PROFIL PERKEMBANGAN POPULASI TERNAK KERBAU
(
Bubalus bubalis)
DI KABUPATEN BANYUMAS
(Population Development Profile of Swamp Buffalo
(Bubalus bubalis) in Banyumas District)
M.D.MENIEK PAWARTI danI.HERIANTI
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, PO Box 101 , Ungaran 50501
ABSTRACT
Banyumas district is area in Central Java province, located from top to foot of Mount Slamet in its south side. Variety of plants are grown in Banyumas district, that is forest vegetation and seasonal vegetation (paddy, corn and soy bean). Although mechanical farming is used intensively, farmers in Banyumas villages, still using buffalo to plow their farm land. This paper studies of swamp buffalo population development in Banyumas district to evaluate the prospect of reproduction technology application for increasing their productivitis. Investigation was done using secondary data and direct interviews with farmers in Karangtengah Village as illustrative cause of development the buffalo population in Banyumas district. Result showed that performance of development buffalo population in Banyumas will build fluctuatif curve. In 2003, buffalo population was 3.200 head and than increase to 2005 (3.540 head), but in 2006 decrease to 3.111 head. Interesting phenomena happened in 2007, when population increase again to 3.256 head. This data showed that buffalo existence still needed by farmer community in Banyumas. The slow buffalo population development indicates their reproduction performance is less satisfied. As conclusion, the aplication of reproduction technology needs to be implemented in Banyumas so the buffalo population development will increase successfully.
Key Words: Buffalo, Profile, Populasi
ABSTRAK
Kabupaten Banyumas adalah salah satu daerah Propinsi Jawa Tengah yang terhampar dari puncak hingga kaki Gunung Slamet di sisi bagian selatan. Vegetasi yang tumbuh di Banyumas beragam, yaitu dari tanaman tahunan hingga tanaman musiman. Meskipun mekanisasi pertanian digunakan secara intensif, petani di Kabupaten Banyumas masih memanfaatkan kerbau (Bubalus bubalis) untuk mengolah lahan pertanian. Kegiatan ini bertujuan mempelajari profil perkembangan populasi kerbau untuk mengevaluasi prospek penerapan teknologi reproduksi kerbau guna meningkatkan produktivitasnya. Investigasi dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan wawancara langsung terhadap petani di Kecamatan Cilongok sebagai gambaran perkembangan populasi kerbau di Banyumas. Hasilnya menunjukkan bahwa profil perkembangan populasi kerbau di Banyumas menunjukkan kurva yang fluktuatif. Pada tahun 2003 populasi ternak tersebut berjumlah 3.200 ekor, kemudian naik hingga tahun 2005 (3.540 ekor), tetapi pada tahun 2006 turun menjadi 3.111 ekor. Fenomena yang menarik, pada tahun 2007 populasi tersebut mulai naik lagi hingga 3.156 ekor. Data ini sebenarnya menunjukkan bahwa eksistensi kerbau masih dibutuhkan oleh masyarakat tani di Banyumas. Walaupun demikian pertambahan populasi yang lamban memberikan indikasi bahwa penampilan reproduksi ternak tersebut kurang memuaskan. Sebagai kesimpulan, aplikasi teknologi reproduksi tampaknya perlu direalisasikan di Banyumas agar terjadi kenaikan populasi kerbau yang memuaskan.
Kata Kunci: Kerbau, Profil, Populasi,
PENDAHULUAN
Kerbau (Bubalus bubalis) punya kemampuan adaptasi yang tinggi di berbagai daerah dengan agroekosistem berbeda, bahkan
di lahan kering sepanjang tersedia kubangan. Usaha ternak kerbau kurang berkembang karena produktivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan sapi antara lain karena kesulitan mendeteksi masa birahi pada ternak
betina, masa kebuntingan lebih lama dan interval kelahiran lebih panjang (TRIWULANNINGSIH, 2008). Demikian juga dinyatakan oleh TAPPA (2008) bahwa kerbau memiliki efisiensi reproduksi yang rendah disebabkan oleh pubertas yang lambat, umur
calving pertama tinggi, periode post partum anestrus panjang, periode inter calving panjang, tanda-tanda birahi kurang jelas dan angka kebuntingan rendah.
Tak dapat dipungkiri bahwa populasi kerbau saat ini semakin menurun dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari PEM.PROP. JAWA TENGAH (2008) dalam kurun waktu 2003 – 2007 populasi kerbau mengalami penurunan sebesar 40,2% dengan rata-rata penurunan per tahun sebesar 6,95%, yaitu dari 144.384 ekor pada tahun 2003 menjadi 109.004 ekor pada tahun 2007. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk meningkatkan pengembangan ternak kerbau sehubungan dengan pencanangan swasembada daging tahun 2010 mendatang dimana kerbau merupakan salah satu komoditas pendukungnya.
Kabupaten Banyumas termasuk daerah dengan populasi kerbau kurang dari 10.000 ekor, meskipun demikian nampaknya kerbau mempunyai arti yang cukup penting bagi petani khususnya petani tanaman pangan/padi. Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok merupakan salah satu dari 27 Kecamatan di Kabupaten Banyumas yang dipilih sebagai lokasi Primatani. Walaupun mekanisasi pertanian telah digunakan cukup intensif di wilayah tersebut, namun beberapa petani masih mempertahankan kerbau untuk mengolah lahan sawah baik miliknya maupun milik petani lainnya (disewakan). Mereka beranggapan bahwa pengolahan lahan lebih sempurna apabila menggunakan kerbau. Selain itu ternak kerbau juga dipelihara untuk tujuan sebagai tabungan keluarga. Makalah ini memberikan gambaran mengenai kondisi perkembangan peternakan kerbau di Kabupaten Banyumas khususnya di Kecamatan Cilongok.
MATERI DAN METODE
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei terhadap peternak kerbau di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Responden yang diwawancarai adalah petani-peternak
warga setempat, pemilik sekaligus pemelihara ternak kerbau. Pemilihan responden dilakukan secara acak sederhana dengan asumsi bahwa kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan relatif homogen sehingga dapat mewakili kondisi Kabupaten Banyumas. Dalam studi ini data primer diperoleh melalui diskusi terfokus dengan para responden tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan serta penampilan ternak kerbau (pengukuran tinggi pundak/TP, lingkar dada/LD dan panjang badan/PB) di lokasi penelitian. Selanjutnya data ini dikonfirmasikan dengan pamong dan sesepuh desa yang mengetahui sejarah perkembangan peternakan kerbau. Sementara sebagai pendukung dikumpulkan pula data sekunder dari Dinas dan Instansi terkait.
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik lokasi dan populasi
Kecamatan Cilongok merupakan salah satu dari wilayah Kabupaten Banyumas yang mempunyai luas wilayah 105,34 ha dengan kepadatan penduduk 1.074 orang per km2.
Wilayah tersebut berada pada ketinggian antara 225 – > 1000 m dpl, dengan kisaran suhu antara 24,4 – 30,9ºC (rata-rata 26,3ºC). Jumlah hari hujan rata-rata 164 hari dan curah hujan rata-rata 3.165 mm/tahun.
Berdasarkan data sekunder diperoleh gambaran populasi kerbau di Kabupaten Banyumas seperti ditampilkan pada Gambar 1. Terlihat bahwa dalam kurun waktu 2003 – 2007 profil populasi ternak kerbau bersifat fluktuatif. Peningkatan populasi terlihat sangat menyolok pada tahun 2005 (3.540 ekor), menurun tajam pada tahun berikutnya (3.111 ekor), kemudian pada tahun 2007 terlihat sedikit peningkatan (3.156 ekor). Pola dinamika populasi kerbau tersebut mengindikasikan suatu bukti bahwa sebenarnya masyarakat di Kabupaten Banyumas secara global masih mempertahan-kan eksistensi kerbau dalam kehidupan pertanian. Logikanya apabila eksistensi ternak sudah tidak diterima lagi oleh kehidupan pertanian maka populasinya seharusnya semakin rendah bahkan bisa punah. Fakta menunjukkan bahwa yang terjadi adalah sebaliknya yaitu peningkatan populasi meskipun tidak secara drastis.
Menurut ROHAENI et al. (2008) bahwa penurunan populasi disebabkan antara lain oleh rendahnya tingkat produktivitas, pemotongan yang tinggi, mortalitas anak yang tinggi, daya dukung lahan pakan yang terbatas dan kualitas pakan yang rendah. Penyebab lainnya adalah rendahnya mutu bibit dan tata laksana pemeliharaan yang masih tradisional.
Berbeda dengan kondisi di Banyumas, di Kecamatan Cilongok hinggá tahun 2006 perkembangan populasi ternak kerbau relatif stabil. Tetapi pada tahun 2007 terjadi penurunan secara drastis mencapai 75,4% dari tahun sebelumnya (Tabel 1). Penelusuran data pemotongan ternak di wilayah tersebut tidak menjawab fenomena yang terjadi. Tabel 2 menampilkan dinamika pemotongan ternak di Kabupaten Banyumas. Kecilnya pemotongan menunjukkan penurunan populasi bukan disebabkan banyaknya ternak yang dipotong.
Hasil wawancara menginformasikan bahwa sebagian besar peternak telah menjual ternak kerbau miliknya untuk berbagai keperluan mulai dari keperluan sekolah bagi anaknya, hajatan hingga perbaikan tempat tinggal. Oleh karena itu, diduga telah terjadi pengeluaran
ternak secara signifikan dari Kecamatan Cilongok ke luar wilayah. Perdagangan ternak kerbau keluar daerah memang tidak dapat dihindari namun demikian seharusnya tetap mempertimbangkan keseimbangan struktur populasi ternak sehingga produktivitasnya tetap terjaga.
Berdasarkan data sekunder, populasi ternak kerbau di Kecamatan Cilongok selama kurun waktu 2003 – 2007 relatif stabil yaitu 2-3 : 1 (Tabel 2). Hal ini berarti bahwa pejantan bukan merupakan faktor pembatas untuk reproduksi kerbau di Kecamatan Cilongok. Namun demikian dalam data tersebut tidak diketahui pasti jumlah kerbau jantan dewasa yang dapat menggambarkan kondisi keseimbangan antara individu jantan dan betina dewasa yang memungkinkan berlangsungnya proses reproduksi secara optimal di wilayah Kecamatan Cilongok. Meski kerbau jantan muda ( 1,5 tahun) sudah dapat mengawini tetapi akan menghasilkan keturunan yang kurang baik khususnya untuk dijadikan bibit (SUBHANet al., 2006).
Gambar 1. Dinamika populasi ternak kerbau di Kabupaten Banyumas
Tabel 1. Struktur populasi kerbau di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas tahun 2003 – 2007
Tahun Populasi (ekor) Sex – ratio
Jantan Betina Jumlah
2003 67 224 291 3 : 1 2004 67 223 290 3 : 1 2005 67 232 299 3 : 1 2006 70 213 283 3 : 1 2007 13 56 69 2 : 1 Sumber:BPSPEM.KAB.BANYUMAS (2008) 3000 3100 3200 3300 3400 3500 3600 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun P o p u las i (e k o r ) (e k o r )
Tabel 2. Dinamika pemotongan ternak kerbau di Kabupaten Banyumas 2003 – 2007
Tahun
Jumlah ternak yang dipotong (ekor) Kab. Banyumas Kec. Cilongok
2003 18 0 2004 68 0 2005 43 1 2006 70 3 2007 79 2 BPSPEM.KAB.BANYUMAS (2008) Sistem pemeliharaan
Sebagaimana di daerah-daerah lain, tatalaksana pemeliharan ternak kerbau di Kecamatan Cilongok dilakukan secara tradisional dan merupakan kegiatan usaha secara turun temurun. Rata-rata kepemilikan kerbau di tingkat petani peternak di Kecamatan Cilongok berkisar antara 3 – 4 ekor. Dalam kultur budaya masyarakat setempat, kerbau tidak dikandangkan, melainkan ditempatkan di sekitar rumah tanpa atap, biasanya di bawah pepohonan. Bila hujan kondisi tanahnya menjadi becek sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat berkubang (Gambar 3). Dengan demikian telah terpenuhi kebutuhan faali kerbau berkaitan dengan sifat hidupnya mengingat kerbau merupakan hewan yang tidak tahan terhadap cekaman panas sehingga memerlukan waktu untuk berkubang.
Menurut BAMUALIM dan ZULBARDI (2008), kerbau termasuk dalam golongan hewan berdarah panas (homeotherm) yang berusaha melepas panas berlebih sebagai usaha mempertahankan panas tubuh yang ideal yakni dengan mekanisme pengeluaran keringat dan mempertinggi frekuensi pernafasan. Sehubungan kulitnya yang tebal dengan sedikit kelenjar keringat maka hal yang efisien dilakukan adalah berendam. Selanjutnya dikemukakan oleh ZULBARDI (1982) dalam
ZULBARDI dan KUSUMANINGRUM (2005) bahwa memberikan waktu berkubang selama ± 30 menit telah memberikan efek penambahan bobot hidup lebih baik dibandingkan dengan ternak kerbau yang tidak diberi kesempatan berkubang.
HASINAH dan HANDIWIRAWAN (2006) menyatakan bahwa kemampuan produksi
ternak dapat dilihat dari beberapa indikator sifat-sifat produksi yaitu bobot lahir, bobot sapih, bobot dewasa dan laju pertambahan bobot badan. Selain itu juga dapat dievaluasi berdasarkan sifat sifat reproduksinya yang tercermin dalam umur beranak, jarak beranak dan prosentase beranak. Pakan utama yang diberikan peternak untuk kerbau miliknya di Kecamatan Cilongok adalah jerami yang disediakan secara ad libittum, dionggokkan disekitarnya bahkan satu lokasi dengan kotoran ternaknya. Berdasarkan pengamatan pada penampilannya, kondisi kerbau rata-rata dalam katagori sedang. Rata-rata hasil pengukuran performan produksi kerbau dewasa di Cilongok yakni TP 121 cm, LD 176 cm dan PB 115 cm. Sementara ukuran statistik vital kerbau sebagai acuan standar utama yang diterbitkan oleh Ditjen Peternakan tahun 2006 menggunakan parameter TPu sebesar 120 cm (PRAHARANI dan TRIWULANNINGSIH, 2008). Ini berarti kerbau dewasa di Kecamatan Cilongok masih dalam kriteria cukup baik untuk dijadikan bibit.
Mengamati kondisi peternakan kerbau berkaitan dengan pola pemeliharaan dapat difahami mengapa penampilan produksinya relatif rendah, meskipun pemberian pakan dilakukan secara tidak terbatas. Penampilan tersebut diduga karena pakan yang diberikan tercemari oleh kotoran/air kencing sehingga nafsu makan kerbau turun (BATOSAMMA, komunikasi pribadi). Oleh karena itu, pakan yang tersedia berlebihpun menjadi tidak termanfaatkan secara optimal.
Disisi lain ditemukan bahwa umumnya peternak tidak memperhatikan kapan ternak kerbaunya kawin. Walaupun demikian mereka mengetahui ketika ternak kerbaunya telah bunting. Pemilik ternak menjelaskan bahwa selang beranak ternak kerbau adalah 1 – 2 tahun. Pada dasarnya penyapihan anak tidak pernah dilakukan oleh peternak. Menurut LENTS et al. (2000) yang disitasi oleh PRAHARANI dan TRIWULANNINGSIH (2008) induk kerbau dengan kondisi pakan yang kurang baik (kualitas maupun kuantitasnya) mempunyai jarak beranak lebih panjang akibat lambatnya pertumbuhan folikel ovarium dalam siklus birahi. Diduga kondisi ini juga merupakan penyebab rendahnya produktivitas kerbau di Cilongok.
Gambar 3. Kondisi peternakan kerbau di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas
Perbaikan ke depan
Pengembangan ternak kerbau di suatu wilayah perlu memperhatikan daya dukung lahan, sumber bibit dan ketersediaan pakan. Hasil pengamatan dan hasil wawancara mengindikasikan bahwa produktivitas kerbau di Kecamatan Cilongok rendah. Terdapat indikasi bahwa paling cepat kerbau beranak kembali dalam waktu 2 tahun atau bahkan lebih lama dari masa itu. Hal ini diduga karena: 1. Kekurangan pejantan dewasa mengingat peternak menjual kerbau jantan yang telah berumur ≥ 2 tahun.
2. Berkaitan dengan pola pemeliharaan terutama pemberian pakan yang kurang baik.
3. Kurang dipahaminya tanda–tanda birahi pada ternak kerbau sehingga peternak tidak
tahu kapan seharusnya mengawinkan ternaknya.
Sehubungan dengan kondisi peternakan kerbau di lokasi pengkajian kiranya perlu disosialisasikan berbagai teknologi budidaya ternak kerbau mulai dari aspek pakan, perkandangan, kesehatan hewan/pengendalian penyakit dan reproduksi (antara lain inseminasi buatan/IB, menyiasati penjualan kerbau-kerbau
jantan dewasa) guna mendukung
pengembangan populasi kerbau.
KESIMPULAN
Pola pemeliharaan ternak kerbau di Cilongok masih bersifat tradisional ekstensif. Lambannya pertambahan populasi kerbau diduga karena kualitas pakan tidak memenuhi
kebutuhan ternak. Oleh karena itu, sosialisasi dan aplikasi teknologi antara lain manajemen pakan, dan pemberian pakan perkandangan dan reproduksi tampaknya perlu direalisasikan agar terjadi kenaikan populasi yang signifikan memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
BAMUALIM, A.M. dan M.ZULBARDI. 2008. Situasi dan Keberadaan Ternak Kerbau di Indonesia. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional. Usaha ternak kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari dan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan, hlm. 32 – 39 BPSPEM.KAB.BANYUMAS, 2008. Banyumas dalam
angka. Pemda Kab. Banyumas.
HASINAH, H. dan E. HANDIWIRAWAN. 2006. Keragaman genetik ternak kerbau di Indonesia. Pros. Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4 – 5 Agustus, 2006 Puslitbang Peternakan Bekerjasama dengan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan, Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. hlm. 89 – 95.
PEM.PROP.JATENG. 2008. Statistik peternakan Jawa Tengah. Pem. Prop. Jawa Tengah
PRAHARANI, L. dan E. TRIWULANNINGSIH. 2008. Karakterisasi bibit kerbau pada agroekosistem dataran tinggi. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional. Usaha ternak kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari dan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan, hlm. 113 – 123.
ROHAENI, E.S.,M. SABRAN dan A. HAMDAN 2008. Potensi, peran dan permasalahan beternak
kerbau di Kalimantan Selatan. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari dan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan, hlm. 59 – 69.
SUBHAN, A., E.S. ROHAENI, A. HAMDAN dan R. QOMARIAH. 2006. Potensi dan prospek pengembangan kerbau rawa di Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan. Pros. Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4 – 5 Agustus, 2006 Puslitbang Peternakan Bekerjasama dengan Direktorat Perbibitan, Diirektorat Jenderal Peternakan, Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. hlm. 185 – 191. TAPPA, B. 2008. Bioteknologi reproduksi untuk
pengembangankerbau belang (“Tedong Bonga”). Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha ternak kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari dan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan, hlm. 40 – 48. TRIWULANINGSIH,E. 2008. Inovasi teknologi untuk
mendukung pengembangan ternak kerbau. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional. Usaha Ternak kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Propinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari dan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan
ZULBARDI, M. dan D.A. KUSUMANINGRUM. 2005. Penampilan produksi ternak kerbau lumpur (Bubalus bubalus) di Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 12 – 13 September 2005. Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 310 – 315.