ANALISIS KERAGAAN RUMPUT LAUT Gracillaria gigas
PADA SISTIM BUDIDAYA LAUT DAN TAMBAK DI NUSA
TENGGARA BARAT
FARAH DIANA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Keragaan Rumput Laut Gracilaria gigas Pada Sistim Budidaya Laut dan Tambak di Nusa Tenggara Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, 21 Maret 2014
RINGKASAN
FARAH DIANA. Analisis Keragaan Rumput Laut Gracilaria gigas Pada Sistim Budidaya Laut dan Tambak di Nusa Tenggara Barat. Dibimbing oleh KUKUH NIRMALA dan DINAR TRI SOELISTYOWATI.
Gracilaria gigas merupakan tumbuhan tingkat rendah, tidak memiliki akar, batang dan daun sejati, namun berupa thallus yang bercabang-cabang, dan hidup di laut dengan kedalaman yang masih dapat dicapai oleh cahaya matahari. G. gigas merupakan salah satu spesies rumput laut dari jenis alga merah (Rhodophyceae) sebagai penghasil agar (agarofit), salah satu keunggulan dari G. gigas adalah mempunyai serat yang tinggi dan baik untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan produksi, rendemen dan kualitas agar dari rumput laut G. gigas yang dibudidayakan di laut dan di tambak.
Budidaya G. gigas di tambak dilakukan di Sekotong, Lombok Barat dengan menggunakan metode broadcast dengan luas area budidaya 1500 m2. Sedangkan budidaya di laut dilakukan di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah dengan metode Long-line dengan luas area budidaya 1250 m2. Parameter yang diukur meliputi performa rumput laut, kualitas rumput laut, kualitas agar dan kualitas air. Sedangkan parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, salinitas, pH, NO3
-N, NO2-N, NH3-N, PO4-P dan kecerahan yang diambil pada hari ke 0, 10, 20 dan
30. Rata-rata produktifitas G. gigas yang di budidaya dilaut yaitu 12,72 %, sedangkan di tambak dengan rata-rata 4,00 %. Pada kualitas rumput laut rendemen agar yang di budidaya di tambak mencapai rata-rata 18, 53 %, hasil budidaya di laut mencapai 6,85 %, sedangkan pada kualitas agar kekuatan gel G. gigas hasil budidaya di tambak mencapai 18,46 %, di laut mencapai 7,54 %.
Budidaya G. gigas di laut dengan metode long-line menghasilkan rendemen agar 6,85 %, dan kekuatan gel 7,54 %, sedangkan di tambak dengan metode tebar menghasilkan rendemen agar 18,53 %, dan kekuatan gel 18,46 %. Kualitas rumput laut yang dibudidaya di laut berkorelasi negatif dengan salinitas (0,87), sedangkan pada budidaya di tambak berkorelasi negatif dengan nitrat (0,85) dan amoniak (0,95), serta berkorelasi positif dengan kecerahan (0,91) dan fosfat (0,66).
Parameter lingkungan berhubungan negatif dengan indeks percabangan rumput laut budidaya di laut adalah salinitas dengan nilai keeratan yang dimiliki sekitar 87 %. Sedangkan di tambak parameter yang berhubungan positif dengan indeks percabangan adalah kecerahan dengan nilai keeratan sebesar 91 %, dan fosfat sebesar 66 %, oksigen terlarut sebesar 62 %. Sebaliknya parameter yang berhubungan negatif dengan indeks percabangan adalah amoniak (95 %), dan nitrat (85 %).
SUMMARY
FARAH DIANA. Performance analysis of Seaweed Gracilaria gigas at Sea and Ponds Cultivated System in West Nusa Tenggara Barat. Supervised by KUKUH NIRMALA and DINAR TRI SOELISTYOWATI.
Gracilaria gigas is a low level plants which does not have tree roots, stems and leaves of true, but in the form of thallus branching, and live in the sea with a depth that can still be reached by sunlight. G. gigas is one of seaweed species the from red algae type (Rhodophyceae) producsy agarofit, G. gigas have the high fiber and good for health. Thei research aims to analyze the performance of production, yield and quality of G. gigas seaweed cultivated in the sea and in the ponds.
The cultivation of G. gigas in ponds was held in Sekotong, west Lombok by broadcast method in 1500 m2 planting area. While cultivation in the sea was held in Gerupuk Bay, Central Lombok by Long-line method the 1250 m2 planting area. Average productivity of G. gigas cultivated in the sea 12.72%, while in ponds 4.00%. the was seaweed yield cultivation in ponds reached 18, 53%, and in marine aquaculture reached 6.85%, while the quality that the gel strength of G. gigas cultured in ponds was 18.46%, and in the sea reached 7.54%. the yield and gel stregh were positively correlated with N waters and branching index.
Cultivation of G. gigas in the sea with long-line method in order to produce a yield of 6.85%, 7.54% and gel strength, whereas in the stocking ponds with methods that produce a yield of 18.53%, 18.46% and gel strength. The quality of the cultivated seaweed in the ocean negatively correlated with salinity (0.87), while the cultivation in ponds negatively correlated with nitrate (0.85) and ammonia (0.95), and positively correlated with brightness (0.91) and phosphate (0.66).
The branching index seaweed cultivated at the sea rods closely related salinity to approximately 87%. Seaweed cultivation in ponds shared negative associated between branching index and brightness (91%), and phosphate (66%), oxygen (62 %). Otherwise parameters associated negatively were branching index and ammonia (95%), o nitrate (85%).
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulis karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
ANALISIS KERAGAAN RUMPUT LAUT Gracilaria gigas PADA SISTIM BUDIDAYA LAUT DAN TAMBAK DI NUSA TENGGARA BARAT
FARAH DIANA
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Akuakultur
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Analisis Keragaan Rumput Laut Gracilaria gigas Pada Sistim Budidaya Laut dan Tambak di Nusa Tenggara Barat
Nama : Farah Diana NIM : C151110011
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Kukuh Nirmala, MSc Dr Ir Dinar Tri Soelistyowati, DEA
Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Ilmu Akuakultur
Dr Ir Widanarni, MSi Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr
PRAKATA
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2012 ini adalah Analisis Keragaan Rumput Laut Gracilaria gigas Pada Sistim Budidaya Laut dan Tambak di Nusa Tenggara Barat.
Ungkapan terima kasih disampaikan kepada:
1. Komisi pembimbing Bapak Dr Ir Kukuh Nirmala, MSc dan Ibu Dr Ir Dinar Tri Soelistyowati, DEA atas bimbingan, kebijaksanaan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis
2. Bapak Dr Ir Agus Oman Sudrajat, MSc sebagai dosen penguji luar komisi dan Bapak Dr Ir Sukenda, MSc sebagai dosen penguji dari Program Studi Ilmu Akuakultur atas saran dan masukan yang diberikan untuk tesis ini 3. Dirjen Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan yang
telah memberikan beasiswa Program Pascasarjana
4. Bapak Ir Ujang Komaruddin A.K., MSc sebagai Kepala Balai Budidaya Laut Lombok dan Bapak Rusman H. MSi sebagai Koordinator Kegiatan Rumput Laut pada Balai Budidaya Laut Lombok, serta Bapat Buntaran Msi beserta staf National Seaweed Center Gerupuk, Lombok Tengah yang telah membantu selama pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data.
5. Teman-teman AKU 2011 dan anggota Wisma AA atas bantuan dan dukungan yang diberikan.
Tesis ini diharapkan memberikan informasi baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, 21 Maret 2014
DAFTAR ISI
Hubungan parameter kualitas air dengan indeks percabangan rumput laut G. gigas budidaya di laut 25
Hubungan parameter kualitas air dengan indeks percabangan rumput laut G. gigas budidaya di tambak 27
5 SIMPULAN DAN SARAN 30
Simpulan 30
DAFTAR PUSTAKA 31
LAMPIRAN 35
RIWAYAT HIDUP 45
DAFTAR TABEL
1 Kriteria bibit Gracilaria gigas 7
2 Komposisi kimia rumput laut Gracilaria sp. kering 11 3 Metode pengukuran parameter kualitas air di laut dan di tambak 16
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka pemikiran pelaksanaan penelitian 3 2 Lokasi penelitian di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah, Provinsi Nusa
Tenggara Barat 12
3 Budidaya rumput laut dengan metode long-line, (1) tampak atas,
(2) tampak samping 14
4 Budidaya rumput laut dengan metode tebar (Broadcats) 15 5 keragaan rumput laut G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak 22 6 Kualitas rumput laut G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak
Di bandingkan dengan standar FAO 23 7 Kualitas agar G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak
Di bandingkan dengan standar FAO 24 8 Hubungan indeks percabangan rumput laut G. gigas dengan
Parameter kualitas air di laut 25 9 Hubungan indeks percabangan rumput laut G. gigas dengan
DAFTAR LAMPIRAN
1 Keragaan rumput laut G. gigas pada sistim budidaya di laut dan di tambak 35
2 Proses ekstraksi agar pada rumput laut G. gigas 36
3 Jumlah total titik percabangan thalus sekunder dan talus tersier G. gigas di laut dan di tambak 41
4 Indeks percabangan rumput laut G. gigas di laut dan di tambak 41
5 Hasil pengukuran parameter air di laut 42
6 Hasil pengukuran parameter air di tambak 42
7 Hasil korelasi parameter kualitas air dan indek percabangan Di laut 43
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor perikanan karena permintaan yang terus meningkat, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor, baik untuk konsumsi langsung maupun industri (makanan, farmasi, kosmetik dan lain-lain). Beberapa jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis dan telah berhasil dikembangkan sebagai
usaha budidaya antara lain Gelidium sp., Sargassum sp., Eucheuma sp., dan
Gracilaria sp. (Chen Jia Xin 1989). Salah satu jenis rumput laut yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan adalah Gracillaria sp. Di Indonesia, kegiatan budidaya Gracillaria sp. umum dibudidayakan di laut, dan telah berkembang di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Papua dan Maluku (Ahdha et al. 2005). Semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri, menyebabkan kebutuhan akan rumput laut sebagai bahan baku terus meningkat, sehingga sampai saat ini industri pengolahan rumput laut sering kekurangan bahan baku (McHugh 2003).
Rumput laut merupakan tumbuhan tingkat rendah, tidak memiliki akar, batang dan daun sejati, namun berupa talus yang bercabang-cabang, dan hidup di laut dengan kedalaman yang masih dapat dicapai oleh cahaya
matahari. G. gigas merupakan salah satu spesies rumput laut dari jenis alga
merah (Rhodophyceae) sebagai penghasil agar (agarofit). Selain itu salah satu keunggulan dari Gracillaria adalah mempunyai serat tinggi dan baik untuk kesehatan di bandingkan dengan jenis rumput lain. Dari beberapa hasil penelitian, rumput laut G. gigas dapat menghasilkan etanol dari fermentasi galaktosa dan sebagai bahan baku penghasil bubur kertas. Di Indonesia G. gigas merupakan salah satu jenis rumput laut yang produknya dimanfaatkan untuk bahan baku industri kesehatan contohnya untuk kosmetik dan obat-obatan (Glicksman 1982).
Rumput laut jenis G. gigas memiliki habitat asli di laut, hidup dengan
cara menempel pada substrat dasar perairan atau benda lainnya pada daerah pasang surut. Bahkan pada musim-musim tertentu rumput laut jenis ini banyak terdampar di pantai karena hempasan gelombang dalam jumlah
yang sangat besar Gracilaria tersebar luas di daerah sepanjang pantai
(Anggadiredja 1992). Gracilaria umumnya tumbuh di perairan yang
mempunyai dataran terumbu karang, melekat pada substrat karang mati atau kulit kerang, pecahan koral dan batu karang, atau pada perairan dengan dasar berpasir di bawah area pasang surut (Terada & Ohno 2000;
Hirotoshi 1978). Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi G. gigas
G. gigas memiliki habitat asli di laut, namun rumput laut ini bersifat euryhaline, dapat tumbuh pada kisaran salinitas antara 5,2-38,1 ppt. Dengan demikian rumpu laut ini memiliki peluang untuk dibudidayakan juga di tambak. Banyak manfaat yang dapat diperoleh jika rumput laut ini dibudidayakan di tambak, diantaranya dapat untuk mengisi tambak-tambak udang yang terlantar setelah gagal panen akibat serangan penyakit. Dapat juga dibudidayakan secara polikultur dengan budidaya ikan bandeng dimana rumput laut selain dapat memperbaiki kualitas air tambak, dengan berperan sebagai fitoremediator juga dapat menyediakan oksigen air tambak, juga bandeng bukanlah hewan pemakan rumput laut. Dengan demikian produktivitas tambak diharapkan dapat meningkat. Selain itu pengelolaan budidaya rumput laut di tambak relatif lebih mudah, tidak memerlukan biaya sarana produksi yang lebih tinggi (misal untuk tali dan biaya transportasi ke areal budidaya di laut) dan ketersediaan nutrien yang diharapkan lebih tinggi di tambak (Anggadiredja 1998).
Kemungkinan rumput laut ini dikembangkan di tambak juga didukung oleh sejarah budidaya rumput laut ini di negara lain. Pada
awalnya, G. gigas belum dibudidayakan, tapi hanya dikumpulkan dari alam
dengan tujuan untuk mengisi keterbatasan suplai dari jenis rumput Gelidium
sp yang dianggap sebagai penghasil utama agar. Namun karena kebutuhan
akan spesies penghasil agar ini semakin meningkat, maka di Chili dikembangkan teknik budidayanya di tambak maupun di perairan laut khususnya pada teluk tertutup. Teknik budidaya tersebut yang kemudian menyebar keberbagai negara seperti Cina, Korea, Indonesia, Namibia,
Filipina, dan Vietnam yang diaplikasikan untuk spesies asli G. gigas dari
masing-masing negara tersebut (McHugh 2003).Meski demikian hingga saat
ini hasil budidaya G. gigas di tambak belum dapat mencukupi pasar
terutama sebagai bahan baku utama penghasil agar. Untuk itu intensifikasi
budidaya G. gigas hingga saat ini terus digalakkan termasuk intensifikasi
budidaya di tambak.
Rumput laut yang dibudidayakan di laut dan di tambak diperkirakan akan menghasilkan produksi dan kualitas rumput laut yang berbeda. Hal ini dikarenakan terdapatnya perbedaan karakteristik perairan, khususnya perbedaan kualitas air yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas rumput laut. Sebagai contoh kekeruhan di tambak yang berdampak kepada intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis, kandungan nutrien, khususnya nitrogen dan fosfor, temperatur air, salinitas dan pH air. Untuk itu penelitian ini dilakukan yang bertujuan menganalisis produksi
dan kualitas agar dari rumput laut G. gigas yang dibudidayakan di laut dan
tambak, serta mengetahui faktor kualitas air yang berperan dalam keragaan rumput laut yaitu jumlah percabangan talus rumput laut tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan produksi, rendemen dan kualitas agar dari rumput laut G. gigas yang dibudidayakan di laut dan di tambak serta korelasi antara parameter kualitas air dengan jumlah percabangan thalus rumput laut tersebut.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan informasi mengenai nilai rendemen dan kualitas rumput laut G. gigas yang dibudidayakan di laut dan tambak yang memiliki karakteristik lingkungan serta metode tanam yang berbeda sebagai acuan dalam kegiatan budidaya untuk mengoptimalkan produksi dan kualitas agar.
Kerangka pemikiran
Konsep dasar dan alur penelitian dituangkan dalam kerangka pemikiran seperti pada Gambar 1.
Gracillaria gigas yang
bersifat euryhaline
Budidaya di
Laut
Budidaya di
Tambak
Perbedaan
karakteristik
perairan
Informasi produksi, kualitas rumput laut dan faktor kualitas air yang berpengaruh
Perbedaan habitat
Respon
pertumbuhan
Gambar 1 Kerangka pemikiran pelaksanaan penelitian. 2 TINJAUAN PUSTAKA
Rumput laut G. gigas
Gracillaria gigas merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) penghasil agar-agar dan memiliki struktur percabangan talus yang bersifat multiaxial (Terada & Ohno 2000). Genus Gracilaria pada umumnya memiliki struktur percabangan talus dengan satu poros (uniaxial), dan talus biasanya memiliki cabang yang sangat banyak (Bold & Wynne 1985). Agar-agar yang dihasilkan termasuk kappa-agarose, kandungan agarnya bervariasi menurut spesies dan lokasi pertumbuhannya dan juga serat yang dihasilkannya (Dawes 1981).
Menurut Dawes (1981), Bold & Wynne (1985) dan Luning (1990), secara taksonomi G. gigas dapat di klasifikasikan ke dalam:
Divisi :Rhodophyta Kelas :Rhodophyceae Subkelas :Florideophycidae Ordo :Gigartinales Family : Gracilariaceae Genus : Gracillaria
Spesies : Gracillaria gigas (Harvey)
Proses fotosintesa rumput laut menghasilkan beberapa zat penting dan mempunyai nilai ekonomis tergantung dari spesiesnya, antara lain floridin starch, mannoglycerate dan floridosida (Lehninger 1982). Lebih spesifik lagi dikenal dengan polisakarida berupa agar-agar dan keraginan. G. gigas digolongkan pada kelompok agarofit karena dapat menghasilkan agar (Dawes et al. 1999). Habitat asli dari rumput laut G. gigas adalah di perairan pantai. Secara alami, Gracilaria hidup dengan cara menempel pada substrat dasar perairan atau benda lainnya pada daerah pasang surut (Mc Hugh 2003).
perkembangbiakan rumput laut dibedakan atas seksual (generatif) antara gamet jantan dengan gamet betina, dan aseksual (vegetatif) dengan cara konjugatif dan spora. Selain itu, G. gigas juga mengandung beberapa pigmen (pikoeritrin r, klorofil a, karoten b, pikosianin r) yang terkandung dalam dinding selnya (Yunizal 2002). Selain itu G. gigas juga mempunyai kandungan vitamin B12, kolesterol dan beberapa sterol, protein sebagai antikoagulan dan ektrak lipid larut air sebagai anti-inflamatory.
Istilah agarofit digunakan bagi kelompok rumput laut penghasil agar, diantaranya yaitu Gracilaria spp. dan Gelidium spp. yang diperdagangkan untuk keperluan industri didalam negeri maupun untuk diekspor. Secara umum, rumput laut memiliki komponen utama karbohidrat (gula atau vegetable gum), protein, lemak, dan abu yang merupakan mineral. Jenis agarofit yang sudah banyak dibudidayakan adalah dari jenis Gracilaria spp., diantaranya yaitu G. eucheumoides, G. spinosum, G. arcuata, G. coronopifolia, G. foliifera, G. verrucosa (Raikar et al 2001). Selain itu pada beberapa lokasi di Indonesia juga telah dibudidayakan jenis G. gigas. Wilayah pengembangan budidaya G.gigas meliputi daerah Sulawesi Selatan, Lombok Barat dan pantai utara Jawa (Angka & Suhartono 2000).
Habitat G. gigas
Gracilla gigas adalah jenis rumput laut yang umumnya terdapat di daerah tertentu dengan persyaratan khusus, kebanyakan tumbuh di daerah yang selalu terendam air (subtidal) melekat pada substrat di dasar perairan yang berupa karang batu mati, karang batu hidup, batu gamping atau camping atau cangkang moluska. Umumnya rumput laut tumbuh dengan baik di daerah pantai yang terdapat terumbunya, karena di tempat inilah beberapa persyaratan untuk pertumbuhannya banyak terpenuhi, di antaranya faktor kedalaman perairan, cahaya, substrat dan gerakan air lainnya. Di bandingkan dengan jenis alga lainnya, alga merah (G. gigas) dapat hidup pada kedalaman yang lebih luas di bandingkan dengan alga lainnya dan biasanya mendominasi jenis flora pada kolom air yang dalam. Dominasi alga merah di air dalam disebabkan oleh adanya pigmen fikoeritrin yang berperan sebagai pigmen aksesoris dan mampu menyerap cahaya biru-hijau yang banyak tersedia pada kolom air yang lebih dalam (Dawes 1981).
Suhu perairan erat kaitannya dengan laju fotosintesis rumput laut disamping cahaya dan kandungan nutrien diperairan (Chapman dan Chapman 1980).
Suhu perairan mempunyai peran penting dalam kehidupan jenis alga merah Gracilaria sp ini, karena habitat asalnya beriklim subtropis atau dingin. G. gigas hidup dengan baik pada kisaran suhu 18-26 oC sedangkan suhu perairan di Indonesia sebagai iklim tropis antara 20-31 oC (Deptan 1991).
Arus perairan mempunyai peran penting dalam suplai nutrien. Selain itu, arus bersama dengan angin pasang surut mengaduk perairan sehingga sebaran suhu dalam kolom perairan merata (mixing). Arus juga membantu dalam membilas atau mencuci rumput laut dari kotoran atau tumbuhan penempel lainnya seperti lumut atau sponge. Di samping itu arus juga dapat berpengaruh dalam kegiatan budidaya jika arus terlalu besar akan merusak rumput laut tersebut (Dawes 1981).
Budidaya Rumput Laut G. gigas
Rumput laut G. gigas merupakan tumbuhan kosmopolitan dan mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan kondisi lingkungannya serta dapat tumbuh pada perairan yang tenang (Hoyle 1975). Hasil penelitian budidaya rumput laut Gracilaria yang dilakukan di taiwan sejak 1962 ini telah memberikan hasil produksi yang nyata dari pengembangan budidaya di tambak terhadap lima jenis Gracilaria, yaitu G. gigas, G. chorda, G. confervoides, G. liche noides dan G. compressa (Chen Jia Xin 1989). Budidaya Gracilaria di Indonesia berlansung secara polikultur bersama ikan bandeng atau udang, karena tambak di Indonesia masih merupakan usaha utama untuk budidaya ikan bandeng dan udang (Terada dan Ohno 2000).
Teknologi budidaya rumput laut yang berkembang di masyarakat saat ini umumnya masih bersifat tradisional. Bibit yang digunakan masih berasal dari indukan yang sama dan tidak dilakukan seleksi bibit, pola tanam dan siklus produksi kurang menjadi perhatian, sehingga kualitas rumput laut yang dihasilkan semakin menurun. Metode budidaya yang umumnya
diaplikasikan oleh pembudidaya antara lain metode long-line, lepas dasar,
rakit serta brodcast pada budidaya di tambak. Saat ini permasalahan yang
umumnya dihadapi dalam budidaya rumput laut jenis G. gigas antara lain
sulitnya memperoleh bibit yang berkualitas, kondisi cuaca yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi, kurangnya nutrien diperairan, serta serangan hama, penyakit ice-ice dan ikan-ikan pemakan rumput laut (Chen Jia Xin 1989).
Tabel 1 Kriteria bibit Gracilaria gigas
No Kriteria Uraian
1 Spesifikasi talus silidris, licin, berwarna merah-coklat atau kuning hijau. Percabangan tidak beraturan, memusat pada bagian pangkal. Cabang lateral memanjang menyerupai rambut dengan panjang sekitar 15-30 cm.
2 Komposisi air 11,6 %; protein kasar 25-35 %; lemak 1,05 %; karbohidrat 43,10 %; serat 7,50 %; abu 11,40 % 3 Kekuatan gel 220 g/cm2
Sumber : Zatnika(1997)
Pada budidaya di tambak, sebelum bibit ditebar harus diadaptasikan terlebih dahulu dengan cara merendam dalam air tambak selama 1-2 jam. Setelah itu dilakukan pemilihan bibit yang masih baik. Tanaman yang dipilih untuk bibit adalah gracilaria yang pada usia panennya memiliki "kandungan agar-agar" yang cukup tinggi dan memiliki "kekuatan gel" yang tinggi pula. Pemeriksaan di laboratorium oleh pakar sebelum tanaman dijadikan bibit dapat membantu memilih bibit yang baik dan dapat mencegah menyebarnya bibit yang berkualitas rendah. Bagian tanaman yang dipilih untuk bibit adalah talus yang relatif masih muda dan sehat, yang diperoleh dengan cara memetik dari rumpun tanaman yang sehat pula dengan panjang sekitar 5 sampai 10 cm. Dalam memilih bibit perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1) thallus yang dipilih masih cukup elastis; 2) thallus memiliki banyak cabang dan pangkalnya lebih besar dari cabangnya; 3) ujung thallus berbentuk lurus dan segar; 4) bila thallus digigit/dipotong akan terasa getas (britel); 5) bebas dari tanaman lain (epipit) dan kotoran lainnya. Bibit yang kondisinya masih baik segera ditanam atau ditebar. Penanaman bibit Gracilaria di tambak dilakukan dengan menggunakan metode broadcast, yaitu bibit ditebar pada seluruh bagian tambak. Keuntungan dari metode penanaman broadcast adalah biaya lebih murah, penanaman dan pengelolaannya lebih mudah. Pada penanaman pertama, bibit rumput laut harus memiliki kualitas yang sangat baik dan untuk selanjutnya bibit rumput laut dapat diambil dari hasil panen. Pada kondisi salinitas 15-25 ppt, rumput laut akan tumbuh dengan optimal dan menghasilkan spora. kemudian spora ini akan tumbuh menjadi rumput laut. Pada umumnya penebaran awal bibit rumput laut berkisar antara 1-1,5 ton untuk luasan areal tanam 1 ha. (Mubarak et al. 1990).
perawatan secara berkala perlu dilakukan pada rumput laut itu sendiri dan pada petakan tambak. Perawatan pada rumput laut meliputi penyiangan/ membuang rumput atau algae lainnya yang bersifat kompetitor, sehingga tidak menggangu pertumbuhan rumput laut Gracilaria yang dibudidayakan (Mubarak et al. 1990).
Dawes (1981) menyatakan bahwa algae menunjukkan perbedaan respon fotosintetik terhadap intensitas cahaya berdasarkan populasi, musim dan morfologinya. Algae dapat beradaptasi dengan intensitas cahaya yang berbeda; jenis algae yang dapat beradaptasi dengan intensitas cahaya yang rendah disebut sebagai shade algae, sementara algae yang membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi disebut sun algae.Berbagai aktivitas metabolime pada algae yang dipengaruhi oleh intensitas cahaya, termasuk laju fotosintesis dan produksi pigmen. Kualitas cahaya dan lama penyinaran (photoperiod) menunjukkan adanya pengaruh terhadap reproduksi algae. Selain itu juga terjadi respon struktural pada algae terhadap cahaya yang meliputi perubahan ukuran, perbedaan morfologi dan perubahan sitoplasmik. Pertumbuhan memanjang pada algae terjadi pada kondisi lingkungan dengan intensitas cahaya rendah (Dawes 1981).
Perubahan kondisi lingkungan akibat terjadinya mekanisme pasang surut juga mempengaruhi proses fisiologis pada rumput laut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa spesies algae intertidal secara fotosintetik lebih aktif pada kondisi surut, karena terekspos olehintesitas cahaya yang lebih tinggi (Dawes 1981). Akan tetapi jenis algae tertentu mengalami penurunan laju fotosintesis pada saat kekeringan, dan akan normal lagi ketika sudah terendam air kembali (reimmersion). Namun, jika fotosintesis tidak mencapai laju optimum setelah reimmersion, maka kondisi tersebut tidak akan pulih kembali dan tanaman akan segera mati (Lüning 1990). Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut adalah terdapatnya tumbuhan penempel, yang bersifat kompetitor dalam menyerap nutrisi untuk pertumbuhan. Terkadang algae filamen dapat menjadi pengganggu karena menutupi permukaan rumput laut yang menghalangi proses penyerapan hara dan cahaya sehingga menghambat proses fotosintesis. Beberapa jenis tumbuhan penempel tersebut antara lain Hypnea, Dictyota, Acanthopora, Laurencia, Padina, Amphiroa dan algae filamen seperti Chaetomorpha, Lyngbya, dan Symploca (Dawes 1981).
Sedangkan di laut G. gigas harus terlindungi dari arus dan hempasan ombak yang besar. Apabila hal ini terjadi, arus dan ombak akan merusak dan menghayutkan tanaman. Pergerakan air yang baik G. gigas berkisar 0,2-0,4 m/detik. Dengan kondisi ini, akan mempermudah pergantian dan penyerapan hara yang diperlukan oleh tanaman, tetapi tidak sampai merusak tanaman (Chapman dan Chapman 1980).
Derajat keasaman atau pH merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan Gracilaria sp. Kisaran pH yang optimal untuk menunjang kelangsungan hidup Gracilaria sp adalah 7-8,5 (Dawes 1981).
Kecerahan dan kekeruhan perairan sangat menentukan intensitas sinar matahari yang masuk ke kolom air. Nilai kecerahan dari suatu perairan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi (Raikar et al. 2001). Nilai kecerahan yang ideal untuk budidaya rumput laut adalah > 1 meter (BSN 1998). Adapun nilai kekeruhan adalah harus < 40 NTU, sebab setiap peningkatan nilai kekeruhan sebesar 25 NTU akan mengurangi produktivitas primer sebesar 13-50 % (Dawes 1981).
Cahaya merupakan syarat utama dalam kelangsungan hidup G. gigas. Cahaya memiliki pengaruh yang besar terhadap komposisi kimia rumput laut dan aktivitas fotosintesisnya. Pada perairan terbuka, penetrasi cahaya dipengaruhi oleh kedalaman (Raikar et al. 2001). Dengan bertambahnya kedalaman akan menurunkan kualitas dan intensitas cahaya yang masuk. Respon struktural pada alga karena pengaruh cahaya diantaranya adalah perubahan ukuran, perbedaan morfologi dan perubahan sitoplasma (Dawes 1981). Diantara semua jenis alga mekanisme adaptasi alga merah Gracilaria terhadap cahaya lebih baik dibanding yang lainnya. Kemampuan ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan pigmen fotosintesis yang dimiliki. Semua organisme fotosintesis mengandung pigmen organik yang digunakan untuk menghasilkan energi. Menurut Dawes (1981) pigmen dikelompokkan ke dalam tiga kelas utama, yaitu klorofil, karatenoid dan fikobilin (Dawes 1981).
Kedalaman air untuk usaha budidaya rumput laut berkisar 2-15 meter pada saat surut terendah (BSN 1998). Kondisi ini untuk menghindari rumput laut kekeringan pada saat surut dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari (BSN 1998). Dasar perairan yang baik untuk pertumbuhan G. gigas adalah stabil dan terdiri dari patahan karang mati (pecahan karang) dan pasir kasar serta bebas dari lumpur (BSN 1998) agar matahari mudah masuk ke dalam air untuk menunjang perkembangan yang cepat (Dawes1981).
Rumput laut memerlukan unsur hara sebagai bahan baku dalam proses fotosintesisnya. Unsur utama yang dibutuhkan oleh rumput laut adalah nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-N) dan fosfor dalam bentuk fosfat (PO4-P) untuk
Keragaan Rumput Laut G. gigas
Budidaya rumput laut sangat potensial untuk dikembangkan, karena terdapat beberapa kelebihan dibandingkan dengan budidaya komoditas perikanan lainnya. Teknologi yang digunakan dalam budidaya rumput tergolong sederhana, tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi (seperti biaya pakan pada budidaya ikan), waktu pemeliharaan yang relatif singkat serta kegiatan budidayanya bersifat ramah lingkungan. Budidaya rumput laut komersial di Indonesia berawal pada tahun 1979 yang dilakukan dalam skala kecil (Anggadiredja 1989). Jenis-jenis rumput laut yang terdapat di perairan Indonesia sangat beragam. Namun jenis yang sudah dibudidayakan masih sangat terbatas, diantaranya adalah K. alvarezii, Gracilaria eucheumoides, G. Spinosum, G. Coronopifolia, G. Poliifera dan Hypnea boergeseneii (Soekendarsi et al. 2004). Metode budidaya yang umumnya diaplikasikan oleh pembudidaya antara lain metode long-line, lepas dasar, rakit apung serta budidaya di tambak. Saat ini, permasalahan yang umumnya dihadapi dalam budidaya rumput laut jenis G. gigas antara lain sulitnya memperoleh bibit yang berkualitas, kondisi cuaca yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi, kurangnya kandungan nutrien di perairan, serta serangan hama, penyakit ice-ice dan ikan-ikan pemakan rumput laut (Neish 2003).
Merebaknya penyakit udang pada awal tahun 1980 di Sulawesi Selatan menyebabkan banyaknya lahan tambak yang tidak operasional. Hal ini merupakan awal dimulainya budidaya Gracilaria di lahan tambak yang dilakukan pada skala komersil di Indonesia (Hussain 1989).Hingga saat ini usaha budidaya Gracilaria lebih banyak dilakukan di lahan tambak; selain memudahkan pengontrolan juga untuk dibudidayakan secara terpadu dengan udang (polikultur). Penerapan aktivitas budidaya Gracilaria di tambak udang juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan untuk memanfaatkan relung (niche) yang tersedia di tambak (Widyorini 2010).
Produksi rumput laut Indonesia hingga saat ini masih terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1999 volume produksi rumput laut sebesar 133.720 ton, dan terus meningkat hingga mencapai 1.485.654 ton pada tahun 2007 (MMAF-JICA 2009). Pengembangan program industrialisasi komoditas rumput laut saat ini didukung oleh ketersediaan potensi wilayah yang cukup besar yang tersebar pada 15 provinsi di seluruh Indonesia, dengan luas total area mencapai 1.381.332 hektar JICA 2010). Menurut Lucas & Southgate (2003) dalam (MMAF-JICA 2010), total produksi rumput laut dunia mencapai 9,5 juta ton pada tahun 1999, yang merupakan 22% dari total produksi akuakultur dunia.
Komponen utama agar rumput laut adalah polisakarida yang dapat mencapai 40-70 % berat kering, bergantung pada jenisnya dan keadaan lingkungan tumbuhnya (Angka dan Suhartono 2000). Dari jenis Gracilaria sp., kandungan agarnya bervariasi menurut spesies dan lokasi pertumbuhannya yang umumnya berkisar antara 16-45 %. Kandungan agar-agar Gracilaria di Indonesia umumnya mencapai 47,34 %. (Yunizal 2002). Komposisi kimia rumput laut Gracilaria sp. kering ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2 Komposisi kimia rumput laut Gracilaria sp. kering
Parameter Kandungan
(dalam 100 g kering
Kalori (Kkal) 312,0
Protein (g) 1,3
Lemak (g) 1,2
Total Karbohidrat (g) 83,5
Serat (g) 2,7
Abu (g) 4,0
Kalsium (g) 756,0
Fosfor (mg) 18,0
Besi (mg) 7,8
Sodium (mg) 115,0
Potassium (mg) 107,0
Thiamin (mg) 0,01
Riboflavin (mg) 0,22
Niacin (mg) 0,2
Sumber: Angka dan Suhartono (2000)
Jenis rumput laut penghasil agar yang dikembangkan secara luas adalah Gracilaria (Kadi & Atmadja 1988). Agar dengan kualitas yang tinggi dihasilkan dari rumput laut G. gigas karena tingginya kekuatan gel dan rendahnya kandungan sulfat (Balitbang 1990). agar mengandung agarose yang merupakan polisakarida netral (tidak bermuatan) dan agaropektin yang merupakan polisakarida bermuatan sulfat (Dawes 1981). Agar sebenarnya adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi yang mengisi dinding sel rumput laut. Agar tergolong kelompok pektin dan merupakan suatu polimer yang tersusun dari monomer galaktosa (Armisen & Galatas 2000).
Kekuatan gel
3 METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2012 di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok, Teluk Gerupuk Kabupaten Lombok Tengah dan Sekotong Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat (Gambar 2). Untuk analisis kualitas air dilakukan di Laboratorium Pengujian Balai Budidaya Laut Lombok, Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Ekstraksi dan analisis kualitas agar dilakukan di Laboratorium Pengujian, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta.
Materi uji
Materi uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut jenis G. gigas. Bibit G. gigas diperoleh dari pembudidaya tambak di Desa Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Total biomassa bibit yang digunakan adalah 300 kg yang ditanam di laut dengan metode long-line dengan luas 1250 m2 (50 m x 25 m), dan 500 kg yang ditanam pada satu petak tambak dengan luas 1500 m2 dengan metode budidaya lepas dasar (broadcast).
Prosedur Penelitian
Budidaya Rumput laut Gracillaria gigas
Budidaya rumput laut G. gigas dilakukan pada dua lokasi yang berbeda , menggunakan metode SNI yaitu di laut dengan metode long-line (Gambar 3) dan di tambak dengan metode broadcast (Gambar 4).
Sumber : SNI 7579.2:2010
Gambar 3 Budidaya rumput laut dengan metode longline di laut; (a) tampak atas, (b) tampak samping.
Ket.
1.Jangkar
2.Tali jangkar
3.Pelampung utama
4.Pelampung ris bentang
5.Tali ris bentang
(b)
Ket.
1.Tali jangkar
2.Tali utama
3.Tali pembantu
4.Tali ris bentang
5.Tali jangkar utama
6.Jangkar pembantu
Budidaya G. gigas di tambak dilakukan dengan sistim polikultur bersama dengan bandeng dan metode tebar (broadcast) yaitu dengan cara menebarkan rumput bibit secara merata ke dasar tambak. Bibit rumput laut disebarkan pada area tambak dengan luas 1500 m2. Jumlah bibit yang digunakan adalah 500 kg/petak. Penebaran G. gigas dilakukan setelah pengairan tambak setinggi 30 cm dari dasar tambak (Mubarak et al. 1990). Mengigat rumput laut adalah penyaring atau filter air tambak, penebaran dilakukan secara merata (Gambar 4) sehingga tanaman akan menyaring partikel organik dan nutrien ditempatnya masing. Pengolahan tanah dimulai dengan pencangkulan dan pembalikan tanah dasar tambak sedalam 15-20 cm, perataan kembali, serta pengeringan. Pengeringan dilakukan selama 47 hari sampai retak-retak dan tidak melesak lebih dari 1 cm bila diinjak (Mubarak et al. 1990).
Pemeliharaan rumput laut G. gigas yang ditanam di tambak relatif lebih mudah dari pada yang ditanam di laut. Hal ini dikarenakan kondisi air tambak mudah dikontrol dibandingkan air laut yang dipengaruhi oleh arus dan gelombang sehingga menyulitkan dalam pemeliharaan bahkan dapat merusak tanaman. Metode budidaya yang diterapkan pada lokasi ini umumnya adalah tebar dengan tidak ada perlakuan khusus, hanya menebarkan keseluruh tambak (Mubarak et al. 1990).
Sumber : SNI 7579.2:2010
Gambar 4 Budidaya rumput laut dengan metode tebar ( broadcats ) di tambak
Pengukuran parameter kualitas air
Tabel 3 Metode pengukuran parameter kualitas air di laut dan di tambak
Parameter Satuan Alat/metode analisa
Suhu oC YSI Pro
Salinitas ppt YSI Pro
DO mg/L YSI Pro
pH mg/L YSI Pro
NO3-N mg/L Spektrofotometri
NO2-N mg/L Spektrofotometri
NH3-N mg/L Spektrofotometrii
Total P mg/L Spektrofotometrii
Kecerahan m Sechi disc
Pengamatan Keragaan Rumput Laut G. gigas
Pengamatan ini dilakukan setiap 10 hari masa tanam, yang di amati adalah pertumbuhan, pertambahan bobot, tingkat mortalitas dan indeks percabangan. Setelah masa pemeliharaan 30 hari, rumput laut siap dipanen, parameter yang diamati adalah produktivitas dan fenotip rumput laut hasil budidaya di laut dan di tambak (Pickering et al. 1995). Setelah itu sampel rumput laut dikeringkan untuk analisis rendemen agar dan kekuatan gel (Lampiran 1).
Produktivitas budidaya rumput laut yang dilakukan dapat dihitung berdasarkan pertambahan bobot biomassa yang dihasilkan dari luasan area budidaya dan lamanya waktu pemeliharaan dan dapat di hitung :
Y = [(Wt– W0) / T] / SA,
Keterangan :
Y = produktivitas (g/m2/hari) W1 = bobot akhir (g)
W0 = bobot awal (g)
T = periode/waktu percobaan (hari). SA = luas area (m2)
Kualitas rumput Laut
Pemanenan dilakukan pada umur 30 hari setelah tanam. Beberapa parameter kualitas agar yang diuji antara lain :
Rendemen agar
Rendemen hasil ekstraksi yang dihitung berdasarkan rasio perbandingan antara berat kering agar yang dihasilkan dengan berat rumput laut kering dalam bentuk tepung setelah proses pengolahan. Rendeman agar dihitung dengan menggunakan rumus adalah sebagai berikut:
Rendemen = Wa
Wr
x 100%
Keterangan :
Wa = berat agar kering
Wr = berat rumput laut kering
Kadar air
Analisis kadar air tujuannya adalah untuk melihat jumlah molekul air tidak terikat (free water) dan terikat yang terkandung dalam suatu produk. Analisis kadar air pada prinsipnya adalah molekul air dihilangkan melalui pemanasan dengan oven vakum pada suhu 95-100 oC dengan tekanan udara tidak lebih dari 100 mmHg selama 5 jam. Penentuan berat air dihitung secara gravimetri berdasarkan selisih berat sampel sebelum dan sesudah sampel dikeringkan. Kadar air dinyatakan dalam persentase.
Metode analisa kadar air dilakukan berdasarkan SNI 01-2354.2-2006. Kadar air dihitung dengan menggunakan rumus :
B – CB
Kadar air %= x 100 % B – A
Keterangan :
A = berat cawan kosong dinyatakan dalam (g)
B = berat cawan + sampel awal, dinyatakan dalam (g) C = berat cawan + sampel kering, dinyatakan dalam (g)
Kadar abu
mendapatkan abu berwarna putih. Penetapan berat abu dihitung secara gravimetri. Kadar abu agar dihitung dengan rumus :
B – A
Kadar abu (%) = x100% Berat sampel (g)
Keterangan :
A = berat cawan porselin kosong, dinyatakan dalam (g) B = berat cawan dengan abu, dinyatakan dalam (g)
Serat kasar
Pengukuran serat kasar pada rumput laut bertujuan untuk melihat tingkat gel yang terbentuk, tinggi rendahnya serat kasar sangat berpengaruh pada gel yaitu serat yang tinggi akan menghasilkan gel yang tinggi juga.
Analisa kandungan serat kasar dilakukan dengan metode gravimetri. Serat kasar dapat dihitung dengan rumus :
Serat kasar % = Berat kertas residu-berat kertas x 100% Berat sampel
Kualitas agar
Parameter uji kualitas agar hasil ekstraksi rumput laut meliputi viskositas, kekuatan gel, CAW, derajat putih, titik jendal dan titik leleh dan kadar sulfat. Viskositas
Viskositas adalah ukuran gaya yang diperlukan untuk menggeser suatu cairan pada satuan kecepatan yang dinyatakan dalam mPa.S dan diukur pada suhu tertentu atau tahanan dari suatu cairan untuk mengalir dengan satuan poise (1 poise = 100 centipoise/cP). Viskositas sampel diukur dengan menggunakan alat viskometer. Viskositas merupakan perbandingan antara tekanan geser suatu cairan. Suspensi koloid dalam larutan dapat meningkat dengan cara mengentalkan cairan sehingga terjadi absorsi dan pengembangan koloid (Glicksman 1983). Viskositas dipengaruhi oleh jenis rumput laut penghasil agar dalam kondisi selama proses panen.
Kekuatan gel
Kekuatan gel adalah gaya yang dibutuhkan untuk memecah permukaan gel dalam waktu tertentu dibagi jarak yang ditempuh dari agar. Pengukuran kekuatan gel pada agar dilakukan dengan metode KCl-Gel Strength menggunakaan alat texture analyzer. Prinsipnya besar gaya yang dibutuhkan sampai permukaan gel pecah.
Clean Anhydrous Weed (CAW)
menghasilkan agar. Pengukuran CAW dilakukan berdasarkan metode Marine Colloid Modification. CAW dapat diukur dengan rumus :
Rumput laut kering bersih = ���� � � � ��� �
���� ��� � � � � 100 %
Derajat putih
Derajat putih adalah tingkat keputihan atau bahan dalam hal ini sampel agar. Analisis warna dilakukan dengan menggunakan alat Whitenessmeter. Prinsipnya sinar dari sumber sinar direfleksikan dari permukaan sampel dan bertemu di fokus photodioda melalui lenga dan filter ke sumber arus listrik. Sampel yang lebih putih, cahaya yang terefleksi akan lebih banyak sehingga arus listrik yang dibutuhkan menjadi semakin besar dan mengakibatkan nilai yang tertera dimonitor menjadi tinggi.
Titik jendal dan leleh
Titik jendal merupakan suhu pada saat agar mulai membentuk gel. Titik leleh adalah suhu pada saat agar mencair sebelum terbentuk gel. Pengukuran titik jendal dan titik leleh dilakukan dengan metode Marine Colloid Modification. Suhu pada saat terbentuk gel disebut suhu pembentukan gel dan suhu ini ditentukan tepat pada saat dapat mengangkat gel dalam tabung. Sedangkan pada titik leleh, di atas gel agar diletakkan gotri dan ketika gel agar jatuh ke dasar gel dicatat sebagai suhu leleh gel.
Kadar sulfat
Kadar sulfat dalam agar diukur untuk melihat kualiatas agar yang dihasilkan setelah diekstraksi. Prinsip pengukuran kadar sulfat adalah ion sulfat yang bereaksi dengan barium klorida dalam suasana asam akan membentuk suspensi barium sulfat, dengan reaksi : SO42- + Ba Cl2 BaSO4 + 2CI. Berat
BaSO4 yang diperoleh ekivalen dengan kadar SO4 dalam sampel agar yang
dianalisa. Pengukuran kadar sulfat dilakukan dengan metode gravimetri. Kadar sulfat dapat dihitung dengan rumus :
Kadar sulfat (%)
=
Berat BaSO 4 x 0.4116 x 100 % Berat sampelFenotip rumput laut
Fenotip rumput laut yang diamati meliputi parameter morfologi rumput laut yaitu jumlah talus sekunder, jumlah talus tersier dan indeks percabangan (branching index). Indeks percabangan dikalkulasikan berdasarkan formula (Pickering et al. 1995) :
BI = AGP ws keterangan :
BI = indeks percabangan
AGP = jumlah titik percabangan (apical growing point)
Kualitas air
Pengukuran parameter kualitas air di laut dan di tambak yaitu salinitas, suhu, oksigen terlarut, keasaman, nitrat, nitrit, amoniak, total fosfat dan kecerahan.
Analisis data
Data kualitas rumput laut dan kualitas agar di analisis secara deskriptif yang ditampilkan dalam bentuk grafik. Untuk mengetahui parameter kualitas air yang paling berpengaruh terhadap indeks percabangan yang dihasilkan, maka dilakukan uji korelasi menggunakan analisis XLSTAT.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Lokasi dan Sistim Budidaya
Perairan Teluk Gerupuk terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis Teluk Gerupuk terletak pada 116º19’40”-116º21’00” Lintang Selatan dan
9º53’45” Bujur Timur. Perairan ini terletak di Pantai Selatan pulau Lombok yang
menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Lokasi ini merupakan salah satu obyek wisatawan manca negara, karena kondisi perairannya yang masih alami dan belum terlalu banyak mengalami ekspoitasi oleh manusia. Menurut Kiswara & Winardi (1999) perairan ini memiliki komposisi substrat dasar yang terdiri dari pasir (85,75%), kerikil (41,6%) dan lumpur (6,16%). Perairan Teluk Gerupuk relatif tidak banyak mendapat masukan air tawar. Pada saat penelitian dilakukan, pada lokasi tersebut relatif tidak ada hujan yang menyebabkan sungai-sungai yang bermuara ke perairan tersebut mengalami kekeringan, sehingga masukan air tawar tidak ada sama sekali, hal ini menyebabkan kualitas perairan relatif stabil.
Kondisi kualitas air di laut dan di tambak pada musim kemarau (bulan Juli sampai Agustus) sangat mendukung kehidupan rumput laut G. gigas, terutama parameter suhu perairan (Dawes et al. 1999). Suhu di laut selama pengamatan berada pada kisaran normal kehidupan rumput laut G. gigas yaitu 25,48 oC (Lampiran 5), dimana kisaran suhu optimum antara 25-26 oC. Suhu perairan ini, tidak berbeda jauh dengan suhu di perairan Korea (musim panas), dimana rumput laut ini berasal yaitu 18-26 oC (Raikar et al. 2001). Walaupun demikian, proses adaptasi terhadap suhu sangat lambat. Hal ini ditandai dengan banyaknya talus yang memutih (bleaching) akibat perubahan suhu.
keberadaan budidaya rumput laut pada lokasi tersebut. Menurut Dawes (1981), gelombang dihasilkan dari efek yang ditimbulkan oleh angin terhadap perairan dan gelombang merupakan faktor kritis yang menentukan kondisi populasi rumput laut di alam. Adanya pergerakan air sangat penting bagi rumput laut terkait laju pertumbuhannya (Luning 1990).
Budidaya rumput laut di tambak dilakukan pada tambak bekas budidaya udang secara intensif yang kini banyak terlantar setelah gagal dalam budidaya udang windu. Menurut Chen Jia Xin (1989), suhu optimal untuk pertumbuhan G. gigas antara 15-30 oC, salinitas antara 5,2-40,1 ppt atau salinitas optimal untuk tumbuh adalah 11,3-30,1 ppt. Hasil pengukuran kecerahan perairan tambak dilokasi kegiatan budidaya adalah 40 cm (Lampiran 7). Kecerahan perairan tambak berpengaruh pada fotosintesis (Dawes et al. 1999). Gracilaria membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi untuk dapat berfotosintesis secara optimal. Kisaran nilai kecerahan perairan itu antara 0,5-15 m memberikan pertambahan panjang antara 5-5,5 cm selama masa budidaya pada suhu air 17 oC di China (Chen Jia Xin 1989).
Keragaan rumput laut
Parameter keragaan rumput laut terdiri atas produktivitas , jumlah total talus (JT), jumlah talus sekunder (JTS), jumlah talus tersier (JTT) dan indeks percabangan (IP) dari rumput laut yang dibudidayakan pada dua habitat yang berbeda, yaitu di laut dan di tambak (Lampiran 3).
Gambar 5 Keragaan rumput laut G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak Jumlah talus total yang di peroleh pada G. gigas yang dibudidaya di tambak adalah 86,56, dan di laut adalah 80,40 (Lampiran 4). Tingginya jumlah talus yang dibudidayakan di tambak diduga berhubungan dengan tingkat kesuburan dan unsur hara yang terdapat di tambak tinggi. Demikian juga dengan indeks percabangan pada rumput laut yang dibudidaya di tambak adalah 18,38 (Lampiran 5). Menurut Pickering et al. (1995), indeks percabangan erat kaitannya dengan ketersediaan nutrien dan unsur hara dalam pembentukan sel baru, dimana kandungan N di tambak tinggi dan di tambak rendah (Lampiran 7 & 8).
Habitat asli dari rumput laut G. gigas di alam adalah di laut. Pada penelitian ini budidaya G. gigas ditanam pada dua habitat yang berbeda, yaitu ditambak dan di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya rumput laut dengan metode long-line di laut menghasilkan pertambahan bobot basah hampir 6 kg/titik setelah dipanen, sedangkan metode tebar di tambak 4 kg/titik setelah dipanen. Pada budidaya rumput laut di tambak kandungan nutrien tinggi, karena di tambak banyak terdapat unsur hara salah satunya buagan feses dari ikan. Nutrien yang diserap oleh rumput laut mendukung proses pertumbuhan ke arah reproduktif, yaitu terbentuknya spora yang baru pada percabangan sekunder atau terbentuk sel-sel baru menjadi talus. Sehingga percabangan rumput laut lebih banyak. Menurut Dawes (1981), unsur hara dibutuhkan sebagai salah satu bahan dasar untuk menyusun energi guna memnuhi kebutuhan metabolisme. Tingginya nutrien di tambak disebabkan oleh adanya buangan feses ikan yang diserap oleh rumput laut untuk membentuk sel baru melalui percabangan yang berkorelasi dengan kualitas agar, karena nutrien yang diserap oleh rumput laut akan membentuk selulosa, polisakarida dan galaktosa pada rumput laut (Dawes 1981). Kualitas rumput laut
yang dibudidaya di tambak mencapai 18,53 %, sedangkan hasil budidaya di laut mencapai 6,85 % (Gambar 6). Menurut FAO (1987) tinggi rendahnya rendemen agar dipengaruhi oleh spesies rumput laut, iklim, dan usia panen. Berdasarkan BSN (1998) rumput laut G. gigas dikatakan bermutu jika kandungan agarnya lebih dari 25 %. Agar merupakan polisakarida yang terakumulasi dalam dinding sel rumput laut penghasil agar yang dipengaruhi oleh musim (Armisen & Galatas 2000). Kualitas rumput laut menurun, bila kadar abu terlalu tinggi. Kadar abu yang dikatakan baik tidak melebihi dari 40 % yang telah distandarkan oleh FAO, dan kadar air tidak mempengaruhi kualitas rumput laut. Kadar abu pada G. gigas di laut mencapai 52,25 %, sedangkan di tambak mencapai 31,06 %.
Gambar 6 Kualitas rumput laut G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak di bandingkan dengan standar FAO (1996)
Tingginya kadar abu pada budidaya G. gigas di laut diduga karena mineral rumput laut yang tinggi dan masih adanya sisa-sisa karang atau pasir yang masih terbawa, walaupun pencucian dan sortasi sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya. Budidaya rumput laut pada habitat yang berbeda akan menghasilkan kualitas yang berbeda, hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan. Kondisi lingkungan yang kurang mendukung akan mengakibatkan kualitas rumput laut dan kualitas agar akan menurun (Dawes 1981).
Berdasarkan hasil penelitian kualitas rumput laut sangat ditentukan oleh proses pembuatan kualitas agar dan fotosintesis dan intensitas cahaya disuatu perairan. Rumput laut yang diperoleh dari tambak dengan salinitas lebih rendah memiliki kadar air tinggi, Sedangkan rumput laut hasil budidaya di laut memiliki kadar air rendah, rendemen rendah dengan budidaya di tambak. Kadar air yang dibudidaya di tambak adalah 18,92 %, dan pada budidaya di laut adalah 12,15 %, kualitas rumput laut akan menurun bila kadar air terlalu tinggi. Tingginya kadar air tidak akan mempengaruhi kualitas rumput laut (Dawes 1981).
Kualitas agar
gigas hasil budidaya di tambak mencapai 5,18 % sedangkan di laut (4,95). Standar yang ditetapkan oleh FAO yaitu kadar sulfat dikatakan tinggi bila melebihi 6 %. Menurut (Murti 2007) kadar sulfat yang tinggi diduga akibat masih banyaknya senyawa sulfat dari garam-garam sulfat yang ada pada filtrat agar-agar yang belum terserap, karena sulfat merupakan zat pengotor dalam agar. Kekuatan gel pada G. gigas hasil budidaya di tambak mencapai (18,45 gr/m2), sedangkan di laut mencapai 7,54 gr/m2 (Gambar 7).
Kekuatan gel berhubungan erat dengan sulfat, titik leleh dan titik jendal. Semakin tinggi titik jendal maka gel yang terbentuk semakin tinggi, dan semakin tingginya titik leleh maka gel yang terbentuk makin rendah (Durairatnam et al. 1990).
Gambar 7 Kualitas agar G. gigas yang di budidaya di laut dan di tambak di bandingkan dengan standar FAO (1996)
Dari hasil analisis kualitas agar tiitik pembentukan gel pada G. gigas yang dibudidaya di laut mencapai 28 oC, sedangkan di tambak adalah 27 oC. Titik jendal dan titik leleh berkaitan erat dengan kadar sulfat dan bobot dari agar yang dihasilkan (Hussain 1989). Semakin besar bobot agar akan menghasilkan titik leleh yang tinggi dan semakin murni agar yang dihasilkan maka titik leleh gel semakin rendah (FAO 1996). Viskositas berhubungan dengan konsentrasi agar, jika viskositas naik maka konsentrasi agar ditingkatkan sampai tercapai kekentalan yang diinginkan. Menurut (Kadi dan Atmadja 1988) viskositas tergantung pada konsentrasi larutan, suhu dan molekul terlarut lainnya. Pada saat konsentrasi larutan meningkat, viskositas juga meningkat secara logaritmik. Hubungan parameter kualitas air dengan indeks percabangan rumput laut G. gigas budidaya di laut
Variabel-variabel yang memiliki korelasi positif dengan indeks percabangan rumput laut yaitu, kecerahan, NO3, NH3-N, dan DO (Gambar 8 &
Lampiran 8). Berdasarkan nilai koefisien korelasinya lebih kecil dari 0,5.
Variabel-variabel yang berkorelasi negatif dengan indeks percabangan pada rumput laut yaitu PO4-P, pH, salinitas dan suhu. Diantara variabel-variabel
tersebut salinitas mempunyai hubungan berlawanan kuat dengan indeks percabangan rumput laut yaitu sebesar 0,87.
Kecerahan berhubungan positif dengan indeks percabangan sebesar (0,34), artinya cahaya hanya berkonsentrasi 34 % terhadap perubahan indeks percabangan oleh faktor lain. Kim & Hum dalam (Hoyle 1975) menyatakan bahwa G. gigas, G. verrucosa dan G. foliifera memiliki toleransi yang tinggi terhadap cahaya yang berlebihan, keduanya dapat tumbuh pesat pada kedalaman 5 cm.
Gambar 8 Hubungan indeks percabangan rumput laut G. gigas dengan parameter kualitas air di laut
Semakin tinggi tingkat kecerahan semakin tinggi tingkat percabangan dan pada rumput laut yang di budidaya di laut pertumbuhan G. gigas lebih memanjang (Mubarak et al. 2003). Widyorini (2010) menyatakan bahwa cahaya menyediakan energi untuk proses fotosintesis, sehingga kemampuan penetrasi cahaya pada kedalaman tertentu sangat menentukan pertumbuhan yang bagus pada rumput laut. Hal yang berhubungan erat dengan penetrasi cahaya adalah kecerahan perairan. Kecerahan perairan yang ideal lebih dari 1m. Air yang keruh (biasanya mengandung lumpur) dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Hal ini akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan rumput laut (Guanzon 2003).
Fosfat berkorelasi negatif dengan indeks percabangan, artinya hubungan keeratan sekitar 31 % dengan indeks percabangan. Di perairan sumber fosfat yang lebih sedikit dapat menghambat tingkat perkembangan talus. Fosfat merupakan faktor pembatas baik secara temporel maupun spasial (Raikar et al. 2000) pada pembentukan sel rumput laut. Fosfat dapat meningkatkan proses metabolisme dan akan menghasilkan gel pada dinding sel rumput laut. Kisaran fosfat yang optimal
untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,051-1,00 ppm (Indriani dan Sumiarsih 1997). Fosfor merupakan unsur hara yang penting yang dibutuhkan oleh rumput laut. Semakin rendah fosfat yang ada di perairan, maka semakin rendah percabangan yang terbentuk, hal ini disebabkan fosfat adalah faktor pendukung dalam pembentukan talus rumput laut.
Kadar nitrat pada perairan di laut biasanya jarang melebihi 0,1 mg/1, sedangkan kadar nitrat yang melebihi 0,2 mg/l dapat mengakibatkan eutrofikasi yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara pesat (Gerung & Yuo 2009). (Ahda et al. 2005), menyebutkan bahwa kadar nitrat terendah untuk pertumbuhan alga berkisar 0,3-0,9 mg/l.
Semakin tinggi salinitas, maka tingkat percabangan semakin rendah dan menurunkan kualitas agar rumput laut. G. gigas merupakan rumput laut yang bersifat euryhalin, salinitas untuk pertumbuhan yang optimal untuk Gracilaria berkisar 10-28 ppt Raikar et al (2001). Salinitas di perairan berperan sebagai proses fisologis, reproduksi, morfologi dan termasuk dalam laju fotosintesis.
Amoniak di laut juga bekorelasi positif dengan indeks percabangan, hal ini disebabkan kandungan amoniak di laut sangat rendah, karena amoniak berperan sebagai pembentuk protein dan urea pada rumput laut (Chen Jia Xin 1989). Amoniak merupakan sumber nitrogen utama di perairan, akan tetapi amonium lebih disukai oleh tumbuhan sebagai sumber nitrogen. Amoniak dengan indeks percabangan mempunyai nilai keeratan hanya 2 %, artinya amoniak di perairan laut tidak mempengaruhi pembentukan talus rumput laut.
Hasil korelasi pH menunjukkan nilai yang negatif pada indeks percabangan, artinya tingkat keeratan hanya 14 %, hal ini tidak berpengaruh pada indeks percabangan. Semakin tingginya pH, maka pertumbuhan rumput laut akan semakin rendah, namun korelasinya lemah masih banyak faktor lain yang bisa berpengaruhi terhadap indeks G. gigas.
Semakin tinggi oksigen terlarut di perairan, maka pertumbuhan rumput laut meningkat. Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas pada pertumbuhan rumput laut, kurangnya oksigen akan menghambat petumbuhan rumput laut ( Ahda et al. 2005). Hasil korelasi suhu berhubungan negatif pada indeks percabangan. Di perairan suhu erat kaitannya dengan laju fotosintesis disamping cahaya dan kandungan nutrien di perairan (Dawes 1981). Suhu air yang rendah dan tingginya salinitas yang terjadi di laut di akibatkan oleh perubahan cuaca yang terjadi ketika penelitian, dan mengakibatkan rendahnya tingkat percabangan rumput laut di laut. Perubahan cuaca akan mengakibatkan suhu perairan rendah karena perubahan iklim yang terjadi pada perairan.
Hubungan parameter kualitas air dengan indeks percabangan rumput laut G. gigas budidaya di tambak
Tingkat keeratan antara indeks percabangan dengan variabel kualitas air di tambak digambarkan pada Gambar 9 & Lampiran 9. Variabel-variabel yang memiliki korelasi positif dengan indeks percabangan yaitu, kecerahan, PO4-P, pH,
Variabel-variabel yang berkorelasi negatif dengan indeks percabangan pada rumput laut yaitu NO3, NH3-N, dan suhu. Diantara variabel-variabel tersebut
terdapat dua variabel yang memiliki nilai korelasi yang tinggi yaitu NH3-N (0,95)
dan NO3 (0,85).
Gambar 9 Hubungan indeks percabangan rumput laut G. gigas dengan parameter kualitas air di tambak
Kecerahan berhubungan positif dengan indeks percabangan (91 %). Pembentukan talus berhubungan dengan kualitas rumput laut dan agar. Ini membuktikan bahwa, di tambak kualitas agar dan rumput laut tinggi terkait dengan intensitas cahaya matahari yang diterima talus untuk proses fotosintesis. Dalam fotosintesis rumput laut membutuhkan cahaya, dan apabila aktifitas fotosintesisnya terganggu akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak optimal. Sebaliknya cahaya yang berlebihan akan merusak aktifitas enzim yang bekerja untuk menghasilkan protein untuk membentuk polisakarida yang akan disalurkan untuk agar. Menurut Widyorini (2010), cahaya matahari adalah sumber energi dalam proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis terjadi pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan. Kemampuan penetrasi cahaya pada kedalaman tertentu ditentukan oleh kecerahan perairan.
Fosfat berkorelasi positif dengan indeks percabangan sebesar 66 %. Apabila fosfat di naikkan, maka percabangan akan lebih tinggi. Fosfat diperlukan rumput laut untuk pertumbuhan talus yang akan membentuk sel-sel baru untuk pertumbuhan pada rumput laut. Fosfat dalam perairan berperan untuk pertumbuhan dan perkembangan rumput laut, semakin tingginya fosfat maka tingkat percabangan yang terbentuk akan semakin banyak dan berpengaruh pada tingkat kualitas agar dan rumput laut. Apabila indeks percabangan rendah, maka nilai kualitas agar dan rumput laut semakin rendah. Fosfat dapat menjadi faktor pembatas baik secara temporal maupun spasial karena fosfat yang lebih sedikit di
di perairan (Mubarak et al. 1990). Kisaran fosfat optimal untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,051-1,00 ppm (Indriani dan Sumiarsih 1997).
Dari hasil korelasi nitrat berhubungan negatif dengan indek percabangan sebesar 85 %. Apabila nitrat di perairan meningkat, akan menghambat pembentukan sel-sel baru pada rumput laut, karena semakin tingginya nitrat semakin rendah pertumbuhan talus rumput laut. Nitrat yang melebihi dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan eutrofikasi yang selanjutnya akan menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (Gerung & Yuo 2009). Apabila nitrat di tambak rendah maka akan cukup baik dimana dapat mendukung aktifitas biologis organisme perairan dan pertumbuhan rumput laut.
Amoniak berkorelasi negatif dengan indeks percabangan sebesar 95 %. Apabila amoniak di tambak meningkat akan menghambat pertambahan talus, kualitas agar dan mutu rumput laut, Amoniak yang tinggi dalam perairan akan menyebabkan racun bagi pertumbuhan rumput laut dan akan menghambat pembentukan sel baru. Sumber amoniak dalam perairan di tambak diduga berasal dari pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air, serta dari dekomposisi bahan sisa metabolisme organik.
Derajat keasaman atau pH merupakan kondisi kimia air yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Menurut Trono et al (1983). Rendahnya pH akan menekan laju pertumbuhan rumput laut dan laju reproduksi. Sebaliknya pH yang tinggi akan mempercepat reproduksi dan fisiologis rumput. Kondisi pH di tambak pada saat penelitian relatif stabil dan berada pada kisaran (7,3-8) yang mendukung kehidupan dan pertumbuhan rumput laut memperbanyak pertumbuhan.
Oksigen dihasilkan dari rumput laut dan menjadi kelanjutan kehidupan biota perairan karena dibutuhkan oleh hewan dan bakteri untuk respirasi. Fitoplankton juga membantu menambah jumlah kadar oksigen terlarut pada lapisan permukaan diwaktu siang hari sebagai hasil dari fotosintesis. DO meningkat akan meningkatkan aktifitas fotosintesis dan menghasilkan O2, artinya
percabangan memadai indeks percabangan. Tingginya DO di tambak dapat menghambat terjadinya proses fotosintesis, hal ini diduga oleh Nussinovitch (1997) yang menyatakan bahwa sumber oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (35%) dan aktifitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Menurut Zatnika (1997) kondisi oksigen terlarut yang optimal dibutuhkan oleh G. gigas berkisar antara 3-8 mg/l.
Pertumbuhan rumput laut dipengaruhi oleh kualitas perairan baik di laut maupun di tambak. Pada penelitian ini banyaknya talus di tambak meningkatkan kualitas agar. Parameter lingkungan yang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan talus rumput laut adalah suhu, DO, PO4-P dan NH3-N.
Intensitas cahaya yang diterima oleh rumput laut selama penelitian pada periode tersebut dengan kondisi cuaca selalu cerah dan tidak ada hujan berpengaruh positif pada pertumbuhan talus rumput laut di tambak dan di laut. Menurut Kadi dan Atmadja (1998), intensitas sinar matahari merupakan faktor pembatas dalam proses fotosintesis. Makin besar intensitas cahaya matahari, maka proses fotosintesis dapat berjalan semakin cepat pula dan pada akhirnya akan meningkatkan biomassa rumput laut. Menurut Raikar et al. (2001) Pada beberapa spesies Grailaria spp. dari perairan tropis dan sub tropis menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan dengan semakin meningkatnya intensitas cahaya.
Suhu perairan selama pelaksanaan penelitian juga sangat mendukung, dimana suhu air berkisar antara 27-28,85 oC yang masih termasuk dalam kriteria optimum untuk budidaya rumput laut. Fluktuasi suhu yang sangat kecil tersebut mengindikasikan kondisi suhu perairan yang cukup stabil. Hasil penelitian Raikar et al. (2001) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian maksimum pada beberapa spesies Gracilaria spp. yang berasal dari Malaysia dan India dicapai pada suhu 25-30 oC, dan pada spesies asal Jepang dicapai pada suhu 20-25 oC (Mubarak et al.1990). Kisaran suhu perairan yang optimal untuk budidaya rumput laut adalah 25-30 oC. G. gigas ditemukan melimpah di perairan laut dengan pertumbuhan Gracilaria bisa lebih tinggi menjadi 1 cm/hari.
Kisaran salinitas yang diperoleh pada lokasi penelitian yaitu 34,07-34,45 ppt (Lampiran 5). Kisaran tersebut masih termasuk dalam kisaran yang sesuai untuk budidaya rumput laut. Berdasarkan SNI 7579.2:2010 yaitu 28-34 ppt, atau 32-34 ppt yang merupakan kategori sangat sesuai untuk budidaya rumput laut menurut Mubarak et al.(1990). Perairan Teluk Gerupuk tidak terlalu banyak mendapatkan masukan air tawar, karena tidak banyaknya sungai yang bermuara ke perairan tersebut. Selain itu beberapa sungai yang terdapat di sekitar lokasi tersebut mengalami kekeringan selama penelitian berlangsung, sehingga salinitas air laut di Teluk Gerupuk relatif stabil.