PENGEMBANGAN KURIKULUM
TEORI DAN PRAKTIK
UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH
PENGEMBAN KURIKULUM PAI
YANG DI BINA OLEH, IBU Dr. ROFIATUL HOSRA, M.Pd
OLEH
HAIRUDIN
NPM 21402011039
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DAN SUPERVISI
PENGANTAR
Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Semua orang berkepentingan dengan kurikulum, sebab kita sebagai orang tua, sebagai warga masyarakat, sebagai pemimpin formal ataupun informal selalu mengharapkan tumbuh dan berkembangnya anak, pemuda, dan generasi muda yang lebih baik, lebih cerdas, lebih berkemampuan. Kurikulum mempunyai andil yang cukup besar dalam melahirkan harapan tersebut. Buku ini disusun dengan tujuan membantu para guru, dosen, instruktur, widyaiswara, para pengembang, pengelola, penentu kebijaksanaan, dan siapa saja yang terlibat dan berminat dalam pengembangan kurikulum; untuk menambah wawasan tentang apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum. Meskipun dalam buku ini diusahakan menyajikan materi yang bervariasi dengan cara penyajian yang moderat, tetapi mungkin saja sajian ini belum bisa memenuhi kebutuhan semua pihak. Untuk itu penulis meminta maaf dan menantikan saran-saran bagi penyempurnaannya. Isi buku ini merupakan penyempurnaan dari buku sebelumnya yang berjudul Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum, yang ditulis dengan bantuan Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Depdikbud, untuk kepentingan Program Pascasarjana. Penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Pimpinan P2LPTK, serta para pimpinan teras Depdikbud, yang telah mendorong penulisan serta memberi izin menerbitkan kembali buku ini oleh lembaga di luar P2LPTK. Bandung, 1997, Nana Syaodih Sukmadinata
Malang, April 2015
Penulis
I.
KATA PENGANTAR
II.
DAFTAR ISI
III.
RESENSI BUKU
IV.
LATAR BELAKANG PENULISAN BUKU
V.
ISI BUKU
VI.
KELEBIHAN BUKU
VII. KEKURANGAN BUKU
VIII. KESIMPULAN
IX.
KEISTIMEWAAN BUKU
X.
KOMPARASI/PERBANDINGAN BUKU
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
I. RESENSI BUKU
Nama Pengarang : Prof. Dr.Nana Syaodih Sukmadinata
Judul Buku : Pengembangan Kurikulum (Teori dan Praktik) Tahun Terbit : 1997
Tempat Terbit : Bandung
Tebal Buku : IX + 219 Halaman
Penerbit : PT. Remaja Rosda Karya
II.
LATAR BELAKANG PENULISAN BUKU
Sebuah buku yang berupa karangan ilmiah yang ditulis oleh Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata ini membahas pengembangan kurikulum (teori dan prakti) yang tersistematis dan aktual. Hal ini dikarenakan hasil dari penelitian yang cukup lama. Penerbit PT Remaja Rosdakarya memang sudah pas dalam mencetak dan memperbanyak kopian buku ini. Pembahasan tentang pengembangan kurikulum akan sangat menarik dengan kupasan persoalan mengenai pengembangan kurikulum (teori dan praktik) ecara mendalam.
Sebagai salah satu referensi mata kuliah merupakan bagian dari mata kuliah pengembangan kurikulum PAI yang wajib dipelajari oleh setiap mahasiswa IAIN difakultas dan jurusan apapun, kurikulum memiliki arti yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan oleh setiap mahasiswa. Kegagalan dalam mengikuti perkuliahan ini bisa berakibat sangat buruk dan mengancam kelangsungan studi mahasiswa yang bersangkutan.
Apalagi melihat sampai saat ini belum ada buku yang memadai dalam memberikan penjelasan tentang kurikulum, membuat rof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata pada akhirnya menerbitkan buku ini, hal tersebut juga menjadi motivasi beliau dalam terus menerbitkan karya-karyanya yang lain untuk membantu mahasiswa dalam membantu studi perkuliahan bagi mahasiswa.
III.
ISI BUKU
BAB I. a) Konsep Kurikulum
b) Kedudukan kurikulum dalam pendidikan
c) Konsep kurikulum & Kurikulum dan teori-teori pendidikan
BAB II. a) Teori Kurikulum
b) Apakah teori itu? .
c) Teori pendidikan
d) Teori kurikulum
BAB III. Landasan Filosofis dan Psikologis Pengembangan Kurikulum
a) Landasan filosofis
b) Landasan psikologis
BAB IV. Landasan Sosial-Budaya, Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam
Pengembangan Kurikulum
a) Pendidikan dan masyarakat
b) Perkembangan masyarakat
c) Perkembangan ilmu pengetahuan
d) Perkembangan teknologi
e) Pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi
BAB V. Macam-Macam Model Konsep Kurikulum
a) Kurikulum subjek akademis
b) Kurikulum humanistik
c) Kurikulum rekonstruksi sosial
d) Teknologi da kurikulum
BAB VI. Anatomi dan Desain Kurikulum
a) Komponen-komponen kurikulum
b) Desain kurikulum
BAB VII. Proses Pengajaran
a) Keseimbangan antara isi dan proses
b) Isi dan kurikulum
c) Proses belajar.
d) Kesiapan belajar
e) Minat dan motif belajar
BAB VIII . Pengembangan Kurikulum
a) Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
b) Pengembangan kurikulum
c) Faktor-faktor yang mempengaruhi
d) Artikulasi dan hambatan
e) Model-model pengembangan kurikulum
BAB IX Evaluasi Kurikulum
a) Evaluasi dan kurikulum
b) Konsep kurikulum
c) Implementasi dan evaluasi kurikulum
d) Peranan evaluasi kurikulum
e) Ujian sebagai evaluasi sosial
f) Model-model evaluasi kurikulum
BAB X Guru dan Pengembangan Kurikulum
a) Guru sebagai pendidik profesional
b) Guru sebagai pembimbing belajar
c) Peranan guru dalam pengembangan kurikulum
4
Dalam buku Dirasah Islamiyah II ini, Beliau, Dr. Badri Yatim, M.A menuliskan secara menyeluruh tentang sejarah perdaban Islam yang dimulai dari peradaban Islam paling awal yaitu di Arab sampai penyebaranya ke kawasan Asia hingga ke negara-negara Barat (Eropa). Seperti buku-buku yang membahas sejarah peradaban Islam lainnya, buku ini juga mencakup empat kawasan Islam di dunia yakni kawasan pengaruh kebudayaan Arab (Timur tengah, Afrika Utara dan Spanyol), kawasan pengaruh kebuadayaan Persia (Iran dan Negara-Negara Islam Asia Tengah), kawasan pengaruh kebuadayaan Turki, kawasan pengaruh kebuadayaan India-Islam dan berbagai wilayah Islam lainya termasuk wilayah Nusantara. Sedangkan secara garis besar
bisa dilihat bahwa dalam buku ini membahas dua kajian pokok yakni, Sejarah Dunia Islam yang mencakup perdaban Islam di luar Nusantara yang terdapat pada bab II hingga bab IX dan di tambah lagi pada bab XIV. Sedangkan kajian pokok yang kedua yakni membahas sejarah pedaban Islam di Indonesia pada bab X, XI, XII, dan bab XV.
Itulah isi secara umum dari buku ini yang mana pada hakikatnya keseluruhan dari isinya menjelaskan sejarah peradaban Islam dari awal bagaimana Islam itu terbentuk yaitu dimulai dari Arab pra-Islam yakni ketika Nabi Muhammad SAW belum dilahirkan sampai pada tahap perkembangan Islam setelah masa Nabi Muhammad SAW, hingga pada masa keemasan Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, kemudian penyebaran agama Islam diteruskan pada masa sahabat. Ekspansi Islam semakin luas pada masa kejayaan dinasti-dinasti besar Islam hingga terus sampai pada masa kemunduranya.
Sebagai buku sejarah yang menitik beratkan pada sejarah peradaban Islam, buku ini memberikan penjelasan sejarah perkembangan Islam dari masa kejayaanya hingga masa kemunduranya. Termuat pula di dalamnya berbagai hal komplit mengenai struktur pemerintahan, pengangkatan kepala Negara, pengakatan para gubernur serta berbagai cara dalam melakukan ekspansi kekusaan Islam.
Adapun kelebihan buku Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II) karya Dr. Yatim Badri, M.A ini yaitu:
1. Dari segi isi materi yang disajikan memberikan banyak penjelasan mengenai sejarah peradaban Islam dari riwayat hidup Nabi Muhammand SAW, perkembangan Islam dimasa dinasti-dinasti kerajaan besar bahkan sampai peradaban Islam di Indonesia. Semua terangkum didalam buku kecil yang sederhana ini sehingga patut untuk dibaca tidak hanya oleh para akademisi namun juga bagi siapapun yang ingin mengetahui mengenai sejarah perdaban Islam secara menyeluruh. 2. Dari segi bahasa yang digunakan bisa dibilang ringkas, dan sederhana sehingga mudah untuk
dipahami oleh para pembaca. Melalui bahasa yang lugas dan terstruktur, memberikan gambaran yang nyata dalam mengembangkan iamajinasi pembaca seolah-olah pembaca dapat menyaksikan kejadian pada masa perkembangan Islam dimasa lalu.
3. Dari segi referensinya, buku ini juga memberikan banyak catatan kaki dan juga daftar pustaka, tidak hanya dari penulis lokal tetapi juga para penulis luar, seperti para penulis orientalis. Ini memberikan gambaran bahwa buku ini sebenarnya berusaha untuk merangkum informasi dari banyak sumber sehingga apa yang ditulis benar-benar menedekati keobjektifan sejarah secara utuh.
4. Di akhir halaman buku ini terdapat glosarium sehingga memudahkan pembaca dalam menemukan maksud dari kata-kata asing yang jarang didengar yang termuat di dalam buku ini sehingga pembaca menjadi lebih mudah dalam memahami apa yang dimaksud oleh penulis. C. KEKURANGAN BUKU
Adapun sisi kekurangan buku Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II) karya Dr. Yatim Badri, M.A ini yaitu:
2.
3. berbagai kerajaan Islam, baru kemudian sejarah kemundurannya. Hal ini sebenarnya akan lebih mudah dipahami lagi oleh para pembaca ketika penyajiannya dimulai dari penjelasan kejayaan satu kerajaan Islam dilanjutkan langsung sampai pada masa kemudurannya sehingga keruntutan sejarah tidak terasa terpotong-potong.
2. Sekalipun pembahsan materi di dalam buku ini mengupas secara menyeluruh akan tetapi memang masih dirasa seperti hanya penjelasan secara umum, belum menyentuh secara totalitas kerincian sejarah. Oleh karena itu percaturan pemikiran politik dinegara Negara Islam dalam rangka menegakkan ajaran Islam dalam Negara modern memiliki analisis yang belum mendalam.
D. KESIMPULAN
Setelah membaca banyak hal yang terangkum di dalam buku yang tergolong sedang ini, telah banyak memberikan gambaran yang cukup luas tentang Sejarah Peradaban Islam dan segala ragam jenisnya yang meskipun dalam penyajiannya masih terbilang umum namun tetap bisa dijadikan pelajaran sejarah yang cukup bermanfaat bagi kita khususnya kamum muslimin. Selebihnya meskipun demikian, sebagai sebuah buku pengantar dalam kajian sejarah perdaban Islam, buku ini cukup memadai, sekalipun tidak tertutup kemungkinan adanya kekurangan dari segi objektifitas sejarah yang diceritakan. Namun dengan melihat dari sisi referensi yang digunakan oleh penulis kiranya buku ini lebih dekat ke originalitas sejarah.
Selain itu, tentang bagaimana sang penulis berusaha untuk memberikan pendekatan yang relevan dalam memberikan pengarahan pada para pembaca dengan menggunakan bahasa yang lugas, padat dan tepat serta sederhana sehinngga buku ini layak untuk dibaca siapa saja khususnya bagi kalangan umat Islam sendiri.
Kolom Pemikiran Alternatif
Pemikiran Pendidikan Islam Prof. Dr. Hasan Langgulung Abdullah Mizzul Qo'if
Penulis, Guru di MA Takhassus Al Qur'an Demak A. Pendahuluan
Pendidikan memang dapat mencakup segala macam ilmu, dari ilmu sihir hingga ilmu matemtika atau nuklir. Dalam dalam arti sempit ilmu pendidikan merupakan bagian dari pada sebuah ilmu. Di mana pendidikan merupakan sesuatu yang sudah kita kenal secara umum oleh semua orang terutama bagi kalangan pendidik dan akademisi. Termasuk juga adalah pendidikan Islam yang sering didengung-dengungkan oleh para kalangan
akademisi islam terutama di kawasan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam termasuk Indonesia.
Pendidikan Islam sebagai salah satu pembicaraan yang tidak pernah akan basi, selalu membuahkan berbagai macam penafsiran dan pemikiran sesuai dengan perkembangan jaman. Pendidikan Islam sebagai hal yang sangat karusial bagi orang-orang muslim di seluruh dunia perlu membutuhkan modifikasi dan inovasi agar dapat memberikan kontribusi yang besar bagi agama dan ilmu pengetahuan bahkan teknologi.
Untuk itu dalam makalah ini akan kami bahas mengenai salah satu pemikiran dalam dunia pendidikan Islam yang dapat memberikan suatu pencerahan dan pengembangan bahkan sebagai penyempurna dari pendidikan-pendidikan Islam yang telah ada. Yaitu Pendidikan Islam yang digagas oleh tokoh dari Indonesia yang banyak pengalaman di luar negeri bahkan hidupnya lebih lama di luar negeri daripada di indonesia. Beliau adalah Prof. Dr. Hasan Langgulung, MA. Oleh karena itu pandangan pandangan beliau sangatlah luas dalam bidang pendidikan khususnya mengenai kondisi-kondisi yang terjadi dalam masalah-masalah pendidikan di negara-negara Islam.B. Biografi Prof. Dr. Hasan Langgulung
Prof. Dr. Hasan Langgulung dilahirkan di Rappang Ujung Pandang Sulawesi Selatan pada tanggal 16 Oktober 1934. Beliau termasuk dari suku bugis dan beliau adalah Profesor dalam bidang pendidikan Universitas Kebangsaan Malaysia. Beliau seorang yang mempunyai pengalaman hidup di negara negara Islam selain Indonesia seperti di Mesir dan sekarang beliau juga menjadi dekan fakultas Ilmu Pendidikan Islam di International Islamic University of Malaysia atau IIUM.
Adapun riwayat pendidikannya adalah sebagai berikut :
Sekolah Dasar di Rappang Ujung Pandang, tahun 1943 – 1949.
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Islam di Ujung Pandang tahun 1949 – 1952.
Sekolah Guru Islam Atas di Ujung Pandang, tahun 1952 – 1955. B. I. Inggris di Ujung Pandang, tahun 1957 – 1962.
B.A. dalam Islamic Studies dan Fakultas Dar Al Ulum, Cairo University, 1957 – 1962. Diploma of Education (General), Eim Shams University, Cairo 1963 –1964.
Special Diploma of Education (Mental Hygiene), Ein Shams University, Cairo 1963 – 1964.
B.
Cairo 1967.
Ph. D. dalam Psikologi. University of Georgia, Amerika Serikat, tahun 1971. C.
Diploma dalam Sastra Arab Modern dari Institute of Higher Arab Studies, Arab League,
D. Cairo, 1964.2
Kemudian hasil karya ilmiahnya berupa tesis dan disertasi sebagai hasil dari kuliahnya, yaitu :
Al Muhariq Al Indonesia : Ittijahatuh wa Darjat Tawafuq Indahu. Tesis M.A. Ein Shams University, Cairo 1967.
A. Cross Cultural Study of Child Cobceotion of Situasional Causality in India, Western Samoa, Mexico and The United States, disertasi Ph. D. University of Georgia, Amerika Serikat, tahun 1971.
Selain itu beliau juga mempunyai kegiatan atau aktivitas lainnya, diantaranya :
Pemimpin Redaksi Journal Pendidikan, diterbitkan di University Kebangsaan Malaysia. Anggota Redaksi Akademika untuk Sosial Sciences & Humanities Kuala Lumpur Malaysia.
Anggota American Psychological Association (APA).
Profesor Madya dalam Psicology dan Pendidikan di University Kebangsaan Malaysia. Maha Guru Luar Biasa dalam bidang Sosiologi Pedesaan pada Fakultas Ekonomi University of Kebangsaan Malaysia.3
Sebagai seorang tokoh pendidikan yang berasal dari Indonesia beliau telah banyak juga berjasa bagi bangsa Indonesia, walaupun sekarang mengabdi pada perguruan tinggi. Hal ini sebenarnya sangat kita sayangkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagian jasa beliau adalah sebagai ketua ikatan mahasiswa Indonesia di beberapa negara di Timur Tengah, beliau juga pernah mengajar selama satu tahun pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Jakarta).
Karya-karya beliau antara lain telah menerbitkan empat belas buah buku berkisar dalam bidang psikologi, pendidikan, falsafah dan Islam. Juga telah menulis berkenaan dengan topik-topik tersebut di ataslebih 60 buah artikel yang terbit di berbagai majalah luar negeri dan dalam negeri, seperti : Journal of Special Psychology, Journal of Cross-Cultural Psychology, Islamic Quarterly Muslim Education Quarterly, Dewan Masyarakat, Dian dan lain-lain serta telah menerbitkan beberapa buku dalam bahasa Arab.
C. Pengertian Pendidikan Islam Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung.
Sebelum kita masuk kepada konsep dan sistem pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung kita perlu mengetahui pengertian dari pada konsep pendidikan baik
pengertian secara umum tentang pendidikan ataupun pengertian secara khusus tentang pendidikan Islam. Pendidikan secara umum menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung dalam karyanya Asas-asas Pendidikan Islam istilah education, dalam Bahasa Inggris yang berasal dari bahasa latin ‘educere’ berarti memasukkan sesuatu, barangkali bermaksud memasukkan ilmu ke kepala seseorang, kalaulah ilmu itu memang masuk di kepala. Ini sebagai salah satu sumber beliau dalam memahami pendidikan, walaupun nanti ada perbandingan dari bahasa lain.
F. pendidikan, yaitu ta’aliim, tarbiyah dan ta’dib. Biasa dipergunakannya ta’lim sesuai dengan firman Allah SWT, yang berbunyi :
Wa ‘allama aadamal asmaai kullahaa tsumma ‘arhadlahum ‘alal malaaikati faqaala ambiuunii bi asmaai haaulaai inkuntum shaadiqiina. (Q.S. Al Baqarah : 31).
Artinya : “Dan Allah mengajarkan kepada Adam segala nama, kemudian ia berkata kepada malaikat berituhulah Aku nama-nama semua itu jika kamu benar.” (Q.S. Al G. Baqarah : 31).
Juga kata tarbiyah dipergunakan untuk pendidikan. Seperti firman Allah dalam surat Asra’ yang berbunyi :
... Rabbir hamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiraa. (Q.S. Bani Israil : 24).
Artinya : “... Hai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil.” (Q.S. Bani Israil : 24).
Di samping itu kata ta’dib dipergunakan, seperti sebuah hadits Rasulullah saw. Yang berbunyi :
Addabanii Rabbi fa ahsana ta’diibii. (Al Hadits)
Artinya : “Allah mendidikku, maka ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan.” (Al Hadits).
Ketiga kata atau istilah tersebut banyak digunakan oleh praktisi akademisi ataupun kalangan pemikir pendidikan untuk memberikan pengertian pendidikan. Walaupun ketiga istilah itu bisa digunakan dengan pengertian sama, namun ada beberapa ahli (Al Attas, 1980) berpendapat bahwa ta’alim hanya berarti pengajaran, jadi lebih sempit dari
pendidikan. Dengan kata lain ta’alim hanyalah sebagian dari pendidikan. Sedangkan kata tarbiyah yang lebih luas digunakan sekarang di negara-negara Arab, terlalu luas. Sebab kata tarbiyah juga digunakan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan pengertian memelihara atau membela, menternak dan lain-lain lagi. Sedang pendidikan yang diambil dari education itu hanya untuk manusia saja. Demikian dua kata yang menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung memiliki kekurangan dari segi pengertian dasarnya jika dihubungan dengan pendidikan untuk manusia.
Jadi ta’dib kata Al Attas lebih tepat, karena tidak terlalu sempit sekedar mengajar saja, dan tidak meliputi makhluk-makhluk lain selain dari manusia. Jadi ta’dib sudah meliputi kata ta’lim dan tarbiyah. Selain daripada itu kata ta’dib itu erat hubungannya dengan kondisi ilmu dalam Islam termasuk dalam sisi pendidikan. Ini sebagian kajian mendalam mengenai perbedaan daripada masing-masing kata yang mempunyai kedekatan makna. Prof. Dr. Hasan Langgulung menegaskan pendidikan sebagai merubah dan
memindahkan nilai-nilai kebudayaan kepada setiap individu masyarakat melalui pelbagai proses. Proses pemindahan tersebut ialah pengajaran, latihan dan indoktrinasi.
Pemindahan nilai-nilai melalui pengajaran ialah memindahkan pengetahuan dari individu kepada individu yang lain; dan latihan ialah membiasakan diri melakukan sesuatu bagi memperoleh kemahiran. sementara indoktrinasi pula menjadikan seseorang dapat meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Ketiga-tiga proses ini berjalan serentak dalam masyarakat primitif dan moden.
Pendidikan menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung, MA sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi, yaitu :
Dari sudut pandang masyarakat, pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi H. tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berlanjut. Atau dengan kata lain,
I. agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara.
Dari sudut pandang individu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi. Dalam hal ini perlu adanya penggalian dan penggarapan segenap bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu agar dapat bermanfaat bagi individu bersangkutan khususnya selanjutnya kepada masyarakat luas pada umumnya.
J.
Sebenarnya dari dua itu masih ada satu lagi pandangan tentang pendidikan, yaitu yang sekaligus memandang dari segi masyarakat atau alam jagat dan dari segi individu. Dengan kata lain pendidikan dipandang sekaligus sebagai pewarisan kebudayaan dan pengembangan potensi-potensi. Padangan Islam tentang pendidikan sekaligus dengan kacamata masyarakat dan kacamata individu, sebab dengan mengembangkan potensi-potensi ia menyadari tempatnya dalam order bukan hanya order sosial tetapi dalam order alam jagat. Di sinilah sebenarnya sistem pendidikan Islam didasarkan dengan dua pandangan tersebut yang digabungkan. Keduanya tidak berdiri sendiri dan berjalan sendiri-sendiri yang Prof. Dr. Hasan Langgulung kemukakan sebagai bentuk ideal untuk pendidikan Islam.
Beliau juga berujar bahwa mustahil kita memahami pendidikan Islam tanpa memahami Islam sendiri, suatu kekuatan yang memberi hidup bagi suatu peradaban raksasa yang salah satu buahnya adalah pendidikan. Pendidikan itu wujud bukan secara kebetulan di tengah-tengah rakyat yang kebetulan adalah orang-orang Islam, tetapi dihasilkan dalam bentuk seperti itu oleh orang-orang Islam. Dalam hal ini adanya ilmu pendidikan Islam sebagai bentuk karya cipta dan budaya orang-orang Islam pada saat itu, sehingga
berlanjut dan berkembang hingga masa sekarang.
Untuk itu barangkali yang terpenting adalah sistem pendidikan raksasa yang merangkul pendidikan formal dan informal yang memungkinkah dorongan dan pemindahan ilmu dalam segala bentuknya. Sistem pendidikan ini, tentunya didasarkan atas konsep Islam tentang ilmu dan pendidikan. Konsep yang menjadi pangkal perkembangan pendidikan Islam dan didasarkan atas konsep hirarki pengetahuan, yang banyak dibicarakan oleh ahli-ahli pendidikan seperti Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali dan lain sebagainya. Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung pendidikan Islam merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan. memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia unutk beramal di dunia dan
memetik hasilnya di akhirat. Pendidikan berarti tidak sekedar transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of value juga berorientasi dunia akhirat (teosentris dan antroposentris) sebagai tujuannya. Jadi pendidikan Islam di sinilah yang membuat beda dengan
pendidikan barat, sebagaimana konsep dari Prof Dr. Hasan Langgunlung. Untuk transfer of value ini perlu adanya nilai yang dimiliki oleh pendidik sebagai pelaku atau subyek dan juga ilmu itu sendiri sebagai obyek yang ditransfer.
Sedangkan menurut beliau dalam kajian Islam. Islam memandang pendidikan adalah sebagai bentuk ibadah di mana ummat Islam menyebarkan nilai-nilai umum yang
K. proses sepanjang hayat bagi individu untuk mempersiapkan dirinya mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai khalifah Allah di bumi ini.
D. Asas-Asas Pendidikan Islam Menurut Prof. Dr. Hasan Lannggulung L.
Pendidikan diibaratkan sebagai sebuah rumah, yang terdiri dari tiang, lantai, dinding, atap, tangga dan lain-lain. Itulah pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu yang terdiri dari kurikulum, konseling, administrasi, pengajaran dan penilaian. Tetapi rumah tidak bisa dibina di awang-awang. Harus ada tempat tegaknya. Ada tapak, ada halaman, ada pagar, M.
N. kalau perlu ada pohon-pohon dan kebun-kebun di sekelilingnya untuk memperindah pemandangan dan menjernihkan udara. Itulah asas-asas (foundations) tempat tegaknya pendidikan itu, yang terdiri dari filsafat, sejarah, politik, sosial, ekonomi dan psikologi. Pendidikan itu mempunyai asas-asas tempat ia tegak dalam materi, interaksi, inovasi dan cita-citanya. Masing-maisng tidak dapat berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu arena dimana dipraktekkan sejumlah ilmu yang erat hubungannya satu dengan yang lain. Seperti halnya ilmu agama Islam di situ terdapat ilmu Al Qur’an, ilmu Hadits, fiqih, tasawuf dan lain sebagainya semuanya saling berhubungan.
Berkenaan dengan asas-asas yang kita maksudkan di atas, yaitu asas-asas pendidikan, dapat kita uraikan dalam enam asas berikut ini :
Asas-asas sejarah yang mempersiapi si pendidik dengan hasil-hasil pengalaman masa lalu, dengan undang-undang dan peraturan-peraturannya, batas-batas dan kekurangan-kekurangannya.
Asas-asas sosial yang memberinya kerangka budaya dari mana pendidikan itu bertolak dan bergerak : memindah budaya, memilih dan mengembangkannya.
Asas-asas ekonomi yang memberinya perspektif tentang potensi-potensi manusia dan keuangan, materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya dan
bertanggungjawab terhadap anggaran belanjanya.
Asas-asas politik dan administrasi yang memberinya bingkai ideologi (aqidah) dari mana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat. Asas-asas psikologi yang memberinya informasi tentang watak pelajar-pelajar, guru-guru, cara terbaik dalam praktek, pencapaian dan penilaian, dan pengukuran dan bimbingan. Asas-asas filsafat yang berusaha memberinya kemampuan memilih yang lebih baik, memberi arah suatu sistem, mengontrolnya dan memberi arah kepada semua asas-asas yang lain.
Demikianlah asas-asas pendidikan yang harus dipenuhi jika memang mengharapkan suatu pendidikan yang bermutu baik. Asas ini telah mencakup bebrapa hal yang sangta penting dalam pengelolaan suatu lembaga pendidikan ataupun secara keseluruhan dunia pendidikan. Interaksi antara asas-asas ini di dalam proses pengajaran menghendaki beberapa keterangan yang dapat kita simpulkan dalam tiga hal sebagai berikut :
Setiap asas itu bukanlah satu ilmu atau mata pelajaran tetapi sejumlah ilmu dan cabang-cabangnya.
Asas-asas ini memberi pendidikan itu sistem-sistem dan organisasi-organisasi, inovasi dan pembaharuan.
O. mengatur sifatnya yang menyeluruh dan serasi.
Jadi posisi dari asas filsafat yang terakhir disebut merupakan atau mempunyai tugas mengatur apakah suatu teori itu dapat digunakan atau tidak boleh digunakan dalam bidang pendidikan secara umum apalagi pendiidkan Islam. idup sendiri yang P.
E. Komponen Pendidikan dalam Pandangan Prof. Dr. Hasan Lannggulung
Pendidikan diibaratkan sebagai sebuah rumah, yang terdiri dari tiang, lantai, dinding, atap, tangga dan lain-lain. Itulah pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu yang terdiri dari Q.
R. kurikulum, konseling, administrasi, pengajaran dan penilaian. Sebagaimana ditulis di dalam bukunya Prof. Dr. Hasan Langgulung bahwa pendidikan sebagai disiplin ilmu ahli pendidikan berpendapat bahwa sekurang-kurangnya ada lima komponen ilmu yang membentuk pendidikan itu, yaitu : kurikulum, konseling, administrasi, pengajaran dan penilaian. Dengan kata lain, pendidikan sendiri masih terdiri dari berbagai komponen ilmu, yang juga masing-masing berasal dari cabang-cabang ilmu yang lain.
Dari lima komponen itu yang salah satunya adalah kurikulum dimana ini merupakan pokok dari sebuah pendidkan itu dapat berjalan. Perbincangan kita tentang kurikulum dalam pendidikan Islam akan mengandung : pentingnya kurikulum itu bagi masyarakat atau negara dan bagu ibu-bapak, anak-anak, pelajar-pelajar sendiri. Kemudian ada ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam, prinsip kurikulum dalam pendidikan Islam.
Dalam masalah ini pendidikan Islam sepanjang sejarah memandang kepada kurikulum pendidikan Islam sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan bakat, minat, kekuatan dan keterampilan yang bermacam-macam, dan menyiapkan mereka dengan baik untuk menjalankan hak dan kewajibannaya memikul tanggung jawab terhadap diri pribadi, keluarga, masyarakat dan negaranya. Di sini Islam sangat luas dan komprehensif sekali dalam memandang pentingnya pendidikan Islam dan kurikulum pendidikan Islam.
Adapun pengertian kurikulum dalam literatur bahasa Arab dikenal dengan istilah
”manhaj” yang berarti jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Selanjutnya ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam dapat dilihat antara lain :
Menonjolnya tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuannya, kandungannya, metodenya, alatnya dan tekniknya bercorak Islam.
Meluas perhatiannya dan menyeluruh kandungan-kandungannya.
Keseimbangan yang relatif diantara kandungan-kandungan kurikulum dari ilmu-ilmu dan seni, pengalaman-pengalaman dan kegiatan pengajaran yang bermacam-amcam.
Kecenderungan pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, militer, teknik, kejuruan, bahasa asing, tergantung dari para individu mau belajar yang mana.
Adanya hubungan antara kurikulum dalam pedidikan Islam dengan kesedian, bakat, minat, kemampuan, kebutuhan pelajar yang berbeda-beda.
Selanjutnya adalah prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum Pendidikan Islam, yaitu di antaranya :
Adanya hubungan yang sempurna dengan agama Islam, termasuk ajaran dan nilai-nilianya.
Menyeluruh pada tujuan-tujuan dan kendungan kurikulum.
S.
Sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, kabutuhan dan juga dengan alam sekitar mereka berinteraksi.
Pemeliharaan perbedaan-perbedaan individu dalam hal bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan juga dengan alam sekitar dan masyarakat.
Selalu berkembang dan berubah.
Berhubungan antara mata pelajaran, pengalaman dan aktivitas yang terkandung di dalam kurikulum.
F. Persfektif Sejarah dalam Pendidikan Islam T.
Menurut Prof. Dr. Hasan Lannggulung beliau membagi pembagian sejarah pendidikan Islam secara spesifik dengan berbagai karakteristiknya. Adapun beliau membagi menjadi empat periode yang berbeda-beda di dalam sejarah Islam ke empat periode itu adalah sebagai berikut :
1. Periode pertama (periode pembinaan) adalah periode dari sejak dan mulainya Nabi Muhammad di angkat menjadi Nabi dan utusan Allah di Mekkah sehingga akhir dinasti Umayyah karakteristik zaman ini adalah sebagai berikut:
Sangat murni berlatar belakang budaya Arab
Memperkuat dasar dasar ajaran Islam dan menyebarkan ajarannya.
Seluruh kurikulumnya adalah di arahkan dan di dasarkan pada ilmu ilmu agama dan bahsa Arab.
Pembelajarannya adalah berupa studi hadis. Pembelajaran tentang hukum hukum Islam Pembelajaran tata bahasa Arab
Pembelajaran yang menumpukan pada literatur-literatur Arab. Permulaan untuk mempelajari bahasa-bahasa Asing.
Masjid, surau dan perpustakaan adalah merupakan pusat kegiatan masyarakat Islam dan pusat-pusat pendidikan.
2. Periode yang kedua (periode keemasan) adalah periode perkembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan yang di mulai dari Timur yaitu semenjak muncul nya dinasti abbasiyah sehingga keruntuhan dinasti ini oleh bangsa tartar yaitu semenjak tahun 659H/1258M. di mana pada waktu itu pusat Islam yang penting di Barat adalah di andalusia di bawah kekuasaan dinasti Umayyah.
Pada waktu itu di Spanyol kurikulumnya tidak berdasarkan pelajaran agama saja tetapi juga ilmu ilmu di luar ilmu ilmu agama.Pusat pusat ilmu pengetahuan pada waktu itu termasuk Makkah. Madinah. di Hijaz. Kufah dan Basrah di Irak.Damaskus di Syiria. Cairo di Mesir. Sevilla dan Granada di Andalusia.
Adapun ciri-ciri umum terpenting pendidikan Islam pada periode ini adalah : a. Masuknya ilmu-ilmu akal.
b. Pembinaan sekolah-sekolah
c. Timbulnya pikiran-pikiran yang istimewa.
3. Perioder ketiga adalah periode penurunan yang di mulai semenjak kemunduran kekaisaran Turki Utsmani sampai kemerdekaan negara negara Islam dari penjajahan bangsa bangsa Barat.
U.
Pernurunan kualitas pengajaran bahasa Arab
Methode pembelajaran di dasarkan pada methode penghafalan. Terjadi kerancuan dalam metodologi penelitian dan proses berpikir.
Terjadinya penyederhanaan metode dan pengulangan pengulangan wacana ilmiah ulama klasik dan tersebar secara luas.
4. Periode ke empat adalah periode kebangkitan kembali pendidikan Islam yang di mulai setelah negara negara Islam mendapatkan kemerdekaan bangsa Barat dan meni’mati V. kemerdekaaan nya. Proses tersebut berjalan terus menerus sampai periode sekarang ini.
Sifat sifat yang paling penting yang menandai periode ini adalah sebagai berikut : W.
Mengadopsi sistem pendidikan ala Barat.
Meningkat nya perhatian pada ilmu ilmu alam dan sejajar perhatiannya dengan ilmu ilmu sosial dan kemanusiaan.
Terjadinya penetrasi dan pengaruh budaya Barat
Adanya usaha untuk menghapuskan dualisme antara pendidikan agama dan pendidikan moderen.
G. Pandangan Prof. Dr. Hasan Langgulung dalam Masalah Psikologi Pendidikan Islam Perlu di ketahui Prof. Dr. Hasan Langgulung selain berkecimpung dalam dunia
pendidikan beliau juga mengamati ilmu psikologi yang masih erat kaitannya dengan dunia pendidikan berikut ini adalah petikan ulasan-ulasan beliau dalam hal hal yang berhubungan dengan psikologi pendidikan Islam.
Sebagaimana pengertian ataupun fungsi pendidikan yaitu pemindahan nilai-nilia, ilmu, dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat tersebut. Proses pemindahan tersebut dalam kajian psikologi, terutama dalam bidang proses belajar, menunjukkan bahwa memindahkan pengetahuan, apalagi nilai-nilai dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau dari satu generasi ke generasi berikutnya, tidaklah sesederhana itu. Dalam proses belajar pelajar tidak sekedar menerima dalam keadaan pasif, tetapi aktif dan dinamis, malah sangat selektif dan mempunyai syarat-syarat tertentu.
Dalam tinjauan psikologis akan kita dapat tiga syarat pokok yang harus ada supaya proses belajar dapat terjadi, yaitu :
Adanya rangansangan.
Benda hidup harus mengadakan respon kepada rangsangan itu.
Reaspon harus diteguhkan seperti dengan nilai benda atau bukan benda supaya respon itu dibuat lagi dalam suasana yang sama pada masa yang akan datang, atau ditinggalkan jika respon itu diteguhkan negatif.
Dalam melihat proses belajar kita perlu mengetahui tentang teori-teori tentang proses belajar dalam psikologi. Dari sejarah kita dapat kalsifikasikan teori-teori itu kepada dua golongan besar, yaitu :
X. merubah lingkungan kelas untuk mencipta suasana yang lebih baik. Proses pemilihan itulah menimbulkan kebutuhjan mengulabi, menggerakkan dan meninjau kembali. Proses nilai dan skedul peneguhan itulah yang menimbulkan motivasi.
Para ahli teori lapanagn menekankan organisasi total yang disebutnya lapangan yang terdiri dari :
Banyaknya rangsangan.
Rangsangan-rangsangan itu bergabung dalam pola-pola yang bermakna. Reaksi makhluk hidup.
Makhluk hidup itu sendiri. Y.
Z.
Secara singkat menurut pandangan teori lapangan, proses belajar melibatkan suatu perubahan dalam cara-cara memandang lingkungan seseorang. Proses belajar dipandang sebagai suatu perubahan dalam struktur kognitif, yakni sebagai suatu perubahan dalam kesediaan seseorang mengenai objek-objek dan suasana-suasana dengan cara baru. Pengajar haruslah menghitungkan keseluruhan suasana sebagai satu unit. Bukan sebagai rentetan bagian-bagian yang terpisah.
H. Kesimpulan
Dari apa yang telah di sebutkan di atas penulis menyimpulkan bahwa sebetulnya essensi sistem pendidikan antara Islam dan Barat adalah sama saja, yaitu pemindahan ilmu pengetahuan dari tahu menjadi tidak tahu. Namun demikian mempunyai perbedaaan juga yaitu jika pendidikan Barat bercorak lebih sekuler sedangkan pendidikan Islam selama ini kita rasakan banyak terkungkung oleh dogma-dogma agama yang kaku yang dalam pergerakannya banyak sekali terjebak pada pemahaman mana yang Islami dan mana yang tidak Islami. Sehingga muncul suatu paham yang berusaha untuk mengislamkan ilmu pengetahuan atau islamisasi ilmu pengetahua. Dan ini berujung pada norma-norma dan nilai-nilai Islam itu untuk masuk dalam semua aspek keilmuan modern.
Dalam pandangan Prof. Dr. Hasan Langgulung pendidikan diibaratkan sebagai sebuah rumah, yang terdiri dari tiang, lantai, dinding, atap, tangga dan lain-lain. Itulah
pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu yang terdiri dari kurikulum, konseling,
administrasi, pengajaran dan penilaian. Sebagaimana sebuah rumah haruslah memiliki tempat untuk berpijak agar rumah itu dapat beridi, yaitu dengan pondasi demikian juga sebuah ilmu juga harus mempunyai pondasi dalam hal ini adalah asas-asas (foundations) pendidikan yaitu yang terdiri dari filsafat, sejarah, politik, sosial, ekonomi dan psikologi. Dengan dasar inilah diharapkan pendidikan Islam dapat tumbuh dan berkembang,
sehingga dapat memberikan kontribusi pada agama Islam. Selanjutnya dapat menunjukkan kebesaran Islam di seluruh dunia melalui dunia pendidikan.
Beliau juga telah mengklasifikasikan pendidikan Islam secara global dalam pandangan sejarah dunia Islam sendiri. Di mana pendidikan Islam dibagi menjadi empat masa atau periode, yaitu :
1. Periode pertama (periode pembinaan). 2. Periode kedua (periode keemasan)
3. Perioder ketiga (periode keruntuhan dan kehancuran)
4. Periode ke empat (periode pembaharuan dan pembinaan kembali).
menggunakan sistem dan cara cara yang terbaik yang paling effektif dan paling effisient. walaupun hal itu di bangun oleh masarakat non muslim bahkan walaupun sistem tersebut di terapakan dalam ilmu-ilmu agama yang bersifat mahdhoh sekalipun. Meskipun itu juga bukan berarti kita mengkaburkan ciri khas yang memang hanya spesifik terdapat dalam ajaran agama kita saja.
Catatan Kaki:
1 Prof. Dr. Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Prof. Dr. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta, 1979. hlm. Cover belakang.
2 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, Pustaka Al Husna, Jakarta,1985, hlm. 248.S
AA. BB.
3 Prof. Dr. Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibany, Op. Cit, hlm. Cover belakang.
4 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Pendidikan… Op. Cit, hlm. 249.
5 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Al Husna Zikra, Jakarta, 2000, hlm. 3.
6 Ibid, hlm. 3.
7 Ibid, hlm. 4.
8 Ibid, hlm. 4
9 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Institusi Pendidikan dalam Islam http://ms.wikipedia.org/wiki/ Institusi.
10 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-asas … Op. Cit., hlm. 1 – 2.
11 Ibid, hllm. 2
12 Ibid, hllm. 32
13 Ibid, hllm. 29
14 Ibid, hllm. 31
15 Prof. Dr. Hassan Langgulung, Some Characteristics of a Good and Effective Teacher: Promoting Creative Talents in the Classroom, 1982. Jurnal Pendidikan 7: 7-12. http://bank-ilmu.blogspot.com/2007/04/artikel.html
16 Prof. Dr. Hasan Langgulung, Asas-asas… Op. Cit , hlm. viii.
17 Ibid, hlm. 5.
18 Ibid, hlm. 8.
19 Ibid, hlm. vii.
20 Prof. Dr. Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibany, Op. Cit., hlm. 475.
21 Ibid, hlm. 476.
22 Ibid, hlm. 478.
23 Ibid, hlm. 490 – 512.
24 Ibid, hlm. 519 – 522
25 Prof. Dr. Hasan langgulung, Asas-asas … , Op. Cit, hlm. 71.
Belajar kreatif. Kreativitas merupakan suatu kemampuan untuk meng-hasilkan sesuatu yang baru, baik baru bagi dirinya maupun orang lain. Belajar kreatif adalah siswa proses belajar merencanakan, melaksanakan, dan
membuktikan sendiri•percobaan
-percobaan. Mereka berusaha mencari hubungan antara konsep yang baru dan konsep-konsep yang telah ada pada struktur kognitifnya. 3.
Hubungan macam-macam belajar dengan taksonomi Bloom Macam-macam belajar yang telah diuraikan sebelum ini, menunjukkan adanya beberapa kategori tingkah laku belajar, yaitu belajar bermakna, menghafal menerima, dan diskaveri. Belajar bermakna pun berbeda-beda pula dari yang bersifat represensional sampai dengan belajar kreatif. Karena adanya pengkategorian tersebut maka dapat dicari hubungannya dengan kategori belajar atau taksonomi dari. Bloom. Karena pengetahuan atau knowledge Bloom lebih banyak berhubungan dengan ingatan maka dapat dikelompokkan sebagai belajar menghafal (rote learning). Mulai dari pemahaman sampai dengan evaluasi dapat dikategorikan sebagai belajar bermakna. Belajar konsep dan preposisi dapat disamakan dengan pemahaman, pemecahan masalah dengan analitis dan kreativitas dengan sintesis yang sukar dimasukkan dalam kategori tersebut adalah aplikasi dan evaluasi. Dari pembandingan dengan taksonomi Bloom juga dapat ditarik kesimpulan bahwa macam-macam belajar bermakna ini, lebih menyangkut ranah kognitif. Ranah afektif dan psikomotor tidak tercakup dengan macam-macam kategori belajar ini. 4.
Mengingat dan lupa Belajar merupakan proses menguasai makna dari sesuatu bahan pelajaran yang secara potensial bermakna. Mengingat merupakan suatu proses memelihara penguasaan sesuatu makna baru. Lupa merupakan kemunduran atau kehilangan penguasaan suatu makna yang telah dikuasai.
sama sekali, kalau dipelajari kembali akan terjadi recognition. Apabila dirangkumkan maka ada tiga faktor yang mempengaruhi penguasaan kembali konsep dari ingatan: 1)
Kekuatan hubungan antara konsep yang telah ada dengan konsep baru. 2)
Efektivitas usaha untuk menguasai kembali konsep yang terlupakan, baik yang memperkuat penguasaan kembali, maupun yang menghambat lupa. 3)
Suatu konsep baru dipelajari oleh individu, diingat untuk beberapa saat dan sebagian ada yang terlupakan. Proses ini terjadi dalam dua langkah: (1) penguasaan dan penyimpanan, (2) mengingat dan lupa. Penguasaan dan penyimpanan. Suatu konsep dipelajari dengan cara yang bermakna dan disatukan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Interaksi antara konsep baru dengan konsep-konsep yang telah ada menimbulkan suatu makna. Makna baru tersebut mungkin mengubah, memperluas, mempersempit konsep yang telah ada, tetapi dalam bebe rapa hal mungkin juga tidak mengubah konsep lama. Dalam struktur kognitif suatu konsep baru, tidak hanya berhubungan dengan suatu konsep tetapi dengan beberapa konsep yang telah ada. Kekuatan hubungan dengan masing-masing konsep tidak selalu sama, ada yang kuat sekali, lemah sekali di samping yang tidak berhubungan sama sekali. Mengingat dan lupa. Konsep-konsep baru yang kurang umum, melalui periode waktu bersatu atau berasimilasi dengan konsep-konsep yang telah ada. Keadaan tersebut dapat terjadinya pengurangan makna, karena terjadi pengurangan hubungan (reduksi). Karena proses asimilasi dan reduksi tersebut berjalan spontan dan berangsur-angsur maka konsep-konsep tersebut terlupakan. Ada dua tingkat kritis untuk mengingat kembali konsep yang terlupakan. Tingkat yang tertinggi berada pada tingkat yang berhubungan dengan mengingat kembali (recall). Bila suatu konsep di bawah tingkat recall maka anak tidak dapat mengingatnya kembali. Suatu konsep yang berada di bawah tingkat recall, mungkin masih terletak di atas tingkat recognition. Sesuatu yang terlupakan sama sekali, kalau dipelajari kembali akan terjadi recognition. Apabila dirangkumkan maka ada tiga faktor yang mempengaruhi penguasaan kembali konsep dari ingatan: 1)
Kekuatan hubungan antara konsep yang telah ada dengan konsep baru. 2)
Efektivitas usaha untuk menguasai kembali konsep yang terlupakan, baik yang memperkuat penguasaan kembali, maupun yang menghambat lupa. 3)
5.
Kelebihan belajar
bermakna Suatu
bahan dipelajari
secara bermakna
atau dihafal
(1) sifat bahan
apakah secara
potensial
bermakna atau
tidak bermakna,
(2) kesiapan si
pelajar sendiri
Hasil belajar
bermakna lebih
lama dikuasai
daripada belajar
menghafal.
Dengan demikian
belajar bermakna
lebih efisien
dengan belajar
menghafal. Hal itu
disebabkan
adanya hubungan
yang substantif
dan non-arbitrer
dengan
kognitif. Keadaan
demikian
memungkinkan
sejumlah besar
bahan dapat
disatukan dalam
struktur kognitif
dengan
lebih efektif.
Hubungan suatu
konsep yang
dipelajari dengan
bermakna dengan
struktur kognitif
menyebabkan
dikuasai dalam
ingatan. Dalam
belajar yang
bersifat menghafal
hubungannya
tidak mendalam,
karena terjadi
terputus- putus
dan terisolasi. 6.
Inhibisi proaktif
dan retroaktif
Salah satu
belajar bermakna
adalah
pengu-rangan makna dari
suatu konsep
dalam struktur
kognitif. Pada
belajar yang
bersifat
masalah lupa
disebabkan oleh
hilangnya atau
lemahnya asosiasi
antara dua hal.
Dalam belajar
mengingat ada
dua hambatan
mungkin terjadi
yaitu hambatan
proaktif dan
retroaktif.
Hambatan
proaktif
merupakan
hambatan dalam
karena adanya
pengaruh dari
bahan yang telah
dipelajari lebih
dahulu. Hambatan
retroaktif
merupakan
lama karena
bahan baru.
Ketimpangan isi
yang diajarkan
dan yang diingat.
Sering terjadi
perbedaan antara
isi bahan yang
diingat, hal itu
dilatarbelakangi
oleh beberapa hal:
a.
Ketidakjelasan,
kekacauan,
sesuatu konsep
sejak awal proses
belajar, karena
kekurangtepatan
makna konsep
pokok dalam
kekurangjelasan
konsepkonsep
pokok tersebut,
menyebabkan
terjadinya
perbedaan isi
antara bahan baru
dengan konsep
b.
Pada saat
memberikan
penafsiran
terjadi kesalahan
dan penghilangan
atau pengurangan
ciri-ciri. Pada fase
mengingat
kembali
bahan-bahan tersebut
terhadap
konsep-konsep yang telah
ada dalam struktur
kognitif. Jika
suatu bahan baru
salah
struktur kognitif,
kesalahan tersebut
akan menetap
malah akan
diperkuat pada
masa-masa
Kesalahan dan
penyimpangan
dapat terjadi bila
suatu makna yang
telah tersimpan
dirumuskan
kembali secara
verbal. Dalam
konsep baru
terjadi "leveling"
dan "sharpening".
Leveling adalah
penyusutan
bentuk yang tidak
lazim dalam
sharpening adalah
penajaman suatu
konsep atau
perangsang
menjadi lebih
sempurna lebih
baik. Masalah
lupa memiliki
juga nilai negatif.
Nilai positifnya
adalah menyeleksi
ideide baru mana
yang lebih stabil,
lebih penting dan
lebih memperkuat
konsep-konsep
dan tidak
mengingat semua
perangsang yang
masuk. Mengingat
bermakna yaitu
memasukkan
konsep-konsep
penting dalam
sangat penting
bagi kegiatan
belajar Iebih
lanjut dan
kegiatan-kegiatan
pemecahan
merupakan
pijakan dan bahan
yang akan diolah
dalam proses
belajar
selanjutnya.
Penguasaan
mengabaikan
konsep-konsep
atau detail-detail
yang kurang
penting. Hal itu
disebabkan
bahan-bahan yang tidak
penting sudah
hal-hal yang
penting. Karena
merasa sudah
tercakup sering
terlupakan. Sebab
lain, terjadi karena
bahan-bahan baru
yang kurang
dalam
penyatuannya
dengan yang telah
ada kurang stabil,
kurang kuat,
kurang jelas
.
D.
Kesiapan Belajar
Tiap bahan
pelajaran dapat
anak secara
efektif bila sesuai
dengan tingkat
perkembangan
anak tersebut. Ada
tiga masalah
penting berkenaan
dengan
bahan ajar dengan
perkembangan
1.
Perkernbangan
intelek Hasil
penelitian
berkenaan dengan
perkembangan
menun- jukkan,
bahwa tiap tingkat
perkembangan
mempunyai
karakteristik
tertentu tentang
cara anak melihat
lingkungannya
arti bagi dirinya
sendiri.
Mengajarkan
suatu bahan
pelajaran kepada
anak, adalah
mempresentasikan
struktur bahan
dengan cara anak
memandang atau
mengartikan
bahan pelajaran
tersebut.
Pengajaran
bahwa ide atau
konsep dapat
direpresentasikan
dengan
sebenar-benarnya dan
sebaik-baiknya
sesuai dengan
usia tertentu, dan
representasi
pertama diperkuat
dan diperbaiki
pada tingkat
selanjutnya.
Menurut Piaget,
anak: Tingkat
pertama adalah
tingkat Sensory
motor, masa lahir
sampai 2 tahun
merupakan masa
perkembangan
kemampuan
merespons
terhadap
rangsangan.
Tingkat kedua,
masa 2 sampai 7
tahun disebut
tingkat
perkembangan
anak pada masa
ini terutama
membentuk
hubungan antara
pengalaman
bermanipulasi
dengan
lingkungan.
Tingkat ini mulai
dari
perkembangan
awal berbahasa
sampai anak
bermanipulasi
dengan
simbol-simbol.
Kemampuan
simbolik utama
yang harus
dipelajari anak,
dunia luar melalui
pembentukan
Matahari bergerak
karena didorong
oleh Tuhan, dan
bintang-bintang
tidur seperti dia.
Anak tidak dapat
membedakan
antara tujuan
alat untuk
mencapainya. Hal
itu karena anak
lebih dipengaruhi
oleh intuisi
daripada oleh
kegiatan simbolik,
lebih banyak
perbuatan trial
and error daripada
hasil pemikiran.
Kekurangan
utama pada
tingkat ini adalah
anak belum
perlawanan
(reversibility).
Bila suatu benda
berubah anak
belum dapat
menangkap ide
bahwa benda
pada keadaan
asalnya.
Kekurangan
tersebut sering
menghambat
penguasaan ide
fisika. Tingkat
ketiga, masa
antara 7 sampai 11
tahun, merupakan
masa anak
sekolah, disebut
juga tingkat