• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran konsep diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan Karangsari RW 13, kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran konsep diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan Karangsari RW 13, kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG

TAHUN 2009

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana

Keperawatan ( S.Kep )

Oleh

Rohmatika

NIM : 105104003482

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

(2)

PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG

TAHUN 2009

Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 26 Oktober 2009

Pembimbing I Pembimbing II

Jamaludin, S.Kep, M.Kep Bambang P. Cadrana, SKM, M.KM NIP. 150409469 NIP. 19690205199403 1 003

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Jakarta, Nopember 2009

Penguji I

NIP.

Penguji II

NIP.

(3)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rohmatika

Tempat / tanggal lahir : Serang, 5 februari 1987

Agama : Islam

Alamat : Jl.raya Serang-Pandeglang, kp. Warung, Ds. Panyirapan

Kecamatan Baros, Serang-Banten 42173

Telp : (0254) 250 125

Riwayat pendidikan : MI Nurul Huda Baros (1993-1999)

MTS Nurul Huda Baros (2000-2002)

MAN 2 Model Serang (2003-2005)

Program S1 Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

(4)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1430 H/2009

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

Nama : Rohmatika

NIM : 105104003482

Mahasiswa program : Ilmu keperawatan

Tahun akademik : 2005

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan skripsi saya yang berjudul :

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG TAHUN 2009.

Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sangsi yang telah ditetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta, Nopember 2009

(5)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, 28 Oktober 2009

Rohmatika

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI

KELURAHAN KARANGSARI RW13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG TAHUN 2009.

xxi + 136 halaman, 4 tabel, 6 gambar, 12 lampiran

ABSTRAK

Kusta di Indonesia merupakan suatu penyakit yang belum dapat diatasi secara tuntas, salahsatu kendalanya adalah adanya anggapan yang keliru dari masyarkat yang menganggap penyakit kusta adalah penyakit kutukan, keturunan dan menimbulkan kecacatan yang menetap. Akibat anggapan yang salah ini penderita kusta merasa putus asa dan tidak tekun berobat. Pasien kusta akan mengalami beberapa masalah baik secara fisik, psikologi, sosial dan ekonomi sehingga masalah tersebut beralih dari masalah kesehatan ke masalah sosial. Laporan WHO (1997) menunjukan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-3 dunia sebagai Negara yang memiliki penderita kusta terbanyak setelah India dan Brazilia. Berdasarkan data tahun 2006-2007 menurut Kepala Bagian Perencanaan Rekam Medik Rumah Sakit Kusta Sintanala, Tangerang, tercatat 279 penderita pada tahun 2006 meningkat menjadi 296 orang sampai pada tahun 2007. Penyakit infeksi ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berarti, terbukti dengan adanya kecenderungan peningkatan angka prevalensi kusta selama periode 2000-2007. Konsep diri klien kusta terbentuk dari penerimaan masyarakat terhadap penderita kusta. Namun sampai saat ini sangat sedikit penelitian yang menggali masalah konsep diri panderita cacat kusta. Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang mendalam. Tidak hanya pada penderita sendiri, tetapi pada keluarga, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan penderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit menular, dan tidak dapat diobati.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan Karangsari RW13, kecamatan Neglasari, Tangerang. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pengetahuan, persepsi konsep diri, sikap masyarakat terhadap penderita kusta yang berhubungan dengan

terjadinya Leprofobia. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Karangsari RW13, Kodya

(6)

sebanyak 5 orang dan informan terdiri dari petugas puskesmas Neglasari dan kelurahan Karangsari.

Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep diri klien cacat kusta terjadi karena persepsi masyarakat tentang kusta dan sikap masyarakat yang takut tertular ketika melihat kecacatan yang ditimbulkan oleh penyakit kusta. Ditemukan juga bahwa sikap negatif terhadap kehadiran penderita kusta adalah pernikahan dengan keluarga penderita kusta, namun dalam kegiatan sosial seperti syukuran dan kegiatan agama umumnya menunjukan sikap positif dari masyarakat. Umumnya informan memiliki konsep diri positif, mereka menerima kecacatannya dan mampu mengungkapkan kepribadiannya melalui wawancara. Dengan demikian disarankan untuk Melakukan promosi kesehatan dan upaya preventif secara terpadu melalui program pelatihan khusus perawatan cacat kusta bagi petugas puskesmas dengan pemeriksaan kecacatan tingkat II

atau POD (Prevention Of dissability). Meningkatkan pengetahuan melalui penyuluhan serta

melibatkan penderita cacat kusta sebagai role model dalam pendidikan kesehatan. Sebaiknya

dibuat data surveilance untuk memudahkan puskesmas dalam menemukan kasus secara dini bagi pasien terdaftar dan baru segera ditulis dalam sensus data pasien terdaftar dan baru karena dapat mempermudah telaah dokumen. Serta penyuluhan imunisasi BCG. Lebih lanjut, pencegahan dan perawatan cacat kusta secara dini oleh petugas kesehatan dan peran serta masyarakat merupakan hal yang terpenting.

(7)

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES NURSING PROGRAM STUDY

STATE ISLAMIC UNIVERSITY (UIN) OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Undergraduate Thesis, October 28th 2009 Rohmatika

SELF-IMAGE CONCEPTS TO CLIENTS WITH DISABILITIES OF LEPROSY IN THE VILLAGE DISTRICT KARANGSARI, NEGLASARI RW 13, TANGERANG 2009

xxi+136 pages, 4 tables, 6 picture, 12 appendixes

ABSTRACT

In Indonesia leprosy is a disease that can not completely resolve yet, one of the main problems is the mistaken assumption that the community thinks of leprosy is a disease of heredity and permanent disability. As a result of this erroneous assumption lepers feel desperate and do not diligently seek treatment. Leprosy patients will experience some physical problems, psychological, social and economic change so that the issue of health issues to social issues. WHO report (1997) showed that Indonesia was on the order of the 3rd world as a country that had the most leprosy patients after India and Brazil. Based on data from 2006-2007 according to the Planning Section Chief Medical Record Sintanala Leprosy Hospital, Tangerang, 279 patients were recording in 2006 increased to 296 people until the year 2007. This infectious disease is still a public health problem which means, as evidenced by the trend of increased prevalence rate of leprosy during the period 2000-2007. Self-concept is formed from leprosy client community acceptance of people with leprosy. However, there is very little research that explores the concept of sufferer self problem leprosy disability. Social impact of leprosy is so great, causing deep anxiety. Not only the patient themselves, but on families, communities and countries. This is the underlying concept of patient acceptance behavior of the disease, which for this condition is still a lot of people think that leprosy is a contagious disease, and can not be treated.

(8)

The results showed that the concept of self-leprosy disabled clients because the public perception of leprosy and attitudes are afraid of contracting when he saw the disability caused by leprosy. Also found that negative attitudes toward the presence of leprosy patients is the family wedding with lepers, but in social activities such as Thanksgiving and religious activity generally showed a positive attitude from the community. Generally informants have a positive self-concept, they receive a disability and able to express her personality through interviews. Thus advisable to conduct health promotion and preventive efforts in an integrated manner through a special training program for the treatment of leprosy disability health officers with inspection level II disability or POD (Prevention Of disability). Increased knowledge through counseling and involve people with disabilities of leprosy as a role model in health education. Surveillance data should be made to facilitate the clinic in early case finding for patients newly registered and immediately recorded in the census data and newly registered patient as it can facilitate the study of documents. BCG immunization and counseling. Furthermore, the prevention and treatment of leprosy disabilities at an early stage by health workers and community participation is the most important thing.

(9)

SKRIPSI

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG

TAHUN 2009

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana

Keperawatan ( S.Kep )

Oleh

Rohmatika

NIM : 105104003482

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

(10)

PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG

TAHUN 2009

Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 26 Oktober 2009

Pembimbing I Pembimbing II

(11)

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Jakarta, Nopember 2009

Penguji I

NIP.

Penguji II

NIP.

Penguji III

(12)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rohmatika

Tempat / tanggal lahir : Serang, 5 februari 1987

Agama : Islam

Alamat : Jl.raya Serang-Pandeglang, kp. Warung, Ds. Panyirapan

Kecamatan Baros, Serang-Banten 42173

Telp : (0254) 250 125

Riwayat pendidikan : MI Nurul Huda Baros (1993-1999)

MTS Nurul Huda Baros (2000-2002)

MAN 2 Model Serang (2003-2005)

Program S1 Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

(13)

PERSEMBAHAN

Tentang Waktu

Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.

Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.

Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.

Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.

Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.

Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis

SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK.

Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa

Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.

Anda bukan apa yang anda fikirkan tentang anda, tetapi apa yang anda fikirkan itulah anda

Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan.

Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.

Ketabahan memerlukan keyakinan. Keyakinan pula menentukan kejayaan. Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.

Kekayaan bukanlah satu dosa dan kecantikan bukanlah satu kesalahan. Oleh itu jika anda memiliki kedua-duanya janganlah anda lupa pada Yang Maha

(14)

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim.

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Inayah-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Gambaran Konsep Diri Pada Klien Dengan Cacat Kusta di Kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009”. Shalawat dan salam senantiasa kita junjungkan kehadirat Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Adapun skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep).

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak dan ibu saya yang selalu mendoakan dan memberi semangat dalam setiap

waktunya.

2. Terimakasih untuk bapak dekan FKIK Prof.DR.Dr.MK Tadjudin, Sp. And

3. Pak Bambang, yang dengan sabar membimbing, memotivasi dan memberi masukan

untuk proses pengerjaan skripsi ini.

4. Pak jamaludin, terimakasih telah bersedia membimbing dan memberikan masukan

untuk skripsi ini.

5. Terimakasihku yang tak terhingga untuk ibu Tien Gartinah dan seluruh dosen program

studi ilmu keperawatan yang telah mentransfer ilmunya dan membimbing kami dalam segala hal.

6. Terimakasih buat ibu Sri Dian (Kasi kemasyarakatan kelurahan Karangsari), ibu Alin

(15)

7. Terimakasihku buat pak W, D, M, S, Su, yang telah memberikan waktunya untuk wawancara demi kelancaran penelitian ini.

8. Adek saya satu-satunya Mubdi Hasan yang selalu memotivasi saya, semangat ya dek

lanjutkan sampai kuliah.

9. Terimakasih juga buat Edi yang telah meminjamkan buku dan memberikan semangat

dalam menyusun skripsi.

10.Teman-teman sekelasku PSIK angkatan 2005 yang kompak yang memberikan warna

warni kehidupan dan banyak memberi inspirasi.

11.Teman sekosanku yang baik dan care Neneng, Herna, Fauziah, Intan, Nisa, Ipa, Pipit,

Solehah, ka Hasni, Lita terimakasih sudah memberikan tumpangan ngprintnya, jaga kebersamaan kita, I Love You Full…..

Demikian yang dapat penulis sampaikan, insya Allah skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis yang sedang menempuh skripsi dan dapat dijadikan pelajaran bagi adik-adik kami selanjutnya.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka bila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S. Al Insyirah:6-7).”

Tim Penyusun

(16)

DAFTAR ISI

ABSTRAK

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KATA PENGANTAR………i

DAFTAR ISI……….iii

DAFTAR TABEL………...viii

DAFTAR GAMBAR………...ix

DAFTAR SINGKATAN………x

DAFTAR LAMPIRAN………xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang……….1

1.2 Identifikasi masalah……….8

1.3 Perumusan masalah………..8

1.4 Tujuan dan manfaat penelitian……….9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian konsep diri atau citra diri………..11

a. Dimensi-dimensi citra diri………..12

b. Peranan citra diri……….13

2.2 Pembentukan konsep diri………14

(17)

1. Citra tubuh (Body image)………20

2. Ideal diri (Self ideal)………23

3. Harga diri (Self esteem)………...24

4. Peran diri (Self role)………27

5. Identitas diri (Self identity)……….30

2.4 Teori faktor yang mempengaruhi konsep diri………...31

2.5 Tindakan pada gangguan konsep diri………33

2.6 Pengaruh self concept terhadap perilaku kesehatan………..34

2.7 Pengertian cacat tubuh………..38

a. Jenis-jenis cacat tubuh………..39

b. Derajat kelainan fisik………40

c. Cacat tubuh pada penderita kusta……….41

d. Konsep diri pada penderita cacat tubuh akibat kusta…………....43

2.8 Pengertian penyakit kusta……….43

a. Jenis-jenis penyakit kusta……….44

b. Penyebab penyakit kusta………..45

c. Tanda dan gejala penyakit kusta………..47

d. Pengobatan………..51

e. Pencegahan cacat kusta dan perawatannya………..59

f. Pelayanan rehabilitasi………...61

(18)

BAB III KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka konsep………..64

3.2 Pertanyaan penelitian………65

3.3 Definisi istilah………..66

BAB IV METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN 4.1 Desain penelitian………68

4.2 Lokasi penelitian………68

4.3 Populasi……….68

4.4 Sampel………...69

4.5 Prosedur pengumpul data………...71

4.6 Instrumen data………....72

4.7 Pengolahan dan analisis data………..74

4.8 Validasi data………74

4.9 Sarana penelitian……….75

(19)

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1Gambaran umum wilayah penelitian………..76

5.2Gambaran penederita penyakit kusta……….76

5.3Karakteristik sosio demografi informan……….77

5.4Pengetahuan tentang penyakit kusta………..78

5.5Persepsi klien kusta tentang konsep diri………89

5.6Persepsi tentang bahaya kusta……….119

5.7Sikap masyarakat terhadap klien kusta………119

5.8Penyuluhan tentang kusta………123

BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Keterbatasan penelitian………. 126

6.2 Pengetahuan tentang penyakit kusta………..126

6.3 Persepsi konsep diri klien kusta……….127

6.4 Persepsi tentang bahaya kusta………128

6.5 Sikap masyarakat terhadap kusta………129

6.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri pada klien kusta………129

(20)

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan……….134

7.2 Saran-saran………..136

(21)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman

1.1 Jumlah penderita cacat kusta menurut tipe dan angka penemuan penderita

(NCDR) per 100.000 penduduk tahun 2000-2007 di kota Tangerang ……….3

2.1 Efek samping yang disebabkan obat dan penanganannya………58

4.1 Sumber informasi, metode, jumlah informan, kriteria, dan tempat…………70

(22)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Halaman

1.1 Grafik 1 : Prevalensi dan angka penemuan penderita baru di Indonesia tahun

2007………..2

1.2 Angka penemuan penderita baru (NCDR) di Idonesia tahun 2007……..2

1.3 Grafik 2 : Proporsi cacat tingkat II dan proporsi anak diantara kasus baru di

Indonesia tahun 2007………...3

2.1 Diagram 1 : Hirarki Maslow tentang kebutuhan………32

2.2 Diagram 2 : Variabel dalam Health Belief Model (HBM)………..62

(23)

DAFTAR SINGKATAN

3M : Melindungi mata, Melindungi tangan, Melindungi kaki

BB : Borderline-Borderline

BL : Borderline Lepromatous

BT : Borderline Tuberkuloid

BTA : Bakteri Tahan Asam

COT : Completion Of Treatment

DADDS : Diasetil-Diamino-Difenil-Sulfon

DDS : Diamino Difenil Sulfon

DNA : Deoxyribonucleic acid

Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Dinkes : Dinas Kesehatan

Ditjen : Direktur Jendral

FK UI : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

I : Indeterminate

LL : Lepromatous-Lepromatous

LI : Lepromatosa Indefinite

M.Leprae : Myobacterium Leprae

MB : Multi Basiler

(24)

NCDR : New Case Detection Rate

p : Proporsi

PB : Pauci Bacillary

PABA : Para Amino Benzoic Acid

PPM & PL : Pemberantasan Penyakit Menular dan Pengendalian Lingkungan

Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat

r : Rasio

RFT : Release From Treatment

RFC : Release From Control

RNA : Ribonucleic acid

RW : Rukun Warga

TEN : Toksik Epidermal Nekrolisis

TI : Tuberkuloid Indefinitif

TT : Tuberkuloid-Tuberkuloid

SD : Sekolah Dasar

SLTP : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

SLTA : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

WHO : World Health Organization

(25)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor lampiran

1. Lembar chek list

2. Pedoman wawancara mendalam informan petugas puskesmas

3. Pedoman wawancara mendalam informan petugas kelurahan Karangsari

4. Pedoman wawancara mendalam informan klien cacat kusta

5. Lembar persetujuan responden

6. Lampiran 6

7. Matriks pengetahuan informan tentang penyakit kusta

8. Matriks persepsi informan tentang penyakit kusta

9. Matriks persepsi konsep diri klien kusta, petugas puskesmas dan kelurahan

10.Matriks sikap masyarakat terhadap penderita kusta

11.Matriks penyuluhan penyakit kusta

(26)

1.1LATAR BELAKANG

Penyakit infeksi banyak terjadi di Negara berkembang yang mempunyai kondisi sosial

ekonomi rendah. Salah satu penyakit infeksi tersebut adalah penyakit kusta. Penyakit kusta pada

umumnya terdapat di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan

kemampuan negara itu dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan,

pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih

ditakuti masyarakat, keluarga, termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih

kurangnya pengetahuan, pengertian, dan kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang

ditimbulkannya. Laporan WHO (1997) menunjukan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-3

dunia sebagai Negara yang memiliki penderita kusta terbanyak setelah India dan Brazilia, namun

pada tahun 2001 kondisi Indonesia dalam penanggulangan kusta sudah lebih baik, hal ini

ditunjukan dengan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia setelah India, Brazilia, dan Nepal.

Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (sampai bulan desember 2001) telah

berhasil menunjukan angka kesakitan kusta sekitar 85 % yaitu dari 107,271 orang menjadi

17,137 orang (Kompas, 2003 dan Swaranet, 2003).

Berdasarkan data tahun 2006-2007 menurut Kepala Bagian Perencanaan Rekam Medik

Rumah Sakit Kusta Sintanala, Tangerang, tercatat 279 penderita pada tahun 2006 meningkat

(27)

mencapai eliminasi penyakit kusta sejak bulan juni tahun 2000. Namun penyakit infeksi ini

masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berarti, terbukti dengan adanya

kecenderungan peningkatan angka prevalensi kusta selama periode 2000-2007. Bahkan pada

tatanan global, Indonesia menjadi Negara penyumbang kusta terbesar setelah India dan Brasil.

Strategi global WHO menetapkan indikator eliminasi kusta yaitu angka penemuan

penderita (NCDR) yang menggantikan indicator utama sebelumnya yaitu angka penemuan

penderita terdaftar (prevalensi rate <1/10.000 penduduk). (Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2008) Pada

tahun 2000 NCDR menampilkan tren yang meningkat. Namun sejak tahun 2005, NCDR turun

dari 0,9 menjadi 0,83 pada tahun 2006 kembali turun, pada tahun 2007 menjadi 0,78 per 10.000

penduduk. Jumlah penderita baru yang ditemukan sepanjang tahun 2007 sebesar 17.726 dengan

rincian Pausi Basiler (PB) sebanyak 3.643 penderita dan Multi Basiler (MB) sebanyak 14.083

penderita. Sedangkan prevalensi kusta menunjukan kecenderungan peningkatan. Pada tahun

2000 prevalensi sebesar 0,86 per 10.000 penduduk menjadi 1,05 per 10.000 penduduk pada

tahun 2007. Berdasarkan distribusi per provinsi, prevalensi kusta tertinggi terdapat di provinsi

Papua Barat sebesar 9,69 diikuti oleh Maluku Utara sebesar 6,66 dan Papua sebesar 4,42 per

10.000 penduduk.

Dalam upaya penanggulangan penyakit kusta di Indonesia digunakan angka proporsi

cacat tingkat II (kecacatan yang dapat dilihat dengan mata) dan proporsi anak diantara kasus

baru, angka proporsi cacat tingkat II digunakan untuk menilai kinerja petugas dalam upaya

penemuan kasus. Angka proporsi cacat tingkat II yang tinggi mengindikasikan adanya

keterlambatan dalam penemuan penderita yang dapat diakibatkan oleh rendahnya kinerja petugas

(28)

indikator proporsi anak diantara kasus baru mampu mempresentasikan penularan kusta yang

masih terjadi di masyrakat.

Pada tahun 2007 kecacatan tingkat II di Indonesia mencapai 8,8%. Angka ini masih

berada diatas indikator program sebesar 5%. Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan

presentasi kecacatan tingkat II tertinggi sebesar 19,3% yang diikuti oleh Riau sebesar 18,7% dan

Sumatera Utara sebesar 17,8%. Masih adanya penularan kusta pada masyrakat di Indonesia yang

yang tercermin oleh proporsi penderita berumur 0-14 tahun menunjukan angka 10,2%.

Presentase ini juga masih diatas indicator program sebesar 5%. Presentase tertinggi berada pada

provinsi Riau sebesar 40%. Diikuti oleh Maluku Utara sebesar 20% dan Papua Barat 16,3%.

Angka penemuan penderita baru, kecacatan dan proporsi pada umur 0-14 tahun menurut provinsi

di Indonesia tahun 2007 (Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2008).

Menurut Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2008 bagian Subdit Kusta bahwa pada tahun 2007 di

kota Tangerang provinsi Banten terdapat penderita cacat kusta tingkat II yang terdaftar dengan

tipe MB sebanyak 26 orang dari 1.412.539 penduduk dan penderita baru dengan tipe MB

sebanyak 15 orang dari 1.412.539 penduduk, cacat tingkat II sebanyak 13,3%, antara usia 0-<15

tahun.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, tentang status disabilitas penduduk provinsi

Banten yang berumur 15 tahun keatas tampak secara garis besar status disabilitas pada penduduk

di provinsi Banten sangat baik (>80%), meliputi kondisi penglihatan, pendengaran, emosi,

mobilitas dan kondisi kesehatannya. Di provinsi Banten rata-rata status disabilitas dengan

kriteria “sangat bermasalah” adalah sebesar 2,1% dan “bermasalah” 21,5%. (Riskesdas, 2007).

Prevalensi disabilitas “sangat bemasalah” tertinggi terdapat di kota Cilegon (2,8%), sedangkan

(29)

disabilitas “bermasalah” tertinggi ditemukan di kabupaten Pandeglang (28,5%), sedangkan

prevalensi disabilitas “bermasalah” terendah adalah kota Serang.

Sementara itu berdasarkan umur tampak bahwa status disabilitas yang merupakan sangat

masalah presentasinya meningkat sesuai dengan pertambahan umur. Status disabilitas “sangat

masalah” dan menjadi “masalah” lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Sebaliknya presentasi “tidak masalah” pada laki-laki lebih tinggi. Status disabilitas di pedesaan

lebih tinggi dari pada di perkotaan.

Berdasarkan tingkat pendidikan, presentasi status disabilitas “sangat masalah” yang

paling tinggi tampak pada penduduk dengan pendidikan terendah kemudian menurun sesuai

dengan bertambahnya tingkat pendidikan. Berdasarkan pekerjaan, status disabilitas “sangat

masalah” persentase tertinggi tampak pada penduduk yang tidak bekerja, jenis pekerjaan lainnya,

dan ibu rumah tangga. Persentase tertinggi status disabilitas “sangat masalah” dirasakan oleh

penduduk dengan status ekonomi pada kuintil 1, yaitu rumah tangga dengan tingkat pengeluaran

perkapita terkecil, dan menurun dengan bertambah meningkatnya status ekonomi. (Riskesdas

Provinsi Banten, 2007)

Peneliti belum mendapatkan penelitian yang khusus meneliti tentang gambaran konsep

diri pada klien dengan cacat kusta. Adapun penelitian yang yang berkaitan dengan penyakit kusta

disampaikan oleh Tarusaraya dan Halim (1996) dengan judul penelitian kecacatan pasien kusta

di RSK Sitanala Tangerang. Hasil penelitian dari 1153 penderita kusta di unit rawat jalan RSK

Sitanala Tangerang selama bulan maret 1996 adalah sebagai berikut : pasien baru yang cacat

adalah 84 dari 113 orang (74,34 %), pasien lama yang cacat adalah 761 dari 1040 orang (73,17

%), laki-laki lebih banyak cacat 618 dari 809 orang (76,39 %) dan wanita 227 dari 344 orang

(30)

tingkat 0 (95,32 %), tingkat I (3,56 %), tingkat II (1,12 %), cacat tangan: tingkat 0 (54,90 %),

tingkat I (12,58 %), tingkat II (32,53 %) dan cacat kaki: tingkat 0 (50,99 %), tingkat I (30,36 %),

tingkat II (18,65 %).

Selain itu juga berdasarkan abstrak penelitian yang disampaikan oleh Unarat (2000)

dengan judul Konsep Diri dan Mutu Hidup Pasien Lepra pada daerah pusat lepra lima Nakhon

Ratchasima di daerah pusat lepra lima provinsi Nakhon Ratchasima. Hasil penelitian

menunjukan bahwa dari jumlah responden yang berjumlah 54 orang terdapat sekitar 98,18 %

pasien lepra mempunyai hal konsep diri positif dan 72,2 % tingkat mutu hidup lemah atau miskin

dalam hal hubungan sosial. Wawancara yang mendalam mengungkapkan tekanan pada pasien

akibat dari kelainan bentuk fisik akibat penyakit dan cacat diri pasien lepra akan mengakibatkan

kekurangan dalam berinteraksi sosial. Korelasi antara konsep diri dan mutu hidup kuat dan

positif yaitu dengan nilai r = 0,30 dan p = 0,028. Rehabilitasi mental dan pendidikan kesehatan

dapat mempromosikan mutu hidup.

Penelitian di Madura tahun 2001 menunjukan seorang penderita kusta sub klinik manifes

menjadi kusta baru pada tahun ke 4, latihan dapat memperbaiki fungsi anggota gerak yang

mengalami deformitas. Penelitian di Liponsos tahun 1977 mengungkapkan bahwa senam

pernafasan Satria Nusantara memperbaiki fungsi saraf perifer sehingga mengurangi hipoanestesi

dan titik luka. Di indonesia studi penderita kusta dengan kecacatan masih kurang. (Buletin

penelitian kesehatan, 2006)

Kusta di Indonesia merupakan suatu penyakit yang masih belum dapat diatasi secara

tuntas, salah satu kendalanya adalah masih adanya anggapan yang keliru dari masyarakat yang

menganggap penyakit kusta sebagai kutukan Tuhan, penyakit keturunan akibat guna-guna,

(31)

melakukan pengobatan atau apabila sudah pernah berobat penderita kurang disiplin dalam

menjalani perawatan dan pengobatannya (Kompas, 2003).

Pasien kusta akan mengalami beberapa masalah baik secara fisik, psikologi, sosial, dan

ekonomi. Hal ini biasanya timbul akibat pasien kusta tidak ingin berobat dan terlambat berobat

sehingga menimbulkan cacat yang menetap dan mengerikan. Hal ini disebabkan karena biasanya

manifestasi klinis yang terlihat pada kulit pasien adalah bercak-bercak putih kemerahan,

benjolan-benjolan, hidung pelana, telinga memanjang, jari tangan dan jari kaki terputus, terdapat

luka-luka, dan adanya bekas amputasi, sehingga memberikan gambaran yang menakutkan,

manifestasi klinis tersebut akan menimbulkan perasaan malu, rendah diri, depresi, menyendiri,

atau menolak diri, serta masyarakat akan mengucilkan pasien kusta sehingga sulit mencari

pekerjaan akhirnya akan menimbulkan masalah psikologis, sosial, dan ekonomi.

!

"

# #

!

$ %

&

# #

(32)

# (

" $

" '

) "

# !

" ' #

"

#

* +

, " # "

#

" "

) * +- ./

! + )

* )

" $ ! # # ,

(33)

* * 2 # * * * +- ./

* # 3445 6

1.2IDENTIFIKASI MASALAH

1. Jelaskan gambaran karakteristik demografi pada klien dengan cacat kusta di kelurahan

Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang, meliputi: umur, pendidikan,

pekerjaan dan pendapatan

2. Jelaskan gambaran karakteristik gambar diri (Body Image) pada klien dengan cacat kusta

di kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

3. Jelaskan gambaran karakteristik ideal diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan

Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

4. Jelaskan gambaran karakteristik harga diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan

Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

5. Jelaskan gambaran karakteristik penampilan peran pada klien dengan cacat kusta di

kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

6. Jelaskan gambaran karakteristik identitas personal pada klien dengan cacat kusta di

kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

7. Jelaskan gambaran aspek positif konsep diri yang dimiliki klien dengan cacat kusta di

kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

(34)

1 *

* 2 # * * * +- ./ * #

3445

1.4TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

a. Tujuan

1. Tujuan Umum:

"

# # * +- ./ * #

3445

2. Tujuan Khusus:

a) Mengidentifikasi gambaran karakteristik demografi pada klien dengan cacat kusta di

kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang. Meliputi: umur,

pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan

b) Mengidentifikasi gambaran karakteristik gambar diri (Body Image) pada klien dengan

cacat kusta di kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun

2009.

c) Mengidentifikasi gambaran karakteristik ideal diri pada klien dengan cacat kusta di

kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

d) Mengidentifikasi gambaran karakteristik harga diri pada klien dengan cacat kusta di

kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

e) Mengidentifikasi gambaran karakteristik penampilan peran pada klien dengan cacat kusta

(35)

f) Mengidentifikasi gambaran karakteristik identitas personal pada klien dengan cacat kusta

di kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.

g) Mengidentifikasi gambaran aspek positif konsep diri yang dimiliki klien dengan cacat

kusta dikelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari Tangerang Tahun 2009.

b. Manfaat Penelitian

1) Untuk klien :

Penelitian ini dapat memberikan dorongan dan masukan kepada pasien kusta

untuk meningakatkan konsep diri dan mengatahui aspek positif yang dimilikinya

2) Untuk institusi :

Hasil penelitian yang dilakukan ini dapat memberikan gambaran konsep diri pada

pasien cacat kusta di dikelurahan Karang Sari RW 13, Neglasari Tanggerang.

3) Untuk peneliti :

Penelitian ini dapat memberikan pengalaman yang berharga bagi peneliti untuk

melakukan penelitian lain pada masa yang akan datang.

4) Untuk penelitian akan datang :

Hasil penelitian dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan penelitian lain

dengan ruang lingkup yang sama.

5) Untuk program

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi Dinkes kota Tangerang dalam

(36)
(37)

7 # '

* # 7 #

' % !

344:& ; "

7 #

! !

' 7

7 # 7

7 #

$ #

$

a. Dimensi-dimensi citra diri

#

! " $ ; 0 6 0

'6

7 ) # 7 %

& #

#

$

# 0

6 0

(38)

#

# $ # 0

6 $ " $

# 6

" 6 # $

# " "

" #

' #

7

'

#

b. Peranan citra diri

Citra diri secara umum memberikan gambaran tentang siapa seseorang itu, ini

tidak hanya meliputi perasaan terhadap diri seseorang melainkan mencakup tatanan moral

dan sikap idea dan nilai-nilai yang mendorong orang bertindak atau sebaliknya tidak

bertindak. Oleh karena citra diri itu berebeda dari orang ke orang maka citra diri dapat

dianggap sebagai penunjuk pokok keunikan individu dalam bertingkah laku. Citra diri

sebagai system sikap pandang terhadap diri seseorang dan merupakan dasar bagi semua

(39)

basic in all behavior.”bahwa citra diri juga menentukan tingkah laku untuk masa depan seseorang terungkap dalam pernyataan Eisenberg dan Delaney.

Kaitannya dengan hubungan antar pribadi, Ariety menjelaskan lebih lanjut bahwa

perasaan, ide, pilihan-pilihan, tindakan manusia, mencapai perkembangan

setinggi-tingginya dalam suasana hubungan sosial tetapi kuncinya terletak pada kedalaman

hubungan pribadi, jika hendak ditemukan bentuk-bentuk sehat mental dan sakit mental

dalam dialog antarpribadi yang baik maka yang terdapat dalam diri individu yang sudah

lama terbentuk itulah yang terpenting guna memulai dialog. Dalam uraian Ariety ini

terungkap kesan bahwa peranan khusus citra diri adalah menunjukan gambaran mental

individu yang sehat dan yang sakit dan dapat diketahui melalui dialog antarpribadi.

3 3 3 3 3 3 3 3

* #

"

#

* 7

* "

7

*

(40)

7 # "

" !

) ' #

" " '

'

* 7 ';

1. Mampu membina hubungan pribadi, mempunyai teman dan gampang bersahabat.

2. Mampu berfikir dan membuat keputusan

3. Dapat beradaptasi dan menguasai lingkungan

* 7 7

7 ) 7

7

' ' *

' '

'

' $'

;

(41)

Konsep diri terbentuk seiring dengan bertambahnya usia dimana

perbedaan ini lebih banyak berhubungan dengan tugas-tugas perkembangan. Pada

masa kanak-kanak, konsep diri seseorang menyangkut hal-hal disekitar diri dan

keluarganya. Pada masa remaja, konsep diri sangat dipengaruhi oleh teman

sebaya dan orang yang dipujanya, sedangkan remaja dan kematangannya

terlambat yang diperlakukan seperti kanak-kanak merasa tidak dipahami sehingga

cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri, sedangkan masa dewasa

konsep dirinya sangat dipengaruhi oleh status sosial dan pekerjaan dan pada usia

tua konsep dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan fisik, perubahan mental

maupun sosial (Febri, 1994:66)

b. Pendidikan

Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan

meningkatkan prestasinya. Jika prestasinya meningkat maka konsep dirinya akan

berubah (Febri, 1994:66)

c. Status sosial ekonomi

Status sosial seseorang memengaruhi bagaimana penerimaan orang lain

terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat memengaruhi konsep diri

seseorang, penerimaan lingkungan terhadap seseorang cenderung didasarkan pada

status sosial ekonominya. Maka dapat dikatakan individu yang status sosialnya

tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang

status sosialnya rendah. Hal ini didukung oleh penelitian Rosenberg terhadap

anak-anak dari ekonomi sosial tinggi menunjukan bahwa mereka memiliki konsep

(42)

rendah. Hasilnya adalah 51% anak dari ekonomi tinggi mempunyai konsep diri

yang tinggi, dan hanya 38% anak dari tingkat ekonomi rendah memiliki tingkat

konsep diri rendah (Pudjijogyanti, 1988:41)

d. Hubungan keluarga

Seseorang yang mempunyai hubungan yang erat dengan anggota

keluarganya akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin

mengembangkan pola kepribadian yang sama, bila tokoh ini sesama jenis maka

akan mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya

e. Orang lain

Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu,

bagaimana anda mengenal diri saya akan membentuk konsep diri saya, Sullivan

(dalam Rakhmat, 2005:101) menjelaskan bahwa individu diterima orang lain,

dihormati dan disenangi karena keadaan dirinya, individu akan cenderung

bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya bila orang lain selalu

meremehkan dirinya, menyalahkan, dan menolaknya ia akan cenderung tidak

menyenangi dirinya. Miyamoto dan Dornbusch (dalam Rakhmat, 2005:101)

mencoba mengkorelasikan penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri dengan

skala lima angka dari yang paling jelek sampai yang paling baik. Yang dinilai

adalah kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik, dan kesukaan orang lain

terhadap dirinya. Dengan skala yang sama mereka juga menilai orang lain,

ternyata orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain cenderung memberikan

skor yang tinggi juga dalam menilai dirinya. Artinya harga diri sesuai dengan

(43)

f. Kelompok rujukan (Reference group)

Yaitu kelompok yang secara emosional mengikat individu, dan berpengaruh

terhadap perkembangan konsep dirinya. Menurut Brooks dan Emmert (dalam

Rakhmat, 2005:105) cirri orang yang memiliki konsep diri negative ialah peka

terhadap kritik, responsive sekali terhadap pujian, mempunyai sikap hiperkritis,

cenderung merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, dan

bersikap psimis terhadap kompetisi, sebaliknya orang yang memiliki konsep diri

positif ditandai dengan lima hal:

1. Kemampuan mengatasi masalah

2. Merasa setara dengan orang lain

3. Menerima pujian tanpa rasa malu

4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan

dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat

5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan

aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

# % + 3444;.48& ..

';

1. Meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya.

Walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tapi ia juga merasa dirinya cukup

tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru

(44)

2. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang

berlebih-lebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi

besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu

sekarang.

4. Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia

menghadapi kegagalan atau kemunduran.

5. Merasa sama dengan orang lain sebagai manusia tidak tinggi atau rendah. Walaupun

terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang

lain terhadapnya.

6. Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain,

paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.

7. Dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa

merasa bersalah.

8. Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

9. Sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan

keinginan dari perasaan marah, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang

mendalam sampai kepuasan yang mendalam juga.

10.Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan,

permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu.

11.Peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, dan terutama

sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang

(45)

( " % 3448;./:& !

;

1. Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal yang memunculkan perasaan positif dan

perasaan berharga.

2. Kompetensi, dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain

' 7

* ' 7

' # " "

7 ' # ' 7

' #

" 7

+ #

7

#

3 / * 3 / * 3 / * 3 / *

1. Gambaran diri atau citra tubuh (body image)

1 7

'

(46)

( # $' # ;

% &

'

'

# ) $

;

1) Operasi.

=

2) Kegagalan fungsi tubuh.

)

' '

3) Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh

) " " !

(47)

) ; ' #

'

' #

5) Perubahan tubuh

"

' ' *

" "

6) Umpan balik interpersonal yang negatif

#

7) Standar sosial budaya.

$

7

"

" ;

1) Shock psikologis

)

" )

(48)

2) Menarik diri

* "

# * "

' 7

!

3) Penerimaan atau pengakuan secara bertahap

)

# ) '

# ;

#

# #

# #

$ ;

a. Fokus individu terhadap fisik lebih menonjol pada usia remaja

b. Bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, serta tanda-tanda pertumbuhan kelamin

sekunder (mamae, menstruasi, perubahan suara, pertumbuhan bulu), menjadi gambaran

diri.

c. Cara individu memandang diri berdampak penting terhadap aspek psikologis

d. Gambaran yang realistik terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberi

(49)

e. Individu yang stabil, realistik, dan konsisten terhadap gambaran dirinya, dapat

mendorong sukses dalam kehidupan.

Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima reaksi tubuhnya,

menerima stimulus orang lain. Persepsi dan pengalaman individu terhadap tubuhnya

dapat mengubah citra tubuh secara dinamis, persepsi orang lain di lingkungan klien

terhadap tubuh klien turut mempengaruhi penerimaan klien pada dirinya.

2. Ideal diri (self ideal)

7

# $#

$ #

$

) " ! 7

$

" '

'

' " !

7 # "

# #

$ 7

(50)

' $' ;

a. Menetapkan ideal diri sebatas kemampuan

b. Faktor kultur dibandingkan dengan standar orang lain

c. Hasrat melebihi orang lain

d. Hasrat untuk berhasil

e. Hasrat untuk memenuhi kebutuhan realistis

f. Hasrat untuk menghindari kegagalan

g. Adanya perasaan cemas dan rendah diri

3. Harga diri (self esteem)

7 # #

" 7

#

7

7

#

, ' $'

;

1) Perkembangan individu

( "

#

(51)

"

#

" ! )

2) Ideal Diri tidak realistis

7

#

# $# >

# 7

#

3) Gangguan fisik dan mental

1 7

4) Sistem keluarga yang tidak berfungsi

?

? '

$

"

'

5) Pengalaman traumatik yang berulang, misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.

'

(52)

+

' '

( ;

#

; !

$ 7

' @

" #

" 0 6

"

# $# $

#

(53)

# 7 !

" " #

#

!

'

# ;

a. Memberikan kesempatan untuk berhasil

b. Memberikan pengakuan dan pujian

c. Mananamkan gagasan yang dapat memotivasi kreativitas seseorang untuk berkembang

d. Mendorong aspirasi atau cita-citanya

e. Menanggapi pertanyaan dan pendapa tdengan cara member penjelasan yang sesuai

f. Memberikan dukungan untuk aspirasi yang positif sehingga seorang memandang dirinya

diterima dan bermakna

g. Membantu pembentukan koping.

4. Peran diri (self role)

Peran diri adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh

masyarakat dihubungakan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosialnya. Peran

memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara untuk

menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti. Setiap orang disibukkan oleh

(54)

Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan

ideal diri.

Faktor predisposisi gangguan peran meliputi: transisi peran yang sering terjadi pada

proses perkembangan, perubahan situasi dan keadaan sehat-sakit, ketegangan peran ketika

individu menghadapi dua harapan yang bertentangan secara terus menerus yang tidak terpenuhi,

keraguan peran ketika individu kurang pengetahuannya harapan peran yang spesifik dan bingung

tentang tingkah laku peran yang sesuai dan peran yang terlau banyak

Konflik peran terjadi apabila peran yang diinginkan individu sedang diduduki individu lain. Peran yang tidak jelas terjadi apabila individu diberikan peran yang tidak jelas, sesuai

perilaku yang diharapkan. Peran yang tidak sesuai terjadi apabila individu dalam proses

peralihan mengubah nilai dan sikap. Peran berlebih terjadi jika seorang individu memiliki

banyak peran dalam kehidupannya.

Menurut Stuart dan Sundeen (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

individu terhadap peran, sebagai berikut:

a. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran

b. Tanggapan yang konsisten dari orang-orang yang berarti terhadap perannya

c. Kecocokan dan keseimbangan antar peran yang diembannya

d. Keselarasan norma budaya dan harapan individu terhadap perilaku

e. Pemisahan situasi yang akan menciptakan penampilan peran yang tidak sesuai

) " 7 $

'

"

(55)

1) Transisi Perkembangan

Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap

perkembangan harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang

berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.

2) Transisi Situasi

Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang

yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua

atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat

menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau pera

berlebihan

3) Transisi sehat sakit

)

, # '

'

# %) 3449&

5. Identitas diri (self identity)

7

7 7 !

#

(56)

* %

&

# ;

'

#

( ; #

" $

#

2 $

# 7 ' ;

a. Mengenal diri sebagai organisme yang utuh terpisah dari orang lain

b. Mengakui jenis kelamin sendiri

c. Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan

d. Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian masyarakat

e. Menyadari hubungan masa lalu, sekarang, dan yang akan datang

f. Mempunyai tujuan hidup yang bernilai dan dapat direalisasikan

(57)

, ) ) %3448& ' $'

( $'

? %) ' # ? &

%) ' # &

1. Pengaruh perkembangan

Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak

lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan

kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui

kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama

panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area

tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan

merealisasi potensi yang nyata.

2. Orang yang terpenting atau terdekat (Significant Other)

Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain,

belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri

merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi

orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya,

pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan

sosialisasi

3. Persepsi diri sendiri (Self Perception)

Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi

individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk

(58)

yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif

dapat berfungsi lebih efektif dan dapat dilihat dari kemampuan interpersonal,

kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif

dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu. (Salbiah. dunia psikologi,

2008).

, ! <

;

3 . 3 . 3 . 3 .

, !

,, !!

, !

(59)

, !

#

* #

*

#

#

% A 344<&

3 < 3 < 3 < 3 <

( '

*

" 7 '

! #

"

! %) ) .55.&

1. Memperluas kesadaran diri (ekspanded self-awareness)

(60)

3. Mengevaluasi diri (self-evaluation)

4. Perencanaan realistis (realistic planning)

5. Tanggung jawab bertindak (commitment to action)

2.6Pengaruh self concept terhadap perilaku kesehatan ) ' # #

'

7

" ! ?

# ' # # #

) ' # # '

" / ;

1. Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu sesorang terhadap

objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Secara

garis besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya

setelah mengamati sesuatu

(61)

Memahami sesuatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar

menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar

tentang objek yang diketahuinya.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat

menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahuinya pada situasi yang lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau memisahkan,

kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu

masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah

sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut sudah bisa membedakan,

mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan

dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang dimiliki.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu objek tertentu

2. Sikap (Attitude)

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang

sudah melibatkan pendapat atau emosi yang bersangkutan. Newcomb, salah seorang ahli

(62)

bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Komponen pokok sikap

menurut Allport (1954) sikap terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu :

a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek. Artinya, bagaimana

keyakinan dan pendapat seseorang terhadap objek.

b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya bagaimana

penilaian orang tersebut terhadap objek.

c. Kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap adalah merupakan komponen yang

mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap mempunyai tingkatan berdasarkan

intensitasnya, sebagai berikut :

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang

diberikan (objek)

b. Menanggapi (responding)

Menanggapi disini adalah memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

pertanyaan atau objek yang dihadapi

c. Menghargai (valuing)

Manghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang positif

terhadap objek atau stimulus dalam arti membahasnya dengan orang lain dan

mengajak, mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons

d. Bertanggung jawab (responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa

yang telah diyakininya

(63)

Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya,

yaitu:

a. Praktik terpimpin (guided response)

Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi tergantung pada

tuntutan.

b. Praktik secara mekanisme (mechanism)

Apabila subjek telah melakukan sesuatu hal secara otomatis maka disebut tindakan

mekanis.

c. Adopsi (adoption)

Adopsi adalah suatu tidakan yang sudah berkembang, artinya apa yang dilakukan

tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja tetapi sudah dilakukan modifikasi

perilaku yang berkualitas. (Notoatmodjo, 2005).

2.7Pengertian cacat tubuh

' # # - ? %.594&

#

; ' # # # #

# ' #

; # # % ' & ' '

(64)

# ; 7 ' 7 7 '

7 ' ' '

% B # # ' # & ' 7 6

% C # # ! # .594;:5$<4&

$

" # #

" #

$ ?

# # ' " #

$

"

7 $ 7

! %.598;.& ' # # % & ;6 ! ' '

! ' 6)

! # #

"

(65)

* % 344/& # #

# # # #

7

" 7 2 #

# # ' +

' % &

%)

3444&

2 # % .555&

# # '

'

a. Jenis-jenis cacat tubuh

" # #

. %) 3444& ;

1. Penderita tunadaksa D ialah orang yang menderita cacat polio atau lainnya, sehingga

mengalami tidak normalnya fungsi tulang, otot-otot atau kerjasama fungsi otot-otot. Pada

umumnya penderita ini mempunyai kemampuan kecerdasan yang normal.

2. Penderita tunadaksa D1 ialah orang yang menderita cacat akibat kerusakan otak karena

tidak berfungsinya otak, seperti penderita cerebral palsy yang mengakibatkan

kelumpuhan, kekakuan dan kurangya koordinasi motorik. Karena ada gangguan pada

(66)

tidak normal (dibawah rata-rata atau terbelakang). Dalam sampel penelitian ini penulis

mengkhususkan pada penderita tunadaksa D.

b. Derajat kelainan fisik

# ' ;

1. Kelainan pada separuh badan: tangan kanan dan kaki kanan, atau tangan kiri dan

kaki kiri

2. Kelainan pada kedua buah tangannya

3. Kelainan pada kedua buah kakinya

4. Kelainan pada tangan kanan dan kaki kiri

5. Kelainan pada tangan kiri dan kaki kanan

6. Kelainan pada ketiga anggota badan (kedua tangan dan sebuah kaki, atau kedua

kaki dan sebuah tangan

2 # " #

% .555& ;

1. Menurut sebab cacatnya :

1) Cacat sejak lahir

2) Cacat disebabkan penyakit

3) Cacat disebabkan kecelakaan

4) Cacat disebabkan perang

2. Menurut jenis cacatnya :

1) Putus (amputasi tungkai dan lengan)

2) Cacat tulang sendi dan otot pada tungkai/lengan

(67)

4) Cerebral palsy

5) Dan lain-lain termasuk pada cacat tubuh orthopedic

3. Menurut berat ringannya cacat :

1.) Cacat ringan adalah mereka yang dapat melakukan seluruh kegiatan hidup

sehari-hari

2.) Cacat sedang adalah mereka yang dapat melakukan sebagian besar kegiatan hidup

sehari-hari

3.) Cacat berat adalah mereka yang tidak dapat melakukan sebagian besar atau

seluruh kegiatan sehari-hari

!

# # # #

c. Cacat tubuh pada penderita kusta

> ! .599 .558 !

' # #

$ ;

1) Pada wajah berupa muka seperti topeng (mask face) kelopak mata tidak menutup

sempurna (lagopthalmus), alis mata tidak ada (madarosis), kulit wajah keriput seperti

orang tua (wrinkling/sagging face), pangkal hidung cekung (saddle hole), daun telinga

membesar (megalobule), ulkus kornea, kekerutan kornea, gangguan penglihatan atau

penurunan visus, fotofobia pada kasus iritis atau iridociclitis.

2) Pada tangan berupa jari-jari tangan kontraktur (claw hand), jari-jari tangan hilang

(68)

tidak dapat diluruskan (claw thumb), otot-otot di dorsum manus antara jari satu dan dua

terlihat kolong (athrophy web), gerakan dorsofleksi pergelangan tangan tidak ada (drop

hand), kekakuan pergelangan tangan sehingga tidak dapat digerakan (wrist drop).

3) Pada kaki berupa kaki tidak dapat dorsofleksi (foot drop), jari-jari kaki menekuk ke

bawah (claw toes), tampak luka pada kaki (ulkus plantaris), bentuk kaki pendek

(absorpsi), luka pada daerah tungkai bawah akibat vaskularisasi kurang (static ulcer)

- ? .599 .558

' # # ;

1. Tangan dan kaki

1) Tingkat 0 : tidak ada anestesi, tidak tampak deformitas dan kerusakan

2) Tingkat I : terdapat anestesi tetapi tidak tampak, Deformitas dan kerusakan

3) Tingkat II : tampak deformitas/kerusakan (adanya ulkus, absorpsi, disorganisasi,

kekakuan sendi dan mobilisasi

3) Tingkat II : adanya problem mata akibat kusta dan visus kurang dari 6/60, tidak

dapat menghitung jari pemeriksa dari jarak enam meter.

d. Konsep diri pada penderita cacat tubuh akibat kusta

, % ) 344.& #

(69)

) " % ) 344.& !

"

$ '

#

# " ' "

%) 344.&

"

3 9 3 9 3 9 3 9

* % , &

' , # % 3444&

' " % *

C , A 3443&

a. Jenis-jenis penyakit kusta

+ C %.584& * * (

* 7 344.

# ;

1. TT: tuberkuloid polar, merupakan bentuk yang stabil tidak mungkin berubah

(70)

3. Borderline tuberculoid, bentuk yang labil

4. BB: Mid borderline, bentuk yang labil

5. BL: Borderline lepromatous, bentuk yang labil

6. Li: Lepromatosa indefinite, bentuk yang labil

7. LL: Lepromatosa polar, bentuk yang stabil

# #

# <4D

<4D

$ #

% & " #

1 "

' @

' ' *

# ' #

! " ;

1. Hipopigmentasi karena stratum basal yang mengandung pigmen rusak

2. Hipoanestesi karena ujung-ujung saraf rusak, adanya anhidrase karena kelenjar-kelenjar

keringat rusak, kadang rambut rontok karena kerusakan dipangkal rambut

3. Batas tegas karena kerusakan terbatas (Marwali Harahap, 1990).

% & "

(71)

# % &

% ' 7 &

# ' " " ) ' "

' # ! "

! " " ! " %

' # &

% & " ' '

, - ? "

% &

b. Penyebab penyakit kusta

, #

' 1 ,

, ! #

.3$3. :4 :4

* $ <$.<D ,

5<D #

%<D& # E4D /4D

" % + 344<& ' ;

1. Patogenitas kuman penyabab

2. Cara penularan

(72)

4. Varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan

5. Keadaan sosial ekonomi

6. Sumber penularan

7. Daya tahan tubuh

) # !

! )

"

'

7

* '

" C )

,

" %

& * , #

# )

" )# ! '

) #

' )# !

" %# & "

, 7

(73)

c. Tanda dan gejala penyakit kusta

, ' " "

" # ' "

" "

1 "

,

,

' ' ;

1) Kulit dengan bercak putih kemerahan dengan mati rasa

2) Penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan

pada otot tangan, kaki, dan mata

3) Adanya kuman tahan asam pada pemeriksaan kerokan kulit BTA positif

'

' + C "

;

Gambar

GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI
Grafik 1 : Prevalensi dan angka penemuan penderita baru di Indonesia tahun
gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak jelas seperti pada tipe
gambarnya jadi mereka langsung tau. Metodenya juga biasanya tanya jawab supaya
+2

Referensi

Dokumen terkait