Bentuk geometri yang kompleks tentu akan mempertinggi
tingkat kesulitan dan juga biaya pembuatan. Dengan demikian pertimbangan
aerodinamik yang tepat diharapkan dapat memberikan rekomendasi bentuk sudu
dan rotor yang tepat yang memiliki efisiensi cukup untuk suatu kegunaan tertentu
(baik mekanikal maupun elektrikal), sehingga tidak menghabiskan biaya tinggi
untuk desain dan pembuatan (Daryanto, 2007). Selain itu ketersediaan data
koefisien lift dan koefisien drag airfoil tersebut harus diperhatikan. Atas
per-timbangan di atas, maka penulis memilih profil sudu NACA 0012 dengan panjang
chordc = 0,3 m. Sehingga soliditas (σ) turbin adalah:
σ = N c/d
c (m) D (m) Jumlah sudu (N) σ
0.3 1.5 3 0.6
0.3 1.5 4 0.8
0.3 1.5 5 1
Berikut ini adalah spesifikasi bagian-bagian utama alat uji turbin angin
a) Rotor, merupakan elemen utama turbin angin yang berfungsi mengekstrak
energi angin menjadi energi mekanis.
Tabel.3.1 Spesifikasi prototipe turbin angin Darrieus-H
No Spesifikasi Keterangan
1 Jenis Sumbu vertikal
2 Diameter 1500 mm
3 Tinggi 1500 mm
4 Lengan Rectangular tube 50x25x1.5
[image:42.595.138.487.218.562.2]5 Jumlah sudu 3, 4, 5
Gambar. 3.2 Prototipe turbin angin Darrieus-H, 3 sudu dan 5 sudu
b) Sudu
Tabel.3.2 Spesifikasi sudu
No Spesifikasi Keterangan
1 Profil Sudu NACA 0012
2 Chord (c) 300 mm
4 Bahan Pelat aluminium 0.3 mm
5 Jumlah sudu 3, 4 dan 5
Gambar.3.3 Sudu turbin angin Darrieus-H dengan profil NACA 0012
3.2.2 Alat-alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Thermo-Anemometer, digunakan untuk mengukur temperatur dan
kecepatan angin, dengan data teknis sebagai berikut:
Tabel.3.3 Spesifikasi anemometer
Specification Range Resolution Basic Accuracy m/s 0.6 – 30 0.01 ±3%±0.2m/s
km/h 3.6 – 108 0.1 ±3%±0.8km/h
ft/min 196 – 5900 0.1 ±3%±40ft/min
MPH 2.2 – 67 0.1 ±3%±0.4MPH
Knots 1.9 – 58 0.1 ±3%±0.4knots
Temperature
(0C / 0F)
Gambar. 3.4 Thermo-Anemometer dan Digital Tachometer
2. Digital Tachometer, digunakan untuk mengukur putaran poros rotor turbin
angin Darrieus-H, dengan data teknis sebagai berikut:
Type : Display 5 digital18 mm (0,7” LCD)
Accuracy : ± (0,05 % + 1 digital)
Sampling time : 0,8 sec (over 60 rpm)
Range select : Auto range
Time base : Quartz crystal
Detecting distance : 50mm---500mm (photo)
Power : 4 x 1,5 VAA size battery or 6V direct current
Power cunsumtion : approx 65 mA
3. Multimeter, digunakan untuk mengukur kuat arus dan tegangan
Tabel.3.4 Spesifikasi multimeter
Function Range Accuracy (%rdg + digits)
DC Voltage V 326m, 3.26, 32.6, 326, 1000 ± (0.5% + 2d)
AC Voltage V 3.26, 32.6, 326, 750 ± (1.2% + 4d)
AC Current A 326u, 3260u, 32.6m, 326m, 10 ± (1.5% + 5d)
Resistance Ω 326, 3.26K, 32.6K, 326K,
3.26M, 32.6M
± (2.0% + 4d)
[image:45.595.128.537.78.443.2]Frequency Hz 320,3200,32K ± (1.5% + 4d)
Gambar.3.5 Multimeter
4. Busur derajat, digunakan untuk mengatur besar sudut pitch sudu turbin
angin Darrieus-H.
5. Motor listrik, berfungsi sebagai penggerak propeller fan untuk
menghasilkan angin buatan dengan data teknis sebagai berikut:
Daya : 2 hp
Putaran : 1500 rpm
Tegangan : 220-240 V
Gambar.3.7 Motor penggerak fan
6. Permanent magnet generator
Tipe : Permanet magnet generator (PMG)
Cogging torque : zero cogging torque
Rpm : very low rpm (20 s/d 500 rpm)
: 0.7
3.3 Pelaksanaan Penelitian
3.3.1 Tahap Persiapan
Pada tahap ini, penulis melakukan persiapan sebelum melakukan penelitian.
Adapun persiapan yang dilakukan yaitu:
1. Memasang rotor turbin dengan variasi 3, 4 dan 5 sudu.
2. Melakukan inspeksi pada setiap objek penelitian dan alat pengujian,
apakah alat dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya.
3. Menempatkan fan pada jarak 5 m dari turbin dan menentukan titik dimana
kecepatan angin sesuai untuk pengujian.
4. Melihat kondisi lingkungan apakah kondisi pengujian dapat dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang optimal.
3.3.2 Tahap pengujian dan pengambilan data
Setelah keempat poin tahap persiapan di atas terpenuhi, pengujian dan
pengambilan data dapat dilakukan. Tahap – tahap pengujian dan pengambilan data
meliputi:
1. Turbin angin dengan 3, 4 atau 5 sudu yang siap uji ditempakan pada titik
angin yang telah ditentukan sebelumnya.
2. Fan dijalankan untuk menghasilkan angin dengan kecepatan tertentu
sesuai kecepatan angin pengujian.
3. Setelah putaran rotor turbin kelihatan stabil, pengambilan data dapat
dilakukan yaitu membaca angka nominal yang tertera pada alat ukur. Pada
pengujian pertama dilakukan tanpa menggunakan beban. Adapun data
yang diambil meliputi tegangan yang dihasilkan generator, putaran poros
rotor turbin.
4. Kemudian pada kondisi turbin yang sama, pengujian dilakukan dengan
5. Pada saat pencatatan pada setiap alat ukur, dilakukan pembacaan nilai pada
alat ukur sebanyak 10 kali untuk mendapatkan data pengujian yang lebih
maksimal dan diambil rata – rata karena fluktuasi yang terjadi pada saat
pembacaan pengukuran.
6. Dengan cara yang sama pada poin satu sampai enam, pengujian untuk
selanjutnya dengan variasi sudut serang, jumlah sudu, dan beban.
Mulai
Persiapan Fan
- Diatur jumlah sudu (3, 4 atau 5 buah)
- Diatur sudut pitch (00, 20, 40, 60, 80, 100, 120)
- Diukur kecepatan angin fan (3,85 m/s) - Diatur pembebanan (tanpa beban dan dengan beban 3W, 5W, dan 10W)
- Diukur dan dicatat putaran pada porosturbin angin
- Diukur dan dicatat tegangan dan kuat arus listrik sampai didapatkan daya maksimum
Dilakukan pembacaan nilai pada alat ukur sebanyak 10 kali
Berhenti
[image:48.595.117.501.238.705.2]Selesai
3.4 Diagram Alir Penelitian
MULAI
STUDI LITERATUR
PENGAMBILAN DATA ANGIN (untuk menentukan kecepatan angin pengujian)
PEMBUATAN ALAT UJI
PENGUJIAN ALAT
DAPAT DITERIMA
(berputar dengan baik dan mempunyai respon yang baik tehadap angin)
PENGAMBILAN DATA
ANALISA DATA
PEMBAHASAN
KESIMPULAN
SELESAI
Tidak
Ya
BAB IV
HASIL PENGUJIAN DAN ANALISA DATA 4.1 Hasil Pengujian
4.1.1 Pengukuran kecepatan angin
Pengambilan data kecepatan angin diukur pada zona dimana aliran angin
belum terganggu akibat putaran turbin (free stream zone). Pada daerah ini angin
mengalir dengan kecepatan aliran bebas (free stream velocity). Pada pengujian
turbin angin ini, pengukuran kecepatan angin dilakukan pada:
x ≈ (1.35 r )+ r
dimana:
x = jarak pengukuran dari pusat turbin (m)
r = radius turbin (m)
x≈ 1.35(0.75) + 0.75 1.0125 + 0.75 = 1.7625m ≡ 1.75 m
Metode pengukuran kecepatan angin dilakukan dengan cara mengukur
kecepatan angin di berbagai titik antara kipas dengan turbin seperti gambar
dibawah.
Tabel.4.1 Data kecepatan angin pada berbagai titik
Titik V (m/s)
V1 V2 V3 Vave
0 13.02 13.15 12.83 13.00
1 9.55 9.70 9.38 9.54
2 7.73 7.87 7.82 7.81
3 6.67 6.48 6.46 6.54
4 5.23 4.97 5.13 5.11
4.a 4.42 4.57 4.64 4.54 4.70 4.b 4.37 4.51 4.48 4.45
5 4.85 4.57 4.45 4.62
5.a 4.35 4.40 4.38 4.38 4.41 5.b 4.41 4.12 4.15 4.23
6 4.38 4.32 4.45 4.38
6.a 3.55 3.46 3.56 3.52
6.b 3.83 3.88 3.92 3.88 3.85 6.c 3.90 3.87 3.85 3.87
6.d 3.52 3.58 3.61 3.57
7 2.35 2.41 2.36 2.37
7.a 1.95 2.02 1.97 1.98
7.b 2.21 2.16 2.13 2.17 2.12 7.c 2.15 2.10 2.13 2.13
7.d 1.98 1.90 2.05 1.98
Data kecepatan yang diambil adalah data kecepatan angin rata-rata pada
tititk 6, 6a, 6b, 6c, 6d yaitu:
V∞ = 3.85 m/s
[image:51.595.142.419.112.483.2]4.1.2 Data pengujian tanpa beban
Tabel.4.2 Data pengujian 3, 4, dan 5 sudu
φ
(0)
3 SUDU 4 SUDU 5 SUDU
6 32.60 84.5 30.93 80.2 29.78 77.2 8 30.11 78.3 28.40 73.7 27.27 70.7 10 26.26 68.1 24.55 63.7 23.41 60.7 12 24.67 64.0 22.90 59.4 21.77 56.5 Tegangan hasil pengukuran adalah tegangan AC (alternating current)
4.1.3 Data pengujian beban 3 Watt
Tabel.4.3 Data pengujian beban3 Watt
φ
(0)
3 SUDU 4 SUDU 5 SUDU
Vave (V) Iave (A) nave (rpm) Vave (V) Iave (A) nave (rpm) Vave (V) Iave (A) nave (rpm) 0 16.48 0.119 42.7 15.16 0.107 40.5 15.11 0.103 39.3 2 18.96 0.137 49.2 16.81 0.113 42.8 16.27 0.111 42.4 4 21.32 0.154 55.3 17.42 0.121 45.7 16.83 0.112 42.8 6 23.49 0.170 60.9 23.60 0.164 61.8 22.57 0.154 58.9 8 23.13 0.167 60.0 18.52 0.132 49.7 17.47 0.124 47.3 10 17.21 0.125 44.6 16.33 0.112 42.1 15.89 0.108 41.1 12 16.78 0.121 43.5 15.76 0.108 40.9 15.46 0.106 40.6
4.1.4 Data pengujian beban 5 Watt
Tabel.4.4 Data pengujian beban 5 Watt
φ
(0)
3 SUDU 4 SUDU 5 SUDU
Vave (V) Iave (A) nave (rpm) Vave (V) Iave (A) nave (rpm) Vave (V) Iave (A) nave (rpm) 0 14.68 0.254 42.3 12.69 0.221 35.8 11.64 0.195 29.6 2 15.68 0.268 44.6 14.66 0.251 42.7 14.27 0.244 37.0 4 16.92 0.287 47.8 15.78 0.268 45.4 14.97 0.257 39.0 6 20.75 0.346 57.7 18.35 0.301 54.4 18.62 0.284 48.2 8 18.82 0.316 52.7 16.08 0.295 48.6 15.71 0.282 43.2 10 15.65 0.267 44.5 14.82 0.254 42.3 13.34 0.227 34.5 12 15.00 0.257 42.8 13.11 0.227 38.4 12.50 0.216 32.9
4.1.5 Data pengujian beban 10 Watt
Tabel.4.5 Data pengujian beban 10 watt
φ
(0)
3 SUDU 4 SUDU 5 SUDU
0 10.18 0.401 26.6 9.21 0.357 23.8 8.83 0.324 22.1 2 10.42 0.408 26.9 10.64 0.413 27.5 10.14 0.374 25.5 4 11.78 0.461 30.6 11.65 0.456 30.4 10.62 0.404 27.5 6 14.56 0.569 37.8 12.62 0.497 32.6 12.56 0.477 32.5 8 12.99 0.509 33.7 12.07 0.474 31.6 11.32 0.462 31.5 10 10.83 0.423 28.0 10.37 0.401 26.8 9.64 0.380 25.9 12 10.46 0.409 27.1 9.68 0.386 25.7 9.34 0.367 25.0
4.2 Analisa Data
4.2.1 Perhitungan daya angin (Pangin)
Kondisi angin pada saat dilakukan pengujian yaitu pada temperatur 32 0C. Sehingga massa jenis udara dapat dihitung, yaitu:
T = 320C = 305 K ρudara = 1.1594 kg/m3
T
(K)
ρ
(kg/m3) 300 1.1774 305 1.1594 350 0.998
Kecepatan angin pada saat pengujian adalah 3,85 m/s, sehingga daya angin yang melewati luas rotor turbin menjadi:
Dturbin = 1.5 m
Hturbin = 1.5 m
A = Dturbin x Hturbin
= 1.5 x 1.5
= 2.25 m2
Pangin = ½ ρ A v3
= 0.5 (1.1594)(2.25)(3.853)
= 74.43 Watt
4.2.2 Perhitungan tip speed ratio (λ)
Tip speed ratio (TSR, λ) merupakan rasio keepatan ujung rotor turbin
bilangan tanpa dimensi menunjukkan besarnya putaran turbin terhadap kecepatan
angin.
λ = ω.r/v∞ ω = 2πn/θ0
Sebagai contoh perhitungan, diambil data 3 sudu pembebanan 3 Watt pada
sudut serang 60.
n = 60.9 rpm
ω = 2π (60.9)/60
= 6.374 rad/s
λ = (6.374 x 0.75) / 3.85
= 1.24
Hasil perhitungan setiap data dibuat dalam bentuk tabel.
4.2.3 Perhitungan efisiensi turbin ( t)
Efisiensi merupakan perbandingan daya angin yang mampu diekstrak sudu
turbin yang diukur dari besarnya energi listrik yang dihasilkan generator dengan
daya angin teoritis. Efisiensi turbin merupakan keefektifan rotor turbin dalam
memanfaatkan energi kinetik angin
Daya turbin (Pturbin)= (V.I) /
Efisiensi turbin ( t) = Pturbin / Pangin
Sebagai contoh perhitungan diambil data 3 sudu pembebanan 3 Watt pada
sudut pitch 60.
Vave = 23.49 Volt
Iave = 0.17 Ampere
Pturbin = (23.49 x 0.17) / 0.7
= 5.704 Watt
Hasil perhitungan setiap data dibuat dalam bentuk tabel.
Tabel.4.6 Data pengujian 3 sudu beban 3 Watt
φ
(0)
Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ
0 16.48 0.119 1.96 2.81 74.43 3.77 42.7 4.47 0.87 2 18.96 0.137 2.60 3.72 74.43 4.99 49.1 5.14 1.00 4 21.32 0.154 3.29 4.70 74.43 6.31 55.3 5.78 1.13 6 23.49 0.170 3.99 5.71 74.43 7.67 60.9 6.37 1.24 8 23.13 0.167 3.87 5.53 74.43 7.43 59.9 6.27 1.22 10 17.21 0.125 2.14 3.06 74.43 4.12 44.6 4.67 0.91 12 16.78 0.121 2.04 2.91 74.43 3.91 43.5 4.55 0.89
Tabel.4.7 Data pengujian 4 sudu beban 3 Watt
φ
(0)
Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ
0 15.16 0.107 1.63 2.32 74.43 3.12 40.4 4.23 0.82 2 16.81 0.113 1.91 2.72 74.43 3.66 42.7 4.48 0.87 4 17.42 0.121 2.11 3.01 74.43 4.05 45.7 4.78 0.93 6 23.60 0.164 3.86 5.52 74.43 7.41 61.7 6.46 1.26 8 18.52 0.132 2.44 3.48 74.43 4.68 49.6 5.20 1.01 10 16.33 0.112 1.82 2.60 74.43 3.50 42.1 4.41 0.86 12 15.76 0.108 1.71 2.44 74.43 3.28 40.9 4.28 0.83
Tabel.4.8 Data pengujian 5 sudu beban 3 Watt
φ
(0)
Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ
Tabel.4.9 Data pengujian 3 sudu beban 5 Watt
φ
(0)
Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ
0 14.68 0.254 3.73 5.32 74.43 7.15 42.2 4.43 0.86 2 15.68 0.268 4.19 5.99 74.43 8.05 44.5 4.67 0.91 4 16.92 0.287 4.85 6.93 74.43 9.31 47.7 5.00 0.97 6 20.75 0.346 7.19 10.27 74.43 13.79 57.7 6.04 1.18 8 18.82 0.316 5.95 8.50 74.43 11.42 52.7 5.52 1.07 10 15.65 0.267 4.18 5.97 74.43 8.02 44.4 4.66 0.91 12 15.00 0.257 3.85 5.50 74.43 7.39 42.7 4.48 0.87
Tabel.4.10 Data pengujian 4 sudu beban 5 Watt
φ
(0)
Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ
0 14.16 0.215 3.04 4.35 74.43 5.84 35.8 3.75 0.73 2 16.43 0.256 4.21 6.01 74.43 8.08 42.6 4.47 0.87 4 17.39 0.272 4.73 6.76 74.43 9.08 45.3 4.75 0.92 6 19.69 0.312 6.15 8.78 74.43 11.80 54.4 5.70 1.11 8 17.58 0.290 5.10 7.29 74.43 9.79 48.6 5.09 0.99 10 16.33 0.254 4.15 5.92 74.43 7.96 42.3 4.43 0.86 12 14.62 0.230 3.37 4.81 74.43 6.46 38.3 4.02 0.78
Tabel.4.11 Data pengujian 5 sudu beban 5 Watt
φ
(0)
Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ
0 11.64 0.195 2.27 3.24 74.43 4.36 29.6 3.10 0.60 2 14.27 0.244 3.47 4.96 74.43 6.67 37.0 3.87 0.75 4 14.97 0.257 3.84 5.49 74.43 7.38 39.0 4.09 0.80 6 18.62 0.284 5.29 7.55 74.43 10.15 48.2 5.04 0.98 8 15.71 0.282 4.43 6.33 74.43 8.50 43.2 4.52 0.88 10 13.34 0.227 3.02 4.32 74.43 5.80 34.5 3.61 0.70 12 12.50 0.216 2.70 3.86 74.43 5.19 32.9 3.44 0.67
Tabel.4.12 Data pengujian 3 sudu beban 10 Watt
φ
(0) Vave (V) Iave (A) Pgen (W) Pturbin (W) Pangin (W) t (%) nave (rpm) ω (rad/s) λ