DisusunOleh:
Atik Sukriati Rahmah NIM: 1110051000082
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
` iii
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 2 Desember 2014
` iv
kesalahpahaman. Dengan segala kompleksitas global yang dihadapi umat muslim saat ini–mulai dari isu terorisme, konflik politik antarnegara, serta konflik antara nilai-nilai yang berlaku di masyarakat–tantangan yang dihadapi umat Muslim saat ini cukup besar dan yang pasti sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya.Melalui potret kehidupan masyarakat muslim di Eropa yang menjadi minoritas, film ini juga memberikan gambaran bagi kaum muslim di Indonesia bahwa hidup sebagai kelompok minoritas tidaklah mudah. Muslim di Indonesia sangat dimanjakan dengan fasilitas ibadah yang sangat memadai, lingkungan yang mendukung kebebasan beragama serta beragam hak istimewa. Bagaimanakah jika situasi tersebut berbalik, dan Muslim menjadi istilah yang sangat asing bahkan cenderung diwarnai stigma, seperti yang terjadi di banyak negara lain.
Dari latar belakang di atas, maka munculah beberapa pertanyaan penelitian. Pertanyaan tersebut adalah Bagaimana alur cerita di awal, tengah, akhir pada film 99 Cahaya di Langit Eropa? Dan Bagaimana Komunikasi antaragama dan budaya di masyarakat muslim eropa.
Penelitian ini menggunakan paradigma kontruktivis. Paradigma konstruktivis, yaitu paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan.Peneliti berusaha mengandalkan sebanyak mungkin pandangan partisipan tentang situasi yang tengah diteliti.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis deskriptif. Mendefinisikan metodologi sebagai mekanisme penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, baik itu tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati oleh peneliti.
Teori yang digunakan adalah analisis narasi (narrative analysis) modelTvzetan Todorov, memiliki tiga alur waktu cerita, yaitu alur cerita awal, tengah, dan akhir.Tzvetan Todorov; mengatakan bahwa semua cerita dimulai dengan ‘keseimbangan’ di mana beberapa potensi pertentangan berusaha ‘diseimbangkan’ – pada suatu waktu. Teorinya mungkin terdengar seperti klise bahwa semua cerita punya awal, pertengahan dan sebuah akhir. Ide keseimbangan menandai sebuah keadaan, dalam sebuah cara-cara tertentu.Subjek penelitian ini adalahfilm 99 Cahaya Di Langit Eropa, sedangkan Objek penelitian ini adalahpotongan adegan visual ataupun narasi dialog dalam film 99 Cahaya Di Langit Eropa.
Penemuan dari penelitian dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa sangat jelas digambarkan bagaimana umat Islam di tengah wajah minusnya mesti tampil sebagai agen yang damai, agen yang penuh senyum, saling membantu untuk sesama, dan denganyang berbeda keyakinan.Setiap tahun aksi diskriminasi terhadap umat Islam kian parah. Namun demikian patut disayangkan bahwa pembela HAM di Eropa selama ini hanya merasa cukup melakukan observasi pelanggaran hak asasi manusia di luar Eropa, khususnya negara-negara yang bersebrangan dengan kebijakan barat. Diskriminasi yang diterima kelompok minoritas ini dalam hal mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan dan perlindungan.
` v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam tiada
kata yang pantas diucapkan selain rasa syukur kepada Allah SWT yang selalu
memberikan nikmat sehat, iman, islam, rezeki, dan sebagainya. Shalawat serta
salam teriring kepada Baginda Nabi besar Muhammad SAW, semoga kita semua
mendapat syafaat di hari akhir nanti. Amin ya rabbal alamin.
Dengan kesehatan dan kelancaran yang diberikan Allah SWT, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan penuh kesabaran, kekuatan fisik,
dan kekuatan mental untuk menyelesaikan skripsi ini dengan judul Analisis
NarasiFilm 99 Cahaya di Langit Eropa.
Sehubungan dengan selesainya skripsi ini, penulis menyampaikan rasa
hormat dan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan,
bimbingan serta dorongan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama
kepada:
1. Dr. H. Arief Subhan, M.A., selaku Dekan Faklutas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Dr. Suparto. M.Ed. Ph.D, selaku Wakil Dekan Bidang
Akademik, Drs. Jumroni, M.Si, selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi dan
Keuangan, dan Dr. H. Sunandar M.A selaku Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan.
2. Rachmat Baihaki, M.A selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam.
3. Fita Fathurokhmah, M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam serta selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah
` vi
memberikan banyak ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
5. Staff Tata Usaha, Perpustakaan dan Karyawan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
6. Bapak Rangga Almahendra dan Ibu Hanum Salsabiel Rais selaku penulis dari
novel 99 Cahaya di Langit Eropa yang telah menyempatkan waktunya
menjadi narasumber dalam penelitian ini
7. Kedua orangtua tercinta, Ayahanda Alwi Jamalulail dan Ibunda Nurhayati
Terimakasih atas pengorbanan materi yang tidak terhitung banyaknya,
dorongan semangat, serta do’a yang terus dipanjatkan demi kelancaran
menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman seperjuangan Kelas KPI C dan teman-teman jurusan KPI
angkatan 2010, Indah, Anis, Dede, Lia, Ida, Dyah, Heni, Elis, Siska,
terimakasih atas tawa dan tangis yang diberikan selama ini, semoga
kebahagiaan akan turut serta dalam langkah kita kedepan nanti.
9. Semua pihak dan teman-teman yang telah mendukung dan mendoakan .
Atas kekurangan dalam penulisan penelitian ini, penulis mohon dibukakan
pintu maaf yang seluas-luasnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca
maupun penulis. Akhir kata terimakasih penulis ucapkan untuk para Dosen
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan begitu banyak
ilmunya, semoga ilmu yang diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah.
Jakarta, 2 Desember 2014
` vii DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBARAN PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii
LEMBARAN PERNYATAAN ... iii
BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEP A. Definisi Analisis Naratif... 17
B. Teori Narasi Menurut Tvzetan Todorov ... 18
C. Konsep Tentang Film ... 23
1. Pengertian Film ... 23
2. Jenis Film ... 25
3. Klasifikasi Film ... 26
D. Pengertian Komunikasi Antarbudaya ... 30
E. Persepsi dan Budaya ... 32
F. Bentuk-bentuk Komunikasi Antarbudaya ... 33
G. Pelaku kebudayaan... 35
H. Hubungan Antarbudaya ... 35
BAB III GAMBARAN UMUM FILM 99 CAHAYA DILANGIT EROPA KARYA HANUM SALSABIELA RAIS A. Film 99 Cahaya Dilangit Eropa ... 38
B. Masyarakat Muslim di Eropa ... 47
C. Sekilas Tentang Tvzetan Todorov ... 50
D. Sinopsis Film 99 Cahaya Dilangit Eropa ... 51
E. Tanggapan Terhadap Fim 99 Cahaya Dilangit Eropa ... 51
BAB IV TEMUAN DAN HASIL PENELITIAN A. Analisis Alur Awal, Tengah dan Akhir Cerita pada Film 99 Cahaya Dilangit Eropa ... 54
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada era informasi seperti saat ini, media massa telah menjadi suatu hal
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai makhluk sosial
yang selalu berinteraksi dalam kehidupannya, manusia membutuhkan
informasi untuk menunjang proses interaksi dengan manusia lain. Informasi
yang dibutuhkan oleh manusia tersebut dapat diperoleh dari media massa yang
setiap harinya memproduksi dan menyebarluaskan informasi tersebut melalui
berbagai bentuk media informasi yang tergolong dalam media massa umum
(mainstream). Mulai dari media cetak, media elektronik dan juga media online
(internet) yang akhir-akhir ini menjadi pilihan masyarakat modern karena
kecepatan akses informasi yang dapat diperoleh.
Namun, penyampaian sebuah informasi tidaklah hanya terbatas melalui
media-media mainstream seperti yang telah disebutkan di atas. Film yang
dianggap oleh banyak orang hanya sebagai media hiburan, sebenarnya adalah
salah satu media yang juga digunakan untuk menyampaikan informasi kepada
khalayak luas.
Harus kita akui bahwa hubungan antara film dan masyarakat memilki
sejarah yang panjang dalam kajian para ahli komunikasi. Film sebagai alat
komunikasi massa yang kedua muncul di dunia, mempunyai massa
pertumbuhannya pada akhir abad ke-19, dengan perkataan lain pada waktu
Ini berarti bahwa permulaan dari sejarahnya, film dengan lebih mudah dapat
menjadi alat komunikasi yang sejati, karena ia tidak mengalami unsur-unsur
teknik, politik, ekonomi, sosial dan demografi yang merintangi kemajuan surat
kabar pada masa pertumbuhannya dalam abad 18 dan permulaan abad
ke-19. Film mencapai puncaknya antara Perang Dunia I hingga Perang Dunia II,
namun merosot tajam setelah munculnya medium televisi.1
Perkembangan seni film di Indonesia mempunyai sisi kemajuan yang
sangat pesat dan saat ini perfilman di negeri Indonesia sudah mampu
menunjukkan keberhasilannya untuk menampilkan film yang lebih dekat
dengan budaya bangsa Indonesia.
Dunia perfilman saat ini telah mampu merebut perhatian masyarakat.
Lebih-lebih setelah berkembangnya teknologi komunikasi massa yang dapat
memberikan konstitusi bagi perkembangan dunia perfilman. Meskipun masih
banyak bentuk-bentuk media massa lainnya, film memiliki efek ekslusif bagi
para penontonnya.
Film adalah media komunikasi yang paling efektif untuk
menyampaikan suatu pesan sosial maupun moral kepada khalayak banyak
dengan tujuan memberikan informasi, hiburan,dan ilmu yang tentunya
bermanfaat dan mendidik ketika dilihat dan didengar oleh khalayak banyak.
Film mempunyai seni tersendiri dalam memilih suatu peristiwa untuk
dijadikan sebuah cerita. Film juga merupakan ekspresi atau pernyataan dari
1
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: PT. Penerbit Remaja Rosdakarya 2006),
3
sebuah kebudayaan. Ia juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang
kadang-kadang kurang jelas terlihat dalam masyarakat.2
Film dibuat dengan tujuan tertentu, kemudian hasilnya tersebut
ditayangkan untuk dapat ditonton oleh masyarakat dengan peralatan teknis.
Karakter psikologisnya khas bila dibandingkan dengan jenis komunikasi
massa lainnya, film dianggap jenis yang paling efektif. Film atau
cinemarthograpie berasal dari dua kata cinema + tho yaitu phytos (cahaya)
dan grapie (tulisan, gambar dan citra). Film atau motion picture ditemukan
dari hasil pengembangan prinsip-prinsip fotograpi dan proyektor.3
Sadar akan kemampuan potensi media film dalam konstruksi pesan,
akhir-akhir ini di Indonesia muncul film yang bernuansa dakwah atau paling
tidak film tersebut bergenre Islami. Pesan dakwah merupakan pesan agama
yang universal. Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa dakwah merupakan
proses yang berjalan (makro proses) dan holistic.4
Film 99 Cahaya Di Langit Eropa merupakan sebuah novel yang
diangkat dari perjalanan pengarang setelah ia tinggal di Eropa selama tiga
tahun. Awalnya pengarang hanya menyimpan di dalam hati tentang keindahan
Eropa, namun ia merasa berkewajiban untuk menulisnya dalam sebuah karya
sastra guna orang lainpun mengetahui keindahan sesungguhnya yang berada di
negara Eropa.
2
Pranajaya, Film dan Masyarakat; Sebuah pengantar (Jakarta: Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, 1992), h.6.
3
Pranajaya, Film dan masyarakat; Sebuah Pengantar (Jakarta: Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, 1992),h.19.
4
Film ini menceritakan betapa pertautan Islam di Eropa sudah
berlangsung sangat lama dan menyentuh berbagai bidang peradaban. Film ini
juga memperkenalkan kita pada tempat-tempat ziarah baru, yang ternyata
merupakan misteri tentang Islam. Dan pada akhirnya Eropa bukanlah Eiffel,
Mozart Collosoum, Tembok Berlin maupun negeri yang kaya dengan nuansa
romansanya melainkan tidak lain Eropa adalah tempat ziarah baru bagi umat
Islam. Yang menarik dari film ini bukanlah konflik dalam rumah tangga atau
kisah romansa maupun cerita poligami, adalah hal yang biasa ditemui dalam
tema-tema penulisan cerita. Melainkan hal-hal yang baru kita temui dalam
sejarah Islam. Negara yang kental dengan budaya barat ternyata tersimpan
sejuta cerita baru tentang Islam.
Keberadaan Islam di belahan dunia lain, terutama di negara-negara
sekuler seperti di benua Eropa, seringkali diwarnai dengan prasangka dan
kesalah pahaman. Dengan segala kompleksitas global yang dihadapi umat
Muslim saat ini–mulai dari isu terorisme, konflik politik antarnegara, serta
konflik antara nilai-nilai yang berlaku di masyarakat–tantangan yang dihadapi
umat Muslim saat ini cukup besar dan yang pasti sangat berbeda dengan
masa-masa sebelumnya.
Namun, sesungguhnya di balik segala kerumitan tersebut, sejarah
menunjukkan bahwa Islam menawarkan solusi yang cukup sederhana, yaitu
toleransi dan kebaikan. Kira-kira refleksi inilah yang menjadi fondasi bagi
penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum Salsabiela Rais, dalam
5
Almahendra. Bagi Hanum, perjalanan yang ia lalui beberapa tahun yang lalu
ini merupakan sebuah petualangan yang mengubah hidupnya.
Aspek universal inilah yang berusaha ditonjolkan oleh orang-orang di
balik produksi film ini. Salah satu kru dari Alim Studio yang terlibat dalam
proses produksi mengatakan bahwa ia setuju jika film ini tidak dikategorikan
sebagai film religi, namun sebagai film sejarah. Ia menyebutkan bahwa hal
utama yang ingin disampaikan dalam film ini adalah pentingnya hidup
berdampingan dan damai dengan segala perbedaan agama yang ada. Sejak
ratusan tahun yang lalu, lewat situs-situs bersejarah dalam film ini sebagai
saksinya, Islam sudah membuktikan bahwa pendekatan yang toleran dan
damailah yang membawa Islam kepada kejayaan, dan kekerasanlah yang pada
akhirnya meruntuhkan kekuasaan Islam di Eropa. Sebagai agama mayoritas di
Indonesia, aspek-aspek toleransi ini harus dijunjung oleh masyarakat
mengingat Indonesia adalah negara yang sangat plural dan multikultural.
Melalui potret kehidupan masyarakat Muslim di Eropa yang menjadi
minoritas, film ini juga memberikan gambaran bagi kaum Muslim di
Indonesia bahwa hidup sebagai kelompok minoritas tidaklah mudah. Muslim
di Indonesia sangat dimanjakan dengan fasilitas ibadah yang sangat memadai,
lingkungan yang mendukung kebebasan beragama serta beragam hak
istimewa. Bagaimanakah jika situasi tersebut berbalik, dan Muslim menjadi
istilah yang sangat asing bahkan cenderung diwarnai stigma, seperti yang
Kelebihan film ini terletak pada ceritanya yang memang diangkat dari
novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra berdasarkan
pengalaman mereka ketika belajar di Eropa. Jadi memang tidak
mengada-ngada. Beda dengan kebanyakan film Indonesia. Cara bertuturnya tidak
membosankan, diselingi komedi. Drama produksi Maxima Pictures ini
disutradarai oleh Guntur Soeharjanto menggunakan naskah olahan Alim Sudio
bersama Hanum dan Rangga.
Sebagai tontonan adaptasi bernuansa Islami, film ini berhasil membawa
ruh buku ke dalam filmnya. Sedikit preachy di beberapa bagian, namun
mampu membuai sasaran penonton yang dituju dengan mulus. Visualisasi
yang ditampilkan begitu cantik bersinergi dengan napas cerita yang memang
menyorot tempat-tempat menawan di Wina dan Paris.
Kekurangan film yang paling tampak adalah pada urusan naskah.
Sebagai bagian pertama dari dwilogi yang direncanakan, ceritanya kurang
mengikat emosi. Namun tetap saja, ada hal menarik yang akan di dapat ketika
keluar dari bioskop. Selain ingin berjalan-jalan ke luar negeri, muncul
keinginan untuk mengenal Islam lebih dekat.
Peneliti tertarik meneliti Film 99 Cahaya Di Langit Eropa karena film
tersebut sarat dengan informasi tentang sejarah Islam di Eropa. Film ini
menjadi bestseller dan mendapatkan pujian dari beberapa tokoh.
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, peneliti ingin meneliti
alur cerita dan karakter tokoh yang terdapat dalam film. Penelitian ini berjudul
7
B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
membatasi masalah agar tidak terlalu luas pembahasan dalam
skripsi ini, maka permasalahan hanya dibatasi pada narasi dan penokohan
pada film ’99 Cahaya Di Langit Eropa'
2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah penelitian ini:
a. Bagaimana alur cerita di awal, tengah, akhir pada film 99 Cahaya Di
Langit Eropa?
b. Bagaimana komunikasi antaragama dan budaya di masyarakat
muslim Eropa?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian.
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana pada alur cerita awal, tengah, akhir cerita
film 99 Cahaya di Langit Eropa.
b. Untuk mengetahui komunikasi antaragama dan budaya di masyarakat
muslim Eropa
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dibagi dalam dua aspek yaitu
a. Manfaat akademis:
Penulis berharap penelitian ini dapat memperkaya bidang studi
ilmu komunikasi berkaitan dengan pembelajaran mengenai analisis
narasi dalam sebuah film, khususnya bagi mahasiswa Fakultas
Dakwah Ilmu Komunikasi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
Penulis berharap penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan
terhadap analisis narasi pesan yang terkandung dalam sebuah film
kepada pembaca mengenai kehidupan antar agama dan budaya
Indonesia dan Eropa, antara Barat dan Timur (Islam) dan juga dapat
memberikan wawasan kepada pembaca mengenai potret kehidupan
masyarakat muslim di Eropa.
b. Manfaat Praktis:
Penulis berharap skripsi ini dapat menambah wawasan
mengenai narasi pesan dalam sebuah film bagi para mahasiswa di
bidang penyiaran. Penulis berharap dapat menambah ilmu tentang
cara penarasian film bagi para mahasiswa Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam, khususnya, serta mahasiswa lain yang mempunyai
minat di bidang penyiaran dan film pada umumnya.
3. Metodologi Penelitian a. Paradigma Penelitian
Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami
kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi
para penganut dan praktisinya. Paradigma menunjukan pada mereka
9
normatif, menunjukan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan
tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epitemologis
yang panjang.5
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah
paradigma konstruktivis. Paradigma konstruktivis, yaitu paradigma
yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan
pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau
ilmu pengetahuan. Peneliti berusaha mengandalkan sebanyak mungkin
pandangan partisipan tentang situasi yang tengah diteliti. Dalam
konteks konstruktivisme, peneliti memilki tujuan utama, yakni
berusaha memaknai (menafsirkan) makna-makna yang dimiliki orang
lain tentang dunia ini.6 b. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis
deskriptif. Mendefinisikan metodologi sebagai mekanisme penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata, baik itu tertulis
atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati oleh
peneliti.7 Pendekatan penelitian ini yang menghasilkan temuan-temuan
data tanpa menggunakan prosedur statistik atau dengan cara lain
pengukuran. Peneliti berusaha menggambarkan fakta-fakta tentang
bagaimana adegan-adegan dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa .
5
Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2003), h.9.
6
John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010),h. 11-12.
7
Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
c. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis
narasi (narrative analysis) yaitu studi tentang struktur pesan atau telah
mengenai aneka fungsi bahasa (pragmatic).8 Metode analisis narasi berbeda dengan metode kuantitatif yang menekankan pada pertanyaan
“Apa” (what), analisis narasi lebih melihat “Bagaimana” (how) dari
suatu pesan atau teks komunikasi. Dengan metode ini, tidak hanya
diketahui pesan apa saja yang terkandung dalam film 99 Cahaya di
Langit Eropa, tetapi bagaimana pesan itu dikemas dan diatur
sedemikian rupa dalam bentuk cerita. Melalui analisis narasi tidak
hanya mengetahui isi teks. Tetapi bagaimana juga pesan itu
disampaikan lewat cerita. Macam apa yang disampaikan. Analisis narsi
lebih melihat bagaimana isi pesan yang akan di teliti.
Mengolah narasi atau cerita yaitu dengan cara di mana makna
dan kegemaran dapat terbina dan tersusun baik dari dalam dan luar
media. Dua poin kajian sistematik dari narasi di media modern, adalah
sebagai Pertama, teori narasi menganjurkan bahwa cerita/kisah dalam
media apapun dan budaya manapun saling berbagi keunggulan
tertentu. Kedua, tetapi media tertentu/khusus mampu untuk
“menceritakan” kisah dengan cara yang berbeda. Hal ini sangat
berharga bahwa manusia hampir tidak pernah menemukan pemisahan
8
11
suatu cerita dari harapan tersebut.9
Tzvetan Todorov; mengatakan bahwa semua cerita dimulai
dengan ‘keseimbangan’ di mana beberapa potensi pertentangan
berusaha ‘diseimbangkan’ – pada suatu waktu. Teorinya mungkin
terdengar seperti klise bahwa semua cerita punya awal, pertengahan
dan sebuah akhir. Ide keseimbangan menandai sebuah keadaan, dalam
sebuah cara-cara tertentu.10 d. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah film 99 Cahaya Di Langit Eropa,
sedangkan Objek penelitian ini adalah potongan adegan visual ataupun
narasi dialog dalam film 99 Cahaya Di Langit Eropa yang berkaitan
dengan komunikasi antarbudaya yang ingin disampaikan di dalam film
“99 Cahaya Di Langit Eropa
e. Teknik Pengumpulan Data
1) Catatan Arsip (Archival Record)
Data yang diperoleh dari rekaman video film “99 Cahaya
Dilangit Eropa” Rekaman berasal dari DVD ini kemudian dibagi
per scene dan dipilih adegan-adegan yang sesuai rumusan masalah,
yang digunakan untuk penelitian. Dokumen atau literatur-literatur
yang mendukung data primer seperti buku-buku, yang sesuai
dengan penelitian, artikel koran, kamus, Internet, dan lain
sebagainya, yang membahas tentang film secara umum dan khusus
film ini, atau tentang narasi itu sendiri.
2) Dokumentasi
Dokumentasi adalah penelitian yang mengumpulkan,
membaca dan mempelajari, berbagai bentuk data tertulis (buku,
majalah atau jurnal) yang terdapat diperpustakaan terkait dengan
analisis narasi. Internet atau instansi lain yang sesuai dengan materi
penelitian untuk dijadikan bahan argumentasi dalam penelitian ini.
3) Observasi
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data
dengan Observasi tidak berstruktur. Observasi tidak berstruktur
adalah observasi ini dilakukan tanpa guide observasi. Dalam hal ini
peneliti melakukan pengamatan dan mengembangkan daya
pengamatan. Observasi adalah sebagai kegiatan mengamati secara
langsung tanpa mediator sesuatu objek untuk melihat dengan dekat
kegiatan yang dilakukan objek tersebut11. Secara langsung peneliti akan menonton dan mengamati dialog-dialog peradegan dalm film
99 Cahaya di Langit Eropa. Kemudian mencatat, memilih serta
menganalisis sesuai dengan model penelitian yang digunakan.
4) Wawancara
a) Wawancara Mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data
atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan
informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam.
Wawancara ini dilakukan dengan berulang-ulang secara
11
13
intensif.
b) Wawancara Terstruktur adalah suatu cara mengumpulkan data
atau informasi dengan menggunakan pedoman wawancara,
yang merupakan bentuk spesifik yang berisi intruksi yang
mengarahkan peneliti dalam melakukan wawancara.
Wawancara jenis ini juga dikenal dengan wawancara
sistematis atau wawancara terpimpin.
Wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah jenis
wawancara mendalam, peneliti langsung mewawancarai
narasumber, yaitu penulis novel sekaligus naskah yaitu
Rangga Almahendra.
5) Teknik Analisis Data
Dalam penelitian analisis narasi, data-data yang sudah
terkumpul akan disesuaikan dengan metode yang digunakan
Vladimir Propp dan Tzevetan Todorov yaitu meneliti dari alur
cerita dan karakter tokohnya. Data tersebut merupakan data yang
terdapat dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. Narasi adalah
suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan
sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.
Jadi, narasi dapat dibatasi sebagai suatu bentuk wacana yang
sasaran utamanya tingkah laku yang dijalin dan dirangkaikan
menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu waktu.12 Alasan peneliti menggunakan analisis narasi karena penelitian ini tidak
12
hanya menganalisis teks semata, tetapi juga menganalisis karakter
pelaku dan alur ceritanya.
6) Pedoman Penulisan skripsi
Penulisan hasil penelitian ini menyesuaikan dengan buku
Pedoman Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang
diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and
Assurance) di Jakarta tahun 2007.
D. Tinjauan Pustaka
Pada penelitian ini peneliti juga menggunakan skripsi yang memiliki
beberapa persamaan dengan penelitian ini. Adapun beberapa judul penelitian
yang peneliti dapatkan adalah sebagai berikut:
Pertama “Analisis Isi Peran Dakwah Pada Novel 99 Cahaya Di Langit
Eropa Karya Hanum Salsabiela Rais” oleh Renita Azhari tahun 2013, Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Jakarta.Skripsi tersebut memiliki
persamaan dengan penelitian ini dalam objek pembahasannya, yaitu film ini
sendiri. Namun, karya Renita ini memiliki perbedaan dalam hal penggunaan
metode analisis. Bila Renita menggunakan analisis semiotik, maka penelitian
ini dengan analisis narasi.13
Dwita Apriliani, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
13
15
Menemukan adanya teori yang sama terhadap “Analisis Naratif Larangan
Pacaran Dalam Agama Islam Pada Buku Udah Putusin Aja, Karya Felix
Yanwar Siauw”. Persamaan dalam penelitian ini adalah menggunakan teori
yang sama. Sebaliknya perbedaan dari penelitian ini adalah pada objek
penelitiannya. Dwita Apriliani membahas buku “Udah, Putusin Aja Karya
Felix Yanwar Siauw”. Sedangkan, penulis membahas film “99 Cahaya Di
Langit Eropa” dalam aspek KAB.14
Hilman Fauzi, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan
Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014. Dengan judul “ Analisis
Naratif Film Dokumenter Alkinemokiye: The Strunggle Dawns New Hope”.
Persamaannya yakni terletak pada pendekatan dan metode penelitian analisis
naratif serta model naratif Tzvetan Todorov. Perbedaannya terletak pada judul
objek. Penelitian ini membahas tentang seperti apa karakter para tokoh dalam
film tersebut, bagaimana cerita di awal, tengah, dan akhir film, dan seperti apa
sifat-sifat yang berlawanan pada film tersebut.15
Meskipun penelitian ini mendapat rujukan dari skripsi di atas dan sama
meneliti tentang film, akan tetapi skripsi ini memiliki perbedaan dari skripsi di
atas yaitu pada fokus penelitiannya. Penelitian ini fokus bagaimana Perspektif
Komunikasi antaragama dan budaya yang ditampilkan dalam film “99 Cahaya
Di Langit Eropa” Selain itu, penelitian ini menggunakan analisis narasi
menurut Tvzetan Todorov yang terdiri atas alur cerita awal, tengah, dan akhir.
14
Dwita Apriliani, “Analisis Naratif Larangan Pacaran Dalam Agama Islam Pada Buku
Udah Putusin Aja, Karya Felix Yanwar Siauw” ( Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
15
Selain itu, pada Bab Tiga teori Vladimir Propp digunakan sepintas untuk
identifikasi delapan karakter tokoh. Penelitian ini ingin mengkaji kehidupan
dalam film tersebut yang dinarasikan dalam film “99 Cahaya Di Langit Eropa
E. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan susunan skripsi ini, maka dibuatlah sistematika
penulisan yang dibagi menjadi 5 (lima) bab yang terdiri atas beberapa sub bab,
yaitu sebagai berikut:
Pendahuluan yang merupakan bab 1 menguraikan latar belakang
masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
metodologi penelitian, tinjauan pustaka, serta sistematika penulisan.
Selanjutnya kerangka pemikiran yang ditempatkan pada bab 2
membahas tentang Definisi Analisis Narasi, teori mengenai analisis narasi
menurut Tvzetan Todorov, pengertian film, jenis dan klasifikasi film,
pengertian komunikasi antarbudaya dan bentuk-bentuk komunikasi
antarbudaya.
Pada bab berikutnya (bab 3), memaparkan secara umum gambaran
tentang film 99 Cahaya di Langit Eropa, Masyarakat muslim di eropa,
synopsis film 99 Cahaya di Langit Eropa, sekilas tentang Tvzetan Todorov.
Serta tanggapan mengenai film tersebut.
Bab 4 Sebagai temuan analisis narasi terhadap data dari film 99
Cahaya di Langit Eropa tentang penarasian.
Akhirnya penutup (bab5) memaparkan tentang kesimpulan,
17 BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Definisi Analisis Naratif
Narasi berrasal dari kata Latin narre,yang artinya “membuat tahu.”
Dengan begitu, narasi berhubungan dengan usaha untuk memberitahu sesuatu
atau peristiwa.1 Teori naratif merupakan teori yang membahas tentang
perangkat dan konvensi dari sebuah cerita. Cerita yang dimaksud bisa
dikategorikan fiksi atau fakta yang sudah disusun secara berurutan. Hal ini
memungkinkan khalayak untuk terlibat dalam cerita tersebut.
Pengertian narasi itu mencakup dua unsur dasar, yaitu pembuatan atau
tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu, menggambarkan suatu
objek secara statis, maka narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis
dalam suatu rangkaian waktu. Berdasarkan uraian tersebut, narasi dapat
dibatasi sebagai suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah
tindak-tanduk moral yang dijalani dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang
terjadi dalam suatu keadaan waktu.
Definisi menarik tentang narasi di ungkapkan oleh Bragnigan, yakni
narasi adalah cara untuk mengelola data spasial dan temporal menjadi
penyebab dan memunculkan efek keterkaitannya sebuah peristiwa, dari awal,
tengah, dan akhir cerita yang akan menimbulkan sifat dari cerita itu.2
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis naratif adalah
1
Eriyanto, Analisis Naratif: Dasar-dasar dan penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h.1.
2
analisis yang digunakan untuk memberi tahu atau mengelola struktur sebuah
cerita, baik cerita fiksi maupun fakta yang di dalamnya terdapat alur, tokoh,
karakter, sudut penggambaran, dan lainnya secara berurutan.
Menurut Branston and Stafford, narasi terdiri atas empat macam: a)
narasi menurut Todorov, memiliki alur awal, tengah, dan akhir, b) sedangkan
menurut Propp, suatu cerita pasti memiliki karakter tokoh, c) sementara
menurut Levis-Strauss, suatu cerita memiliki sifat-sifat yang berlawanan, d)
terakhir narasi Joseph Campbell, yang kaitannya membahas narasi dengan
mitos.3 Namun, peneliti hanya menggunakan teori narasi menurut Todorov,
karena film ini masuk kategori drama, ini akan digunakan di Bab empat nanti.
B. Teori Narasi Menurut Tvzetan Todorov
Tzvetan Todorov; mengatakan bahwa semua cerita dimulai dengan
‘keseimbangan” di mana beberapa potensi pertentangan berusaha
“diseimbangkan”- pada suatu waktu. Teorinya mungkin terdengar seperti klise
bahwa cerita punya awal, pertengahan dan sebuah akhir. Namun,
keseimbangan menandai sebuah keadaan, dalam sebuah cara-cara.4
Narasi berisi penjelasan bagaimana cerita disampaikan, bagaimana
materi dari suatu cerita dipilih dan di susun untuk mencapai efek tertentu
kepada khalayak.5Narasi adalah proses dan efek dari merepresentasikan waktu
dalam teks.6 Setiap narasi memiliki sebuah plot atau alur yang didasarkan
3
GillBranston and Roy Stafford, The Media Student’s, h. 56-57.
4
Gill Branston dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, 2003,h. 36.
5
GillBranston and Roy Stafford, The Media Student’s, h.38.
6
19
Aw al t engah akhir
pada kesinambungan peristiwa dalam narasi itu dalam hubungan sebab akibat.
Ada bagian yang mengawali narasi, ada bagian yang merupakan
perkembangan lebih lanjut dari situasi awal, dan ada bagian yang mengakhiri
narasi itu. Alurlah yang menandai kapan sebuah narasi itu mulai dan kapan
berakhir.7 Menurut Todorov, pada bagian awal ada interaksi situasi dasar dan
kemudian di tengah menimbulkan konflik dan pada akhirnya biasanya akan
berakhir bahagia. Tentu saja itu melalui intervensi dari produk yang akan
dijual.Tidak perlu dipersoalkan, bahwa akhir narasi masih menimbulkan
persoalan baru lagi. Alur ditandai oleh puncak atau klimaks dari perbuatan
dramatis dalam rentang laju narasi. Secara skematis alur dapat digambarkan
sebagi berikut.
Diagram 2.1 Diagram Alur Film8
Banyak pendapat dan kritikan mengenai pembagian waktu dalam
sebuah cerita, tetapi kritikan tidak bisa meniadakan pembagian waktu itu.
Misalnya, ada pendapat yang mengatakan, bahwa sebenarnya apa yang disebut
“penyelesaian” itu sebenarnya tidak ada, karena akhir dari suatu kejadian atau
peristiwa akan menjadi awal dari kejadian yang lain, atau akhir dari tragedi itu
7
GillBranston and Roy Stafford, The Media Student’s Book, h. 36.
8
merupakan sebuah diskusi, yang pada gilirannya menjadi bagian pendahuluan
dari kisah berikutnya.9 Sebab itu, narasi harus diberi batasan yang lebih jelas,
yaitu rangkaian tindakan yang terdiri atas tahap-tahap yang penting dalam
sebuah struktur yang terikat oleh waktu. Di mana waktu ini dibagi menjadi
tiga waktu, yaitu bagian awal atau pendahuluan, bagian tengah atau
perkembangan, dan bagian akhir atau bagian peleraian. Berikut rincian dari
ketiga bagian tadi sebagai berikut:
1. Alur Cerita Awal
Suatu perbuatan atau tindakan tidak akan muncul begitu saja dari
kehampaan. Perbuatan itu lahir dari suatu situasi. Situasi itu harus
mengandung sistem-sistem yang mudah meledak atau mampu
meledakkan. Setiap saat situasi dapat menghasilkan suatu perubahan yang
dapat membawa akibat atau perkembangan lebih lanjut di masa depan.
Ada situasi yang sederhana, tetapi ada juga situasi yang kompleks.
Kesederhanaan atau kekompleksannya tergantung dari matra yang
berbeda. Kompleks tidaknya situasi dapat diukur dari kaitan-kaitan antara
satu faktor dengan faktor yang lain, dapat diukur dari jumlah faktornya,
dan dapat pula diukur dari akibat-akibat yang ditimbulkannya serta
rangkaian-rangkaian kejadian selanjutnya.10
Jadi bagian pendahuluan menyajikan situasi dasar yang harus
memungkinkan pembaca atau penonton memahami adegan-adegan
9
Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi, h. 146.
10
21
selanjutnya.11 Bagian pendahuluan menentukan daya tarik dan selera
pembaca atau penonton terhadap bagian-bagian berikutnya, maka penulis
harus menggarapnya dengan sungguh-sungguh secara seni. Bagian
pendahuluan harus merupakan seni tersendiri yang berusaha menjaring
minat dan perhatian pembaca atau penonton.
2. Alur Cerita Tengah
Bagian perkembangan adalah bagian batang tubuh yang utama dari
seluruh tindak-tanduk para tokoh. Bagian ini merupakan rangkaian dari
tahap-tahap yang membentuk seluruh proses narasi. Bagian ini mencakup
adegan-adegan yang berusaha meningkatkan ketegangan, atau
menggawatkan komplikasi yang berkembang dari situasi asli.12
Bagian tubuh cerita sudah melepaskan dirinya dari situasi umum
atau situasi awal, dan sudah mulai memasuki tahap konkritisasi.13
Konkritisasi diungkapkan dengan menguraikan secara terperinci peranan
semua sistem narasi, perbuatan atau tindak-tanduk tokoh-tokoh, interelasi
antara tokoh-tokoh dan tindakan mereka yang menimbulkan benturan
kepentingan. Konflik yang ada hanya dapat dimengerti dan dipahami
dengan baik, jika situasi awal dalam bagian pendahuluan sudah disajikan
secara jelas.
3. Alur Cerita Akhir
Akhir suatu cerita bukan hanya menjadi titik yang menjadi
pertanda berakhirnya suatu tindakan. Lebih tepat jika dikatakan, bahwa
11
Gill Branston and Roy Stafford, The Media Student’s Book, h.56.
12
Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi, h. 153.
13
akhir dari perbuatan merupakan titik di mana tenaga-tenaga atau
kekuatan-kekuatan yang diemban dalam situasi yang tercipta sejak semula
membersit keluar dan menemukan pemecahannya.14
Bila seorang pembuat film ingin membuat sebuah cerita, ia
menganggap bagian akhir cerita sebagai titik di mana perbuatan dan
tindak-tanduk dalam seluruh narasi itu memperoleh maknanya yang bulat
dan penuh.15 Bagian ini merupakan titik di mana para penonton terangsang
untuk melihat seluruh makna cerita. Bagian ini sekaligus merupakan titik
di mana struktur dan makna memperoleh fungsi sepenuhnya. Dengan kata
lain, bagian penutup merupakan titik di mana penonton sepenuhnya
merasa, bahwa struktur dan makna sebenarnya merupakan sistem dari
persoalan yang sama.
Nama teknis bagian terakhir dari suatu narasi disebut juga
peleraian atau denouement.16 Dalam bagian ini konflik akhirnya dapat
diatasi dan diselesaikan. Namun demikian tidak selalu terjadi, bahwa
bagian peleraian benar-benar memecahkan masalah yang dihadapi. Pada
bagian ini dalam pengertian alur, dalam peleraian tetap dicapai akhir dari
rangkaian tindakan. Bahwa akhir dari tindakan ini menjadi awal dari
persoalan berikutnya dan itu merupakan alur dari peristiwa berikutnya.
Secara sederhana, skema pembagian tiga waktu alur cerita dalam
narasi dapat digambarkan sebagai berikut:
14
Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi, h. 154.
15
Gill Branston and Roy Stafford, The Media Student’s Book, h. 56.
16
23
Skema 2.1
Skema pembagian tiga waktu dalam narasi
Ekuilibrium Kekacauan Ekuilibrium17
C. Konsen Tentang Film 1. Film
Film merupakan karya seni yang diproduksi secara kreatif dan
mengandung suatu nilai baik positif ataupun negatif, sehingga
mengandung suatu makna yang sempurna. Namun, terkadang makna yang
terkandung dalam film tersebut itu kurang disadari oleh para penonton
pada umumnya.
Makna yang terkandung dalam suatu film, kita dapat melihat dari
sistem-sistem pembentuk film itu sendiri. Seperti apa yang digambarkan
oleh Thompson dan Bordwell18 sebagai berikut:
Bagan 2.1
Sistem-sistem dalam film
Sumber: (Thompson and Bordwell, 2006:118).
17
Tony Thwaites, dkk, Introducing Cultural and Media Studies (Yogyakarta:Jalasutra, 2009), h. 184.
18
Bordwell, David and Thompson Kristin.Film Art an Introduction, Fourth Edition
(Singapore: McGraw-Hill Companies Inc, 2006), h. 118.
Bagan 2.1 di atas merupakan unsur-unsur pembentuk film yang
pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu sistem
formal dan sistem gaya (stylistic). Sistem formal mencakup film dalam
sistem naratif (cerita) dan non naratif (non cerita). Film naratif merupakan
kategori film yang memiliki rangkaian suatu sebab-akibat yang terjadi
dalam sewaktu-waktu. Kemudian, film non naratif, sebaliknya merupakan
kategori film yang tidak memiliki susunan cerita tertentu, seperti film
dokumentasi, film experimental, dan sebagainya. Namun, peneliti tidak
menggunakan unsur sistem non-naratif ini, karena film yang diteliti ini
adalah masuk kategori naratif. Suatu film, baik formal atau gaya biasanya
memiliki cerita dramatik, yaitu memiliki problem-problem yang kuat dan
menarik.19
Sistem gaya (stylistic) atau bisa disebut dengan unsur sinematis
terdiri atas empat macam sistem sinematis pembangun film, yakni mise
enscene, cinematography, editing, dan sound. Mise en scene merupakan
segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya
dalam sebuah produksi film. Mise en scene terdiri atas empat aspek utama
yaitu: Setting (latar), kostum dan tata rias wajah (make-up), pencahayaan
(lighting), dan pelakonan (acting).20
Cinematography merupakan hal-hal yang dilakukan para pekerja
film berkaitan dengan kamera dan stok roll film mereka. Dalam hal ini
bisa dikatakan para pekerja film menggambar apa yang terjadi di luar
19
Sumarno, Marseli. Dasar-Dasar Apresiasi Film (Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia, 2005), h. 48-49.
20
25
kamera menjadi sebuah satuan cerita secara utuh melalui alat kamera.
Cinematography terdiri atas aspek pengambilan gambar (shot), framing
setiap adegan, dan durasi (duration) adegan.21
Editing merupakan tahap pemilihan shot-shot yang telah diambil,
dipilih, diolah, dan dirangkai sehingga menjadi suatu film yang utuh.22
Dalam tahap editing, shot merupakan materi utama dalam proses editing.
Berdasarkan aspeknya, editing dibagi menjadi dua jenis yaitu: dialog,
musik, efek suara.
Sound merupakan aspek sinematis yang tidak kalah pentingnya
dengan aspek lain. Melalui sound adegan yang terekam dalam kamera
akan terasa lebih hidup dan nyata. Sound memiliki beberapa aspek yaitu:
dialog, musik, dan efek suara.23
Namun, peneliti tidak menggunakan sistem gaya (stylistic) dalam
penelitian ini sebagai alat analisis. Selain itu, dalam sistem gaya (stylistic)
peneliti merasa adanya keterbatasan untuk menganalisis sistem gaya ini.
Tidak hanya itu, hal ini dikarenakan dalam penelitian ini lebih kepada
bertuturnya, yakni naratif (cerita) seperti film fiksi dan non-naratif
21
Sumarno, Marseli. Dasar-Dasar Apresiasi Film, h. 168.
22
Pratista, Himawan, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), h. 123.
23
(non-cerita) seperti film documenter dan film eksperimental. Berikut
penjelasan jenis-jenis film:
1) Film Dokumenter, adalah film dengan penyajian fakta
berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi
yang nyata. Film documenter dapat digunakan untuk berbagai
macam maksud dan tujuan seperti informasi atau berita, biografi,
pengetahuan, pendidikan, sosial, politik (propaganda), dan
lain-lain.
2) Film Fiksi, adalah film yang menggunakan cerita rekaan di luar
kejadian nyata, terkait oleh plot, dan memiliki konsep pengadegan
yang telah dirancang sejak awal. Struktur cerita film juga terkait
hukum kausalitas. Cerita fiksi sering kali di angkat dari kejadian
nyata dengan beberapa cuplikan rekaman gambar dari peristiwa
aslinya (fiksi-dokumenter)
3) Film Eksperimental, adalah film yang berstruktur namun tidak
berplot. Film ini tidak bercerita tentang apapun (anti naratif) dan
semua adegannya menentang logika sebab akibat
(anti-rasionalitas).24 b. Klasifikasi film
Menurut Himawan pratista dalam buku Memahami Film,
metode yang paling mudah dan sering digunakan untuk
mengklasifikasi film adalah berdasarkan genre, yaitu klasifikasi dari
sekelompok film yang memilki karakter atau pola yang sama sebagai
24
Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. Ke-1,
27
berikut:
1) Drama
Drama ini merupakan tema yang mengetengahkan
aspek-aspek human interest, sehingga yang dituju adalah perasaan
penonton untuk dapat meresapi setiap kejadian yang menimpa
tokoh dalam adegan tersebut. Tema ini pula bisa dikaitkan
dengan latar belakang kejadiannya. Jika kejadiannya tersebut di
sekitar keluarga, maka disebut dengan drama keluarga.
2) Action
Pada istilah ini action seringkali berkaitan dengan adegan
berkelahi, bertengkar, dan tembak-menembak. Sehingga, tema ini
bisa dikatakan sebagai film yang berisi “pertarungan” atau
“perkelahian” fisik yang dilakukan oleh peran protagonis dengan
antagonis.
3) Komedi
Komedi ini merupakan tema yang sebaiknya bisa
dibedakan dengan lawakan.Sebab, jika dalam lawakan biasanya
yang berperan adalah para pelawak.Dalam komedi itu tidak
dilakonkan oleh para pelawak, melainkan pemain film biasa
saja.Inti dari tema komedi selalu menawarkan sesuatu yang
membuat penontonnya tersenyum bahkan tertawa
terbahak-bahak.Biasanya juga, film yang berkaitan dengan komedi ini
merupakan suatu sindiran pada fenomena sosial atau kejadian
4) Horor
Jika sebuah film menawarkan suasana yang menakutkan,
menyeramkan, dan membuat penontonnya merinding, itulah
yang disebut dengan film horor. Suasana horor dalam film itu
bisa dibuat dengan cara animasi, special effect, atau bisa
langsung diperankan oleh tokoh-tokoh dalam film tersebut.
5) Tragedi
Pada tema ini, tragedi menitikberatkan pada nasib
manusia. Jika sebuah film dengan akhir cerita sang tokoh selamat
dari kekerasan, perampokan atau bencana alam dan lainnya, bisa
disebut dengan tragedi.
6) Drama Action
Tema ini merupakan gabungan dari dua tema, yaitu:
drama dan action. Pada tema drama action ini biasanya
menyuguhkan suasana drama dan juga adegan-adegan berupa
“petengkaran fisik.” Untuk menandainya, dapat dilihat dengan
cara melihat alur cerita film. Biasanya film dimulai dengan
suasana drama, lalu setelah itu alur meluncur dengan
menyuguhkan suasana tegang, biasanya berupa
pertengkaran-pertengkaran.
7) Komedi tragis
Suasana komedi biasanya ditonjolkan terlebih dahulu,
29
yang dibangun memang getir, sehingga penonton terbawa dengan
emosinya dalam suasana tragis. Akan tetapi terbungkus dalam
suasana komedi.
8) Komedi horor
Komedi horor sama dengan seperti komedi tragis.
Suasana komedi horor juga merupakan gabungan antara tema
komedi dan horor. Biasanya film dengan tema ini menampilkan
film horor yang berkembang, kemudian diplesetkan menjadi
komedi.
9) Parodi
Tema parodi ini merupakan duplikasi dari tema film
tertentu. Tetapi diplesetkan, sehingga ketika film parodi
ditayangkan, para penonton akan melihat satu adegan film
tersebut dengan tersenyum dan tertawa. Penonton berbuat
demikian tidak sekedar karena film yang ditayangkan itu lucu,
tetapi karena adegan yang ditonton pernah mucul di film-film
sebelumnya. Tentunya para penikmat film parodi akan paham
kalau sering menonton film, sebab parodi selalu mengulang
adegan film yang lain dengan pendekatan komedi. Jadi, tema
parodi itu berdimensi duplikasi film yang sudah ada, kemudian
dikomedikan.
99 Cahaya di Langit Eropa menceritakan pengalaman
Bagaimana mereka beradaptasi, bertemu dengan berbagai sahabat
hingga akhirnya menuntun mereka kepada rahasia besar Islam di
benua Eropa.
Sebuah film yang diangkat dari novel laris karya Hanum
Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, film ini mengambil
lokasi di 4 negara yaitu di Vienna (Austria), Paris (Perancis),
Cordoba (Spanyol) dan Istanbul (Turki).
D. Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat
dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan terletak pada variasi
langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi manusia atau kelompok
sosial.25
Komunikasi antarbudaya merupakan interaksi antarpribadi dan
komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki
latar belakang kebudayaan yang berbeda. Akibatnya, interaksi dan komunikasi
yang sedang dilakukan itu membutuhkan tingkat keamanan dan sopan santun
tertentu, serta peramalan tentang sebuah atau lebih aspek tertentu terhadap
lawan bicara.26 Komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara
orang-orang dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang memiliki
kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda. Komunikasi
antarbudaya biasanya juga mencakup komunikasi antaragama.
25
Joseph A Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Tangerang: Karisma Publishing Group 2011), h. 531.
26
31
1. Pentingnya Komunikasi Antarbudaya
Kebudayaan adalah cara pandang seseorang mengenai nilai-nilai
yang ada pada suatu golongan sehingga akan diwariskan dari generasi ke
generasi berikutnya.27 Saat ini komunikasi antarbudaya semakin penting
dan semakin vital daripada di masa-masa sebelumnya. Menurut Joseph
Devito, beberapa faktor yang menyebabkan komunikasi antarbudaya ini
penting adalah:28
a. Mobilitas
Mobilitas masyarakat di seluruh dunia sekarang sedang
mencapai puncaknya. Perjalanan dari satu negara ke negara lain dan
dari satu benua ke benua lain banyak dilakukan. Saat ini orang sering
kali mengunjungi budaya-budaya lain untuk mengenal daerah baru dan
orang-orang yang berbeda serta untuk menggali peluang-peluang
ekonomis. Hubungan antarpribadi kita semakin menjadi hubungan
antarbudaya.
b. Saling Kebergantungan Ekonomi
Saat ini, kebanyakan negara bergantung pada negara lain secara
ekonomi. Hubungan ekonomi suatu negara bergantung pada
kemampuan suatu bangsa untuk berkomunikasi secara efektif dengan
kultur-kultur yang berbeda itu. Hal yang sama juga terjadi pada
bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia.
c. Teknologi Komunikasi
Adanya kemajuan teknologi komunikasi telah membawa kultur
27
Ilya Sunarwinadi, Komunikasi Antar Budaya (Jakarta:UI, ), h. 9.
28
luar yang adakalanya asing masuk ke kebudayaan kita. Film-film
impor yang ditayangnya di televisi telah membuat kita mengenal adat
kebiasaan dan riwayat bangsa-bangsa lain. Kita juga setiap hari
membaca di media-media berita tentang ketegangan rasial,
pertentangan agama, diskriminasi seks, dan secara umum,
masalah-masalah yang disebabkan kegagalan komunikasi antarbudaya.
d. Pola Imigrasi
Di hampir setiap kota besar di seluruh dunia kita menjumpai
orang-orang dari bangsa lain. Kita bergaul, bekerja, atau bersekolah
dengan orang-orang yang sangat berbeda dari kebudayaan
kita.Pengalaman sehari-hari itulah yang membuat kita telah menjadi
semakin terlibat dalam komunikasi antarbudaya.
e. Kesejahteraan Politik
Kesejahteraan politik suatu bangsa sekarang ini sangat
bergantung pada kesejahteraan politik kultur atau negara lain.
Komunikasi dan saling pengertian antarbudaya saat ini terasa lebih
penting daripada sebelumnya.29
E. Persepsi dan Budaya
Faktor-faktor internal bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah
satu aspek persepsi, tetapi juga mempengaruhi persepsi kita secara
keseluruhan, terutama penafsiran atas suatu rangsangan. Agama, ideologi,
tingkat intelektualitas, tingkat ekonomi, pekerjaan, dan cita rasa sebagai
29
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Tanggerang: KARISMA Publishing
33
faktor-faktor internal jelas mempengaruhi persepsi orang terhadap realitas.
Dengan demikian, persepsi itu terikat budaya (culture-bound).30
F. Bentuk-bentuk Komunikasi Antarbudaya
Istilah komunikasi antarbudaya secara luas untuk mencakup semua
bentuk komunikasi di antara orang-orang yang berasal dari kelompok yang
berbeda selain juga secara lebih sempit yang mencakup bidang komunikasi
antara kultur yang berbeda. Model komunikasi antarbudaya dapat
digambarkan dengan gambar berikut:
Skema 2.2
Model Komunikasi Antarbudaya dan Agama31
Pesan
Keterangan: S: Sumber P: Penerima
Dari gambar model gambar di atas, komunikasi antarbudaya mencakup semua
bentuk berikut:
1. Komunikasi antarwarganegara, misalnya, komunikasi antara orang Cina
dan Portugis, atau antara orang Prancis dengan orang Norwegia.
2. Komunikasi antarras yang berbeda (kadang-kadang dinamakan komunikasi
antarras), misalnya, komunikasi antara orang kulit hitam dan orang kulit
30
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: Rosda, 2008), h.
213214.
31
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia, h. 536.
putih.
3. Komunikasi antarkelompok etnis yang berbeda (kadang-kadang
dinamakan komunikasi antaretnis), misalnya, komunikasi antara orang AS
keturunan Italia dan orang AS keturunan Jerman.
4. Komunikasi antarkelompok agama yang berbeda, misalnya, antara orang
Katolik Roma dan Episkopal, atau antara orang Islam dan orang Yahudi.
5. Komunikasi antarbangsa yang berbeda (kadang-kadang dinamakan
komunikasi internasional), misalnya, komunikasi antara AS dan Meksiko,
atau antara Prancis dan Italia.
6. Komunikasi antarsubkultur berbeda, misalnya, komunikasi antara dokter
dan pengacara, atau antara tunanetra dan tunarungu.
7. Komunikasi antara suatu subkultur dengankultur yang dominan, misalnya,
komunikasi antara kaum homoseks dan kaum heteroseks, atau antara kaum
manula dan kaum muda.
8. Komunikasi antarjenis kelamin berbeda, misalnya, komunikasi antara pria
dan wanita.
Dari delapan bentuk aktor komunikasi antarbudaya dan agama karena
sesuai dengan objek penelitian penulis. Devito juga mengatakan bahwa
setidaknya ada lima bentuk dari delapan bentuk aktor komunikasi antarbudaya
dan agama yang dapat terjadi dalam hubungan antarbudaya dan agama.32
Dalam penelitian skripsi ini, peneliti hanya menggunakan lima bentuk
yaitu:
32
35
1. Komunikasi antarkelompok etnis yang berbeda.
2. Komunikasi antarkelompok agama yang berbeda.
3. Komunikasi antarsubkultur yang berbeda.
4. Komunikasi antara suatu subkultur dengan kultur yang dominan.
5. Komunikasi antarjenis kelamin yang berbeda.
G. Pelaku Kebudayaan
Di dalam film 99 Cahaya Di Langit Eropa terjadiinteraksi antara
orang-orang yang berbeda kebudayaan dan berbeda agama. Orang-orang yang
berinteraksi tersebut disebut juga sebagai pelaku kebudayaan. Terjadi
hubungan komunikasi antara para tokoh yang memiliki agama dan latar
belakang budaya yang berbeda. Agama-agama yang saling berinteraksi itu
adalah Islam, Kristen Katolik, dan Hindu. Sedangkan kebudayaan yang saling
berinteraksi dalam film ini adalah budaya timur (Indonesia) dan barat (Eropa).
Kedua budaya ini yang paling sering muncul dalam film ini. Peneliti akan
menjelaskan unsur agama dan budaya tersebut sebagai berikut:
H. Hubungan Antaragama 1. Islam
Secara bahasa, Islam berarti damai dan tunduk.33 Yang dimaksud
damai adalah kedamaian dengan alam sekitar sebagai makhluk Allah dan
yang dimaksud dengan tunduk adalah tunduk hanya kepada Allah
33
Hasbullah Bakry, Ilmu Perbandingan Agama (Jakarta: PT. Bumi Restu, 1986), h.
SWT.Al-qur’an adalah kitab suci agama Islam. Secara garis besar isi
seluruh Al-qur’an dapat dibagi dalam dua tugas pokok, yakni:
a. Bagaimana berdamai dengan sesama manusia dan alam sekitar.
b. Bagaimana beriman (tunduk) yang benar kepada Allah.
Setiap pemeluk agama Islam wajib mengetahui dan mempercayai
enam perkara, yaitu:
a. Percaya kepada Allah, Tuhan yang menciptakan.
b. Percaya kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi yang diutus Allah.
c. Percaya kepada para Malaikat Allah.
d. Percaya adanya (kiamat) Hari Akhirat.
e. Percaya adanya Kitab-kitab suci Allah.
f. Percaya kepada Takdir baik dan buruk Allah.
2. Kristen Katolik
Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada
ajaran, hidup, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa
Almasih.Agama ini meyakini Yesus Kristus sebagai anak Tuhan.Mereka
beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Agama Kristen
dalam garis besar dibagi menjadi dua, yaitu: Kristen Katolik dan Kristen
Protestan. Karena dalam film 99 Cahaya Di Langit Eropapelaku
kebudayaannya beragama Kristen Katolik, maka penulis akan merinci
beberapa ajaran pokok Kristen Katolik, yaitu:34
a. Menganggap bahwa Paus dan pendeta berhak menerima penebusan
34
Bs. Mariatmaja SJ, Teologi Katolik, Http://id.m.wikipedia.org/wiki/Teologikatolik .
37
dosa dengan pembayaran yang disukainya.
b. Melarang pendeta-pendetanya menikah.
c. Mengorganisir gereja Katolik dan semua penganutnya tunduk kepada
seorang Paus di Roma.
Terdapat perbedaan antara orang biasa dan pendeta-pendeta dalam
perjamuan suci.
3. Hindu
Dalam agama Hindu terdapat lima keyakinan dan kepercayaan
yang disebut dengan Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan
dasar umat Hindu. Kelima keyakinan itu adalah:35
a. Widhi Tattwa yaitu percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala
]aspeknya.
b. Atma Tattwa yaitu percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk.
c. Karmaphala Tattwa yaitu percaya dengan adanya hukum sebab akibat
dalam setiap perbuatan.
d. Punarbhava Tattwa yaitu percaya dengan adanya proses kelahiran kembali
(reinkarnasi).
e. Moksa Tattwa yaitu percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan
tujuan akhir manusia
35
I Gusti Putu Phalgunadi, “Evolusi Agama Hindu dan Budayanya,”
38 A. Film 99 Cahaya di Langit Eropa
Berawal dari Vienna (Austria), Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga
(Abimana Aryasatya) memulai kisahnya. Rangga yang saat itu menempuh
kuliah doktor di WU Vienna dan Hanum yang dulunya bekerja di bidang
jurnalistik mendampingi sang suami selama di Eropa. Mereka sangat sulit
hidup di Eropa apalagi dengan status mereka sebagai muslim. Rangga
kesulitan mencari makanan yang halal dan kesulitan mencari tempat sholat di
kampusnya. Sedangkan Hanum mengalami kesulitan mencari pekerjaan
karena kurang fasih berbahasa Jerman.
Hanum menemukan harapannya setelah melihat sebuah poster kursus
berbahasa Jerman gratis. Saat mengikuti kursus tersebut, Hanum bertemu
dengan Fatma (Raline Shah), seorang muslimah Turki yang berkerudung.
Mereka pun akhirnya bersahabat. Fatma mengajak Hanum ke sekolah
anaknya, Ayse (Geccha Tavvara). Di sana Hanum bertemu dengan Ayse. Ayse
sempat bertanya kepada Fatma “Tante Hanum muslim ya? Tapi kok Tante
Hanum tidak berkerudung seperti kita?” pertanyaan seorang bocah seperti
Ayse cukup menusuk apalagi untuk Hanum.Namun, Fatma dengan cerdasnya
berkilah “Tante Hanum sakit kepala, jadi dia tidak berkerudung?” Lalu
Hanum menjawab “Iya, tante sakit kepala”.Ayse pun berceloteh lagi “Kalau
sakit kepala hilang, janjinya ya Tante Hanum pake kerudung?” Adegan ini
39
kepada penontonnya tentang urgensi berkerudung (hijab). Adegan ini tidak
menggurui karena diucapkan secara spontan oleh bocah kecil.
Sebenarnya, Ayse sering di-bully teman-temannya terutama Leon di
sekolah. Kerudung adalah penyebab utamanya. Karena terlalu sering di-bully,
Guru Ayse sempat membujuk Ayse untuk membuka kerudungnya.Namun,
Ayse tetap tidak mau membuka kerudungnya.Hanum, Fatma, dan Ayse makan
di sebuah cafe. Ada kejadian menarik di sini.Hanum bercerita tentang
masalahnya yang berat selama di Vienna. Ayse bercelutuk dengan polosnya.
Celutukan Ayse sederhana tapi maknanya sangat dalam.“hai masalah besar,
aku punya Allah yanga lebih besar (Asye)”
Tatkala di cafe tersebut, Fatma bercerita tentang asal mula cappuccino.
Ternyata Cappucino tersebut berasal dari negara Turki. Tak lama setelah
menceritakan cappuccino, Hanum menguping di balik pintu tempat duduknya.
Saat itu, dua pria bule berceloteh saat makan roti Croissant. Si bule bercerita
kepada temannya bahwa roti Croissant bentuknya seperti bendera Turki.
Berdasarkan sejarahnya, pasukan Eropa pernah mengalahkan pasukan Muslim
Turki. Karena masyarakat Eropa masih dendam dengan masyarakat Turki,
maka masyarakat Eropa membuat roti Croissant berbentuk bulan sabit untuk
dimakan bukan untuk dihormati.
Hanum langsung naik pitam mendengar percakapan bule tersebut. Dia
melarang Fatma dan Ayse memakan roti Croissant. Namun, Fatma malah
memanggil pelayan untuk membayar kedua bule dan menulis sepucuk surat
menulis sesuatu yang membuat Hanum terkesan.“Saya agen muslim dan
sebagai muslim ingin membawa kedamaian (Fatma)”.
Melalui cerita Hanum, penonton diajak melihat keindahan benua
Eropa. Hanum diajak Fatma dan Ayse ke situs dan sejarah Islam di Vienna.
Sungai Danube merupakan objek pertama yang mereka kunjungi. Sungai
tersebut sangat bersih dan asri.Di sudut sungai tersebut, Kita dapat melihat
Bukit Kahlenberg. Bukit Kahlenberg merupakan tempat pasukan Turki yang
dipimpin Kara Mustafa Pasha sehingga pasukan Turki terusir dari tentara
Jerman dan Polandia. Ayse sangat senang di Bukit tersebut. Dia meminjam
kamera Hanum untuk mengabadikan pemandangan indah di sana. Museum
Wien Stadt merupakan objek berikutnya. Museum tersebut memiliki benda
bersejarah negara Austria. Dalam museum tersebut, Fatma sempat menangis
karena melihat foto Kara Mustafa Pasha yang masih memiliki hubungan darah
dengannya. Kara Mustafa dianggap sebagai panglima perang yang menyerang
Austria yang mengakibatkan kerugian dan kematian. Sebelum meninggalkan
museum tersebut, Fatma sempat berkata kepada Hanum "ayo kita pergi, kita
tinggalkan kara Mustafa di sini agar menyesali kesalahannya". Selain objek
wisata di Vienna, Fatma juga mengajak Hanum mengunjungi rumahnya. Di
rumah Fatma, Hanum bertemu dengan sahabat Fatma yaitu Latife (Dian
Pelangi) dan Ezra (Hanum Salsabiela Rais). Hanum diajak untuk menjalankan
misi agen muslim bersama Fatma, Latife, dan Ezra. Hanum diajak menjadi pengajar untuk anak-anak kecil yang muallaf. Fatma mengajak Hanum karena