• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belawan International Port Passenger Terminal ( Arsitektur Metafora )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Belawan International Port Passenger Terminal ( Arsitektur Metafora )"

Copied!
186
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PERANCANGAN

TKA 490 - STUDIO TUGAS AKHIR

SEMESTER B TAHUN AJARAN 2011/2012

Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Teknik Arsitektur

Oleh :

HARDI HENDRA

08 0406 052

DEPARTEMEN ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

U N I V E R S I T A S S U M A T E R A U T A R A

(2)

Oleh :

HARDI HENDRA

08 0406 052

Medan, Juni 2012

Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Arsitektur

Hajar Suwantoro, ST. MT.

NIP 197902032005011001

Ir.Nurlisa Ginting, MsC

NIP 196201091987012001

Pembimbing I

Pembimbing II

Ir. N Vinky Rahman, MT

(3)

SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK TUGAS AKHIR

(SHP2A)

Nama : Hardi Hendra

NIM : 08 0406 052

Judul Proyek Tugas Akhir : Belawan International Port Passenger Terminal

Tema : Arsitrektur Metafora

Rekapitlasi Nilai

A B+ B C+ C D E

Dengan ini mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan :

No Status

Waktu Pengumpulan

Laporan

Paraf Pembimbing

I

Paraf Pembimbing

II

Koordinator TKA-490

1 Lulus Langsung

2

Lulus Melengkapi

3

Perbaikan Tanpa Sidang

4

Perbaikan Dengan Sidang

5

Tidak Lulus

Medan, Juni 2012

Ketua Departemen Arsitektur Koordinator TKA-490

Ir. N Vinky Rahman, MT

NIP. 195811271987011001

Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP.M.Arch

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

atas berkat kuasanya saya dapat mengerjakan tugas akhir ini.

Tugas akhir ini mengambil judul:

Belawan International Port

Passenger Terminal

. Tugas akhir ini merupakan syarat yang diwajibkan

bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik.

Pada kesempatan ini, dengan tulus dan kerendahan hati, penulis

menyampaikan rasa hormat dan terima kasih serta penghargaan

sebesar-besarnya kepada pembimbing tugas akhir bapak

Hajar Suwantoro, ST. MT.

dan kepada ibu

Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc.

sebagai pembimbing tugas akhir,

atas kesediaannya membimbing, brain storming , motivasi , pengarahan dan

waktu beliau kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas

akhir ini.

Rasa hormat dan terima kasih yang sama juga penulis tujukan kepada:

1.

Bapak Ir. Vinky Rachman, MT. selaku Ketua Departemen Arsitektur,

Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

2.

Bapak Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP.M.Arch dan Wahyu Abdillah ST.

selaku koordinator Tugas Akhir, Departemen Arsitektur, Fakultas

Teknik, Universitas Sumatera Utara.

3.

Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur, Fakultas

Teknik, Universitas Sumatera Utara.

4.

PT.PELINDO 1 selaku perusahaan tempat di mana penulis melakukan

survey studi banding dan pemotretan data existing pelabuhan Belawan,

yang telah memberikan kesempatan sehingga penulis dapat

memperoleh kesempatan mengerjakan judul skripsi ini

(5)

6.

Kakak dan Abang serta Adik saya tercinta, Dewi Marlina, SE. dan

Handi Hendra, S.Farm, Apt. serta Angeline Louis Qiu yang memberikan

motivasi, serta perhatiannya.

7.

Bang Chechang (1997), Bang Adit (2002), Bang Freddy Randy (2005),

Bang Rudi Hermanto (2005), dan Kak Suwanti (2006) atas dukungan,

pendapat dan dorongan kepada penulis selama proses pengerjaan

tugas akhir ini.

8.

Semua teman - teman stambuk 2008 maupun Studio Tugas Akhir

Semester B TA 2011 / 2012, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik,

Universitas Sumatera Utara, khususnya Ilham, Erwin, Anggie, Kecikk,

Rahma, Tari, Jeffry, Jansen, VR, Hadi, Maria, Seni, Tiffany, Jingga,

Merry, Widiana, dan Jennifer atas dukungan, pendapat dan dorongan

kepada penulis selama proses pengerjaan tugas akhir ini.

9.

Adik

adik stambuk 2009 - 2011, Departemen Arsitektur, Fakultas

Teknik, Universitas Sumatera Utara, khususnya kepada WS, CP,

Anton, Roni, Pia, dan Meme (2009). Terima kasih atas dukungan,

pendapat, waktu, dan dorongan kepada penulis selama proses

pengerjaan tugas akhir ini.

10. Semua teman-teman Arsitektur ISTP khususnya Onesti Seto, Akbar,

Fenny, Daddy dan Tere serta Andy leonardo, maupun Robert dari

Teknik Sipil Universitas Dhamma Agung

Penulis sungguh menyadari bahwa tugas akhir ini mungkin masih

mempunyai banyak kekurangan. Karena itu penulis membuka diri terhadap

kritikan dan saran bagi penyempurnaan tugas akhir ini. Dan, akhirnya penulis

berharap tulisan ini memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya di lingkungan Departemen Arsitektur USU.

Medan, Juni 2012

Hormat saya,

(6)

DAFTAR ISI

Hal.

LEMBARAN PENGESAHAN

SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK TUGAS AKHIR

(SHP2A) ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

I.1. LATAR BELAKANG ... 1

I.2. MAKSUD DAN TUJUAN ... 2

I.3. MASALAH PERANCANGAN ... 3

I.4. PENDEKATAN ... 4

I.5. LINGKUP ... 4

I.6. BATASAN ... 4

I.7. MANFAAT ... 5

I.8. SASARAN ... 5

I.9. ASUMSI-ASUMSI ... 5

I.10. KERANGKA BERPIKIR ... 6

I.11. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN ... 8

BAB II. DESKRIPSI PROYEK ... 9

II.1. TERMINOLOGI JUDUL ... 9

II.2. TINJAUAN UMUM ... 10

II.2.1. PELABUHAN ... 10

II.2.1.1. PENGERTIAN PELABUHAN ... 10

II.2.1.2. SEJARAH KEPELABUHAN INDONESIA ... 11

II.2.1.3. PERAN PELABUHAN ... 15

II.2.1.4. FUNGSI PELABUHAN ... 15

II.2.1.5. KARAKTER PELAYANAN PELABUHAN ... 15

II.2.1.6. KLASIFIKASI PELABUHAN ... 16

II.2.1.7. FASILITAS-FASILITAS PELABUHAN ... 18

(7)

II.2.1.9. PERTIMBANGAN PEMBANGUNAN PELABUHAN ... 19

II.2.1.10. PERUSAHAAN PELABUHAN DI INDONESIA... 20

II.2.1.11. STANDAR PELABUHAN INTERNASIONAL ... 22

II.2.2. TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT ... 22

II.2.2.1. PENGERTIAN TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT ... 23

II.2.2.2. TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT SEBAGAI SUB SYSTEM PELABUHAN ... 23

II.2.2.3. KOMPONEN TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT ... 24

II.2.2.3.1. AREA DERMAGA ... 24

II.2.2.3.1.1. PENGERTIAN DAN JENIS DERMAGA ... 24

II.2.2.3.1.2. PEMILIHAN TIPE DERMAGA ... 24

II.2.2.3.1.2.1. TINJAUAN TOPOGRAFI DAERAH PANTAI ... 24

II.2.2.3.1.2.2. JENIS KAPAL YANG DILAYANI ... 25

II.2.2.3.1.2.3. DAYA DUKUNG TANAH ... 25

II.2.2.3.1.2.4. UKURAN KAPASITAS KAPAL ... 25

II.2.2.3.2. AREA APRON ... 26

II.2.2.3.3. BANGUNAN TERMINAL ... 26

II.2.2.3.4. GUDANG LAUT ... 27

II.2.2.4. AKTIVITAS DAN SIRKULASI DI DALAM TERMINAL ... 27

II.2.3. KLASIFIKASI KAPAL LAUT ... 29

II.2.3.1. JENIS-JENIS KAPAL LAUT... 29

II.2.3.2. SPESIFIKASI DIMENSI KAPAL LAUT ... 30

II.2.3.3. DEFINISI ATAU ISTILAH-ISTILAH DIMENSI KAPAL LAUT ... 32

II.3. TINJAUAN KHUSUS ... 33

II.3.1. DESKRIPSI PROYEK ... 33

II.3.2. PELABUHAN BELAWAN ... 34

II.3.2.1. SEKILAS TENTANG PELABUHAN BELAWAN ... 34

II.3.2.2. SEJARAH SINGKAT PELABUHAN BELAWAN (PELINDO 1) ... 35

II.3.2.3. STRUKTUR ORGANISASI PELABUHAN BELAWAN (PELINDO 1)... 38

II.3.2.4. DATA TEKNIS PELABUHAN BELAWAN ... 40

II.3.2.4.1. DERMAGA ... 40

II.3.2.4.2. HIDROGRAFI ... 43

II.3.2.4.3. PASANG SURUT ... 44

(8)

II.3.2.4.5. ANGIN ... 45

II.3.2.4.6. CUACA ... 45

II.3.2.4.7. JARAK PENGLIHATAN ... 45

II.3.2.4.8. INFRASTRUKTUR PENCAPAIAN ... 45

II.3.3. TERMINAL PENUMPANG EXISTING ... 46

II.3.3.1. SEKILAS TENTANG TERMINAL PENUMPANG EKSISTING BELAWAN .. 46

II.3.3.2. BATAS – BATAS SITE TERMINAL PENUMPANG EKSISTING BELAWAN 46 II.3.4. STUDI BANDING PROYEK SEJENIS ... 49

II.3.4.1. OSANBASHI YOKOHAMA INTERNATIONAL PASSANGER TERMINAL (1994-2002), FARSHID MEUSSAVI & ALEJANDRO ZAERA POLO ... 49

II.3.4.2. THE PORT OF KOBE (2006) ... 56

II.3.5. PERBANDINGAN DAN KESIMPULAN STUDI BANDING PROYEK SEJENIS ... 62

BAB III. ELABORASI TEMA ... 64

III.1. PENGERTIAN ARSITEKTUR METAFORA ... 64

III.1.1. ARSITEKTUR ... 64

III.1.2. METAFORA ... 65

III.1.3. ARSITEKTUR METAFORA ... 66

III.1.4. INTERPRETASI TEMA ... 70

III.1.5. STUDI BANDING TEMA SEJENIS ... 71

III.1.5.1. CHAPELLE NOTRE DAME DU HAUT RONCHAMP – LE CORBUSIER .... 71

III.1.5.2. SYDNEY OPERA HOUSE – JORN UTZON ... 74

III.1.5.3. MUSEUM OF FRUIT – ITSUKO HASEGAWA ... 76

III.1.5.4. LYON - SATOLAS TGV STATION – SANTIAGO CALATRAVA ... 79

III.1.5.5. MILWAUKEE ART MUSEUM-QUADRACCI PAVILLION – SANTIAGO CALATRAVA ... 81

III.1.6. PERBANDINGAN & KESIMPULAN STUDI BANDING TEMA SEJENIS ... 85

BAB IV.ANALISA PERANCANGAN ... 87

IV.1. ANALISA FISIK ... 87

IV.1.1. ANALISA LOKASI LINGKUNGAN ... 87

IV.1.1.1. POTENSI LINGKUNGAN ... 88

IV.1.1.2. KENDALA LINGKUNGAN ... 88

IV.1.1.3. TANGGAPAN ANALISA LOKASI LINGKUNGAN ... 89

(9)

IV.1.2.1. POTENSI SITE ... 91

IV.1.2.2. KENDALA SITE ... 91

IV.1.2.3. TANGGAPAN ANALISA LOKASI SITE ... 91

IV.1.3. ANALISA TATA GUNA LAHAN ... 92

IV.1.3.1. POTENSI TATA GUNA LAHAN ... 94

IV.1.3.2. KENDALA TATA GUNA LAHAN ... 94

IV.1.3.3. TANGGAPAN ANALISA TATA GUNA LAHAN ... 94

IV.1.4. ANALISA PENCAPAIAN KE DALAM & LUAR SITE ... 94

IV.1.4.1. POTENSI PENCAPAIAN KE DALAM & LUAR SITE ... 95

IV.1.4.2. KENDALA PENCAPAIAN KE DALAM & LUAR SITE ... 96

IV.1.4.3. TANGGAPAN PENCAPAIAN KE DALAM & LUAR SITE ... 96

IV.1.5. ANALISA SIRKULASI ... 96

IV.1.5.1. POTENSI SIRKULASI SITE ... 97

IV.1.5.2. KENDALA SIRKULASI SITE ... 98

IV.1.5.3. TANGGAPAN SIRKULASI SITE ... 98

IV.1.6. ANALISA VIEW ... 98

IV.1.6.1. POTENSI VIEW ... 100

IV.1.6.2. KENDALA VIEW ... 100

IV.1.6.3. TANGGAPAN ANALISA VIEW ... 101

IV.1.7. ANALISA SITE TERHADAP MATAHARI... 101

IV.1.7.1. POTENSI SITE TERHADAP MATAHARI ... 102

IV.1.7.2. KENDALA SITE TERHADAP MATAHARI ... 102

IV.1.7.3. TANGGAPAN ANALISA SITE TERHADAP MATAHARI ... 102

IV.1.8. ANALISA KEBISINGAN ... 103

IV.1.8.1. POTENSI SITE TERHADAP KEBISINGAN ... 104

IV.1.8.2. KENDALA SITE TERHADAP KEBISINGAN ... 104

IV.1.8.3. TANGGAPAN ANALISA SITE TERHADAP KEBISINGAN ... 104

IV.1.9. ANALISA BANGUNAN ... 104

IV.1.9.1. SIRKULASI BANGUNAN ... 104

IV.1.9.2. BENTUK BANGUNAN ... 106

IV.1.9.3. POLA MASSA BANGUNAN ... 108

IV.1.9.4. STRUKTUR BANGUNAN ... 109

IV.1.9.4.1. STRUKTUR BAWAH (SUB-STRUCTURE) ... 109

(10)

IV.1.9.5. UTILITAS BANGUNAN ... 114

IV.1.9.5.1. PENCAHAYAAN ... 114

IV.1.9.5.2. PENGKONDISIAN UDARA ... 114

IV.1.9.5.3. SANITASI ... 115

IV.1.9.5.4. ELEKTRIKAL ... 117

IV.1.9.5.5. PENANGGULANGAN KEBAKARAN ... 117

IV.2. ANALISA NON-FISIK ... 118

IV.2.1. ANALISA PEMAKAI (USER) ... 118

IV.2.2. ANALISA KEGIATAN ... 122

IV.2.3. ANALISA KEBUTUHAN RUANG ... 124

IV.2.3.1. JENIS KEBUTUHAN RUANG ... 124

IV.2.3.2. PERHITUNGAN JUMLAH PENUMPANG & PENGUNJUNG TERMINAL . 125 IV.2.3.3. BESARAN RUANG ... 127

BAB V. KONSEP PERANCANGAN ... 133

V.1. PERLETAKAN MASSA ... 133

V.2. BENTUK DAN GUBAHAN MASSA ... 133

V.3. PENCAPAIAN, DAN SIRKULASI DI LUAR BANGUNAN ... 136

VI.4. PENCAPAIAN, DAN SIRKULASI DI DALAM BANGUNAN ... 141

BAB VI. HASIL PERANCANGAN ... 142

VI.1. SITE PLAN ... 142

VI.2. GROUND PLAN ... 143

VI.3. DENAH LANTAI SATU ... 145

VI.4. DENAH LANTAI DUA DAN TIGA ... 146

VI.5. TAMPAK DEPAN DAN BELAKANG ... 147

VI.6. TAMPAK SAMPING ... 148

VI.7. POTONGAN A-A & B-B ... 149

VI.8. RENCANA PONDASI ... 150

VI.9. DETAIL STRUKTUR ... 151

VI.10. RENCANA PEMBALOKAN LANTAI SATU ... 152

VI.11. RENCANA PEMBALOKAN LANTAI DUA DAN TIGA ... 153

VI.12. RENCANA ATAP ... 154

VI.13. RENCANA PLUMBING DAN HYDRANT ... 155

VI.14. RENCANA ELEKTRIKAL DAN TELEPON ... 156

(11)

VI.16. RENCANA AC ... 158

VI.17. 3D BANGUNAN ... 159

VI.18. SKETSA INTERIOR ... 165

VI.19. FOTO MAKET ... 166

(12)

DAFTAR GAMBAR

Hal.

Gambar 1.1. Kerangka Berpikir Proyek Belawan International Port Passanger

Terminal ... 1

Gambar 2.1. Dimensi rumus perhitungan kapasitas kapal ... 26

Gambar 2.2. Lokasi Pelabuhan Belawan ... 34

Gambar 2.3. Lokasi Dermaga Belawan lama ... 40

Gambar 2.4. Lokasi Dermaga Ujung Baru ... 41

Gambar 2.5. Lokasi Dermaga Citra ... 41

Gambar 2.6. Lokasi Dermaga Industri Kimia Dasar ... 42

Gambar 2.7. Lokasi Dermaga Terminal Peti Kemas (Gabion) ... 43

Gambar 2.8. Lokasi Terminal Penumpang Existing Ujung Baru ... 46

Gambar 2.9. Batas-Batas Site Penumpang Existing... 47

Gambar 2.10. Bangunan Penunjang di Sekitar Site... 48

Gambar 2.11. Suasana Dermaga Yokohama International Port ... 49

Gambar 2.12. Tampak keseluruhan Dermaga ... 49

Gambar 2.13. Proyeksi Denah Lantai 1 Terminal ... 51

Gambar 2.14. Proyeksi Denah Lantai 2 Terminal ... 51

Gambar 2.15. Proyeksi Denah Lantai Atas Terminal ... 51

Gambar 2.16. Ramp Terminal-Dermaga ... 52

Gambar 2.17. Elevator Transportasi Vertikal ... 52

Gambar 2.18. Area parkir Terminal ... 52

Gambar 2.19. Lobi Passanger Terminal ... 53

Gambar 2.20. Dek Kapal Dermaga ... 53

Gambar 2.21. Area CIQ Terminal ... 54

Gambar 2.22. Aula Osanbashi ... 54

Gambar 2.23. Area Pengamatan ke luar ... 54

Gambar 2.24. Lounge Area Duduk dan Tunggu ... 55

Gambar 2.25. Toko Retail dan Restoran ... 55

Gambar 2.26. Plaza atas Dengan Konsep Green ... 55

(13)

Gambar 2.28. Dek Dermaga Pengunjung ... 56

Gambar 2.29. Pemeriksaan Pabean Naka ... 57

Gambar 2.30. Pemeriksaan Imigrasi Naka ... 57

Gambar 2.31. Pemeriksaan Kesehatan Naka ... 57

Gambar 2.32. Lobi Keberangkatan dan Masuk ... 57

Gambar 2.33. Lobi Terminal Penumpang ... 58

Gambar 2.34. Jembatan Penyeberangan Naka ... 58

Gambar 2.35. Lobi Kedatangan Terminal ... 58

Gambar 2.36. Denah Terminal Penumpang Naka ... 58

Gambar 2.37. Bangunan Terminal Penumpang Kobe ... 59

Gambar 2.38. Pemeriksaan Pabean Kobe ... 59

Gambar 2.39. Pemeriksaan Imigrasi Kobe ... 59

Gambar 2.40. Pemeriksaan Kesehatan Kobe ... 59

Gambar 2.41. Lobi Terminal Lantai 1 Kobe ... 60

Gambar 2.42. Lobi Terminal Lantai 2 Kobe ... 60

Gambar 2.43. Lobi Terminal Lantai 3 Kobe ... 60

Gambar 2.44. Jembatan Penyeberangan Kobe ... 60

Gambar 2.45. Pusat Informasi Turis Kobe ... 60

Gambar 2.46. Area Parkir Outdoor Kobe ... 60

Gambar 2.47. Denah Terminal Kobe Lantai Satu ... 61

Gambar 2.48. Denah Terminal Kobe Lantai Dua ... 62

Gambar 2.49. Denah Terminal Kobe Lantai Tiga ... 62

Gambar 3.1. Perspektif Suasana Notre Dame du Haut ... 72

Gambar 3.2. View Selatan Notre Dame du Haut ... 72

Gambar 3.3. View Utara Notre Dame du Haut ... 72

Gambar 3.4. Suasana Ruang Umat ... 73

Gambar 3.5. Interior di Dalam Notre Dome ... 73

Gambar 3.6. Interpretasi Terhadap Notre Dome ... 73

Gambar 3.7. Bangunan Sydney Opera House ... 74

Gambar 3.8. Detail Atap Beton Precast ... 74

Gambar 3.9. Suasana Sydney Opera House dari laut ... 75

Gambar 3.10. Suasana Interior Theater ... 76

Gambar 3.11. Akses Menuju Ruang Dalam... 76

(14)

Gambar 3.13. Exterior Bangunan-Bangunan Museum Of Fruit... 77

Gambar 3.14. Tampak Tiga Buah Bangunan Sebagai Bibit Buah ... 78

Gambar 3.15. Interior Plaza Bangunan Dalam ... 78

Gambar 3.16. Tampak Depan Lyon-Satolas TGV Station ... 79

Gambar 3.17. Model Burung sebagai Metafora Lyon-Satolas TGV Station ... 80

Gambar 3.18. Expos Struktur Interior Lyon-Satolas TGV Station ... 81

Gambar 3.19. Exterior Suasana Milwaukee Art Museum... 82

Gambar 3.20. Sayap Sebagai Shading Museum ... 83

Gambar 3.21. Metafora Burung Pada Suasana Malam ... 83

Gambar 3.22. Interior di Dalam Museum ... 84

Gambar 3.23. Sisi Samping Interior Museum ... 84

Gambar 4.1. Lokasi Pelabuhan Belawan ... 87

Gambar 4.2. Lokasi Terminal Pelabuhan Ujung Baru ... 89

Gambar 4.3. Batas-Batas Site ... 90

Gambar 4.4. Tata Guna Lahan Site Radius 1Km ... 92

Gambar 4.5. Detail Tata Guna Lahan Site View 1 ... 93

Gambar 4.6. Detail Tata Guna Lahan Site View 2 ... 93

Gambar 4.7. Pencapaian Menuju dan Keluar Site ... 95

Gambar 4.8. Sirkulasi dua arah jalan Sumatera ... 97

Gambar 4.9. Sirkulasi satu arah jalan Sumatera ... 97

Gambar 4.10. Sirkulasi dua arah jalan Ujung Baru ... 97

Gambar 4.11. Sirkulasi dua arah jalan Highway-Tol ... 97

Gambar 4.12. Arah View ke dalam site ... 99

Gambar 4.13. View A menuju site ... 99

Gambar 4.14. View B menuju site ... 99

Gambar 4.15. View C menuju site ... 100

Gambar 4.16. View D menuju site ... 100

Gambar 4.17. Analisa Site Terhadap Matahari ... 101

Gambar 4.18. Analisa Site Terhadap Kebisingan Sekitar ... 103

Gambar 4.19. Skema Sistem Elektrikal pada Bangunan ... 117

Gambar 4.20. Skema Pembagian Jenis-jenis penumpang ... 120

Gambar 4.21. Skema Sirkulasi Penumpang Keberangkatan ... 122

Gambar 4.22. Skema Sirkulasi Penumpang Kedatangan ... 122

(15)

Gambar 4.24. Skema Sirkulasi Penjemput ... 123

Gambar 4.25. Skema Sirkulasi Pengelola ... 123

Gambar 4.26. Skema Sirkulasi Pemilik Usaha ... 124

Gambar 5.1. Konsep Perletakan Massa ... 133

Gambar 5.2. Penyederhanaan Bentukan Ombak Baik Secara Horizontal Maupun Secara Vertikal Pada Bangunan... 134

Gambar 5.3. Konsep Debarkasi Ombak di Lantai Satu Berbalik Arah Menjadi Embarkasi di Lantai Dua ... 135

Gambar 5.4. Konsep Fungsi Publik Sebagai Ombak yang Mengecil di Lantai Tiga dan Pusat Core di Lantai Empat ... 135

Gambar 5.5. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Embarkasi di Area Luar ... 136

Gambar 5.6. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Debarkasi di Area Luar ... 137

Gambar 5.7. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Wisatawan ... 138

Gambar 5.8. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Kantor Pengelola dan Operasional Pelabuhan ... 138

Gambar 5.9. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Staff Fasilitas Penunjang ... 139

Gambar 5.10. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Staff Service... 140

Gambar 5.11. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi Pengunjung (Temporary) ... 141

Gambar 5.12. Skenario Pencapaian dan Sirkulasi di Dalam Bangunan ... 141

Gambar 6.1. Site Plan ... 142

Gambar 6.2. Ground Plan ... 143

Gambar 6.3. Ground Plan 2 ... 144

Gambar 6.4. Denah Lantai Satu ... 145

Gambar 6.5. Denah Lantai Dua dan Tiga ... 146

Gambar 6.6. Tampak Depan dan Belakang ... 147

Gambar 6.7. Tampak Samping ... 148

Gambar 6.8. Potongan A-A & B-B ... 149

Gambar 6.9. Rencana Pondasi ... 150

Gambar 6.10. Detail Struktur ... 151

Gambar 6.11. Pembalokan Lantai Satu ... 152

Gambar 6.12. Pembalokan Lantai Dua dan Tiga ... 153

Gambar 6.13. Rencana Atap dan Detail ... 154

Gambar 6.14. Plumbing dan Hydrant Terminal ... 155

(16)

Gambar 6.16. Titik lampu Terminal ... 157

Gambar 6.17. Titik AC Terminal ... 158

Gambar 6.18. Metafora Bangunan Sebagai Ombak Laut ... 159

Gambar 6.19. Entrance Terminal yang Terarah ... 159

Gambar 6.20. Drop Off Embarkasi Lantai Dua ... 160

Gambar 6.21. Drop Off Debarkasi Lantai Satu ... 160

Gambar 6.22. Integrasi Dengan Stasiun KA ... 161

Gambar 6.23. Akses Service Belakang Terminal ... 161

Gambar 6.24. Parkir Eksklusif Wisatawan ... 162

Gambar 6.25. View Perspektif Mata Burung Barat ... 162

Gambar 6.26. View Perspektif Mata Burung Timur ... 163

Gambar 6.27. Lengkungan Ombak Dari Jalan ... 163

Gambar 6.28. Detail Lengkungan Ombak Koridor ... 164

Gambar 6.29. Suasana di Dalam koridor ... 164

Gambar 6.30. Lengkungan Terminal Dari kapal ... 165

Gambar 6.31. Sketsa Ruang Lobi Utama ... 165

Gambar 6.32. Sketsa Foodcourt Area ... 166

Gambar 6.33. Sketsa Ruang Kedatangan Internasional ... 166

Gambar 6.34. Tampak Atas Maket Belawan International Port Passenger Terminal 167 Gambar 6.35. Perspektif Mata Burung Barat Maket Belawan International Port Passenger Terminal ... 167

Gambar 6.36. Perspektif Mata Burung Timur Maket Belawan International Port Passenger Terminal ... 168

(17)

DAFTAR TABEL

Hal.

Tabel 2.1. Spesifikasi Dimensi Kapal Laut ... 7

Tabel 2.2. Kondisi kedalaman Alur dan Kolam ... 44

Tabel 2.3. Perbandingan dan Kesimpulan Studi Banding Proyek Sejenis ... 62

Tabel 3.1. Perbandingan dan Kesimpulan Studi Banding Tema Sejenis ... 86

Tabel 4.1. Perbandingan Kriteria Bentuk Dasar Bangunan ... 108

Tabel 4.2. Perbandingan Kriteria Bentuk Pola Massa Bangunan ... 109

Tabel 4.3. Perbandingan Kelemahan dan Kelebihan Struktur Atap ... 112

Tabel 4.4. Perbandingan Konstruksi Struktur Atap ... 112

Tabel 4.5. Perbandingan Material Bangunan... 113

Tabel 4.6 Perbandingan Penghawaan Alami dan Buatan ... 115

Tabel 4.7. Perbandingan Keuntungan dan Kerugian Sistem Distribusi Air Bersih Down Feed ... 115

Tabel 4.8. Perbandingan Keuntungan dan Kerugian Sistem Distribusi Air Bersih Up Feed ... 116

Tabel 4.9. Realisasi Jumlah Penumpang Pelabuhan Belawan ... 120

Tabel 4.10. Jenis Kebutuhan Ruang Terminal Pelabuhan ... 124

(18)

BAB I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Kota Medan dewasa ini merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia

yang mengalami perkembangan dan peningkatan di segala aspek kehidupan,

mencakup bagian dari peningkatan nilai sosial, ekonomi, budaya, politik serta

teknologi Seiring dengan hal tersebut, pembangunan sebagai salah satu alternatif

solusi perkembangan kota oleh pemerintah daerah Sumatera Utara diharapkan

dapat terwujud baik melalui peningkatan jumlah permukiman, fasilitas sarana dan

pra-sarana penunjang, yang semuanya tidak terlepas sebagai bagian dari

peningkatan nilai infrastruktur untuk mendukung tercapainya pembangunan, yang

mana dalam hal ini terkait dengan sarana transportasi massal sebagai

penghubungnya. Proses perencanaan desain transportasi ini lebih spesifik dapat

diandalkan di kemudian hari, mengingat jumlah orang yang akan terus bertambah,

tidak sebanding dengan jumlah transportasi pribadi.

Indonesia sendiri sebagai negara kepulauan dan maritim memiliki wilayah

pantai sepanjang 80.000 km yang jika ditotal dapat mencapai dua kali keliling dunia

melalui garis khatulistiwa, karenanya sarana transportasi laut sebagai kegiatan

pelayaran, rekreasi dan bongkar muat barang produksi sangat strategis dan

diperlukan untuk menghubungkan antar pulau di dalam dan luar negeri. Dengan

kondisi tersebut, seperti halnya peningkatan di segala aspek bidang transportasi,

juga mencakup peningkatan nilai fungsi dan guna dari pelabuhan, di mana

perkembangan akan besarnya ruang dan jumlah kapal yang dapat ditampung,

luasan area bongkar muat, dan hubungan dengan area lepas pelabuhan harus

dapat dikelola lebih efisien dan efektif.

Lebih lanjut, Belawan sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia

(ketiga terbesar) dan merupakan salah satu pelabuhan pemasok barang ekspor

terbesar, dengan letaknya sebagai pelabuhan internasional yang sangat potensial di

(19)

muara sungai Belawan, di mana dari selat Malaka ke pelabuhan dihubungkan suatu

alur pelayaran sejauh ± 12 Km dengan lebar alur 100 m dan kedalaman -9,59

MLLW.

Karenanya, berdasarkan faktor letak dan kondisi yang mempengaruhinya,

pelabuhan Belawan yang sekarang perlu ditingkatkan lagi untuk menunjang

penghubung pertumbuhan pembangunan kota Medan sebagai urat nadi

perekonomian Sumatera utara. Mencakup semua sarana dan prasarana yang

disiapkan untuk menampung kedatangan kapal nasional maupun internasional,

maupun area penyimpanan barangnya serta transportasi massal orang.

Berikut ialah pertimbangan yang melatarbelakangi proyek “ Belawan

International port Passanger Terminal”, di antaranya sebagai berikut :

o Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas 2/3

wilayahnya mencakup perairan, dan termasuk negara maritim terbesar di

dunia

o Rencana pembentukan pelabuhan Belawan sebagai gerbang barat Hub-Port

di Indonesia

o Rencana pembangunan BBC (Belawan Business Centre) di area utara, di

mana konsentrasi pembangunan kota Medan tidak lagi dikonsentrasikan di

selatan.

o Meningkatnya kebutuhan transportasi massal termasuk transportasi laut pada

masa liburan, sehingga membutuhkan ruang, sarana prasarana dan kapasitas

yang lebih baik

I.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dibangunnya proyek Belawan International Port passanger

Terminal adalah :

 Mempelajari bagaimana menciptakan desain bangunan dengan sarana

trasnportasi sebagai penghubungnya, serta masalah-masalah yang timbul dan

cara menyelesaikannya.

 Menciptakan pelabuhan laut yang memadai sehingga dapat manampung

(20)

 Mewujudkan design pelabuhan kapal laut sebagai urat nadi perekonomian

yang dapat menunjang kebutuhan baik ekonomi, maupun pariwisata domestik

dan manca negara.

 Meningkatkan minat akan sarana transportasi air sebagai sarana massal yang

aman dan menyenangkan, dengan harga yang lebih terjangkau melalui

perwujudan pelabuhan kapal laut ini.

 Memenuhi dan menambah kekurangan akan kebutuhan transportasi massal

laut untuk masa sekarang hingga beberapa tahun ke depan

I.3. Masalah Perancangan

Adapun masalah dalam perancangan Belawan International Port Passanger

Terminal ini adalah :

 Bagaimana merancang pelabuhan Belawan agar setiap ruang, bentuk, dan

material yang digunakan dapat berfungsi secara maksimal sebagai pelabuhan

Internasional di indonesia sesuai dengan judul dan tujuan yang hendak

dicapai.

 Bagaimana mengalokasikan lokasi lahan yang sesuai telah ada untuk dapat

mewujudkan rancangan bangunan yang memuat kegiatan-kegiatan yang

diinginkan.

 Bagaimana mengintegasikan dua sarana transportasi (darat dan laut) yang

berbeda tapi dapat saling berintegrasi dengan baik di dalam kawasan

perancangan.

 Bagaimana pengolahan ruang dalam yang saling berintegrasi antar berbagai

fungsi dengan kegiatan yang berbeda, misalnya ;

 Terminal Pelabuhan, sebagai pusat transportasi laut barang dan orang

 Area Penyimpanan barang sementara (bukan termasuk area kargo)

 Area kantor administrasi, sebagai area staff dan karyawan pelabuhan

 Area pendukung, seperti pusat makanan, retail yang mendukung

dimulainya atau berakhirnya kegiatan transportasi

 Bagaimana merencanakan kembali pencapaian/aksesibilitas yang lebih

mudah dan efisien (easy and efficient accessibility).

 Bagaimana mewujudkan desain yang serasi dan mampu mencerminkan

karakter kegiatan yang ditampung dapat menarik minat masyarakat untuk

(21)

I.4. Pendekatan

Adapun pendekatan masalah yang dapat dilakukan untuk pemecahan

masalah perancangan ini adalah :

 Karakteristik dan citra terhadap sebuah terminal pelabuhan.

 Tipologi bangunan yang dirancang dikaitkan dengan tema.

 Penentuan lokasi, lokasi yang dipilih yang berada di kawasan sub urban kota

Medan, dimana pada lokasi ini merupakan kawasan peruntukan lahan

pelabuhan.

 Survey, survey langsung ke lokasi dilakukan untuk mendapatkan data-data

yang akurat dari lokasi tersebut disertai dengan mengadakan studi literatur

sebagai penambah dari data-data yang didapat di lokasi tersebut.

 Literatur, mengambil data-data dari berbagai sumber bacaan sebagai

tambahan untuk melanjutkan laporan perancangan.

 Standar ruang–ruang untuk fasilitas utama dan fasilitas penunjang.

 Standar peraturan dan kebijakan yang berlaku di daerah sekitar site.

I.5. Lingkup

Lingkup pelayanan dari perencanaan proyek Belawan International Port

passanger Terminal ini meliputi :

 Kota Medan, Sumatera Utara, serta wilayah-wilayah yang masuk di dalam

area pelayanan PT (PERSERO) Pelindo I Cabang Belawan

 Keberangkatan dan kedatangan penumpang kapal laut dalam skala

internasional

 Fasilitas pendukung lain, mengingat waktu operasional pelabuhan 24 jam

nonstop

 Kajian terhadap tapak dengan keberadaan/eksisting yang ada sesuai dengan

peruntukan tapak (RUTRK kota Medan).

I.6. Batasan

Masalah perancangan yang timbul pada proses perencanaan dan

(22)

 Kompleksitas bangunan pelabuhan kapal laut yang membutuhkan analisa

yang mendalam tentang sirkulasi, program ruang, dan aktifitas terpadu.

 Pengorganisasian ruang berdasarkan kegiatan, fungsi, dan pemakai.

 Pemilihan sistem struktur yang efisien yang dapat menahan beban sekaligus

menghasilkan bentukan desain yang modern.

 Perancangan sirkulasi dalam dan luar bangunan.

 Perancangan keterpaduan perpindahan dari angkutan laut menjadi angkutan

darat dan sebaliknya dari angkutan darat menuju angkutan laut

I.7. Manfaat

Beberapa manfaat dari pembangunan proyek Belawan International Port

Passanger Terminal ini diantaranya:

 Peningkatan kualitas pelayanan Pelabuhan umumnya dan Terminal

Penumpang khususnya

 Menjadikan bangunan terminal sebagai jawaban atas kebutuhan sebuah

terminal baru di wilayah Pelabuhan Belawan

 Menjadikan bangunan terminal sebagai satu sarana pemenuhan kebutuhan

prasarana angkutan laut yang nyaman dan efisien

I.8. Sasaran

Adapun beberapa sasaran yang hendak dicapai oleh pelayanan terminal

diantaranya :

 Penumpang domestik maupun internasional yang akan melakukan perjalanan

melalui angkutan laut untuk berbagai keperluannya

 Pemerintah dalam hal ini PT (PERSERO) Pelabuhan Indonesia I dalam

menyediakan kemudahan transportasi laut

 Pihak swasta yang memiliki usaha di dalam terminal

I.9. Asumsi-Asumsi

Dengan mempertimbangkan bahwa kasus proyek bersifat fiktif, maka

dibutuhkan asumsi-asumsi sebagai dasar perencanaan dan perancangan proyek,

(23)

 Kepemilikan bangunan diasumsikan sebagai milik Pemerintah (Pelindo 1

Belawan) dengan sistem dana dari kerja sama pemerintah dan Swasta

dengan penekanan fungsi bangunan Pelabuhan internasional dan komersial

sebagai penunjangnya

 Kondisi tapak disesuaikan dengan lahan existing dan permasalahan di luar

batasan lahan diabaikan dan peruntukkan lahan disesuai dengan RUTRK

Kotamadya Medan.

 Perencanaan pembangunan kota Belawan sebagai BBC (Belawan Business

Center) di area Utara medan direalisasikan

 Transportasi massal dengan angkutan air (laut dan sungai) semakin digemari

masyarakat terkait biaya yang lebih murah dan beberapa kota yang lebih

cepat diakses dengan jalur laut dibandingkan darat, dengan pertimbangan

jalur udara hanya dapat mengakses beberapa kota yang memilki bandara.

 Transportasi barang dengan sistem kargo untuk sirkulasi barang industri di

kota medan semuanya menggunakan jalur laut, terkait jumlah barang yang

dapat diangkut dan kecepatan aksesnya dibandingkan darat, serta

terbatasnya dan mahalnya angkutan barang keperluan industri dengan

pesawat.

I.10. Kerangka Berpikir

Latar Belakang

 Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas 2/3 wilayahnya mencakup

perairan, dan termasuk negara maritim terbesar di dunia

 Rencana pembentukan pelabuhan Belawan sebagai gerbang barat Hub-Port di Indonesia

 Rencana pembangunan BBC (Belawan Business Centre) di area selatan, di mana konsentrasi

pembangunan kota Medan tidak lagi dikonsentrasikan di selatan.

 Meningkatnya kebutuhan transportasi massal termasuk transportasi laut pada masa liburan, sehingga

membutuhkan ruang, sarana prasarana dan kapasitas yang lebih baik

Ide/ Gagasan : Pelabuhan Internasional di Belawan

(24)

Konsep Perancangan

Konsep dasar

• Konsep Perancangan Tapak • Konsep Perancangan Bangunan • Konsep struktur bangunan • Konsep utilitas bangunan

Masalah Perancangan

 Bagaimana merancang kembali pelabuhan Belawan agar setiap ruang, bentuk, dan material

yang digunakan dapat berfungsi secara maksimal

 Bagaimana mengalokasikan lokasi lahan yang sesuai telah ada untuk dapat mewujudkan

rancangan bangunan yang memuat kegiatan-kegiatan yang diinginkan.

 Bagaimana mengintegasikan dua sarana transportasi (darat dan laut) yang berbeda tapi dapat

saling berintegrasi dengan baik di dalam kawasan perancangan.

 Bagaimana pengolahan ruang dalam yang saling berintegrasi antar berbagai fungsi dengan

kegiatan yang berbeda

 Bagaimana merencanakan kembali pencapaian/aksesibilitas yang lebih mudah dan efisien

(easy and efficient accessibility).

 Bagaimana mewujudkan desain yang serasi dan mampu mencerminkan karakter kegiatan yang

ditampung didalamnya sesuai dengan tema yang dipilih

 Mempelajari bagaimana menciptakan desain bangunan dengan sarana trasnportasi sebagai

penghubungnya

 Menciptakan pelabuhan laut yang memadai sehingga dapat manampung kapasitas arus

penumpang dan kendaraan dengan lebih baik

 Mewujudkan design pelabuhan kapal laut sebagai urat nadi perekonomian

 Meningkatkan minat akan sarana transportasi air sebagai sarana massal

 Memenuhi dan menambah kekurangan akan kebutuhan transportasi massal laut

Pengumpulan Data

Survey Lokasi :

 Pemilihan lahan yang sesuai

 Kondisi lahan yang ada

Survey Literatur :

 Data RUTRK

 Data Arsitek

Analisa

 Analisa kondisi tapak

 Analisa Fungsional

 Analisa Teknologi

 Prinsip tema dalam desain

Pra Perancangan

 Penzoningan

 Pendekatan teori arsitektur

Design Akhir

(25)

I.11. Sistematika Penulisan Laporan

Sistematika penulisan laporan dalam proyek tugas akhir ini adalah sebagai

berikut:

BAB I. Pendahuluan

Menjelaskan secara garis besar apa yang menjadi dasar perumusan perancangan

yang meliputi: latar belakang, maksud dan tujuan pembahasan, sasaran,

pendekatan, batasan masalah, kerangka berpikir dan sistematika pembahasan.

BAB II. Deskripsi Proyek

Berisi terminologi judul, alternatif lokasi, pemilihan lokasi, deskripsi kondisi

eksisting, luas lahan, peraturan dan keistimewaan lahan, tinjauan fungsi dan studi

banding arsitektur dengan fungsi sejenis.

BAB III. Elaborasi tema

Menjelaskan tentang pengertian tema yang diambil, interpretasi tema, keterkaitan

tema dengan judul dan studi banding arsitektur dengan tema sejenis.

BAB IV. Analisa

Berisi analisa kondisi tapak dan lingkungan, analisa fungsional, analisa teknologi,

analisa dan penerapan tema dan kesimpulan.

BAB V. Konsep Perancangan

Berisi konsep penerapan hasil analisis komprehensif yang digunakan sebagai

alternatif pemecahan masalah.

BAB VI. Perancangan Arsitektur Merupakan hasil gambar rancangan arsitektur

Lampiran

Berisi tentang data existing survey ataupun gambar-gambar tambahan desain

perancangan dan suasana perspektif maupun maket.

Daftar Pustaka

Berisi daftar pustaka yang digunakan sebagai literatur selama proses perencanaan

(26)

BAB II.

DESKRIPSI PROYEK

II.1. Terminologi Judul

Proyek “Belawan International Port Passenger Terminal“. Secara terminologi

judul, dapat dijabarkan sebagai berikut :

 Pengertian Belawan ialah nama kota pelabuhan yang terletak di Medan,

Sumatra Utara, Indonesia dan merupakan pelabuhan terpenting di pulau

Sumatera. Dan merupakan pelabuhan dengan tingkat kelas utama yang

bernaung di bawah PT. Pelabuhan Indonesia I dengan Koordinat geografisnya

03°47′ LU 98°42′ BT (03º 47‟ 00” LU dan 98” 42” BT. (Wikipedia)

 Pengertian International atau internasional/ manca negara ialah sesuatu

(perusahaan, bahasa atau organisasi) yang melibatkan lebih dari satu negara.

Istilah ini kemudian berkembang sebagai suatu keterlibatan,interaksi di antara

atau mencakup lebih dari satu negara atau umumnya antara negara bagian.

Antar bangsa. (Wikipedia)

 Pengertian Port ialah suatu tempat di pantai atau tepi pantai yang memiliki

satu bandar atau lebih tempat untuk kapal berlabuh dan memindahkan

orang-orang atau muatan barang dari dan menuju daratan. (Wikipedia)

 Pengertian Passenger ialah seseorang yang menumpang, baik itu pesawat,

kereta api, bus, maupun jenis transportasi lainnya, tetapi tidak termasuk awak

yang mengoperasikan dan melayani wahana tersebut. (Wikipedia)

 Pengertian Terminal ialah Perhentian bus, kereta, dsb.) ; penghabisan ;

stasiun ; titik dimana penumpang dan barang masuk dan keluar dari sistem ;

merupakan komponen fungsional utama dari sistem, sering juga merupakan

prasarana yang perlu biaya besar dan titik dimana kongesti (kemacetan)

mungkin terjadi.1

Jadi, berdasarkan beberapa terminologi pengertian di atas, maka “Belawan

International Port Passenger Terminal“ dapat diartikan sebagai suatu tempat atau

bangunan yang berfungsi untuk mewadahi dan melayani kebutuhan transportasi

1

(27)

penumpang dan barang yang menggunakan jasa angkutan laut dalam skala

internasional yang terletak di kota Belawan guna meningkatkan nilai pertumbuhan

kawasannya

Terminal Penumpang merupakan salah satu fasilitas utama yang dimiliki oleh

sebuah pelabuhan selain fasilitas-fasilitas lainnya. Terminal penumpang hampir

sama dengan terminal barang dan juga memiliki fasilitas penyimpanan barang, tapi

tidak memiliki gudang kargo berkapasitas besar, karena fokus utama dari sebuah

terminal penumpang pelabuhan ialah pergerakan manusia atau penumpang,

sehingga fasilitas lain bersifat melengkapi saja.

Karena terletak di bagian pelabuhan, maka perancangan akan sebuah

terminal penumpang harus melihat pembahasan akan lokasi pelabuhan itu sendiri.

II.2. Tinjauan Umum

Tinjauan umum membahas mengenai pelabuhan dan unsur-unsur di

dalamnya, termasuk mengenai terminal penumpang secara umum.

II.2.1.Pelabuhan

II.2.1.1. Pengertian Pelabuhan

Pelabuhan merupakan salah satu simpul dari mata rantai bagi kelancaran

angkutan muatan laut dan darat. Jadi secara umum, pelabuhan adalah suatu

daerah perairan yang terlindung dari badai, ombak, dan arus, sehingga kapal dapat

berputar (turning basin), bersandar, membuang sauh (jangkar), sedemikian rupa

sehingga bongkar muat atas barang dan perpindahan penumpang dapat

dilaksanakan dengan aman.2

Guna memenuhi sasaran dan fungsinya tersebut, sebuah pelabuhan

dilengkapi dengan beberapa fasilitas diantaranya; dermaga (piers of wharves),

jalan, gudang, fasilitas penerangan, telekomunikasi, dan sebagainya.

Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia saat ini diatur berdasarkan UU No.17

tentang Pelayaran tahun 2008. Sistem pelabuhan Indonesia disusun menjadi

sebuah sistem hierarkis yang terdiri atas sekitar 1700 pelabuhan. Terdapat 111

pelabuhan, termasuk 25 pelabuhan „strategis‟ utama, yang dianggap sebagai

2

(28)

pelabuhan komersial dan dikelola oleh empat BUMN, Perum Pelabuhan Indonesia I,

II, III and IV dengan cakupan geografis sebagaimana diuraikan dalam tabel 1 di

bawah ini. Selain itu, terdapat juga 614 pelabuhan diantaranya berupa Unit

Pelaksana Teknis (UPT) atau pelabuhan non-komersial yang cenderung tidak

menguntungkan dan hanya sedikit bernilai strategis.

Di samping itu, terdapat pula sekitas 1000 “pelabuhan khusus‟ atau pelabuhan

swasta yang melayani berbagai kebutuhan suatu perusahaan saja (baik swasta

maupun milik negara) dalam sejumlah industri meliputi pertambangan, minyak dan

gas, perikanan, kehutanan, dsb. Beberapa dari pelabuhan tersebut memiliki fasilitas

yang hanya sesuai untuk satu atau sekelompok komoditas (mis. Bahan kimia) dan

memiliki kapasitas terbatas untuk mengakomodasi kargo pihak ketiga. Namun

demikian, pelabuhan yang lain memiliki fasilitas yang sesuai untuk beragam

komoditas, termasuk, dalam beberapa hal, kargo peti kemas. Saat ini, Pelindo

menikmati monopoli pada pelabuhan komersial utama yang dilegislasikan serta

otoritas pengaturam terhadap pelabuhan-pelabuhan sektor swasta. Pada hampir

semua pelabuhan utama, Pelindo bertindak baik sebagai operator maupun otoritas

pelabuhan tunggal, mendominasi penyediaan layanan pelabuhan utama

sebagaimana tercantum di bawah ini:

 Perairan pelabuhan (termasuk urukan saluran dan basin) untuk pergerakan

lalu lintas kapal, penjangkaran, dan penambatan.

 Pelayaran dan penarikan kapal (kapal tunda).

 Fasilitas-fasilitas pelabuhan untuk kegiatan bongkar muat, pengurusan

hewan, gudang, dan lapangan penumpukan peti kemas; terminal

konvensional, peti kemas dan curah; terminal penumpang.

 Listrik, persediaan air bersih, pembuangan sampah, dan layanan telepon

untuk kapal.

 Ruang lahan untuk kantor dan kawasan industri.

 Pusat pelatihan dan medis pelabuhan.

II.2.1.2. Sejarah Kepelabuhan Indonesia

Ketika masa penjajahan Belanda, pelabuhan di Indonesia dikelola oleh

perseroan yang diberi nama Haven Bedryf yang artinya Perusahaan Pelabuhan.

(29)

jawatan pelabuhan. Nampaknya pemerintah merasa perlu menata ulang

pengelolaan pelabuhan.

Maka keluarlah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1951 tertanggal 30

Agustus 1951 tentang peraturan perbaikan pelabuhan. Pemimpin pelabuhan disebut

penguasa pelabuhan dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri

Perhubungan. Pada tahun 1960 pengelolaan pelabuhan umum di Indonesia

dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan berada di bawah pengendalian

Pemerintah.

Bentuk BUMN yang diberi kewenangan untuk mengelola pelabuhan umum

telah mengalami beberapa perubahan, sesuai dengan arah kebijaksanaan

Pemerintah. Hal ini dalam rangka menunjang pembangunan nasional serta

mengimbangi pertumbuhan permintaan pelayanan jasa pelabuhan yang dinamis.

Adapun kronologis perkembangan BUMN yang mengelola pelabuhan adalah

sebagai berikut:

Awal Kemerdekaan

1950

Pengelolaan pelabuhan pada awal kemerdekaan hingga tahun1950

dilaksanakan oleh Jawatan Pelabuhan. Kemudian pemerintah mengadakan

penataan kembali organisasi pelabuhan.

1951

1964

Pada tanggal 30 Agustus 1951 pemerintahkan mengeluarkan PP No.55

Tahun 1951 tentang peraturan perbaikan pelabuhan. Dalam PP ini, pimpinan

pelabuhan disebut penguasa pelabuhan yang bertanggung jawab kepada Menteri

Perhubungan.

Berdasarkan Perpu tentang Perusahaan Negara, pada tahun 1961 melalui PP

104/1961, Pemerintah mendirikan Badan Pimpinan Umum Pelabuhan dan PP 115

s/d PP 122 Tahun 1961 tentang berdirinya Perusahaan Negara Pelabuhan Daerah I

s/d VIII. PN Pelabuhan Daerah I berkedudukan dan berkantor di Belawan, PN

Pelabuhan Daerah II berkedudukan di Teluk Bayur Padang, PN Pelabuhan Daerah

III berkedudukan di Palembang, PN Pelabuhan Daerah IV berkedudukan di Jakarta,

PN Pelabuhan Daerah V berkedudukan di Semarang, PN Pelabuhan Daerah VI

berkedudukan di Surabaya PN Pelabuhan Daerah VII di Banjarmasin, dan PN

Pelabuhan Daerah VIII di Makassar. Sesuai keputusan Menteri Maritim Nomor

(30)

Jaya. Masing-masing pelabuhan daerah dapat mendirikan kantor cabang, kantor

perwakilan atau koresponden di dalam negeri setelah mendapat persetujuan dari

Menteri dan perwakilan di luar negeri dengan persetujuan Pemerintah.

1964

1969

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 1964, kebijakan institusi

perusahaan adalah sebagai berikut :

a. Untuk menjalankan fungsi pemerintah dan pengendalian operasional

pelabuhan, dibentuk organisasi yang disebut Port Authority (PA) yang

merupakan bagian dari organisasi dan administrasi Depatemen Perhubungan

Laut.

b. Organisasi pemeliharaan fasilitas, peralatan dan pelayanan jasa pelabuhan

dilaksanakan oleh Perusahaan Negara (PN) yang khusus dibentuk untuk

pengusahaan pelabuhan.

c. Dari jumlah pelabuhan yang diusahakan, sekitar 100 pelabuhan

dikelompokkan dalam Perusahaan Negara Pelabuhan

1969

1983

a. Dengan dimulainya pelaksanaan Pelita I oleh Pemerintah Orde Baru,

Pemerintah merasa perlu menata ulang pelabuhan. Pemerintah

mengeluarkan PP No.1 Tahun 1969 yang menyatukan fungsi regulator dan

operator dalam satu institusi yang disebut Badan Pengusahaan Pelabuhan

(BPP).

Dengan demikian diharapkan, Pemerintah dapat berperan sebagai regulator,

operator, dan dinamisator. Badan Pengusahaan Pelabuhan dipimpin oleh

Administrator Pelabuhan (ADPEL) untuk pelabuhan strategis, sedang

pelabuhan lainnya dipimpin Kepala Pelabuhan (KEPPEL).

b. PN Pelabuhan yang terdiri dari 9 Perusahaan Negara dinyatakan dalam status

likuidasi dengan PP Nomor 18 tahun 1969.

1983

1992

Pemerintah mengeluarkan PP 11/1983 tentang Pembinaan Kepelabuhan dan

PP 14 sampai dengan 17 tahun 1983 tentang Perusahaan Umum Pelabuhan I

sampai dengan IV Jo.PP 4-7/1985 dan PP 23/1985 tentang perubahan PP 11/1983.

(31)

a) Setelah Pelita I dan Pelita II, dan memasuki Pelita III, pelabuhan yang

strategistelah dilakukan rehabilitasi dan pengembangan infrastruktur /

suprastruktur. Karena ada kecenderungan pada negara-negara yang maju,

bahwa pelabuhan harus dikelola secara komersial agar dapat meningkatkan

pelayanan kepada pengguna jasa kepelabuhan. Pelabuhan harus dikelola

secara mandiri tanpa dibebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(APBN).

Dengan demikian pengelola pelabuhan dapat mengajukan pinjaman dari luar

negeri, dan harus dapat membayar pinjaman dari luar negeri yang

dipergunakan untuk pembangunana infrastruktur dan suprastruktur

pelabuhan.

b) Untuk merealisasikan komersialisasi pelabuhan harus dikorporatisasi agar

dapat lebih fleksibel melaksanakan fungsinya. Sesuai dengan ketentuan yang

ada, dari 3 bentuk badan hukum atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN),

untu sementara ditetapkan dalam bentuk Perusahaan Umum (Perum) dan

disebut Perum Pelabuhan (Perumpel)

c) Di awal tahun 1980, Pemerintah dalam hal ini Ditjen Perhubungan Laut

melakukan studi pengembangan angkatan laut.

1992 - Sekarang

Pemerintah mengharapkan agar Perum Pelabuhan I s/d IV dapat

meningkatkan perannya sebagai korporat dalam mengelola Pelabuhan secara

komersial. Dengan demikian diharapkan pelayanan kepada pengguna jasa

pelabuhan akan dititik beratkan pada aspek komersial sehingga pelayanan kepada

pengguna jasa dapat lebih ditingkatkan.

Sehubungan dengan itu, pada tahun 1992 Pemerintah merubah status Perum

Pelabuhan Indonesi I-IV menjadi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I-IV. PT

(Persero) Pelabuhan Indonesia I berdiri berdasarkan PP No.56 Tahun 1991 dan

dikukuhkan dengan akte notaris Imas Fatimah,S.H. Nama lengkap perusahaan

adalah PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I disingkat Pelabuhan I, berkantor pusat

di Jl.Krakatau Ujung No.100 Medan 20241, Sumatera Utara, Indonesia.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 64 tahun 2001, kedudukan, tugas,

dan kewenangan Menteri Keuangan selaku pemegang saham pada Persero /

(32)

teknis operasional berada di tangan Departemen Perhubungan dan dilaksanakan

oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

II.2.1.3. Peran Pelabuhan

Peran penting pelabuhan dalam sistem transportasi nasional :

 Titik perubahan moda transportasi, dari darat ke laut, dan sebaliknya

 Pintu gerbang komersial suatu daerah atau negara

 Tempat penampungan, penyimpanan, dan distribusi barang

II.2.1.4. Fungsi Pelabuhan

Adapun empat fungsi pelabuhan dalam sistem transportasi:

 Interface

yaitu pelabuhan menyediakan fasilitas dan pelayanan untuk memindahkan

barang dari kapal ke darat dan sebaliknya

 Link

yaitu pelabuhan sebagai mata rantai penghubung dalam sistem transportasi

 Gateways

yaitu pelabuhan berfungsi sebagai pintu gerbang perdagangan bagi suatu

daerah atau negara

 Industrial entity

Memungkinkan juga sebagai prasarana guna menunjang dan mendorong

pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri dari daerah yang menjadi

hinterland dari pelabuhan.

I.2.1.5. Karakter Pelayanan Pelabuhan

Karakter pelayanan fasilitas pelabuhan ada dua, yaitu:

 Jasa – komersial

Sebagai fasilitas umum yang mewadahi kepentingan penumpang untuk

berangkat dan datang dengan fasilitas pendukungnya.

 Informatif

Tempat wisatawan memperoleh informasi tentang daerah wisata sehingga

dapat meningkatkan minat berwisata, tempat pencatatan data statistik tentang

(33)

II.2.1.6. Klasifikasi Pelabuhan

Jenis-jenis pelabuhan di Indonesia berdasarkan klasifikasinya dapat dibagi

mnejadi :

1. Dari sudut pemungutan jasa :

 Pelabuhan yang diusahakan

Yaitu pelabuhan dalam pembinaan pemerintah yang sesuai kondisi,

kemampuan dan pengembangan menurut hukum perusahaan.

 Pelabuhan yang tidak diusahakan

Yaitu pelabuhan dalam pembinaan pemerintah yang sesuai dengan

kondisi, kemampuan dan pengembangan potensinya masih menonjol

sifat overheld zorg dan atau yang belum ditetapkan sebagai pelabuhan

yang diusahakan.

 Pelabuhan otonom

Yaitu pelabuhan yang diberi wewenang untuk mengatur diri sendiri.

2. Dari sudut teknis dan geografis :

 Pelabuhan alam (Natural and Protected Harbor)

Pelabuhan ini merupakan suatu daerah yang menjurus kedalam (inlet),

terlindungi oleh suatu pulau, jazirah atau terletak sedemikian rupa

sehingga navigasi dan berlabuhnya kapal dapat dilakukan.

 Pelabuhan buatan (Artivical Harbour)

Pelabuhan buatan merupakan suatu daerah yang dibuat manusia

sedemikina rupa, sehingga terlindung terhadap ombak, badai ataupun

arus sehingga memungkinkan kapal dapat merapat.

 Pelabuhan semi alam

Pelabuhan ini merupakan campuran dari kedua tipe di atas, misalnya

suatu pelabuhan yang terlindung oleh lidah pantai dan perlindungan

buatan hanya pada alur masuk.

3. Dari sudut jenis perdagangan :

 Pelabuhan laut

Pelabuhan yang terbuka untuk jenis perdagangan dalam dan luar negeri

yang menganut undang-undang pelayaran Indonesia.

 Pelabuhan pantai

Pelabuhan yang terbuka bagi jenis perdagangan dalam negeri.

(34)

 Pelabuhan utama (Major Port)

Pelabuhan yang melayani kapal-kapal besar dan merupakan pelabuhan

dan pembagi muatan.

 Pelabuhan cabang (Feeder Port)

Pelabuhan yang melayani kapal-kapal kecil yang mendukung

pelabuhan utama. (Soedjono, 1985 : 54-65)

5. Dari sudut jenis penyelenggaraannya :

 Pelabuhan umum

Pelabuhan umum diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan

masyarakat umum. Penyelenggaraan pelabuhan umum dilakukan oleh

Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan

usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut.

 Pelabuhan khusus

Pelabuhan khusus diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna

menunjang kegiatan tertentu. Pelabuhan ini tidak boleh digunakan untuk

kepentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan ijin

Pemerintah. Pelabuhan khusus dibangun oleh suatu perusahaan baik

pemerintah maupun swasta, yang berfungsi untuk prasarana pengiriman

hasil produksi perusahaan tersebut.

6. Dari sudut jenis penggunanya :

 Pelabuhan Ikan

Pelabuhan ikan dibangun di sekitar daerah perkampungan nelayan.

Pelabuhan ini harus lengkap dengan pasar lelang, pabrik/gudang es,

persediaan bahan bakar,dan juga tempat cukup luas untuk perawatan

alat-alat penangkap ikan.

 Pelabuhan minyak

Pelabuhan minyak biasanya tidak memerlukan dermaga atau pangkalan

tapi harus dapat menahan muatan vertikal yang besar, melainkan cukup

membuat jembatan perancah atau tambahan yang dibuat menjorok ke

laut untuk mendapatkan kedalaman air yang cukup besar.

 Pelabuhan barang

Pelabuhan ini mempunyai dermaga yang dilengkapi dengan fasilitas

(35)

estuari dari sungai besar. Serta harus cukup tenang sehingga

memudahkan bongkar muat barang.

 Pelabuhan penumpang

Pelabuhan penumpang melayani penumpang dengan segala kegiatan

yang berhubungan dengan kebutuhan orang yang berpergian, seperti

kantor imigrasi, duane, keamanan, direksi pelabuhan, maskapai

pelayaran, dan sebagainya.

 Pelabuhan campuran

Pada umumnya pada pelabuhan campuran ini pencampuran pemakaian

terbatas untuk penumpang dan barang, sedang untuk keperluan minyak

dan ikan biasanya tetap terpisah.

 Pelabuhan militer

Pelabuhan ini mempunyai daerah perairan yang cukup luas untuk

memungkinkan gerakan cepat kapal-kapal perang dan dengan

perletakan bangunan yang cukup terpisah dan seefisien mungkin.

II.2.1.7. Fasilitas-fasilitas Pelabuhan

Fasilitas pelabuhan terbagi atas dua, yaitu :3

1. Fasilitas pokok pelabuhan yang meliputi :

 Perairan tempat labuh

 Kolam labuh

 Alih muat antar kapal

 Dermaga

 Terminal penumpang

 Pergudangan

 Lapangan penumpukan

 Terminal peti kemas

 Perkantoran untuk kegiatan pemerintahan dan pelayanan jasa

 Fasilitas bunker

 Instalasi air, listrik, dan telekomunikasi

 Jaringan jalan dan rel kereta api

3

(36)

 Fasilitas pemadam kebakaran

 Tempat tunggu kenderaan bermotor

2. Fasilitas penunjang pelabuhan yang meliputi :

 Kawasan perkantoran untuk pengguna jasa pelabuhan

 Sarana umum

 Tempat penampungan limbah

 Fasilitas pariwisata, pos dan telekomunikasi

 Fasilitas perhotelan dan restoran

 Areal pengembangan pelabuhan

 Kawasan perdagangan

 Kawasan industri

II.2.1.8. Sarana Operasional Pendukung Pelabuhan

Guna melancarkan tugas-tugasnya dalam melaksanakan pelayanan dalam

menunjang perdagangan (arus barang/penumpang), maka pelabuhan secara operasional didukung oleh:

 Kapal-kapal kerja: terdiri dari Kapal Tunda, Kapal Keruk, Kapal Rambu, dll.

 Sistem Telekomunikasi

 Sistem jaringan jalan dengan daerah pendukung (pedalaman), yaitu jalan raya

dan/atau kereta api

 Sistem jaringan pelayaran (route system)

I.2.1.9. Pertimbangan Pembangunan Pelabuhan

Berikut ini merupakan uraian dari pertimbangan-pertimbangan diatas :

1. Pertimbangan sosial

Meliputi pertimbangan bakal timbul atau tidaknya dampak sosial dalam

masyarakat daerah tersebut sebagai akibat dibangunnya suatu pelabuhan

2. Pertimbangan Politis

Meliputi penilaian kegunaan politis terhadap pengembangan daerah yang

dimaksud

3. Pertimbangan Teknis

Meliputi beberapa aspek pertimbangan dibawah ini:

(37)

 Teknik konstruksi (mekanika tanah, pondasi, mekanika teknik,

beton/baja/kayu, teknik lalu-lintas)

 Proses pelaksanaan pada saat pembangunan (Network Planning)

 Perkiraan biaya

 Ukuran perkiraan dan jenis kapal yang akan ditampung oleh pelabuhan

4. Pertimbangan Manajemen

yaitu pengelolaan perusahaan meliputi prosedur operasional, administrasi

personil material, dan keuangan

5. Pertimbangan Finansial

yaitu penentuan apakah pengusahaan pelabuhan itu dapat memenuhi

syarat-syarat keuangan, yaitu mengembalikan modal investasi (return on capital

invested) dan dapatkah membantu investasi tambahan dari pendapatan yang

diterima (cash flow and balance sheets)

6. Pertimbangan Penilaian Ekonomis

yaitu mengukur biaya terhadap keuntungan pengembangan ekonomi secara

keseluruhan

7. Pertimbangan Operasional

Meliputi pertimbangan terhadap penggunaan fasilitas-fasilitas pelabuhan

sehingga kelancaran arus barang, lalu lintas kapal, dan lain sebagainya dapat

berimbang terhadap ukuran hasil kerja yang disyaratkan

II.2.1.10. Perusahaan Pelabuhan di Indonesia

Di Indonesia terdapat empat perusahaan yang menaungi

pelabuhan-pelabuhan utama nasional, yaitu :

1. PT (PERSERO) Pelabuhan Indonesia I / PELINDO I

Menaungi pelabuhan-pelabuhan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,

Sumatera Utara, dan Riau, yaitu :

 Pelabuhan Lhokseumawe

 Pelabuhan Belawan

 Pelabuhan Pekan Baru

 Pelabuhan Dumai

 Pelabuhan Tanjung Pinang

(38)

Menaungi pelabuhan-pelabuhan di Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Sumatera

Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jakarta, yaitu :

 Pelabuhan Tanjung Priok

 Pelabuhan Palembang

 Pelabuhan Teluk Bayur

 Peabuhan Pontianak

 Pelabuhan Cirebon

 Pelabuhan Jambi

 Pelabuhan Bengkulu

 Pelabuhan Banten

 Pelabuhan Sunda Kelapa

 Pelabuhan Pangkal Balam

 Pelabuhan Tanjung Pandan

3. PT (PERSERO) Pelabuhan Indonesia II / PELINDO III

Menaungi pelabuhan-pelabuhan di Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan

Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, yaitu :

 Pelabuhan Tanjung Perak

 Pelabuhan Tanjung Emas

 Pelabuhan Banjarmasin

 Pelabuhan Benoa

 Pelabuhan Tenau / Kupang

4. PT (PERSERO) Pelabuhan Indonesia IV / PELINDO IV

Menaungi pelabuhan-pelabuhan di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi

Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua, yaitu :

 Pelabuhan Makassar

 Pelabuhan Balikpapan

 Pelabuhan Samarinda

 Pelabuhan Bitung

 Pelabuhan Ambon

 Pelabuhan Sorong

Jadi, berdasarkan letak Pelabuhannya berada, maka proyek “Belawan

International Port passanger Terminal ini akan dibangun di bawah naungan PT

(39)

II.2.1.11. Standar Pelabuhan Internasional

Berdasarkan ketetapan peraturan tatanan kepelabuhan nasional keputusan

menteri perhubungan nomor KM 53 tahun 2002 mengenai standar pelabuhan

internasional, yaitu sebagai berikut : 4

a. Berperan sebagai pelabuhan internasional hub yang melayani angkutan alih

muat (transhipment) peti kemas nasional dan internasional dengan skala

pelayanan transportasi laut dunia;

b. Berperan sebagai pelabuhan induk yang melayani angkutan peti kemas

nasional dan internasional sebesar 2.500.000 TEU's/tahun atau angkutan lain

yang setara;

c. Berperan sebagai pelabuhan alih muat angkutan peti kemas nasional dan

internasional dengan pelayanan berkisar dan 3.000.000 - 3.500.000

TEU's/tahun atau angkutan lain yang setara;

d. Berada dekat dengan jalur pelayaran internasional ± 500 mil;

e. Kedalaman minimal pelabuhan : -12 m LWS;

f. Memiliki dermaga peti kemas minimal panjang 350 m',4 crane dan lapangan

penumpukan peti kemas seluas 15 Ha;

g. Jarak dengan pelabuhan internasional hub lainnya 500 - 1.000 mil.

Sementara standar pelabuhan penyeberangan antar provinsi ataupun negara

dapat dilihat sebagai berikut :5

a. Bobot kapal yang dilayani 3000 DWT atau lebih;

b. Panjang dermaga 70 M atau lebih, konstruksi beton/baja;

c. Kedalaman di depan dermaga - 5 M LWS atau lebih;

d. Menangani pelayanan barang-barang berbahaya dan Beracun (B3);

e. Melayani kegiatan pelayanan lintas Propinsi dan Internasional.

II.2.2. Terminal Penumpang Kapal Laut

II.2.2.1. Pengertian Terminal Penumpang Kapal Laut

4

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor Km 53 Tahun 2002, Bab IV, Pasal 10 (1) 5

(40)

Secara terminologi, terminal penumpang kapal laut dapat diartikan sebagai

berikut :6

 Terminal ialah Tempat alat-alat pengangkutan dapat berhenti dan

memuat/bongkar barang. Suatu titik singgung/lintasan dari sub sistem

transportasi lain

Penumpang dapat diartikan sebagai subyek (manusia) yang menggunakan jasa sarana angkutan untuk melakukan perjalanan

Kapal Laut dapat diartikan sebagai sarana angkutan umum dimana melayari lautan maupun sungai yang menghubungkan antara pelabuhan satu dengan

pelabuhan lain.

Maka pengertian “Terminal Penumpang Kapal Laut” adalah suatu wadah bagi

aktifitas proses perpindahan penumpang dari satu sub sistem angkutan ke sub

sistem angkutan lain yang berbeda karakteristiknya.

Dengan kata lain, dari sarana angkutan laut (kapal penumpang) ke sarana

angkutan darat (taxi, bus, kenderaan pribadi dan sebagainya), atau sebaliknya.

Dilihat dari sudut sistem lingkup pelabuhan, terminal penumpang kapal laut adalah

sebagai komponen sub sistem pelabuhan yang berfungsi mewadahi kegiatan

pelayanan bagi penumpang antar pulau dengan sarana kapal laut.

II.2.2.2. Terminal Penumpang Kapal Laut sebagai Sub

System Pelabuhan

1. Lokasi dan kedudukan

Lokasi terminal penumpang kapal laut selalu berada dalam wilayah perairan

pelabuhan laut. Kedudukan yang dimaksud adalah sebagai pendaerahan terminal

penumpang terhadap terminal barang pada umumnya lebih dominan tingkat

kepentingan dan kuantitas kegiatannya di pelabuhan

2. Pengelolaan

Wewenang langsung terhadap terminal kapal laut berada pada PT. (Persero),

di Indonesia sendiri, wewenang terhadap pengelolaan kapal berada di bawah

naungan PT. Pelabuhan laut Indonesia (PELINDO)

3. Aksesbilitas

6

(41)

Pencapaian terminal penumpang kapal laut yang terletak dalam area

pelabuhan yang merupakan area terbuka menyebabkan beberapa pelabuhan terjadi

akses langsung perpindahan moda angkutan lain, seperti angkutan darat.

II.2.2.3. Komponen Terminal Penumpang Kapal Laut

II.2.2.3.1. Area Dermaga

II.2.2.3.1.1. Pengertian dan Jenis Dermaga

Dermaga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk merapat dan

menambatkan kapal yang melakukan bongkar muat barang dan menaik-turunkan

penumpang. Dimensi dermaga didasarkan pada jenis dan ukuran kapal yang

merapat dan bertambat pada dermaga tersebut.

Dermaga dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu :

wharf atau quai ialah dermaga yang paralel dengan pantai dan biasanya

berimpit dengan garis pantai. terutama untuk alur pelayaran yang cukup

dalam untuk kapal-kapal oleh gerak (maneuvering ship).

jetty atau pier atau jembatan ialah dermaga yang menjorok ke laut. atau tegak

lurus garis pantai. Hal ini dibuat bilamana kedalaman alur perairan pelabuhan

kurang dalam untuk kapal-kapal masuk dan melakukan maneuvering ship.

Dermaga dibangun untuk kebutuhan tertentu. Pemilihan tipe dermaga sangat

dipengaruhi oleh kebutuhan yang akan di layani, ukuran kapal, arah gelombang dan

angin, kondisi tofografi dan tanah dasar laut, dan yang paling penting adalah

tinjauan ekonomi untuk mendapatkan bangunan yang paling ekonomis.

II.2.2.3.1.2. Pemilihan Tipe Dermaga

II.2.2.3.1.2.1. Tinjauan Topografi Daerah Pantai

Di perairan yang dangkal sehingga kedalaman yang cukup, agak jauh dari

darat, sistem dermaga jetty memang lebih ekonomis karena tidak diperlukan

pengerukan yang besar. Sedangkan di lokasi dimana kemiringan dasar cukup

curam, pembuatan pier dengan melakukan pemancangan tiang perairan yang

dalam menjadi tidak praktis dan sangat mahal. Dalam hal ini pembuatan wharf lebih

(42)

II.2.2.3.1.2.2. Jenis Kapal yang Dilayani

Dermaga yang melayani kapal minyak (tanker) dan kapal barang curah

mempunyai konstruksi yang ringan dibanding dengan dermaga barang potongan

(general cargo), karena dermaga tersebut tidak memerlukan peralatan bongkar

muat barang yang besar (kran), jalan kereta api, gudang-gudang, dan sebagainya.

Untuk melayani kapal tersebut penggunaan pier akan lebih ekonomis. Dermaga

yang melayani barang potongan dan peti kemas menerima beban yang besar

diatasnya, seperti kran barang yang dibongkar muat peralatan transportasi (kereta

api dan truk). Untuk keperluan tersebut dermaga tipe wharf akan lebih cocok.

II.2.2.3.1.2.3. Daya Dukung Tanah

Kondisi tanah sangat menentukan dalam pemilihan tipe dermaga. Pada

umumnya tanah di dekat daratan mempunyai daya yang lebih besar dari pada tanah

di dasar laut. Dasar laut umumnya terdiri dari endapan yang belum padat. Ditinjau

dari daya dukung tanah, pembuatan wharf atau dinding penahan tanah lebih

menguntungkan. Tetapi apabila tanah dasar berupa karang pembuatan wharf akan

mahal karena untuk memperoleh kedalaman yang cukup di depan wharf diperlukan

pengerukan. Dalam hal ini pembuatan pier akan lebih murah karena tidak

diperlukan pengerukan dasar karang. (Triatmodjo, 1996 : 157-159)

II.2.2.3.1.2.4. Ukuran Kapasitas Kapal

Pemilihan tipe dermaga yang dipakai dapat diperhitungkan dengan

menghitung berapa kapasitas kapal yang dapat bersandar pada terminal yang

direncanakan, dalam hal ini rumus sebagai berikut dapat dipakai (Triatmodjo, 1996 :

157-159) :

Lp = n Loa + (n - 1) 15 + 50

Dimana :

Lp = panjang dermaga

n = jumlah kapal yang ditambat

Loa = panjang kapal yang ditambat

(43)

ke kapal lain)

50 = ketetapan (jarak dari kedua ujung dermaga ke buritan dan

haluan kapal)

II.2.2.3.2. Area Apron

Apron adalah halaman di atas dermaga yang terbentang dari sisi muka

dermaga sampai gudang laut atau lapangan penumpukan terbuka. Apron digunakan

untuk menempatkan b

Gambar

Gambar 2.2. Lokasi Pelabuhan Belawan Sumber : Google Earth (2 Maret 2012)
Gambar 2.3. Lokasi Dermaga Belawan lama Sumber : Google Earth (2 Maret 2012)
Gambar 2.4. Lokasi Dermaga Ujung Baru
Gambar 2.6. Lokasi Dermaga Industri Kimia Dasar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Judul Proyek Tugas Akhir : Belawan International Port Passenger Terminal Tema : Arsitrektur Metafora..

Berdasarkan jenis kapal terbesar yang masuk ke pelabuhan, kedalaman alur yang diperlukan yaitu 13,43 mLWS, lebar alur untuk satu jalur adalah 57,6 m, sedangkan untuk dua jalur

Berdasarkan jenis kapal terbesar yang masuk ke pelabuhan, kedalaman alur yang diperlukan yaitu 13,43 mLWS, lebar alur untuk satu jalur adalah 57,6 m, sedangkan untuk dua jalur

8 Pelabuhan (port) adalah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga dimana kapal dapat

RINGKASAN Perencanaan dock dan galangan kapal laut ini adalah, merupakan suatu sarana di bidang kelautan atau maritim yang berfungsi sebagai fasilitas pendukung dari pada pelabuhan,