• Tidak ada hasil yang ditemukan

RETORIKA DAKWAH KH. AHMAD SYAFI’I MUSTAWA

Dalam dokumen Retorika dakwah KH.Ahmad Syafi'i Mustawa (Halaman 32-49)

A. Konsep KH. Ahmad Syafi’i Mustawa Tentang Retorika

KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengatakan, retorika adalah setiap ungkapan atau gaya seni berbicara atau daya penyampaian ilmu, setiap muballigh atau orator ketika dia menyampaian pesan kepada mad’u yang menjadi sasarannya sehingga mereka dapat mencerna dengan baik dan apa yang muballigh sampaikan menyebabkan mad’u menjadi merasa mendapatkan ilmu. Kemudian mad’u bisa memetik hikmahnya kemudian termotivasi untuk mengamalkannya, kenapa karena hipnotis daya retorika dakwah itu yang disampaikan oleh muballigh mengena pada sasarannya.

Dalam hal ini dialektika, kosa kata dan bahasa yang santun itu semua saling berkaitan atau ada kolaborasinya dalam apa yang disampaikan oleh muballigh, sehingga mad’u itu bisa memetik hikmah dan manfaat. Jadi dari awal mula berdiri itu sudah retorika, kemudian dari penyampaian mukoddimah lalu mensitir dari pada ayat-ayat Allah dan Hadits-Hadits Nabi sehingga apapun yang diungkapkan oleh da’i tersebut membuat sang mad’u merasa tertarik, maka dengan demikian mad’u tersebut akan senang berulag-ulang mendengarkan simuballigh tersebut kemanapun dia kejar karena tepat pada sasarannya.40

Apabila seorang da’i ingin berdakwah haruslah memiliki seni berbicara yang baik, sehingga materi dakwah yang disampaikan mudah diterima dan dipahami oleh mad’u atau jama’ah yang medengarkannya. Seni berbicara (retorika) merupakan rasa atau warna yang melengkapi setiap kata yang terlontar dalam

40

komunikasi ketika berdakwah dan berpidato, sehingga setiap kata yang keluar dari lisan memiliki warna yang indah dan rasa yang enak untuk didengar, serta mampu mengubah pola pemikiran siapa saja yang mendengarkannya. Maka orang yang mendengarkannya akan tergerak hatinya untuk menelaah, meresapi, bahkan bisa membuat mereka ingin menikmati dan melaksanakan apa yang dikatakan atau apa-apa yang mereka katakan.

Seorang da’i atau muballigh yang ahli retorika, dalam berceramah yang secara aktif melibatkan bahasa tubuh akan mendapat tempat di hati para pendengarnya, walaupun ia berdakwah panjang lebar dan memakan waktu yang cukup lama, namun jama’ah yang mendengarkannya tidak merasa bosan. Waktu yang berjam-jam akan berlalu begitu saja, tanpa kehilangan perhatian terhadap muballigh tersebut dengan tidak terasa dikarenakan orang yang menyampaikan pesan dakwah ahli dalam retorika, begitu hebatnya peranan retorika sehingga orang tetap tertarik dan mau mendengarkannya.

KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengatakan, bahwa seorang da’i apabila berdakwah harus melihat situasi dan kondisi dalam ilmu Mantek disebut Muqtadol Hal, terkadang kita tampil ditempat yang terdiri dari bebarapa muballigh ditakutkan materi itu sudah disampaikan oleh yang lain. Jadi untuk dakwah itu harus yang relepan, dan banyak menghafal hadits dan ayat al Quran agar tidak kehabisan bahan materi yang disampaikan.41

Apabila seorang muballigh akan melakukan sebuah penyampaian pesan lewat ceramah-ceramah di atas podium atau panggung, mempunyai persiapan yang matang secara seksama, karena persiapan adalah setengah dari kesuksesan apabila ada sedikit saja kesalahan, maka hal itu akan sangat mempengaruhi seorang da’i. Karena dia akan

41

menjadi barometer tolak ukur seberapa jauh dia sudah mencapai keberhasilan atau belum, dengan demikian dapat kita akui bersama, bahwa persiapan seseorang itu sangat mempengaruhi dalam mencapai keberhasilan dakwah dan tujuan yang lebih baik.

Menurut KH. Ahmad Syafi’I Mustawa bahwa dakwah yang dilakukan asal-asalan tanpa adanya persiapan atau segala hal yang berkaitan dengan retorika, tentunya pesan dakwah tersebut tidak akan tersampaikan dengan baik kepada mad’unya atau orang yang menerimanya. Maka sebelum berdakwah kita terlebih dahulu mengamalkan apa yang ingin kita sampaikan, Insya Allah akan tepat sasaran karena Allah SWT akan membuka hati mereka dengan hati yang bersih. Diantaranya jangan batal wudhu, dengan bahasa yang sopan dan santun serta dengan pakain yang rapih, karena banyak masyarakat awam melihat dan menilai dari luar. Banyak orang yang hanya bisa menyampaikan pada orang-orang sementara dia belum mengamalkannya.42

Dalam hal ini seorang da’i haruslah pandai-pandai menganalisa dan mengenali mad’unya dengan baik, agar dakwah yang disampaikan tepat pada sasarannya. Dalam berdakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengemas retorikanya dengan mengunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh mad’unya, ada beberapa tahapan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam penyusunan pidato yang akan beliau sampaikan kepada mad’u dan ternyata tahapan tersebut ada yang sama seperti peneliti kaji dalam ilmu retorika yang diantaranya :

1. Mengetahui keadaan situasi kondisi masyarakat setempat, yang akan dijadikan sasaran dakwah, dengan menanyakan atau mencari informasi kepada salah satu warga setempat.

42

2. Setelah itu baru menyusun pesan-pesan yang akan disampaikan yang tentunya terdiri dari pendahuluan, isi pesan, ringkasan pesan atau inti sari, dan terakhir penutup disertai dengan do’a.

3. Mencari bahasa yang indah sehingga mudah dimengerti, dan humor-humor yang berkaitan dengan pembahasan agar mereka tidak merasa jenuh. 4. Ketika menyampaikan pesan dakwah yang harus diperhatikan adalah para

mad’u, bagaimana caranya ketika mereka mengantuk kita mengeluarkan pesan dengan suara atau vocal yang akhirnya membuat mereka semangat lagi.

5. Sambil dalam perjalanan menuju tempat, yaitu mengingat kembali pesan dakwah yang akan disampaikan sesuai dengan keadaan situasi kondisi masyarakat setempat, yang akan dijadikan sasaran dakwah.

Apabila dianalisis dengan pendekatan teori, maka retorika yang dilakukan oleh KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dan para waliyullah sudah tepat, karena ajaran dakwah yang disampaikan harus sesuai dengan daya nalar dan kemampuan mad’u yang berbeda salah satunya dengan pendekatan retorika, seperti yang diungkapkan oleh Syekh Datuk Tombak Alam, mengatakan bahwa retorika adalah seni mempergunakan bahasa untuk menghasilkan kesan yang diinginkan terhadap pendengar dan pembaca. Artinya seorang da’i harus mampu mengemas apa yang akan disampaikan, sehingga mudah dicerna atau diterima dan dapat meyakinkan mad’unya sehingga mereka mau mengamalkan pesan dakwah yang telah disampaikan oleh da’i tersebut dalam kehidupan sehari-hari, yang juga merupakan tujuan dari dakwah Islam itu sendiri. Sesuatu yang sederhana akan lebih menarik apabila penyampaian pesannya bagus, dari pada seorang yang pintar pengetahuan keagamaannya luas akan tetapi penyampaiannya tidak bagus yang sulit dimengerti oleh mad’u.

Dari uraian diatas penulis berpendapat bahwa definisi yang disampaikan oleh KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, pada hakikatnya sama, dengan definisi-definisi retorika yang ada. Demikian pula mengenai tahapan penyusunan pidato atau ceramah tidak ada bedanya dengan pendapat para pakar retorika, yang diantaranya seperti tahap penyusunan pidato yang dikenal dengan (The Five Konnons Rehoric) yang sering diterjemahkan dengan “Lima hukum retorika” dan lain sebagainya, yang intinya bahwa semua da’i sebelum berdakwah mereka mempersiapkan beberapa hal tersebut.

B. Penerapan Retorika, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa Dalam Berdakwah Selama dalam pengamatan penulis mengikuti pengajian yang dilaksanakan setiap hari Jum’at malam Sabtu ba’da Shalat Isya di Majelis Ta’lim Daarul Hikmah, tepatnya di daerah Srengseng Jakarta Barat, banyak para jama’ah yang berdatangan dari daerah-daerah yang jaraknya cukup jauh dari bapak-bapak hingga para remaja menghadirinya. Inilah suatu bukti kehebatan retorika KH. Ahmad Syafi’I Mustawa dalam berdakwah, dari kalangan bawah hingga kalangan atas dapat memahami pesan-pesan dakwah yang telah disampaikannya.

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa dakwah merupakan kewajiban seorang muslim laki-laki dan perempuan, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dengan berbagai macam cara, maka siapapun dapat berdakwah. Dalam hal ini keberadaan retorika itu sangat penting untuk mencapai keberhasilan dalam dakwah. Dakwah yang dilakukan tanpa adanya pesiapan dan segala macam yang berhubungan dengan retorika, maka isi dakwah yang disampaikan itu tidak akan sepenuhnya tersampaikan dengan baik kepada sang mad’u. Namun tidak selamanya dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i selalu diterima berjalan dengan mulus, melainkan ada

beberapa orang yang tidak meresponnya. Tetapi semua itu tantangan, dalam hal ini KH. Ahmad Syafi’i Mustawa malah semakin merasa tertantang lebih semangat lagi.

Maka dalam hal ini peranan retorika dalam pelakasanaan dakwah bil-lisan sangatlah begitu penting, dikarenakan untuk menentukan seberapa besar dalam keberhasilan dakwah itu sendiri. Dalam hal ini Nabi Muhammad sebagai Rasulullah SAW adalah seorang manusia yang sempurna, yang diantaranya ahli dalam retorika yang bisa membuat orang tersenyum dan menangis. Begitu semangatnya Rasulullah SAW dalam mensyiarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia, dengan demikian menjadikan contoh bagi para da’i untuk tetap semangat dalam mensyiarkan Islam.

Dalam berdakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa memiliki retorika yang sangat bagus, kemampuan retorika beliau yang menarik dengan kaya banyaknya kosa kata, tak heran membuat beliau jadi penceramaah yang handal. Dakwah merupakan misinya untuk menyebar luaskan Islam dan realisasi ajarannya adalah dakwah bilhikmah yang beliau lakukan. Sesuai dengan Al Qur’an firman Allah SWT, beliau berkata :

"# $ %

&'(

)

*, $ -. / %

0123$

4 5

6'(78%9

:;

<

#=5

>* ?7%9

6

: '@

6 

A 9

)

#=5 %

>* ?7%9

BC - D7, $

E@F

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125).43

43

Muhammad Rifa’i, Al-Qur’an dan Terjemah, (Semarang: CV. Wicakscana. 1991), cet. Ke-1 hal. 254

Dan dalam firman Allah SWT yang lain yaitu :

H N %

&d? " %9

6 N

v# w

xg

; '( ?

A 8 N"# ^

\y mz  $

"j|8}

)

U~ d

GH

6 N

O H PQR

L -7, J %

6 N

O H PQR

#=5 %

OLJL = $

>* U $

E

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ibrahim: 4)

Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab itu, bukanlah berarti bahwa Al Qu'an untuk bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh manusia. disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat. Disisnilah pentingnya menggunakan retorika dalam berdakwah yang akan menjadikan pembicaraan terfokus.

KH. Ahmad Syafi’i Mustawa ketika beliau sebelum menyampaikan pesan-pesan dakwah, terlebih dahulu beliau meluruskan niat bahwa semata-mata dakwah yang beliau lakukan karena Allah SWT. Bukan untuk menjadikan dakwah sebagai sebuah penghasilan untuk mencari nafkah, dan semua itu bagian dari aktivitas ibadah seseorang untuk meningkatkan keimanannya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Haditsnya: “ Barang siapa yang melihat sebuah kemungkaran maka haruslah dia mengubahnya dengan kekuatan tangannya, maka apabila tidak sanggup lakukanlah dengan ucapan, dan apabila tidak sanggup lakukanlah dengan hati karena itulah selemah-lemah iman.”

Dalam dakwanya KH. Ahmad Syafi’i Mustawa sudah sangat menguasai materi dakwahnya kontak visual dan kontak mental beliau dengan khalayak hadir

dengan baik, sehingga jama’ah pun dapat memperhatikan dengan serius. Olah vocal atau suara yang beliau miliki sangat khas, nada dan irama suara yang turun naik terkadang mendatar dan terkadang tinggi. Isi ceramah beliau mengalir begitu saja sehingga setiap kata yang keluar dari mulut beliau memiliki makna yang membuat pendengar merasa tertarik untuk terus mengikuti ceramah beliau sampai selesai.

KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam berbicara di hadapan para jama’ahnya benar-benar menampilkan kpribadiannya. Beliau berbicara dengan menggunakan tangan, raut wajah, bahasa tubuh (Body Language), sehingga gaya menyampaikan beliau yang seperti itu meyakinkan para jama’ah agar tetap fokus mendengarkan dakwah beliau.

Dalam berbicara dihadapan jama’ah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa benar-benar menampilkan sosok kepribadiannya tanpa harus meniru satu guru yang dijadikan contoh dalam gaya dakwah da’i-da’i lain seperti para da’i kondang yang diantaranya KH. Zainuddin MZ. Ust. Gimnastiar, Ust. Jefri Al Bukhori, dan lainnya. Melainkan mengkaliborasi dalam megajar gaya Al Habib umar bin Abdurrahman Asseqaf, jika ceramah di atas panggung meniru sedikit gaya Al Habib Idrus Jamalul Lail, karena Kiyai ngaji sama bapaknya Habib Idrus kitab tafsir Jalalain. Tanpa menghilangkan jati diri dan menjadi diri sendri.

Karena jika kita meniru gaya ceramah orang, kita berada di bawah mereka. Sebagai contoh seorang pemuda yang mengatakan ini guru saya, ini bapak saya, ini majikan saya tapi katakan inilah diri saya. Itulah perkataan yang harus dia sampaikan kepada orang lain. 44 KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam dakwahnya menggunakan bahasa komunikasi Verbal dan Non-Verbal seperti dengan penjelasan lisan perkataan-perkataan, menggunakan tangan, raut wajah, bahasa tubuh seperti ketika menyebut

44

lihat abu jahal, firaun tunjuk ketangan kiri dan berdoalah kepada Allah SWT dengan mengangkat kedua tangan. Sehingga membuat jama’ah yang mendengar dan melihatnya mengerti dan paham atas apa yang disampaikannya.

KH. Ahmad Syafi’i Mustawa sebagai seorang da’i keturunan darah betawi asli mempunyai sebuah ciri khas dalam berdakwahnya, beliau mencampur adukan bahasa Indonesia dengan bahasa Betawi dan Arab. Maka bahasa merupakan salah satu simbol komunikasi yang memegang perananan penting agar para mad’u memahami isi pesan yang disampaikannya, tidak harus dengan bahasa Indonesia yang baku yang tidak dapat dimengerti oleh mad’u.

Kepandaian KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam menyusun kata-kata dengan kekayaan bahasa yang beliau miliki yang diantaranya bahasa Indonesia, Arab, Sunda dan bahasa Betawi, sehingga membuat ceramah yang disampaikan enak didengar dan mudah dipahami oleh para mad’u yang mendengarkannya. beliau berbicara dengan bahasa yang jelas, lantang berbicara tanpa ada takut sedikitpun. Karena yang lebih beliau takuti adalah Allah SWT, apabila beliau tidak menyampaikan ilmu yang beliau miliki.

Dalam menyampaikan metode ceramah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menggunakan humor hanya 30% dan selebihnya 70% ialah pesan dakwah yang berisi menanamkan akidah, syariat dan akhlak paling bagus-bagusnya muballigh adalah sebelum menutup dia tanamkan pada jama’ah untuk mengaji kitab kuning/klasik dengan mengaji kitab karangan ulama salaf, maka akhlaknya jadi bagus dan pergaulannya bagus. Jangan kebanyakan tawaan, sasaran dakwah yaitu mengembalikan kepada fitrahnya yang hakiki.

Sebatas 30% humor yang KH. Ahmad Syafi’i Mustawa gunakan dalam dakwahnya itu saja. Dan selebihnnya70% ialah pesan dakwah agar para mad’u

memperoleh bekal ilmu setelah pulang bukan semata-mata karena humornya saja yang mengakibatkan mematikan hati, bahkan tidak jarang mereka selesai menyaksikan ceramah tidak memperoleh apa-apa melainkan gagalnya pesan yang disampaikan.45

Kehidupan manusia tidak terlepas dari sense of humor, seorang da’i yang profesional akan menyisipkan pesan-pesan dakwahnya dalam humor tersebut, bahkan rasa humor dapat digunakan untuk menyajikan suatu masalah yang dianggap serius , dan berat menjadi suatu bentuk sajian yang lebih ringan kadang para da’i memakai humor untuk memikat para mad’uya. Sehingga dengan rangsangan humor tersebut, ide-ide yang disampaikan akan mengena emosi mad’unya. Namun demikian humor dalam ceramah bukan sembarang humor seperti halnya pelawak, humor yang dimaksud adalah humor yang bersifat edukatif dan berisi ceramah.

Menurut beliau dakwah akan berhasil dengan baik apabila para da’i sudah mengamalkan pesan dakwah yang akan mereka sampaikan, dengan menggunakan bahasa yang sopan dan santun serta dengan pakain yang rapih, karena banyak masyarakat awam melihat dan menilai dari luar. Banyak orang yang hanya bisa menyampaikan pada orang-orang sementara dia belum mengamalkannya. Maka dari itu sebelum dakwah kita mengamalkan dahulu apa yang ingin kita sampaikan.

Berikut ini merupakan sebagai beberapa contoh dari beberapa penerapan retorika dakwah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa dalam dakwah bil-lisan pada pengajian rutin hari Jum’at malam Sabtu di majelis ta’lim Daarul Hikmah, Srengseng, Jakarta Barat. Pada saat pengajian rutin malam Sabtu itu dilaksanakan diawali dengan pembacaan shalawat Ya Rabbibil Musthafa tawasul abaib setelah itu shalawat Dustur, kemuadian do’a pembuka majelis shalawat Fatih sebagai bahan merenung sebelum

45

menyampaikan ilmu tawasul sebagai golongan ahlus sunnah waljama’ah membaca do’a futuh.

Kemudian selanjutnya KH. Ahmad Syafi’i Mustawa mengisi pengajian biasanya beliau memulai dengan mengucapkan salam, membaca hamdalah, dan shalawat kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW, serta Hadits mukoddimah, seperti:

“...Alhamdulillahirabbil ‘Alamin Wal ‘Aqibatul Muttaqin Wala ‘Udwana Illa‘Alazhzholimin, Asyhadualla ilahaillahu Wahdahula Syarikalah Wa ashaduanna Muhammadan ‘Abduhu warosuluh, La Nabiya Ba’dah

“...Fainnaka asdakal hadits kitabullah wakhoirulhadi hadiyu Muhammadin SAW, Wasarru likulli muhdasatuha wakulla muhdasatin bid’ah wakulla bid’atin dhalalah wakullah dhalaltin finnar . wafissantil muttashil ilal imami muallif rahimakumullahu ta’ala waadama nafa bihi wabibarakati ulumih wabikum fiddaroin amin atqol, qala radiyallahu anhu.46

Berdasarkan observasi penulis, hampir setiap memulai mengajar dengan gaya ceramah format pembukaan yang digunakan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa seperti contoh di atas. Dengan memulai bermunajat kepada Allah SWT, dalam bahasa yang mudah dimengerti supaya apa yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik dan diamalkan dalam keseharian para jama’ah.

Setelah KH. Ahmad Syafi’i Mustawa membukanya, kemudian beliau memulai menyampaikan pesan yang akan diberikan kepada para jama’ah yang berada di majelis ta’lim Daarul Hikmah. Ketika beliau menyampaikan tentang sebuah kematian, seperti:

“...Kematian pasti akan datang tidak ada keragu-raguan, kematian adalah laksana sebuah jembatan atau penghubung, untuk berjumpa seorang kekasih kepada kekasihnya yaitu orang mukmin yang benar dan yang membenarkan. Rasa sakit itu ketika mati merupakan penebus dosa, ketika ia menjumpai rasa sakit tadi yang belum ia rasakan sebelumnya.”47

46

Hasil Penelitian Pribadi kepada KH. Ahmad Syafi’i Mustawa, 23 Januari 2009

47

Dari penjelasan KH. Ahmad Syafi’i Mustawa di atas, sesuai dengan kebenaran bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian tak terkecuali manusia. Sehingga akan menjadikan mereka berpikir untuk mempersiapkan kematian, bagaimana caranya agar pada saat mengahadapi kematian mereka tidak terlalu merasakan kesakitan yang luar biasa, dan mendapatkan tempat yang lebih baik di sisi Allah SWT. Dapat dilihat dalam contoh yang lain ketika menjelaskan tentang macam-macam kematian, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menjelaskan secara sistematis, yang diselingi dengan sedikit humor, seperti:

“...Matinya ulama, orang kaya, fakir miskin dan matinya pemimpin. Yang pertama matinya Ulama adalah merupakan kegelapan dalam agama seperti para ulama yang telah meninggal dunia KH. Abdullah di Kebon jeruk, KH. Muhammad Arsyat, KH. Muhammad jenggot/ Muhammad Jubir dan Mu’allim KH. Syafi’i Hazami di Kebayoran Pondok Pesantren Al-Arbain, karena mereka semua paku alam. Sesungguhnya daripada tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dengan meninggalnya para ulama, kebodohan meraja rela, perzinahan meraja rela, minuman keras terbiasa, laki-laki sedikit dan banyaknya kaum wanita. Kedua matinya orang kaya merupakan penyesalan harta warisan jadi rebutan keturunan. Ketiga matinya orang fakir miskin merupakan kesenangan karena proses diakhiratnya gampan. Dan yang keempat matinya pemimpin merupakan fitnah. “...Ulama, orang kaya, fakir miskin dan pemimpin mereka semua kalau belum mati jangan dikubur ya.” Maka dari itu janganlah jauh dari majelis-majelis ilmu dan jangan jauh dari para ulama datangi majelis-majelis ta’lim habaib.”

Dari penjesan di atas, KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menjelaskan betapa pentingnya mengingat kematian dan betapa pentingnya sebuah ilmu karena dengan ilmu kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta akan dapat melaksakan segala aktivitas ibadah dengan baik dan sempurna.

Setelah dari contoh beberapa pesan yang disampaikan di atas, kemudian KH. Ahmad Syafi’i Mustawa menutupnya dengan sebuah harapan kepada para jama’ah semoga ilmu yang didapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan membaca shalawat, hamdalah dan salam serta do’a penutup majelis ta’lim, seperti: “...Mudah-mudahan ilmu yang kita tuntut dimalam ini, baik itu dalam bentuk firman-firman Allah, Hadits-Hadits Nabi ataupu aktsarusshahabah perkataan pra

sahabat butiran-butiran mutiara hikmah rangkaian kata untaian jamur katulistiwa yang terbentangan dalam kitab ini. Itu semua mungkin adalah kalimat-kalimat yang benar firman-firman Allah atau Hadits-Hadits Nabi, namun disana sini mungkin ada

Dalam dokumen Retorika dakwah KH.Ahmad Syafi'i Mustawa (Halaman 32-49)

Dokumen terkait