ISSN 1829 - 8532 │Hal. 320
PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI BUTIK UNTUK MENETAPKAN HARGA SEWA
Dwi Winarno Elok Nurul Ula
Program Studi Akuntansi, Universitas Gajayana Malang E-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode perhitungan harga pokok produksi untuk menentukan harga jual dan harga sewa pada butik Allona Collection. Metode full costing adalah metode menentukan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produsi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik baik yang bersifat variabel maupun tetap. Harga jual dapat diperoleh dari hasil perhitungan harga pokok produksi ditambah dengan laba yang diharapkan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Butik Allona Collection, penelitian terdahulu, dan sumber buku yang terkait. Setelah melakukan perhitungan harga pokok produksi sebagai dasar penetapan harga jual dengan menggunakan metode full costing diperoleh hasil yang berbeda dengan metode yang dilakukan perusahaan. Hasil perhitungan harga jual dengan metode full costing sebesar Rp 15.779.323 sedangkan dengan metode perusahaan sebesar Rp 15.174.896. Selisih perhitungan harga jual tersebut untuk satu gaun sebesar Rp 604.426. Hal ini dikarenakan metode full costing memasukkan semua biaya produksi baik yang bersifat tetap maupun variabel. Diharapkan Butik Allona Collection menerapkan metode full costing dalam perhitungan harga pokok produksi dalam menentukan harga jual, karena metode full costing lebih akurat dibanding dengan metode perusahaan. Dan harga sewa 30% dari harga jual yaitu Rp 2.265.885. gaun tersebut disewakan dalam 5x sewa total laba harga sewa sebesar Rp 11.329.425.
Kata kunci: harga pokok produksi, harga jual, metode full costing PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang semakin canggih di era modern mempengaruhi perkembangan dunia usaha sehingga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Para pelaku usaha diharapkan mampu mengikuti perkembangan tersebut serta mampu menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat agar tujuan perusahaan dapat tercapai secara optimal. Persaingan harga, kualitas, dan sebagainya menjadikan sebagian perusahaan harus membenahi berbagai aspek di dalam perusahaannya agar mampu menghadapi persaingan tersebut. Perusahaan harus memaksimalkan pemakaian sumber daya yang dimiliki agar dapat berproduksi secara optimal, meminimumkan pemborosan, dan melakukan proses produksi yang efisien dan efektif.
Menurut Blocher dkk (2000:90) harga pokok produksi adalah harga pokok produk yang sudah selesai dan ditransfer ke produk dalam proses pada periode berjalan. Sedangkan menurut Hansen dan Mowen (2009:60) menyatakan harga pokok produksi mencerminkan total biaya barang yang diselesaikan selama periode berjalan. Harga pokok produksi juga disebut biaya produksi. Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi. Seperti yang telah dikemukakan oleh Simamora (2000:547) yang mendefinisikan biaya produksi adalah biaya yang digunakan untuk membeli bahan baku yang dipakai dalam membuat produk serta biaya yang dikeluarkan dalam mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi.
Perhitungan harga pokok produksi merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh setiap perusahaan. Dalam perhitungan harga pokok produksi yang tepat, maka harga jual suatu produk dapat diketahui dan ditentukan dengan tepat sehingga produk tidak overcost (dibebani biaya lebih dari yang seharusnya) dan juga tidak undercost (dibebani biaya kurang dari yang seharusnya).
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 321 Penentuan harga pokok produk menurut Mulyadi (2001:49), dapat dihitung dengan dua pendekatan, yaitu dengan menggunakan full costing dan variable costing. Full Costing merupakan salah satu metode penentuan cost produk, yang membebankan seluruh biaya produksi sebagai kos produk, baik biaya produksi yang berperilaku variabel maupun tetap. Variable costing merupakan salah satu metode penentuan cost produk, di samping full costing, yang membebankan hanya biaya produksi yang berperilaku variabel saja kepada produk. Full costing dan variable costing merupakan metode penentuan cost produk konvensional, yang dirancang berdasarkan kondisi teknologi manufaktur pada masa lalu. Alokasi biaya yang tepat dibutuhkan untuk menentukan harga pokok produksi yang akurat. Biaya langsung dapat ditelusuri dengan mudah namun biaya overhead sulit untuk ditelusuri. Maka dibutuhkan suatu metode yang dapat mengalokasikan biaya overhead secara tepat ke tiap produk. Selama ini perusahaan menggunakan biaya konvensional yang membebankan biaya secara tidak tepat ke tiap produk.
Butik Allona Collection merupakan salah satu industri yang memproduksi berberapa jenis gaun. Lokasi Butik berada dijalan Terusan Kawi, Malang. Butik Allona Collection memproduksi tiga jenis gaun, yaitu gaun pesta, pengantin dan remaja. Fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa butik allona collection masih menggunakan sistem biaya konvensioanal dalam menentukan harga pokok produksinya. Oleh karna itu diperlukan kecermatan dalam menghitung biaya-biaya yang dikeluarkan. Perhitungan biaya produksi sangat berpengaruh terhaap penentuan harga pokok produksi dan penentuan harga jual serta dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang telah dilaksanakan di di Butik Allona Collection sejak Desember 2014 sampai dengan bulan Juni 2015. Alasan memilih Butik Allona Collection karena masih menerapkan sistem penentuan harga pokok produksi yang konvensional sehingga akurasinya belum terstandar. Penelitian deskriptif ini mengoptimalkan teknik analisis dokumen sebagai dumber informasi sekunder yang bersumber dari Butik Allona Collection. Dengan mengoptimalkan analisis dokumen tersebut, data dianalisis dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif bersifat deskriptif dengan fokus analisis pada, Harga Pokok Produksi (HPP), danPerhitungan penentuan Harga jual.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Produk utama yang dihasilkan adalah gaun pengantin, gaun remaja dan pesta. Berikut ini penjelasan jenis produk dan penyelesaiannya.
1. Gaun pengantin yang diproduksi berupa gaun pengantin modern (barat ataupun Eropa). Untuk menyelesaikan gaun pengantin dapat dilakukan kurang lebih selama 2 bulan, tergantung tingkat kesulitan. Untuk satu gaun pengantin dapat dikerjakan dengan 3 orang. Jumlah produk yang dihasilkan dalam setahun adalah 4 gaun.
2. Gaun remaja merupakan produk pakaian untuk remaja yang glamor untuk pesta. Untuk menyelesaian produk ini dapat dilakukan oleh 1 orang dengan waktu penyelesaian sekitar 3 atau 4 minggu, tergantung tingkat kesulitan. Jumlah produk yang dihasilkan dalam setahun adalah 12 gaun.
3. Gaun pesta merupakan produk gaun untuk wanita dewasa. Untuk menyelesaian produk ini dapat dilakukan oleh 1 orang dengan waktu penyelesaian sekitar 3 atau 4 minggu, tergantung tingkat kesulitan. Jumlah produk yang dihasilkan dalam setahun adalah 18 gaun.
Adapun biaya produksi dalam penelitian ini masing-masing jenis produk diambil satu model. Dalam menghitung biaya produksi, perusahaan belum memisahkan antara biaya bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Dengan kata lain Butik Allona Collection dalam menentukan harga pokok produksi masih menggunakan sistem konvensional. Perusahaan hanya melakukan pencatatan biaya untuk masing-masing produk secara rinci sebagai berikut.
1. Gaun Pengantin
Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan gaun pengantin pada dasarnya dapat dibedakan sebagai berikut:
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 322 a. Biaya bahan utama adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku utama sehingga terbentuklah gaun pengantin. Bahan utama untuk pembuatan gaun pengantin adalah kain broklat, kain satin dain tile (halus dan kaku) serta furing.
b. Biaya bahan penolong adalah biaya yang dikeluarkan untuk melengkapi gaun sehingga tampak indah dan nyaman digunakan. Bahan penolong untuk pembuatan gaun pengantin antara lain renda, batu permata, resleting, serta bahan lain yang fungsinya untuk memperindah gaun ataupun untuk memperbaiki bentuk gaun.
c. Biaya tenaga kerja adalah biaya tenaga kerja langsung yang terkait dengan produk yang dibuat. Biaya ini meliputi biaya tenaga kerja untuk penjahit pakaian, biaya tenaga kerja untuk bordir, biaya tenaga kerja untuk pemasangan payet, serta biaya tenaga kerja desain dan pola. d. Biaya lain-lain merupakan biaya yang turut dikeluarkan untuk pembuatan gaun pengantin,
tetapi tidak terkait secara langsung. Biaya tersebut adalah biaya listrik, biaya telpon pembungkus, perawatan mesin, ongkos pengiriman bahan, tenaga pembelian bahan, pencucian.
Adapun rincian biaya produksi gaun pengantin adalah sebagai berikut Tabel 1. Rincian Biaya Produksi Gaun Pengantin
Bahan Jumlah Satuan Harga per unit (Rp) Nilai
Kain Satin 5 Meter 18.500 92.500
Kain brokat 1 potong (2,5 Meter) 275.000 275.000
Kain tile halus 23 Meter 7.500 172.500
Kain tile i/2 kaku 13,8 Meter 7.000 96.600
Kain tile kaku 9,2 Meter 6.500 59.800
Furing gm 2 Meter 13.000 26.000
Total 722.400
Bahan penolong
Busa angin 10 Meter 5.500 55.000
Fiselin 2 Meter 4.000 8.000
M 33 (pelapos) 1,5 Meter 8.500 12.750
Trikot 2 Meter 15.000 30.000
Cup bra 1 Pasang 8.500 8.500
Tulang baju 5 Meter 8.000 40.000
Reseting 1 Buah 8.500 8.500
Renda 1 Pasang 32.000 32.000
Permata bunga 7 Buah 6.500 45.500
Permata swaroski besar 22 Buah 3.000 66.000
Permata swaroski
tanggung 30 Buah 2.750 82.500
Permata swaroski kecil 20 Buah 1.750 35.000
Total bahan 423.750
Biaya Tenaga Kerja
Ongkos bordir 150.000
Ongkos memayet 175.000
Ongkos menjahit 4.500.000
Biaya desain dan pola 7.000.000
Total biaya tenaga kerja 11.825.000
biaya lain-lain 750.000
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 323 Sumber: Butik Allona Collection
Berdasarkan rincian biaya produksi tersebut, maka dapat dihitung Harga Pokok Produksi gaun pengantin untuk 1 unit, karena masing-masing gaun pengantin memiliki biaya yang berbeda, sebagai berikut.
Perhitungan Harga Pokok Produksi
Bahan utama Rp. 722.400
Bahan finising Rp. 423.750
Upah tenaga kerja Rp. 11.825.000
Lain-lain Rp. 750.000
Biaya produksi Rp. 13.721.150
Barang dalam proses awal Rp. 0
Rp. 13.721.150 Barang dalam proses akhir Rp. (0)
Harga Pokok Produksi Rp. 13.721.150
Jumlah produksi 1 unit
Harga Pokok Produksi pergaun Rp. 13.721.150
Berdasarkan Harga Pokok Produksi tersebut ditentukan harga jual produk gaun pengantin, dengan mark up laba sebesar 15% dari Harga pokok produksi.
Perhitungan harga jual
Harga Pokok Produksi Rp. 13.721.150,00 Laba (15% dari Harga Pokok Produksi) Rp. 2.058.172,50
Harga jual Rp. 15.779.322,50
Jumlah produksi 1 unit
Harga jual pergaun Rp. 15.779.323
Untuk menentukan harga sewa gaun didasarkan kebijakan perusahaan, yaitu sebesar 30% dari harga jual. Berikut ini adalah perhitungan harga sewa gaun pengantin.
Perhitungan harga sewa
Harga jual Rp. 15.779.323
Biaya sewa (30% harga jual) Rp. 4.733.797
2. Gaun Pesta
Sebagaimana biaya gaun pengantin, gaun pesta dibedakan sebagai berikut:
a. Biaya bahan utama adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelihan bahan baku utama sehingga terbentuklah gaun pesta. Bahan utama untuk pembuatan gaun pesta adalah kain kain satin halus, kain brokat, kain sifon dan kain furing.
b. Biaya bahan penolong adalah biaya yang dikeluarkan untuk melengkapi gaun sehingga tampak indah dan nyaman digunakan. Bahan penolong untuk pembuatan gaun pesta antara lain renda, batu permata, resleting, serta bahan lain yang fungsinya untuk memperindah gaun ataupun untuk memperbaiki bentuk gaun.
c. Biaya tenaga kerja adalah biaya tenaga kerja langsung yang terkait dengan produk yang dibuat. Biaya ini meliputi biaya tenaga kerja untuk penjahit pakaian, biaya tenaga kerja untuk pemasangan payet, serta biaya tenaga kerja desain dan pola.
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 324 d. Biaya lain-lain merupakan biaya yang turut dikeluarkan untuk pembuatan gaun pesta, tetapi tidak terkait secara langsung. Biaya tersebut adalah biaya listrik, biaya telpon pembungkus, perawatan mesin, ongkos pengiriman bahan, tenaga pembelian bahan, pencucian.
Adapun rincian biaya produksi gaun pengantin adalah sebagai berikut: Tabel 2. Rincian Biaya Produksi Gaun Pesta
Bahan Jumlah Satuan Harga per unit (Rp) Nilai
Kain Satin 4 Meter 37.500 150.000
Kain brokat 0,5 Meter 55.000 27.500
Furing gm 5 Meter 13.000 65.000
Kain sifon 6 Meter 27.500 165.000
Total 407.500
Bahan penolong
Fiselin 2 Meter 4.000 8.000
Trikot 2 Meter 15.000 30.000
Cup bra 1 Pasang 8.500 8.500
Reseting 1 buah 8.500 8.500
Permata swaroski besar 12 buah 3.000 36.000
Permata swaroski tanggung 6 Buah 2.750 16.500
Permata swaroski kecil 8 Buah 1.750 14.000
Batu pecah 1 Pack 8.000 8.000
Pasir kotak 2 pack 5.000 10.000
Total bahan 139.500
Biaya Tenaga Kerja
Ongkos memayet 200.000
Ongkos menjahit 1.500.000
Biaya desain dan pola 3.500.000
Total biaya tenaga kerja 5.200.000
Biaya lain-lain 550.000
Total Biaya 6.297.000
Sumber: Butik Allona Collection
Berdasarkan rincian biaya produksi tersebut, maka dapat dihitung Harga Pokok Produksi gaun pesta untuk 1 unit, karena masing-masing gaun pesta memiliki biaya yang berbeda sebagai berikut
Perhitungan Harga Pokok Produksi
Bahan utama Rp. 407.500
Bahan finising Rp. 139.500
Upah tenaga kerja Rp. 5.200.000
Lain-lain Rp. 550.000
Biaya Produksi Rp. 6.297.000
Barang dalam proses awal Rp. 0 Rp. 6.297.000 Barang dalam proses akhir Rp. (0) Harga Pokok Produksi Rp. 6.297.000
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 325 Harga Pokok Produksi pergaun Rp. 6.297.000
Berdasarkan Harga Pokok Produksi tersebut ditentukan harga jual produk gaun pesta, dengan mark up laba sebesar 15% dari Harga pokok produksi.
Perhitungan harga jual
Harga Pokok Produksi Rp. 6.297.000 Laba (15% dari Harga Pokok
Produksi) Rp. 944.550
Harga jual Rp. 7.241.550
Jumlah produksi 1 unit
Harga jual pergaun Rp. 7.241.550
Untuk menentukan harga sewa gaun didasarkan kebijakan perusahaan, yaitu sebesar 30% dari harga jual. Berikut ini adalah perhitungan harga sewa gaun pesta.
Perhitungan harga sewa
Harga jual Rp. 7.241.550
Biaya sewa (30% harga jual) Rp. 2.172.465 3. Gaun Remaja
Biaya gaun remaja dibedakan sebagai berikut:
a. Biaya bahan utama adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelihan bahan baku utama sehingga terbentuklah gaun remaja. Bahan utama untuk pembuatan gaun remaja adalah kain songket, kain silk jepang, kain furing dan kain sifon.
b. Biaya bahan penolong adalah biaya yang dikeluarkan untuk melengkapi gaun sehingga tampak indah dan nyaman digunakan. Bahan penolong untuk pembuatan gaun remaja antara lain accesoris, permata, resleting, serta bahan lain yang fungsinya untuk memperindah gaun ataupun untuk memperbaiki bentuk gaun.
c. Biaya tenaga kerja adalah biaya tenaga kerja langsung yang terkait dengan produk yang dibuat. Biaya ini meliputi biaya tenaga kerja untuk penjahit pakaian, biaya tenaga kerja untuk pemasangan payet, serta biaya tenaga kerja desain dan pola.
d. Biaya lain-lain merupakan biaya yang turut dikeluarkan untuk pembuatan gaun remaja, tetapi tidak terkait secara langsung. Biaya tersebut adalah biaya listrik, biaya telpon pembungkus, perawatan mesin, ongkos pengiriman bahan, tenaga pembelian bahan, pencucian.
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 326 Adapun rincian biaya produksi gaun pengantin adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Rincian Biaya Produksi Gaun Remaja
Bahan Jumlah Satuan Harga Per Unit (Rp) Nilai
Kain Songket 3,5 Meter 35.000 122.500
Kain silk jepang 1 Meter 8.500 8.500
Furing gm 4 Meter 13.000 52.000
Kain sifon 1 Meter 27.500 27.500
Total 210.500
Bahan penolong
Fiselin 2 Meter 4.000 8.000
Cup bra 1 Pasang 8.500 8.500
Reseting 1 Buah 8.500 8.500
Bisban 2 Buah 3.500 7.000
Accesoris bunga 1 Buah 8.000 8.000
Permata swaroski kecil 48 Buah 1.750 84.000
Total bahan 124.000
Biaya Tenaga Kerja
Ongkos menjahit 1.500.000
Biaya desain dan pola 2.500.000
Total biaya tenaga kerja 4.000.000
biaya lain-lain 485.000
Total Biaya 4.819.500
Sumber : Butik Allona Collection
Berdasarkan rincian biaya produksi tersebut, maka dapat dihitung Harga Pokok Produksi gaun remaja untuk 1 unit, karena masing-masing gaun remaja memiliki biaya yang berbeda sebagai berikut
Perhitungan harga pokok produksi
Bahan utama Rp. 210.500
Bahan finising Rp. 124.000
Upah tenaga kerja Rp. 4.000.000
Lain-lain Rp. 485.000
Biaya produksi Rp. 4.819.500
Barang dalam proses awal Rp. 0 Rp. 6.297.000 Barang dalam proses akhir Rp. (0) Harga Pokok Produksi Rp. 6.297.000
Jumlah produksi 1 unit
Harga Pokok Produksi pergaun Rp. 4.819.500
Berdasarkan Harga Pokok Produksi tersebut ditentukan harga jual produk gaun pesta, dengan mark up laba sebesar 15% dari Harga pokok produksi.
Perhitungan harga jual
Harga Pokok Produksi Rp. 4.819.500 Laba (15% dari Harga Pokok Produksi) Rp. 722.925
Harga jual Rp. 5.542.425
Jumlah produksi 1 unit
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 327 Untuk menentukan harga sewa gaun didasarkan kebijakan perusahaan, yaitu sebesar 30% dari harga jual. Berikut ini adalah perhitungan harga sewa gaun pesta.
Perhitungan harga sewa
Harga jual Rp. 5.542.425
Biaya sewa (30% harga jual) Rp. 1.662.728 PEMBAHASAN
1. Perhitungan Harga Pokok Produksi Berdasarkan Full Costing
Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Butik Allona Collection dalam menentukan harga pokok produksi masih menggunakan sistem konvensional dan belum memperhatikan aturan-aturan akuntansi. Perusahaan hanya melakukan rincian pencatatan pengeluaran biaya untuk membuat suatu gaun. Selanjutnya berdasarkan rincian tersebut, perusahaan menentukan harga jual dan harga sewa suatu gaun. Dengan kondisi ini perusahaan akan dapat mengalami kesalahan dalam menentukan harga jual dan sewa, karena tidak memperhitungkan biaya-biaya yang ada secara benar.
Biaya harga jual yang ditetapkan dari rincian biaya tersebut bisa terlalu tinggi ataupun terlalu rendah. Jika harga jual dan sewa yang ditetapkan terlalu tinggi, maka perusahaan akan sulit untuk memasarkan produk dan tidak dapat bersaing dengan produk dari perusahaan lain. Begitu juga jika harga jual atau harga sewa yang ditetapkan terlalu rendah, maka perusahaan dapat mengalami kerugian, karena harga jual dan harga sewa tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.
Perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh Butik Allona Collection masih sangat sederhanan. Biaya yang dihtung sebagai biaya produksi masih belum memperhatikan biaya overhead yang turut menjadi beban suatu produk seperti belum memasukkan biaya penyusutan mesin, biaya pemeliharaan mesin, biaya tenaga kerja tidak langsung. Hal ini menjadikan penetapan harga pokok produksi yang digunakan menjadi kurang akurat, sehingga kurat tepat untuk penetapan harga jual dan harga sewa.
Untuk mengatasi permasalahan perusahaan tersebut, maka dapat digunakan metode penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) dengan menggunakan metode Full costing. Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variable maupun tetap. Dengan menggunakan Metode Full Costing, perusahaan akan memperoleh beberapa manfaat sebagai berikut.
1. Biaya Overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap, dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead yang sesungguhnya.
2. Selisih BOP akan timbul apabila BOP yang dibebankan berbeda dengan BOP yang sesungguh- nya terjadi.
Berikut ini ditunjukkan perhitungan Harga Pokok Produksi berdasarkan full costing 1. Biaya produksi gaun pengantin berdasarkan full costing
Berdasarkan data rincian biaya yang ada, serta informasi biaya lainnya dari perusahaan, maka dapat disusun Harga Pokok Produksi untuk gaun pengantin, dengan metode full costing sebagai berikut.
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 328 Tabel 4. Harga Pokok Produksi Gaun Penganting
Dengan Metode Full Costing
Jumlah Satuan
Harga per
unit (Rp) Nilai
Bahan Baku
Kain Satin 5 Meter 18.500 92.500
Kain brokat 1
potong (2,5
meter) 275.000 275.000
Kain tile halus 23 Meter 7.500 172.500
Kain tile i/2 kaku 13,8 Meter 7.000 96.600
Kain tile kaku 9,2 Meter 6.500 59.800
Furing gm 2 Meter 13.000 26.000
Total 722.400
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja desain dan pola 7.000.000
Tenaga kerja menjahit 4.500.000
Tenaga kerja bordir 150.000
Tenaga kerja payet 175.000
Total 11.825.000
Biaya Overhead Produksi
Tenaga kerja tidak langsung
Tenaga kerja pengiriman
bahan 1 Baju 15.000 15.000
Tenaga kerja
perawatan/pencucian 1 Baju 80.000 80.000
Total 95.000
Biaya bahan penolong
Busa angin 10 Meter 5.500 55.000
Fiselin 2 Meter 4.000 8.000
M 33 (pelapos) 1,5 Meter 8.500 12.750
Trikot 2 Meter 15.000 30.000
Cup bra 1 Pasang 8.500 8.500
Tulang baju 5 Meter 8.000 40.000
Reseting 1 Buah 8.500 8.500
Renda 1 Pasang 32.000 32.000
Permata bunga 7 Buah 6.500 45.500
Permata swaroski besar 22 Buah 3.000 66.000
Permata swaroski tanggung 30 Buah 2.750 82.500
Permata swaroski kecil 20 Buah 1.750 35.000
Lain-lain (benang, obras) 10.000
Total 433.750
Biaya penyusutan mesin 1 Baju 17.647
Biaya pemeliharaan mesin 1 Baju 1.765
Biaya listrik 1 Baju 13.235
Biaya telpon 1 Baju 11.765
Biaya pengemasan 1 Baju 75.000
Total Biaya Overhead Pabrik 648.162
Biaya produksi 13.195.562
Barang dalam proses awal 0
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 329
Jumlah Satuan
Harga per
unit (Rp) Nilai
Barang dalam proses akhir (0)
Harga Pokok Produksi 13.195.562
Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan perhitungan harga pokok produksi gaun pengantin dengan metode full costing tersebut, selanjutnya dapat dihitung Harga Pokok Produksi sebagai berikut
Perhitungan harga pokok produksi
Biaya Bahan Baku Rp. 722.400
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 11.825.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 648.162
Biaya produksi Rp. 13.195.562
Barang dalam proses awal Rp. 0
Rp. 13.195.562 Barang dalam proses akhir Rp. (0)
Harga Pokok Produksi Rp. 13.195.562
Jumlah produksi 1 unit
Harga Pokok Produksi pergaun Rp. 13.195.562
Sebagaimana kebijakan perusahaan , harga jual gaun pengantin ditetapkan sebesar 15% dari Harga Pokok Produksi. Adapun perhitungan harga jual berdasarkan metode full costing adalah sebagai berikut.
Perhitungan harga jual
Harga Pokok Produksi Rp. 13.195.562 Laba (15% dari Harga
Pokok Produksi) Rp. 1.979.334
Harga jual Rp. 15.174.896
Jumlah produksi 1 unit
Harga jual pergaun Rp. 15.174.896 atau Rp. 15.105.900
Perhitungan harga sewa gaun pengantin berdasarkan metode full costing adalah sebagai berikut.
Perhitungan harga sewa
Harga jual Rp. 15.105.900
Biaya sewa (30% harga jual) Rp. 2.265.885 2. Biaya Produksi Gaun Pesta Berdasarkan Full Costing
Berdasarkan data rincian biaya yang ada, serta informasi biaya lainnya dari perusahaan, maka dapat disusun Harga Pokok Produksi untuk gaun pesta, dengan metode full costing sebagai berikut.
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 330 Tabel 5. Harga Pokok Produksi Gaun Pesta
Dengan Metode Full Costing
Jumlah Satuan
Harga per
unit (Rp) Nilai
Bahan Baku
Kain Satin 4 Meter 37.500 150.000
Kain brokat 0,5 Meter 55.000 27.500
Furing gm 5 Meter 13.000 65.000
Kain sifon 6 Meter 27.500 165.000
Total 407.500
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja desain dan pola 3.500.000
Tenaga kerja menjahit 1.500.000
Tenaga kerja payet 200.000
Total 5.200.000
Biaya Overhead Produksi
Tenaga kerja tidak
langsung
Tenaga kerja pengiriman
bahan 1 Baju 15.000 15.000
Tenaga kerja
perawatan/pencucian 1 Baju 80.000 80.000
Total 95.000
Biaya bahan penolong
Fiselin 2 Meter 4000 8.000
Trikot 2 Meter 15000 30.000
Cup bra 1 Pasang 8500 8.500
Reseting 1 Buah 8500 8.500
Permata swaroski besar 12 Buah 3000 36.000
Permata swaroski
tanggung 6 Buah 2750 16.500
Permata swaroski kecil 8 Buah 1750 14.000
Batu pecah 1 Pack 8000 8.000
Pasir kotak 2 Pack 5000 10.000
Lain-lain (benang, obras) 10.000
Total 149.500
Biaya penyusutan mesin 1 Baju 8.824
Biaya pemeliharaan mesin 1 Baju 882
Biaya listrik 1 Baju 6.618
Biaya telpon 1 Baju 5.882
Biaya pengemasan 1 Baju 75.000
Total Biaya Overhead
Pabrik 332.882
Biaya produksi 5.940.382
Barang dalam proses awal 0
5.940.382
Barang dalam proses akhir (0)
Harga Pokok Produksi 5.940.382
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 331 Berdasarkan perhitungan harga pokok produksi gaun pesta dengan metode full costing tersebut, selanjutnya dapat dihitung Harga Pokok Produksi sebagai berikut
Perhitungan Harga Pokok Produksi
Biaya Bahan Baku Rp. 407.500
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 5.200.000
Biaya Overhead Pabrik Rp. 332.882
Biaya produksi Rp. 5.940.382
Barang dalam proses awal Rp. 0 Rp. 5.940.382 Barang dalam proses akhir Rp. (0)
Harga Pokok Produksi Rp. 5.940.382
Jumlah produksi 1 unit
Harga Pokok Produksi pergaun Rp. 5.940.382
Sebagaimana kebijakan perusahaan, harga jual gaun pesta ditetapkan sebesar 15% dari Harga Pokok Produksi. Adapun perhitungan harga jual berdasarkan metode full costing adalah sebagai berikut.
Perhitungan Harga Jual
Harga Pokok Produksi Rp. 5.940.382
Laba (15% dari Harga Pokok Produksi) Rp. 891.057
Harga jual Rp. 6.831.440
Jumlah produksi 1 unit
Harga jual pergaun Rp. 6.831.440
Perhitungan harga sewa gaun pesta berdasarkan metode full costing adalah sebagai berikut. Perhitungan Harga Sewa
Harga jual Rp. 6.831.440
Biaya sewa (30% harga jual) Rp. 1.024.716 3. Biaya produksi gaun remaja berdasarkan full costing
Berdasarkan data rincian biaya yang ada, serta informasi biaya lainnya dari perusahaan, maka dapat disusun Harga Pokok Produksi untuk gaun remaja, dengan metode full costing sebagai berikut.
Tabel 6. Harga Pokok Produksi Gaun Remaja Dengan Metode Full Costing
Jumlah Satuan
Harga per
unit (Rp) Nilai
Bahan Baku
Kain Songket 3,5 Meter 35000 122.500
Kain silk jepang 1 Meter 8500 8.500
Furing gm 4 Meter 13000 52.000
Kain sifon 1 Meter 27500 27.500
Total 210.500
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja desain dan pola 2.500.000
Tenaga kerja menjahit 1.500.000
Total 4.000.000
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 332
Jumlah Satuan
Harga per
unit (Rp) Nilai Tenaga kerja tidak langsung
Tenaga kerja pengiriman
bahan 1 Baju 15.000 15.000
Tenaga kerja
perawatan/pencucian 1 Baju 80.000 80.000
Total 95.000
Biaya bahan penolong
Fiselin 2 Meter 4.000 8.000
Cup bra 1 Pasang 8.500 8.500
Reseting 1 Buah 8.500 8.500
Bisban 2 Buah 3.500 7.000
Accesoris bunga 1 Buah 8.000 8.000
Permata swaroski kecil 48 Buah 1.750 84.000
Lain-lain (benang, obras) 10.000
Total bahan 134.000
Biaya penyusutan mesin 1 Baju 8.824
Biaya pemeliharaan mesin 1 Baju 882
Biaya listrik 1 Baju 6.618
Biaya telpon 1 Baju 5.882
Biaya pengemasan 1 Baju 75.000
Total Biaya Overhead
Pabrik 317.382
Biaya produksi 4.527.882
Barang dalam proses awal 0
4.527.882
Barang dalam proses akhir (0)
Harga Pokok Produksi 4.527.882
Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan perhitungan harga pokok produksi gaun remaja dengan metode full costing tersebut, selanjutnya dapat dihitung Harga Pokok Produksi sebagai berikut
Perhitungan Harga Pokok Produksi
Biaya Bahan Baku Rp. 210.500
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 4.000.000 Biaya Overhead Pabrik Rp. 317.382
Biaya produksi Rp. 4.527.882
Barang dalam proses awal 0
Rp. 4.527.882 Barang dalam proses akhir (0)
Harga Pokok Produksi Rp. 4.527.882
Jumlah produksi 1 unit
Harga Pokok Produksi pergaun Rp. 4.527.882 atau Rp. 4.527.900 Sebagaimana kebijakan perusahaan , harga jual gaun remaja ditetapkan sebesar 15% dari Harga Pokok Produksi. Adapun perhitungan harga jual berdasarkan metode full costing adalah sebagai berikut.
Perhitungan Harga Jual
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 333 Laba (15% dari Harga Pokok Produksi) Rp. 679.182
Harga jual Rp. 5.207.065
Jumlah produksi 1 unit
Harga jual pergaun Rp. 5.207.065
Perhitungan harga sewa gaun pengantin berdasarkan metode full costing adalah sebagai berikut.
Perhitungan harga sewa
Harga jual Rp. 5.207.065
Biaya sewa (30% harga jual) Rp. 781.060
2. Perbandingan Harga Pokok Produksi Perusahaan dengan Metode Full Costing
Untuk memahami perbandingan Harga Pokok Produksi untuk masing-masing produk yang digunakan oleh Butik Allona Collection dengan hasil analisis peneliti dengan menggunakan metode full costing, maka berikut ini akan disajikan dalam tabel berikut
Tabel 7. Perbandingan Harga Pokok Produksi, Harga Jual Dan Harga Sewa Menggunakan Metode Konvensional Dan Full Costing
Keterangan Produk Metode Perusahaan (Dalam Rp) Metode Full Costing (Dalam Rp) Selisih Harga Pokok Produksi Gaun Pengantin 13.721.150 13.195.562 525.588 Gaun Pesta 6.297.000 5.940.382 356.618 Gaun Remaja 4.819.500 4.527.882 291.618
Harga jual Gaun Pengantin 15.779.323 15.174.896 604.426
Gaun Pesta 7.241.550 6.831.440 410.110
Gaun Remaja 5.542.425 5.207.065 335.360
Harga sewa Gaun Pengantin 4.733.797 2.265.885 2.467.912
Gaun Pesta 2.172.465 1.024.716 1.147.749
Gaun Remaja 1.662.728 781.060 881.668
Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan perbandingan nilai Harga Pokok Produksi dari hasil perhitungan perusahaan dan analisis dengan menggunakan metode full costing, menunjukkan selisih. Artinya adanya perbedaan nilai antara perhitungan perusahaan dan full costing, dimana perhitungan perusahaan menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Perbedaan tersebut dikarenakan ada beberapa biaya yang tidak dihitung secara rinci oleh perusahaan, dan perusahaan memperkirakan biaya tersebut dengan nilai yang cukup tinggi. Akibatnya biaya produksi yang ditetapkan perusahaan menjadi lebih tinggi. Tingginya Harga Pokok Produksi tersebut akan mempengaruhi harga jual dan harga sewa produk yang lebih tinggi. Kondisi ini akan dapat merugikan perusahaan, karena dengan harga jual yang lebih tinggi, akan menurunkan daya saing perusahaan dalam memasarkan produknya. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya perusahaan menerapkan metode full costing dalam menetapkan Harga Pokok Produksi produk. Hal ini karena produk yang dihasilkan oleh perusahaan memiliki biaya yang berbeda untuk setiap produk, dan produk tidak diproduksi secara masal, sehingga masing-masing produk memiliki rincian biaya yang berbeda.
Dengan menggunakan metode full costing, perusahaan dapat menetapkan biaya produk untuk masing-masing produk secara rinci. Biaya-biaya yang dimasukkan dalam Harga Pokok Produksi metode full costing pada dasarnya meliputi
1. Biaya Bahan Baku Langsung. Biaya bahan baku langsung merupakan biaya yang dikeluarkan untuk senua bahan baku yang membentuk satu kesatuan dari produk jadi . Dalam hal ini adalah berupa kain.
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 334 2. Biaya tenaga kerja langsung. Biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) adalah upah yang diperoleh pekerja yang mengubah bahan dari keadaan mentah menjadi produk jadi, secara langsung. Dalam hal ini adalah gaji tenaga kerja desain dan pola, tenaga kerja menjahit, tenaga kerja bordir dan tenaga kerja payet.
3. Biaya Overhead Pabrik. Overhead pabrik mencakup semua biaya produksi selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Dalam penelitian ini biaya yang termasuk overhead pabrik adalah: a. Bahan tidak langsung, yaitu semua niaya yang meskipun menjadi bagian produk jadi, tetapi
nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut. Biaya ini seperti busa angin, fiselin, M 33 (pelapis), trikot, cup bra, tulang baju, resleting, renda, permata, benang, obras.
b. Biaya tenaga kerja tidak langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang secara nyata tidak mengerjakan produk dan hasil usaha mereka tidak mudah ditelusuri ke produk jadi. Biaya ini seperti pengawas, bagian perawatan (reparasi), bagian pembelian/pengiriman bahan.
c. Biaya pemeliharaan dan reparasi, yaitu biaya yang digunakan untuk pembelian barang atau ongkos repasarasi dan pemeliharaan mesin dan peralatan.
d. Biaya yang timbul akibat penilaian aktiva tetap, seperti biaya penyusutan mesin, bangunan pabrik, dan peralatan produksi
e. Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu seperti biaya asuransi gedung, mesin, kecelakaan karyawan.
f. Biaya overhead lain yang memerlukan uang tunai seperti biaya PLN, telpon, air untuk keperluan produksi.
Dengan menggunakan metode full costing, perusahaan akan memperoleh beberapa manfaat seperti:
1. Biaya overhead pabrik baik yang variabel maupun tetap dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal, atau atas dasar biaya overhead yang sesungguhnya. Dengan demikian biaya yang dibebankan kepada produk benar-benar yang digunakan untuk memproduksi produk tersebut dari bahan baku menjadi produk jadi.
2. Selisih biaya overhead pabrik akan timbul apabila biaya overhead pabrik yang dibebankan berbeda dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Melalui full costing, biaya yang dibebankan kepada produk harus benar-benar dikeluarkan untuk menghasilkan produk jadi. 3. Metode full costing menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai
saat produk yang bersangkutan dijual.
SIMPULAN
Berdasarkan analisa dan pembahasan data tentang penerapan Harga pokok produksi metode full costinguntuk menentukan harga jual dan harga sewa produk pada Butik Allona Collection disimpulkan sebagai berikut:
1. Perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh Butik Allona Collection masih sangat sederhanan. Biaya yang dihtung sebagai biaya produksi masih belum memperhatikan biaya overhead yang turut menjadi beban suatu produk seperti biaya penyusutan mesin, biaya pemeliharaan mesin, biaya tenaga kerja tidak langsung. Hal ini menjadikan penetapan harga pokok produksi yang digunakan menjadi kurang akurat, sehingga kurat tepat untuk penetapan harga jual dan harga sewa
2. Dengan menggunakan penentuan Harga pokok produksi dengan full costing lebih besar keuntunggannya karena perhitungan lebih rinci, sehingga biaya yang dibebankan pada produk benar-benar beban yang sesunggunya dikeluarkan untuk membuat produk jadi.
Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian di atas, maka peneliti memberkan saran sebagai berikut:
ISSN 1829 - 8532 │Hal. 335 1. Sebaiknya Butik Allona Collection menggunakan metode full costing dalam perhitungan harga pokok produksi untuk mennentukan harga jual dan harga sewa. Butik dapat mengidentifikasi seluruh biaya yang digunakan dalam proses produksi.
2. Dalam menentukan harga jual maupun harga sewa disarankan butik menggunakan metode full costing, sehingga harga jual yang ditetapkan lebih tepat serta dapat meningkatkan daya saing produk terhadap produk perusahaan lain.
3. Butik allona Collection memperhatikan biaya –biaya produksi langsung maupun tidak langsung yang turut mempengaruhi biaya produksi, seperti penggunaan tenaga kerja tidak langsung untuk pemeliharaan, tenaga kerja langsung untuk pembelian bahan (yang dilakukan oleh pemilik butik). Dengan memperhatikan biaya produksi yang lebih rinci yang turut mempengaruhi pembuatan suatu produk, maka akan dapat meningkatkan keakuratan biaya produksi untuk produk yang dihasilkan, sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian.
DAFTAR PUSTAKA
Betty, Br Sembiring. 2011. Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Berdasarkan Costing Pada Perusahaan Tahu CV. Risma Mandiri Purwosari Mijen. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang
Blocher, Edward J., Chen Kung H. Lin, Thomas W. 2000. Manajemen Biaya: Dengan Tekanan Strategik. Jakarta. Salemba Empat.
--- 2007. Cost Management: Manajemen Biaya Penekanan Strategis. Jakarta. Salemba Empat. Cokins, Gary. 2001. Activity Based Cost Management: An Executive’s Guide. New York. John Wiley &
Sons, Inc.
Emblemsvag, Jan. 2003. Life Cycle Costing: Using Activity-Based Costing and Monte Carlo Methods to Manage Future Costs and Risks. New Jersey. John Wiley & Sons, Inc.
Hansen, Don R. dan Maryanne M. Mowen 2006. Akuntansi Manajemen. Jakarta. Salemba Empat --- 2009. Managerial Accounting: Akuntansi Manajerial. Jakarta. Salemba Empat.
--- 20011. Managerial Accounting: Akuntansi Manajerial. Jakarta. Salemba Empat Hariadi, Bambang. 2002. Akuntansi Manajemen Suatu Sudut Pandang. Yogyakarta. BPFE
Horngren, Charles T., Dastar., Srikant M. Foster, dan George. 2005. Akuntansi Biaya Penekanan Manajerial. Jakarta. PT. Indeks Kelompok Media
Kumar, Sameer dan Matthew. 2007. Supply Chain Cost Control Using Activity-Based Management. New York. Auerbach Publications.
Mulyadi. 1999. Akuntansi Manajerial. Yogyakarta. Aditya Medika --- 2000. Akuntansi Biaya. Edisi Lima. Yogyakarta. Aditya Medika --- 2001. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga. Yogyakarta. Salemba Empat --- 2003. Akuntansi Manajemen. Jakarta. Salemba Empat
--- 2007. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen. Jakarta. Salemba Empat. Mulyadi, dan Setiawan Jhonny. 2001. Akuntansi Manajemen. Jakarta. Salemba Empat. Nafarin, M. 2007. Penganggaran Perusahaan. Jakarta. Salemba Empat.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta. PT. Rineka Cipta. Setyawan, Rahmad Bayu. 2011. “Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi berdasarkan Sistem
Activity Based Costing pada Batik Agus Sukoharjo”. Skripsi. Semarang. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang
Siti, Laeni Setyaningsih. 2011. “Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Berdasarkan Sistem Activity Based Costing (ABC) Pada Pabrik Roti Sumber Rejeki Gunungpati”. Skripsi. Semarang. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang
Simamora, Henry. 2000. Akuntansi Manajemen. Jakarta. Salemba Empat
Slamet, Achmad. 2007. Penganggaran, Perencanaan dan Pengendalian Usaha. Semarang. UNNES Press
Sulastiningsih. 1999. Akuntansi Biaya. Yogyakarta. UPP AMP YKPN.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta.
Supriono. 2007. Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen Untuk Tekhnologi Maju dan Globalisasi edisi II. Yogyakarta. BPFE