• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Pemanfaatan Distributed Generation ( DG ) Pada Jaringan Distribusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Studi Pemanfaatan Distributed Generation ( DG ) Pada Jaringan Distribusi"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

STUDI PEMANFAATAN DISTRIBUTED GENERATION (DG)

PADA JARINGAN DISTRIBUSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan

pendidikan sarjana (S-1) pada Departemen Teknik Elektro

Oleh :

DONAL SIREGAR

06 0402 086

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

STUDI PEMANFAATAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) PADA JARINGAN DISTRIBUSI

Oleh :

06 0402 086 Donal Siregar

Tugas Akhir ini diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh

gelar sarjana Teknik ELektro

Disetujui oleh : Dosen Pembimbing,

Ir. Sumantri Zulkarnain NIP. 194705031973061001

Diketahui oleh :

Ketua Departemen Teknik Elektro FT USU,

Ir. Surya Tarmizi, M.Si NIP. 195405311986021102

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

ABSTRAK

Pada saat ini telah banyak dikembangkan sistem pembangkitan energi

listrik berdaya kecil dan dibangkitkan dekat dengan pusat-pusat beban. Sistem

pembangkitan tersebut dikenal sebagai sistem Distributed Generation (DG).

Sumber energi listrik pada Distributed Generation tersebut sangat banyak

memanfaatkan teknologi renewable energy (energi angin,energi surya,

mikrohidro, panas bumi, biomassa, fuel cell) maupun teknologi non-renewable.

Dalam pemanfaatannya, Distributed Generation dapat dipasangkan pada jaringan

distribusi secara terpisah untuk meningkatkan keoptimalan dan keandalan jaringan

distribusi tersebut.

Bertolak dari pemanfaatan Distributed Generation yang cukup besar

tersebut, maka pada Tugas Akhir ini penulis tertarik untuk mengkaji secara lebih

luas mengenai pemanfaatan DG secara optimal untuk mendukung kerja dari

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur, penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas

segala kasih karunia, pengetahuan, tuntunan-Nya selama penulis melaksanakan

studi hingga terselesaikannya Tugas Akhir ini.

Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat bagi penulis untuk mendapat

gelar Sarjana Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Adapun judul tugas akhir ini adalah :

STUDI PEMANFAATAN DISTRIBUTED GENERATION ( DG ) PADA JARINGAN DISTRIBUSI

Penulis juga menyadari bahwa tanpa bimbingan, bantuan dan dorongan

dari berbagai pihak, tugas akhir ini tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orangtua penulis yaitu, Among

O. Siregar dan Inang D. Sihombing yang senantiasa memberikan dukungan,

perhatian dan doa yang tak henti-hentinya sehingga dalam keadaan sulit pun tetap

memperjuangkan penulis hingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada :

1. Abangku Juntriman Siregar dan adekku Fera Yunika Siregar yang

selalu memberikan dukungan dan cinta yang tulus selalu.

2. Bapak Ir. Surya Tarmizi, MT selaku Ketua Departemen Teknik

Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Rahmad Fauzi, ST, MT selaku Sekretaris Departemen Teknik

(5)

4. Bapak Ir. Sumantri Zulkarnain selaku Dosen Pembimbing Penulis

yang telah meluangkan waktu dan tempat untuk membimbing dan

membantu penulis menyelesaikan tugas akhir ini.

5. Bapak Drs. Hasdari Helmi, MT selaku Dosen Wali Penulis selama

menyelesaikan pendidikan di Universitas Sumatera Utara yang juga

banyak memberi inspirasi, masukan dan dorongan spiritual kepada

penulis dalam menyelesaikan studi di Departemen Teknik Elektro

FT-USU.

6. Seluruh Staff Pengajar dan Pegawai Departemen Teknik Elektro

FT-USU yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

7. Teman-teman pelayanan di UKM KMK UP FT-USU dan di KMKS

yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

8. Semua rekan-rekan di Departemen Teknik Elektro terutama angkatan

2006 yang telah banyak memberi masukan dan arahan dalam hidup

dan perkuliahan penulis.

9. Semua pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu,

penulis ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari bahwa isi dari Tugas Akhir ini memiliki banyak

kekurangan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang

membangun demi penyempurnaan isi dan analisa yang disajikan. Akhir kata,

semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, September 2011

Donal Siregar

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 3

1.4 Metodologi Penulisan ... 3

1.5 Sistematika Penulisan ... 3

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1 Sistem Tenaga Listrik ... 5

2.2 Komponen Jaringan Distribusi Tenaga Listrik ... 6

2.2.1 Gardu Induk ... 7

2.2.2 Jaringan Distribusi Primer ... 7

2.2.2.1 Sistem Radial ... 8

2.2.2.2 Sistem Hantaran Hubung ... 9

2.2.2.3 Sistem Loop ... 10

2.2.2.4 Sistem Spindel ... 10

2.2.3 Gardu Distribusi ... 11

(7)

2.3 Tegangan Distribusi ... 13

2.3.1 Tegangan Menengah (TM) ... 13

2.3.2 Tegangan Rendah ... 13

2.4 Penyusutan Energi pada Jaringan Distribusi ... 14

2.4.1 Rugi- Rugi Saluran ... 15

2.4.2 Rugi- Rugi Transformator ... 16

2.5 Keandalan Sistem Distribusi ... 17

2.6 Usaha Peningkatan Kualitas Sistem Distribusi dengan Distributed Generation ... 18

BAB III DISTRIBUTED GENERATION 3.1 Distributed Generation ... 20

3.2 Sejarah Perkembangan DG ... 20

3.3 Defenisi Distributed Generation ... 21

3.4 Teknologi DG di Indonesia ...22

3.4.1 Sejarah Perkembangan ………... 22

3.4.2 Aplikasi Teknologi DG ………... 24

3.5 Teknologi DG yang Dapat Dikembangkan di Indonesia .…..25

3.5.1 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ... 25

3.5.2 Teknologi Bahan Bakar Nabati …...27

3.5.3 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa ...30

3.5.4 Pembangkit Listrik Tenaga Surya ………...31

3.5.5 Pembangkit Listrik Tenaga Angin ...33

3.5.6 Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut ………34

(8)

3.6 Pemasangan (Interkoneksi) DG

3.6.1 Sumber Energi Utama ...36

3.6.2 Power Converter ...36

3.6.3 Sistem Interface dan Peralatan Proteksi ...37

3.7 Keuntungan DG ... 38

BAB IVPEMANFAATAN DG PADA JARINGAN DISTRIBUSI 4.1 Pendahuluan ... 39

4.2 Sistem Gardu Induk Tele ………...39

4.2.1 Penyulang Gelas pada GI 150/20 KV Tele ………... 40

4.2.2 Interkoneksi PLTMH Aek Silang pada Penyulang Gelas ...41

4.3 Pemanfaatan PLTMH Aek Silang sebagai Catu Daya Cadangan ...43

4.3.1 Data Teknis pada Penyulang Gelas ...44

4.3.2 Perkiraan Beban pada Penyulang Gelas ... ... 44

4.3.3 Analisis Data ... 45

4.4 Pemanfaatan PLTMH Aek Silang dalam Meningkatkan Kualitas Daya 4.4.1 Data-data yang Diperlukan ……... ... 46

4.4.2 Penyulang Gelas Disuplai GI Tele dan PLTMH Aek Silang ... 47

4.4.3 Penyulang Gelas Disuplai GI Tele ... 49

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 52

5.2 Saran ... 52

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tiga Komponen Utama Penyaluran Tenaga Listrik ... 6

Gambar 2.2 Konfigurasi Jaringa Radial ... 8

Gambar 2.3 Konfigurasi Tie Line (Hantaran Penghubung) ... 9

Gambar 2.4 Konfigurasi Sistem Loop ... 10

Gambar 2.5 Konfigurasi Sistem Spindel ... 11

Gambar 2.6 Gardu Distribusi Jenis Tiang ... 12

Gambar 2.7 Jaringan Distribusi Tegangan Rendah 380/220 V ... 13

Gambar 2.8 Diagram Vektor Daya ... 14

Gambar 2.9 Sistem Distribusi dengan DG ... 19

Gambar 3.1 Bagan Sederhana Pembangkit Tenaga Mikrohidro ... 26

Gambar 3.2 Ilustrasi Konversi Rute Konversi BBN ... 28

Gambar 3.3 Skema Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Biomassa ... 30

Gambar 3.4 Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya ... 32

Gambar 3.5 Skema Pembangkit Listrik Tenaga Angin ... 33

Gambar 3.6 Skema Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut ... 35

Gambar 3.7 Interkoneksi DG ... 36

Gambar 4.1 Single Line Diagram Gardu Induk 150/20KV Tele …………... 40

Gambar 4.2 Proses Sinkronisasi PLTMH Aek Silang dengan Penyulang Gelas ... 42

Gambar 4.3 Busbar Sinkronisasi ... 43

Gambar 4.4 PLTMH Aek Silang Mencatu Daya Penyulang Gelas ... 46

(10)

Gambar 4.6 Catu Daya Beban Penuh Disuplai oleh GI Tele dan

PLTMH Aek Silang ... 50

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Harga Jual Energi Listrik Pembangkit Skal Kecil Tersebar

Menurut PP No. 31/2009 ……… 23

Tabel 3.2 Pemanfaatan Pembangkitan Minihidro yang Terinterkoneksi pada

Jaringan Tegangan Menengah 20 KV di Sumatera uta ………… 25

Tabel 4.1 Data Beban pada Penyulang Gelas Tahun 2011 ………. 44

Tabel 4.1 Konstanta Jaringan / SPLN 64 Tahun 1965 ……… 47

Tabel 4.2 Perbandingan Kualitas Daya pada Penyulang Gelas Akibat

(11)

ABSTRAK

Pada saat ini telah banyak dikembangkan sistem pembangkitan energi

listrik berdaya kecil dan dibangkitkan dekat dengan pusat-pusat beban. Sistem

pembangkitan tersebut dikenal sebagai sistem Distributed Generation (DG).

Sumber energi listrik pada Distributed Generation tersebut sangat banyak

memanfaatkan teknologi renewable energy (energi angin,energi surya,

mikrohidro, panas bumi, biomassa, fuel cell) maupun teknologi non-renewable.

Dalam pemanfaatannya, Distributed Generation dapat dipasangkan pada jaringan

distribusi secara terpisah untuk meningkatkan keoptimalan dan keandalan jaringan

distribusi tersebut.

Bertolak dari pemanfaatan Distributed Generation yang cukup besar

tersebut, maka pada Tugas Akhir ini penulis tertarik untuk mengkaji secara lebih

luas mengenai pemanfaatan DG secara optimal untuk mendukung kerja dari

(12)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pada saat ini, negara-negara di belahan Eropa dan Amerika telah banyak

mengembangkan konsep Distributed Generation (DG) dalam mendukung

kebutuhan energi listriknya. Distributed Generation merupakan sistem

pembangkitan energi listrik berdaya kecil dan dibangkitkan dekat dengan

pusat-pusat beban. Sumber energi listrik pada Distributed Generation tersebut sangat

banyak memanfaatkan teknologi energi terbarukan (energi angin, energi surya,

biomassa, fuel cell) maupun teknologi non terbarukan (microturbine). Mengingat

Indonesia mempunyai potensi energi alternatif yang terbarukan seperti biomassa,

energi angin, energi surya dan energi air maka potensi tersebut perlu

dikembangkan. Hal ini sejalan dengan program nasional untuk menciptakan

keamanan pasokan energi melalui pemanfaatan energi lokal.

Mengingat Distributed Generation umumnya dibangkitkan dekat dengan

pusat-pusat beban maka dalam pemanfaatannya Distributed Generation dapat

dipasangkan pada jaringan distribusi secara terpisah untuk meningkatkan

keoptimalan dan keandalan jaringan distribusi tersebut. Bertolak dari pemanfaatan

Distributed Generation (DG) yang cukup besar tersebut, maka pada Tugas Akhir

ini penulis tertarik untuk mengkaji secara lebih luas mengenai pemanfaatan DG

secara optimal untuk mendukung kerja dari jaringan distribusi primer di

(13)

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Distributed Generation (DG) ?

2. Bagaimana pemanfaatan Distributed Generation (DG) dapat memperkuat

jaringan distribusi di Indonesia ?

I.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah :

1. Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas dan terperinci mengenai

sistem tenaga listrik.

2. Untuk memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai pemanfaatan

energi terbarukan sebagai teknologi Distributed Generation (DG) dalam

meningkatkan kerja dari sistem tenaga listrik yang ada.

Adapun manfaat penulisan Tugas Akhir ini adalah :

1. Memberikan informasi mengenai Distributed Generation dan

pemanfaatannya dalam mendukung pengoptimalan sistem tenaga listrik

yang ada sekarang.

2. Sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa yang ingin mengkaji lebih

(14)

I.4. Batasan Masalah

Untuk mendapatkan hasil pembahasan yang optimal, maka penulis perlu

membatasi masalah yang akan dibahas. Adapun batasan masalah dalam Tugas

Akhir ini adalah :

1. Tugas Akhir ini hanya berfokus pada kajian secara teknis tentang

pemanfaatan Distributed Generation (DG) pada jaringan distribusi

primer.

2. Tidak membahas sistem proteksi pada jaringan distribusi primer secara

terperinci dan dianggap available 100 %.

I.5. Metodologi Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Studi Literatur, berupa tinjauan dari buku teks, buku pedoman, artikel, dan

dokumen lainnya yang berhubungan dengan Distributed Generation (DG)

dan perkembangan sistem pembangkitan energi terbarukan.

2. Studi Bimbingan, berupa konsultasi dengan dosen pembimbing berkaitan

topik bahasan yang menjadi fokus penulisan Tugas Akhir.

I.6. Sistematika Penulisan

Tugas Akhir ini ditulis berdasarkan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

(15)

masalah, metodologi penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II SISTEM TENAGA LISTRIK

Bagian ini menguraikan tentang sistem energi listrik konvensional

meliputi pembangkitan sampai jaringan distribusi.

BAB III DISTRIBUTED GENERATION (DG)

Bagian ini berisi tentang pengertian dan sejarah perkembangan

Distributed Generation serta sumber energi terbarukan di

Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai Distributed Generation

BAB IV PEMANFAATAN DISTRIBUTED GENERATION (DG)

PADA JARINGAN DISTRISBUSI PRIMER

Bagian ini membahas penempatan DG pada jaringan distribusi

primer dan mengkaji pemanfaatannya dalam mendukung kerja dari

sistem distribusi primer.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bagian ini berisikan beberapa kesimpulan yang diperoleh dan saran

(16)

BAB II

JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK II.1. Sistem Tenaga Listrik

Struktur tenaga listrik atau sistem tenaga listrik sangat besar dan kompleks

karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,

transformator, beban dan alat-alat pengaman dan pengaturan yang saling

dihubungkan membentuk suatu sistem yang digunakan untuk membangkitkan,

menyalurkan, dan menggunakan energi listrik.

Namun secara mendasar sistem tenaga listrik dapat dikelompokkan atas 3

bagian utama yaitu :

1. Sistem Pembangkitan

Pusat pembangkit tenaga listrik (electric power station) biasanya terletak

jauh dari pusat-pusat beban dimana energi listrik digunakan.

2. Sistem Transmisi

Energi listrik yang dibangkitkan dari pembangkit listrik yang jauh

disalurkan melalui kawat-kawat atau saluran transmisi menuju gardu induk

(GI).

3. Sistem Distribusi

Energi listrik dari gardu-gardu induk akan disalurkan oleh sistem distribusi

sampai kepada konsumen.

Ketiga bagian utama (pembangkitan, transmisi, dan distribusi) tersebut

menjadi bagian penting dan harus saling mendukung untuk mencapai tujuan

(17)

Gambar 2.1 Tiga komponen utama dalam Penyaluran Tenaga Listrik

Sebuah sistem tenaga listrik yang baik harus mencakup :

1. Biaya pembangkitan yang minimal.

2. Dapat memenuhi kebutuhan energi konsumen.

3. Menghasilkan energi listrik yang berkualitas dan andal.

II.2. Komponen Jaringan Distribusi Tenaga Listrik

Sistem distribusi merupakan keseluruhan komponen dari sistem tenaga

listrik yang menghubungkan secara langsung antara sumber daya yang besar

(seperti gardu transmisi) dengan konsumen tenaga listrik. Secara umum yang

termasuk ke dalam sistem distribusi antara lain, :

1. Gardu Induk ( GI )

2. Jaringan Distribusi Primer

3. Gardu Distribusi (Transformator)

(18)

II.2.1 Gardu Induk (GI)

Pada bagian ini jika sistem pendistribusian tenaga listrik dilakukan secara

langsung, maka bagian pertama dari sistem distribusi tenaga listrik adalah Pusat

Pembangkit Tenaga Listrik dan umumnya terletak di pingiran kota. Untuk

menyalurkan tenaga listrik ke pusat-pusat beban (konsumen) dilakukan dengan

jaringan distribusi primer dan jaringan distribusi sekunder.

Jika sistem pendistribusian tenaga listrik dilakukan secara tak langsung,

maka bagian pertama dari sistem pendistribusian tenaga listrik adalah Gardu

Induk yang berfungsi menurunkan tegangan dari jaringan transmisi dan

menyalurkan tenaga listrik melalui jaringan distribusi primer.

II.2.2 Jaringan Distribusi Primer

Jaringan distribusi primer merupakan awal penyaluran tenaga listrik dari

Gardu Induk ( GI ) ke konsumen untuk sistem pendistribusian langsung.

Sedangkan untuk sistem pendistribusian tak langsung merupakan tahap berikutnya

dari jaringan transmisi dalam upaya menyalurkan tenaga listrik ke konsumen.

Jaringan distribusi primer atau jaringan distribusi tegangan menengah memiliki

tegangan sistem sebesar 20 kV. Untuk wilayah kota tegangan diatas 20 kV tidak

diperkenankan, mengingat pada tegangan 30 kV akan terjadi gejala-gejala korona

yang dapat mengganggu frekuensi radio, TV, telekomunikasi, dan telepon.

Sifat pelayanan sistem distribusi sangat luas dan kompleks, karena

konsumen yang harus dilayani mempunyai lokasi dan karakteristik yang berbeda.

(19)

PMT150 kV PMT20 kV

pinggiran kota dan konsumen di daerah terpencil. Sedangkan dari

karakteristiknya, terdapat konsumen perumahan dan konsumen dunia industri.

Sistem konstruksi saluran distribusi terdiri dari saluran udara dan saluran bawah

tanah. Pemilihan konstruksi tersebut didasarkan pada pertimbangan sebagai

berikut: alasan teknis yaitu berupa persyaratan teknis, alasan ekonomis, alasan

estetika dan alasan pelayanan yaitu kontinuitas pelayanan sesuai jenis konsumen.

Pada jaringan distribusi primer terdapat 4 jenis dasar yaitu :

1. Sistem radial

2. Sistem hantaran penghubung (tie line)

3. Sistem loop

4. Sistem spindel

II.2.2.1 Sistem Radial

Sistem distribusi dengan pola radial seperti Gambar 2.2 adalah sistem

distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini terdapat beberapa

penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial.

(20)

Penyulang

Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi untuk

konsumen. Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen

dipasang. Bisa dalam bangunan beton atau diletakan diatas tiang. Keuntungan dari

sistem ini adalah sistem ini tidak rumit dan lebih murah dibanding dengan sistem

yang lain.

Namun keandalan sistem ini lebih rendah dibanding dengan sistem

lainnya. Kurangnya keandalan disebabkan karena hanya terdapat satu jalur utama

yang menyuplai gardu distribusi, sehingga apabila jalur utama tersebut mengalami

gangguan, maka seluruh gardu akan ikut padam. Kerugian lain yaitu mutu

tegangan pada gardu distribusi yang paling ujung kurang baik, hal ini dikarenakan

jatuh tegangan terbesar ada diujung saluran.

II.2.2.2 Sistem Hantaran Penghubung ( Tie Line )

Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar 2.3. umumnya digunakan untuk

pelanggan penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan

lain-lain).

(21)

PMT

Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan tambahan

Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer Switch, dan setiap

penyulang terkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut sehingga bila salah satu

penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan di pindah ke

penyulang lain.

II.2.2.3 Sistem Loop

Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop) seperti

Gambar 2.4. dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk, sehingga

dengan demikian tingkat keandalannya relatif lebih baik.

Gambar 2.4 Konfigurasi Sistem Loop II.2.2.4 Sistem Spindel

Sistem Spindel seperti pada Gambar 5. adalah suatu pola kombinasi

(22)

PMT

(feeder) yang tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan tersebut

berakhir pada sebuah Gardu Hubung (GH).

Gambar 2.5 Konfigurasi Sistem Spindel

Pada sebuah sistem spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif

dan sebuah penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui gardu

hubung. Pola spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah

(JTM) yang menggunakan kabel tanah/saluran kabel tanah tegangan menengah

(SKTM).

Namun pada pengoperasiannya, sistem spindel berfungsi sebagai sistem

radial. Di dalam sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi yang

berfungsi untuk mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik konsumen

tegangan rendah (TR) atau tegangan menengah (TM).

(23)

Gardu distribusi ( Trafo distribusi ) berfungsi merubah tegangan listrik

dari jaringan distribusi primer menjadi tegangan terpakai yang digunakan untuk

konsumen dan disebut sebagai jaringan distribusi sekunder.

Gambar 2.6. Gardu distribusi jenis tiang

Kapasitas transformator yang digunakan pada transformator distribusi ini

tergantung pada jumlah beban yang akan dilayani dan luas daerah pelayanan

beban. Gardu distribusi ( trafo distribusi ) dapat berupa transformator satu fasa

dan juga berupa transformator tiga fasa.

II.2.4 Jaringan Distribusi Sekunder

Jaringan distribusi sekunder atau jaringan distribusi tegangan rendah

merupakan jaringan tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan konsumen.

Oleh karena itu besarnya tegangan untuk jaringan distribusi sekunder ini adalah

(24)

Tegangan 130 V dan 220 V merupakan tegangan antara fasa dengan

netral, sedangkan tegangan 400 atau 380 V merupakan tegangan fasa dengan fasa

Gambar 2.7. Jaringan distribusi sekunder 380/220 V II.3 Tegangan Distribusi

Tegangan untuk jaringan distribusi dapat dibagi menjadi beberapa jenis,

antara lain :

II.3.1. Tegangan Menengah (TM)

Tegangan menengah adalah tegangan dengan rentang 1 kV sampai dengan

30 kV. Untuk negara Indonesia menggunakan tegangan menengah sebesar 20 kV.

Tegangan menengah dipakai untuk penyaluran energi listrik dari GI menuju

(25)

II.3.2. Tegangan Rendah (TR)

Tegangan rendah adalah tegangan dengan nilai di bawah 1 kV yang

digunakan untuk penyaluran daya dari gardu distribusi menuju pelanggan

tegangan rendah. Penyalurannya dilakukan dengan menggunakan sistem tiga fasa

empat kawat yang dilengkapi netral. Indonesia sendiri menggunakan tegangan

rendah 380/220 V dimana tegangan 380 V merupakan besar tegangan antar fasa

dan tegangan 220 V merupakan tegangan fasa-netral.

II.4. Penyusutan Energi pada Jaringan Distribusi

Dalam proses transmisi dan distribusi tenaga listrik seringkali mengalami

rugi-rugi daya yang cukup besar yang diakibatkan oleh rugi-rugi pada saluran dan

juga rugi-rugi pada trafo yang digunakan. Kedua jenis rugi-rugi daya tersebut

memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas daya serta tegangan yang

dikirimkan ke sisi pelanggan. Nilai tegangan yang melebihi batas toleransi akan

menyebabkan tidak optimalnya kerja dari peralatan listrik pada sisi konsumen.

Selain itu, rugi-rugi daya yang besar akan menimbulkan kerugian finansial di sisi

pengelola energi listrik.

Daya total (kVA) yang dikirimkan dalam jaringan distribusi terdiri dari

daya aktif (kW) dan daya reaktif (kVar). Daya aktif adalah daya listrik yang dapat

diubah ke bentuk energi yang lain seperti cahaya dan lain-lain. Daya reaktif

adalah daya yang diperlukan untuk pembentukan medan magnet.

Diagram vektor hubungan antara daya aktif dan daya reaktif ditunjukkan

(26)

Gambar 2.8 Diagram Vektor Daya

Dari gambar tersebut dapat kita peroleh :

kVA2 = kW2 + kVar2...(2.1)

kW = kVA Cos

φ

...(2.2)

kVar = kVA Sin

φ

...(2.3)

Daya listrik pada sistem 3 fasa dapat dirumuskan sebagai berikut :

Daya aktif ( P ) = V . I Cos φ ( kW)...(2.4)

Daya reaktif ( Q ) = V . I Sin φ ( kVar )... (2.5)

Daya total ( S ) = P + jQ ( kVA )... (2.6)

S = V . I Cos φ + j V . I Sin φ... (2.7)

II.4.1 Rugi –Rugi Saluran

Jika suatu arus mengalir pada suatu penghantar, maka pada penghantar

tersebut akan terjadi rugi-rugi energi menjadi panas karena pada penghantar

tersebut terdapat resistansi. Rugi-rugi dengan beban terpusat pada ujung saluran

distribusi primer dirumuskan sebagai berikut :

V = I ( R cos φ + X sin φ ) L ... (2.8)

P = 3 I2 x R x L ... (2.9)

Sedangkan jika beban terdistribusi di sepanjang saluran distribusi primer,

(27)

V = (I/2)2 I ( R cos φ + X sin φ ) L... (2.10)

P = 3 ( I/2) 2 x R x L ... (2.11)

dimana I = Arus yang mengalir per fasa (Ampere)

R = Resistansi saluran per fasa (Ohm/km)

X = Reaktansi saluran per fasa (Ohm/km)

Cos

φ

= Faktor daya beban

L = Panjang saluran (km)

Pemilihan jenis kabel yang akan digunakan pada jaringan distribusi

merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam perencanaan dari suatu

sistem tenaga listrik karena dapat memperkecil rugi-rugi daya.

II.4.2 Rugi – Rugi Transformator

Dalam unjuk kerjanya, trafo memiliki rugi-rugi yang harus diperhatikan.

Rugi - rugi tersebut adalah :

1. Rugi-rugi Tembaga

Rugi-rugi tembaga merupakan rugi-rugi yang diakibatkan oleh adanya

tahanan resistif yang dimiliki oleh tembaga pada bagian kumparan trafo,

baik pada bagian primer maupun sekunder. Rugi-rugi tembaga dirumuskan

sebagai berikut :

Pcu = I2 R ... (2.12)

dimana I = arus yang mengalir (Ampere)

(28)

2. Eddy Current (Arus Eddy)

Rugi-rugi arus eddy merupakan rugi-rugi panas yang terjadi pada bagian

inti trafo. Perubahan fluks yang dihasilkan tegangan induksi pada inti trafo

(besi) menyebabkan arus berputar pada bagian inti trafo. Arus eddy akan

mengalir pada bagian inti trafo dan akan mendisipasikan energi ke dalam

inti besi trafo yang kemudian menimbulkan panas. Rugi-rugi arus eddy

dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pe = Ke . f2. BM2 ... ( 2.13)

dimana Ke = konstanta arus eddy, tergantung pada volume inti

f = frekuensi jala-jala (Hz)

BM= kerapatan fluks maksimum ( Ф/A = Maxwell/ m2)

3. Rugi-rugi Hysterisis

Rugi-rugi hysterisis merupakan rugi-rugi yang berhubungan dengan

pengaturan daerah magnetik pada bagian inti trafo. Dalam pengaturan

daerah magnetik tersebut dibutuhkan energi. Akibatnya akan

menimbulkan rugi-rugi terhadap daya yang melalui trafo. Rugi-rugi

tersebut menimbulkan panas pada bagian inti trafo.

Ph = Kh . f2. BM2 ... ( 2.14)

dimana Kh = konstanta histerysis, tergantung pada bahan inti

f = frekuensi jala-jala (Hz)

BM= kerapatan fluks maksimum ( Ф/A = Maxwell/ m2)

(29)

Fungsi jaringan distribusi ialah menyalurkan dan mendistribusikan tenaga

listrik dari gardu induk distribusi (distribution substation) kepada pelanggan

listrik dengan mutu pelayanan yang memadai. Salah satu unsur dari mutu

pelayanan adalah kontinuitas pelayanan yang tergantung pada topologi dan

konstruksi jaringan serta peralatan tegangan menengah. Masalah utama dalam

menjalankan fungsi jaringan distribusi tersebut adalah mengatasi gangguan

dengan cepat mengingat gangguan yang terbanyak dalam sistem tenaga listrik

terdapat dalam jaringan distribusi, khususnya jaringan tegangan menengah 20 KV.

Istilah keandalan jaringan distribusi menggambarkan keamanan jaringan

distribusi dalam menghindarkan atau meminimalisasi gangguan-gangguan yang

menyebabkan pemadaman jaringan distribusi. Penyebab gangguan- gangguan

pada jaringan distribusi khususnya jaringan tengangan menengah 20 KV adalah

1. Gangguan akibat alam (petir, angin, hujan)

2. Gangguan peralatan (hubung singkat atau human error)

Keandalan adalah penampilan unjuk kerja suatu peralatan atau sistem

sesuai dengan fungsinya dalam periode waktu dan kondisi operasi tertentu.

2.6 Usaha Peningkatan Kualitas Sistem Distribusi dengan Distributed Generation (DG)

Sistem tenaga listrik konvensional membangkitkan listrik dengan skala

besar (>100 MW) dan terletak jauh dari pusat beban sehingga memerlukan

saluran tenaga listrik yang panjang. Distributed Generation dapat didefenisikan

sebagai sistem pembangkitan skala kecil (< 10 MW) yang diletakkan dekat

(30)

Beban Beban

Beban

Beban DG

Sistem Transmisi

DG

dioperasikan secara terpisah . Hal ini membuat DG tidak memerlukan

saluran-saluran transmisi yang panjang dan gardu induk -gardu induk berkapasitas besar

sehingga dapat mencegah pengeluaran modal investasi untuk pembangunan dan

pemeliharaan saluran transmisi dan gardu induk tersebut. Selain dapat mencegah

rugi-rugi di sepanjang saluran transmisi dan gardu induk (GI), maka

kemungkinan terjadinya gangguan di sepanjang saluran transmisi dan gardu induk

tersebut dapat ditiadakan sehingga dapat meningkatkan pelayanan jaringan tenaga

listrik. Disamping itu, pembangunan DG memerlukan waktu yang relatif lebih

singkat apabila dibandingkan dengan waktu yang diperlukan membangun

pembangkit listrik konvensional (seperti PLTU atau PLTA).

(31)

BAB III

DISTRIBUTED GENERATION 3.1 Distributed Generation (DG)

Distributed Generation seringkali disebut juga dengan on-site generation,

dispersed generation, embedded generation, decentralized generation, atau

distributed eneryi. Secara mendasar, DG menghasilkan energi listrik dari beberapa

sumber energi yang berkapasitas kecil dan dihubungkan langsung pada jaringan

distribusi.

3.2 Sejarah Perkembangan DG

Beberapa publikasi yang ada sekarang tentang Distributed Generation

menunjukkan bahwa DG merupakan suatu fenomena baru dan berkembang secara

signifikan hampir di seluruh dunia. Namun, analisis dari Lembaga Energy

Information Administration di Amerika Serikat menunjukkan bahwa

implementasi DG telah berkembang secara drastis pada akhir tahun 1980-an dan

pertengahan tahun 1990-an.

Sebenarnya, perkembangan DG dalam tahap awal telah dimulai ketika DG

digunakan sebagai co-generator. Penggunaan co-generator dimulai pada masa

tahun 1960-an dan banyak dikembangkan pada lokasi-lokasi industri dengan

memanfaatkan panas dari gas buang kondensor (output thermal dari alat pemanas

berdaya besar).

Pasar untuk DG terus berkembang. Unit- uni DG terus diuji pada

konsumen-konsumen perumahan, industri dan sebagainya sebagai salah satu

(32)

menunjukkan potensi yang besar. Dengan perubahan struktur energi listrik yang

terus berkembang, saat ini DG telah dimanfaatkan sebagai pembangkitan siaga

yang memberi keuntungan pada sistem tenaga listrik sebagai sumber energi pada

beban puncak, kehilangan daya pada sistem dan meningkatkan kualitas daya para

konsumen. Beberapa perkembangan terus dilakukan dan membuat DG tidak

hanya mungkin dilakukan tetapi suatu potensi yang diharapkan.

Perkembangan DG di masa sekarang didukung oleh dua isu utama dalam

sistem tenagan listrik pada masa sekarang yaitu :

1. Perubahan kebijakan energi listrik di seluruh dunia dari sistem monopoli

menjadi sistem yang lebih kompetitif terkhusus pada sektor pembangkit

yang memungkinkan keragaman dalam kepemilikan aset pembangkit

sehingga akan adanya persaingan yang mendorong harga energi listrik

menjadi lebih murah.

2. Kebijakan lingkungan yang berkelanjutan yang mengharapkan DG dapat

membantu mengurangi gas emisi terutama emisi karbon. Pemanfaatan

energi DG harus mendorong pengurangan emisi karbon karena umumnya

teknologi DG memiliki emisi karbon yang rendah bahkan ada yang emisi

karbonnya nol seperti photovoltaic (sel surya).

3.3 Defenisi Distributed Generation

CIGRE telah mendefinisikan Distributed Generation sebagai semua unit

pembangkit dengan kapasitas maksimal berkisar sampai 50 MW dan dipasangkan

ke jaringan distribusi. IEEE mendefinisikan Distributed Generation sebagai

(33)

dibandingkan pusat-pusat pembangkit konvensional dan dapat dipasangkan

hampir pada setiap titik sistem tenaga listrik. IEA (2002) mendefinisikan

Distributed Generation sebagai unit-unit yang menghasilkan energi pada sisi

konsumen atau dalam jaringan distribusi lokal.

Semua definisi di atas menunjukkan bahwa pembangkitan dengan skala

kecil yang dihubungkan ke jaringan distribusi dapat dianggap sebagai bagian dari

DG. Selain itu, pembangkitan yang dipasangkan dekat dengan sisi beban atau

konsumen juga dapat dikatakan sebagai Distributed Generation.

3.4 Teknologi DG di Indonesia 3.4.1 Sejarah Perkembangan

Perkembangan teknologi DG di Indonesia telah berkembang sejak lama

seiring dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 “Tentang

Penyediaan dan Pemanfaatan Energi” yang mengijinkan pembelian terhadap

kelebihan energi listrik (excess power). Teknologi DG yang banyak digunakan

pada masa itu adalah teknologi cogeneration. Bahkan menurut data penelitian

Energy and Electricity (EERDC), kapasitas terpasang teknologi cogeneration

telah mencapai 834 MW pada tahun 1997.

Perkembangan teknologi DG terus berkembang dengan memfaatkan

pembangkit listrik skala kecil (mikrohidro) yang dikelola oleh pihak PLN atau

swasta (Independent Power Producer). Sejak tahun 2002, teknologi DG di

Indonesia dikenal sebagai “Pembangkit Listrik Skala Kecil Tersebar” seperti yang

(34)

Melalui PP Nomor 31/2009, Pemerintah juga mendorong penggunaan

sumber energi baru, terbarukan dan energi primer yang yang lebih efisien untuk

pembangkit tenaga listrik, dan diberikan kesempatan bagi Pembangkit Skala

Kecil Swasta dan Koperasi (PSKSK) untuk menjual tenaga listriknya kepada

PLN. Harga jual tenaga listrik dari PSKSK adalah harga pada titik interkoneksi

dengan Sistem PLN dan harga jual ini disesuaikan setiap tahunnya berdasarkan

perhitungan biaya marginal Sistem PLN.

Harga Pembelian (HP) tenaga listrik yang dimaksud adalah

HP = Harga energi/kwh x F ……….. (3.1)

dimana nilai F ditentukan oleh daerah pembelian tenaga listrik oleh PT. PLN

yang didasarkan sebagai berikut :

a. Zona 1, Wilayah Jawa dan Bali, F = 1

b. Zona 2, Wilayah Suamtera dan Sulawesi, F = 1.2

c. Zona 3, Wilayah Kalimantan, NTB dan NTT, F = 1.3

d. Zona 4, Wilayah Maluku dan Papua, F = 1.5

Tabel 3.1 Harga Jual Energi Listrik Pembangkit Skala Kecil Tersebar

menurut PP No. 31/2009

Harga Energi/Kwh

Titik Interkoneksi Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4

Rp 656/kwh Tegangan Menengah 1 1.2 1.3 1.5

(35)

Dewasa ini, skema pemanfaatan teknologi DG di Indonesia dibagi atas 2,

yaitu :

1. Skema IPP (Independent Power Producer)

Skema ini berisi perjanjian dimana teknologi DG harus mengirim

tenaga listriknya ke sistem PLN secara kontiniu (24 jam). Skema ini

biasanya memiliki kontrak dalam jangka waktu yang lama (minimal 15

tahun) dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan atas kesepakatan

bersama.

2. Skema Pembelian Excess Power (Kelebihan Tenaga Listrik)

Skema ini berisi perjanjian dimana teknologi DG mengirim kelebihan

tenaga listriknya ke sistem PLN pada waktu-waktu tertentu (biasanya

pada Waktu Beban Puncak). Skema ini biasanya memiliki kontrak

jangka pendek (1 tahun) dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan

atas kesepakatan bersama.

3.4.2 Aplikasi Teknologi DG

Pemanfaatan teknologi DG yang telah banyak dikembangkan di Indonesia

adalah teknologi pembangkitan mikrohidro walaupun dewasa ini yang cukup

signifikan adalah pembelian kelebihan energi listrik (excess power) dari pihak

industri-industri besar (PLTU). Berikut ini adalah tabe yang menunjukkan aplikasi

tekonologi DG berupa pembangkitan mikrohidro yang telah terkoneksi pada

(36)

Tabel 3.2 Pemanfaatan Pembangkitan Mikrohidro yang terinterkoneksi pada Jaringan Tegangan Menengah 20 KV di Sumatera Utara

Nama Pembangkitan Lokasi Titik Interkoneksi

3.5 Teknologi DG yang Dapat Dikembangkan di Indonesia

Beberapa jenis teknologi DG yang dapat dikembangkan di Indonesia

adalah mikrohidro, bahan bakar nabati, biomassa, energi angin, tenaga surya,

energi hybrid (angin dan surya), pasang surut, dan panas bumi.

3.5.1 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah pembangkit

listrik skala kecil yang menggunakan energi air sebagai penggeraknya, misalnya

(37)

(head) dan jumlah debit airnya. Kondisi air yang bisa dimanfaatkan sebagai

sebagai sumberdaya penghasil listrik memiliki kapasitas aliran maupun ketinggian

tertentu. Semakin besar kapasisitas aliran maupun ketinggiannya maka semakin

besar energi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Pembangkit tenaga mikrohidro bekerja dengan cara memanfaatkan

semaksimal mungkin energi potensial air. Energi ini secara perlahan diubah

menjadi energi kinetik saat melalui nosel yang ditembakkan untuk memutar

sudu-sudu turbin. Energi mekanis dari putaran turbin akhirnya diubah menjadi energi

listrik melalui putaran generator. Sketsa sederhana dari sebuah pembangkit tenaga

mikrohidro ditunjukkan oleh Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Bagan Sederhana Pembangkit Tenaga Mikrohidro

Karena besar tenaga air yang tersedia dari suatu sumber air bergantung

pada tinggi jatuh dan debit air, maka total energi yang tersedia dari suatu reservoir

(38)

tersedia berdasarkan energi potensial dapat ditulis dalam bentuk persamaan

berikut :

PG = ρ . g . Q . Hg... (3.2)

dimana : PG = potensi daya (kW)

ρ = massa jenis (kg/m3)

Q = debit aliran air (m3/s)

Hg = head kotor (m)

g = percepatan gravitasi (9,81 m/det2)

Potensi daya listrik yang dapat dibangkitkan adalah :

P = ρ . g . Q . He . Eff ...(3.3)

dimana : P = daya listrik yang keluar dari generator (kW)

He = head efektif (m)

Eff = efisiensi

3.5.2 Teknologi Bahan Bakar Nabati

Biofuel adalah bahan bakar yang diproduksi dari sumber-sumber hayati,

disebut juga BBN. Secara umum biofuel dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis

bahan bakar, yaitu biodiesel, bioethanol, dan biooil. Pengelompokan ini dapat

dikatakan merujuk pada jenis-jenis BBM konvensional dari sumber energi tak

terbarukan yang ingin digantikan dengan biofuel. Biodiesel dimaksudkan sebagai

pengganti solar (high-speed diesel) dan minyak diesel industri (industrial

diesel-oil). Bioethanol yaitu etanol yang dihasilkan dari biomassa dimaksudkan sebagai

bahan bakar pengganti bensin. Sedangkan biooil dapat dimanfaatkan sebagai

(39)

Mengingat adanya keragaman bahan baku (sisi hulu) dan keragaman

bentuk akhir bahan bakar serta segmentasi penggunaannya, bagian terpenting

yang harus dilakukan dalam studi kelayakan teknis bahan bakar nabati adalah

screening rute produksi. Dalam melakukan identifikasi dan screening rute

produksi, kajian dilakukan dari mulai tahapan penanaman, pengolahan bahan

baku, pemroduksian, penggunaan, hingga dampaknya terhadap lingkungan.

Tujuan dari screening ini adalah memilih rute produksi yang paling layak secara

tekno-ekonomis.

Gambar 3.2 Ilustrasi Konversi Rute Konversi BBN

Identifikasi dan screening rute produksi untuk oil processing plant dan

biodiesel plant lebih ditekankan pada upaya untuk menyusun rute konversi

produksi bahan bakar hayati khususnya pure plant oil dan biodiesel. Gambar 3.2

(40)

Biodiesel adalah suatu sumber daya yang dapat diperbaharui berasal dari

minyak nabati, penggunaanya untuk menggantikan solar dari minyak bumi yang

merupakan bahan bakar yang dominan untuk mesin diesel. Pertumbuhan

penggunaan biodiesel tumbuh dengan cepat terutama dalam bidang transportasi.

Disamping itu biodisel dapat juga digunakan sebagai bahan bakar untuk generator.

Manfaat utama dari biodiesel adalah mengurangi emisi udara yang berbahaya bagi

lingkungan dalam pengoperasian pembangkit energi listrik.

Keuntungan dan kerugian pembangkit listrik yang mengunakan minyak

nabati antara lain :

a. Keuntungan:

1. Ketersediaan bahan baku memadai seperti: kelapa sawit, jarak, singkong,

jagung, dan tebu untuk bioethanol dan biodiesel.

2. Bisa diandalkan sebagai pengganti solar dan bensin.

b. Kekurangan:

1. Jalur konversi yang panjang untuk menghasilkan energi listrik.

2. Membutuhkan Tenaga Ahli untuk proses konversi dari bahan baku

menjadi biodiesel dan bioethanol.

3. Sebahagian besar bahan bakunya berasal dari bahan pangan.

4. Meningkatkan beban lingkungan karena adanya perkebunan mono kultur

sehingga dapat mengurangi produktifitas tanah dan mengganggu

(41)

3.5.3 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa

Biomassa adalah sebutan yang diberikan untuk material yang tersisa dari

tanaman atau hewan seperti kayu dari hutan, material sisa pertanian serta Iimbah

organik manusia dan hewan. Energi yang terkandung dalam biomassa berasal dari

matahari. Melalui fotosintesis, karbondioksida di udara di transformasi menjadi

molekul karbon lain (misalnya gula dan selulosa) dalam tumbuhan. Energi kimia

yang tersimpan dalam dalam tanaman dan hewan (akibat memakan tumbuhan atau

hewan lain) atau dalam kotorannya dikenal dengan nama bio-energi.

Ketika biomassa dibakar, energi akan terlepas, umumnya dalam bentuk

panas. Karbon pada biomassa bereaksi dengan oksigen di udara sehingga

membentuk karbondioksida. Apabila dibakar sempurna, jumlah karbondioksida

yang dihasilkan akan sama dengan jumlah yang diserap dari udara ketika tanaman

tersebut tumbuh. Oleh karena itu kecepatan regenerasi biomassa merupakan salah

satu hal terpenting yang menentukan layak tidaknya untuk dimanfaatkan.

Gambar 3.3 Skema Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Biomassa Tipe

(42)

Secara umum keuntungan dan kerugian pembangkit listrik biomasa yaitu :

a. Keuntungan :

1. Sumber energi yang murah dan memanfaatkan limbah tanaman seperti

kayu dari hutan, material sisa pertanian serta Iimbah organik manusia dan

hewan.

2. Dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti batubara.

b. Kerugian :

1. Lokasi ketersediaan biomasa tersebar sehingga susah dilakukan

pengumpulan dalam jumlah yang banyak.

2. Kontiniutas ketersediaan biomasa tidak terjamin.

3.5.4 Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Energi matahari merupakan sumber energi penting sejak dahulu kala,

dimulai cara memanfaatkan yang primitif sampai teknologi photovoltaic. Matahari

melepas 95% energinya sebagai cahaya yang bisa dilihat dan sebaian lagi sebagai

yang tidak terlihat seperti sinar infra-red dan ultra-violet. Sebagai negara tropis,

Indonesia mempunyai potensi energi surya yang cukup besar. Berdasarkan data

penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di

Indonesia dapat diklasifikasikan berturut-turut sebagai berikut: untuk kawasan

barat dan timur Indonesia dengan distribusi penyinaran di Kawasan Barat

Indonesia (KBI) sekitar 4,5 kWh/m2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 10%;

dan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sekitar 5,1 kWh/m 2 /hari dengan variasi

bulanan sekitar 9%. Dengan demikian, potensi energi surya rata-rata Indonesia

(43)

Gambar 3.4 Skema Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Kelebihan dan kekurangan dari penggunaan energi panas matahari antara lain :

a. Kelebihan :

1. Energi panas matahari merupakan energi yang tersedia hampir diseluruh

bagian permukaan bumi dan tidak habis (renewable energy).

2. Penggunaan energi panas matahari tidak menghasilkan polutan dan emisi

yang berbahaya baik bagi manusia maupun lingkungan.

b. Kerugian :

1. Sistem pemanas air dan pembangkit listrik tenaga surya tidak efektif

digunakan pada daerah memiliki cuaca berawan untuk waktu yang lama.

2. Pada musim dingin, pipa-pipa pada sistem pemanas ini akan pecah karena

air di dalamnya membeku.

3. Membutuhkan lahan yang sangat luas yang seharusnya digunakan untuk

pertanian, perumahan, dan kegiatan ekonomi lainya. Hal ini karena rapat

(44)

4. Sistem hanya bisa digunakan pada saat matahari bersinar dan tidak bisa

digunakan ketika malam hari atau pada saat cuaca berawan.

3.5.5 Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Pembangkit Listrik Tenaga Angin mengkonversikan energi angin menjadi

energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Cara kerjanya

cukup sederhana, energi angin yang memutar turbin angin, diteruskan untuk

memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan

menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini biasanya akan disimpan kedalam

baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Energi kinetik dari angin ditangkap melalui

turbin angin (kincir angin) yang diubah menjadi energi mekanis dan selanjutnya

dikonversikan menjadi energi listrik melalui generator listrik.

(45)

Kelebihan dan kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin antara lain:

a. Kelebihan :

1. Teknologi yang ramah Lingkungan (environmental friendly) dan tidak

rumit.

2. Mudah dalam pengoperasianya dan tidak memerlukan perawatan khusus.

b. Kekurangn :

1. Butuh biaya yang cukup besar untuk investasi awal.

2. Lokasinya tertentu, didaerah yang kecepatan angin cukup untuk memutar

baling-baling.

3. Kecepatan angin yang fluktuatif tergantung pada musim.

3.5.6 Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut

Gerakan naik dan turun air laut yang luas menunjukkan adanya sumber

tenaga yang tidak terbatas. Jika beberapa bagian dari tenaga yang besar sekali ini

dialihkan ke tenaga listrik, tentu akan menjadi sumber penting bagi tenaga air.

Gambaran utama siklus air pasang adalah perbedaan naiknya permukaan air pada

waktu air pasang dan pada waktu air surut. Jika perbedaan tinggi ini dimanfaatkan

guna mengoperasikan turbin, tenaga air pasang itu dapat dialihkan pada tenaga

listrik. Pada dasarnya, hal ini tidak terlalu sukar karena air pada waktu pasang,

berada pada tingkatan yang tinggi dan dapat disalurkan ke dalam kolam untuk

disimpan pada tingkatan tinggi di situ. Air tersebut juga dapat dialirkan kembali

ke laut waktu air surut melalui turbin-turbin, yang berarti memproduksi tenaga.

(46)

terdapatlah perbedaan perbandingan tinggi air, yang dapat digunakan untuk

menggerakkan turbin-turbin.

Gambar 3.6 Skema Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut

3.5.7 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

Energi panas bumi adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas bumi.

Energi ini dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagai salah satu bentuk

dari energi terbarukan. Air panas alam bila bercampur dengan udara karena terjadi

fraktur atau retakan maka selain air panas akan keluar juga uap panas (steam). Air

panas dan steam inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit

tenaga listrik. Agar panas bumi (geothermal) tersebut bisa dikonversi menjadi

energi listrik tentu diperlukan pembangkit (power plants). Pembangkit yang

digunakan untuk mengonversi fluida geothermal menjadi tenaga listrik secara

(47)

berbasis geothermal, yaitu terdiri dari generator, turbin sebagai penggerak

generator, heat exchanger, chiller, pompa, dan sebagainya.

3.6 Pemasangan (Interkoneksi) DG

Secara garis besar, interkoneksi pada DG terbagi atas tiga komponen, yaitu

3.6.1 Sumber Energi Utama (Prime Energy Source)

Hal ini menunjuk pada teknologi DG sebagai sumber energi seperti energi

surya, angin, mikrohidro, pasang surut dan biomassa. Setiap teknologi DG

memiliki karakter yang berbeda-beda dala menghasilkan energi, misalnya tipikal

energi yang dihasilkan oleh PV dan fuel cell berupa direct current atau wind

turbin yang tipikal energinya berupa energi mekanis (dihasilkan dari putaran pada

turbin).

Gambar 3.7 Interkoneksi DG 3.6.2 Power Converter

Power converter dalam interkoneksi, berfungsi untuk mengubah energi

dari sumber energi utama (prime energy resources) menjadi energi dengan level Beban local

GRID

CONNECTION (20 KV)

SISI PEMBANGKITAN

Trafo Step-Up

(48)

frekuensi tertentu (50Hz - 60Hz). Secara garis besar, ada 3 kategori power

converter yang digunakan dalam interkoneksi, yaitu :

1. Generator sinkron

2. Generator induksi

3. Static power converter

Generator sinkron dan generator induksi mengkonversi putaran energi

mekanis ke dalam tenaga listrik dan sering disebut dengan routing power

converter. Static power converter (biasa dikenal dengan inverter) tersusun atas

solid-device seperti transistor. Pada inverter, transistor mengkonversi energi dari

sumber menjadi energi dengan frekuensi 50-60Hz dengan switching (switch

on-off). Teknologi DG yang dijual di pasaran, kebanyakan telah diintegrasikan

dengan power converter masing-masing. Misalnya fuel cell yang telah

diintegrasikan dengan inverter. Power converter memiliki efek yang besar

terhadap DG pada sistem distribusi. Oleh sebab itu dibutuhkan peralatan

interkoneksi untuk menjamin keamanan dan kestabilan operasi. Generator

sinkron, generator induksi dan inverter memberikan respon yang sangat berbeda

terhadap variasi kondisi dari sistem tenaga.

3.6.3 Sistem Interface dan peralatan proteksi

Peralatan ini ditempatkan sebagai penghubung antara terminal output dari

power converter dan jaringan primer. Komponen interkoneksi ini biasanya terdiri

atas step-up transformer, metering kadang ditambahkan controller dan relay

proteksi. Dalam komponen ini terkadang terdapat communication link untuk

(49)

3.7 Keuntungan Distributed Generation

Dalam banyak penelitian, DG dapat beradaptasi dengan perubahan

ekonomi dalam cara yang fleksibel karena ukurannnya yang kecil dan konstruksi

yang lebih sederhana dibandingkan dengan pusat-pusat pembangkit konvensional.

Menurut IEA, penilaian ekonomi atas nilai fleksibiltas DG sangat memungkinkan

dan layak (2002). Sebagian besar DG memang sangat fleksibel dalam beberapa

hal seperti operasi, ukuran, dan kemajuan teknologi. Selain itu, DG dapat

meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik.

Dalam pemasangannya di jaringan distribusi, DG ditempatkan dekat dengan

daerah beban dan beberapa keuntungan dalam pemakaian DG :

1. DG memberi keandalan yang lebih tinggi dalam pemanfaatan daya

2. DG sebagai sumer energi lokal dapat membantu untuk penghematan daya

listrik pada jaringan transmisi dan distribusi.

3. Dibandingkan dengan power plants, DG memiliki efesiensi yang lebih

tinggi dalam penyaluran daya. Selain itu, bila dikoneksikan pada jaringan,

DG dapat meningkatkan efesiensi sistem karena DG membantu

mengurangi rugi-rugi pada sistem.

4. Dalam memproduksi energi listrik, DG bersifat ramah lingkungan. Emisi

yang dihasilkan dari produksi energi listrik oleh DG tergolong rendah,

(50)

BAB IV

PEMANFAATAN DG PADA JARINGAN DISTRIBUSI

4.1 Pendahuluan

Pemanfaatan DG yang akan dibahas pada Tugas Akhir ini berupa

pembangkit listrik tenaga minihidro (100 Kw -1000 Kw) yaitu PLTMH Aek

Silang yang berlokasi di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

PLTMH Aek Silang ini sendiri langsung diinterkoneksikan pada salah satu

penyulang dari Gardu Induk Tele yaitu Penyulang Gelas.

4.2 Sistem Gardu Induk Tele

Untuk mengetahui pemanfaatan PLTMH Aek Silang sebagai DG maka

perlu dipahami dahulu konfigurasi jaringan distribusi pada sistem gardu induk

Tele. Sumber daya GI Tele disuplai oleh dua sumber yaitu GI Tarutung dan GI

Sidikalang dengan tegangan 150 KV. Adapun tujuan penggunaan dua suplai ini

yaitu kontinuitas pelayanan tenaga listrik dapat terjaga. Maksudnya, apabila salah

satu suplai dari GI mengalami gangguan atau maintenance maka dapat disuplai

oleh GI yang lain.

Dari bus 150 KV, tenaga listrik disalurkan ke transformator daya untuk

diturunkan tegangannya dari tegangan transmisi 150 KV menjadi tegangan

distribusi 20 KV. Pada sistem GI Tele terdapat 1 buah transformator daya tiga

fasa, 150/20 KV, dengan daya 10 MVA. Tenaga listrik dari transformator daya

akan disalurkan kepada keempat penyulang (feeder) yang dilayani oleh GI Tele.

(51)

TRANSMIS

penyulang Sendok dan penyulang Garpu. Selain itu, daya juga disalurkan untuk

pemakaian sendiri (PS) GI Tele melalui transformator daya 200 KVA.

4.2.1 Penyulang Gelas pada GI 150/20 KV Tele

Penyulang Gelas pada GI Tele merupakan bagian dari sistem distribusi

yang menyalurkan tenaga listriknya ke beban yaitu Saluran Tegangan Menengah

(SUTM) 20 KV dengan konfigurasi tipe radial. Dari gambar single line diagram

Gardu Induk Tele terlihat bahwa penyulang Gelas ini merupakan salah satu

penyulang yang mendapat suplai daya dari Transformator Tenaga 150/20 KV GI

Tele yang berkapasitas 10 MVA. Penyulang-penyulang 20 KV tersebut

merupakan jaringan tegangan menengah yang terbuat dari jenis kawat terbuka

ACSR (Alumunium Conductor Steel Reinforced) sehingga rentan gangguan oleh

alam (hujan, petir, angin, pohon) dan juga manusia.

(52)

4.2.2 Interkoneksi PLTMH Aek Silang pada Penyulang Gelas

Selain mendapat catu daya dari sistem gardu induk Tele, penyulang Gelas

pun mendapat catu daya tambahan dari 2 sumber pembangkitan yang langsung

diinterkoneksikan pada tegangan 20 KV. Aritnya, kedua pembangkitan tersebut

dioperasikan secara paralel untuk memenuhi kebutuhan daya di sepanjang saluran

distribusi penyulang Gelas. Kedua sumber pembangkitan tersebut berupa

pembangkit listrik tenaga minihidro, yaitu PLTMH Aek Silang dan PLTMH Aek

Sibundong. Kedua pembangkit listrik minihidro (100KW-1000KW) ini mencatu

daya masing-masing sebesar 750 KW.

Interkoneksi PLTMH Aek Silang pada penyulang Gelas harus memenuhi

syarat sinkronisasi pada sistem 20 KV mengingat PLTMH Aek Silang secara

langsung dipasang pada jaringan distribusi 20 KV. Syarat sinkronisasi tersebut

adalah :

1. Output tegangan sistem PLTMH Aek Silang harus sama dengan

tegangan distribusi yaitu 20 KV

2. Frekwensi sistem juga harus sama yaitu 50 Hz.

3. Pada saat sinkronisasi, urutan fasa tegangan sistem PLTMH Aek

Silang harus sama dengan urutan fasa pada saluran penyulang Gelas.

4. Fasa antara sistem PLTMH Aek Silang harus sama dengan fasa saluran

penyulang Gelas.

Gambar 4.2 berikut ini akan menunjukkan bagaimana sistem PLTMH Aek

(53)
(54)

PMT

SYNCHRONOUSCOPE

BUSBAR SINKRONISA

Penyulang Gelas

PMT

PLTMH AEK SILANG

Proses sinkronisasi antara PLTMH Aek Silang dengan penyulang Gelas dapat

dituliskan sebagai berikut :

1. Garduk Induk Tele mengirimkan tegangan ke Penyulang Gelas dengan

kondisi dimana PMT GI dan PMT Gelas 1 dalam posisi ON

2. Tegangan akan sampai ke PLTMH Aek Silang, tetapi PMT Gelas 2 masih

harus dalam kondisi OFF.

3. Pada saat bersamaan PLTMH Aek Silang dioperasikan dan siap

sinkron/paralel dimana PMT Aek Silang dalam keadaan ON.

4. Aktifkan Synchronouscope, kemudian PMT Gelas 2 segera di-ON-kan

setelah synchronouscope menujukkan keadaan sinkron antara kondisi

penyulang dan keluaran generator PLTMH Aek Silang.

Gambar 4.3 Busbar Sinkronisasi

4.3 Pemanfaatan PLTMH Aek Silang sebagai Catu Daya Cadangan

Salah satu pemanfaatan penting PLTMH Aek Silang pada penyulang

Gelas adalah menyediakan sumber energi ketika terjadi kehilangan daya karena

(55)

pemadaman meluas pada grid. Dalam studi ini, penulis mengkaji pemanfaatan

PLTMH Aek Silang sebagai sumber daya (power source) dalam menyuplai daya

terhadap penyulang Gelas ketika diperkirakan terjadinya kegagalan suplai daya

dari busbar 20 KV.

4.3.1 Data Teknis pada Penyulang Gelas

Daerah pelayanan : Dolok Sanggul

Panjang Penyulang : ± 30 Km

Output PLTMH Aek Silang : 750 KW

Tabel 4.1 Data Beban pada Penyulang Gelas Tahun 2011 Gardu

Data di atas akan dibuat sebagai acuan dalam menganalisis pemanfaatan PLTMH

Aek Silang sebagai DG.

4.3.2 Perhitungan Beban pada Penyulang Gelas

Untuk menghitung catu daya yang disuplai oleh penyulang Gelas, maka

kita harus menghitung besar beban yang ada pada penyulang Gelas. Dengan

memperkirakan bahwa penyulang Gelas mencatu daya beban terpusat yaitu

Kabupaten Humbang Hasundutan maka dapat kita pergunakan persamaan di

berikut ini, :

(56)

Berdasarkan data teknis di atas, kita akan menghitung beban yang dipikul

oleh penyulang Gelas. Dalam hal ini, penulis mengambil data pembebanan

terbesar yaitu pada bulan Agustus sebesar 132 Ampere.

Tegangan (VL-L) = 20 KV

Cos φ = 0.85 (asumsi)

IL = 132 Ampere

Maka daya beban penyulang Gelas adalah :

P (Kw) = IN x 3 x VL-L x Cos φ

= 132 x 1.73 x 20 x 0.85

= 3882.1 Kw

= 3.9 MW

4.3.3 Analisis Data

Menurut penulis, besarnya daya beban pada penyulang Gelas (3.9 MW)

merupakan hal yang memungkinkan karena :

1. Penyulang Gelas merupakan catu daya bagi sebuah daerah yang luas dan

sedang berkembang yaitu Dolok Sanggul (ibukota Kabupaten Humbang

Hasundutan)

2. Panjang penyulang yang berkisar 30 km menunjukkan luasnya daerah

pelayanan penyulang Gelas.

Berdasarkan hal tersebut, kontinuitas pelayanan energi listrik menjadi hal yang

sangat penting. Dengan perkiraan adanya kegagalan catu daya dari sistem GI Tele,

maka keberadaan PLTMH menjadi sesuatu yang berharga. Walaupun hanya

dengan produksi daya sekitar 750 KW, PLTMH Aek Silang dapat memberi

(57)

penting yang menuntut kontinuitas pelayanan 100 % seperti rumah sakit dan

area-area publik.

Gambar 4.4 PLTMH Aek Silang Mencatu Daya Penyulang Gelas

4.4 Pemanfaatan PLTMH Aek Silang dalam Meningkatkan Kualitas Daya

Kualitas daya menjadi salah satu hal penting dalam penyaluran energi

listrik sampai kepada konsumen. PLTMH Aek Silang pada penyulang Gelas dapat

meningkatkan kualitas daya di sepanjang saluran penyulang Gelas. Hal tersebut

dapat kita analisis sebagai berikut. Dalam analisis berikut ini, penulis akan

membandingkan kualitas daya ketika penyulang Gelas mendapat suplai dari GI

Tele dan ketika penyulang Gelas mendapat suplai dari GI Tele dan PLTMH Aek

Silang.

4.4.1 Data- Data yang diperlukan

Panjang Penyulang : ± 30 Km

Output PLTMH Aek Silang : 750 KW

PLTMH AEK SILANG ( 750 KW )

Penyulang Gelas Rumah Sakit dan Area Publik

BUSBAR 20

(58)

PLTMH AEK SILANG ( 750 KW )

Penyulang

Gelas Beban

3.9 MW BUSBAR 20 KV

I

Line

Jenis Penyulang = AAAC 150 mm2

Daya beban Penyulang : ± 3.9 MW

Dalam menganalisisnya, penulis juga menggunakan Tabel 4.2, yaitu untuk dapat

menentukan besarnya impedansi saluran penyulang.

Tabel 4.2 Konstanta Jaringan / SPLN 64 Tahun 1965

Luas Penampang (mm2) Impedansi (Ohm/Kms) KHA (A)

XLPE 240 0.098 + j0.133 553

AAAC 240 0.1344 + j0.3158 585

AAAC 150 0.2162 + j0.3305 425

AAAC 70 0.4608 + j0.3572 210

AAAC 50 0.6452 + j0.3678 155

Berdasarkan tabel diatas maka dapat ditentukan impedansi saluran penyulang

Gelas, yaitu (0.2162 + j0.3305) Ohm/kms.

4.4.2 Penyulang Gelas disuplai GI Tele dan PLTMH Aek Silang Perhitungan Jatuh Tegangan pada Titik Akhir penyulang

(59)

 Besar Arus saluran:

IL = 132 A (berdasar Tabel 4.1)

 Impedansi total di sepanjang penyulang Gelas

R total = R x L

= 0.2162 x 30

= 6.486 Ohm

X total = Z x L

= 0.3305 x 30

= 9.915 Ohm

Jatuh tegangan sirkit akhir penyulang Gelas pada saat beban puncak dapat

dirumuskan sebagai berikut :

V = 3 x I ( R cos φ + X sin φ ) L ... (4.2)

Maka jatuh tegangan pada sirkit akhir penyulang Gelas :

V = 1.73 x 132 ( (6.486 x 0.85) + (9.915 x 0.53) )

= 2.45 kV

Perhitungan Rugi-Rugi di Sepanjang Saluran  Perhitungan besar rugi-rugi daya aktif

Untuk menghitung rugi-rugi daya aktif di sepanjang saluran dapat

dirumuskan sebagai berikut :

P = 3 Ifasa x R2 total ...……….. (4.3)

Maka rugi-rugi daya aktif di sepanjang saluran penyulang Gelas

sampai pada sirkit akhir penyulang adalah

P = 3 x 132 x (6.486) 2

(60)

 Perhitungan besar rugi-rugi daya reaktif

Untuk menghitung rugi-rugi daya aktif di sepanjang saluran dapat

dirumuskan sebagai berikut :

P = 3 x Ifasa x X 2 total ……….... (4.4)

Maka rugi-rugi daya aktif di sepanjang saluran penyulang Gelas

sampai pada sirkit akhir penyulang adalah

P = 3 x 132 x (9.915) 2

= 38.929 KVar

4.4.3 Penyulang Gelas disuplai GI Tele

Pada saat kondisi penyulang Gelas hanya disuplai oleh GI Tele, maka

suplai daya akan bertambah 0.75 MW (PLTMH Aek Silang tidak menyuplai daya

pada sistem) sehingga beban yang akan disuplai GI adalah

P

disuplai oleh GI

= P

penyulang

+ P

outputPLTMH Aek Silang

= 3.9 MW + 0.75 MW

= 4.65 MW

Maka pada perhitungan selanjutnya kita akan mendasarkan beban yang disuplai

(61)

BUSBAR 20

PLTMH AEK SILANG ( 750 KW )

Penyulang Gelas Beban

4.65 MW

I

penyulang

Gambar 4.6 Catu Daya beban Penuh Disuplai oleh GI Tele dan PLTMH Aek Silang

Perhitungan Jatuh Tegangan pada Titik Akhir Penyulang  Besar Arus beban penyulang :

IL = P(Kw)/ 3 x VL-L x Cos φ

= 4.65 MW / 1.73 x 20 x 0.85

= 158.1 A

 Impedansi total untuk beban sebesar 4.65 MW tidak berubah di

sepanjang penyulang Gelas.

R total = 6.486 Ohm

X total = 9.915 Ohm

Maka jatuh tegangan pada sirkit akhir penyulang Gelas dengan beban 3.95 MW :

V = 3 x I ( R cos φ + X sin φ ) L

V = 1.73 x 158.1 ( (6.486 x 0.85) + (9.915 x 0.53) )

(62)

Perhitungan Rugi-Rugi di Sepanjang Saluran (Beban = 4.65 MW)  Perhitungan besar rugi-rugi daya aktif

Maka rugi-rugi daya aktif di sepanjang saluran penyulang Gelas

sampai pada sirkit akhir penyulang adalah

P = 3 x Ifasa x R 2 total

P = 3 x 158.1 x (6.486) 2

= 19.952 Kw

 Perhitungan besar rugi-rugi daya reaktif

Maka rugi-rugi daya aktif di sepanjang saluran penyulang Gelas

sampai pada sirkit akhir penyulang adalah

P = 3 x Ifasa x X 2 total

P = 3 x 158.1 x (9.915) 2

= 46.627 KVar

Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan perbedaan kualitas daya akibat

pemasangan PLTMH Aek Silang pada Penyulang Gelas

Tabel 4.2 Perbedaan Kualitas Daya Akibat Pemasangan PLMTH Aek Silang

Kualitas Daya Sebelum adanya Pemasangan PLTMH

(63)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil data dan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat

ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pemanfaatan PLTMH Aek Silang sebagai salah satu aplikasi DG adalah

sebagai sumber daya cadangan (backup power source) pada penyulang

Gelas.

2. Interkoneksi PLTMH Aek Silang pada penyulang Gelas dapat

memperbaiki jatuh tegangan pada titik akhir penyulang sekitar 1.3 KV,

mengurangi rugi-rugi aktif saluran sekitar 27.89 KW dan rugi-rugi daya

reaktif sekitar 9.38 Kvar. Maka dapat dikatakan kualitas daya pada titik

akhir penyulang Gelas akan lebih baik.

5.2 Saran

Saran yang dapat penulis berikan adalah

1. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengikutsertakan

PLTMH Aek Sibundong dalam setiap analisis mengingat PLTMH tersebut

juga diinterkoneksikan pada penyulang Gelas.

2. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji keterandalan

Gambar

Gambar 2.2 Konfigurasi Jaringan Radial
Gambar 2.3 Konfigurasi Tie Line ( Hantaran Penghubung )
Gambar 2.4 Konfigurasi Sistem Loop
Gambar 2.5 Konfigurasi Sistem Spindel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sistem Distribusi Radial dapat didefinisikan bila antara titik sumber dan titik bebannya hanya terdapat satu saluran, maka merupakan bentuk jaringan yang paling

Rekonfigurasi jaringan distribusi pada Tugas Akhir ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi deviasi tegangan pada jaringan distribusi serta untuk meningkatkan

Tegangan jatuh sepanjang sistem distribusi primer telah menjadi masalah operasi, terutama untuk di sepanjang jaringan, dengan beban yang terpusat di ujungnya.. Untuk

Dari Sembilan skenario yang dilakukan hasil perbaikan profil tegangan yang signifikan terjadi pada saat DG dipasang pada ujung penyulang utama (section 8) dengan

Pada simulasi aliran daya penyulang pujon malang kondisi 3 ini terdapat pembangkit listrik tenaga angin yang disambungkan pada bus 17 pada sistem distribusi 20 kV.. Hasil

Jaringan distribusi tegangan menengah adalah jaringan tenaga listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu induk sub transmisi ke gardu distribusi.. Jaringan Distribusi

Dari Sembilan skenario yang dilakukan hasil perbaikan profil tegangan yang signifikan terjadi pada saat DG dipasang pada ujung penyulang utama (section 8) dengan

Simulasi Aliran Daya dan Short Circuit pada ETAP 16.0 Setelah melakukan pemodelan jaringan distribusi radial dengan beban tidak seimbang dan terhubung dengan DG pada ETAP 16.0,