Penilaian Usia Kehamilan Bayi yang Dilahirkan Secara Seksio Sesarea
Menggunakan Skor Ballard di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan
Periode Tahun 2013 sampai April 2014
SRI PURNAMAWATI
135102012
KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penilaian Usia Kehamilan Bayi yang Dilahirkan Secara Seksio Sesarea Menggunakan Skor Ballard di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan Periode Tahun 2013
sampai April 2014 ABSTRAK Sri Purnamawati
Latar belakang : Setelah persalinan, perkembangan neurologik bayi baru lahir berlangsung cepat sesuai usia kehamilan. Hal ini perlu diperhitungkan ketika melakukan pemeriksaan neurologik dan juga dipertimbangkan dalam berbagai komponen pemeriksaan neurologik yang digunakan didalam penilaian klinis skor Dubowitz. Penerapan klinis yang praktis dan dapat dipercaya digambarkan oleh Dubowitz pada tahun 1970 dan cepat diterima oleh dunia. Modifikasi metode Dubowitz yang diperpendek tetapi dengan akurasi yang hampir sama untuk memperkirakan usia kehamilan secara klinis oleh Ballard.
Tujuan penelitian : untuk mengetahui skor ballard bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dan usia kehamilan bayi saat lahir (preterm, aterm dan posterm).
Metodologi : penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 bayi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan. Hasil analisa data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.
Hasil : hasil penelitian diperoleh bayi berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan ada 55 bayi laki-laki (55%). Setelah dinilai usia kehamilan menggunakan skor ballard didapatkan 90 bayi (90%) memiliki usia kehamilan saat lahir 37-42 minggu dan 10 bayi (10%) lahir <37 minggu.
Kesimpulan : dari hasil penelitian ini bahwa skor ballard juga memiliki keakuratan dalam menilai usia kehamilan pada bayi baru lahir saat lahir. Diharapkan kepada bidan bisa menilai usia kehamilan pada bayi baru lahir dengan skor ballard dan mengklasifikasi kondisi bayi saat lahir dan memberi asuhan kepada bayi baru lahir dengan tepat sesuai kondisi bayi, sehingga mempermudah tindakan selanjutnya jika ditemukan komplikasi.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI)
yang berjudul “Penilaian usia kehamilan bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea
menggunakan skor ballard di Rumah Sakit Muhammadiyah periode tahun 2013 sampai April
2014”, yang merupakan salah satu prasyarat bagi penulis untuk menyelesaikan Program
Pendidikan D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan karena dukungan dan bantuan dari berbagai
pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Dedi Ardinata, M. Kes. Selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara.
2. Erniyati, SKp, MNs. Selaku dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah yang telah
memberi masukan dan nasehat pada penulis
3. Nur Asnah Sitohang, S.Kep., Ns., M.Kep. Selaku Ketua Program Studi DIV Bidan
Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah banyak
memberikan masukan dan nasehat pada penulis.
4. Kepala Rumah Sakit Muhammadiyah yang telah memberikan izin kepada penulis
untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya.
5. Seluruh dosen dan staf program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
6. Kedua orang tua ( Abdul Jalil dan Darmawati ) yang tidak hentinya memberikan
dukungan doa, semangat, dan materil kepada penulis.
7. Seluruh teman-teman D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas
Penulis menyadari bahwa KTI ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis
mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan
KTI ini. Semoga KTI ini akan bermanfaat bagi mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan seluruh pembaca
Medan, Juli 2014
DAFTAR ISI A. Defenisi Penilaian Usia Kehamilan ... 6
B. Metode Penilaian Usia Kehamilan ... 6
C. Faktor Yang Mempengaruhi Pemeriksaan Usia Kehamilan ... 7
D. Penatalaksanaan Asuhan Pada Bayi Baru Lahir ... 10
E. Penilaian Usia Kehamilan ... 11
F. Tujuan Penilaian ... 14
G. Teknik Pemeriksaan Untuk Menilai Usia Kehamilan... 14
H. Penilaian Usia Kehamilan Menggunakan Skor Ballard Berdasarkan Karakteristik Fisik ... 15
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Konsep ... 27
B. Defenisi Operasional... 28
BAB IV METODELOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 29
B. Populasi dan Sampel ... 29
C. Tempat Penelitian ... 30
D. Waktu Penelitian ... 31
E. Pertimbangan Etik Penelitian ... 31
F. Instrumen Penelitian ... 32
G. Prosedur Pengumpulan Data ... 32
H. Analisis Data... 33
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... 35
1. Hasil Univariat ... 35
B.Pembahasan... 37
1. Interpretasi dan diskusi hasil ... 37
2. Keterbatasan penelitian ... 41
3. Implikasi untuk Asuhan Kebidanan/ Pendidikan Bidan ... 42
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 43
B. Saran ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 45
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penilaian usia kehamilan menggunakan skor ballard ...….. 13
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi karakteristik bayi baru lahir yang dilahirkan secara seksio sesarea berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir, dan panjang badan di R.S Muhammadiyah Medan periode tahun 2013 – April 2014 ... 35
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi skor ballard bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dan kesesuaian usia kehamilan menurut skor ballard di Rumah Sakit Muhammadiyah periode tahun 2013 sampai bulan April 2014... 36 Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Usia Kehamilan Bayi Baru Lahir Secara Seksio Sesarea
Menggunakan Skor Ballard Berdasarkan Jenis Kelamin, Berat Badan Lahir dan
DAFTAR SKEMA
DAFTAR GRAFIK
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat izin pengambilan data penelitian dari Fakultas Keperawatan USU
Lampiran 2 : Surat balasan penelitian dari Rumah Sakit Muhammadiyah Medan
Lampiran 3 : Lembar penilaian usia kehamilan (skor ballard)
Lampiran 4 : Lembar prosedur pemeriksaan bayi baru lahir menggunakan skor ballard
Lampiran 5 : Lembar konsultasi karya tulis ilmiah
Lampiran 6 : Daftar riwayat hidup
Lampiran 7 : Master data penelitian
Penilaian Usia Kehamilan Bayi yang Dilahirkan Secara Seksio Sesarea Menggunakan Skor Ballard di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan Periode Tahun 2013
sampai April 2014 ABSTRAK Sri Purnamawati
Latar belakang : Setelah persalinan, perkembangan neurologik bayi baru lahir berlangsung cepat sesuai usia kehamilan. Hal ini perlu diperhitungkan ketika melakukan pemeriksaan neurologik dan juga dipertimbangkan dalam berbagai komponen pemeriksaan neurologik yang digunakan didalam penilaian klinis skor Dubowitz. Penerapan klinis yang praktis dan dapat dipercaya digambarkan oleh Dubowitz pada tahun 1970 dan cepat diterima oleh dunia. Modifikasi metode Dubowitz yang diperpendek tetapi dengan akurasi yang hampir sama untuk memperkirakan usia kehamilan secara klinis oleh Ballard.
Tujuan penelitian : untuk mengetahui skor ballard bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dan usia kehamilan bayi saat lahir (preterm, aterm dan posterm).
Metodologi : penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 bayi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan. Hasil analisa data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.
Hasil : hasil penelitian diperoleh bayi berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan ada 55 bayi laki-laki (55%). Setelah dinilai usia kehamilan menggunakan skor ballard didapatkan 90 bayi (90%) memiliki usia kehamilan saat lahir 37-42 minggu dan 10 bayi (10%) lahir <37 minggu.
Kesimpulan : dari hasil penelitian ini bahwa skor ballard juga memiliki keakuratan dalam menilai usia kehamilan pada bayi baru lahir saat lahir. Diharapkan kepada bidan bisa menilai usia kehamilan pada bayi baru lahir dengan skor ballard dan mengklasifikasi kondisi bayi saat lahir dan memberi asuhan kepada bayi baru lahir dengan tepat sesuai kondisi bayi, sehingga mempermudah tindakan selanjutnya jika ditemukan komplikasi.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Ladewig, London dan Olds (2006) untuk dapat beradaptasi dengan kehidupan
diluar rahim, akan terjadi perubahan-perubahan yang dramatis pada tubuh bayi baru lahir.
Selama perubahan ini, bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan kemampuan
beradaptasi selama masa kehidupan di luar rahim. Kebutuhan penatalaksanaan, dan
perawatan yang dapat meningkatkan kesempatan bayi baru lahir menjalani masa transisi
dengan berhasil penting menjadi perhatian.
Menurut Rudolph (2006) penatalaksaan bayi baru lahir memiliki tiga tujuan yaitu
mendeteksi masalah medis penting sedini mungkin sehingga dapat diobati secara tepat,
mempermudah adaptasi pada kehidupan ekstrauterus dan melindungi bayi baru lahir dari
proses berbahaya yang ia terutama rentan, seperti hipotermia atau infeksi. Salah satu tindakan
penatalaksanaan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah
mengidentifikasi usia kehamilan bayi baru lahir.
Kebutuhan perawatan bayi baru lahir berbeda menurut berat lahir dan usia
kehamilannya karena manifestasi klinis yang dihadapi berbeda. Menurut Klaus dan Fanaroff
(1998) kepentingan klinis klasifikasi bayi baru lahir menurut usia kehamilan dan berat lahir
berawal dari fakta bahwa baik bayi yang mengalami gagal tumbuh maupun bayi makrosom
yang usia kehamilan dan berat lahirnya berbeda, mempunyai masalah – masalah klinis yang
serupa yaitu, perkembangan fisik, hasil akhir perkembangan mental dan neurologis, insidensi
kelainan kongenital, dan beberapa parameter metabolik, terutama keseimbangan glukosa.
Menurut Paulette (2008) penting untuk memperkirakan usia kehamilan bayi baru lahir.
(HPHT), ultrasonografi janin dini, tanggal bunyi jantung janin pertama, tanggal gerakan janin
pertama (quickening), ukuran uterus, pemeriksaan maturitas fisik dan maturitas
neuromuskular bayi baru lahir, dan vaskularisasi lensa.
Ahmed (1986, dalam Klaus & Fanaroff, 1998) penentuan usia kehamilan dengan
teknik hari pertama haid terakhir (HPHT) biasanya tidak jelas karena kejadian – kejadian
tersebut tidak tercatat sama sekali bila pasien tidak menjalani perawatan antenatal. Hal yang
lain dapat terjadi dengan teknik HPHT bila kehamilan terjadi jarak yang dekat dengan
kehamilan sebelumnya sehingga wanita mungkin tidak ingat tanggal menstruasi terakhir dan
mungkin terjadi perdarahan setelah konsepsi sehingga wanita tersebut tidak tahu pasti kapan
menstruasi terakhir terjadi. Jimenez dan Ramos (1979, dalam Klaus dan Fanaroff, 1998)
mengatakan bahwa metode paling umum untuk menilai usia kehamilan yaitu dengan metode
ukuran McDonald. Ukuran ini menggunakan tinggi fundus uteri dalam sentimeter diatas
simfisis pubis. Setiap sentimeter sama dengan kehamilan 1 minggu. Akan tetapi teknik ini
memiliki keterbatasan dan masalah utamanya adalah teknik ini tidak akurat jika digunakan
pada retardasi pertumbuhan intrauteri atau kehamilan multipel.
Menurut Campel, Bewley dan Overbeek (1971, dalam Klaus & Fanaroff, 1998)
penentuan usia kehamilan antenatal yang lebih mutakhir adalah dengan menggunakan
serangkaian pemeriksaan ultrasonografi pada janin. Ukuran janin yang paling layak
digunakan untuk menilai usia kehamilan belum dapat ditentukan. Sebagai petunjuk
kehandalannya, jika diameter biparietal digunakan secara tunggal pada awal trimester kedua,
akurasinya dalam memperkirakan usia kehamilan ± 1 minggu. Namun demikian, jika hanya
satu nilai dapat ditentukan dan penentuannya pada akhir semester ketiga, akurasinya turun
menjadi ± 2 atau 3 minggu. Menurut Fleming (1975, dalam Klaus & Fanaroff, 1998)
ukuran panjang crownrump ( puncak kepala – tulang ekor ) janin. Walaupun demikian ukuran ini tidak biasa digunakan karena sulit ditentukan setelah usia kehamilan 12 minggu.
Setelah persalinan, perkembangan neurologik bayi baru lahir berlangsung cepat sesuai
usia kehamilan. Hal ini perlu diperhitungkan ketika melakukan pemeriksaan neurologik, dan
juga dipertimbangkan dalam berbagai komponen pemeriksaan neurologik yang juga
digunakan dalam penilaian klinis skor Dubowitz (Lissauer, 2009). Penerapan klinis yang
praktis dan dapat dipercaya digambarkan oleh Dubowitz et al pada tahun 1970 dan dengan cepat diterima oleh dunia. Selanjutnya modifikasi metode Dubowitz yang diperpendek tetapi
dengan akurasi yang hampir sama untuk memperkirakan usia kehamilan secara klinis oleh
Ballard et al (Klaus & Fanaroff,1998).
Menurut Klaus dan Fanaroff (1998) sistem ballard menghasilkan penilaian maturasi
postnatal yang valid bagi semua bayi dengan umur kehamilan diatas 20 minggu, sedangkan
bagi bayi imatur hasilnya paling akurat jika dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir.
Namun, di kamar bersalin seringkali tidak tersedia waktu yang cukup untuk menyelesaikan
pemeriksaan Dubowitz maupun Ballard. Walaupun penilaian ini tidak menyingkir kebutuhan
untuk melakukan penilaian usia kehamilan yang menyeluruh saat bayi sudah stabil, penilaian
ini akan mempermudah perawatan klinis segera setelah persalinan.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perlu untuk dilakukan penelitian penilaian usia
kehamilan bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea menggunakan skor ballard di Rumah
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi perumusan masalah adalah “
Bagaimana penilaian usia kehamilan bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea
menggunakan skor ballard di Rumah Sakit Muhammadiyah”
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui karakteristik bayi baru lahir yang dilahirkan secara seksio sesarea
berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir dan panjang badan di Rumah Sakit
Muhammadiyah.
2. Mengetahui skor ballard bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dan usia
kehamilan bayi saat lahir (preterm, aterm dan posterm) di Rumah Sakit
Muhammadiyah.
3. Mengetahui usia kehamilan bayi saat lahir yang dilahirkan secara seksio sesarea
berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir dan panjang badan bayi di Rumah Sakit
Muhammadiyah.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Dapat mengaplikasikan di lapangan praktik atau kerja dalam melakukan penilaian
usia kehamilan bayi baru lahir menggunakan skor ballard dan dapat melakukan
tindakan segera jika terdapat komplikasi.
2. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai penilaian usia kehamilan bayi yang
3. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan untuk menambah bahan
pustaka serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa serta
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Penilaian Usia Kehamilan
Menurut Muslihatun (2011) usia kehamilan (usia gestasi) adalah masa sejak terjadinya
konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung dari hari pertama haid terakhir (mesntrual age of pregnancy). Kehamilan cukup bulan (term/ aterm adalah usia kehamilan 37 – 42 minggu (259 – 294 hari) lengkap. Kehamilan kurang bulan (preterm) adalah masa gestasi
kurang dari 37 minggu (259 hari). Dan kehamilan lewat waktu (postterm) adalah masa gestasi lebih dari 42 minggu (294 hari).
Menurut Mahrens, penilaian adalah suatu pertimbangan professional atau proses yang
memungkinkan seseorang untuk membuat suatu pertimbangan mengenai nilai sesuatu (Ellya,
Juliane & Nurzannah, 2010).
Berdasarkan pengertian diatas maka penilaian usia kehamilan adalah suatu proses yang
dilakukan seseorang dalam menentukan usia kehamilan berdasarkan suatu pertimbangan
yang dilakukan.
2.2 Metode Penilaian Usia Kehamilan
Ada berbagai metode dalam penilaian usia kehamilan menurut (gestational age, GA) (Gomella, 1999; Wolcott & Conry, 2000) dalam Paulette (2008) yaitu :
1. Tanggal menstruasi terakhir : perkiraan tanggal konsepsi (estimated date of
conception , EDC) = tanggal menstruasi terakhir ( TMT) – 3 bulan + 7( hukum
2. Ultrasonografi janin dini : pengukuran puncak kepala – bokong yang dilakukan
antara usia gestasional 6 minggu 11 minggu akurat dalam 3 hari saja.
3. Tanggal bunyi jantung janin pertama : terdengar antara gestasi 10 dan 12 minggu
dengan instrumen Doppler serta antara gestasi 18 dan 20 minggu dengan fetoskop.
4. Tanggal gerakan janin pertama : quickening (gerakan flutter abdomen yang dirasakan
oleh ibu) normalnya terjadi antara gestasi 16 dan 20 minggu.
5. Ukuran uterus : jarak (dalam sentimeter) antara simfisis pubis dan fundus uteri adalah
sekitar GA (dalam minggu) bila diukur sebelum pertengahan trimester ketiga.
6. Pemeriksaan maturitas fisik dan maturitas neuromuskular bayi baru lahir.
7. Vaskularisasi lensa.
2.3 Faktor yang mempengaruhi ukuran bayi waktu lahir : 1. Genetik
Menurut Soetjiningsih (1998) dalam Supariasa, Bakri dan Fajar (2002)
mengungkapkan bahwa faktor genetik merupakan modal dasar mencapai hasil proses
pertumbuhan. Melalui genetik yang berada didalam sel telur yang telah dibuahi, dapat
ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Hal ini ditandai dengan intensitas dan
kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur
pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.
Faktor (genetik) antara lain termasuk berbagai faktor bawaan yang normal dan
patologis, jenis kelamin, obstetrik dan ras atau suku bangsa. Apabila potensi genetik
ini dapat berinteraksi dalam lingkungan yang baik dan optimal maka akan
2. Faktor usia ibu
Menurut Wheeler (2004) bahwa kehamilan, persalinan, dan kelahiran paling aman,
pada kebanyakan aspek, bila ibu melahirkan bayi pada usia antara 20 dan 34 tahun.
Ibu remaja, baik yang berusia lebih muda (13 sampai 17 tahun) maupun lebih tua
(18 atau 19), memiliki peluang tinggi untuk melahirkan bayi prematur atau
mengalami mengalami retardasi pertumbuhan. Masalah yang dihadapi wanita hamil
berusia lebih tua (35 tahun atau lebih) biasanya merupakan akibat kelainan kromosom
atau komplikasi medis akibat penyakit kronis yang lebih sering terjadi pada wanita
yang beranjak tua.
3. Gizi ibu hamil pada saat hamil
Menurut Soetjiningsih (1998, dalam Supariasa, 2002) mengatakan bahwa status gizi
ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Apabila status
gizi ibu buruk, baik sebelum kehamilan dan selama kehamilan akan menyebabkan
berat badan lahir rendah (BBLR). Disamping itu, akan mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah
terinfeksi, abortus dan sebagainya. Kondisi anak yang lahir dari ibu yang kekurangan
gizi dan hidup dalam lingkungan yang miskin akan menghasilkan generasi
kekurangan gizi dan hidup dalam lingkungan yang miskin akan menghasilkan
generasi kekurangan gizi dan mudah terkena penyakit infeksi. Keadaan ini biasanya
ditandai dengan berat dan tinggi badan yang kurang optimal.
4. Toksin/ zat kimia
bawaan. Bagi ibu hamil yang kecanduan alkohol dan dan perokok berat, dapat
melahirkan bayi dengan BBLR, lahir mati, cacat atau retardasi mental.
5. Faktor sosial ekonomi
Menurut Supariasa et al (2002) faktor sosial ekonomi antara lain : pendidikan, pekerjaan, teknologi, budaya dan pendapatan keluarga. Faktor ini akan berinteraksi
satu dengan yang lainnya sehingga dapat mempengaruhi masukan zat gizi dan infeksi
pada anak. Pada akhirnya ketersediaan zat gizi pada tingkat seluler rendah yang
mengakibatkan pertumbuhan terganggu.
6. Faktor penyakit Organik a. Hipertensi
Menurut Wheeler (2004) bahwa wanita yang mengalami hipertensi kronis berisiko
mengalami pre – eklampsia, persalinan prematur, dan melahirkan bayi yang
mengalami retardasi pertumbuhan.
b. Diabetes Melitus – Tergantung Insulin ( IDDM).
Wanita IDDM (Insulin – Dependent Diabetes Mellitus) dapat mengalami
hipertensi berat, pre eklampsi, ketoasidosis, dan bahkan kebutaan serta gagal
ginjal. Cairan amnion berlebih dapat terjadi. Janin beresiko tinggi mengalami
kelainan kongenital dan mungkin memiliki ukuran besar (makrosomia)
(Wheeler, 2004).
7. Stres
Menurut Supariasa, Bakri dan Fajar (2002) bahwa sebaiknya ibu hamil menghindari
terjadinya stres. Ketenangan kejiwaan yang didukung oleh lingkungan keluarga, akan
menghasilkan janin yang baik. Apabila ibu hamil mengalami stres, akan
mempengaruhi tumbuh kembang janin yaitu berupa cacat bawaan dan kelainan
8. Anoreksia embrio
Menurunkan oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, dapat
menyebabkan berat badan lahir rendah (Supariasa, 2002).
9. Infeksi
Menurut Supariasa, et al (2002) bahwa cacat bawaan bisa juga disebabkan oleh infeksi intrauterin, dan jenis infeksi lain menyebabkan penyakit pada janin adalah
varisela, malaria, HIV, virus hepatitis dan virus influenza.
10.Lingkungan
Menurut Supariasa, et al (2002) bahwa lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan adalah cuaca, keadaan geografis, sanitasi lingkungan, keadaan rumah
dan radiasi. Cuaca dan keadaan geografis berkaitan erat dengan pertanian dan
kandungan unsur mineral dalam tanah. Daerah kekeringan atau musim kemarau yang
panjang menyebabkan kegagalan panen. Kegagalan panen ini menyebabkan
persediaan pangan ditingkat rumah tangga menurun yang berakibat pada asupan gizi
keluarga rendah.
11.Pelayanan kesehatan / fasilitas kesehatan
Tidak adanya fasilitas yang memadai untuk pemeriksaan.
2.4 Penatalaksanaan asuhan pada bayi baru lahir diantaranya adalah sebagai berikut : a. Perawatan segera bayi baru lahir setelah proses kelahiran dan observasi lanjutan
selama 24 jam.
b. Pemeriksaan fisik dan neurologis pada bayi baru lahir segera setelah lahir dan
pengkajian kondisi bayi dengan tujuan untuk mendeteksi beberapa abnormalitas atau
trauma, untuk menentukan bagaimana mengelola/ menangani bayi dan dengan tujuan
c. Pengkajian usia gestasi/ usia kehamilan bayi baru lahir, yang dapat membantu untuk
menentukan bagaimana bayi seharusnya dirawat ( Maryunani & Nurhayati, 2008)
2.5 Penilaian Usia Kehamilan
Menurut Wong, et al (2009) bahwa penilaian usia kehamilan merupakan kriteria penting karena morbiditas dan mortalitas perinatal sangat berhubungan dengan usia
gestasional dan berat badan lahir. Pengkajian temuan fisik dan pengkajian neurologis
untuk menentukan usia gestasi pertama kali dilakukan berdasarkan metode yang
dikemukakan oleh Dubowitz,dkk pada tahun 1970. Tetapi metode yang sering digunakan
untuk menentukan usia gestasional adalah Pengkajian Usia Gestasional yang
disederhanakan oleh Ballard, Novack, dan Driver (1979). Skor ini yang merupakan
ringkasan dari skor Dubowitz, dapat digunakan untuk mengukur usia gestasional bayi
antara 35 minggu dan 42 minggu. Skor ini mengkaji enam tanda fisik eksternal dan enam
tanda neuromuskular. Setiap tanda memiliki skor, dan penjumlahan skornya berkorelasi
dengan tingkat maturitas dari 26 sampai 44 minggu gestasi.
Skor Ballard “ baru “, yang merupakan revisi skor asli, dapat digunakan pada bayi
usia gestasi 20 minggu. Alat ini memiliki bagian fisik dan neuromuskular yang sama,
namun menambahkan skor -1 dan -2 yang mencerminkan tanda bayi sangat prematur,
seperti kelopak mata yang masih menyatu; jaringan payudara yang belum teraba; kulit
yang lengket, mudah robek, transparan; tidak ada lanugo; sudut siku-jendela( fleksi
pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. Pemeriksaan bayi dengan usia gestasional 26
minggu atau kurang harus dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir. Pada bayi dengan
usia gestasional minimal 26 minggu, pemeriksaan dapat dilakukan sampai 96 jam setelah
lahir. Agar dijamin keakuratannya, pemeriksaan awal sebaiknya dilakukan dalam 48 jam
imatur menuntut pemeriksaan tindak lanjut untuk menentukan kriteria neuromuskular
yang valid.
Berat badan sehubungan dengan usia gestasional. Berat badan bayi saat lahir juga
berkorelasi dengan insidensi morbiditas dan mortalitas perinatal. Akan tetapi, berat badan
lahir saja merupakan indikator yang buruk untuk usia gestasional dan maturitas janin.
Maturitas menunjukkan kapasitas fungsional tingkat kemampuan sistem organ neonatus
untuk beradaptasi dengan kebutuhan hidup ekstrauterin. Dengan demikian, usia
gestasional lebih berhubungan erat dengan maturitas janin dibandingkan berat badan
lahir. Karena herediter mempengaruhi ukuran bayi baru lahir, maka pencatatan ukuran
anggota keluarga lainnya merupakan bagian proses pengkajian.
Pengklasifikasian bayi saat lahir baik berdasarkan berat badan lahir maupun usia
gestasional lebih merupakan metode yang tepat untuk meramalkan risiko mortalitas dan
menjadi panduan penanganan bayi dibandingkan hanya memperkirakan usia gestasional
atau berat badan lahir saja. Berat badan lahir, panjang, dan lingkar kepala bayi diplotkan
ke grafik standar yang menunjukkan nilai normal usia gestasional. Bayi yang beratnya
cukup untuk usia gestasional (appropriate for gestational age [AGA]) (antara persentil
ke-10 sampai 90) dapat dianggap mengalami pertumbuhan dengan kecepatan normal
tanpa memerhatikan saat kelahiran- preterm,term, atau post-term. Bayi yang besar untuk
usia gestasional (large for gestational age [LGA]) (di atas persentil ke-90) dapat
dianggap mengalami laju pertumbuhan dengan kecepatan tinggi selama kehidupan janin;
bayi kecil untuk usia gestasional (small for gestational age [SGA]) (dibawah persentil
ke-10) dapat dianggap mengalami retardasi atau kelambatan pertumbuhan intrauterin.
2.6 Tujuan Penilaian :
Untuk mengindentifikasi usia gestasi bayi baru lahir menggunakan skor ballard, apakah
sesuai masa kehamilan, besar masa kehamilan atau kecil masa kehamilan.
2.7 Teknik pemeriksaan untuk menilai usia kehamilan :
1. Perkiraan obstetrik (USG , HPHT dan Tinggi Fundus Uteri).
a. Perkiraan obstetrik menggunakan USG :
Menurut Hadlock, Harrist dan Poyer (1992) dalam Prawirohardjo (2009) penentuan
usia kehamilan pada trimester II paling akurat dilakukan sebelum kehamilan 20
minggu, misalnya melalui pengukuran kepala dan tulang panjang, dengan tingkat
kesalahan ± 1 minggu. Setelah kahamilan 20 minggu variasi pertumbuhan janin
semakin melebar, sehingga pengukuran biometri untuk menentukan usia kehamilan
menjadi tidak akurat lagi.
b. Perkiraan obstetrik menggunakan HPHT :
Menurut Klaus & Fanaroff (1998) bahwa cara ini selalu digunakan dalam menentukan
usia kehamilan. Akan tetapi, untuk menentukan hari menstruasi terakhir biasanya
tidak jelas dan sulit di perkirakan jikalau pasien sama sekali tidak menjalani
perawatan antenatal. Hari pertama haid terakhir yang tidak jelas dapat terjadi bila
kehamilan tersebut terjadi jarak yang dekat dengan kehamilan sebelumnya.
c. Perkiraan obstetri menggunakan teknik Mc. Donald ( Tinggi Fundus Uteri).
Menurut Klaus & Fanaroff (1998) bahwa metode ini paling umum digunakan dalam
kebidanan yaitu untuk menilai usia kehamilan antenatal dengan metode ukuran
adalah teknik ini tidak akurat jika digunakan pada retardasi pertumbuhan intrauteri
atau kehamilan multipel.
2. Instrumen yang digunakan untuk menilai usia kehamilan bayi (perkembangan fisis
dan neuromuskular). Dengan menggunakan Skor Ballard yang merupakan
penyederhanaan dari skor Dubowitz. Penilaian menggunakan skor ballard ini
menghasilkan penilaian maturasi postnatal yang valid bagi semua bayi dengan usia
kehamilan di atas 20 minggu, sedangkan bagi bayi imatur hasilnya paling akurat jika
dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir.
3. Tidak boleh dilakukan secara terburu – buru.
4. Dilakukan secara sistematis ( saat bayi stabil dan keadaan tenang).
5. Pemeriksaan paling akurat untuk maturitas fisik adalah pada saat segera setelah lahir.
6. Untuk maturitas neurologis, bila proses kelahiran sulit dapat diulangi setelah 24 jam.
7. Bila penilaian neurologis tidak dilakukan, dapat digunakan perkiraan usia kehamilan
berdasar skor ganda penilaian fisik.
2.8 Penilaian usia kehamilan menggunakan skor ballard berdasarkan karakteristik fisik.
1. Kulit
Menurut Ladewig, Patricia, London, dan Old (2006) bahwa pada neonatus
preterm tanpak tipis dan transparan, dengan vena menonjol diabdomen pada awal
masa kehamilan. Saat masa kelahiran semakin dekat, kulit tampak buram karena
peningkatan jaringan subkutan. Hilangnya pelindung verniks kaseosa meningkatkan
Menurut Rudolph (2006) bahwa pada usia cukup bulan, sudah terdapat
jaringan subkutan yang relatif tebal, kuku tangan dan kaki sudah terbentuk sempurna
dan tumbuh sedikit lebih panjang dari ujung jari. Jika keluar ke cairan amnion in
utero,mekoneum dapat melapisi dan menjadi tanda gawat janin pada bayi matur. Janin
dengan usia gestasi kurang dari 34 minggu jarang mengeluarkan mekonium bila
mengalami asfiksia. Mekonium yang telah berada didalam cairan amnion selama
beberapa jam akan mewarnai kulit, kuku jari tangan dan kaki, serta tali pusat dengan
warna kehijau – hijauan, ini merupakan tanda gawat janin yang lebih dini atau yang
telah berlangsung lebih lama. Bayi postmatur (lebih dari 42 minggu) biasanya
memiliki penampilan yang siaga dan lemah, dengan kulit kering, terkelupas, jaringan
subkutan lebih sedikit dibanding normal, dan kuku jari tangan yang panjang mungkin
terdapat pewarnaan mekonium pada kulit, tali pusat, dan kuku.
Abnormalitas kulit yang umum, terlihat seperti lapisan plastik tipis yang retak
disebut kulit kolodion. Bayi yang seperti ini sering kali mengalami iktiosis
dikemudian hari. Lepuh atau kulit yang mudah mengalami erosi dapat merupakan
epidermolisis bulosa, tetapi harus dibedakan dari lesi lepuh akibat infeksi
stafilokokus.
Aplasia kutis adalah kondisi kongenital berupa tidak adanya kulit, yang
biasanya terjadi meliputi suatu daerah yang kecil dan terlokalisasi. Dan sklerema
neonatorum adalah pengerasan jaringan subkutan difus yang ditemukan pada bayi
baru lahir berat. Kulit menjadi keras dan dingin dan dapat mengencang di sekitar
2. Lanugo
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa lanugo adalah rambut halus pada tubuh bayi, terutama di punggung, dahi dan pipi. Lanugo lebih terlihat pada bayi prematur
dan jumlahnya berkurang seiring peningkatan gestasi. Biasanya tidak terlihat lagi
pada bayi lebih bulan. Dan rambut lanugo pada bayi cukup bulan terdapat di
punggung bagian atas dan bagian dorsal ekstremitas.
3. Telapak kaki ( lipatan kaki )
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa perlu dikaji pada 12 jam kelahiran karena setelah itu kulit kaki akan segera mengering, dan lipatan permukaan
menghilang. Perkembangan lipatan kaki dimulai pada ujung telapak kaki, dan terus
menuju ke bawah sampai tumit.
4. Payudara
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa areola diinspeksi, dan pucuk jaringan mammae dapat dipalpasi dengan lembut untuk menentukan ukuran. Penting sekali
untuk meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada jaringan ini, dan digulirkan di atas
putting untu menentukan ukuran, daripada dengan mencubit jaringan. Metode
pengukuran lainnya termasuk meletakkan penggaris, tepat diatas putting mammae
untuk pengukuran yang lebih akurat. Kebanyakan pemeriksa yang berpengalaman,
seringkali telah merasa cukup melakukan pengkajian hanya dengan memperkirakan
5. Telinga dan kartilago
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa bentuk telinga dan kartilago berubah sejalan dengan masa gestasi, pada minggu ke -36 beberapa kartilago dan pinna atas
yang tidak tertutup, dan pinna yang dapat membuka kembali secara perlahan ketika
dilipat. Untuk mengkaji, pantau bentuk telinga, lalu lipat ujung telinga kearah depan,
berlawanan arah sisi kepala, lepaskan dan pantau hasilnya.
6. Genitalia
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa genital berubah penampakannya selama masa gestasi, karena sejumlah lemak subkutan tampak. Genital wanita pada masa
minggu ke-30 hingga ke-32 mempunyai klitoris yang menonjol, dan labia mayora
bentuknya kecil, serta letak antara ke dua sisinya terpisah jauh. Pada usia minggu
ke-36 hingga ke-40, labia hampir menutupi klitoris, dan juga pada masa lebih dari
minggu ke-40, labia mayora secara utuh menutupi klitoris. Lakukan pengkajian
dengan cara pemantauan. Sedangkan genital pria dievaluasi untuk menilai kantong
skrotum dan ada atau tidaknya rugae. Kantong skrotum dapat diraba secara lembut
untuk menentukan penurunan testis.
2.9 Penilaian usia kehamilan menggunakan skor ballard berdasarkan karakteristik neuromuskular :
1. Sikap tubuh ( postur )
Biasanya dikaji saat bayi berbaring, sehingga bayi tidak terganggu, dengan
melakukan pengkajian tetap diatas permukaan kasur bayi (Ladewig, 2006). Menurut
a. Lengan dan kaki ekstensi : 0
b. Fleksi ringan atau sedang pinggul dan lutut : 1
c. Fleksi penuh pinggul dan lutut : 2
d. Kaki fleksi dan abduksi, lengan fleksi ringan : 3
e. Fleksi penuh lengan dan kaki : 4
2. Square window ( pergelangan tangan )
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa square window dapat diketahui dengan cara memfleksikan tangan bayi ke lengan bawah bagian ventral. Sudut yang dibuat oleh
pergelangan tangan diukur, (dengan cara taksiran dan mencocokannya dengan nilai sudut
yang ada pada alat penilaian. Caranya adalah:
a. Letakkan bayi terlentang
b. Pegang tangan bayi dan tempelkan lengan melewati leher ke bahu yang berlawanan
sejauh mungkin.
c. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu harus tetap
menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus.
d. Amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja.
3. Rekoil tangan
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa rekoil tangan adalah uji perkembangan fleksi. Uji ini paling baik dikaji setelah satu jam pertama kehidupan, ketika bayi telah
b. Pegang kedua tangan bayi, kemudian fleksikan lengan bagian bawah sejauh
mungkin dalam 5 detik , lalu kemudian lepaskan. Pada saat melepaskan, siku bayi
cukup bulan akan membentuk sudut kurang dari 900, dan secara cepat terjadi rekoil
hingga posisinya kembali ke posisi fleksi. Lengan bayi preterm mempunyai waktu
rekoil lebih lambat dan membentuk sudut lebih dari 900.
c. Pengkajian rekoil lengan sebaiknya dilakukan bilateral, sehingga dapat
mengklarifikasi adanya kelumpuhan brakialis.
Nilai reaksinya sebagai berikut :
a) Tetap dalam keadaan ekstensi atau gerakan random : 0
b) Fleksi tidak penuh atau sebagian : 1
c) Segera kembali ekstensi penuh : 2
4. Sudut popliteal
Ditentukan dengan cara membaringkan bayi dalam posisi telentang. Fleksikan paha
sampai ke arah abdomen atau daerah dada pada bayi baru lahir, dan letakkan jari telunjuk
anda yang lain di belakang pergelangan kaki bayi untuk melebarkan tungkai bawah,
hingga didapati resistensi. Kemudian ukur sudut yang terbetuk. Hasilnya sangat
beragam, dari tidak terdapatnya resistensi pada bayi yang sangat matur, hingga didapati
sudut sebesar 800 pada bayi term. Dan sudut kurang dari 900 memiliki skor 5 (Ladewig,
5.Tanda scarf
Diperoleh dengan cara :
a. Letakkan bayi terlentang.
b. Pegang tangan bayi dan tempelkan lengan melewati leher ke bahu yang berlawanan
sejauh mungkin.
c. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu harus tetap
menempel dipermukaan meja dan kepala tetap lurus.
d. Amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja.
Menurut Klaus dan Fanaroff (1998) nilai sesuai dengan lokasi siku :
a) Siku mencapai line axillaris anterior yang berlawanan : 0
b) Siku diantara line axillaris anterior yang berlawanan dan garis tengah toraks : 1
c) Siku berada pada garis tengah toraks : 2
d) Siku tidak mencapai garis tengah toraks : 3
6.Tumit ke kuping
Diperoleh dengan cara ;
a. Dilakukan dengan cara meletakkan bayi pada posisi terlentang.
b. Secara lembut tarik kaki menuju ke telinga, tetap pada sisi yang sama, hingga didapati
resistensi, baik derajat ekstensi lutut dan kedekatan kaki ketelinga perlu dikaji.
c. Bila usia gestasi yang sangat kurang, memperlihatkan peningkatan resistensi pada
pengkajian ini harus ditunda hingga tungkai posisinya kembali lebih normal (Wong,
2009)
Menurut Ladewig, et al (2006) bahwa setelah melakukan penilaian terhadap karakteristik fisik dan neuromuskular, maka akan didapatkan penilaian berdasarkan skor
ballard, yaitu seluruh penilaian individu dijumlahkan dan jumlah total dibandingkan pada laju
kematangan bayi baru lahir dan klasifikasi. Perkiraan usia kehamilan ini kemudian ditandai
pada alat ukur yang telah disediakan dan mengklasifikasi bayi baru lahir menurut berat bayi
dan usia gestasi. Jika nilai yang dijumlahkan -10 maka usia kehamilan 20 minggu, nilai 5
sama dengan 22 minggu, nilai 0 sama dengan 24 minggu, nilai 5 sama dengan 26 minggu,
nilai 10 sama dengan 28 minggu, nilai 15 sama dengan 30 minggu, nilai 20 sama dengan 32
minggu, nilai 25 sama dengan 34 minggu, nilai 30 sama dengan 36 minggu, nilai 35 sama
dengan 38 minggu, nilai 40 sama dengan 40 minggu, nilai 45 sama dengan 42 minggu dan
nilai 50 sama dengan 44 minggu. Kebanyakan bayi baru lahir sesuai untuk usia kehamilan
(AGA). Bayi yang lebih untuk usia kehamilan ( LGA) atau kurang untuk usia kehamilan
(SGA) memerlukan pengkajian dan intervensi tambahan.
Menurut Maryunani dan Nurhayati (2008) bahwa dengan cara ini,pemeriksa dapat
menentukan apakah bayi berada dalam standar rata – rata untuk usia kehamilannya atau tidak.
Kemudian pemeriksa (bidan, perawat dan dokter) dapat menilai apakah bayi kecil, sesuai,
atau besar untuk usia kehamilan. Untuk sesuai usia kehamilan berada antara 10 dan 90
persentil, kecil untuk usia kehamilan dibawah 10 persentil dan besar untuk usia kehamilan
diatas 90 persentil.
Dibawah ini merupakan klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan berat badan lahir dan
kehamilan dan kecil usia kehamilan. Sumber :Battaglia, F.C., & Lubchencho, L.O. (1967). A practical classification of newborn infants by weight and gestational age. Journal of Pediatrics).
Dibawah ini merupakan karakteristik bayi yang kecil, sesuai dan besar untuk usia
kehamilan menurut Ladewig, et al (2006) sebagai berikut :
1. Bayi kecil untuk usia kehamilan :
A. Karakteristik Fisik
a) Kepala tampak melebar dibandingkan dengan proporsi terhadap dada dan
perut.
b) Keriput, kulit kering.
c) Lemak subkutan tampak jarang, dengan penampakkan kurus dan lemah.
e) Fontanel anterior dapat tertekan.
f) Dapat menangis kuat dan tampak waspada.
g) Berat badan lahir di bawah 10 persentil.
B. Masalah klinis yang dapat terjadi pada bayi dengan kecil masa kehamilan:
a) Asfiksia perinatal.
Hipoksia kronik dalam uterus menyebabkan tersedianya sedikit energi untuk
dapat memenuhi kebutuhan pada saat persalinan dan kelahiran. Sehingga,
asfiksia intrauterine dapat terjadi, dengan masalah sistemik yang mungkin
terjadi.
b) Sindrom aspirasi
Ditandai dengan nafas tersengal – sengal, sekunder akibat hipoksia di uterus
yang dapat menyebabkan aspirasi cairan amnion ke dalam jalan nafas bagian
bawah, atau dapat menyebabkan relaksasi spingter anal disertai dengan
keluaran mekonium. Peristiwa ini menyebabkan aspirasi mekonium saat
pertama kali bayi bernafas.
c) Kehilangan panas
Penurunan kemampuan untuk penyimpanan panas, sebagai hasil berkurangnya
d) Hipoglikemia
Laju metabolik tinggi ( sekunder akibat kehilangan panas), cadangan glikogen
hati sedikit, dan glukoneogenesis yang dihambat, sehingga kadar glukosa
dalam darah menjadi rendah.
e) Hipokalsemia
Deplesi kalsium sekunder akibat asfiksia kelahiran.
f) Polisitemia
Respon fisiologik terhadap stres hipoksik kronik di dalam uterus.
2. Besar untuk usia kehamilan, khususnya bayi dari ibu penderita diabetes.
A. Karakteristik Fisik :
a) Tampak gemuk dan membesar
b) Jika bayi yang berasal dari ibu penderita diabetes, bentuk wajah dn gambaran
lehernya seperti cushingnoid (wajah bulat).
c) Seluruh berwarna merah – terang.
d) Memiliki pembesaran di hati, limfa, dan jantung.
e) Pada awalnya letargi kemudian menjadi peka rangsang dan gerakan tersentak –
sentak.
B. Masalah klinis yang dapat terjadi pada bayi dengan besar masa kehamilan :
Setelah kelahiran, masalah yang paling banyak muncul pada ibu penderita
diabetes adalah hipoglikemia. Meskipun suplai darah ibu yang sebelumnya
banyak menghilang, bayi baru lahir tetap melanjutkan untuk memproduksi kadar
insulin tinggi, yang dapat mengurangi jumlah glukosa darah dalam beberapa jam
setelah kelahiran. Ibu yang menderita diabetes juga memiliki kemampuan yang
sedikit, untuk melepaskan glukagon dan katekolamin, yang secara normal
menstimulasi pemecahan glukagon dan pelepasan glukosa.
b) Hiperbilirubinemia
Kondisi ini dapat dilihat pada 48 – 72 jam setelah kelahiran. Keadaan ini
mungkin disebabkan oleh sedikit penurunan volume cairan ekstraseluler, yang
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Konseptual
Menurut Sekaren (2006) Kerangka konsep merupakan model konseptual yang
berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan
secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat,2011).
Sehingga dapat membantu peneliti dalam menghubungkan hasil penemuan dengan teori
yang hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau variabel. Adapun kerangka
konsep dalam penelitian ini adalah :
Skema 3.1 Kerangka Konsep Penilaian usia kehamilan bayi
yang dilahirkan secara seksio sesarea menggunakan skor ballard
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan desain
deskriptif. Tujuannya adalah mengetahui karakteristik bayi baru lahir yang dilahirkan secara
seksio sesarea berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir dan panjang badan, Mengetahui
skor ballard bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dan usia kehamilan bayi saat lahir
(preterm, aterm dan posterm), dan mengetahui usia kehamilan bayi saat lahir yang dilahirkan
secara seksio sesarea berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir dan panjang badan bayi di
Rumah Sakit Muhammadiyah.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang dilahirkan secara
seksio sesarea yang dilakukan penilaian usia kehamilan menggunakan skor ballard
di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan yang terhitung mulai periode tahun 2013
sampai April 2014 yang tercatat di rekam medis sebanyak 500 bayi.
2. Sampel
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan purposive sampling, dengan memilih responden berdasarkan kriteria – kriteria yang telah ditentukan yakni :
1. Bayi yang tidak memiliki kelainan kongenital
Maka, jumlah sampel dalam penelitian ini berdasarkan kriteria diatas adalah 100
bayi.
C. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah yang terletak
di Jalan Mandala by Pass no 27, Kecamatan Medan Denai, Kabupaten Deli Serdang,
dengan pertimbangan belum pernah dilakukan penelitian sejenis dan juga Rumah
Sakit Muhammadiyah merupakan salah satu rumah sakit yang telah melaksanakan
program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) yaitu suatu program
yang dilaksanakan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi baru lahir, yang
salah satunya telah menerapkan sistem penilaian usia kehamilan bayi baru lahir
dengan menggunakan skor ballard.
D. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari bulan Maret – April tahun 2014, dengan
pengambilan data dari rekam medis di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan. Data
tersebut merupakan data dari tahun 2013 sampai April 2014.
E. Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan dari Direktur
RS. Muhammadiyah Medan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal yang
1. Informed consent
Memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan dan prosedur
pelaksanaan penelitian dan dipersilahkan untuk menandatangani informed consent.
Kerahasiaan catatan mengenai data responden dijaga dengan cara tidak menuliskan
nama responden pada penelitian. Data – data yang diperoleh juga hanya digunakan
untuk kepentingan penelitian.
2. Anominity ( tanpa nama)
Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan jaminan
dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau
mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya mencantumkan
nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar
pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah – masalah lainnya.
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti
F. Instrumen Penelitian
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen penelitian lembar
observasi (skor ballard) yang di isi oleh peneliti sesuai pemeriksaan yang dilakukan
pada bayi baru lahir. Lembar observasi (skor ballard) merupakan suatu alat baku
yang telah digunakan untuk melakukan penilaian maturitas fisik dan maturitas
G. Prosedur Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data dari rekam
medis terhitung mulai tahun 2013 sampai bulan April 2014. Adapun cara
pengambilan data yaitu :
1. Peneliti mengajukan izin penelitian dengan Kepala Program Studi D- IV Bidan
Pendidik Universitas Sumatera Utara
2. Setelah itu mengajukan izin penelitian dengan Direktur Rumah Sakit
Muhammadiyah Medan.
3. Setelah mendapat izin penelitian, peneliti melihat dan mencatat catatan rekam
medik pasien untuk mendapatkan data yang diperlukan.
4. Sampel yang memenuhi kriteria dipilih dan dilakukan pencatatan data dengan
mengisi lembar observasi sesuai data yang dibutuhkan berdasarkan data rekam
medik.
H. Analisis Data
Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul, kemudian peneliti
melakukan analisa data melalui beberapa tahap, pertama editing untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Kemudian data yang akan
diukur diberi coding untuk memudahkan peneliti dalam melakukan analisa data. Selanjutnya tabulating untuk mempermudah analisa data yang dimasukkan kedalam
Analisa data dalam penelitian ini adalah univariat dan bersifat deskriptif yang
mana untuk mendeskripsikan suatu data dengan tujuan agar mudah dimengerti dan
lebih mempunyai makna dan dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi
persentasenya. Kemudian hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi.
Interpretasi :
Lembar observasi (skor ballard) ini mengkaji 12 item pemeriksaan yaitu terdiri
dari 6 tanda kematangan fisik dan 6 tanda kematangan neuromuskular,masing –
masing dapat dinilai atau diberi skor berdasarkan tingkat kematangannya karena
setiap tanda memiliki skor yakni skor -1 sampai 5. Dan penjumlahan skornya
berkorelasi dengan tingkat maturitas fisik dan neuromuskular pada bayi baru
lahir.Maka setelah dilakukan pengkajian fisik dan neuromuskular pada bayi baru lahir
dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Usia kehamilan < 37 minggu : Kecil masa kehamilan.
2. Usia kehamilan 37 - 42 minggu : Sesuai masa kehamilan.
3. Usia kehamilan >42 minggu : Besar masa kehamilan.
Untuk mencari persentase frekuensi tiap kategori dapat menggunakan rumus menurut Juliane
,Rismalinda, & Nurzannah ( 2010) :
Keterangan :
P : Persentase
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Data yang telah dikumpulkan dari rekam medik Rumah Sakit Muhammadiyah Medan
meliputi 100 bayi. Berikut ini dijabarkan mengenai hasil penelitian tersebut :
1. Hasil analisis univariat.
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi karakteristik bayi baru lahir yang dilahirkan secara seksio sesarea berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir, dan panjang badan di R.S
Muhammadiyah Medan periode tahun 2013 – April 2014 (n=100).
Berdasarkan tabel 5.1, menunjukkan bahwa mayoritas bayi berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 55 bayi (55%), berat badan lahir 2500 - ≤4000 sebanyak 88 bayi (88%), dan mayoritas panjang badan bayi 40-45 cm sebanyak 86 bayi (86%).
Tabel 5.2
Distribusi frekuensi skor ballard bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dan usia kehamilan di Rumah Sakit Muhammadiyah periode periode tahun 2013 sampai April
2014 (n=100).
Berdasarkan tabel 5.2. bahwa berdasarkan skor ballard dengan kesesuaian usia kehamilan
mayoritas skor 35 (80%) dan 40(10%) yang sesuai masa kehamilan.
Tabel 5.3
Distribusi frekuensi usia kehamilan bayi baru lahir secara seksio sesarea menggunakan skor ballard berdasarkan jenis kelamin, berat badan lahir dan panjang badan bayi di
R.S Muhammadiyah periode tahun 2013-April 2014 (n=100)
Karakteristik Usia Kehamilan
1 <37 minggu (preterm)
20 1 1
3 >42 minggu (posterm)
50 0 0
A.Pembahasan
1. Interpretasi dan diskusi hasil
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik bayi baru lahir kelahiran seksio sesarea di
Rumah Sakit Muhammadiyah periode tahun 2013 sampai April 2014 yang berjenis kelamin
bayi laki-laki lebih banyak daripada bayi perempuan yakni 55 bayi laki-laki (55%). Dan
setelah dilakukan penilaian usia kehamilan pada bayi baru lahir dengan menggunakan skor
ballard, didapatkan bahwa baik bayi laki-laki maupun bayi perempuan tidak ada perbedaan
dalam menilai usia kehamilan karena mayoritas usia kehamilannya 37-42 minggu. Akan
tetapi, ada juga bayi usia kehamilannya <37 minggu atau preterm yaitu ada 10 bayi (10%).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi prematur adalah bayi yang
lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang (Prawirohardjo, 2009). Berdasarkan
penelitian ini didapatkan bayi lahir < 37 minggu sebanyak 10 bayi (10%). Menurut
Prawirohardjo (2009) angka kejadian persalinan preterm pada umumnya adalah sekitar
6-10%. Angka kejadian tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian ini yakni ada 10%
bayi lahir dengan persalinan preterm. Selanjutnya, hanya 1,5 % persalinan terjadi pada umur
kehamilan kurang dari 32 minggu dan 0,5% pada kehamilan kurang dari 28 minggu.
Penelitian lain oleh Prawirohardjo (2009) menunjukkan bahwa umur kehamilan dan berat
bayi lahir saling berkaitan dengan risiko kematian perinatal.
Pada kehamilan umur 32 minggu dengan berat bayi >1500 gram keberhasilan hidup
sekitar 85%, sedang pada umur kehamilan < 32 minggu dengan berat lahir <1500 gram angka
keberhasilan untuk hidup hanya 59%. Hal ini menunjukkan bahwa persalinan preterm tidak
Berdasarkan berat badan lahir, mayoritas bayi baru lahir dengan berat badan lahir 1000
– 2499 gram dan preterm yakni ada 8 bayi (73%). Hal ini menunjukkan bahwa bayi dengan
usia kehamilan preterm cenderung akan mengalami BBLR. Salah satu akibat persalinan
preterm adalah terjadinya BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). BBLR masih menjadi masalah
di Indonesia, karena merupakan penyebab utama kematian pada masa neonatal. Hasil studi 7
daerah multicenter di beberapa daerah di Indonesia diperoleh angka BBLR dengan rentang
2,1% - 17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut survey Dinas Kesehatan Indonesia
(SDKI), angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan
pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni 7%.
Berdasarkan panjang badan, mayoritas panjang badan bayi baru lahir yang usia
kehamilan aterm (46-51 cm) yakni ada 82 bayi (95%), akan tetapi ada juga bayi panjang
badan 40-45 cm dengan usia kehamilan preterm yakni 6 bayi (43%) yang persentasenya
hampir mendekati 50%. Hal ini menujukkan bahwa bayi yang memiliki panjang badan 40-45
cm maka bisa diperkirakan bayi akan cenderung mengalami berat badan lahir rendah.
Erman, Retayasa, dan Soetjiningsih (2006, dalam Mujawar, Somasetia & Effendi, hal.
401) mengatakan bahwa penentuan usia gestasi secara klinis pada neonatus sangat penting.
Hal ini diperlukan untuk menentukan diagnosis dan penatalaksanaan yang optimal pada bayi
baru lahir. Usia kehamilan dan berat badan lahir sangat berkaitan erat dengan kematian bayi
(AKB), terutama kematian neonatus.
Berdasarkan hasil yang telah didapatkan dalam menilai usia kehamilan menggunakan
skor ballard, dari 100 bayi terdapat 10 bayi (10%) yang termasuk dalam kecil masa
kehamilan. Menurut Sistiarani (2008), bayi kecil untuk masa kehamilan sering disebut juga
1. Proportionate IUGR, janin lahir dengan berat, panjang, dan lingkaran kepala dalam
proporsi seimbang, akan tetapi keseluruhannya masih dibawah masa gestasi yang
sebenarnya.
2. Dispropotionate IUGR, janin lahir dengan panjang dan lingkaran kepala normal akan
tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi.
Berdasarkan hasil penelitian, maka terdapat 2 bayi yang termasuk proportionate IUGR
dan 3 bayi yang termasuk dispropotionate IUGR. Hal ini terjadi karena beberapa faktor
menurut Prawirohardjo (2009) yaitu faktor pada ibu, faktor janin dan plasenta, ataupun faktor
lain seperti sosioekonomi.
Menurut Prawirohardjo (2005, dalam Puspitasari & Sulastri) ibu hamil dengan
preeklampsia merupakan salah satu faktor yang memiliki risiko terjadinya pertumbuhan janin
yang lambat, BBLR, dismaturitas dan prematuritas janin dan bahkan terjadi Intra Uterine Fetal Death (IUFD). Ibu yang menderita preeklampsia akan mengalami disfungsi vaskuler plasenta, yang dapat menyebabkan aliran darah ke plasenta terganggu, sehingga kebutuhan
janin akan nutrisi dan oksigen tidak terpenuhi secara optimal. Keadaan tersebut
mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat dan kelahiran bayi dengan BBLR. Berdasarkan
hasil penelitian Andammori, Lipoeto dan Yusrawati (2013) bahwa terdapat hubungan
signifikan antara tekanan darah ibu hamil aterm dengan berat badan lahir yaitu semakin
tinggi tekanan darah ibu hamil, semakin rendah berat badan lahir.
Selain faktor ibu, faktor plasenta juga memiliki peran penting dalam menentukan berat
badan lahir bayi karena merupakan tempat pertukaran zat gizi dari ibu untuk janin.
Berdasarkan hasil penelitian Mukhlisan, Liputo, dan Ernawati (2013) bahwa terdapat
karena makanan dan oksigen di distribusikan dari ibu ke janin melalui plasenta. Plasenta akan
bertambah luas dan berat seiring pertambahan masa kehamilan akibat bertambahnya jumlah
vilus. Sedangkan vilus ini merupakan bagian yang penting dalam pertukaran makanan dan
oksigen serta zat-zat sisa janin. Jika vilus makin luas, maka daerah pertukaran akan semakin
luas untuk menunjang kehidupan janin.
Namun berbeda halnya hasil penelitian oleh Sistiarani (2008) mengatakan bahwa hal
yang paling dominan beresiko terhadap BBLR adalah umur kurang dari 20 tahun dan umur
lebih dari 34 tahun dan jarak kehamilan kurang dari 2 tahun. Hal ini dikarenakan, bahwa
umur yang terlalu muda atau kurang dari 20 tahun disebabkan belum matangnya organ
reproduksi untuk hamil (endometrium belum sempurna), sedangkan umur yang lebih dari 34
tahun endometrium yang kurang subur serta memperbesar kemungkinan untuk menderita
kongenital, sehingga dapat berakibat terhadap kesehatan ibu maupun perkembangan dan
pertumbuhan janin dan beresiko untuk mengalami kelahiran prematur. Angka kejadian
prematuritas tertinggi ialah pada usia kurang dari 20 tahun. Kejadian terendah terjadi pada
usia antara 26 – 35 tahun. Dan jarak kehamilan juga merupakan faktor resiko medis ibu
sebelum hamil yang mempengaruhi BBLR. Semakin kecil jarak antara dua kelahiran semakin
besar resiko melahirkan BBLR.
Selain faktor di atas, faktor resiko lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat
sosioekonomi, karena ekonomi keluarga dapat menunjukkan gambaran kemampuan keluarga
dalam memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil yang berperan dalam pertumbuhan janin. Keadaan
sosial ekonomi sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat
pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan keadaan gizi yang kurang baik.
Kejadian ini merupakan langkah penting dalam pencegahan persalinan preterm adalah
2.Keterbatasan penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah usia kehamilan yang di nilai menggunakan
skor ballard tidak langsung dilakukan oleh peneliti tetapi hanya mengambil data melalui
rekam medis rumah sakit karena peneliti belum memiliki keterampilan dalam menilai usia
kehamilan menggunakan skor ballard pada bayi baru lahir. Dan penelitian ini tidak
mengkorelasikan dengan cara lain untuk menilai
usia kehamilan seperti dengan menggunakan hari pertama haid terakhir (HPHT),
Ultrasonografi dan tinggi fundus uteri.
3. Implikasi untuk asuhan kebidanan
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pelayanan kesehatan dalam
melakukan penilaian usia kehamilan pada bayi baru lahir menggunakan skor ballard
khususnya bidan, karena bidan memiliki peranan penting dalam upaya skreening deteksi dini
melalui pemeriksaan fisik dan neuromuskular. Namun, dalam melakukan tindakan ini
dibutuhkan keterampilan khusus agar tidak terjadi penyimpangan terhadap penilaian yang
dilakukan. Sehingga dengan mudah dapat mendeteksi sedini mungkin kemungkinan
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang usia kehamilan bayi yang dilahirkan
secara seksio sesarea yang dinilai menggunakan skala ballard di Rumah Sakit
Muhammadiyah Medan dengan jumlah sampel sebanyak 100 bayi, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Mayoritas jenis kelamin bayi baru lahir kelahiran seksio sesarea di Rumah Sakit
Muhammadiyah berdasarkan jumlah sampel yang berjenis kelamin bayi laki-laki lebih
banyak daripada bayi perempuan yakni 55 bayi laki-laki (55%) dan bayi perempuan
(45%), mayoritas berat badan lahir 2500- ≤4000 sebanyak 88 bayi (88%) dan panjang badan 46-51 cm sebanyak 86 bayi (86%).
2. Hasil penilaian usia kehamilan pada bayi baru lahir dengan menggunakan skor ballard,
didapatkan bahwa terdapat 55 bayi laki-laki (93%) dan 39 bayi perempuan (87%)
memiliki usia kehamilan saat lahir yaitu 37- 42 minggu.
3. Berdasarkan jenis kelamin mayoritas yang memiliki usia kehamilan 37-42 minggu saat
lahir yaitu bayi laki-laki 51 (93%) dan bayi perempuan 39 (87%), berdasarkan berat
B.Saran
1.Pelayanan Kebidanan
Dengan mengacu kepada hasil penelitian ini, maka diharapkan kepada bidan agar
memiliki keterampilan dalam menilai usia kehamilan pada bayi baru lahir dengan
menggunakan skor ballard dan juga bisa mengklasifikasi kondisi bayi saat lahir dan
bisa memberi asuhan kepada bayi baru lahir dengan tepat sesuai kondisi bayi, sehingga
akan mempermudah tindakan selanjutnya jika ditemukan komplikasi.
2.Bagi Peneliti Selanjutnya
Meninjau kepada hasil penelitian yang didapatkan, sebaiknya untuk peneliti selanjutnya
bisa melakukan terlebih dahulu training atau pelatihan dalam menilai usia kehamilan
bayi baru lahir dengan menggunakan skor ballard agar nantinya tidak terdapat bias
dalam pelaksanaan penilaian tersebut. Dan juga bisa mengkorelasikan dengan cara lain
dalam memperkirakan usia kehamilan, misalnya : hari pertama haid terakhir (HPHT),
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2002).Prosedur Penelitian. Jakarta:Rineka Cipta
Cunningham., Leveno., Bloom., Hauth., Rouse., & Spong. (2013). Obstetri Williams (Edisi 23). Jakarta : EGC.
Ernawati, Liputo & Mukhlisan. (2013). Hubungan Berat Plasenta Dengan Berat Badan Lahir Rendah Bayi di Kota Pariaman. Jurnal Kesehatan Andalas, 2(2), 70-71.
Ellya, E., Juliane.,Rismalinda., & Nurzannah, S. ( 2010). Buku Saku Metodologi Penelitian. Jakarta : TIM.
Haws, Paulette S. ( 2008). Asuhan Neonatus. Jakarta : EGC.
Hidayat, Aziz A.A. ( 2009). Asuhan Neonatus, Bayi, & Balita. Jakarta : EGC.
Hidayat, Aziz A.A. ( 2011 ). Metode Penelitian Kebidanan & Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
Klaus & Fanaroff. ( 1998). Penatalaksanaan Neonatus Resiko Tinggi. Jakarta : EGC.
Ladewig, Patricia W., London, Marcial L., & Olds, Sally B. (2006). Asuhan Keperawatan Ibu – Bayi Baru Lahir. Jakarta : EGC.
Lissauer, T.MB. ( 2008). At a Glance Neonatologi. Jakarta : Erlangga.
Maryunani & Nurhayati (2008). Asuhan Bayi Baru Lahir Normal. Jakarta. TIM.
Medforth, J., Battersby, S., Evans, M., Marsh, B.,& Walker, A. (2013). Kebidanan Oxford. Jakarta : ECG.
Merenstein, Gerald B. (2002). Buku Pegangan Pediatri, ( Edisi 17). Jakarta : Widya Medika. Muslihatun, W.N. ( 2011). Asuhan Neonatus Bayi dan Balita.Yogyakarta: Fitramaya.
Prawirohardjo, Sarwono. (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Puspitasari & Sulastri. Hubungan Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum DR. Soediran Wonogiri. Jurnal Kesehatan Surakarta, 182-183.
Rudolph, Abraham M. (2006). Buku Ajar Pediatri Rudolph. Jakarta : EGC.
Sastroasmoro, S., & Ismael, S. ( 2001). Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Klinis ( Edisi 4). Jakarta : Sagung Seto.
Supariasa, Dewa N., Bakri, B., & Fajar, I.( 2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC. Wheeler, L., (2004). Perawatan Pranatal & Pascapartum. Jakarta : EGC.
Lampiran 4
Prosedur pemeriksaan bayi baru lahir menggunakan skala ballard :
1. Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksaan dan minta persetujuan tindakan.
2. Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan sosial, faktor ibu, faktor perinatal, intranatal dan neonatal.
3. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril untuk menghindari torkantaminasi pada bayi baru lahir.
4. Tempatkan bayi pada tempat yang datar dan pada cahaya yang baik.
5. Pastikan bayi dalam keadaan hangat.
6. Buka bagian yang akan diperiksa. Jika bayi telanjang, pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar dan segera selimuti kembali dengan cepat untuk menghindari terjadinya hipotermi.
7. Periksa bayi secara sistematis.
Lakukan pemeriksaan kematangan neuromuskular pada bayi baru lahir dengan cara:
a. Sikap tubuh ( postur )
Biasanya dikaji pada saat bayi berbaring diam, kemudian lakukan penilaian derajat fleksi berikut:
a) Lengan dan kaki ekstensi : 0
b) Fleksi ringan atau sedang pinggul dan lutut : 1
c) Fleksi penuh pinggul dan lutut : 2
d) Kaki fleksi dan abduksi, lengan fleksi ringan : 3
e) Fleksi penuh lengan dan kaki : 4
cara taksiran dan mencocokannya dengan nilai sudut yang ada pada alat penilaian. Jika > 900 skor -1, 900 skor 0, 600 skor 1, 450 skor 2, 300 skor 3 dan 00 skor 4. Caranya adalah :
a) Letakkan bayi terlentang
b) Pegang tangan bayi dan tempelkan lengan melewati leher ke bahu yang berlawanan sejauh mungkin.
c) Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus.
d) Amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja.
c. Rekoil tangan adalah uji perkembangan fleksi. Uji ini paling baik dikaji setelah satu jam pertama kehidupan, ketika bayi telah mempunyai waktu penyesuaian dengan situasi stres kelahiran. Caranya :
a) Evaluasi bayi saat telentang.
b) Pegang kedua tangan bayi, kemudian fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik , lalu kemudian lepaskan. Pada saat melepaskan, siku bayi cukup bulan akan membentuk sudut kurang dari 900, dan secara cepat terjadi rekoil hingga posisinya kembali ke posisi fleksi. Lengan bayi preterm mempunyai waktu rekoil lebih lambat dan membentuk sudut lebih dari 900.
c) Pengkajian rekoil lengan sebaiknya dilakukan bilateral, sehingga dapat mengklarifikasi adanya kelumpuhan brakialis.
Nilai reaksinya sebagai berikut :
d) Tetap dalam keadaan ekstensi atau gerakan random : 0
e) Fleksi tidak penuh atau sebagian : 1
d. Tanda scarf ditentukan dengan cara :
a) Membaringkan bayi dalam posisi telentang.
b) Fleksikan paha sampai ke arah abdomen atau daerah dada pada bayi baru lahir, dan letakkan jari telunjuk anda yang lain di belakang pergelangan kaki bayi untuk melebarkan tungkai bawah, hingga didapati resistensi.
c) Kemudian ukur sudut yang terbetuk. Hasilnya sangat beragam, dari tidak terdapatnya resistensi pada bayi yang sangat matur, hingga didapati sudut sebesar 800 pada bayi term. Dan sudut kurang dari 900 memiliki skor 5.
nilai sesuai dengan lokasi siku :
e) Siku mencapai line axillaris anterior yang berlawanan : 0
f) Siku diantara line axillaris anterior yang berlawanan dan garis tengah toraks :
1
g) Siku berada pada garis tengah toraks : 2
h) Siku tidak mencapai garis tengah toraks : 3
e. Tumit ke kuping
Diperoleh dengan cara :
d. Dilakukan dengan cara meletakkan bayi pada posisi terlentang.
e. Secara lembut tarik kaki menuju ke telinga, tetap pada sisi yang sama, hingga didapati resistensi, baik derajat ekstensi lutut dan kedekatan kaki ketelinga perlu dikaji.