1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Orang yang mengidap HIV/AIDS di Indonesia disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). HIV hanya dapat ditularkan dari satu orang kepada yang lain melalui pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. HIV/AIDS dapat menyebabkan kematian seseorang secara perlahan. Virus ini sampai sekarang belum ada obatnya, sehingga lebih baik mencegah untuk tidak tertular adalah tindakan yang paling bijaksana.
Pada kenyataannya perkembangan HIV/AIDS di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan, bahkan banyak orang yang meninggal karena HIV/AIDS. Virus HIV/AIDS ini tidak memandang rentangan usia, siapa saja bisa terinfeksi baik itu remaja, dewasa bahkan bayi pun bisa terinfeksi virus HIV/AIDS. Berdasarkan data statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan pada bulan januari sampai maret 2011 tercatat penambahan kasus AIDS sebanyak 351 kasus. Secara kumulatif kasus AIDS di Indonesia mulai 1 April 1987 sampai 31 Maret 2011 berjumlah 24482 dengan kematian 4603 orang (Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2011).
2
menjadi faktor utama keberhasilan pendampingan, mendapatkan dampingan, dan menyampaikan informasi sesuai dengan maksud dan tujuan pendampingan. Menyesuaikan diri dengan situasi tersebut, membutuhkan energi dan kemauan yang kuat dari pendamping, seperti memahami karakteristik sebagai hasil dari kemampuan menyesuaikan diri, akan menciptakan partisipasi dampingan untuk terlibat langsung, selain itu pendamping akan membantu menentukan langkah-langkah penanganan, dan pemberdayaan dampingan agar terhindar dari bahaya HIV/AIDS.
Di sisi lain, seorang pendamping tidak hanya memiliki sikap supel dan bertanggungjawab saja, tetapi harus memiliki sikap tekun dalam bekerja. Karena sikap tekun akan mempengaruhi kinerja dan hasil akhir dari proses pendampingan yang dilakukan pendamping di lapangan, seperti adanya perubahan positif dari dampingan, yaitu dampingan merasa dibutuhkan dan diperhatikan oleh orang lain (pendamping). Pendamping juga harus tekun dan menikmati tugasnya, karena dengan semakin memberikan waktu yang banyak dan terfokus pada tugas pendampingan, seorang pendamping mampu menerima hasil akhir dari tugas yang selama ini dilakukan, yang akhirnya menciptakan rasa kebanggaan akan hasil yang dicapai. Selain itu dengan sikap tekun ini akan lebih berdampak positif jika pendamping mau menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri, karena dengan mengenal terlebih dahulu jati diri sendiri (Lobo, 2008).
3
pendamping ODHA tanpa menyinggung perasaan dari penderita HIV dan AIDS ketika melakukan kontak dengan mereka.
Bukan hanya faktor-faktor yang bisa menularkan HIV/AIDS saja yang menjadi pertimbangan pendamping ODHA tetapi faktor kesiapan keluarga menerima kenyataan bahwa pendamping ODHA harus berinteraksi dengan penyandang ODHA dan mungkin lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan ODHA, sedangkan untuk pertimbangan dari luar diri yaitu pertimbangan yang muncul dari pendapat atau pandangan-pandangan buruk masyarakat terhadap pekerjaan sebagai pendamping ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Selain itu juga, seorang pendamping haruslah memiliki informasi dan pengetahuan seputar HIV/AIDS, IMS, kesehatan reproduksi, dan lain-lain, serta juga harus memiliki keterampilan dasar mengenai penjangkauan dan pendampingan, seperti teknik penanganan dan perencanaan berbagai kasus, karena jika pengetahuan saja tidak cukup, perlu suatu pelatihan dasar penanganan dan perencanaan. Mutu perawatan dan dukungan yang pendamping berikan serta kemampuan untuk melakukannya terus-menerus tergantung pada perlindungan kesejahteraan dan semangat juang. Oleh sebab itulah, pendampingan merupakan satu strategi yang sangat menentukan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat.
Begitu banyaknya faktor yang berperan serta dalam sebuah pekerjaan sebagai pendamping ODHA, bukan saja ditinjau dari cara pendamping berinteraksi, berkomunikasi bahkan juga mencoba untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ODHA sehingga bisa memberikan warna baru dalam hidup penyandang HIV dan AIDS yang biasa didiskriminasi oleh lingkungannya, penolakan bahkan pengucilan dari masyarakat. Oleh sebab itulah, untuk menjadi pendamping itu tidak mudah.
4
Pendapat Harahap juga didukung dengan hasil wawancara peneliti dengan seorang koordinator pendamping ODHA di LSM kota Malang bahwa menjadi pendamping itu bukan sesuatu yang mudah. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan koordinator pendamping yang menerangkan bahwa seorang pendamping ODHA itu tidak hanya mendampingi 10 atau 20 ODHA tetapi mendampingi ODHA lebih dari 100 orang.
Dengan berlatarbelakang pendapat Harahap, untuk menjadi pendamping ODHA itu bukan saja tidak mudah tetapi juga berisiko, dikarenakan orang-orang yang ditangani atau didampingi terjangkit virus HIV/AIDS atau penyakit yang dapat menular dan mematikan secara perlahan. Selain itu juga, bahaya lain yang harus dihadapi pendamping adalah penularan IO atau infeksi oportunistik, sesuai dengan data IO di RSUD DR. Soetomo Surabaya ditahun 2004 hingga 2008 bahwa IO yang sering diderita ODHA dan paling tinggi persentasinya mulai dari infeksi jamur seperti kandidas, infeksi bakteri seperti diare hingga TB atau Tuberkulosis. Salah satu infeksi oportunistik yang terpenting dan berbahaya adalah TB. Menurut WHO, orang dengan HIV 50% mengembangkan TB aktif dan TB adalah penyebab kematian yang besar untuk Odha di seluruh dunia. TB adalah salah satu penyakit yang dapat menular yaitu melalui udara (Yayasan Spiritia, 2012). Oleh sebab itulah, pendamping ODHA yang menghadapi risiko tersebut haruslah berperilaku sehat.
Sebelum mengetahui perilaku sehat maka akan lebih baik jika mengetahui konsep sehat itu terlebih dahulu. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehat adalah “keadaan yang sempurna baik fisik, mental, dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat dan semestinya dalam keadaan sempurna, baik fisik, mental ataupun sosial (Notosoedirdjo & Latipun, 2007).
5
kesehatan adalah respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat- sakit, penyakit, dan faktor- faktor yang mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, perilaku sehat adalah semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan seseorang yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
Matarazo juga mengatakan bahwa istilah perilaku kesehatan biasanya dipakai untuk mengacu pada bidang paralel yang menekankan pada pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Selanjutnya Matarazo mendefinisikan perilaku kesehatan sebagai: “Bidang ilmu pengetahuan yang didedikasikan untuk mempromosikan filosofi kegiatan yang menekankan pada tanggung jawab pribadi untuk memelihara kesehatan dan mencegah penyakit” juga diteliti oleh Fitri Yanti (seperti yang disebut Prokop dkk, 1991).
Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang bahwa seseorang yang mengidap virus HIV atau penyakit AIDS memerlukan orang lain untuk mendampinginya. Saat-saat ODHA berada dalam kondisi kurang memiliki informasi dan pengetahuan yang lengkap dan benar tentang HIV dan AIDS serta kondisi psikologis ODHA yang labil membuat mereka sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang disekitarnya. Dukungan kepada ODHA ini kemudian diberikan lewat Program pendampingan kasus HIV dan AIDS yang berfungsi mendampingi dan memfasilitasi ODHA dalam hal pelayanan kesehatan, memberikan informasi dan pengetahuan yang mendalam tentang HIV AIDS atau bagaimana hidup dengan HIV dan AIDS serta memberikan dukungan moril kepada ODHA.
6
kena mata, hidung, atau luka yang terbuka terpecik darah atau cairan badan dari penyandang HIV positif (Yayasan Spiritia, 2009).
Virus HIV/AIDS ini akan bertambah parah jika tidak ditanggulangi dengan segera dan virus ini pun merupakan virus yang merusak imun tubuh, sampai saat ini belum ada obat yang menyembuhkan virus ini tetapi hanya memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi (Wahidnurrohman, 2011).
Sedangkan untuk penularan IO lebih membahayakan bagi pendamping. Seperti yang diungkapkan Yayasan Spiritia (2011) bahwa orang yang tidak terinfeksi HIV dapat mengembangkan IO jika sistem kekebalannya rusak. Oleh sebab itulah bekerja sebagai pendamping ODHA merupakan pekerjaan yang memiliki risiko dalam kesehatan, walaupun penularan virus ini pada pendamping sangat kecil kemungkinannya akan tetapi harus tetap waspada terhadap perilaku berisiko atau kecerobohan saat merawat, dengan kata lain lebih baik mencegah daripada tertular HIV atau pun infeksi oportunistik adalah tindakan yang bijaksana. Mencegah disini dimaksudkan bukan untuk menjauhi para penyandang HIV tetapi dengan berperilaku sehat pendamping dapat melakukan aktivitas apapun dalam kehidupan sehari-hari bahkan juga memberikan contoh kepada para penyandang bahwa berperilaku sehat itu penting, untuk mengurangi risiko penyakit HIV ataupun penyakit lainnya. Oleh sebab itulah, sangat menarik untuk dilakukan penelitian mengenai perilaku sehat pada pendamping ODHA.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimanakah gambaran perilaku sehat yang dimunculkan oleh Pendamping ODHA?
C. Tujuan
7
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian maka manfaat penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan ilmu psikologi dalam bidang kesehatan dan klinis, khususnya berhubungan dengan perilaku sehat yang dimunculkan oleh pendamping ODHA.
2. Secara Praktis
PERILAKU SEHAT PADA PENDAMPING ODHA
SKRIPSI
Oleh:
Elfina Maulida
07810141
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
PERILAKU SEHAT PADA PENDAMPING ODHA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang
Sebagai Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Psikologi
Oleh:
Elfina Maulida
07810141
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Perilaku Sehat Pada Pendamping ODHA”. Penulisan skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Ibu Dra. Cahyaning Suryaningrum, M. Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Bapak Dr. Latipun, M. Kes dan Bapak M. Salis Yuniardi, M. Psi selaku Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
3. Bapak Yudi Suharsono, M. Si., S.Psi selaku dosen wali yang telah mendukung dan memberi pengarahan sejak awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini. 4. Seluruh pihak Lembaga Paramitra yang membantu proses penelitian dan Subjek
penelitian yang telah bersedia menyediakan waktunya bagi peneliti.
5. Seluruh keluarga penulis khususnya kedua orangtua dan kakak tersayang yang selalu memberikan dukungan, do’a dan kasih sayang sehingga penulis memiliki motivasi dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini hingga selesai.
6. Teman-teman dan sahabat yaitu tya, novi, ghea, amel, ifa, niken, latifah, intri, putri, junaidi dan lidiya serta pak Arif yang telah banyak memberi dukungan, semangat dan banyak membantu selama proses pengerjaan hingga selesainya skripsi ini.
Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya, bagi para pembaca pada umumnya dan juga bagi perkembangan psikologi kesehatan.
Malang, Mei 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... v
INTISARI ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perilaku Sehat ... 8
1. Pengertian Perilaku Sehat ... 8
2. Upaya-Upaya Peningkatan dan Pemeliharaan Perilaku Sehat .... 9
3. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sehat ... 9
4. Pengukuran dan Indikator Perilaku ... 11
B. Pendamping ODHA ... 13
1. Pengertian ODHA ... 13
2. Pengertian Pendamping ... 14
3. Prinsip-Prinsip Pendampingan ... 15
4. Tugas-Tugas Pendamping ODHA ... 16
5. Struktur organisasi... ... 17
C. Perilaku Sehat pada Pendamping ODHA ... 18
BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian ... 20
B. Batasan Istilah ... 20
C. Subyek Penelitian ... 21
D. Konteks Penelitian ... 21
E. Jenis Data, Instrumen Penelitian dan Metode Pengumpulan data ... 21
F. Prosedur Penelitian ... 22
G. Analisa Data ... 23
H. Keabsahan Data ... 23
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 25
1. Deskripsi Subyek ... 25
2. Deskripsi Data ... 25
B. Analisa Data ... 31
C. Pembahasan ... 33
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 37
B. Saran- saran ... 38
DAFTAR PUSTAKA ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Lampiran Halaman
Lampiran 1: Guide Wawancara ... 42
Lampiran 2: Surat Izin Penelitian ... 44
Lampiran 3: Informed Consent ... 45
Lampiran 4: Jadwal Penelitian ... 49
Lampiran 5: Identitas Subjek ... 50
Lampiran 6: Verbatim Interview Subjek Penelitian ... 51
DAFTAR PUSTAKA
Arifiyanto, D. (dalam proses cetak). Dasar keperawatan. Diakses 16 Januari 2012 dari http://www.scribd.com/doc/54520517/Konsep-Dasar-Keperawatan-I. Click, S. (2011, 6 Juli). Pengertian dan cara penularan HIV/AIDS. Diakses 6 Juli
2011 dari http://www.g-excess.com/3424/pengertian-dan-cara-penularan-hivaids/.
Dayugayatri. (2011). Pelacuran dan HIV/AIDS di Bali. Diakses 16 Januari 2012 dari http://studibudaya.wordpress.com/2011/01/18/pelacuran-dan-hivaids-di-bali/ Ditjen PPM & PL Depkes RI. (2011, Maret). Statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia.
Diakses 5 Juli 2011 dari http://www.scribd.com/doc/59937282/StatCurr. Gallant, J. (2010). 100 Tanya-jawab mengenai HIV dan AIDS. Jakarta : PT. Indeks. Harahap, Y.W. (2011, 10 Januari). Niat bunuh diri odha pada masa AIDS. Diakses
27 Juli 2011 dari http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/05/niat-bunuh-diri-odha-pada-masa-aids/.
Lobo, A. N. (2008). Proses pendampingan pekerja seks Di Lokalisasi Tanjung Elmo
Sentani. (Skripsi Universitas Indonesia).
Moleong, L. J. (2010). Metodologi penelitian kualitatif (cetakan keduapuluh delapan). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Montagnier, L. (1987). Para ahli menjawab tentang AIDS (cetakan pertama). Jakarta : PT. Pustaka Utama Grafiti.
Morter, Ted. Dynamic health. California: Morter Healthsystem
Niven, N. (2002). Psikologi kesehatan: pengantar untuk perawat dan professional
kesehatan lain. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu perilaku kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Promosi kesehatan teori dan aplikasi (Ed. Revisi).Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Notosoedirdjo, M., & Latipun. (2007). Kesehatan mental : konsep dan penerapan (cetakan keempat). Malang : UMM Press.
Nursalam & Kurniawati, 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi
HIV/AIDS. Jakarta : Salemba Medika.
Purwaningtias, A., Subronto, Y. W., & Hasanbasri, M. (2007). Pelayanan HIV/AIDS
di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Diakses pada tanggal 8 Maret 2012 dari
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.16_Andris_07_07.pdf. Purwanto, F. E. (2010, 4 Maret). Pelibatan orang terinfeksi HIV dalam
penanggulanan HIV & AIDS di Indonesia. Diakses 25 Juli 2011 dari
http://jothi.or.id/pelibatan-orang-terinfeksi-hiv-dalam-penanggulanan-hiv-aids-di-indonesia.
Sugiyono. (2009). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta.
United Nations Population Fund Indonesia. (dalam proses cetak). Buku pegangan
petugas penjangkau. Diakses 21 Juli 2011 dari
http://www.remajaindonesia.org/download/buku_panduan_petugas_penjangk au.pdf.
Wahidnurrohman. (2011). Strategi dan metode kuratif
tentang penanggulangan HIV dan AIDS. Diakses 8 Agustus 2011 dari
http://wahid07.wordpress.com/2011/04/29/aids/.
Wicaksono, A. P. (2007). Kamus bahasa Indonesia lengkap. Surabaya : Anugerah. Widiyanto, S. G. (2008). Faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik wanita
pekerja seks (wps) dalam VCT ulang di lokalisasi Sunan Kuning, Semarang (Tesis, Program Studi Magister Promosi Kesehatan, Universitas Diponegoro Semarang).
Yatim, D. I. (2006). Dialog seputar AIDS. Jakarta : Gramedia Widiasara Indonesia. Yayasan Spiritia. (dalam proses cetak). Mendukung pendamping: buklet mengenai
penanganan stres pada orang yang merawat Odha. Diakses 11 November
2011 darihttp://www.spiritia.or.id/cst/dok/damping1.pdf.
Yayasan Spiritia. (2004). Seri buku kecil: Merawat Odha di rumah. Diakses 24 Desember 2011 dari http://spiritia.or.id/Dok/Merawat.pdf.
Yayasan Spiritia. (2009). Seri buku kecil: Hidup dengan HIV/AIDS. Diakses 20 November 2011 dari http://spiritia.or.id/Dok/Hidup.pdf.
Yayasan Spiritia. (2011). Infeksi Oportunistik. Diakses 8 Maret 2012 dari http://www.spiritia.or.id/li/pdf/LI500.pdf.