Guru Wiyata Bakti adalah Guru bukan PNS yang membantu mengajar di
sekolah negeri, dengan jumlah jam mengajar dan tanggung jawab sama
dengan Guru PNS. Mereka wajib mengajar minimal 24 jam perminggu dan
memiliki kualifikasi sebagai Guru dengan pendidikan Strata 1 Kependidikan
sesuai dengan PP 74 Tahun 2008. Sungguhpun mereka bukan PNS tetapi
melaksanakan tugas profesinya sama dengan tugas Guru PNS. Menurut PP
74 Tahun 2008 pasal 1 ayat 1, Guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Maksudnya
adalah Guru tidak hanya transfer pengetahuan saja, tetapi juga harus
membentuk kepribadian peserta didik sesuai kultur yang ada. Mereka harus
memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi yang dibutuhkan.
Kekurangan Guru
▸ Baca selengkapnya: contoh sk wiyata bakti guru sd
(2)ada mereka maka kegiatan belajar mengajar akan lumpuh, sebab ada beberapa kelas yang tidak ada Gurunya. Wali murid atau orang tua murid akan menuntut agar putra-putrinya tetap bisa mendapat pelajaran di sekolah. Sekolah mengangkat Guru Wiyata Bakti adalah solusi yang cerdas, walaupun tidak ada anggaran untuk honor, kecuali dana Bantuan BOS yang sangat terbatas.
Gelombang Pensiun Guru Inpres
Dengan pengangkatan Guru Inpres secara masal pada masa pemerintah Orde Baru, mulai tahun 1974, sekali mengangkat bisa mencapai belasan ribu Guru, dan diperkirakan mulai tahun 2015, Guru tersebut akan mulai pensiun masal. Saat ini juga sudah mulai terasa terjadi pensiun dari pengangkatan masal tersebut, rata-rata setiap kecamatan yang pensiun ada 2-3 orang Guru setiap bulan. Maka dalam satu tahun di setiap kecamatan yang pensiun sekitar 25 orang Guru, bila satu kabupaten ada 25 kecamatan, maka yang pensiun dalam satu bulan sekitar 25 X 25 orang = 625 orang. Bila dihitung skala provinsi maka angkanya menjadi sangat besar, tidak sebanding dengan pengangkatan Guru PNS yang saat ini terjadi, dengan kuota sekitar 30 orang untuk Guru Sekolah Dasar, belum termasuk Guru di lingkungan SMP sampai SMA/ SMK. Secara perhitungan kasar pada suatu titik tertentu akan terjadi kekurangan Guru yang luar biasa, dan siapa yang akan mengajar anak-anak generasi muda kita. Kita sadar bahwa masa depan bangsa dan negara ini ada di tangan generasi muda yang kita didik saat ini. Tetapi bila pemerintah tidak segera mengambil keputusan untuk mengangkat Guru sebanding dengan yang pensiun, maka kekurangan itu tidak akan pernah tertangani. Rerata Guru yang ada saat ini usianya di atas 50 tahun dan sebagian besar sudah mendekati pensiun karena pengangkatan masal Guru Inpres Tahun 70-an. Bila dihitung rata-rata jumlah sekolah dan jumlah Guru secara nasional tidak kekurangan, barangkali ada penumpukan guru entah di mana. Percayalah pemerintah pasti sudah memikirkannya, di bulan Agustus 2015 menurut informasi akan ada seleksi K-2 yang belum lolos dan kuota hanya 30 ribu seluruh Indonesia, mohon K-2 mempersiapkan diri dan yang baru menjadi Guru Wiyata Bakti juga bersabar antre, apalagi yang masih mengikuti kuliah di Universitas Terbuka.
Honor yang Belum Layak
meningkatkan kesejahteraan Guru WB. Namun karena Guru Wiyata Bakti jumlahnya sangat banyak, maka belum semua Guru WB menerimanya, mereka yang menerimanya dengan kategori sudah mengabdi minimal 4 tahun dan memenuhi syarat yang lain. Saat ini mestinya sekolah hanya menerima Guru Wiyata Bakti yang sudah memenuhi kualifikasi akademik artinya sudah S1 PGSD, nyatanya tidak demikian, banyak yang menjadi Guru Wiyata Bakti tetapi belum memiliki S1 PGSD bahkan sedang kuliah karena syarat untuk bisa kuliah di Universitas Terbuka harus mengajar, menurut ketentuan mestinya tidak demikian. Setelah kuliah mereka menuntut honor, ada yang sudah bakti bertahun-tahun tetapi tidak memiliki kelas karena sejatinya sekolah tidak membutuhkannya. Menurut aturan, sekolah mengambil Guru Wiyata Bakti karena memang sekolah kekurangan Guru, saat ini yang saya amati Guru yang ingin kuliah minta keterangan mengajar hanya sebagai syarat untuk bisa kuliah. Padahal sekolah tidak membutuhkannya, sehingga terjadi penumpukan Guru Wiyata Bakti yang jumlahnya cukup banyak di suatu sekolah, jadi wajar bila mereka tidak pernah mendapat kelas untuk mengajar ia hadir di sekolah untuk bekerja apa saja. Pemberian keterangan mengajar oleh Kepala Sekolah atau Komite Sekolah dikarenakan rasa tidak enak dan tidak kepenak,karena hubungan pertemanan dengan orangtua Guru Wiyata Bakti tersebut.
Sumber honor Guru Wiyata Bakti berasal dari Dana BOS dan paling banyak hanya 20 % dibagi jumlah Guru Wiyata Bakti. Dana lain memang tidak ada, karena bila Guru WB jumlahnya banyak, maka penerimaannya juga tidak banyak, kisaran Rp 150.00 sampai Rp 300.000. Nominal angka itu memang belum layak, dan sangat tidak layak, karena kebutuhan hidup personal juga meningkat. Banyak keluhan para Guru Wiyata Bakti, berkaitan dengan honor, namun harus berbuat apa karena adanya seperti itu, bahkan ada yang menuntut untuk diangkat menjadi PNS, itu sah-sah saja tetapi pengangkatan menjadi PNS ada mekanisme dan aturannya.
Anton Awaludin, S.Pd dari Cicalengka Kab. Bandung dalam suratnya kepada MPR inti tulisan antara lain demikian :
...kami adalah guru honorer yang berpenghasilan Rp 400.000,-/ bulan. Tidak sebanding dengan lama kuliah 5 tahun, penghasilan kami di bawah pemulung, kuli sapu, pengemis, sedangkan kami dituntut untuk mendidik, mengajar baca, tulis dst.... maaf bila ada kata yang menyinggung ...
Demikian inti surat tersebut.
Sebagian besar Guru Wiyata Bakti yang sudah lama mengabdi memiliki Ijazah Sarjana Pendidikan dari LPTK dengan Gelar S.Pd. ( Sarjana Pendidikan ) Jurusan PGSD, bagi Guru yang memiliki ijazah Sarjana bukan Pendidikan misalnya : S.H., S.E., S.Si, atau yang lain, mereka rela untuk kuliah lagi di Universitas Terbuka dengan gelar S.Pd. S.D. agar pendidikannya linier, mereka memiliki ijazah 2S, bukan S2, mereka kuliah dengan biaya sendiri atau mendapat bantuan sebesar Rp 3.500.000 ada yang menerima satu kali selama kuliah, dan ada yang belum pernah menerima bantuan sama sekali, tetapi tetap mengikuti kuliah. Mereka tertarik menjadi Guru barangkali karena kesejahteraan Guru yang baik dengan adanya Tunjangan Profesi, sungguh pun belum semua mendapatkannya. Rata-rata mereka masih muda dan memiliki semangat kerja yang tinggi, cekatan bila mendapatkan tugas, menguasai Teknologi Informasi yang baik, sehingga dalam mengajarnyapun cukup baik, walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang kurang dan tidak bisa mengajar. Jam kerja mereka sama dengan Guru PNS dari pukul 07.00 sampai 14.00 setiap hari dan kadang ada yang pulang sampai sore hari. Karena Guru Wiyata Bakti mudah untuk diberi tugas yang lain, mungkin karena takut pada pimpinan atau karena memang kinerjanya cukup baik. Menurut pengamatan memang kinerjanya baik, kadang Guru PNS mengandalkan pada Guru Wiyata Bakti. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang kinerjanya tidak baik, ada yang sering absen dengan berbagai alasan, ini yang tidak kita harapkan, karena bula sudah memiliki kelas atau menjadi wali kelas, siswanya yang kebingungan seperti anak ayam kehilangan induk. Bila terjadi seperti ini Guru lain yang harus mengajar rangkap, yang pasti tidak efektif. Mudah-mudahan para Guru Wiyata Bakti menyadarinya sehingga tidak sering absen.
Harapan Menjadi PNS
Kita bersyukur bahwa awal tahun 2015 ini telah diangkat Guru dan Tenaga Wiyata Bakti yang telah lolos seleksi di tahun 2014 yang dikenal dengan K 2 ( Kategori ) di tiap kabupaten. Dengan penyerahan SK CPNS berarti ada penambahan tenaga CPNS, walaupun belum memenuhi SPM ( Standar Pelayanan Minimal ). Bantu aku mengerjakan survey di sini
REFORMASI BIROKRASI YANG HARUS DIPAHAMII OLEH GURU Istiningsih *)
Dalam rangka membangun profesi guru sebagai profesi yang bermartabat, yakni untuk mencapai visi pendidikan nasional melalui proses pembelajaran yang berkualitas, maka perlu dilaksanakan Penilaian Kinerja Guru secara berkelanjutan dan teratur. Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru dimaksudkan bukan untuk menyulitkan guru, tetapi sebaliknya Penilaian Kinerja Guru dilaksanakan untuk membantu guru dalam mewujudkan profesionalismenya, karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang bermutu.
Hasil Penilaian Kinerja Guru dapat dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Hasil Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan merupakan dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jika semua ini dapat dilaksanakan dengan baik dan obyektif, maka citacita pemerintah untuk menghasilkan “insan yang cerdas komprehensif dan berdaya saing tinggi” lebih cepat direalisasikan.
Menyambut diberlakukannya Peraturan Menteri Pendayaguanaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No.16 tahun 2009 tentang Jabatan Guru dan angka Kreditnya yang diberlakukan mulai 1 Januari 2013 mengisyaratkan bahwa untuk kenaikan pangkat dan golongan perlu dilakukan Penilaian Kinerja Guru (PKG) ) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Mengingat pentingnya pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), maka hal itu harus dipahami oleh semua pemangku kepentingan pendidikan, terutama Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru.
Perlu diketahuai PKG adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya. Dalam PKG, Guru wajib mencatat dan
menginventarisasikan seluruh kegiatan yang dilakukan. PKG terhadap guru dilakukan minimal satu kali dalam setahun. PKG untuk kenaikan pangkat guru yang akan dipertimbangkan untuk naik pangkat dilakukan minimal dua kali dalam satu tahun , yaitu tiga bulan sebelum periode kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil. Merujuk pada permen di atas, untuk menjadi guru prrofesional memang harus berbasis PKG dan diperlukan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) . Rohmadi Muhammad (2012: v)
dapat mengimplementasikan kreatifitasnya dalam mendidik secara simultan dalam proses pembelajaran maka akan terbentuk insan insan cendekiawan yang luar biasa. Rahmadi, Mohammad, (2012:19)
Reformasi birokrasi hendaknya didasari tiga ranah yaitu adanya kemauan, waktu, dan adanya kemampuan untuk merubah pola pikir lama / paradikma lama menjadi pola pikir baru/ paradikma baru. Saat ini masih bisa mingajukan kenaikan pangkat dengan cara menilai bukti kegiatan guru oleh tim penilaian angka kridit tetapi di tahun 2013 penilaian dari asesor tentang bukti kegiatan pada Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Dulu
pembelajaran berpusat pada guru dengan tranmisi pengetahuan dan anak hanya memperoleh sesuatu dari pembelajaran guru, tetapi sekarang pembelajaran berpusat pada siswa disini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motifator, anak yang menemukan sesuatu sendiri yang diperoleh dari pemahaman, pengammatan, percoban,dan penemuan pada praktek langsung dalam pembelajaran sesuai dengan rencana persiapan pembelajaran dipersiapkan oleh guru untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran tertentu.
Pada akhirnya reformasi birokrasi pendidik dapat meningkatkan kenerja guru secara menyeluruh dalam hal perencanaan, pengelolaan pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran, maupun peningkatan dalam wawasan kependidikan serta pengembangan profesi khususnya.
BIDANG SD
Sekolah dasar
Sekolah dasar (disingkat SD;Inggris:Elementary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (atau sederajat).
Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.
Pendidikan dasar di Indonesia pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu yang dikelola oleh pemerintah biasanya disebut Sekolah Dasar Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri sedang yang kedua dikelola oleh masyarakat biasanya disebut Sekolah Dasar Swasta dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta. SD dibawah lingkup Depdiknas sedang MI dibawah lingkup Depag. disamping itu ada pula sekolah dasar dibawah lingkup Depdiknas berciri khas agama dengan sebutan Sekolah Dasar Islam atau Sekolah Dasar Kristen dll.
Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Sekolah Dasar
(1) Bidang Sekolah Dasar mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan di bidang Sekolah
Dasar.
(2) Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang
Sekolah Dasar mepunyai fungsi :
a. penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis di bidang Sekolah Dasar;
b. pengoordinasian pengelolaan urusan kurikulum Sekolah Dasar ;
c. pengoordinasian pengelolaan urusan sarana dan prasarana Sekolah Dasar; dan
d. pengoordinasian pengelolaan urusan pembinaan pendidik dan tenaga
kependidikan Sekolah Dasar.
(3). Kepala Bidang Sekolah Dasar mempunyai tugas pokok memimpin pelaksanaan urusan di bidang Sekolah Dasar.
(4). Penjabaran tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (3), adalah sebagai berikut: a. menyusun konsep perumusan kebijakan teknis di bidang Sekolah Dasar;
b.menyusun rencana, program kerja, kegiatan, laporan kinerja dan
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;
c. memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas Bidang Sekolah Dasar; d. memberikan saran, pendapat dan pertimbangan kepada atasan;
e. mendistribusikan tugas, memberikan petunjuk dan arahan kepada bawahan; f. menganalisis hasil proses dan kegiatan belajar mengajar Sekolah Dasar dan
kesetaraan Sekolah Dasar;
g. menyusun konsep rencana peningkatan kemampuan guru dan tenaga kependidikan lainnya;
h. mengoordinasikan pelaksanaan pengadaan dan pendistribusian sarana pendidikan;
i. memberikan masukan/rekomendasi penempatan, pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sesuai lingkup tugasnya;
k. memberikan pertimbangan ijin pembukaan, penutupan, dan penggabungan Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
l. menyusun usul pembangunan dan rehabilitasi gedung Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
m. menyusun petunjuk penerimaan siswa baru dan mutasi, pelaksanaan kurikulum, evaluasi belajar dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
n. membina dan membimbing implementasi kurikulum nasional dan lokal;
o. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kurikulum, pemerataan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pendayagunaan sarana prasarana Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
p. melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Bidang Sekolah Dasar;
q. membina, mengawasi dan menilai kinerja bawahan termasuk memberikan penilaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan(DP3); dan
r. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai bidang tugasnya.
Seksi Kurikulum Sekolah Dasar
(1) Seksi Kurikulum mempunyai tugas pokok melaksanakan perencanaan, pemberdayaan,
pengembangan dan pembinaan kurikulum Sekolah Dasar.
(2) Kepala Seksi Kurikulum mempunyai tugas pokok memimpin pelaksanaan perencanaan,
pemberdayaan, pengembangan dan pembinaan kurikulum Sekolah Dasar.
(3) Penjabaran tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagai berikut: a.membantu menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis di bidang kurikulum
Sekolah Dasar;
b.menyusun rencana, program kerja, kegiatan, laporan kinerja dan
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;
c. memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas Seksi Kurikulum Sekolah Dasar;
d. memberikan saran, pendapat dan pertimbangan kepada atasan;
e. mendistribusikan tugas, memberikan petunjuk dan arahan kepada bawahan; f. menyusun konsep petunjuk pelaksanaan penerimaan siswa baru Sekolah Dasar
dan kesetaraan Sekolah Dasar;
g.menyusun bahan penyempurnaan dan pengembangan kurikulum Sekolah dan kesetaraan Sekolah Dasar;
h. menyelia dan mengusulkan keabsahan kurikulum tingkat satuan pendidikan;
i. memberikan bimbingan dan pembinaan dalam pengimplementasian
kurikulum Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
j.mempersiapkan pedoman pelaksanakan administrasi pembelajaran Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
k. menyusun pedoman pelaksanaan penerimaan siswa baru dan kalender pendidikan Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
m. memfasilitasi pemberian beasiswa;
n. melaksanakan dan memfasilitasi lomba akademis siswa;
o. menyusun analisa hasil pencapaian target kurikulum Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
p.memberikan layanan teknis kurikulum dan Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
q. menyusun konsep petunjuk evaluasi belajar Sekolah Dasar dan Sekolah Luar Biasa, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
r.menyusun bahan penyempurnaan sistem evaluasi belajar Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
s. menyebarluaskan petunjuk pelaksanaan evaluasi belajar Sekolah Dasar;
t. melaksanakan monitoring dan evaluasi hasil pelaksanaan ulangan umum akhir semester, ujian sekolah dasar/ujian nasional dan kesetaraan Sekolah Dasar;
u. melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penerimaan siswa baru Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
v. melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurikulum Sekolah Dasar/Sekolah Dasar Luar Biasa dan Sekolah Luar Biasa berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang telah ditetapkan;
w. melaksanakan pembinaan dan pengembangan rintisan Sekolah Dasar inklusi; x. melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Seksi Kurikulum Sekolah Dasar;
y. membina, mengawasi dan menilai kinerja bawahan termasuk memberikan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3); dan
z. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai bidang tugasnya.
Seksi Sarana dan Prasarana Sekolah Dasar
(1) Seksi Sarana dan Prasarana Sekolah Dasar mempunyai tugas pokok melaksanakan
pendataan, perencanaan, pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar.
(2) Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Sekolah Dasar mempunyai tugas pokok memimpin
pelaksanaan pendataan, perencanaan, pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar.
(3) Penjabaran tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah sebagai berikut: a. membantu menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis di bidang sarana dan
prasarana Sekolah Dasar;
b. menyusun rencana, program kerja, kegiatan, laporan kinerja dan
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;
c. memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas Seksi sarana dan
prasarana Sekolah Dasar;
d. memberikan saran, pendapat dan pertimbangan kepada atasan;
e. mendistribusikan tugas, memberikan petunjuk dan arahan kepada bawahan;
f. melakukan pendataan dan menyusun rencana kebutuhan sarana dan
g. memverifikasi data tingkat kerusakan dan kebutuhan sarana dan prasarana Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
h. menyusun dan mengusulkan daftar skala prioritas pengadaan dan
rehabilitasi sarana dan prasarana Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
i. membantu mengoordinasikan pelaksanaan pengadaan dan pendistribusian
sarana Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
j. membantu mengoordinasikan pelaksanaan rehabilitasi dan pembangunan
gedung Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
k. melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Seksi sarana dan prasarana Sekolah Dasar;
l. membina, mengawasi dan menilai kinerja bawahan termasuk memberikan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3); dan
m. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai bidang tugasnya.
Seksi Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar
(1) Seksi Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar mempunyai tugas pokok melaksanakan fasilitasi pelaksanaan kebijakan, pembinaan dan penerapan standar teknis di bidang pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Dasar.
(2) Kepala Seksi Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar mempunyai
tugas pokok melaksanakan fasilitasi pelaksanaan kebijakan, pembinaan dan penerapan standar teknis di bidang pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar.
(3) Penjabaran tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah sebagai berikut:
a. membantu menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis di bidang pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Dasar;
b.menyusun rencana, program kerja, kegiatan, laporan kinerja dan
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;
c. memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas Seksi Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar;
d. memberikan saran, pendapat dan pertimbangan kepada atasan;
e. mendistribusikan tugas, memberikan petunjuk dan arahan kepada bawahan; f. melaksanakan pemberian penghargaan dan perlindungan pendidik dan tenaga
kependidikan Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
g.menyiapkan bahan penyusunan program peningkatan kualifikasi, tunjangan fungsional, kesejahteraan guru Wiyata Bakti dan sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan guru Sekolah Dasar dan kesetaraan Sekolah Dasar;
h.melaksanakan dan memfasilitasi proses penelitian berkas sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan kesejahteraan guru wiyata bakti dan tunjangan fungsional guru wiyata bakti dan non wiyata bakti;
i. mengoordinasikan proses penetapan angka kredit pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Dasar serta pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan kesetaraan Sekolah Dasar;
k. menyiapkan bahan rekomendasi ijin belajar/keterangan belajar pendidik dan tenaga kependidikan (fungsional) Sekolah Dasarserta pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan kesetaraan Sekolah Dasar;
l.memfasilitasi program dan kegiatan pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala sekolah (KKKS);
m. menyiapkan dan melaksanakan kegiatan lomba Guru Sekolah Dasar, Kepala Sekolah Dasar dan Pengawas Sekolah Dasar/Taman Kanak-Kanak berprestasi/berdedikasi;
n. memberi masukan mutasi pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Dasar; o. melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Seksi Pembinaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar;
p.membina, mengawasi dan menilai kinerja bawahan termasuk memberikan penilaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3); dan
q.melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai perundang-undangan yang berlaku.
Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang gampang bukan pula pekerjaan yang sulit. Menjadi guru memberikan kita kesempatan pada diri kita untuk mengeksploitasi semua kemampuan pemecahan masalah yang kita miliki. Setiap hari dalam semua kegiatan pembelajaran tentu dihadapkan pada berbagai persoalan yang terjadi scara tak terduga. Nah dalam hal seperti inilah kemampuan yang telah kita dapatkan saat kuliah diperlukan sekali.
disini saya akan membatasi masalah pada kinerja guru Wiyata Bakti ( WB ). Adilkah bila kita memberikan beban tugas yang sama seperti guru PNS bahkan yang sudah mendapat sertifikasi ? Dalam hal ini tentunya kita perlu memandangnya dari segala sisi secara obyektif. berikut saya paparkan beberapa pandangan pribadi penulis.
1. Pengalaman
Jika kita melihat dari sisi ini tentu beban mengajar yang diberikan Kepala Sekolah adalah sangat membantu WB mendapatkan pengalaman mengajar yang sesungguhnya. Dengan jumlah jam mengajar yang sama seperti guru PNS, WB memliki banyak kesempatan untuk menerapkan berbagai metode yang didapatkan selama masa kuliah. Pengalaman ini sangat berguna sekali apabila nantinya para WB tersebut mendapatkan kesempatan menjadi guru PNS. Dengan pengalaman yang didapat sebelumnya akan menjadikan WB tersebut menjadi guru yang sangat berkompeten di bidangnya. Hal seperti inilah yang diharapkan dapat tertanam dalam semua jiwa guru Wb di seluruh Indonesia. Begitu juga yang penulis tanamkan dalam diri penulis sewaktu masih menjadi guru WB ( sekarang PNS ).
2. Kesejahteraan
tentu seperti prinsip ekonomi dimana dengan modal seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan dasar pemikiran yang seperti ini pengajaaran yang diberikan pun akan akan menjadi kurang bermakna.
3. Agama
Ditinjau dari segi agama maka hal tersebut bisa kita jadikan sebagai sumber amal kebaikan dan kebajikan bagi modal hidup kita kelak di akhirat. Karena semua ilmu yang kita ajarkan pasti akan sangat bermanfaat bagi para siswa.
4. Individu
Setiap individu Wb tentu memiliki pemikiran sendirisendiri tentang beban tugas yang diterimanya. Ada beberapa sikap umum yang bisa saya paparkan tentang sikap para WB tentang beban mengajar yang diterimanya sebagai contoh adalah WB menganggap sebagai penghargaan dan kepercayaan dari KS akan kemampuan yang dimiliki WB
Seorang Kepala Sekolah tentu tidak dengan sembarangan memberikan tugas mengajar seperti PNS. Tentunya ada penilaian tersendiri yang menganggap bahwa Wb tersebut mampu untuk melakukan tugas ini. Dengan diberikannya tugas ini kepada kita adalah sebagai bentuk apresiasi atas kinerja kita selama ini
Jadi kesimpulannya adalah bahwa beban mengajar yang diberikan kepada WB setara dengan beban PNS adalah sahsah saja. Tentang hasil mengajar para WB akan sangat bergantung pada dari segi mana WB tersebut menerima tugas itu sehingga antara WB satu dengan lainnya akan berbeda.
Dan penulis berdoa untuk para WB diseluruh dunia yang melakukan tugasnya dengan ikhlas semoga apa yang mereka lakukakan akan segera mendapatkan balasannya di dunia dan menabungnya untuk di akhirat.