BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai

Teks penuh

(1)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Kelimpahan Bivalvia pada kawasan Mangrove Pantai Nanganiki Desa Ne’otonda di Kabupaten Ende memperoleh nilai kelimpahan 8,86 dengan spesies yang banyak ditemukan adalah Polymesoda expansa dengan nilai kelimpahannya 2 dan spesies yang memiliki nilai kelimpahan terendah adalah Pinna carnea 1,6. Nilai kelimpahan ini tergolong kurang dikarenakan jumlah individu yang didapat hanya sedikit.

2. Keanekaragaman Bivalvia pada kawasan Mangrove Desa Ne’otonda di Kabupaten Ende memiliki nilai keanekaragaman 0,638 dengan spesies yang memiliki nilai keanekaragaman tertinggi adalah Polymesoda expansa dan Polymesoda coaxans dengan nilai keanekaragamannya 0,157, dan spesies yang memiliki nilai keanekaragaman terendah adalah Pinna carnea dengan nilai keanekaragamannya 0,074. Nilai dari keanekaragaman Bivalvia tergolong rendah dikarenakan penyebaran dari Bivalvia pada kawasan mangrove di Desa Ne’otonda tidak tersebar secara merata.

3. Faktor lingkungan yang mendukung kehidupan Bivalvia berupa suhu, salinitas dan pH. Dengan hasil pengukuran dari suhu 30-35°C, salinitas 22,11‰, dan pH 7,62

(2)

5.2 Saran

1. Sebagai bahan informasi awal dan pengetahuan bagi peneliti selanjutnya. 2. Perlu adanya pengelolaan kawasan perairan dari instasi terkait dalam hal ini

Dinas perikanan dan kelautan di Desa Ne’otonda khususnya mangrove, sehingga dapat tetap lestari dan memberikan manfaat bagi masyarakat disekitarnya.

(3)

42

DAFTAR PUSTAKA

Arbi, U. Y. 2011. Struktur Komunitas Moluska di Padang Lamun Perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara. UPT Loka Konservasi Biota Laut Bitung – LIPI Anwar, J. S. J. Damanik dan M. Hisyam. 1984. Ekologi ekosistem Sumatera.

Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Ahmad Sadili. 2011. Keanekaragaman Bivalvia dan Asosinya dengan Tegakan Mangrove di pantai Talang siring Kab.pamekasan. jurusan Biologi. Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim. Skripsi. Malang

Arief, A. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya, Yogyakarta, Kanisius Barnes, R.D. 1982. Invertebrate Zoology. 5th Edition. B. Sounders College

Publishing : pp. 344 – 377

Bengen D.G.2004. Indeks Keanekaragaman Jenis. Bogor. Pusat Kajian Sumber daya Pesisir dan Lautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Budiman, A. 1991. Penelahaan Beberapa Gatra Ekologi Moluska Bakau Indonesia. Tesis. Fakultas Pasca Sarjana. Universitas Indonesia. Jakarta.

Dewiyanti, I. 2004. Struktur Komunitas Moluska (Gastropoda dan Bivalvia) Serta Asosiasinya pada Ekosistem Mangrove di Kawasan Pantai Ulee - Lheue, Banda Aceh, NAD. Skripsi Program Studi Ilmu Kelautan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor: Bogor

Dharma, B. 1992. Siput dan kerang Indonesia I. PT. Sarana Graha. Jakarta. Indonesia.

Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Elya Febrita,dkk. 2015. Keanekaragaman Gastropoda dan Bivalvia Hutan Mangrove pada Konsep Keanekaragaman Hayati. Jurnal Biogenesis. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau

(4)

43

Endang Hilmi, Shut dan Sunarto Budi Utoyo. 2009. Model Hu-bungan Antara Tingkat Kerapatan Pohon Mengrove Dengan Populasi Kepiting (Scylla serata). Studi Kasus Ekosistem Hutan Mangrove Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. http://ar.scribd.com. (2 Januari 2014).

Fachrul, M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta.

Irawan Saputra. 2011. Kepadatan Dan Distribusi Gastropoda Di Wilayah Pesisir Pantai Alai Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti. Skripsi Biologi FKIP Universitas Riau. Pekanbaru.

Irwanto. 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Mangrove.

Kusmana, C. 1997. Manajemen hutan mangrove Indonesia. Lab Ekologi Hutan Litaay, dkk. 2014. Struktur Komunitas Bivalvia Di Kawasan Mangrove Perairan

Bontolebang Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin

Nontji, A. 2007. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Nybakken, J. W. 1982. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT. Gramedia.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu pendekatan ekologis (Terjemahan

oleh : M. Eidman, Koessoebiono dan D. G. Bengen, M. Hutomo dan Sukristijono). Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. Indonesia

Nybakken, J. W. 1998. Biologi Laut. . PT Gramedia. Jakarta.

Nybakken J.W. 2000. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih Bahasa Eidman M. Bengen DG. Hutomo M. Sukardjo S. PT Gramedia. Jakarta Onrizal, 2007. “Teknik Pengenalan dan Analisis Vegetasi Hutan Mangrove. Di

dalam: Affandi O.editor. Buku Panduan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H)”, Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian USU, Medan. http://serdangbedagaikab.go.id (05 september 2016).

Pendit S. Nyoman 1994“ Ilmu Pariwisata”. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. Pratami CE. 2005. Sebaran Moluska (Bivalvia Dan Gastropoda) di Perairan Teluk

Jobokuto, Pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Skripsi Institut Pertanian Bogor.

(5)

44

Pratiwi. 2009. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Makrozoobentos di Hutan Mangrove Hasil Rehabilitasi Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali. (Skripsi). J urusan Manajemen Hutan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung (UNILA). Bandar Lampung

Pribadi, R., Hartati. R., dan Chrisna, C. A. 2009. Komposisi Jenis dan Distribusi Gastropoda di Kawasan Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap. Journal Ilmu Kelautan. Vol 14. Nomor 2.

Rahmat Maulana. 2004. Struktur Komunitas Gastropoda pada Ekosistem Mangrove Di kawasan Pesisir Batu Ampar Kalimantan Barat. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.

Rangan, J. 2000. Struktur dan apologi Komunitas Gastropoda pada Zona Hutan Mangrove Perairan Kulu Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.Skripsi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ranti Ayunda. 2011. Keanekaragaman dan Distribusi Bivalvia dan Gastropoda (Moluska) di Pesisir Glayem Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat. Skripsi Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rahmawati, A. 2006. Studi Pengelolaam Kawasan Pesisir Untuk Kegiatan Wisata Pantai (Kasus Pantai Teleng Ria Kabupaten Pacitan, Jawa Timur). Skripsi. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.

Sahami F., 2003. Struktur Komunitas Bivalvia di Wilayah Estuari Sungai Donan dan Sungai Sapuregel Cilacap. Tesis Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Suaniti , 2007. Kerang Hijau. Jakarta: Penebar Swadaya Jurusan Manajemen Hutan,

Fakultas Kehutanan, IPB. Bogor

Susetiono. 2005. Krustaceadan Mollusca Mangrove Delta Mahakam. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jakarta.

Suwignyo. S. 2005. Avertebrata Air Jilid 1. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. Suwondo, E. Febrita., F. Sumanti. 2006. Struktur Komunitas Gastropoda Pada Hutan

(6)

45

Syafikri, 2008. Asosiasi Gastropoda di Ekosistem Padang Lamun Perairan Pulau Lepar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, (Skripsi). Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan. Institut Pertanian Bogor.

(7)

Foto spesies Bivalvia Anamalocardia squamosa

Diplodonta rotundata

(8)

Polymesoda coaxans

(9)
(10)
(11)

Data pengamatan Bivalvia pada lokasi penelitian

Lampiran

No Nama Spesies Transek I Transek II Transek III

P1 P2 P3 P4 P5 P1 P2 P3 P4 P5 P1 P2 P3 P4 P5 1 Anomalocardia squamosa 1 0 2 1 0 2 0 2 0 0 2 1 0 0 0 2 Diplodonta rotundata 2 0 0 1 0 3 2 0 0 0 1 1 0 0 0 3 Pinna carnea 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Polymesoda coaxans 0 0 0 0 1 0 0 3 2 0 0 0 0 2 3 5 Polymesoda expansa 0 0 2 0 3 0 0 1 2 1 0 0 0 3 0

No Nama Spesies Transek IV Transek V Transek VI

P1 P2 P3 P4 P5 P1 P2 P3 P4 P5 P1 P2 P3 P4 P5 1 Anomalocardia squamosa 0 2 0 0 0 3 1 0 0 0 2 0 0 0 0 2 Diplodonta rotundata 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Pinna carnea 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Polymesoda coaxans 0 0 1 2 3 0 1 2 0 2 0 0 0 0 0 5 Polymesoda expansa 0 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 3 1 2

No Nama Spesies Transek VII Transek VIII Transek IX

P1 P2 P3 P4 P5 P1 P2 P3 P4 P5 P1 P2 P3 P4 P5 1 Anomalocardia squamosa 1 2 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 3 1 2 Diplodonta rotundata 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Pinna carnea 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 3 1 4 Polymesoda coaxans 0 0 2 2 3 0 0 1 2 0 0 2 2 0 1 5 Polymesoda expansa 0 0 2 0 0 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0

(12)

No Nama Spesies Transek X P1 P2 P3 P4 P5 1 Anomalocardia squamosa 0 0 0 0 0 2 Diplodonta rotundata 0 0 0 0 0 3 Pinna carnea 0 0 0 1 2 4 Polymesoda coaxans 0 2 1 2 0 5 Polymesoda expansa 0 2 2 0 3

(13)

Lampiran Perhitungan Kelimpahan

Kelimpahan dengan menggunakan rumus Michael (1995) dalam yohanes (2007) Kelimpahan Sp = 1. Anamalocardia squamosa = 1,69 2. Diplodonta rotundata = 1,8 3. Pinna carnea = 1,6 4. Polymesoda coaxans = 1,77 5. Polymesoda expansa = 2

(14)

Lampiran perhitungan Keanekaragaman

Keanekaragaman spesies dianalisis dengan menggunakan rumus Shannon-Wiener dalam Krebs (1985) 1. Anamalocardia squamosa = 0,173 x log 0,173 = - 0,173 x (- 0,761) = 0,131 2. Diplodonta rotundata = - 0,141x log 0,141 = - 0,17 x - 0,850 = 0,119

(15)

3. Pinna carnea = - 0,062x log 0,062 = - 0,062 x – 1,207 = 0,074 4. Polymesoda coaxans = - 0,307x log 0,307 = - 0,307 x – 0,512 = 0,157 5. Polymesoda expansa = - 0,314x log 0,314 = - 0,314 x - 0,503 = 0,157

Figur

Foto spesies Bivalvia

Foto spesies

Bivalvia p.7
Related subjects :