STRATEGI PEMERINTAH KABUPATEN ROKAN HILIR
DALAM PEMANFAATAN MESIN RICE PROCESSING
COMPLEX BAGI PENINGKATAN PENDAPATAN
MASYARAKAT
INDRA KESUMA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAN MENGENAI TUGAS AKHIR
DAN SUMBER INFORMASI
Bersama ini saya menyatakan sebenarnya, bahwa Tugas Akhir Strategi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir Dalam Pemanfaatan Mesin Rice Processing Complex Bagi Peningkatan Pendapatan Masyarakat adalah karya dan pemikiran saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun dan oleh siapapun kepada perguruan tinggi manapun dimana karya tulis ini murni muncul dari pemikiran saya. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah dituliskan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tugas Akhir ini.
Demikianlah surat pernyaatan mengenai Tugas Akhir ini saya buat dengan penuh tanggung jawab.
Bogor, Agustus 2008
Indra Kesuma NRP. A0153024445
ABSTRACT
INDRAKESUMA. The Rokan Hilir Regency Government Strategy in Taking Advantage of Rice Processing Complex Machine to Enhance Community Earning. Under direction of LALA M. KOLOPAKING, and SUTARA HENDRAKUSUMAATMADJA.
Agriculture development is remaining strategic as a sector in The Province of Riau. So as in Rokan Hilir (Rohil) Regency, where at 2005, contributions of agriculture sector reaches 57, 36 percent of Regional Domestic Product. Expansion of food agriculture sector is also important to prevent land use re-orientation from agricultural land into plantation, especially palm oil trees. The Rokan Hilir Government strive this expansion variously, including cooperation with the Riau Province Government and Logistic Division (Bulog) in levying of paddy processing machine --- Rice Processing Complex (RPC). Contribution of food crop and horticulture in Rokan Hilir Regency is increasingly developed every year with highest production in paddy rice. Besides, problems of food agricultural land use conversion into palm oil plantation also need to be seriously paid attention. In 2005, converted agricultural land into palm oil plantation reaches value of 3, 56 percent from total of 3,67 percent land use conversion.
This study aim is formulating RPC advantaging strategy and program to support the food agriculture sub-sector and increases farmer earnings. Especially in comprehending the condition of food commodity production development in Rokan Hilir Regency, analyzing roles and business eligibility for RPC in Rohil and determines strategy and program to optimize RPC usage beneficiation in Rokan Hilir Regency.
Based on field assessment, it is found that RPC machine which still be operated is only the property of Bulog. Other RPC machine, which are belongs to The Government of Rokan Hilir and The Province of Riau is still have not been operated.
Analysis express that RPC machine is profitable with the R/C value reaches more than 1. This assessment doesn't examining the investment eligibility, but more focusing in emphasizing improvement program of farmer community earnings. Based on AWOT analysis, formulated the strategy of management fixation through cooperation with the Government of Rokan Hilir Regency and addition of fund. Assessment also suggests that the Government of Rokan Hilir Regency works along with some third party in advantaging RPC, the wholesalers for example, to make the results more maximum.
RINGKASAN
INDRAKESUMA. Strategi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir Dalam Pemanfaatan Mesin Rice Processing Complex Bagi Peningkatan Pendapatan Masyarakat. Komisi Pembimbing : LALA M. KOLOPAKING dan SUTARA HENDRAKUSUMAATMADJA.
Pembangunan pertanian masih merupakan kebijakan strategis untuk pembangunan di Provinsi Riau. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sektor ini tidak hanya dilihat dari sumbangannya terhadap perekonomian wilayah, tetapi perlu juga dilhat dari kemampuannya menyerap tenaga kerja dari penduduk yang umumnya bermukim di pedesaan. Sumbangan sektor pertanian di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) masih cukup berarti, pada Tahun 2005 kontribusinya dicatat sekitar 57,36 persen (%) dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Faktor lain yang menjadi alasan untuk memperhatikan sub-sektor tanaman pangan di kabupaten Rohil adalah ancaman pengalihan (alih fungsi) lahan dari lahan tanaman pangan ke tanaman non pangan, terutama ke perkebunan sawit. Belum lagi, proses itu bersamaan dengan pengalihan fungsi lahan untuk pemukiman akibat pertumbuhan penduduk yang cepat. Pemerintah Kabupaten Rohil telah memberi perhatian pada persoalan tersebut. Salah satunya adalah bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti Pemerintah Provinsi Riau dan Bulog dalam pengadaan mesin pengolahan padi---Rice Processing Complex (RPC).
Tujuan Umum dari kajian ini adalah merumuskan strategi dan program untuk memanfaatkan RPC yang sudah dibangun di Kabupaten Rohil agar dapat lebih mendukung pengembangan sub-sektor tanaman pangan dan meningkatkan pendapatan petani. Secara khusus, tujuan kajian adalah: (1) Mengetahui kondisi dan perkembangan areal dan produksi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Rohil; (2) Menganalisis peranan dan kelayakan usaha RPC di Kabupaten Rohil; (3) Menentukan strategi dan merumuskan program dalam kerangka mengoptimalkan pemanfaatan RPC di Kabupaten Rohil.
Kegunaan dari kajian ini ialah dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam memberikan arah pemanfaatan RPC agar optimal meningkatkan nilai tambah komoditas tanaman pangan, khususnya padi untuk peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Rohil.
Kontribusi tanaman pangan dan hortikultura terhadap perekonomian Kabupaten Rokan Hilir dari tahun ke tahun mengalami peningkatan begitu pula dengan nilainya. Produksi tertinggi untuk tanaman pangan adalah padi sawah. Sementara itu konversi lahan ke perkebunan sawit perlu mendapat perhatian, karena pada tahun 2005 telah terjadi konversi lahan menjadi perkebunan sawit dari lahan pertanian lainnya sebesar 3,56 persen dari total konversi lahan sebesar 3,67 persen.
Analisis finansial menyatakan bahwa RPC menguntungkan dengan nilai R/C lebih dari 1. Namun kajian ini hanya melihat kelayakan investasinya, karena hal yang utama dari penggunaan RPC adalah lebih ditekankan pada program untuk peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya petani.
Berdasarkan hasil analisis AWOT, didapat strategi yang perlu dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir untuk pengembangan RPC, yaitu strategi perbaikan manajemen, bekerjasama dengan Pemkab Rohil dan penambahan dana.
Berdasarkan kajian yang dilakukan, maka saran yang perlu diambil oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir melalui bekerjasama dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan RPCnya, seperti para tengkulak, agar hasil yang diharapkan bisa lebih maksimal.
@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008
Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
PEMERINTAH KABUPATEN ROKAN HILIR DALAM
PEMANFAATAN MESIN RICE PROCESSING COMPLEX
BAGI PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT
INDRA KESUMA
Tugas Akhir
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Profesional pada
Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT, karena atas kekuatan dari-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa apa-apa yang penulis tuangkan dalam karya ilmiah ini adalah masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian penulis tetap berharap karya ilmiah yang sangat sederhana ini nantinya dapat berguna untuk semua pihak dan menjadi tambahan pengetahuan bagi yang ingin meneliti dalam masalah yang sama. Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa tulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan sesuai yang diharapkan. Namun demikian, penulis berusaha dengan memohon kehadirat Allah SWT agar senantiasa diberikan petunjuk dan kecerahan hati dalam penulisan karya ilmiah ini.
Karya ilmiah ini penulis selesaikan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan penulis dan memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Tugas akhir ini terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan jiwa saya menyampaikan ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, M.S selaku Pembimbing I dan Bapak Ir. Sutara Hendrakusumaatmadja, M.Sc selaku Pembimbing II atas segala bimbingan dan arahannya sehingga penulisan tesis ini bisa terselesaikan. Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, M. Ec Ketua Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah Sekolah Pasacasarjana IPB. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga tesis ini bisa diselesaikan.
Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya di masa yang akan datang. Semoga semua yang telah dilakukan senantiasa menjadi ibadah untuk mencapai Ridho Allah SWT. Amin.
Bogor, Agustus 2008
STRATEGI PEMERINTAH KABUPATEN ROKAN HILIR
DALAM PEMANFAATAN MESIN RICE PROCESSING
COMPLEX BAGI PENINGKATAN PENDAPATAN
MASYARAKAT
INDRA KESUMA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAN MENGENAI TUGAS AKHIR
DAN SUMBER INFORMASI
Bersama ini saya menyatakan sebenarnya, bahwa Tugas Akhir Strategi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir Dalam Pemanfaatan Mesin Rice Processing Complex Bagi Peningkatan Pendapatan Masyarakat adalah karya dan pemikiran saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa pun dan oleh siapapun kepada perguruan tinggi manapun dimana karya tulis ini murni muncul dari pemikiran saya. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah dituliskan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tugas Akhir ini.
Demikianlah surat pernyaatan mengenai Tugas Akhir ini saya buat dengan penuh tanggung jawab.
Bogor, Agustus 2008
Indra Kesuma NRP. A0153024445
ABSTRACT
INDRAKESUMA. The Rokan Hilir Regency Government Strategy in Taking Advantage of Rice Processing Complex Machine to Enhance Community Earning. Under direction of LALA M. KOLOPAKING, and SUTARA HENDRAKUSUMAATMADJA.
Agriculture development is remaining strategic as a sector in The Province of Riau. So as in Rokan Hilir (Rohil) Regency, where at 2005, contributions of agriculture sector reaches 57, 36 percent of Regional Domestic Product. Expansion of food agriculture sector is also important to prevent land use re-orientation from agricultural land into plantation, especially palm oil trees. The Rokan Hilir Government strive this expansion variously, including cooperation with the Riau Province Government and Logistic Division (Bulog) in levying of paddy processing machine --- Rice Processing Complex (RPC). Contribution of food crop and horticulture in Rokan Hilir Regency is increasingly developed every year with highest production in paddy rice. Besides, problems of food agricultural land use conversion into palm oil plantation also need to be seriously paid attention. In 2005, converted agricultural land into palm oil plantation reaches value of 3, 56 percent from total of 3,67 percent land use conversion.
This study aim is formulating RPC advantaging strategy and program to support the food agriculture sub-sector and increases farmer earnings. Especially in comprehending the condition of food commodity production development in Rokan Hilir Regency, analyzing roles and business eligibility for RPC in Rohil and determines strategy and program to optimize RPC usage beneficiation in Rokan Hilir Regency.
Based on field assessment, it is found that RPC machine which still be operated is only the property of Bulog. Other RPC machine, which are belongs to The Government of Rokan Hilir and The Province of Riau is still have not been operated.
Analysis express that RPC machine is profitable with the R/C value reaches more than 1. This assessment doesn't examining the investment eligibility, but more focusing in emphasizing improvement program of farmer community earnings. Based on AWOT analysis, formulated the strategy of management fixation through cooperation with the Government of Rokan Hilir Regency and addition of fund. Assessment also suggests that the Government of Rokan Hilir Regency works along with some third party in advantaging RPC, the wholesalers for example, to make the results more maximum.
RINGKASAN
INDRAKESUMA. Strategi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir Dalam Pemanfaatan Mesin Rice Processing Complex Bagi Peningkatan Pendapatan Masyarakat. Komisi Pembimbing : LALA M. KOLOPAKING dan SUTARA HENDRAKUSUMAATMADJA.
Pembangunan pertanian masih merupakan kebijakan strategis untuk pembangunan di Provinsi Riau. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sektor ini tidak hanya dilihat dari sumbangannya terhadap perekonomian wilayah, tetapi perlu juga dilhat dari kemampuannya menyerap tenaga kerja dari penduduk yang umumnya bermukim di pedesaan. Sumbangan sektor pertanian di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) masih cukup berarti, pada Tahun 2005 kontribusinya dicatat sekitar 57,36 persen (%) dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Faktor lain yang menjadi alasan untuk memperhatikan sub-sektor tanaman pangan di kabupaten Rohil adalah ancaman pengalihan (alih fungsi) lahan dari lahan tanaman pangan ke tanaman non pangan, terutama ke perkebunan sawit. Belum lagi, proses itu bersamaan dengan pengalihan fungsi lahan untuk pemukiman akibat pertumbuhan penduduk yang cepat. Pemerintah Kabupaten Rohil telah memberi perhatian pada persoalan tersebut. Salah satunya adalah bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti Pemerintah Provinsi Riau dan Bulog dalam pengadaan mesin pengolahan padi---Rice Processing Complex (RPC).
Tujuan Umum dari kajian ini adalah merumuskan strategi dan program untuk memanfaatkan RPC yang sudah dibangun di Kabupaten Rohil agar dapat lebih mendukung pengembangan sub-sektor tanaman pangan dan meningkatkan pendapatan petani. Secara khusus, tujuan kajian adalah: (1) Mengetahui kondisi dan perkembangan areal dan produksi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Rohil; (2) Menganalisis peranan dan kelayakan usaha RPC di Kabupaten Rohil; (3) Menentukan strategi dan merumuskan program dalam kerangka mengoptimalkan pemanfaatan RPC di Kabupaten Rohil.
Kegunaan dari kajian ini ialah dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam memberikan arah pemanfaatan RPC agar optimal meningkatkan nilai tambah komoditas tanaman pangan, khususnya padi untuk peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Rohil.
Kontribusi tanaman pangan dan hortikultura terhadap perekonomian Kabupaten Rokan Hilir dari tahun ke tahun mengalami peningkatan begitu pula dengan nilainya. Produksi tertinggi untuk tanaman pangan adalah padi sawah. Sementara itu konversi lahan ke perkebunan sawit perlu mendapat perhatian, karena pada tahun 2005 telah terjadi konversi lahan menjadi perkebunan sawit dari lahan pertanian lainnya sebesar 3,56 persen dari total konversi lahan sebesar 3,67 persen.
Analisis finansial menyatakan bahwa RPC menguntungkan dengan nilai R/C lebih dari 1. Namun kajian ini hanya melihat kelayakan investasinya, karena hal yang utama dari penggunaan RPC adalah lebih ditekankan pada program untuk peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya petani.
Berdasarkan hasil analisis AWOT, didapat strategi yang perlu dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir untuk pengembangan RPC, yaitu strategi perbaikan manajemen, bekerjasama dengan Pemkab Rohil dan penambahan dana.
Berdasarkan kajian yang dilakukan, maka saran yang perlu diambil oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir melalui bekerjasama dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan RPCnya, seperti para tengkulak, agar hasil yang diharapkan bisa lebih maksimal.
@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008
Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
PEMERINTAH KABUPATEN ROKAN HILIR DALAM
PEMANFAATAN MESIN RICE PROCESSING COMPLEX
BAGI PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT
INDRA KESUMA
Tugas Akhir
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Profesional pada
Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT, karena atas kekuatan dari-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa apa-apa yang penulis tuangkan dalam karya ilmiah ini adalah masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian penulis tetap berharap karya ilmiah yang sangat sederhana ini nantinya dapat berguna untuk semua pihak dan menjadi tambahan pengetahuan bagi yang ingin meneliti dalam masalah yang sama. Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa tulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan sesuai yang diharapkan. Namun demikian, penulis berusaha dengan memohon kehadirat Allah SWT agar senantiasa diberikan petunjuk dan kecerahan hati dalam penulisan karya ilmiah ini.
Karya ilmiah ini penulis selesaikan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan penulis dan memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Tugas akhir ini terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan jiwa saya menyampaikan ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, M.S selaku Pembimbing I dan Bapak Ir. Sutara Hendrakusumaatmadja, M.Sc selaku Pembimbing II atas segala bimbingan dan arahannya sehingga penulisan tesis ini bisa terselesaikan. Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, M. Ec Ketua Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah Sekolah Pasacasarjana IPB. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi kepada penulis sehingga tesis ini bisa diselesaikan.
Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya di masa yang akan datang. Semoga semua yang telah dilakukan senantiasa menjadi ibadah untuk mencapai Ridho Allah SWT. Amin.
Bogor, Agustus 2008
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan ... 3
1.3 Tujuan ... 4
1.4 Kegunaan Kajian ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Pembangunan Pertanian Subsektor Tanaman Pangan ... 5
2.2. Faktor Yang Menentukan Peningkatan Pendapatan Petani ... 8
2.3. Analisis Pendapatan Usahatani ... 10
III. METODE KAJIAN ... 17
3.1 Kerangka Pemikiran Kajian ... 17
3.2 Lokasi dan Waktu Kajian ... 17
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 17
3.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 19
3.4.1 Analisis Kelayakan Finansial... 19
3.4.2 Analisis Deskriptif Kontribusi Pertanian Tanaman Pangan terhadap PDRB ... 20
3.4.3 Analisis AWOT ... 20
3.5 Metode Perancangan Program ... 21
IV. KONDISI SUB-SEKTOR PERTANIAN TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN ROKAN HILIR... 22
4.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah ...22
4.2 Keadaan Kependudukan ...23
4.3 Distribusi Penggunaan dan Potensi Lahan ... 25
4.4 Potensi Pertanian Tanaman Pangan ... 29
4.5 Kelompok Tani ...31
4.6 Mesin Rice Milling Unit ... 32
4.7 Pasar ... 35
V. HASIL DAN PEMBAHASAN KAJIAN ... 36
5.1 Kontribusi Beras terhadap Perekonomian Kabupaten Rokan Hilir ... 36
5.2 Analisis Kelayakan Usaha Rice Processing Complex ... 39
5.3 Analisis AWOT ... 43
VI. STRATEGI DAN PROGRAM PEMERINTAH KABUPATEN
ROKAN HILIR DALAM PEMANFAATAN RPC ... 50
...6. 1 Strategi untuk mengoptimalkan RPC... 50
...6. 1.1. Strategi Perbaikan Manajemen/Kelembagaan dan Penambahan
...Da na Usaha ... 50 6.1.2. Strategi Bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten
Rokan Hilir ... 52
VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 54
7.1. Kesimpulan ... 54 7.2. Saran ... 54
DAFTAR TABEL
1. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2005 (Juta Rupiah) ... 2
2. Luas Wilayah Kecamatan dan Kepenghuluan/kelurahan di Kabupaten Rokan Hilir ... 23
3 Jumlah Rumah Tangga, Penduduk Menurut Jenis Kelamin, dan Kepadatan per Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2004 ... 24
4 Jumlah Penduduk Kabupaten Rokan Hilir Berdasarkan Kelompok Umur tahun 2003 ... 24
5. Luas Lahan Menurut Penggunaannya di Kabupaten Rokan Hilir
Tahun 2005 ... 26
6. Luas Lahan Menurut Jenis Lahan dan Kecamatan di Kabupaten
Rokan Hilir Tahun 2004 ... 27
7. Alih Fungsi Lahan Tanaman Pangan Ke Non Pangan Diwilayah Kabupaten Rokan Hilir Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2005 ... 28
8. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Lahan Padi dan Padi Gogo di
Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2005 ... 30
9. Produktivitas Lahan Teringgi Komoditas Padi dan Palawija Pada Kecamatan Sentra Produksi di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2005 ... 31
10. Jumlah Kelompok Tani di Kebupaten Rokan Hilir Dirinci Menurut
Kecamatan Tahun 2005 ... 32
11. Jumlah Mesin RMU di Kabupaten Rokan Hilir per Kecamatan
Tahun 2007 ... 33
12. Jumlah dan Persentase RMU menurut Kepemilikan di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2007 ... 34
13. Jumlah dan Persentase RMU menurut Kepemilikan per Kecamatan di
Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2007 ... 34
14. PDRB Kabupaten Rokan Hilir Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2005 (Juta Rupiah)... 36
15. Kontribusi Subsektor Tanaman Bahan Pangan terhadap Sektor
16. Produksi Tanaman Pangan Menurut Jenis Tanaman
Tahun 2005 (Ton)... 37
17. Luas Panen Tanaman Pangan Menurut Jenis Tanaman
Tahun 2005 (Ha) ... 38
18. Jumlah Produksi Padi Sawah per Kecamatan di Kabupaten Rokan
Hilir Tahun 2005 (Ton) ... 38
19. Jumlah Luas Panen Padi Sawah per Kecamatan di Kabupaten
Rokan Hilir Tahun 2005 (Ha) ... 39
20. Tabel 20. Analisis Pendapatan Usaha RPC per 9 Jam ... 42
21. Hasil AWOT untuk Variabel SWOT ... 46
22. Hasil AWOT untuk Variabel Kekuatan ... 47
23. Hasil AWOT untuk Variabel Kelemahan ... 47
24. Hasil AWOT untuk Variabel Peluang ... 48
25. Hasil AWOT untuk Variabel Ancaman ... 48
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Berpikir ... 18
2. Struktur Hirarki AWOT ... 20
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian masih merupakan kebijakan strategis untuk
pembangunan di Provinsi Riau. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sektor ini
tidak hanya dilihat dari sumbangannya terhadap perekonomian wilayah, tetapi perlu
juga dilhat dari kemampuannya menyerap tenaga kerja dari penduduk yang
umumnya bermukim di pedesaan. Pertanian adalah sektor yang bersifat padat
karya, memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang dengan sektor lain yang
tinggi, sehingga pengembangan sektor ini dapat memberi manfaat yang besar dan
bagi pembangunan aspek sosial-ekonomi wilayah.
Sumbangan sektor pertanian di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) masih cukup
berarti, pada Tahun 2005 kontribusinya dicatat sekitar 57,36 persen (%) dari Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB). Lihat Tabel 1.1.
Kabupaten Rokan Hilir sebagai kabupaten yang relatif baru hasil pemekaran
dari Kabupaten Bengkalis, memang masih patut memperhatikan pembangunan
sektor pertanian.. Dari Tabel 1.1. itu juga ditunjukkan, bahwa selain sektor industri
pengolahan (21,63%), perdagangan, hotel dan restoran (13,86%), sektor pertanian
khususnya sub-sektor perkebunan dan kehutanan masih cukup penting. Hal yang
menarik kemudian, meskipun sumbangan sub-sektor pangan tercatat paling kecil
(3,40%), sub-sektor ini perlu diperhatikan. Oleh karena, sub-sektor ini melibatkan
paling banyak rumahtangga petani di Kabupaten Rohil. Disamping itu, sub-sektor
pertanian pangan, khususnya untuk padi sawah di kabupaten ini, adalah sub-sektor
yang sudah lama menonjol dan menjadi ciri penting dari Kabupaten Rohil
dibanding kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Riau. Beras dengan sebutan ”asal
Rohil” sudah menjadi simbol beras asal Provinsi Riau..
Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Rohil Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2005 (Juta Rupiah)
LAPANGAN USAHA 2005 PERSENTASE
Pertanian 3,902,130.34 57.36%
a. Tanaman Bahan Makanan 231,175.01 3.40%
b. Tanaman Perkebunan 1,454,701.06 21.38%
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 49,491.69 0.73%
d. Kehutanan 868,431.90 12.77%
e. Perikanan 1,298,330.69 19.08%
Pertambangan dan Penggalian 17,574.85 0.26%
Industri Pengolahan 1,470,654.34 21.62%
Listrik, Gas dan Air Bersih 14,931.88 0.22%
Bangunan 35,031.03 0.51%
Perdagangan, Hotel dan Restoran 942,567.03 13.86%
Pengangkutan dan Komunikasi 91,387.50 1.34%
Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan 98,621.83 1.45%
Jasa – Jasa 239,046.61 3.51%
PDRB Tanpa Migas 6,802,945.41 100.00%
Sumber: Rohil dalam Angka 2005
Faktor lain yang menjadi alasan untuk memperhatikan sub-sektor tanaman
pangan di kabupaten Rohil adalah ancaman pengalihan (alih fungsi) lahan dari
lahan tanaman pangan ke tanaman non pangan, terutama ke perkebunan sawit.
Belum lagi, proses itu bersamaan dengan pengalihan fungsi lahan untuk
pemukiman akibat pertumbuhan penduduk yang cepat (Distan Kabupaten Rohil,
2006).
Sebenarnya Pemerintah Kabupaten Rohil telah memberi perhatian pada
persoalan tersebut. Tidak sedikit kebijakan yang bertujuan untuk dapat
meningkatkan kesejahteraan petani di sub-sektor pertanian pangan. Salah satunya
adalah bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti Pemerintah Provinsi Riau dan
Saat ini telah ada tiga buah mesin RPC di Kabupaten Rohil, yang dimiliki oleh
Pemerintah Kabupaten Rohil, Bulog dan Pemerintah Provinsi Riau, tetapi ketiganya
belum dapat dipergunakan dengan baik (Bappeda Kabupaten Rohil, 2006) .
Di lain pihak ada suatu permasalahan besar yang mengancam pertanian
tananam pangan di Kabupaten Rohil, yaitu tingginya tingkat pengalihan (alih
fungsi) lahan dari lahan tanaman pangan ke tanaman non pangan, seperti
perkebunan terutama tanaman sawit dan pemukiman sebagai akibat dari
pertumbuhan penduduk yang cepat (Distan Kabupaten Rohil, 2006). Menurut Asni,
2005, memang ada kecenderungan umum bahwa lahan padi sawah bukan irigasi
teknis banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini disebabkan
efisiensi usahatani kelapa sawit rakyat lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani
padi sawah, dengan nilai B/C ratio padi sawah adalah 1,41 sedangkan nilai B/C
ratio kelapa sawit adalah 2,54. Kondisi yang dapat mengancam keberlanjutan
sub-sektor pertanian pangan dan penyediaan pangan di Kabupaten Rohil maupun
Provinsi Riau pada umumnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka menjadi penting untuk memberi perhatian
terhadap pengembangan sub-sektor pangan di Kabupaten Rohil. Hal yang khusus,
adalah menemukan sebuah kebijakan untuk memanfaat RPC yang sudah dibangun
agar dapat lebih mendukung pengembangan sub-sektor tanaman pangan yang
meningkatkan pendapatan untuk petani. Kajian ini mencoba memfokuskan pada
persoalan tersebut.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang diajukan di atas, maka permasalahan
umum yang menjadi perhatian kajian ini adalah menemukan stategi dan program
untuk memanfaat RPC yang sudah dibangun agar dapat lebih mendukung
pengembangan sub-sektor tanaman pangan dan meningkatkan pendapatan untuk
petani. Dari permasalahan umum tersebut, secara khusus ada tiga permasalahan
yang dikaji, yaitu:.
1. Bagaimana kondisi pertanian tanaman pangan (padi) di Kabupaten Rohil
2. Bagaimana sebenarnya peluang peranan dan kelayakan usaha RPC yang
sudah dibangun di Kabupaten Rohil?
3. Bagaimana strategi dan program yang perlu dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Rohil dalam mengoptimalkan peran RPC?
1.3. Tujuan
Tujuan umum dari kajian ini adalah merumuskan stategi dan program untuk
memanfaatkan RPC yang sudah dibangun di Kabupaten Rohil agar dapat lebih
mendukung pengembangan sub-sektor tanaman pangan dan meningkatkan
pendapatan petani. Secara khusus, tujuan kajian adalah:
1. Mengetahui kondisi dan perkembangan areal dan produksi komoditi
tanaman pangan di Kabupaten Rohil,.
2. Menganalisis peranan dan kelayakan usaha RPC di Kabupaten Rohil.
3. Menentukan strategi dan merumuskan program dalam kerangka
mengoptimalkan pemanfaatan RPC di Kabupaten Rohil.
1.4. Kegunaan Kajian
Kegunaan kajian ini adalah dapat memberikan sumbangan pemikiran yang
bermanfaat bagi para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam
memberikan arah pemanfaatan RPC agar optimal meningkatkan nilai tambah
komoditas tanaman pangan, khususnya padi untuk peningkatan kesejahteraan petani
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pembangunan Pertanian Subsektor Tanaman Pangan
Keberhasilan suatu pembangunan pertanian diperlukan beberapa syarat
atau pra kondisi yang berbeda-beda untuk setiap daerah atau negara. Pra kondisi
tersebut meliputi bidang-bidang teknis, ekonomis, sosial-budaya dan lain-lain.
Menurut AT. Mosher, 1991, ada lima syarat yang harus ada untuk adanya
pembangunan pertanian. Kalau satu syarat saja dari syarat-syarat tersebut tidak
ada maka akan terhentilah pembangunan pertanian, pertanian dapat berjalan terus
tetapi statis. Syarat-syarat tersebut adalah:
1. Adanya pasar untuk hasil-hasil usahatani
2. teknologi yang senantiasa berkembang
3. tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal
4. adanya perangsang produksi bagi petani
5. tersedianya pengangkutan yang lancar dan berkelanjutan.
Disamping syarat-syarat mutlak yang lima ini menurut Mosher ada lima
syarat lagi yang adanya tidak mutlak tetapi kalau ada maka akan sangat
memperlancar pembangunan pertanian. Syarat-syarat pelancar tersebut adalah:
1. Pendidikan pembangunan
2. kredit produksi
3. kegiatan gotong royong petani
4. perbaikan dan perluasan tanah pertanian
5. perencanaan nasional pembangunan pertanian.
Masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan semakin mempertegas Pemerintah Indonesia untuk menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak perekonomian nasional. Peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional ada 4 macam, yaitu:
1. Peranan dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB). Pada
tahun 1996, PDB sektor pertanian, termasuk pula kehutanan dan perikanan, adalah
sebesar Rp 63,8 triliun. Nilai ini terus meningkat menjadi Rp 66,4 triliun pada
tahun 2000. Besarnya PDB pertanian tersebut memberikan kontribusi sekitar 17
persen terhadap PDB nasional. Bila dibandingkan dengan sektor lain, maka
kontribusi PDB pertanian menduduki urutan kedua setelah sektor industri
signifikan, sektor pertanian juga telah menunjukkan ketangguhan dalam menjaga
stabilitas ekonomi pada masa krisis perekonomian nasional. Ketangguhan sektor
ini ditunjukkan oleh kemampuannya untuk tetap tumbuh secara positif pada masa
(1998) sementara perekonomian nasional secara agregat mengalami kontraksi
yang sangat hebat, yaitu sebesar 13,7 persen (Gie, 2002).
2. Peranan dalam penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian berikut
sistem agribisnisnya sangat dominan perannya dalam penyerapan tenaga kerja,
yang mampu menyerap 45,0 persen dari total penyerapan tenaga kerja nasional,
atau menempati urutan pertama dalam penyerapan tenaga kerja.
Hal ini dapat dilihat selama masa kontraksi ekonomi nasional akibat krisis
pada tahun 1998, yang secara penyerapan tenaga kerja nasional menurun sebesar
2,13 persen, atau sebesar 6,4 juta orang di semua sektor ekonomi (kecuali listrik),
maka sektor agribisnis justru mampu meningkatkan kapasitas penyerapan tenaga
kerja sebanyak 0,4 juta orang. Fakta empiris ini menunjukkan bahwa sektor
agribisnis masih merupakan sektor yang paling tangguh dalam menghadapi krisis
dan paling berjasa dalam menampung pengangguran sebagai akibat krisis
ekonomi.
3. Peranan sebagai penghasil devisa. Peran sektor pertanian yang sangat
penting adalah dalam meningkatkan pembangunan ekonomi daerah. Sesuai tujuan
pokok dari pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana dimaksud dalam UU No. 22
tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 25 tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom,
adalah untuk mempercepat perkembangan ekonomi daerah. Cara yang efektif dan
efisien untuk membangun ekonomi daerah adalah melalui pendayagunaan
berbagai sumber daya ekonomi yang dimiliki daerah. Pada saat ini sumber daya
ekonomi yang dimiliki dan siap didayagunakan untuk pembangunan ekonomi
daerah adalah sumber daya agribisnis seperti sumber daya alam (lahan, air,
keragaman hayati, agroklimat), sumber daya manusia di bidang agribisnis, dan
teknologi di bidang agribisnis. Selain itu, sektor agribisnis adalah penyumbang
terbesar dalam produk domestik regional bruto (PDRB) dan ekspor daerah. Dalam
penyerapan tenaga kerja, kesempatan berusaha di setiap daerah, sebagian besar
untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah merupakan pilihan yang
paling rasional. Dengan kata lain, pembangunan agribisnis perlu dijadikan sebagai
pilar pembangunan ekonomi wilayah.
4. Peranan dalam pelestarian lingkungan hidup. Keprihatinan akan
kemerosotan mutu lingkungan hidup bukan lagi sebatas isu lokal suatu negara
melainkan sudah menjadi keprihatinan masyarakat internasional. Kemerosotan
mutu lingkungan hidup saat ini telah sampai pada tingkat yang dapat mengancam
kelangsungan hidup manusia tidak hanya di sekitarnya namun juga seluruh
manusia di muka bumi. Pembangunan agribisnis mempunyai potensi untuk dapat
mencegah dan memperbaiki kemerosotan mutu lingkungan hidup melalui
beberapa cara. Pertama, pembangunan agribisnis akan membuka
kesempatan-kesempatan ekonomi yang luas di setiap daerah (ruang). Kesempatan ekonomi
tersebut akan menarik penyebaran penduduk beserta aktivitasnya, sehingga
tekanan penduduk pada suatu ruang tertentu dapat dikurangi; Kedua,
pembangunan agribisnis yang pada dasarnya mendayagunakan keragaman hayati,
dapat mempertahankan keberadaan keanekaragaman hayati; Ketiga, pembangunan
agribisnis yang antara lain mendayagunakan pertumbuhan keragaman tumbuhan,
pada dasarnya merupakan “perkebunan karbon” yang efektif dalam mengurangi
emisi gas karbon atmosfir yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global;
Keempat, pembangunan agribisnis akan menghasilkan produk-produk yang
bersfiat biodegradable yang dapat terurai secara alamiah. Produk agribisnis yang
biodegradable ini akan dapat mengurangi penggunaan produk-produk petrokimia
yang non-biodegradable; dan Kelima, pembangunan agribisnis yang bergerak dari
factor-driven ke capital driven dan kemudian kepada innovation-driven dalam
menghasilkan nilai tambah dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam
dan lingkungan hidup (Gie, 2002).
2.2. Faktor Yang Menentukan Peningkatan Pendapatan Petani
Rumah tangga pertanian adalah satu kesatuan aktivitas ekonomi keluarga
dalam rangka memenuhi kebutuhannya dengan memanfaatkan sektor pertanian
dan di luar sektor pertanian sebagai sumber pendapatannya. Berbagai rumah
kemampuan produksinya. Rumahtangga petani kecil misalnya, kekuatan produksi
terbatas pada pemilikan dan atau penguasaan lahan yang sempit. Dan untuk itu
rumahtangga petani melakukan berbagai strategi termasuk penggunaan tenaga
kerja anggota rumahtangga untuk bekerja di sektor pertanian maupun non
pertanian.
Terkait dengan pengelolaan ekonomi pertanian atau usahatani yang
dilakukan oleh rumahtangga, Soekartawi (1991) mendefinisikan usahatani sebagai
pengorganisasian alam, tenaga kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi
di lapangan pertanian. Usahatani terdiri atas manusia petani (bersama
keluarganya) sebagai tenaga kerja, tanah (alam), modal (termasuk tanaman) dan
unsur pengelolaan atau manajemen yang dijalankan oleh petani itu sendiri.
Secara umum, sumber pendapatan rumahtangga petani yang berasal dari
sektor pertanian ditentukan oleh faktor-faktor: 1] kekuatan produksi, 2]
permintaan atas produk usahatani/pasar, 3] sistem bagi hasil yang diterapkan, dan
4] Regulasi. Kekuatan produksi dipengaruhi oleh: a] luas lahan yang dimiliki
atau dikuasai, b] jumlah tenaga kerja yang digunakan, c] teknologi yang
digunakan, d] variable cost (pupuk dan bibit), e] pengalaman berusahatani.
Soekartawi (1986) menjelaskan bahwa dalam berproduksi pertimbangan atas
prinsip kenaikan hasil yang berkurang (diminishing returns) penting untuk
dilakukan. Prinsip ini berguna untuk menentukan jumlah produksi yang dihasilkan
dari sumberdaya yang terbatas. Kepada sumberdaya yang terbatas ini
ditambahkan faktor-faktor (variable) yang ada dalam jangkauan petani, misalnya
dalam bentuk kerja, benih, pupuk, dan insektisida. Kenaikan hasil yang berkurang
berasal dari hubungan fisik antara faktor-faktor variabel ini terhadap faktor-faktor
tetap (fixed cost). Yang mendasari prinsip ini adalah: tambahan faktor variabel
kepada sumberdaya tetap selama tambahan hasil yang diharapkan dari pemakaian
unit terakhir faktor variabel itu hampir-hampir cukup untuk menutupi tambahan
biaya tersebut.
Terkait dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan dan teknologi, Jenahar
(dalam Chuzaimah, 2006) menjelaskan bahwa kebutuhan terbesar tenaga kerja
produktif dalam suatu proses produksi usahatani adalah kegiatan pengolahan
tingkat penerapan teknologi dalam proses produksi maka semakin efisien
pemanfaatan tenaga kerja produktif rumahtangga. Pendapatan yang diperoleh
petani meningkat lebih besar melalui usaha perluasan lahan dibanding usaha
penerapan teknologi. Potensi tenaga kerja merupakan jumlah orang yang bekerja
dalam kemampuannya bekerja. Perbandingan kemampuan tenaga kerja laki-laki
dan perempuan adalah 1:0,8.
Permintaan atas produk usahatani (pasar) dipengaruhi oleh tingkat
kebutuhan konsumen, semakin tinggi kebutuhan konsumen (permintaan
meningkat) maka harga akan cenderung meningkat dan akhirnya mempengaruhi
pendapatan petani (produsen). Kebutuhan dipisahkan dari konsep selera. Selera
lebih dekat dengan produk pertanian yang bersifat susbstitusi, sehingga konsumen
memilik alternative untuk memilih produk yang disukainya. Asumsi yang
mendasari mekanisme permintaan ini adalah, bahwa produk usahatani merupakan
produk kebutuhan pokok dan pada saat tertentu permintaan akan mengalami titik
maksimal karena kebutuhan pokok konsumen sudah terpenuhi.
Mengingat sistem pertanian di Indonesia yang memiliki lahan terbatas,
maka rumahtangga petani juga melakukan pengelolaan dan penyewaan atas tanah
milik orang lain dengan mekanisme sistem bagi hasil yang diterapkan.
Kebanyakan petani di Indonesia memiliki lahan sempit bahkan ada yang tidak
memiliki lahan sama sekali sehingga pilihan sistem bagi hasil menjadi alternatif
sumber pendapatan rumahtangga petani. Pembayaran pada sistem bagi hasil ini
tidak terbatas pada bentuk uang tetapi juga bisa dalam bentuk barang atau produk
pertanian. Penguasaan atas tanah pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan
produktivitas. White (dalam Chuzaimah, 2006) menjelaskan bahwa semakin luas
tanah yang dikuasai, pendapatan yang diterima dari usaha pada tanah (dalam arti
usahatani) semakin tinggi, yang memungkinkan untuk diinvestasikan pada usaha
di luar usahatani.
Regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah akan sangat mempengaruhi
pelaksanaan usahatani. Soekartawi (1986) mengartikan regulasi sebagai
kebijaksanaan pertanian yaitu perincian oleh pemerintah mengenai ketentuan dan
peraturan yang harus ditaati dalam penyelenggaraan pertanian. Soekartawi
pemerintah. Contoh berbagai kebijakan pertanian adalah kebijakan bagi hasil, hak
atas tanah dan air, harga, pengaturan pasar, pengawasan terhadap hama dan
penyakit, ekspor, pemberian kredit dan tingkat bunga. Banyak aspek dalam
kebijaksanaan nasional, seperti pembangunan jalan raya, pembiayaan pendidikan
dan penelitian mempunyai pengaruh nyata terhadap pertanian. Hubungan regulasi
pemerintah dengan tenaga kerja yang akhirnya mempengaruhi pendapatan petani,
misalnya dengan adanya bantuan pemerintah kepada petani kecil berupa obat
pemberantas hama maka akan meniadakan kesempatan kerja bagi petani yang
bendapatannya bersumber dari pekerjaan menyiang.
2.3. Analisis Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan
biaya total. Pendapatan atas biaya tunai adalah biaya yang benar-benar
dikeluarkan oleh petani, sedangkan pendapatan atas biaya total adalah semua
input milik keluarga yang juga diperhitungkan sebagai biaya. Secara matematik
penerimaan total, biaya dan pendapatan dalam kegiatan usahatani dapat
dirumuskan sebagai berikut:
TR = Y . Hy
TC = TFC + TVC
П
tunai= TR
total- TC
tunaiП
total= TR
total– (TC
tunai +TC
diperhitungkan)
Dimana:
TR = Total Penerimaan usahatani (Rp)
TC = Total biaya usahatani (Rp)
П = Pendapatan usahatani (Rp)
Y = Jumlah produksi yang dihasilkan (unit)
Hy = Harga produk yang dihasilkan (Rp/unit)
TFC = Total biaya tetap
TVC = Total biaya variable (Soekartawi, 1991)
Dalam ekonomi rumahtangga ada kesalingterkaitan antara produksi dan
konsumsi, bahkan kedual hal tersebut terkadang tidak dapat dipisahkan oleh
rumahtangga petani, dimana penerapan model ekonomi tidak dapat mengikuti
model konvensional yang biasa diterapkan pada ekonomi perusahaan. Untuk
menganalisis model khusus ini maka digunakan model ekonomi khusus
rumahtangga pertanian atau biasa disebut agricultural household model. Terkait
dengan model ekonomi khusus rumahtangga ini, Bagi dan Singh (1974)
menyatakan bahawa keputusan usahatani adalah saling tergantung, dinamik dan
kompleks, saling mempengaruhi secara simultan. Enam kategori dari persamaan
simultan perilaku usahatani rumahtangga yaitu keputusan produksi, keputusan
konsumsi, surplus pasar, keputusan penggunaan tenaga kerja, keputusan investasi
dan keputusan finansial.
2.4. RPC Penggilingan Padi dan Peningkatan Pendapatan Petani
RPC Penggilingan Padi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
peningkatan pendapatan petani. RPC dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan
nilai tambah dari produksi padi dan peningkatan pendapatan petani. Sehingga
apabila RPC penggilingan padi meningkat maka akan diikuti oleh peningkatan
pendapatan petani.
2.4.1 RPC sebagai sarana Peningkatan nilai Tambah Produksi Padi
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Nurtama et al. (1996) yang
dimantapkan oleh Suismono dan Damardjati (2000) dalam Widowati (2001)
menyatakan bahwa sistem penggilingan padi, baik ditinjau dari kapasitas giling
maupun teknik penggilingan akan berpengaruh terhadap mutu beras. Sistem
penggilingan padi secara tidak langsung juga menentukan jumlah dan mutu hasil
sampingnya, terutama bekatul dan menir. Semua ini pada hakikatnya adalah
untuk meningkatkan pendapatan petani.
Penggilingan dengan kapasitas besar dan kontinu, umumnya menghasilkan
beras dengan mutu bagus dan rendemen beras keseluruhan tinggi (63-67%).
Penggilingan kapasitas besar biasanya dilengkapi dengan grader, sehingga menir
langsung dipisahkan dari beras kepala. Ditinjau dari menir yang terpisahkan,
maka dari sistem penggilingan ini diperoleh menir bermutu baik dengan jumlah
mutunya kurang baik, karena masih tercampur dengan dedak dan serpihan sekam.
Penggilingan padi skala sedang, dengan sistem semi kontinu maupun diskontinu
akan menghasilkan bekatul dengan jumlah cukup banyak dan mutu baik. Hal ini
karena bekatul, yang dihasilkan dari mesin sosoh kedua, terpisah dengan dedak,
yang dihasilkan dari mesin sosoh pertama. Apabila bekatul akan digunakan
sebagai bahan pangan, maka sebaiknya hanya diambil dari hasil mesin sosoh
kedua, karena tidak lagi tercampur dengan dedak (bekatul kasar) dan serpihan
sekam. Penggilingan padi skala kecil, yang hanya menggunakan satu unit mesin
pemecah kulit dan satu unit mesin sosoh umumnya menghasilkan bekatul dengan
mutu kurang baik dan jumlah sedikit.
Kapasitas Giling. Berdasarkan kapasitas giling, penggilingan padi
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu penggilingan padi skala besar (PPB),
penggilingan padi skala sedang/menengah (PPS), dan penggilingan padi skala
kecil (PPK).
Penggilingan padi skala besar, yaitu penggilingan padi yang menggunakan
tenaga penggerak lebih dari 60 HP (Horse Power) dan kapasitas produksi lebih
dari 1000 kg/j, baik menggunakan sistem kontinu maupun diskontinu. PPB sistem
kontinu terdiri dari satu unit penggiling padi lengkap, semua mesin pecah kulit,
ayakan, dan penyosoh berjalan secara kontinu, dengan kata lain masuk gabah
keluar beras giling. PBB diskontinu minimal terdiri dari empat unit mesin
pemecah kulit dan empat unit mesin penyosoh yang dioperasikan tidak sinambung
atau masih menggunakan tenaga manusia untuk memindahkan dari satu tahapan
proses ke tahapan lain.
Penggilingan padi skala sedang menggunakan tenaga penggerak 40-60
HP, dengan kapasitas produksi 7001000 kg/j. Umumnya PPS terdiri dari dua unit
mesin pemecah kulit dan dua unit mesin penyosoh. PPS ini menggunakan sistem
semi kontinu, yaitu mesin pecah kulitnya kontinu, sedangkan mesin sosohnya
masih manual.
Penggilingan padi skala kecil ialah penggilingan padi yang menggunakan
tenaga penggerak 20-40 HP, dengan kapasitas produksi 300-700 kg/j.
Penggilingan padi manual yang terdiri dari dua unit mesin pemecah kulit dan dua
masih terdapat Huller, yaitu penggilingan padi yang menggunakan tenaga
penggerak kurang dari 20 HP dan kapasitasnya kurang dari 300 kg/j. Huller terdiri
dari satu unit mesin pemecah kulit dan satu unit penyosoh. Beras yang dihasilkan
mutu gilingnya kurang baik, umumnya untuk dikonsumsi sendiri di pedesaan.
Teknik Penggilingan. Berdasarkan teknik penggilingannya, penggilingan
padi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu penggilingan kontinu, semi kontinu, dan
diskontinu. Sistem penggilingan kontinu ialah sistem penggilingan di mana
seluruh tahapan proses berjalan langsung/ban berjalan. Mesin ini sangat lengkap,
terdiri dari mesin pembersih gabah, pemecah kulit, pengayak beras pecah kulit
(paddy separation), penyosoh (polisher), dan ayakan beras (grader).
Sistem semi kontinu, yaitu sistem penggilingan padi di mana mesin
pemecah kulitnya dioperasikan secara kontinu, namun mesin penyosohannya
masih manual. Umumnya sistem ini terdapat pada PPS. Pada sistem diskontinu
seluruh proses dilakukan secara manual, umumnya digunakan pada PPK.
Mutu Beras dan Rendemen Hasil Samping Penggilingan. Sistem
penggilingan padi berpengaruh terhadap mutu beras maupun hasil sampingnya.
Mesin pemecah kulit menggunakan rubber roll yang berputar berlawanan arah,
masing-masing ke arah dalam. Jarak antar rol dan kecepatan putar akan
berpengaruh terhadap tingkat kesempurnaan pengupasan sekam dan keretakan
beras pecah kulit. Tipe mesin penyosoh berpengaruh terhadap mutu fisik beras.
Tipe friksi menghasilkan mutu giling yang baik, yaitu menir rendah (±2%),
mengkilap tetapi derajat putihnya relatif rendah (41%). Tipe abrasive memberikan
kenampakan beras yang lebih putih (derajat putih 55%) namun menirnya lebih
tinggi (±5%). Tipe friksi bekerja dengan cara gesekan antar butiran beras,
sedangkan tipe abrasive bekerja dengan cara pengikisan kulit ari/ aleuron beras
dengan batu gerinda.
Derajat sosoh merupakan salah satu kriteria mutu beras BULOG. Derajat
sosoh minimal persyaratan BULOG ialah 90% karena tujuannya untuk
menyimpan. Semakin tinggi derajat sosoh, beras semakin awet disimpan, karena
kandungan bekatul yang tersisa semakin sedikit. Pengembangan metode
penetapan derajat telah dilakukan oleh Damardjati (1989), baik secara fisik
Derajat sosoh menunjukkan persentase penghilangan bekatul. Derajat
sosoh 90%, berarti 90% lapisan bekatul disosoh atau dibuang. Jadi dalam sistem
penggilingan padi, semakin tinggi derajat sosoh beras, semakin banyak bekatul
yang dibuang. Dengan kata lain rendemen bekatul makin tinggi. Ditinjau dari nilai
gizinya, semakin tinggi derajat sosoh semakin rendah nilai gizi, terutama
proteinnya (Widowati et al., 1988).
Komposisi gizi hasil samping penggilingan padi bervariasi. Menurut
Hermanianto et al. (1997), yang telah melakukan survei mutu hasil samping
penggilingan padi di beberapa daerah di Jawa Barat, variasi tersebut diduga
dipengaruhi oleh varietas dan teknik penggilingan.
Pemanfaatan Hasil Samping. Dalam mutu giling beras, dikenal tiga
tingkatan ukuran beras, yaitu (1) beras kepala, mempunyai ukuran lebih besar atau
sama dengan 2/3 panjang beras, (2) beras patah 1/3-2/3 panjang beras, dan (3)
menir, yaitu patahan beras berukuran kurang dari 1/3 bagian. Di Karawang dan
Bekasi dikenal dua macam menir, yaitu menir kasar (bagian dari beras giling) dan
menir halus atau disebut jitai, yaitu bagian beras dengan ukuran sangat kecil, yang
ikut tersosoh dan keluar bersama-sama bekatul. Jitai dipisahkan dari bekatul
dengan cara diayak dan dimanfaatkan sebagai pakan bebek/ayam (Nurtama et al.,
1996 dalam Widowati, 2001).
Menir kasar juga dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan bahan baku
makanan tradisional. Agar nilai sosial ekonomi dan gunanya meningkat maka
menir harus diproses lebih lanjut sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku
produk pangan. Masyarakat mempunyai anggapan bahwa menir merupakan beras
bermutu rendah, sehingga hanya dikonsumsi oleh masyarakat strata sosial rendah.
Namun, jika diproses, misalnya menjadi tepung dan diolah lebih lanjut menjadi
produk makanan, maka status sosialnya meningkat karena produk tersebut
dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat. Pengolahan menir menjadi produk
lanjutan akan meningkatkan nilai guna dan ekonominya.
Bentuk antara (intermediate) yang paling cocok untuk menir ialah tepung.
Mutu tepung beras asal menir tidak kalah nilai gizinya dibandingkan dengan
tepung beras dari bahan beras kepala. Harga menir relatif lebih murah
pembuatan tepung beras dari bahan baku menir akan mengurangi biaya produksi,
tanpa mengurangi mutunya. Dalam bentuk tepung, pemanfaatannya lebih luas.
Untuk meningkatkan jumlah dan mutu protein tepung dapat dilakukan
dengan membuat komposit dengan kacang-kacangan. Protein dalam menu
makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh disajikan pada Tabel 2. Dari
serealia yang diuji, beras mempunyai kandungan protein yang tidak tinggi (6,9%)
tetapi protein yang dapat dimanfaatkan relatif tinggi (4,01%). Kacang-kacangan
merupakan sumber protein nabati, oleh sebab itu pembuatan tepung komposit
dengan kacangkacangan dapat meningkatkan mutu gizinya (Winarno, 2000 dalam
Widowati, 2001)..
Peningkatan gizi tepung beras selain dengan penambahan tepung
kacang-kacangan juga dapat dilakukan dengan cara enzimatis, yaitu memanfaatkan
amilase. Prinsip proses pembuatan tepung beras kaya protein (BKP) ialah
suspensi tepung beras yang telah tergelatinasi dihidrolisis dengan amilase,
disaring, residunya dikeringkan dengan menggunakan drum dryer. Dengan cara
ini tepung BKP mengandung protein ±15%, meningkat dari tepung beras awal
(6-8%). Tepung BKP ini dapat dimanfaatkan sebagai makanan bayi. Tepung BKP
komposit dapat meningkatkan sumbangan protein 6070% (Damardjati dan
Purwani, 1995 dalam Widowati, 2001).
Di daerah tertentu misalnya di Jawa Barat, dedak dan bekatul disamakan
pengertiannya, yaitu bagian kulit ari beras yang terpisah selama penyosohan. Di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur keduanya dibedakan, yaitu dedak
merupakan hasil penyosohan pertama (ukuran relatif kasar dan kadang-kadang
masih tercampur dengan potongan sekam) umumnya digunakan sebagai pakan.
Bekatul merupakan hasil penyosohan kedua (ukuran halus) sering digunakan
sebagai bahan pangan. Pemanfaatan dedak/bekatul masih terbatas, karena
hambatan sifat komoditas ini yang mudah rusak/tengik. Oleh sebab itu,
pemanfaatan bekatul sebagai bahan pangan harus segar (tidak lebih 24 jam setelah
digiling). Beberapa usaha pengawetan dan pemanfaatan bekatul, selain untuk
III. METODE KAJIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Kajian
Sebagai kabupaten baru yang merupakan pemekaran dari Kabupaten
Bengkalis, maka untuk mempercepat proses pembangunan daerah, adanya
otonomi di Kabupaten Rokan Hilir telah memberi ruang gerak yang lebih luas
bagi pemerintah daerah untuk melakukan perencanaan pembangunan daerah
secara keseluruhan, dan melaksanakan pembangunan secara otonom berdasarkan
dengan ketersediaan dan daya dukung sumberdaya daerah tersebut.
Oleh karena itu pada penelitian ini dilihat peranan dari sektor pertanian
tanaman pangan, khususnya padi, kemudian dikaitkan dengan pengadaan
beberapa RPC di Kabupaten Rokan Hilir, apakah sudah mencukupi atau belum
suplai padi dari masyarakat. Selain itu untuk mengetahui kelayakan usaha dari
RPC, karena dari tiga RPC yang ada hanya satu yang beroperasi.
Tujuan akhir dari kajian ini adalah untuk mengetahui strategi apa yang
harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir untuk mengoptimalkan
peranan dari RPC.
3.2. Lokasi dan Waktu Kajian
Kajian strategi pengembangan subsektor pertanian tanaman pangan
dilakukan di Kabupaten Rokan Hilir. Pelaksanaan kajian berlangsung dari bulan
September 2007 hingga Januari 2008.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Pada kajian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis
data menggunakan AHP, maka data primer diperoleh dari beberapa ahli yang
dipilih karena mengetahui masalah ini, seperti Dinas Peranian Kabupaten Rokan
Hilir, Bulog Kabupaten Rokan Hilir dan Dinas Pertanian Provinsi Riau,
sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi pemerintahan, seperti
Peranan RPC dalam Meningkatkan Pendapatan Petani
Analisis Kelayakan Peranan dan kelayakan
RPC kontribusi pertanian
tanaman pangan/padi
Analisis PDRB
AWOT
Strategi Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dalam Pemanfaatan Peran Rice Processing Complex di
[image:42.595.167.500.95.464.2]Kabupaten Rokan Hilir
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Pengolahan dan analisis data yang digunakan pada kajian ini adalah :
3.4.1 Analisis Kelayakan Finansial
Analisis ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kelayakan
finansial usahatani komoditas unggulan yang dipilih.
a. Biaya Produksi
Biaya produksi dalam kajian ini adalah biaya produksi yang urutannya dari
pembelian gabah hingga proses produksi menghasilkan beras. Penekanan
pada kajian ini adalah analisis finansial untuk biaya variabel, biaya
investasi tidak diikutsertakan karena proyek RPC penekanannya adalah
pada peningkatan pendapat petani.
b. Pendapatan Kotor
Pendapatan kotor merupakan perkalian dari jumlah produksi beras yang
dihasilkan dan harga jual.
c. Pendapatan Bersih
Pendapatan bersih merupakan selisih antara pendapatan kotor dengan total
biaya.
d. Kelayakan Ekonomi
Untuk melihat kelayakan ekonomi uahatani ini, dianalisis menggunakan
model Return Cost Ratio, dengan formulasi:
TC TR RCR =
Keterangan:
RCR = Return Cost Ratio
TR = Total Revenue
TC = Total Cost
Dengan ketentuan, jika RCR > 1 maka usahatani merugi
Jika RCR > 1 maka usahatani menguntungkan dan
3.4.2 Analisis Deskriptif Kontribusi Pertanian Tanaman Pangan terhadap
PDRB
Analisis ini digunakan untuk menggambarkan besarnya kontribusi sub
sektor tanaman pangan terhadap sektor pertanian dan PDRB Kabupaten Rokan
Hilir.
3.4.3. Analisis AWOT
Pada kajian ini digunakan analisis AWOT yang merupakan gabungan
antara analisis SWOT dan AHP. Teknik ini merupakan penggabungan antara
analisis AHP dan SWOT. AHP adalah salah satu bentuk pengambilan keputusan
yang pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model
sebelumnya. Peralatan utama dari model ini adalah sebuah hirarki fungsional
dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah yang
kompleks dan tidak terstruktur dipecah dalam kelompok-kelompoknya, kemudian
diatur menjadi suatu bentuk hirarki/tingkatan (Falatehan, 2006).
Tujuan Pemilihan Kebijakan
Level 1 Fokus Level 4 Strategi Level 3 Faktor Level 2 Komponen SWOT Weakness W Strenght S Opportunity O Threat T Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3 Strategi 4 A B C D E F G
H K
L J
[image:44.595.99.495.407.683.2]I
AHP diperlukan karena SWOT banyak memiliki kelemahan, seperti terlalu
kualitatif apabila dikuantifikasikan maka tidak jelas berapa bobot antara faktor
masing-masing komponen SWOT. Demikian juga bobot antara faktor dari
masing-masing komponennya, perlu dibuat prioritas sehingga dalam penentuan
strategi mana yang menjadi prioritas akan lebih mudah jika menggabungkan
SWOT dengan AHP. Penentuan faktor-faktor dari setiap komponen SWOT dan
pembobotan diperoleh dari hasil wawancara dengan responden (Falatehan, 2006).
3.5. Metode Perancangan Program
Perancangan program dilakukan dengan mengkaitkan visi, misi
pembangunan Kabupaten Rokan Hilir dan strategi yang didapat yang telah
diperoleh melalui analisis PDRB, kelayakan usaha RPC serta hasil pelaksanaan
IV. KONDISI SUB-SEKTOR PERTANI AN TANAMAN
PANGAN DI KABUPATEN ROKAN HI LIR
4.1. Letak Geografis dan Luas Wilayah
Kabupaten Rokan Hilir merupakan hasil pemekaran Kabupaten Bengkalis
dengan Undang-Undang Nomor 53 tahun 1999. Wilayah ini terletak dibagian
paling utara dari Provinsi Riau atau pada pesisir Timur Pulau Sumatera, yaitu antara
1°14' - 2°30' lintang Utara dan 100°16' - 101°21' Bujur Timur.
Berdasarkan letak geografis ini, Kabupaten Rokan Hilir berada pada posisi
yang strategis, yaitu jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Hal ini
menempatkannya menjadi salah satu gerbang lintas regional bagi Provinsi Riau
dari/ke Selangor Malaysia maupun ke Sumatera Utara. Disamping itu, Kabupaten
Rokan Hilir mempunyai keunggulan dengan dekatnya wilayah administrasi dan
aksesibilitas yang baik dengan Kota Dumai yang salah satu fungsi utama kotanya
sebagai pusat kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional.
Wilayah Kabupaten Rokan Hilir memiliki luas daerah sebesar 8.881,59 km2
berbatasan dengan Propinsi Sumatera Utara dan Selat Malaka di sebelah Utara,
Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hulu di sebelah Selatan, Kota Dumai
di sebelah Timur dan Propinsi Sumatra Utara di sebelah Barat yang terbagi dalam
12 kecamatan dan 107 kepenghuluan/kelurahan, seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan bahwa wilayah Kecamatan yang terluas adalah
Kecamatan Tanah Putih, mencapai 24,16 persen sedangkan Kecamatan Tanjung
Melawan adalah kecamatan terkecil yang hanya 2,23 persen dari totol luas
Kabupaten Rokan Hilir. Sementara itu, jumlah kepenghuluan/kelurahan terbanyak
terdapat di Kecamatan Bangko, yaitu sebanyak 22 atau 20,56 persen dan terkecil
di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Tp. Tanjung Melawan, Simpang Kanan, Pasir
Limau Kapas dan Sinaboi yang masing-masing hanya 4 desa atau 3,74 persen dari
total desa yang ada di Kabupaten Rokan Hilir. Banyak sedikit jumlah
kepenghuluan/kelurahan pada setiap kecamatan dapat menggambarkan keadaan
jangkaunan pelayanan administrasi pemerintah terhadap masyarakat. Semakin
memperpendek dan mempercepat pelayanan administrasi pemerintah kepada
[image:47.595.115.532.190.407.2]masyarakat yang ada di kawasan tersebut.
Tabel 2. Luas Wilayah Kecamatan dan Kepenghuluan/kelurahan di Kabupaten Rokan Hilir
No Kecamatan Luas
(km2) Persentase
Kepenghuluan
Kelurahan Persentase
1 Tanah Putih 2.146 24,16 10 9,34
2 Pujud 985 11,10 8 7,48
3 Tp. Tj. Melawan 199 2,23 4 3,74
4 Bagan Sinembah 847 9,54 14 13,08
5 Simpang Kanan 446 5,02 4 3,74
6 Kubu 1.1061 12,45 14 13,08
7 Ps. Limau Kapas 670 7,54 4 3,74
8 Bangko 941 10,59 22 20,56
9 Senaboi 336 3,78 4 3,74
Lo Rimba Melintang 236 2,65 8 7,48
11 Bangko Pusako 733 8,25 9 8,41
12 Batu Hampar 284 3,20 6 5,61
Jumlah 8.882 100,00 107 100,00
Sumber: Dinas Pertanian TanamanPangan Kabupaten Rokan Hilir
4.2. Keadaan Kependudukan
Penduduk merupakan potensi sumberdaya manusia penting dalam
pembangunan suatu daerah. Potensi ini dapat dilihat dari segi jumlah, umur, jenis
kelamin dan tingkat pendidikan penduduk itu sendiri. Penduduk Kabupaten Rokan
Hilir pada tahun 2004 menurut BPS tercatat sebanyak 440.894 jiwa yang terdiri
dari 93.896 rumah tangga dengan laju pertumbuhan penduduk 4,40 persen per
tahun. Untuk melihat jumlah penduduk dirinci menurut kecamatan dan jenis
Tabe1 3 Jumlah Rumah Tangga, Penduduk Menurut Jenis Kelamin, dan Kepadatan per Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2004
Penduduk (jiwa) Kecamatan Luas wilayah (km) Rumah tangga
Laki-laki Perempuan Total
Kepa-datan
(jiwa /km)
Tanah Putih 2.146,36 9.910 23.853 22.277 46.130 21 Pujud 984,90 9.973 21.814 24.808 46.622 47 Tp. Tj. Melawan 198,39 1.772 3.627 4-319 7-946 40 Bagan Sinembah 847,35 24.572 53.622 53.806 107.428 127 Simpang Kanan 445,55 4.105 9.318 10.126 19.444 44 Kubu 1.061,06 6.204 15.273 15.864 31.137 29 Ps. Limau Kapas 669,63 6.077 14.695 13.971 28.666 43 Bangko 940,56 14.148 38.252 36.483 74.735 61 Senaboi 335,48 1.806 4.671 4.476 9.147 27 Batu Hampar 284,31 1.109 2.881 2.609 5.490 23 Rimba Melintang 235,48 5.943 14.440 11-686 26.126 111 Bangko Pusako 732,52 8.277 19.092 18.931 38.023 52 Jumlah 8.881,59 93.896 221.538 219.356440.894 50
Sumber: BPS Tahun 2004
Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Rokan Hilir
terbanyak terdapat di Kecamatan Bagan Sinembah yakni berjumlah 107.428 jiwa
dan terkecil terdapat di Kecamatan Batu Hampar yang hanya 5.490 jiwa.
Kepadatan penduduk terpadat terdapat di Kecamatan Bagan Sinembah sebanyak
127 jiwa/km2 dan yang terjarang dijumpai di Kecamatan Tanah Putih yakni 21
jiwa/km2. Sementara rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Rokan Hilir
sebanyak 50 jiwa/km2. Sedangkan jumlah penduduk penduduk berdasarkan
[image:48.595.114.501.123.373.2]kelompok umur disajikan dalam Tabe1 4
Tabel 4 Jumlah Penduduk Kabupaten Rokan Hilir Berdasarkan Kelompok Umur tahun 2003
No Kelompok Umur Jumlah (jiwa) Persentase
1 < 2 12.279 2,91
2 2-4 40,698 7,81
3 5-9 51,268 2,17
4 10-14 53-219 12,63
5 15-49 233-070 55,32
6 50-64 22.865 5,43
7 65+ 7.882 1,87
421.281 100,00
Tabel 4 memperlihatkan bahwa kelompok umur produktif berjumlah
255.935 jiwa (60,75%) dengan asumsi umur produktif dari 15 tahun sampai 64
tahun. Kelompok umur ini sangat penting dalam kaitannya dengan ketersediaan
tenaga kerja produktif untuk melakukan usaha pertanian dan usaha fisik lain pada
suatu daerah tertentu. Jumlah penduduk berdasarkan golongan ini juga dapat
menggambarkan rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu perbandingan
penduduk produktif terhadap non produktif. Dependency ratio penduduk di
Kabupaten Rokan Hilir adalah sebesar 65 persen yang berarti setiap 100 penduduk
produktif menanggung sebanyak 65 jiwa penduduk non produktif.
4.3 Distribusi Penggunaan dan Potensi Lahan
Lahan merupakan sumberdaya alam sekaligus faktor produksi penting
dalam usaha pertanian. Disamping sebagai tempat pemukiman penduduk, di atas
tanah dapat diusahakan berbagai jenis tanaman tergantung kepada tingkat
kesuburan dan kesesuaian lahan yang ada. Disamping itu, di atas tanah dapat juga
dibangun usaha ekonomi lain seperti kolam/empang untuk pemeliharaan ikan air
tawar. Luas penggunaan lahan di Kabupaten Rokan Hilir disajikan dalam Tabel 5.
Tabel 5 menjelaskan bahwa dari luas wilayah Kabupaten Rokan Hilir
seluas 888.159 hektar, 8,20 persen (72.791 ha) adalah lahan sawah dan
selebihnya 91,80 persen (815.368 ha) adalah lahan kering. Sawah di Kabupaten
Rokan Hilir didominasi oleh sawah tadah hujan seluas 50.321 hektar (68,13
persen), sawah lebak dan pasang surut yang masing-masing 12,17 persen dan 2,94
persen. Sementara lahan sawah yang tidak diusahakan masih cukup luas yang
mencapai 11.991 hektar (16,47%).
Sedangkan penggunaan lahan bukan sawah (lahan kering) didominasi
untuk perkebunan negara/swasta yang mencapai 190.288 hektar (23,34%),
kemudian diikuti lahan untuk tegalan seluas 121.564 hektar (14,91%), dan hutan
Tabel 5. Luas Lahan Menurut Penggunaannya di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2005
No Penggunaan lahan Luas (ha) Persentase
A Sawah
1 Pasang surut 2.140 2,94
2 Tadah hujan 50.321 69,13
3 Lebak 8.861 12,
4 Sedan tidak diusahakan 11.991 16,47
Jumlah 72.791 8,20
B Bukan lahan sawah 1 Lahan kering
A Pekarangan/bangunan/halaman sekitarnya 29.063 3,56
b Tegalan/Kebun 121.564 14,91
c Ladang/Huma 5.857 0,72
d Pengembalaan padang rumput 99 0,02 e Rawa-rawa yang tidak diusahakan 27.839 3,41
f Kolam/Tebat/Empang 89 0,01
g Perkebunan negara/swasta 190.288 23,34 h Sedang tidak diusahakan 31-977 3,83 2 Lahan hutan
a Hutan Negara 108.303 13,28
b Hutan Rak at 41.676 5,11
3 Lahan Lainnya 258.513 31,71
Jumlah 815.368 91,80
Lahan sawah + bukan lahan sawah 888.159 100,00
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Rokan Hilir Tahun 2006.
Penggunaan tanah yang tersempit adalah untuk kolam/tebat/empang yang hanya
0,01 persen. Ini menunjukkan bahwa potensi budidaya perikanan darat, khususnya
usaha budidaya perkoloman belum tergarap dengan baik pada hal punya potensi
yang cukup besar bila dilihat dari ketersediaan air di kawasan tersebut. Disamping
penggunaan lahan di atas, masih ada penggunaan lainnya seluas 815.368 hektar
atau 31,71 persen dari luas lahan bukan sawah.
Khusus mengenai potensi lahan sawah di Kabupaten Rokan Hilir dapat
dilihat pada Tabel 6. Luas lahan sawah terluas dijumpai di Kecamatan Bangko
seluas 24.619 hektar atau 33,82 persen dari seluruh lahan sawah yang ada di
Kabupaten Rokan Hilir. Urutan kedua terluas adalah di Kecamatan Kubu yaitu
seluas 14,050 hektar atau 19,30 persen dari total lahan sawah. Luas lahan sawah
akan tetapi lahan kering di daerah tersebut cukup potensial yaitu nomor 2 terluas
setelah Kecamatan Tanah Putih, yaitu 98.360 hektar atau 12,60 persen.
Sedangkan di Kecamatan Tanah putih mencapai 212.866 hektar atau 26,11 persen
dari total luas lahan kering di Kabupaten Rokan Hilir seluas 815.368 hektar.
Dari luas lahan sawah dan lahan kering yang ada ternyata tidak semua luas
lahan tersebut dapat diusahakan karena berbagai kendala. Luas lahan yang
sementara tidak dapat