• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Endometritis Pada Kuda Berdasarkan Gambaran Ultrasound.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Kasus Endometritis Pada Kuda Berdasarkan Gambaran Ultrasound."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS ENDOMETRITIS PADA KUDA

BERDASARKAN GAMBARAN

ULTRASOUND

IGA MAHARDI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Kasus Endometritis pada Kuda Berdasarkan Gambaran Ultrasound adalah karya Saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari Penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini Saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis Saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)
(5)

ABSTRAK

IGA MAHARDI. Studi Kasus Endometritis pada Kuda berdasarkan Gambaran Ultrasound. Dibimbing oleh AMROZI dan LIGAYA ITA TUMBELAKA.

Endometritis merupakan peradangan yang terjadi pada endometrium dan menjadi masalah paling umum yang menyebabkan turunnya kesuburan pada kuda betina. Studi kasus ini dilakukan untuk menentukan prevalensi endometritis pada kuda berdasarkan gambaran ultrasound. Kajian dilakukan terhadap data sekunder dari Unit Rehabilitasi Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor yang dikumpulkan dari beberapa peternakan kuda di Pulau Jawa dan Madura pada tahun 2009-2014. Kuda yang menderita endometritis menunjukkan adanya garis-garis hypoechoic-hyperechoic dan/atau terdapat cairan yang bersifat hypoechoic-hyperechoic pada lumen uterus. Tahun 2009-2014 tercatat 2510 ekor kuda yang diperiksa dengan kasus endometritis sebanyak 220 ekor. Prevalensi rata-rata kuda yang mengalami endometritis adalah 8.76 %.

Kata kunci: endometritis, gambaran ultrasonografi, kuda, prevalensi

ABSTRACT

IGA MAHARDI. Case Study of Endometritis in the Mares by Ultrasound Imaging. Supervised by AMROZI and LIGAYA ITA TUMBELAKA.

Endometritis is an inflammation of endometrial which known as one of the major causes for infertility in mares. The objective of this study is to obtain the prevalence of endometritis in the mare using ultrasonography. This analysis of this study using the secondary data from Unit of Rehabilitation Reproduction, Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University which collected from several stables on Java and Madura Island during 2009-2014. Based on ultrasound examination, mare with hipoechoic-hyperechoic line in the uterine and/or acumulation hypoechoic fluid in uterine cavity, defined as endometritis. During 2009-2014, 2510 mares were examined with 220 cases of endometritis. The prevalence of mares affected with endometritis was about 8.76%.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

pada

Fakultas Kedokteran Hewan

STUDI KASUS ENDOMETRITIS PADA KUDA

BERDASARKAN GAMBARAN

ULTRASOUND

IGA MAHARDI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena izin-Nya skripsi ini dapat terselesaikan. Shalawat beserta salam penulis kirimkan untuk Nabi Muhammad SAW. Skripsi yang berjudul Studi Kasus Endometritis pada Kuda Berdasarkan Gambaran Ultrasound merupakan tugas akhir untuk men- dapatkan gelar sarjana pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih Penulis sampaikan kepada Drh Amrozi, PhD dan Dr Drh Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, MSc sebagai dosen pembimbing yang sepenuhnya memberikan bimbingan dan dukungan hingga selesainya skripsi ini dengan sangat baik. Ucapan terima kasih juga Penulis khususkan untuk orang tua dan semua anggota keluarga yang telah memberikan dukungan dan doa. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bidikmisi IPB, Dr Drh Muhammad Agil, MSc Agr, Drh Aulia Miftahul Rahman, Drh Ade Ocktaviani, Drh Krido, teman sepenelitian, Kak Faris, Kak Riska, Anna Aesha F, teman-teman Sorcherry Riding Club dan teman-teman Ganglion.

Penulis berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dan dapat menjadi referensi untuk penelitian berikutnya.

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR x

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Studi Kasus 2

Manfaat Studi Kasus 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Kuda 2

Endometritis 3

Ultrasonografi 4

METODE 4

Waktu dan Tempat 4

Materi dan Metode Pelaksanaan 5

Analisis Data 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 5

SIMPULAN DAN SARAN 10

Simpulan 10

Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 11

(14)

DAFTAR GAMBAR

1 Gambaran ultrasound uterus yang mengalami endometritis 6 2 Perkembangan folikel pada ovarium kuda yang mengalami endometritis 7 3 Gambaran uterus yang mengalami endometritis dengan akumulasi

cairan 8

4 Prosedur Caslick 9

DAFTAR TABEL

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kuda merupakan salah satu jenis hewan yang saat ini banyak digemari oleh masyarakat menjadi hewan peliharaan. Peranan kuda sebagai alat transportasi pada zaman dahulu, berhasil menghubungkan masyarakat pedalaman dengan masyarakat luar. Seiring dengan berkembangnya zaman, fungsi kuda sebagai alat transportasi berubah alih sebagai hewan olahraga. Bahkan di Indonesia, cabang olahraga berkuda seperti pacuan, show jumping, dan dressage berkembang cukup pesat dan menjadi cabang olahraga yang digemari.

Industri ternak kuda di Indonesia sangat berkembang dengan munculnya kuda persilangan kuda thoroughbred dengan kuda lokal Indonesia yang digunakan sebagai kuda pacu (Rahman 2012). Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki banyak peternakan kuda (breeding farm). Umumnya kuda dimanfaatkan sebagai kuda pacu hingga umur 5 tahun. Masa aktif yang pendek mengakibatkan kuda pacu harus terus diternakkan untuk memenuhi kebutuhan kuda-kuda pacu dalam kelas pacuan yang berbeda pada tahun-tahun selanjutnya (Yulianto 2011).

Masalah umum yang dihadapi oleh suatu peternakan adalah masalah yang berhubungan dengan reproduksi. Fertilitas akan menurun apabila terjadi gangguan pada saluran reproduksi. Menurut Hamouda et al. (2012), kuda akan menunjukkan performa reproduksi yang rendah yang disebabkan oleh kelainan anatomi, kondisi fisiologi, infeksi, dan faktor manajemen. Apabila terdapat gangguan pada sistem reproduksi akan mengakibatkan turunnya tingkat kebuntingan. Gangguan reproduksi tersebut diantaranya disfungsi ovari, kista ovari, granulosa theca cell tumor, endometritis, piometra, abortus, dan kematian embrio dini (Arthur 1969).

Gangguan reproduksi yang paling sering terjadi salah satunya adalah endometritis. Endometritis adalah peradangan pada lapisan endometrium atau mukosa uterus. Endometritis merupakan perpanjangan inflamasi yang terjadi setelah perkawinan atau melahirkan (Christoffersen et al. 2012) dengan faktor predisposisi adanya akumulasi cairan di dalam uterus (Bucca et al. 2008).

(16)

2

Tujuan Studi Kasus

Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi endometritis pada kuda berdasarkan gambaran ultrasound.

Manfaat Studi Kasus

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kejadian endometritis pada kuda.

TINJAUAN PUSTAKA

Kuda

Kuda (Equus caballus) telah mengalami proses evolusi yang sangat panjang sehingga terlihat seperti saat ini. Proses evolusi terjadi sejak 60 juta tahun yang lalu dengan ditemukannya bukti-bukti fosil. Klasifikasi zoologis ternak kuda adalah kerajaan Animalia (hewan), filum Chordata (bertulang belakang), kelas Mamalia (menyusui), ordo Perissodactyla (berteracak tidak memamahbiak), famili Equidae, genus Equus, dan spesies Equus caballus (Ensminger 1962).

Kuda diklasifikasikan menjadi kuda tipe ringan, tipe berat, dan kuda poni berdasarkan ukuran, bentuk tubuh dan kegunaan (Ensminger 1962). Menurut Edwards (1994), kuda dibedakan menjadi kuda coldblood, hotblood, dan warmblood. Kuda hotblood identik dengan kuda tipe ringan yang agresif seperti kuda arab, sedangkan kuda coldblood indentik dengan kuda tipe berat yang sering digunakan untuk menarik beban. Kuda hotblood sering digunakan sebagai kuda pacu karena kecepatan dan ketahanannya. Salah satu yang paling terkenal adalah kuda arab. Kuda arab dikenal sebagai fountainhead (sumber) semua ras kuda di dunia disebabkan kemurnian potensial genetiknya untuk dikembangkan. Kuda arab menjadi standar kuda ringan seperti ras kuda thoroughbred (Bowling dan Ruvinsky 2000). Kuda coldblood berasal dari daerah-daerah yang beriklim dingin seperti di Eropa. Kuda ini cirinya berbadan besar, jalan lambat, punya tenaga kuat, dan cocok sebagai kuda pekerja.

Kuda warmblood merupakan kuda hasil persilangan dari kuda arab (hotblood) dengan kuda-kuda di Eropa (coldblood). Kuda warmblood dikenal sebagai kuda tunggang. Kuda ini banyak dipakai untuk equestrian karena sifatnya yang cenderung tenang, namun memiliki tenaga yang besar serta ketahanan tubuh yang bagus. Sifat yang tenang sangat cocok untuk dressage atau tunggang serasi. Tenaga yang besar sangat dibutuhkan untuk kemampuan melompat tinggi pada show jumping dan ketahanan fisik pada eventing.

(17)

3 dengan pundaknya, mempunyai proporsi badan yang panjang. Kaki belakang yang panjang dan anggun dengan persendian yang baik memberikan daya dorong yang maksimum, bagian kaki depan bagus dengan bentuk panjang, berotot dan besar, serta persendian rata.

Peternakan kuda di Indonesia telah ada sebelum bangsa Eropa masuk ke Indonesia. Indonesia memiliki 13 jenis kuda lokal yaitu, kuda makassar, kuda gorontalo dan minahasa, kuda sumba, kuda sumbawa, kuda bima, kuda flores, kuda savoe, kuda roti, kuda timor, kuda sumatera (terdiri dari 4 jenis yaitu kuda padang, kuda batak, kuda agam, dan kuda gayo), kuda bali, dan kuda lombok serta kuda kuningan. Pemuliaan kuda di Indonesia dimulai sejak tahun 1800 dengan mendatangkan beberapa ekor kuda yaitu kuda arab, kuda australia, dan kuda eropa (Soehardjono 1990). Kegiatan tersebut bertujuan untuk membentuk kuda pacu Indonesia yang lebih baik.

Kuda pacu Indonesia merupakan kuda Indonesia hasil grading up dari kuda betina Indonesia dengan pejantan thoroughbred mulai dari generasi pertama (G1), G2, G3 dan G4 atau hasil perkawinan diantaranya (inter-semating). Kuda tersebut harus memiliki sertifikat kuda pacu Indonesia dan terdaftar pada biro registrasi kuda yang ditetapkan pemerintah atau kuda Indonesia yang mempunyai garis keturunan induk kuda Indonesia dan garis keturunan pejantan/pemacek thoroughbred impor yang sudah diregistrasi pada pusat registrasi kuda yang ditetapkan oleh pemerintah (Pordasi 2000).

Endometritis

Endometrium merupakan lapisan uterus paling dalam. Endometrium menjadi tempat yang memfasilitasi terjadinya konseptus dan implantasi embrio (Morel 2003). Endometrium juga dilengkapi dengan sistem pertahan, sehingga apabila terdapat benda asing maka akan muncul reaksi penolakan yang bisa terjadi secara akut dan kronis. Inflamasi yang terjadi pada endometrium merupakan proses peradangan yang biasa terjadi pada setelah proses perkawinan. Endometritis adalah peradangan yang terjadi pada endometrium atau mukosa uterus. Endometritis merupakan perpanjangan proses inflamasi yang terjadi pada uterus. Apabila terjadi kontaminasi bakteri akan menyebabkan endometritis semakin parah.

Endometritis dapat terjadi secara klinis dan subklinis. Pada kasus parah, kuda yang endometritis dapat mengalami toksemia dan endotoksemia. Gejala klinis yang timbul seperti penurunan berat badan, depresi, demam, takikardia, takipnea, injected mucose membrana, ileus, vulvovaginal discharge dan mening-katnya digital pulse. Diferensial sel darah putih menunjukkan neutrophillia atau neutronpenia. Pemeriksaan lengkap harus dilakukan meliputi pemeriksaan visual dan digital dari perineum, vagina, serviks, uterus, broad ligaments dan ovari menggunakan kombinasi vaginoskopi, palpasi transrektal, dan ultrasonografi (Youngquist dan Threlfall 2007).

(18)

4

(Nocardioform actinomycete), Leptospira ssp, Brucella abortus, Salmonella abortus equi, dan Listeria monocytogenes (Albihn et al. 2003; Youngquist dan Threlfall 2007; Frontoso et al. 2008).

Kultur bakteri dan sitologi dari biopsi endometrium menunjukkan hasil terbaik mengenai sensitifitas dan prediksi nilai positif (Nielsen 2005). Diagnosa yang cepat diperlukan untuk strategi pengobatan yang tepat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan faktor predisposisi (Smith 2015). Pengobatan untuk endometritis ringan adalah menggunakan terapi antimikroba sistemik dengan kombinasi oksitosin untuk mendorong terjadinya involusi uteri. Pada kasus yang lebih parah, kuda diberikan terapi cairan, non steroid anti inflamatory drugs (NSAIDs), dan antibiotik sistemik (Youngquist dan Threlfall 2007; Moris dan Eden 2008; Bucca et al. 2008; Woodward et al. 2012).

Ultrasonografi

Ultrasonografi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendiagnosa gambaran organ yang memanfaatkan interaksi antar gelombang suara berfrekuensi tinggi dengan suatu organ. Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosa masalah reproduksi dan memahami aktifitas reproduksi dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Frekuensi gelombang suara yang sering digunakan adalah 1-10 Mhz. Pemilihan frekuensi ini berdasarkan tingkat penetrasi yang diharapkan untuk menembus jaringan target dan resolusi dari tampilan di layar monitor yang dibutuhkan. Pada frekuensi rendah akan didapatkan tampilan detail yang kurang baik tetapi penetrasi jaringan yang lebih baik, sedangkan pada frekuensi yang tinggi akan didapatkan tampilan detail yang baik tetapi kedalaman penetrasi jaringan yang kurang baik (Lavin 2007).

Ihnatsenka and Boezaart (2010) menyatakan bahwa berdasarkan ekogenisitasnya, gambaran ultrasound akan tampil dalam tiga jenis visualisasi yakni hyperechoic, hypoechoic, dan anechoic. Hyperechoic (echogenic) merupa-kan citra berwarna putih pada sonogram yang dapat dijumpai pada struktur seperti tulang, udara, kolagen dan lemak yang disebabkan pemantulan gelombang secara sempurna dari struktur target. Hypoechoic (echopoor) merupakan citra berwarna abu-abu pada sonogram yang dapat dijumpai pada struktur seperti jaringan lunak, disebabkan tingkat echo yang rendah dari struktur target. Anechoic (echolucent /nonechogenic) merupakan citra berwarna hitam pada sonogram yang dapat dijumpai pada struktur seperti cairan kantung kemih yang disebabkan tidak terjadi pemantulan gelombang dari struktur target.

METODE

Tempat dan Waktu

(19)

5 dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret-Juli 2015.

Materi dan Metode Pelaksanaan

Kuda yang diamati adalah kuda G (generasi) atau KPI (kuda pacu Indonesia), kuda warmblood, kuda arab dan kuda thoroughbred. Umur kuda induk bervariasai antara 3˗ 23 tahun, dara atau sudah pernah beranak. Perkawinan kuda dilakukan secara alami. Kuda berada di peternakan yang ter-sebar di Pulau Jawa dan Madura. Data yang digunakan merupakan data sekunder hasil rekapitulasi data pasien kuda Unit Rehabilitasi Reproduksi, Fakultas kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Pemeriksaan organ reproduksi dilakukan dengan ultrasonografi (Sonoscape Vet A6) yang dilengkapi dengan linear probe 5˗ 8 MHz, dan direkam dengan printer (SONY, UP-895 MD, Video Graphic Printer, Japan). Kuda ditempatkan dalam kandang jepit dan alat ultrasonografi pada tempat yang aman dan mudah dioperasikan oleh operator. Selanjutnya feses dikeluarkan dari rektum kuda. Permukaan probe dilumuri dengan gel dan ditutup dengan plastik tipis agar mendapatkan gambaran ultrasonografi yang baik. Kemudian transduser dimasuk-kan ke rektum kuda dan diarahdimasuk-kan ke kranial menyusuri organ reproduksi kuda.

Analisis Data

Data sekunder dari rekam medik pasien kuda diolah dan dianalisis secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Endometritis merupakan proses inflamasi yang terjadi pada endometrium atau mukosa uterus. Inflamasi bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa sperma, seminal plasma, kontaminan, serta zat-zat lain yang dianggap asing oleh uterus. Endometritis terjadi sebagai suatu hasil dari infeksi bakteri patogen yang mengontaminasi uterus. Kuda yang rentan terhadap endometritis mengalami perpanjangan respon inflamasi (Christoffersen et al. 2012) dan mengakibatkan turunnya conception rate (Causey 2006). Endometritis menjadi salah satu penyebab paling umum yang menyebabkan turunnya kesuburan pada kuda.

(20)

6

sehingga menghasilkan gambaran yang terlihat berwarna hypoechoic-hyperechoic (abu-abu hingga putih). Hasil gambaran ultrasound kemudian dihubungkan dengan sejarah reproduksi kuda. Misalnya kuda yang sudah beberapa kali di-kawinkan tetapi tidak dapat bunting. Apabila gambaran ultrasound menunjuk-kan uterus yang kotor dan terdapat cairan yang berwarna hypoechoic-hyperechoic maka kuda tersebut dapat dinyatakan mengalami endometritis.

Gambar 1 Gambaran ultrasonografi uterus yang mengalami endometritis: a. massa berbentuk garis-garis tipis hypoechoic-hyperechoic pada lumen uterus ( ) b. akumulasi cairan pada uterus yang bersifat hypoechoic-hyperechoic seperti terdapat massa putih yang melayang di dalam cairan ( ) c. uterus normal ( )

Cairan yang terdapat pada uterus kuda yang mengalami endometritis berbeda dengan cairan yang terdapat ketika estrus (lendir estrus). Lendir estrus berwarna bening atau tanpa disertai massa putih. Sebaliknya cairan endometritis bersifat abnormal yaitu berwarna keputihan. Hal ini juga dinyatakan oleh Bucca et al. (2008) dan Hamouda et al. (2012), yang menyebutkan bahwa berdasarkan gambaran ultrasound adanya cairan intrauterus (diameter cairan ≥ 2 cm) menjadi indikator untuk endometritis (Gambar 3). Cairan tersebut berhubungan dengan meningkatnya jumlah neutrofil akan tetapi tidak selalu berhubungan dengan ada-nya bakteri (Bucca et al. 2008). Gambaran ultrasound tersebut didukung dengan pemeriksaan sitologi dan histologi yang menunjukkan adanya endometritis (Liu dan Troedsson 2008).

Tahun 2009-2014 tercatat 2510 ekor kuda yang diperiksa. Prevalensi endometritis pada 2009-2014 berturut-turut adalah 17.8 %, 12.44 %, 6.4 %, 5.3 %, 6.7 %, dan 4.9 %. Setiap tahunnya terjadi penurunan kasus endometritis akan tetapi pada tahun 2013 terjadi kenaikan kasus sebesar 1.4 % dari tahun sebelum-nya. Pada tahun terakhir kembali mengalami penurunan menjadi 4.9 %. Prevalensi rata-rata endometritis tahun 2009-2014 adalah 8.76 %.

(21)

7 penting dan masalah paling umum, dan menyebabkan terjadinya kematian embrio dini sebelum hari 35 (LeBlanc 2008).

Tabel 1 Jumlah dan prevalensi endometritis tahun 2009-2014

Tahun Populasi Kuda

Kuda yang mengalami endometritis masih menunjukkan siklus estrus yaitu terlihat adanya aktivitas ovari yang menghasilkan folikel (Gambar 2). Folikel masih dapat berkembang hingga menjadi folikel dominan dan menunjukkan adanya gejala estrus. Kuda yang mengalami endometritis apabila dikawinkan masih dapat bunting, akan tetapi memiliki resiko yang besar mengalami kematian embrio dini (LeBlanc 2008).

Gambar 2 a. gambaran uterus kuda yang mengalami endometritis b. perkembangan folikel pada ovarium kuda yang mengalami endometritis

Endometritis dapat terjadi pada berbagai jenis kondisi kuda. Endometritis yang terjadi setelah kawin terjadi karena perpanjangan proses inflamasi sehingga melewati batas waktu normal. Respon inflamasi tersebut harus berakhir dalam waktu lima hari sebelum terjadi implantasi embrio pada uterus (Fumoso et al. 2003). Pada kuda dengan sistem reproduksi normal, inflamasi akan berakhir setelah 48 jam. Liu dan Troedsson (2008) mengatakan bahwa jika kuda tidak bisa mengeliminasi infeksi secara spontan dalam waktu dua hari, maka akan mengakibatkan endometritis persisten.

Endometritis sering dikaitkan dengan turunnya kemampuan uterus untuk mengeliminasi cairan atau debris (sisa produk inflamasi, runtuhan sel epitel,

a b

(22)

8

kontaminan) setelah kawin atau pun melahirkan. Endometritis terjadi karena tersisanya produk-produk inflamasi di dalam uterus. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya kontraktilitas atau aktivitas miometrial uterus. Hal tersebut mengakibatkan adanya akumulasi cairan dan produk inflamasi di dalam uterus, serta akan memperpanjang proses inflamasi. Akumulasi cairan di dalam lumen uterus (Gambar 3) mempengaruhi fertilitas dengan menurunkan motilitas dan viabilitas sperma atau menyebabkan kegagalan implantasi embrio jika endometritis berlangsung pada hari ke-5 dan ke-6 setelah ovulasi (saat embrio berpindah dari oviduk ke lumen uterus) (Rohrbach et al. 2007).

Gambar 3 Gambaran uterus yang mengalami endometritis dengan akumulasi cairan (Bucca et al.2008)

Faktor predisposisi endometritis diantaranya umur, jumlah kelahiran, gangguan saat partus, kelainan pada sistem reproduksi, meningkatnya kontaminasi bakteri, dan lemahnya kontraksi uterus (Youngquist dan Threlfall 2007). Woodward (2014) menyebutkan walaupun endometritis dapat menyerang semua kuda, tetapi kuda tua lebih rentan dengan kondisi organ reproduksi seperti turunnya imunitas, tertundanya pembersihan uterus, lemahnya ligamen uterus, dan ketidakseimbangan respon pro-inflamasi dan anti-inflamasi (Fumoso et al. 2003, 2007; Katepalli et al. 2008). Selama endometritis subakut dan endometritis akut, produksi mukus oleh sel epitel endometrium meningkat. Saat inflamasi sudah menjadi kronis, lapisan epitel dan mukus berkurang dan meningkatkan peluang untuk penempelan bakteri (Causey et al. 2000; Causey 2007; LeBlanc et al. 2007).

Kelainan konformasi perineal juga disebut sebagai faktor predisposisi terjadinya endometritis. Hemberg et al. (2005) mengatakan konformasi internal dan eksternal saluran reproduksi sangat berhubungan dengan kerentanan endometritis menjadi endometritis persisten. Hal ini menyebabkan masuknya udara, kotoran ataupun bakteri dari luar. Kelainan konformasi dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya kuda yang aktif berolahraga, kecelakaan saat kawin, dan kerobekan saat melahirkan. Kuda yang aktif akan kehilangan lemak yang terdapat di sekitar perineal sehingga dapat merubah konformasi saluran reproduksi. Anus akan tertarik ke anterior sehingga kemiringan rektum dan vulva akan berubah. Keadaan tersebut akan mempermudah aspirasi udara ke dalam vagina dan masuknya kotoran yang berasal dari rektum. Kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya pneumovagina yang bisa mempermudah terjadinya endometritis (Hurtgen 2006).

(23)

9 mengalami endometritis. Resiko tersebut dipengaruhi oleh kondisi serviks, vulvovaginalis dan vulva yang relaksasi, sehingga mudahnya terjadi kontaminasi dari kotoran. Kotoran akan mudah masuk ke dalam vagina dan mendukung pertumbuhan bakteri. Salah satu hal yang disarankan untuk dilakukan sebelum pemberian pengobatan adalah melakukan prosedur vulvoplasty atau Caslick procedur (Gambar 4) yang dikenalkan oleh Caslick (1937). Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan faktor predisposisi (Smith 2015). Sebelum memilih strategi pengobatan, sangat diperlukan untuk melakukan perbaikan pada gangguan atau kelainan konformasi saluran reproduksi.

Gambar 4 Prosedur Caslick : a. Kerobekan pada komisura dorsalis, b. pembalutan pada ekor dan pembersihan daerah perineal, c. Pemberian anastesi lokal, d. Pembuatan perlukaan pada bagian yang akan dijahit kembali, e. Penjahitan bagian vulva yang sobek, f. Pemberian salep luka pada bagian yang dijahit.

Bakteri yang dapat menyebabkan endometritis meliputi Streptococcus equi zooepidemicus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Crossiella abortus (Nocardioform actinomycete), Leptospira ssp, Brucella abortus, Salmonella abortus equi, dan Listeria monocytogenes (Albihn et al. 2003; Youngquist dan Threlfall 2007; Frontoso et al. 2008). Bakteri yang memiliki prevalensi tinggi pada kejadian endometritis adalah β-hemolytic, Streptococci dan E. coli (Riddle et al. 2007; Frontoso et al. 2008). Menurut Hamouda (2012) bakteri yang umum menginfeksi uterus adalah Streptococcus zooepidemicus, diikuti oleh Eschericia coli. Infeksi bakteri pada uterus berkisar antara 25 %-60 % (Riddle et al. 2007; Frontoso et al. 2008; Nielsen etal. 2010).

a b c

(24)

10

Bagian paling kritis untuk pencegahan endometritis adalah bagaimana caranya agar pembersihan uterus terjadi secara cepat setelah kawin dan melahirkan (LeBlanc 2010). Semua hal tersebut akan terganggu ketika turunnya kontraksi uterus. Pemilihan pengobatan selalu didasarkan pada bagaimana caranya untuk mendukung pembersihan uterus. Terapi yang diberikan adalah pemberian antibiotik intrauterin yaitu gentamisin (Genta-ject®) 10 % dengan dosis 2×103mg /2×102 ml salin atau penisillin-streptomisin (pen-duo-sterp®) dengan dosis 2×105 IU/25 kg BB dan 2.5×105IU/25 kg BB, dengan oksitosin (Rheintocin®) dengan dosis 10mg/ml dan diencerkan dengan 15 ml NaCl 0.9% yang diberikan secara berkala. Pemberian antibiotik bertujuan untuk menghilangkan bakteri gram positif dan negatif. Pemberian oksitosin bertujuan untuk meningkatkan kontraksi uterus sehingga dapat mengeluarkan cairan yang ada di dalam uterus.

Rahman (2012) menyatakan terapi yang diberikan adalah dengan antibiotik kombinasi gentamisin dan flumequin, hormon PGF2α atau oksitosin, dan multivi-tamin yang memberikan tingkat keberhasilan 20 dari 42 ekor dapat bunting kembali. Pemberian PGF2α atau oksitosin berguna untuk membantu meningkat-kan tonus uterus sehingga discharge yang tertimbun dapat dikeluarkan (Hurtgen 2006). Pencegahan terjadinya endometritis setelah kawin dapat dilakukan dengan pemberian oksitosin 10-25 IU secara intravena atau intramuskular setelah kawin (Knutti et al. 2000).

Terapi lain yang dilakukan adalah dengan pemberian mucolytic agents (LeBlanc 2010). Pemberian mucolytic agents berfungsi untuk menurunkan visko-sitas cairan sehingga lebih mudah dikeluarkan dari uterus. Respon inflamasi yang berlebihan dapat dihambat dengan pemberian kortikosteroid seperti prednisolon asetat (Moris dan Eden 2008) atau deksametason (Bucca et al. 2008). Pemberian deksametason dosis tunggal (50 mg, intravena) dapat mengurangi kekentalan cairan uterus dan mengurangi udema uterus. Pemberian deksametason tidak mem-berikan hasil yang signifikan pada tingkat kebuntingan (Bucca et al. 2008).

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Gambaran ultrasound kuda yang mengalami endometritis adalah terdapatnya garis-garis hypoechoic-hyperechoic dan/atau terdapat cairan yang bersifat hypoechoic-hyperechoic pada lumen uterus. Prevalensi rata-rata kuda yang mengalami endometritis di Pulau Jawa dan Madura pada tahun 2009-2014 adalah sebesar 8.76 %.

Saran

(25)

11

DAFTAR PUSTAKA

Albihn A, Baverud V, Magnusson U. 2003. Uterine microbiology and antimicrobial susceptibility in isolated bacteria from mares with fertility problems. Acta Vet Scand. 44(3-4):121-129.

Arthur GH. 1969. The ovary of the mare in health and disease. Equine Vet J. 1(4):153–156. doi: 10.1111/j.2042-3306.1969.tb03361.x

Bowling AT, Ruvinsky A. 2000. The Genetics of the Horse. Inggris (GB): CABI. Bucca S, Carli A, Buckley T, Dolci G, Fogarty U. 2008. The use of

dexamethasone administred to mares at breeding time in the modulation of persistent mating induce endometritis. Theriogenology. 70(7):1093-1100. doi: 10.1016/j.theriogenology.2008.06.029.

Card C. 2005. Post-breeding inflammation and endometrial cytology in mares. Theriogenology. 64(3):580-588.

Caslick EA. 1937. The vulvo-vaginal orifice and its relation to genital health in the TB mare. Cornell Vet. 27:87-178.

Causey RC, Ginn P, Katz B, Hall B, Anderson KJ, LeBlanc MM. 2000. Mucus production by endometrium of reproductively healthy mares and mares with delayed uterine clearance. J Reprod Fertil Suppl. 5:333–339.

Causey RC. 2006. Making sense of equine uterine infections: the many faces of physical clearence. Vet J. 172(3):21-405. doi:10.1016/j.tvjl.2005.08.005. Causey RC. 2007: Mucus and the mare: how little we know. Theriogenology.

68(3):386–394. doi: 10.1016/j.theriogenology.2007.04.011.

Christoffersen M, Woodward E, Bojesen AM, Jacobsen S, Petersen MR, Troedsson MHT, Lehn-Jensen H. 2012. Inflammatory responses to induced infectious endometritis in mares resistant or susceptible to persistent endometritis. BMC Vet Res. 8:41. doi:10.1186/1746-6148-8-41.

Edwards EH. 1994. The Encyclopedia of Horse. Inggris (GB): CABI.

Ensminger ME. 1962. Animal Science Animal Agriculture Series. 5th Ed. Illinois (US): Danville Printers & Publisher, Inc.

Frontoso R, De Carlo E, Pasolini MP, Meulen KVD, Pagnini U, Iovane G. 2008. Retrospective study of bacterial isolates and their antimicrobial susceptibilities in equine uteri during fertility problems. Res Vet Sci. 84(1):1-6. doi:10.1016/j.rvsc.2007.02.008.

Fumuso E, Giguere S, Wade J, Rogan D, Videla-Dorna I, Bowden RA. 2003. Endometrial IL-1beta, IL-6 and TNF-alpha, mRNA expression in mares resistant or susceptible to post-breeding endometritis. Effects of estrous cycle, artificial insemination and immunomodulation. Vet Immunol Immunop. 96(1-2):31-41.

(26)

12

Hamouda MA, Al-Hizab FA, Ghoneim IM, Al-Dughaym AM , Al-Hashim HJ. 2012. Asssessment of endometritis in arabian mare. Anim Prod. 14(2):99-103.

Hemberg E, Lundeheim N, Einarsson S. 2005. Retrospective study on vulvar conformation in relation to endometrial cytology and fertility in thoroughbred mares. Vet Med A Physiol Pathol Clin Med. 52(9):474-477. Hurtgen JP. 2006. Pathogenesis and treatment of endometritis in the mare: a

review. Theriogenology. 66(3):560–566.

Ihnatsenka B dan Boezaart AP. 2010. Ultrasound: basic understanding and learning the language. International Shoulder Journal 4(3): 55-62. doi: 10.4103/0973-6042.76960.

Katepalli MP, Adams AA, Lear TL, Horohov DW. 2008. The effect of age and telomere length on immune function in the horse. Develop Comp Immunol. 32(12):1409-1415. doi:10.1016/j.dci.2008.06.007.

Knutti B, Pycock JF, van der Weijden GC, Kupper U. 2000. The influence of early postbreeding uterine lavage on pregnancy rate in mares with intrauterine fluid accumulations after breeding. Equine Vet Educ. 5:346–349. Lavin LM. 2007. Radiography in Veterinary Technology. 4th ed. (US): Saunders

Elsevier.

LeBlanc MM, Magsig J, Stromberg AJ. 2007: Use of a low volume uterine flush for diagnosing endometritis in chronically infertile mares. Theriogenology. 68(3):403–412. doi:10.1016/j.theriogenology.2007.04.038.

LeBlanc MM. 2008. The chronically infertile mare. In: 54th Annual Convention of the American Association of Equine Practitoners 391-407.

LeBlanc MM. 2010. Advances in the diagnosis and treatment of chronic infectious and post–mating-induced endometritis in the mare. Reprod Dom Anim. 45(2):21–27. doi: 10.1111/j.1439-0531.2010.01634.x.

Liu IKM dan Troedsson MHT. 2008. The diagnosis and treatment of endometritis in the mare: Yesterday and today. Theriogenology. 70:415–420. doi: 10.1016/j.theriogenology.2008.05.040.

McKinnon AO dan Voss JV. 1993. Equine Reproduction. Philadelphia (US): Lea & Fibiger.

Morel MCGD. 2003. Equine Reproductive Physiology, Breeding and Stud Management. 2nd ed. Amerika (US): CABI Publishing.

Morel MCGD, Lawlor O, Nash DM. 2013. Equine endometrial cytology and bacteriology: Effectiveness for predicting live foaling rates. The Vet J.198(1):206–211. doi: 10.1016/j.tvjl.2013.08.002.

Moris L, Eden C. 2008. The Use corticosteroid at the Time of Mating to Prevent Post Breeding Endometritis. Austral. College Vet. Scient. 88-89.

Nielsen JM. 2005. Endometritis in the mare: A diagnostic study comparing cultures from swab and biopsy. Theriogenology. 64(3): 510–518.

Nielsen JM, Troedsson MH, Petersen MR, Bojesen AM, Lehn- Jensen H, Zent WW. 2010. Diagnosis of endometritis in the mare based on bacteriological and cytological examinations of the endometrium: comparison of results obtained by swabs and biopsies. J Equine Vet Sci. 30(1):27–30. doi:10.1016/j.jevs.2009.11.006.

(27)

13 Rahman AM. 2012. Performa reproduksi kuda pacu Indonesia [skripsi]. Bogor

(ID): Institut Pertanian Bogor.

Rasmussen CD, Petersen MR, Bojesen AM. 2015. Equine infectious endometritis clinical and subclinical cases. J Equine Vet Sci. 35(2): 95–104. doi:10.1016/j.jevs.2014.12.002.

Riddle WT, LeBlanc MM, Stromberg AJ. 2007. Relationships between uterine culture, cytology and pregnancy rates in a thoroughbred practice. Theriogenology. 68(3): 395–402.

Rohrbach BW, Sheerin PC, Cantrell CK, Matthews PM, Steiner JV, Dodds LE. 2007. Effect of adjunctive treatment with intravenously administered propionibacterium acnes on reproductive performance in mares with persistent endometritis. J Am Vet Med Assoc. 231(1):107-113.

Smith BP. 2015. Large Animal internal Medicine. 4th ed. Amerika(US): Elsevier Saunders.

Soehardjono O. 1990. Kuda. Yayasan Pamulang, Jakarta.

Watson ED. 2000. Post-breeding endometritis in the mare. Anim Reprod Sci. 60– 61: 221–232. doi:10.1016/S0378-4320(00)00110-X.

Woodward EM, Christoffersen M, Compos J, Squires EL, Troedsson MHT. 2012. Susceptibility to persistent breeding-induce endometritis in the mare: relationship to endometrial biopsy score and age, and variation between season. Theriogenology. 78(3):495-501. doi: 10.1016/j. Theriogenology.2012.02.028.

Woodward EM and Troedsson MHT. 2014. Endometritis in old mares. Pferdeheilkunde 30:53-56.

Youngquist RS And Threlfall WR. 2007. Current Therapy In Large Animal 2nd ed. Amerika(US): Elsevier Saunders.

(28)

14

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Iga Mahardi yang dilahirkan di Pasir Pangaraian pada tanggal 26 Januari 1993, anak dari Ibu Dasmaharni dan Bapak Edi M Zein. Penulis anak kedua dari empat bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan di SDN 01 Muaro Paiti tahun 2002, SMPN 1 Kapur IX tahun 2008 dan SMAN 1 Kapur IX tahun 2011 dan masuk Institut Pertanian Bogor pada tahun 20011 melalui jalur USMI, serta mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

Gambar

Gambar 2  a. gambaran uterus kuda yang mengalami endometritis b. perkembangan

Referensi

Dokumen terkait