Analisis Resiko Investasi Pada PT. Unilever. Tbk Aris Munandar

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

Analisis Resiko Investasi Pada PT. Unilever. Tbk Aris Munandar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar risiko investasi pada PT. Unilever. Tbk. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi selama 15 tahun dari tahun 2000 – 2015 sedangkan sampel penelitian dengan Teknik nonprobability sampling diperoleh sampel 5 tahun dari tahun 2011 – 2015. Alat analisis menggunakan analisis t-test one sampel. Dari hasil perhitungan t-test one sampel diperoleh sebesar -1,938. Hal ini berarti bahwa nilai thitung lebih kecil dari ttabel (-1,938 < 2.132), sehingga hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan Risiko investasi pada PT. Uniliver Indonesia Tbk lebih kecil atau sama dengan dari 10% pertahun dari yang diharapkan diterima. Artinya nilai risiko investasi yang diperoleh PT. Unilever Indonesia. Tbk dengan ukuran risiko investasi yang kecil.

Kata Kunci :Risiko Investasi, t-test one sample PENDAHULUAN

Di era globalisasi seperti sekarang ini setiap perusahaan baik yang bergerak di bidang industri, jasa maupun perdagangan pasti memiliki visi, misi dan tujuan yang berbeda-beda ataupun sama baik jangka pendek maupun jangka panjang. Adapun tujuan jangka pendek suatu perusahaan yaitu untuk memperoleh atau mendapatkan laba (keuntungan), sedangkan tujuan jangka panjangnya yaitu untuk mengembangkan perusahaan agar lebih maju dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan agar tetap bertahan di dalam era persaingan yang semakin ketat ini.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, perusahaan perlu melaksanakan berbagai macam strategi dengan cara mengatur perencanaan perusahaan agar dapat berjalan dengan baik dan perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan suatu perusahaan seperti dari segi aspek pasar dan pemasaran, aspek teknik dan teknologi yang dapat menunjang sumber daya manusia (SDM) yang memadai, aspek keuangan perusahaan yang baik serta sistem penganggaran perusahaan yang efisien.

Semuanya itu sangat penting bagi setiap perusahaan agar perusahaan dapat berkembang dan berjalan dengan baik. Setiap perusahaan di dalam melakukan investasi pasti memiliki risiko-risiko yang dihadapi sehingga perlu mengevaluasi secara tepat setiap kemungkinan dalam usaha tersebut. Risiko akan selalu ada dalam kegiatan investasi, oleh karena itu di dalam menginvestasikan modal pada suatu perusahaan tertentu atau usaha lainnya, seorang investor perlu mengestimasi berapa besarnya cash flow atau hasil (return) selama periode usia investasi tersebut. Estimasi hasil atau expected return dari suatu kegiatan investasi belum tentu sesuai dengan yang diharapkan apakah akan menguntungkan atau akan merugikan bagi investor tersebut. Yang bisa dilakukan adalah memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari kegiatan investasi dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan.

Apabila perusahaan bermaksud meningkatkan keuntungan yang diperolehnya, maka peningkatan keuntungan ini akan diikuti oleh risiko yang semakin besar. Demikian pula sebaliknya, apabila perusahaan ingin menurunkan risiko, maka penurunan risiko ini akan diikuti oleh menurunnya tingkat profitabilitas. Adapun Suratman (2001 : 135) mengemukakan bahwa : “Investor selalu menyukai kegiatan investasi yang diharapkan memberikan keuntungan yang sama, tetapi memiliki risiko yang lebih kecil atau dengan risiko yang sama tetapi memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar”.

Risiko aktiva dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu atas dasar berdiri sendiri (stand-alone basis), dimana aktiva dipertimbangkan secara terpisah dan atas dasar portofolio, dimana aktiva dipegang sebagai salah satu dari seluruh aktiva dalam portofolio. Jadi aktiva dengan risiko berdiri sendiri (stand-alone risk) merupakan risiko yang akan dihadapi investor jika dia hanya memiliki satu aktiva ini. Kebanyakan aktiva dipegang dalam bentuk portofolio, tetapi perlu juga memahami risiko yang berdiri sendiri agar dapat memahami risiko dalam konteks portofolio (Houston dan Brigham, 2001 : 178).

Risiko investasi dapat terjadi pada investasi jangka pendek (modal kerja) dan investasi jangka panjang (modal tetap) karena setiap kegiatan investasi selalu memiliki risiko, oleh karenanya investor harus dapat mempertimbangkan atau memperhitungkan kemungkinan risiko yang akan terjadi selama periode usia investasi tersebut. Memperhitungkan dan mengestimasi risiko sangat penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perusahaan akan menerima atau menolak rencana kegiatan investasi yang akan dilakukan, Suratman (2001 : 135).

Risiko adalah penyimpangan arus kas yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Risiko dapat diartikan juga sebagai kemungkinan tingkat keuntungan yang diperoleh menyimpang dari tingkat keuntungan yang diharapkan (Suratman, 2001 : 138).

Risiko aktiva dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu atas dasar berdiri sendiri (stand-alone basis), dimana aktiva dipertimbangkan secara terpisah dan

(2)

2

atas dasar portofolio, dimana aktiva dipegang sebagai salah satu dari seluruh aktiva dalam portofolio. Aktiva dengan risiko berdiri sendiri ( stand-alone risk) merupakan risiko yang akan dihadapi investor jika dia hanya memiliki satu aktiva ini. Kebanyakan aktiva dipegang dalam bentuk portofolio, tetapi perlu memahami risiko yang berdiri sendiri agar dapat memahami risiko dalam konteks portofolio (Houston dan Brigham, 2001 : 178).

Menurut Sartono (2001 : 139-140) sikap terhadap risiko dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: investor yang menyukai risiko (risk seeker), investor tidak menyukai atau menghindari risiko (risk averter) dan investor yang bersikap netral terhadap risiko (risk neutrality). Risk seeker adalah investor yang senang menghadapi risiko. Apabila investor tersebut dihadapkan dengan dua pilihan investasi yang memberikan tingkat keuntungan yang sama dengan risiko yang berbeda, maka investor tersebut akan memilih investasi dengan risiko yang lebih besar. Sementara itu risk averter akan lebih senang pada pilihan investasi dengan risiko yang lebih kecil dengan tingkat keuntungan yang sama. Risk neutrality adalah kelompok investor yang bersikap netral terhadap risiko artinya investor akan meminta kenaikan keuntungan yang sama untuk setiap kenaikan risiko. Dari ketiga sikap dalam menghadapi risiko yang telah diuraikan diatas maka sikap umum yang dimiliki oleh para investor kita adalah risk averter. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar investor dimana investasi yang paling disukai adalah investasi yang dapat memberikan tingkat keuntungan/pendapatan besar dengan tingkat risiko yang lebih kecil.

Risiko dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni (pure risk) adalah risiko dimana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada. Contohnya: kebakaran, kecelakaan, banjir dan sebagainya. Sedangkan risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadai perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Perbedaan utama antara risiko spekulatif dengan risiko murni adalah kemungkinan untung ada atau tidak, untuk risiko spekulatif masih terdapat kemungkinan untung sedangkan untuk risiko murni tidak dapat kemungkinan untung.

Waktu merupakan faktor pertimbangan yang sangat penting dalam mengevaluasi risiko yang dihadapi. Sebab risiko tidak hanya berhubungan pada periode sekarang, tetapi juga berhubungan dengan waktu yang akan datang. Semakin lama usia suatu kegiatan investasi berarti semakin besar risiko yang dihadapi, karena semakin banyak kemungkinan yang terjadi. Dalam hal ini risiko

sering disebut fungsi dari waktu (The Function of Time). Oleh sebab itu, distribusi probabilitas dari cash flow akan mungkin lebih menyebar sejalan dengan semakin lamanya waktu suatu kegiatan investasi.

PT Unilever Indonesia Tbk merupakan salah satu perusahaan fast Moving Consumer Goods terkemuka di Indonesia. Rangkaian produk Perseroan mencakup produk Home & Personal Care serta foods & Beverages ditandai dengan brand-brand terpercaya dan ternama di dunia, antara lain Wall’s, Lifebuoy, Vaseline, Pepsodent, Lux, Pond’s, Sunlight, Rinso, Blue Band, Royco, Dove, Rexona, Clear, dan lain-lain Bidang usaha yang dijalankan oleh PT. Unilever Indonesia Tbk adalah Produksi, pemasaran dan distribusi barang-barang konsumsi yang meliputi sabun, deterjen, margarin, makanan berinti susu, es krim, produk-produk kosmetik, minuman dengan bahan pokok teh dan minuman sari buah. (www.unilever.or.id)

Dalam menjalankan operasinya juga perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk di bebankan biaya-biaya yang bersifat tetap baik ada maupun tidak ada operasi perusahaan sehingga mempengaruhi laba yang di peroleh perusahaan. Untuk mengurangi risiko dalam menghindari ancaman tersebut perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk harus mampu memenuhi permintaaan pasar yang semakin banyak dengan cepat. Jika perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk sudah mampu memenuhi permintaan pasar dengan cepat maka kinerja perusahaan akan mengalami peningkatan yang pesat. Sehingga laba yang di peroleh perusahaan akan mengalami peningkatan juga sesuai harapan. Selain itu, untuk mengurangi risiko investasi PT. Unilever Indonesia Tbk melakukan penerapan pertanian berkelanjutan secara luas dengan menggunakan metode pertanian berkelanjutan berpotensi meningkatkan hasil panen, mengurangi dampak perubahan iklim, serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial kepada para petani, keluarga mereka, dan masyarakat di sekitarnya.

Pembelian bahan baku secara berkelanjutan membantu mengamankan pasokan serta mengurangi risiko dan volatilitas dalam rantai pasokan bahan baku. Hal ini juga membuka peluang inovasi dengan berfokus pada kebutuhan hidup masyarakat yang berkelanjutan dan preferensi konsumen PT. Unilever Indonesia Tbk membangun brand yang lebih kuat. Metode pertanian berkelanjutan juga dapat meningkatkan kualitas produk, misalnya saus, sup, saus salad, atau es krim.

Namun ada beberapa persoalan yang terkait risiko investasi pada PT. Unilever Indonesia Tbk

(3)

3

yaitu terjadinya perubahan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga pasar yang disebabkan adanya perubahan nilai inflasi dan adanya tingkat inflasi yang fluktuatif mampu mempengaruhi tingkat risiko investasi, (www.unilever.or.id).

Adapun data tingkat inflasi selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini :

NO Tahun Tingkat Inflasi

1 2010 3.35%

2 2011 8.36%

3 2013 8.38%

4 2014 4.30%

5 2015 3.79%

Sumber : Bank Indonesia

Dari tabel diatas dapat diketahui jika tingkat inflasi selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuatif. Kondisi inflasi yang fluktuatif akan mempengaruhi harga bahan baku. Tingkat Inflasi yang tinggi akan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap harga bruto bahan baku yang berdampak pada menurunnya faktor produksi perusahaan.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan judul “Analisis Risiko Investasi pada PT. Unilever. Tbk

TINJAUAN PUSTAKA 1.

Investasi

Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal. (www.wikipedia.org)

Investasi itu biasanya berasal dari pihak pemerintah maupun dari pihak swasta dimana masing-masing pihak itu mengharapkan keuntungan dari hasil investasinya. Dari pihak swasta, investasi yang dilakukan pada dasarnya adalah manfaat financial yang diharapkan berupa keuntungan untuk kelangsungan hidup usahanya, sedangkan bagi pihak pemerintah, investasi yang dilakukan tidak lain adalah manfaat terhadap perkembangan perekonomian nasional.

Dalam melakukan suatu investasi hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut Subagyo (1992 : 36) :

a. Pengeluaran untuk penanaman modal, salah dikeluarkan biasanya tidak dapat ditarik kembali tanpa mengakibatkan kerugian.

b. Keputusan pembelanjaan modal, merupakan strategi keputusan yang diambil itu akan mempengaruhi profitabilitas,apsar dan lain-lain di kemudian hari.

c. Keputusan investasi sangat diperngaruhi oleh ketidakpastian dan resiko yang relatif tinggi karena adanya keharusan untuk membuat suatu ramalan yang jauh kedepan. d. Banyak ragam kebutuhan investasi, itu akan mempengaruhi keputusan terhadap pembelanjaan modal yang tepat.

Semua hal tersebut diatas, merupakan dasar untuk melihat dan meneliti pelaksanaan suatu kegiatan investasi itu dapat menguntungkan atau tidak.

Pengertian investasi dapat dikutip dari beberapa ahli diantaranya Antony dan James S. Reece (1985:613) adalah sebagai berikut “The proposal is

to invest fund, that is capital. At the present time in the expetation of earning return on this money over some future period”.

Jadi menurut pengertian tersebut diatas investasi adalah modal yang ditanam sekarang atau saat ini yang diharapkan akan diterima kembali setelah beberapa tahun kemudian. Dapat pula dikatakan bahwa investasi itu meliputi semua dana (modal) yang tertanam dalam suatu perusahaan atau proyek baik berupa harta lancar atau harta tetap dalam jangka waktu lebih dari satu tahun.

Menurut M.G. Wriot B. Com (1995:59) mengatakan bahwa “Investasi adalah dengan harapan bahwa perusahaan akan dapat memperoleh kembali dana yang telah diinvestasikan dalam aktiva tersebut”

Dari pengertian di atas bahwa apabila perusahaan mengadakan investasi dalam aktiva tetap juga bahwa perusahaan akan dapat memperoleh kembali dana yang ditanamkan dengan harapan yang sama dengan investasi aktiva lancar. Dalam perputaran dana yang tertanam pada kedua aktiva itu adalah berbeda yaitu investasi dalam aktiva lancar itu diharapkan pengembaliannya dalam waktu singkat dan secara sekaligus. Sedangkan investasi aktiva tetap itu adalah dana yang tertanam di dalam perusahaan itu kembali secara keseluruhan dalam waktu beberapa tahun, dan kembali lagi secara berangsur-angsur melalui depresiasi.

Untuk lebih memperjelas mengenai investasi, berikut disajikan pengertian yang dikutip dari beberapa pendapat antara lain Kartadinata (1993:37) menyatakan, bahwa “Investasi adalah konversi uang pada saat sekarang dengan perhitungan untuk memperoleh arus dana atu penghematan arus dana dimasa yang akan datang”

Dari pengertian di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa menanamkan dana dalam suatu investasi untuk memperoleh manfaat yang menguntungkan di masa yang akan datang. Dalam suatu perusahaan menanamkan modal (investasi)

(4)

4

dapat dibedakan atas dua jenis yaitu investasi dalam aktiva lancar dan investasi dalam aktiva tetap. Pada aktiva lancar, investasi ditanamkan pada persediaan, piutang atau aktiva lancar lainnya yang pengembaliannya diharapkan dapat diterima dalam waktu singkat yaitu kurang atau sama dengan satu tahun. Sedangkan pada aktiva tetap investasi ditanamkan pada gedung, tanah, mesin-mesin, kendaraan dan alat-alat kantor yang pengembaliannya diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu lebih dari satu tahun atau sesuai dengan umur investasi.

Definisi investasi oleh Anthony dan James S. Reece (2009 : 613), menyatakan bahwa proposal untuk penanaman investasi yang berupa dana, yang biasanya disebut modal, maka waktu prosentase yang dianalisa pada tingkat perputaranya, maka uang yang telah tertanam akan diharapkan pada masa yang akan datang.

Menurut definisi di atas, bahwa investasi adalah sebagai modal yang tertanam pada perusahaan untuk memperluas usaha dengan harapan akan diterima kembali setelah beberapa tahun kemudian. Dikatakan bahwa investasi itu meliputi semua dana (modal) yang tertanam dalam suatu perusahaan atau proyek untuk ditanamkan pada harta lancar (current assets) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun dalam proses produksi perusahaan.

Pada dasarnya pengertian investasi merupakan usaha penanaman faktor-faktor produksi sebagai langkah-langkah untuk menentukan proyek tertentu untuk menanamkan investasi. Hal ini yang merupakan salah satu faktor produksi, untuk langkah-langkah penanaman modal. Proyek ini sendiri dapat bersifat baru sama sekali, atau perluasan proyek yang ada agar tujuan dari pada proyek dapat dicapai sesuai apa yang diharapkan, maka diperlukan pelaksanaan yang masing-masing pengetahuannya/ keahliannya.

2. Risiko

Risiko bisa didefinisikan dengan berbagai cara. Risiko didefinisikan sebagai kejadian yang merugikan. Definisi lain yang sering dipakai untuk analisis investasi adalah kemungkinan hasil yang diperoleh menyimpang dari yang diharapkan.

Menurut Silalahi (1997 : 5-6), ada beberapa definisi risiko yang dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Risk is the chance of loss adalah kesempatan timbulnya kerugian dalam statistik. Chance (kesempatan) digunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan terjadinya peristiwa tertentu, sehingga loss digunakan untuk menunjukkan suatu kemungkinan adanya kerugian.

b.Risk is the probability of loss adalah risiko kemungkinan timbulnya kerugian.

c.Risk is uncertainty Risiko adalah ketidakpastian.

d.Risk is dispersion of actual from expected result adalah penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan.

e.Risk is the probability of any outcomes different from the one expected adalah probabilitas suatu hasil yang berbeda dari hasil yang diharapkan.

Menurut Houston dan Brigham (1998 : 178) mendefinisikan risiko sebagai kecelakaan, bahaya (dihadapkan pada kerugian atau kecelakaan). Jadi risiko mengacu pada peluang bahwa beberapa kejadian yang tidak menguntungkan akan terjadi.

Risiko adalah penyimpangan arus kas yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Risiko dapat diartikan juga sebagai kemungkinan tingkat keuntungan yang diperoleh menyimpang dari tingkat keuntungan yang diharapkan (Suratman, 2001 : 138).

Risiko aktiva dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu atas dasar berdiri sendiri (stand-alone basis), dimana aktiva dipertimbangkan secara terpisah dan atas dasar portofolio, dimana aktiva dipegang sebagai salah satu dari seluruh aktiva dalam portofolio. Aktiva dengan risiko berdiri sendiri ( stand-alone risk) merupakan risiko yang akan dihadapi investor jika dia hanya memiliki satu aktiva ini. Kebanyakan aktiva dipegang dalam bentuk portofolio, tetapi perlu memahami risiko yang berdiri sendiri agar dapat memahami risiko dalam konteks portofolio (Houston dan Brigham, 2003 : 178).

Menurut Sartono (2001 : 139-140) sikap terhadap risiko dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: investor yang menyukai risiko (risk seeker), investor tidak menyukai atau menghindari risiko (risk averter) dan investor yang bersikap netral terhadap risiko (risk neutrality). Risk seeker adalah investor yang senang menghadapi risiko. Apabila investor tersebut dihadapkan dengan dua pilihan investasi yang memberikan tingkat keuntungan yang sama dengan risiko yang berbeda, maka investor tersebut akan memilih investasi dengan risiko yang lebih besar. Sementara itu risk averter akan lebih senang pada pilihan investasi dengan risiko yang lebih kecil dengan tingkat keuntungan yang sama. Risk neutrality adalah kelompok investor yang bersikap netral terhadap risiko artinya investor akan meminta kenaikan keuntungan yang sama untuk setiap kenaikan risiko. Dari ketiga sikap dalam menghadapi risiko yang telah diuraikan diatas maka sikap umum yang dimiliki oleh para investor kita adalah risk averter. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar investor dimana investasi yang

(5)

5

paling disukai adalah investasi yang dapat memberikan tingkat keuntungan/pendapatan besar dengan tingkat risiko yang lebih kecil.

Risiko dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni (pure risk) adalah risiko dimana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada. Contohnya : kebakaran, kecelakaan, banjir dan sebagainya. Sedangkan risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadai perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Perbedaan utama antara risiko spekulatif dengan risiko murni adalah kemungkinan untung ada atau tidak, untuk risiko spekulatif masih terdapat kemungkinan untung sedangkan untuk risiko murni tidak dapat kemungkinan untung.

3. Macam-macam Risiko Investasi

Adapun beberapa sumber risiko yang dapat mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi yaitu (Sartono (2001 : 139-140) :

a. Risiko suku bunga, dimana perubahan suku bunga bisa mempengaruhi variabelitas hasil suatu investasi.

b. Risiko pasar, dimana fluktuasi pasar secara keseluruhan mempengaruhi variabelitas hasil suatu investasi.

c. Risiko inflasi, dimana inflasi yang meningkat akan mengurangi kekuatan daya beli rupiah yang diinvetasikan.

d. Risiko bisnis yaitu risiko yang terjadi dalam menjalankan bisnis suatu jenis usaha. e. Risiko finansial, dimana risiko ini berkaitan

dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan hutang dalam pembiayaan modalnya.

f. Risiko likuiditas, dimana risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan perusahaan yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder.

g. Risiko nilai tukar mata uang, dimana risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang domestik dengan nilai mata uang negara lainnya.

h. Risiko negara, dimana risiko ini juga disebut sebagai risiko politik karena sangat berkaitan dengan kondisi perpolitikan suatu negara.

4. Faktor-faktor Risiko dalam Investasi

Semua perusahaan yang bergerak dalam bidang bisnis tidak bisa melepaskan diri dari persaingan. Walaupun perusahaan sudah mengantisipasi dengan berbagai strategi yang dimiliki, namum pesaing tidak mau menyerah begitu

saja. Kondisi seperti itu merupakan risiko yang harus dihadapi oleh investor dalam mendirikan sebuah perusahaan. Risiko akan selalu ada dalam setiap investasi, karena investor harus memproyeksikan berapa besarnya cash flow atau penerimaan yang akan diterima selama usia investasi. Estimasi penerimaan yang akan diharapkan tersebut belum tentu sama dengan kenyataannya karena ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi. Apabila faktor-faktor tertentu tersebut bisa diramalkan sebelumnya disebut sebagai suatu risiko. Tetapi bila keadaan yang dihadapi tidak dapat diramalkan sebelumnya disebut sebagai ketidakpastian (Sutrisno, 2001 : 175-176).

Suatu proyek investasi mengharapkan hasil dari penerimaan-penerimaan yang akan datang. Penerimaan-penerimaan yang didapat dari aliran kas tersebut bervariasi. Semakin besar variasi penerimaan (cash flow) yang diperoleh semakin tinggi risiko yang mungkin terjadi (Sutrisno, 2001 : 175-176).

5. Metode Pengelolaan Risiko

Menurut Hanafi (2006: 11-12), risiko bisa dikelola dengan berbagai cara seperti :

a. Penghindaran

Cara paling mudah dan aman adalah menghindari risiko. Akan tetapi cara semacam ini tidak optimal.

b. Ditahan

Dalam beberapa situasi, akan lebih baik jika menghadapi sendiri risiko tersebut (menahan risiko tersebut, atau risk retention).

c. Diversifikasi

Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja. Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut diharapkan bisa dikompensasi oleh keuntungan dari asset lainnya.

d. Transfer Risiko

Jika kita ingin menanggung risiko tertentu, kita bisa mentransfer risiko tersebut ke pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut.

Menurut Silalahi (1997 : 19-21) metode yang dapat dipakai dalam pengelolaan risiko antara lain adalah dengan jalan :

a. Asumsi (Asumption or Retention)

Asumsi atau retensi risiko merupakan cara umum yang digunakan dalam pengelolaan risiko, dimana pilihannya diarahkan pada risiko yang tingkatannya rendah dan apabila terjadi tidak akan membawa pengaruh keuangan pada perusahaan.

(6)

6

Pemindahan risiko sering kali digunakan baik dalam pengelolaan risiko yang bersikap murni/statis umumnya dilakukan pada perusahaan asuransi sedangkan risiko yang bersikap spekulatif/dinamis dapat dipindahkan pada masyarakat, konsumen, atau lembaga non asuransi. Risiko murni (pure risk) risiko kemungkinan terjadinya sesuatu yang bersifat risiko dan biasanya sumber risiko itu adalah dari alam seperti banjir, gempa bumi dan lain-lain. Risiko statis adalah risiko yang biasanya muncul dalam keadaan ekonomi statis. Sedangkan risiko yang timbul karena dinamika atau perubahan ekonomi, misalnya tingkat harga, selera dan teknologi.

c. Dikombinasikan

Metode ini dalam pengelolaan risiko merupakan salah satu cara dalam asuransi. Misalnya dengan cara diversifikasi produk yang dihasilkan atau bisa juga dengan pendirian Holding Company yang membawahi kegiatan usaha yang tidak mempunyai hubungan atau kegiatan usaha yang sama.

d. Pencegahan Kerugian (Prevention) Metode ini merupakan metode yang lebih menekan pada pengawasan dengan melakukan kegiatan preventif atau menekan serendah mungkin apabila kerugian tersebut muncul. e. Menghindari (Avoidance)

Metode ini erat hubungannya dengan pencegahan kerugian dan pemindahan kerugian. Pemindahan risiko adalah teknik menghindari situasi yang secara potensial dapat menimbulkan kerugian pada seseorang ataupun badan usaha lainnya dengan cara menghindari melakukan kegiatan-kegiatan yang risikonya relatif tinggi.

6. Return

Menurut Jogiyanto (2008 : 109) “hasil (return) merupakan hasil yang diperoleh dari investasi, berupa hasil realisasi yang sudah terjadi dan hasil ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang”.

Hasil realisasi (realized return) merupakan hasil yang telah terjadi, dimana hasil realisasi diperoleh berdasarkan data historis. Analisis ini dipergunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang diperoleh dalam sebuah investasi modal dan digunakan oleh perusahaan untuk mengukur efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan.

Hasil ekspektasi (expected return) adalah hasil yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang. Berbeda dengan hasil realisasi

yang sifatnya sudah terjadi, sedangkan hasil ekspektasi yang sifatnya belum terjadi.

7. RTA (Return on Total Asset)

RTA (Return on Total Asset) merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah investasi yang digunakan dalam perusahaan. RTA juga merupakan suatu ukuran efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya. RTA juga menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil rasio ini maka semakin kurang baik dan sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari seluruh operasi perusahaan.

Menurut Riyanto (2010 : 336), RTA (Return on Total Asset) adalah kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan investasi untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh investor. Adapun rumus untuk mencari RTA (Return on Total Asset) sebagai berikut Riyanto (2010 : 336) :

RTA = x100%

Asset Total

EBIT

Dimana :

EBIT = Laba bersih sebelum bunga dan pajak.

Total Asset = Jumlah dari total investasi dalam neraca laporan keuangan. Adapun Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Rasio RTA (Return on Assets) dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel Kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Rasio RTA

Rasio Predikat

RTA ≥ 15% Sangat Sehat

< 15 % RTA ≥ 10% Sehat 10% < RTA ≥ 5% Cukup Sehat

RTA < 5% Tidak Sehat Sumber : Munawir (2010 : 62)

8. Pengukuran Risiko dan Hasil

Agar dapat digunakan sebaik mungkin, maka setiap ukuran risiko harus mempunyai nilai yang pasti (definitif). Sehingga hal ini memerlukan ukuran kerapatan (tightness) distribusi probabilitas. Salah satu ukuran seperti itu disebut deviasi standar yang dilambangkan dengan σ, semakin kecil deviasi standar, semakin ketat distribusi probabilitas sehingga semakin kecil risiko. Deviasi standar menggambarkan seberapa besar nilai sebenarnya

(7)

7

akan berada dibawah atau di atas nilai yang diharapkan (Houston dan Brigham, 1998 : 184).

Menurut Husnan (2000 : 77) ukuran penyebaran dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh kemungkinan nilai yang diperoleh menyimpang dari nilai yang diharapkan. Ukuran ini bisa digunakan sebagai ukuran risiko. Statistik menyediakan ukuran ini yang disebut sebagai deviasi standar dan dinyatakan dengan simbol σ, atau apabila dinyatakan dalam bentuk kuadrat disebut sebagai variance (σ2).

Adapun rumus deviasi standar menurut Jogiyanto (2003 : 134) sebagai berikut :

 =

1

n

]

[

1 2

n i

E

Ei

Dimana :

= Deviasi standar,

Ei

=Tingkat keuntungan yang diperoleh

E

= Rata-rata hasil yang diharapkan (expected return), n = Periode Investasi.

Deviasi standar menunjukkan penyimpangan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya. Semakin besar deviasi standar, maka semakin besar penyimpangan. Penyimpangan dipakai sebagai indikator risiko, jadi semakin besar penyimpangan maka semakin besar risiko. Deviasi standar ini merupakan besarnya risiko yang sebenarnya ditanggung oleh perusahaan dalam kegiatan investasi yang dilakukannya.

Ukuran risiko yang lain adalah koefisien variasi. Koefisien variasi merupakan suatu pengukuran relatif dari penyebaran yang menunjukkan besar kecilnya risiko yang terkandung dalm proyek investasi yang bersangkutan. Koefisien variasi ini digunakan apabila dari proyek investasi yang dibandingkan menghasilkan nilai yang diharapkan tidak sama. Bila ada kasus seperti itu, deviasi standar tidak bisa digunakan sebagai ukuran risiko proyek, tetapi yang digunakan sebagai alat ukur adalah koefisien variasi (Sutrisno, 2001 : 179-180). Semakin besar koefisien variasi berarti semakin besar pula risiko yang terkandung didalamnya. Sebaliknya semakin kecil koefisien variasi berarti semakin kecil pula risiko yang terkandung didalamnya (Syamsuddin, 2000 : 499).

Koefisien variasi (Houston dan Brigham, 1998 : 186) dapat dihitung dengan rumus :

E

cv

Dimana :

cv

= Koefisien Variasi

= Deviasi standar,

E

= Rata-rata hasil yang diharapkan (expected return).

9. Analisis Risiko Investasi

Menurut Jogiyanto (2003 : 144) bahwa hasil ekspektasi dan risiko mempunyai hubungan yang positif. Semakin besar risiko suatu investasi maka semakin besar hasil ekpektasi yang diharapkan. Sebaliknya, semakin kecil hasil ekspektasi maka semakin kecil risiko yang harus ditanggung. Hubungan positif ini hanya berlaku untuk hasil ekspektasi yaitu untuk hasil yang belum terjadi. Untuk hasil realisasi, hubungan positif ini tidak terjadi. Bagi hampir setiap orang, pengertian umum hasil adalah baik dan risiko adalah buruk, sehingga investor menginginkan hasil lebih besar dengan risiko sekecil mungkin

Menurut Hanafi (2006 : 17) bahwa hubungan risiko dan hasil menggambarkan pandangan lama dan pandangan baru. Pandangan lama menganggap bahwa ada hubungan yang positif antara risiko dengan hasil. Semakin tinggi risiko, akan semakin tinggi hasil yang diharapkan, sebaliknya juga semakin kecil hasil yang diharapkan maka semakin kecil risiko yang harus ditanggung. Jika suatu organisasi ingin meningkatkan tingkat keuntungannya, maka organisasi tersebut harus menaikkan risikonya. Sedangkan pandangan baru menganggap bahwa hubungan antara risiko dengan hasil bersifat non linier, dimana apabila risiko yang diambil perusahaan terlalu kecil maka keuntungan yang diperoleh juga kecil. Pada tahap ini, risiko bisa dinaikkan untuk meningkatkan hasil. Dan ditahap ini, pengelolaan risiko belum optimal sehingga risiko harus dikelola. Oleh karena itu, setiap investor yang menanamkan investasi harus mempunyai kriteria dan berani menanggung segala sesuatu yang terjadi.

METODOLOGI PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan

(8)

8

antara variabel satu dengan variabel yang lain. (Sugiyono, 2008; 11). Dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko investasi pada PT. Uniliver Indonesia.Tbk.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan pada IDX PT. Unilever Indonesia Tbk link https://www.unilever.co.id/.

3. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008 : 90). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah laporan keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk dari tahun 2000 sampai dengan 2015 yaitu selama 15 (lima belas) tahun. 4. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, (Sugiyono, 2010:91). Pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan nonprobability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2010 : 95), dengan menggunakan teknik sampling purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, (Sugiyono, 2010 : 96). Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sampling disebabkan karena data laporan keuangan yang tersedia untuk dipublikasi hanya 5 tahun

terakhir yaitu dari tahun 2011 sampai tahun 2015. Jadi yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah laporan keuangan neraca dan laba rugi pada PT. Unilever Indonesia Tbk selama 5 (lima) Tahun terakhir, yaitu tahun 2011 sampai dengan 2015. 5. Teknik Analisa Data

Untuk menguji hipotesis yang telah diajukan dapat digunakan beberapa teknik analisa data yakni berdasarkan pandangan Sugiyono (2008 : 207) yang menjelaskan bahwa pada penelitian ini

pengolahan data menggunakan t-test satu sampel, dengan rumus sebagai berikut :

t =

n

s

0

Dimana :

t = Nilai t yang dihitung X = Nilai rata-rata

o = Nilai yang dihipotesiskan s = Simpangan baku sampel n = Jumlah anggota sampel HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Pengukuran Risiko Investasi Hasil realisasi diperoleh dari perhitungan rasio RTA (Return on Total Asset). Menghitung RTA pada PT. Unilever Tbk dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan di dalam mendapatkan keuntungan atau laba dengan jumlah keseluruhan investasi yang tersedia pada PT. Unilever Tbk. Semakin tinggi RTA maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga dan menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal. Adapun hasil perhitungannya sebagai berikut :

Tabel Hasil Analisis Return on Total Asset Tahun 2011- 2015

Sumber : Data Sekunder diolah, 2017

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai RTA yang dihasil oleh PT. Unilever Tbk selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuatif dimana pada tahun 2011 sampai tahun 2013 nilai RTA mengalami peningkatan yang disebabkan adanya peningkatan dari jumlah laba usaha yang dihasilkan. Sedangkan pada tahun 2015 RTA PT. Unilever Indonesia Tbk mengalami penurunan yang siginifikan, hal ini disebabkan adanya penambahan biaya pada beban administrasi perusahaan. NO Periode EBIT (Rp) (1) Total Asset (Rp) (2) RTA (%) (1)/(2)=(3) Ket 1 2011 5.574.799.000.000 10.482.312.000.000 53,18 Sangat Baik 2 2012 6.466.765.000.000 11.984.979.000.000 53,96 Sangat Baik 3 2013 7.158.808.000.000 12.703.468.000.000 56,35 Sangat Baik 4 2014 7.676.722.000.000 14.280.670.000.000 53,40 Sangat Baik 5 2015 7.829.490.000.000 15.729.945.000.000 49,77 Sangat Baik

(9)

9

Secara keseluruhan nilai RTA PT. Unilever Indonesia Tbk selama 5 tahun terakhir dalam kondisi sangat baik. Hal ini sesuai dengan kriteria Penilaian Tingkat Kesehatan Rasio RTA (Munawir, 2010) bahwa nilai RTA lebih dari atau sama dengan 15% dalam kondisi sangat baik.

2. Hasil Ekspekasi (Expected Return)

Hasil ekspektasi ditujukan untuk mencari nilai rata-rata hasil yang diharapkan pada tahun 2016 dengan membagi nilai RTA dari tahun 2011 sampai dengan 2015 dengan jumlah periode investasi. Adapun rumus dari expected return menurut Jogiyanto (2003 : 126) sebagai berikut :

n i

n

Ei

E

1 5 49.77 53.76 56.35 53.96 53.18     E 5 267.02  E

53.40

E

Dari perhitungan di atas maka dapat diketahui hasil yang diharapkan (expected return) pada tahun 2016 sebesar 53,40%. Setelah nilai ekspetasi investasi diperolah maka selanjutnya akan dilakukan perhitungan deviasi standar untuk mengetahui seberapa besar resiko investasi yang mungkin terjadi pada PT. Unilever Indonesia.Tbk selama tahun 2016.

3. Deviasi standar

Risiko investasi dapat dihitung dengan menggunakan standar deviasi dan koefisien variasi. Deviasi standar merupakan risiko investasi yang dapat dihitung setelah perhitungan hasil realisasi dan hasil ekspektasi. Adapun rumus deviasi standar menurut Jogiyanto (2003 : 134) sebagai berikut :

1 ) ( 1 2   

n E Ei n i            1 -5 2 53.0 -49.77 2 53.0 -53.76 2 53.0 -56.35 2 53.40 -53.96 2 53.40 -53.18      

   

 

 

4 13.14 0.13 8.72 0.31 0.05 σ     4 22.35 σ 2.36 σ

Dari hasil perhitungan di atas maka dapat diketahui deviasi standar pada tahun 2016 adalah sebesar 2,36%.

Deviasi standar menunjukkan penyimpangan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya. Semakin besar deviasi standar, maka semakin besar penyimpangan. Penyimpangan dipakai sebagai indikator risiko, jadi semakin besar penyimpangan maka semakin besar risiko. Deviasi standar ini merupakan besarnya risiko yang sebenarnya ditanggung oleh perusahaan dalam kegiatan investasi yang dilakukannya. Selanjutnya akan dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus koefisien standar. Penggunaan rumus ini untuk mengetahui seberapa besar ukuran risiko investasi yang diperoleh perusahaan.

Koefisien variasi merupakan suatu pengukuran relatif dari penyebaran yang menunjukkan besar kecilnya risiko yang terkandung dalam proyek investasi yang bersangkutan. Koefisien variasi ini digunakan apabila dari proyek investasi yang dibandingkan menghasilkan nilai yang diharapkan tidak sama. Bila ada kasus seperti itu, deviasi standar tidak bisa digunakan sebagai ukuran risiko proyek, tetapi yang digunakan sebagai alat ukur adalah koefisien variasi (Sutrisno, 2001 : 179-180). Semakin besar koefisien variasi berarti semakin besar pula risiko yang terkandung didalamnya. Sebaliknya semakin kecil koefisien variasi berarti semakin kecil pula risiko yang terkandung didalamnya (Syamsuddin, 2000 : 499).

Koefisien variasi (Houston dan Brigham, 1998 : 186) dapat dihitung dengan rumus :

E

cv

53.40

2,36

cv

0.04

cv

Dari hasil perhitungan di atas maka dapat diketahui koefisien variasi pada tahun 2016 adalah sebesar 0,04%. Jadi dari hasil koefisien standar tersebut dapat diketahui ukuran investasi PT. Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2016 sebesar 0,04% yang artinya nilai risiko yang diperoleh sangat kecil.

4. Interpretasi Data

a. Perhitungan Simpangan Baku

Untuk mendapatkan nilai simpangan baku digunakan rumus sebagai berikut :

1 2       

n X X s

(10)

10

1

-5

0,04

s

0.011  s

0.105

s

Dari perhitungan di atas dapat diketahui nilai dari masing-masing rumus t-test one sampel sebagai berikut :

0 = 10% = 10/100 = 0.1 s = 1.105

n = 5

b. Uji t-test

Untuk mendapatakan nilai t-hitung digunakan rumus sebagai berikut :

t = t =

5

1.105

1

0,

-0,01

t =

2.236

1.105

-

0.09

t = -1,938

Jadi nilai t – hitung adalah -1,938 c. Uji Hipotesis

Hipotesis statistik :

Ho:μ≤10 % = Risiko investasi pada PT. Unilever. Tbk lebih kecil atau sama dengan 10% pertahun dari yang diharapkan. Ha:μ>10 % = Risiko investasi pada PT.

Unilever.Tbk lebih besar dari 10% pertahun dari yang diharapakan. Untuk membuktikan hipotesis tersebut di atas maka dilakukan uji satu pihak/kanan. Taraf kesalahan 5% (0.05) dan derajat kebebasan (dk = n – 1 atau dk = 5 – 1 = 4) didapat nilai t tabel (terlampir) adalah sebesar 2,132.

Uji Pihak Kanan

Berdasarkan hasil perhitungan t-test one sampel diperoleh nilai thitung sebesar -1,938. Hal ini berarti bahwa nilai thitung lebih kecil dari ttabel (-1,938 < 2.132), sehingga hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan Risiko investasi pada PT. Uniliver Indonesia Tbk lebih kecil atau sama dengan dari 10% pertahun dari yang diharapkan, dapat dinyatakan diterima dan hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan Risiko investasi pada PT. Uniliver Indonesia Tbk lebih besar 10% pertahun dari yang diharapkan, dapat dinyatakan ditolak. Artinya nilai risiko investasi yang diperoleh PT. Unilever Indonesia Tbk dengan ukuran risiko investasi yang kecil.

KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil perhitungan t-test one sampel diperoleh sebesar -1,938. Hal ini berarti bahwa nilai thitung lebih kecil dari ttabel (-1,938 < 2.132), sehingga hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan Risiko investasi pada PT. Uniliver Indonesia Tbk lebih kecil atau sama dengan dari 10% pertahun dari yang diharapkan. . Artinya nilai risiko investasi yang diperoleh PT. Unilever Indonesia Tbk dengan ukuran risiko investasi yang kecil.

2. Saran

Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam hal risiko investasi yang dihadapi, maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :

a. Diharapkan kepada PT. Unilever Indonesia Tbk dapat menekan pada pengawasan dengan melakukan kegiatann preventif atau menekan serendah mungkin jika terjadi kerugian, serta dapat menghindari kegiatan-kegiatan investasi yang risikonya tinggi. b. Untuk peneliti selanjutnya ditambahkan

variabel penelitian yang lain yang berhubungan dengan risiko investasi.

n

s

0

(11)

11

DAFTAR RUJUKAN

Anthony, Robert N., Glenn A. Welsch, and James S. R eece. 1985. Fundamental of Management Accounting , 4 th Edition, Homewood Illinois : Richard D. Irwin, Inc. Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston.1998 .

Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta : Salemba Empat.

________. 2001. Manajemen Keuangan. jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Hartono, Jogiyanto. (2003). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kelima. Yogyakarta: BPFE.

Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPEF.

Silalahi, Ferdinand. 1997. Manajemen Risiko dan Asuransi. Jakarta: Gramedia. Pustaka Utama.

Suad, Husnan. 2000. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan, Edisi Ketiga. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.

Suratman. 2001. Study Kelayakan Proyek. Jakarta. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kunatitatif

Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta. _______. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif

Kualitatif dan R&D ; Penerbit CV Alfabeta, Bandung.

Sutrisno. 2003. Manajemen Keuangan Teori Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE. Syamsudin, Lukman. 2000. Manajemen Keuangan

Perusahaan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Munawir, S. 2010. Analisis laporan Keuangan. Edisi keempat. Cetakan Kelima. Belas. Yogyakarta: Liberty

.

Riyanto, Bambang. 2010. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, ed. 4, BPFE-Yogyakarta. https://datastudi.wordpress.com/2008/12/25/analisis-kelayakan-investasi/ http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/data/default.as px www.unilever.com https://id.wikipedia.org/wiki/Investasi

Figur

Memperbarui...

Related subjects :