• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA DAN PROSPEK IMPLEMENTASI BIOFILTER KOMPOS DALAM MEREDUKSI HIDROGEN SULFIDA (H2S) PADA BIOGAS AIR LIMBAH KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KINERJA DAN PROSPEK IMPLEMENTASI BIOFILTER KOMPOS DALAM MEREDUKSI HIDROGEN SULFIDA (H2S) PADA BIOGAS AIR LIMBAH KELAPA SAWIT"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

PERFORMANCE AND UTILIZATION PROSPECT OF COMPOST BIOFILTER IN HYDROGEN SULPHIDE (H2S) REDUCTION ON

BIOGAS OF PALM OIL WASTEWATER

By

RELIGIA ISLAMAYANDA

The purposes of research are (1) finding out the compost biofilter’s performance

in reducing H2S of biogas from Palm Oil Mill Effluent (POME), (2) knowing the

elaboration prospect of utilization biogas with low level H2S and the impact on

environment. Research conducted by measures inlet and outlet H2S concentration

of two biofilters with different total weight of compost about 18 kg. Biofilter B

consists of two layers 13,5 kg compost in upper layer and support media in the

bottom. Result of the research showed that compost biofilter A able to reduce

H2S 86,74% in avarage with loading rate between 2 – 31,8 ml H2S/kg

compost.day and removal rate between 2 – 30,7 ml H2S/kg compost.day. Biofilter

B able to reduce H2S 98% in average with loading rate between 1,04 – 100,4 ml

H2S/kg compost.day and removal rate between 1 – 93,3 ml H2S/kg compost.day.

Biogas with high level H2S has limited utilize as fuel for cooking, LPG and

kerosene subtitution. Through utilization of biogas to subtitute LPG and kerosene

(2)

with low level H2S can be used as sources of electrical energy by using generator

set to subtitute premium and diecel oil. This system will save about Rp.8.160/m3 biogas and Rp.6.188/m3 biogas. It means that biogas with low level H2S can

increase economic value. The utilization of POME has potential to reduce Green

House Gas Emission about 0,218 ton CO2e/ton FFB.

Key words: biogas purification, H2S, and compost biofilter.

(3)

ABSTRAK

KINERJA DAN PROSPEK IMPLEMENTASI BIOFILTER KOMPOS DALAM MEREDUKSI HIDROGEN SULFIDA (H2S) PADA BIOGAS AIR

LIMBAH KELAPA SAWIT

Oleh

RELIGIA ISLAMAYANDA

Penelitian bertujuan untuk (1) mengetahui kinerja biofilter kompos dalam

mereduksi H2S pada biogas dari air limbah kelapa sawit (ALPKS), (2) mengetahui

prospek perluasan pemanfaatan biogas rendah H2S dan pengaruhnya terhadap

lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengukur konsentrasi H2S

biogas inlet dan outlet dari kedua biofilter dengan perbedaan jumlah kompos yaitu

18 kg pada Biofilter A. Biofilter B terdiri atas dua lapisan dengan kompos

sebanyak 13 kg dibagian atas dan media pendukung pada bagian bawah. Hasil

penelitian menunjukkan biofilter kompos A mampu mereduksi H2S dengan

rata-rata 86,74%, besar laju pembebanan yaitu antara 2-31,8 ml H2S/kg kompos.hari

dengan removal yaitu antara 2-30,7 ml H2S/kg kompos.hari. Biofilter kompos B

mampu mereduksi H2S dengan rata-rata 98%, besar laju pembebanan antara

1,04-100,44 ml H2S/kg kompos.hari dengan removal antara 1-93,3 ml H2S/kg

kompos.hari. Biogas yang masih mengandung H2S pemanfaatannya terbatas

sebagai bahan bakar untuk memasak sebagai subtitusi elpiji dan minyak tanah.

(4)

sekitar Rp. 4.600/m3 biogas dan Rp. 6.200/m3 biogas. Biogas rendah H2S

selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi listrik menggunakan generator

set (genset) mensubtitusi penggunaan bahan bakar premium dan solar. Sistem ini

juga dapat menghemat sekitar Rp. 8.160/m3 biogas dan Rp. 6.188/ m3 biogas. Hal ini berarti biogas rendah H2S dapat meningkatkan nilai ekonomi. Pemanfaatan

ALPKS juga berpotensi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca sekitar 0,218 ton

CO2e/ton TBS

(5)
(6)

KINERJA DAN PROSPEK IMPLEMENTASI BIOFILTER KOMPOS DALAM MEREDUKSI HIDROGEN SULFIDA (H2S) PADA BIOGAS AIR

LIMBAH KELAPA SAWIT

(

Skripsi

)

Oleh

RELIGIA ISLAMAYANDA

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(7)
(8)
(9)
(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bandar Lampung, tanggal 18 Mei 1992,

merupakan anak kedua dari dua bersaudara, pasangan

Bapak Muhamad Yazid dan Ibu Leila Isnaini. Penulis

mengawali pendidikan formal di Taman Kanak-kanak

Taman Indriya Teluk Betung diselesaikan pada tahun

1998, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Palapa Tanjung

Karang Pusat, diselesaikan pada tahun 2004, Sekolah Menengah Pertama Negeri

(SMPN) 9 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2007, dan Sekolah

Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun

2010. Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswi Jurusan Teknologi

Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur

Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB).

Penulis pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Bahasa Inggris tahun ajaran

2012-2013 dan Pengelolaan Limbah Agroindustri tahun 2012-2013. Pada tahun

2013, penulis melaksanakan Praktik Umum di PT Indofood Sukses Makmur Tbk,

Divisi Bogasari Tanjung Priok Jakarta Utara dengan Judul “Mempelajari Proses

Pengawasan Mutu dan Proses Pengemasan Penggudangan Produk Pasta di PT

Indofood Sukses Makmur Tbk, Divisi Bogasari Tanjung Priok Jakarta Utara”.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi kemahasiswaan pada

Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian dan ikut berperan aktif

(11)
(12)
(13)

ii

SANWACANA

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan

hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Aplikasi Biofilter

Kompos dalam Pemurnian Biogas dari Air Limbah Kelapa Sawit”. Dalam

kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Bapak Dr. Eng. Ir. Udin Hasanudin, M.T. selaku ketua komisi pembimbing

atas segala bantuan, saran, arahan dan bimbingannya yang diberikan selama

menyusun skripsi penulis.

2. Bapak Dr. Erdi Suroso, S.T.P., M.T.A. selaku anggota komisi pembimbing

atas segala saran, semangat dan bimbingannya yang diberikan selama

menyusun skripsi penulis.

3. Ibu Ir. Otik Nawansih, M.P. selaku penguji utama yang telah banyak

memberikan kritik, saran dan bimbingan terhadap karya skripsi penulis.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung.

5. Ibu Ir. Susilawati, M.Si selaku Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanain,

Fakultas Pertanian Universitas Lampung atas segala bantuan dan arahannya.

6. Ibu Ir. Sri Setyani, M.S. selaku pembimbing akademik yang telah memberikan

bimbingan dan saran selama Penulis menimba ilmu di Jurusan Teknologi

(14)

iii 7. Seluruh bapak dan ibu dosen THP serta seluruh karyawan yang telah sangat

membantu selama perkuliahan dan penelitian ini atas semua bimbingan dan

bantuannya.

8. Keluarga tercinta: ayah, ibu kakak serta mbak atas do’a, dukungan moril,

motivasi, serta kasih sayang yang tiada henti demi keberhasilanku.

9. Keluarga besar THP angkatan 2010: Febilian, Tia, Trio, Laili, Feni, Adit,

Ridwan, Okta, Merry, Susi, Nyoman, Sella serta kakak dan adik-adik

angkatan 2008, 2009, 2011, dan 2012 terima kasih atas kekelurgaan dan

nasehatnya selama ini.

10.Keluarga besar Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri THP FP

Unila: Febilian, Mbak yanti, Mas Joko, Kak Tia, Ivoni, Insyia, Kak Arafat,

Kak Egi, Ibu Sinta dan Mbak Amel atas dukungan, semangat dan nasehat

kepada penulis.

11.Keluarga besar LFS: Yulia Purba, Rya Putri Asih, Ana Diana atas dukungan,

do’a dan semangatnya.

Akhir kata, semoga Allah SWT membalas segala keikhlasannya, Jazakumullah

khairan katsiran dan penulis berharap skripsi ini dapat memberikan informasi

yang bermanfaat.

Bandar Lampung, Oktober 2014

(15)
(16)

v

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

4.1 Kadar H2S dan Laju Alir Biogas ... 28

4.2 Reduksi Kadar H2S Biogas menggunakan Biofilter Kompos ... 29

4.3 Performa Biofilter Kompos A dan Biofilter Kompos B ... 40

4.4 Peningkatan Nilai Ekonomi dari Biogas ... 41

4.5 Komposisi Biogas... 44

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 45

5.1 Simpulan ... 45

5.2 Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA

(17)

vi DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Karakteristik ALPKS secara umum ... 7

2. Baku mutu air limbah industri minyak kelapa sawit ... 8

3. Karakteristik bahan pengisi biofilter ... 14

4. Unsur-unsur yang terdapat pada biogas ... 18

5. Konversi energi biogas dan penggunaannya ... 19

6. Pemanfaatan biogas dan proses yang diperlukan ... 29

7. Bakteri pengoksidasi sulfur (sulfur oxidizing bacteria) ... 38

8. Performa Biofilter Kompos A dan B secara umum ... 39

9. Nilai kesetaraan 1 m3 biogas dan perbandingan nilai Ekonomi dari biogas sebelum dan sesudah dimurnikan ... 41

10. Subtitusi nilai yang diperoleh dengan menggunakan energi alternatif biogas ... 42

(18)

vii DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Diagram alir kerangka pemikiran... 6

2. Tahapan proses pembentukan gas metana ... 11

3. Kompos kotoran sapi yang digunakan sebagai bahan pengisi biofilter ... 23

4. Desain sederhana Biofilter Kompos A dan Biofilter Kompos B ... 24

5. Model gambar pelaksanaan penelitian ... 25

6. Grafik reduksi H2S menggunakan Biofilter Kompos A ... 30

7. Grafik reduksi H2S menggunakan Biofilter Kompos B ... 31

8. Hubungan antara loading rate dengan H2S removal menggunakan Biofilter Kompos A ... 32

9. Hubungan antara loading rate dengan H2S removal dengan menggunakan Biofilter Kompos B ... 33

10. Grafik hasil analisis quinone pada kompos sebelum uji filtrasi ... 37

11. Rangkaian alat bioreaktor dan biofilter kompos ... 55

12. Gastech set dan gastech kit ( skala 100-2000 ppm dan skala 2-20 ppm) ... 55

13. Pengukuran kadar H2S biogas outlet pada biofilter kompos A ... ... 56

(19)

viii DAFTAR ISTILAH

No. Kata Keterangan

1. FFB Fresh fruit bunch

2. POME Palm oil mill effluent

3. TBS Tandan buah segar

4. ALPKS Air limbah pabrik kelapa sawit

5. ChemicalOxygen Demand (COD)

Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mendegradasi bahan organik secara kimia

6. COD Removal Kemampuan mikroorganisme dalam

mendegradasi bahan organik per satuan waktu di dalam bioreaktor

7. PKS Pabrik kelapa sawit

8. LPG Liquid petrolium gas

9. POG Pupuk organik granul

10. Gastech Pompa pengukur kadar H2S

11. Gastech kit Tabung pengukur kadar H2S

(20)

1

I. PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Industri sawit merupakan salah satu agroindustri sangat potensial di Indonesia

dengan jumlah produksi pada tahun 2013 yaitu sebesar 27.746.125 ton dengan

luas lahan sebesar 10.010.824 Ha (Ditjen Perkebunan, 2014). Proses pengolahan

kelapa sawit menjadi CPO (Crude palm oil) menghasilkan limbah berupa limbah

padat maupun air limbah. Menurut Zulher (2012), dalam 1 ton tandan buah segar

(TBS) pabrik kelapa sawit menjadi CPO akan menghasilkan 0,6-0,9 m3 air limbah. Air limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai biogas melalui

penerapan proses anaerobik. Menurut Haryati (2006) dalam Indraningtyas

(2013), gas metana (CH4) sebagai komponen utama biogas adalah gas tidak

berbau dan tidak berwarna yang apabila dibakar akan menghasilkan energi panas

1000 btu/ft3 atau 252 Kkal/0,028 m3 yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan

bakar alternatif. Menurut Hermawan dkk. (2007), biogas dapat dimanfaatkan

sebagai bahan baku pembangkit listrik, pemanas ruangan, pemanas air, dan dapat

menggantikan gas alam terkompresi yang digunakan pada kendaraan.

Proses pemanfaatan biogas, saat ini belum optimal karena biogas yang dihasilkan

masih mengandung sejumlah zat pengotor, seperti uap air dan hidrogen sulfida

(21)

2

menimbulkan pencemaran lingkungan, dan bersifat korosif bagi peralatan.

Menurut Moenir dan Yuliasni (2011), sulfur merupakan senyawa alami yang

terkandung dalam minyak bumi ataupun gas, namun keberadaannya tidak

diinginkan karena dapat menyebabkan berbagai masalah antara lain korosi pada

peralatan proses, bau yang kurang sedap, produk samping pembakaran berupa gas

buang yang beracun yaitu sulfur dioksida yang dapat menimbulkan pencemaran

udara, serta hujan asam. Proses pemurnian biogas perlu dilakukan untuk

mengurangi kadar H2S dalam biogas.

Menurut Hasanudin dkk. (2012), telah banyak dilakukan proses pemurnian biogas

untuk menurunkan kandungan uap air dan H2S dengan berbagai metode antara

lain water scrubber, ferro sponge H2S scrubber, H2S absorption system, dan

sebagainya. Metode tersebut memiliki kelemahan yaitu menggunakan teknologi

yang relatif tinggi dan biaya yang mahal, sehingga menjadi kendala apabila

diterapkan pada industri skala kecil. Biofilter kompos yang mengandung

konsorsium mikroba merupakan salah satu teknologi pemurnian biogas yang

sederhana, relatif murah, namun handal dalam mereduksi kadar H2S biogas

melalui proses desulfurisasi. Menurut Wiratni (2013), purifikasi dilakukan untuk

memisahkan senyawa metana dari berbagai senyawa pengotor seperti

karbondioksida, uap air, dan hydrogen sulfida. Metana yang terkandung dalam

biogas hanya terkandung sekitar 50-60 % sementara sisanya adalah senyawa

pengotor. Gas pengotor itu tidak bisa terbakar dan menurunkan nilai kalor biogas,

bahkan bisa menimbulkan korosi sehingga harus dihilangkan terlebih dahulu

(22)

3

dalam tabung. Pemurnian biogas perlu dilakukan untuk memperluas lingkup

pemanfaatan biogas.

1.2Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini antara lain :

1. Mengetahui kinerja biofilter kompos dalam mereduksi H2S pada biogas dari air

limbah kelapa sawit.

2. Mengetahui prospek perluasan pemanfaatan biogas dengan kadar H2S yang

rendah dan pengaruhnya terhadap lingkungan.

1.3Kerangka Pemikiran

Proses pemanfaatan air limbah pabrik kelapa sawit (ALPKS) menjadi biogas telah

banyak dilakukan pada skala laboratorium hingga skala industri besar. Senyawa

yang terkandung pada biogas antara lain adalah gas metan (CH4), nitrogen,

karbondioksida, hidrogen sulfur, uap air dan senyawa-senyawa lain. Menurut

Ngan (2000) dalam Fatimah (2012) air limbah pabrik kelapa sawit memiliki nilai

COD yaitu sekitar 50.000 mg/l. Nilai COD tersebut menunjukkan bahwa ALPKS

memiliki kandungan organik tinggi yang berpotensi menghasilkan biogas dalam

jumlah yang besar. Hidrogen sulfida dan uap air pada biogas yang terbentuk dari

ALPKS merupakan salah satu bentuk zat pengotor, serta dapat mengakibatkan

korosi pada peralatan industri sehingga mempercepat terjadinya kerusakan

peralatan. Biogas dengan kadar H2S yang tinggi juga berakibat merusak

lingkungan dan dapat menimbulkan hujan asam karena terbentuknya SO2. Kadar

(23)

4

bakar generator listrik. Proses pemurnian biogas sangat diperlukan untuk

mengurangi kadar H2S pada biogas.

Proses pemurnian yang dapat dilakukan yaitu dengan metode fisik, kimia, maupun

biologis. Menurut Indraningtyas (2013) bahwa salah satu metode pemurnian

biogas secara biologis yaitu menggunakan biofilter kompos. Kompos yang

digunakan sebagai bahan pengisi biofilter merupakan kompos dengan jenis POG

(Pupuk Organik Granul) yang berbahan dasar kotoran sapi, yang diduga

mengandung konsorsium mikroba yang berpotensi untuk menurunkan kandungan

H2S dalam biogas. Menurut Indraningtyas (2013), bakteri pengoksidasi sulfur di

dalam kompos yang digunakan pada penelitian tersebut, dibuktikan dengan

analisis quinone pada kompos sebelum uji filtrasi. Quinone profile dapat

menunjukkan jumlah dan jenis mikroba di dalam bahan atau lingkungan. Hasil

analisis quinone profile menunjukkan bakteri pengoksidasi sulfur merupakan

bakteri yang dominan dalam kompos kotoran sapi.

Kandungan yang terdapat pada biofilter kompos yaitu konsorsium mikroba

pereduksi H2S melalui proses desulfurisasi secara biologis atau yang biasa disebut

dengan biodesulfurisasi. Proses biodesulfurisasi dilakukan untuk menghilangkan

sulfur dengan memanfaatkan metabolisme mikroorganisme tersebut. Salah satu

jenis bakeri yang dimanfaatkan sebagai pengoksidasi sulfur yaitu Thiobacillus sp

yang merupakan jenis bakteri kemoautotrof dimana energi dari bakteri tersebut

didapatkan dengan cara mengoksidasi sulfur dan menggunakan CO2 sebagai

(24)

5

biogas dari air limbah ITTARA (Industri Tapioka Rakyat) dengan loading rate

11.520 ml H2S/kg kompos.hari, biofilter kompos yang digunakan mampu

mereduksi kadar H2S hingga 98% (Indraningtyas, 2013).

Proses pemurnian biogas bertujuan agar didapatkan biogas yang lebih murni

dengan kadar H2S yang lebih sedikit dan kadar CH4 lebih meningkat sehingga

pada proses pemanfaatan energi biogas dari ALPKS akan lebih optimal sebagai

energi yang terbarukan. Pemurnian biogas juga akan memperluas pemanfaatan

biogas dalam kehidupan sehari hari dan akan meningkatkan nilai ekonomi dari

biogas. Biogas yang masih banyak mengandung H2S pemanfaatannya akan

terbatas sebagai bahan bakar untuk memasak, namun dengan kadar H2S yang

rendah, biogas dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sumber energi listrik

sehingga akan meningkatkan nilai ekonomi dari biogas. Penelitian mencakup

pengukuran laju alir biogas dengan menggunakan alat gas flow-meter, serta

mengukur kadar H2S pada biogas yang dihasilkan dan mengukur komposisi gas

tersebut. Peningkatan nilai ekonomi dari biogas rendah H2S akan terlihat dari

perluasan pemanfaatan biogas tersebut yang dapat mensubtitusi penggunaan

(25)

6

Gambar 1. Diagram alir kerangka pemikiran

Aklimatisasi air limbah Pabrik Kelapa

Sawit

Fermentasi pada bioreaktor kemudian diukur kandungan COD out

Biogas yang dihasilkan diukur kadar H2S sebelum dialirkan menuju biofilter dan pengukuran H2S selanjutnya diukur setelah melalui tahap pemurnian. Pengukuran H2S menggunakan gastech set

Dilakukan pengukuran komposisi gas dengan menggunakan Gas Chromatography.

(26)

7

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Limbah Pabrik Kelapa Sawit

Air limbah pabrik kelapa sawit (ALPKS) adalah air limbah dari pabrik minyak

kelapa sawit yang berasal dari unit proses sterilisasi, klarifikasi, hydrocyclone

(claybath), dan air pencucian pabrik. ALPKS mengandung berbagai senyawa

terlarut dan tidak terlarut termasuk serat-serat pendek, hemiselulosa dan

turunannya, protein, asam organik bebas dan campuran mineral-mineral.

Karakteristik ALPKS secara umum disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik ALPKS secara umum.

Parameter satuan rata-rata

pH - 4,7 Minyak mg/l 4.000 BOD mg/l 25.000 COD mg/l 50.000 Total Solid mg/l 40.500 Suspended Solid mg/l 18.000 Total Volatile Solid mg/l 34.000 Total Nitrogen mg/l 750

Mineral rata-rata

Kalium mg/l 2.270 Magnesium mg/l 615 Kalsium mg/l 439 Besi mg/l 46,5 Tembaga mg/l 0,89

(27)

8

Air limbah dari pabrik minyak kelapa sawit umumnya bersuhu tinggi 70-80oC, berwarna kecoklatan, mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid

dan residu minyak dengan BOD (biological oxygen demand) dan COD (chemical

oxygen demand) yang tinggi. Air limbah PKS apabila langsung dibuang ke

perairan, maka sebagian akan mengendap, terurai secara perlahan, mengkonsumsi

oksigen terlarut, menimbulkan kekeruhan, mengeluarkan bau yang tidak sedap

dan dapat merusak ekosistem perairan. Sebelum air limbah dibuang ke

lingkungan harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi baku mutu limbah yang

telah di tetapkan. Baku mutu air limbah industri minyak kelapa sawit berdasarkan

Peraturan Gubernur Provinsi Lampung No.7 tahun 2010 disajikan pada Tabel. 2

Tabel 2. Baku mutu air limbah industri minyak kelapa sawit

Parameter Kadar maksimum

Sumber : Peraturan Gubernur Provinsi Lampung No.7 (2010)

Air limbah kelapa sawit merupakan nutrien yang kaya akan senyawa organik dan

karbon. Dekomposisi dari senyawa-senyawa organik oleh bakteri anaerob dapat

menghasilkan biogas (Deublein dan Steinhauster (2008) dalam Fatimah (2012)).

Gas tersebut jika tidak dikelola dan dibiarkan lepas ke udara bebas maka dapat

menjadi salah satu penyebab pemanasan global karena metana dan

(28)

disebut-9

sebut sebagai sumber pemanasan global saat ini. Emisi metana 21 kali lebih

berbahaya dari CO

2 dan metana merupakan salah satu penyumbang gas rumah

kaca terbesar (Sumirat dan Solehudin (2009) dalam Fatimah (2012)).

2.2 Proses Anaerobik dalam Pengelolaan Air Limbah

Nilai COD dan BOD yang tinggi dalam air limbah industri menunjukkan bahwa

kandungan bahan-bahan organik dalam konsentrasi tinggi. Proses pengolahan air

limbah anaerobik adalah proses penguraian senyawa-senyawa organik yang

terkandung dalam limbah oleh mikroorganisme menjadi metana dan

karbondioksida tanpa memerlukan oksigen (Grady dan Lim, 1980).

Pembentukan gas gas metana melalui metabolisme anaerobik merupakan proses

bertahap dengan tiga tahap utama, yaitu hidrolisis, asidogenesis, acetogenesis dan

metanaogenesis (Tchobanoglous, et al., 2003). Tahap pertama adalah hidrolisa

senyawa organik kompleks baik yang terlarut maupun yang tersuspensi dari berat

molekul besar (polimer) menjadi senyawa organik sederhana (monomer) berupa

senyawa terlarut dengan berat molekul yang lebih ringan. Hidrolisis molekul

komplek dikatalisasi oleh enzim-enzim ekstraseluler seperti sellulase, protease,

dan lipase. Lipida berubah menjadi asam lemak dan gliserin, polisakarida

menjadi gula (mono dan disakarida), protein menjadi asam amino dan asam

nukleat menjadi purin dan pirimidin (Grady dan Lim, 1980).

Tahap kedua (asidogenesis) adalah pembentukan asam organik (asam asetat,

propionat, butirat, laktat, format), alkohol, dan keton (etanol, metanol, gliserol dan

(29)

10

melibatkan bakteri-bakteri penghasil asam yaitu acids forming bacteria dan

acetogenic bacteria. Bakteri yang berperan tersebut adalah bakteri obligat

anaerob dan sebagian yang lain bakteri anaerob fakultatif. Produk utama dari

proses ini adalah asam asetat. Pembentukan asam asetat kadang disertai dengan

pembentukan karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi oksidasi dari

bahan organik aslinya (Grady dan Lim, 1980).

Tahap ketiga (metanogenesis) yaitu pembentukan metana dengan melibatkan

bakteri metanogen. Proses produksi metana melibatkan dua kelompok bakteri

metanogen, yaitu aceticlastic methanogens yang mengubah asetat menjadi gas

metana dan karbondioksida. Kelompok kedua adalah bakteri metanogen yang

memanfaatkan hidrogen sebagai donor elektron dan CO2 sebagai aseptor elektron

untuk memproduksi metana. Bakteri di dalam proses anaerobik, yaitu bakteri

acetogens juga mampu menggunakan CO2 untuk melakukan proses oksidasi dan

membentuk asam asetat. Asam asetat kemudian dikonversi menjadi metana.

Sekitar 72% metana yang diproduksi dalam digester anaerobik adalah formasi dari

(30)

11

Gambar 2. Tahapan proses pembentukan metanaa

Sumber : Grady dan Lim (1980)dalam Hasanudin dkk., (2012) Keterangan : --- : Proses perombakan

: Hasil dari proses perombakan

Makromolekul/bahan organik kompleks (lipida, polisakarida, protein)

Mikromolekul/bahan organik sederhana (as. lemak, gliserin, mono & disakarida, as. amino)

oleh enzim ekstraseluler hasil organic sederhana menjadi asam asam organic yaitu asam asetat (CH3COOH). Asam butirat, (CH3CH2CH2COOH), asam propionat (CH3CH2COOH)

Acetogenic Bacteria

Proses perubahan asam butirat (CH3CH2CH2COOH) dan asam propionat (CH3CH2COOH) menjadi asam asetat (CH3COOH) dan H2

Acetogenic Bacteria

Proses perubahan etanol menjadi asam asetat dan gas gas metanaa

Methanogenic Bacteria

(1) Bakteri memanfaatkan H2 untuk diubah

menjadi metanaa

(2) Bakteri memanfaatkan asam asetatuntuk diubah menjadi metanaa

(3) Bakteri memanfaatkan asam format untuk diubah menjadi metanaa

(31)

12

2.3 Hidrogen Sulfida (H2S) di dalam Biogas

Sulfur merupakan senyawa yang secara alami terkandung dalam minyak bumi

ataupun gas, namun keberadaannya tidak dinginkan karena dapat menyebabkan

berbagai masalah, termasuk di antaranya korosi pada peralatan proses dan bau

yang kurang sedap. Dampak negatif lainnya yang ditimbulkan adalah

terbentuknya produk samping hasil pembakaran berupa gas buang beracun seperti

sulfur dioksida (SO2) yang menimbulkan pencemaran udara serta hujan asam.

Proses penghilangan senyawa sulfur dari aliran proses telah dilakukan termasuk

menggunakan proses oksidasi, adsorpsi selektif, ekstraksi, hydrotreating dan

sebagainya. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak negatif yang

ditimbulkan baik dari senyawa sulfur, maupun salah satu turunannya yaitu

hidrogen sulfida (Moenir dan Yuliasni, 2011).

Menurut Imamkhasani (1998) dalam Moenir dan Yuliasni (2011), hidrogen

sulfida (H2S) merupakan senyawa dari dua unsur zat kimia yaitu gas hidrogen dan

belerang, bersifat racun, sangat mudah terbakar (flammable), tidak berwarna, serta

larut di dalam air. Hidrogen sulfida mempunyai sifat-sifat fisik yaitu mempunyai

berat molekul 34,08 ; boiling point = - 60,1 0C, specificgravity = 1,192. Menurut

Martin et al. (2004), hidrogen sulfida adalah polutan udara yang korosif dan

beracun, dikarakteristikan dalam bau yang tidak sedap. Hidrogen sulfida di alam

berasal dari sulfur yang tereduksi dan terkumpul dalam kondisi anaerobik,

kemudian akan teroksidasi secara spontan dan cepat dengan adanya oksigen.

Hidrogen sulfida perlu dihilangkan karena berdampak negatif bagi kesehatan,

(32)

13

Salah satu dampak negatif komponen hidrogen sulfida (H2S) adalah

keberadaannya di dalam biogas. Proses pemanfaatan biogas sebagai sumber

energi terbarukan masih belum optimal akibat adanya sejumlah zat pengotor yang

mempengaruhi metana di dalam biogas salah satunya adalah H2S. Menurut

Lastella et al. (2002), konsentrasi H2S di dalam biogas relatif kecil ± 0,1 – 2%.

2.4 Kompos Sebagai Bahan Pengisi Biofilter

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan

organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam

mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau

anaerobik (Utami, 2011). Pengomposan adalah proses dimana bahan organik

mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang

memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Proses pembuatan kompos

meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup,

pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Material kompos

merupakan salah satu bahan yang baik digunakan untuk mengisi biofilter.

Kompos yang merupakan material dengan karakteristik yang baik bagi

pertumbuhan mikroorganisme diharapkan mampu mendukung pertumbuhan

mikroorganisme pendegradasi sulfur. Perbandingan efektifitas material pengisi

(33)

14

Tabel 3. Karakteristik bahan pengisi biofilter Material Porositas Kapasitas

Baik Rata-rata Rata-rata Rata-rata Penambahan dilakukan untuk meningkatkan porositas Jerami Baik Rata-rata Buruk Buruk

Sumber : Schmidt et al. (2004) dalam Saputra (2006)

Menurut Pagans et al. (2005) jika dibandingkan dengan material lainnya kompos

memiliki beberapa kelebihan yaitu: murah, mudah diperoleh, mengandung

komunitas mikroorganisme yang kompleks, serta mempunyai kandungan nitrogen

organik dan mikro-nutrien lainnya dalam jumlah yang signifikan sehingga relatif

tidak membutuhkan tambahan nutrien. Medium berbasis kompos telah sering

digunakan sebagai media dalam biofilter karena kandungan komunitas

mikroorganisme di dalamnya, yang memiliki kemampuan mendegradasi beberapa

jenis polutan. Kompos juga mempunyai sifat tahan terhadap air, dan kandungan

bahan organik yang sesuai. Selain itu, kompos terbukti tidak mahal, serta mudah

diperoleh. Tambahan nutrien tidak selalu dibutuhkan oleh medium biofilter yang

berbasis kompos, karena kompos mengandung nitrogen organik dan

mikro-nutrien lainnya dalam jumlah yang signifikan.

Salah satu alasan penggunaan kompos sebagai medium filter adalah bahwa

nutrien pada kompos dapat diperoleh melalui proses mineralisasi, dan dapat

berdifusi pada biofilm untuk menggantikan nutrien yang telah dikonsumsi oleh

mikroorganisme. Menurut Dehganzadehc (2005) dalam Utami (2011), kompos

memiliki variasi yang signifikan pada rasio C/N (karbon-nitrogen). Beberapa

(34)

15

minggu saja. Jenis kompos lain melepaskan nutrien lebih lama, namun dapat

menyediakan nutrien hingga bertahun-tahun. Medium kompos juga memiliki

kekurangan, yaitu terjadinya tekanan balik dan demineralisasi dari

mikroorganisme.

Kompos dapat dicampur dengan penggembur untuk menghindari penurunan

tekanan, penyumbatan aliran, serta meningkatkan durabilitas (Utami, 2011).

Penurunan tekanan pada kompos umumnya lebih tinggi daripada tanah gambut,

yang disebabkan oleh kompaksi pada medium, sehingga dirasa penting untuk

mencampur kompos dengan bulking agent (Devinny et al., 1999). Menurut Onde

Lttighus (1997) dalam Utami (2011), kompos telah digunakan dalam bentuk pellet

sebagai medium pada biofiltrasi bau. Medium kompos yang dicampur dengan

serpihan kayu memberikan penurunan tekanan yang lebih rendah jika

dibandingkan dengan kompos tradisional (Devinny et al., 1999).

2.5 Pemurnian Biogas menggunakan Biofilter Kompos

Penggunaan biofilter merupakan salah satu metode pemurnian biogas secara

biologi. Menurut Ottenggraf (1986) dalam Saputra (2006), metode biologi dalam

mengurangi gas pencemar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu bioscrubber,

biotrickling filter, dan biofilter. Menurut Hodge (1993) dalam Saputra (2006),

biofilter adalah teknologi yang relatif baru digunakan dalam menangani gas

terkontaminasi dengan degradasi senyawa secara biologi. Menurut Raghuvanshi

dan Babu (2004) dalam Saputra (2006), teknologi biofilter memanfaatkan

mikroorganisme untuk mendegradasi secara biologi senyawa organik yang mudah

(35)

16

Menurut Boswell (2004), biofilter menggunakan beberapa tipe biomassa organik

atau kompos sebagai substrat dan media untuk mendukung pertumbuhan mikroba

pendegradasi senyawa sulfur. Menurut Schmidt et al. (2004) dalam Saputra

(2006) untuk mengoperasikan biofilter yang efektif, lingkungan media harus baik

untuk pertumbuhan mikroba dan menjaga agar porositas tetap tinggi untuk

memudahkan penyediaan aliran udara. Desain biofilter didasarkan pada tingkat

aliran volume, spesifikasi zat pencemar dan konsentrasi, karakteristik media,

ukuran biofilter, pengendalian kelembaban, perawatan, dan biaya. Menurut

Devinny et al. (1999) dalam Saputra (2006), penggunaan biofilter memiliki

beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungan menggunakan biofilter antara

lain: (1) biaya operasional dan modal yang sedikit, (2) penghilangan efektif, (3)

pressure drop rendah, dan (4) tidak ada produk limbah lebih lanjut. Kerugian

menggunakan biofilter yaitu: (1) keadaan medium yang mungkin memburuk, (2)

kurang cocok untuk konsentrasi terlalu tinggi, (3) pH dan kelembaban sulit untuk

di kontrol, dan (4) partikel mungkin bisa menyumbat medium.

Menurut Boswell (2004), berbagai material dapat digunakan sebagai bahan

pengisi biofilter dengan berbagai tingkatan efektifitas, antara lain kompos,

potongan kayu, kulit kayu, gambut, tanah dan campuran pasir, karbon aktif, batu

lahar, dan organic sintetik. Menurut Devinny et al. (1999) dalam Saputra (2006),

beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemilihan biofilter diantaranya

kandungan nutrient anorganik, kandungan organik, kimia dan aditif, kadar air, pH,

porositas, karakteristik penyerapan, tambahan bakteri, peralatan mekanik, bau dari

bahan pengepak, biaya pengepakan dan umur hidup pembuangan pengepak.

(36)

17

dipenuhi dalam pemilihan bahan pengisi untuk biofilter antara lain mempunyai

kapasitas penyangga air yang tinggi, mempunyai tingkat porositas yang tinggi,

mempunyai daya memadat yang rendah, tidak mengalami penurunan kinerja

walaupun kadar air menurun, tidak berubah dalam jangka panjang, ringan, murah,

mampu menyerap gas penyebab bau, dan mempunyai kapasitas penyangga tinggi

terhadap produk akhir yang bersifat asam.

Kompos yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi biofilter salah satunya

adalah kompos kotoran sapi. Menurut McKinsey Zicari (2003) dalam Hasanudin

dkk. (2012), kompos kotoran sapi merupakan media yang berpotensi untuk

menurunkan kandungan H2S dalam biogas secara efektif dan ekonomis. Kompos

tersebut mampu mencapai efisiensi 80% dalam menurunkan H2S dengan kapasitas

eliminasi 16 – 118 g H2S per m3 kompos per jam. Menurut Hasanudin dkk.,

(2012) dalam Indraningtyas (2013), proses desulfurisasi yang terjadi diawali

dengan disosiasi H2S (Persamaan 1). Bakteri Thiobacillus sp. kemudian akan

menyebabkan reaksi redoks menghasilkan S0 pada kondisi oksigen yang terbatas

(Persamaan 2). Oksigen dapat mempercepat terjadinya reaksi oksidasi. Menurut

Turk et al., (1972) dalam Saputra (2006), H2S di alam terkumpul dalam kondisi

anaerobik, tetapi akan teroksidasi secara spontan dan cepat dengan adanya

oksigen. Oksigen dapat diperoleh dari fiksasi CO2 yang berasal dari biogas.

Reaksi desulfurisasi selengkapnya dapat dilihat pada persamaan di bawah ini:

H2S ↔ H+ + HS− (disosiasi) ...(1)

(37)

18

Permasalahan yang masih perlu dipelajari yaitu belum diketahui apakah

mekanisme penurunan sulfur hanya terjadi secara biologis, atau secara kimia dan

fisika. Penelitian yang berkaitan dengan penggunaan kompos untuk

meningkatkan kualitas biogas masih perlu dilakukan.

2.6 Potensi Energi dari Biogas

Biogas merupakan gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses

penguraian senyawa organik seperti karbohidrat, lemak dan protein yang terdapat

dalam air limbah dengan bantuan bakteri anaerob dalam sebuah digester atau

reaktor gas gas metanaa. Unsur yang terdapat pada biogas disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Unsur-unsur yang terdapat pada biogas

Unsur Konsentrasi

Biogas memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk metana murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3 (Sutarno,

2007). Satu mol gas gas metanaa memerlukan dua mol oksigen untuk dapat

dioksidasi menjadi CO2 dan air, akibatnya setiap produksi 16 gram gas gas

metanaa dapat menurunkan COD air limbah sebanyak 64 gram. Pada suhu dan

tekanan standar, setiap stabilisasi 1 pound COD dapat menghasilkan 5,62 ft3 gas gas metanaa atau 0,35 m3 gas gas metanaa/kg COD (Grady dan Lim, 1980).

(38)

19

dengan bantuan generator diubah menjadi energi listrik maupun mekanik.

Konversi energi biogas dan penggunaannya disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Konversi energi biogas dan penggunaannya

Penggunaan Energi 1 m3 biogas

Penerangan Sebanding dengan lampu 60-100 W

selama 6 jam Pengganti bahan bakar

 Solar 0,52 liter

 Minyak tanah 0,62 liter

Listrik Sebanding dengan 1,25 KWH listrik

Sumber: Kristoferson dan Bolkaders (1991) dalam Haryati (2006)

Pada dasarnya efisiensi produksi biogas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor,

yaitu suhu, pH, konsentrasi asam-asam lemak volatil, alkalinitas, nutrisi (terutama

nisbah karbon dan nitrogen), zat racun, waktu retensi hidrolik, kecepatan bahan

organik, dan konsentrasi amoniak. Parameter-parameter tersebut harus dikontrol

dengan cermat agar proses degredasi bahan organik dalam air limbah dapat

berlangsung secara optimal.

1. Suhu

Proses anaerobik dapat terjadi dibawah dua kisaran kondisi suhu, yaitu kondisi

mesofilik, yaitu antara 20-45ºC, pada umumnya 35ºC dan kondisi termofilik, yaitu

antara 50-65ºC, pada umumnya 55ºC. Suhu yang optimal dari proses anaerobik

bervariasi tergantung pada komposisi nutrient di dalam digester, tetapi

kebanyakan proses anaerobik seharusnya dipelihara secara konstan untuk

mendukung tingkat produksi gas. Digester termopilik lebih efisien dalam hal

(39)

20

input panas yang lebih tinggi dan mempunyai sensitivitas yang tinggi yang

membuat proses lebih problematik daripada digester mesofilik.

2. Waktu Tinggal

Waktu tinggal adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai proses degradasi

materi-materi organik yang sempurna. Waktu tinggal bervariasi dengan

memproses parameter-parameter, seperti memproses suhu dan komposisi limbah.

Waktu tinggal untuk limbah yang diperlakukan dalam digester mesofilik dalam

kisaran 15-30 hari dan 12-14 hari untuk digester termopilik.

3. pH

Nilai pH yang optimal untuk proses asidogenesis dan gas gas metanaogenesis

berbeda-beda. Selama proses asidogenesis dibentuk asetat, laktat, dan asam

propionat, dengan demikian pH turun. pH yang rendah dapat menghambat proses

asidogenesis dan nilai pH dibawah 6,4 dapat bersifat racun untuk bakteri

pembentuk gas gas metanaa (pH optimal untuk proses gas gas metanaogenesis

adalah antara 6,6-7). Kisaran pH optimal untuk semua yaitu antara 6,4-7,2.

4. Rasio Karbon dan Nitrogen (C:N)

Jumlah karbon dan nitrogen yang hadir dalam materi organik di gambarkan oleh

rasio C : N. Rasio optimal C : N dalam proses anaerobik antara 30: 1. Rasio C :

N yang tinggi mengindikasikan adanya konsumsi nitrogen yang cepat oleh bakteri

gas gas metanaogen dan menghasilkan produksi gas yang rendah. Selain itu rasio

C : N yang rendah menyebabkan akumulasi ammonia dan nilai pH yang melebihi

(40)

21

5. Mixing

Mixing di dalam digester, meningkatkan kontak antara mikroorganisme dengan

substrat dan meningkatkan kemampuan populasi bakteri untuk memperoleh

nutrisi. Mixing juga membangun gradien suhu di dalam digester. Mixing yang

berlebihan dapat merusak mikroorganisme dan oleh karena itu mixing yang

lambat lebih disukai (Kaswinarni, 2007).

6. Organic Loading Rate (OLR)

OLR adalah jumlah bahan organik yang masuk dan tersedia dalam fermentor.

Apabila OLR terlalu rendah maka proses fermentasi akan berjalan lambat

sedangkan jika terlalu tinggi maka terjadi overlaod dan substrat yang ada dapat

menjadi penghambat pertumbuhan mikroorganisme (Speece, 1996 dalam

Fatimah, 2012).

7. Total Solid (TS), dan Volatile Solid (VS)

Total solid (TS) adalah jumlah padatan yang terdapat dalam substrat baik padatan

yang terlarut maupun yang tidak terlarut. Sedangkan volatile solid (VS) adalah

padatan-padatan organik yang terdapat dalam substrat. Berdasarkan TS dan VS

dapat diketahui berapa banyak produksi gas yang akan dihasilkan (Fatimah,

(41)

22

III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada

bulan Mei 2014-September 2014.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada penelitian adalah air limbah kelapa sawit yang

berasal dari PTPN 7 unit usaha Bekri, kompos yang sudah dilakukan penelitian

sebelumnya, kelereng, ijuk, label, pipa 8 inchi dan bahan analisis lainnya.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah bioreaktor anaerobik

berkapasitas 5m3, gas sampler bag, gastech pump set GV-100s, gastech kit

dengan skala 2 – 20 ppm dan 100 – 2000 ppm, gas flowmeter, gas

cromathography-2014 dengan detektor TCD (Thermal Conductivity Detector)

menggunakan kolom jenis sync carbon, pipet mikro, labu takar, vial, pipet tetes,

(42)

23

3.3 Metode Penelitian

Biofilter kompos yang digunakan memanfaatkan kompos kotoran sapi pada fase

pematangan. Kompos kotoran sapi yang digunakan disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Kompos kotoran sapi yang digunakan sebagai bahan pengisi biofilter

Kompos yang digunakan berbentuk granul dan berwarna kehitaman. Berat

kompos yang digunakan pada biofilter kompos A yaitu 18 kg sedangkan pada

biofilter kompos B 13,5 kg. Tinggi biofilter kompos A dan B yaitu 96 cm dengan

diameter 8 inchi atau 20 cm. Pada bagian bawah (bagian inlet) terdapat beberapa

butir kelereng yang berfungsi agar gas yang mengalir melalui pipa inlet akan

terdistribusi secara merata ke dalam biofilter kompos. Selain kelereng bahan

pendukung lainnya yang terdapat dalam tabung biofilter yaitu ijuk yang

digunakan sebagai penyekat kompos agar tidak terjadi penyumbatan, selain itu

ijuk juga berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangbiaknya mikroba yang

terdapat pada kompos, ijuk dipilih sebagai bahan pengisi tambahan karena dinilai

(43)

24

Biofilter kompos A didesain dengan cara penyusunan secara berselang antara ijuk

dan kompos dengan ketebalan atau tinggi masing-masing susunan 10 cm.

Biofilter kompos B berbeda desain dengan biofilter kompos A, dimana pada

biofilter kompos B hanya terdapat dua susun antara ijuk dan kompos, ijuk

diletakkan pada bagian bawah dan kompos terdapat diatas ijuk tersebut.

Pengukuran H2S dilakukan sebelum biogas dialirkan menuju biofilter kompos dan

setelah keluar dari biofilter kompos, biogas lalu dialirkan menuju gas flow meter.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi dengan menyajikan

hasil pengamatan dalam bentuk tabel dan grafik dan kemudian dianalisis secara

deskriptif. Desain sederhana biofilter kompos disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Biofilter Kompos A dan Biofilter Kompos B

3.4 Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan langkah awal yaitu air limbah industri kelapa

(44)

25

berkapasitas 5 m3. Fermentasi air limbah tersebut menghasilkan biogas yang

kemudian dialirkan melalui pipa menuju biofilter kompos untuk dilakukan proses

pemurnian. Biogas sebelum dilakukan pemurnian diuji kadar H2S sebagai gas

inlet dengan menggunakan gastech set dengan ukuran gastech kit 100 – 2000

ppm. Biogas yang telah dimurnikan menggunakan biofilter kompos juga diuji

kadar H2S sebagai gas outlet menggunakan gastech set dengan ukuran gastech kit

2 – 20 ppm. Diagram proses pelaksanaan penelitian disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Diagram proses pelaksanaan penelitian

Penelitian ini mencakup pengukuran kadar H2S inlet dan outlet pada biogas yang

dihasilkan, komposisi gas dan laju alir biogas tersebut, biogas yang dihasilkan

sebelum dilakukan pemurnian diukur kandungan H2S sebagai inlet biofilter

kompos, pengukuran yang dilakukan yaitu menggunakan gastech set dengan skala

pengukuran gastech kit sebesar 100 – 2000 ppm. Perubahan warna pada gastech

kit dari putih menjadi kehitaman selama pengukuran hingga mencapai skala

tertentu menunjukkan kadar H2S pada biogas inlet. Tahap selanjutnya biogas

yang dihasilkan dilakukan pemurnian dengan menggunakan biofilter kompos,

terdapat dua tabung biofilter kompos yang digunakan yaitu biofilter A dan

(45)

26

Pada tahap awal dilakukan proses pemurnian biogas dengan menggunakan

biofilter A dengan berat kompos yaitu 16 kg. Kadar H2S diukur sebagai H2S outlet biofilter menggunakan gastech set dengan skala pengukuran gastech kit 2 –

20 ppm. Tahap berikutnya digunakan biofilter B dengan berat kompos 13,5 kg

yang juga diukur kadar H2S inlet dan outlet. Biogas sebelum dan sesudah

dikurangi kadar H2S nya juga diukur komposisi gas menggunakan Gas

Chromatography. Peningkatan nilai ekonomi dari biogas yang dihasilkan

sebelum dilakukan pemurnian dan setelah dilakukan pemurnian dari H2S juga

diperkirakan sesuai dengan perluasan pemanfaatannya.

3.5 Pengamatan

3.5.1 Laju Alir Biogas

Laju alir biogas yang diukur menggunakan gas flow-meter diamati dan dicatat tiga

kali dalam sehari dan dihitung berapa m3 biogas yang dihasilkan dalam sehari. Laju alir biogas yang terlihat pada gas flow-meter kemudian dibandingkan dengan

potensi produksi biogas secara teoritis.

3.5.2 Kadar H2S Biogas

Pengamatan kadar H2S biogas dilakukan pada biogas inlet (sebelum uji filtrasi)

dan biogas outlet (setelah uji filtrasi). Biogas yang akan dianalisis ditampung

terlebih dahulu di dalam gas sampler. Kadar H2S biogas diukur menggunakan alat gastech set, dengan skala pengukuran gastech kit masing-masing yakni 100-2000

(46)

27

3.5.3 Pengukuran Komposisi Biogas

Pengukuran komposisi biogas dilakukan dengan cara menampung gas yang

terbentuk pada bioreaktor dan gas yang terbentuk setelah dilakukan pemurnian

pada biofilter kompos ke dalam gas sampler kemudian sampel gas dianalisa

dengan menggunakan Gas Chromatography dengan detektor TCD (Thermal

Conductivity Detector) menggunakan kolom jenis sync carbon dan gas helium

sebagai mobile phase, pada temperatur yaitu 150oC pada kolom, 200oC pada

(47)

46

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

1. Biofilter kompos A dengan berat kompos 18 kg mampu mereduksi H2S

berkisar 36,67%-100% dengan rata-rata 86,74%. Biofilter kompos B dengan

berat kompos 13,5 kg, mampu mereduksi H2S pada biogas antara 82,5% –

100%, dengan rata-rata reduksi 91,12%.

2. Kandungan H2S yang rendah di dalam biogas dapat memperluas pemanfaatan

dan meningkatkan nilai ekonomi biogas serta mencegah kerusakan

lingkungan dan hujan asam yang diakibatkan oleh sulfur dioksida.

5.2. Saran

Saran pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Laju pembebanan H2S masih bisa ditingkatkan untuk mengetahui batas

maksimum desulfurisasi atau batas kejenuhan kompos.

2. Perlu dilakukan pemurnian biogas dari zat lain seperti CO2 dan H2O agar

(48)

46

DAFTAR PUSTAKA

Boswell, J. 2004. Compost-Based Biofilters Control Pollution. Biocycle 45 : 42.

Devinny, J. S., Deshusses, M. A., and Webster, T. S. (1999). Biofiltration for air pollution control. Lewis Publishers. Boca Raton. 5–16.

Direktorat Jendral Perkebunan. 2014. Produksi, Luas Areal dan Produktivitas Perkebunan di Indonesia. http://www.pertanian.go.id/Indikator/tabel-3-prod-lsareal-prodvitas-bun.pdf diakses pada 12 September 2014.

Fatimah, N. F. 2012.Pengaruh Pengurangan Konsentrasi Trace Metal (Nikel Dan Kobal) Pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Secara

Anaerobik Termofilik Terhadap Produksi Biogas. (Tesis). Program Studi Magister Teknik Kimia Fakultas Teknik. Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.

Gittinger, J. Price. 1928. Analisis Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Terj. dari Economic Analysis Of Agriculture oleh Slamet Sutomo dan Komet Mangiri., Ed ke-2 (Jakarta: UI Press, 1986).

Grady, C.P.L., H.C. Lim. 1980. Biological Wastewater Treatment-Theory and Application. Marcel Dekker. Inc. New York.

Hamidi, Nurkholis. ING Wardhana. Denny Widhyanuriyawan. 2011. Peningkatan Kualitas Bahan Bakar Biogas Melalui Proses PemurnianDengan Zeolit Alam. Jurnal Rekayasa Mesin Vol.2, No. 3 Tahun 2011 : 227-231

Haryati, T. 2006. Biogas: Limbah Peternakan Yang Menjadi Sumber Energi Alternatif. Wartazoa 16(3): 160-169.

Hasanudin, U. 2012. FGD Peluang dan Tantangan Pemanfaatan Biogas untuk Kebutuhan Energi Sendiri di Industri.Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia 8 Oktober 2012. Jakarta.

(49)

47

Hermawan, B., Q. Lailatul, P. Candrarini, dan P. S. Evan. 2007. Sampah Organik sebagai Bahan Baku Biogas.Artikel.http://www.chem-is try.org/?sect=fokus&ext=31. Diakses 20 Oktober 2013.

Indraningtyas. 2013. Studi Reduksi Kadar H2S Pada Biogas Air Limbah Industri

Tapioka Menggunakan Biofilter Kompos (Skripsi). Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Universitas Lampung

Isdiyanto, R. dan U. Hasanudin. 2010. Rekayasa dan Uji Kinerja Reaktor Biogas Sistem Colar pada PengolahanLimbah Cair IndustriTapioka.

MajalahKetenagalistrikan dan EnergiBaruTerbarukan, Vol. 9 No. 1 Juni 2010.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2012. Daftar Harga BBM Nasional. Jakarta. http://www.bphmigas.go.id/id/bbm/harga-bbm/harga-bbm-nasional.html diakses pada tanggal 10 Agustus 2014

Kementerian Pertanian. 2012. Outlook Komoditas Pertanian Perkebunan. Pusat Pusat Data Dan Informasi Pertanian Kementerian Pertanian. ISSN 1507-1907. 189 hal.

Kwartiningsih, E. 2007.Pemurnian Biogas dari Kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) menggunakan Larutan Absorben dari Besi Bekas (Rongsok).

Penelitian Hibah Bersaing Dikti. http://lppm.uns.ac.id. Diakses 20 Oktober 2012.

Lastella, G., C. Testa, G. Cornacchia, M. Notornicole, F. Voltasio and V. K. Sharma, 2002. Anaerobic Digestion of Semi-Solid Organic Waste : biogas production and itspurification Energy Conversion ang management, Vol 43, Issue I, pp. 63 – 75.

Martin, R. W., J. R. Mihelcic dan J. C. Crittenden. 2004. Design and Performance Strategy Using Modeling For Biofiltration Control of Odorous Hydrogen Sulfide. Journal of the Air and Waste Management Association vol 54(7):834-844.

Mc Kinsey Zicari, S. 2003, Removal of Hydrogen Sulfide from Biogas Using Cow-Manure Compost, Master Thesis, Cornell University.

Moenir, M dan R. Yuliasni.2011. PenerapanTeknologi Bio-desulfurisasi Gas HidrogenSulfida (H2S) pada IPAL Industri Tahu sebagai Upaya

Pengambilan Kembali (Recovery) Sulfur. Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Vol. 1, No. 4, Desember 2011.

(50)

48

Musanif, Jamil.,WildanArisasmita., David ManariurNababn. 2006. Biogas SkalaRumahTangga. Program BioenergiPerdesaan (BEP). InstitutPertanian Bogor.

NATCO. 2008. Biological H2S Removal From Biogas, Environmental

Technology Verification Program,Netherlands.

Pagans, E., Barrena, R., Font, X., and Sanchez, A. (2006). Ammonia emissions from the composting of different organic wastes. Chemosphere. 62. 1534– 1542.

Pertamina Persero. 2012. Harga Jual Keekonomian Bahan Bakar Minyak Non Subsidi.http://bbmsolarindustri.blogspot.com/2014/08/info-penyesuaian-harga-periode-15-31.html. Diakses pada September 2014.

Priani, N. 2003. Metabolisme Bakteri. http://repository.usu.ac.id/bitstream/12345 6789/1/biologi-nunuk1.pdf. diakses 30 Januari 2013

Rahardi, F. 2004. Cerdas Beragrobisnis: Mengubah Rintangan Menjadi Peluang

Berinvestasi. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Saputra, H. 2006. Penerapan Biofilter untuk Penghilangan NH3 dan H2S dengan menggunakan Bakteri Nitrosomonas sp dan Thiobacillus sp di Pabrik Lateks Pekat. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Shimadzu Corporation. 2004. GC-2014 Gas Chromathography Instruction Manual. Shimadzu Corporation Analytical And Measuring Instrument Division. Kyoto. Japan.

Sutarno. 2007. Analisis Prestasi Produksi Biogas (CH4) dari Polyethilene Biodigester Berbahan Baku Limbah Ternak Sapi. LOGIKA,Vol. 4, No. 1, Januari.

Suyitno, M. Nizam, dan Dharmanto. 2010. Teknologi Biogas. Pembuatan Operasional dan Pemanfaatan. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Syafrizal dan Dianursanti. 2011. Pemanfaatan Bakteri Thiobacillus Thioparus Untuk Mereduksi Kandungan Sulfur dalam Gas. Lembaran Publikasi LemigasVol. 45. No. 1, April 2011: 65 – 69.

Tchobanoglous, G., F. L. Burton, dan H. D. Stensel.2003. Waste Water Engineering: Treatment and Reuse. Metcalf & Eddy Inc. New York.

(51)

49

Wiratni.2013. Olah Biogas Jadi Lebih Bernilai Guna . UGM. Yogyakarta http://ugm.ac.id/id/post/page?id=5468 diakses pada tangggal 7 Maret 2014.

Yayasan Pendidikan dan Konservasi Alam. 2012. Menghitung Perbandingan Karbon dengan Biogas dalam PNPM-LMP.

http://www.yapeka.or.id/?p=248. Diakses pada tanggal 27 Maret 2014.

Gambar

Tabel
Grafik reduksi H2S menggunakan Biofilter Kompos A ..................           30
Gambar 1. Diagram alir kerangka pemikiran
Tabel 1. Karakteristik ALPKS secara umum.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan adalah pemanfaatan daun kelapa sawit yang difermentasai dengan Aspergillus niger dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif pada pakan sapi bali3. Kata kunci

Bahan yang dapat digunakan sebagai media biofilter memiliki kriteria tertentu seperti inersitas tinggi, fraksi volume rongga tinggi, luas permukaan yang besar, bersifat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi limbah organik dari pasar tradisional di Bandar Lampung yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos

Perbedaan tekstur pada masing-masing perlakuan diduga karena susunan bahan pembuatan kompos yang digunakan hanya terdiri dari feses sapi yang sebagian

Bahan baku yang digunakan adalah limbah kulit buah aren dan air, sebagai bahan pembantu digunakan glukosa dan mikroorganisme yang berasal dari kotoran sapi yang