TUGAS AKHIR
Oleh :
RIZKI DWI SATRIO 2013 301 0009
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK
vii
3.1 Perancangan Perangkat Keras ... 16
3.1.1 Blok Diagram ... 16
3.1.2 Diagram Mekanis Sistem ... 17
3.1.3 Rangkaian Power Supply ... 18
3.1.5 Rangkaian Minimum Sistem ... 20
3.2 Perancangan Perangkat Lunak ... 22
viii
3.3.3 Sistematika Pengukuran ... 27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29
4.1 Pengujian Timer ... 29
4.1.1 Pengukuran Timer Pada Saat Waktu 5 menit ... 29
4.1.2 Pengukuran Timer Pada Saat Waktu 10 menit ... 32
4.1.3 Pengukuran Timer Pada Saat Waktu 15 menit ... 35
4.2 Pembahasan ... 38
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 39
5.1 Kesimpulan ... 39
5.2 Saran ... 39
pernapasan/gangguan pada pernapasan menggunakan motor AC. Alat ini
dilengkapi dengan kontrol timer. Pemilihan timer yang digunakan yaitu 5, 10, 15
menit; dimana angka tersebut merupakan ambang batas yang sesuai dengan
volume cairan obat.
Prinsip kerjanya, saat alat ini dinyalakan akan langsung memasuki
pemilihan timer 5, 10, 15 menit; tergantung seberapa banyak volume cairan.
Setelah pemilihan waktu, tekan tombol enter untuk menghidupkan motor.
Kemudian IC mikrokontrolerakanmemberikanlogika yang akanmengaktifkan
driver motor sehingga motor akanbekerja. Setelah waktu selesai maka motor
akan berhenti.
Alat ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif yang efisien bagi penderita
gangguan pernapasan, dengan menggunakan alat ini lebih efisien dalam hal
waktu, tenaga serta dapat diiringi dengan kegiatan lain.
disorders using AC motors. This tool is equipped with a timer control. Timer used
are 5, 10, and 15 minutes; which is the threshold in accordance with the volume
of liquid medicine.
How this device works is when it is turned on, the device will directly enter
the election timer 5, 10, or 15 minutes; depending on how much the fluid volume.
After choosing the time, press enter button for turning on the motor. Then
Microcontroller IC will provide a logic that will activate the motor driver so that
the motor will be work. The motor will be stop after the time is up.
This tool can be used as an efficient alternative for patients
with respiratory disorders, by using this tool is more efficient in terms of time,
effort and can be accompanied by other activities.
1 1.1 Latar Belakang
Menurut Abde (2012) Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Pemberian uap atau kabut sangat bermanfaat bagi pasien atau penderita pada gangguan pernafasan.
Menurut Bidan Esi (2014) Sejak ditemukannya nebulizer pada tahun 1859 di perancis, nebulizer pilihan terbaik pada kasus yang berhubungan dengan masalah inhalasi pada penderita asma. Pada alat ini sangat jelas kekurangannya yaitu untuk proses nebul/pengkabutan masih sangat sederhana belum menggunakan listrik dan penggunaanya seperti pompa sepeda.
Dalam perkembangan teknologi yang ada mulai diciptakannya compressor nebulizer dengan menggunakan motor, sehingga dalam proses pangkabutan lebih efisien. Walaupun nebulizer tersebut sudah menggunakan motor, namun belum dilengkapi dengan pengatur waktu.
waktunya. Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka di tugas akhir ini akan dibuat alat compressor nebulizer menggunakan timer berbasis microcontroller ATMega8.
1.2 Rumusan Masalah
Belum ada alat compressor nebulizer menggunakan pengaturan timer. 1.3 Batasan Masalah
Pada perancangan modul ini, penulis membatasi bagian-bagian yang berkaitan dengan nebulizer. Adapun batasan-batasan tersebut:
1. Pembuatan alat menggunakan ATMega8. 2. Menggunakan LCD sebagai tampilan.
3. Terdapat pengaturan timer yaitu 5, 10 dan 15 menit. 1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Dibuatnya alat compressor nebulizer menggunakan timer. 1.4.2 Tujuan Khusus
1. Membuat rangkaian microcontroller. 2. Membuat program timer.
3. Membuat tampilan pada LCD. 4. Menguji rangkaian keseluruhan. 1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis
2. Pengembangan timer dalam proses pemberian obat dengan sistem uap. 1.5.2 Manfaat Praktis
1. Mempermudah pengobatan bagi penderita gangguan pernafasan. 2. Dengan adanya alat ini proses pemberian obat dengan sistem uap
4
2.1.1 Terapi Inhalasi
Terapi inhalasi adalah pemberian obat yang dilakukan secara inhalasi (hirupan) ke dalam saluran respiratorik atau saluran pernapasan. Menurut Nanda Yudip (2012) Pengguna terapi inhalasi sangat luas di bidang respirologi (ilmu yang mempelajari tentang pernapasan) atau respiratory medicine. Terapi inhalasi sebenarnya sudah dikenal lama dan dilakukan manusia sejak lama. Prinsip dasar terapi inhalasi adalah menciptakan partikel kecil aerasol (respirable aerasol) yang dapat mencapai sasarannya, tergantung tujuan terapi melalui proses hirupan (inhalasi). Sasaran meliputi seluruh bagian dari sistem respiratorik, mulai dari hidung, trakea, bronkus, hingga saluran terkecil (bronkiolus), bahkan bisa mencapai alveolus. Aerasol adalah dispersi dari partikel kecil cair atau padat dalam bentuk uap/kabut yang dihasilkan melalui tekanan atau tenaga dari hirupan napas.
Jenis terapi inhalasi sendiri ada beberapa macam. Beberapa dari yang di kenal dalam praktek klinis sehari-hari adalah;
1. Nebulizer.
Sebelumnya sudah ada compressor nebulizer manual, namun compressor nebulizer manual ini untuk mematikan motor yg ada pada compressor nebulizer masih secara manual. Beberapa orang yang telah meneliti tentang nebulizer, salah satunya adalah Modifikasi Alat Nebulizer Compressor Type KQW-4A Menggunakan Microcontroller ATMega 328 oleh Yudhistira, Teknik Elektromedik, Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta. Kelebihan yang ada pada alat yang saya buat adalah sudah ada pengaturan timer sehingga alat dapat bekerja secara otomatis. Menurut Yudhistira (2015) Kekurangan yang ada pada alat yang saya buat adalah masih perlunya rangkaian downloader.
2.1.2 Prinsip Dasar Compressor Nebulizer
cukup lama dan butuh penjagaan karena pesawat nebulizer masih menggunakan sistem manual. Untuk itu penulis mencoba membuat alat compressor nebulizer dilengkapi dengan timer.
Berdasarkan sistemnya , nebulizer terbagi menjadi 2 macam yaitu : 1. Compressor Nebulizer
Compressor Nebulizer ini menggunakan compressor (tekanan udara) untuk mengkompresi udara dengan tekanan tinggi untuk mengubah obat cair menjadi aerasol (campuran gas dan partikel air) yang kemudian dihirup oleh pasien.
2. Ultrasonic Nebulizer
Ultrasonic Nebulizer menggunakan piezoelektrik untuk memecah cairan obat menjadi kabut yang dikontrol oleh rangkaian oscilator untuk mengatur dosis kabut sesuai kebutuhan.
2.2 Motor AC
Prinsip-prinsip operasi motor induksi : Rotasi medan magnet dapat dialirkan dengan sistem kutub utara dan kutub utara dan kutub selatan dengan stator sebagai titik pusat. Rotasi dari medan magnet bergerak mendahului konduktor rotor pada saat n (Rps). Menurut hukum Faraday tentang induksi elektromagnetik, e.m.f diinduksi pada kumparan rotor dan kemudian arus akan mulai mengalir pada kumparan rotor kecepatan motor dari rotor lebih kecil dari kecepatan sinkron dari medan stator. Menurut Prof. Dr. Zuhal M.Sc.EE (2004) Kecepatan sinkron sampai rotor akan digerakan sebab rotor tidak dapat dengan sendirinya berputar kecepatannya melebihi sinkron seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Motor AC. 2.3 ATMega8
daya rendah ini mampu mengeksekusi instruksi dengan kecepatan maksimum 16MHz. Menurut Aries (2015) Jika dibandingkan dengan ATMega8L perbedaannya hanya terletak pada besarnya tegangan yang diperlukan untuk bekerja.
ATMega8 memiliki 28 Pin, yang masing-masing nya memiliki fungsi yang berbeda-beda baik segi port maupun fungsi yang lainnya. Menurut Ardi Winoto (2008) ATMega8 tidak mempunyai portA sehingga pakai port yang lain. ATMega8 dapat dilihat seperti pada Gambar 2.2.
Gambar 2.3 Konfigrasi Pin ATMega8.
Berikut ini adalah susunan pin/kaki dari ATmega8
1. VCC adalah merupakan pin masukan positif catu daya.
2. GND sebagai pin Ground.
3. PORT B (B.0-B.5) merupakan I/O dua arah dan pin fungsi khusus
yaituTimer/Counter, dan SPI.
Fungsi lain dari PORT B dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Fungsi Alternatif PORT B
Port Pin
Fungsi Alternatif
Tabel 2.1 Fungsi Alternatif PORT B (lanjutan).
PB6 XTAL1 (Chip Clock Oscillator pin 1 or External Clock Input)
TOSC1 (Timer Oscillator pin 1) PB5 SCK (SPI Bus Master Clock Input)
PB4 MISO (SPI Bus Master Input/Slave Output) PB3 MOSI (SPI Bus Master Output/Slave Input)
OC2 (Timer/Counter2 Output Compare Match Output) PB2 SS (SPI Bus Master Slave Select)
OCIB (Timer/Counter1 Output Compare Match B Output) PB1 OC1A (Timer/Counter1 Output Cmpare Match A Output) PB0 ICP1 (Timer/Counter1 Input Capture pin)
4. PORT C (C.0-C.6) merupakan pin I/O dua arah dan dapat di program sebagai pin ADC.
Fungsi lain dari PORT C dapat dilihat pada Tabel 2.2. Tabel 2.2 Fungsi Alternatif PORT C.
Port Pin
Fungsi Alternatif
PC 6 RESET (Rest Pin)
PC 5 ADC5 (ADC Input Channel 5)
SCL (Two-wire Serial Bus Clock Line) PC 4 ADC4 (ADC Input Channel 4)
SDA (Two-wire Serial Bus Data Input/Output Line) PC 3 ADC3 (ADC Input Channel 3)
5. PORT D (D.0-D.4) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus yaitu interupsi eksternal dan komunikasi serial.
Fungsi lain dari PORTD dapat dilihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.3 Fungsi Alternatif PORT D.
Port Pin
Fungsi Alternatif
PD7 AIN1 (Analaog Comparator Negative Input) PD6 AIN0 (Analaog Comparator Negative Input) PD5 T1 (Timer/Counter 1 External Counterl Input) PD4 XCK (USART External Clock Input/Output)
T0 (Timer/Counter 0 External Counter Input) PD3 INT1 (External Interrupt 1 Input)
PD2 INT0 (External Interrupt 0 Input) PD1 TXD (USART Output pin)
PD0 RXD (USART Input pin)
6. Reset merupakan pin yang digunakan untuk me-reset microcontroller.
7. XTAL1 dan XTAL2 sebagai pin masukan clock eksternal. Suatu microcontroller membutuhkan sumber detak (clock) agar dapat mengeksekusi intruksi yang ada di memori. Semakin tinggi kristalnya, semakin cepat kerja microcontroller tersebut.
8. AVCC sebagai pin suplay tegangan untuk ADC.
2.4 LCD (Liquid Cristal Display)
LCD adalah salah satu jenis teknologi yang telah ada sejak tahun 1888. Menurut Rida (215) LCD merupakan layar digital yang dapat menampilkan nilai yang dihasilkan oleh sensor dan dapat menampilkan menu yang terdapat pada aplikasi yang bernama microcontroller dan juga dapat menampilkan teks.
Rangkaian LCD pada umumnya di buat dengan menggunakan sistem komunikasi jenis paralel. Dalam hal ini tentunya akan banyak port microcontroller yang dibutuhkan pada saat menggunakan LCD. Untuk dapat mengkover segala jenis komunikasi atau semua sistem yang akan saling terhubung dengan microcontroller memerlukan penghematan port microcontroller. Ada beberapa bagian dari rangkaian LCD yang sangat berfungsi. LCD dapat dilihat pada Gambar 2.4.
Bagian tersebut yaitu ada clock yang merupakan masukan clock yang berasal dari microcontroller, kemudian ada data yang digunakan untuk memasukan data tampilan pada LCD. Enable juga merupakan selector mode untuk membaca data LCD atau disable, led berfungsi sebagai jalur yang dapat mengendalikan background LCD dan yang terakhir ada potensiometer yang memiliki fungsi untuk mengatur tingkat kecerahan yang terdapat pada LCD. Untuk dapat mengendalikan LCD yang menggunakan rangkaian membutuhkan 4 portmicrocontroller.
2.5 SSR (Solid State Relay)
oleh solid state relay bila dibanding relay elektromekanik. SSR dapat dilihat di Gambar 2.5.
Gambar 2.5 SSR.
Solid state relay itu juga berarti relay yang tidak mempunyai bagian yang bergerak sehingga tidak terjadi aus. Solid state relay juga mampu menghidupkan dan mematikan dengan waktu yang jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan relay elektromekanik. Juga tidak ada pemicu percikan api antar kontak sehingga tidak ada masalah korosi kontak. Namun solid state relay masih terlalu mahal untuk dibuat dengan rating arus yang sangat tinggi. Sehingga, kontaktor elektromekanik atau relay konvensional masih terus mendominasi aplikasi-aplikasi di industri saat ini.
membuka sirkuit AC hanya pada titik nol arus beban. Karena SCR dan TRIAC adalah thyristor, dengan sifat hysteresisnya mereka mempertahankan kontinuitas sirkuit setelah LED de-energized sampai saat AC turun dibawah nilai ambang batas (holding current). Secara praktis apa artinya semua ini, artinya adalah rangkaian tidak akan pernah terputus ditengah-tengah puncak gelombang sinus. Waktu pemutusan seperti yang ada dalam rangkaian yang mengandung induktansi besar biasanya akan menghasilkan lonjakan tegangan besar karena runtuhnya medan magnet secara tiba-tiba di sekitar induktansi. Hal seperti ini tidak akan terjadi saat pemutusan dilakukan oleh sebuah SCR atau TRIAC. Kelebihan fitur ini disebut zero-crossover switching.
16 3.1 Perancangan Perangkat Keras
3.1.1 Blok Diagram
Diagram blok dari compressor nebulizer menggunakan timer berbasis microcontroller ATMega8 dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1Blok Diagram.
Tombol Up/Down digunkan untuk pemilihan timer. Tombol Enter digunakan untuk mengeksekusi program yang telah dipilih melalui tombol up/down. Reset digunakan untuk membalikan program ke awal, mulai dari inisialisasi LCD. LCD sebagai tampilan. Microcontroller akan mengeluarkan logika 0 atau 1 dan mengumpankannya pada driver. Logika 0 dan 1 dari microcontroller mengatur aktif dan tidaknya driver.
Ketika Driver aktif maka motor bekerja. Ketika motor bekerja, proses pengkabutan dimulai.
3.1.2 Diagram Mekanis Sistem
Diagram mekanis sistem dari compressor nebulizer menggunakan timer berbasis microcontroller ATMega8 dilengkapi dengan pengatur waktu dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Diagram Mekanis Sistem. Keterangan :
1. LCD : sebagai tampilan suatu data baik karakter ataupun huruf.
2. Reset : untuk mereset atau membalikan ke posisi awal. 3. Start : untuk memulai proses.
4. Down : untuk pemilihan waktu. 5. Up : untuk pemilhan waktu.
7. Masker : tempat pengguna menghirup obat yg telah dirubah menjadi kabut.
3.1.3 Rangkaian Power Supply
Rangkaian power supply pada modul ini brfungsi sebagai supply tegangan ke semua rangkaian yang menggunakan tegangan DC. Prinsip kerja power supply adalah merubah tegangan AC menjadi tegangan DC. Skematik power supply dapat dilihat di Gambar 3.3 dan layout power supply dapat dilihat di Gambar 3.4.
Perhitungan untuk pemilihan nilai resistor :
Gambar 3.4 Layout Power Supply.
3.1.4 Rangkaian Minimum Sistem
Minimum sistem berfungsi sebagai kontrol kerja atau otak dari alat secara keseluruhan. Cara kerja rangkaian minimum sistem ini dengan memanfaatkan kapasitas penyimpanan yang dimiliki oleh IC ATMega8. Skematik minimum sistem dapat dilihat di Gambar 3.4 dan layout minimum sistem dapat dilihat di Gambar 3.5.
3.2 Perancangan perangkat lunak
3.2.1 Diagram Alir
Diagram alir atau flowchart dari compressor nebulizer dapat dilihat pada Gambar 3.7.
No
Yes
Gambar 3.7Diagram Alir Proses.
Pertama hidupkan alat, setelah itu lakukan pengaturan pada timer untuk mengatur waktu sesuai dengan kebutuhan. Jika timer sudah di setting maka motor akan bekerja secara otomatis, kemudian proses
Pengaturan Waktu BEGIN
Waktu Tercapai
END
nebul/pengkabutan berjalan, setelah waktu tercapai maka motor akan kembali mati atau berhenti bekerja.
3.2.2 Program Utama
Untuk pembuatan program pada modul ini menggunakan aplikasi AVR dengan bahasa C. Program yang digunakan ialah program timer sebagai pengontrol waktunya(Iswanto dan Raharja, 2015). Berikut adalah program yang digunakan :
Listing program timer diperlihatkan pada Listing 3.1.
Listing 3.1 Program Timer.
void set_timer()
{
if(PINB.0==0)
{menit=menit+5;if(menit>15){menit=0;}delay_ms(150);}
else if(PINB.1==0)
{menit=menit-5;if(menit<0){menit=0;}delay_ms(150); }
Listing program untuk menampilkan timer diperlihatkan pada Listing 3.2.
Listing 3.2 Program Untuk Menampilkan Timer.
void tampilkan_timer()
{
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_putsf("TIMER:");
if(menit<10)
{
lcd_gotoxy(6,0);
lcd_putsf("0");
lcd_gotoxy(7,0);
itoa(menit,temp);
lcd_puts(temp);}
else
{
lcd_gotoxy(6,0);
itoa(menit,temp);
lcd_puts(temp);}
Listing program untuk menampilkan timer diperlihatkan pada Listing 3.2 (lanjutan).
{
lcd_gotoxy(9,0);
lcd_putsf("0");
lcd_gotoxy(10,0);
itoa(detik,temp);
lcd_puts(temp);}
else
{
lcd_gotoxy(9,0);
itoa(detik,temp);
lcd_puts(temp);}
lcd_gotoxy(8,0);
lcd_putsf(":");
Listing 3.2 Program Untuk Menampilkan Timer.
3.3 Perancangan Pengujian 3.3.1 Jenis Pengujian
1. Mengukur waktu nebulizer dengan menggunakan stopwatch.
2. Uji alat dengan praktek ke user.
3.3.2. Pengolahan Data
Jenis penelitian ini menggunakan metode Pre Eksperimental dengan jenis “One group Post Test Design” yaitu alat compressor nebulizer ini bekerja dengan timer yang di atur kemudian motor akan berhenti apabila waktu telah tercapai kemudian proses selesai. Sehingga penulis hanya melihat hasil tanpa mengukur keadaan sebelumnya.
Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas
Sebagai variabel bebas yaitu daya nebul/pengkabutan. 2. Variabel Tergantung
Sebagai variabel tergantung yaitu pengontrol timer. 3. Variabel Terkendali
3.3.3 Sistematika Pengukuran 1. Rata-rata Pengukuran
Rata-rata pengukuran dalah nilai atau hasil pembagian dari jumlah data yang diambil atau diukur dengan banyaknya pengambilan data atau banyaknya pengukuran dirumuskan sebagai berikut :
∑ (1)
dengan :
̅ = Rata – rata
∑ = Jumlah sebanyak
= Banyak data 2. Simpangan (Error)
Simpangan adalah selisih dari rata-rata nilai dari harga yang dikehendaki dengan nilai yang diukur dirumuskan sebagai berikut :
̅ (2)
dengan :
3. Persentase Error
Persentase error dalah nilai persen dari simpangan (Error) terhadap nilai yang dikehendaki dirumuskan sebagai berikut :
(3)
dengan :
4. Standard Deviasi (SD)
Standard deviasi dalah suatu nilai yang menunjukkan tingkat v(derajat) variasi kelompok data atau ukuran standard penyimpanan dari rata-ratanya. Jika standard deviasi semakin kecil maka data tersebut semakin presesi dirumuskan sebagai berikut :
√∑ ̅ ̅ ̅ (4)
dengan :
= Standar deviasi
29
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengujian Tegangan
4.1.1 Pengukuran Timer Dengan Waktu 5 menit
Pengujian pertama dilakukan dengan mengukur waktu compressor nebulizer menggunakan stopwatch pada saat waktu 5 menit. Tabel 4.1 menunjukkan hasil pengukuran waktu yang dilakukan dalam 30 kali percobaan.
Tabel 4.1 Pengukuran Waktu Pada Saat 5 menit (lanjutan).
4.1.2 Pengukuran Timer Dengan Waktu 10 menit
Pengujian kedua dilakukan dengan mengukur waktu compressor nebulizer menggunakan stopwatch pada saat waktu 10 menit. Tabel 4.2 menunjukkan hasil pengukuran waktu yang dilakukan dalam 30 kali percobaan.
Tabel 4.2 Pengukuran Waktu Pada Saat 10 menit (lanjutan).
4.1.3 Pengukuran Timer Dengan Waktu 15 menit
Pengujian ketiga dilakukan dengan mengukur waktu compressor nebulizer menggunakan stopwatch pada saat waktu 15 menit. Tabel 4.3 menunjukkan hasil pengukuran waktu yang dilakukan dalam 30 kali percobaan.
Tabel 4.3 Pengukuran Waktu Pada Saat 15 menit (lanjutan).
4.2 Pembahasan
Berdasarkan pengambilan data yang telah dilakukan pengukuran waktu pada compressor nebulizer didapatkan beberapa hasil pengukuran. Untuk pengambilan data waktu 5 menit diperoleh rata-rata 5,009 sehingga terdapat penyimpangan 0,001 dan error 0,003% sedangkan standart penyimpangan yang dihasilkan yaitu sebesar 0,03. Sedangkan untuk pengambilan data waktu 10 menit diperoleh rata-rata 10.00 sehingga terdapat penyimpangan 0,01 dan error 0,0003% sedangkan standart penyimpangan yang dihasilkan yaitu sebesar 0,003. Dan untuk pengambilan data waktu 15 menit diperoleh rata-rata 15.00 sehingga terdapat penyimpangan 0,01 dan error 0,0003% sedangkan standart penyimpangan yang dihasilkan yaitu sebesar 0,04.
39
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan proses pembuatan, percobaan, pengujian alat dan pendataan, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Dari hasil pengukuran waktu di dapatkan kesalahan nilai error untuk waktu pengkabutan 5 menit adalah 0,003%, untuk waktu 10 menit didapatkan nilai error 0,0003%, sedangkan untuk waktu 15 menit disimpulkan memiliki hasil tingkat kesalahan error sebesar 0,0003%. Jadi berdasarkan hasil pengukuran dan kesalahan nilai error dapat disimpulkan bahwa, modul yang dibuat dapat bekerja dengan baik dan bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu penderita yang mempunyai gangguan pada pernafasan.
2. Compressor nebulizer menggunakan timer berbasis
MicrocontrollerATMega8 ini dapat memberikan kemudahan dalam pengkabutan secara elektrik khususnya untuk penderita asma.
5.2 Saran
Setelah melakukan proses pembuatan, percobaan, pengujian alat dan pendataan, penulis memberikan saran sebagai pengembangan peneliti selanjutnya sebagai berikut :
2. Pembuatan modul dapat dikembangkan menjadi portable dan dapat digunakan dimana saja.
41
Delapan Ruangan), pp.153–159.
Ardi Winoto. 2008. Mikrokontroler AVR ATMega8/32/16/8535 dan
Pemrograman Dengan Bahasa C dan WinAVR. Cirebon : Informatika Chamim, A.N.N., Ahmadi, D. & Iswanto, 2016. Atmega16 Implementation As
Indicators Of Maximum Speed. International Journal of Applied Engineering Research ISSN, 11(15), pp.8432–8435.
Chamim, A.N.N. & Iswanto, 2011. Implementasi Mikrokontroler Untuk Pengendalian Lampu Dengan Sms. In Prosending Retii 6.
Frank D. Petruzella. 2001. Elektronik Industri. Yogyakarta : Andi
Hidayat, L., Iswanto & Muhammad, H., 2015. Perancangan Robot Pemadam Api Divisi Senior Berkaki. Jurnal Semesta Teknika, 14(2), pp.112–116.
Iswanto, 2008. Design dan Implementasi Sistem Embedded Mikrokontroler ATMEGA8535 dengan Bahasa Basic, Yogyakarta: Gava Media.
Iswanto, I. & Raharja, N.M., 2010. Sistem monitoring dan peringatan dini tanah longsor. In Simposium Nasional RAPI IX 2010. pp. 54–62.
Iswanto, I., Raharja, N.M. & Subardono, A., 2009. Sistem Peringatan Dini Tanah Longsor Berbasis Atmega8535. In Seminar Nasional Informatika 2009 (semnasIF 2009). pp. 53–57.
Iswanto, I. & Setiawan, R.D., 2013. Power Saver with PIR Sensor. Journal of Control & Instrumentation, 4(3), pp.26–34.
ISWANTO, JAMAL, A. & SETIADY, F., 2011. Implementasi Telepon Seluler sebagai Kendali Lampu Jarak Jauh. Jurnal Ilmiah Semesta Teknika, 14(1), pp.81–85.
ISWANTO & MUHAMMAD, H., 2012. WEATHER MONITORING STATION WITH REMOTE RADIO FREQUENCY WIRELESS
COMMUNICATIONS. International Journal of Embedded Systems and Applications (IJESA), 2(3), pp.99–106.
Iswanto & Raharja, N.M., 2015. Mikrokontroller: Teori dan Praktik Atmega 16 dengan Bahasa C, Penerbit Deepublish.
42
Sadad, R.T.A. & Iswanto, 2010. Implementasi Mikrokontroler Sebagai
Pengendali Kapasitor Untuk Perbaikan Faktor Daya Otomatis pada Jaringan Listrik. SEMESTA TEKNIKA, 13(2), pp.181–192.
SADAD, R.T.A., ISWANTO & SADAD, J.A., 2011. Implementasi
Mikrokontroler Sebagai Pengendali Lift Empat Lantai. JURNAL ILMIAH SEMESTA TEKNIKA, 14(2), pp.160–165.
Suripto, S. & Iswanto, 2012. DESAIN AND IMPLEMENTATION OF FM RADIO WAVES AS DISTANCE MEASURING AC VOLTAGE. International Journal of Mobile Network Communications & Telematics (IJMNCT), 2(5), pp.13–24.
Tunggal, T.P., Latif, A. & Iswanto, 2016. Low-cost portable heart rate monitoring based on photoplethysmography and decision tree. In ADVANCES OF SCIENCE AND TECHNOLOGY FOR SOCIETY: Proceedings of the 1st International Conference on Science and Technology 2015 (ICST-2015). p. 090004. Available at:
http://scitation.aip.org/content/aip/proceeding/aipcp/10.1063/1.4958522. Wahyudianto, A., Iswanto & Chamim, A.N.N., 2013. ALAT PENGONTROL
LAMPU MENGGUNAKAN REMOTE TV UNIVERSAL. In SEMINAR NASIONAL ke 8 Tahun 2013. pp. 112–116.
Yudhistira. 2015. Nebulizer Compressor Type KQW-4A Menggunakan Microcontroller ATMega 328. Yogyakarta
Abdee, Pamungkas. 2012. Pengertian Penyakit Asma.
http://www.diwarta.com/2012/07/21/pengertian-penyakit-asma-asthma-dangejalanya.html
Aries. 2015. Mikrokontroler ATMega8
http://ariesz-smkn5bjm.blogspot.co.id/2015/05/mikrokontroler atmega8.html
Bidan, Esi, Esasi. Pengertian Nebulizer.
http://www.alatnebulizer.com/2014/12/pengertian.html
Nanda Yudip. 2012. Makalah Inhalasi.
http://myblogisbee.blogspot.co.id/2012/01/inhalasi-bab-i-pendahuluan-1.html
ix
Tabel 2.2 Fungsi Alternatif PORT C 9
Tabel 2.3 Fungsi Alternatif PORT D 10
Tabel 4.1 Pengukuran Waktu Pada Saat 5 menit 34