i
ABSTRAK
Dian Anggraeny Utomo
Dampak Penyergapan Teroris oleh Densus 88 Bagi Masyarakat Gang. H. Hasan Blok Gandaria Kelurahan Sawah Ciputat.
NIM 1110054100021
Terorisme merupakan salah satu masalah sosial yang belum terpecahkan di Indonesia. Tindakan terorisme merupakan suatu tindakan yang terencana, terorganisir dan berlaku dimana saja dan kepada siapa saja. Tindakan teror bisa dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai kehendak yang melakukan, yakni teror yang berakibat fisik dan/atau non fisik (psikis). Tindakan teror fisik biasanya berakibat pada fisik (badan) seseorang bahkan sampai pada kematian, seperti pemukulan atau pengeroyokan, pembunuhan, peledakan bom dan lainnya. Sedangkan, non fisik (psikis) bisa dilakukan dengan penyebaran isu, ancaman, penyendaraan, menakut-nakuti dan sebagainya. Akibat dari tindakan teror, kondisi korban teror mengakibatkan orang atau kelompok orang menjadi merasa tidak aman dan dalam kondisi rasa takut (traumatis). Penyergapan teroris yang belum lama ini terjadi di Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat pada hari rabu 1 Januari 2014 pukul 00.00 WIB yang melibatkan anggota POLRI dan DENSUS 88 dalam penyergapan teroris Dayat cs. Dari peristiwa ini, peneliti ingin meneliti bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh penyergapan tersebut terhadap masyarakat di Gang H. Hasan, Blok Gandaria.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kasus. Jenis penelitian yang peneliti gunakan yaitu jenis penelitian deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam. Waktu penelitian ini yaitu selama 7 bulan dan dalam penelitian ini peneliti memilih enam informan yang sesuai dengan kriteria pemilihan informan.
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirohim
Alhamdulillah wa syukurillah, peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kita masih dapat merasakan hidup yang penuh berkah ini. Tidak lupa
salawat serta salam senan tiasa peneliti junjung kepada Nabi besar Muhammad SAW
yang telah menjadi suri tauladan bagi umatnya.
Skripsi peneliti yang berjudul “Dampak Penyergapan Teroris oleh Densus 88
Bagi Masyarakat di Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Ciputat” diajukan untuk
melengkapi salah satu persyaratan penyelesaian program strata 1 (S1) Program Studi
Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Uiniversitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati peneliti ingin
mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu hingga
selesainya penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung
kepada :
1. Bapak Dr. Arif Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan para
Pembantu Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
2. Ibu Siti Napsiyah Ariefuzzaman, M.SW selaku ketua Prodi Kesejahteraan
iii
kesabaran dan bimbingannya, peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini
dengan tepat waktu.
3. Bapak Ahmad Zaki, M.Si selaku dosen pembimbing akademik. Terimakasih
atas nasehat serta bimbingannya.
4. Seluruh dosen prodi Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Terimakasih atas bimbingan dan nasihat-nasihatmu para dosenku. Peneliti
bersyukur dan mengucapkan beribu-ribu terimakasih dapat bertemu dengan
dosen-dosen Kesejahteraan Sosial, karena ibu dan bapak telah membawa
peneliti sampai di titik dimana peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
5. Kedua orangtua peneliti, bapak Guntur Utomo yang tak pernah menyerah dan
selalu menjadi bapak yang baik bagi peneliti dan ibu Rini Umiasih tercinta,
yang selalu sabar dan selalu menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya.
Terimakasih kalian telah memberikan motivasi, kasih sayang, dukungan dan
doa yang tiada henti untuk peneliti. Skripsi ini peneliti persembahkan
untukmu ibu dan bapak serta kedua adik peneliti, Aini Rachmasari Utomo dan
Muhlis Iqbal Utomo yang selalu memotivasi peneliti untuk menyelesaikan
skripsi ini.
6. Bapak Lurah beserta staff Keluarahan Sawah yang telah mengizinkan peneliti
untuk melakukan penelitian di Kampung Sawah.
7. Kepada bapak Bachtiar Imam Muhsi selaku ketua RT 04 RW 07 Kampung
iv
Terimakasih atas bantuan dan jamuannya selama peneliti melakukan
penelitian ini.
8. Teman-teman Aceng Mandiri yang setia dan selalu menjadi teman yang baik
bagi peneliti. Kalian semua luar biasa, semoga kenangan, doa dan cita-cita
kita semua dapat terwujud. Terimakasih Aceng-aceng atas dukungan, doa dan
semangat kalian semua.
9. Seluruh teman-teman Kesejahteraan Sosial angakatan 2010 yang memberikan
banyak kenangan selama 4 tahun ini. Terimakasih teman-teman karena kalian
sudah menjadi teman setia selama 4 tahun ini.
10.Dan Tubagus Aditya Nugraha. Terimakasih atas doa, support, bantuan, dan
kesabarannya untuk peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Semoga ini adalah langkah awal untuk peneliti menjadi pribadi yang lebih
baik dan sukses kedepannya. Amin ya rabbal’alamin. Pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak”. Skripsi ini bukanlah gading, oleh karena itu tentulah banyak
retak atau kekurangannya. Mengingat hal tersebut peneliti mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca untuk menyempurnakan skripsi ini.
Jakarta, 24 September 2014
Peneliti
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakanh Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 11
1.Pembatasan Masalah ... 11
2. Perumusan Masalah ... 12
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12
1. Tujuan Penelitian ... 12
2. Manfaat Penelitian ... 13
D. Metodelogi Penelitian ... 13
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian... 15
2. Unit Analisis ... 17
3. Metode Pengumpulan Data ... 18
4. Metode Analisis Data ... 22
5. Teknik Keabsahan Data ... 23
6. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24
vi
8. Tinjauan Pustaka ... 24
9. Sistematika Penulisan ... 26
BAB II LANDASAN TEORITIS ... 28
A. Terorisme ... 28
1. Definisi Terorisme ... 28
2. Kategori Terorisme ... 31
3. Alasan Terorisme ... 33
4. Model-Model Aksi Terorisme... 35
5. Bentuk Kejahatan Terorisme... 36
6. Taktik Terorisme ... 38
B. Teroris ... 43
1. Definisi Teroris ... 43
2. Penyebab Seseorang Menjadi Teroris ... 45
3. Motivasi Teroris ... 47
C. Definisi Dampak ... 48
D. Teori Psikodinamik ... 49
E. Teori Kecemasan Terhadap Terorisme ... 50
1. Definisi Kecemasan ... 50
2. Tanda dan Gejala Kecemasan ... 52
vii
F. Teori Kognisi Sosial ... 54
G. Pekerja Sosial dengan Terorisme (Social Work With Terorism) ... 55
1. Definisi Pekerja Sosial ... 55
2. Peran dan Fungsi Pekerja Sosial ... 56
BAB III PROFIL MASYARAKAT ... 62
A. Profil Kampung Sawah ... 62
1. Letak Geografis ... 62
2. Sarana dan Prasarana... 63
3. Jumlah Penduduk Kelurahan Kampung Sawah ... 67
4. Jumlah Penduduk RT 04 RW 07 Kampung Sawah ... 69
5. Profil Warga Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Ciputat ... 70
C. Profil Informan... 72
BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA ... 78
A. Temuan Penelitian ... 78
B. Analisis Data ... 79
1. Dampak Psikis ... 80
2. Dampak Ekonomi... 84
viii
BAB VII PENUTUP ... 93
A. Kesimpulan ... 93
B. Saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 98
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Informan Tabel 3.2 Data Wilayah Tabel 3.3 Orbitasi
Tabel 3.4 Sarana dan Prasana Tabel 3.5 Sarana Peribadatan Tabel 3.6 Sarana Pendidikan Tabel 3.7 Sarana Olahraga Tabel 3.8 Sarana Perdagangan
Tabel 3.9 Sarana Hiburan dan Penginapan Tabel 3.10 Sarana Perbankan dan Koperasi Tabel 3.11 Sarana Jalan
Tabel 3.12 Sarana Jembatan
Tabel 3.13 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 3.14 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Agama
Tabel 3.15 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Pendidikan Akhir Tabel 3.16 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Hubungan Keluarga Tabel 3.17 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Status Kawin Tabel 3.18 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Usia
Tabel 3.19 Jumlah Penduduk Kelurahan Sawah Berdasarkan Pekerjaan Tabel 3.20 Daftar RT, RW dan Kepala Keluarga Kelurahan Sawah Tabel 3.21 Penduduk Kampung Sawah RT 04 RW 07
Tabel 3.22 Profil Warga JL. Ki. Hajar Dewantara, Gang Hj. Hasan, Blok Gandaria RT 04 RW 07
Tabel 3.23 Klasifikasi Dampak Informan
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Terorisme di Indonesia bukan merupakan masalah baru.Ibarat tanaman,
teroris di Indonesia sudah menjelma sebagai tanaman yang tumbuh subur. Tidak ada
jaminan langkah-langkah para teroris akan berhenti karena setelah Dr. Azhari
tertembak mati, masih ada Noordin M. Top. Setelah Noordin M.Top tewas dalam
baku tembak di Solo, kini masih ada “pengantin-pengantin” (calon pelaku bom bunuh
diri) lainnya yang masih menghirup udara bebas.1
Tindakan terorisme merupakan suatu tindakan yang terencana, terorganisir
dan berlaku dimana saja dan kepada siapa saja. Tindakan teror bisa dilakukan dengan
berbagai macam cara sesuai kehendak yang melakukan, yakni teror yang berakibat
fisik dan/atau non fisik (psikis). Tindakan teror fisik biasanya berakibat pada fisik
(badan) seseorang bahkan sampai pada kematian, seperti pemukulan atau
pengeroyokan, pembunuhan, peledakan bom dan lainnya. Sedangkan, non fisik
(psikis) bisa dilakukan dengan penyebaran isu, ancaman, penyendaraan,
menakut-nakuti dan sebagainya. Akibat dari tindakan teror,kondisi korban teror mengakibatkan
1Andri, Pengaruh Terorisme Terhadap Sistem Politik Indonesia, artikel diakses pada 17
2
orang atau kelompok orang menjadi merasa tidak aman dan dalam kondisi rasa takut
(traumatis).2
Faktor pemicu terorisme antara lain pertentangan agama atau ideologi agama,
etnis, kesenjangan ekonomi/kemiskinan serta tersumbatnya komunikasi antara rakyat
dengan pimpinan pemerintah; selain itu munculnya paham separatisme dan fanatisme
keagamaan.3
Indonesia merupakan salah satu negara yang dianggap memiliki ancaman
besar terhadap tindakan terorisme. Dalam beberapa kasus yang terbesar dari segi
jumlah korban dan pemberitaan internasional adalah Bom Bali I dan II, bom di lobi
Hotel Marriot 1, di depan Kedutaan Filipina, di depan Kedutaan Australia, di Pasar
Tentena, Poso dan yang terakhir adalah bom yang meledak di kawasan Mega
Kuningan, tepatnya di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton pada tanggal 17 Juli tahun
2009.4
Sedangkan beberapa peristiwa aksi teroris yang telah tercatat di Indonesia
antara lain di Gedung Atrium Senin, Jakarta pada tahun 1998, di Plaza Hayam Wuruk
dan Masjid Istiqlal Jakarta pada tahun 1999, di Gereja GKPI dan Gereja Katolik
Medan serta rumah Dubes Filipina pada tahun 2000, Peledakan di beberapa Gereja di
malam Natal pada tahun 2000 dan 2001, Peledakan di Kuta Bali pada tahun 2002,
2Mudzakir, Pengkajian Hukum Tentang Perlindungan Hukum Bagi Korban Terorisme
(Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, 2008), h. 6-7.
3AC Mannulang, Menguak Tabu Intelejen: Teror Motif dan Rezim (Jakarta: Panta Rhei,
2001), h. 151.
4Sukawarsini Djelantik, Terorisme Tinjauan Psiko-Politis, Peran Media, Kemiskinan, dan
3
Peledakan di McDonald Makasar pada tahun 2002, Peledakan di JW Marriot pada
tahun 2003, Peledakan di Kedubes Australia pada tahun 2004, dan Peledakan bom
Bali II pada tahun 2005.5
Demi menyelamatkan keamanan dan keutuhan negara, pemerintah mengambil
langkah serius untuk menanggulangi tindak terorisme.Hal tersebut diwujudkan
dengan membentuk Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme (DKPT). Di bawah
naungan Kemenko Polkam, lembaga ini bertugas membantu Menko Polkam
merumuskan kebijakan pemberantasan terorisme. Pentingnya penanggulangan
terorisme, pada 16 Juli 2010 atas rekomendasi Komisi I DPR, pemerintah
membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Peraturan
Presiden Indonesia Nomor 46 tahun 2010 yang kemudian telah diubah melalui
Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2012 dengan mengemban tugas menyusun,
mengkoordinasi serta membentuk Satuan Tugas-Satuan Tugas yang terdiri dari
unsur-unsur instansi pemerintah terkait dengan tugas, fungsi dan kewenangan
masing-masing.6
Terorisme maupun tindak kekerasan bukan hanya terjadi di Indonesia. Di
berbagai belahan bumi dari dahulu hingga sekarang termasuk di Amerika Serikat
banyak terjadi. Kristopher K. Robison, Edward M. Crenshaw, J. Craig Jenkins dalam
penelitiannya yang berjudul Ideologies of Violence: The Social Originsof Islamist and
5Tri Poertranto, “Konsespsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia Dalam
Rangka Menjaga Keutuhan di NKRI”, artikel diakses pada 13 Januari 2014 dari
http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/konsepsi-pencegahan-dan-penanggulangan-terorisme-di-indonesia-dalam-rangka-menjaga-keutuhan-
6Peraturan Presiden No 12 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor
4
Leftist Transnational Terrorism mengemukakan bahwa setelah perang dingin usai,
terorisme transnasional beralih dari terorisme sayap kiri (komunis) ke terorisme
radikal Islam. Terorisme radikal Islam muncul karena fenomena modernisasi,
persaingan agama, dan pemerintahan sekuler; sedangkan terorisme sayap kiri
distimulasi oleh persaingan perang dingin. Akan tetapi, terdapat kesamaan dari kedua
jenis terorisme ini yaitu melawan kapitalisme Barat.7
Penelitian yang dilakukan oleh Jeremy Waldron yang berjudul Terrorism and
The Uses of Terror mencoba menjelaskan perbedaan pemaksaan biasa dengan
intimidasi teroris. Terorisme melibatkan proses struktur pemilihan, tindakan, dan
tujuan (kebutuhan) pelakunya. Pelaku memiliki karakteristik motivasi khusus yang
mempengaruhi struktur strategi yang akan digunakannya. Salah satu tujuannya adalah
untuk menebar ketakutan (teror) dan mengintimidasi masyarakat sipil.8
Sedangkan, agama Islam sendiri penuh dengan ajaran yang menentang
kekerasan. Seperti salah satu penggalan ayat Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan
dalam Surah Al-An’am/6:151 berikut:
"Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu
7Kristopher K. Robinson, Edward M. Crenshaw, J. Craig Jenkins, Ideologies of Violence: The
Social Origins of Islamist and Leftist Transnational Terrorism, Social Force,Vol. 84, No. 4 (Jun., 206), pp. 2009-2026, diakses pada 3 April 2011 dari http://www.jstor.org
8Jeremy Waldron, Terrorism and the Uses of Terror, The Journal of Ethnics, Vol. 8, No. 1,
5
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar".
Sebagaimana diketahui, terorisme bukanlah kejahatan biasa. Terorisme
merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang bersifat lintas negara, terorganisasi
dan mempunyai jaringan luas, sehingga mengancam perdamaian dan keamanan
nasional maupun internasional.
Aktivitas terorisme terselenggara karena adanya faktor-faktor yang
melingkupinya, seperti masalah kesenjangan sosial ekonomi, ketidakadilan,
kemiskinan, dan tekanan-tekanan globalisasi karena tidak efektifnya manajemen
publik dimana kelompok teroris itu berasal.9
Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang dianggap memiliki
ancaman besar, terutama dengan maraknya aksi teror bom di sejumlah tempat.
Terorisme bisa dikatakan sebagai fenomena sosial yang sulit untuk dimengerti,
bahkan oleh para teroris itu sendiri. Dengan seiring berjalannya waktu dan kemajuan
teknologi, perkembangan terorisme mengakibatkan resiko besar bagi kehancuran
alam dan kehidupan umat manusia.10 Serta merusak generasi muda penerus bangsa,
dikarenakan banyak anak-anak yang mengalami trauma psikis terhadap peristiwa
terorisme yang terjadi baik berdampak terhadap fisik maupun psikis setiap anak
9Alberto Abadie, Poverty, Political Freedom, and the Roots of Terrorism, (NBER Working
Paper No 1085, 2004), h. 3.
10A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (Jakarta: PT
6
tersebut. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Bab III pasal 4 “Menjelaskan
bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi
secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.11
Berdasarkan bab 3 pasal 4 dapat dikatakan bahwa anak berhak untuk tumbuh
dan berkembang secara baik. Namun dengan adanya penyergapan teroris tersebut
menjadikan salah satu anak yang tinggal dekat dengan lokasi penyergapan menjadi
susah berkembang dengan baik dikarenakan mengalami trauma sehingga sulit
bergaul, berbicara dan berperilaku di lingkungan sekitar.12
Masalah terorisme ini juga mendapatkan perhatian besar dalam kebijakan luar
negeri Indonesia di level regional khususnya di kawasan ASEAN dan level
multilateral melalui forum PBB.13Dengan begitu, akibat dari peristiwa-peristiwa
pemboman tersebut Indonesia sangat potensial untuk dijadikan sarang
terorisme.Seperti yang diungkapkan oleh DR. A.C Manullang sebagai pengamat
intelijen dan mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN).14
Terkait dengan sebutan tersebut, belum lama ini pada awal tahun 2014
tepatnya pada malam pergantian tahun terjadi penggerebekan teroris di Kampung
Sawah Jl. Ki. Hajar Dewantara, Gang Hj. Hasan, Blok Gandaria RT 04 RW 07
11Undang-Undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak. 12Wawancara Pribadi dengan Informan Yuni, Ciputat 24 Juli 2014.
13Anggih Tangkas Wibowo, “Sosialisasi Hasil Penelitian DIPA 20 November 2013”, artikel
diakses pada 13 Januari 2014 dari http://www.politik.lipi.go.id/in/kegiatan/909-sosialisasi-hasil-penelitian-dipa-20-november-2013.html
14Yostinus Tomi Aryanto, “Indonesia Potensi Sarang Teroris”, Tempo News Room, artikel
7
Kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan. Masyarakat dikejutkan
karena pada malam pergantian tahun itu berbeda dari malam pergantian tahun
sebelumnya. Pada malam pergantian tahun kali ini telah terjadi baku tembak antara
teroris dan Densus 88 Polri. Pihak kepolisian sudah mengindikasikan akan adanya
ancaman terorisme saat penyelenggaraan pergantian tahun 2013 ke 2014 lalu. Dari
hasil penggerebekan di Kampung Sawah Ciputat, tim Densus 88 Polri menemukan
sejumlah bom rakitan, 7 buah granat rakitan hitam, 3 granat pipa besi, 2 bom sumbu
hitam serta bahan-bahan untuk bom rakitan seperti potasium nitrat, arang hitam, dan
black powder. Dalam penggerebekan teroris di Ciputat itu, tim Densus 88 Polri dan
Polda Metro Jaya melumpuhkan 6 teroris, termasuk Dayat 'Kacamata' yang
disebut-sebut sebagai pemimpin penyerangan anggota Polri di Cirendeu dan Pondok Aren,
Tangerang Selatan, Agustus 2013 lalu.15
Peristiwa terorisme di Kampung Sawah ini bukan pertama kali terjadi di
Ciputat. Pada Maret 2010, tim dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri
untuk pertama kalinya 'menginjakkan kaki' di Tangerang Selatan. Saat itu terjadi
penggerebekan di sebuah rumah, toko penyedia jasa warung internet (warnet)
Multiplus di Pamulang dan sebuah rumah di Gang Asem, Jl Setiabudi. Penyergapan
saat itu menyebabkan 3 orang tewas ditembak karena dianggap melawan dan hendak
melarikan diri saat ditangkap. Polisi juga menyatakan orang yang tewas dalam
penggerebekan itu, salah satunya terduga teroris yang bernama Dulmatin, yang
15Mei Amelia R,“Penggrebekan Teroris di Ciputat”, artikel diakses pada 13 Januari 2014 dari
8
merupakan dalang dari peristiwa bom Bali 2002 lalu. Selanjutnya, pada September
2012, Densus 88 telah meringkus 2 terduga teroris di kawasan pemukiman Bintaro
Sektor IX.Keduanya diduga kuat anggota kelompok teroris jaringan Muhammad
Toriq, yang sebelumnya menyerahkan diri di kawasan Tambora, Jakarta Barat.
Mereka dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom di Beji, Depok, Jawa Barat.16
Tidak berhenti di tahun 2012, pada 7 Mei 2013 lalu tim Densus 88 kembali
datang ke Pamulang. Penggerebekan teroris ini terjadi lagi di kawasan Ciputat
pasalnya dalam sebuah rumah milik Sigit Indrajit beliau hendak melakukan aksi bom
bunuh diri.Penangkapannya berawal dari penggerebekan di Bendungan Hilir, Jakarta
Pusat.Kemudian, Densus 88 juga menangkap seorang terduga teroris yang diduga
terlibat dalam jaringan kelompok Abu Roban. Penangkapan itu dilakukan di kawasan
Pondok Aren pada 8 Mei 2013 lalu. Seorang terduga teroris itu ditangkap bersamaan
dengan penggerebekan teroris di Bandung, Jawa Barat.17
Adapun penyergapan yang dilakukan di Kampung Sawah adalah yang
terbesar. Sebanyak 6 orang dilumpuhkan (tewas) dan sejumlah senjata api, peluru dan
bom juga ikut di sita. Polisi juga menemukan di rumah kontrakan tempat
persembunyian keenam teroris uang ratusan juta rupiah yang diduga fa'i (dana yang
dikumpulkan untuk membiayai misi). Dari bukti uang tersebut diduga pula kelompok
ini adalah perampok BRI di Panongan, Kabupaten Tangerang, pada tanggal 24
Desember 2013. Berdasarkan kasus diatas menimbulkan rasa cemas dan trauma
16Dimas Siregar, “Tangerang Selatan Favorit Persembunyian Teroris?”, Tempo.Co, artikel
diakses pada 21 Maret 2014 dari https://id.berita.yahoo.com/tangerang-selatan-favorit-persembunyian-teroris-002045456.html
9
tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan
Sawah, Ciputat.18
Sebab, terorisme menjadi akar dari permasalahan yang kerap membuat
suasana mencekam bagi masyarakat.Data tersebut didukung dari hasil observasi
peneliti saat berkunjung ke tempat penyergapan teroris pada malam tahun baru 2014.
Peneliti merasakan bahwa trauma masyarakat akan kejadian itu belum hilang dari
benak mereka. Pernyataan tersebut didapatkan dari wawancara peneliti dengan salah
satu informan saat peneliti berkunjung ke lokasi tersebut.
Dengan demikian, peneliti memilih tema terorisme karena beberapa alasan.
Pertama, isu yang terjadi pada kejadian di Kampung Sawah ini merupakan isu baru.
Dengan begitu, menutup kemungkinan ada yang meneliti dengan tema penelitian
tersebut khususnya di Prodi Kesejahteraan Sosial.
Kedua, terorisme merupakan masalah yang penting untuk dikaji. Sebab,
dengan adanya penelitian ini membuka pikiran terhadap pembaca, maupun
masyarakat lain bahwa tindakan terorisme adalah tindakan yang sangat
membahayakan bagi keamanan serta ketahanan negara ini. Sudah saatnya masyarakat
mengetahui dan dengan penelitian ini dapat memberikan inspirasi serta peluang bagi
para pekerja sosial untuk menangani peristiwa ini terlebih bagi masyarakat yang
terdampak.
10
Ketiga, kasus teroris di Ciputat ini merupakan kasus dengan jumlah teroris
terbanyak pada kasus terorisme sebelumnya yang mencapai 6 teroris (tewas) saat
Densus 88 melakukan penyergapan teroris di sebuah rumah kontrakan Kampung
Sawah, Ciputat. Sedangkan, kasus sebelumnya menewaskan teroris tidak lebih dari 3
teroris. Seperti penyergapan di sebuah rumah toko penyedia jasa warung internet
(warnet) Multiplus di Pamulang dan sebuah rumah di Gang Asem, Jl Setiabudi yang
menewaskan 3 terduga teroris pada September 2012 tertangkapnya 2 terduga teroris
di kawasan pemukiman Bintaro Sektor IX, pada 7 Mei 2013 kembali terjadi kasus
bom bunuh diri di sebuah rumah milik Sigit Indrajit, dan peristiwa tersebut
bersamaan dengan penangkapan teroris di Pondok Aren, yang diduga dalam jaringan
kelompok Abu Roban. Dengan demikian, banyaknya teroris yang tertembak usai
penggerebekan yang dilakukan oleh tim Densus 88 dan Polri di Gang H. Hasan Blok
Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat merupakan kasus dengan jumlah teroris
terbanyak dari kasus terorisme sebelumnya dan peristiwa ini sudah menjadi
perbincangan dan pemberitaan lintas internasional.
Keempat, alasan lain peneliti memilih tema terorisme dalam penelitian ini,
karena pada penggerebekan teroris di Kampung Sawah terjadi tepat pada malam
pergantian tahun baru, padahari rabu tanggal 1 Januari 2014 pukul 00:00 WIB. Ini
merupakan hal yang menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian di lokasi tepat
warga menjadi korban dari para teroris yang bersembunyi di lingkungan mereka.
11
bersenang-senang tetapi untuk kali pertamanya pada malam tahun 2014 lalu menjadi
sejarah penting bagi warga Gang H. Hasan blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat.
Kelima, peneliti ingin mengetahui lebih dalam dampak apa saja yang
ditimbulkan dari penyergapan teroris oleh Densus 88 bagi masyarakat Gang H.
Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat. Sebab, pasca penggerebekan
teroris di Kampung Sawah, Ciputat ada 20 rumah lain yang berdekatan dengan rumah
kontrakan tempat dimana Dayat “gembong teroris” Ciputat bersembunyi dengan
kelima rekannya. Aksi para teroris yang terus membumi di tengah-tengah masyarakat
dapat menimbulkan bahaya tersendiri bagi bangsa ini.Bukan hanya kerusakan fisik,
tetapi dapat menimbulkan trauma psikis, dampak ekonomi maupun sosial. Maka,
alasan keempat ini yang menjadikan dasar penelitian bagi peneliti karena apakah
dampak yang disebutkan sebelumnya juga dirasakan masyarakat Kampung Sawah
khususnya yang bermukim di Gang H. Hasan blok Gandaria RT 04 RW 07, Ciputat.
Dengan demikian, berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, maka
peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Dampak Penyergapan Teroris oleh Densus 88 Bagi Masyarakat Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat”.
B.Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar penelitian yang dilakukan dan dibahas pada penulisan skripsi ini lebih
12
Kampung Sawah Gang H. Hasan, Blok Gandaria RT 04 RW 07, Kelurahan Sawah,
Ciputat.
Fokus penelitian ini hanya satu pembahasan yaitu mencari dampak yang
ditimbulkan dari penyergapan teroris pada malam pergantin tahun baru 2014 bagi
masyarakat Kampung Sawah Gang H. Hasan, Blok Gandaria RT 04 RW 07,
Kelurahan Sawah, Ciputat.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka peneliti dapat merumuskan
masalah yang akan menjadi acuan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana dampak
penyergapan teroris oleh Densus 88 Bagi masyarakat Gang H. Hasan, Blok Gandaria,
Kelurahan Sawah, Ciputat?
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam dampak yang
ditimbulkan dari peristiwa penyergapan teroris pada malam pergantian tahun baru
2014 bagi masyarakat Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat
13 2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis
(-) Menambah pengetahuan tentang terorisme dan kaitannya di bidang sosial.
(-) Dengan mengetahui dampak masyarakat terhadap sosok teroris diharapkan
dapat dijadikan bahan analisis bagi pemerintah, DENSUS 88 dan POLRI.
b. Manfaat Akademis
(-) Menambah referensi terkait dengan terorisme di bidang kesejahteraan sosial.
(-) Diharapkan dapat menambah kontribusi keilmuan yang dapat dijadikan
dokumentasi Perguruan Tinggi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai
bahan rujukan bagi para mahasiswa yang berkontribusi pada studi sosial
dalam dimensi terorisme di bidang kesejahteraan sosial.
c. Manfaat Sosial
Penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih
terbuka dan peduli terhadap lingkungannya.Dengan kepedulian dan kemauan
untuk mencari tahu serta melaporkan hal-hal yang dianggap tidak wajar kepada
pihak yang berwajib baik ketua RT ataupun pihak kepolisian demi terwujudnya
wilayah yang bebas teroris.
D.Metodelogi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif.
Metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan
14
dengan cara-cara kuantifikasi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang
menekankan pada quality atau hal terpenting suatu barang atau jasa. Hal terpenting
suatu barang atau jasa yang berupa kejadian, fenomena, dan gejala sosial adalah
makna di balik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi
pengembangan konsep teori. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan
sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial, dan
tindakan.19
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif dengan studi kasus. Dalam tradisi penelitian kualitatif, proses dan ilmu
pengetahuan tidak sesederhana penelitian kualitatif, karena sebelum hasil-hasil
penelitian kualitatif ditentukan atau ditemukan, tahapan penelitian kualitatif
melampaui berbagai tahapan berpikir kritis-ilmiah, dimana sang peneliti berpikir
secara induktif yaitu menangkap berbagai fakta dan fenomena-fenomena sosial
melalui teorisasi berdasarkan apa yang diamati itu.20
Studi kasus adalah metode penelitian yang menggunakan berbagai sumber
data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan
menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program,
organisasi atau peristiwa secara sistematis. Penelaah berbagai sumber data ini
membutuhkan berbagai macam instrumen pengumpulan data. Oleh karena itu,
peneliti dapat menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan,
19M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metode Penelitian Kualitatif, (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2012), h. 25.
20Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu
15
dokumentasi-dokumentasi, rekaman, bukti-bukti fisik dan lainnya. Menurut Mulyana
(2001:201), studi kasus peneliti berupaya secara seksama dan dengan berbagai cara
mengkaji sejumlah besar variabel mengenai suatu kasus khusus. Dengan mempelajari
semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok atau suatu kejadian, peneliti
bertujuan memberikan uraian yang lengkap dan mendalam mengenai subjek yang
diteliti. Karena itu, studi kasus mempunyai cirri-ciri:
a. Partikularistik. Artinya studi kasus terfokus pada situasi, peristiwa, program atau
fenomena tertentu.
b. Deskriptif. Hasil akhir metode ini adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti.
c. Heuristik. Metode studi kasus membantu khalayak memahami apa yang sedang
diteliti. Interpretasi baru, perspektif baru, makna baru merupakan tujuan dari studi
kasus.
d. Induktif. Studi kasus berangkat dari fakta-fakta di lapangan, kemudian
menyimpulkan ke dalam tataran konsep atau teori.21
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif.
Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mencari dampak masyarakat Kampung
Sawah Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Keluarhan Sawah, Ciputat. Penelitian
deskriptif bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang
21 Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jilid 1,(Jakarta: Prenada Media
16
fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu.22 Secara umum pendekatan
kualitatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:23
a. Intensif, partisipasi peneliti dalam waktu lama pada setting lapangan, peneliti
adalah instrument pokok penelitian.
b. Perekaman yang sangat hati-hati terhadap apa yang terjadi dengan catatan-catatan
di lapangan dan tipe-tipe lain dari bukti-bukti Dokumenter.
c. Analisis data lapangan.
d. Melaporkan hasil termasuk deskripsi detail, quotes dan komentar-komentar.
e. Tidak ada realitas yang tunggal, setiap peneliti mengkreasi realitas sebagai bagian
dari proses penelitiannya. Realitas dipandang sebagai dinamis dan produk
konstruksi sosial.
f. Subjektif berada hanya dalam referensi peneliti. Peneliti sebagai saran penggalian
interpretasi data.
g. Realitas adalah holistik dan tidak dapat dipilah-pilah.
h. Peneliti memproduksi penjelasan unik tentang situasi yang terjadi dan
individu-individunya.
i. Lebih pada kedalaman daripada keluasan.
j. Prosedur penelitian empiris-rasional dan tidak berstruktur.
k. Hubungan antara teori, konsep data: data memunculkan atau membentuk teori
baru.
22Melly G. Tan, “Masalah Perencanaan Penelitian”, Metode-Metode Penelitian Masyarakat,
Koentjaraningrat, (Jakarta : PT. Gramedia, 1997), h. 42.
17
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif untuk
mengetahui fenomena tentang aspek, kejiwaan, tanggapan, opini, perasaan, keinginan
dan kemauan seseorang karena penelitian ini mengangkat suatu dampak yang timbul
di masyarakat akibat peristiwa terorisme pada pergantian malam tahun baru 2014 di
Kampung Sawah Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat.
2. Unit Analisis
Unit analisis bisa disebut dengan informan atau responden. Di dalam
penelitian ini prosedur yang digunakan adalah prosedur purposif dalam menentukan
informan, prosedur purposif adalah suatu strategi menentukan informan yang paling
umum di dalam penelitian kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang
menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah
peneletian tertentu.24 Penelitian ini memfokuskan pada masyarakat Kampung Sawah
yang tinggal dekat dengan lokasi penggerebekan teroris pada malam tahun baru 2014.
Karakteristik informan dalam penelitian ini adalah:
a. Warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi penggerebekan teroris pada malam
tahun baru 2014, yaitu warga yang tinggal di Gang H. Hasan, Blok Gandaria RT
04 RW 07 Gang Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat.
b. Warga remaja yang berusia mulai dari 13 sampai 17 tahun.25
c. Warga dewasa yang berusia mulai dari 18 sampai 60 tahun.
d. Warga lansia yang berusia diatas 60 tahun.26
24Ibid, h. 107.
25 Elizabeth B.Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
18 e. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
f. Jumlah informan adalah 6 orang yang terdiri dari ketua RT, tokoh masyarakat, ibu
rumah tangga, terapis pijat, pelajar dan pemilik kontrakan tempat teroris (Dayat)
bersembunyi.
Untuk survei yang dilakukan peneliti, metode sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sampling nonprobabilitas, yaitu sampel yang tidak
melalui teknik random (acak). Disini semua anggota populasi belum tentu memiliki
peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel, disebabkan oleh
pertimbangan-pertimbangan tertentu oleh peneliti. Sampling non-probabilitas yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sampling purposif. Teknik ini mencakup orang-orang
yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan
tujuan penelitian. Sedangkan, orang-orang yang menjadi populasi tetapi tidak sesuai
dengan kriteria tersebut tidak dijadikan sampel.27 Jumlah sampel dalam penelitian ini
adalah 6 orang yang termasuk warga Kampung Sawah, Gang H. Hasan, Blok
Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam usaha peneliti untuk menggambarkan masalah yang diangkat dalam
penelitian ini, maka peneliti menggunakan 1 jenis data, yaitu:
26Ibid, h. 246.
19 Data Primer
Peneliti melakukan penelitian langsung ke lapangan guna mendapatkan data
dan informasi yang dibutuhkan, yaitu dengan cara:
a. Observasi non-partisipan
Observasi adalah salah satu metode utama dalam penelitian kualitatif.
Observasi adalah mengamati dan mendengar dalam rangka memahami, mencari
jawaban, mencari bukti terhadap fenomena dampak terorisme (perilaku,
kejadian-kejadian, keadaan, benda dan simbol-simbol terntentu) selama beberapa waktu tanpa
mempengaruhi fenomena tersebut guna menemukan data dan analisis.28 Observasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan dimana peneliti
tidak menjadi suatu bagian dari masyarakat yang tinggal di wilayah Kampung Sawah
yang diteliti. Bentuk ini juga memiliki kelemahan yaitu bila observee mengetahui
bahwa mereka sedang diobservasi, maka perilakunya biasanya dibuat-buat atau tidak
wajar. Akibatnya obsever tidak mendapatkan data yang asli. Observasi ini dilakukan
di daerah Ciputat dengan objek observasi adalah masyarakat yang tinggal dekat
dengan lokasi penggerebekan teroris pada malam tahun baru 2014 di Kampung
Sawah, Ciputat Tangerang Selatan.
28 Imam Suprayogo, Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: PT Remaja
20 b. WawancaraMendalam (Depth Interviews)
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknis wawancara mendalam
(Depth Interviews). Wawancara mendalam adalah metode penelitian dimana peneliti
melakukan kegiatan wawancara tatap muka secara mendalam dan terus-menerus
(lebih dari satu kali) untuk menggali informasi dari responden. Oleh karena itu,
responden disebut juga informan. Sebab wawancara dilakukan lebih dari sekali, maka
disebut juga “intensive-interviews”. Biasanya metode ini menggunakan sampel yang
terbatas, jika peneliti merasa data yang dibutuhkan sudah cukup maka tidak perlu
mencari sampel (responden) yang lain. Metode ini memungkinkan peneliti untuk
mendapatkan alasan detail dari jawaban responden yang antara lain mencakup
opininya, motivasinya, nilai-nilai ataupun pengalaman-pengalamannya.29
Metode wawancara yang digunakan adalah metode wawancara semi-structure
yaitu sebuah metode dimana pewawancara biasanya memiliki daftar pertanyaan
tertulis tapi memungkinkan untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan secara bebas,
yang terkait dengan permasalahan.Artinya, wawancara dilakukan secara bebas, tetapi
terarah dengan tetap disiapkan terlebih dahulu.30Hal ini bertujuan untuk dapat
mengetahui spontanitas dan umpan balik tanpa adanya konstruksi dari interviewee.
Sehingga data yang didapat akan lebih objektif dan sesuai dengan kenyataannya.
Penelitian ini menggunakan metode wawancara untuk menggali informasi dan
mendapatkan alasan detail yang mencakup opini, dampak, sebab-akibat dari
21
penyergapan teroris pada malam tahun baru 2014 di Gang H. Hasan, Blok Gandaria,
Kelurahan Sawah, Ciputat.
Table 1.1 Tabel Informan No
. Nama Profesi/Posisi Alasan Pemilihan Informan
Keterangan
2. Yuni Terapis Pijat Informan Yuni adalah salah satu warga yang tinggal di rumah
4. A Pelajar Peneliti ingin mengetahui apakah
A salah satu pelajar mengalami
22
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga
dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.31
Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam
unit-unit, melakukan sintesa menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting
dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang
lain. analisis melibatkan pekerjaan dengan data, penyusunan, dan pemecahannya ke
dalam unit-uit yang dapat ditangani, perangkumannya, pencarian pola-pola, dan
penemuan apa yang penting dan apa yang perlu dipelajari dan pembuatan keputusan
apa yang akan peneliti katakana kepada orang lain.32
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data kualitatif model
Strauss dan Corbin (Grounded Theory). Menurut Strauss dan Cobin (1990: 58)
analisis data kualitatif, khususnya dalam penelitian Grounded Theory terdiri atas tiga
jenis pengodean (coding) utama, yaitu (1) pengodean terbuka (open coding), (2)
pengodean berporos (axial coding), dan (3) pengodean selektif (selective coding).
31Ibid, h. 168.
32Prof. Dr. Emzir, M.pd, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: Rajawali
23
Lebih jauh Strauss dan Cobin (1990: 59) menyatakan bahwa pengumpulan data dan
analisis data merupakan proses antar jaringan (interwoven process) yang erat, dan
harus terjadi secara bergantian karena analisis mengarahkan pengambilan sampel
data.33
5. Teknik Keabsahan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik keabsahan data dengan
maksud apakah penelitian ini telah memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi
yang telah digunakan dengan teknik triangulasi. Triangulasi dalam pengujian
kredibelitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan
berbagai cara, dan berbagai waktu. Triangulasi dibedakan menjadi 3 cara yaitu
triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.34 Sedangkan
menurut Dwidjowinoto ada beberapa macam triangulasi, yaitu triangulasi sumber,
triangulasi waktu, triangulasi teori, triangulasi periset, dan triangulasi metode.35
Triangulasi yang digunakan oleh peneliti adalah triangulasi sumber yaitu
membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh dari sumber yang berbeda. Seperti contoh, membandingkan pengamatan
dengan wawancara; membandingkan apa yang dikatakan umum dengan yang
dikatakan pribadi.
33Ibid, h. 137.
34 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Cetakan ke-11, (Bandung:
Alfabeta, 2010), h. 273.
24 6. Tempat dan Waktu Penelitian
Peneliti mengambil tempat penelitian di Kampung Sawah, Gang H. Hasan,
Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat. Adapun waktu penelitian untuk
mengadakan penelitian tersebut selama 7 bulan yang dimulai dari bulan Februari
2014 sampai bulan Agustus 2014.
7. Teknik Penulisan
Teknik penulisan skripsi ini dibuat sesuai dengan “Pedoman Penulisan Karya
Ilmiah skripsi, tesis, dan disertasi”, yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality
Development and Assurance) UIN Jakarta Press Tahun 2007.
8. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan tinjauan atas kepustakaan (literatur) yang
berkaitan dengan topik pembahasan penelitian yang dilakukan pada penulisan skripsi
ini. Tinjauan pustaka digunakan sebagai acuan untuk membantu dan mengetahui
dengan jelas penelitian yang akan dilakukan untuk penulisan skripsi ini.36 Adapun
tinjauan pustaka dalam penulisan skripsi ini, peneliti menggunakan literatur berupa
skripsi, dan tesis yang berkaitan dengan penelitian skripsi peneliti.
Skripsi dari Muhammad Ridwan, III (Praktisi Hukum) Fakultas Hukum
Universitas Indonesia Jakarta, 2004 yang berjudul “Dampak Hukum Dicabutnya Asas
Retroaktif Pada UU No. 16 Tahun 2003 Dalam Kasus Tindak Pidana Terorisme
36Hamid Nasuhi, dkk, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi),
25
Terhadap Putusan Yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap”. Isi pokok dari skripsi ini
membahas tentang,pertama, apa dampak hukum yang akan timbul terhadap putusan
berkekuatan hokum tetap dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang
menimbulkan uji materil terhadap UU No. 16 Tahun 2003. Kedua, putusan
Mahkamah Konstitusi dijadikan dasar upaya hukum peninjauan kembali bagi
terpidana tindak pidana terorisme.
Tesis dari Yusmardi. N,Program Magister Kajian Stratejik Ketahanan
Nasional Program Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta, 2005 yang berjudul
“Implikasi Kebijakan Amerika Serikat Dalam Memerangi Terorisme Bagi Islam
Politik di Indonesia”. Tesis ini telah menjelaskan, pertama, strategi AS untuk
menjelajahi kebiasaan penyelesaian konflik internasional dalam melaksanakan
kebijakan memerangi terorisme (war on terrorism). Kedua, alasan sebagian
komunitas Islam dalam meggunakan cara-cara kekerasan (teror) dalam upaya
mencapai tujuan-tujuan politiknya. Ketiga, implikasi kebijakan war on terrorism
Amerika Serikat bagi komunitas islam politik di Indonesia.
Tesis dari Rakhmat Damdami, Program Pascasarjana Program Studi Kajian
Ketahanan Nasional Kekhususan Kajian Stratejik Intelejen Universitas Indonesia
Jakarta, 2011 yang berjudul “Jama’ah Anshorut Tauhid Sebagai Organisasi Hub
Terorisme Berlatarbelakang Keagamaan di Indonesia”. Tesis ini menjelaskan peran
Jama’ah Anshorut Tauhid sebagai organisasi Hub bagi terorisme berlatar belakang
26
Tesis dari I Wayan Wirawan, FISIP Departemen Ilmu Hubungan
Internasional Program Pascasarjana Jurusan Ekonomi Politik Internasional
Universitas Indonesia Jakarta, 2011 yang berjudul “Dampak Terorisme Terhadap
Bisnis Penerbangan Internasional (Studi Kasus Pasca Tragedi WTC 11 September
2011 di Amerika Serikat)”. Tesis ini menjelaskan Dampak Terorisme Terhadap
Bisnis Penerbangan Internasional (Studi Kasus Pasca Tragedi WTC 11 September
2011 di Amerika Serikat).
9. Sistematika Penulisan
Penulisan ini terdiri atas satu bab yang peneliti uraikan sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, didalamnya peneliti menguraikan masalah dengan teknik penulisan yang meliputi latar belakang masalah,
pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat,
metode penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.
BAB II Kajian Teori, dalam bab ini akan dijelaskan teori-teori yang berhubungan dengan isi skripsi sebagai dasar pemikiran untuk
membahas permasalahan dalam penelitian skripsi, yaitu: teori
tentang terorisme, teori psikodinamik, kecemasan sosial dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan sosial, kognisi
sosial dan teori pekerja sosial.
27
Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Kelurahan Sawah, Ciputat
serta profil informan.
BAB IV Temuan dan Analisis Data, pada bab ini akan dijelaskan dan dijabarkan data hasil penelitian yang telah didapatkan berikut
analisis data berdasarkan statistika dan kesimpulan.
28
BAB II
LANDASAN TEORITIS
TEROR, TERORISME, TERORIS
A. Terorisme
1. Definisi Terorisme
Jika kita berbicara tentang terorisme, maka hal ini sangat erat kaitannya
dengan keamanan bagi suatu Negara. Dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003
tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, bahwa terorisme adalah perbuatan
melawan hukum secara sistematis dengan maksud untuk menghancurkan kedaulatan
bangsa dan Negara dengan membahayakan bagi badan, nyawa, moral, harta benda
dan kemerdekaan orang atau menimbulkan kerusakan umum atau suasana teror atau
rasa takut terhadap orang-orang secara meluas, sehingga terjadi kehancuran terhadap
objek-objek vital yang strategis, kebutuhan pokok rakyat, lingkungan hidup, moral,
peradaban, rahasia Negara, kebudayaan, pendidikan, perekonomian, ideologi,
perindustrian, fasilitas umum, atau fasilitas internasional.37
Sedangkan pendapat lain menjelaskan definisi terorisme adalah fenomena
dalam masyarakat demokratis dan liberal atau masyarakat yang menuju transisi
kesana. Terorisme termasuk ke dalam kekerasan politis (political violence), seperti:
kerusuhan, hura-hura, pemberontakan, revolusi, perang saudara, geriliya,
37 Abdul Wahid, dkk, Kejahatan Terorisme Perspektif Agama, HAM, dan Hukum (Bandung:
29
pembantaian, dan lain-lain. Terorisme politis memiliki karakteristik sebagai berikut:38
(1) merupakan intimidasi yang memaksa; (2) memakai pembunuhan dan
penghancuran secara sistematis sebagai sarana untuk suatu tujuan tertentu; (3) korban
bukan tujuan, melainkan sarana untuk menciptakan perang urat syaraf, yakni “bunuh
satu orang menakuti seribu orang”; (4) target aksi teror dipilih, bekerja secara rahasia,
namun tujuannya adalah publisitas; (5) pesan aksi itu cukup jelas, meski pelaku tidak
selalu menyatakan diri secara personal; (6) para pelaku kebanyakan dimotivasi oleh
idealisme yang cukup keras, misalnya “berjuang demi agama dan kemanusiaan”.39
Sedangkan menurut Dr. Hafid Abbas dalam bukunya Beyond Terrorism yang
dikutip dalam skripsi I Wayan Wirawan menjelaskan definisi Terorisme menurut
Federal Bureau of Investigation FBI adalah pemakaian kekuatan atau kekerasan tidak
sah melawan orang atau properti untuk mengintimidasi atau menekan suatu
pemerintahan, masyarakat sipil atau bagian-bagiannya untuk memaksakan tujuan
sosial atau politik.40
Selain itu, menurut Flemming dan Stohl dalam buku Cyber Terrorism yang
ditulis oleh Andrew M. Colaric menyatakan:
“Terrorism is an act and must be defined as such”. It is the intentional act of inflicting fear in an individual, group, and/or society with the intent to influence a wider audience. It is said that there are two basic motivations in life: the pursuit of pleasure and the avoidance of pain. The focus of terrorism
38 Wilkinson, Paul, Terrorism and The Liberal State (London: The Macmillan Press Ltd.,
London, 1977), h. 49 dst.
39 Budi Hardiman, dkk, Terorisme Definisi, Aksi, dan Regulasi (Jakarta: Imparsial, 2005), h.
3.
40I Wayan Wirawan, “Dampak Terorisme Terhadap Bisnis Penerbangan Internasional (Studi
30
is to inflict such terror through violence as to make people do anything to avoid the possibility of future pain. In tis respect, a form of control is exercised on unwilling participants. In Title of the United States Code (18 CFR Section 2656f(d)), terrorism is defined as:
The term ‘terrorism’ means premeditated, politically motivated violence perpetrated against non-combatant targets by subnational groups or
clandestine agents, usually intended to influence an audience.41
“Terorisme adalah suatu tindakan dan harus didefiniskan seperti itu”. Ini adalah tindakan yang disengaja untuk menimbulkan ketakutan dalam individu, kelompok, atau masyarakat dengan maksud untuk mempengaruhi khalayak yang lebih luas. Dikatakan bahwa ada dua motivasi dasar dalam kehidupan: mencapai kepuasan dan menghindari penderitaan. Fokus terorisme adalah untuk menimbulkan teror melalui kekerasan agar orang melakukan sesuatu untuk menghindari kemungkinan penderitaan di masa depan. Dalam hal ini, bentuk kontrol dilakukan dengan paksa pada para pastisipan yang sebenarnya tidak mau melakukannya.
Menurut Andrew M. Colarik dalam Title of the United States Code (18 CFR Section 2656f(d)), terorisme didefiniskan sebagai suatu hal yang direncanakan, kekerasan bermotif politik yang dilakukan terhadap sasaran yang tidak bersenjata oleh kelompok-kelompok subnasional atau agen rahasia, biasanya dimaksudkan untuk mepengaruhi masyarakat.
Dengan demikian, terorisme dapat didefinisikan sebagai tindakan yang dapat
menimbulkan perasaan takut dan cemas terhadap korbannya. Tindakan yang sengaja
dilakukan bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat dengan cara meneror dan
menghancurkan sebagai sarana tujuannya.
41 Andrew M. Colarik, Cyber Terrorism (United States of America: Idea Group Publishing,
31 2. Kategori Terorisme
Terorisme juga memiliki beberapa kategori, hal ini terlihat dari tujuan dan
latar belakang dari kelompok teroris tersebut. Kategori-kategori tersebut dapat
dikelompokan menjadi; (1)Kelompok yang mengejar tujuan agama, (2) Kelompok
yang mengejar tujuan nasional atau Negara, (3) Kelompok yang bertujuan budaya,
bahasa, dan daerah, (4) Kelompok yang termasuk dalam gerakan sayap kiri, (5)
Kelompok yang termasuk dalam gerakan sayap kanan, (6) Kelompok yang
menggunakan terorisme sebagai alat pemerintahan.
Religious dissidents will be the first type to be discussed. This discussion will include groups that use terrorist attacks to attempt to achieve their goals in terms of creating religious freedom for their groups or bringing groups that
they see as more theologically correct to power.
Kelompok yang mengejar tujuan agama adalah kelompok yang menggunakan terorisme untuk mencapai tujuan mereka dalam membuat suatu kebebasan beragama untuk kelompok mereka sendiri atau membawa kelompok yang mereka anggap paling benar untuk dapat berkuasa.
Many active terrorist organizations have sought objectives related to a particular ethnic group, or linguistic group, or region of the country. These group seek to liberate themselves and their co-nationals from what they
perceive to be a colonial situation or a repressive government.
Kelompok yang mengejar tujuan Nasional atau Negara yaitu berbagai organisasi teroris yang aktif untuk berusaha mencapai tujuan yang terkait dengan kelompok etnis tertentu, atau kelompok bahasa, atau wilayah Negara tertentu. Kelompok ini berusaha membebaskan diri mereka dan co-nasional dari apa yang mereka persepsikan menjadi situasi kolonial atau pemerintahan yang represif.
32
since the goals and objectives of the two trypes of groups are so dissimilar, even though at times they have shared the goal of destroying the existing states. In many cases they appear in different contexts, with leftist groups opposing one kind of regime or government. However, both groups have at times operated in the same countries, even at the same time, when they have
both been opposed to a middle of the road government.
Kelompok yang bertujuan budaya, bahasa dan daerah merupakan ideologi yang juga berfungsi untuk menentukan tujuan politik organisasi dengan menggunakan aksi teror. Baik di kelompok sayap kiri maupun kelompok sayap kanan menggunakan taktik teroris. Mereka akan dibagi secara terpisah dalam bagian-bagian yang berbeda karena tujuan dan sasaran dari dua jenis kelompok tersebut sangat berbeda, meskipun terkadang mereka sudah berbagi tujuan untuk menghancurkan Negara-negara tertentu. Dalam berbagai kasus mereka muncul pada konteks yang berbeda dengan kelompok-kelompok sayap kiri yang menentang satu jenis rezim atau pemerintahan. Namun, kedua kelompok telah beroperasi di Negara-negara yang sama, bahkan pada saat yang bersamaan pula, ketika keduanya sedang menentang pemerintahan.
The final type of terrorism described in this book is terrorism undertaken essentially by or on behalf of the government. Generally it will involve unofficial groups that use terror to reinforce governmental policies or deal with dissident groups. Governments will frequently use death squads or other such groups to instill fear rather than relying on the police or the armed forces.
33
Terrorist actions are often devided into domestic terrorism and international terrorism. International terrorism will usually include situations that involve a target in another country attacked by a group from another, thus creating an situations in which more than one government has an interest. Domestic terrorism is an internal affair and at least in theory less open to the involvement of other states. This distinction between domestic and
international terrorism, however, can often be a false one.42
Aksi terorisme dibagi menjadi dua bagian, yaitu terorisme domestik dan terorisme internasional. Terorisme internasional biasanya mencakup situasi yang melibatkan tragedi Negara lain yang diserang oleh sekelompok lain, sehingga menciptakan situasi di mana lebih dari satu pemerintah memiliki kepentingan. Terorisme domestik adalah kepentingan internal dan kurang terbuka dengan Negara-negara lain. Perbedaan antara terorisme domestik dengan terorisme internasional, bagaimanapun tidak selalu salah.
Dengan demikian, kategori terorisme dapat didefinisikan sebagai indikator
dari tujuan terorisme. Tujuan yang dimaksud yaitu; yang mengejar tujuan agama,
yang mengejar tujuan nasional atau Negara, yang bertujuan budaya, bahasa, dan
daerah, yang termasuk dalam gerakan sayap kiri, yang termasuk dalam gerakan sayap
kanan, yang menggunakan terorisme sebagai alat pemerintahan dan dilakukan baik
secara domestik ataupun internasional.
3. Alasan Terorisme
Mungkin kita tidak dapat menghilangkan asap tanpa memandamkan apinya.
Begitulah yang seharusnya dilakukan, dalam pemberantasan tindakan terorisme kita
tidak hanya fokus pada pelaku atau terorisnya saja.Namun, dibalik itu semua ada
penyebab awal mulanya tindakan terorisme itu hadir ditengah-tengah kita.
42 Howell, L. D, The New Global Terrorism: Characteristics, Causes, Controls (New Jersey:
34
Menurut Howell dalam bukunya yang berjudul The New Global Terrorism
menjelaskan alasan atau penyebab munculnya tindakan terorisme:
There have been numerous theories as to the causes of terrorism-include among the possibilities are: government structures and exploitatives economic systems; repression and discrimination; relative deprivation wherein a group sees its position in society slip in regrad to other groups are raising their standards of living; rapid charge that disrupts the social and political systems; imperialism and colonialsm; and disaster-natural or otherwise-that overwhelm the political society.
Regardless of the underlying causes in a social or political system, one factor is virtually universal. Violence is likely when some subgroup in the population has major grievances. The problems can be grounded in religious beliefs, ethnic concerns, ideological issues, or from a mixture of these factors. In fact, many persons implicitly identify the causes of terrorism in ethnic, religious, and ideological terms when they use the objectives of the terrorist to categorize the causes of the violence. In a large number of cases it is obvious that disparities in economic will being
play a role in the grievences (Howell 2003: 177).43
Ada banyak teori tentang penyebab terorisme diantaranya struktur pemerintahan dan sistem ekonomi yang bersifat exploitative, penindasan dan diskriminasi; dimana suatu kelompok melihat posisinya dalam masyarakat berbeda dengan kelompok lain karena kelompok lain telah mengingatkan standar hidup; biaya naik dengan cepat yang mengganggu sistem sosial dan politik, imperialisme dan kolonialisasi, dan bencana-alam atau lainnya yang sering melanda masyarakat.
Terlepas dari penyebab terorisme dalam sistem sosial atau politik, ada salah satu faktor yang universal. Keluhan atau faktor utama dalam sub masyarakat atau populasi adalah kekerasan. Masalah yang timbul pada dasarnya adalah keyakinan agama, ke khawatiran etnis, isu-isu ideologis, atau dari berbagai faktor-faktor yang menjadi satu.Bahkan, banyak orang secara implisit mengidentifikasi penyebab terorisme dalam hal etnis, agama, dan ideologi ketika mereka menggunakan tujuan
35
teroris untuk mengkategorikan penyebab kekerasan.Dalam sejumlah besar kasus itu adalah jelas bahwa masalah utama adalah kesenjangan dalam ekonomi.
Dengan demikian, dalam buku Howell menjelaskan bahwa bukan hanya
masalah yang timbul dari faktor politik maupun pemahaman agama yang berbeda saja
yang dapat menyebabkan terjadi tindakan terorisme.Akan tetapi, tindakan terorisme
atau lahirnya teroris dilihat dari faktor kesenjangan ekonomi pada diri teroris.
4. Model-Model Respon Aksi Terorisme
Pemerintah bisa memiliki respon yang berbeda-beda terhadap aksi terorisme
di dalam negaranya. Macam-macam respon itu akan menghasilkan implikasi yang
berbeda-beda menurut Gutteridge dan William dalam buku Budi Hardiman, sebagai
berikut:
a. Membiarkan. Jika suatu pemerintahan membiarkan aksi teroritis atau tidak
menunjukan ketegasan yang dapat dibaca oleh rakyatnya, terbukalah peluang
bagi rakyat untuk memulai bertindak sendiri dengan membentuk
organisasi-organisasi paramiliter. Gerakan dari rakyat ini dapat dilihat sebagai
melemahkan sistem Negara dalam menjamin keamanan rakyatnya.
Kontra-teror dari rakyat akan menghasilkan Kontra-teror baru, maka rantai kekerasan pun
terbentuk.
b. Menekan aksi terorisme dengan kebijakan totaliter. Menstabilkan atau
memperkuat kontrol atas totalitas politis dengan membentuk sistem satu
partai, mendirikan spionase, cek rutin dokumen-dokumen personal, kontrol
36
penyaringan anggota-anggota partai, menyusun hukum yang memungkinkan
untuk menjaring musuh-musuh politis, dan sebagainya.
c. Kontra-teror terhadap teroris internasional plus demokrasi. Melakukan
penyerangan terhadap basis-basis organisasi teroris atas nama demokrasi.
d. Pendekatan lunak terhadap teroris. Memenuhi keinginan kaum teroris, seperti
bisa terjadi dalam aksi pembajakan pesawat. Di lain pihak suatu negosiasi
dengan teroris dapat dicurigai oleh publik demokratis sebagai politik
arkanum.
e. Pendekatan garis keras. Mengisolasi sel-sel kaum teroris, organisasi, pasokan
logistik, dan pemimpin mereka. Hukum terhadap pelaku teror diperkeras.
Intrumen-instrumen anti teroris dipercanggih dengan presisi yang tinggi.44
5. Bentuk Kejahatan Terorisme
Dalam jurnal Muladi yang di kutip oleh Eddy Faisal dalam tesisnya yang
menjelaskan kekerasan adalah pondasi terorisme, bahkan dapat dikatakan terorisme
merupakan puncak dari aksi kekerasan (Terrorism Is The Apex of Violence). Hal ini
dikarenakan terorisme dapat menciptakan kekerasan ikutan (Collateral Damage)
terhadap pihak ketiga yakni masyarakat umum yang seringkali bukan menjadi sasaran
gerakan mereka.
Dilihat dari cara-cara yang digunakan: 1). Teror Fisik, yaitu teror untuk
menimbulkan ketakutan, kegelisahan melalui sasaran fisik jasmani dalam bentuk
pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, penyanderaan, penyiksaan dan