BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT PADA
MURID SMP PUTRI CAHAYA DI MEDAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi
syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh : MONICA
EVANA
110600134
Pembimbing :
Erliera, drg., Sp.Ort
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ortodonti
Tahun 2015
Monica Evana
Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti berdasarkan Aesthetic Component
pada Murid SMP Putri Cahaya di Medan
x + 35 Halaman
Maloklusi merupakan salah satu kelainan dentofasial yang dapat menimbulkan
rasa sakit secara fisik, gangguan perkembangan psikologis dan sosial yang secara
keseluruhan dapat meganggu kulitas hidup pada remaja. Salah satu indeks maloklusi
adalah Index of Orthodontic Treatment Need yang terdiri atas komponen DHC dan
komponen AC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kebutuhan perawatan
ortodonti pada murid SMP Putri Cahaya di Medan, tingkat kebutuhan perawatan
ortodonti berdasarkan pendidikan orang tua murid, pekerjaan orang tua murid, dan
pendapatan orang tua murid. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 150 murid yang terdiri atas
61,3% perempuan dan 38,7% laki-laki yang telah memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi.
Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti AC menunjukkan bahwa 57,33% tidak
membutuhkan perawatan/membutuhkan perawatan ringan (AC 1-4), membutuhkan
perawatan sedang (AC 5-7) sebanyak 35,33%, dan hanya 7,33% responden yang
sangat membutuhkan perawatan (AC 8-10). Berdasarkan pendidikan, pekerjaan, dan
pendapatan orang tua murid, hasil menunjukkan pada kategori tidak membutuhkan
perawatan/membutuhkan perawatan ringan >50% dibandingkan dengan kategori
membutuhkan perawatan sedang maupun kategori sangat membutuhkan perawatan
dengan persentase masing-masing 56,89%, 57,35%, dan 57,84%. Sebagai
lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak membutuhkan perawatan/
membutuhkan perawatan ringan.
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan
di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 21 Mei 2015
Pembimbing: Tanda tangan
1. Erliera, drg., Sp.Ort
NIP. 1980011320080122003 ...
2. Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph.D
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji
padatanggal 21 Mei 2015
TIM PENGUJI
KETUA : Erliera, drg., Sp.Ort
ANGGOTA : 1. Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph.D
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, skripsi ini telah
disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis untuk kedua orang tua
tercinta Henry Sukendar dan Miranda Gozali atas segala kasih sayang, doa, nasihat,
dan dukungannya serta kepada saudara-saudara yang selalu mendukung dalam doa
kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapat bimbingan, bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Sp. Ort, selaku dekan Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort (K), selaku Ketua Departemen Ortodonsia
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
3. Hilda F. Lubis,drg., Sp.Ort, selaku koordinator skripsi.
4. Erliera, drg., Sp. Ort, dan Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph.D selaku dosen
pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan saran,
dukungan, bantuan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan
baik.
5. Muslim Yusuf, drg., SP. Ort(K), selaku dosen penguji yang telah menyediakan
waktu dan memberikan masukan pada penulis.
6. Mimi Marina Lubis, drg., Sp. Ort, selaku dosen penguji yang telah
menyediakan waktu dan memberikan masukan pada penulis.
7. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Departemen Ortodonsia Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara atas bantuan yang diberikan kepada
teman lainnya yang telah banyak membantu dalam proses penelitian kepada penulis.
9. Teman-teman seperjuangan di Departemen Ortodonti Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah saling membantu dan memberikan
semangat, terutama Novita Zein Harahap, dan Yudith Mahfuza Hasibuan.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat
memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan disiplin ilmu di
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, skripsi ini telah
disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis untuk kedua orang tua
tercinta Henry Sukendar dan Miranda Gozali atas segala kasih sayang, doa, nasihat,
dan dukungannya serta kepada saudara-saudara yang selalu mendukung dalam doa
kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapat bimbingan, bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Sp. Ort, selaku dekan Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort (K), selaku Ketua Departemen Ortodonsia
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
3. Hilda F. Lubis,drg., Sp.Ort, selaku koordinator skripsi.
4. Erliera, drg., Sp. Ort, dan Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph.D selaku dosen
pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan saran,
dukungan, bantuan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan
baik.
5. Muslim Yusuf, drg., SP. Ort(K), selaku dosen penguji yang telah menyediakan
waktu dan memberikan masukan pada penulis.
6. Mimi Marina Lubis, drg., Sp. Ort, selaku dosen penguji yang telah
menyediakan waktu dan memberikan masukan pada penulis.
7. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Departemen Ortodonsia Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara atas bantuan yang diberikan kepada
teman lainnya yang telah banyak membantu dalam proses penelitian kepada penulis.
9. Teman-teman seperjuangan di Departemen Ortodonti Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah saling membantu dan memberikan
semangat, terutama Novita Zein Harahap, dan Yudith Mahfuza Hasibuan.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat
memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan disiplin ilmu di
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 24
3.7 Pengolahan Data... 25
3.8 Analisis Data ... 25
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 26
BAB 5 PEMBAHASAN ... 30
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
Tabel Halaman
1. Metode kualitatif dan cara klasifikasi ... 10
2. Protokol pemberian grade susunan oklusal (Daniels and Richmond) 13
3. Grade 1-2 indeks komponen DHC dari IOTN ... 14
4. Grade 3 indeks komponen DHC dari IOTN ... 14
5. Grade 4-5 indeks komponen DHC dari IOTN ... 15
6. Karakteristik responden ... 26
7. Distribusi Aesthetic Component ... 27
8. Persentase tingkat kebutuhan berdasarkan pendidikan orang tua ... 28
9. Persentase tingkat kebutuhan berdasarkan pekerjaan orang tua ... 28
10. Persentase tingkat kebutuhan berdasarkan pendapatan orang tua... 29
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Enam prinsip oklusi ideal menurut Andrew... 6
2. Maloklusi ... 8
3. Aesthetic Component grade ... 16
4. Aesthetic Component grade ... 22
5. Alat dan bahan penelitian ... 23
Lampiran
1. Lembar Kuesioner
2. Informed Consent
3. Lembar Persetujuan Subjek
4. Anggaran Biaya
5. Surat Keterangan Izin Penelitian
6. Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian
7. Data Hasil Penelitian
8. Output analisis
9. Intepretasi Hasil Foto Penelitian berasarkan aesthetic component
10. Surat Ethical Clearance
Departemen Ortodonti
Tahun 2015
Monica Evana
Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti berdasarkan Aesthetic Component
pada Murid SMP Putri Cahaya di Medan
x + 35 Halaman
Maloklusi merupakan salah satu kelainan dentofasial yang dapat menimbulkan
rasa sakit secara fisik, gangguan perkembangan psikologis dan sosial yang secara
keseluruhan dapat meganggu kulitas hidup pada remaja. Salah satu indeks maloklusi
adalah Index of Orthodontic Treatment Need yang terdiri atas komponen DHC dan
komponen AC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kebutuhan perawatan
ortodonti pada murid SMP Putri Cahaya di Medan, tingkat kebutuhan perawatan
ortodonti berdasarkan pendidikan orang tua murid, pekerjaan orang tua murid, dan
pendapatan orang tua murid. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 150 murid yang terdiri atas
61,3% perempuan dan 38,7% laki-laki yang telah memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi.
Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti AC menunjukkan bahwa 57,33% tidak
membutuhkan perawatan/membutuhkan perawatan ringan (AC 1-4), membutuhkan
perawatan sedang (AC 5-7) sebanyak 35,33%, dan hanya 7,33% responden yang
sangat membutuhkan perawatan (AC 8-10). Berdasarkan pendidikan, pekerjaan, dan
kebutuhan perawatan ortodonti sedang dan sangat membutuhkan perawatan akan
lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak membutuhkan perawatan/
membutuhkan perawatan ringan.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ortodonti merupakan cabang ilmu dan seni kedokteran gigi yang berkaitan
dengan anomali perkembangan posisi rahang dan gigi. Hal ini akan mempengaruhi
kesehatan mulut, fisik, estetis dan mental seseorang.1 Ortodonti berasal dari kata
Yunani "orthos" yang berarti benar atau lurus dan "odontes" yang berarti gigi.
Sehingga ortodonti merupakan cabang dari kedokteran gigi yang berhubungan
dengan perkembangan dan pengelolaan penyimpangan dari posisi gigi yang normal,
rahang dan wajah yang disebut juga maloklusi.2
Menurut Dewanto (cit. Dewi) maloklusi merupakan salah satu kelainan
dentofasial yang kebanyakan bersifat morfogenik dan merupakan masalah di bidang
kesehatan gigi dan akan terus meningkat sehingga penelitian-penelitian di bidang
ilmu kedokteran gigi masih tetap diperlukan.3 Menurut World Health Organization
(WHO) maloklusi adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi
hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien yang memerlukan
perawatan.4
Akibat yang ditimbulkan maloklusi bukan hanya menganggu rasa sakit secara
fisik saja bahkan perkembangan psikologis dan sosial yang secara keseluruhannya
menganggu terhadap kualitas hidup remaja.3 Prevalensi maloklusi pada remaja di
Indonesia masih tinggi, mulai dari tahun 1983 adalah 90% sampai tahun 2006 adalah
89%, sementara perilaku kesehatan gigi pada remaja khususnya tentang maloklusi
masih belum cukup baik dan pelayanan kesehatan belum optimal.3
menunjukkan prevalensi maloklusi telah mencapai 90,79%. Keadaan ini mencakup
maloklusi berat sebesar 26,32%, maloklusi sedang 11,84% dan maloklusi ringan
11,84%.3,5
Ada banyak indeks yang dikembangkan oleh para ahli dalam pencatatan
keadaan maloklusi. Metode pengukuran/pencatatan keadaan maloklusi ini secara luas
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Yang
termasuk dalam metode kualitatif adalah Angle, Fisk, dan WHO/FDI. Sedangkan
yang termasuk dalam metode kuantitatif adalah Dental Aesthetic Index (DAI), Index
of Orthodontic Treatment Need (IOTN), dan Index of Complexity Outcome and Need
(ICON). Tujuan dari penelitian menggunakan indeks ini adalah untuk menilai
kebutuhan akan perawatan ortodonti pada populasi sekolah.7 World Health
Organization (WHO) pada tahun 1995 mengukur prevalensi kebutuhan perawatan
ortodonsi di 10 negara industri, dimana kebutuhan perawatan ortodonsi berkisar 21-
64% sebelum dilakukan pengukuran menggunakan IOTN. Hasil yang diperoleh
setelah melakukan pengukuran dengan IOTN komponen AC adalah 95% tidak
membutuhkan perawatan atau membutuhkan sedikit perawatan, 4,2% membutuhkan
perawatan sedang, dan 0,7% sangat membutuhkan perawatan.6 Hasil penelitian yang
dilakukan di SMP Negri 1 Tarean desa Rumoong pada bulan Maret 2014 menyatakan
dari komponen DHC 16,39% tidak atau butuh perawatan ringan, 18,04% butuh
perawatan borderline dan 65,57% sangat butuh perawatan. Sedangkan pada
komponen AC didapati 73,77% tidak atau butuh perawatan ringan, 22,95% butuh
perawatan borderline dan 3,28% sangat butuh perawatan.4 Penelitian dengan
menggunakan komponen AC juga dilakukan pada SMAN 16 Kota Banda Aceh
dengan sample sebanyak 385 orang, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek
yang tidak membutuhkan perawatan berjumlah 331 orang (86,0%), subjek yang
membutuhkan perawatan ortodonti sedang adalah 47 orang (12,2%) sedangkan
subjek yang sangat membutuhkan perawatan ortodonti adalah 7 orang(7%).8
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti akan melakukan penelitian terhadap
tingkat kebutuhan perawatan ortodonti pada SMP Putri Cahaya Medan dengan
pengukuran tingkat kebutuhan karena indeks ini telah mendapatkan pengakuan
secara nasional dan internasional sebagai metode yang sederhana, reliable dan valid.6
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat kebutuhan perawatan ortodonti pada murid SMP Putri
Cahaya di Medan?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui tingkat kebutuhan perawatan ortodonti pada murid SMP Putri
Cahaya Medan
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui tingkat kebutuhan perawatan ortodonti pada murid SMP Putri
Cahaya Medan berdasarkan pendidikan orang tua.
2. Mengetahui tingkat kebutahan perawatan ortodonti pada murid SMP Putri
Cahaya Medan berdasarkan pendapatan orang tua.
3. Mengetahui tingkat kebutuhan perawatan ortodonti pada murid SMP Putri
Cahaya Medan berdasarkan pekerjaan orang tua.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai informasi bagi murid SMP Putri Cahaya Medan tentang maloklusi
yang membutuhkan perawatan.
2. Sebagai bahan rujukan bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian.
3. Sebagai informasi bagi dokter gigi dan tenaga kesehatan dalam memberikan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Perawatan ortodonti yang tertulis pertama kali mengenai perawatan aktif
dibuat oleh Aurelius Cornelius Celsus, yang memperkenalkan pengunaan tekanan jari
untuk memperbaiki susunan gigi yang tidak teratur. Pada beberapa tahun terakhir
jumlah perawatan ortodonti yang dilakukan telah meningkat dan sudah dilakukan
beberapa cara untuk mendefinisikan kebutuhan akan perawatan ortodonti.2
Ortodonti berasal dari kata Yunani "Orthos", yang berarti benar atau lurus dan
"odontes" berarti gigi. Ortodonti adalah cabang dari kedokteran gigi yang
berhubungan dengan perkembangan dan pengelolaan penyimpangan dari posisi gigi
yang normal, rahang dan wajah (maloklusi).9 Maloklusi merupakan suatu anomali
dento-fasial yang menganggu fungsi dan memerlukan perawatan. Definisi yang
umum ini digunakan dalam menilai kebutuhan perawatan bagi pasien secara
individual, dan melibatkan sejumlah besar ukuran penilaian subjektif.2
Susunan gigi yang berjejal, tidak teratur, dan protursi telah menjadi masalah
untuk beberapa individu sejak zaman dahulu, dan upaya untuk memperbaiki
gangguan ini telah ada setidaknya sejak 1000 SM.10 Tujuan utama sebagian besar
pasien untuk melakukan perawatan ortodonti adalah memperbaiki penampilan
dentofasialnya. Bagi mereka perawatan ortodonti akan membuat mereka menjadi
lebih baik yang mungkin akan meningkatkan kemampuan mereka untuk berinteraksi
sosial dengan orang lain karena gigi yang tersusun rapi mampu menunjukkan
senyuman menyenangkan yang akan memberikan nilai positif pada sosial. Sedangkan
gigi yang tidak rapi atau protrusi akan memberikan nilai negatif terhadap sosial.11
2.1 Oklusi
Secara teoritis, oklusi didefinisikan sebagai kontak antara gigi-geligi yang
hubungan biologis yang dinamis antara semua komponen sistem stomatognatik
terhadap permukaan gigi-geligi yang berkontak dalam keadaan berfungsi.12
2.1.1 Oklusi Ideal
Oklusi yang ideal pada gigi dapat ditemukan pada keadaan statis dan pada saat
oklusi fungsional. Oklusi pada keadaan statis adalah posisi apapun antara gigi rahang
atas dan bawah di kontakkan. Sedangkan oklusi fungsional adalah pergerakan
mandibula yang mengakibatkan gigi rahang bawah dan rahang atas berkontak.8
Kunci oklusi yang normal menurut Angle adalah hubungan anteroposterior gigi
permanen molar pertama, yang merupakan penentuan hubungan lengkung gigi.
Sekitar 100 tahun setelah Angle, Andrew mendefinisikan kembali tentang konsep
oklusi status yang ideal dengan menggambarkannya dalam 6 kunci individual, dia
juga memperbaharui oklusi ideal yang melihat hubungan antara molar pertama (cit.
Cobourne).13
Enam prinsip oklusi ideal menurut Andrew (cit. Cobourne) (Gambar 1),
yaitu :13
1. Hubungan yang tepat dari gigi-gigi molar pertama tetap dan bidang sagital.
2. Angulasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang transversal.
3. Inklinasi mahkota gigi-gigi insisivus yang tepat pada bidang sagital.
4. Tidak adanya rotasi gigi-gigi individual.
5. Kontak yang akurat gigi-gigi individual dalam masing-masing lengkung gigi
tanpa diastema maupun berjejal.
Gambar 1. Enam prinsip oklusi ideal menurut Andrew.13
2.2 Maloklusi
Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal meliputi
ketidakteraturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti gigi berjejal, protrusif,
malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi antagonisnya.14
Perawatan ortodonti dibutuhkan karena adanya gigi yang berjejal, deep overbite,
increased overjet, openbite, diastema, crossbite, dan reverse overjet or lower jaw
protrusion (Gambar 2). Gigi berjejal merupakan keadaan dimana susunan gigi yang
sangat tidak rapi, ukuran gigi terlalu besar untuk rongga mulut. Hubungan
pengunyahan sangat minim dan keadaan seperti ini sangat tidak enak dipandang. Gigi
kaninus rahang atas merupakan salah satu gigi yang paling sering menjadi
penyebabnya. Deep over bite merupakan keadaan gigi anterior atas dan bawah yang
tumpang tindih yang akan menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan.
Increased overjet merupakaan keadaan gigi anterior rahang atas yang menonjol dan
berada di luar kontak normal dengan gigi rahang bawah sehingga gigitan menjadi
Open bite merupakan keadaan gigi anterior rahang atas dan rahang bawah yang tidak
menyentuh saat menggigit, hal ini menyebabkan semua tekanan pengunyahan terjadi
pada gigi belakang. Diastema merupakan keadaan yang terjadi karena adanya gigi
yang telah hilang atau ukuran gigi yang lebih kecil dari ukuran rata-rata sehingga
terdapat ruang diantara gigi. Crossbite merupakan keadaan yang terjadi ketika adanya
gigitan dalam gigi anterior rahang atas terhadap gigi anterior rahang bawah , karena
akan menyebabkan satu atau lebih gigi insisivus rahang bawah menjadi goyang.
Reverse overjet or lower jaw protursion merupakaan keadaan dimana rahang bawah
lebih panjang daripada rahang atas.9
Petugas klinis, pasien dan keluarga mungkin memiliki penilaian yang berbeda-
beda terhadap maloklusi apakah harus dirawat atau tidak. Hal inilah yang mendasari
dibuatnya suatu standar penilaian terhadap kebutuhan perawatan yaitu IOTN (Index
Of Orthodontic Treatment Need). Standar penilaian tersebut telah disepakati secara
A B
C D
E F
G
Gambar 2. Maloklusi. A. gigi berjejal, B. Deep overbite, C. Incresed overjet, D. Open
2.3 Indeks Maloklusi
Metode-metode yang diperkenalkan oleh Draker, Grainger, Salzmann, Freer
dan Adkins serta Freer di antara metode lainnya sudah mengalami banyak
perkembangan guna mencapai tujuan yaitu penilaian kebutuhan akan perawatan bagi
tujuan kesehatan masyarakat. Brook dan Shaw telah memperkenalkan garis besar dari
indeks prioritas perawatan ortodonti yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama
menilai dan memberikan skor bagi faktor-faktor oklusi dan gangguan kesehatan
rongga mulut, sedangkan bagian kedua memberikan skor untuk derajat gangguan
estetik yang disebabkan karena malposisi gigi-gigi anterior.8,20
Berdasarkan maloklusi yang ada, para ortodontis mengelompokkan maloklusi
berdasarkan kebutuhan perawatan dengan lebih tepat. Berdasarkan metode untuk
mengukur dan menentukan keparahan maloklusi dapat dibagi menjadi dua, yaitu
metode kualitatif dan kuantitatif. Contoh maloklusi secara kualitatif adalah Angle,
Fisk, dan WHO/FDI. Sedangkan maloklusi secara kuantitatif adalah Dental Aesthetic
Index (DAI), Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), dan Index of Complexity
Outcome and Need (ICON).7
2.3.1 Metode Kualitatif
Metode kualitatif yang pertama kali dipakai dan sampai sekarang masih sering
digunakan adalah metode Angle. Metode ini sangat mudah digunakan karena
klasifikasinya berdasarkan relasi mesio distal gigi dengan gigi molar satu atas
permanen sebagai panduan dalam menentukan oklusi. Pada metode Angle tidak
diperhitungkan hubungan antara gigi dengan wajah karena pada metode ini hanya
menentukan hubungan oklusi dari arah mesio distal pada bidang sagital. Sehingga
dari metode Angle, metode-metode kualitatif kemudian dikembangkan untuk
10
WHO/FDI. Metode ini terdiri dari 5 masalah yaitu anomali, kondisi ruang, oklusi,
kondisi gigi dan kebutuhan perawatan ortodonti. Ringkasan metode kulitatif dapat
dilihat pada tabel 1.7
Tabel 1. Metode-metode kualitatif dan cara mengklasifikasi maloklusi menurut
masing-masing metode.7
Metode Cara Klasifikasi
Angle Relasi mesio distal gigi molar satu atas permanen dengan gigi molar permanen bawah.
Fisk Pasien dibagi mengikuti umur dental masing-masing. Metode ini dicatat maloklusi terjadi pada arah antero posterior, vertikal, dan transversal.
Bjor dkk., Diidentifikasikan berdasarkan 3 definisi yang rinci, yaitu anomali gigi, anomali oklusal, dan deviasi kondisi ruang. WHO/FDI Metode ini dicatat dalam 5 hal, yaitu anomali, kondisi ruang,
oklusi, kondisi gigi dan kebutuhan perawatan ortodonti.
2.3.2 Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif menurut Tang dan Wei pada tahun 1993 menyatakan bahwa
metode ini adalah klasifikasi deskriptif dan tidak memberikan informasi kebutuhan
pengobatan dan hasil.15 Metode kuantitaif dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu Index of
Complexity Outcome a nd Need (ICON), Index of Orthodontic Treatment Need
(IOTN), dan Dental Aesthetic Index (DAI).7
2.3.2.1 Index of Complexity, Outcome and Need
Index of Complexity, Outcome and Need merupakan indeks yang telah
dikembangkan dan digunakan untuk mengevaluasi kompleksitas perawatan ortodonti.
Indeks ini terdiri dari lima komponen yang harus diperiksa, yaitu : Aesthetic
component, crossbite, hubungan antero-posterior segmen bukal, hubungan vertikal
anterior, dan lengkung gigi atas berjejal/diastema.16
1. Aesthetic Component : yang digunakan adalah komponen estetik dari IOTN.
2. Crossbite : merupakan keadaan dimana ditemukan hubungan antar gigi cusp
to cusp atau lebih buruk lagi di segmen bukal. Ini termasuk crossbite bukan dan
lingual dari satu atau lebih gigi baik dengan ataupun tanpa perpindahan madibula.
3. Hubungan antero-posterior segmen bukal : dinilai dengan tabel untuk setiap
sisi secara bergantian, kemudian nilai keduanya ditambahkan.
4. Hubungan vertikal anterior : ini termasuk openbite dan deep bite. Jika kedua
ciri dijumpai, hanya grade yang tertinggi yang dicatat dan dihitung.
5. Lengkung gigi atas berjejal/diastema : jumlah mesio distal mahkota gigi
dibandingkan dengan lingkar lengkung yang tersedia.
Perhitungan akhir yang dilakukan pada indeks ini adalah setelah semua nilai
telah diperoleh dan dikalikan bobot masing-masing, akan ditambahkan untuk
menghasilkan ringkasan grade terakhir (Tabel 2).17
2.3.2.2 Dental Aesthetic Index
DAI dibuat oleh Cons (cit. Babu V) berbeda dengan indeks lainnya dalam
persepsi estetik gigi secara umum. Indeks ini telah digunakan dan menunjukkan hasil
yang sangat memuaskan dalam berbagai studi untuk menilai prevalensi maloklusi dan
kebutuhan perawatan ortodonti dari kelompok populasi yang berbeda.18,23
Indeks ini merupakan indeks yang menggabungkan komponen klinis dan
estetik untuk mendapatkan skor tunggal yang menggabungkan aspek fisik dan estetik
oklusi.15 Indeks ini terdiri dari 10 struktur karakteristik oklusal maloklusi, yaitu
overjet, underjet, kehilangan gigi, diastema, openbite anterior, berjejal anterior,
diastema anterior, penyimpangan yang parah pada gigi anterior (maksila dan
mandibula), dan hubungan antero-posterior molar. Indeks ini membagi nilai
kebutuhan akan perawatan ortodonti menjadi 4 grade, yaitu :17
12
Rumus standar persamaan untuk menilai grade DAI adalah : (kehilangan gigi x
6) + (gigi berjejal) + (gigi celah) + (diastema x 3) + (penyimpangan yang parah pada
gigi anterior maksila) + (penyimpangan yang parah pada gigi anterior mandibula) +
(overjet anterior maksila x 2) + (overjet anterior mandibula x 4) + (hubungan
anteroposterior molar x 3) + 13.
2.3.2.3 Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN)
Indeks kebutuhan perawatan ortodonti (IOTN) dijelaskan oleh Brook dan
Shaw bahwa indeks ini telah diterima dan tersebar secara nasional maupun
internasional sebagai metode yang objektif untuk menentukan kebutuhan perawatan.
Indeks ini berlaku bagi pasien yang berumur dibawah 18 tahun.19 Indeks ini
mengklasifikasikan pasien sesuai dengan sejauh mana maloklusi mempengaruhi
sistem stomatognasi dan persepsi maloklusi estetik dengan tujuan mengidentifikasi
perawatan mana yang lebih menguntungkan pasien yang akan melakukan
perawatan.17,18,20
Pada tahun 2003 Children Dental Health Survey menemukan bahwa sekitar
1/3 dari anak-anak akan mendapatkan keuntungan jika melakukan perawatan
ortodonti. Indek kebutuhan perawatan akan ortodonti telah dikembangkan dan
diterima oleh seluruh profesi ortodonti untuk menilai efektivitas dan kesesuaian
perawatan. Salah satu indeks yang paling sering digunakan adalah Index of
Orthodontic Treatment Need (IOTN). IOTN sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu,
14
Dental Health Component (DHC) merupakan suatu indeks yang terdiri dari
lima kategori. Indeks ini juga di kenal dengan MOCDO, dimana M berarti Missing
teeth, O berarti Overjets, C berarti Crossbite, D berarti Displacement of contact
points, dan O lagi yang berarti Overbites.21,22,23
Tabel 3. Grade 1-2 indeks komponen DHC dari IOTN21
Grade 1 & 2
1 Maloklusi ringan, termasuk pergeseran kontak poin yang kurang dari 1 mm
2.a Overjet yang lebih besar dari 3,5 mm tetapi kurang atau sama dengan 6 mm
serta bibir yang kompeten
2.b Reverse overjet yang lebih besar dari 0 mm tetapi kurang atau sama dengan
1mm
2.c Crossbite anterior atau posterior yang kurang atau sama dengan 1 mm
diskrepansi antara posisi kontak retrusi dam posisi intercuspid
2.d Pergeseran titik kontak yang lebih besar dari 1 mm tetapi kurang atau sama dengan 2mm
2.e Openbite anterior atau posterior yang lebih besar dari 1 mm tetapi kurang atau
sama dengan 2 mm
2.f Overbite yang lebih besar atau sama dengan 3,5 mm tanpa kontak pada gingiva
2.g Pre-normal atau post-normal oklusi dengan atau tanpa anomali
Tabel 4. Grade 3 indeks komponen DHC dari IOTN21
Grade 3
3.a Overjet yang lebih besar dari 3,5 mm tetapi kurang atau sama dengan 6 mm
serta bibir yang tidak kompeten
3.b Reverse overjet yang lebih besar dari 1 mm tetapi kurang atau sama dengan 3,5
mm
3.c Crossbite anterior atau posterior yang lebih besar dari 1 mmtetapi kurang atau
sama dengan 2 mm diskrepansi antara posisi kontak retrusi dan posisi
intercuspid
3.d Pergeseran titik kontak yang lebih besar dari 2 mm tetapi kurang atau sama dengan 4 mm
3.e Openbite anterior atau lateral yang lebih besar dari 2 mm tetapi kurang atau
sama dengan 4 mm
3.f Deepbite yang komplit dengan atau tanpa trauma pada jaringan gingiva atau
Tabel 5. Grade 4-5 indeks komponen DHC dari IOTN21
Grade 4 & 5
4.a Overjet yang lebih besar dari 6 mm tetapi kurang atau sama dengan 9 mm
4.b Reverse overjet yang lebih besar dari 3,5 mm tanpa kesulitan pengunyahan atau
bicara
4.c Crossbite anterior atau posterior yang lebih besar dari 2 mm diskrepansi antara
posisi kontak retrusi dam posisi intercuspid
4.d Pergeseran titik kontak yang parah yang lebih besar dari 4 mm
4.e Openbite anterior atau lateral yang ekstrim lebih besar dari 4 mm
4.f Overbite yang besar dan komplit dengan trauma pada gingiva atau palatal
4.g Daerah hipodontia yang tidak begitu besar membutuhkan perawatan pre- restorasi ortodonti atau penutupan ruang untuk meniadakan kebutuhan perawatan prostetik
4.h Crossbite lingual posterior tanpa kontak fungsional oklusal pada salah satu atau
kedua segmen bukal
4.i Reverse overjet yang lebih besar dari 1 mm tetapi kurang atau sama dengan 3,5
mm dengan kesulitan pengunyahan atau bicara 4.j Gigi yang erupsi sebagian, miring atau terpendam 4.k Gigi Supernumerary
5.a Overjet yang lebih besar dari 9 mm
5.h Daerah hipodontia yang besar dengan implikasi restorasi (lebih dari 1 gigi pada setiap kwadran) yang membutuhkan perawatan ortodonti pre-restorasi
5.i Gigi terpendam (kecuali molar tiga) yang disebabkan karena gigi berjejal, pergerseran kontak poin, gigi supernumerary, gigi desidui yang persisten dan penyebab patologi lainnya
5.m Reverse overjet yang lebih besar dari 3,5 mm dengan kesulitan pengunyahan
dan bicara
5.p Cacat akibat celah bibir dan palatum dan anomali kranofasial lainnya 5.s Gigi desidui yang terpendam
Aesthetic Component (AC) merupakan skala yang terdiri dari 10 foto berwarna
16
kebutuhan akan perawatan, Grade 5,6 dan 7 menunjukkan kebutuhan akan perawatan
yang sedang atau batas untuk pengobatan, dan Grade 8, 9, 10 merupakan indikasi
kebutuhan akan perawatan ortodonti.17
A
B
A
B
A
C
A
C
B
C
Gambar 3. Sepuluh tingkat Aesthetic Component dari Index of Orthodontic Treatment Need.19
A = Tidak membutuhkan perawatan/ sedikit kebutuhan perawatan.
B = Kebutuhan perawatan sedang/ batas untuk pengobatan.
2.5 Kerangka Konsep
Grade A (1,2,3,4)
Tingkat kebutuhan
perawatan
ortodonti
Aesthetic Component Grade B (5,6,7)
18
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross
sectional yaitu untuk melihat tingkat kebutuhan perawatan ortodonti terhadap murid
SMP Putri Cahaya.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 9 bulan, yaitu bulan September 2014 - Mei
2015. Tempat penelitian ini dilakukan di SMP Putri Cahaya, Jln. Hayam Wuruk
No.11 Medan, Kecamatan Medan Baru.
3.3 Populasi dan Sample Penelitian
Populasi adalah semua murid SMP Putri Cahaya, berjumlah 663 murid.
Sampel diambil dengan menggunakan rumus kesalahan baku proporsi, yaitu
20
Dari perhitungan rumus, besar sampel minimum pada penelitian ini adalah 150
orang, dan untuk mempertimbangkan masalah eksklusi yang tidak terduga maka
ditambahkan 10% dari hasil perhitungan n, sehingga total sampel yang dibutuhkan
adalah 165 orang. Cara pengambilan sample menggunakan simple stratified random
sampling dimana pada murid SMP terdapat 3 tingkat kelas yaitu kelas VII, VIII, dan
IX. Masing-masing tingkatan sampel dipilih secara acak sebanyak 55 orang yang
kemudian akan dibagi lagi menjadi 5 kelas untuk setiap tingkatan sehingga akan
diambil 11 orang pada setiap kelas.
Keterangan :
= kesalahan baku proporsi
p = proporsi yang diinginkan
q = 1-p
N = populasi
n = besar sample
Kriteria Inklusi :
1. Murid dengan keadaan gigi permanen yang telah erupsi sempurna dengan
jumlah 28 gigi.
2. Murid yang belum pernah melakukan perawatan ortodonti.
Kriteria Esklusi :
1. Murid yang tidak bersedia dilakukan penelitian.
2. Murid yang tidak kooperatif.
3.4 Definisi Operasional
a) Jenis Kelamin : Tanda gender seseorang yang diukur secara nominal yaitu
laki-laki dan perempuan.
b) Pendidikan Orang tua : Tingkat pendidikan terakhir orang tua yang terbagi
-Tidak sekolah/ SD
-SMP/ SMA/ D1/ D2/ D3
-S1/ S2/ S3
c) Pekerjaan Orang tua : Golongan pekerjaan orang tua yang terbagi menjadi 5
golongan, yaitu :
-Golongan A :Tidak bekerja
-Golongan B : Buruh, pembersih jalan, pembantu rumah tangga, dan pekerjaan
yang setara
-Golongan C : Supir, tukang jahit, pengrajin, pelayan toko, pelayan restoran,
dan pekerjaan yang setara
-Golongan D : Guru, perawat, bidan, apoteker, pemilik toko, PNS, pemilik
salon, pegawai swasta, polisi, tentara, dan pekerjaan yang setara.
-Golongan E : Dokter, jasa hakim, direktur bank, arsitek, pengacara, direktur
perusahaan, notaris, dan pekerjaan yang setara.
d) Pendapatan Orang tua : Jumlah pemasukan setiap bulan orang tua yang
terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu :
Rp 5.000.000,00
Rp 2.000.000,00 - Rp 5.000.000,00
< Rp 2.000.000,00
e) Murid SMP : setiap murid baik laki-laki maupun perempuan yang sedang
berada pada tingkatan sekolah menengah pertama.
f) IOTN (AC) : salah satu komponen dari IOTN terdiri dari 10 jenis foto
berwarna yang disusun berdasarkan tingkat foto dengan susunan gigi yang paling
baik sampai susunan gigi yang paling buruk. Grade 1 merupakan foto dengan
susunan gigi yang paling baik dan grade 10 merupakan tingkat susunan gigi yang
22
A
B
A
B
A
C
A
C
B
C
Gambar 4. Sepuluh tingkat Aesthetic Component dari Index of Orthodontic Treatment Need19.
A = Tidak membutuhkan perawatan/ sedikit kebutuhan perawatan.
B = Kebutuhan perawatan sedang/ batas untuk pengobatan.
3.5 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini terlihat pada gambar 5.
A B
C D
24
3.6 Metode pengumpulan data
1. Peneliti datang ke sekolah untuk meminta izin kepada kepala sekolah agar
dapat melakukan penelitian di SMP Putri Cahaya Medan.
2. Membuat jadwal penelitian dengan kepala SMP Putri Cahaya Medan.
3. Melakukan penjelasan penelitian pada hari akan dilakukan penelitian pada
setiap responden.
4. Penyebaran kuesioner dan infromed consent kepada setiap responden.
5. Data pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua akan diperoleh dari
kuesioner.
6. Pemasangan cheek r etractor pada mulut sampel dan kemudian diambil
beberapa foto dengan kamera digital untuk mendapatkan data foto.
7. Hasil foto kemudian akan dibandingkan dengan 10 grade aesthetic
component dan ditentukan foto tersebut termasuk dalam goolongan yang mana.
Gambar 6. Cheek retractor dipasang di mulut subjek dan difoto.
Cara pengambilan foto :
1. Setiap responden berada dalam posisi duduk dan badan tegak.
2. Kemudian responden diinstruksikan untuk membuka mulut agar cheek
retractor dimasukkan.
3. Setelah cheek retractor dimasukkan, responden diminta untuk melakukan
foto.
4. Posisi kepala responden menghadap ke depan dan dilakukan pengambilan
5. Pengambilan foto dilakukan 2 sampai 4 kali dengan mempertimbangkan
adanya pengambilan foto yang kurang baik.
6. Foto yang diambil adalah hasil foto yang terbaik, simetris dengan garis
tengah wajah, dan sejajar bidang oklusal.
3.7 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi.
3.8 Analisis Data
Analisis data diawali dengan melakukan perbandingan hasil foto yang diambil
dengan kamera digital dengan gambar sepuluh tingkat aesthetic component. Dari
hasil perbandingan tersebut kemudian ditentukan tingkatannya. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis dengan uji statistik deskriptif dengan menyajikan data dalam
26
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Karakteristik Responden
Tabel 6 menunjukkan karakteristik responden dari 150 murid SMP Putri
Cahaya Medan. Dari penelitian diperoleh jumlah perempuan lebih banyak, yaitu
63,1% dan laki-laki 38,7%. Umumnya responden dengan latar belakang pendidikan
orang tua lulusan sarjana (S1-S3) sebanyak 72,7% mempunyai pendapatan antara 2-5
juta sebanyak 68%, dan memiliki jenis pekerjaan yang termasuk golongan menengah
ke atas, yaitu pekerjaan golongan D sebanyak 90,6%.
Tabel 6. Karakteristik responden (n=150)
Kelompok n %
tangga, dan pekerjaan yang setara 1 0.7
Supir, tukang jahit, pengrajin, pelayan toko,
pelayan restoran, dan pekerjaan yang setara 4 2.7 Guru, perawat, bidan, apoteker, pemilik toko,
PNS, pemilik salon, pegawai swasta, polisi,
tentara, dan pekerjaan yang setara 136 90.7 Dokter, jasa hakim, direktur bank, arsitek,
pengacara, direktur perusahaan, notaris, dan
pekerjaan yang setara 9 6
Pendapatan
> Rp 5.000.000,00 46 30,7
Rp 2.000.000,00 - Rp 5.000.000,00 102 68
4.2 Distribusi Aesthetic Component dari Index of Orthodontic Treatment
Need (IOTN)
Hasil penelitian menunjukkan kategori tidak membutuhkan perawatan dan
membutuhkan perawatan ringan (AC 1-4) sebanyak 57,33%, kategori membutuhkan
perawatan sedang (AC 5-7) 35,33% dan kategori sangat membutuhkan perawatan
(AC 8-10) hanya 7,33%.
Tabel 7. Distribusi Aesthetic Component (n=150)
Kebutuhan perawatan
4.3 Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti
Tabel 8 menunjukkan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan
pendidikan orang tua murid. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan
bahwa antara pendidikan orang tua dengan lulusan SMP-D3 dan lulusan sarjana (S1-
S3) tingkat kebutuhan perawatan ortodonti hampir sama dalam semua kategori, yaitu
pada kategori tidak membutuhkan/membutuhkan perawatan ringan adalah 58,54%
dan 56,89%. Pada kategori membutuhkan perawatan sedang, 34,14% dan 35,77%,
28
Tabel 8. Persentase tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan pendidikan
orangtua (n=150)
Tabel 9 menunjukkan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan
pekerjaan orang tua murid. Hasil penelitian yang diperoleh adalah lebih dari 50%
pekerjaan orang tua murid merupakan pekerjaan golongan menengah ke atas, yaitu
golongan D sebanyak 90,6%, yang terdiri atas 57,35% tidak membutuhkan
perawatan/membutuhkan perawatan ringan, 35,33% membutuhkan perawatan sedang,
dan hanya 7,35% yang sangat membutuhkan perawatan.
Tabel 9. Persentase tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan pekerjaan
orangtua (n=150)
Tabel 10 menunjukkan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan
pendapatan orang tua murid. Hasil yang diperoleh adalah lebih dari 50% pendapatan
tidak membutuhkan perawatan/membutuhkan perawatan ringan, 36,27%
membutuhkan perawatan sedang dan 5,88% sangat membutuhkan perawatan.
Tabel 10. Persentase tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan pendapatan
orangtua (n=150)
Tabel 11 menunjukkan alasan tidak melakukan perawatan bagi responden yang
membutuhkan perawatan. Alasan paling banyak tidak melakukan perawatan adalah
tidak ada waktu , yaitu sebanyak 51,33%, dan hanya ada 0,67% responden yang
30
BAB 5
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan pada 150 murid SMP Putri Cahaya Medan yang terdiri
dari laki-laki dan perempuan dan telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pada
Tabel 6 terlihat lebih banyak perempuan 61,3% daripada laki-laki 38,7%. Sedangkan
tingkat kebutuhan perawatan ortodonti terlihat pada Tabel 7.
Berdasarkan hasil penelitian kategori tidak membutuhkan perawatan/
membutuhkan perawatan ringan 57,33%, membutuhkan perawatan sedang 35,33%,
dan sangat membutuhkan perawatan 7,33%. Penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan di SMP Negri 1 Tarean desa Rumoong pada bulan Maret 2014. Hasil
yang diperoleh adalah 73,77% tidak atau butuh perawatan ringan, 22,95% perawatan
borderline dan 3,28% sangat membutuhkan perawatan.4 Penelitian yang dilakukan
pada SMAN 16 Kota Banda Aceh dengan menggunakan komponen AC juga
memiliki hasil yang sama, yaitu 86% tidak membutuhkan atau membutuhkan
perawatan rigan, 12,2% kebutuhan sedang, dan 1,8% sangat membutuhkan
perawatan.8 Hasil penelitian dengan menggunakan komponen AC yang paling
mendekati adalah penelitian yang dilakukan oleh Dika dkk., pada penelitian mereka
diperoleh 53% tidak memerlukan perawatan/perawatan ringan, 34% dengan
kebutuhan sedang, dan 13% sangat membutuhkan perawatan.5
Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan pendidikan orang tua
murid dapat dilihat pada Tabel 8. Hasil penelitian menunjukkan murid dengan orang
tua lulusan sarjana paling banyak, yaitu 72,67% yang terdiri atas 56,89% pada
kategori tidak membutuhkan perawatan/perawatan ringan, 35,77% membutuhkan
perawatan sedang dan hanya 7,34% sangat membutuhkan perawatan. Latar belakang
pendidikan orang tua yang tinggi mempengaruhi kebutuhan akan perawatan ortodonti
yang lebih rendah karena adanya kesadaran mereka untuk melakukan kunjungan ke
dokter gigi dalam hal perawatan lebih tinggi disebabkan keadaan sosial ekonomi
ditemukan bahwa pada ayah dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi
terdapat kebutuhan perawatan ortodonti yang lebih rendah.6 Penelitian yang
dilakukan oleh Rumampuk dkk., juga menyatakan bahwa dengan keadaan sosial
ekonomi orang tua yang mampu, akan lebih banyak siswa yang tidak membutukan
perawatan/membutuhkan perawatan ringan.24
Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan pekerjaan orang tua murid
dapat dilihat pada Tabel 9. Hasil penelitian menunjukkan pekerjaan orang tua murid
pada golongan D paling banyak, yaitu sebanyak 90,67% yang terdiri atas 57,35%
tidak membutuhkan perawatan/membutuhkan perawatan ringan, 35,3%
membutuhkan perawatan sedang, dan 7,35% sangat membutuhkan perawatan.
Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan pendapatan orang tua murid
dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan orang tua
murid dengan rentang 2 - 5 juta paling banyak. Pekerjaan dan pendidikan orang tua
merupakan 2 hal yang saling berkaitan, sehingga dari hasil penelitian dapat dilihat
bahwa persentase pekerjaan terbanyak terdapat pada golongan D yang seimbang
dengan persentase pendapatan orang tua, yaitu 2-5 juta (68%). Penelitian yang
dilakukan Guray menyatakan bahwa status sosial ekonomi yang rendah, kebutuhan
akan perawatan ortodonti lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak membutuhkan
perawatan ortodonti.24 Hasil yang diperoleh pada penelitian ini sesuai dengan yang
diperoleh Guray. Pada penelitian ini diperoleh bahwa pada pekerjaan golongan D
yaitu golongan menengah ke atas, kebutuhan perawatan ortodonti lebih rendah
daripada yang tidak membutuhkan/kebutuhan ringan. Pada pendapatan orang tua juga
terlihat bahwa dengan pendapatan yang berkisar antara 2-5 juta kebutuhan perawatan
ortodonti lebih rendah dibandingkan yang tidak membutuhkan perawatan/
32
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Distribusi tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Aesthetic
Component dari IOTN pada murid SMP Putri Cahaya Medan adalah 57,33% pada
kategori tidak membutuhkan/membutuhkan perawatan ringan, 35,33% pada kategori
membutuhkan perawatan sedang, dan hanya 7,33% yang sangat membutuhkan
perawatan. Pada penelitian ini, tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan
pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua murid sesuai dengan penelitian
sebelumnya bahwa tingkat sosial ekonomi yang tinggi berarti kebutuhan perawatan
akan semakin rendah. Hasil penelitian yang dilakukan pada SMP Putri Cahaya
Medan menunjukkan bahwa dengan pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua
murid yang lebih baik, persentase kebutuhan perawatan lebih kecil dibandingkan
dengan yang tidak membutuhkan perawatan/kebutuhan perawatan ringan, yaitu
56,89%, 57,35%, dan 57,84%.
6.2 Saran
a) Data-data yang diperoleh pada penelitian ini dapat digunakan sebagai
informasi dasar untuk penelitian selanjutnya.
b) Pada penelitian akan datang diharapkan untuk meneliti lebih lanjut dan
detail hubungan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti (Dental Health Component)
dengan pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua murid.
c) Pada penelitian-penelitian akan datang diharapkan peneliti menggunakan
DAFTAR PUSTAKA
1. Singh G. Textbook of orthodontics. 2nd ed. New Delhi: Jaypess, 2007: 3-4.
2. Foster TD. A Textbook of orthodontics. 3rd ed. Austria: Blackwell Scientific,
1990:24, 179-180.
3. Dewi O. Analisis hubungan maloklusi dengan kualitas hidup pada remaja
SMU Kota Medan Tahun 2007. Tesis. Medan: USU, 2008 : 14-24.
4. Wilar LA, Rattu AJM, Mariati NW. Kebutuhan perawatan orthodonsi
berdasarkan Index of Or thodontic Treatment Need pada siswa SMP Negeri 1
Tareran. Jurnal eG Juli-Desember 2014; 2(2)
5. Dika DD, Hamid T, Sylvia M. Penggunaan Index of Ortthdontic Treatment
Need (IOTN) sebagai evaluasi hasil perawatan dengan piranti lepasan.
Orthodontic Dental Journal 2011; 2:45-48.
6. Hansu C, Anindita PS, Mariati NW. Kebutuhan perawatan ortodonsi
berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need di SMP Katolik Theodorus
Kotamobagu. Journal eG. 2013; 1(2) : 99-104.
7. Agarwal A, Mathur R. An Overview of orthodontic indices. Word J Dent.
2012; 3(1): 77-86.
8. Juliza A. Kebutuhan Perawatan Ortodonti pada Remaja usia 15-17 Tahun
Berdasarkan Penilaian Aesthetic Component dari IOTN.
http://222.124.186.246:8885/index.php?p=show_detail&id=9303 (19 Januari
2015)
9. British Orthodontic Society. The justification for orthodontic treatment.
Bos.org.uk. (15 September 2014).
10. Profit WR. Contemporary orthodontics, 5th ed., Philadepia: Mosby Elseiver,
34
13. Cobourne MT, DiBiase AT. Handbook of orthodontics. China:Mosby
Eleseiver, 2010 : 1-3.
14. Djunaid A, Gunawan PN, Khoman JA. Gambaran pengetahuan tentang
tampilan maloklusi pada siswa sekolah menengah pertama kristen 67 Imanuel
Bahu. Jurnal eG Maret 2013 ; 1(1) : 28-31.
15. Hassan R, Rahimah AK. Occlusion, malocclusion and method of
measurements-an overview. Archives of Orofacial Science 2007 ; 2 : 3-9.
16. Sagarkar AR, Sangkar RM, Naragond A, Prashanth R, Parameswaran VN.
Assesement of malocclisal traits using the index of complexity, outcome and
need (icon) index in orthodontic patients reporting to a private practice.
International Journal of Public Health Dentistry 2011; 2(2):1-3.
17. Hagg U, McGrath C, Zhang M. Quality of life and orthodontic treatment need
related to occlusal indices. Dental Bulletin October 2007; 12(10) : 8-12.
18. Arcis CB, Montiel JM, Silla JM. Orthodontic Treatment Need : An
epidemiological Approach. www.intechopen.com
19. British Orthodontic Society. What is the IOTN. bos.org.uk. (22 September
2014).
20. Ucuncu N, Ertugay E. The use of IOTN in a school population and referred
population. Journal of Orthodontics 2001;28 :45-52.
21. Chapel Road Orthodontics. Index of Treatment Need (IOTN).
Chapelroad.co.uk. (15 September 2014).
22. Hobsson R. Index of Orthodontic Treatment Need. ncl.ac.uk. (22 September
2014).
23. Babu V, Gapu H. Assessment of orthodontic treatment needs according to
dental aesthetic Index. Journal of Dental Science and Research September
2011; 2(2): 9-13.
24. Rumampuk MAV, Anindita P, Mintjelungan C. Kebutuhan perawatan
ortodonsi berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need pada siswa kelas
2.4 Kerangka Teori
OKLUSI
MALOKLUSI
INDEKS MALOKLUSI
KUALITATIF KUANTITATIF
ANGLE FDI/WHO FISK
DEPARTEMEN ORTODONTI FAKULTAS KEDOKTERTAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI
BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT PADA
MURID SMP PUTRI CAHAYA DI MEDAN
Nama :
2. Pendidikan terakhir orangtua :
a) Tidak sekolah / SD
b) SMP/ SMA/ D1/ D2/ D3
c) S1/ S2/ S3
3. Pekerjaan orangtua saat ini :
a) Tidak bekerja
b) Buruh, pembersih jalan, pembantu rumah tangga, dan pekerjaan yang setara
c) Supir, tukang jahit, pengrajin, pelayan toko, pelayan restoran, dan pekerjaan
yang setara
d) Guru, perawat, bidan, apoteker, pemilik toko, PNS, pemilik salon, pegawai
swasta, polisi, tentara, dan pekerjaan yang setara.
e) Dokter, jasa hakim, direktur bank, arsitek, pengacara, direktur perusahaan,
notaris, dan pekerjaan yang setara.
4. Pendapatan orangtua per bulan : a. > Rp 5.000.000,00
b. Rp 2.000.000,00 - Rp 5.000.000,00
B. Pemeriksaan Intra Oral (di isi oleh peneliti) :
5. Intepretasi hasil foto :
6. Tingkat kebutuhan : a. Tidak membutuhkan perawatan/membutuhkan perawatan ringan (1,2,3,4)
Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Jenis Kelamin :
Menyatakan kesediaan untuk menjadi sampel dalam penelitian mengenai
Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti Berdasarkan Aesthetic Component
Pada Murid SMP Putri Cahaya Medan dan tidak akan menyatakan keberatan
maupun tuntutan dikemudian hari.
Demikian pernyataan ini saya berikan dalam keadaan pikiran sehat/ sadar dan
tanpa paksaan apapun dari pihak manapun juga.
Medan, Maret 2015
Lampiran 3
LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN
Selamat pagi Saudara/i. Perkenalkan saya Monica Evana, mahasiswi yang
sedang menjalani pendidikan dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara. Bersama ini saya mohon kesediaan Saudara/i untuk berpartisipasi
sebagai subjek penelitian saya tentang “TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN
ORTODONTI BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT PADA MURID
SMP PUTRI CAHAYA DI MEDAN”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan perawatan
ortodonti pada murid SMP Putri Cahaya. Manfaat penelitian ini sebagai masukan
bagi murid-murid SMP Putri Cahaya tentang maloklusi yang memerlukan perawatan
dan sebagai bahan rujukan bagi peneliti lain.
Dalam penelitian ini Saudara/i diminta untuk mengisi kuesioner, kemudian
dilakukan pemeriksaan untuk melihat kondisi rongga mulut apakah telah memenuhi
kriteria yang diinginkan. Jika tela memenuhi kriteria, maka akan dilakukan foto gigi
yang telah dipasang cheek retractor. Penelitian ini tidak memiliki efek samping
apapun.
Jika Saudara/i bersedia, Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Subjek
Penelitian terlampir harap ditandatangani dan dikembalikan. Surat kesediaan tersebut
tidak mengikat dan Saudara/i dapat mengundurkan diri dari penelitian ini kapan saja
selama penelitian ini berlangsung. Demikian, semoga keterangan saya diatas dapat
dimengerti dan atas kesediaan Saudara/i untuk berpartisipasi dalam penelitian ini saya
25 95 Alicia vii B C B D 4
26 189 Desima vii B C B D 4
27 198 Gideon vii A C A D 4
28 191 Yana vii B C A D 4
29 192 Nisa vii B C B D 4
30 85 Rahayu vii B C A B 4
31 87 Oscar vii A B A D 4
32 76 Revanda vii A C B D 4
33 201 Randy vii A C B D 4
34 73 Michael vii A B B D 5
35 88 Mazmur vii A C B D 5
36 83 Grace vii B C B D 5
37 180 Catherine vii B C B D 5
38 179 Grace Taruli vii B C B D 5
39 176 Sharon vii B B B D 5
40 197 Jocelyn vii B C A D 5
41 74 Ivander vii A B B D 5
42 193 Angelic vii B C A D 5
43 188 Serlin vii B B A D 6
44 177 Angelina vii B C A D 6
77 6 Gabriel viii A B B D 3
78 2 Sonna viii B C A D 3
79 65 Melisa viii B C B D 3
80 67 Yunita viii B C B C 3
81 55 Octavia viii B C A D 4
82 18 Edgar viii A C B D 5
83 41 Widia viii B C A D 5
84 46 Florentino viii A B B D 5
85 31 Febri viii A B B D 5
86 59 Maryo viii A C B E 5
87 4 Cindy viii B C A D 5
88 73 Engelina viii B C A E 5
89 72 Lily viii B C A D 5
90 8 Reynold viii A C B D 6
91 49 Yovita viii B B B D 6
92 39 Yohannes viii A B B D 6
93 50 Roselva viii B B B D 6
94 74 Rachel viii B C A D 6
95 5 Gery viii A B B D 6
96 27 Aldi viii A C C D 6
129 140 Benny IX A C A E 5
130 141 Evin IX A C B D 5
131 112 Fenicia IX B C B D 5
132 114 Shanta IX B C B D 5
133 115 Andreas IX A C B D 5
134 116 Agung IX A C B D 5
135 118 Benito IX A C A D 5
136 160 Timothy IX A C B D 6
137 168 Margaretha IX B C B D 6
138 106 Frans IX A C B D 6
139 107 Michel IX A B B D 6
140 117 Juan IX A C B D 6
141 158 Neysa IX B C B D 6
142 129 Dealiza IX B C A C 6
143 125 Handi IX A C B D 6
144 131 Lola IX B C B D 6
145 133 Cyntia IX B C B D 6
146 139 Natasya IX B B B D 6
147 135 X IX B B A D 8
148 150 Angelia IX B C A D 8
149 170 Amaria IX B C B D 8
Jenis Kelamin Pendidikan OT Pendapatan OT Pekerjaan OT
Lampiran 8
PENILAIAN SUBJEKTIF TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN
ORTODONTI BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT
Tingkat 1 Aesthetic Component Tingkat 2 Aesthetic Component
Tingkat 3 Aesthetic Component Tingkat 4 Aesthetic Component