SKRIPSI
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG
TAHUN 2009
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana
Keperawatan ( S.Kep )
Oleh
Rohmatika
NIM : 105104003482
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG
TAHUN 2009
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 26 Oktober 2009
Pembimbing I Pembimbing II
Jamaludin, S.Kep, M.Kep Bambang P. Cadrana, SKM, M.KM NIP. 150409469 NIP. 19690205199403 1 003
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Jakarta, Nopember 2009
Penguji I
NIP.
Penguji II
NIP.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Rohmatika
Tempat / tanggal lahir : Serang, 5 februari 1987
Agama : Islam
Alamat : Jl.raya Serang-Pandeglang, kp. Warung, Ds. Panyirapan
Kecamatan Baros, Serang-Banten 42173
Telp : (0254) 250 125
Riwayat pendidikan : MI Nurul Huda Baros (1993-1999)
MTS Nurul Huda Baros (2000-2002)
MAN 2 Model Serang (2003-2005)
Program S1 Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1430 H/2009
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :
Nama : Rohmatika
NIM : 105104003482
Mahasiswa program : Ilmu keperawatan
Tahun akademik : 2005
Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan skripsi saya yang berjudul :
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG TAHUN 2009.
Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan menerima sangsi yang telah ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Jakarta, Nopember 2009
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, 28 Oktober 2009
Rohmatika
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI
KELURAHAN KARANGSARI RW13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG TAHUN 2009.
xxi + 136 halaman, 4 tabel, 6 gambar, 12 lampiran
ABSTRAK
Kusta di Indonesia merupakan suatu penyakit yang belum dapat diatasi secara tuntas, salahsatu kendalanya adalah adanya anggapan yang keliru dari masyarkat yang menganggap penyakit kusta adalah penyakit kutukan, keturunan dan menimbulkan kecacatan yang menetap. Akibat anggapan yang salah ini penderita kusta merasa putus asa dan tidak tekun berobat. Pasien kusta akan mengalami beberapa masalah baik secara fisik, psikologi, sosial dan ekonomi sehingga masalah tersebut beralih dari masalah kesehatan ke masalah sosial. Laporan WHO (1997) menunjukan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-3 dunia sebagai Negara yang memiliki penderita kusta terbanyak setelah India dan Brazilia. Berdasarkan data tahun 2006-2007 menurut Kepala Bagian Perencanaan Rekam Medik Rumah Sakit Kusta Sintanala, Tangerang, tercatat 279 penderita pada tahun 2006 meningkat menjadi 296 orang sampai pada tahun 2007. Penyakit infeksi ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berarti, terbukti dengan adanya kecenderungan peningkatan angka prevalensi kusta selama periode 2000-2007. Konsep diri klien kusta terbentuk dari penerimaan masyarakat terhadap penderita kusta. Namun sampai saat ini sangat sedikit penelitian yang menggali masalah konsep diri panderita cacat kusta. Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang mendalam. Tidak hanya pada penderita sendiri, tetapi pada keluarga, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan penderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit menular, dan tidak dapat diobati.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan Karangsari RW13, kecamatan Neglasari, Tangerang. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pengetahuan, persepsi konsep diri, sikap masyarakat terhadap penderita kusta yang berhubungan dengan
terjadinya Leprofobia. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Karangsari RW13, Kodya
sebanyak 5 orang dan informan terdiri dari petugas puskesmas Neglasari dan kelurahan Karangsari.
Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep diri klien cacat kusta terjadi karena persepsi masyarakat tentang kusta dan sikap masyarakat yang takut tertular ketika melihat kecacatan yang ditimbulkan oleh penyakit kusta. Ditemukan juga bahwa sikap negatif terhadap kehadiran penderita kusta adalah pernikahan dengan keluarga penderita kusta, namun dalam kegiatan sosial seperti syukuran dan kegiatan agama umumnya menunjukan sikap positif dari masyarakat. Umumnya informan memiliki konsep diri positif, mereka menerima kecacatannya dan mampu mengungkapkan kepribadiannya melalui wawancara. Dengan demikian disarankan untuk Melakukan promosi kesehatan dan upaya preventif secara terpadu melalui program pelatihan khusus perawatan cacat kusta bagi petugas puskesmas dengan pemeriksaan kecacatan tingkat II
atau POD (Prevention Of dissability). Meningkatkan pengetahuan melalui penyuluhan serta
melibatkan penderita cacat kusta sebagai role model dalam pendidikan kesehatan. Sebaiknya
dibuat data surveilance untuk memudahkan puskesmas dalam menemukan kasus secara dini bagi pasien terdaftar dan baru segera ditulis dalam sensus data pasien terdaftar dan baru karena dapat mempermudah telaah dokumen. Serta penyuluhan imunisasi BCG. Lebih lanjut, pencegahan dan perawatan cacat kusta secara dini oleh petugas kesehatan dan peran serta masyarakat merupakan hal yang terpenting.
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES NURSING PROGRAM STUDY
STATE ISLAMIC UNIVERSITY (UIN) OF SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Undergraduate Thesis, October 28th 2009 Rohmatika
SELF-IMAGE CONCEPTS TO CLIENTS WITH DISABILITIES OF LEPROSY IN THE VILLAGE DISTRICT KARANGSARI, NEGLASARI RW 13, TANGERANG 2009
xxi+136 pages, 4 tables, 6 picture, 12 appendixes
ABSTRACT
In Indonesia leprosy is a disease that can not completely resolve yet, one of the main problems is the mistaken assumption that the community thinks of leprosy is a disease of heredity and permanent disability. As a result of this erroneous assumption lepers feel desperate and do not diligently seek treatment. Leprosy patients will experience some physical problems, psychological, social and economic change so that the issue of health issues to social issues. WHO report (1997) showed that Indonesia was on the order of the 3rd world as a country that had the most leprosy patients after India and Brazil. Based on data from 2006-2007 according to the Planning Section Chief Medical Record Sintanala Leprosy Hospital, Tangerang, 279 patients were recording in 2006 increased to 296 people until the year 2007. This infectious disease is still a public health problem which means, as evidenced by the trend of increased prevalence rate of leprosy during the period 2000-2007. Self-concept is formed from leprosy client community acceptance of people with leprosy. However, there is very little research that explores the concept of sufferer self problem leprosy disability. Social impact of leprosy is so great, causing deep anxiety. Not only the patient themselves, but on families, communities and countries. This is the underlying concept of patient acceptance behavior of the disease, which for this condition is still a lot of people think that leprosy is a contagious disease, and can not be treated.
The results showed that the concept of self-leprosy disabled clients because the public perception of leprosy and attitudes are afraid of contracting when he saw the disability caused by leprosy. Also found that negative attitudes toward the presence of leprosy patients is the family wedding with lepers, but in social activities such as Thanksgiving and religious activity generally showed a positive attitude from the community. Generally informants have a positive self-concept, they receive a disability and able to express her personality through interviews. Thus advisable to conduct health promotion and preventive efforts in an integrated manner through a special training program for the treatment of leprosy disability health officers with inspection level II disability or POD (Prevention Of disability). Increased knowledge through counseling and involve people with disabilities of leprosy as a role model in health education. Surveillance data should be made to facilitate the clinic in early case finding for patients newly registered and immediately recorded in the census data and newly registered patient as it can facilitate the study of documents. BCG immunization and counseling. Furthermore, the prevention and treatment of leprosy disabilities at an early stage by health workers and community participation is the most important thing.
SKRIPSI
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG
TAHUN 2009
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana
Keperawatan ( S.Kep )
Oleh
Rohmatika
NIM : 105104003482
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA KLIEN DENGAN CACAT KUSTA DI KELURAHAN KARANGSARI RW 13, KECAMATAN NEGLASARI, TANGERANG
TAHUN 2009
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 26 Oktober 2009
Pembimbing I Pembimbing II
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Jakarta, Nopember 2009
Penguji I
NIP.
Penguji II
NIP.
Penguji III
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Rohmatika
Tempat / tanggal lahir : Serang, 5 februari 1987
Agama : Islam
Alamat : Jl.raya Serang-Pandeglang, kp. Warung, Ds. Panyirapan
Kecamatan Baros, Serang-Banten 42173
Telp : (0254) 250 125
Riwayat pendidikan : MI Nurul Huda Baros (1993-1999)
MTS Nurul Huda Baros (2000-2002)
MAN 2 Model Serang (2003-2005)
Program S1 Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
PERSEMBAHAN
Tentang Waktu
Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.
Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis
SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK.
Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa
Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.
Anda bukan apa yang anda fikirkan tentang anda, tetapi apa yang anda fikirkan itulah anda
Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan.
Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.
Ketabahan memerlukan keyakinan. Keyakinan pula menentukan kejayaan. Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.
Kekayaan bukanlah satu dosa dan kecantikan bukanlah satu kesalahan. Oleh itu jika anda memiliki kedua-duanya janganlah anda lupa pada Yang Maha
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Inayah-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Gambaran Konsep Diri Pada Klien Dengan Cacat Kusta di Kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009”. Shalawat dan salam senantiasa kita junjungkan kehadirat Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Adapun skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep).
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat saya harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak dan ibu saya yang selalu mendoakan dan memberi semangat dalam setiap
waktunya.
2. Terimakasih untuk bapak dekan FKIK Prof.DR.Dr.MK Tadjudin, Sp. And
3. Pak Bambang, yang dengan sabar membimbing, memotivasi dan memberi masukan
untuk proses pengerjaan skripsi ini.
4. Pak jamaludin, terimakasih telah bersedia membimbing dan memberikan masukan
untuk skripsi ini.
5. Terimakasihku yang tak terhingga untuk ibu Tien Gartinah dan seluruh dosen program
studi ilmu keperawatan yang telah mentransfer ilmunya dan membimbing kami dalam segala hal.
6. Terimakasih buat ibu Sri Dian (Kasi kemasyarakatan kelurahan Karangsari), ibu Alin
7. Terimakasihku buat pak W, D, M, S, Su, yang telah memberikan waktunya untuk wawancara demi kelancaran penelitian ini.
8. Adek saya satu-satunya Mubdi Hasan yang selalu memotivasi saya, semangat ya dek
lanjutkan sampai kuliah.
9. Terimakasih juga buat Edi yang telah meminjamkan buku dan memberikan semangat
dalam menyusun skripsi.
10.Teman-teman sekelasku PSIK angkatan 2005 yang kompak yang memberikan warna
warni kehidupan dan banyak memberi inspirasi.
11.Teman sekosanku yang baik dan care Neneng, Herna, Fauziah, Intan, Nisa, Ipa, Pipit,
Solehah, ka Hasni, Lita terimakasih sudah memberikan tumpangan ngprintnya, jaga kebersamaan kita, I Love You Full…..
Demikian yang dapat penulis sampaikan, insya Allah skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis yang sedang menempuh skripsi dan dapat dijadikan pelajaran bagi adik-adik kami selanjutnya.
“Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka bila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S. Al Insyirah:6-7).”
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
ABSTRAK
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR………i
DAFTAR ISI……….iii
DAFTAR TABEL………...viii
DAFTAR GAMBAR………...ix
DAFTAR SINGKATAN………x
DAFTAR LAMPIRAN………xii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang……….1
1.2 Identifikasi masalah……….8
1.3 Perumusan masalah………..8
1.4 Tujuan dan manfaat penelitian……….9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian konsep diri atau citra diri………..11
a. Dimensi-dimensi citra diri………..12
b. Peranan citra diri……….13
2.2 Pembentukan konsep diri………14
1. Citra tubuh (Body image)………20
2. Ideal diri (Self ideal)………23
3. Harga diri (Self esteem)………...24
4. Peran diri (Self role)………27
5. Identitas diri (Self identity)……….30
2.4 Teori faktor yang mempengaruhi konsep diri………...31
2.5 Tindakan pada gangguan konsep diri………33
2.6 Pengaruh self concept terhadap perilaku kesehatan………..34
2.7 Pengertian cacat tubuh………..38
a. Jenis-jenis cacat tubuh………..39
b. Derajat kelainan fisik………40
c. Cacat tubuh pada penderita kusta……….41
d. Konsep diri pada penderita cacat tubuh akibat kusta…………....43
2.8 Pengertian penyakit kusta……….43
a. Jenis-jenis penyakit kusta……….44
b. Penyebab penyakit kusta………..45
c. Tanda dan gejala penyakit kusta………..47
d. Pengobatan………..51
e. Pencegahan cacat kusta dan perawatannya………..59
f. Pelayanan rehabilitasi………...61
BAB III KERANGKA KONSEP
3.1 Kerangka konsep………..64
3.2 Pertanyaan penelitian………65
3.3 Definisi istilah………..66
BAB IV METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN 4.1 Desain penelitian………68
4.2 Lokasi penelitian………68
4.3 Populasi……….68
4.4 Sampel………...69
4.5 Prosedur pengumpul data………...71
4.6 Instrumen data………....72
4.7 Pengolahan dan analisis data………..74
4.8 Validasi data………74
4.9 Sarana penelitian……….75
BAB V HASIL PENELITIAN
5.1Gambaran umum wilayah penelitian………..76
5.2Gambaran penederita penyakit kusta……….76
5.3Karakteristik sosio demografi informan……….77
5.4Pengetahuan tentang penyakit kusta………..78
5.5Persepsi klien kusta tentang konsep diri………89
5.6Persepsi tentang bahaya kusta……….119
5.7Sikap masyarakat terhadap klien kusta………119
5.8Penyuluhan tentang kusta………123
BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Keterbatasan penelitian………. 126
6.2 Pengetahuan tentang penyakit kusta………..126
6.3 Persepsi konsep diri klien kusta……….127
6.4 Persepsi tentang bahaya kusta………128
6.5 Sikap masyarakat terhadap kusta………129
6.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri pada klien kusta………129
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan……….134
7.2 Saran-saran………..136
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel Halaman
1.1 Jumlah penderita cacat kusta menurut tipe dan angka penemuan penderita
(NCDR) per 100.000 penduduk tahun 2000-2007 di kota Tangerang ……….3
2.1 Efek samping yang disebabkan obat dan penanganannya………58
4.1 Sumber informasi, metode, jumlah informan, kriteria, dan tempat…………70
DAFTAR GAMBAR
Nomor Gambar Halaman
1.1 Grafik 1 : Prevalensi dan angka penemuan penderita baru di Indonesia tahun
2007………..2
1.2 Angka penemuan penderita baru (NCDR) di Idonesia tahun 2007……..2
1.3 Grafik 2 : Proporsi cacat tingkat II dan proporsi anak diantara kasus baru di
Indonesia tahun 2007………...3
2.1 Diagram 1 : Hirarki Maslow tentang kebutuhan………32
2.2 Diagram 2 : Variabel dalam Health Belief Model (HBM)………..62
DAFTAR SINGKATAN
3M : Melindungi mata, Melindungi tangan, Melindungi kaki
BB : Borderline-Borderline
BL : Borderline Lepromatous
BT : Borderline Tuberkuloid
BTA : Bakteri Tahan Asam
COT : Completion Of Treatment
DADDS : Diasetil-Diamino-Difenil-Sulfon
DDS : Diamino Difenil Sulfon
DNA : Deoxyribonucleic acid
Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Dinkes : Dinas Kesehatan
Ditjen : Direktur Jendral
FK UI : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
I : Indeterminate
LL : Lepromatous-Lepromatous
LI : Lepromatosa Indefinite
M.Leprae : Myobacterium Leprae
MB : Multi Basiler
NCDR : New Case Detection Rate
p : Proporsi
PB : Pauci Bacillary
PABA : Para Amino Benzoic Acid
PPM & PL : Pemberantasan Penyakit Menular dan Pengendalian Lingkungan
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
r : Rasio
RFT : Release From Treatment
RFC : Release From Control
RNA : Ribonucleic acid
RW : Rukun Warga
TEN : Toksik Epidermal Nekrolisis
TI : Tuberkuloid Indefinitif
TT : Tuberkuloid-Tuberkuloid
SD : Sekolah Dasar
SLTP : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
SLTA : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
WHO : World Health Organization
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor lampiran
1. Lembar chek list
2. Pedoman wawancara mendalam informan petugas puskesmas
3. Pedoman wawancara mendalam informan petugas kelurahan Karangsari
4. Pedoman wawancara mendalam informan klien cacat kusta
5. Lembar persetujuan responden
6. Lampiran 6
7. Matriks pengetahuan informan tentang penyakit kusta
8. Matriks persepsi informan tentang penyakit kusta
9. Matriks persepsi konsep diri klien kusta, petugas puskesmas dan kelurahan
10.Matriks sikap masyarakat terhadap penderita kusta
11.Matriks penyuluhan penyakit kusta
1.1LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi banyak terjadi di Negara berkembang yang mempunyai kondisi sosial
ekonomi rendah. Salah satu penyakit infeksi tersebut adalah penyakit kusta. Penyakit kusta pada
umumnya terdapat di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan
kemampuan negara itu dalam memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan,
pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih
ditakuti masyarakat, keluarga, termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih
kurangnya pengetahuan, pengertian, dan kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang
ditimbulkannya. Laporan WHO (1997) menunjukan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-3
dunia sebagai Negara yang memiliki penderita kusta terbanyak setelah India dan Brazilia, namun
pada tahun 2001 kondisi Indonesia dalam penanggulangan kusta sudah lebih baik, hal ini
ditunjukan dengan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia setelah India, Brazilia, dan Nepal.
Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (sampai bulan desember 2001) telah
berhasil menunjukan angka kesakitan kusta sekitar 85 % yaitu dari 107,271 orang menjadi
17,137 orang (Kompas, 2003 dan Swaranet, 2003).
Berdasarkan data tahun 2006-2007 menurut Kepala Bagian Perencanaan Rekam Medik
Rumah Sakit Kusta Sintanala, Tangerang, tercatat 279 penderita pada tahun 2006 meningkat
mencapai eliminasi penyakit kusta sejak bulan juni tahun 2000. Namun penyakit infeksi ini
masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berarti, terbukti dengan adanya
kecenderungan peningkatan angka prevalensi kusta selama periode 2000-2007. Bahkan pada
tatanan global, Indonesia menjadi Negara penyumbang kusta terbesar setelah India dan Brasil.
Strategi global WHO menetapkan indikator eliminasi kusta yaitu angka penemuan
penderita (NCDR) yang menggantikan indicator utama sebelumnya yaitu angka penemuan
penderita terdaftar (prevalensi rate <1/10.000 penduduk). (Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2008) Pada
tahun 2000 NCDR menampilkan tren yang meningkat. Namun sejak tahun 2005, NCDR turun
dari 0,9 menjadi 0,83 pada tahun 2006 kembali turun, pada tahun 2007 menjadi 0,78 per 10.000
penduduk. Jumlah penderita baru yang ditemukan sepanjang tahun 2007 sebesar 17.726 dengan
rincian Pausi Basiler (PB) sebanyak 3.643 penderita dan Multi Basiler (MB) sebanyak 14.083
penderita. Sedangkan prevalensi kusta menunjukan kecenderungan peningkatan. Pada tahun
2000 prevalensi sebesar 0,86 per 10.000 penduduk menjadi 1,05 per 10.000 penduduk pada
tahun 2007. Berdasarkan distribusi per provinsi, prevalensi kusta tertinggi terdapat di provinsi
Papua Barat sebesar 9,69 diikuti oleh Maluku Utara sebesar 6,66 dan Papua sebesar 4,42 per
10.000 penduduk.
Dalam upaya penanggulangan penyakit kusta di Indonesia digunakan angka proporsi
cacat tingkat II (kecacatan yang dapat dilihat dengan mata) dan proporsi anak diantara kasus
baru, angka proporsi cacat tingkat II digunakan untuk menilai kinerja petugas dalam upaya
penemuan kasus. Angka proporsi cacat tingkat II yang tinggi mengindikasikan adanya
keterlambatan dalam penemuan penderita yang dapat diakibatkan oleh rendahnya kinerja petugas
indikator proporsi anak diantara kasus baru mampu mempresentasikan penularan kusta yang
masih terjadi di masyrakat.
Pada tahun 2007 kecacatan tingkat II di Indonesia mencapai 8,8%. Angka ini masih
berada diatas indikator program sebesar 5%. Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan
presentasi kecacatan tingkat II tertinggi sebesar 19,3% yang diikuti oleh Riau sebesar 18,7% dan
Sumatera Utara sebesar 17,8%. Masih adanya penularan kusta pada masyrakat di Indonesia yang
yang tercermin oleh proporsi penderita berumur 0-14 tahun menunjukan angka 10,2%.
Presentase ini juga masih diatas indicator program sebesar 5%. Presentase tertinggi berada pada
provinsi Riau sebesar 40%. Diikuti oleh Maluku Utara sebesar 20% dan Papua Barat 16,3%.
Angka penemuan penderita baru, kecacatan dan proporsi pada umur 0-14 tahun menurut provinsi
di Indonesia tahun 2007 (Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2008).
Menurut Ditjen PP-PL, Depkes RI, 2008 bagian Subdit Kusta bahwa pada tahun 2007 di
kota Tangerang provinsi Banten terdapat penderita cacat kusta tingkat II yang terdaftar dengan
tipe MB sebanyak 26 orang dari 1.412.539 penduduk dan penderita baru dengan tipe MB
sebanyak 15 orang dari 1.412.539 penduduk, cacat tingkat II sebanyak 13,3%, antara usia 0-<15
tahun.
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, tentang status disabilitas penduduk provinsi
Banten yang berumur 15 tahun keatas tampak secara garis besar status disabilitas pada penduduk
di provinsi Banten sangat baik (>80%), meliputi kondisi penglihatan, pendengaran, emosi,
mobilitas dan kondisi kesehatannya. Di provinsi Banten rata-rata status disabilitas dengan
kriteria “sangat bermasalah” adalah sebesar 2,1% dan “bermasalah” 21,5%. (Riskesdas, 2007).
Prevalensi disabilitas “sangat bemasalah” tertinggi terdapat di kota Cilegon (2,8%), sedangkan
disabilitas “bermasalah” tertinggi ditemukan di kabupaten Pandeglang (28,5%), sedangkan
prevalensi disabilitas “bermasalah” terendah adalah kota Serang.
Sementara itu berdasarkan umur tampak bahwa status disabilitas yang merupakan sangat
masalah presentasinya meningkat sesuai dengan pertambahan umur. Status disabilitas “sangat
masalah” dan menjadi “masalah” lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.
Sebaliknya presentasi “tidak masalah” pada laki-laki lebih tinggi. Status disabilitas di pedesaan
lebih tinggi dari pada di perkotaan.
Berdasarkan tingkat pendidikan, presentasi status disabilitas “sangat masalah” yang
paling tinggi tampak pada penduduk dengan pendidikan terendah kemudian menurun sesuai
dengan bertambahnya tingkat pendidikan. Berdasarkan pekerjaan, status disabilitas “sangat
masalah” persentase tertinggi tampak pada penduduk yang tidak bekerja, jenis pekerjaan lainnya,
dan ibu rumah tangga. Persentase tertinggi status disabilitas “sangat masalah” dirasakan oleh
penduduk dengan status ekonomi pada kuintil 1, yaitu rumah tangga dengan tingkat pengeluaran
perkapita terkecil, dan menurun dengan bertambah meningkatnya status ekonomi. (Riskesdas
Provinsi Banten, 2007)
Peneliti belum mendapatkan penelitian yang khusus meneliti tentang gambaran konsep
diri pada klien dengan cacat kusta. Adapun penelitian yang yang berkaitan dengan penyakit kusta
disampaikan oleh Tarusaraya dan Halim (1996) dengan judul penelitian kecacatan pasien kusta
di RSK Sitanala Tangerang. Hasil penelitian dari 1153 penderita kusta di unit rawat jalan RSK
Sitanala Tangerang selama bulan maret 1996 adalah sebagai berikut : pasien baru yang cacat
adalah 84 dari 113 orang (74,34 %), pasien lama yang cacat adalah 761 dari 1040 orang (73,17
%), laki-laki lebih banyak cacat 618 dari 809 orang (76,39 %) dan wanita 227 dari 344 orang
tingkat 0 (95,32 %), tingkat I (3,56 %), tingkat II (1,12 %), cacat tangan: tingkat 0 (54,90 %),
tingkat I (12,58 %), tingkat II (32,53 %) dan cacat kaki: tingkat 0 (50,99 %), tingkat I (30,36 %),
tingkat II (18,65 %).
Selain itu juga berdasarkan abstrak penelitian yang disampaikan oleh Unarat (2000)
dengan judul Konsep Diri dan Mutu Hidup Pasien Lepra pada daerah pusat lepra lima Nakhon
Ratchasima di daerah pusat lepra lima provinsi Nakhon Ratchasima. Hasil penelitian
menunjukan bahwa dari jumlah responden yang berjumlah 54 orang terdapat sekitar 98,18 %
pasien lepra mempunyai hal konsep diri positif dan 72,2 % tingkat mutu hidup lemah atau miskin
dalam hal hubungan sosial. Wawancara yang mendalam mengungkapkan tekanan pada pasien
akibat dari kelainan bentuk fisik akibat penyakit dan cacat diri pasien lepra akan mengakibatkan
kekurangan dalam berinteraksi sosial. Korelasi antara konsep diri dan mutu hidup kuat dan
positif yaitu dengan nilai r = 0,30 dan p = 0,028. Rehabilitasi mental dan pendidikan kesehatan
dapat mempromosikan mutu hidup.
Penelitian di Madura tahun 2001 menunjukan seorang penderita kusta sub klinik manifes
menjadi kusta baru pada tahun ke 4, latihan dapat memperbaiki fungsi anggota gerak yang
mengalami deformitas. Penelitian di Liponsos tahun 1977 mengungkapkan bahwa senam
pernafasan Satria Nusantara memperbaiki fungsi saraf perifer sehingga mengurangi hipoanestesi
dan titik luka. Di indonesia studi penderita kusta dengan kecacatan masih kurang. (Buletin
penelitian kesehatan, 2006)
Kusta di Indonesia merupakan suatu penyakit yang masih belum dapat diatasi secara
tuntas, salah satu kendalanya adalah masih adanya anggapan yang keliru dari masyarakat yang
menganggap penyakit kusta sebagai kutukan Tuhan, penyakit keturunan akibat guna-guna,
melakukan pengobatan atau apabila sudah pernah berobat penderita kurang disiplin dalam
menjalani perawatan dan pengobatannya (Kompas, 2003).
Pasien kusta akan mengalami beberapa masalah baik secara fisik, psikologi, sosial, dan
ekonomi. Hal ini biasanya timbul akibat pasien kusta tidak ingin berobat dan terlambat berobat
sehingga menimbulkan cacat yang menetap dan mengerikan. Hal ini disebabkan karena biasanya
manifestasi klinis yang terlihat pada kulit pasien adalah bercak-bercak putih kemerahan,
benjolan-benjolan, hidung pelana, telinga memanjang, jari tangan dan jari kaki terputus, terdapat
luka-luka, dan adanya bekas amputasi, sehingga memberikan gambaran yang menakutkan,
manifestasi klinis tersebut akan menimbulkan perasaan malu, rendah diri, depresi, menyendiri,
atau menolak diri, serta masyarakat akan mengucilkan pasien kusta sehingga sulit mencari
pekerjaan akhirnya akan menimbulkan masalah psikologis, sosial, dan ekonomi.
!
"
# #
!
$ %
&
# #
# (
" $
" '
) "
# !
" ' #
"
#
* +
, " # "
#
" "
) * +- ./
! + )
* )
" $ ! # # ,
* * 2 # * * * +- ./
* # 3445 6
1.2IDENTIFIKASI MASALAH
1. Jelaskan gambaran karakteristik demografi pada klien dengan cacat kusta di kelurahan
Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang, meliputi: umur, pendidikan,
pekerjaan dan pendapatan
2. Jelaskan gambaran karakteristik gambar diri (Body Image) pada klien dengan cacat kusta
di kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
3. Jelaskan gambaran karakteristik ideal diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan
Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
4. Jelaskan gambaran karakteristik harga diri pada klien dengan cacat kusta di kelurahan
Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
5. Jelaskan gambaran karakteristik penampilan peran pada klien dengan cacat kusta di
kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
6. Jelaskan gambaran karakteristik identitas personal pada klien dengan cacat kusta di
kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
7. Jelaskan gambaran aspek positif konsep diri yang dimiliki klien dengan cacat kusta di
kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
1 *
* 2 # * * * +- ./ * #
3445
1.4TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
a. Tujuan
1. Tujuan Umum:
"
# # * +- ./ * #
3445
2. Tujuan Khusus:
a) Mengidentifikasi gambaran karakteristik demografi pada klien dengan cacat kusta di
kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang. Meliputi: umur,
pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan
b) Mengidentifikasi gambaran karakteristik gambar diri (Body Image) pada klien dengan
cacat kusta di kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun
2009.
c) Mengidentifikasi gambaran karakteristik ideal diri pada klien dengan cacat kusta di
kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
d) Mengidentifikasi gambaran karakteristik harga diri pada klien dengan cacat kusta di
kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
e) Mengidentifikasi gambaran karakteristik penampilan peran pada klien dengan cacat kusta
f) Mengidentifikasi gambaran karakteristik identitas personal pada klien dengan cacat kusta
di kelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari, Tangerang Tahun 2009.
g) Mengidentifikasi gambaran aspek positif konsep diri yang dimiliki klien dengan cacat
kusta dikelurahan Karangsari RW 13, Kecamatan Neglasari Tangerang Tahun 2009.
b. Manfaat Penelitian
1) Untuk klien :
Penelitian ini dapat memberikan dorongan dan masukan kepada pasien kusta
untuk meningakatkan konsep diri dan mengatahui aspek positif yang dimilikinya
2) Untuk institusi :
Hasil penelitian yang dilakukan ini dapat memberikan gambaran konsep diri pada
pasien cacat kusta di dikelurahan Karang Sari RW 13, Neglasari Tanggerang.
3) Untuk peneliti :
Penelitian ini dapat memberikan pengalaman yang berharga bagi peneliti untuk
melakukan penelitian lain pada masa yang akan datang.
4) Untuk penelitian akan datang :
Hasil penelitian dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan penelitian lain
dengan ruang lingkup yang sama.
5) Untuk program
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi Dinkes kota Tangerang dalam
7 # '
* # 7 #
' % !
344:& ; "
7 #
! !
' 7
7 # 7
7 #
$ #
$
a. Dimensi-dimensi citra diri
#
! " $ ; 0 6 0
'6
7 ) # 7 %
& #
#
$
# 0
6 0
#
# $ # 0
6 $ " $
# 6
" 6 # $
# " "
" #
' #
7
'
#
b. Peranan citra diri
Citra diri secara umum memberikan gambaran tentang siapa seseorang itu, ini
tidak hanya meliputi perasaan terhadap diri seseorang melainkan mencakup tatanan moral
dan sikap idea dan nilai-nilai yang mendorong orang bertindak atau sebaliknya tidak
bertindak. Oleh karena citra diri itu berebeda dari orang ke orang maka citra diri dapat
dianggap sebagai penunjuk pokok keunikan individu dalam bertingkah laku. Citra diri
sebagai system sikap pandang terhadap diri seseorang dan merupakan dasar bagi semua
basic in all behavior.”bahwa citra diri juga menentukan tingkah laku untuk masa depan seseorang terungkap dalam pernyataan Eisenberg dan Delaney.
Kaitannya dengan hubungan antar pribadi, Ariety menjelaskan lebih lanjut bahwa
perasaan, ide, pilihan-pilihan, tindakan manusia, mencapai perkembangan
setinggi-tingginya dalam suasana hubungan sosial tetapi kuncinya terletak pada kedalaman
hubungan pribadi, jika hendak ditemukan bentuk-bentuk sehat mental dan sakit mental
dalam dialog antarpribadi yang baik maka yang terdapat dalam diri individu yang sudah
lama terbentuk itulah yang terpenting guna memulai dialog. Dalam uraian Ariety ini
terungkap kesan bahwa peranan khusus citra diri adalah menunjukan gambaran mental
individu yang sehat dan yang sakit dan dapat diketahui melalui dialog antarpribadi.
3 3 3 3 3 3 3 3
* #
"
#
* 7
* "
7
*
7 # "
" !
) ' #
" " '
'
* 7 ';
1. Mampu membina hubungan pribadi, mempunyai teman dan gampang bersahabat.
2. Mampu berfikir dan membuat keputusan
3. Dapat beradaptasi dan menguasai lingkungan
* 7 7
7 ) 7
7
' ' *
' '
'
' $'
;
Konsep diri terbentuk seiring dengan bertambahnya usia dimana
perbedaan ini lebih banyak berhubungan dengan tugas-tugas perkembangan. Pada
masa kanak-kanak, konsep diri seseorang menyangkut hal-hal disekitar diri dan
keluarganya. Pada masa remaja, konsep diri sangat dipengaruhi oleh teman
sebaya dan orang yang dipujanya, sedangkan remaja dan kematangannya
terlambat yang diperlakukan seperti kanak-kanak merasa tidak dipahami sehingga
cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri, sedangkan masa dewasa
konsep dirinya sangat dipengaruhi oleh status sosial dan pekerjaan dan pada usia
tua konsep dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan fisik, perubahan mental
maupun sosial (Febri, 1994:66)
b. Pendidikan
Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan
meningkatkan prestasinya. Jika prestasinya meningkat maka konsep dirinya akan
berubah (Febri, 1994:66)
c. Status sosial ekonomi
Status sosial seseorang memengaruhi bagaimana penerimaan orang lain
terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat memengaruhi konsep diri
seseorang, penerimaan lingkungan terhadap seseorang cenderung didasarkan pada
status sosial ekonominya. Maka dapat dikatakan individu yang status sosialnya
tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang
status sosialnya rendah. Hal ini didukung oleh penelitian Rosenberg terhadap
anak-anak dari ekonomi sosial tinggi menunjukan bahwa mereka memiliki konsep
rendah. Hasilnya adalah 51% anak dari ekonomi tinggi mempunyai konsep diri
yang tinggi, dan hanya 38% anak dari tingkat ekonomi rendah memiliki tingkat
konsep diri rendah (Pudjijogyanti, 1988:41)
d. Hubungan keluarga
Seseorang yang mempunyai hubungan yang erat dengan anggota
keluarganya akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin
mengembangkan pola kepribadian yang sama, bila tokoh ini sesama jenis maka
akan mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya
e. Orang lain
Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu,
bagaimana anda mengenal diri saya akan membentuk konsep diri saya, Sullivan
(dalam Rakhmat, 2005:101) menjelaskan bahwa individu diterima orang lain,
dihormati dan disenangi karena keadaan dirinya, individu akan cenderung
bersikap menghormati dan menerima dirinya. Sebaliknya bila orang lain selalu
meremehkan dirinya, menyalahkan, dan menolaknya ia akan cenderung tidak
menyenangi dirinya. Miyamoto dan Dornbusch (dalam Rakhmat, 2005:101)
mencoba mengkorelasikan penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri dengan
skala lima angka dari yang paling jelek sampai yang paling baik. Yang dinilai
adalah kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik, dan kesukaan orang lain
terhadap dirinya. Dengan skala yang sama mereka juga menilai orang lain,
ternyata orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain cenderung memberikan
skor yang tinggi juga dalam menilai dirinya. Artinya harga diri sesuai dengan
f. Kelompok rujukan (Reference group)
Yaitu kelompok yang secara emosional mengikat individu, dan berpengaruh
terhadap perkembangan konsep dirinya. Menurut Brooks dan Emmert (dalam
Rakhmat, 2005:105) cirri orang yang memiliki konsep diri negative ialah peka
terhadap kritik, responsive sekali terhadap pujian, mempunyai sikap hiperkritis,
cenderung merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, dan
bersikap psimis terhadap kompetisi, sebaliknya orang yang memiliki konsep diri
positif ditandai dengan lima hal:
1. Kemampuan mengatasi masalah
2. Merasa setara dengan orang lain
3. Menerima pujian tanpa rasa malu
4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan
dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat
5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan
aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
# % + 3444;.48& ..
';
1. Meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya.
Walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tapi ia juga merasa dirinya cukup
tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru
2. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang
berlebih-lebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.
3. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi
besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu
sekarang.
4. Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia
menghadapi kegagalan atau kemunduran.
5. Merasa sama dengan orang lain sebagai manusia tidak tinggi atau rendah. Walaupun
terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang
lain terhadapnya.
6. Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain,
paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.
7. Dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa
merasa bersalah.
8. Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
9. Sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan
keinginan dari perasaan marah, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang
mendalam sampai kepuasan yang mendalam juga.
10.Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan,
permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu.
11.Peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, dan terutama
sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang
( " % 3448;./:& !
;
1. Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal yang memunculkan perasaan positif dan
perasaan berharga.
2. Kompetensi, dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain
' 7
* ' 7
' # " "
7 ' # ' 7
' #
" 7
+ #
7
#
3 / * 3 / * 3 / * 3 / *
1. Gambaran diri atau citra tubuh (body image)
1 7
'
( # $' # ;
% &
'
'
# ) $
;
1) Operasi.
=
2) Kegagalan fungsi tubuh.
)
' '
3) Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh
) " " !
) ; ' #
'
' #
5) Perubahan tubuh
"
' ' *
" "
6) Umpan balik interpersonal yang negatif
#
7) Standar sosial budaya.
$
7
"
" ;
1) Shock psikologis
)
" )
2) Menarik diri
* "
# * "
' 7
!
3) Penerimaan atau pengakuan secara bertahap
)
# ) '
# ;
#
# #
# #
$ ;
a. Fokus individu terhadap fisik lebih menonjol pada usia remaja
b. Bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, serta tanda-tanda pertumbuhan kelamin
sekunder (mamae, menstruasi, perubahan suara, pertumbuhan bulu), menjadi gambaran
diri.
c. Cara individu memandang diri berdampak penting terhadap aspek psikologis
d. Gambaran yang realistik terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberi
e. Individu yang stabil, realistik, dan konsisten terhadap gambaran dirinya, dapat
mendorong sukses dalam kehidupan.
Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima reaksi tubuhnya,
menerima stimulus orang lain. Persepsi dan pengalaman individu terhadap tubuhnya
dapat mengubah citra tubuh secara dinamis, persepsi orang lain di lingkungan klien
terhadap tubuh klien turut mempengaruhi penerimaan klien pada dirinya.
2. Ideal diri (self ideal)
7
# $#
$ #
$
) " ! 7
$
" '
'
' " !
7 # "
# #
$ 7
' $' ;
a. Menetapkan ideal diri sebatas kemampuan
b. Faktor kultur dibandingkan dengan standar orang lain
c. Hasrat melebihi orang lain
d. Hasrat untuk berhasil
e. Hasrat untuk memenuhi kebutuhan realistis
f. Hasrat untuk menghindari kegagalan
g. Adanya perasaan cemas dan rendah diri
3. Harga diri (self esteem)
7 # #
" 7
#
7
7
#
, ' $'
;
1) Perkembangan individu
( "
#
"
#
" ! )
2) Ideal Diri tidak realistis
7
#
# $# >
# 7
#
3) Gangguan fisik dan mental
1 7
4) Sistem keluarga yang tidak berfungsi
?
? '
$
"
'
5) Pengalaman traumatik yang berulang, misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.
'
+
' '
( ;
#
; !
$ 7
' @
" #
" 0 6
"
# $# $
#
# 7 !
" " #
#
!
'
# ;
a. Memberikan kesempatan untuk berhasil
b. Memberikan pengakuan dan pujian
c. Mananamkan gagasan yang dapat memotivasi kreativitas seseorang untuk berkembang
d. Mendorong aspirasi atau cita-citanya
e. Menanggapi pertanyaan dan pendapa tdengan cara member penjelasan yang sesuai
f. Memberikan dukungan untuk aspirasi yang positif sehingga seorang memandang dirinya
diterima dan bermakna
g. Membantu pembentukan koping.
4. Peran diri (self role)
Peran diri adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh
masyarakat dihubungakan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosialnya. Peran
memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara untuk
menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti. Setiap orang disibukkan oleh
Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan
ideal diri.
Faktor predisposisi gangguan peran meliputi: transisi peran yang sering terjadi pada
proses perkembangan, perubahan situasi dan keadaan sehat-sakit, ketegangan peran ketika
individu menghadapi dua harapan yang bertentangan secara terus menerus yang tidak terpenuhi,
keraguan peran ketika individu kurang pengetahuannya harapan peran yang spesifik dan bingung
tentang tingkah laku peran yang sesuai dan peran yang terlau banyak
Konflik peran terjadi apabila peran yang diinginkan individu sedang diduduki individu lain. Peran yang tidak jelas terjadi apabila individu diberikan peran yang tidak jelas, sesuai
perilaku yang diharapkan. Peran yang tidak sesuai terjadi apabila individu dalam proses
peralihan mengubah nilai dan sikap. Peran berlebih terjadi jika seorang individu memiliki
banyak peran dalam kehidupannya.
Menurut Stuart dan Sundeen (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri
individu terhadap peran, sebagai berikut:
a. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran
b. Tanggapan yang konsisten dari orang-orang yang berarti terhadap perannya
c. Kecocokan dan keseimbangan antar peran yang diembannya
d. Keselarasan norma budaya dan harapan individu terhadap perilaku
e. Pemisahan situasi yang akan menciptakan penampilan peran yang tidak sesuai
) " 7 $
'
"
1) Transisi Perkembangan
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap
perkembangan harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang
berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.
2) Transisi Situasi
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang
yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua
atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat
menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau pera
berlebihan
3) Transisi sehat sakit
)
, # '
'
# %) 3449&
5. Identitas diri (self identity)
7
7 7 !
#
* %
&
# ;
'
#
( ; #
" $
#
2 $
# 7 ' ;
a. Mengenal diri sebagai organisme yang utuh terpisah dari orang lain
b. Mengakui jenis kelamin sendiri
c. Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan
d. Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian masyarakat
e. Menyadari hubungan masa lalu, sekarang, dan yang akan datang
f. Mempunyai tujuan hidup yang bernilai dan dapat direalisasikan
, ) ) %3448& ' $'
( $'
? %) ' # ? &
%) ' # &
1. Pengaruh perkembangan
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak
lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan
kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui
kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama
panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area
tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan
merealisasi potensi yang nyata.
2. Orang yang terpenting atau terdekat (Significant Other)
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain,
belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri
merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi
orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya,
pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan
sosialisasi
3. Persepsi diri sendiri (Self Perception)
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi
individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk
yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif
dapat berfungsi lebih efektif dan dapat dilihat dari kemampuan interpersonal,
kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif
dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu. (Salbiah. dunia psikologi,
2008).
, ! <
;
3 . 3 . 3 . 3 .
, !
,, !!
, !
, !
#
* #
*
#
#
% A 344<&
3 < 3 < 3 < 3 <
( '
*
" 7 '
! #
"
! %) ) .55.&
1. Memperluas kesadaran diri (ekspanded self-awareness)
3. Mengevaluasi diri (self-evaluation)
4. Perencanaan realistis (realistic planning)
5. Tanggung jawab bertindak (commitment to action)
2.6Pengaruh self concept terhadap perilaku kesehatan ) ' # #
'
7
" ! ?
# ' # # #
) ' # # '
" / ;
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu sesorang terhadap
objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Secara
garis besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya
setelah mengamati sesuatu
Memahami sesuatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar
menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar
tentang objek yang diketahuinya.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat
menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahuinya pada situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau memisahkan,
kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu
masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah
sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut sudah bisa membedakan,
mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan
dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang dimiliki.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu objek tertentu
2. Sikap (Attitude)
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang
sudah melibatkan pendapat atau emosi yang bersangkutan. Newcomb, salah seorang ahli
bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Komponen pokok sikap
menurut Allport (1954) sikap terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu :
a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek. Artinya, bagaimana
keyakinan dan pendapat seseorang terhadap objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya bagaimana
penilaian orang tersebut terhadap objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap adalah merupakan komponen yang
mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap mempunyai tingkatan berdasarkan
intensitasnya, sebagai berikut :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang
diberikan (objek)
b. Menanggapi (responding)
Menanggapi disini adalah memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi
c. Menghargai (valuing)
Manghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus dalam arti membahasnya dengan orang lain dan
mengajak, mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons
d. Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa
yang telah diyakininya
Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya,
yaitu:
a. Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi tergantung pada
tuntutan.
b. Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila subjek telah melakukan sesuatu hal secara otomatis maka disebut tindakan
mekanis.
c. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tidakan yang sudah berkembang, artinya apa yang dilakukan
tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja tetapi sudah dilakukan modifikasi
perilaku yang berkualitas. (Notoatmodjo, 2005).
2.7Pengertian cacat tubuh
' # # - ? %.594&
#
; ' # # # #
# ' #
; # # % ' & ' '
# ; 7 ' 7 7 '
7 ' ' '
% B # # ' # & ' 7 6
% C # # ! # .594;:5$<4&
$
" # #
" #
$ ?
# # ' " #
$
"
7 $ 7
! %.598;.& ' # # % & ;6 ! ' '
! ' 6)
! # #
"
* % 344/& # #
# # # #
7
" 7 2 #
# # ' +
' % &
%)
3444&
2 # % .555&
# # '
'
a. Jenis-jenis cacat tubuh
" # #
. %) 3444& ;
1. Penderita tunadaksa D ialah orang yang menderita cacat polio atau lainnya, sehingga
mengalami tidak normalnya fungsi tulang, otot-otot atau kerjasama fungsi otot-otot. Pada
umumnya penderita ini mempunyai kemampuan kecerdasan yang normal.
2. Penderita tunadaksa D1 ialah orang yang menderita cacat akibat kerusakan otak karena
tidak berfungsinya otak, seperti penderita cerebral palsy yang mengakibatkan
kelumpuhan, kekakuan dan kurangya koordinasi motorik. Karena ada gangguan pada
tidak normal (dibawah rata-rata atau terbelakang). Dalam sampel penelitian ini penulis
mengkhususkan pada penderita tunadaksa D.
b. Derajat kelainan fisik
# ' ;
1. Kelainan pada separuh badan: tangan kanan dan kaki kanan, atau tangan kiri dan
kaki kiri
2. Kelainan pada kedua buah tangannya
3. Kelainan pada kedua buah kakinya
4. Kelainan pada tangan kanan dan kaki kiri
5. Kelainan pada tangan kiri dan kaki kanan
6. Kelainan pada ketiga anggota badan (kedua tangan dan sebuah kaki, atau kedua
kaki dan sebuah tangan
2 # " #
% .555& ;
1. Menurut sebab cacatnya :
1) Cacat sejak lahir
2) Cacat disebabkan penyakit
3) Cacat disebabkan kecelakaan
4) Cacat disebabkan perang
2. Menurut jenis cacatnya :
1) Putus (amputasi tungkai dan lengan)
2) Cacat tulang sendi dan otot pada tungkai/lengan
4) Cerebral palsy
5) Dan lain-lain termasuk pada cacat tubuh orthopedic
3. Menurut berat ringannya cacat :
1.) Cacat ringan adalah mereka yang dapat melakukan seluruh kegiatan hidup
sehari-hari
2.) Cacat sedang adalah mereka yang dapat melakukan sebagian besar kegiatan hidup
sehari-hari
3.) Cacat berat adalah mereka yang tidak dapat melakukan sebagian besar atau
seluruh kegiatan sehari-hari
!
# # # #
c. Cacat tubuh pada penderita kusta
> ! .599 .558 !
' # #
$ ;
1) Pada wajah berupa muka seperti topeng (mask face) kelopak mata tidak menutup
sempurna (lagopthalmus), alis mata tidak ada (madarosis), kulit wajah keriput seperti
orang tua (wrinkling/sagging face), pangkal hidung cekung (saddle hole), daun telinga
membesar (megalobule), ulkus kornea, kekerutan kornea, gangguan penglihatan atau
penurunan visus, fotofobia pada kasus iritis atau iridociclitis.
2) Pada tangan berupa jari-jari tangan kontraktur (claw hand), jari-jari tangan hilang
tidak dapat diluruskan (claw thumb), otot-otot di dorsum manus antara jari satu dan dua
terlihat kolong (athrophy web), gerakan dorsofleksi pergelangan tangan tidak ada (drop
hand), kekakuan pergelangan tangan sehingga tidak dapat digerakan (wrist drop).
3) Pada kaki berupa kaki tidak dapat dorsofleksi (foot drop), jari-jari kaki menekuk ke
bawah (claw toes), tampak luka pada kaki (ulkus plantaris), bentuk kaki pendek
(absorpsi), luka pada daerah tungkai bawah akibat vaskularisasi kurang (static ulcer)
- ? .599 .558
' # # ;
1. Tangan dan kaki
1) Tingkat 0 : tidak ada anestesi, tidak tampak deformitas dan kerusakan
2) Tingkat I : terdapat anestesi tetapi tidak tampak, Deformitas dan kerusakan
3) Tingkat II : tampak deformitas/kerusakan (adanya ulkus, absorpsi, disorganisasi,
kekakuan sendi dan mobilisasi
3) Tingkat II : adanya problem mata akibat kusta dan visus kurang dari 6/60, tidak
dapat menghitung jari pemeriksa dari jarak enam meter.
d. Konsep diri pada penderita cacat tubuh akibat kusta
, % ) 344.& #
) " % ) 344.& !
"
$ '
#
# " ' "
%) 344.&
"
3 9 3 9 3 9 3 9
* % , &
' , # % 3444&
' " % *
C , A 3443&
a. Jenis-jenis penyakit kusta
+ C %.584& * * (
* 7 344.
# ;
1. TT: tuberkuloid polar, merupakan bentuk yang stabil tidak mungkin berubah
3. Borderline tuberculoid, bentuk yang labil
4. BB: Mid borderline, bentuk yang labil
5. BL: Borderline lepromatous, bentuk yang labil
6. Li: Lepromatosa indefinite, bentuk yang labil
7. LL: Lepromatosa polar, bentuk yang stabil
# #
# <4D
<4D
$ #
% & " #
1 "
' @
' ' *
# ' #
! " ;
1. Hipopigmentasi karena stratum basal yang mengandung pigmen rusak
2. Hipoanestesi karena ujung-ujung saraf rusak, adanya anhidrase karena kelenjar-kelenjar
keringat rusak, kadang rambut rontok karena kerusakan dipangkal rambut
3. Batas tegas karena kerusakan terbatas (Marwali Harahap, 1990).
% & "
# % &
% ' 7 &
# ' " " ) ' "
' # ! "
! " " ! " %
' # &
% & " ' '
, - ? "
% &
b. Penyebab penyakit kusta
, #
' 1 ,
, ! #
.3$3. :4 :4
* $ <$.<D ,
5<D #
%<D& # E4D /4D
" % + 344<& ' ;
1. Patogenitas kuman penyabab
2. Cara penularan
4. Varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Sumber penularan
7. Daya tahan tubuh
) # !
! )
"
'
7
* '
" C )
,
" %
& * , #
# )
" )# ! '
) #
' )# !
" %# & "
, 7
c. Tanda dan gejala penyakit kusta
, ' " "
" # ' "
" "
1 "
,
,
' ' ;
1) Kulit dengan bercak putih kemerahan dengan mati rasa
2) Penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan
pada otot tangan, kaki, dan mata
3) Adanya kuman tahan asam pada pemeriksaan kerokan kulit BTA positif
'
' + C "
;