STUDI KASUS KISTA UTERUS PADA KUDA DI PULAU
JAWA DAN MADURA
DEA AMIRANITYA MASITHAH
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
▸ Baca selengkapnya: seorang kuda selalu mempunyai
(2)(3)PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Kasus Kista Uterus pada Kuda di Pulau Jawa dan Madura adalah benar karya Saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari Penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini Saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis Saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2015 Dea Amiranitya Masithah
ABSTRAK
DEA AMIRANITYA MASITHAH. Studi Kasus Kista Uterus pada Kuda di Pulau Jawa dan Madura. Dibimbing oleh AMROZI dan LIGAYA ITA TUMBELAKA.
Kista uterus merupakan salah satu faktor penyebab subfertilitas pada kuda. Banyak dokter hewan percaya bahwa kista uterus yang besar dapat menghambat mobilitas embrio, sehingga mengancam kebuntingan pada kuda. Studi kasus ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memberikan data mengenai prevalensi kista uterus pada kuda di Pulau Jawa dan Madura berdasarkan data sekunder dari hasil pemeriksaan ultrasonografi pada 2913 ekor kuda. Prevalensi kista uterus dianalisis secara deskriptif. Pada studi kasus ini kista uterus yang ditemukan adalah kista limfatik. Kista limfatik pada studi kasus ini ditemukan di lapisan endometrium di daerah kornua uterus (kanan dan kiri) dan korpus uterus. Kista limfatik yang ditemukan berukuran 2.5-3.5 cm. Prevalensi rata-rata kista uterus pada kuda di Pulau Jawa dan Madura adalah 2.7 %. Umumnya terjadi pada kuda tua yang berumur di atas 10 tahun. Kuda yang memiliki kista uterus masih memiliki kemungkinan untuk bunting.
Kata kunci: kista, kuda betina, prevalensi, uterus
ABSTRACT
DEA AMIRANITYA MASITHAH. Case Study Uterine Cysts in Mares in Java and Madura Island. Supervised by AMROZI and LIGAYA ITA TUMBELAKA.
Uterine cysts is one of the factors that causes subfertility in mares. Many veterinarians believe that large uterine cysts affects the mobility of embryo, thus threatening pregnancy in mares. The aim of this study was to identify and provide data on the prevalence of uterine cysts in the mares in Java and Madura island. Analysis of secondary data of ultrasonography in 2913 mares were done. Prevalence of uterine cysts was analyzed descriptively. The result of this study showed all of the mares had lymphatic cyst. These lymphatic cysts were found in the endometrial lining of the cornua uterine (right and left) and corpus uterine. The size of lymphatic cysts was 2.5-3.5 cm. The average prevalence of uterine cysts in mares on the Java and Madura island is 2.7 %. Mostly occurs in older mares over the age of 10 years. The mare who have uterine cysts still have the possibility to pregnant.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan
pada
Fakultas Kedokteran Hewan
STUDI KASUS KISTA UTERUS PADA KUDA DI PULAU
JAWA DAN MADURA
DEA AMIRANITYA MASITHAH
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyusun skripsi ini. Judul skripsi yang dipilih dalam penelitian yang telah dilaksanakan pada tahun 2006-2014 ini adalah “Studi Kasus Kista Uterus pada Kuda di Pulau Jawa dan Madura”. Adapun penyusunan skripsi ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepada Drh Amrozi, PhD selaku Pembimbing I, Dr Drh Ligaya I.T.A Tumbelaka, MSc, SpMP selaku Pembimbing II, dan Drh H Abdul Zahid Ilyas, MSi selaku Pembimbing Akademik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, sosialita, serta teman-teman atas segala doa dan dukungannya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Semoga Penulis dapat menghasilkan skripsi yang bermanfaat bagi Penulis lain dan juga bagi Pembaca.
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Studi Kasus 1
Manfaat Studi Kasus 1
TINJAUAN PUSTAKA 2
Jenis Kuda 2
Anatomi dan Fisiologi Reproduksi Kuda 3
Kista Uterus 4
Ultrasonografi 5
METODE STUDI KASUS 6
Tempat dan Waktu 6
Materi dan Metode Pelaksanaan 6
Analisis Data 6
HASIL DAN PEMBAHASAN 7
Gambaran Ultrasound Kista Uterus 7
Prevalensi Kejadian Kista Uterus 8
Hubungan Kista Uterus dengan Umur Kuda 8
Hubungan Kista Uterus dengan Kebuntingan 9
Pengobatan Kista Uterus 9
SIMPULAN DAN SARAN 12
Simpulan 12
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 12
LAMPIRAN 15
DAFTAR GAMBAR
1 Alat reproduksi kuda betina 3
2 Lapisan endometrium 4
3 Gambaran kista uterus dengan ultrasonografi 5
4 Gambaran ultrasound kista uterus 7
5 Grafik hubungan kista uterus dengan umur 8
6 Spool antibiotik dan oksitosin secara intrauteri 10
7 Elektrokoagulasi kista uterus 11
8 Penghilangan kista uterus dengan laser 11
DAFTAR TABEL
1 Hubungan antara kista uterus dengan kebuntingan 9
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kuda merupakan hewan yang berukuran paling besar di kelas Mammalia dan salah satu hewan ungulata dari ordo Perissodactyla. Kuda termasuk dalam genus Equus (Equus caballus). Awalnya, kuda memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Seiring dengan perkembangan zaman, hewan satu ini pun mulai diminati sebagai hewan peliharaan (Fathmanto 2008) dan dalam beberapa bidang olahraga, diantaranya pacuan kuda, ketangkasan berkuda, dan polo. Namun, populasi kuda di Indonesia semakin lama semakin menurun. Menurut Kementan (2014), secara nasional jumlah kuda telah berkurang dari populasi 418 618 pada tahun 2010 menjadi 408 665 pada tahun 2011. Hal ini sering disebabkan karena kegagalan reproduksi. Hal itulah yang mendorong banyaknya upaya untuk meningkatkan populasi. Upaya untuk meningkatkan populasi salah satunya adalah dengan pemanfaatan ultrasonografi. Ultrasonografi dimanfaatkan untuk pemeriksaan kebuntingan dan gangguan reproduksi pada kuda. Salah satu gangguan reproduksi pada kuda adalah kista uterus.
Kista uterus merupakan suatu struktur yang berisi cairan yang dapat terjadi saat uterus dalam keadaan normal maupun sedang mengalami radang (Kenney dan Ganjam 1975). Kista uterus merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada subfertilitas kuda betina. Banyak dokter percaya, bahwa pengaruh kista uterus sangat besar pada awal mobilitas embrio, sehingga mengancam kebuntingan dari kuda tersebut (Ley et al. 2002). Namun, beberapa dokter mengamati perkembangan embrio tetap normal dan kuda tetap bunting walaupun mempunyai satu atau lebih kista uterus (Ley et al. 2002). Kejadian kista uterus akan meningkat seiring bertambahnya paritas dan umur. Kista uterus sering terjadi pada kuda yang berumur lebih dari 10 tahun (Stanton et al. 2004). Di Indonesia belum ada data tentang kejadian kista uterus dan pengaruhnya terhadap performa reproduksi pada kuda yang dapat digunakan dalam program manajemen reproduksi.
Tujuan Studi Kasus
Studi kasus ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendapatkan data prevalensi kista uterus pada kuda di Pulau Jawa dan Madura berdasarkan diagnosa ultrasonografi.
Manfaat Studi Kasus
2
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis Kuda
Jenis kuda yang terdapat pada studi kasus ini, terdiri dari kuda lokal Indonesia, warmblood, thoroughbred, kuda arab, kuda generasi, dan kuda pacu Indonesia (KPI). Kuda yang diternakkan oleh penduduk Indonesia telah ada sebelum kedatangan bangsa Eropa. Peternakan kuda saat itu belum memenuhi persyaratan teknis beternak, karena kuda hidup di alam bebas dan sangat tergantung pada kebaikan alam. Akibatnya peternakan kuda rakyat menghasilkan kuda dengan kualitas yang rendah. Kuda yang terdapat di Indonesia pemuliabiakannya dipengaruhi oleh iklim tropis serta lingkungannya. Tinggi badan kuda ini berkisar antara 1.15–1.35 m dan tergolong dalam jenis poni. Kuda ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kepala besar, wajah rata, leher tegak dan lebar, daun telinga kecil, punggung lurus, letak ekor tinggi dan berbentuk oval, dada lebar, bentuk kuku kecil, dan kaki depan lebih berkembang dibandingkan kaki belakang (Jacoebs 1994). Beberapa jenis kuda lokal Indonesia, diantaranya adalah kuda sumba, kuda timor, kuda priangan, kuda jawa, kuda makassar, kuda batak, kuda gayo, kuda lombok, kuda bali, kuda sedel, dan kuda flores (Sudardjat 2003).
Kuda warmblood terbentuk dari persilangan antara kuda hotblood, seperti kuda arab, dengan coldblood, seperti kuda clydesdales dan percherons. Persilangan ini menghasilkan kuda pacu dengan bentuk badan yang besar, cepat, dan lebih jinak. Kuda warmblood terkenal dibidang olahraga, seperti Olympic, untuk perlombaan dressage dan banyak diternakkan untuk kompetisi. Kuda hanoverian merupakan kuda yang paling terkenal dari ras ini (Siegal 1996).
Kuda thoroughbred dikembangkan oleh keluarga raja Inggris. Penggunaannya di Inggris menyebabkan muncul istilah “olahraga raja”. Hal ini dikarenakan bangsawan Inggris baik pria maupun wanita mengembangbiakan dan melombakan thoroughbred yang penampilannya baik. Selain kecerdasannya, karakteristik yang lain adalah kecepatan lari dan daya tahannya, seperti telah dibuktikan dalam arena perlombaan flat dan jumping seperti Kentucky Derby dan English Grand National Steeplechase (Blakely dan Bade 1994).
Kuda arab dapat dianggap sebagai cikal bakal berbagai jenis kuda di dunia. Kuda arab dianggap sebagai ras kuda tertua. Para sultan di India telah menyebarluaskan kuda arab ke berbagai negara lain di Asia. Salah satu caranya adalah melalui hadiah perkawinan (Siegal 1996). Melalui ekspansi tentara Arab ke berbagai penjuru negara pada awal abad pertengahan, maka kuda arab menyebar ke berbagai penjuru dunia. Kuda arab tersebut kemudian dikawinsilangkan dengan kuda lokal di daerah masing-masing negara. Sampai saat ini telah dikenal lima ekor kuda pejantan arab yang terkemuka, yaitu The Byerley Turk, The Leeds Arabian, The Dardley Arabian, The Alcock Arabian, dan The Godolphin Arabian (Siegal 1996).
3 dengan cara menyilangkan betina lokal dengan pejantan ras lain yang diinginkan. Perkembangan perkudaan di Indonesia mengikuti arah persilangan terhadap darah thoroughbred dengan sistem persilangan grading up sesuai keputusan Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) tahun 1975 (Rahman 2012).
Anatomi dan Fisiologi Reproduksi Kuda Betina
Alat reproduksi kuda betina terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, serviks, vagina, dan vulva (Gambar 1 A, B). Ovarium merupakan organ kelamin primer betina yang berfungsi memproduksi ovum dan hormon (Sendel 2010). Setelah ovum dikeluarkan, ovum akan melewati oviduk. Oviduk memiliki struktur panjang berbentuk saluran dari ujung ovarium sampai kornua uterus. Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dan tempat fertilisasi. Uterus terdiri dari korpus uterus dan kornua uterus (Senger 1999). Tipe uterus kuda disebut uterus simpleks bipartitus, karena ukuran korpus uterus lebih besar dari kornua uterus dengan perbandingan 60:40 (Morel 1999). Dinding uterus terdiri dari beberapa lapisan, yaitu endometrium, miometrium, dan perimetrium (Gambar 2). Uterus dilindungi oleh sebuah “pintu”, yaitu serviks. Serviks memiliki struktur yang keras dengan panjang 10 cm, terdapat antara vagina dan uterus. Serviks akan terbuka saat estrus atau melahirkan dan tertutup saat tidak estrus atau bunting. Vagina merupakan jalan kelahiran yang berada antara serviks dan vulva. Vulva merupakan bagian luar dari traktus urogenital, jalan kelahiran, dan tempat keluarnya urin (Sendel 2010).
Gambar 1 Alat reproduksi kuda betina, (A) longitudinal view dan (B) frontal view (Gilbert et al. 2011)
4
Gambar 2 Lapisan dinding uterus kuda, dari lumen: endometrium, miometrium, dan perimetrium (Charlotte 2002)
Organ reproduksi kuda betina akan terus berkembang hingga masuk masa pubertas. Masa pubertas kuda adalah antara umur 12-18 bulan. Kuda betina yang sudah dewasa kelamin akan memasuki siklus estrus. Siklus estrus kuda terdiri dari dua fase: fase folikular dan fase luteal. Fase folikular umumnya terjadi selama 6 hari dan kemudian ovulasi pada 24-48 jam sebelum berakhirnya estrus. Setelah berakhirnya estrus kuda akan memasuki fase luteal. Fase luteal terjadi selama 15 hari (Sendel 2010).
Kuda yang sudah dewasa kelamin dan dewasa tubuh kemudian akan dikawinkan. Jantan akan mendeposisikan semennya di bagian depan serviks. Pergerakan otot dari uterus akan merespon migrasi sperma ke oviduk. Folikel yang ruptur akan merangsang ovum untuk keluar dan ditangkap oleh fimbria dari infundibulum. Fimbria membantu ovum menuju oviduk dan bertemu dengan sperma. Hasil fertilisasi akan berkembang menjadi zigot, yang merupakan awal dari embrio. Embrio bergerak menuju uterus selama 6 hari. Beberapa studi membuktikan, bahwa embrio bergerak dalam uterus sampai 16 atau 17 hari setelah ovulasi. Hal ini dikarenakan meningkatnya uterine tone, penebalan dinding uterus, dan perbesaran dari vesikel. Setelah sampai di uterus, embrio akan implantasi. Sekitar hari ke-35 embrio implantasi dan pembentukkan plasenta berlangsung pada hari ke-40 sampai ke-45 (Sendel 2010).
Kista Uterus
5 atau miometrium (Bracher et al. 1992; Tannus dan Thun 1995). Kista limfatik dapat didiagnosis melalui palpasi perektal, palpasi intrauteri, histeroskopi, biopsi endometrium, dan ultrasonografi (Wilson 1985).
Jenis kista uterus yang lain adalah kista glandular. Kista glandular disebabkan karena perbesaran glandular pada kelenjar endometrium. Perbesaran ini dapat disebabkan karena fibrosis periglandular (Brook dan Frankel 1987; Tannus dan Thun 1995). Ukuran dari kista glandular umumnya hanya 0.1-1 cm (Tannus dan Thun 1995). Kista ini terdapat pada endometrium dan ditemukan di setiap area uterus. Kista glandular hanya dapat didiagnosis menggunakan histeroskopi dan pemeriksaan histologi (Wilson 1985).
Gambar 3 Gambaran kista uterus (tanda panah) dengan ultrasonografi akan menghasilkan gambaran anechoic pada area tengahnya dan hyperechoic pada area membrannya, serta terbentuk acoustic enhancement (area terang) di bawah kista uterus (Stanton et al. 2004)
Pada beberapa kasus, jumlah dan diameter kista uterus dapat menghambat mobilitas vesikel embrio dan membatasi kemampuan konsepsi awal. Hal ini akan menghambat kebuntingan (Bracher et al. 1992; Tannus dan Thun 1995). Selain itu, kista uterus juga dapat menghambat penyerapan nutrisi dari embrio dan mengakibatkan kematian embrio dini (Brook dan Frankel 1987; Tannus dan Thun 1995). Namun, keberadaan kista uterus tidak selalu mengganggu perkembangan embrio. Perkembangan embrio dapat terganggu, bila kista uterus berada pada lapisan superfisial endometrium, besar, dan luas (mengurangi luas permukaan plasenta).
Ultrasonografi
6
Kemampuan alat USG untuk menghasilkan gambar yang baik tergantung pada frekuensi gelombang suara yang diukur dalam satuan megahertz (MHz). Ultrasonografi memiliki tiga jenis echo untuk mendeskripsikan gambar, yaitu hyperechoic (echogenic) artinya ekogenisitas terang, menampakkan warna putih pada sonogram atau memperlihatkan ekogenisitas yang lebih tinggi dibandingkan sekelilingnya, contohnya tulang, udara, kolagen, dan lemak. Hypoechoic (echopoor) menampilkan warna abu-abu gelap pada sonogram atau memperlihatkan area dengan ekogenisitas lebih rendah dari pada sekelilingnya, contohnya jaringan lunak. Anechoic yang menunjukkan tidak adanya echo, menampilkan warna hitam pada sonogram dan memperlihatkan transmisi penuh dari gelombang contohnya cairan (Ginther dan Pierson 1984).
Salah satu contoh penggunaan USG adalah untuk pemeriksaan saluran reproduksi kuda. Probe yang cocok untuk pemeriksaan saluran reproduksi kuda adalah probe dengan frekuensi gelombang sebesar 5 MHz (Ginther dan Pierson 1984). Probe yang digunakan adalah jenis linier array.
METODE STUDI KASUS
Tempat dan Waktu
Data studi kasus ini diambil dari peternak kuda di Pulau Jawa dan Madura yang telah diperiksa status reproduksinya pada tahun 2006-2014. Pengolahan data dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor dari bulan Maret-Juli 2015.
Materi dan Metode Pelaksanaan
Kuda yang terdapat dalam studi kasus ini adalah kuda yang berada di Pulau Jawa dan Madura, yaitu kuda warmblood, thoroughbred, kuda arab, kuda lokal Indonesia, cross breed, dan kuda pacu Indonesia. Studi kasus ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pemeriksaan ultrasonografi. Ultrasonografi (USG) yang digunakan adalah Sonoscap Vet A6 yang dilengkapi dengan linear probe 7.5 MHz. Linear probe dimasukkan melalui rektal mengarah ke kantung kemih, kemudian dilanjutkan ke bagian dorsal kanan dan kiri sehingga diperoleh gambaran organ reproduksi secara lengkap sampai bagian apeks kornua uterus. Data dan gambar organ reproduksi (uterus) dikumpulkan dan dianalisa.
Analisis Data
7
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Ultrasound Kista Uterus
Pemeriksaan ultrasonografi adalah cara yang umum digunakan untuk mendeteksi kista uterus. Gambaran ultrasound kista uterus yang diperiksa memberikan gambaran anechoic pada daerah tengahnya yang berisi cairan dan gambaran hyperechoic pada membrannya (Gambar 4 C, D). Gambaran kista uterus yang terlihat memiliki batas yang irregular, bentuk yang beragam, dan gelombang suara yang diteruskan oleh cairan akan membentuk acoustic enhancement (area terang) pada bagian bawah kista uterus (Wilson 1985; Kahn 2004; Stanton et al. 2004). Diameter kista uterus yang diukur berkisar antara 2.5- 3.5 cm. Ukuran kista uterus > 3 cm dapat mengganggu mobilitas dari embrio (Robinson dan Kim 2009). Lokasi kista uterus yang ditemukan terletak pada lapisan endometrium di daerah korpus uterus dan kornua uterus (Gambar 4 C, D). Penelitian dari Tannus dan Thun (1995), dari 55 ekor yang terdapat kista uterus sebanyak 33.8 % terjadi di korpus uterus, 16.4 % di bifurcatio, dan sisanya terjadi di kornua uterus. Menurut Wilson (1985), lokasi kista uterus dapat mempengaruhi mobilitas embrio. Gambaran kista uterus, diameter kista uterus, dan lokasi kista uterus menunjukkan bahwa kista uterus yang ditemukan adalah kista limfatik. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari beberapa peneliti, bahwa diameter kista limfatik berukuran dari 1-20 cm dan ukurannya akan terus bertambah dengan seiring pertambahan umur (Kenney dan Ganjam 1975; Tannus dan Thun 1995).
Gambar 4 Gambaran ultrasound daerah uterus (lingkaran putih): (A) uterus normal dalam fase estrus, (B) kebuntingan umur 14 hari yang terdapat vesikel berisi embrio (tanda panah), (C, D) kista uterus (tanda panah) di lapisan endometrium (Dokumen pribadi)
Cara lain untuk mendiagnosis kista uterus dapat dilakukan dengan palpasi perektal (Kenney dan Ganjam 1975) dan histeroskopi (Bartmann et al. 2008). Palpasi perektal biasanya digunakan untuk mendeteksi kista uterus yang berukuran besar (Kenney dan Ganjam 1975). Sementara itu, kista uterus yang berukuran kecil dapat didiagnosis dengan histeroskopi. Histeroskopi digunakan untuk visualisasi permukaan kista uterus. Histeroskopi menggunakan endoskop
B C D
8
dengan panjang 1 m dan cahaya sebesar 100-300 W. Cairan steril atau gas, seperti karbondioksida, dapat digunakan untuk pengamatan histeroskopi (Wilson 1985).
Prevalensi Kista Uterus
Pada studi kasus ini terdapat 2913 ekor yang diperiksa dan terdapat 57 ekor yang terdeteksi memiliki kista uterus. Kista uterus ini terjadi pada tahun 2006 sebanyak 6 ekor, tahun 2007 sebanyak 2 ekor, tahun 2009 sebanyak 13 ekor, tahun 2011 sebanyak 5 ekor, tahun 2012 sebanyak 8 ekor, tahun 2013 sebanyak 19 ekor, dan tahun 2014 sebanyak 4 ekor. Prevalensi rata-rata kista uterus per-tahun di Pulau Jawa dan Madura sebesar 2.7 % (Lampiran 1).
Menurut beberapa peneliti, prevalensi kista uterus pada kuda yang fertil dan subfertil sebesar 13-22 % (Stanton et al. 2004). Penelitian lain melaporkan prevalensi kista uterus pada kuda berumur tua dan subfertil sebesar 55 % (Bracher et al. 1992). Sementara itu, pada studi lain dari 259 ekor dengan riwayat sehat sebanyak 58 ekor memiliki kista uterus dan prevalensi kista uterusnya sebesar 22.4 % (Tannus dan Thun 1995). Hal ini dapat dinyatakan bahwa prevalensi kista uterus di Pulau Jawa dan Madura sangat rendah. Prevalensi kista uterus pada kuda akan bertambah seiring dengan paritas dan umur (Stanton et al. 2004).
Hubungan Kista Uterus dengan Umur Kuda
Pada studi kasus ini kuda yang memiliki kista uterus dibagi menjadi dua kelompok umur, yaitu 8-10 tahun sebagai kelompok umur muda dan > 10 tahun sebagai kelompok umur tua. Terlihat bahwa terdapat 23 ekor berumur muda (40.3 %) dan 34 ekor berumur tua (59.7 %). Kasus kista uterus pada studi kasus ini lebih banyak terjadi pada kelompok umur tua (Tabel 2). Sebuah studi di Swiss membagi kuda menjadi tiga kelompok umur, yaitu < 7 tahun, 7-14 tahun, dan > 14 tahun. Pada kuda berumur < 7 tahun sebesar 5.9 %, umur 7-14 tahun sebesar 35.3 %, dan umur > 14 tahun sebesar 58.8 % (Ferreira et al. 2008).
Gambar 5 Grafik hubungan kista uterus dengan umur. Kista uterus lebih tinggi terjadi pada kelompok umur di atas 10 tahun
9 Peneliti di Jerman tidak menemukan bukti kista uterus di kuda berumur < 10 tahun (Liedl et al. 1987). Robinson dan Kim (2009), menyatakan bahwa kuda berumur di atas 11 tahun memiliki resiko terkena kista uterus 4 kali lebih besar dibandingkan kuda muda. Hubungan antara kehadiran kista uterus dengan perbedaan umur pada studi kasus ini tidak begitu nyata. Namun, dapat dipastikan bahwa makin tua umur kuda, maka makin besar kemungkinan terjadinya kista uterus. Kasus kista uterus ini menyerupai penelitian dari Ferreira et al. (2008).
Hubungan Kista Uterus dengan Kebuntingan
Pada studi kasus ini dari 57 ekor yang memiliki kista uterus, 6 ekor dapat bunting. Kebuntingan terjadi pada tahun 2009 sebanyak 1 ekor, tahun 2012 sebanyak 2 ekor, dan tahun 2013 sebanyak 3 ekor. Persentase kebuntingan pada studi kasus ini adalah sebesar 10.52 % (Tabel 1). Penelitian lain menjelaskan dari 9 ekor yang memiliki kista uterus sebanyak 7 ekor yang bunting (77.8 %) (Leidl et al. 1987) dan dari 185 ekor yang memiliki kista uterus sebanyak 146 ekor yang bunting (78.92 %) (Kollmann et al. 2008). Persentase kebuntingan pada studi kasus ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan penelitian lain. Hal ini dapat disebabkan karena keberadaan kista uterus menyebabkan penurunan pregnancy rate pada kuda. Hal ini serupa dengan penelitian di Swiss, bahwa kista uterus akan menurunkan fertilitas atau pregnancy rate sebesar 10 % pada hari ke-14 dan ke-40 pasca perkawinan. Hal ini dikarenakan kista uterus mempengaruhi migrasi transuteri dari konsepsi setelah ovulasi dan mengakibatkan penurunan dari total luas uterus yang mengakibatkan rendahnya fertilitas (Leidl et al. 1987; Eilts dan Scholl 1995; Allen 1997).
Tabel 1 Hubungan antara kista uterus dengan kebuntingan
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Total
Kista Uterus (ekor) 6 2 0 13 0 5 8 19 4 57
Kebuntingan (ekor) 0 0 0 1 0 0 2 3 0 6
Persentase (%) 0 0 0 7.7 0 0 25 12.5 0 10.52
Adams et al. (1987), menyatakan kuda dengan satu atau dua kista uterus masih dapat bunting. Jadi, direkomendasikan untuk menghilangkan kista uterus yang berukuran besar atau dengan jumlah yang banyak pada kuda dengan kasus berkurangnya fertilitas atau kuda yang mengalami kehilangan kebuntingan (Bartmann 1997).
Pengobatan Kista Uterus
10
IU/25 kg BB dan 2.5 x 105 IU/25 kg BB, dengan oksitosin dengan dosis 10 mg/ml selama 5 hari berturut-turut. Pemberian spool ini bertujuan untuk mengobati endometritis yang umumnya menyertai kasus kista uterus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tannus dan Thun (1995), bahwa umumnya kista uterus disertai gangguan endometrium. Sedangkan kista uterusnya belum pernah dilakukan pengobatan secara kausatif, sehingga keberhasilan dari pengobatan ini masih sangat rendah.
Gambar 6 Spool antibiotik dan oksitosin secara intrauteri dengan kateter dan syringe (Dokumen pribadi)
Teknik pengobatan di negara lain sudah lebih berkembang dibandingkan di Indonesia. Pengobatan kausatif di negara lain dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:
1. Teknik manual
Teknik manual diantaranya dilakukan dengan ablasi, penusukan, dan aspirasi (Stanton et al. 2004; Bracher et al. 1996; Wolfsdorf 2002). Ablasi dapat dilakukan secara langsung dengan memasukkan tangan secara perektal atau intrauteri, kemudian kista uterus dirupturkan dengan cara ditekan. Selain dengan ablasi, dapat dilakukan dengan penusukkan dan aspirasi menggunakan needle (Stanton et al. 2004; Bracher et al. 1996; Wolfsdorf 2002). Cara manual ini lebih mudah dilakukan saat kuda sedang estrus (Stanton et al. 2004).
2. Elektrokoagulasi
11
Gambar 7 Elektrokoagulasi, (A, B, C) kista uterus yang berukuran besar menggunakan elektrokoagulasi dengan loop dan kawat polipektomi dan menyebabkan terbentuknya scar, (D) kista uterus yang berukuran kecil menggunakan elektrokoagulasi berbentuk penusuk (tanda panah) (Bartmann et al. 2008)
3. Laser
Pada umumnya laser yang digunakan adalah laser Neodymium: Yttrium Aluminium Garnet (Nd:YAG) (Gambar 7). Panjang gelombang yang digunakan sebesar 1.06 µm (Bilkslager et al. 1993). Tipe laser ini memiliki daya penetrasi yang tinggi dan menghasilkan hamburan radiasi. Teknik ini menggunakan energi sebesar 50-100 W dengan continuous mode. Keberhasilan dari pengobatan kausatif ini sangat tinggi, berkisar antara 85-100 % (Bilkslager et al. 1993). Teknik menggunakan laser harus dipandu dengan histeroskopi untuk memudahkan pengamatan area uterus. Pengobatan ini juga dapat dibantu dengan pengisian ruang uterus dengan menggunakan karbondioksida untuk memperluas area pandang uterus.
Gambar 8 Penghilangan kista uterus dengan laser yang ditempelkan pada permukaan kista uterus, hingga membran kista uterus berlubang (Bilkslager et al. 1993)
Kuda yang memiliki kista uterus yang berukuran besar dan jumlah yang banyak dapat menyebabkan reproduksi yang buruk, sehingga lebih baik dilakukan pengobatan. Pengobatan telah terbukti mengembalikan fertilitas pada beberapa kuda. Tidak setiap kista uterus perlu ditangani secara klinis, karena banyak juga kista uterus yang tidak menyebabkan masalah (Wolfsdorf 2002).
12
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Prevalensi rata-rata kista uterus di Pulau Jawa dan Madura adalah 2.7 %. Umumnya terjadi pada kuda berumur di atas 10 tahun. Kuda yang memiliki kista uterus masih memiliki kemungkinan untuk bunting.
Saran
Metode pengobatan tidak cukup hanya dengan spool antibiotik dan oksitosin, sehingga perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada seperti di negara lain. Pilihan teknologi yang lain untuk menghilangkan kista uterus bisa dengan manual, elektrokoagulasi, dan laser.
DAFTAR PUSTAKA
Adams GP, Kastelic JP, Bergfelt DR. 1987. Effect of uterine inflamation and ultrasonically-detected uterine phatology on fertility in the mare. J Repro Fert. 35:445-454.
Allen WR. 1997. Kethole laser ablation of translumenal adhesions and endometrial cysts in the uterine of thoroughbred mares. Pferdeheilkunde. 13:536.
Bartmann CP. 1997. Hysteroscopy and minimal invansive endouterine surgery in the mare. Pferdeheilkunde. 13:474-482.
Bartmann CP, Kollmann M, Schiemann V, Stief B, Schoon HA, Klug E. 2008.
Hysteroscopic removal of uterine cysts in mares I-hysteroscopy and surgical procedurs. Leipzig (DE): Pferdeheilkunde.
Bilkslager AT, Tate LP, Weinstock D. 1993. Effects of neodymium:yttrium aluminum garnet laser irradiation on endometrium and on endometrial cysts in six mares. J Vet Surg. (22):351-6.
Blakely J, Bade DH. 1994. Ilmu Peternakan (terjemahan). Ed ke-4. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Bracher V, Mathius S, Allen WR. 1992. Videoendoscopic evaluation of the mare`s uterus. J Eq Vet. 24:279-284.
Bracher V, Mathias S, Allen WR. 1996. Influence of chronic degenerative endometritis (endometrosis) on placental development in the mare. J Eq Vet. 28:180-188.
Brook D, Frankel K. 1987. Electrocoagulative removal of endometrial cysts in the mare. J Eq Vet Sci. 7:77-81.
13
Eilts BE, Scholl DT. 1995. Prevalence of endometrial cysts and their effect on fertility. J Biol Repro Mono. 1:527-532.
Fathmanto M. 2008. Status Kesehatan dan Manajemen Pemeliharaan Kuda Delman di Kota Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Ferreira JC, Gastal EL, Ginther OT. 2008. Uterine blood flow and perfusion in
mares with uterine cysts: effect of the size of the cystic area and age. Winconsin (USA): J Rep. 135: 541-550. doi: 10.1530/REP-07-0447. Gilbert RD, Fabio DP, Ronald JE, Paul N, Jerome CN, Donald P, Patricia LS,
Goddard PJ. 1995. Veterinary Ultrasonography. England (GB): CABI. Jacoebs TN. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Yogyakarta (ID): Kanisius.
Kahn W. 2004. Veterinary Reproductive Ultrasonography. Germany (DE): Die Deutsche Bibliothek.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2014. Populasi Kuda di Indonesia. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian.
Kenney RM, Ganjam VK. 1975. Selected pathological changes of the mare uterus and ovary. J Repro Fertil Suppl. 23:335-339.
Kollmann M, Claus PB, Viola S, Erich K, Christin E, Heinz AS. 2008. Hysteroscopic removal of uterine cysts in mares II-follow up and long term fertility analysis with regard to patho-histological findings. Leipzig (GR): Pferdeheilkunde.
Leidl W, Kaspar B, Kahn W. 1987. Endometriumzysten bel stunten. teil 2. Klinische Untersuchungen: Tierarztl Prax. 15: 281-289.
Ley WB, Russell GH, Holyoak GR. 2002. Laser ablation of endometrial and lymphatic cysts. Stillwater (OK): Elsivier Science.
Mina CG, Davies M. 2008. Equine Reproductive Physiology, Breeding, and Stud Management. Oxon (GB): CABI.
Siegal M. 1996. Book of Horses: A Complete Medical Reference Guide for Horses and Foals. California (US): Harper Collins Publishers.
14
Sudardjat S. 2003. Sambutan Direktur Jendral Bina Produksi Peternakan pada Acara Semiloka Perkudaan di Indonesia. Jakarta, 4 September 2003. Tannus RJ, Thun R. 1995. Influence of endometrial cysts on conception rate of
mares. J Vet Med A. 42:275-283.
Wilson DL. 1985. Diagnostic and therapeutic hysteroscopy for endometrial Cysts in mares. J Vet Med. 80:59-63.
17
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Dea Amiranitya Masithah yang dilahirkan di Cianjur pada tanggal 26 Desember 1992. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayah penulis bernama Ikhsan Hafidz dan Ibu penulis bernama Dewi Ratnawulan. Penulis merupakan alumni dari SMPN 2 Depok dan SMAN 5 Depok. Penulis masuk ke Institut Pertanian Bogor dan diterima di Fakultas Kedokteran Hewan pada tahun 2011.
Kegiatan penulis di luar akademik yaitu sebagai sekretaris divisi eksternal pada Himpunan Minat Profesi Satwa Liar, Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor tahun 2013-2014, Bendahara departemen Budaya dan Olah Raga BEM-B pada tahun 2013-2014, reporter majalah Vetzone pada tahun 2012, bendahara
seminar nasional Himpunan Minat Profesi Satwa Liar, Fakultas Kedokteran,