BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan di masyarakat adalah bertutur kata atau berbicara. Kegiatan bertutur kata atau berbicara mempunyai kedudukan dan fungsi yang penting dalam aktivitas manusia berbangsa, bermasyarakat, dan berperadaban,1 serta menyebar luaskan Islam.
Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Sebagai rahmat seluruh alam, Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, apabila ajaran Islam yang mencakup segenap aspek kehidupan itu dijadikan sebagai pedoman hidup serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh umat manusia. Usaha untuk menyebar luaskan Islam dan realisasi ajarannya adalah dakwah. Sebagaimana Firman Allah SWT.
"#
$
%
&'(
)
*, $
-.
/
%
0123$
4
5
6'(78%9
:;
<
#=5
>* ?7%9
6
: '@
6
A
9
)
#=5 %
>* ?7%9
BC
- D7,
$
E@F
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaranyang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125).2
1
Wahidin Saputra, Buku ajar Retorika Dakwah Lisan [Teknik Khithabah], (Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 2006), h.1.
2
Bila dilihat dari kehidupan psikologi masing-masing golongan masyarakat yang berbeda, maka sistem dan pendekatan yang digunakan dalam penyampaian dakwah dan penerangan berbeda pula antara satu dengan yang lainnya. Sistem pendekatan dan penerangan yang didasari dengan prinsip-prinsip psikologi yang berbeda, merupakan suatu keharusan dan bilamana kita menghendaki efektivitas dan efesiensi, dalam program kegiatan dakwah dan Penerangan agama dikalangan masyarakat.
Banyak sekali cara penyampaian dakwah yang digunakan para da’i untuk mengajak umat manusia, khususnya muslimin dan muslimat menuju jalan ridho Allah SWT. Salah satu yang khas dalam dakwah adalah ceramah di atas mimbar dan panggung-panggung, yang mana para orang awam memahami dakwah hanya sebatas ini. Padahal masih banyak cara dakwah yang dapat dilakukan, yang diantaranya melalui perbuatan, atau tingkah laku akhlak yang baik dengan pendekatan psikologis dan masih banyak berbagai macam cara lainnya, karena sebagai umat Islam muslim dan muslimat diwajibkan untuk berdakwah.
Dalam pelaksanaan dakwah peran da’i sangat menentukan dalam hasil dakwah tersebut, maka dari itu diperlukan teknik yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat sebagai penerima pesan dakwah Islam. Kegagalan pesan dakwah sering kali terjadi disebabkan oleh ketidak mengertian, dan kurang telitinya para da’i dalam memilih strategi untuk menyampaikan pesan-pesan dakwahnya.
itu, bila seseorang mau menjadi ahli pidato, maka perlu memperhatikan dan memahami tahap penyusunan pidato.3
Dalam dunia komunikasi cara berbicara (seni berbicara) disebut retorika yaitu ilmu yang mengajarkan cara berbicara yang baik, dengan menggunakan berbagai macam disiplin ilmu pendukung. Sering kali retorika disamakan dengan public speaking, yaitu suatu bentuk komunikasi lisan yang disampaikan kepada kelompok
orang banyak tetapi sebenarnya retorika itu tidak hanya sekedar berbicara di hadapan umum, melainkan ia merupakan sebuah gabungan antara seni bicara dan pengetahuan atau suatu masalah tertentu untuk meyakinkan pihak orang banyak melalui pendekatan persuasif. Dikatakan seni karena retorika menuntut keterampilan dalam penguasaan atas bahasa dan dikatakan pengetahuan disebabkan adanya materi atau masalah tertentu yang harus disampaikan kepada pihak orang lain.4
Dakwah akan diterima dengan baik apabila para da’i mengetahui secara tepat kepada siapa dakwah itu di tujukan, dikarenakan setiap manusia itu tidak sama, baik dari segi usia, tingkat kecerdasan, status sosialnya dalam masyarakat dan dalam hal lainnya. Yang kesemuanya itu menuntut agar penyeru dakwah arif dan bijaksana akan siapa dan bagaimana ia harus menghadapinya.5
Sebagai juru dakwah, pembawa risalah agama Islam bagi seluruh manusia. Jika kehidupan para Rasul merupakan standard (uswatun hasanah) bagi ummatnya untuk meniru Nabinya, disamping mengetahui cara-cara mereka berdakwah. Juga karena semangat dakwah sangat menentukan dalam sejarah Islam.
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa adalah seorang muballigh yang semangat dalam mensyiarkan agama Islam, cukup dikenal dan terbilang sukses dalam menyampaikan dakwahnya dapat mempengaruhi pendengarnya. Setiap beliau berdakwah selalu
3
Wahidin Saputra, Buku ajar Retorika Dakwah Lisan [Teknik Khithabah], hal. 1.
4
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), cet, ke-2 hal. 136
5
berusaha supaya jama’ahnya atau mad’unya mudah menangkap atas segala apa yang beliau sampaikan maksud dan tujuannya. Dengan sistem penyampaian yang bagus, beliau mampu merekrut begitu banyak mad’u atau jama’ah dari berbagai macam kalangan dan status sosial masyarakat. Terbukti setiap jadwal pengajian yang diadakannya banyak para jama’ah yang datang dari berbagai pelosok wilayah. Menuju majelis Ta’lim Darul Hikmah yang beliau pimpin, yang terletak di Jalan Srengseng, Kembangan Jakarta Barat.
Berdasarkan pemaparan di atas, retorika begitu sangat penting bagi para da’i dan da’iah dalam proses pelaksanaan penyampaian dakwahnya agar apa yang menjadi tujuan dakwahnya dapat tercapai.
Maka dari itu penulis mengangkat judul skripsi ini dengan judul “Retorika Dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Untuk lebih memfokuskan penulisan sripsi ini, maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini dibatasi pada Retorika Dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa ketika beliau menyampaikan ceramah di Majelis Ta’lim Daarul Hikmah Srengseng, Jakarta Barat.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan permbatasan masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Apa Konsep Retorika Menurut KH. Ahmad Syafi’i Mustawa? b. Bagaimana Penerapan Retorika Oleh KH. Ahmad Syafi’i Mustawa
C. Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran suatu Pandangan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa Tentang Retorika dalam Berdakwah dan Bagaimana Penerapan Retorika dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, sehingga dapat mampu dalam mengemban misi agama Islam.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademis
Memberikan kontrubusi bagi pengembangan penelitian melalui pendekatan Ilmu Komunikasi. Sebagai alat Bantu utama pada Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan akan menjadi sebuah panduan tambahan bagi para juru dakwah untuk dapat menyampaikan dakwanya dengan cara yang efektif dan se-efesien mungkin. Dalam menyingkapi perkembangan dakwah di Indonesia, khususnya berkenaan dengan retorika dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam dakwahnya terhadap perkembangan dakwah Islami di Indonesia ini.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Riset Lapangan (field reseach), yaitu mencari dan mengumpulkan informasi tentang masalah-masalah
yang dibahas dari lapangan (tempat melakukan penelitian tersebut). 2. Metode Penelitian
Untuk mendapatkan hasil yang obyektif dan representatif dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan pendekatan kualitatif Yang bersifat Deskriftif Analisis. Dimana ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara sistematis, factual dan akurat megenai factor-faktor, sifat, serta hubungan fenomena yang diteliti.
Adapun secara deskriftif adalah bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.
3. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi
Observasi adalah pengambilan data yang didapatkan melalui pengamatan, pencatatan dengan sistematik dan fenomena-fenomena yang diselidiki langsung kepada objeknnya. Dalam hal ini penulis mengamati selama tiga bulan setiap malam sabtu tentang Penerapan RetorikaDakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa ketika beliau menyampaikan ceramah di Majelis Ta’lim Daarul Hikmah, Srengseng, Jakarta Barat.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan tanya jawab, dengan menggunakan alat panduan wawancara.6 wawancara yang penulis lakukan dalam hal ini secara langsung
6
dengan bapak. KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dan Ketua Majelis yang berada di lokasi majelis ta’lim tersebut selama lima kali pertemuan, guna mendapatkan informasi tentang konsep retorika KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam ceramahnya.
c. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen- dokumen. Pengumpulan data ini diperoleh dari dokumen- dokumen yang berupa catatan-catatan formal, adapun studi dokumentasi berproses dan berawal dari penghimpunan dokumen sesuai dengan tujuan penelitian, menerangkan dan mencatatat serta menafsirkannya dan menghubung- hubungkannya sesuai dengan fenomena yang lain.7
F. Tinjauan Pustaka
Untuk menentukan judul skripsi ini, penulis melakukan tinjauan pustaka (Library reserch) di Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (PFDK) dan di Perpustakaan Umum (PU) dan buku-buku yang berkaitan dengan judul untuk menambah kelengkapan dalam skripsi ini.
Skripsi ini memang banyak kemiripan judul dengan skripsi yang ada sebelumnya, yang telah ditulis oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), yang sama-sama meneliti tentang Retorika Dakwah, seperti:
1. “Penerapan Retorika Dakwah Ustadz Yusuf Mansur” Oleh Sulnah Safitri. Nim: 103051028556. Tahun 2007.
7
2. “Retorika Dakwah Ustadzah Hj. Dedeh Rosyidah (Mamah Dedeh)” Oleh Wanti Sumanti. Nim: 103051028603. Tahun 2007.
Dalam penelitian sebelumnya, seluruhnya mengatakan bahwa didalam penerapan retorika dakwah pesan yang disampaikan mengandung tiga kategori pesan dakwah, yaitu mengandung kategori pesan dakwah Aqidah, Syari’ah dan Akhlak. Walaupun mengandung tiga kategori pesan dakwah tersebut, tetapi cara penyampaian dari para muballigh dalam retorika gaya bicara ceramah mereka itu berbeda-beda.
Namun dari sekian banyak skripsi yang ada di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), peneliti belum menemukan skripsi mahasiswa yang meneliti retorika dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa. Perbedaannya Ustadz Yusuf Mansur dan Ustadzah Hj. Dedeh Rosyidah (Mamah Dedeh) adalah seorang muballigh yang berada di televisi yang mendapatkan pendidikan tentang retorika, sehingga wajar banyak para jama’ah yang menghadirinya dikarenakan pengetahuan dan ketenaranya.
Syafi’i Mustawa sebagai seorang muballigh sehingga banyak para jama’ah yang berdantangan menghadiri, karena senang dengan gaya bahasa retorika penyampaian ceramah beliau.
Untuk lebih beragamnya imformasi, penulis mencantumkan juga perjuangan beliau KH. Ahmad Syafi’i Mustawa. Untuk mendalami tentang dakwah ataupun sejarah beliau dalam menekuni dakwah melalui dari semenjak beliau masih berada di pesantren As-Saqafah Al-Habib Umar As-Segaf beliau sudah mulai berdakwah sampai sekarang di majelis ta’lim Daarul Hikmah, majelis beliau sendiri banyak berdatangan jama’ah dari berbagai macam golongan, ini dapat dikatakan sebuah kesuksesan yang diantaranya dalam retorika.
Dalam hal ini alat yang digunakan dalam retorika sangat bagus untuk itu sebagai pustaka primer atau sumber utama penulis ingin mengetahui langsung kepada beliau yaitu dengan cara mewawancarai kepada beliau KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dan sumber informasi lainnya tentang beliau. Ini merupakan langkah awal penulis prioritaskan dalam penelitian ini.
Menarik perhatian bagi penulis untuk mengangkatnya menjadi suatu karya ilmiah, selain itu penulis menganggap semua ini sesuai dengan latar belakang objek yang diteliti maupun peneliti yakni sebagai peminat dakwah. Itulah yang kemudian menginspirasikan penulis dan menarik perhatian untuk mengangkat penelitian dengan judul “Retorika Dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa”, sesuai latar belakang penulis sebagai mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Untuk mempermudah pembahasan Penelitian ini, peneliian laporan hasil hasil penelitian dibagi kedalam lima bab, yang terdiri dari sub-sub. Adapun sistematika penulisannya sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitaian, Tinjauan Pustaka dan sistematika penulisan. BAB II Landasan Teori, tentang Retorika dan Ruang Lingkupnya, Definisi
Retorika, Tujuan Retorika, Fungsi Retorika, Dakwah dan Ruang Lingkupnya, Pengertian Dakwah, Ruang Lingkup Dakwah, Da’i, Materi Dakwah, Metode Dakwah, Media Dakwah, Objek Dakwah dan Tujuan Dakwah.
BAB III Gambaran umum tentang Profil KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, Riwayat Hidup KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, Pendidikan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dan Sejarah Berdirinya Majelis Ta’lim Daarul Hikmah.
BAB IV Gambaran umum tentang Konsep KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dan Penerapan Retorika Oleh KH. Ahmad Syafi’i Mustawa Dalam Berdakwah.
BAB II
LANDASAN TEORI TENTANG RETORIKA DAN DAKWAH
A. Ruang Lingkup Retorika 1. Pengertian Retorika
Retorika dalam artian sempit, yaitu “rede kunst” (seni berpidato) atau kemahiran berbicara dan retorika dalam artian luas, yaitu seni menggunakan bahasa dengan cara mana untuk menghasilkan kesan yang diinginkan terhadap pendengar dan pembaca.8
Ditinjau dari segi bahasa, perkataan retorika berasal dari bahasa yunani, yaitu “Rhetor” yang mengandung arti seorang juru pidato yang mempunyai sinonim Orator”,9 dalam bahasa inggris “Rhetoric” bersumber dari perkataan “Rhetorica yang berarti ilmu bicara”10 dan dalam bahasa arab disebut “Fannul Khithaabah”.11
Retorika adalah bagian dari ilmu bahasa (Linguistik), khususnya ilmu bina bicara (Sprecherziehung). Retorika sebagai bagian dari ilmu bina bicara ini mencakup:
a. Dialogika
8
T. A Lathief Rousydy, Dasar-dasar Retorica Komunikasi dan Informasi, (Medan: PT. Firma Rimbow, 1989), h. 37.
9
MH. Isror, Retorika dan Dakwah Islam Era Modern, (Jakarta: CV. Firdaus, 1993), h. 10
10
Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), h. 53.
11
Dialogika adalah ilmu tentang senia berbicara secara dialog, dimana dua orang atau lebih berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogoka yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat.
b. Pembinaan teknik bicara
Efektivitas monologika dan dialogika tergantung juga pada teknik bicara. Teknik bicara merupakan syarat bagi retorika. Oleh karena itu pembinaan teknik bicara merupakan bagian yang penting dalam retorika. Dalam bagian ini perhatian lebih diarahkan pada pembinaan teknik bernafas, teknik mengucap, bina suara, teknik membaca dan bercerita.12
Adapun menurut istilah ada beberapa pendapat yaitu:
1. Gusti Ngurah Oka, mengatakan bahwa retorika adalah ilmu yang menganjurkan tindakan dan usaha efektif dalam persuasi penataan dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian dan kerja sama serta kedamaian dalam kehidupan masyarakat.13
2. Syekh Datuk Tombak Alam, mengatakan bahwa retorika adalah seni mempergunakan bahasa untuk menghasilkan kesan yang diinginkan terhadap pendengar dan pembaca.14
3. Wahidin Saputra, mengatakan bahwa retorika adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana bertutur kata dihadapan orang lain dengan sistematis, logis, untuk memberikan pemahaman dan meyakinkan orang lain.15
12
P. Rudi Wuwur Hendrikus, Retorika, (Jakarta: CV. Firdaus, 1993), h. 16-17
13
I Gusti Ngurah Oka, Retorika Sebuah Tinjauan Pengantar, (Bandung: Tarate, 1976), h. 44
14
Syeh Datuk Tombak Alam, Kunci Sukses Penerangandan Dakwah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h. 36.
15
4. Jalaludin Rakhmat, mengatakan dalam bukunya Retorika Modern, bahwa retorika adalah pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk komunikasi dalam medan pikiran.16 Dan bahwasannya pidato adalah peristiwa khas. Semua orang dapat menyampaikan pidato dengan baik jika mereka mengetahui dan dapat mempraktekkan tiga prinsip pidato atau yang biasa disebut Trisila Pidato, yaitu :
a. Pelihara kontak visual dan kontak mental dengan khalayak (kontak)
b. Gunakan lambang-lambang audiktif atau usahakan agar suara anda memberikan makna yang lebih baik kaya pada bahasa anda (olah vocal)
c. Berbicaralah dengan seluruh kepribadian anda: dengan wajah, tangan dan rubuh anda (olah visual).17
Menurut Aristoteles, mengatakan retorika adalah “the art of persuasion” adalah ilmu kepandaian berpidato atau teknik atau seni berbicara di depan umum,18 lalu dia mengatakan bahwa ada tiga cara untuk mempengaruhi manusia.
“Pertama (ethos), harus sanggp menunjukkan kepada khalayak bahwa anda memilki pengetahuan yang luas. Kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat. Kedua (pathos), harus menyentuh hati khalayak: perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka. Ketiga (logos), meyakinkan khalayak dengan
16
Jalaludin Rahmat, Rhetorika Modern Pendekatan Praktis (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998), h. v.
17
Ibid, h. 78
18
mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti, di sini mendekati khalayak lewat otaknya.”19
Dari itu kita dapat memperoleh lima tahap penyusunan pidato yang dikenal dengan (The Five Konnons Rehoric) yang sering diterjemahkan dengan “Lima hukum retorika”, yaitu :
1. Menemukan bahan (Inventio), pada tahap ini da’i atau muballigh menggali topik dan meneliti khalayak yang akan hadir mendengarkan ceramah kita, kemudian menentukan metode yang tepat.
2. Penyusunan bahan/materi yang akan disampaikan (Dispositio), dalam tahap ini da’i atau muballigh menyusun materi dakwah yang akan disampaikan, misalnya: Pendahuluan, Pembahasan dan Penutup.
3. Memilih bahasa yang indah (Elocutio), pada tahap ini da’i atau muballigh memilih kata-kata yang tepat, kalimat yang jelas dan bahasa yang indah sesuai dengan kemampuan khalayak pendengar.
4. Mengingat materi yang akan disampaikan (Memoria), pada tahap ini da’i atau muballigh harus mengingat-ingat dalam pikiran materi yang akan disampaikan kepada khalayak pendengar sesuai dengan susunan yang telah dibuat sebelumnya.
5. Menyampaikan dakwah lisan (Pronuntiatio), pada tahap ini da’i atau muballigh menyampaikan materi perhatikan suara (vocal), gerak tubuh, dan pelihara kontak mata dengan khalayak pendengar.20
2. Tujuan Retorika dan Fungsi Retorika a. Tujuan Retorika
19
Jalaluddin Rahmat, Rhetoeika Modern Pendekatan Praktis, h. 7
20
Ketika Aristoteles di sekitar abad ke-4 SM. Menampilkan retorika sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri, dikatakan bahwa tujuannya adalah persuasi, yang dimaksudkan persuasi dalam hubungan ini adalah yakinnya penanggap tutur akan kebenaran gagasan topik tutur.
Secara retorika tujuan berbicara kepada massa itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. To inform, yaitu memberikan penerangan dan pengertian kepada massa, guna memberikan penerangan yang mampu menanamkan pengertian dengan sebaik-baiknya.
2. To convine, yaitu meyakinkan atau menginsafkan
3. To inspire, yaitu untuk menimbulkan inspirasi. Dengan teknik dan sistem penyampaian yang baik dan bijaksana.
4. To entertain, yaitu mengembirakan , menghibur atau menyenangkan dan memuaskan.
5. To actuate (to put into action), yaitu menggerakan dan mengarahkan mereka untuk bertindak merealisir dan melaksanakan ide yang telah dikomunikasikan oleh orator di hadapan massa.21
b. Fungsi Retorika
I Gusti Ngurah Oka menjelaskan bahwa retorika adalah untuk:
1. Menyediakan gambaran yang jelas tentang manusia terutama dalam hubungan kegiatan bertuturnya, termasuk ke dalam gambaran ini antara lain gambaran proses kejiwaannya ketika ia terdorong untuk bertutur kata ketika ia mengidentifikasi pokok persoalan dan retorika bertutur ditampilkan.
2. Menampilkan gambaran yang jelas tentang bahasa atau benda yang biasa diangkat menjadi topik tutur. Misalnya gambaran tentang hakikatnya, strukturnya, fungsi dan sebagainya.
3. mengemukakan gambaran terperinci tentang masalah tutur misalya dikemukakan tentang hakikatnya, strukturnya, bagian-bagian dan sebagainya.
4. Bersama-sama dengan penampilan gambaran ketiga tersebut di atas disiapkan pula bimbingan tentang:
a. Cara-cara memilih topik.
b. Cara-cara memandang dan menganalisa topik tutur untuk menentukan sasaran ulasan yang persuasive dan objective.
c. Pemilihan jenis tutur yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
21
d. Pemilihan materi bahasa serta penyusunan menjadi kalimat-kalimat yang padu, utuh, mantap dan bervariasi.
e. Pemilihan gaya bahasa dan gaya tutur dalam penampilan tuturnya.22
B. Dakwah dan Ruang Lingkupnya 1. Pengertian Dakwah
Dakwah ditinjau dari segi etimologi atau asal kata, dakwah memiliki makna yang bermacaman-macam yang diantaranya:
1. An-Nida Artinya memanggil
2. Menyeru atau mendorong kepada sesuatu. 3. Menegaskan atau membelanya.
4. Suatu usaha atau perkataan untuk menarik manusia kesuatu aliran atau agama.
5. Memohon dan meminta, yang sering disebut dengan istilah do’a.23
Sedangkan pengertian Menurut Prof. H. Mahmud Yunus bahwa kata dakwah mempunyai dua akar kata. Yaitu (da’a – yad’uu – da’watan) yang artinya menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu. Akar kata yang kedua yaitu (da’a – yad’uu- du’aa an) yang mempunyai arti memanggil, mendoakan dan memohon.24 Arti kata dakwah seperti ini sering ditemukan atau dipergunakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang diantaranya dalam surat Yunus/10 ayat 25:
GH
%
)
I#7- J
1*. ?(($
L
-"M - %
6 N
O H
PQR
>
TUV
W2X1
Y([N
EF
Artinya: "Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam). Arti kalimat darussalam Ialah: tempat yang penuh kedamaian dan keselamatan. pimpinan (hidayah) Allah berupa akal dan wahyu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
22
I Gusti Ngurah Oka, Retorika Sebuah Tinjauan Pengantar, h. 65
23
Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, (Solo: Intermedia, 1998), Cet. Ke-2, h.26-28.
24
Agama Islam merupakan agama yang menyeru kepada kebaikan. Maka kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk berdakwah sesuai dengan firmannya dalam (QS. At-Taubah : 122)
N
%
\]^_`
;#& N
$
)
%a
bc
$
& 3dH
ef
eg"# ? d
a_b h
6
N
i
`
^"a
d
"jkM l
mN
n _boH
)
#,q _b D
r$
B
E6J
i
H
)
%O 1 c
$ %
*, N"# ^
s
)
I#=
/
"jM"T $
*,t?
= $
\]%O _
u
E@FF
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Dakwah merupakan kewajiban seorang muslim, tetapi dakwah tersebut haruslah sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dengan berbagaimacam cara, maka siapapun dapat berdakwah.
Dakwah adalah suatu proses penyelenggaraan aktivitas atau usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja dalam upaya meningkatkan taraf dan tata nilai hidup manusia yang berlandaskan ketentuan Allah SWT dan Rasulullah SAW yang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan metode-metode tertentu dengan tujuan mendapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
2. Ruang Lingkup Dakwah a. Da’i
diterimanya ide-ie tersebut sehingga ada perubahan sikap atau adanya pengukuhan terhadap sikap-sikap tertentu.25
Dengan demikian da’i adalah seorang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan baik secara individu, kelompok, berbentuk organisasi ataupun lembaga. Kata da’i ini secara umum sering disebut dengan sebutan mauballigh atau muballighoh (orang yang menyempurnakan agama Islam).26
b. Mad’u
Ada empat golongan objek dalam dakwah yaitu : a. Golongan Mukmin
Mereka adalah orang-orang yang meyakini kebenaran dakwah Islam, pengagumi prinsip-prinsip dakwah, dan menemukan kepadanya kebaikan yang menenangkan jiwanya. Iman takkan punya arti bila tidak disertai dengan amal. Akidah takkan memberi faedah apabila tidak mendorong penganutnya untuk berbuat dan berkorban demimenjelmakan menjadi kenyataan.
b. Golongan yang ragu-ragu
Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang belum tahu hakikat kebenaran dan belum mengenal makna keikhlasan serta manfaat di balik ucapan-ucapan da’i. mereka ragu dan bimbang. Biarkan mereka mengetahui secara jelas dalam keraguannya sambil mengenalkan Islam secara pelan-pelan melalui tulisan, berkenalan bersama dengan teman-teman para da’i. c. Golongan yang mencari keuntungan
Boleh jadi mereka kelompok yang tidak ingin memberiakan dukungan sebelum mereka mengetahui keuntungan materi yang dapat mereka peroleh sebagai imbalan. Kepada mereka kita hanya mengatakan “ Menjauhlah ! di sini hanya ada pahala dari Allah jika kamu memang benar-benar ikhlas, dan surganya-Nya jika ia melihat ada kebaikan dalam hatimu.
d. Golongan yang berprasangka buruk
Barang kali mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk terhadap para da’I dan hatinya diliputi oleh keraguan. Mereka selalu melihat dengan kaca mata hitam pekat, dan tidak berbira kecuali dengan
25
Wardi Bachtiar. Metdologi Penelitian Ilmu Dakwah. (Jakarta: Logos, 1997). Cet. Ke-1.h. 57
26
pembicraan yang sinis. Hanya Allah-lah yang dapat memberiakn mereka petunjuk27.
c. Materi Dakwah.
Materi dakwah adalah masalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’i pada mad’u, pada dasarnya bersumber dari al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utama28 yang meliputi akidah, syariah, dan akhlak. Hal yang perlu disadari bahwa ajaran yang diajarkan itu bukanlah semata-mata berkaitan dengan eksistensi dan wujud Allah SWT, namun bagaimana menumbuhkan kesadaran mendalam agar mampu memanifesatasikan akidah, syariah, dan akhlak dalam ucapan, pikiran, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Materi dakwah yang merupakan isi pesan atau isi dakwah yang di8komunikasikan secara efektif kepada penerima dakwah harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Materi yang disampaikan oleh seorang da’i haruslah sesuai dengan kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu. Seseorang yang intelektualnya rendah disampaikan dengan bahasa dan contoh yang dapat dimengerti oleh mereka para mad’u.
d. Metode Dakwah
Metode dakwah adalah cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da’i untuk menyampaikan materin dakwah.29 Atau kumpulan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sehingga metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da’i kepada mad’u yang telah diatur melalui proses pemikiran
27
Hasan Al Bana, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, (Surakarta : Era Inter Media, 1998), cet. 6.
28
Nurul Badruttamam, Dakwah Kolaboratif Tarmizi Taher. h. 109
29
untuk mencapai proses pemikiran untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.
e. Media Dakwah
Medi dakwah adalah peralatan yang digunakan untuk menyampaikan atau menyalurkan materi dakwah.30 Dewasa ini, jenis-jenis media atau sarana dakwah sangat banyak jumlahnya antara lain, radio, video, rekaman, televisi, surat kabar, majalah, tabloid dan bahkan jaringan informasi melalui komputer internet.
Medi dakwah merupakan sarana untuk menyampaikan pesan agama dengan mendayagunakan alat-alat atau temuan teknologi modern yang ada pada zaman ini. Dengan begitu banyaknya media dakwah yang tersedia. Maka seorang dai memilih salah satu atau beberapa media saja sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat tercapai dengan efektif dan efesien.
f. Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah dapat dirumuskan dalam dua kerangka, yaitu tujuan untuk menacapai suatu nilai atau hasil terakhir yang merupakan tujuan utama (Major objective). Dan tujuan untuk mencapai nilai atau hasil dalam bidang-bidang khusus yang merupakan tujuan atau sasaran departemential. Tujuan utama dan tujuan departemential adalah dilihat dari segi hierarchinya. Sedang bila dilihat dari segi proses pencapaiannya, tujuan utama adalah merupakan ultimate goal atau tujuan akhir. Sedangkan tujuan departemential merupakan intermediate goal atau tujuan perantara.
30
Jika ditinjau dari aspek psikologis tujuan dakwah adalah untuk menumbuhkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang disampaikan oleh seorang da’i. Sehingga ruang lingkup dakwah meliputi masalah pembentukan sikap mental dan pengembangan motivasi yang bersifat positf dalam segala aspek kehidupan.31
Dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia pasti mempunyai tujuan, tak terkecuali dakwah Islam yang memiliki tujuan urgensi tersendiri, karena ia merupakan landasan dari seluruh aktivitas. Merupakan penentu sasaran, strategi dan langkah-langkah oprasioanal dakwah yang selanjutnya akan dilakukan. Dengan kata lain tanpa adanya tujuan yang jelas suatu pekerjaan akan terhitung sia-sia. Serta pekerjaan yang dilakukan juga tergantung kepada niat, karena sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung pada niatnya.
C. Hubungan Retorika dengan Dakwah
Untuk tersebar luasnya agama Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam, kepada seluruh umat manusia, maka para da’i atau muballigh semenjak dari dulu hingga sekarang, dalam setiap kesempatan khutbah atau ceramah, tidaklah hanya bicara demi bicara. Akan tetapi bagaimana agar pembicaraan tersebut dapat merangsang mereka yang mendengarkan (mad’u) untuk berbuat sesuatu yang nyata dalam kehidupannya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.
Retorika adalah sebuah seni (sistem) berpidato menggunakan bahasa lisan, agar dapat menghasilkan kesan terutama para pendengar. Retorika termasuk seni yang paling tua dalam komunikasi masa. Karena itu berpidato termasuk salah satu cara dari sekian banyak cara berkomukasi yaitu antara sipembicara (komunikator) dengan sejumlah orang (komunikan / audiense). Jadi berpidato termasuk untuk menyampaikan isi hati, pesan (message), ide (butiran pikiran), program, perasaan dan sebagainya oleh seseorang kepada sejumlah orang. Dengan kata lain pidato merupakan salah satu sarana informasi dan komunikasi yang sangat penting. Karena
31
melalui pidato orang akan dapat menyebarluaskan idenya, data menanamkan pengaruhnya bahkan dapat memberika arah berfikir yang baik dan sistematis. Jadi pidato jelas bukan “omong kosong” dan berteriak-riak tidak karuan” melainkan dengan oral, dan harus didukung oleh rithme, volume, penyajian dan penampilan yang sempurna.32
Dakwah dengan menggunakan retorika adalah memaparkan sesuatu masalah agama dan kemudian orang merasa begitu concern (terlibat) dengan masalah yang dipaparkan tersebut, sama halnya apabila seorang orator penyampaian suatu persoalan kemudian orang merasa terdorong untuk mencari sebab deviasi (penyimpangan) dan kemudian membuat keputusan tertentu untuk mencari pemecahannya.
Dengan kata lain, di dalam proses retorika usaha untuk melibatkan emosi dan rasio dari pihak khalayak agar merasa merlibat dengan masalah atau persoalan yang disajikan merupakan inti dari pemaparan retorika sebagai sarana menuju tujuan akhir yaitu suatu tindakan yang sesuai dengan harapan komunikator. Sementara tujuan yang ingin dicapai dakwah antara lain, agar manusia mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejahatan, serta memenuhi ktentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Komunikasi kegiatan dan dan retorika memiliki keterikatan, terutama hal ini dapat dilihat dari segi media yang diperguanakan. Apakah medium yang digunakan medium lisan, tulisan dan sebagainya. Yang disini unsure bahasa memegang peranan sangat menentukan.
Hubugungan retorika dengan dakwah, T. A Latief Rosydi dalam bukunya “Dasar-Dasar Retorika Komunikasi dan Informasi” menyebutkan:
“…kemampuan dalam kemahiran menggunakan bahasa untuk melahirkan pikiran dan perasaan itulah sebenarnya hakekat retorika. Dan kemahiran serta
32
kesenian menggunakan bahasa adalh masalah pokok dalam penyampaian dakwah. Karena itu antara dakwah dan retorika tidak bisa dipisahkan. Di mana ada dakwah di sana ada retorika.33
Kesuksesan para da’i atau muballigh dalam khutbah lebih banyak ditunjang dan dtentukan oleh kemampuan retorika yang dimiliki oleh da’i tersebut. Dan kalaulah dakwah belum berhasil menurut yang dicita-citakan dan menurut garis yang telah ditetapkan semula, mungkin karena cara persuasi (retorika) tidak menjadi perhatian dan tidak terpenuhi oleh para da’i. dan dalam hal ini diungkapkan oleh T. A Latief Rosydi dalam buku yang sama:
“Kurangnya keberhasilan kita, baik dalam menanamkan pengertian dan keyakinan, apalagi dalam menggerakan massa rakyat untuk berbuat, berjuang dan berkorban (sesuai dengan ajaran Islam), salah satu dari penyebabnya adalah karena kelemahan kita dalam memanfaatkan retorika dakwah dalam penyampaiannya”.34
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dakwah dan retorika sangat berhubungan erat, dakwah bertujuan untuk meningkatkan kehidupan umat manusia kepada keadaan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits, dan retorika adalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan dakwah tersebut. Dengan kata lain keberhasilan atau kegagalan dakwah itu sangat bergantung pada retorika, karena retorika tidak lain adalah seni pidato. Sesuatu yang tidak memiliki nilai seni, tidak akan terlihat indah, betapapun baik dan mahal harganya.
33
Ibib, hlm. 94
34
BAB III
PROFIL KH. AHMAD SYAFI’I MUSTAWA
A. Riwayat Hidup KH. Ahmad Syafi’i Mustawa
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa adalah seorang Muballigh yang memiliki majelis ta’lim Daarul Hikmah yang terletak di Srengseng, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Oktober 1967 oleh ibunya yang bernama ‘Aisyah binti Katik dan ayahnya yang bernama Mustawa bin Buang. KH. Ahmad Syafi’i tergolong anak yang sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Beliau bukanlah anak pertama dan bukan pula anak yang terakhir, namun beliau terlahir dengan istilah betawinya diimpit bangkai, yang terlahir diantara dua kematian karena kakak dan adiknya telah
terlebih dahulu dipanggil oleh Allah SWT, maka dari itu beliau tergolong sebagai anak yang sangat disayangi oleh kedua orang tuanya.
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa merupakan figur seorang bapak yang sholeh. Beliau dikenal dimasyarakat sebagai orang baik dan tekun melaksanakan ibadah, yang semangat berjuang mensyiarkan ajaran Islam dengan segala kemampuannya. Beliau ingin apabila mempunyai seorang anak, ingin menjadikan anak-anaknya yang sholeh dan sholehah, dengan memberikan sebuah pendidikan agama mengirimkannya kepondok pesantren.35 Yang akhirnya berhasil meneruskan perjuangan dakwah beliau sebagai seorang da’i yang menyiarkan dan menanamkan nilai-nilai keislaman di masyarakat.
Perjalanan yang cukup panjang beliau lalui untuk menjadi seorang yang berilmu pengetahuan agama. Selama lima belas tahun lebih dari bendung sampai tebet
35
Jakarta Selatan, beliau yang tidak ada puasnya akan selalu haus mencari ilmu. Menjadi perjalanan yang sangat berharga bagi KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, dalam masa-masa semangatnya menuntut ilmu. Sehingga akhirnya beliua sampai terkenal sebagai seorang muballigh, yang memiliki jam terbang yang sangat membanggakan umat Islam, khususnya masyarakat wilayah Jakarta Barat. Beliaupun sering sekali mengisi ceramah dan mengajar di wilayah Kedoya Selatan Jakarta Barat. Bahkan jama’ah yang selama ini beliau bimbing, sekarang sebanyak 15 Majelis ta’lim yang dari jumlahnya hampir setara dengan guru besar.36
B. Pendidikan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa
Sebagaimana umumnya orang-orang yang pintar dan berhasil, itu diawali oleh sebuah perjalanan hidupnya dalam menuntut ilmu. Tak terkecuali KH. Ahamad Syafi’i Mustawa memulai pendidikannnya dengan sebuah pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah. Berikut ini sebuah perjalanan pendidikan beliau yang panjang selama 15 tahun lebih, adalah sebagai berikut.
1. Madrasah Ibtidaiyah Al Islamiyah di Srengseng Jakarta Barat selama 6 tahundari tahun 1974 - 1980
2. Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Al Jawami Cilenyi Bandung. Piminan almarhum KH. Ahmad Suja’i selama 3 tahun dari tahun 1981-1984
3. Memperdalam ilmu Qiroat di Pondok Pesantren Tahsinul Qur’an Cisereh Lembang. Pimpinan KH. Sahid selama 2 bulan tahun 1985
4. Memperdalam kitab kuning di Pondong Pesantren Assalafiyah-Klasik, Bogor. Pimpinan KH. Adang selama 3 bulan tahun 1985
36
5. Memperdalam ilmu alat dan bahasa Arab di Pondok Pesantren Assaqofah Islamiyah, Bukit Duri Tanjakan Tebet Jakarta Selatan. Pimpinan Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qodir Assegaf selama 12 tahun lebih dan masih berjalan sampai sekarang memperdalam ilmu fiqih yang diajarkan oleh putranya Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf yang bernama Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf.37 Tahun 1986
Disela sebagai satri Assaqofah, beliau telah memulai dunianya sebagai seorang muballigh. Kepandaian ilmu retorika yang sangat handal, tegas, dan humoris yang sehingga membuat beliau disenangi oleh banyak jama’ah. Sebagai seorang muballigh dimulai pada tahun 1987 dan sudah berkisar undangan JABODETABEK.
Di tengah kesibukannya memenuhi undangan jama’ah sebagai seorang muballigh, ia masih dapat menyempatkan waktunya untuk terus memperdalam ilmunya dengan hadir di majelis-mejelis ta’lim para gurunya. Banyak majelis ta’lim yang dihadirinya dengan guru besar beliau. Diantara guru-guru beliau yang masih panjang umur adalah:
1. Habib Umar bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qodir Assegaf di Tebet Jakarta Selatan.
2. KH. Bunyamin bin KH. Abdul Karim di Kelapa Dua Kebon Jeruk Jakarta Barat.
3. KH. Muhammad Zein di Meruya Kebon Jeruk jakarta Barat.38
Sebagai seorang murid dan muballigh, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa termasuk guru yang semangat dalam menyiarkan Islam. cukup dikenal dan terbilang sukses dalam menyampaikan dakwahnya dapat mempengaruhi pendengarnya. Setiap beliau berdakwah selalu berusaha supaya jama’ahnya atau mad’unya mudah menangkap atas
37
Hasil Wawancara Pribadi kepada KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, 10 Februari 2009
38
segala apa yang beliau sampaikan maksud dan tujuannya. Dengan sistem penyampaian yang bagus, beliau mampu merekrut begitu banyak mad’u atau jama’ah dari berbagai macam kalangan dan status sosial masyarakat. Sehingga banyak para jama’ah yang menginginkan dalam majelis ta’limnya yang mengajar beliau, yang sampai saat ini majelis ta’lim yang diasuhnya berjumlah 15 majelis ta’lim, yang diantaranya adalah:
1. Hari Minggu :
a. Majelis Ta’lim Assa’adah di Kampung Melayu : ba’da Maghrib b. Majelis Ta’lim Daarus Salam Menteng Atas : ba’da Isya 2. Hari Senin :
a. Majelis Ta’lim Annajah Suka Bumi Utara : ba’da maghrib b. Majelis Ta’lim Al Huda Srengseng : ba’da Isya
3. Hari Selasa :
a. Majelis Ta’lim Al Anwar Kebon Nanas II : ba’da Isya 4. Hari Rabu :
a. Majelis Ta’lim Rawa Buaya dan Celeduk : ba’da Isya b. Majelis Ta’lim Darul Hikmah kaum Ibu : ba’da dzuhur 5. Hari Kamis :
a. Majelis Ta’lim Al Anwar I Kebon Jeruk : ba’da maghrib b. Majelis Ta’lim Al Anwar II Pos Pengumben : ba’da Isya c. Majelis Ta’lim Daarl Faroh Sukabumi Utara : 21-22 WIB 6. Hari Jum’at :
a. Majelis Ta’lim PLN Gambir : ba’da ashar
7. Hari Sabtu :
a. Majelis Ta’lim Arridho Meruya : ba’da Isya39
Dari majelis ta’lim tempat beliau KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengajar sampai sekarang masih aktif, dalam pertemuan seminggu sekali bergantian yang terus berputar setiap hari.
C. Sejarah Berdirinya Majelis Ta’lim Daarul Hikmah
Awal berdirinya perencanaan Majelis Ta’lim Daarul Hikmah, jauh telah direncakan oleh Almarhum H. Mustawa bin Buang. Ketika KH. Ahmad Syafi’i masih di Pondok Pesantren Al Jawami Cilenyi Bandung, ide tersebut muncul berawal dari obrolan ringan dengan sahabat kental almarhum zaitu bapak Kiming dan H. Samin bahwa beliau ingin mendirikan majelis ta’lim. Dan diantara maksud dan tujuannya beliau mendirikan majelis ta’lim tersebut adalah:
1. Sebagai wadah pengamalan ilmu bagi anaknnya yang telah menuntut ilmu 2. Untuk mensyiarkan agama Islam di Srengseng.
3. Sebagai sarana untuk menarik kembali masyarakat yang telah banyak berbuat kezhaliman ke jalan zang benar.
Namun kemuadian ide tersebut tenggelam seiring dengan kesibukan beliau sebagai Ta’mir Masjid dengan usia yang beranjak tua. Sampai beliau jatuh sakit, kemudian istri tercinta beliau ‘Aisyah binti Katik berpulang ke rahmatullah, menzusul sebulan berikutnya beliau juga dipanggil oleh Allah SWT.
Untuk melanjutkan cita-cita dari almarhum, dan juga karena desakan dari masyarakat yang sangat kuat agar KH. Syafi’i berperan serta secara aktif dalam membina moral masyarakat. Akhirnya ide tersebut dimunculkan kembali, Ust. Ahmad
39
Syafi’i Mustawa sebagai anak tertua dikeluarga, memulai musyawarah keluarga untuk memeinta pendapat adik-adiknya tentang rencana ayahandanya.
Setelah keluarga sebagai ahli waris menyatakan sepakat, maka hal tersebut dikonsultasikan kepada tokoh masyarakat setempat. Diantaranya, kepada Bapak H. Muhammad Nipong selaku orang tua dan Saomun selaku tokoh pemuda. Dan ternyata masyarakat pun menanggapinya dengan antusias.
Dan dibentuklah panitia sederhana untuk pembangunan majelis ta’lim. Panitia tersebut adalah :
Penasehat : Drs. H. Rijal Pahlefi
Ketua : Ust. Ahmad Syafi’i H. Mustawa Sekretaris : Saomun
Bendahara : Erni Jurniyati Pelaksana lap. : Jamaah
Setelah terkumpul dana secara gotong royong dan swadaya masyarakat, resmi pada tanggal 20 Desember 2002, dilaksanakan peletakan batu pertama. Dengan pendanaan murni dari jamaah atau murid-murid dari Ust. Syafi’i, maka pada tanggal 6 bulan majelis ta’lim pun selesai seminggu kemudian di buka ta’lim dan majelis ta’lim tersebut diberi nama Daarul Hikmah sebagai induk dari beberapa majelis ta’lim yang beliau asuh.
Pengajian yang telah berlangsung di majelis ta’lim Daarul Hikmah ialah pengajian senin malam dengan membaca kitab nahwu yang diasuh oleh Ustadz. Muhammad Fitriadi dari Jombang yang merupakan adik seperguruan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa di Alkifahi As-Saqofi. Dan pengajian jum’at malam yang diajarakn oleh beliau sendiri KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dengan membaca kitab Tanqih Al Qaul dan Arriyadul Badi’ah.
Dalam menjalankan dakwah Islamiyah demi tegaknya syi’ar Islam, tentunya kadag kala menemukan berbagai dukungan dan hambatan yang merupakan satu hal yang biasa akan dialami setiap aktivitas kegiatan. Demikian halnya yang terjadi dasn dialami oleh KH. Ahmad Syafi’i Mustawa sebagai pengasuh majelis ta’lim Daarul Hikmah dalam merealisasikan kegiatannya membina moral para remaja di lingkungan Srengseng Kembangan Jakarta Barat.
Namun demikian, pemasalahan tersebut bukanlah merupakan ancaman yang harus ditnggalkan apabila berupa hambatan, namun sebaliknya akan dijadikan motivator untuk mencapai yang terbaik. Karena hambatan dan dukungan merupakan realita agar mereka yang menekuni suatu aktivitas akan mampu menghadapi dan menganalisa terhadap segala permasalahan yang dihadapi.
Adapun faktor-faktor pendukung majelis ta’lim Daarul Hikmah adalah: 1. Adanya dukungan dari keluarga sendiri sebagai ahli waris dan dukungan
dari masyarakat unuk mengadakan kegiatan yang bersifat positif dengan semangat yang besar dan kerja sama yang baik. Dan tentuny berangkat dari kesadaran mereka untuk tetap merealisasikan nilai-nilai Islam dalam pergaulan sehari-hari.
masyarakat Srengseng sejak mengasuh pengajian mingguan di Masjid Al-Huda Srengseng.
3. Adanya dukungan penuh dari segenap jama’ah, dari 12 majelis ta’lim yang beliau pimpin untuk menyukseskan setiap program majelis ta’lim Daarul Hikmah.
4. Adanya dukungan dari sebagian tokoh masyarakat setempat, khususnya para asatidz pemimpin majelis ta’lim setempat. Terutama dukungan yang bersifat moril, dan masukan-masukan berupa pertimbangan terhadap keadaan dan kondisi masyarakat sekitar lingkungan majelis ta’lim Daarul Hikmah.
Dan adapun beberapa faktor penghambat yang sedikit banyak mempengaruhi jalannya suatu kegiatan di majelis ta’lim Daarul hikmah yaitu:
1. Masalah sumber dana yang tidak menentu, karena pendanaan majelis ta’lim Daarul Hikmah dari mulai dana pembangunan sampai pelaksanaan kegiatannya hanya bersumber dari dana pribadi KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dan dana jama’ah. Padahal prsoalan dana merupakan suatu penggerak roda utama suatu kegiatan, apabila tidak segera ditanggulangi dikhawatirkan akan menyebabkan kemacetan jalannya kegiatan aktivitas majelis ta’lim Daarul Hikmah.
2. Adanya keragaman jenjang pendidikan pada jam’ah, sehingga terkadang sulit untuk menyamakan visi dan misi dalam setiap kegiatan majelis ta’lim Daarul Hikmah.
BAB IV
RETORIKA DAKWAH KH. AHMAD SYAFI’I MUSTAWA
A. Konsep KH. Ahmad Syafi’i Mustawa Tentang Retorika
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengatakan, retorika adalah setiap ungkapan atau gaya seni berbicara atau daya penyampaian ilmu, setiap muballigh atau orator ketika dia menyampaian pesan kepada mad’u yang menjadi sasarannya sehingga mereka dapat mencerna dengan baik dan apa yang muballigh sampaikan menyebabkan mad’u menjadi merasa mendapatkan ilmu. Kemudian mad’u bisa memetik hikmahnya kemudian termotivasi untuk mengamalkannya, kenapa karena hipnotis daya retorika dakwah itu yang disampaikan oleh muballigh mengena pada sasarannya.
Dalam hal ini dialektika, kosa kata dan bahasa yang santun itu semua saling berkaitan atau ada kolaborasinya dalam apa yang disampaikan oleh muballigh, sehingga mad’u itu bisa memetik hikmah dan manfaat. Jadi dari awal mula berdiri itu sudah retorika, kemudian dari penyampaian mukoddimah lalu mensitir dari pada ayat-ayat Allah dan Hadits-Hadits Nabi sehingga apapun yang diungkapkan oleh da’i tersebut membuat sang mad’u merasa tertarik, maka dengan demikian mad’u tersebut akan senang berulag-ulang mendengarkan simuballigh tersebut kemanapun dia kejar karena tepat pada sasarannya.40
Apabila seorang da’i ingin berdakwah haruslah memiliki seni berbicara yang baik, sehingga materi dakwah yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh mad’u atau jama’ah yang medengarkannya. Seni berbicara (retorika) merupakan rasa atau warna yang melengkapi setiap kata yang terlontar dalam
40
komunikasi ketika berdakwah dan berpidato, sehingga setiap kata yang keluar dari lisan memiliki warna yang indah dan rasa yang enak untuk didengar, serta mampu mengubah pola pemikiran siapa saja yang mendengarkannya. Maka orang yang mendengarkannya akan tergerak hatinya untuk menelaah, meresapi, bahkan bisa membuat mereka ingin menikmati dan melaksanakan apa yang dikatakan atau apa-apa yang mereka katakan.
Seorang da’i atau muballigh yang ahli retorika, dalam berceramah yang secara aktif melibatkan bahasa tubuh akan mendapat tempat di hati para pendengarnya, walaupun ia berdakwah panjang lebar dan memakan waktu yang cukup lama, namun jama’ah yang mendengarkannya tidak merasa bosan. Waktu yang berjam-jam akan berlalu begitu saja, tanpa kehilangan perhatian terhadap muballigh tersebut dengan tidak terasa dikarenakan orang yang menyampaikan pesan dakwah ahli dalam retorika, begitu hebatnya peranan retorika sehingga orang tetap tertarik dan mau mendengarkannya.
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengatakan, bahwa seorang da’i apabila berdakwah harus melihat situasi dan kondisi dalam ilmu Mantek disebut Muqtadol Hal, terkadang kita tampil ditempat yang terdiri dari bebarapa muballigh ditakutkan
materi itu sudah disampaikan oleh yang lain. Jadi untuk dakwah itu harus yang relepan, dan banyak menghafal hadits dan ayat al Quran agar tidak kehabisan bahan materi yang disampaikan.41
Apabila seorang muballigh akan melakukan sebuah penyampaian pesan lewat ceramah-ceramah di atas podium atau panggung, mempunyai persiapan yang matang secara seksama, karena persiapan adalah setengah dari kesuksesan apabila ada sedikit saja kesalahan, maka hal itu akan sangat mempengaruhi seorang da’i. Karena dia akan
41
menjadi barometer tolak ukur seberapa jauh dia sudah mencapai keberhasilan atau belum, dengan demikian dapat kita akui bersama, bahwa persiapan seseorang itu sangat mempengaruhi dalam mencapai keberhasilan dakwah dan tujuan yang lebih baik.
Menurut KH. Ahmad Syafi’I Mustawa bahwa dakwah yang dilakukan asal-asalan tanpa adanya persiapan atau segala hal yang berkaitan dengan retorika, tentunya pesan dakwah tersebut tidak akan tersampaikan dengan baik kepada mad’unya atau orang yang menerimanya. Maka sebelum berdakwah kita terlebih dahulu mengamalkan apa yang ingin kita sampaikan, Insya Allah akan tepat sasaran karena Allah SWT akan membuka hati mereka dengan hati yang bersih. Diantaranya jangan batal wudhu, dengan bahasa yang sopan dan santun serta dengan pakain yang rapih, karena banyak masyarakat awam melihat dan menilai dari luar. Banyak orang yang hanya bisa menyampaikan pada orang-orang sementara dia belum mengamalkannya.42
Dalam hal ini seorang da’i haruslah pandai-pandai menganalisa dan mengenali mad’unya dengan baik, agar dakwah yang disampaikan tepat pada sasarannya. Dalam berdakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengemas retorikanya dengan mengunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh mad’unya, ada beberapa tahapan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam penyusunan pidato yang akan beliau sampaikan kepada mad’u dan ternyata tahapan tersebut ada yang sama seperti peneliti kaji dalam ilmu retorika yang diantaranya :
1. Mengetahui keadaan situasi kondisi masyarakat setempat, yang akan dijadikan sasaran dakwah, dengan menanyakan atau mencari informasi kepada salah satu warga setempat.
42
2. Setelah itu baru menyusun pesan-pesan yang akan disampaikan yang tentunya terdiri dari pendahuluan, isi pesan, ringkasan pesan atau inti sari, dan terakhir penutup disertai dengan do’a.
3. Mencari bahasa yang indah sehingga mudah dimengerti, dan humor-humor yang berkaitan dengan pembahasan agar mereka tidak merasa jenuh. 4. Ketika menyampaikan pesan dakwah yang harus diperhatikan adalah para
mad’u, bagaimana caranya ketika mereka mengantuk kita mengeluarkan pesan dengan suara atau vocal yang akhirnya membuat mereka semangat lagi.
5. Sambil dalam perjalanan menuju tempat, yaitu mengingat kembali pesan dakwah yang akan disampaikan sesuai dengan keadaan situasi kondisi masyarakat setempat, yang akan dijadikan sasaran dakwah.
Dari uraian diatas penulis berpendapat bahwa definisi yang disampaikan oleh KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, pada hakikatnya sama, dengan definisi-definisi retorika yang ada. Demikian pula mengenai tahapan penyusunan pidato atau ceramah tidak ada bedanya dengan pendapat para pakar retorika, yang diantaranya seperti tahap penyusunan pidato yang dikenal dengan (The Five Konnons Rehoric) yang sering diterjemahkan dengan “Lima hukum retorika” dan lain sebagainya, yang intinya bahwa semua da’i sebelum berdakwah mereka mempersiapkan beberapa hal tersebut.
B. Penerapan Retorika, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa Dalam Berdakwah Selama dalam pengamatan penulis mengikuti pengajian yang dilaksanakan setiap hari Jum’at malam Sabtu ba’da Shalat Isya di Majelis Ta’lim Daarul Hikmah, tepatnya di daerah Srengseng Jakarta Barat, banyak para jama’ah yang berdatangan dari daerah-daerah yang jaraknya cukup jauh dari bapak-bapak hingga para remaja menghadirinya. Inilah suatu bukti kehebatan retorika KH. Ahmad Syafi’I Mustawa dalam berdakwah, dari kalangan bawah hingga kalangan atas dapat memahami pesan-pesan dakwah yang telah disampaikannya.
beberapa orang yang tidak meresponnya. Tetapi semua itu tantangan, dalam hal ini KH. Ahmad Syafi’i Mustawa malah semakin merasa tertantang lebih semangat lagi.
Maka dalam hal ini peranan retorika dalam pelakasanaan dakwah bil-lisan sangatlah begitu penting, dikarenakan untuk menentukan seberapa besar dalam keberhasilan dakwah itu sendiri. Dalam hal ini Nabi Muhammad sebagai Rasulullah SAW adalah seorang manusia yang sempurna, yang diantaranya ahli dalam retorika yang bisa membuat orang tersenyum dan menangis. Begitu semangatnya Rasulullah SAW dalam mensyiarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia, dengan demikian menjadikan contoh bagi para da’i untuk tetap semangat dalam mensyiarkan Islam.
Dalam berdakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa memiliki retorika yang sangat bagus, kemampuan retorika beliau yang menarik dengan kaya banyaknya kosa kata, tak heran membuat beliau jadi penceramaah yang handal. Dakwah merupakan misinya untuk menyebar luaskan Islam dan realisasi ajarannya adalah dakwah bilhikmah yang beliau lakukan. Sesuai dengan Al Qur’an firman Allah SWT, beliau berkata :
"#
$
%
&'(
)
*, $
-.
/
%
0123$
4
5
6'(78%9
:;
<
#=5
>* ?7%9
6
: '@
6
A
9
)
#=5 %
>* ?7%9
BC
- D7,
$
E@F
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125).43
43
Dan dalam firman Allah SWT yang lain yaitu :
H
N
%
&d?
" %9
6
N
v#
w
xg
;
'(
?
A
8
N"# ^
\y
mz
$
"j|8}
)
U~
d
GH
6 N
O H
PQR
L
-7, J
%
6 N
O H
PQR
#=5
%
OLJL
= $
>* U
$
E
Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ibrahim: 4)
Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab itu, bukanlah berarti bahwa Al Qu'an untuk bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh manusia. disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat. Disisnilah pentingnya menggunakan retorika dalam berdakwah yang akan menjadikan pembicaraan terfokus.
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa ketika beliau sebelum menyampaikan pesan-pesan dakwah, terlebih dahulu beliau meluruskan niat bahwa semata-mata dakwah yang beliau lakukan karena Allah SWT. Bukan untuk menjadikan dakwah sebagai sebuah penghasilan untuk mencari nafkah, dan semua itu bagian dari aktivitas ibadah seseorang untuk meningkatkan keimanannya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Haditsnya: “ Barang siapa yang melihat sebuah kemungkaran maka haruslah dia mengubahnya dengan kekuatan tangannya, maka apabila tidak sanggup lakukanlah dengan ucapan, dan apabila tidak sanggup lakukanlah dengan hati karena itulah selemah-lemah iman.”
dengan baik, sehingga jama’ah pun dapat memperhatikan dengan serius. Olah vocal atau suara yang beliau miliki sangat khas, nada dan irama suara yang turun naik terkadang mendatar dan terkadang tinggi. Isi ceramah beliau mengalir begitu saja sehingga setiap kata yang keluar dari mulut beliau memiliki makna yang membuat pendengar merasa tertarik untuk terus mengikuti ceramah beliau sampai selesai.
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam berbicara di hadapan para jama’ahnya benar-benar menampilkan kpribadiannya. Beliau berbicara dengan menggunakan tangan, raut wajah, bahasa tubuh (Body Language), sehingga gaya menyampaikan beliau yang seperti itu meyakinkan para jama’ah agar tetap fokus mendengarkan dakwah beliau.
Dalam berbicara dihadapan jama’ah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa benar-benar menampilkan sosok kepribadiannya tanpa harus meniru satu guru yang dijadikan contoh dalam gaya dakwah da’i-da’i lain seperti para da’i kondang yang diantaranya KH. Zainuddin MZ. Ust. Gimnastiar, Ust. Jefri Al Bukhori, dan lainnya. Melainkan mengkaliborasi dalam megajar gaya Al Habib umar bin Abdurrahman Asseqaf, jika ceramah di atas panggung meniru sedikit gaya Al Habib Idrus Jamalul Lail, karena Kiyai ngaji sama bapaknya Habib Idrus kitab tafsir Jalalain. Tanpa menghilangkan jati diri dan menjadi diri sendri.
Karena jika kita meniru gaya ceramah orang, kita berada di bawah mereka. Sebagai contoh seorang pemuda yang mengatakan ini guru saya, ini bapak saya, ini majikan saya tapi katakan inilah diri saya. Itulah perkataan yang harus dia sampaikan kepada orang lain. 44 KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam dakwahnya menggunakan bahasa komunikasi Verbal dan Non-Verbal seperti dengan penjelasan lisan perkataan-perkataan, menggunakan tangan, raut wajah, bahasa tubuh seperti ketika menyebut
44
lihat abu jahal, firaun tunjuk ketangan kiri dan berdoalah kepada Allah SWT dengan mengangkat kedua tangan. Sehingga membuat jama’ah yang mendengar dan melihatnya mengerti dan paham atas apa yang disampaikannya.
KH. Ahmad Syafi’i Mustawa sebagai seorang da’i keturunan darah betawi asli mempunyai sebuah ciri khas dalam berdakwahnya, beliau mencampur adukan bahasa Indonesia dengan bahasa Betawi dan Arab. Maka bahasa merupakan salah satu simbol komunikasi yang memegang perananan penting agar para mad’u memahami isi pesan yang disampaikannya, tidak harus dengan bahasa Indonesia yang baku yang tidak dapat dimengerti oleh mad’u.
Kepandaian KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam menyusun kata-kata dengan kekayaan bahasa yang beliau miliki yang diantaranya bahasa Indonesia, Arab, Sunda dan bahasa Betawi, sehingga membuat ceramah yang disampaikan enak didengar dan mudah dipahami oleh para mad’u yang mendengarkannya. beliau berbicara dengan bahasa yang jelas, lantang berbicara tanpa ada takut sedikitpun. Karena yang lebih beliau takuti adalah Allah SWT, apabila beliau tidak menyampaikan ilmu yang beliau miliki.
Dalam menyampaikan metode ceramah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menggunakan humor hanya 30% dan selebihnya 70% ialah pesan dakwah yang berisi menanamkan akidah, syariat dan akhlak paling bagus-bagusnya muballigh adalah sebelum menutup dia tanamkan pada jama’ah untuk mengaji kitab kuning/klasik dengan mengaji kitab karangan ulama salaf, maka akhlaknya jadi bagus dan pergaulannya bagus. Jangan kebanyakan tawaan, sasaran dakwah yaitu mengembalikan kepada fitrahnya yang hakiki.
memperoleh bekal ilmu setelah pulang bukan semata-mata karena humornya saja yang mengakibatkan mematikan hati, bahkan tidak jarang mereka selesai menyaksikan ceramah tidak memperoleh apa-apa melainkan gagalnya pesan yang disampaikan.45
Kehidupan manusia tidak terlepas dari sense of humor, seorang da’i yang profesional akan menyisipkan pesan-pesan dakwahnya dalam humor tersebut, bahkan rasa humor dapat digunakan untuk menyajikan suatu masalah yang dianggap serius , dan berat menjadi suatu bentuk sajian yang lebih ringan kadang para da’i memakai humor untuk memikat para mad’uya. Sehingga dengan rangsangan humor tersebut, ide-ide yang disampaikan akan mengena emosi mad’unya. Namun demikian humor dalam ceramah bukan sembarang humor seperti halnya pelawak, humor yang dimaksud adalah humor yang bersifat edukatif dan berisi ceramah.
Menurut beliau dakwah akan berhasil dengan baik apabila para da’i sudah mengamalkan pesan dakwah yang akan mereka sampaikan, dengan menggunakan bahasa yang sopan dan santun serta dengan pakain yang rapih, karena banyak masyarakat awam melihat dan menilai dari luar. Banyak orang yang hanya bisa menyampaikan pada orang-orang sementara dia belum mengamalkannya. Maka dari itu sebelum dakwah kita mengamalkan dahulu apa yang ingin kita sampaikan.
Berikut ini merupakan sebagai beberapa contoh dari beberapa penerapan retorika dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam dakwah bil-lisan pada pengajian rutin hari Jum’at malam Sabtu di majelis ta’lim Daarul Hikmah, Srengseng, Jakarta Barat. Pada saat pengajian rutin malam Sabtu itu dilaksanakan diawali dengan pembacaan shalawat Ya Rabbibil Musthafa tawasul abaib setelah itu shalawat Dustur, kemuadian do’a pembuka majelis shalawat Fatih sebagai bahan merenung sebelum
45
menyampaikan ilmu tawasul sebagai golongan ahlus sunnah waljama’ah membaca do’a futuh.
Kemudian selanjutnya KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengisi pengajian biasanya beliau memulai dengan mengucapkan salam, membaca hamdalah, dan shalawat kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW, serta Hadits mukoddimah, seperti:
“...Alhamdulillahirabbil ‘Alamin Wal ‘Aqibatul Muttaqin Wala ‘Udwana Illa‘Alazhzholimin, Asyhadualla ilahaillahu Wahdahula Syarikalah Wa ashaduanna Muhammadan ‘Abduhu warosuluh, La Nabiya Ba’dah
“...Fainnaka asdakal hadits kitabullah wakhoirulhadi hadiyu Muhammadin SAW, Wasarru likulli muhdasatuha wakulla muhdasatin bid’ah wakulla bid’atin dhalalah wakullah dhalaltin finnar . wafissantil muttashil ilal imami muallif rahimakumullahu ta’ala waadama nafa bihi wabibarakati ulumih wabikum fiddaroin amin atqol, qala radiyallahu anhu.46
Berdasarkan observasi penulis, hampir setiap memulai mengajar dengan gaya ceramah format pembukaan yang digunakan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa seperti contoh di atas. Dengan memulai bermunajat kepada Allah SWT, dalam bahasa yang mudah dimengerti supaya apa yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik dan diamalkan dalam keseharian para jama’ah.
Setelah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa membukanya, kemudian beliau memulai menyampaikan pesan yang akan diberikan kepada para jama’ah yang berada di majelis ta’lim Daarul Hikmah. Ketika beliau menyampaikan tentang sebuah kematian, seperti:
“...Kematian pasti akan datang tidak ada keragu-raguan, kematian adalah laksana sebuah jembatan atau penghubung, untuk berjumpa seorang kekasih kepada kekasihnya yaitu orang mukmin yang benar dan yang membenarkan. Rasa sakit itu ketika mati merupakan penebus dosa, ketika ia menjumpai rasa sakit tadi yang belum ia rasakan sebelumnya.”47
46
Hasil Penelitian Pribadi kepada KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, 23 Januari 2009
47
Dari penjelasan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa di atas, sesuai dengan kebenaran bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian tak terkecuali manusia. Sehingga akan menjadikan mereka berpikir untuk mempersiapkan kematian, bagaimana caranya agar pada saat mengahadapi kematian mereka tidak terlalu merasakan kesakitan yang luar biasa, dan mendapatkan tempat yang lebih baik di sisi Allah SWT. Dapat dilihat dalam contoh yang lain ketika menjelaskan tentang macam-macam kematian, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menjelaskan secara sistematis, yang diselingi dengan sedikit humor, seperti:
“...Matinya ulama, orang kaya, fakir miskin dan matinya pemimpin. Yang pertama matinya Ulama adalah merupakan kegelapan dalam agama seperti para ulama yang telah meninggal dunia KH. Abdullah di Kebon jeruk, KH. Muhammad Arsyat, KH. Muhammad jenggot/ Muhammad Jubir dan Mu’allim KH. Syafi’i Hazami di Kebayoran Pondok Pesantren Al-Arbain, karena mereka semua paku alam. Sesungguhnya daripada tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dengan meninggalnya para ulama, kebodohan meraja rela, perzinahan meraja rela, minuman keras terbiasa, laki-laki sedikit dan banyaknya kaum wanita. Kedua matinya orang kaya merupakan penyesalan harta warisan jadi rebutan keturunan. Ketiga matinya orang fakir miskin merupakan kesenangan karena proses diakhiratnya gampan. Dan yang keempat matinya pemimpin merupakan fitnah. “...Ulama, orang kaya, fakir miskin dan pemimpin mereka semua kalau belum mati jangan dikubur ya.” Maka dari itu janganlah jauh dari majelis-majelis ilmu dan jangan jauh dari para ulama datangi majelis-majelis ta’lim habaib.”
Dari penjesan di atas, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menjelaskan betapa pentingnya mengingat kematian dan betapa pentingnya sebuah ilmu karena dengan ilmu kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta akan dapat melaksakan segala aktivitas ibadah dengan baik dan sempurna.
sahabat butiran-butiran mutiara hikmah rangkaian kata untaian jamur katulistiwa yang terbentangan dalam kitab ini. Itu semua mungkin adalah kalimat-kalimat yang benar firman-firman Allah atau Hadits-Hadits Nabi, namun disana sini mungkin ada kekhilafan atau kesalahan atau mungkin ada hadirin hadirat ada yang tidak memahami apa yang saya sampaikan, bukan artinya bapak yang tidak paham atau bapak-bapak yang tidak cerdas tapi karena memang kemampuan saya yang terbatas. Khut mashafa wada makadar ambil yang baik dan campakkan yang buruk. Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in Tsummas Salamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dari keseluruhan uraian diatas tentang penerapan retorika dalam dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa secara garis besar bahwa KH. Ahmad Syafi’i Mustawa adalah salah satu da’i yang propesional yang sudah berdakwah Se-JABODETABEK cukup terkenal khususnya di daerah Jakarta Barat, bedanya beliau tidak masuk kedalam media massa. Disamping memiliki wawasan dan pengalaman yang luas, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa adalah sosok yang sangat ramah dan penuh kasih sayang khususnya pada anak-anak kecil beliau sangat menyayanginya. Selama penulis dalam menyelesaikan penelitian ini beliau adalah seorang bapak yang terbuka dan bersahabat sehingga orang-orang yang mendekatinya tidak merasa takut menemuinya. Dari segi prakteknya beliau cukup mengerti dan memahami retorika dengan baik, ini terbukti dalm pelaksanaan