• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSESSPASIAL PERMUKIMAN LIAR (SQUATTER) DI SEMPADAN REL KERETA API KOTA SEMARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROSESSPASIAL PERMUKIMAN LIAR (SQUATTER) DI SEMPADAN REL KERETA API KOTA SEMARANG"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Aina Shafrida
  • Pengajar:
    • Ariyani Indrayati, S.Si., M.Sc.
  • Sekolah: Universitas Negeri Semarang
  • Mata Pelajaran: Geografi
  • Topik: Proses Spasial Permukiman Liar (Squatter) Di Sempadan Rel Kereta Api Kota Semarang
  • Tipe: skripsi
  • Tahun: 2014
  • Kota: Semarang

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang penelitian mengenai proses spasial permukiman liar di sempadan rel kereta api Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil rumah tangga pemukim, mengetahui faktor pendorong masyarakat dalam mendirikan bangunan, serta menganalisis proses-proses keruangan yang terjadi. Pentingnya penelitian ini terletak pada pemahaman terhadap dinamika permukiman liar yang terjadi sebagai akibat dari urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang pesat.

1.1 Latar Belakang

Latar belakang penelitian ini menyoroti fenomena pertumbuhan penduduk yang menyebabkan kebutuhan perumahan meningkat, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak mampu membeli rumah secara legal. Hal ini mendorong mereka untuk mendirikan rumah di lahan yang tidak diperuntukkan, seperti sempadan rel kereta api, yang menimbulkan masalah sosial dan lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi tiga poin utama: profil rumah tangga pemukim, faktor pendorong pendirian bangunan di sempadan rel, dan analisis proses keruangan yang terjadi di area tersebut. Ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai dinamika permukiman liar.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan profil pemukim, mengetahui faktor-faktor pendorong, dan menganalisis proses keruangan yang terjadi. Hal ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai kondisi permukiman liar dan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua: praktis dan teoritis. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan informasi kepada masyarakat dan pemerintah mengenai kondisi permukiman kumuh. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi pada ilmu geografi, khususnya dalam kajian permukiman.

1.5 Batasan Istilah

Batasan istilah penting untuk memperjelas konsep yang digunakan dalam penelitian ini, seperti definisi proses spasial, permukiman liar, dan sempadan rel kereta api. Hal ini membantu dalam pemahaman konteks penelitian yang lebih baik.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bagian ini mengulas berbagai literatur terkait perkembangan permukiman liar, garis sempadan rel kereta api, dan faktor-faktor yang mendorong serta menarik masyarakat untuk mendirikan bangunan di area tersebut. Tinjauan pustaka ini memberikan dasar teoritis yang kuat untuk analisis yang dilakukan dalam penelitian.

2.1 Perkembangan Permukiman Liar

Perkembangan permukiman liar dijelaskan sebagai fenomena keruangan yang terjadi akibat pertumbuhan penduduk yang pesat dan ketidakmampuan masyarakat berpenghasilan rendah untuk memperoleh perumahan legal. Hal ini berakibat pada munculnya permukiman liar yang tidak terencana dan tidak memenuhi standar.

2.2 Garis Sempadan Rel Kereta Api

Garis sempadan merupakan batas yang ditetapkan untuk melindungi infrastruktur rel kereta api. Penjelasan mengenai peraturan daerah terkait garis sempadan penting untuk memahami konteks hukum yang dihadapi oleh pemukim liar di sempadan rel.

2.3 Faktor Pendorong dan Penarik

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya permukiman liar dibagi menjadi faktor pendorong dan penarik. Penjelasan mengenai kondisi sosial ekonomi, kebijakan pemerintah, dan ketersediaan lahan membantu memahami dinamika yang terjadi di lapangan.

2.4 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir penelitian ini menggambarkan hubungan antara pertumbuhan penduduk, kebutuhan perumahan, dan proses terbentuknya permukiman liar. Diagram kerangka berpikir membantu menyusun logika penelitian dan memudahkan pemahaman.

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini meliputi lokasi penelitian, populasi, sampel, variabel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data. Metode yang sistematis ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah secara akurat.

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dipilih di dua kecamatan yang berbatasan langsung dengan rel kereta api, yaitu Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Utara. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingginya kepadatan penduduk dan keberadaan permukiman liar.

3.2 Populasi

Populasi penelitian adalah kepala rumah tangga yang tinggal di sempadan rel kereta api. Penentuan populasi ini penting untuk memastikan bahwa data yang diperoleh mewakili kondisi yang sebenarnya di lapangan.

3.3 Sampel

Sampel diambil menggunakan teknik random sampling untuk memastikan setiap individu dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. Hal ini penting untuk mendapatkan data yang valid dan dapat dipercaya.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi pendirian permukiman, proses perkembangan permukiman liar, dan solusi untuk mengurangi dampak negatif dari permukiman liar. Penentuan variabel ini penting untuk fokus analisis.

3.5 Teknik Perolehan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan data yang komprehensif mengenai kondisi permukiman liar di sempadan rel.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian terdiri dari lembar observasi dan pertanyaan wawancara yang dirancang untuk menggali informasi mengenai alasan pendirian bangunan di sempadan rel. Instrumen ini harus valid dan reliabel untuk menghasilkan data yang akurat.

3.7 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan mengolah data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang tepat diperlukan untuk menarik kesimpulan yang valid dari data yang telah dikumpulkan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat yang tinggal di sempadan rel kereta api berpenghasilan rendah dan telah menempati lokasi tersebut selama bertahun-tahun. Pembahasan mencakup analisis mendalam mengenai profil pemukim, faktor pendorong, dan proses keruangan yang terjadi.

4.1 Deskripsi Umum Lokasi Penelitian

Deskripsi umum lokasi penelitian meliputi letak geografis, kependudukan, dan kondisi perumahan di sekitar rel kereta api. Data ini penting untuk memberikan konteks terhadap analisis yang dilakukan.

4.2 Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemukim memiliki penghasilan di bawah standar minimum, dan memilih lokasi sempadan rel karena kedekatannya dengan tempat kerja. Ini menunjukkan hubungan langsung antara kondisi ekonomi dan pilihan tempat tinggal.

4.3 Pembahasan

Pembahasan mencakup analisis mendalam terhadap profil pemukim, latar belakang mereka, dan proses spasial yang terjadi. Analisis ini membantu memahami dinamika sosial dan ekonomi yang mempengaruhi permukiman liar.

V. PENUTUP

Bagian penutup menyajikan kesimpulan dari penelitian dan saran untuk pengembangan kebijakan terkait permukiman liar. Penutup ini juga mencakup harapan agar hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa permukiman liar di sempadan rel kereta api Kota Semarang merupakan hasil dari pertumbuhan penduduk dan ketidakmampuan ekonomi. Hal ini menimbulkan tantangan bagi pemerintah dalam pengelolaan ruang kota.

5.2 Saran

Saran yang diberikan mencakup perlunya kebijakan yang lebih tegas terkait pengelolaan lahan dan penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ini penting untuk mencegah perkembangan permukiman liar dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Gambar

Gambar 2.1 Diagram Kerangka berpikir
Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hasil survey menunjukkan bahwa pemukiman ini memiliki (1) Pola permukiman linier (memanjang) mengikuti rel kereta api; (2) Pemanfaatan lahan permukiman dan pekarangan belum

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Faktor yang mendorong munculnya permukiman liar di sepanjang tanggul Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota Surakarta adalah

Faktor kemiskinan sudah menjadi syarat wajib pada permasalahan yang berkaitan dengan permukiman liar ataupun kumuh. Kemiskinan mendorong terbentuknya permukiman

Pelaksanaan peran Satuan Polisi Pamong Praja dalam menegakkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Ketertiban Umum terhadap gelandangan dan pengemis di

permukiman kumuh yang berada pada lokasi yang menurut rencana kota tidak. diperuntukkan

dikuasakan kepada daerah-daerah Swastantra dan masyarakat- masyarakat hukum adat, sekadar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional menurut

Penelitian kebisingan dan getaran yang dilakukan oleh Laboratorium Pusarpedal dengan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia 2012, menunjukkan empat kota di Indonesia yaitu

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Tahun 2011-2031 tidak ada mengatur tentang kawasan sempadan rel kereta api5, namun