Kondisi Umum Lokasi dan Sistim Budidaya
Perairan Teluk Gerupuk terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis Teluk Gerupuk terletak pada 116º19’40”-116º21’00” Lintang Selatan dan 9º53’45” Bujur Timur. Perairan ini terletak di Pantai Selatan pulau Lombok yang
menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Lokasi ini merupakan salah satu obyek wisatawan manca negara, karena kondisi perairannya yang masih alami dan belum terlalu banyak mengalami ekspoitasi oleh manusia. Menurut Kiswara & Winardi (1999) perairan ini memiliki komposisi substrat dasar yang terdiri dari pasir (85,75%), kerikil (41,6%) dan lumpur (6,16%). Perairan Teluk Gerupuk relatif tidak banyak mendapat masukan air tawar. Pada saat penelitian dilakukan, pada lokasi tersebut relatif tidak ada hujan yang menyebabkan sungai-sungai yang bermuara ke perairan tersebut mengalami kekeringan, sehingga masukan air tawar tidak ada sama sekali, hal ini menyebabkan kualitas perairan relatif stabil.
Kondisi kualitas air di laut dan di tambak pada musim kemarau (bulan Juli sampai Agustus) sangat mendukung kehidupan rumput laut G. gigas, terutama parameter suhu perairan (Dawes et al. 1999). Suhu di laut selama pengamatan berada pada kisaran normal kehidupan rumput laut G. gigas yaitu 25,48 oC (Lampiran 5), dimana kisaran suhu optimum antara 25-26 oC. Suhu perairan ini, tidak berbeda jauh dengan suhu di perairan Korea (musim panas), dimana rumput laut ini berasal yaitu 18-26 oC (Raikar et al. 2001). Walaupun demikian, proses adaptasi terhadap suhu sangat lambat. Hal ini ditandai dengan banyaknya talus yang memutih (bleaching) akibat perubahan suhu.
Budidaya rumput laut G. gigas di Teluk Gerupuk dilakukan dengan metode long-line sesuai dengan kondisi pantai yang relatif dalam, yaitu berkisar antara 15-20 m. Posisi zonasi budidaya rumput laut berdekatan dengan mulut Teluk Gerupuk sehingga berhubungan langsung dengan samudera indonesia. Hal ini menyebabkan kondisi perairan Teluk Gerupuk juga dipengaruhi oleh kondisi perairan samudera Indonesia, seperti kecepatan angin dan gelombang yang relatif besar. Namun kondisi tersebut memberikan dampak yang positif terhadap
keberadaan budidaya rumput laut pada lokasi tersebut. Menurut Dawes (1981), gelombang dihasilkan dari efek yang ditimbulkan oleh angin terhadap perairan dan gelombang merupakan faktor kritis yang menentukan kondisi populasi rumput laut di alam. Adanya pergerakan air sangat penting bagi rumput laut terkait laju pertumbuhannya (Luning 1990).
Budidaya rumput laut di tambak dilakukan pada tambak bekas budidaya udang secara intensif yang kini banyak terlantar setelah gagal dalam budidaya udang windu. Menurut Chen Jia Xin (1989), suhu optimal untuk pertumbuhan G. gigas antara 15-30 oC, salinitas antara 5,2-40,1 ppt atau salinitas optimal untuk tumbuh adalah 11,3-30,1 ppt. Hasil pengukuran kecerahan perairan tambak dilokasi kegiatan budidaya adalah 40 cm (Lampiran 7). Kecerahan perairan tambak berpengaruh pada fotosintesis (Dawes et al. 1999). Gracilaria membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi untuk dapat berfotosintesis secara optimal. Kisaran nilai kecerahan perairan itu antara 0,5-15 m memberikan pertambahan panjang antara 5-5,5 cm selama masa budidaya pada suhu air 17 oC di China (Chen Jia Xin 1989).
Keragaan rumput laut
Parameter keragaan rumput laut terdiri atas produktivitas , jumlah total talus (JT), jumlah talus sekunder (JTS), jumlah talus tersier (JTT) dan indeks percabangan (IP) dari rumput laut yang dibudidayakan pada dua habitat yang berbeda, yaitu di laut dan di tambak (Lampiran 3).
Produktivitas G. gigas yang dibudidaya di laut didapatkan hasil (12,72 kg/m2/thn), sedangkan pada budidaya di tambak didapatkan hasil (4,00 kg/m2/thn) (Lampiran 1). Menurut Kadi dan Atmadja (1988) tingginya produksi rumput laut yang di budidaya di laut dipengaruhi oleh tekanan pasang surut dan arus yang menyebabkan pembesaran sel. Menurut Dawes (1981), di laut terjadi respon struktural pada alga terhadap cahaya yang mengakibatkan pertumbuhan memanjang dan sel membesar sehingga tekanan turgor didalam sel rumput laut akan mudah masuk. Di tambak pertumbuhan rumput laut lebih ke arah reproduktif (membangun sel baru menjadi individu baru dengan memperbanyak sel generatif). Fenotip rumput laut yang dibudidaya di laut dan di tambak disajikan pada Lampiran 3 & 4. Anggardiredja 1998 menyatakan bahwa budidaya rumput laut G. gigas pada kondisi lingkungan yang berbeda akan menghasilkan produksi yang berbeda.
Gambar 5 Keragaan rumput laut G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak Jumlah talus total yang di peroleh pada G. gigas yang dibudidaya di tambak adalah 86,56, dan di laut adalah 80,40 (Lampiran 4). Tingginya jumlah talus yang dibudidayakan di tambak diduga berhubungan dengan tingkat kesuburan dan unsur hara yang terdapat di tambak tinggi. Demikian juga dengan indeks percabangan pada rumput laut yang dibudidaya di tambak adalah 18,38 (Lampiran 5). Menurut Pickering et al. (1995), indeks percabangan erat kaitannya dengan ketersediaan nutrien dan unsur hara dalam pembentukan sel baru, dimana kandungan N di tambak tinggi dan di tambak rendah (Lampiran 7 & 8).
Habitat asli dari rumput laut G. gigas di alam adalah di laut. Pada penelitian ini budidaya G. gigas ditanam pada dua habitat yang berbeda, yaitu ditambak dan di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya rumput laut dengan metode long-line di laut menghasilkan pertambahan bobot basah hampir 6 kg/titik setelah dipanen, sedangkan metode tebar di tambak 4 kg/titik setelah dipanen. Pada budidaya rumput laut di tambak kandungan nutrien tinggi, karena di tambak banyak terdapat unsur hara salah satunya buagan feses dari ikan. Nutrien yang diserap oleh rumput laut mendukung proses pertumbuhan ke arah reproduktif, yaitu terbentuknya spora yang baru pada percabangan sekunder atau terbentuk sel-sel baru menjadi talus. Sehingga percabangan rumput laut lebih banyak. Menurut Dawes (1981), unsur hara dibutuhkan sebagai salah satu bahan dasar untuk menyusun energi guna memnuhi kebutuhan metabolisme. Tingginya nutrien di tambak disebabkan oleh adanya buangan feses ikan yang diserap oleh rumput laut untuk membentuk sel baru melalui percabangan yang berkorelasi dengan kualitas agar, karena nutrien yang diserap oleh rumput laut akan membentuk selulosa, polisakarida dan galaktosa pada rumput laut (Dawes 1981). Kualitas rumput laut
Mutu rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh teknik budidaya, tetapi juga dipengaruhi oleh umur tanam dan kualitas perairan (Mc Hugh 2003). Rumput laut dikatakan bermutu jika rendemen agarnya tinggi. Rendemen agar G. gigas
12,72 80,40 36,20 38,70 7,49 4,00 86,56 32,49 54,07 18,38 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Produktifitas (kg/m2/thn) JT JTS JTT IP
Performa & fenotip rumput laut
Laut Tambak
Cacatan : Jumlah total (JT) Jumlah talus sekunder (JTS) Jumlah talus tersier (JTT) Indeks percabangan (IP)
yang dibudidaya di tambak mencapai 18,53 %, sedangkan hasil budidaya di laut mencapai 6,85 % (Gambar 6). Menurut FAO (1987) tinggi rendahnya rendemen agar dipengaruhi oleh spesies rumput laut, iklim, dan usia panen. Berdasarkan BSN (1998) rumput laut G. gigas dikatakan bermutu jika kandungan agarnya lebih dari 25 %. Agar merupakan polisakarida yang terakumulasi dalam dinding sel rumput laut penghasil agar yang dipengaruhi oleh musim (Armisen & Galatas 2000). Kualitas rumput laut menurun, bila kadar abu terlalu tinggi. Kadar abu yang dikatakan baik tidak melebihi dari 40 % yang telah distandarkan oleh FAO, dan kadar air tidak mempengaruhi kualitas rumput laut. Kadar abu pada G. gigas di laut mencapai 52,25 %, sedangkan di tambak mencapai 31,06 %.
Gambar 6 Kualitas rumput laut G. gigas yang dibudidaya di laut dan di tambak di bandingkan dengan standar FAO (1996)
Tingginya kadar abu pada budidaya G. gigas di laut diduga karena mineral rumput laut yang tinggi dan masih adanya sisa-sisa karang atau pasir yang masih terbawa, walaupun pencucian dan sortasi sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya. Budidaya rumput laut pada habitat yang berbeda akan menghasilkan kualitas yang berbeda, hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan. Kondisi lingkungan yang kurang mendukung akan mengakibatkan kualitas rumput laut dan kualitas agar akan menurun (Dawes 1981).
Berdasarkan hasil penelitian kualitas rumput laut sangat ditentukan oleh proses pembuatan kualitas agar dan fotosintesis dan intensitas cahaya disuatu perairan. Rumput laut yang diperoleh dari tambak dengan salinitas lebih rendah memiliki kadar air tinggi, Sedangkan rumput laut hasil budidaya di laut memiliki kadar air rendah, rendemen rendah dengan budidaya di tambak. Kadar air yang dibudidaya di tambak adalah 18,92 %, dan pada budidaya di laut adalah 12,15 %, kualitas rumput laut akan menurun bila kadar air terlalu tinggi. Tingginya kadar air tidak akan mempengaruhi kualitas rumput laut (Dawes 1981).
Kualitas agar
Kualitas agar dipengaruhi oleh kandungan sulfat, karena sulfat bisa menghambat terbentuknya gel pada dinding rumput laut (Dawes 1981). Semakin tinggi kandungan sulfat semakin rendah kualitas agarnya. Sulfat dalam agar akan mengurangi gel strength (Durairatnam et al. 1990). Kandungan sulfat pada G.
2,06 12,15 52,25 38,09 6,85 2,16 18,92 31,06 45,83 18,53 3 21 40 36 47 0 10 20 30 40 50 60
Serat kasar Kadar Air Kadar Abu CAW Rendemen Agar
P er se n tas e Parameter Laut Tambak FAO
gigas hasil budidaya di tambak mencapai 5,18 % sedangkan di laut (4,95). Standar yang ditetapkan oleh FAO yaitu kadar sulfat dikatakan tinggi bila melebihi 6 %. Menurut (Murti 2007) kadar sulfat yang tinggi diduga akibat masih banyaknya senyawa sulfat dari garam-garam sulfat yang ada pada filtrat agar-agar yang belum terserap, karena sulfat merupakan zat pengotor dalam agar. Kekuatan gel pada G. gigas hasil budidaya di tambak mencapai (18,45 gr/m2), sedangkan di laut mencapai 7,54 gr/m2 (Gambar 7).
Kekuatan gel berhubungan erat dengan sulfat, titik leleh dan titik jendal. Semakin tinggi titik jendal maka gel yang terbentuk semakin tinggi, dan semakin tingginya titik leleh maka gel yang terbentuk makin rendah (Durairatnam et al. 1990).
Gambar 7 Kualitas agar G. gigas yang di budidaya di laut dan di tambak di bandingkan dengan standar FAO (1996)
Dari hasil analisis kualitas agar tiitik pembentukan gel pada G. gigas yang dibudidaya di laut mencapai 28 oC, sedangkan di tambak adalah 27 oC. Titik jendal dan titik leleh berkaitan erat dengan kadar sulfat dan bobot dari agar yang dihasilkan (Hussain 1989). Semakin besar bobot agar akan menghasilkan titik leleh yang tinggi dan semakin murni agar yang dihasilkan maka titik leleh gel semakin rendah (FAO 1996). Viskositas berhubungan dengan konsentrasi agar, jika viskositas naik maka konsentrasi agar ditingkatkan sampai tercapai kekentalan yang diinginkan. Menurut (Kadi dan Atmadja 1988) viskositas tergantung pada konsentrasi larutan, suhu dan molekul terlarut lainnya. Pada saat konsentrasi larutan meningkat, viskositas juga meningkat secara logaritmik. Hubungan parameter kualitas air dengan indeks percabangan rumput laut G. gigas budidaya di laut
Variabel-variabel yang memiliki korelasi positif dengan indeks percabangan rumput laut yaitu, kecerahan, NO3, NH3-N, dan DO (Gambar 8 & Lampiran 8). Berdasarkan nilai koefisien korelasinya lebih kecil dari 0,5.
5 4,97 7,54 24,9 14,0 28 4 5,18 18,46 25,8 15,0 27 6 6 20 30 40 35 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Viskositas (cp) Sulfat (%) Kekuatan gel (gr/m2)
Derajat Putih (%)
Titik Leleh (ºC) Titik Jendal (ºC)
Parameter
Laut Tambak FAO
Variabel-variabel yang berkorelasi negatif dengan indeks percabangan pada rumput laut yaitu PO4-P, pH, salinitas dan suhu. Diantara variabel-variabel tersebut salinitas mempunyai hubungan berlawanan kuat dengan indeks percabangan rumput laut yaitu sebesar 0,87.
Kecerahan berhubungan positif dengan indeks percabangan sebesar (0,34), artinya cahaya hanya berkonsentrasi 34 % terhadap perubahan indeks percabangan oleh faktor lain. Kim & Hum dalam (Hoyle 1975) menyatakan bahwa G. gigas, G. verrucosa dan G. foliifera memiliki toleransi yang tinggi terhadap cahaya yang berlebihan, keduanya dapat tumbuh pesat pada kedalaman 5 cm.
Gambar 8 Hubungan indeks percabangan rumput laut G. gigas dengan parameter kualitas air di laut
Semakin tinggi tingkat kecerahan semakin tinggi tingkat percabangan dan pada rumput laut yang di budidaya di laut pertumbuhan G. gigas lebih memanjang (Mubarak et al. 2003). Widyorini (2010) menyatakan bahwa cahaya menyediakan energi untuk proses fotosintesis, sehingga kemampuan penetrasi cahaya pada kedalaman tertentu sangat menentukan pertumbuhan yang bagus pada rumput laut. Hal yang berhubungan erat dengan penetrasi cahaya adalah kecerahan perairan. Kecerahan perairan yang ideal lebih dari 1m. Air yang keruh (biasanya mengandung lumpur) dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Hal ini akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan rumput laut (Guanzon 2003).
Fosfat berkorelasi negatif dengan indeks percabangan, artinya hubungan keeratan sekitar 31 % dengan indeks percabangan. Di perairan sumber fosfat yang lebih sedikit dapat menghambat tingkat perkembangan talus. Fosfat merupakan faktor pembatas baik secara temporel maupun spasial (Raikar et al. 2000) pada pembentukan sel rumput laut. Fosfat dapat meningkatkan proses metabolisme dan akan menghasilkan gel pada dinding sel rumput laut. Kisaran fosfat yang optimal
-0,08 0,24 -0,87 -0,14 0,02 0,15 -0,31 0,34 -1 -0,5 0 0,5 1 Suhu DO salinitas pH NH3-N NO3-N PO4-P Kecerahan Koefisien korelasi
untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,051-1,00 ppm (Indriani dan Sumiarsih 1997). Fosfor merupakan unsur hara yang penting yang dibutuhkan oleh rumput laut. Semakin rendah fosfat yang ada di perairan, maka semakin rendah percabangan yang terbentuk, hal ini disebabkan fosfat adalah faktor pendukung dalam pembentukan talus rumput laut.
Kadar nitrat pada perairan di laut biasanya jarang melebihi 0,1 mg/1, sedangkan kadar nitrat yang melebihi 0,2 mg/l dapat mengakibatkan eutrofikasi yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan alga dan tumbuhan air secara pesat (Gerung & Yuo 2009). (Ahda et al. 2005), menyebutkan bahwa kadar nitrat terendah untuk pertumbuhan alga berkisar 0,3-0,9 mg/l.
Semakin tinggi salinitas, maka tingkat percabangan semakin rendah dan menurunkan kualitas agar rumput laut. G. gigas merupakan rumput laut yang bersifat euryhalin, salinitas untuk pertumbuhan yang optimal untuk Gracilaria berkisar 10-28 ppt Raikar et al (2001). Salinitas di perairan berperan sebagai proses fisologis, reproduksi, morfologi dan termasuk dalam laju fotosintesis.
Amoniak di laut juga bekorelasi positif dengan indeks percabangan, hal ini disebabkan kandungan amoniak di laut sangat rendah, karena amoniak berperan sebagai pembentuk protein dan urea pada rumput laut (Chen Jia Xin 1989). Amoniak merupakan sumber nitrogen utama di perairan, akan tetapi amonium lebih disukai oleh tumbuhan sebagai sumber nitrogen. Amoniak dengan indeks percabangan mempunyai nilai keeratan hanya 2 %, artinya amoniak di perairan laut tidak mempengaruhi pembentukan talus rumput laut.
Hasil korelasi pH menunjukkan nilai yang negatif pada indeks percabangan, artinya tingkat keeratan hanya 14 %, hal ini tidak berpengaruh pada indeks percabangan. Semakin tingginya pH, maka pertumbuhan rumput laut akan semakin rendah, namun korelasinya lemah masih banyak faktor lain yang bisa berpengaruhi terhadap indeks G. gigas.
Semakin tinggi oksigen terlarut di perairan, maka pertumbuhan rumput laut meningkat. Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas pada pertumbuhan rumput laut, kurangnya oksigen akan menghambat petumbuhan rumput laut ( Ahda et al. 2005). Hasil korelasi suhu berhubungan negatif pada indeks percabangan. Di perairan suhu erat kaitannya dengan laju fotosintesis disamping cahaya dan kandungan nutrien di perairan (Dawes 1981). Suhu air yang rendah dan tingginya salinitas yang terjadi di laut di akibatkan oleh perubahan cuaca yang terjadi ketika penelitian, dan mengakibatkan rendahnya tingkat percabangan rumput laut di laut. Perubahan cuaca akan mengakibatkan suhu perairan rendah karena perubahan iklim yang terjadi pada perairan.
Hubungan parameter kualitas air dengan indeks percabangan rumput laut G. gigas budidaya di tambak
Tingkat keeratan antara indeks percabangan dengan variabel kualitas air di tambak digambarkan pada Gambar 9 & Lampiran 9. Variabel-variabel yang memiliki korelasi positif dengan indeks percabangan yaitu, kecerahan, PO4-P, pH, salinitas dan DO. Berdasarkan nilai koefisien korelasinya, variabel yang memiliki hubungan erat dengan indeks percabangan pada rumput laut yaitu kecerahan (0,91), PO4-P (0,66) dan DO (0,62).
Variabel-variabel yang berkorelasi negatif dengan indeks percabangan pada rumput laut yaitu NO3, NH3-N, dan suhu. Diantara variabel-variabel tersebut terdapat dua variabel yang memiliki nilai korelasi yang tinggi yaitu NH3-N (0,95) dan NO3 (0,85).
Gambar 9 Hubungan indeks percabangan rumput laut G. gigas dengan parameter kualitas air di tambak
Kecerahan berhubungan positif dengan indeks percabangan (91 %). Pembentukan talus berhubungan dengan kualitas rumput laut dan agar. Ini membuktikan bahwa, di tambak kualitas agar dan rumput laut tinggi terkait dengan intensitas cahaya matahari yang diterima talus untuk proses fotosintesis. Dalam fotosintesis rumput laut membutuhkan cahaya, dan apabila aktifitas fotosintesisnya terganggu akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak optimal. Sebaliknya cahaya yang berlebihan akan merusak aktifitas enzim yang bekerja untuk menghasilkan protein untuk membentuk polisakarida yang akan disalurkan untuk agar. Menurut Widyorini (2010), cahaya matahari adalah sumber energi dalam proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis terjadi pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan. Kemampuan penetrasi cahaya pada kedalaman tertentu ditentukan oleh kecerahan perairan.
Fosfat berkorelasi positif dengan indeks percabangan sebesar 66 %. Apabila fosfat di naikkan, maka percabangan akan lebih tinggi. Fosfat diperlukan rumput laut untuk pertumbuhan talus yang akan membentuk sel-sel baru untuk pertumbuhan pada rumput laut. Fosfat dalam perairan berperan untuk pertumbuhan dan perkembangan rumput laut, semakin tingginya fosfat maka tingkat percabangan yang terbentuk akan semakin banyak dan berpengaruh pada tingkat kualitas agar dan rumput laut. Apabila indeks percabangan rendah, maka nilai kualitas agar dan rumput laut semakin rendah. Fosfat dapat menjadi faktor pembatas baik secara temporal maupun spasial karena fosfat yang lebih sedikit di
-0,59 0,62 0,47 0,26 -0,95 -0,85 0,66 0,91 -1 -0,5 0 0,5 1 Suhu DO salinitas pH NH3-N NO3-N PO4-P Kecerahan Koefisien korelasi
di perairan (Mubarak et al. 1990). Kisaran fosfat optimal untuk pertumbuhan rumput laut adalah 0,051-1,00 ppm (Indriani dan Sumiarsih 1997).
Dari hasil korelasi nitrat berhubungan negatif dengan indek percabangan sebesar 85 %. Apabila nitrat di perairan meningkat, akan menghambat pembentukan sel-sel baru pada rumput laut, karena semakin tingginya nitrat semakin rendah pertumbuhan talus rumput laut. Nitrat yang melebihi dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan eutrofikasi yang selanjutnya akan menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (Gerung & Yuo 2009). Apabila nitrat di tambak rendah maka akan cukup baik dimana dapat mendukung aktifitas biologis organisme perairan dan pertumbuhan rumput laut.
Amoniak berkorelasi negatif dengan indeks percabangan sebesar 95 %. Apabila amoniak di tambak meningkat akan menghambat pertambahan talus, kualitas agar dan mutu rumput laut, Amoniak yang tinggi dalam perairan akan menyebabkan racun bagi pertumbuhan rumput laut dan akan menghambat pembentukan sel baru. Sumber amoniak dalam perairan di tambak diduga berasal dari pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air, serta dari dekomposisi bahan sisa metabolisme organik.
Derajat keasaman atau pH merupakan kondisi kimia air yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Menurut Trono et al (1983). Rendahnya pH akan menekan laju pertumbuhan rumput laut dan laju reproduksi. Sebaliknya pH yang tinggi akan mempercepat reproduksi dan fisiologis rumput. Kondisi pH di tambak pada saat penelitian relatif stabil dan berada pada kisaran (7,3-8) yang mendukung kehidupan dan pertumbuhan rumput laut memperbanyak pertumbuhan.
Oksigen dihasilkan dari rumput laut dan menjadi kelanjutan kehidupan biota perairan karena dibutuhkan oleh hewan dan bakteri untuk respirasi. Fitoplankton juga membantu menambah jumlah kadar oksigen terlarut pada lapisan permukaan diwaktu siang hari sebagai hasil dari fotosintesis. DO meningkat akan meningkatkan aktifitas fotosintesis dan menghasilkan O2, artinya percabangan memadai indeks percabangan. Tingginya DO di tambak dapat menghambat terjadinya proses fotosintesis, hal ini diduga oleh Nussinovitch (1997) yang menyatakan bahwa sumber oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (35%) dan aktifitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Menurut Zatnika (1997) kondisi oksigen terlarut yang optimal dibutuhkan oleh G. gigas berkisar antara 3-8 mg/l.
Suhu mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan dan pertumbuhan rumput laut. Chakraborty & Santra (2008) menyatakan bahwa rumput laut tumbuh dan berkembang dengan baik pada perairan yang memiliki kisaran suhu 26-33 oC. Pada saat suhu perairan tinggi maka percabangan akan semakin rendah. Di tambak suhu selama penelitian berkisar antara 26-28,85 oC (Lampiran 6). Pengaruh suhu terhadap fisiologis organisme perairan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis disamping cahaya dan konsentrasi fosfat (Cochrane et al. 2009). Peningkatan suhu dengan meningkatkan kecepatan fotosintesis sampai pada radiasi tertentu. Kecepatan fotosintesis akan konstan pada produksi maksimal, tidak tergantung pada energi matahari lagi sampai pada reaksi enzim (Pace 2005). Menurut Mubarak et al. (1990), kisaran suhu perairan yang optimal untuk budidaya rumput laut adalah 25-30 oC.
Pertumbuhan rumput laut dipengaruhi oleh kualitas perairan baik di laut maupun di tambak. Pada penelitian ini banyaknya talus di tambak meningkatkan kualitas agar. Parameter lingkungan yang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan talus rumput laut adalah suhu, DO, PO4-P dan NH3-N.
Intensitas cahaya yang diterima oleh rumput laut selama penelitian pada periode tersebut dengan kondisi cuaca selalu cerah dan tidak ada hujan berpengaruh positif pada pertumbuhan talus rumput laut di tambak dan di laut. Menurut Kadi dan Atmadja (1998), intensitas sinar matahari merupakan faktor pembatas dalam proses fotosintesis. Makin besar intensitas cahaya matahari, maka proses fotosintesis dapat berjalan semakin cepat pula dan pada akhirnya akan meningkatkan biomassa rumput laut. Menurut Raikar et al. (2001) Pada beberapa spesies Grailaria spp. dari perairan tropis dan sub tropis menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan dengan semakin meningkatnya intensitas cahaya.
Suhu perairan selama pelaksanaan penelitian juga sangat mendukung, dimana suhu air berkisar antara 27-28,85 oC yang masih termasuk dalam kriteria optimum untuk budidaya rumput laut. Fluktuasi suhu yang sangat kecil tersebut mengindikasikan kondisi suhu perairan yang cukup stabil. Hasil penelitian Raikar et al. (2001) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian maksimum pada beberapa spesies Gracilaria spp. yang berasal dari Malaysia dan India dicapai pada suhu 25-30 oC, dan pada spesies asal Jepang dicapai pada suhu 20-25 oC (Mubarak et al.1990). Kisaran suhu perairan yang optimal untuk budidaya rumput laut adalah 25-30 oC. G. gigas ditemukan melimpah di perairan laut dengan fluktuasi suhu berkisar antara 20-27 oC (Raikar et al. 2001). Kondisi optimal untuk tumbuh dan berkembangnya Gracilaria menurut Trono et al. (1983) dan Effendi (2003) yaitu kisaran suhu optimal antara 15-30 ppt. Suhu dibawah 10oC