• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hitungan Dzikir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hitungan Dzikir"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Hitungan Dzikir

CARA MENGHITUNG DZIKIR TASBIH, TAHMIDDAN TAKBIR

Penanya:

HM. Soeboer, NBM. 725.192, Malang Pertanyaan:

Mohon Penjelasan tentang cara menghitung dzikir setelah shalat wajib dalam membaca

tasbih, tahmid dan takbir yang masing-masing 33 kali.

1. Apakah cara menghitungnya dengan (jari-jari) tangan kanan saja?

2. Apakah boleh menghitung dengan (jari-jari) tangan kiri?

Mohon ditulis dalil-dalilnya. Mohon jawabannya dimuat sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang.

Jawaban:

Karena banyaknya pertanyaan yang harus dijawab, jawaban dari pertanyaan saudara baru dapat dimuat sekarang. Karena itu kami mohon maaf.

Mengenai bacaan tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar), yang dibaca masing-masing 33 kali setelah shalat wajib, dalilnya ialah hadits.

يف َها َحّبَس ْنَم َمّلَسَو يهْيَلَع ُها ىّلَص يها يلوُسَر ْنَع َةَرْ يَرُه يَِأ ْنَع

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw beliau bersabda:

Barangsiapa bertasbih 33 kali pada setiap selesai mengerjakan shalat, bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali; itu semua berjumlah 99 kali, kemudian sabda Rasulullah saw: Untuk sempurna menjadi seratus (bacalah): ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’, maka dosanya diampuni oleh Tuhan meskipun sebanyak buih di laut.” [HR. Muslim dan Ahmad].

Hadits di atas hanya menganjurkan agar kaum muslimin membaca tasbih, tahmid, dan

takbir setiap selesai shalat masing-masing 33 kali, sehingga berjumlah 99 kali dan

disempurnakan 100 kali dengan membaca “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir”. Tidak diterangkan bagaimana cara

(2)

menyerahkan cara-caranya kepada kaum muslimin untuk memilih cara yang baik menurut mereka, sehingga dapat menambah kekhusyukan mereka. Sebahagian kaum muslimin meniru cara menghitung yang dilakukan oleh umat Hindu, umat Budha, dan umat Nashrani, yaitu

dengan menggunakan rosario yang oleh sebahagian kaum muslimin disebut ‘tasbih’. Cara ini

tidak dilarang oleh agama Islam. Namun sebagian kaum muslimin ingin menunjukkan kepribadian (identitas diri) mereka dengan menggunakan jari-jari tangan untuk menghitungnya. Mereka beralasan dengan perintah Rasulullah saw agar kaum muslimin menampakkan identitas diri mereka sebagai seorang muslim, tidak ikut-ikutan dan tidak meniru-niru yang dilakukan umat lain, sebagaimana dipahami dari sabda beliau:

ْنَع

Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir rambut mereka, maka bedakanlah dirimu dengan mereka (dengan menyemir rambutmu).” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Dalam menggunakan jari-jari tangan untuk menghitung bacaan tasbih, tahmid, takbir dan bacaan dzikir yang lain sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw, maka sebahagian kaum muslimin lebih menggunakan jari-jari tangan kanan dibanding dengan menggunakan jari-jari tangan kiri. Mereka beralasan dengan anjuran Rasulullah saw:

ّلَص ّيِّلا َناَُ ْتَلاَق َةَشيئاَع ْنَع

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah ia berkata: Adalah Nabi saw suka mendahulukan

yang kanan ketika mengenakan sandal, ketika menyisir rambut, ketika bersuci, dan pada semua keadaan.” [HR. al-Bukhari].

Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyetujui pendapat terakhir ini, yaitu menganjurkan agar menggunakan yang kanan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diridlai Allah Swt, termasuk menghitung bacaan dzikir seperti yang diterangkan di atas.

Perlu kami tambahkan bahwa dalam surat Yasin ayat 65 disebutkan:

(3)

Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan

mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

[QS. Yaasiin (36): 65]. *km)

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Referensi

Dokumen terkait

"Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi'in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah,

Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang).. Al- Bukhari dalam

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang ertinya, "Tiada sesuatu apapun yang lebih cemburu dibanding Allah." (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).. "Sesungguhnya

Pemaknaan “Islam” secara lughawi> itu didasarkan pada surat al-Baqarah ayat 62 dan ayat 112: “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang

Apabila keduanya bedusta dan menyembunyikan (cacat), maka barangkali keduanya mendapatkan untung tetapi berkah jual beli mereka dihilangkan.” (HR. Al- Bukhari). Hadis tersebut

Rasulullah saw bersabda, “perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat-Nya seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari dari Abu

Dan sesungguhnya diantara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka.. Yaitu orang-orang Yahudi

Dalam Kitab Shahih Bukhari, terdapat hadist yang diriwayatkan dai ibnu Umar ra.: “Sesungguhnya Ibnu Umar ditanya tentang pernikahan dengan perempuan non muslim (Yahudi