ALASAN ASIA PULP AND PAPER MEMPERCEPAT KOMITMEN KEBIJAKAN KONSERVASI HUTAN (ZERO DEFORESTATION) TAHUN 2013
THE GROUND OF ASIA PULP AND PAPER TO HASTEN ITS COMMITMENT ON ZERO DEFORESTATION POLICY BY 2013
Nadya Annisa Putri 201020510327
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
i
ALASAN ASIA PULP AND PAPER MEMPERCEPAT KOMITMEN KEBIJAKAN KONSERVASI HUTAN (ZERO DEFORESTATION) TAHUN
2013
THE GROUND OF ASIA PULP AND PAPER TO HASTEN ITS COMMITMENT ON ZERO DEFORESTATION POLICY BY 2013
SKRIPSI
Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana pada Program
Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh :
Nadya Annisa Putri
20120510327
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
Dengan ini saya menyatakan bahwa Karya Ilmiah atau Skripsi ini adalah asli
hasil karya saya sendiri dan Karya Ilmiah ini belum pernah diajukan sebagai
pemenuhan untuk memperoleh gelar kesarjanaan Strata Satu (S1) maupun Magister
(S2) baik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ataupun di Perguruan Tinggi
lain.
Semua informasi yang dianut dalam Karya Ilmiah ini yang berasal dari
penulis lain baik dipunlikasikan atau tidak, telah diberikan pengarahan dengan
mengutip nama sumber penulis secara benar dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari
terdapat ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi
akademik sesuai aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Yogyakarta, 8 September 2016
Penulis,
iv
QUOTE:
“…Sesungguhnya
Allah bersama
orang-orang yang
sabar.”
v
Halaman Persembahan
Dengan penuh rasa syukur dan segala hormat serta bangga,
skripsi ini saya persembahkan untuk:
Kedua orang tua saya yaitu papa saya Widodo Prasetyo dan
mama saya Henny Handayani yang selama ini memberi dukungan
kepada saya, memberikan saya semangat untuk bangun lagi ketika
saya jatuh dan menyerah. Terimakasih atas kerja keras kalian
berdua untukku, terimakasih papa untuk kerja kerasmu untuk
membantu mbak menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih atas segala
perhatian yang kalian berikan kepadaku. Semoga dengan
selesainya skripsi ini merupakan awal bagi saya untuk
membahagiakan kalian nanti seterusnya.
Kemudian tidak lupa juga kepada adik saya tercinta Jihan
Permata Sari, yang selama ini telah mendukung saya dalam
keadaan apapun saya. Memberikan saya semangat ketika saya
merasa terlalu sulit untuk menyelesaikan skrips ini. Adik yang
selalu membawa tawa dan canda kepada saya, adik yang
vi
BAB II Peran Perusahaan Asia Pulp and Paper dalam Kerusakan Hutan di Indonesia ... 17
A. Profil Asia Pulp & Paper Co. Ltd ... 18
B. Sustainability RoadmapVision 2020 ... 22
C. Hutan Indonesia di Mata Dunia ... 23
D. Kerusakan dan Masalah yang Timbul Akibat Ulah Asia Pulp and Paper ... 27
E. Skandal Korupsi Perusahaan Asia Pulp and Paper ... 30
vii
A. Kebijakan Pemerintah ... 35
1. Peraturan Perundang-Undangan Tentang Kawasan Hutan ... 35
2. Moratorium Pemerintah Tentang Penundaan Pembukaan Lahan (Instruksi Presiden) 35 B. Tuntutan Dari Lembaga Swadaya Masyarakat (Greenpeace) ... 38
C. Pasar (Pemutusan Hubungan Kerjasama) dan Investor Sebagai Motor Penggerak Terbentuknya Kebijakan Zero Deforestation Asia Pulp and Paper ... 46
1. Perusahaan Investor Mackenzie Financial Investment dan SKAGEN Funds ... 49
2. LEGO (Perusahaan Mainan Bongkar Pasang) ... 50
3. Mattle (Perusahaan Pembuat Mainan Barbie) ... 52
4. SKAGEN FUNDS ... 56
5. Walt Disney ... 57
6. KFC (Kentucky Fried Chicken) ... 61
BAB IV Proses Terbentuknya Output (Kebijakan Deforestasi Hutan) Oleh Perusahaan Asia Pulp and Paper ... 64
A. Proses Terbentuknya Kebijakan Konservasi Hutan APP ... 64
B. Kebijakan Zero Deforestation Oleh Asia Pulp & Paper ... 76
BAB V KESIMPULAN & SARAN ... 81
A. Kesimpulan ... 81
B. Saran ... 84
1. Bagi Pemerintah ... 84
2. Bagi Lembaga Swadaya Masyarakat lingkungan ... 84
3. Bagi Asia Pulp and Paper... 85
xv ABSTRAK
Indonesia is currently facing quite many environmental issues. These issues
appear due to awareness upon its importance, that it has increasingly threaten
lifelihood, especially the state. Deforestation can be caused by several factors, such
as construction in sensitive areas as well as uncontrollable logging. According to
WWF Indonesia, Asia Pulp and Paper (APP) is responsible for such misbehavior,
since it has opened more than 1 million hectare worth of natural forest, in only Riau
and Jambi provinces, making it the most responsible company throughout Sumatera
island. In 2013, APP outed Zero Deforestation commitment to restore the forest
function.
This research aims to provide understanding on the reason of APP decision
to provide Zero Deforestation commitment. On this research, System Theory will
be used and research would be conducted qualitatively. Research results suggested
that behind this decision, there were pressure coming from Government,
Non-governmental Organization (NGOs), as well as from the Capital Market.
Keywords: APP, Deforestation, Conservation, NGOs, Government, Market
1
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia saat ini sedang mengalami bebagai macam permasalahan
lingkungan hidup, salah satunya adalah isu lingkungan. Kemunculan isu
lingkungan ini berhubungan dengan adanya kesadaran bahwa isu ini telah menjadi
ancaman tersendiri bagi kelangsungan hidup manusia, terutama Negara.
Kerusakan hutan di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lainnya
ialah penebangan hutan hujan, pembangunan di lahan gambut padat karbon, dan
pembangunan jalan di wilayah sensitif. Menurut WWF Indonesia, Asia Pulp and
Paper atau APP bertanggung jawab atas kesalahan itu. Bersama dengan
pemasoknya, APP telah membuka lebih dari satu juta hektar hutan alami hanya di
Propinsi Riau dan Jambi saja, membuatnya bertanggungjawab atas lebih banyak
penggundulan hutan dibanding perusahaan manapun yang bekerja di Sumatera1.
Dari sekian kontroversi dan masalah yang telah ditimbulkan oleh perusahaan ini,
Asia pulp and Paper mengeluarkan komitmen Zero Deforestation atau tidak ada
deforestasi hutan pada tahun 2013 yang dimaksudkan untuk pengembalian fungsi
hutan. Dalam perjalanannya tentu ada dorongan dibalik terbentuknya komitmen
ini, dorongan yang datang dari pemerintah, organisasi non pemerintah (NGO),
maupun dorongan dari pasar.
1Rhett.A.Buttler. (2011). “Apakah Menebang Hutan Hujan Untuk Kertas dan Bubur Kayu
2
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini isu lingkungan menjadi isu yang sangat berkembang di dunia
internasional terutama di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara
dengan hutan terbesar di dunia dan di daulat sebagai salah satu paru-paru dunia
oleh PBB. Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin hari kian parah.
Kondisi tersebut secara langsung telah mengancam kehidupan manusia. Tingkat
kerusakan alam pun meningkatkan risiko bencana alam. Kerusakan lingkungan
hidup dapat diartikan sebagai proses deteriorasi atau penurunan mutu
(kemunduran) lingkungan. Deteriorasi lingkungan ini ditandai dengan hilangnya
sumber daya tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, dan kerusakan
ekosistem. Kerusakan lingkungan hidup memberikan dampak langsung bagi
kehidupan manusia. Pada tahun 2004, High Level Threat Panel, Challenges and
Change PBB, memasukkan degradasi lingkungan sebagai salah satu dari sepuluh
ancaman terhadap kemanusiaan. World Risk Report yang dirilis German Alliance
for Development Works (Alliance), United Nations University Institute for
Environment and Human Security (UNU-EHS) dan The Nature Conservancy
(TNC) pada 2012 pun menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah
satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya risiko bencana di suatu
kawasan.2
Hutan menjadi sangat penting mengingat pertumbuhan populasi yang
semakin lama semakin meningkat, hal itu juga diiringi oleh meningkatnya
pasokan CO2 di udara disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh manusia,
2Wihardandi, Aji. (2012). “Degradasi Lingkungan, Peringkat Resiko Bencana Indonesia
3
seperti berkembang pesatnya industri transportasi dalam perkembangan ekonomi
yang menjadi salah satu penyumbang terbesar gas CO2, disamping
industri-industri yang lain. Peran hutan saat ini menjadi sangat penting dalam mengontrol
kualitas udara yang ada di dunia. Termasuk salah satunya hutan di Indonesia,
yang menjadi salah satu paru-paru bagi dunia. Namun, semakin banyaknya
industri yang berkembang pesat di Indonesia. Membuat keseimbangan hutan
Indonesia menjadi terganggu dan terancam.
Kontradiksi dengan hal tersebut “pemanfaatan” hutan untuk berbagai
industri pun semakin gencar di lakukan, salah satunya adalah industri kertas.
Kertas merupakan bagian terpenting dari sejarah perkembangan teknologi di
dunia. Kertas dapat dikatakan sebagai awal dari sejarah kemajuan telekomunikasi
di dunia. Dari kertas ilmu-ilmu pengetahuan di seluruh dunia dapat direkam dan di
sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Namun disisi lain bahan bakukertas yakni
kayu kini menjadi komoditas yang sangat rentan keberadaannya. Produksi kertas
sangat bertentangan dengan isu perlindungan hutan dan sangat erat hubungannya
dengan Global Warming. Hal yang sangat ironis ketika disisi lain kita juga
membutuhkan kertas sebagai sarana untuk menyebarluaskan informasi dan ilmu
pengetahuan. Pemanfaatan hutan dilakukan oleh industri bubur kertas atau
perusahaan-perusahaan kertas yang telah berlangsung sejak lama. Kapasitas
pengolahan kertas itu bergantung pada besar atau tidaknya suatu perusahaan
kertas. Apabila perusahaan kertas itu merupakan perusahan besar, tentu saja
memiliki lingkup pemasaran yang luas pula, sehingga dapat dibayangkan berapa
4
kertas dan bubur kertas untuk memenuhi kebutuhan kertas yang ada dalam
lingkup pemasarannya di dunia.
Salah satu perusahaan terbesar yang ada di Indonesia ialah perusahan Asia
Pulp & Paper atau disebut APP. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan
produsen kertas terbesar di dunia. Perusahaan ini bermula pada tahun 1972
sebagai perusahaan penghasil soda kaustik. Sekarang, perusahaan ini telah
beroperasi di Indonesia dan China, dan kertas hasil olahan pabriknya telah
digunakan lebih dari 120 negara di dunia. Pada 1984, kelompok Sinar Mas Group
yakni Asia Pulp & Paper bermarkas di Shanghai, China. Mulai mengoperasikan
pabrik pengolahan bubur kertasnya pertama di Provinsi Riau, Sumater Utara.
Pabrik milik APP itu, ialah Indah Kiat Pulp & Paper, adalah pabrik pengolahan
bubur kertas raksasa di Indonesia dengan kapasitas produksi 105.000 ton per
tahun. Pada 1994, APP membuka pabrik pengolahan bubur keduanya di provinsi
Jambi.3 Dengan kapasitas yang sebesar itu, tentu saja perusahaan ini
membutuhkan banyak suplai kayu pohon untuk diolah menjadi bubur dan kertas.
Bahan baku kertas berasal dari serat kayu pohon. Sayangnya, terkadang
produksi kertas dilakukan dengan mengambil bahan baku serat kayu dari hutan
alam, bukan dari hutan tanaman atau budidaya, sehingga mengancam kelestarian
hutan alam dan keanekaragaman hayati didalamnya. Menurut kajian CIFOR,
secara nasional industri bubur kertas Indonesia belum mampu menjamin seluruh
pasokan kayu pulp dari hutan tanaman industri (HTI) yang dibangun secara
berkelanjutan. Sehingga sebagian besar pabrik bubur kertas masih tergantung
3 Eyes on the Forest, Kebenaran di balik greenwash APP, Desember 2011. (diakses, 17
5
pada pasokan bahan baku dari hutan alam. Praktek yang berkelanjutan oleh
industri pulp dan kertas mengancam hutan alam dan kelangsungan satwa
dilindungi didalamnya,seperti harimau dan gajah Sumatera, dan juga
menyebabkan hancurnya kawasan tempat tinggal masyarakat suku asli seperti
yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.4
Perusahaan kertas Asia Pulp & Paper mendapat berbagai kritikan dari LSM
atas dasar pemeliharaan lingkungan. Menurut Friends of the Earth5 laporan dari
tahun 2005, APP telah membersihkan lebih dari 280.000 hektare hutan dalam
dekade terakhir, dan berencana untuk memotong 300.000 lain selama lima tahun
ke depan. Kemudian WWF (World Wild Fund For Nature) juga mengatakan pada
tahun 2003, ia sempat mengadakan perjanjian kemitraan dengan APP, namun
hanya berselang 6 bulan, WWF mengakhiri hubungan kerja sama tersebut karena
menolak menyetujui rencana pengelolaan lingkungan, serta mempertanyakan
figur APP.6 Pada bulan November 2007, Forest Stewardship Council (FSC) secara
resmi memisahkan diri dengan APP, menyatakan tidak lagi berlakunya hak APP
menggunakan logonya. Pada penghentian semua hubungan dengan FSC pada
2007.7
6Donnan, Shawn (21 February 2006). "/Home/UK/UK-The usefulness of scholarships and
tigers". Financial Times. (diakses 19 april 2015)
6
Dari laporan yang dikeluarkan oleh berbagai LSM, menunjukkan bahwa
APP memiliki peranan besar atas kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia, APP
juga ikut andil dalam hilangnya hutan alam di Indonesia. Sampai dengan awal
tahun 2013, APP telah mengumumkan kebijakan terbarunya yaitu kebijakan
konservasi hutan APP atau tidak ada deforestasi. Kebijakan tersebut mencakup
penangguhan segera terhadap seluruh kegiatan pembukaan hutan alam oleh
pemasok, juga komitmen umtuk tidak lagi mengembangkan usaha perkebunan di
wilayah berhutan. Kebijakan Konservasi Hutan juga mengikat pemasok APP
untuk memastikan “tidak ada lagi kanal lanjutan atau pembangunan infrastruktur
di wilayah konsesi milik pemasok yang belum dikembangkan di wilayah lahan
gambut tidak berhutan hingga penilaian Hutan Stok Karbon Tinggi, termasuk
masukan dari ahli gambut, selesai dilakukan. Kemudian Greenpeace
menghentikan kampanye aktif terhadap APP untuk memberikan perusahaan
tersebut ruang dan waktu guna mengimplementasikan kebijakan “Zero
Deforestation atau Tidak ada Deforestasi”.8
Sehubungan APP ini merupakan perusahaan besar yang kontroversial,
kondisi ini menciptakan berbagai reaksi yang cenderung negatif baik dari LSM
lokal dan internasional seperti Walhi dan Greenpeace, Pemerintah daerah dan
pusat, Negara investasi, serta pasar perusahaan APP. Reaksi yang timbul itu dapat
menjadi beberapa faktor atau alasan dibalik terbentuknya kebijakan konservasi
hutan APP atau Zero Deforestation. LSM disini memiliki peran sebagai aktor
yang membantu pemerintah mengontrol APP dalam produksinya yang sesuai
8 Greenpeace, Kebijakan Konservasi Kehutanan APP, Oktober 2013, hlm.3. (diakses, 20
7
dengan regulasi. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh Greenpeace, ialah
dengan melakukan kampanye terhadap perusahaan yang bekerjasama dengan APP
untuk menghentikan hubungan kerjasamanya dengan kata lain harus melakukan
boikot terhadap APP. Dari laporan yang dikeluarkan oleh berbagai LSM,
menunjukkan bahwa APP memiliki peranan besar atas kerusakan hutan yang
terjadi di Indonesia, APP juga ikut andil dalam hilangnya hutan alam di Indonesia.
APP menyatakan bahwa perusahaannya akan menggunakan 100% kayu
tanaman industry pada tahun 1990 dan ditarger akan tercapai pada tahun 2004.
Kebijakan tersebut mencakup penangguhan segera terhadap seluruh kegiatan
pembukaan hutan alam oleh pemasok, juga komitmen umtuk tidak lagi
mengembangkan usaha perkebunan di wilayah berhutan. Kebijakan Konservasi
Hutan juga mengikat pemasok APP untuk memastikan “tidak ada lagi kanal
lanjutan atau pembangunan infrastruktur di wilayah konsesi milik pemasok yang
belum dikembangkan di wilayah lahan gambut tidak berhutan hingga penilaian
Hutan Stok Karbon Tinggi, termasuk masukan dari ahli gambut. Namun kebijakan
yang direncanakan ini belum dapat diwujudkan oleh APP sehingga direvisi ke
tahun 2007, untuk kemudian mundur kembali pada tahun 2009. Di tahun 2011,
perusahaan melakukan target revisi ke tahun 2015. Namun pada kenyataannya
APP mengeluarkan kebijakan konservasi hutan ini pada tahun 2013 yang
sebelumnya direncanakan tahun 2015. Kebijakan yang dikeluarkan oleh APP ini
menjadi menarik untuk diteliti karena bertentangan dengan keadaan APP yang
membutuhkan banyak suplai kayu pohon. Kemudian timbul pertanyaan untuk
8
B. Rumusan Masalah
Untuk membahas masalah lebih lanjut maka butuh satu rumusan penelitian
berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, rumusan
permasalahan tersebut adalah:
“Mengapa Asia Pulp and Paper Co.Ltd mengeluarkan kebijakan Zero
Deforestation (Konservasi Hutan) lebih dari target tahun 2015?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor dibalik
terbentuknya Zero Deforestation (kebijakan konservasi hutan) Asia Pulp and
Paper.
Tujuan lain yang tidak luput adalah untuk melengkapi syarat utama meraih
gelar sarjana strata satu (S1) dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
D. Landasan Teori
Landasan teori sangat diperlukan dalam penulisan karya ilmiah, karena
landasan teori inilah yang nantinya digunakan penulis sebagai pisau analisa untuk
menjawab rumusan permasalahan penelitian ini. Teori selalu menjadi bagian yang
sangat penting dalam sebuah penelitian.Teori adalah satu bentuk pernyataan yang
menjawab pertanyaan.9 Pertanyaan yang disebut teori itu merupakan sekumpulan
generalisasi. Teori bukan hanya sekedar kumpulan generalisasi melainkan lebih
9Mas’oed, Mohtar. Ilmu hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi (Yogyakarta,
9
kepada pernyataan yang menjelaskan generalisasi itu sebagai sarana ekspalansi.
Dalam prosesnya teori akan membantu dalam mengorganisasikan dan menata
fakta yang diteliti
Teori dalam hubungan internasional dibentuk melalui pengembangan
proposisi-proposisi atau pernyataan misalnya, perilaku rasional berdasar satu
motif dominan seperti kekuasaan. Teori seperti dibuat untuk mengambarkan
perilaku politik aktor-aktor rasional.10
1. Teori Sistem (System Theory)
System berasal dari bahasa yunani (sustema) yang artinya satu kesatuan
yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk
memudah kan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan.
Sistem dapat diartikan sebagai kesatuan yang terbentuk dari beberapa unsur
(elemen). Unsur, komponen atau bagian yang banyak ini satu sama lain berada
dalam keterkaitan yang mengikat dan fungsional. Masing-masing kohesif satu
sama lain, sehingga ketotalitasannya unit terjaga utuh eksistensinya. Tinjauan
tersebut adalah pandangan dari segi bentuknya. Jadi pengertian sistem, disamping
dapat diterapkan pada hal yang bersifat “immaterial” atau suatu proses
“immaterial”, juga dapat diterapkan pada hal yang bersifat material. Untuk yang
bersifat “immaterial” penguraian atau penentuan “model”-nya lebih cenderung
berfungsi sebagai alat analisis dan merupakan cara, tata, rencana, skema, prosedur
atau metode. Sistem adalah suatu cara yang mekanismenya berpatron (berpola)
dan konsisten, bahkan mekanismenya sering disebut otomatis.
10
David Easton11 dalam bukunya (terjemahan) Kerangka Kerja Analisa
Sistem Politik megartikan teori sistem sebagai suatu model yang menjelaskan
hubungan tertentu antara sub-sub sistem sebagai suatu unit (yang bisa saja berupa
suatu masyarakat, serikat buruh, atau organisasi pemerintah). Easton juga
meringkas ciri-ciri teori sistem sebagai berikut : a. sistem mempunyai batas yang
di dalamnya ada hubungan fungsional yang dilandasi oleh beberapa bentuk
komunikasi, b. Sistem terbagi kedalam sub-sub sistem yang satu sama lain
melakukan pertukaran (contohnya, antara desa dengan pemerintah daerah, atau
antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat), c. sistem bisa membuat kode,
yaitu menerima informasi, mempelajari dan menerjemahkan masukan (input)
kedalam beberapa jenis keluaran (output).
Bagan 1.1 Kerangka Fikir Teori Sistem
11Easton, David, dan Sahat Simamora (alih bahasa), Kerangka Kerja Analisa Sistem Politik,
Jakarta: Bina Aksara, 1984
Inputs: Demand
& Support
PROSES
FEEDBACK
Outputs:
11
Dalam diagram ini terdapat Inputs, Process, Output, kemudian ada Feedback
dari output yang dihasilkan. Pada kasus APP ini, Inputs dibagi menjadi Demand
dan Support. Demand atau tuntutan ini bisa berasal dari Organisasi Internasional
yang menuntut perusahaan agar menicptakan Zero Deforestation. Kemudian ada
perusahaan yang bekerja sama dengan APP dengan menggunakan produk, atau
hasil olahannya. Mereka menghentikan kerjasama agar menghentikan degradasi
lahan gambut dan deforestasi hutan. Support atau dukungan dilakukan oleh
pemerintah dengan cara membuat kebijakan serta Undang-undang bagi kelesterian
hutan dan lingkungan. Setelah adanya inputs, kemudian dilakukan sebuah proses.
Dimana yang mempertimbangkan untuk mengeluarkan suatu kebijakan dari
perusahaannya. Proses ini dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan dengan
orang-orang yang memiliki wewenang di bidangnya. Setelah hasil dari proses ini
ditentukan, barulah akan menjadi suatu output atau kebijakan.
Diagram ini menunjukkan bahwa untuk kepentingan politik penggunaan
sistem: (1) Memungkinkan kita melakukan pemisahan antara kehidupan politik
dari kehidupan yang lain dari masyarakat, yang oleh Easton disebut sebagai
"lingkungan"; (2) Pemisahan ini ditandai oleh suatu garis batas; (3) Kasus sistem
politik didefinisikan sebagai "tindakan yang berhubungan dengan keputusan yang
mengikat masyarakat"; (4) Unit-unit sistem politik adalah berupa tindakan politik
political actions); (5) Inputs dalam bentuk tuntutan dan dukungan memberi makna
pada sistem politik. Inputs berupa "tuntutan" bisa timbul baik di dalam
lingkungan itu ataupun di dalam sistem itu sendiri. Apakah dirancang secara
12
mengganggunya sebagai hal yang penting untuk dilaksanakan melalui
saluran-saluran yang diakui didalam sistem itu. Sedangkan inputs dalam bentuk
"dukungan" merupakan tindakan atau orientasi yang menunjukan dan
mempertahankan sistem politik; (6) Outputs berasal dari sistem politik dalam
bentuk keputusan dan tindakan kebijaksanaan. Outputs akan bisa (i) berubah
menjadi umpan balik dalam lingkungan agar memuaskan tuntutan dari
beberapa anggota sistem itu, dan kemudian akan menggerakkan dukungan
terhadap sistem itu, dan juga (ii) bisa menimbulkan konsekuensi negatif, yang
memunculkan tuntutan baru pada sistem politik itu.
Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa sistem merupakan satu kesatuan
komponen (individu, maupun kelompok) yang saling berinteraksi memiliki fungsi
dan peranan masing masing sehingga membentuk satu rangkaian yang dapat
mempengaruhi satu sama lain (apabila salah satu bagian terganggu maka bagian
lain dalam rangkaian akan mendapatkan gangguan). Terkait dengan teori sistem,
dalam hubungannya secara fungsional, APP, Pasar, dan organisasi internasional
dalam tulisan ini dapat dikatakan merupakan sebuah sistem yang saling
mempengaruhi. Untuk itulah teori sistem digunakan untuk menjawab rumusan
masalah “Apa saja faktor dibalik terbentuknya kebijakan konservasi hutan Asia
Pulp and Paper Co.Ltd?” dilihat dari keterkaitan APP dengan Pasar dan
organisasi internasional sehingga dapat mempengaruhi output kebijakan APP.
Dalam kasus Asia Pulp and Paper, proses didalam teori ini di analogikan
menjadi sebuah perusahaan. Sehingga dalam inputsnya sendiri lebih banyak
13
sendiri. Tuntutan yang dimaksdukan, bisa berasal dari organisasi internasional,
pemerintah, maupun negara lain yang bekerja sama. Dari tuntutan-tuntutan yang
ditujukan terhadap APP ini kemudian perusahaan ini melakukan suatu “proses”
dimana didalamnya terdapat beberapa hal yang dilakukan sebelum terbentuknya
sebuah keputusan. Pertama pengidentifikasian masalah oleh stakeholder APP
masalah yang timbul karena kegiatan eksplorasi APP yang berlebihan berdampak
pada banyaknya protes dari pemerintah dan NGO.Tentunya kerugian bagi APP
yang mengakibatnya hilangnya klien mereka satu persatu. Melihat kondisi
tersebut APP kemudian menilai bahwa harus ada perbaikan. Setelah mengetahui
masalah yang dihadapi adalah mengukur skala prioritas, mana masalah yang
telebih dulu harus diselesaikan. Setelah menentukan skala prioritas, barulah para
stakeholder APP merumuskan sebuah formulasi beberapa rencana program atau
kebijakan yang harus dilakukan. APP membentuk sebuah divisi yang khusus
menangani Sustainablity Program. Bagian tersebut di kepalai oleh Aida
Greenbury melakukan Pertemuan pertama pada 15 mei 2012 dengan perwakilan
dari HCVRN (High Conservation Values Resource Network) yaitu Marcus
Colchester sebagai Wakil Ketua HCVRN serta sebagai Direktur FPP (Forest
People Programme). Elim S sebagai deputi CEO Sinar Mas bagian Kehutanan,
Dewi Bramono sebagai deputi direktur divisi sustainability APP dan Ketua
Proyek Sustainaiblity Road Mapserta team penilai High Conservation Values.
(HCV) bergabung ke dalam rapat tersebut. Secara keseluruhan pertemuan
menghasilkan lima point penting yang pertama Pre-Assesment (masih dalam
14
ketiga carrty out assessment with parallel stakeholders engagement process,
keempat Final Report untuk seluruh perserta meeting ddengan target deadline
sampai dengan kuarter ketiga tahun 2013. Dan terakhir Pembentukan rencana
Management kebijakan. Meeting pertama dilakukan di Jakarta pada tanggal 15
mei 2012 meliputi perwakilan APP, dan FPP sebagai team penilai kebijakan.12
Pada fase ini, seluruh stakeholder APP melakukan sebuah pertemuan yang akan
membahas dan memutuskan apakah kebijakan yang telah dirumuskan dapat
dilakukan atau tidak setelah melakukan penilaian. Barulah setelah semua telah
disepakati kebijakan itu di publikasikan kepada publik. Proses inilah yang
kemudian menghasilkan sebuah Outputs berupa Decisions yang nantinya akan
dievaluasi secara berkala. Karena dalam teori system semua sub sistemnya saling
berpengaruh, Outputs yang dihasilkan oleh APP disini dipengaruhi oleh Inputs.
Inputs inilah yang akan menjadi jawaban dari rumusan masalah ”Mengapa APP
mengeluarkan kebijakan Zero Deforestation”.
E. Hipotesa
Asia Pulp and Paper mempercepat komitmen kebijakan konservasi hutan
(Zero Deforestation) dua tahun lebih cepat pada tahun 2013, karena:
1. Dukungan dari pemerintah (kebijakan)
2. Tuntutan oleh LSM (Greenpeace)
3. Dukungan dari pasar Asia Pulp and Paper (LEGO, Mattel, KFC, dll)
15
F. Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini, jangkauan penulisan yang dapat dilakukan penulis
yakni dimulai sejak berdirinya Asia Pulp and Paper Co.Ltd sampai terbentuknya
komitmen kebijakan konservasi hutan APP atau Zero Deforestation pada tahun
2013. Dikarenakan banyak masalah lain yang tidak dapat dibahas guna
tercapainya sasaran penelitian ini menjadi satu penelitian yang fokus dan
mendalam.
G. Metode Penelitian
Metode penelitian diperlukan sebuah penelitian, karena dengan metode
penelitian itulah, peneliti dapat dengan mudah mengumpulkan data-data yang
diperlukan dengan menggunakan alat pengumpulan data. Menurut Miel &
Huberman (1992) dalam metodologi kualitatif data yang muncul berwujud
kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data itu mungkin telah dikumpulkan dalam
aneka macam cara (observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman), dan
biasanya diproses sebelum siap digunakan.
Tipe penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian deskriptif.
Tipe penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat
pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam
arti ini penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif
semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, Men-test
hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun
penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga
16
Data merupakan bagian terpenting dalam suatu penelitian, karena hakekat
dari penelitian adalah pencarian data yang nantinya diinterpretasikan dan
dianalisa. Menurut Lofland & Lofland, sumber data utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata dan tindakan dan selebihnya adalah berupa data
tambahan, seperti dokumen dan lain-lain (Bungin, 2003: 112). Data yang
dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data
atau informasi yang berasal dari informan atau para sumber yang diteliti.
Sedangkan data sekunder biasanya berupa dokumen, data-data statistik, sumber
data tertulis, laporan yang akan menunjang dan memperkuat data utama untuk
dianalisis.
Dalam penelitian ini data penulis hanya bersumber pada data sekunder yakni
dokumen, hasil penelitian terdahulu, ataupun berita yang dimuat baik di media
17
BAB II
Peran Perusahaan Asia Pulp and Paper dalam Kerusakan Hutan di Indonesia
Menjadi perusahaan terbesar di Asia, bukan berarti tidak terlibat dari
masalah. Ruang lingkup dan target pemasaran yang besar, tentu saja membuat
Asia Pulp and Paper membutuhkan biaya dan bahan yang akan digunakan untuk
produksi dengan jumlah yang tidak sedikit. Sebagai perusahaan kertas, perusahaan
ini membutuhkan sangat banyak suplai kayu pohon. Dengan jumlah permintaan
pasar yang semakin banyak, membuat perusahaan ini ingin terus memenuhi
permintaan pasar dan selalu melakukakn perluasan wilayah hutan industrinya.
Pembukaan hutan industri ini yang terkadang tidak sesuai dengan aturan
pemerintah yang telah ada, seperti membuka lahan industri di hutan alam. Serta
penebangan pohon kayu secara besar-besaran tanpa dilakukannya pemulihan. Hal
ini yang menyebabkan hilangnya kapasitas hutan alam dan tidak ada lagi tempat
bagi para satwa penghuni hutan seperti harimau Sumatra dan kawanannya.
Sehingga membuat para satwa liar ini pergi ke luar hutan yang menimbulkan
konflik dengan manusia. Sebelumnya Asia Pulp and Paper telah merencanakan
untuk membuat Roadmap vision 2020 yang berkomitmen untuk menggunakan
bahan rendah karbon. Namun, kebijakan ini keluar lebih cepat dari yang
direncanakan. Kemudian timbul pertanyaan “Mengapa kebijakan ini dikeluarkan
lebih cepat?” dan faktor-faktor yang mempengaruhinya nanti akan dijelaskan pula
18
A. Profil Asia Pulp & Paper Co. Ltd
Asia Pulp & Paper Co. Ltd selanjutnya dalam tulisan ini disebut APP
merupakan perusahaan penyuplai kertas terbesar di Asia (tidak termasuk Jepang)
dan termasuk dalam sepuluh besar penyuplai kertas dan bubur kertas terbesar di
dunia. Berdasarkan laporan tahunan APP tahun 1999, kapasitas produksi APP
sebesar 8 juta Ton, yang terdiri dari 2,3 juta ton bubur kertas dan 5,7 juta ton
kertas setiap tahunnya.13 APP memiliki 15 perusahaan produksi dan konversi di
Indonesia, 12 perusahaan di China, 4 di Singapura, 2 di Amerika serikat dan
masing masing satu di Meksiko, India, dan Malaysia.14APP memasarkan
produknya di lebih dari 120 negara di enam benua. Produk kertas APP terdiri dari
berbagai mulai kertas tulis dan printing, kertas karbon sampai dengan kertas
tissue.
APP bermula sejak tahun 1972 sebagai perusahaan penghasil soda kaustik,
lalu beralih menjadi perusahaan kertas pada tahun 1980. Sekarang, Kertas hasil
olahan pabriknya telah digunakan lebih dari 120 negara di dunia. APP merupakan
anak perusahaan dari Sinar Mas Group yang bermarkas di Shanghai China. Mulai
mengoperasikan pabrik pengolahan bubur kertas pertamanya pada tahun 1984 di
Provinsi Riau. Pabrik milik APP itu, ialah Indah Kiat Pulp & Paper, adalah pabrik
pengolahan bubur kertas raksasa di Indonesia dengan kapasitas produksi 105.000
ton per tahun. Pada 1994, APP membuka pabrik pengolahan bubur keduanya di
13Pirard &Rokhim, 2006. Asia Pulp & Paper Indonesia: The business rationale that led
toforest degradation and financial collapse.
19
provinsi Jambi15.Dengan kapasitas yang sebesar itu, tentu saja perusahaan ini
membutuhkan banyak suplai kayu pohon untuk diolah menjadi bubur dan kertas.
Sampai saat ini APP sudah memiliki luas lahan hutan alam seluas 1.080.000
hektare yang telah atau akan dijadikan bahan baku produksi kertas dan pulp atau
bubur kertas perusahaan16.
APP merupakan salah satu anak perusahaan yang berbasis pengelolaan
sumber daya alam terbesar di dunia yakni Sinar Mas Group yang dimiliki oleh
sebuah keluarga Widjaja atau Widjaja Family. APP mengkombinasikan bubur
kayu, kertas dan kapasitas kemasan di Indonesia sebesar 6,9 juta ton, dengan
menggunakan serat dari tanaman dan hutan yang degradasi. Selama
bertahun-tahun, APP telah melakukan ekspansi terus menerus melalui akusisi dan ekspansi
di sejumlah besar pabrik pulp dan kertas. APP mempunyai komitmen untuk
kepuasan konsumen yang meningkatkan pangsa pasar penjualan kertas di seluruh
dunia, dan memperluas layanannya dengan membuka kantor cabang di banyak
negara. Berikut ini adalah table letak dan kapasitas produksi perusahaan APP di
Indonesia.
15 Annual Report Asia Pulp and Paper. (2014). www.asiapulppaper.com (diakses 3 Agustus
2015)
20
Tabel 2.1: Letak dan kapasitas produksi pabrik Asia Pulp & Paper di Indonesia
Nama Perusahaan Lokasi Pabrik Lini Produksi
Kapasitas (Ton/tahun)
Paper Industry Provinsi Jambi 2 lini pulp 1.020.800
Total Pulp 6 lini pulp 3.820.800
Banten 6 mesin kertas 1.570.000
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk
Tangerang, Provinsi
Banten 3 mesin kertas 105.000
PT Lontar Papyprus Pulp &
Paper Industry Provinsi Jambi 6 mesin tisu 180.200
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Sidoarjo, Provinsi
Jawa Timur 13 mesin kertas 1.677.000
21
"Tradition and modernity go hand in hand" merupakan kunci sukses
APP17. APP selalu menghargai hubungan jangka panjang dengan konsumennya
sebagai bagian dari tradisi timur , dan APP juga ingin menerapkan nilai-nilai
modern sebagai bagian dari inovasi tiada henti, serta efisiensi dan ketepatan.
Dalam menjalankan sistem bisnisnya, APP memegang prinsip yang dikenal
sebagai sustainable growth18. APP berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan
sosial, lingkungan, dan ekonomi seluruh proses yang terdapat di rangkaian supply
chain APP. Keberlanjutan sosial ditegakkan oleh APP dengan melakukan
pengembangan masyarakat dan budaya khususnya di daerah dimana fasilitas APP
beroperasi. Keberlanjutan lingkungan ditegakkan oleh APP dengan melakukan
improvisasi berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
fasilitas produksi dan menjaga kelestarian hutan alam khususnya yang menjadi
wilayah sumber bahan baku sistem produksi APP dengan menerapkan sustainable
forest management. Keberlanjutan ekonomi ditegakkan oleh APP dengan
mendukung tingkat ekonomi negara dan masyarakat dimana APP beroperasi.
Sebagai perusahaan yang mengambil bahan baku utamanya dari alam,
cukup banyak pro dan kontra mengenai eksistensi sistem bisnis APP. APP selalu
menjadi perhatian bagi beberapa organisasi seperti greenpeace, rainforest action
network, dan organisasi pelindung alam lainnya. Tidak sedikit berita yang
dipublikasikan oleh organisasi pelindung alam memberikan kesan negatif bagi
APP. Beberapa artikel seperti “Bagaimana SINAR MAS Meluluhkan Bumi” yang
22
dirilis organisasi Greenpeace dan artikel “Asia Pulp & Paper’s Hidden
Emissions” yang dirilis organisasi rainforest action network menegaskan bahwa
aktivitas bisnis APP memberikan dampak negatif bagi lingkungan19.
B. Sustainability RoadmapVision 2020
Pada tanggal 5 Juni, 2012, APP mengumumkan rencana Sustainability
Roadmap Vision 2020, sebagai perusahaan kertas terbesar APP memiliki
komitmen untuk turut serta melestarikan lingkungan. Pada Roadnmap ini APP
berjanji akan sepenuhnya menggunakan pada bahan baku dari perkebunan dan
bahwa semua pemasok harus beroperasi dengan standar High Conservation Value
Forest (HCVF) pada tahun 2015 mengikuti audit independen20. Sebagai bagian
dari Roadmap perusahaan, pada 14 November 2012 APP mengumumkan bahwa
semua sembilan dari pabrik Indonesia yang telah menerima sertifikasi SVLK kayu
legalitas, yang merupakan Legalitas Kayu Indonesia Sistem Jaminan rantai ketat
proses tahanan dirancang untuk memastikan pabrik hanya menerima dan kayu
proses dari sumber yang legal, dan bahwa semua produk yang diekspor dari
negara dapat ditelusuri ke titik diverifikasi asal. APP adalah bisnis pertama di
Indonesia yang sepenuhnya mencapai kepatuhan SVLK, yang memungkinkan
perusahaan dan negara Indonesia harus diakui oleh Komisi Eropa sebagai
19Heldingrats, Ottho. (2011). “Bagaimana Sinarmas Meluluhkan Bumi”.
http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/SM_APP/ (diakses 10 Maret 2016)
23
pengimpor produk serat hokum.21Namun bertentangan dengan hal tersebut
Greenpeace mengungkapkan bahwa pabrik utama APP (Indah Kiat Perawang)
mencampur kayu ramin (illegal) dengan bahan kayu legal lainnya dalam pasokan
bubur kertasnya22. Rencana sebelumnya, Sustainability Roadmap Vision 2020 ini
mulai diterapkan per tahun 2015, namun pada februari 2013 APP mengeluarkan
kebijakan nol deforestasi dimana lebih cepat 2 tahun dari rencana sebelumnya.
Hal ini lagi-lagi menimbulkan pertanyaan, mengapa kebijakan dikeluarkan lebih
cepat dari seharusnya yang telah direncanakan.
C. Hutan Indonesia di Mata Dunia
“Sebagai Negara yang memiliki kawasan hutan terluas ketiga di dunia,
Indonesia memiliki pengaruh terhadap perundingan internasional dan persoalan
yang mengatur kebijakan kehutanan: dari perundingan pada Konferensi para pihak
UNFCCC (United Nation Convention on Climate Change) tahunan, sampai
pengembangan standar sertifikasi hutan dan prakarsa untuk mengatasi
pemabalakan liar”23.”Hutan merupakan salah satu ekosistem yang sangat penting
di muka bumi ini, dan sangat mempengaruhi proses alam yang berlangsung di
bumi untuk menstabilkan iklim di dunia. Ada 7 fungsi hutan yang sangat
membantu kebutuhan dasar “basic needs” kehidupan manusia, yaitu: Hidrologis,
21Gyekye, Liz (2012). "APP receives SVLK timber legality certification for ninth
mill". Packaging News
22APP statement on Greenpeace Ramin report". Scoop Independent News.
http://www.scoop.co.nz/stories/PO1203/S00024/app-statement-on-greenpeace-ramin-report.htm 1 March 2012. (diakses, 22 November 2015)
23Sukradi, Doddy S. (2012). “Kerjasama Antara Kementerian Kehutanan, DNPI, dan UN
24
hutan merupakan gudang penyimpan air dan tempat menyerapnya air hujan
maupun embun yang pada khirnya akan mengalirkannya ke sungai-sungai melalui
mata air-mata air yang berada di hutan. Dengan adanya hutan, air hujan yang
berlimpah dapat diserap dan diimpan di dalam tanah dan tidak terbuang percuma.
Melihat topografi Minahasa, bergunung-gunung dan terjal, sehingga banyak
lahan-lahan kritis yang mudah tererosi apabila datang hujan. Keberadaan hutan
sangat berperan melindungi tanah dari erosi dan longsor. Hutan pula merupakan
tempat memasaknya makanan bagi tanaman-tanaman, dimana di dalam hutan ini
terjadi daur unsur haranya (nutrien, makanan bagi tanaman) dan melalui aliran
permukaan tanahnya, dapat mengalirkan makanannya ke area sekitarnya. Fungsi
penting hutan lainnya adalah sebagai pengatur iklim, melalui kumpulan
pohonnya dapat memprduksi Oksigen (O2) yang diperlukan bagi kehidupan
manusia dan dapat pula menjadi penyerap carbondioksida (CO2) sisa hasil
kegiatan manusia, atau menjadi paru-paru wilayah setempat bahkan jika
dikumpulkan areal hutan yang ada di daerah tropis ini, dapat menjadi paru-paru
dunia. Siklus yang terjadi di hutan, dapat mempengaruhi iklim suatu wilayah.
Hutan memiliki jenis kekayaan dari berbagai flora dan fauna sehingga fungsi
hutan yang penting lagi adalah sebagai area yang memproduksi embrio-embrio
flora dan fauna yang bakal menembah keanegaragaman hayati. Dengan salah satu
fungsi hutan ini, dapat mempertahankan kondisi ketahanan ekosistem di satu
wilayah. Hutan mampu memberikan sumbangan hail alam yang cukup besar bagi
devisa negara, terutama di bidang industri, selain kayu hutan juga menghasilkan
25
tanaman-tanaman obat. Hutan juga mampu memberikan devisa bagi kegiatan
turismenya, sebagai penambah estetika alam bagi bentang alam yang kita
miliki”24.
“Indonesia merupakan Negara yang dikaruniai salah satu hutan tropis yang
paling luas dan tinggi tingkat kayakeanekaragaman hayatinya di dunia. Puluhan
juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup dan mata pencahariannya dari
hutan, baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka atau bekerja pada sektor industri pengolahan kayu.
Hutan tropis ini merupakan habitat flora dan fauna yang kelimpahannya tidak
tertandingi oleh negara lain dengan ukuran luas yang sama. Bahkan sampai
sekarang hampir setiap ekspedisi ilmiah yang dilakukan di hutan tropis Indonesia
selalu menghasilkan penemuan species baru25. Hutan tropis Indonesia adalah
rumah dan persembunyian terakhir bagi kekayaan hayati dunia yang unik.
Keanekaragaman hayati yang terkandung di hutan Indonesia meliputi 12 persen
species mamalia dunia, 7,3 persen species reptil dan amfibi, serta 17 persen
species burung dari seluruh dunia. Diyakini masih banyak lagi spesies yang belum
teridentifikasi dan masih menjadi misteri tersembunyi di dalamnya. Sebuah
contoh nyata misalnya, data WWF menunjukkan antara tahun 1994-2007 saja
24Diana. (2013). Pentingnya Ekosistem Hutan Bagi Kehidupan Manusia. Tersedia:
http://www.academia.edu/ (diakses, 21 agustus 2016)
25Forest Watch Indonesia dan Global Forest Watch. (2013). “Potret Keadaan Hutan
26
ditemukan lebih dari 400 spesies baru dalam dunia sains di hutan Pulau
Kalimantan”26.
“Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan
keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Berdasarkan data FAO tahun 2010
hutan dunia – termasuk di dalamnya hutan Indonesia – secara total menyimpan
289 gigaton karbon dan memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim
dunia. Hutan Sebagai Penghasil Oksigen (O2) serta Penyerapan CO2 oleh
tumbuhan memberi andil dalam mengurangi pencemaran CO2 di udara. Karbon
dari CO2 ini disimpan di dalam jaringan tumbuhan (kayu) yang kemudian kayu
ini berguna bagi manusia. Suatu laporan menyebutkan bahwa sebatang pohon
selama hidupnya diprediksi mampu menyerap 7.500 gram karbon. Lahan gambut
merupakan salah satu penyerap karbon di planet ini, perluasan deforestasi dilahan
gambut membuat peningkatan emisi CO2 dan CH4 (gas rumah kaca utaman).
Hutan Gambut di Indonesia mempunyai luas 2.7 juta ha (ketebalan 2-15 m) dan
hutan ini menempati peringkat keempat di Dunia setelah Russia, Kanada dan
USA, menurut WEC 2010. Juga menyimpan 54 Gt karbon (UNEP 2011) yang
senilai karbon dilahan gambut 7.42-22.09 USD/ha untuk 30 tahun”27. Dengan
semakin berkembangnya zaman, tentu saja setiap Negara berlomba-lomba untuk
menjadi Negara yang lebih baik lagi. Mengingat perkembangan masyarakat dunia
yang semakin pesat, permintaan akan produk-produk baru juga akan semakin
26Samsuardi, wwf indonesia. (2012). “Tentang Spesies, Kehutanan”. Tersedia:
http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/forest_spesies/tentang_forest_spesies/kehutanan/ (diakses 23 agustus 2016)
27Nashikun, Uun. (2013). “Ketergantungan Dunia Akan Hutan Indonesia”.
27
meningkat. Hal ini juga yang menjadi alasan semakin banyaknya pabrik industri.
Pabrik-pabrik ini lah yang menjadi salah satu penyumbang emisis gas karbon dan
masalah lingkungan lainnya. Sehingga hutan memiliki peranan yang sangat
penting bagi kelangsungan hidup manusia bukan hanya di Negara tertentu,
melainkan di seluruh dunia.
D. Kerusakan dan Masalah yang Timbul Akibat Ulah Asia Pulp and Paper Dalam perjalanan sejarahnya, APP tidak pernah lepas dari kontroversi.
Perusahaan ini mendapat berbagai tudingan pelanggaran yang berkaitan dengan
perusakan hutan alam, hilangnya habitat satwa endemik yang terancam punah,
serta munculnya konflik sosial dengan masyarakat lokal dan adat di wilayah
konsesinya. Seperti yang tertera dalam laporan yang dirilis oleh kelompok
pemantau hutan Eyes on the Forest28 menyatakan bahwa APP bertanggung jawab
terhadap telah hilangnya 2 juta hektar hutan alam termasuk lahan gambut di Riau
dan Jambi, Sumatera, sejak mulai beroperasi pada tahun 1984. Kelompok ini pun
menyatakan bahwa APP telah berulangkali gagal dalam mencapai target
capaiannya untuk memastikan bahwa seluruh kayu yang mereka produksi berasal
dari hutan tanaman industri mereka. Kelompok pemantau Indonesian Working
Group on Forest Finance (IWGFF) menyatakan bahwa 54 persen dari total bahan
baku untuk bubur kertas adalah berasal dari hutan alam.Tidak saja fakta bahwa
APP dan perusahaan pemasok kayunya masih tergantung kepada hutan alam,
namun hasil investigasi Greenpeace pada tahun 2012 telah membuktikan bahwa
28Eyes on The Forest. (2011). “Kebenaran di balik Greenwash APP”. (diakses, 19 april
28
APP masih melakukan “penebangan hutan alam secara serampangan”. Dalam
laporan investigasinya di tahun 2012, Greenpeace menemukan bahwa masih
terdapat spesies kayu langka ramin yang dicampur di dalam pasokan kayu hutan
alam oleh pabrik bubur kertas terbesar milik APP yaitu Indah Kiat
Perawang. Untuk diketahui ramin (Gonystylus bancanus) adalah kayu langka
yang hanya tumbuh di ekosistem hutan rawa dan gambut. Akibat kelangkaan dan
keterancamannya, ramin telah digolongkan dalam appendix 2 CITES.
Pelarangan penebangan dan perdagangan pohon ramin sendiri telah
diberlakukan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2001. Greenpeace
menyatakan bahwa seperempat habitat ramin telah ditebang habis, dimana
terbanyak dari wilayah hutan yang menjadi pemasok kayu APP di Indonesia.
Demikian pula fakta-fakta lapangan menunjukkan bahwa pembukaan hutan oleh
APP telah meningkatkan frekuensi dari munculnya konflik manusia dengan satwa
liar. Konsesi hutan alam dan lahan gambut merupakan habitat alami dari satwa
endemik seperti gajah, harimau dan orangutan. Setidaknya dari tahun 1997-2009
saja telah terjadi 245 konflik antara manusia dengan harimau yang terjadi di
wilayah konsesi APP dan para pemasoknya. Di propinsi Riau sendiri, 147 konflik
atau 60% diantaranya membawa kematian bagi 27 manusia, 8 ekor harimau serta
pemindahan dan penangkapan 14 ekor harimau lainnya. Semua konflik berawal
sejak APP beroperasi pada tahun 1997 di wilayah ini.29
29Ridzki R, Sigit. (2013). “Akankah Komitmen Baru APP Menjadi Babak Akhir dari Laju
29
“Dalam laporan tahunan Eyes on The Forest pada tahun 2010 tercatat total
pembabatan hutan alam oleh APP Group sebesar 56.659 hektar secara detail dapat
dilihat dalam tabel 3.1.Dalam tabel 3.1 kita dapat melihat secara detail
penebangan hutan alam yang dilakukan APP sampai dengan tahun 2010. Berikut
tabel 3.1 Laporan Jumlah Penebangan Hutan Alam Oleh APP tahun 2009. Dari
tabel tersebut dapat kita lihat bahwa jumlah total area penabangan APP Grup
sebanyak 56.659 Hektar (Ha) tentunya bukan jumlah yang sedikit untuk
deforestasi. Pemerintah Indonesia mengidentifikasi sektor pulp dan kertas serta
sektor minyak kelapa sawit sebagai pendorong utama deforestasi. Studi lain yang
dilakukan oleh Rainforest Action Network (RAN) dan Japan Tropical Forest
Action Network pada tahun 2010 menyebutkan bahwa total emisi yang dihasilkan
oleh APP adalah 67-86 juta ton karbon, dimana jumlah ini ekuivalen dengan emisi
yang dilepaskan oleh 165 negara sepanjang tahun 2006.”30Banyak kontroversi
yang menunjukan bahwa peran APP dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia
sangatlah buruk. APP sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan
bubur kertas dan kertas tentunya sangat bergantung pada hutan. Namun tidak
dapat dipungkiri juga bahwa kelestarian hutan lebih penting dibandingkan dengan
produksi kertas.
30
Tabel 3.1 Laporan Jumlah Penebangan Hutan Alam Oleh APP tahun 2009
Sumber :Eyes on The Forest Report, 2010
E. Skandal Korupsi Perusahaan Asia Pulp and Paper
“Hukum tentang pengaturan pembukaan lahan hutan serta penebangan
hutan sudah diatur sebelumnya. Namun hingga saat ini, masih banyak terjadi
pelanggaran penebangan hutan (illegal logging). Belum diketahui secara pasti,
bagaimana hal ini bisa terjadi ketika aturan tentang penebangan sudah dikeluarkan
dan telah ada pihak-pihak yang berwenang untuk mengatur dan menindak tegas
ketika adanya pelanggaran. Tercatat kerusakan hutan Indonesia akibat kegiatan
illegal logging maupun illegal mining semakin luas. Sampai saat ini, dari 130,68
31
illlegal logging alias pembalakan liar saja negara ditaksir mengalami kerugian
tri-liunan rupiah. Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Darori kepada Rakyat Merdeka, di
Jakarta31. Forest Watch Indonesia mengeluarkan pernyataan bahwa dua
perusahaan kertas terbesar di Indonesia seperti Asia Pulp and Paper dan APRIL
terlibat korupsi”32.
“Koalisi Anti Mafia Hutan mendatangi KPK untuk segera menuntaskan
kasus korupsi kehutanan di Indonesia, khususnya di Riau, karena masih
banyaknya pelaku yang belum tersentuh hukum. Setidaknya 37 perusahaan
pemasok kayu untuk pabrik-pabrik bubur kertas APP dan APRIL di Riau diduga
menyuap pejabat agar bisa menebangi lebih dari 400 ribu hektar hutan alam di
Sumatera bagian tengah. Para pembeli kertas produksi APP dan APRIL dari luar
dan dalam negeri sepertinya telah membeli produk bubur kertas dan kertas yang
terkait dengan praktek penyuapan dan korupsi. Dalam realitas yang terjadi di
Indonesia, izin-izin yang didapat melalui praktek korupsi dan penyuapan masih
dianggap sah, bahkan setelah orang yang menandatanganinya masuk penjara,
maka tidak satupun izin tersebut yang dicabut. Artinya produk kertas dijual ke
seluruh dunia oleh APP dan APRIL telah dinodai oleh praktek korupsi. Sebanyak
20 dari 37 perusahaan, yang sebagian merupakan anak perusahaan APP dan
31Wihardandi, Aji. (2013). “29 Kasus Pelanggaran Izin Oleh 26 Pebisnis Tambang di
Laporkan BPK ke Bareskrim Polri”. http://www.mongabay.co.id/2013/02/27/29 -kasus-pelanggaran-izin-oleh-26-pebisnis-tambang-dilaporkan-bpk-ke-bareskrim-polri/ (diakses, 20 agustus 2016, 9.17)
32Pattinasarany, Willem. (2012). “Produk Kertas APP dan APRIL Tercemar Skandal
32
APRIL, terbukti melalui Pengadilan TIPIKOR mendapat izin melalui praktek
korupsi dan penyuapan di mana sampai sekarang masih memasok kayu bagi
kedua perusahaan tersebut. Berdasarkan investigasi Polda Riau tahun 2007, 9
perusahaan di antaranya diindikasikan melakukan tindak pidana pengrusakan
lingkungan hidup dan illegal logging bersama lima perusahaan HTI lainnya.
Koalisi mengapresiasi dengan baik rencana Kementerian Lingkungan Hidup yang
dikutip oleh Majalah TEMPO tanggal 22 April 2012 lalu, untuk menggugat APP
dan APRIL atas dugaan pengrusakan lingkungan hidup”33.
33
BAB III
Faktor Penuntut dan Pendukung Keluarnya Kebijakan Zero Deforestation di Perusahaan Asia Pulp and Paper
Kebijakan Zero Deforestation atau sering disebut Kebijakan Konservasi
Hutan (Forest Conservation Policy) dapat dikatakan sebagai salah satu
momentum terciptanya kelestarian hutan alam di masa depan. Sebuah perusahaan
kertas raksasa yang menyuplai lebih dari 120 negara di dunia dan sudah
menghabiskan lebih dari 2 juta hektar hutan alam di Indonesia, membuat
komitmen untuk melindungi hutan tentunya merupakan sebuah pencerahan bagi
kelestarian lingkungan. Namun kebijakan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba,
banyak hal yang dapat “memaksa” APP mengeluarkan kebijakan tersebut.
Terlebih kebijakan ini dikeluarkan 2 tahun lebih cepat dari rencana sesuai dengan
APP Sustainability Roadmap 2020 yang direncanakan dimulai pada tahun 2015
namun pada 1 Februari 2013 APP sudah mengumumkan mengeluarkan Kebijakan
Konservasi Hutan. Tentunya hal ini menimbulkan tanda tanya besar apa yang
telah”memaksa” APP mengeluarkan kebijakan tersebut lebih awal dari
perencanaan?.
Teguh Widjaja34 dalam pidatonya menyinggung bahwa climate change
merupakan salah satu dari beberapa hal penting yang mendasari keluarnya
kebijakan Zero Deforestation ini. Selain dari itu dari analisis teori yang digunakan
penulis ada tiga faktor yang mendorong APP mengeluarkan kebijakan Zero
34 Dalam Rushton (2013) “The Indonesian Giant has Surprised the Global Industry with its
34
Deforestation ini, pertama desakan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan
publik. Kedua, power dari NGO pemerhati lingkungan yang selalu mengkaitkan
APP dengan kerusakan hutan dalam bentuk laporan penelitian maupun
kampanye-kampanye anti kerusakan hutan yang selalu mendesak APP untuk berhenti
melakukan penebangan hutan alam, dan terakhir tekanan dari Pasar atau
konsumen APP dalam memasok kertas atau bubur kertas dalam beberapa waktu
ini memutus hubungan kerjasama dengan perusahaan pulp and paper yang terlibat
dalam penggunaan bahan kayu alam (bukan jenis kayu industri). Ketiga faktor
35
A. Kebijakan Pemerintah
1. Peraturan Perundang-Undangan Tentang Kawasan Hutan
a. Kebijakan pemerintah dalam melindungi hutan, telah tercantum dalam
pasal 33 UUD 1945: Bumi, tanah, air dan kekayaan yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
b. Dalam Pasal 54 Undang-undang No 32 tahun 2009 Tentang
Lingkungan Hidup dikatakan bahwa “Setiap orang yang melakukan
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib melakukan
pemulihan fungsi lingkungan hidup.”Pasal ini menegaskan bahwa
perlu adanya pemulihan kembali terhadap fungsi lingkungan hidup
yang sebelumnya telah di cemari atau dirusak.
c. Wewenang Pemerintah (Pasal 4 UU No. 41 Tahun 1999):
Mengatur, mengurus hal yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan
hasil hutan
Menetapkan atau mengubah status kawasan hutan
Mengatur dan menetapkan hubungan hokum
Mengatur perbuatan hukum mengenai kehutanan
1. Moratorium Pemerintah Tentang Penundaan Pembukaan Lahan (Instruksi Presiden)
Undang-Undang atau peraturan tentang tata cara pengelolaan hutan, izin
36
Namun hingga saat ini, masih saja banyak pelaku-pelaku nakal yang melanggar
peraturan. Mirisnya lagi, Negara kita ini belum mampu menegakkan hukum
secara tegas untuk mengatasi pelaku-pelaku nakal ini. Telah disebutkan juga
sebelumnya, bahwa APP termasuk salah satu perusahaan yang memiliki andil atas
kerusakan hutan di Indonesia. Dari awal pabrik APP dioperasikan hingga tahun
2009, banyak konflik yang terjadi antara penghuni suku asli, satwa liar, maupun
masyarakat sipil. Tidak sedikiti juga yang menjadi korban atas kejadian ini.
Namun, pemerintah belum mampu membuat kebijakan yang dapat mengehentikan
aksi APP ini. “Pada September 2009 diadakan sebuah pertemuan BAU (Bussiness
As Usual) di Pittsburgh yang dihadiri oleh anggota G20. Dalam pertemuan ini,
Indonesia yang diwakili oleh Presiden Susilo Bambang Yudiyono menyatakan
komitmen untuk penurunan emisi Indonesia sebesar 26%-41%. Komitmen ini
tentu saja disambut hangat oleh Negara-negara internasional terutama norwegia
yang akan menyumbangkan dana sebesar U$1 miliar untuk mewujudkan
komitmen penurunan emisi ini. Dana yang disumbangkan oleh Norwegia ini
tertulis dalam surat niatnya (Letter of intent) serta Indonesia akan melaksanakan
beberapa hal antara lain, Memilih propinsi percontohan; Merancang Strategi
Nasional untuk REDD+; Mendirikan Lembaga Pelaksana REDD; Membangun
mekanisme dan lembaga untuk Monitoring, Pelaporan dan Verifikasi (MRV);
serta Membangun Lembaga Pendanaan serta mekanisme distribusi. Disebutkan
pula bahwa Indonesia akan melakukan penundaan pemberian ijin baru di atas
hutan alam selama dua tahun. Di samping itu penyelesaian konflik juga menjadi
37
Surat niat baik yang ditandatangani dengan Norway tersebut hanya salah satu dari
beberapa bantuan lainnya, yang juga menunjukan dukungan atas komitmen
Indonesia dalam mengurangi emisi. Sebut saja bantuan dari Pemerintah Australia
melalui IAFCP, Pemerintah Jerman dengan proyek percontohan REDD di
Sumatera Selatan dan beberapa inisiatif bantuan lainnya. Penundaan penerbitan
ijin baru atas pemanfaatan hutan (baca; moratorium) diharapkan dapat menjadi
titik awal pembenahan tata kelola sektor kehutanan di Indonesia. Setelah tertunda
selama 5 bulan semenjak direncanakan, akhirnya pemerintah menerbitkan
INPRES No.10 tahun 2011 tentang Moratorium. Ini dapat dikatakan sebagai
sebuah langkah maju secara politik hanya saja langkah maju tersebut tidak
diimbangi dengan substansi yang cukup berarti bagi penyelamatan hutan
Indonesia dan pengurangan emisi”35.
“Tuntutan agar pemerintah melakukan moratorium pembalakan hutan
disuarakan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat lingkungan sejak 20 tahun
yang lalu, ketika pembalakan hutan secara besar-besaran terjadi melalui
pemberian dengan Norway tersebut hanya salah satu dari beberapa bantuan
lainnya, yang juga menunjukan dukungan atas komitmen Indonesia dalam
mengurangi emisi. Sebut saja bantuan dari Pemerintah Australia melalui IAFCP,
Pemerintah Jerman dengan proyek percontohan REDD di Sumatera Selatan dan
beberapa inisiatif bantuan Inpres Moratorium merupakan langkah awal kebijakan
pemerintah untuk menjawab keinginan berbagai pihak agar pengelolaan
35Briefing Paper, REDD Monitoring. (2011). “Koalisi Masyarakat Sipil Untuk
38
kehutanan Indonesia dilakukan dengan efektif, transparan dan akuntabel. Presiden
SBY merupakan Presiden pertama Indonesia yang berani mengeluarkan kebijakan
menghentikan proses perizinan terhadap hutan alam primer dan lahan gambut
sejak Indonesia merdeka tahun 1945. “WWF- Indonesia mengapresiasi Inpres ini
sebagai langkah awal untuk penyempurnaan tata kelola sektor kehutanan.
Kebijakan moratorium ini juga bisa dilihat sebagai salah satu komponen dasar
bagi Indonesia untuk mewujudkan pembangunan yang rendah karbon,” kata Nazir
Foead, Direktur Konservasi WWF Indonesia36”. Namun peran pemerintah disini
hanya sebagai pembuat kebijakan, tidak langsung menegaskan APP untuk
menghentikan kerusakan hutan. Kebijakan atau putusan yang dikeluarkan
pemerintah ini, setidaknya cukup membantu agar perluasan lahan hutan tidak
bertambah, bukan untuk menghentikan pembabatan hutan secara langsung.
B. Tuntutan Dari Lembaga Swadaya Masyarakat (Greenpeace)
Dalam satu dekade ini Greenpeace rajin mengkampanyekan aksi anti
pengrusakan lingkungan. Tidak luput dari perhatian Greenpeace kegiatan
eksplorasi APP yang kerap menebang hutan alam untuk dijadikan bahan produksi
kertas dan bubur kertas. Menurut Bustar Maitar37Greenpeace mendapat sejumlah
serangan sejak memulai kampanye menyelamatkan hutan Indonesia pada awal
tahun 2011. Dalam pernyataanya Maitar mengatakan bahwa menghalangi
36Indonesia, wwf. (2012). “Peluncuran dan Bedah Buku “Menjaga Hutan Kita: Pro-Kontra
Kebijakan Moratorium Hutan dan Gambut”. http://www.wwf.or.id/?26080/Peluncuran-dan-Bedah-Buku-Menjaga-Hutan-Kita-Pro-Kontra-Kebijakan-Moratorium-Hutan-dan-Gambut (diakses 27 Agustus 2016, 9.21)
37Hamzirwan. (2011). “Aktivis Greenpeace Dilarang Masuk Indonesia”.
39
kampanye Greenpeace tidak akan menghentikan upaya terhadap APP. Greenpeace
hanya akan behenti jika APP memutuskan untuk tidak merusak hutan yang
menjadi rumah bagi Harimau Sumatera.
Pernyataan tersebut tentunya menandakan betapa seriusnya Greenpeace
dalam menghadapi APP prihal pengrusakan hutan di Sumatera. “Greenpeace
memulai debut mengkampanyekan penghentian pengrusakan hutan sejak tahun
2003, hutan hujan Indonesia berkurang lebih cepat dari hutan manapun di dunia.
Bisnis kuat yang dikendalikan beberapa keluarga menghancurkan hutan seluas
negara Belgia tiap tahunnya untuk membuat kertas, kertas pembungkus dan kayu
murah. Ratusan ribu hektar hutan dan lahan gambut yang kaya karbon terbakar
saat perusahaan kelapa sawit membuka hutan untuk perkebunan homogen yang
luas, menggusur masyarakat lokal dan menghancurkan habitat harimau Sumatra
dan orangutan terakhir. Penegakan hukum di lapangan memang lemah, tapi pasar
internasional untuk produk-produk dari penghancuran inilah yang menjadi insentif
terjadinya hal ini. Proyek-proyek perbaikan bangunan dari pemerintah
negara-negara Eropa menggunakan kayu lapis sekali pakai dari operasioperasi ilegal dan
merusak di Kalimantan. Toko-toko utama menjual bahan pelapis lantai dan mebel
di Cina menggunakan kayu ilegal dari Papua. Sebagian perusahaan makanan cepat
saji, kosmetik dan mainan terbesar tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kemasan
dan minyak kelapa sawit yang mereka gunakan berasal dari pengrusakan lahan
gambut Sumatra. Bahkan buku bacaan anak-anak dibuat dari penghancuran
habitat harimau. Perusahaan ritel adalah kunci dari krisis deforestasi. Kecuali