• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan saran yang dibagi kedalam tiga kategori yaitu, saran praktis, saran akademis dan saran sosial.

1. Saran Praktis

- Kepolisian Republik Indonesia

Dalam penyergapan teroris, diharapkan pihak kepolisian untuk mempertimbangkan dengan kondisi lingkungan di sekitar lokasi penyergapan. Sebab, (kata kunci: rehabilitasi nama baik, perlindungan sosial)

- Praktik Pekerja Sosial

Memberikian pengajaran praktek kepada pekerja sosial mengenai permasalah terorisme yang ada di Indonesia sehingga menambah pengembangan intervensi assessment pekerja sosial terhadap permasalahn terorisme.

96 - Pemerintah Lokal

Memberikian pengetahuan mengenai permasalah terorisme yang ada di Indonesia sehingga akan membantu pemerintah lokal membuat perencanaan dan program yang baik dalam mengatasi permasalahan terorisme yang sedang marak diperbincangkan.

2. Saran Akademis

- Untuk kedepannya, diharapkan akan lebih banyak lagi penelitian tentang terorisme khususnya dalam bidang kesejahteraan sosial, karena penelitian tentang terorisme dalam bidang kesejahteraan sosial masih sangat sedikit dan belum banyak diteliti.

- Kajian tentang terorisme seharusnya dapat diajarkan di dalam akademis khususnya di bidang kesejahteraan sosial. Hal ini bertujuan untuk dapat memberikan pengetahuan dan pencegahan lebih dini terhadap terorisme di kalangan mahasiswa.

3. Saran Sosial

- Semua pihak termasuk masyarakat diharapkan dapat saling berkoordinasi dalam mencegah terjadinya terorisme. Dibentuknya suatu wadah di tiap unit desa seperti paguyuban dan komunitas untuk meminimalisir terjadinya aktivitas terorisme di masyarakat.

- Masyarakat disarankan untuk lebih waspada dan selektif terhadap setiap anggota masyarakat dilingkungannya. Hal-hal yang berbentuk administratif seperti KTP, KK, SIM, dan tanda pengenal lainnya harus

97

ditertibkan sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya tindakan terorisme.

98

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Isbandi RUkminto. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi

Komunitas. Lembaga Penerbit FE UI: Depok, 2003.

Ariefuzzaman, Siti Napsiyah. Belajar Teori Pekerja Sosial. Ciputat : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Baron, Robert A dan Byrne, Donn. Psikilogi Sosial : Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga, 2004.

Brian, Jenkins, ed. Terrorism and Beyond: An International Conference on Terrorism

and Low-Level Conflict. Santa Monica, California: Rand, 1982.

Bungin, Burhan. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan

Ilmu Sosial Lainnya, Edisi kedua Cetakan ke-5. Jakarta: Prenada Media Group.

Chalmers, Johnson. Perspectives on Terrorism, dalam Walter Laqueur, ed., The Terrorism Reader. New York: New American Library, 1978.

Colarik, Andrew M. Cyber Terrorism. United States of America: Idea Group Publishing, 2006.

Conboy, Ken. Medan Tempur Kedua Kisah Panjang yang Berujung pada Peristiwa

Bom Bali II. Jakarta: Pustaka Primatama, 2008.

D, Howell, L. The New Global Terrorism: Characteristics, Causes, Controls. New Jersey: Prentice Hall, 2003.

Djelantik, Sukawarsini. Terorisme Tinjauan Psiko-Politis, Peran Media, Kemiskinan,

dan Keamanan Nasional. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.

Emzir. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta: Rajawali Pers, 2011. Enders, Walter. dan Sandlet, Todd. The Political Economy of Terrorism. Cambridge

University: Press, 2006.

Ghony, M. Djunaidi dan Almanshur, Fauzan. Metode Penelitian Kualitatif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Hardiman, Budi dkk, Terorisme Definisi, Aksi, dan Regulasi. Jakarta: Imparsial, 2005.

99

Hendropriyono, A.M. Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2009.

Hubbard, David G. The Psychodynamics of Terrorism. New York: Praeger, 1983. Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan (terjemahan) Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga, 2008.

King, Laura A. Psikologi Umum. Jakarta : Salemba Humanika, 2010.

Kriyantono, Rachmat. Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jilid 1. Jakarta: Prenada Media Group, 2006.

Mannulang, AC. Menguak Tabu Intelejen: Teror Motif dan Rezim. Jakarta: Panta Rhei, 2001.

Mudzakir. Pengkajian Hukum Tentang Perlindungan Hukum Bagi Korban

Terorisme. Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan

Hak Asasi Manusia RI, 2008.

Nasuhi, Hamid dkk. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi. Jakarta: Center for Quality, 2007.

Praptokoesoemo, Mr. Soemantri. Pengantar Ilmu Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, 1997. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Cetakan ke-11.

Bandung: Alfabeta, 2010.

Tan, Melly G. “Masalah Perencanaan Penelitian, Metode-Metode Penelitian

Masyarakat, Koentjaraningrat,. Jakarta : PT. Gramedia, 1997.

Tobroni, Imam Suprayogo. Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001.

Wahid, Abdul dkk. Kejahatan Terorisme Perspektif Agama, HAM, dan Hukum. Bandung: PT. Rafika Aditama, 2004.

Wilkinson, Paul. Terrorism and The Liberal State. London: The Macmillan Press Ltd., London, 1977.

100

Abadie, Alberto. “Poverty, Political Freedom, and the Roots of Terrorism”. (NBER Working Paper No 1085, 2004), h. 3.

Kent, Lyne Oots dan Thomas, C. Wiegele. “Terrorist and Victim: Psychiatric and

Psysiological Approaches from Social Science Perspective”. Terrorism: An

International Journal, 8, No. 1, 1985.

Lefebvre, Stephane. “Perspectives on Ethno-Nationalist/Separatist Terrorism”.

Research and Assessment Branch (R&AB), Swindon, UK, 2003.

Muhidin,Ahmad. “Hubungan Dukungan Sosial Dengan Kecemasan Pada Penderita

Kanker Payudara Dalam Menjalani Pengobatan”. Skripsi S1 Fakultas Psikologi

Universitas Indonesia Depok, 2004.

Wirawan, I. Wayan. “Dampak Terorisme Terhadap Bisnis Penerbangan Internasional

(Studi Kasus Pasca Tragedi WTC 11 September 2011 di Amerika Serikat)”.

Tesis S2 FISIP Pascasarjana Jurusan Ekonomi Politik Internasional Universitas Indonesia, 2011.

Faisal, Eddy. “Dampak Aksi Teroris Terhadap Masyarakat Indonesia Dalam Perspektif Ketahan Nasional”. Tesis S2 Program Pascasarjana Program Studi Kajian Ketahanan Nasional Kekhususan Kajian Stratejik Intelejen Universitas Indonesia, 2004.

Poertranto, Tri. “Konsespsi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme di Indonesia Dalam Rangka Menjaga Keutuhan di NKRI”. Artikel diakses pada 13 Januari 2014 dari http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/konsepsi-pencegahan-dan-penanggulangan-terorisme-di-indonesia-dalam-rangka-menjaga-keutuhan- Peraturan Presiden No 12 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden

Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Robinson, K. Kristopher, dkk. “Ideologies of Violence: The Social Origins of Islamist

and Leftist Transnational Terrorism”. Social Force,Vol. 84, No. 4 (Jun., 206),

pp. 2009-2026. Artikel diakses pada 3 April 2011 dari http://www.jstor.org

Waldron, Jeremy. “Terrorism and the Uses of Terror, The Journal of Ethnics”. Vol.

8, No. 1, Terrorism (2004), pp. 5-35. Artikel diakses pada tanggal 3 April 2011 dari http://www.jstor.org

Wibowo, Anggih Tangkas. “Sosialisasi Hasil Penelitian DIPA 20 November 2013”.

101

http://www.politik.lipi.go.id/in/kegiatan/909-sosialisasi-hasil-penelitian-dipa-20-november-2013.html

Aryanto, Yostinus Tomi. “Indonesia Potensi Sarang Teroris”. Tempo News Room.

Artikel diakses pada 13 Januari 2014

darihttp://tempo.co.id/harian/wawancara/waw-Manulang01.html

Amelia, R.Mei. “Penggrebekan Teroris di Ciputat”. Artikel diakses pada 13 Januari

2014 dari http://news.detik.com/read/2014/01/02/113054/2456408/10/kado-tahun-baru-polri-penggerebekan-teroris-di-ciputat

Siregar, Dimas. “Tanggerang Selatan Favorit Persembunyian Teroris?”. Tempo.Co.

Artikel diakses pada 21 Maret 2014 dari https://id.berita.yahoo.com/tangerang-selatan-favorit-persembunyian-teroris-002045456.html

Caplan, Bryan. Terrorism:“The Relevance of The Rational Choice Model, Public

Choice”, vol. 128, no. 1-2, The Political Economy of Terrorism (Jul., 2006), pp. 91-107. Artikel diakses pada 24 Maret 2014 dari http://www.jstor.org

Cohen, Jeff. “What is a terrorist?”, 2002. Artikel diakses pada 24 Maret 2014 dari https://www.commondreams.org/views02/0501-02.html/

Section 83, The Anti-Terorism Act. “the definition of ‘terrorist group, an enity that has as one of its purpose or activities faciliting ir crying out any terrorist

activity”. (Kanada: Departemen of Justice, 1 April 2008). Artikel diakses pada

24 Maret 2014 dari http://canada.justice.gc.ca/eng/anti-ter/sheet-fiche/DEF_TER/def_ter1.html/

Hudson, A. Rex dan Majeska, Marilyn (ed). “The Sociology and Psychology of

Terrorism: Who Becomes a Terrorist and Why?”. (Washington DC: Divisi

Penelitian The Library of Congress, 1999), h. 12. Artikel diakses pada tanggal 24 Maret 2014 dari http://www.loc.gov/rr/frd/pdf-files/Soc_of_Terrorism,pdf

PPI STKS Bandung Tahun 2008, Definisi Pekerjaan Sosial, diakses pada 27 Maret 2014 dari http://blogs.unpad.ac.id/teguhaditya/script.php/reas/definisi-pekerja-sosial/

Witono, Tonton. “SDM Kessos dan Pengembangannya”. Artikel diakses pada 27

Maret 2014 dari http://bbppkspadang.wordpress.com/quantum-vi-no-11-2009-6/

Pemerintah Kota Tanggerang Selatan, diakses pada 20 April 2014 dari http://v2.tangerangselatankota.go.id/main/page/gambaran-umum

102

Wawancara Pribadi dengan Informan Zainab, Ciputat, 19 Febuari 2014. Wawancara Pribadi dengan Informan Zainab, Ciputat 24 Juni 2014. Wawancara Pribadi dengan Informan Yuni, Ciputat 24 Juni 2014. Wawancara Pribadi dengan Informan S, Ciputat 7 Juli 2014. Wawancara Pribadi dengan Informan A, Ciputat 7 Juli 2014.

103

Hasil Observasi

Observasi dilakukan selama 3 hari pada tanggal 21 mei – 23 mei 2014, di daerah Kampung Sawah, Gang H. Hasan, Blok Gandaria, Ciputat. Informan merupakan warga yang tempat tinggalnya berdekatan dengan lokasi dari penyergapan teroris yang terjadi di RT 04 RW 07 kelurahan Kampung Sawah. Rumah yang berada dekat dengan lokasi teroris tinggal berjumlah 20 rumah. Namun untuk jumlah keselurahan warga di RT 04 ini mencapai 200 kepala keluarga. Jenis kelamin informan terdiri dari 3 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Usia masing-masing informan berbeda-beda diantaranya adalah Z yang berumur 64 tahun, Y yang berumur 39 tahun, S yang tidak memberikan identitasnya, dan A yang berumur 16 tahun. Selain dari warga yang tinggal dekat dengan lokasi penyergapan teroris, peneliti memilih tokoh masyarakat M dan ketua RT 04 yaitu B.

Sebagian informan memiliki pekerjaan atau profesi yang sama, yaitu Z dan S yang sama-sama berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan, Y bekerja menyembuhkan orang yang sakit dan A adalah seorang pelajar. Mereka satu sama lain berhubungan baik namun terlihat Y dan S tidak begitu akur dalam hubungan antar tetangga. Sedangkan S merupakan keponakan dari Z, namun hubungan merekapun tidak terlihat akur.

Kondisi daerah tempat dimana informan tinggal sangat padat, artinya untuk memasuki kawasan tersebut hanya dapat dilewati dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Pohon-pohon bambu yang sangat rimbun membuat suasana daerah tersebut

104

terasa sejuk namun apabila sudah waktu menunjukan pukul 3 suasana di daerah tersebut seperti sudah menunjukan pukul 5 sore. Daerah yang sepi dan tak banyak orang yang lalu lalang melewati daerah ini dan ini cocok bagi warga pendatang yang ingin mencari ketenangan. Tempat tinggal warga di gang gandaria ini juga dikelilingi oleh empang besar dan sawah serta kebun yang berisi pohon-pohon bambu besar saking besarnya daun-dauh pohon bambu itu menutupi atap jalan sepanjang gang gandaria.

Keseharian informan berbeda-beda, mulai dari informan Z yang biasa duduk-duduk diruang tamu rumahnya dan sesekali ia keluar menuju teras rumahnya. Kemudian Y yang selain bekerja membantu atau menyembuhkan orang yang sakit ia juga tidak melupakan suami dan anaknya dirumah. Y lebih sering didalam rumah daripada duduk-duduk diluar rumah. Sesekali ia keluar untuk mengangkat jemuran dan menyapu teras rumahnya. Namun berbeda dengan informan S, ia sering menghabiskan waktunya berkumpul di teras rumahnya bersama teman-temannya sambil bersenda gurau dengan beberapa teman-temannya. Sedangkan informan A seorang pelajar yang lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dan setelah ia pulang dari sekolahnya ia memilih untuk berkumpul dengan beberapa teman-teman sebayanya didekat rumahnya.

Karakter dari masing-masing bisa dikatakan hampir sama satu sama yang lainnya. Informan Z yang terlihat begitu ramah namun saat ia melihat orang yang menghampirinya mimik wajahnya berbeda seperti takut dengan orang yang ia temui saat itu tetapi setelah menjelaskan maksudnya dan ia begitu tegas melihat wajah

105

orang yang menemuinya barulah ia lebih santai kepada orang yang menemuinya itu dan Z tidak banyak bicara lebih sering diam. Begitupun dengan Y yang lebih tertutup dengan orang yang baru ia kenal, karena rumah Y berada di depan dekat dengan jalan utama gang gandaria dan rumah Y yang menghadap ketembok salah satu rumah warga membuat Y tertutup dengan tetangganya. Lebih sering menutup pintu dan kadang membuka pintu tetapi tidak dibuka dengan lebar. Nada bicaranya yang lembut dan ramah ketika ia mulai mengetahui maksud dan tujuan orang yang menemuinya itu. Tidak jauh berbeda dengan S, bahkan S lebih terlihat bahwa ia menaruh rasa curiga terhadap orang yang baru ia kenal karenamata S yang melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki orang yang baru dikenalnya dan cara berbicaranya pun tegas dan lantang. Sedangkan A yang masih remaja ini terlihat lebih biasa saja terhadap orang yang baru ia kenal. A bahkan asik dengan teman-temannya tidak menanyakan atau menghiraukan orang yang baru ia lihat sekalipun.

106

Pedoman Wawancara

Daftar Pertanyaan: 1) Identitas Warga 1. Nama : 2. Jenis Kelamin : 3. Usia : 4. Alamat : 5. Profesi : 6. Agama : 7. Asal Daerah : 2) Pertanyaan

1. Bagaimana perasaan Anda setelah mengetahui adanya penggerebekan teroris pada malam tahun baru 2014?

2. Setelah kejadian tersebut, bagaimana pandangan Anda terhadap warga pendatang baru di Kampung Sawah?

3. Bagaimana pengaruh penggerebekan teroris terhadap pekerjaan Anda? 4. Menurut Anda, apakah penggerebekan teroris tersebut berpengaruh

terhadap penghasilan Anda?

5. Bagaimana pandangan Anda terhadap aparat keamanan di Ciputat dalam mengantisipasi tindakan terorisme baik aparat POLRI/TNI/DENSUS 88? 6. Menurut Anda, apakah petugas keamanan setempat berpartisipasi dalam

menjaga keamanan wilayah Kampung Sawah?

7. Bagaiamana situasi pasca kejadian penggerebekan teroris saat pergantian malam tahun baru 2014?

8. Hal apa yang paling Anda ingat pada kejadian tersebut?

9. Menurut Anda, adakah dampak yang terjadi di lingkungan sekitar lokasi penggerbekan teroris?

107

Hasil Wawancara

Hari dan Waktu : Selasa, pukul 14:00

Tanggal : 24 Juni 2014

Interviewee : Yuni

Tempat : Jl. AMD kelurahan Kampung Sawah, Ciputat.

Tanggerang Selatan

Pekerjaan : Terapis Pijat

Petunjuk Umum

1. Wawancara ini terdiri dari jabatan dan pertanyaan 2. Pertanyaan diberi tanda (T)

3. Jawaban diberi tanda (J) T : assalamualaikum ibu? J : walaikumsalam ka.

T : saya dengar berita bu, pada saat malam tahun baru 2014 ini kan ada penggerebekan teroris di kampung sawah ya bu dan tepat di rumah kontrakan ini. Lalu perasaan ibu saat kejadian itu seperti apa bu?

J : iya, saya bener-bener shockbanget ya engga menyangka yaa. Hal yang sulit dipercaya itu bisa terjadi.

T : tapi ibu ada saat kejadian itu? J : ada, saya didepan pintu. T : bisa ibu ceritakan ke saya?

J : tiba-tiba aja, ada yang ngabarin yang ngontrak di bu zainab ditembak di atas. Cuman aku engga tau yang mana yang mananya sih cuman ya langsung tiba-tiba pada tembak-tembakan aja dan udah pada rame.

T : rame apa bu?

J : rame polisi. T : itu jam berapa bu?

108 J : abis magrib.

T : oh, jadi jam setengah tujuh ibu masih ada didalam rumah yaa?

J : iya masih disitu (menunjuk ke arah kanan dari rumah kontrakannya) makanya sekarang aku engga mau kesitu lagi.

T : oh gitu, kenapa emangnya bu?

J : ini dia (menunjuk ke anaknya) masih trauma sampe sekarang belum sembuh. Aku kalo punya duit banyak pengen bawa dia ke dokter.

T : traumanya karena apa bu?

J : karena itu, dia kanngeliat polisi pada dateng terus rumahnya ancur. Sekarang dia jadi ya gitu ya ka, jadi seperti takut terus pelanga-pelongo aja. Ngomongnya juga udah ngaco gitu ka.

T : namanya siapa bu?

J : Debby.

T : oh, tapi masih kenal orang kan bu?

J : ya gitu, kaya apa gitu. Kaga mau ngomong-ngomong dia sejak kejadian itu, kalo punya duit banyak mah saya bawa ke psikiater.

T : oh gitu, setelah kejadian itu sampai sekarang Debby masih diem seperti ini bu?

J : iya, ya gini ka diem-diem tapi kadang nangis. T : masih sekolah Debby nya bu?

J : engga, udah engga mau. Paud dia harusnya sekarang.

T : oh jadi, setelah kejadian itu Debby engga mau sekolah dan diem kaya gini bu?

J : iya, mau nya didalem sana aja (menunjuk ke arah dapur). T : itu, kenapa emangnya bu?

J : dia biasa main disitu sama om dayat. T : oh, jadi maunya disitu aja bu?

109

T : oh begitu bu. Setelah kejadian itu kalau ada orang baru ibu kenal terus datang ke ibu, perasaan ibu seperti apa bu?

J : waktu rumah saya ancur itu dalemnyatuh, kan dia dari semalem tuh engga nyusu. Dia engga bisa tidur gelisah nangis terus. Pas aku mau ambil botol susu kan aku mesti pamit dulu sama polisi-polisi, rasanya pas saya ngeliat botol susu nya engga ada tuh menyakitkan banget. Soalnya hidup saya itu cuma botol susu sama susu itu buat dia. Jadi kebingungan sendiri, piring satupun engga ada yang utuh ancur semua.

T : oh gitu bu. Lalu kalau semuanya hancur semua ibu beli-beli barang lagi terus hidup dari mana bu?

J : ada sihdikasih polisi, cuman 2 juta tapi itu. Kasur penuh darah semua, engga ada yang tersisa ka.

T : oh. Bapak kerja apa bu kalau boleh tau?

J : dia mah sakit stroke dari lama. Itu tiduran aja didalem, engga bisa ngapa-ngapain.

T : kalau ibu sendiri profesinya apa?

J : saya ngobatin orang kemana-kemana, tapi engga bisa ngobatin jiwa dia ya seperti itu aja.

T : berarti sudah 6 bulan ini debby seperti itu ya bu?

J : iya. Aku pernah ke kantor polisi minta ganti rugi, karena kerugian aku kan sampe 16 juta dan biaya ke psikiater juga. Terus aku malah diomel-omelin sama polisi katanya aku sengaja nampung teroris jadi sama sekali engga diganti kerugian aku. Jadi aku beli barang-barang ya orang pada ngasih klien-klien aku yang pada baik sama aku aja yang ngasih perabotan buat aku. Segala baju-baju juga dikasih orang semua itu ka.

T : oh, gitu bu. Jadi ibu di bilang kalau ibu yang nampung teroris sama polisi? J : ya gitu, buktinya dia bilang gitu sama aku.

T : ibu sudah lama tinggal disini?

J : iya udah lama, dari belum hamil Debby udah disini sama-sama bu Zainab ya

hampir 5 tahun.

T : hallo Debby apa kabar? (menanyakan ke Debby yang sedang dipangku oleh

bu Yuni)

110 T : kenapa Debby seperti itu bu?

J : ya gitu, sejak kejadian itu dia kalo ditanya orang ya gitu engga mau bersuara

kadang diem aja ketakutan. Tapi sekalinya marah sampengeluarin kata-kata

“anjing semua, bangsat semua”, karena dia ngeliat kejadian waktu itu.

Barang-barang kesayangannya ancur semua, boneka nya, kasurnya semuanya engga nyisa.

T : oh begitu. Lalu gimana dengan pekerjaan ibu setelah kejadian tersebut? J : Alhamdulillah masih suka dipanggil buat ngurut, ngobatin orang. Ada klien

yang emang bae gitu sama aku, dia tetep mau di urut aku. Ya lumayan bisa buat beli susu Debby dan biaya hidup sehari-hari aja.

T : oh jadi, beberapa klien ibu masih mau diurut sama ibu. Terus yang lainnya gimana bu?

J : sebagiannya sih kaya engga enak mau manggil aku, takut dikira aku masih belum siap. Emang sih aku masih nervousbanget, tapi kan gimana kalo aku diem terus keluarga aku gimana. Tapi yang lainnya lagi bener-bener udah engga mau di urut sama aku. Soalnya mereka ngira aku juga terlibat disitu, kan mereka liat di internet. Makanya aku jadi kehilangan pelanggan aku, yang tadinya banyak ya jadi bisa diitung lah ka.

T : oh.. jadi ibu tetap berusaha untuk engga terpuruk terus yaa. Ibu bangkit dan kembali ke pekerjaan ibu yaa?

J : iya. Yaa kadang aku juga masih suka nangis gitu ka dijalan kalo pulang abis ngurut.

T : sampai sekarang ibu masih seperti ini?

J : iya, kalo saya inget polisi yang engga mau ganti rugi barang-barang saya. Apalagi ngeliat Debby yang kaya gini. Menyakitkan banget ka, udah gitu aku dibilang nampung teroris. Kayaknya tuh engga ada ati nya banget ka. Terus belum lama ini pas bulan mei istrinya teroris-teroris itu dateng ka kesini 5 orang.

T : oh dateng bu, ada apa bu mereka dateng ke ibu? Cuma 5 bu yang dateng? J : ya engga tau, katanya sih silaturahmi aja. iya cuma berlima udah gitu pada

pake cadar semua item-item.

T : semuanya istrinya teroris bu?

J : engga jelas sih aku, tapi katanya yang 3 bukan cuma yang 2 istrinya Pauzi sama Dayat.

111 T : mereka ngapain aja bu disini?

J : Dia minta maap ke aku atas perbuatan suaminya. Tapi aku bilang ya terus gimana ini suami kalian yang udah buat aku jadi gini? Terus mereka malah cerita ke aku, katanya anaknya kayak Debby juga.

T : jadi mereka berlima datang dengan maksud mau silaturahmi ke ibu dan minta maaf juga menceritakan ke ibu kalau anak mereka juga sama seperti Debby?

J : iya cuma gitu aja, itu juga dia cuma bawa biskuit 1 kaleng. Engga ada basa-basinya gitu harus gimana. Kan engga mungkin ka seorang istri engga tau apa yang dilakuin suaminya itu. Tapi ya aku sih coba ngertiin aja engga mau emosi itu juga bukan salah istri teroris sepenuhnya.

T : iya iya bu. pandangan ibu sendiri terhadap teroris yang tinggal di kontrakan bu zainab seperti apa bu?

J : aku sih kan kenalnya cuma sama om Dayat, yang lainnya aku engga kenal. Om Dayat baik banget sama aku, Debby, emak (bu Zainab). Apalagi motornya suka aku pinjem buat pergi ngurut, Debby juga suka dijajanin apaan aja sama dia. Ya itu Debby sampe kayak sekarang, yang masih anggep om

Dokumen terkait