• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bhn Ulngan II Matematika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bhn Ulngan II Matematika"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KONDISI DAERAH, PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS

Pelaksanaan pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan dan palayanan kemasyarakatn selalu saja berhadapan dengan tantangan dan hambatan baik secara internal pemerintahan, pola dan perilaku masyarakat/kelompok masyarakat maupun yang berasal dari persaingan global. Kondisi ini tidak perlu dihindari melainkan diterima dan merajutnya menjadi suatu peluang sehingga masyarakat Kabupaten Alor mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan perubahan dan tantangan yang terjadi. Untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam Alinea keempat UUD 1945, maka sebagai Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah harus mengetahui kondisi, karateristik, permasalahan dan isu-isu strategis di daerah sehingga memudahkan pengambilan keputusan guna mengimplementasikan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang dituangkan dalam program dan kegiatan.

2.1. Kondisi Umum Daerah

2.1.1. Kondisi Geografis dan Topografi

Kabupaten Alor memiliki luas wilayah : 13.638,20 Km2, yang terdiri dari :

- Luas wilayah perairan : 10.773,62 Km2.

- Luas Wilayah daratan : 2.864,64 Km2.

Dengan panjang garis pantai : 287,10 Km

Batas administrasi Wilayah Kabupaten Alor adalah :

- Sebelah Utara dengan : Laut Flores;

- Sebelah Selatan dengan : Selat Ombay;

- Sebelah Timur dengan : Selat Wetar dan perairan Negara RDTL; - sebelah Barat dengan : Selat Alor dan Perairan Kab. Lembata;

Kondisi topografi wilayah Kabupaten Alor adalah Berbukit sampai bergunung dengan kemiringan di atas 40º seluas 184.053,13 Ha; kemiringan 15º – 40º seluas 67.634,15 Ha; Kemiringan 3º – 15º seluas 24.893,72 Ha; dan Kemiringan 0º – 3º seluas 10.026 Ha.

Jumlah Pulau di Kabupaten Alor sebanyak 20 buah, terdiri dari 9 pulau yang dihuni dan 11 pulau tidak/belum dihuni. Pulau yang tidak dihuni mempunyai potensi sebagai peluang investasi antara lain di Pulau Rusa dapat dikembangkan sebagai taman wisata berburu, Pulau Lapang mempunyai potensi pengembangan budidaya ruput laut dan pengembangbiakan ternak kambing, Pulau Sika sebagai obyek wisata, Pulau Kapas untuk budidaya kepiting dan perikanan darat serta beberapa pulau lainnya yang mempunyai potensi tersendiri.

(2)

Penduduk merupakan potensi daerah dan penerima manfaat dari suatu proses pembangunan. Perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Alor Tahun 2009 - 2011 terbaca pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Alor Tahun 2009 - 2011

Secara umum, jumlah penduduk terbesar kondisi Tahun 2011 berada di Kecamatan Teluk Mutiara sebesar 25,48 %, Kecamatan ABAD sebesar 11,33 % dan Kecamatan ABAL sebesar 9,87 %; sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Kecamatan Pureman sebesar 1,83 % dan jumlah penduduk di 5 kecamatan di Pulau Pantar untuk Tahun 2011 berkisar antara 2,25% - 5,65 %.

2.1.3. Administrasi Pemerintahan;

Pemerintah Kabupaten Alor terdiri atas 17 kecamatan, 175 kelurahan/desa dan yang terbagi dalam RW dan RT sebagaimana terbaca pada table brikut.

Tabel 2. Jumlah Kecamatan, Dusun, RW dan RT

(3)

DPRD; PERDA Nomor 4 Tahun 2007 untuk 39 Dinas/Badan; PERDA Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah, PERDA Nomor 5 Tahun 2009, tentang Kentor Pelayanan dan Perijinan Terpadu;

Pegawai Negeri Sipil Daerah termasuk tenaga pendidik pada Tahun 2012 sebanyak 5.620 orang. Kualitas pelayanan kepemerintahan sangat tergantung pada tingkat pendidikan yang dimiliki oleh aparatur. Komposisi tingkat pendidikan PNSD sebagaimana terbaca pada table di bawah ini.

Tabel 3. Tingkat Pendidikan PNSD Kabupaten Alor Tahun 2012.

Tingkat Pendidikan

2. Strata 1/D4 844 491 1.335 15.02 8.74

3. D1 – D3 688 749 1.437 12.24 13.33

4. SMA/SMU 1.504 965 2.469 26.76 17.17

5. SMP 185 57 242 3.29 1.01

6. SD 91 1 92 1.62 0.02

Jumlah 3.352 2.268 5.620 59.64 40.36

Sumber: BKD Kab. Alor, Tahun 2012

Data pada table di atas menunjukkan bahwa PNS dengan tingkat pendidikan SMA/sederajat lebih besar yakni mencapai 43,93%, D1 – D3 sebanyak 25,57%, S1/D4/S2 mencapai 24,56%, sedangkan tingkat pendidikan SD – SMP sebanyak 5,94%. Dengan tingkat pendidikan PNS yang dimiliki ini maka Pemerinah Kabupaten Alor harus lebih memperhatikan kualifikasi pendidikan dengan memberikan kesempatan belajar kepada PNS karena akan sangat terpengaruh dengan kinerja pelayanan kepemerintahan. Selain itu, kulaifikasi PNSD berdasarkan golongan sebagaimana terbaca pada table di bawah ini.

Tabel 4. Kualifikasi PNSD Kabupaten Alor Berdasarkan Golongan, Tahun 2012

Golongan

2. Gol III 1.357 867 2.224 24.15 15.43

3. Gol II 1.191 1.128 2.319 21.19 20.07

4. Gol I 196 11 207 3.49 0.20

Jumlah 3.352 2.268 5.620 40.36 59.64 Sumber: BKD Kab. Alor, Tahun 2012

(4)

disandingkan dengan kualifikasi PNSD berdasarkan pendidikan maka telah terjadi pergeseran prosentase PNSD dengan pendidikan SMA/sederajat yang bergolongan II berpindah ke golongan III bahkan ke golongan IV.

Komposisi jabatan struktural lingkup Pemerintah Kabupaten Alor sebanyak 696 jabatan, dengan rincian sebagaimana terbaca pada table berikut ini.

Tabel 5. Jumlah Jabatan Struktural Lingkup Pemerintah Kabupaten Alor.

No Nama Instansi Jumlah Jabatan Struktural / Eselonering I b II a II b III a III b IV a IV b

Sumber : Alor Dalam Angka, 2012

2.1.4. Pendidikan

Kualitas pendidikan di suatau wilayah antara lain terukur dari Kemampuan baca - tulis dan Angka Melek Huruf dan Angka Buta Huruf untuk penduduk berusia 10 tahun ke atas sebagaimana terbaca pada tabel berikut ini.

Tabel 6. Persentase Penduduk yang Berumur 10 Tahun Ke Atas menurut Jenis Kelamin dan Kemampuan Membaca Dan Menulis.

No Kemampaun Membacadan Menulis Laki-laki Perempuan Persentase

1 Huruf latin 83.94 77.55 80.64

2 Huruf lainnya 1.67 2.69 2.20

3 Huruf latin dan lainnya 9.63 10.06 9.85

4 Tidak dapat 4.76 9.70 7.32

Jumlah 100.00 100.00 100.00

Sumber : Alor Dalam Angka, 2012

a. Angka Partisipasi Kasar

(5)

Tabel 7. Angka Partisipasi Kasar Pendidikan

No Komponen

2009 2010 2011

Jlh.

Siswa APK SiswaJlh. APK SiswaJlh. APK 1 Siswa SD sederajat 33.479 75.63 33.479 123.66 33.091 112.79

2 Siswa SMP sederajat 10.658 106.07 10.658 83.76 11.257 80.93

3 Siswa SMA sederajat 6.124 175,33 6.124 59.69 6.571 78.01 Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Alor, Tahun 2012

b. Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah perbandingan antara jumlah siswa usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan dengan jumlah keseluruhan siswa yang bersekolah pada jenjang pendidikan dimaksud.

Tabel 8. Angka Partisipasi Murni

No Komponen 1 Siswa SD sederajat 23.931 83.55 33.479 90.32 33.091 97.99 2 Siswa SMP sederajat 7.516 70.04 10.658 60.93 11.257 52.20 3 Siswa SMA sederajat 3.738 65.20 6.124 35.80 6.571 54.62 Sumber: Bappeda Kab. Alor, Tahun 2012

c. Ketersediaan Sarana Pendidikan

Jumlah sarana pendidikan yang berada di Kabupaten Alor pada kondisi Tahun 2011 terbaca pada tabel berikut ini.

Tabel 9. Banyaknya Sekolah, ruang kelas dan kondisi ruang kelas

No Tingkat Pendidikan SekolahJumlah RuangKelas

Kondisi Ruang Kelas Baik RinganRusak RusakBerat

1 TK/RA 55

2 SD/Sederajat 248 1.581 975 359 247

3 SMP/Sederajat 68 470 327 105 38

4 SMA/Sederajat 22 192 167 22 3

5 Perguruan Tinggi 3

Kabupaten Alor 396 2.243 1.451 166 288

Sumber : Alor Dalam Angka, 2012

Tabel 10. Jumlah Guru Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan

No Jenjang Pendidikan Jumlah Guru Sesuai Jenjang Pendidikan

(6)

2 SMA DI-II DIII-IV/S1

1 SD/sederajat 795 586 158 1.539 10,27

2 SMP/sederajat 46 114 400 560 71,43

3 SMA/sederajat 3 4 319 326 97,85

Kabupaten Alor 844 704 877 2.425 36,16 Sumber : Alor Dalam Angka, 2012

Data tersebut di atas menunjukan bahwa kualifikasi pendidikan guru (D3 – S2) sebanyak 36,16 % dan pada jenjang pedidikan SD terdapat 89,73 % berpendidikan SPG – D2, sedangkan pada jenjang pendidikan SMA/sederajat tersisa 2,15% yang perlu ditingkangkan ke jenjang pendidikan S1, S2 maupun S3.

2.1.5. Kesehatan

a. Angka Kamatian (Mortalitas)

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Beberapa penyebab kematian yang berkaita dengan pelayanan kesehatan adalah :

1) Angka Kematian Bayi

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu Tahun per 1000 kelahiran hidup. Indikator ini terkait langsung dengan tingkat kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat tinggal anak-anak termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKB cenderung lebih menggambarkan situasi kesehatan reproduksi dan relevan untuk dipakai dalam memantau pencapaian target karena mewakili komponen penting pada kematian balita. Angka Kematian Bayi di Kabupaten Alor Tahun 2012 sebesar 59 jiwa angka ini masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan Tahun 2010 sebesar 32 jiwa.

2) Angka Kematian Ibu

(7)

selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup.

AKI berguna sekali untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat , status gizi, dan kesehatan ibu, kondisi lingkungan, kualitas pelayanan kesehatan waktu ibu hamil, melahirkan dan masa nifas. Pada Tahun 2012, AKI Kabupaten Alor sebesar 16 jiwa. Untuk jelasnya data kematian ibu menurut sebab kematian dapat dilihat pada di bawah ini.

Tabel 11. Jumlah Kematian Ibu Menurut Sebab Kematian

Uraian Tahun 2010 Tahun 2011

Sumber : Alor Dalam Angka, 2012

3) Angka Kesakitan (Morbiditas)

Morbiditas merupakan salah satu indicator untuk mengukur tingkat

kesehatan masyarakat dengan variable angka kesakitan penduduk. Berdasarkan

data yang diperoleh terdapat sepuluh penyakit terbanyak di penduduk seperti

terbaca pada tabel berikut ini.

Tabel 12. Penyakit Terbanyak yang diderita penduduk

No Jenis Penyakit Jumlah

Sumber : Alor Dalam Angka, 2012

b. Gizi

(8)

pekerja wanita, dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). BBLR (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. Kondisi status gizi bayi dan balita Tahun 2012 terbaca pada table di bawah ini.

Tabel 13. Status Gizi Balita Kabupaten Alor

Parameter Status Gizi Jumlah Kelahiran(jiwa) Persentase I. Berat Badan/Umur

III. Tinggi Badan (PB)/Berat Badan a. Sangat Kurus

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Alor, Tahun 2012

Selain itu, kondisi pertolongan persalinan bagi ibu melahirkan menunjukkan bahwa persentase persalinan bayi yang ditangani oleh dukun sebesar (71.05%) lebih besar dari yang di tangani oleh tenaga kesehatan yakni 18,96%. Data seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 14. Persentase Persalinan menurut Penolong Kelahiran Pertama

No Penolong Kelahiran Pertama Jumlah

Sumber : Alor Dalam Angka, 2012 2.1.6. Potensi Perekonomian Daerah

1. Potensi Sumberdaya Alam

(9)

Di bidang pertanian, lebih didominasi oleh pertanian lahan kering yang tersebar secara merata di 17 kecamatan, sedangkan pertanian lahan basah berada pada beberapa desa saja seperti di Desa Padang Panjang, Desa Tanglapui, Desa Pailelang, Desa Alim Mebung, Kelurahan Adang, Desa Kelaisi Barat, Desa Fanating dan beberapa desa lainnya;

Di bidang peternakan, khusus untuk ternak kecil dan unggas dapat diusahakan di seluruh wilayah Kabupaten Alor; sedangkan ternak besar seperti sapi difokuskan pada 4 lokasi pengembangan yakni di Lantoka, Halerman, Mobaa dan Joili, namun demikian penggemukan sapi dapat dilakukan pada beberapa lokasi dan hal ini sangat terggantung dengan ketersediaan pakan.

Di bidang perkebunan, komoditi unggulan antara lain kemiri yang tersebar di seluruh wilayah, vanili difokuskan di Alor Selatan, jambu mente pengembangannya di Pulau Pantar dan pinang di Kecamatan ABAL dan Kabola.

Di bidang kelautan dan perikanan, memiliki kekayaan berbagai jenis ikan dan budidaya rumput laut dengan produktifitas cukup tinggi namun system pengolahan belum dilakukan secara optimal oleh masyarakat. Selain itu potensi Taman Wisata Laut Selat Pantar dan potensi wisata pantai seperti di Mali dan Sebanjar.

2. Ekonomi Makro Daerah 1) PDRB Kabupaten Alor

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan gambaran tingkat kesejahteraan penduduk suatu wilayah secara kasar dalam suatu kurun waktu dan terbagi dalam 2 bagian yakni PDRB Perkapita atas dasar harga konstan yang umumnya dipakai untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dan PDRB Perkapita atas dasar harga berlaku yang biasanya dipakai untuk mengetahui tingkat perkembangan harga pada tahun berkenan. Perkembangan PDRB Kabupaten Alor dan NTT sebagaimana terbaca pada table di bawah ini,

(10)

2) Pendapatan Perkapita

Tabel 16. Pendapatan Perkapita Kabupaten Alor.

Pada table 16 menunjukkan bahwa pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Alor relative lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan perkapita Provinsi NTT namun terus meningkat setiap tahun. Di lain sisi, pendapatan perkapita merupakan gambaran secara makro kemampuan seorang penduduk mendapat penghasilan dalam setahun namun hal ini tidak secara detail menggambarkan tingkat kesejahteraan orang per orang.

3) Ketenaga-kerjaan

Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun atau lebih) yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja. Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Alor menurut data Alor Dalam Angka 2012 sebanyak 71,45% dari seluruh penduduk usia kerja. Ini berarti bahwa sebanyak 28,55% penduduk usia kerja adalah bukan angkatan kerja atau mereka adalah penduduk yang sedang bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya.

Jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 96,47% dari total angkatan kerja atau sebesar 68,93% dari jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas. Sebanyak 3,53% dari jumlah angkatan kerja dan 0,03% dari seluruh penduduk berusia 15 tahun ke atas adalah orang yang sedang mencari kerja atau disebut juga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

(11)

atau 60,26%; 2) Sektor sekunder sebanyak 11.837 orang atau 13,96%; dan 3) Sektor tersier sebanyak 21.789 orang atau 25,69%.

2.1.7. Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah a. Pendapatan Daerah

Perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Alor selama Tahun 2010 – 2012 adalah terbaca pada tabel 17 di bawah ini.

Table 17. Target Pendapatan Daerah dan Proporsi Pendapatan Daerah

Menyimak data pada tabel mununjukan bahwa kemampuan daerah sangat rendah dan ketergantungan Pemerintah Kabupaten Alor terhadap alokasi Dana dari Pemerintah Pusat masih sangat tinggi yakni 94,88 – 95,87 %.

b. Belanja Daerah

Perkembangan Belanja Daerah Kabupaten Alor selama Tahun 2010 – 2012 adalah terbaca pada tabel di bawah ini.

Tabel 18. Target Belanja Daerah dan Proporsi Belanja Daerah.

Menyimak data pada tabel, menunjukan bahwa proporsi belanja langsung lebih kecil dari belanja tidak langsung. Alokasi belanja langsung bila dikurangi dengan pembiayaan daerah maka prosentasenya akan semakinl menurun. Kondisi ini memang tidak dapat dihindari namun diupayakan agar dengan keterbatasan fiskal, alokasi anggaran lebih proporsional dan efisien untuk kepentingan masyarakat.

c. Pembiayaan Daerah

(12)

Tabel 19. Perkembangan Pembiayaan Daerah Tahun 2010 - 2012.

Data pada tabel menunjukkan bahwa penerimaan pembiayaan bersumber dari SiLPA tahun sebelumnya. Kondisi ini menggambarkan kinerja pemerintahan selama tahun 2010 – 2012 belum optimal yang dibuktikan dengan SiLPA yang cukup besar di mana program dan kegiatan yang dilaksanakan tidak dapat terlaksana secara baik.

d. Realisasi Pendapatan Dan Belanja Daerah

Kebijakan di bidang fiscal mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap target pendapatan yang direncanakan dalam mendukung proses pembangunan. Dalam pengelolaan keuangan daerah, realisasi belanja merupakan salah satu tolok ukur kinerja penyelenggaraan kepemerintahan dalam membiayai 25 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. Realisasi belanja daerah Kabupaten Alor selama Tahun 2010 – 2012 sebagaimana terbaca pada table 20 berikut ini.

Tabel 20. Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2010 – 2012.

Sumber : Dok. Pertanggungjawaban APBD 2010 - 2012

(13)

ditetapkan dalam APBD mencapai 30 milyar. Kondisi ini akan mempengaruhi alokasi pada belanja daerah.

2.1.8. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia

Kualitas hidup manusia, secara umum diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diharapkan dapat mencapai nilai seratus. IPM mengukur pencapaian keseluruhan dari suatu daerah dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia yaitu lamanya hidup, yang diukur dari harapan hidup sejak lahir; pengetahuan/tingkat pendidikan, yang diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa (dengan bobot dua per tiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot satu pertiga) serta suatu standar hidup yang layak, diukur dengan pengeluaran perkapita dalam rupiah. IPM Kabupaten Alor Tahun 2007 - 2012 sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 21. Data IPM Kabupaten Alor, Tahun 2007 - 2012

Rata-rata lama sekolah penduduk usia sekolah di Kabupaten Alor berada pada jenjang pendidikan SMP/MTs kelas dua. Hal ini berarti masih berada di bawah target Pemerintah Pusat yang telah mencanangkan kebijakan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Duabelas Tahun. Data ini nampak juga bahwa angka buta huruf dari penduduk usia 10 tahun ke atas masih cukup tinggi yakni tahun 2010 sebesar 4,02 % dan Tahun 2011 mencapai 40,01%. Pengeluaran riil perkapita sangat dipengaruhi oleh keterbukaan lapangan kerja yang akan mempengaruhi besarnya pendapatan perkapita masyarakat; sedangkan angka harapan hidup cukup baik, namun akan berdampak negatif pada semakin tingginya angka ketergantungan hidup orang dewasa.

2.1.9. Perkembangan Indeks Kemiskinan Manusia

Variabel yang digunakan untuk mengukur Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) yaitu 1) persentase penduduk yang diperkirakan tidak mencapai usia 40

(14)

yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dan air bersih; dan 4)

persentase Balita dengan berat badan rendah atau gizi kurang. Perkembangan IKM di Kabupaten Alor Tahun 2007 - 2012, terbaca pada tabel di bawah ini.

Tabel 22. Data IPM Kabupaten Alor, Tahun 2007 - 2012

Angka buta huruf orang dewasa masih cukup tinggi sementara pembangunan USB telah menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Alor. Kecenderungan tingginya angka buta huruf pada usia 70 tahun ke atas dan atau anak usia 10 - 12 tahun yang putus sekolah. Demikian pula halnya dengan variabel IKM lainnya yang masih cukup tinggi sehingga dengan memperhatikan data dimaksud maka intervensi program dan kegiatan harus lebih difokuskan pada substansi persoalan.

2.2. Masalah-Masalah Pokok Daerah

(15)

pembangunan baik yang ditetapkan dalam MDG’s, RPJMN, RPJMD Provinsi maupun kesepakatan-kesepakatan lainnya baik pada skala Nasional maupun internasional. Beberapa permasalahan ikutan yang turut berkontribusi menimbulkan tingginya kemiskinan antara lain :

2.2.1. Masih Rendahnya Kualitas Pendidikan;

Rendahnya kualitas kualitas pendidikan menimbulkan sumberdaya manusia memiliki kualitas yang rendah sehingga tidak dapat bersaing secara global dengan perubahan di lingkungan kehidupannya. Beberapa aspek yang menjadi indicator dan masalah rendahnya kualitas pendidikan antara lain :

a) Masih tingginya angka buta huruf bagi penduduk berusia 10 tahun ke atas (Tahun 2011 mencapai 7,32 %);

b) Masih sangat rendah angka rata-rata lama sekolah penduduk di Kabupaten Alor (Tahun 2011 sebesar 8,4 tahun);

c) Masih rendahnya Angka Partisipasi Murni untuk SD 97,99%, SMP 52,20% dan SMA 78,01% untuk kondisi Tahin 2011.

d) Masih tingginya Angka Partisipasi Kasar untuk SD 112,79%, SMP 80,93% dan SMA 78,01% untuk kondisi Tahin 2011.

e) Penyebaran tenaga pendidik yang tidak merata;

Sekolah-sekolah yang berada di pedalaman mengalami kekurangan guru dan tenaga pendidik kebanyakan berada di perkotaan dan sekitarnya.

f) Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung dalam proses belajar-mengajar.

Proses belajar-mengajar di kelas tidak didukung dengan alat peraga yang memadai sehingga anak didik kurang aktif dalam proses belajar-mengajar dan penyampaian materi pembelajaran cenderung bersifat mengejar target mengajar.

g) Rendahnya jumlah alumnus SMA/SMK yang tidak dapat melanjutkan kuliah pada Perguruan Tinggi berkualitas seperti UGM, ITS, UNHAS, UI dan lain-lain walaupun UNDANA kualitasnya semakin meningkat.

Hal ini nampak pada SMPTN dengan standar nilai yang secara umum tidak dapat dipenuhi oleh lulusan SMA/SMK.

h) Belum tersedianya perpustakaan di ibukota kecamatan.

Belum tersedianya perpustakaan di kecamatan menyebabkan masyarakat/ siswa sulit mendapatkan informasi yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat.

(16)

dilakukan revitalisasi sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan dapat dicapai.

2.2.2. Masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat;

Kondisi ini ditandai dengan :

a) Masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun 2012 sebesar 59 jiwa, Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 16 jiwa dan angka gizi buruk mencapai 11,01 %;

b) Penyebaran tenaga medis dan paramedic yang tidak merata bahkan kurang/tidak tersedia di setiap Puskesmas dan jaringannya.

c) Masih tingginya persentase penduduk yang tidak akan hidup di bawah usia 40 tahun.

d) Masih tingginya angka kelahiran di desa.

e) Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung pada Rumah Sakit Umum, Puskesmas dan jaringannya.

f) Masih terbatasnya dokter ahli (dokter spesialis);

g) Masih rendahnya kualitas sanitasi di perkotaan dan perdesaan. 2.2.3. Rendahnya kualitas penyelenggaraan pemerintahan.

Kondisi ini ditandai dengan :

a) Manejemen pengelolaan keuangan dan asset daerah yang tidak tertib;

Hal ini ditandai dengan 3 kali pernyataan disclaimer of opinion oleh aparat pemeriksa keuangan dan tingginya penyimpangan penggunaan keuangan Negara yang ditandai dengan keterlibatan aparatur dalam tindakan penyalahgunaan keuangan Negara. Dalam hal ini yang diharapkan adalah bukan banyak kasus korupsi yang ditindaklanjuti ke Pengadilan TIPIKOR melainkan tindakan apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan keuangan Negara/daerah.

b) Masih rendahnya kualitas aparatur penyelenggaran Negara;

Permasalahan ini nampak pada beberapa hal diantaranya, pelayanan kepada masyarakat yang kurang memuaskan,

c) Rendahnya disiplin aparatur dalam melaksanakan tugas;

Permasalahan ini dilihat dari ketidakdisiplinan aparatur untuk taat pada jam kerja,

d) Rendahnya manejemen birokrasi;

(17)

e) Informasi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan selama ini masih bersifat tertutup sehingga tidak perlu diketahui oleh publik. f) Masih tingginya ketergantungan pembiayaan pembangunan dari Pemerintah

Daerah kepada Pemerintah Pusat;

Hal ini memang tidak dapat dihindari namun diupayakan agar kontribusi PAD dalam APBD prosentasenya harus lebih ditingkatkan dengan menemukan obyek-obyek penerimaan PAD yang baru.

2.2.4. Terbatasnya sarana dan prasarana transportasi;

Masalah ini ditandai dengan :

- Kualitas permukaan jalan belum memenuhi standar pelayanan.

- Wilayah-wilayah potensial dan strategis belum sepenuhnya terjangkau oleh moda transportasi atau alat angkut.

- Belum terbangunnya terminal pendukung di wilayah strategis.

- Pelayanan angkutan laut belum memenuhi standar keamanan dan keselamatan.

2.2.5. Rendahnya pendapatan perkapita penduduk.

Masalah ini ditandai dengan :

- Belum optimalnya pengelolaan potensi sumberdaya alam seperti bidang pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, perikanan, bahan tambang/galian dan kepariwisataan)

- Minimnya investasi pihak ketiga yang menyebabkan keterbatasan lapangan kerja.

- Kualitas tenaga kerja yang belum dapat bersaing dengan pasar/lapangan kerja;

- Masih terjadinya kebocoran wilayah yang cukup tinggi ditandai dengan antarpulau komoditi berupa bahan mentah atau belum diolah.

2.2.6. Masih rendahnya kualitas dan asesibitas masyarakat terhadap infrastruktur perumahan dan permukiman di perdesaan.

Masalah ini ditandai dengan :

- Masih tingginya jumlah rumah masyarakat yang tidak layak huni.

- Masih tingginya jumlah rumah tangga yang belum terlayani penerangan listrik.

- Masih terbatasnya sarana dan prasarana perdagangan;

- Masih terbatasnya sarana dan prasarana komunikasi dan informasi; - Masih terbatasnya jaringan irigasi dan air bersih;

- Kualitas jalan lingkungan yang sangat rendah;

2.2.7. Menurunnya kerekatan dan hubungan sosial kemasyarakatan.

(18)

- Tingkat partisipasi masyarakat pada kegiatan gotong-royong yang cenderung menurun.

- Masih sering terjadi konflik horizontal (tauran antar pemuda dan atau antar kampung/desa) yang mengganggu keamanan dan ketertiban lingkungan. - Pengaktualisasian nilai-nilai budaya yang kurang.

2.2.8. Pembangunan di wilayah perbatasan dan terpencil yang belum optimal.

Masalah ini ditandai dengan :

- Masih terisolirnya wilayah perbatasan;

- Penyediaan Infrastruktur pendukung yang belum optimal;

2.3. Isu-Isu Strategis Daerah

Isu-isu strategis merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembangunan di Kabupaten Alor. Isu dimaksud harus diolah secara baik untuk ditawarkan kepada Pemerintah Pusat atau pihak lain untuk mau bekerja sama membangun Kabupaten Alor. Isu-isu strategis dimaksud antara lain :

1. Kabupaten Alor adalah salah satu Kabupaten Perbatasan dengan Negara RDTL, yang mempunyai peluang satregis dalam pengembangan wilayah. 2. Kabupaten Alor merupakan bagian dari pulau kecil terluar dan beranda

terdepan dari NKRI sehingga dapat menjadi basis pertahanan dan pengamanan laut.

3. Kabupaten Alor merupakan sebuah kabupaten kepulauan dan memiliki potensi wisata alam bawah laut yang dapat menjadi daya tarik dan memiliki sumberdaya perikanan lainnya yang dapat diolah.

4. Kabupaten Alor merupakan salah satu kabupaten rawan bencana, yang nampak dari kejadian bencana alam berupa gempa bumi yang terjadi beberapa kali dan mengorbankan juwa dan material.

5. Kabupaten Alor memiliki potensi sumberdaya alam bahan mineral seperti emas, minyak bumi yang dapat dieksploitasi untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan daerah;

(19)
(20)
(21)

BELUM ADA DATA UNTUK DIJELASKAN

2.3.1. Infrastruktur Daerah

1. Pendidikan 2. Kesehatan

(22)

Gambar

Tabel 2. Jumlah Kecamatan, Dusun, RW dan RT
Tabel 5. Jumlah Jabatan Struktural Lingkup Pemerintah Kabupaten Alor.
Tabel 7. Angka Partisipasi Kasar Pendidikan
Tabel 11. Jumlah Kematian Ibu Menurut Sebab Kematian
+6

Referensi

Dokumen terkait

Angka status gizi kurang dan buruk pada balita di Indonesia masih relatif tinggi. Peran ibu dalam pola asuh makan dan kebiasaan makan keluarga dapat mempengaruhi status gizi

Faktor yang berpengaruh secara signifikan menurunkan prevalensi balita kurang gizi di Provinsi Jawa Timur yaitu persentase balita yang mendapatkan vitamin A, persentase bayi

Kendati saat ini di kota Yogyakarta angka kematian balita akibat gizi buruk sudah dibawah angka nasional / namun perhatian terhadap balita ini tetap diwujudkan dengan rumah

Indikator penyerapan pangan menunjukkan bahwa Angka Kematian Bayi sebesar 12,35, persentase balita yang mengalami gizi buruk adalah sebesar 0,00% (0 jiwa),

Tingginya angka persentase penduduk Indonesia dengan umur balita dan sekolah dan semakin banyak banyaknya kasus gangguan pernafasan dilihat dari penggunaan obat batuk simptomatik

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) Latar belakang di dirikannya SPG karena adanya masalah pendidikan di Indonesia antara lain tingginya angka buta huruf,

Faktor yang berpengaruh secara signifikan menurunkan prevalensi balita kurang gizi di Provinsi Jawa Timur yaitu persentase balita yang mendapatkan vitamin A, persentase bayi

Pola Spasial Data : a persentase gizi buruk balita, b persentase penduduk miskin, c persentase Berat Badan Balita Lahir Rendah, d Jumlah fasilitas kesehatan di Provinsi NTT Hasil