INDEKS KENYAMANAN DAN TINGKAT KONSUMSI
ENERGI LISTRIK DI RUMAH SAKIT AZRA, BOGOR
LUTFI SETYOWIBOWO
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Indeks Kenyamanan dan Tingkat Konsumsi Energi Listrik di Rumah Sakit Azra, Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2013
Lutfi Setyowibowo
ABSTRAK
LUTFI SETYOWIBOWO. Indeks Kenyamanan dan Tingkat Konsumsi Energi Listrik di Rumah Sakit Azra, Bogor. Dibimbing oleh ARIEF SABDO YUWONO.
Tingkat kenyamanan ruangan dipengaruhi oleh suhu, kelembaban relatif, pencahayaan, dan kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan indeks kenyamanan serta keterkaitannya dengan tingkat konsumsi energi listrik di RS Azra, Bogor. Pengukuran dilakukan pada ruangan yang mewakili fungsi/unit yang berbeda. Pengukuran suhu dan RH dilakukan dengan termometer (bola basah dan kering) dan grafik psikrometrik. Pengukuran intensitas cahaya mengacu pada SNI 16-7062-2004 tentang Pengukuran Intensitas Penerangan di Tempat Kerja dan pengukuran tingkat kebisingan mengacu pada KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Peraturan yang digunakan adalah Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Hasil penelitian menunjukkan hanya poli gigi dan HCU (High Care Unit) yang sesuai dengan peraturan, sedangkan menurut Temperature Humidity Index, ada 23 ruangan yang berada pada kategori nyaman. Ruangan yang memiliki intensitas pencahayaan sesuai dengan peraturan adalah CT Scan, radiologi, dapur, dan toilet lobi. Ruangan yang memiliki tingkat kebisingan dibawah Nilai Ambang Batas (NAB) adalah dapur, ruang cuci, dan poli gigi. Besarnya konsumsi energi listrik untuk pengkondisian udara pada empat ruangan perawatan yang berbeda adalah 7.32 kW. Perbaikan pengelolaan energi perlu dilakukan pada ruangan-ruangan yang belum memenuhi persyaratan suhu dan kelembaban relatif.
Kata kunci: energi listrik, kelembaban relatif, kenyamanan, rumah sakit, suhu
ABSTRACT
LUTFI SETYOWIBOWO. Comfort Index and The Level of Electricity Energy Consumption. Supervised by ARIEF SABDO YUWONO.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
INDEKS KENYAMANAN DAN TINGKAT KONSUMSI
ENERGI LISTRIK DI RUMAH SAKIT AZRA, BOGOR
LUTFI SETYOWIBOWO
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Indeks Kenyamanan dan Tingkat Konsumsi Energi Listrik di Rumah Sakit Azra, Bogor
Nama : Lutfi Setyowibowo NIM : F44090015
Bogor, Juni 2013 Disetujui,
Pembimbing Akademik
Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M. Sc. NIP. 19660321 199003 1 012
Diketahui oleh
Dr. Yudi Chadirin, S. TP., M. Agr.
Plh. Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
PRAKATA
Puji syukur dipanjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan kelimpahan kesempatan dalam proses penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana teknik di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. Penelitian yang dilakukan berkaitan dengan penentuan indeks kenyamanan dan tingkat konsumsi energi listrik Rumah Sakit Azra, Bogor.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M. Sc selaku dosen pembimbing dan dr. Y. Sri Yono, S.H., M.M. yang telah banyak memberi saran. Penghargaan juga disampaikan kepada seluruh karyawan Rumah Sakit Azra yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta rekan-rekan mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan, atas segala doa dan dukungan yang telah diberikan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan digunakan oleh pihak terkait ataupun masyarakat secara luas.
Bogor, Juni 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 1
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 3
Waktu dan Tempat 3
Alat dan Bahan 3
Prosedur Penelitian 3
Teknik Pengukuran 4
Prosedur Analisis Data 6
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Suhu dan Kelembaban Relatif (RH) 6
Temperature Humidity Index (THI) 8
Intensitas Pencahayaan Ruangan 8
Tingkat Kebisingan 10
Pengkondisian Udara dan Konsumsi Energi Listrik 11
SIMPULAN DAN SARAN 12
Simpulan 12
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 13
DAFTAR TABEL
1 Intensitas pencahayaan ruangan di Rumah Sakit Azra 8 2 Tingkat kebisingan ruangan di Rumah Sakit Azra 10 3 Tingkat kebisingan lingkungan (outdoor) RS Azra 11
4 Beban kalor ruangan dan kapasitas AC 12
DAFTAR GAMBAR
1 Diagram alir penelitian 4
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumah sakit merupakan fasilitas umum yang memiliki peran vital dalam suatu kawasan. Rumah sakit memegang peranan penting dalam proses diagnosis maupun penyembuhan (El-Housseiny 1991 dan Institute 1996 diacu dalam Sherif 1999). Pemerintah Indonesia telah mengatur persyaratan kesehatan rumah sakit dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Peraturan tersebut memberikan gambaran tentang batasan-batasan yang tidak boleh dilampaui dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kenyamanan pasien, tenaga medis, maupun karyawan rumah sakit.
Kenyamanan termal menjadi perhatian yang penting bagi penghuni dalam suatu lingkungan tertutup (Han et al. 2001). Parameter yang menentukan kenyamanan termal adalah tingkat aktifitas, cara berpakaian, suhu udara, suhu radiasi rata-rata, kelembaban, dan pergerakan udara (Brager et al. 2004; Sugini 2004; Mirinejad 2008; Matusiak 2010; Boregowda et al. 2012).
Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting yang mendukung interaksi manusia dengan lingkungannya dan sangat diperlukan untuk memaksimalkan fungsi penglihatan (Morghan et al. 2009). Intensitas pencahayaan merupakan aspek penting di tempat kerja (SNI 16-7062-2004). Fungsi utama pencahayaan adalah sebagai penerang ruang untuk mendukung kegiatan yang berlangsung dalam ruang tersebut (Indrani 2009).
Tiga dekade terakhir, polusi kebisingan di perkotaan telah menjadi permasalahan dunia dan sumber bising yang sangat penting adalah kebisingan lalu-lintas (Barbosa et al. 2005 diacu dalam Ehrampoush et al. 2012). Mijinyawa (2012) menjelaskan bahwa suara dapat dinilai menjadi bising ketika tingkat/levelnya benar-benar membuat tidak nyaman bagi pendengar. Kualitas dan kuantitas suara ditentukan antara lain oleh intensitas, frekuensi, periodesitas, dan durasinya (Mansyur 2003 diacu dalam Ikron et al. 2007).
Penyegaran udara merupakan suatu proses mendinginkan udara sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan yang dipersyaratkan terhadap kondisi udara dari suatu ruangan tertentu (Arismunandar 1991). Upaya penyegaran udara akan berpengaruh pada tingkat konsumsi energi listrik. Oleh karena itu perlu adanya pengukuran dan pengkajian yang berkaitan dengan indeks kenyamanan di rumah sakit serta pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi energi listrik.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, ada beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan, yaitu:
1. Bagaimana indeks kenyamanan termal setiap sampel ruangan di Rumah Sakit Azra, berdasarkan :
2
2. Bagaimana tingkat kenyamanan visual dan kenyamanan akustik setiap sampel ruangan di RS Azra.
3. Bagaimana keterkaitan indeks kenyamanan termal ruangan dengan tingkat konsumsi energi listrik.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, ada beberapa tujuan yang diperoleh dari penelitian ini, yaitu:
1. Menentukan indeks kenyamanan termal setiap sampel ruangan di Rumah Sakit Azra berdasarkan :
a. Standar Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 b. Temperature Humidity Index (THI).
2. Menentukan tingkat (a) kenyamanan visual dan (b) kenyamanan akustik setiap sampel ruangan di RS Azra menurut standar Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004.
3. Menganalisis dan menentukan keterkaitan indeks kenyamanan termal dengan tingkat konsumsi energi listrik pada ruang perawatan.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Memberikan informasi mengenai indeks kenyamanan setiap sampel ruangan di RS Azra sesuai dengan fungsinya.
2. Memberikan informasi tentang kenyamanan termal ruang perawatan dengan konsumsi energi listrik.
3. Hasil penelitian dapat digunakan untuk memprediksi indeks kenyamanan beberapa ruangan yang memiliki fungsi yang sama dengan sampel ruangan.
4. Menjadi masukan bagi RS Azra dalam upaya perbaikan dan pengembangan pelayanan.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah :
1. Penelitian ini dilakukan pada 29 ruangan di RS Azra yang dapat mewakili fungsi/unit yang berbeda.
2. Penelitian ini membahas kenyamanan termal (suhu dan RH), visual, dan akustik berdasarkan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 dan juga membahas Temperature Humidity Index (THI).
3 4. Dalam perhitungan pengkondisian udara, yang berkaitan dengan nilai panas manusia menggunakan faktor laki-laki dewasa. Kecuali pasien anak dan perempuan.
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2013 di RS Azra, Bogor. Pengukuran dilakukan pada 29 ruangan yang memiliki fungsi berbeda-beda.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan antara lain:
Termometer (bola kering dan bola basah) rentang -20oC-110oC
Grafik psikrometrik [www.munters.us]
Digital Luxmeter [Lutron tipe LM-8000]
Sound Level Meter (SLM) [Mastech tipe MS6700]
Denah RS Azra [skala 1:250]
Gambar potongan gedung [skala 1:100]
Daftar alat elektronik ruang rawat inap kelas I kamar 9, kelas II perempuan, kelas III laki-laki, dan ruang perawatan anak.
Data titik koordinat
Data iklim stasiun cuaca Baranangsiang tahun 2012 [sumber: Dept. Geofisika dan Meteorologi IPB]
Prosedur Penelitian
4
Gambar 1 Diagram alir penelitian
Teknik Pengukuran
Pengukuran Suhu dan Kelembaban Relatif (RH)
Pengukuran suhu ruangan dilakukan berdasarkan metode yang mengadopsi SNI 16-7061-2004 tentang Pengukuran Iklim Kerja (Panas) dengan Parameter Indeks Suhu Basah dan Bola. Langkah-langkah pengukuran suhu dan kelembaban relatif (RH) ruangan adalah sebagai berikut:
Termometer diletakkan pada pusat aktifitas dengan ketinggian 1-1.25 m dari lantai.
Suhu dibaca pada menit ke-5 dan ke-10 setelah peletakan.
Nilai rata-rata kedua suhu diplotkan pada grafik psikrometrik untuk mendapatkan nilai kelembaban relatif.
Pengukuran dilakukan tujuh kali dalam 24 jam.
Perhitungan Temperature Humidity Index (THI)
5
Pengukuran intensitas pencahayaan ruangan dilakukan berdasarkan SNI 16-7062-2004 tentang Pengukuran Intensitas Penerangan di Tempat Kerja. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Lux meter diposisikan pada titik tertentu setinggi satu meter dari lantai.
Penentuan titik pengukuran didasarkan pada luas ruangan, yaitu :
a. Luas ruangan kurang dari 10 m2: titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap satu meter (1 m). b. Luas ruangan antara 10 m2 sampai 100 m2: titik potong garis
horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap tiga meter (3 m).
c. Luas ruangan lebih dari 100 m2: titik potong horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak enam meter (6 m).
Pengukuran diulang tujuh kali dalam 24 jam.
Pengukuran Tingkat Kebisingan
Metode pengukuran tingkat kebisingan mengacu pada Kep. Men. LH No. Kep-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Penentuan lokasi pengukuran.
SLM diarahkan ke sumber bising yang dominan dan dilindungi dari pantulan suara.
Nilai kebisingan dicatat setiap lima detik selama sepuluh menit.
Pengukuran dilakukan selama 24 jam dengan tingkat aktifitas tertinggi pada siang hari selama 16 jam (Ls) pada pukul 06.00-22.00 dan aktifitas
malam hari selama 8 jam (Lm) pada pukul 22.00-06.00. Pengkondisian Udara dan Tingkat Konsumsi Energi Listrik
Metode yang digunakan mengacu pada Arismunandar dan Saito (1991). Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
Pengumpulan data spesifikasi gedung/ruangan
Pemilihan suhu dan RH rancangan
Penentuan temperatur udara luar dan jumlah radiasi matahari sepanjang hari.
Perhitungan jumlah kalor sensibel dan laten daerah perimeter (tepi).
Perhitungan beban kalor sensibel dan laten daerah interior.
Nilai yang diperoleh kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan beban kalor total.
6
Prosedur Analisis Data
Suhu dan Kelembaban Relatif (RH)
Analisis dilakukan dengan merata-ratakan suhu ruangan dalam 24 jam dengan 7 kali pengukuran. Nilai rata-rata suhu bola kering dan bola basah diplotkan pada grafik psikrometrik untuk mendapatkan kelembaban relatif. Nilai rata-rata suhu ruangan dan kelembaban relatif dibandingkan dengan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004.
Temperature Humidity Index
Nilai THI ruangan dibandingkan dengan kriteria nyaman, yaitu 20-26 (Mulyana et al. 2003 diacu dalam Kurnia et al. 2010).
Intensitas Pencahayaan Ruangan
Analisis dilakukan dengan merata-ratakan intensitas cahaya dalam 24 jam dengan 7 kali pengukuran. Nilai yang diperoleh dibandingkan dengan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 dan SNI 03-6575-2001.
Tingkat Kebisingan
Pengolahan data mengacu pada Kep. Men. LH No. Kep-48/MENLH/11/1996. Tingkat kebisingan yang diperoleh dibandingkan dengan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 dan Kep. Men. LH No. Kep-48/MENLH/11/1996.
Pengkondisian Udara dan Energi Listrik
Pengolahan data mengacu pada Arismunandar dan Saito (1991). Besarnya beban kalor total pada suatu ruangan dikonversi menjadi kapasitas AC dalam satuan PK. Besarnya energi listrik diperoleh dari daya listrik yang dibutuhkan untuk menghidupkan satu PK AC.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Suhu dan Kelembaban Relatif (RH)
Hasil pengukuran suhu pada 29 ruangan di RS Azra sangat variatif. Ada delapan jenis ruangan yang tidak tercantum atau tidak memiliki kesamaan fungsi dengan standar Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004. Ruangan-ruangan tersebut yaitu ruang cuci, ruang genset, gudang farmasi, mushola, ruang insinerator, apotek, tangga, koridor, dan toilet.
Berdasarkan hasil pengukuran, ada beberapa ruangan yang melebihi standar, yaitu dapur, ruang operasi, HCU (High Care Unit), ruang perawatan anak, ruang rawat inap kelas 2 perempuan, NS 2 (Nurse Station), dan poli kebidanan. Suhu dapur melebihi standar karena kegiatannya berkaitan dengan proses memasak dan kurangnya ventilasi.
7 pemerintah sangat ketat, yaitu 22-23oC. Empat ruangan berikut juga memiliki suhu ruangan di atas standar, yaitu ruang perawatan anak, rawat inap kelas 2 perempuan, NS 2, dan poli kebidanan. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan memperhatikan pengaturan alat pengkondisian udara, jumlah penghuni, dan iklim lingkungan.
Ada beberapa ruangan yang berada di bawah standar suhu ruangan, yaitu ruang radiologi dan CT Scan. Ruangan tersebut beroperasi selama 24 jam karena memiliki fungsi yang vital terutama pada kondisi darurat yang memerlukan penanganan medis dengan bantuan foto Röntgen. Saat tidak ada kegiatan, suhu ruangan dapat turun sampai di bawah standar.
Berdasarkan pengukuran RH, tidak ada ruangan yang memiliki kelembaban relatif sesuai dengan standar. Namun, ada satu ruangan yang mendekati standar yang berlaku, yaitu HCU (High Care Unit). Ruangan ini merupakan ruangan yang mendapat perhatian khusus dan intensif dalam proses perawatan pasien.
Hubungan antara suhu bola kering, suhu bola basah, dan kelembaban relatif dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif suatu ruangan terhadap zona kenyamanan. Berdasarkan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004, standar suhu ruangan rumah sakit berkisar antara 19-30oC dan kelembaban relatif berkisar antara 35-60%. Jika kedua standar tersebut dijadikan acuan sebagai zona kenyamanan, maka hasil yang diperoleh adalah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2 Hasil pengukuran kondisi ruangan dan posisi zona kenyamanan Berdasarkan Gambar 2, hanya ada 2 ruangan yang berada dalam zona kenyamanan. Kedua ruangan tersebut adalah HCU (High Care Unit) dan poli gigi.
8
Suhu lingkungan akan berpengaruh pada kualitas tidur pasien (Pan et al.
2012). Kelembaban yang tinggi meningkatkan potensi influenza, menyebabkan kapang dan kontaminan biologis berkembang. Kelembaban yang terlalu rendah dapat menyebabkan iritasi membran mukosa, mata kering, dan gangguan sinus (Shaman 2009 diacu dalam Yang 2012; Prasasti 2005).
Temperature Humidity Index (THI)
Indeks ini merupakan salah satu metode dalam penentuan kenyamanan termal dengan mengkombinasikan suhu dan kelembaban relatif. Hasil penelitian Mulyana et al. (2003) diacu dalam Kurnia et al. (2010), menyatakan bahwa indeks kenyamanan dalam kondisi nyaman berada pada kisaran THI 20-26. Besarnya THI untuk ruangan-ruangan di RS Azra dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Temperature Humidity Index RS Azra
Berdasarkan THI, ada 23 ruangan yang masuk dalam kategori nyaman dari 29 ruangan yang diukur. Ruangan yang memiliki nilai THI tertinggi dan terendah adalah insinerator (29.9) dan CT Scan (16.9).
Intensitas Pencahayaan Ruangan
Setiap kegiatan di dalam ruangan memerlukan pencahayaan yang cukup. Besarnya intensitas cahaya yang dibutuhkan bergantung pada fungsi ruangan dan jenis kegiatan yang berlangsung di dalamnya. Intensitas pencahayaan dari pengukuran beberapa ruangan di Rumah Sakit Azra disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Intensitas pencahayaan ruangan di Rumah Sakit Azra No Nama Ruangan Pencahayaan (lux) Standar Tingkat
Pencahayaan (lux)*
1 HCU 205 100-200
2 Isolasi HCU 215 100-200
9 No Nama Ruangan Pencahayaan (lux) Standar Tingkat
Pencahayaan (lux)*
10
Tingkat Kebisingan
Pengukuran terhadap tingkat kebisingan dilakukan untuk mengetahui kenyamanan akustik di RS Azra. Selain itu, pengukuran juga dilakukan di luar ruangan pada tiga hari yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mengetahui kecenderungan tingkat kebisingan di dalam ruangan rumah sakit sebagai implikasi aktifitas lalu lintas jalan raya di depan rumah sakit. Tingkat kebisingan di beberapa ruangan RS Azra dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Tingkat kebisingan ruangan di Rumah Sakit Azra No Nama Ruangan Kebisingan [dB(A)] NAB [dB(A)]*
11 pemerintah. Ketiga ruangan tersebut adalah dapur, ruang cuci, dan poli gigi. Kebisingan rumah sakit dapat dipengaruhi oleh tingkat kunjungan masyarakat, alat-alat elektronik, aktifitas penghuni rumah sakit, dan kondisi lalu-lintas jalan raya. Tingkat kebisingan yang disebabkan oleh lalu lintas dan lingkungan sekitar dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Tingkat kebisingan lingkungan (outdoor) RS Azra No Lokasi (Outdoor) Kebisingan tujuan mengetahui tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh lalu lintas jalan raya. Titik kedua, yaitu outdoor belakang berlokasi di lapangan parkir motor. Titik kedua dipilih dengan maksud untuk melihat pengaruh kebisingan jalan raya dan kendaraan yang keluar-masuk RS Azra. Pengukuran dilakukan pada tiga hari yang berbeda. Tingkat kebisingan tertinggi adalah pada hari Sabtu yang ditimbulkan oleh lalu lintas kendaraan. Nilai tingkat kebisingan yang diperoleh dibandingkan dengan NAB yang ditetapkan dalam Kep. Men. LH No. 48 Tahun 1996 dengan kategori lingkungan kegiatan rumah sakit.
Environmental Protection Agency (EPA) diacu dalam Tijunelis et al. (2005) menganjurkan bahwa tingkat kebisingan rumah sakit sebaiknya tidak melampaui 40 dB. Kebisingan dapat mengurangi kualitas lingkungan, gangguan komunikasi, ketulian, gangguan tidur, gangguan kesehatan psikologis, hipertensi, dan gangguan sistem imun (Kryter 1985 diacu dalam Bhardwaj et al. 2013; Kholik et al. 2012; Hume et al. 2010; Al Shimemeri et al. 2011).
Pengkondisian Udara dan Konsumsi Energi Listrik
Perhitungan pengkondisian udara dilakukan pada empat ruang perawatan (Lampiran 1), yaitu ruang rawat inap kelas I kamar 9, kelas II perempuan, kelas III laki-laki, dan ruang perawatan anak. Suhu ruangan yang direncanakan adalah 23oC dengan kelembaban relatif sebesar 50%. Keadaan ini dirancang dengan kondisi lingkungan terpanas. Menurut data iklim stasiun cuaca Baranangsiang (sumber : Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB), September adalah bulan terpanas dengan suhu 32.9oC dan RH 80%. Perhitungan ini juga menggunakan titik koordinat RS Azra (S = 06o 34’ 8488” dan E = 106o 48’ 5393”) untuk menentukan besarnya radiasi matahari pada bulan rancangan.
12
Tabel 4 Beban kalor ruangan dan kapasitas AC Nama Ruang
Berdasarkan hasil perhitungan seperti pada Tabel 4, beban kalor tertinggi dimiliki oleh ruang perawatan anak. Keadaan ini disebabkan karena ketiga sisi ruang perawatan anak (timur, selatan, dan barat) terkena radiasi matahari, sehingga tambahan kalor yang berasal dari sinar matahari menjadi lebih besar dari tiga ruangan lainnya. Besarnya daya listrik yang dibutuhkan untuk pengkondisian udara sesuai dengan hasil perhitungan adalah 7.32 kW.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Indeks kenyamanan termal Rumah Sakit Azra dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Berdasarkan standar Kep.Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004, hanya ada dua ruangan yang dinyatakan nyaman yaitu poli gigi dan HCU (High Care Unit).
b. Berdasarkan Temperature Humidity Index, ada 23 ruangan (79%) yang masuk dalam kategori nyaman.
2. (a) Secara umum intensitas pencahayaan ruangan-ruangan di RS Azra belum sesuai standar Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004. Hanya ada tiga ruangan yang sesuai, yaitu radiologi, dapur memasak, dan toilet lobi. (b) Berdasarkan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004, hanya ada tiga ruangan yang memiliki tingkat kebisingan di bawah NAB, yaitu dapur, ruang cuci, dan poli gigi. Tingkat kebisingan lingkungan RS Azra masih berada di atas NAB sesuai Kep. Men. LH No. 48 Tahun 1996 dengan tingkat kebisingan tertinggi terjadi pada hari Sabtu.
3. Total konsumsi energi listrik untuk pengkondisian udara pada ruang rawat inap kelas I kamar 9, kelas II perempuan, kelas III laki-laki, dan ruang perawatan anak adalah 7.32 kW.
Saran
Perlu dilakukan evaluasi pengkondisian udara pada ruangan-ruangan yang belum sesuai dengan Kep. Men. Kes. RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 terkait beban kalor, kapasitas AC yang dibutuhkan dan terpasang, serta energi listrik yang dibutuhkan.
13
Penelitian mengenai pengaruh lumen lampu, armatur, renderasi warna lampu, warna dinding, dan luas ruangan perlu dilakukan sehingga hasil analisis lebih meyakinkan.
Faktor jarak, tinggi gedung, kebisingan maksimum, dan noise barrier
dapat diperhitungkan dalam penurunan tingkat kebisingan.
DAFTAR PUSTAKA
Al Shimemeri SA, Patel CB, Abdulrahman AF. 2011. Assessment of Noise Levels in 200 Mosques in Riyadh, Saudi Arabia. Avicenna Journal of Medicine.
Vol 1 Issu 2: 35-38.
Arismunandar W, Saito H. 1991. Penyegaran Udara. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Badan Standardisasi Nasional, SNI 03-6575-2001: Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung.
Badan Standardisasi Nasional, SNI 16-7061-2004: Pengukuran Iklim Kerja (Panas) dengan Parameter Indeks Suhu Basah dan Bola.
Badan Standardisasi Nasional, SNI 16-7062-2004: Pengukuran Intensitas Penerangan di Tempat Kerja.
Bhardwaj M, Baum U, Markevych I, Mohamed A, Weinmann T, Nowak D, Radon K. 2013. Are Primary School Students Exposed to Higher Noise Levels than Secondary School Students in Germany. International Journal of Occupational and Environmental Medicine. Vol. 4 No. 1:2-11.
Boregowda SC, Tiwari SN, Chaturvedi SK. 2001. Entropy Generation Method to Quantify Thermal Comfort. Journal of Human Performance in Extreme Environments. Vol. 6, Iss. 1, Article 1.
Brager GS, Paliaga G, de Dear R. 2004. Operable Windows, Personal Control and Occupant Comfort. ASHRAE Transactions. Vol. 110 Part 2.
Ehrampoush MH, Halvani GH, Barkhordari A, Zare M. 2012. Noise Pollution in Urban Environments : a Study in Yazd City, Iran. Pol. J. Environ. Stud. Vol 21 No. 4: 1095-1100.
Han T, Huang L, Kelly S, Huizenga C, Zhang H. 2001. Virtual Thermal Comfort Engineering. SAE Technical Paper. Series 2001-01-0588.
Hume KI, Brink M, Basner M. 2012. Effects of Environmental Noise on Sleep.
Noise & Health. Vol.14:61, 297-302. doi.10.4103/1463-1741.104897.
Ikron, Djaja IM, Wulandari RA. 2007. Pengaruh Kebisingan Lalu Lintas jalan terhadap Gangguan Kesehatan Psikologis Anak SDN Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Propinsi DKI Jakarta. Makara Kesehatan. Vol. 11 No.1:32-37.
Indrani HC, Santosa IP. 2009. Desain Pencahayaan Ruang Rawat Inap Kelas Atas RS Darmo dan ST Vincentius A Paulo Surabaya. Dimensi Interior. Vol. 7 No.1:16-27.
14
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
Kholik HM, Krishna DA. 2012. Analisis Tingkat Kebisingan Peralatan Produksi terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Teknik Industri. Vol. 13 No.2:194-200. Kurnia R, Effendy S, Tursilowati L. 2010. Identifikasi Kenyamanan Termal
Bangungunan, Studi Kasus: Ruang Kuliah Kampus IPB Baranangsiang dan Darmaga Bogor. Journal Agromet 24 (1): 14-22. ISSN: 0126-3633.
Matusiak M. 2010. Thermal Comfort Index as a Method of Assessing the Thermal Comfort of Textile Materials. Fibres & Textiles. Vol. 18 No. 2 (79) pp. 45-50. Mijinyawa Y, Alege FP. 2012. Assessment of Noise Levels Generated in Swine
Production Units in Ibadan, Nigeria. ARPN Journal of Agricultural and Biological Science. Vol. 7 No. 8:645-649.
Mirinejad H, Sadati SH, Ghasemian M, Torab H. 2008. Control Techniques in Heating, Ventilating, and Air Conditioning (HVAC) Systems. Journal of Computer Science. 4 (9): 777-783. ISSN 1549-3636.
Morghen I, Turola MC, Forini E, Di Pasquale P, Zanatta P, Matarazzo T. 2009. Ill-lighting Syndrome: Prevalence in Shift-Work Personnel in The Anaesthesiology and Intensive Care Department of Three Italian Hospitals.
Journal of Occupational Medicine and Toxicology. 4:6. Doi:10.1186/1745-6673-4-6.
Pan L, Lian Z, Lan L. 2012. Inventigation of Sleep Quality Under Different Temperatures Based on Subjective and Physiological Measurements. HVAC&R Research. Vol 18 No. 5. doi: 10.1080/10789669.2012.667037.
Prasasti CI, Mukono J, Sudarmaji. 2005. Pengaruh Kualitas Udara dalam ruangan Ber-AC terhadap Gangguan Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan. Vol. 1 No.2.
Sherif AH. 1999. Hospitals of Developing Countries: Design and Construction Economics. Journal of Architectural Engineering. Vol. 5 No. 3: 74-81.
Sugini. 2004. Pemaknaan Istilah-istilah Kualitas Kenyamanan Thermal Ruang dalam Kaitan dengan Variabel Iklim Ruang. Logika. Vol. 1 No. 2: 3-17.
Tijunelis MA, Fitzsullivan E, Henderson SO. 2005. Noise in the ED. American Journal of Emergency Medicine. Vol 23: 332-335. doi: 10.1016/j.ajem.2005.02.037.
Yang W. Elankumaran S, Marr LC. 2012. Relationship between Humidity and Influnza A Viability in Droplets and Implications for Influenza’s Seasonality.
15
17
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pringsewu, Lampung pada tanggal 26 Juni 1991 dari pasangan suami istri Joko Hasan Triwibowo dan Sulistyoningrum. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara, kakak dari Muhammad Faiz Kahendran. Pada tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Gadingrejo dan diterima di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).