• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI SUMBER BELAJAR ALAM SEKITAR SISWA KELAS VII-A SMP PGRI PEJAMBON TAHUN PELAJARAN 2012/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI SUMBER BELAJAR ALAM SEKITAR SISWA KELAS VII-A SMP PGRI PEJAMBON TAHUN PELAJARAN 2012/2013"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI SUMBER BELAJAR ALAM SEKITAR

SISWA KELAS VII-A SMP PGRI PEJAMBON TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh ENDRIYANA Penelitian Tindakan Kelas

(PTK)

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

(2)

i

ABSTRAK

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI SUMBER BELAJAR ALAM SEKITAR SISWA KELAS VII-A SMP PGRI PEJAMBON

TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh

ENDRIYANA

Rendahnya kemampuan menulis puisi siswa SMP PGRI Pejambon merupakan permasalahan dalam penelitian ini. Untuk mengatasi permasalahan ini, peneliti melakukan penelitian tindakan dengan cara memanfaatkan sumber belajar alam sekitar guna meningkatkan kemampuan menulis puisi. Untuk itu, tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar, pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Kabupaten Pesawaran.

(3)

ii

Pada siklus I setiap siswa menulis puisi dengan sumber belajar alam sekitar dengan tema benda mati. Aspek yang dinilai setiap siklus adalah aktivitas siswa dan guru. Hasil evaluasi pada siklus I menunjukkan bahwa aktivitas dan prestasi belajar siswa belum optimal. Pada siklus II dalam proses pembelajaran dan latihan menulis puisi guru menggunakan sumber belajar alam sekitar dengan tema bebas. Hasil evaluasi siklus II menunjukkan prestasi belajar siswa meningkat karena sesuai dengan indikator kerja yang menyatakan penelitian tindakan kelas berhasil, jika hasil belajar mencapai kriteria ketuntasan klasikal sebesar 80%.

(4)

i

Judul PTK : Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Sumber Belajar Alam Sekitar Siswa Kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran

Tahun Pelajaran 2012/2013

Nama Mahasiswa : Endriyana

NPM : 1013106002

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI, Komisi Pembimbing

Dra. Ni Nyoman Wetty S., M.Pd. Dr. Munaris, M.Pd. NIP 195106141981032001 NIP 197008072005011001

Ketua Jurusan, Pendidikan Bahasa dan Seni

(5)

i

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Dra. Ni Nyoman Wetty S., M.Pd. ...

Sekretaris : Dr. Munaris, M.Pd. ...

Penguji

Bukan Pembimbing : Dr. Nurlaksana Eko R., M.Pd. ...

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Bujang Rahman, M.Si. NIP 19600315 198503 1 003

(6)

i

2.5 Komponen-Komponen Belajar-Mengajar ... 26

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

3.1 Prosedur Penelitian... 30

3.2 Setting Penelitian ... 31

(7)

ii

4.2 Perbandingan Hasil Pembelajaran ... 71

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya belajar bahasa Indonesia adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia, siswa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan siswa. Dengan keterampilan ini, siswa dapat berkomunikasi secara tidak langsung kepada orang lain untuk menyampaikan informasi yang berupa pesan, gagasan, keinginan, dan perasaan yang disusun dalam berbagai bentuk tulisan.

(9)

Menulis merupakan keterampilan yang harus dikuasai setiap orang melalui proses yang cukup panjang. Menulis memerlukan adanya pengetahuan, waktu dan pengalaman. Selain sebagai fasilitator dan motivator, guru juga dituntut profesional dalam menguasai materi agar siswa memahami apa yang menjadi tujuan pembelajaran dan dapat mengungkapkan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Ide-ide itu dapat digali dari berbagai sumber, misalnya dengan membaca, menyimak, atau mendengarkan pembicaraan orang lain, bahkan dari suatu bentuk yang dilihatnya.

Kegiatan menulis banyak sekali macamnya. Salah satu keterampilan menulis yang diajarkan di sekolah adalah menulis puisi. Bahkan sudah menjadi salah satu Kompetensi Dasar (KD) pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII semester genap. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sekolah menengah pertama semester 2 kelas VII, tepatnya pembelajaran dengan standar kompetensi (SK) mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui kegiatan menulis kreatif puisi, dengan Kompetensi Dasar (KD) yaitu menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam. Dengan indikator: (1) mampu menulis larik-larik puisi yang berisi keindahan alam, (2) mampu menulis puisi dengan pilihan kata yang tepat dan rima yang menarik, (3) mampu menyunting puisi yang ditulis sendiri. Dengan kompetensi ini siswa dituntut untuk memiliki keterampilan berbahasa, khususnya terampil menulis puisi.

(10)

penggambaran sesuatu. Hakikat menulis puisi merupakan hasil rekaman dari peristiwa atau gambaran objek menarik yang dituangkan melalui pikirannya ke dalam bahasa tulis.

Puisi berbeda dengan prosa. Perbedaan utama adalah pada proses penciptaan masing-masing karya sastra itu. Di dalam puisi berlangsung beberapa proses yang tidak begitu terasa di dalam prosa. Proses tersebut adalah: pertama, proses konsentrasi, kedua proses intensifikasi, dan ketiga proses pengimajian (imagery), (Esten, 1995: 31).

Realitanya pembelajaran bahasa Indonesia di SMP selama ini belum mendapat respon yang positif dari siswa pada umumnya, khususnya siswa SMP PGRI Pejambon Pesawaran, lebih-lebih pada kompetensi menulis puisi. Hal ini dibuktikan oleh hasil ulangan harian siswa, kemampuan siswa menulis puisi masih rendah, lebih dari 80% siswa tidak mampu menulis puisi dan mendapat nilai di bawah KKM sekolah tersebut, yaitu 65,00. Dari 29 siswa hanya 2 siswa yang memiliki tingkat kemampuan baik, dengan persentase 6,25%, 5 siswa memiliki tingkat kemampuan sedang dengan persentase 15,62%, 12 siswa memiliki tingkat kemampuan kurang dengan persentase 46,87%, dan 31,25% siswa memiliki tingkat kemampuan sangat kurang yang terdiri dari 10 siswa. Hasil tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1.1 Sebaran Nilai Hasil Ulangan Harian Menulis Puisi Siswa Kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran

Interval Jumlah Siswa Persentase (%) Kategori

85 - 100 - - Baik sekali

75 - 84 2 6,25 Baik

60 - 74 5 15,62 Sedang 40 - 59 12 46,87 Kurang

0 - 39 10 31,25 Sangat Kurang

(11)

Dalam pembelajaran penulisan puisi banyak dijumpai siswa kesulitan dalam menemukan ide atau gagasan yang harus dituangkan di dalam puisi mereka. Penyebab kesulitan dalam menemukan ide atau gagasan salah satunya disebabkan oleh guru, dalam pembelajaran yaitu dengan menggunakan buku sebagai satu-satunya sumber belajar sehingga siswa akan merasakan jenuh dan bosan. Pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai. Peranan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tidaklah mudah. Guru harus memiliki berbagai sumber pembelajaran yang dapat menunjang tugasnya agar tujuan pendidikan dapat dicapai. Di dalam proses pembelajaran guru harus memiliki sumber belajar agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Pembelajaran akan berlangsung dengan efektif dan efesien apabila didukung dengan kemahiran guru memanfaatkan berbagai sumber belajar.

Dengan strategi pembelajaran dan sumber belajar yang tepat maka proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Berlangsungnya proses pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran, sumber, dan sarana belajar (Amri dan Ahmadi, 2010: 14).

(12)

pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya. Model pembelajaran alam sekitar ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran oleh para anak didik dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat di luar kelas atau lingkungan kehidupan nyata, agar siswa dapat mengamati atau mengalami langsung. Dalam pembelajaran puisi yang termudah, salah satunya menggunakan pengamatan lingkungan yang dapat dilakukan di sekitar sekolah masing-masing dan tanpa mengeluarkan biaya yang banyak, di samping itu waktu yang dibutuhkan efisien secukupnya. Lingkungan sebagai media pengajaran, pada dasarnya memvisualkan fakta gagasan, kejadian, peristiwa dalam sebenarnya. Pengamatan langsung terhadap alam sekitar dapat membuat setiap siswa lebih tertarik kepada pelajaran yang disajikan sehingga siswa lebih mudah dalam mengembangkan ide-idenya dalam menulis puisi.

Berdasarkan uraian di atas akan dilakukan penelitian dengan judul “ Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Sumber Belajar Alam Sekitar Pada Siswa Kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran Tahun Pelajaran 2012/2013”.

1.2 Perumusan Masalah

Bertolak dari uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini ada dua yakni secara umum dan secara khusus. Rumusan masalah secara umum adalah sebagai

(13)

Selanjutnya, secara lebih rinci rumusan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Bagaimanakah perencanaan pelaksanaan peningkatan kemampuan menulis

puisi melalui sumber belajar alam sekitar pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013?

2. Bagaimanakah pelaksanaan peningkatan kemampuan menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013?

3. Bagaimanakah penilaian hasil peningkatan kemampuan menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013?

1.3 Tujuan Penelitian Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua, yakni khusus dan umum. Tujuan umum penelitian tindakan ini adalah mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013.

Selanjutnya tujuan umum dijabarkan secara lebih khusus, yaitu:

1.mendeskripsikan peningkatan perencanaan kemampuan menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013?

(14)

3. mendeskripsikan peningkatan penilaian hasil kemampuan menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar pada siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013?

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis sebagai berikut. 1. Siswa

Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap pembelajaran menulis puisi sehingga siswa lebih bersemangat, menumbuhkan percaya diri dalam menggali kemampuan dan dapat menciptakan suasana belajar yang menarik, tidak membosankan, siswa menjadi aktif dan inovatif dalam pembelajaran menulis puisi.

2. Guru

Sebagai sumbangan pertimbangan bagi guru untuk memilih, mengombinasikan, dan menerapkan teknik pengamatan alam sekitar sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. 3. Sekolah

(15)

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kemampuan

Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan, kita berupaya mengerjakan pekerjaan itu sendiri (Depdiknas, 2005: 399). Kemampuan adalah kesanggupan individual dalam mempelajari mata pelajaran (Djamarah, 2010: 181). Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, keuletan, dalam mengung-kapkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya (Poerwadarminta, 1986: 629).

Dari berbagai pendapat di atas, penulis mengacu pada pendapat Poerwadarminta yang mengemukakan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, keuletan dalam mengungkapkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

2.2 Menulis Puisi

(16)

2.2.1 Pengertian Menulis Puisi

Menulis sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya (Suparno dan Yunus, 2008: 1.3). Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Adapun tulisan merupakan simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Menurut Santosa (2009: 6.14), menulis dapat dianggap sebagai proses ataupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan.

Puisi merupakan eskpresi pengalaman batin (jiwa) Penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya dalam bentuk teks (Zulfahnur, 1998: 79-80). Puisi merupakan salah satu bentuk hasil pengungkapan perasaan manusia berdasarkan nilai keindahan dan kesopanan (Astuti dan Krisnawati, 2008: 3). Puisi adalah buah pikiran, perasaan, dan pengalaman penyair yang diekspresikan dengan media bahasa yang khas dan unik (Suliani, 2009: 45). Woorworth dalam Aminudin (2009: 1) mendefinisikan puisi sebagai pernyataan perasaan imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.

Dari beberapa pendapat tersebut, menulis puisi adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman yang diekspresikan dengan media bahasa tulis yang khas dan unik.

2.2.2 Jenis-Jenis Puisi

(17)

persamaan bunyi (rima). Adapun puisi baru merupakan bentuk-bentuk puisi yang lebih variatif daripada puisi lama, tetapi masih terikat dari segi jumlah barisnya.

a. Puisi Lama

Pantun merupakan puisi asli Indonesia. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki tradisi berpantun. Semua bentu pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut (Aminudin, 2010: 8).

Puisi lama yang satu bait terdiri dari empat baris, setiap baris biasanya terdiri dari empat kata, memiliki persamaan bunyi akhir (rima) a-b-a-b, baris pertama dan kedua berupa sampiran (tumpuan, pengantar) saja, sedangkan baris ketiga dan keempat berupa isi (maksud). Puisi seperti ini disebut pantun. Puisi lama yang satu bait terdiri dari empat baris, setiap barisnya biasanya terdiri dari empat kata, memiliki persamaan bunyi akhir (rima) yang sama, (a-a-a-a) semua baris berupa isi disebut sebagai syair. Puisi lama yang lebih singkat daripada pantun disebut gurindam. Gurindam satu bait terdiri dari dua baris, setiap barisnya biasanya terdiri dari empat kata, memiliki persamaan bunyi akhir (rima) yang sama (a-a) dan selalu berisi nasihat (Astuti dan Krisnawati, 2008: 5--6).

b. Puisi Baru

(18)

1.Puisi cerita: pikiran kita lebih ditujukan pada cerita puisi. a) Epik

b) Balada

c) Drama bersajak

d) Kisah bersajak (matrical tales)

2. Puisi liris:

a. Ode : puisi berisi pujian yang ditujukan kepada seseorang (tokoh), bangsa, atau perbuatan manusia.

b. Hymne : puisi berisi pujian yang ditujukan kepada Tuhan. c. Elegi : puisi berisi duka nestapa (ratapan).

d. Epigram : puisi serba ringkas.

e. Satire : puisi berisi kecaman, ejekan dengan sindiran kasar. f. Roman : puisi berisi kasih mesra, cinta kasih.

g. Balada : puisi berisi melukiskan suatu cerita atau kisah hidup.

2.3.3 Unsur-Unsur Puisi

(19)

Tema merupakan ide pokok yang menjiwai keseluruhan isi puisi yang mencerminkan persoalan kehidupan manusia, alam sekitar dan dunia metafisis, yang diangkat penyair dari objek seninya (Zulfahnur, 1998: 81). Tema merupakan dasar, pokok, atau landasan puisi (Astuti dan Krisnawati, 2008: 100). Contoh tema yang banyak terdapat dalam puisi adalah tema ketuhanan (religius), kemanusiaan, cinta, patriotisme, perjuangan, kegagalan hidup, alam, keadilan, kritik sosial, demoktasi, dan kesetiakawanan.

2) Diksi

Dalam puisi kata-kata sangat besar peranannya. Setiap kata mempunyai fungsi tertentu dalam menyampaikan ide penyairnya. Diksi merupakan pilihan kata yang dipergunakan penyair dalam membangun puisinya (Zulfahnur, 1998: 82). Penggunaan kata-kata yang tepat oleh penyair akan menunjukkan kemampuan intelektualnya dalam melukiskan sesuatu. Kata telah dipilih, dipikirkan, dan ditempatkan dengan tepat sehingga dapat menimbulkan kesan mendalam, menimbulkan rasa indah, serta mampu menggugah pembaca atau pendengar yang menikmatinya.

Contoh:

Semberono Bukan aku ta’tahu

Bahwa lereng ngarai itu curam Dan rintis di situ sempit serta lincir

Bila terpeleset kakiku Tubuh ini tiada berguna lagi Rangka hidup menunggu mati... Tapi aku orang semberono

Bermain bersenda dengan neraka! Kurangkum neraka bermulut api Kuterjang sekali segala ajaran suci

(20)

Pada puisi di atas pengarang memilih kata sembe sebagai judul puisi bukan tanpa alasan. Kata “semberono” dari bahasa jawa yang berarti kurang hati-hati, gegabah, atau tidak dipikirkan baik-baik. Kalau kita cermati, puisi “semberono” menyampaikan kesengajaan penyair menerjang ajaran suci.

3) Pengimajian(citraan)

Pengimajian dapat memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, membuat hidup (lebih hidup) gambaran dalam pikiran, dan penginderaan untuk menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair, menggunakan gambaran-gambaran angan. Jadi citraan/imaji adalah gambaran angan (abstrak) yang dihadirkan menjadi sesuatu yang kongkritdalam tatanan kata-kata puisi (Zulfahnur, 1998: 81). Citraan dalam puisi dibedakan menjadi tiga, yakni citraan yang berhubungan dengan penglihatan, pendengaran, dan rabaan.

Contoh:

Citraan penglihatan : Kita adalahmanusia bermata kuyu

Menangkapsunyi padang senja

Citraan rabaan :Dunia tambah beku

Dia masihsangat muda

Citraan pendengaran : Dan seribu pengerassuara yang hampa suara

Dansuara menderu

4) Amanat

(21)

pengarang untuk pembaca. Sebuah pesan yang ingin disampaikan penyair pada pembaca disebut amanat puisi (Zulfahnur, 1998: 81). Untuk dapat menyimak pesan-pesan penyair didalam puisinya pembaca mestilah dapat menangkap dan memahami makna lugas dan makna utuh dari puisi.

Makna lugas merupakan makna yang sebenarnya dari kata-kata yang tersurat (eksplisit) di dalam puisi. Makna utuh ialah makna makna keseluruhan dari puisi. Makna utuh dapat berupa pesan-pesan (seperti nilai-nilai kemanusiaan, moral, ide dan gagasan).

Contoh.

Kebersihan

Kebersihan adalah bagian dari iman Dan jika lingkungan bersih, terlihat indah Tetapi, tidak banyak orang yang menyadari Betapa pentingnya kebersihan

Mengapa orang tidak menyadari

Dan selalu membuang sampah sembarangan? Padahal di mana-mana ada tempat sampah Kapan kotaku akan bersih?

Annisa Indria

Amanat puisi dapat disampaikan secara langsung dan tidak langsung. Amanat pada puisi di atas disampaikan secara langsung dan tidak langsung. Amanat atau pesan ini sengaja disampaikan oleh pengarang untuk pembaca. Kita diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan, pesan ini secara langsung disampaikan pada puisi di atas.

5) Gaya Bahasa

(22)

plastis bahasa. Beberapa gaya bahasa yang sering dijumpai dalam puisi yaitu perumpamaan, metafora, personifikasi, dan hiprerbola.

a. Perumpamaan

Perumpamaan merupakan gaya yang menggunakan perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan, tetapi sengaja dianggap sama. Dalam hal perumpamaan biasanya digunakan kata-kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, danlaksana.

b. Metafora

Metafora merupakan gaya perbandingan yang implisit tanpa kata pembanding seperti atau sebagai di antara dua hal yang berbeda.

c. Personifikasi

Personifikasi atau penginsanan merupakan gaya yang menggunakan sifat-sifat insani (manusia) dilekatkan pada benda yang tidak bernyawa. Personifikasi dapat pula diartikan sebagai majas yang memperorangkan benda mati.

d. Hiperbola

Hiperbola merupakan gaya yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukuranya, atau sifatnya. Maksud uraian ini memberi penekanan pada pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan, dan pengaruhnya.

2.3.4 Langkah-Langkah Menulis Puisi

(23)

proses intensifikasi,dan ketigaproses pengimajian (imagery).

Di dalam proses konsentrasi segenap unsur puisi, dipusatkan kepada satu permasalahan atau kesan tertentu. Di dalam proses intensifikasi unsur-unsur puisi itu berusaha menjangkau permasalahan atau hal yang lebih mendalam atau mendasar. Proses pengimajian (imagery) adalah segenap unsur puisi berfungsi menciptakan atau membangun suatu imaji atau citra tertentu. Bunyi dan rima, hubungan satu lirik (baris) dengan lirik yang lain atau satu bait yang lain, dan pilihan kata, semuanya berfungsi membangun imaji atau gambaran tertentu yang dikesankan oleh penulis.

Menurut Astuti dan Krisnawati (2008: 25), langkah-langkah menulis puisi adalah 1. menentukan tema,

2. memilih kata,

3. memilih gaya bahasa,

4. menentukan cara pengungkapan, 5. menentukan imaji atau daya bayang, 6. menyusun baris menjadi bait,

7. memeriksa lagi penggunaan kata dan gaya bahasa, serta 8. memberi judul.

1. Menentukan tema puisi

Memilih tema dapat dilakukan dengan cara:

(24)

- mencatat semua kenginan kita, baik yang sudah tercapai maupun yang baru diusahakan,

- mencatat semua peristiwa yang berkesan (baik yang menyenangkan maupun yang tidak) yang pernah kita alami atau pernah kita lihat dan kita dengar,

- mencatat semua harapan atau cita-cita kita.

2. Memilih kata

Mendaftar kata yang berhubungan dekat dengan tema yang sudah kita pilih. Kata yang bermakna sama atau sinonim (contoh harum-wangi, senang-bahagia, susah-sedih), lawan kata (suka-duka, tua-muda, siang-malam), kata yang bunyinya mirip (serang, terjang), jenis warna (putih, merah, hitam), jenis-jenis rasa (manis, pahit, getir, asam), jenis-jenis-jenis-jenis rabaan (empuk, keras, kasar), benda-benda di sekitar objek puisi (rumah, halaman, komputer, jam dinding, gunung, sungai).

3. Memilih gaya bahasa

Gaya bahasa yang dipilih adalah gaya bahasa yang dikuasai dan pas dengan maksud kita. Apabila kita tidak suka dengn gaya bahasa jangan memaksakan diri untuk memilih, tanpa gaya bahasa pun puisi dapat juga terkesan indah.

4. Menentukan imaji atau daya bayang

(25)

Menyusun baris-baris puisi secara bebas tidak terikat oleh bentu-bentuk yang sudah ada. Kita diberi kebebasan dalam menyusun baris puisi secara lurus, zig-zak, atau satu menjorok yang lain menonjol, dan sebagainya.

6. Memeriksa lagi penggunaan kata dan gaya bahasa

Setelah bait puisi tersusun rapi, kita perlu memeriksa kembali penggunaan kata-kata dan gaya bahasanya. Misalnya, apakah kata-kata yang kita gunakan telah sesuai? Apakah gaya bahasa yang digunakan telah tepat? Pemeriksaan ini bertujuan agar tidak ada kesalahan dalam membuat puisi.

7. memberi judul.

Judul puisi boleh ditentukan dari awal penulisan puisi, tetapi boleh juga ditentukan sesudah puisi tersusun sebagai sebuah puisi. Judul puisi haruslah mencerminkan isi puisi secara keseluruhan. Bacalah berulang-ulang puisi yang kita buat dan periksalah apakah judul itu sudah tepat atau perlu diganti.

2.3 Sumber Belajar

(26)

merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).

2.3.1 Kategori Sumber Belajar

Menurut Hermawan (2008: 11.22), sumber belajar dapat dikategorikan ke dalam enam jenis, yaitu 1) pesan (message), 2) orang (people), 3) bahan (materials), 4) alat dan peralatan (tools and equipment), 5) teknik (tecnique), dan 6) lingkungan (setting).

1. Pesan (message) adalah segala informasi dalam bentuk ide, fakta, dan data yang disampaikan kepada siswa.

2. Orang (people) adalah manusia yang berperan sebagai penyaji dan pengolah pesan seperti guru atau narasumber, yang dilibatkan dalam kegiatan belajar.

3. Bahan (materials) adalah software atau perangkat lunak yang berisi pesan-pesan pembelajaran.

4. Alat dan peralatan (tools and equipment) adalahhardware atau perangkat keras, yang digunakan untuk menyampaikan pesan.

5. Teknik (tecnique) adalah prosedur yang dipakai untuk menyajikan pesan. 6. Lingkungan (setting) adalah kondisi dan situasi di mana kegiatan

pembelajaran itu terjadi.

(27)

mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah: a. manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat), b. buku/perpustakaan,

c. mass media (majalah, surat kabar, radio, tv, dan lain-lain), d. dalam lingkungan,

e. alat pengajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol, dan lain-lain),

f. museum (tempat penyimpanan benda-benda kuno).

Selanjutnya, Sudirman dalam Djamarah (2010: 49) mengemukakan macam-macam sumber belajar sebagai berikut:

a. manusia (people), b. bahan (materials), c. lingkungan (setting),

d. alat dan perlengkapan (tool and equipment), e. aktivitas (activities).

(28)

awalnya sumber belajar tersebut tidak dimaksudkan secara khusus untuk kepentingan pembelajaran, misalnya tokoh masyarakat, sekolah lain yang dianggap lebih maju dari sekolah kita, acara TV/radio.

2.3.2 Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Lingkungan adalah kondisi dan situasi di mana kegiatan pembelajaran itu terjadi (Hermawan, 2008: 11.22). Lingkungan meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan ataulife processes kita kecuali gen, Sartain dalam Djaelani (2011: 106). Menurut Djaelani (2011: 68), adapun macam-macam lingkungan (tempat) pendidikan itu ialah:

1. lingkungan keluarga, 2. lingkungan sekolah, 3. lingkungan kampung,

4. lingkungan perkumpulan pemuda, 5. lingkungan negara, dan sebagainya.

Dari kelima macam lingkungan tersebut digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu:

a. lingkungan keluarga, yang disebut lingkungan pertama: b. lingkungan sekolah, yang disebut juga lingkungan kedua; dan c. lingkungan masyarakat, yang disebut juga lingkungan ketiga.

(29)

dalam masyarakat modern, anak-anak tidak cukup hanya menerima pendidikan dan pengajaran dari keluarga saja. Maka dari itulah, masyarakat atau negara mendirikan sekolah-sekolah.

2.3.3 Model Pembelajaran Alam Sekitar

Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan alam sekitarnya adalah gerakan pembelajaran alam sekitar, perintis gerakan ini antara lain adalah Fr. Finger dan J. Ligthart. Menurut Fr. Finger dalam Sagala (2003: 180), beberapa prinsip pembelajaran alam sekitar (heimatkunde) adalah

1. dengan pembelajaran alam sekitar itu, guru dapat memperagakan secara langsung sesuai dengan sifat-sifat atau dasar-dasar pembelajaran;

2. pembelajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-sebanyaknya agar anak aktif atau giat tidak hanya duduk, dengar, dan catat saja; dan

3. pembelajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pembelajaran totalitas, yaitu suatu bentuk dengan ciri-ciri:

a. suatu pembelajaran yang tidak mengenai pembagian mata pelajaran dalam daftar pelajaran, tetapi guru memahami tujuan pembelajaran dan mengarahkan usahanya untuk mencapai tujuan,

b. suatu pembelajaran yang menarik minat, karena segala sesuatu dipusatkan atas suatu bahan pembelajaran yang menarik perhatian anak dan diambilkan dari alam sekitarnya, dan

(30)

4. pembelajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalitas; dan

5. pembelajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karena alam sekitar mempunyai ikatan emosional dengan anak.

Selanjutnya, J. Lighart dalam Sagala (2003: 181) mengemukakan pegangan dalam pembelajaran alam sekitar (Het Volle Leven) yaitu:

1. anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar namanya;

2. pembelajaran sesungguhnya harus mendasarkan pada pembelajaran selanjutnya atau mata pelajaran yang lain harus dipusatkan atas pembelajaran itu; dan 3. haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya kesemua jurusan,

agar murid paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya.

2.4 Aktivitas Belajar

(31)

terbatas pada mendengarkan, mencatat, menjawab pertanyaan jika diberi pertanyaan guru, menurut cara yang ditentukan guru, dan berpikir sesuai dengan yang digariskan guru.

Sardiman (2006: 96) menerangkan bahwa seorang anak itu berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berpikir. Karena itu, agar anak berpikir sendiri maka harus diberi kesempatan untuk beraktivitas. Aktivitas belajar memiliki arti luas yang meliputi aktivitas fisik (jasmani) dan aktivitas mental (rohani). Aktivitas fisik seperti mengerjakan sesuatu, menyusun inti sari pelajaran, membuat peta dan lain-lain memerlukan gerakan anggota badan, sedangkan aktivitas mental misalnya siswa dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berpikir kritis, kemampuan menganalisis, kemampuan mengucapkan pengetahuan atau dengan kata lain jika jiwanya bekerja atau berfungsi dalam proses pembelajaran.

Kemudian Sardiman (2006: 101) menggolongkan aktivitas belajar berdasarkan pendapat Denrick dalam delapan golongan dan diuraikan seperti dibawah ini. 1. Aktivitas visual (visual activities), seperti: membaca, memperhatikan gambar

demonstrasi, memperhatikan orang bekerja.

2. Aktivitas lisan (oral activities), seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.

(32)

4. Aktivitas menulis (writing activities), seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.

5. Aktivitas menggambar (drawing activities), misalnya: menggambar, membuat grafik, peta dan diagram.

6. Aktvitas motorik (motor activities), yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, berternak.

7. Aktivitas mental (mental activities), sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.

8. Aktivitas emosi (emotional activities), misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Dari delapan golongan aktivitas belajar berdasarkan pendapat Sardiman di atas, aktivitas yang dapat menunjang siswa dalam menulis puisi melalui teknik pengamatan dan selanjutnya akan dipakai sebagai observasi proses aktivitas siswa, peneliti mengacu pada aktivitas sebagai berikut.

1. Aktivitas visual, siswa memperhatikan keindahan lingkungan alam sekitar atau lingkungan sekolah.

2. Aktivitas lisan, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, baik kepada guru maupun sesama teman.

3. Aktivitas mendengarkan, contohnya: mendengarkan uraian atau penjelasan guru serta tanya jawab baik kepada guru maupun teman.

(33)

diamati, bersemangat dalam belajar atau mengamati objek keindahan lingkungan alam sekitar.

2.5 Komponen-Komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode,alat dan sumber, serta evaluasi (Djamarah dan Zain, 2010: 41). Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tujuan

Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Dengan perkataan lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan evaluasi. Menurut Roestiyah dalam Djamarah (2010: 42), mengatakan bahwa tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar suatu proses dari pegajaran itu sendiri.

2. Bahan Pelajaran

(34)

untuk tujuan pengajaran (Sudirman dalam Djamarah, 2010: 43). Bahan pelajaran menurut Arikunto dalam Djamarah (2010: 43), merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik.

3. Kegiatan Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu aspek biologis, intelektual, dan psikologis (Djamarah, 2010: 45).

4. Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Djamarah, 2010: 46).

5. Alat

(35)

(Marimba dalam Djamrah, 2010: 47).

Alat dapat dibagi dua macam, yaitu alat dan alat bantu pembelajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu pembelajaran adalah berupa globe, papan tulis, gambar, diagram, slide, video, dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan menjadi alat material dan nonmaterial.

6. Sumber Pelajaran

Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar sesorang (Winataputra dalam Djamarah, 2010: 48). Dengan demikian, sumber belajar itu merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).

Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat di mana-mana: di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pembelajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya (Sudirman dalam Djamarah, 2010: 48).

7. Evaluasi

(36)

dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini mengikuti tahap-tahap penelitian tindakan kelas yang terdiri atas pengamatan, pendahuluan/perencanan, dan pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan terdiri atas beberapa siklus. Tahap-tahap penelitian dalam masing-masing tindakan terjadi secara berulang yang akhirnya menghasilkan beberapa tindakan dalam penelitian tindakan kelas. Tahap-tahapan tersebut membentuk spiral.

Kegiatan pertama penelitian adalah menemukan masalah dan berupaya mencari solusi berupa perencanaan dilanjutkan dengan tindakan yang telah direncanakan disertai dengan observasi kemudian refleksi melalui diskusi antara peneliti, peneliti dan siswa (jika diperlukan) sehingga menghasilkan perbaikkan untuk tindakan selanjutnya pada siklus-siklus berikutnya.

(38)

Tindakan penelitian yang bersifat spiral tersebut dapat digambarkan siklus model Hopkins dalam Muslich (2011: 150).

Plan

Reflective

Action/

Observation

Reflective

Revised

Plan

Action/

Observation

Reflective

Revised

Plan

Action/

Observation

Gambar 3.1 Siklus model Hopkins dalam Muslich (2011: 150) 3.2 Setting Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

(39)

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran bahasa Indonesia di kelas VII dan berlangsung hingga mencapai indikator yang telah ditentukan.

3.2.3 Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah guru dan siswa kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Pesawaran tahun pelajaran 2012/2013 berjumlah 29 orang, yang terdiri atas 13 laki-laki dan 16 perempuan.

3.3 Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan menulis puisi pada siswa yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes tertulis disetiap akhir siklus dan ketuntasan klasikal mencapai 80% siswa mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang berlaku di sekolah, yaitu 65,00.

3.4 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian menekankan pada perbaikan proses pembelajaran yang dilaksanakan seiring dengan kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan di sekolah.

3.4.1 Perencanaan

Pada tahap ini langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

(40)

2) Menyusun rancana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 3) Membuat instrument penelitian dalam menulis puisi.

4) Menentukan model pembelajaran yang tepat dalam menulis puisi.

3.4.2 Tindakan

a. Pembelajaran Siklus 1 Pertemuan Pertama

1. Kegiatan Awal

a) Guru mengondisikan kelas.

b) Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

c) Guru mengadakan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.

2. Kegiatan Inti

a) Guru membacakan sebuah puisi bertema lingkungan sekolah depan kelas. b) Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang pengertian menulis puisi. c) Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang jenis-jenis puisi

d) Guru menjelaskan tentang unsur-unsur puisi. e) Siswa keluar kelas

f) Siswa mengamati lingkungan sekolah dengan seksama.

g) Siswa bersama-sama dengan bimbingan guru berusaha menulis puisi berdasarkan pengamatan.

h) Guru menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis puisi. 3. Kegiatan Akhir

(41)

1. Kegiatan Awal

a) Guru mengondisikan kelas.

b) Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

c) Guru mengadakan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.

2. Kegiatan Inti

a) Guru mengajak siswa keluar kelas untuk mengamati lingkungan alam sekitar sekolah.

b) Guru menjelaskan kepada siswa apa yang harus mereka lakukan. c) Siswa keluar kelas dengan bimbingan guru

d) Siswa mengamati lingkungan alam sekitar sekolah dengan bimbingan guru e) Guru meminta siswa menulis puisi berdasarkan pengamatan mereka

terhadap lingkungan alam sekitar sekolah.

f) Siswa kembali ke kelas dan mengumpulkan hasil pekerjaannya. 3. Kegiatan Akhir

Guru dan siswa melakukan refleksi hasil pembelajaran menulis puisi.

3.4.3 Observasi

(42)

3.4.4 Refleksi

Hasil yang didapat dari tahap pelaksanaan dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini. Dari hasil observasi, guru merefleksi diri apakah kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar siswa beserta kendala yang dihadapi. Hasil analisis data yang dilaksanakan ini digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus kedua dan rencana perbaikan tindakan untuk siklus kedua.

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Lembar rubrik yang akan digunakan sebagai kumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yang disesuaikan dengan sifat data yang diambi adalah sebagai berikut.

3.5.1 Instrumen Penilaian RPP

Tabel 3.1 Instrumen Penilaian Perencanaan pembelajaran (IPPP)

No Aspek yang dinilai Skor

1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan perilaku hasil belajar)

1 2 3 4 5 2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik

peserta didik)

1 2 3 4 5 3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika materi dan

kesesuaian dengan alokasi waktu)

1 2 3 4 5 4. Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan,

materi, dan karakteristik peserta didik

1 2 3 4 5 5. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan

pembelajaran: awal, inti, dan penutup)

1 2 3 4 5 6. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin

strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap)

1 2 3 4 5 7. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 5 8. Kelengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5

(43)

Data aktivitas guru diperoleh dari lembar observasi yang diamati selama kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia melalui metode pengamatan berlangsung di sekolah.

Table 3.2 Instrumen Proses Pembelajaran oleh Guru

No Aspek Skor

1 2 3 4 5

I PRAPEMBELAJARAN

1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 2. Melakukan kegiatan apersepsi

II KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN A Penguasaan Materi Pembelajaran

3.Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 4.Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan

5.Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hirarki belajar dan karakteristik siswa 6.Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan B Pendekatan/Strategi Pembelajaran

7.Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa

13.Menggunakan media secara efektif dan efesien 14.Menghasilkan pesan yang menarik

15.Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media D Pembelajaran yang Memicu dan Memilihara

Keterlibatan Siswa

16.Menumbuhkan partisipasi siswa dalam pembelajaran

(44)

18.Menumbuhkan kerjasama dan antusiasme siswa dalam belajar

E Penilaian Proses dan Hasil Belajar

19.Memantau kemajuan belajar selama proses 20.Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan)

F Penggunaan Bahasa

21.Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar

22.Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai

III PENUTUP

23.Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa

24.Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remedial/pengayaan

Jumlah

3.5.3 Instrumen Observasi Siswa

Data aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi yang diamati selama kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia melalui teknik pelatihan berlangsung di sekolah. Tabel 3.3 Instrumen Aktivitas Siswa

(45)

2. Aktivitas Lisan

Ada 1-3 siswa yang tidak bertanya dan mengeluarkan pendapat.

Ada 4-6 siswa yang tidak bertanya dan mengeluarkan pendapat.

Ada 7-9 siswa yang tidak bertanya dan mengeluarkan pendapat.

Ada >10 siswa yang tidak bertanya dan mengeluarkan pendapat.

Semua siswa terlihat fokus mendengarkan penjelasan guru.

Ada 1-3 siswa yang tidak fokus mendengarkan penjelasan guru.

Ada 4-6 siswa yang tidak fokus mendengarkan penjelasan guru.

Ada 7-9 siswa yang tidak fokus mendengarkan penjelasan guru.

Ada >10 siswa yang tidak fokus mendengarkan penjelasan guru.

Semua siswa terlihat mandiri dalam menulis puisi.

Ada 1-3 siswa yang tidak mandiri dalam menulis puisi.

Ada 4-6 siswa yang tidak mandiri dalam menulis puisi.

Ada 7-9 siswa yang tidak mandiri dalam menulis puisi.

Ada >10 siswa yang tidak mandiri dalam menulis puisi.

Ada 1-3 siswa yang tidak berminat/antusias.

Ada 4-6 siswa yang tidak berminat/antusias.

Ada 7-9 siswa yang tidak berminat/antusias.

Ada >10 siswa yang tidak berminat/antusias.

(46)

3.5.4 Instrumen Penilaian Kegiatan Menulis Puisi Tabel 3.4 Instrumen Penilaian Kemampuan Menulis Puisi

No Indikator Deskripsi Penilaian Skor Skor

Maksimal 1 Judul Judul puisi sangat sesuai dengan isi

puisi. Judul provokatif dan singkat. Judul puisi sesuai dengan isi puisi. Judul provokatif dan singkat.

Judul puisi kurang sesuai dengan isi puisi. Judul kurang provokatif namun singkat.

Judul puisi tidak sesuai dengan isi puisi. Judul tidak provokatif dan panjang.

2 Tema Tema menunjukkan gagasan atau ide tentang tema yang dipilih dan selaras dengan unsur-unsur lain.

Tema hampir menunjukkan gagasan atau ide tentang tema yang dipilih dan selaras dengan unsur-unsur lain. Tema cukup menunjukkan gagasan atau ide tentang tema yang dipilih dan selaras dengan unsur-unsur lain.

Tema kurang menunjukkan gagasan atau ide tentang tema yang dipilih dan selaras dengan unsur-unsur lain

Tema tidak menunjukkan gagasan atau ide tentang tema yang dipilih dan selaras dengan unsur-unsur lain

3 Amanat Amanat tersurat dengan sangat jelas melalui kata-kata yang disusun dalam baris dan didukung keserasian tema yang ditentukan atau dipilih.

(47)

Amanat tersurat dengan jelas melalui kata-kata yang disusun dalam baris tetapi kurang didukung oleh keserasian tema yang ditentukan atau dipilih. Amanat tersurat cukup jelas, cukup memperhatikan kata-kata yang disusun dalam baris, kurang didukung

keserasian tema tertentu yang telah ditentukan/dipilih.

Amanat tersurat kurang jelas, kurang memperhatikan kata-kata yang disusun dalam baris, kurang didukung

keserasian tema tertentu yang telah dipilih.

Tidak tersurat amanat dengan jelas, tidak memperhatikan kata-kata yang disusun dalam baris, kurang didukung keserasian tema yang dipilih.

4

3

2

1

4 Diksi Memilih kata dengan sangat tepat, sesuai dengan urutannya, dan didukung keserasian amanat dan tema yang telah dipilih/ ditentukan.

Memilih kata dengan tepat, sesuai dengan urutannya, tetapi kurang didukung keserasian amanat dan tema yang telah dipilih.

Memilih kata cukup tepat, cukup sesuai dengan urutannya, dan cukup didukung keserasian amanat dan tema yang telah dipilih.

Memilih kata kurang tepat, kurang sesuai dengan urutannya, dan kurang didukung keserasian amanat dan tema yang telah dipilih.

(48)

5 Rima Rima menimbulkan irama yang sangat merdu, sehingga memberi kesan estetik pada pendengaran dan perasaan.

Rima menimbulkan irama yang merdu, sehingga memberi kesan estetik pada pendengaran dan perasaan.

Rima menimbulkan irama cukup merdu, sehingga memberi kesan cukup estetik pada pendengaran dan perasaan. Rima menimbulkan irama yang kurang merdu, sehingga memberi kesan kurang estetik pada pendengaran dan perasaan. Rima menimbulkan irama yang tidak merdu, sehingga memberi kesan tidak estetik pada pendengaran dan perasaan.

5

Nilai setiap aspek yang teramati dikonversikan dengan pedoman Nurgiyantoro (1987: 211): Kriteria A, nilai 85%-100% dengan predikat baik sekali. Kriteria B, nilai 75%-84% dengan predikat baik. Kriteria C, nilai 60%-74% dengan predikat cukup.Kriteria D, nilai 40%-59% dengan predikat kurang. Kriteria E, nilai 0%-39 dengan predikat gagal.

3.6 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. membaca dan menskor setiap lembar hasil pekerjaan siswa peraspek

( judul, tema, amanat, diksi, dan rima ). 2. menjumlah skor secara utuh.

(49)

pengamatan.

5. menghitung rata-rata kemampuan siswa menulis puisi melalui teknik pengamatan dengan rumus.

Nilai Akhir (NA) = Skor yang diperoleh

Skor Maksimal X Skor Ideal (100)

6. Menentukan tingkat kemampuan siswa berdasarkan tolok ukur yang digunakan.

Tabel 3.4 Tolok Ukur Kemampuan Menulis puisi Melalui Teknik Pengamatan Interval Prestasi Tingkat Kemampuan Keterangan

85% - 100% Baik Sekali

75% - 84% Baik

60% - 74% Cukup

40% - 59% Kurang

0% - 39% Gagal

(50)
(51)

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan temuan dan hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran melalui sumber belajar alam sekitar dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kompetensi menulis puisi siswa. Hal ini didasarkan pada temuan sebagai berikut.

1. Melalui sumber belajar alam sekitar siswa lebih bersemangat dan antusias dalam menulis puisi. Hal ini dapat dicermati berdasarkan hasil kegiatan refleksi pada siklus I, dari 30 siswa sebanyak 22 orang siswa tampak lebih bersemangat belajar menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar, sedangkan pada siklus II semua siswa menyatakan lebih bersemangat belajar menulis puisi melalui sumber belajar alam sekitar.

(52)

3. Skor rata-rata kemampuan menulis puisi pada prasiklus, di kelas VII-A SMP PGRI Pejambon adalah 51,72 dengan kategori kurang, menjadi 64,55 dengan kategori cukup pada siklus I, dan 74,20 dengan kategori Baik pada siklus II. Setiap siklus terjadi peningkatan diantaranya: (a) peningkatan ketuntasan belajar kelas VII-A pada prasiklus sebanyak 2 siswa atau persentase 6%, 19 atau 60% pada siklus I, dan 27 atau 90% pada siklus II; (b) nilai tertinggi yang diperoleh siswa di kelas VII-A pada prasiklus 65, 70 pada siklus I, dan 85 pada siklus II.

5.2 Saran

Sehubungan dengan simpulan penelitian ini, peneliti mengemukakan saran kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia, dalam hal ini guru kelas VII-A SMP PGRI Pejambon Kabupaten Pesawaran sebagai berikut.

1. Untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam menulis puisi, hendaknya guru menyusun rencana pembelajaran yang efektif, kreatif, dan inovatif. Pembelajaran melalui sumber belajar alam sekitar dapat dijadikan sebagai salah satu altenatif pembelajaran di sekolah.

2. Dalam pembelajaran menulis puisi, guru hendaknya lebih menjelaskan serta memberi contoh diksi dan rima yang baik dalam menulis puisi dengan cara siswa mendaptar terlebih dahulu diksi dan rima.

(53)
(54)

Aminudin. 2010.Mahir Menulis Puisi. Jakarta: Sketsa Aksara Lalitya.

Amri, Sofan dan Ahmadi, Iif Khoiru. 2010.Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam kelas. Jakarta: prestasi pustakarya.

Astuti, Rini Christiana dan Krisnawati, Erlin. 2008.Menulis Puisi. Jakarta: Pacu Minat baca

Depdiknas. 2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka. Djaelani, Mustofa Bisri. 2011.Mendidik Generasi Berkualitas. Jakarta : Trans

Mandiri Abadi

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zin, Aswan. 2010.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Esten, Mursal. 1995.Memahami Puisi. Bandung: angkasa Bandung.

Hernawan, Herry Asep. 2008.Perngembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Kusmana, Suherli. 2011.Guru Bahasa Indonesia Profesional. Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan.

Muslich, masnur. 2011.Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas Itu Muda. Jakarta: Bumi Aksara.

N.K, Roetiyah. 2008.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Nurgiyantoro, Burhan. 1987. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.

Yogyakarta: BPFE.

Poerwadarminta. 1986.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Santosa, Puji, 2009.Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta:

Universitas Terbuka.

Sardiman, A. M. 2011.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajagrafindo.

(55)

Tarigan, Henry Guntur. 1985.Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: angkasa Bandung.

Tim Universitas Lampung. 2005.Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Lampung.Lampung: Unila.

Gambar

Tabel 1.1 Sebaran Nilai Hasil Ulangan Harian Menulis Puisi Siswa Kelas
Gambar 3.1 Siklus model Hopkins dalam Muslich (2011: 150)
Tabel 3.1 Instrumen Penilaian Perencanaan pembelajaran (IPPP)
Table 3.2 Instrumen Proses Pembelajaran oleh Guru
+4

Referensi

Dokumen terkait

(1) Guru dapat memberikan masalah-masalah matematika untuk mengasah intuisi siswa dalam menyelesaikan masalah, baik pada siswa dengan kecerdasan matematis logis,

online (eletronik) dengan para calon penyedia yang telah mendaftar pada paket tersebut melalui wacana tanya jawab (chating interaktif) berdasarkan Dokumen Pengadaan Nomor :

Metode yang digunakan oleh penulis yaitu pendekatan hukum yuridis empiris. Pendekatan yuridis empiris sendiri merupakan pendekatan yang dipakai guna memecahkan masalah

a. Tentukan misi, tanggung jawab, dan fungsi dari proses inti. Misi, tanggung jawab, dan fungsi dari tiap proses harus jelas. Misalnya misi bagian pengadaan adalah untuk

Akhirnya peubah yang digunakan untuk membangun model keberhasilan revegetasi adalah peubah yang memiliki korelasi dengan kelimpahan Collembola tanah di atas 50 % yaitu

Simpulan: Generasi Y pada pada penelitian ini memberi makna kebahagiaan yakni dalam kondisi sehat secara emosi, memiliki hubungan positif dengan keluarga dan orang lain,

Hasil: Pemberian intervensi berupa madu terbukti dapat mengatasi gangguan integritas kulit, akan tetapi pada saat awal pemberian terapi tidak ada reaksi

Perencanaan bertujuan tunggal misalnya rencana pemerintah untuk membangun 100 unit rumah disuatu lokasi tertentu, perencanaan ini tidak mengaitkan pembangunan rumah